LAPORAN SKRIPSI
EFISIENSI PEMBUATAN STANDAR SAMPLE HEAVY ELEMENT DI AREA CHEMICAL LABORATORY PT. QWERTY YANG DAPAT MEREDUKSI VOLUME LIMBAH, WAKTU DAN BIAYA PRODUKSI
Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Teknik di Universitas Pelita Bangsa
Oleh : SRI LESTARI
331410029
PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PELITA BANGSA BEKASI
LAPORAN SKRIPSI
EFISIENSI PEMBUATAN STANDAR SAMPLE HEAVY ELEMENT DI AREA CHEMICAL LABORATORY PT. QWERTY YANG DAPAT MEREDUKSI VOLUME LIMBAH, WAKTU DAN BIAYA PRODUKSI
Oleh : SRI LESTARI
331410029
PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PELITA BANGSA BEKASI
iii
PERSETUJUAN SKRIPSI Skripsi yang berjudul :
EFISIENSI PEMBUATAN STANDAR SAMPLE HEAVY ELEMENT DI AREA CHEMICAL LABORATORY PT. QWERTY YANG DAPAT MEREDUKSI VOLUME LIMBAH, WAKTU DAN BIAYA PRODUKSI
Disusun untuk memenuhi syarat persetujuan pelaksanaan sidang skripsi Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Pelita Bangsa
Disusun Oleh: Sri Lestari NIM : 331410029
Telah Diperiksa dan Disetujui oleh
iv
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Sri Lestari
NIM : 331410029
Judul Skripsi : EFISIENSI PEMBUATAN STANDAR SAMPLE HEAVY ELEMENT DI AREA CHEMICAL LABORATORY PT. QWERTY YANG DAPAT MEREDUKSI VOLUME LIMBAH, WAKTU DAN BIAYA PRODUKSI
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa penulisan Skripsi ini berdasarkan hasil pemikiran dan pemaparan asli dari saya sendiri. Jika terdapat karya orang lain, saya akan mencantumkan sumber yang jelas.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidak benaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik dan sanksi lain sesuai dengan peraturan yang berlaku di Universitas Pelita Bangsa.
Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar tanpa paksaan dari pihak manapun.
v
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
“EFISIENSI PEMBUATAN STANDAR SAMPLE HEAVY ELEMENT DI AREA CHEMICAL LABORATORY PT. QWERTY YANG DAPAT MEREDUKSI VOLUME LIMBAH, WAKTU DAN BIAYA PRODUKSI”
Disusun Oleh: Sri Lestari 331410029
Telah diperiksa dan disahkan pada tanggal : 25 Oktober 2019
vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai civitas akademik Universitas Pelita Bangsa, saya bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Sri Lestari NIM : 331410029
Program Studi : Teknik Lingkungan Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Pelita Bangsa Hak Bebas Royalti Non-eksklusif (Non-eksklusif royalty free right) atas karya ilmiah saya ini yang berjudul :
EFISIENSI PEMBUATAN STANDAR SAMPLE HEAVY ELEMENT DI AREA CHEMICAL LABORATORY PT. QWERTY YANG DAPAT MEREDUKSI VOLUME LIMBAH, WAKTU DAN BIAYA PRODUKSI
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan. Dengan Hak Bebas Royalti Non-eksklusif ini Universitas Pelita Bangsa berhak menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis atau pencipta dan sebagai pemilik hak cipta.
vii
EFISIENSI PEMBUATAN STANDAR SAMPLE HEAVY ELEMENT DI AREA CHEMICAL LABORATORY PT. QWERTY YANG DAPAT MEREDUKSI VOLUME LIMBAH, WAKTU DAN BIAYA PRODUKSI Limbah B3 merupakan salah satu yang menjadi perhatian setelah pesatnya berkembangan industri masa kini. Lean system merupakan metode yang mengedepankan efektifitas dan efisiensi suatu perusahaan dengan cara mengurangi lead time dan meningkatkan output dengan menghilangkan pemborosan. Chemical Laboratory merupakan salah satu penyumbang limbah B3 diperusahaan PT QWERTY yaitu dalam proses pembuatan standar sample heavy element. Tujuan penelitian ini adalah memberikan alternatif yang efektif untuk dapat diambil dalam upaya pengontrolan volume limbah B3 dalam proses pembuatan standar sample heavy element, dan meminimalisasi limbah B3 dalam mengendalikan pencemaran lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan cara melakukan wawancara dan data-data arsip laboratorium. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode pembuatan standar kerja heavy element yang dilakukan sebelumnya tidak efisien dan tidak efektif dengan total limbah B3 yang dihasilkan 216 Liter/tahun, waktu pembuatannya pun mencapai 6 jam dalam satu kali pembuatan, dimana waktu kerja personel laboratorium hanya 8 jam perhari. Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk pembelian standar (inventory) mencapai 144 juta rupiah pertahun. Oleh karena itu, untuk meningkatkan efektifitas dan meminimalisir volume limbah B3 di laboratorium dibuat sebuah perubahan pada proses pembuatan standar sampel dengan menggunakan Mix Element induk standar yang konsentrasinya lebih rendah. Limbah yang dihasilkan dengan metode ini mampu berkurang hingga 24 Liter/tahun. Waktu pembuatan standar keja hanya memakan waktu 1,5 jam dalam sekali pembuatan. Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk pembelian standar (inventory) pun hanya 42 juta rupiah pertahun. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa pelaksanaan metode pembuatan standar baru berhasil 76.92% dengan mengurangi waktu pembuatan standar kerja, mengurangi biaya operasional dan biaya pengolahan limbah, serta mengurangi volume limbah B3 yang dihasilkan.
viii ABSTRACT
EFFICIENCY OF THE MANUFACTURE OF HEAVY ELEMENT SAMPLES IN THE AREA OF CHEMICAL LABORATORY PT. QWERTY
THAT CAN REDUCE THE VOLUME OF WASTE, TIME AND COST OF PRODUCTION
B3 Waste is one of the concern after the rapid development of the industry today. The Lean system is a method that emphasizes the effectiveness and efficiency of a company by reducing lead time and increasing output by eliminating waste. Chemical Laboratory is one of the contributors of B3 waste in the enterprise of PT QWERTY is in the process of making a standard sample heavy element. The purpose of this research is to provide an effective alternative to be taken in the efforts to control B3 waste volumes in the process of making a standard heavy element samples, and minimizing B3 waste in controlling environmental pollution. This research uses a qualitative method of descriptive, by conducting interviews and data laboratory archives. From the results of this study showed that the method of making the standard work of heavy elements performed previously inefficient and ineffective with the total waste of B3 generated 216 Litter/year, the production time also reaches 6 hours in a one-time manufacture , where laboratory personnel work time is only 8 hours per day. The costs incurred by the company for the purchase of the standard (inventory) reached 144 million rupiah per year. Therefore, to increase the effectiveness and minimize the volume of B3 waste in the laboratory is made a change in the process of making standard samples using a standard parent Mix Element whose concentration is lower. The waste generated by this method is able to decrease up to 24 Litter/year. The standard timing of the Keja only takes 1.5 hours in a single build. The costs incurred by the company for the purchase of the standard (inventory) is only 42 million rupiah per year. The conclusion of the study that the implementation of the new standard manufacturing method succeeded 76.92% by reducing the working standard for the work, reducing operational costs and waste processing costs, as well as reducing the volume of B3 waste produced.
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan, kesabaran dan ketabahan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Efisiensi Pembuatan Standar Sample Heavy Element Di Area Chemical Laboratory Pt. Qwerty Yang Dapat Mereduksi Volume Limbah, Waktu Dan Biaya Produksi”. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik dalam bentuk pikiran, materil dan non materil, dukungan dan motivasi agar penulis senantiasa kembali mempunyai semangat sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan. Dengan kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Hamzah M.M. Putra, S.K.M, M.M selaku Rektor Universitas Pelita Bangsa
2. Bapak Dr., Ir. Supriyanto., M. P. selaku Wakil Rektor Universitas Pelita Bangsa
3. Ibu Putri Anggun Sari, S.Pt., M.Si. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Pelita Bangsa
4. Bapak Dodit Ardiatma, S.T., M.Sc. selaku Ketua Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pelita Bangsa
5. Bapak Nur Ilman Ilyas, S.T., M.M. selaku dosen pembimbing I. 6. Bapak Agus Andriansyah, S.T., M.M. selaku dosen pembimbing II.
7. Kepada keluarga saya, terutama ibu Cucu Sumiati yang telah menjadi penyemangat hidup dan selalu mendoakan agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.
x
8. Semua rekan kerja di Lab Chemical East & West, Lab Mechanical East & West, maupun rekan kerja yang di luar Lab dan teman-teman seperjuangan lainnya TL14.F2.
9. Serta pihak lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah berjasa membantu penulis dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Penulis telah berusaha menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan sebaik-baiknya. Namun, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan dimasa mendatang. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.
Wassalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bekasi, 25 September 2019 Penulis,
Sri Lestari NIM: 331410029
xi DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... ii
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI ... iii
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN ... iv
LEMBAR PENGESAHAN ... v
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi
ABSTRAKSI ... vii ABSTRACT ... viii KATA PENGANTAR ... ix DAFTAR TABEL ... xv BAB I ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Identifikasi Masalah ... 5 1.3 Batasan Masalah ... 5 1.4 Rumusan Masalah ... 6 1.5 Tujuan ... 6 1.6 Manfaat ... 8 1.6.1 Bagi Mahasiswa ... 8 1.6.2 Bagi Akademik ... 8 1.6.3 Bagi Perusahaan ... 8
1.6.4 Bagi Masyarakat ...Error! Bookmark not defined. BAB II ... 9
2.1 Definisi Minimalisasi Limbah dan Optimalisasi... 9
2.2 Limbah Kimia Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) ... 9 2.2 Limbah Kimia Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) ... Error! Bookmark not defined.
xii
2.3 Karakteristik Limbah B3 ... 11
2.4 Persyaratan Pengemasan Limbah B3 ... 15
2.5 Persyaratan Pengumpulan Limbah B3 ... 16
2.5.1 Persyaratan Pra Pengemasan Persyaratan umum kemasan dan prinsip pengemasan limbah B3 ... 16
2.5.2 Tata Cara Pengemasan/Pewadahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) ... 17
2.6 Persyaratan Penyimpanan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) ... 25
2.7 Larutan Standard Kerja ... 26
2.8 Lean Manufacturing ... 27
2.8.1 Prinsip Dasar Lean Manufacturing ... 29
2.8.2 Tujuh Pemborosan (waste) dalam Proses Produksi ... 31
2.9 Logam Berat ... 32
2.10 Limbah Laboratorium ... 33
2.10.1 Bahan Berbahaya Fisik ... 33
2.10.2 Bahan Berbahaya Kimia ... 33
2 .11 Pengelolaan Limbah B3 ... 34
2.12 Dampak Logam Berat Terhadap Kesehatan ... 35
2.12.1 Merkuri (Hg) ... 36 2.12.2 Arsen (As) ... 37 2.12.3 Kadmium (Cd) ... 37 2.12.4 Khromium (Cr) ... 38 2.12.5 Aluminium (Al)... 38 2.12.6 Tembaga (Cu) ... 39 2.12.7 Timbal (Pb) ... 40 2.12.8 Selenium (Se) ... 40
2.12.9 Zink atau Seng (Zn) ... 41
2.12.10 Boron ( B) ... 41 2.12.11 Nikel (Ni) ... 42 2.12.12 Kobalt (Co) ... 42 2.12.13 Ba (Barium) ... 42 2.12.14 Mangan ( Mn) ... 44 2.12.15 Molibdenum (Mo) ... 44
xiii
2.12.16 Antimoni (Sb) ... 44
2.12.17 Tin (Sn) ... 45
2.12.18 Stronsium (Sr) ... 46
2.13 Biaya Pengendalian dan Penanggulangan Pencemaran ... 48
3.1 Objek dan Waktu Penelitian ... 51
3.2 Alat dan Bahan Penelitian ... 51
3.2.1 Alat ... 53
3.2.2 Bahan ...Error! Bookmark not defined. 3.3 Variabel Penelitian ... 52
3.4 Tahapan Penelitian ... 55
3.5 Proses Persiapan Pembuatan Larutan Standar Sampel ... 56
3.5.1 Pembuatan Standar Sampel Menggunakan Metode Lama ... 57
3.5.2 Proses Pembuatan Larutan Standar Sampel Menggunakan Metode Lama ... 57
3.5.3 Proses Pembuatan Larutan Standar Sampel Alternatif ... 60
3.6 Informasi Keselamatan ... 61
4.5 Tahapan Pelaksanan Penelitian ... 63
3.4.1 Observasi ... 64
3.4.2 Identifikasi Masalah ... 64
3.4.3 Studi Pustaka ... 65
3.4.4 Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 65
3.4.5 Teknik Pengumpulan Data ... 65
3.4.6 Sumber Data ... 66
3.5 Perhitungan dan Analisis ... 67
3.5.1 Perhitungan ... 67
3.5.2 Analisis ... 67
3.6 Simpulan dan Saran ... 68
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 69
4.2 Pengendalian Limbah Standar Kerja ... 69
4.4 Minimalisasi dan Optimalisasi Proses Pembuatan Standar Kerja ... 71
4.5 Waktu Pembuatan Standar Kerja ...Error! Bookmark not defined. 4.6 Biaya Pembelian Standard solution Heavy element ... 74
... 75
xiv BAB V ... 78 5.1 Kesimpulan ... 78 5.2 Saran ... 78 LAMPIRAN... 80 DAFTAR PUSTAKA ... 81
xv DAFTAR TABEL
Tabel 1. Jadwal Rencana Penelitian ... 51 Tabel 2. Volume Standar yang dipipet untuk deret standar kerja ... 57 Tabel 3. Volume standar yang dipipet untuk deret standar kerja ... 59 Tabel 4. Volume limbah dari penggunaan standar dengan menggunakan metode lama dan metode baru (improvement) ... 70 Tabel 5. Cycle Time pembuatan standar dengan mengggunakan metode lama dan metode baru ... 73 Tabel 6. Biaya yang dibutuhkan dalam Pembuatan Standar dengan Menggunakan Metode Lama dan Metode Baru ... 75 Tabel 7. Harga Pengolahan Limbah ... 76
xvi DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Simbol Flammable ... 11
Gambar 2. Simbol Toxic ... 11
Gambar 3. Simbol Explosive ... 12
Gambar 4. Simbol Oxidizing ... 12
Gambar 5. Simbol Irritant ... 12
Gambar 6. Simbol Corrosive ... 13
Gambar 7. Simbol Dangerous to the environment ... 13
Gambar 8. Simbol Carcinogenic ... 15
Gambar 9. Kurva Abatement Cost ... 49
Gambar 10. Automatic Pipette ... 53
Gambar 11. Single Element Standar Induk 1000 ppm ... 55
Gambar 12. Alur Tahapan Penelitian ... 56
Gambar 13. Flowchart proses pembuatan standar metode lama ... 56
Gambar 14. Flowchart proses pembuatan standar metode baru setelah improvement ... 60
Gambar 15. Standar Solution induk 100 ppm ... 61
Gambar 16. Penggunaan APD di Laboratorium ... 63
Gambar 17. Prosedur Penampungan Pembuangan Limbah Standar Kerja ... 69
Gambar 18. Diagram Volume Limbah dari penggunaan standar Metode Lama dan Metode Baru... 70
Gambar 19. Grafik Cycle Time Pembuatan Standar dengan Metode Lama dan Metode baru ... 74
Gambar 20. Diagram Cost Pembuatan Standar... 75
xvii LAMPIRAN
Lampiran 1. Lembar Asistensi Penelitian Mahasiswa Lampiran 2. Surat Keterangan Penelitian
Lampiran 3. Lembar Data Keselamatan Bahan Penelitian Lampiran 4. Lembar Data
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Perkembangan industri saat ini telah memberikan sumbangan besar terhadap perekonomian negara Indonesia. Di lain pihak hal tersebut juga memberi dampak pada lingkungan akibat buangan industri. Efisiensi bahan dan energi dalam pemanfaatan, pemprosesan, dan daur ulang, akan menghasilkan keunggulan kompetitif dan manfaat ekonomi (Hambali, 2003).
Setiap perusahaan bersaing untuk meningkatkan kinerja perusahaan dengan tujuan untuk dapat bertahan serta meningkatkan keuntungan pada pasar penjualan. Untuk dapat menyediakan produk dengan cepat dan sesuai dengan keinginan pada konsumen adalah hal utama yang menjadikan suatu perusahaan mendapatkan eksistensi dari pada para pesaing yang semakin bertambah dan berkembang. Bagi para pelakon bisnis semestinya memberi perhatian penuh terhadap produk yang dihasilkannya. Produk yang berkualitas dengan harga yang terjangkau serta ketepatan waktu yang sesuai dengan waktu permintaan pelanggan, mutlak harus dipenuhi saat perusahaan menginginkan untuk tetap terjun dan eksis dalam persaingan pasar saat ini. Segala aktifitas pada perusahaan manufaktur yang tidak memiliki nilai tambah (non value added) akan mengakibatkan pemakaian sumber daya yang banyak sehingga tidak efisien dan menimbulkan aktifitas waste yang dapat merugikan perusahaan tersebut.
Disetiap perusahaan manufaktur mengelola suatu proses produksi dalam rangka pemenuhan keinginan pelanggannya. Proses produksi yaitu suatu tahapan
2
untuk mengubah input menjadi output yang diinginkan sesuai dengan yang telah direncanakan. Pada proses produksi ini melibatkan seluruh sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Apabila semakin meningkatnya persaingan bisnis dan tingginya tuntutan dari konsumen menuntut perusahaan tersebut untuk dapat mengelola proses produksi lebih efisien dan efektif (Pujawan, 2003).
Agar dapat mengelola proses produksi menjadi lebih efektif dan efisien, banyak sekali metode yang digunakan untuk meningkatkan responsiveness melalui usaha pengurangan pemborosan (waste). Permasalahan mengenai pengolahan limbah dapat berdampak pada pencemaran lingkungan. Proses pencemaran industri limbah B3 terutama di industri dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Proses secara langsung yaitu bahan pencemar tersebut langsung dapat menimbulkan dampak meracuni sehingga mengganggu kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan atau mengganggu keseimbangan ekosistem baik udara, air maupun tanah. Proses yang terjadi tidak langsung yaitu beberapa zat kimia bereaksi di udara, air maupun tanah sehingga menyebabkan pencemaran dengan jangka waktu tertentu. Pencemaran ada yang langsung terasa dampaknya misalnya berupa gangguan kesehatan langsung (penyakit akut) atau akan dirasakan setelah jangka waktu tertentu (penyakit kronik). Alam memiliki kemampuan sendiri untuk mengatasi pencemaran (self recovery), namun alam memiliki keterbatasan. Setelah batas itu terlampaui, maka pencermaran akan berada di alam secara bertahap atau terakumulasi dan kemudian berdampak pada manusia, material, hewan, tumbuhan dan ekosistem (Ginting, 2007).
3
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun pasal 4 menyebutkan ”Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib mencegah terjadinya pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup.”
Perencanaan produksi sangat menentukan dalam mengukur kemampuan perusahaan untuk menyediakan produk yang dibutuhkan. Saat merencanakan produksi, setiap bagian dari proses produksi harus dapat memperhitungkan kemampuan dan keterbatasan sumberdaya yang dimilikinya. Air limbah Industri yang berasal dari Laboratorium merupakan sumber pencemaran air yang sangat potensial. Dikarenakan pada konsentrasi yang tinggi, limbah tersebut dapat menyebabkan kontaminasi bakteriologis dan beban nutrien berlebihan (euthrophication). Limbah industri terbagi menjadi dua yaitu limbah organik dan inorganik. Industri kimia berbahaya mengeluarkan limbah berbahaya yang mengadung elemen yang bersifat racun (toxic material) serta logam berat yang bersifat toksik atau racun.
Masalah limbah menjadi perhatian serius dari masyarakat maupun pemerintah Indonesia, khususnya sejak dekade terakhir ini terutama akibat perkembangan industri yang merupakan tulang punggung peningkatan perekonomian Indonesia. Peraturan – peraturan tentang masalah ini telah banyak dikeluarkan karena masalah limbah semakin meningkat dan tersebar luas di semua sektor. Undang – undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengolahan Lingkungan Hidup (menggantikan UU No. 4/1982), menempatkan masalah bahan dan limbah berbahaya sebagai salah satu perhatian utama, akibat dampaknya terhadap
4
manusia dan lingkungan bila tidak dikelola secara baik. Penanganan limbah merupakan suatu keharusan guna terjaganya kesehatan manusia serta lingkungan pada umumnya namun pengadaan dan pengoperasian sarana pengolahan limbah ternyata masih memberatkan bagi sebagian industri.
PT QWERTY adalah suatu perusahaan manufaktur yang bergerak dibidang mainan. PT QWERTY, memproduksi boneka dan mobil mainan dari mulai bahan baku sampai menjadi boneka dan mobil mainan yang siap dipasarkan. Perusahaan manufaktur kerap kali menerapkan lean manufacturing untuk mengoptimasi performansi sistem pada proses produksi akibat aktifitas-aktifitas waste yang timbul. Untuk memastikan produknya terbebas dari kandungan Logam Berat (Heavy Element). Tidak semua bahan baku yang didapat dari suplier memiliki sertifikat tersebut, sehingga PT QWERTY memiliki laboratorium kimia yang berfungsi mengawasi kualitas dari produk yang dihasilkan mulai dari raw material hingga produk jadi. Laboratorium kimia saat ini beroperasi delapan jam selama enam hari kerja dengan jumlah karyawan sebanyak tiga orang.
Di Laboratorium Kimia memiliki satu mesin ICP dan satu mesin GCMS, mesin ICP merupakan instrument yang berfungsi menganalisis hasil logam berat dari sample/ produk yang telah dipreparasi melalui proses kimiawi. Oleh karena itu dalam kesempatan tugas akhir ini akan dilaksakan suatu kajian mengenai Minimalisasi volume limbah B3 dalam pembuatan standard kerja heavy element di area chemical laboratory PT. QWERTY, yang berdasarkan pengamatan sebelumnya terlihat adanya ketidak lancaran dari proses pembuatan standard kerja
5
karena ditemukan proses yang kurang efisien digunakan untuk tiga orang teknisi di dalam satu laboratorium kimia ini karena waktu kerja per hari hanya delapan jam kerja sehingga pengendalian output (volume) pada saat pembuatan standard sample limbah yang dihasilkannya kurang terkendali.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka masalah yang dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Proses pembuatan standard yang belum efektif diterapkan untuk teknisi laboratorium kimia dengan jumlah tiga orang teknisi, yang bekerja selama delapan jam kerja per hari.
2. Perlunya pengendalian dalam pemanfaatan bahan kimia agar limbah yang dihasilkan seminimal mungkin.
3. Perlunya alternatif yang dapat diambil untuk penurunan volume limbah B3 dalam pembuatan standard kerja Heavy Element.
1.3 Batasan Masalah
Untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan yang terlalu jauh dari pokok permasalahan, maka dalam penulisan skripsi ini penulis membuat batasan masalah agar lebih mudah dalam menganalisa dan memecahkan masalah dari penelitian.
6
1. Penelitian dan pengambilan data dilakukan di Laboratorium Kimia PT QWERTY.
2. Penelitian ini hanya pada proses pembuatan standard kerja Heavy Element. 1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka masalah yang dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Bagaimana upaya pengontrolan volume limbah B3 di dalam pembuatan standar sample heavy element agar lebih efektif?
2. Bagaimana perusahaan dapat mengetahui pemborosan yang terjadi di lantai produksi, dalam pembuatan standar sampel heavy element?
3. Apakah upaya pada proses pengendalian pemanfaatan bahan kimia laboratorium sudah efektif?
1.5 Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Memberikan Alternatif pengkontrolan volume limbah B3 dalam pembuatan standard kerja heavy element.
2. Mengetahui cara meminimalisir limbah yang dihasilkan dari pemanfaatan bahan kimia yang digunakan agar limbah yang dihasilkan seminimal mungkin, perusahaan dapat mengetahui pemborosan (waste) yang ada di lantai produksi sehingga perusahaan dapat mengantisipasi terjadinya waste proses pembuatan standar kerja.
7
3. Mengetahui tingkat penurunan limbah B3 dalam pembuatan standard sample di area chemical laboratory dalam mengendalikan pencemaran limbah.
8 1.6 Manfaat
Ada beberapa manfaat yang ingin dicapai dan diharapkan dalam pelaksanaan penelitian, yaitu :
1.6.1 Bagi Mahasiswa
a. Sebagai sarana pengembangan ilmu dan keahlian bagi mahasiswa di lapangan. b. Mahasiswa dapat menemukan dan mengidentifikasi berbagai permasalahan
yang ada di lapangan.
c. Sebagai salah satu persyaratan kelulusan untuk mengikuti mata kuliah skripsi di Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Pelita Bangsa.
1.6.2 Bagi Akademik
a. Menguji kemampuan mahasiswa dalam menerapkan teori yang didapat di perkuliahan.
b. Sebagai bahan evaluasi dalam meningkatkan mutu kurikulum di masa mendatang.
c. Dapat dijadikan acuan bagi mahasiswa lain apabila ingin melakukan pengembangan dengan tema penelitian sejenis.
1.6.3 Bagi Perusahaan
Memperoleh informasi, saran dan ide inovatif - kreatif yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas perusahaan dalam upaya penurunan volume limbah B3.
9 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Minimalisasi Limbah dan Optimalisasi
Minimalisasi limbah yaitu upaya untuk mengurangi volume, konsentrasi, toksisitas, dan tingkat bahaya limbah yang berasal dari proses produksi dengan jalan reduksi pada sumbernya dan/atau pemanfaatan limbah. Sedangkan optimalisasi adalah sarana untuk mengekpresikan model yang bertujuan untuk memecahkan masalah dengan cara terbaik. Pengoptimalan dapat dilakukan dengan menggunakan Jadwal Produksi Induk dalam model matematis (S.Hillier & Lieberman 1990).
Menurut Winardi (1999:363) Optimalisasi yaitu “Optimalisasi adalah ukuran yang menyebabkan tercapainya tujuan sedangkan jika dipandang dari sudut usaha, optimalisasi adalah usaha memaksimalkan kegiatan sehingga mewujudkan keuntungan yang diinginkan atau dikehendaki. Dari uraian tersebut diketahui bahwa optimalisasi hanya dapat diwujudkan apabila dalam perwujudanya secara efektif dan efisien. Di sebuah perusahaan atau dalam penyelenggaraan organisasi, senantiasa tujuan diarahkan untuk mencapai hasil secara efektif dan efisien agar mendapatkan hasil yang optimal”.
2.2 Limbah Kimia Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
Menurut Peraturan Pemerintah RI Pasal 1 No. 101 Tahun 2014 tentang Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disingkat B3 adalah zat energi dan atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi dan atau jumlahnya, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup baik secara
10
langsung maupun tidak langsung, dan atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.
Menurut Sugiharto (1987:93) “air limbah adalah kotoran yang berasal dari masyarakat dan rumah tangga dan juga berasal dari industri, air tanah, air permukaan, serta buangan lainnya”. Diadakannya pengelolaan limbah B3 bertujuan untuk mencegah, menanggulangi pencemaran dan kerusakan lingkungan, memulihkan kualitas lingkungan tercemar, dan meningkatkan kemampuan dan fungsi kualitas lingkungan itu sendiri. Jika pengurangan air limbah dari sumbernya sudah dilakukan secara optimal, maka air limbah yang terpaksa tetap dihasilkan selanjutnya harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan. Tujuan pengolahan air limbah ini adalah untuk mengurangi kandungan pencemar air sehingga mencapai tingkat konsentrasi dan bentuk yang lebih sederhana dan aman jika terpaksa dibuang ke badan air di lingkungan.
Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat, konsentrasinya atau jumlahnya baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencermarkan dan merusak lingkungan hidup atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk lain. Limbah B3 dengan karakteristik tertentu yang dibuang langsung ke dalam lingkungan dapat menimbulkan bahaya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia serta makhluk hidup lainnya (Larastika, 2011).
11 2.3 Karakteristik Limbah B3
Menurut pemerintah 101 tahun 2014, berikut merupakan karakteristik limbah B3:
1. Mudah Menyala (Flammable)
Gambar 1. Simbol Flammable
Berikut adalah symbol mudah menyala, symbol ini menginformasikan dimana limbah yang mudah menyala adalah limbah yang dapat terbakar karena kontak dengan udara, nyala api, air, atau bahan lainnya meski dalam suhu dan tekanan standar.
2. Beracun (Toxic)
Gambar 2. Simbol Toxic
Limbah beracun adalah limbah yang memiliki atau mengandung zat yang bersifat racun bagi manusia atau hewan, yang dapat meyebabkan keracunan, sakit, atau kematian baik melalui kontak pernafasan, kulit, maupun mulut.
12
Gambar 3. Simbol Explosive
Berikut adalah simbol mudah meledak, symbol ini menggambarkan bahwa limbah yang mudah meledak yaitu limbah yang pada suhu dan tekanan standar dapat meledak karena dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi melalui adanya reaksi fisika atau kimia sederhana.
4. Pengoksidasi (Oxidizing)
Gambar 4. Simbol Oxidizing
Limbah Oxidizing atau pengoksidasi yaitu limbah yang dapat melepaskan panas karena telah teroksidasi sehingga menimbulkan api saat bereaksi dengan bahan lainnya.
5. Bersifat iritasi (Irritant)
13
Limbah yang menyebabkan iritasi yaitu limbah yang dapat menimbulkan sensitasi pada kulit, peradangan, maupun menyebabkan iritasi pernapasan, pusing, dan mengantuk bila terhirup. Contoh limbah ini adalah asam formiat yang dihasilkan dari industri karet.
6. Korosif (Corrosive)
Gambar 6. Simbol Corrosive
Limbah jenis ini berbahaya karena dapat mebakar kulit dan melukai mata terutama pekerja dilokasi pengelolaan atau dapat terlepas dari limbah B3 lain kelingkungan melalui drum berkarat yang berisi limbah jenis ini. Sebagai limbah yang dalam kondisi asam atau basa (pH < 2 atau pH > 12.5) dapat menyebabkan nekrosis (terbakar) pada kulit atau dapat mengkaratkan (mengkorosikan) baja.
7. Berbahaya bagi lingkungan (Dangerous to the environment)
14
Symbol ini menginformasikan bahwa sifat limbah ini dapat merusak lingkungan dan tidak bersahabat untuk ada di sekitar ekosistem populasi hidup.
15 8. Karsinogenik (Carcinogenic)
Gambar 8. Simbol Carcinogenic
Limbah karsinogenik adalah limbah yang dapat menimbulkan kanker dengan mengubah asam deoksiribonukleat (DNA) pada sel-sel tubuh, dan dapat mengganggu proses biologis.
2.4 Persyaratan Pengemasan Limbah B3
Dasar peraturan penyimpanan dan pengumpulan limbah bahan berbahaya dan beracun adalah Peraturan Pemerintah 18 Tahun 1999 mengenai pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun dan perubahannya yaitu Peraturan Pemerintah No. 85 Tahun 1999. Selain itu secara teknik diatur dalam Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan: Kep01/Bapedal/09/1995 mengenai Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Penyimpanan dilakukan jika belum dapat diolah dengan segera dengan tujuan untuk mencegah terlepasnya ke lingkungan sehingga potensi bahaya terhadap manusia dan lingkungan dapat dihindarkan. Ketentuan ini berlaku bagi kegiatan pengemasan/ pewadahan limbah B3 di fasilitas:
16
b. Penghasil, untuk disimpan sementara di luar lokasi penghasil namun tidak sebagai pengumpul;
c. Pengumpul, untuk disimpan sebelum dikirim ke pengeloh; d. Pengolah, sebelum dilakukan pengolahan dan atau penimbunan.
2.5 Persyaratan Pengumpulan Limbah B3
2.5.1 Persyaratan Pra Pengemasan Persyaratan umum kemasan dan prinsip pengemasan limbah B3
a. Persyaratan pra pengemasan
1. Setiap penghasil/pengumpul limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) harus dengan pasti mengetahui karakteristik bahaya dari setiap limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dihasilkan/dikumpulkannya. Apabila ada keragu-raguan dengan karakteristik limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dihasilkan/dikumpulkannya, maka terhadap limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) tersebut harus dilakukan pengujian karakteristik di laboratorium yang telah mendapat persetujuan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan dengan prosedur dan metode pengujian yang ditetapkan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.
2. Bagi penghasil yang menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang sama secara terus menerus, maka pengujian karakteristik masing-masing limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dapat dilakukan sekurang-kurangnya satu kali. Apabila dalam perkembangannya terjadi perubahan kegiatan yang diperkirakan mengakibatkan berubahnya karakteristik limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dihasilkan, maka terhadap
masing-17
masing limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) hasil kegiatan perubahan tersebut harus dilakukan pengujian kembali terhadap karakteristiknya.
3. Bentuk kemasan dan bahan kemasan dipilih berdasarkan kecocokannya terhadap jenis dan karakteristik limbah yang akan dikemasnya.
b. Persyaratan umum kemasan
1. Kemasan untuk limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) harus dalam kondisi baik, tidak rusak, dan bebas dari pengkaratan serta kebocoran.
2. Bentuk, ukuran dan bahan kemasan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) disesuaikan dengan karakteristik limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang akan dikemasnya dengan mempertimbangkan segi keamanan dan kemudahan dalam penanganannya.
3. Kemasan yang digunakan dapat terbuat dari bahan plastik (HDPE, PP atau PVC) atau bahan logam (teflon, baja karbon) dengan syarat bahan kemasan yang dipergunakan tersebut tidak bereaksi dengan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang disimpan didalam wadahnya.
2.5.2 Tata Cara Pengemasan/Pewadahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
a. Persyaratan Pengemasan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) 1. Kemasan umum untuk penyimpanan atau penempatan limbah (drum, tong atau
bak kontainer) yang digunakan harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Kemasan untuk penyimpana harus dalam kondisi baik, tidak bocor, berkarat atau rusak (layak digunakan).
18
b) Kemasan untuk penyimpanan terbuat dari bahan yang cocok dengan karakteristik limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang akan disimpan kedalamnya.
c) Kemasan untuk penyimpanan harus mampu mengamankan limbah yang disimpan di dalamnya agar tidak menimbulkan pencemaran.
d) Kemasan untuk penyimpanan harus memiliki penutup yang kuat serta rapat untuk mencegah terjadinya tumpahan saat dilakukan pemindahan atau pengangkutan limbah tersebut.
2. Kemasan yang digunakan untuk pengemasan limbah dapat berupa tong dengan volume 50 liter, 100 liter atau 200 liter, atau dapat berupa bak kontainer berpenutup dengan kapasitas 2 m3 , 4 m3 atau 8 m3.
3. Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang disimpan dalam satu kemasan adalah limbah yang sama, atau dapat pula disimpan bersama-sama dengan limbah lain yang memiliki karakteristik yang sama, atau dengan limbah lain yang karakteristiknya saling cocok.
4. Untuk mempermudah pengisian limbah ke dalam kemasan, serta agar lebih aman, limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dapat terlebih dahulu dikemas dalam kantong kemasan yang tahan terhadap sifat limbah sebelum kemudian dikemas dalam kemasan dengan memenuhi butir 2 di atas.
5. Pengisian limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dalam satu kemasan harus dengan mempertimbangkan karakteristik dan jenis limbah, pengaruh pemuaian limbah, pembentukan gas dan kenaikan tekanan selama penyimpanan :
19
a) Untuk limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) cair harus dipertimbangkan ruangan untuk pengembangan volume dan pembentukan gas.
b) Untuk limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang bereaksi sendiri sebaiknya tidak menyisakan ruang kosong dalam kemasan
c) Untuk limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang mudah meledak kemasan dirancang tahan akan kenaikan tekanan dari dalam dan dari luar kemasan.
6. Kemasan yang telah diisi atau terisi penuh dengan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) harus :
a) Ditandai dengan simbol dan label yang sesuai dengan ketentuan mengenai penandaan pada kemasan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). b) Selalu dalam keadaan tertutup rapat dan hanya dapat dibuka jika akan
dilakukan penambahan atau pengambilan limbah dari dalamnya.
c) Disimpan di tempat yang memenuhi persyaratan untuk penyimpanan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) serta memenuhi tata cara penyimpanannya.
7. Terhadap drum/tong atau bak kontainer yang telah berisi limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dan disimpan di tempat penyimpanan harus dilakukan pemeriksaan kondisi kemasan sekurang-kurangnya 1 (satu) minggu satu kali :
a) Apabila diketahui ada kemasan yang mengalami kerusakan (karat atau bocor), maka isi limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) tersebut harus
20
segera dipindahkan ke dalam drum/tong yang baru, sesuai dengan ketentuan butir 1 di atas.
b) Apabila terdapat ceceran atau bocoran limbah, maka tumpahan limbah tersebut harus segera diangkat dan dibersihkan, kemudian disimpan dalam kemasan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) terpisah.
c) Kemasan bekas mengemas limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dapat digunakan kembali untuk mengemas limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dengan karakteristik :
a) Sama dengan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) sebelumnya, atau
b) Saling cocok dengan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dikemas sebelumnya. Jika akan digunakan untuk mengemas limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang tidak saling cocok, maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai kemasan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dengan memenuhi ketentuan butir 1 di atas.
8. Kemasan yang telah dikosongkan apabila akan digunakan kembali untuk mengemas limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) lain dengan karakteristik yang sama, harus disimpan di tempat penyimpanan bahan berbahaya dan beracun (B3). Jika akan digunakan untuk menyimpan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dengan karakteristik yang tidak saling sesuai dengan sebelumnya, maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu dan disimpan dengan memasang "label KOSONG" sesuai dengan ketentuan penandaan kemasan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
21
9. Kemasan yang telah rusak (bocor atau berkarat) dan kemasan yang tidak digunakan kembali sebagai kemasan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) harus diperlakukan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
b. Persyaratan pewadahan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dalam Tangki
1. Pada saat sebelum melakukan pemasangan tangki penyimpanan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), pemilik atau operator harus mengajukan terlebih dahulu permohonan rekomendasi kepada Kepala Bapedal dengan melampirkan laporan hasil evaluasi terhadap rancang bangun dari rancangan sistem tangki yang akan dipasang untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Minimal dalam laporan tersebut terdapat hal-hal sebagai berikut:
a) Gambaran rancang bangun dan peralatan penunjang sistem tangki yang akan dipasang nanti.
b) Mengetahui secara jelas mengenai karakteristik limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang akan disimpan diarea tersebut.
c) Jika sistem tangki dan atau peralatan penunjangnya terbuat dari logam dan kemungkinan dapat terkontak dengan air dan atau tanah, maka evaluasi harus mencakup pengukuran potensi korosi yang disebabkan oleh faktor lingkungan serta daya tahan bahan tangki terhadap faktor korosi tersebut. d) Perhitungan umur operasional tangka.
e) Rencana penutupan sistem tangki setelah masa operasionalnya berakhir. f) Jika tangki dirancang untuk dibangun di dalam tanah, maka harus dengan
22
bangun atau kegiatan yang dapat melindungi sistem tangki terhadap potensi kerusakan.
2. Pada masa konstruksi berlangsung, maka pemilik/operator selama masa itu harus memastikan agar selama pemasangan tangki dan sistem penunjangnya telah diterapkan prosedur penanganan yang tepat untuk mencegah terjadinya kerusakan selama tahap konstruksi berlangsung. Pondasi, rangka penunjang, keliman, sambungan, dan kontrol tekanan (jika ada) dirancang memenuhi persyaratan keamanan lingkungan. Sistem tangki harus ditunjang kekuatan rangka yang memadai, terbuat dari bahan yang cocok dengan karakteristik limbah yang akan disimpan atau diolah di tempat yang akan ditentukan, dan aman terhadap korosi sehingga tangki tidak mudah rusak dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama.
3. Terhadap tangki penyimpanan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang telah terpasang dan atau telah dioperasikan sebelum keputusan ini ditetapkan, atau terhadap tangki penyimpanan bahan yang menurut peraturan yang berlaku 4. merupakan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), maka pemilik/operator diharuskan untuk mengajukan rekomendasi pengoperasian tangki dengan melampirkan laporan hasil evaluasi sesuai dengan butir 1 di atas.
5. Dalam pengoperasian tangki sebagai tempat pengemasan/pewadahan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), maka :
a) Tangki dan sistem penunjangnya harus terbuat dari bahan yang saling cocok dengan karakteristik dan jenis limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dikemas/disimpannya.
23
b) Limbah-limbah yang tidak saling cocok tidak ditempatkan secara bersama-sama di dalam tangki. Apabila tangki akan digunakan untuk menyimpan limbah yang tidak saling cocok dengan karakteristik limbah sebelumnya, maka tangki harus terlebih dahulu dicuci bersih
c) Tidak digunakan untuk menyimpan limbah mudah menyala atau reaktif kecuali :
i. Limbah tersebut telah diolah atau dicampur terlebih dahulu sebelum/segera setelah ditempatkan di dalam tangki, sehingga olahan atau campuran limbah yang terbentuk tidak lagi berkarakteristik mudah menyala atau reaktif, atau
ii. Limbah disimpan atau diolah dengan suatu cara sehingga tercegah dari kondisi atau bahan yang menyebabkan munculnya sifat mudah menyala atau reaktif.
6. Untuk mencegah terlepasnya limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) ke lingkungan, tangki wajib dilengkapi dengan penampungan sekunder. Penampungan sekunder dapat berupa satu atau lebih dari ketentuan berikut; pelapisan (di bagian luar tangki); tanggul (vault; berm) dan atau tangki berdinding ganda, dengan ketentuan bahwa penampungan sekunder tersebut harus :
a) Dibuat atau dilapisi dengan bahan yang saling cocok dengan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang disimpan serta memiliki ketebalan dan kekuatan memadai untuk mencegah kerusakan akibat pengaruh tekanan.
24
b) Ditempatkan pada pondasi atau dasar yang dapat mendukung ketahanan tangki terhadap tekanan dari atas dan bawah dan mampu mencegah kerusakan yang diakibatkan karena pengisian, tekanan atau uplift.
c) Dilengkapi dengan sistem deteksi kebocoran yang dirancang dan dioperasikan 24 jam sehingga mampu mendeteksi kerusakan pada struktur tangki primer dan sekunder, atau lepasnya limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dari sistem penampungan sekunder.
d) Penampungan sekunder, dirancang untuk dapat menampung dan mengangkat cairan-cairan yang berasal dari kebocoran, ceceran atau presipitasi.
7. Sistem tangki atau sistem pengumpul sekunder yang mengalami kebocoran atau gangguan yang menyebabkan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang disimpannya terlepas, maka pemilik atau operator harus segera melakukan :
a) Penghentian operasional sistem tangki dan mencegah aliran limbah.
b) Memindahkan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dari sistem tangki atau sistem penampungan sekunder.
c) Mewadahi limbah yang terlepas ke lingkungan, mencegah terjadinya perpindahan tumpahan ke tanah atau air permukaan, serta mengangkat tumpahan yang terlanjur masuk ke tanah atau air permukaan.
d) Membuat catatan dan laporan mengenai kecelakaan dan penanggulangan yang telah dilakukan.
25
2.6 Persyaratan Penyimpanan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
Menurut Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : Kep-01/BAPEDAL/09/1995, Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), ketentuan dalam bagian ini berlaku bagi penghasil limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang melakukan kegiatan penyimpanan sementara yang dilakukan di dalam lokasi pabrik/fasilitas.
Tata Cara Penyimpanan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (B3):
1. Penyimpanan kemasan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3)
a) Penyimpanan kemasan harus dibuat dengan sistem blok. Setiap blok terdiri atas 2 (dua) x 2 (dua) kemasan, sehingga dapat dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap kemasan sehingga jika terdapat kerusakan kecelakaan dapat segera ditangani.
b) Lebar gang antar blok harus memenuhi persyaratan peruntukannya. Lebar gang untuk lalu lintas manusia minimal 60 cm dan lebar gang untuk lalu lintas kendaraan pengangkut (forklift) disesuaikan dengan kelayakan pengoperasiannya.
c) Penumpukan kemasan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) harus mempertimbangkan kestabilan tumpukan kemasan. Jika kemasan berupa drum logam (isi 200 liter), maka tumpukan maksimum adalah 3 (tiga) lapis dengan tiap lapis dialasi palet (setiap palet mengalasi 4 drum). Jika tumpukan lebih dari 3 (tiga) lapis atau kemasan terbuat dari plastik, maka harus dipergunakan rak.
26
d) Jarak tumpukan kemasan tertinggi dan jarak blok kemasan terluar terhadap atap dan dinding bangunan penyimpanan tidak boleh kurang dari satu meter. e) Kemasan-kemasan berisi limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang
tidak saling cocok harus disimpan secara terpisah, tidak dalam satu blok, dan tidak dalam bagian penyimpanan yang sama. Penempatan kemasan harus dengan syarat bahwa tidak ada kemungkinan bagi limbah-limbah yang tersebut jika terguling/tumpah akantercampur/masuk ke dalam bak penampungan bagian penyimpanan lain.
2. Penempatan tangki Penyimpanan limbah cair dalam jumlah besar disarankan menggunakan tangki dengan ketentuan sebagai berikut:
a) Disekitar tangki harus dibuat tanggul dengan dilengkapi saluran pembuangan yang menuju bak penampung.
b) Bak penampung harus kedap air dan mampu menampung cairan minimal 110% dari kapasitas maksimum volume tangki.
c) Tangki harus diatur sedemikian rupa sehingga bila terguling akan terjadi di daerah tanggul dan tidak akan menimpa tangki lain.
d) Tangki harus terlindung dari penyinaran matahari dan masuknya air hujan secara langsung. (Riyanto.2018. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3). Yogyakarta.)
2.7 Larutan Standard Kerja
Larutan adalah campuran homogen. Suatu campuran dikatakan homogen jika antar komponennya tidak terdapat bidang batas sehingga tidak terbedakan lagi walaupun menggunakan mikroskop ultra. Selain itu campuran homogen
27
mempunyai komposisi yang sama pada setiap bagiannya. Larutan Standard digunakan sebagai kontrol dalam suatu percobaan sebagai nilai 100 % transmitan. Dari larutan standar ini dapat digunakan salah satunya untuk menentukan panjang gelombang maksimum untuk mempermudah mengatur range panjang gelombang yang akan digunakan, selain itu penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan untuk mengetahui absorpsi mencapai maksimum sehingga meningkatjan proses absorpsi larutan terhadap sinar (Basset, 1994)
Larutan Standard adalah larutan yang konsentrasinya zat terlarutnya diketahui secara pasti. Berdasarkan kemurniannya larutan standard dibedakan menjadi larutan Standard primer dan larutan Standard sekunder. Larutan Standard primer adalah larutan Standard yang dipersiapkan dengan menimbang dan melarutkan suatu zat tertentu dengan kemurnian tinggi. Larutan Standard sekunder adalah larutan Standard yang dipersiapkan dengan menimbang dan melarutkan suatu zat tertentu dengan kemurnian relatif rendah sehingga konsentrasi diketahui dari hasil Standardisasi (Day, Underwood, 1999).
2.8 Lean Manufacturing
Lean Manufacturing merupakan suatu konsep yang awalnya
dikembangkan oleh Toyota, kemudian dikenal sebagai Just–In–Time Manufacturing. Konsep Lean Manufacturing bertujuan untuk mengubah suatu organisasi di perusahaan menjadi lebih efisien dan kompetitif. Aplikasi dari konsep Lean Manufacturing yaitu mengurangi lead time dan meningkatkan output dengan menghilangkan pemborosan yang terjadi di sebuah perusahaan. Menurut Gaspersz (2007:9), lean manufacturing merupakan suatu sistem produksi
28
yang menggunakan energi dan pemborosan yang sangat sedikit untuk memenuhi apa yang menjadi keinginan konsumen dengan tepat. Tujuan dari lean manufacturing adalah mengeliminasi pemborosan (non value adding activity) dari suatu proses sehingga aktivitas-aktivitas sepanjang value stream mampu menghasilakan value adding. Gaspersz (2006) dalam Lean Six Sigma menyatakan terdapat lima prinsip dasar dari lean, yaitu:
1. Mengidentifikasi nilai produk (barang dan/atau jasa) berdasarkan perspektif pelanggan, dimana pelangggan menginginkan produk (barang dan/atau jasa) berkualitas superior, dengan harga yang kompetitif pada penyerahan yang tepat waktu.
2. Mengidentifikasi value stream process mapping (pemetaan proses pada value stream) untuk setiap produk (barang dan/atau jasa).
3. Menghilangkan pemborosan yang tidak bernilai tambah dari semua aktivitas sepanjang proses value stream itu.
4. Mengorganisasikan agar material, informasi, dan produk itu mengalir secara lancar dan efisien sepanjang proses value stream menggunakan sistem tarik (pull system).
5. Mencari terus-menerus berbagai teknik dan alat-alat peningkatan (improvement tools and techniques) untuk mencapai keunggulan (excellence) dan peningkatan terus- menerus (continous improvement).
Lean bermakna “pabrikasi tanpa pemborosan”. Pemborosan adalah sebuah kegiatan yang menyerap atau memboroskan sumber daya seperti pengeluaran biaya ataupun waktu tambahan tetapi tidak menambahkan nilai apapun dalam kegiatan tersebut. Ada tujuh jenis pemborosan yaitu pemborosan dari produksi
29
berlebih, pemborosan waktu tunggu, pemborosan transportasi, pemborosan pada proses, pemborosan inventori, gerakan yang berlebihan dan produk cacat. Kebanyakan terjadi perusahaan memboroskan 70-90 persen sumber daya yang tersedia. Bahkan pabrik lean yang terbaik kemungkinan memboroskan kurang lebih 30 persen. Dengan kondisi tersebut perusahaan harus menemukan caranya sendiri untuk menerapkan lean tersebut. Dari penerapan Lean, terdapat tiga hasil yang diharapkan yaitu sebagai berikut:
a. Proses yang lebih baik
Yaitu memberikan nilai yang lebih banyak kepada pelanggan dan melakukannya dengan lebih efisien. Efisien yang dimaksud adalah mampu mengurangi biaya, pemborosan, dan tindakan yang paling sedikit).
b. Kondisi Kerja yang lebih baik
Yaitu meliputi aliran kerja yang lebih jelas, pembagian nilai dan tujuan kerja, kemampuan yang lebih besar melaksanakan pekerjaan, kemampuan lebih besar untuk tetap meningkatkan dan memperbaiki segala sesuatu, pekerja merupakan bagian dari pelayanan.
c. Memenuhi kebutuhan dan tujuan organisasi, yang dapat meliputi keuntungan, pertumbuhan, nilai, dan pengaruh.
2.8.1 Prinsip Dasar Lean Manufacturing
Lean manufacturing memiliki tiga prinsip dasar yang diterapkan dalam produksi untuk mencapai tujuan operasional bisnis antara lain:
30
Pendefinisian nilai produk dilakukan dengan mengacu kepada pandangan dan pendapat pelanggan (Voice of Customer) melalui kerangka QCDS dan PME (Productivity, Motivation, dan Environment). Pendefinisian nilai produk dimulai dengan membuat pemetaan aliran nilai (Value Stream Mapping). Tujuannya adalah mengidentifikasi value yang ada pada seluruh aliran proses, mulai dari pemasok hingga pelanggan. Hasil identifikasi tersebut adalah pengetahuan mengenai titik-titik pada proses yang tidak memberikan nilai tambah kepada pelanggan.
2. Prinsip Menghilangkan Pemborosan (Waste Elimination)
Pemborosan atau waste dalam konsep Lean Manufacturing adalah segala aktifitas yang tidak memberi nilai tambah kepada produk yang dapat menyebabkan kepuasan pelanggan. Jadi, segala aktifitas dianggap sebagai waste jika tidak memberikan kontribusi untuk peningkatan nilai produk di mata pelanggan.
3. Prinsip Mengutamakan Karyawan (Support the Employee)
Penerapan Lean Manufacturing harus dilakukan oleh karyawan di semua level dalam organisasi. Karena itulah, perusahaan harus mendukung karyawan dengan memberikan pendidikan dan pelatihan yang memadai untuk memahami Lean Manufacturing, dari metode hingga perkakasnya. Operasional harian untuk proyek-proyek Lean Manufacturing di perusahaan sepenuhnya berada ditangan karyawan. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan yang memadai untuk menjalankannya dengan benar.
31
2.8.2 Tujuh Pemborosan (waste) dalam Proses Produksi
Menurut Suhartono (2007: 13-14), di dalam Toyota Production System (TPS) terdapat tujuh waste dalam proses produksi yaitu sebagai berikut:
1. Overproduction, yaitu pemborosan yang disebabkan produksi yang berlebihan, maksudnya adalah memproduksi produk yang melebihi yang dibutuhkan atau memproduksi lebih awal dari jadwal yang sudah buat.
2. Waiting, yaitu pemborosan karena menunggu untuk proses berikutnya. Waiting merupakan selang waktu ketika operator tidak menggunakan waktu untuk melakukan value adding activity dikarenakan menunggu aliran produk dari proses sebelumnya (upstream).
3. Transportation, transportasi merupakan kegiatan yang penting akan tetapi tidak menambah nilai pada suatu produk. Transportasi merupakan proses memindahkan material atau work in process (WIP) dari satu stasiun kerja ke stasiun kerja yang lainnya, baik menggunakan forklift maupun conveyor. 4. Excess processing, terjadi ketika metode kerja atau urutan kerja (proses) yang
digunakan dirasa kurang baik dan fleksibel. Hal ini juga dapat terjadi ketika proses yang ada belum standar sehingga kemungkinan produk yang rusak akan tinggi. Adanya variasi metode yang dikerjakan operator.
5. Inventories, adalah persediaan yang kurang perlu. Maksudnya adalah persediaan material yang terlalu banyak, work in process yang terlalu banyak antara proses satu dengan yang lainnya sehingga membutuhkan ruang yang banyak untuk menyimpannya, kemungkinan pemborosan ini adalah buffer yang sangat tinggi.
32
6. Motion, adalah aktivitas/pergerakan yang kurang perlu yang dilakukan operator yang tidak menambah nilai dan memperlambat proses sehingga lead time menjadi lama.
7. Defects, adalah produk yang rusak atau tidak sesuai dengan spesifikasi. Hal ini akan menyebabkan proses rework yang kurang efektif, tingginya komplain dari konsumen, serta inspeksi level yang sangat tinggi.
2.9 Logam Berat
Yang termasuk kedalam logam berat (heavy element) menurut Saeni (2002) menjelaskan bahwa unsur-unsur logam berat yang potensial menimbulkan pencemaran pada lingkungan adalah; Fe, As, Cd, Pb, Hg, Mn, Ni, Cr, Zn, dan Cu, karena unsur ini lebih ekstensif penggunaannya demikian pula dengan tingkat toksisitasnya yang tinggi. Sementara United State Environment Protection Agency (US EPA) mendata logam berat yang merupakan pencemar utama berbahaya yaitu Sb, Ag, Be, Cd, Cr, Cu, Pb, Hg, Ni, Se, Sr, Ag dan Zn (Sukhendrayatna, 2001) namun terdapat pula logam berat seperti Cr, Cu, Fe, Mn, Mo yang merupakan unsur hara mikro yang esensial bagi tanaman, tetapi bila jumlahnya terlalu besar akan merupakan racun bagi tanaman. Adanya racun pada tanah terutama bila logam tersebut telah terakumulasi dan telah melebihi batas kritis dalam tanah.
Alloway (1995) mengatakan bahwa kelebihan logam berat dalam tanah bukan hanya meracuni tanaman dan organisme, tetapi dapat berimplikasi pada pencemaran lingkungan. Logam berat termasuk zat pencemar karena sifatnya yang stabil dan sulit untuk diuraikan.
33 2.10 Limbah Laboratorium
Di Indonesia cenderung bekerja dengan konsentrasi kecil, seperti milligram atau gram dan cenderung bekerja dengan beragam variasi bahan kimia. (McKusick, 1981) Dalam laboratorium terdiri dari beberapa bahan berbahaya. Bahan berbahaya tersebut dapat dikelompokan menjadi :
2.10.1 Bahan Berbahaya Fisik
Bahan berbahaya fisik terdiri dari api, ledakan kejut listrik. Bahan berbahaya fisik ini selalu berhubungan dengan bahan berbahaya kimia. Pemanas listrik dapat digunakan sebagai pengganti pemanas bunsen agar lebih aman dan megurangi potensi api dan ledakan. Selain itu, untuk menghindari timbulnya api atau ledakan dapat dilakukan dengan membatasi jumlah cairan flammable dan explosion.
2.10.2 Bahan Berbahaya Kimia
Semua bahan kimia berpotensi membahayakan. Upaya yang paling tepat mengontrol semua bahan kimia berbahaya adalah meminimisasi exposure bahan kimia. Upaya penanganan dalam laboratorium terhadap bahan berhaya, baik fisik maupun kimia adalah sebagai berikut: (McKusick, 1981)
2.10.2.1 Ventilasi Laboratorium
Hal ini sangat direkomendasikan karena pekerja laboratorium selalu menghabiskan waktunya dengan bahan kimia di laboratorium. Bahan kimia disimpan dalam cabinet berventilasi. Peralatan pelindung, seperti face shield atau goggles, gloves atau sarung tangan, celemek, jas lab dan jump suit. Selain alat
34
pelindung diri, perlu juga disediakan alat untuk keadaan darurat, seperti pemadam kebakaran, safety shower, water fountain, alat pernafasan dan kotak P3K.
2.10.2.2 Pengadaan dan Penyimpanan Bahan Kimia
Ruang penyimpanan sebaiknya dingin dan berventilasi baik. Cairan flammable dalam jumlah besar sebaiknua disimpan dan dikeluarkan dalam ruangan terpisah, terutama dalam gedung yang resisten api jauh dari gedung utama. Penyimpanan bahan kimia berkadar roksik, rekatif atau flammable tinggi dihidrasi dan bahan bahan berbahaya sebaiknya disimpan pada cabinet berventilasi.
2 .11 Pengelolaan Limbah B3
Pengelolaan limbah B3 adalah rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan penimbunan limbah B3. Pelaku pengelolaan limbah B3 adalah penghasil yaitu setiap orang yang melakukan usaha dan atau kegiatan yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun dan/atau menghasilkan limbah B3, pengumpul yaitu badan usaha yang melakukan pengumpulan limbah B3, pengangkut yaitu badan usaha yang melakukan pengangkutan limbah B3, pemanfaat yaitu badan usaha yang melakukan kegiatan pemanfaatan limbah B3, pengolahan dilakukan oleh penghasil atau badan usaha yang melakukan kegiatan pengolahan limbah B3, dan penimbun limbah B3 yaitu badan usaha yang melakukan kegiatan penimbunan limbah B3. Penentuan karakteristik limbah B3 biasanya mengacu pada Material Safety Data Sheet (MSDS) pada setiap zat kimia yang dominan terkandung pada limbah B3. Material Safety Data Sheet atau yang kita kenal dengan MSDS adalah
35
suatu form yang berisi keterangan data fisik (titik lebur, titik didih, titik flash, dan sebagainya), toksisitas, pengaruh terhadap kesehatan, pertolongan pertama, reaktifitas, penyimpanan dan pembuangan yang aman, peralatan proteksi, serta prosedur penanganan bahaya (Anggraeni, N dan kawan-kawan, 2014).
Limbah laboratorium berasal dari buangan hasil reaksi-reaksi berbagai larutan kimia berbahaya dalam suatu eksperimen. Larutan kimia tersebut diantaranya mengandung bahan-bahan kimia toksik dan logam-logam berat (Heavy Element) yang berbahaya bagi makhluk hidup dan lingkungan. Bahan-bahan kimia merupakan Bahan-bahan yang berbahaya dan memiliki resiko tinggi bila tercemar ke lingkungan, karena memiliki zat yang bersifat racun (toksik). Tidak hanya bahan-bahan kimia, akan tetapi dimiliki oleh logam-logam berat misalnya Al, As, Sb, Cd, Cr, Fe, Hg, Co, Ni, Zn, Sn, Sr, Cu, Ba, Se, B dan lainnya sehingga aliran buangan limbah laboratorium akan membahayakan lingkungan dan makhluk hidup di sekitarnya bila tidak dilakukan pengolahan limbah terlebih dahulu.
2.12 Dampak Logam Berat Terhadap Kesehatan
Logam berat ialah unsur logam dengan berat molekul tinggi. Dalam kadar rendah logam berat pada umumnya sudah beracun bagi tumbuhan dan hewan, termasuk manusia. Elemen ini tidak dapat didegradasi maupun dihancurkan. Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, air minum, atau udara. Logam berat seperti tembaga, selenium, atau seng dibutuhkan tubuh manusia untuk membantu kinerja metabolisme tubuh. Akan tetapi, dapat berpotensi menjadi racun jika konsentrasi dalam tubuh berlebih. Logam berat
36
menjadi berbahaya disebabkan sistem bioakumulasi, yaitu peningkatan konsentrasi unsur kimia didalam tubuh mahluk hidup. Secara keseluruhan terdapat 109 unsur kimia yang terdiri dari 80 jenis logam berat. Di bawah ini adalah beberapa logam berat yang berpengaruh terhadap kesehatan manusia (Widowati et.al., 2008).
2.12.1 Merkuri (Hg)
Air raksa atau merkuri (Hg) adalah logam yang menguap pada temperatur kamar. Karena sifat kimia-fisiknya, merkuri pernah digunakan sebagai campuran obat. Saat ini merkuri banyak digunakan dalam industri pembuatan perhiasan, instrumentasi, fungsida, bakterisida, dan lain- lainnya. Air raksa merupakan racun sistemik dan dapat terakumulasi di dalam di hati (lever), ginjal, limpa, atau tulang. Hg dapat dikeluarkan oleh tubuh manusia diexkresikan lewat urine, feces, keringat, saliva, dan air susu. Keracunan Hg akan menimbulkan gejala gangguan susunan saraf pusat (SSP) seperti kelainan kepribadian dan tremor, convulsi, pikun, insomania, kehilangan kepercayaan diri, iritasi, depresi, dan rasa ketakutan. Gejala gastero-intestinal (GI) seperti stomatis, hipersalivasi, colitis, sakit saat mengunyah, ginggivitis, garis hitam pada gusi (leadline), dan gigi yang mudah lepas. Kulit dapat menderita dermatritis, dan ulcer. Hg yang organik cenderung merusak susunan saraf pusat (tremor, ataxia, lapangan penglihatan meciut, perubahan kepribadian), sedangkan Hg anorganik bisanya merusak ginjal, dan menyebabkan cacat bawaaan. Di alam, Hg anorganik dapat berubah menjadi organik dan sebaliknya karena adanya karena adanya interaksi dengan mikroba. Genus Pseudomonas dan Neurospora dapat mengubah Hg anorganik menjadi
37
organik. Staphilococcus aureus antara lain dapat mereduksi Hg2+ menjadi Hg elemental
2.12.2 Arsen (As)
Arsen (As) adalah metal yang mudah patah, berwarna keperakan dan sangat toxik. As elemental didapat di alam dalam jumlah sangat terbatas; terdapat bersama-sama Cu, sehingga didapatkan produk sampingan pabrik peleburan Cu. As sudah sejak lama sering digunakan untuk racun tikus dan keracunan arsen pada manusia sudah sangat dikenal, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Keracunan akut menimbulkan gejala muntaber disertai darah, disusul dengan koma, dan apabila dibiarkan dapat menyebabkan kematian. Secara khronis keracunan arsen dapat menimbulkan anorexia, kolk, mual, diare atau konstipasi, iceterus, pendarahan pada ginjal, dan kanker kulit. As dapat menimbulkan iritasi, alergi, dan cacat bawaaan. Di masa lampau, As dalam dosis kecil digunakan sebagai campuran tonikum, tetapi kemudian ternyata bahwa As ini dapat menimbulkan kanker kulit pada peminumnya
2.12.3 Kadmium (Cd)
Kadmium (Cd) adalah metal berbentuk kristal putih keperakan. Cd didapat bersama- sama Zn, Cu, Pb, dalam jumlah yang kecil. Cd didapat pada industri alloy, pemurnian Zn, pestisida, dan lain-lain. Tubuh manusia tidak memerlukan Cd dalam fungsi da pertumbuhannya, karena Cd sangat beracun bagi manusia. Keracunan akut akan menyebabkan gejala gasterointestial, dan penyakit ginjal. Gejala klinis keracunan Cd sangat mirip dengan penyakit glomerulo- nephiritis biasa. Hanya pada fase lanjut dari keracunan Cd ditemukan pelunakan dan fraktur (patah) tulang punggung yang multipel. Di Jepang sakit pinggang ini dikenal
38
sebagai penyakit “Itai-Itai disease” . Gejalanya adalah sakit pinggang, patah tulang, tekanan darah tinggi, kerusakan ginjal, gejala seperti influenza, dan sterilitas pada laki-laki.
2.12.4 Khromium (Cr)
Khromium (Cr) adalah metal kelabu yang keras. Cr didapatkan pada industri gelas, metal, fotografi, dan elektroplating. Khromium sendiri sebetulnya tidak toxik, tetapi elemennya sangat iritan dan korosif, menimbulkan ulcus yang dalam pada kulit dan selaput lendir. Inhalisi Cr dapat menimbulkan kerusakan pada tulang hidung. Di dalam paru-paru, Cr ini dapat menimbulkan kanker
2.12.5 Aluminium (Al)
Aluminium adalah logam lunak dan ringan dan memiliki warna keperakan kusam karena lapisan tipis oksidasi yang terbentuk saat unsur ini terkena udara. Aluminium adalah logam tidak beracun dan non magnetik. Unsur ini hanya memiliki satu isotop alami, aluminium-27, yang tidak radioaktif. Aluminium merupakan elemen berlimpah dalam kerak bumi dengan persentase sekitar 7,5% hingga 8,1%. Aluminium sangat jarang ditemukan dalam bentuk unsur bebasnya. Aluminium berkontribusi besar mempengaruhi sifat-sifat tanah, yang hadir terutama sebagai aluminium hidroksida. Aluminium merupakan logam yang reaktif sehingga sulit untuk mengekstrak dari bijihnya yaitu aluminium oksida (Al2O3). Aluminium adalah salah satu logam yang paling sulit untuk dimurnikan karena teroksidasi sangat cepat. Oksidasi aluminium membentuk elemen yang sangat stabil, tidak seperti karat pada besi yang rapuh.