• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 1-IV

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, mulai ditata pembagian urusan pemerintahan yang semakin jelas antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 menerapkan konsep urusan residu (residual functions) untuk kabupaten/kota dengan mengatur hanya urusan-urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi, sedangkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 menerapkan konsep urusan konkuren (concurrent

functions) antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Setiap urusan dibagi berdasarkan tiga

kriteria yaitu eksternalitas, akuntabilitas dan efisiensi. Penerapan ketiga kriteria tersebut melahirkan pembagian urusan yang jelas antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten/ Kota.

Ada 31 (tiga puluh satu) urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah otonom Provinsi dan Kabupaten/Kota yang bersifat konkuren. Dengan pembagian berdasarkan ketiga kriteria tersebut maka Pemerintah Pusat mempunyai kewenangan urusan pemerintahan yang berskala nasional dan lintas Provinsi, sedangkan Pemerintah Provinsi mempunyai kewenangan menangani urusan pemerintahan yang berskala provinsi dan lintas kabupaten/kota dan pemerintah kabupaten/kota mempunyai kewenangan atas urusan pemerintahan yang berskala kabupaten/kota atas ke 31 (tiga puluh satu) urusan pemerintahan yang bersifat konkuren tersebut.

Penyerahan ke 31 (tiga puluh satu) urusan tersebut didasarkan kepada kemampuan keuangan daerah yaitu keseimbangan fiskal dalam membiayai penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan daerah melalui perimbangan keuangan untuk meningkatkan daya saing daerah. Suatu bentuk kerjasama antar daerah yang saling menguatkan masing-masing potensi sosial, ekonomi dan budaya daerah untuk menumbuhkan perekonomian daerah yang menuju kepada peningkatan penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Sesuai dengan amanat pasal 195 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, untuk efisiensi dan efektivitas pelayanan publik, beberapa daerah dapat melaksanakan kerjasama. Daerah dapat melakukan kerjasama dengan pemerintah, badan/lembaga dan sektor swasta baik di dalam maupun di luar negeri. Apabila kerjasama daerah dilakukan dengan tepat dan direncanakan secara baik, diharapkan kerjasama tersebut dapat mengoptimalkan potensi daerah, memberdayakan masyarakat, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menyelesaikan permasalahan pembangunan daerah. Keterbatasan

(2)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 2-IV

anggaran dan sumber daya manusia mendorong daerah untuk mencari alternatif sumber lain bagi pembangunan di daerahnya. Dengan demikian, tantangan ke depan adalah bagaimana fasilitasi dan koordinasi kerjasama dapat menghasilkan kerjasama yang betul-betul memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah melalui regulasi dan kebijakan daerah serta monitoring dan evaluasinya.

Secara empirik masih dirasakan adanya beberapa permasalahan yang akan mengganggu efektifitas penyelenggaraan pemerintahan daerah. Meskipun pendidikan politik sebagai salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam kebijakan desentralisasi telah menunjukkan hasil yang relatif menggembirakan, namun belum diimbangi dengan capaian yang memadai dalam aspek peningkatan kesejahteraan di tingkat lokal.

Bagian hulu dari kesejahteraan adalah urusan pemerintahan yang menjadi domain kewenangan Pemerintah Daerah. Muara dari urusan pemerintahan tersebut adalah pelayanan publik. Ada dua varian dari pelayanan publik yang dihasilkan oleh Pemerintah Daerah yaitu penyediaan barang-barang untuk kebutuhan publik (public goods) seperti jalan, jembatan, pasar terminal, rumah sakit dan lain-lainnya dan kedua adalah pengaturan-pengaturan publik (public

regulations) yang dikemas dalam bentuk peraturan daerah seperti Perda Izin Mendirikan

Bangunan, Perda Kependudukan, Perda Pajak dan Retribusi Daerah dan lain-lainnya. Penyediaan barang-barang publik dan pengaturan-pengaturan publik sejatinya adalah hasil akhir (end

products) dari kinerja Pemerintah Daerah. Setelah lebih dari satu dekade pasca reformasi,

pelaksanaan otonomi daerah masih memerlukan pembenahan dalam penyediaan pelayanan publik khususnya yang terkait dengan penyediaan pelayanan dasar yang masih belum menunjukkan pencapaian yang signifikan dari Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Kalau kita lihat dari sisi kewenangan, maka ketiga indikator utama pembentuk Indeks Pembangunan Manusia sebagai elemen dasar kesejahteraan masyarakat adalah menjadi domain kewenangan daerah, khususnya kabupaten dan kota. Demikian juga mengenai pencapaian MDGs, hampir semua indikator MDGs menjadi kewenangan daerah. Namun demikian, untuk dapat mencapai MDGs pada tahun 2015 tampaknya akan sangat sulit. Data empirik menunjukkan bahwa pencapaian dari aspek politik tidak simetris dengan pencapaian dalam aspek kesejahteraan. Ini juga berarti bahwa pembangunan politik kurang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hiruk pikuk yang terjadi pada sisi politik di tingkat lokal kurang menghasilkan perubahan yang signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat daerah. Kalau hal tersebut dibiarkan terus akan mengakibatkan persepsi buruk masyarakat terhadap otonomi daerah. Berbagai tudingan negatif masyarakat telah dialamatkan kepada otonomi daerah seperti munculnya istilah raja-raja kecil, desentralisasi korupsi, pecah kongsi Kepala Daerah dengan wakil Kepala Daerah, masalah hukum yang menimpa Kepala Daerah dan wakil Kepala Daerah, politisasi birokrasi, politik dinasti, dan perhatian elit politik tidak kepada pemberdayaan potensi daerah

(3)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 3-IV

sehingga berakibat terbengkalainya upaya mensejahterakan masyarakat dan lain-lainnya. Sedangkan cita-cita reformasi adalah bagaimana mengembalikan kedaulatan rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara diantaranya melalui otonomi daerah dan menjadikan otonomi daerah sebagai instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan dan memajukan pendidikan politik.

Berangkat dari perubahan mendasar dalam regulasi pemerintahan daerah, mendorong orientasi cakupan serta target-target perencanaan strategis pada Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama, perlu disesuaikan dengan semangat Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 serta undang-undang lainnya yang menjadi co-regulation dalam manajemen pemerintahan daerah, seperti Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2005 tentang Pengawasan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara serta undang-undang lainnya. Dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dijelaskan bahwa penyelenggaraan pemerintah daerah menggunakan asas desentralisasi atau otonomi dan tugas pembantuan. Berdasarkan penjelasan umum dalam undang-undang tersebut, pemberian otonomi luas kepada daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat.

Sebagaimana dimaklumi bahwa pemberian otonomi daerah bukan saja dimaksudkan sebagai desentralisasi kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah (government to

government), namun juga harus dipahami sebagai pemberian kewenangan secara proporsional

kepada masyarakat di daerah (government to society), untuk melaksanakan berbagai urusan yang sudah dapat dilaksanakan oleh masyarakat, termasuk di dalamnya kalangan swasta. Penyerahan wewenang pemerintahan tersebut, terkait dengan berbagai urusan pemerintahan selain yang merupakan urusan pemerintah pusat.

Berbicara masalah reformasi birokrasi di daerah dikaitkan dengan pelayanan publik dalam kepemerintahan yang baik atau Good Governance adalah berbicara tentang kepatutan dalam sistem pemerintahan dari aspek kelembagaan, aparatur/sumber daya manusia, ketatalaksanaan, dan dana. Namun demikian kinerja birokrasi masih dinilai sebagai berikut :

1.

Kelembagaan pemerintah masih belum sepenuhnya berdasarkan prinsip organisasi

yang efisien dan rasional, sehingga struktur organisasi kurang proporsional;

2.

Sistem manajemen kepegawaian belum mampu mendorong peningkatan

profesionalitas, kompetensi dan remunerasi yang layak dan adil sesuai dengan

tanggung jawab dan beban kerja, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang

(4)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 4-IV

Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun

1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian;

3.

Sistem dan prosedur kerja di lingkungan aparatur negara belum efisien, efektif dan

berperilaku hemat;

4.

Pelayanan publik belum sesuai dengan tuntutan dan harapan masyarakat;

5.

Masih terdapat permasalahan dalam penetapan kinerja dan penerapan akuntabilitas

kinerja instansi pemerintah;

6.

Praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme belum sepenuhnya teratasi;

7.

Sistem pengelolaan anggaran yang belum berbasis kinerja;

8.

Penanganan aset-aset pemerintah yang belum maksimal;

9.

Terabaikannya nilai-nilai etika dan budaya kerja dalam birokrasi sehingga

melemahkan disiplin kerja, etos kerja, dan produktivitas kerja.

Adanya permasalahan seperti tersebut di atas tentunya perlu di tindaklanjuti dengan

reformasi birokrasi, salah satu upaya yang dilakukan adalah pembenahan organisasi

perangkat daerah.

Organisasi yang dinamis harus mampu beradaptasi dengan perubahan. C.K. Prahalad

(1987) mengemukakan bahwa: “If you learn, you’ll change, If you don’t change, you’ll

die”. Artinya kalau kita mau belajar berarti kita akan berubah, sedangkan kalau kita tidak

mau berubah mengikuti atau mendahului perubahan, maka kita akan tersingkir. Hal ini

berlaku pada organisasi pada umumnya serta organisasi pemerintah pada khususnya. Hal

tersebut sejalan dengan pandangan Peter M. Senge (1990) mengenai perlunya membentuk

organisasi pembelajaran (learning organization), yang dimulai dari pembelajaran

individual (individual learning) dan kelompok pembelajaran (group learning).

Para ahli organisasi seperti Gouillart & Kelly (1995); Belbin (1996) Mohrman et al

(1998); Groth (1999), pada umumnya sepakat bahwa organisasi abad 21 memiliki ciri :

- lebih kecil (smaller);

- lebih cepat (faster); - lebih terbuka (openness); - lebih melebar (wideness).

Pada sisi lain, Warren & Bennis (1995) misalnya menyarankan agar organisasi abad 21, khususnya organisasi pemerintahan lebih mengutamakan kemampuan profesional dibandingkan kewenangan yang dimilikinya. Dalam bahasa yang sederhana mereka mengatakan perlunya pergeseran dari paradigma kewenangan pada paradigma profesionalisme (from Macho to

(5)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 5-IV

Agar organisasi dapat selalu beradaptasi dengan perubahan lingkungan sekitarnya, diperlukan proses transformasi. Gouillart & Kelly (1995) mengemukakan model 4R untuk transformasi organisasi yaitu :

1. Reframing corporate direction; 2. Restructuring the company; 3. Revitalizing the enterprise; 4. Renewing people.

Berkaitan dengan hal diatas, seiring dengan perubahan yang semakin cepat baik lingkungan eksternal maupun internal yang ditandai dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Kabupaten/Kota serta Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah menjadi momentum krusial bagi terselenggaranya reformasi birokrasi khususnya pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Reformasi birokrasi tersebut diawali dengan penyusunan dokumen perencanaan, mulai dari Perencanaan Jangka Panjang, Jangka Menengah hingga Jangka Pendek. Oleh sebab itu, dalam konteks unit kerja sebagaimana ketentuan yang berlaku (Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999), maka di lingkungan unit kerja Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama disusun perencanaan strategis Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama periode 2013-2018.

Perencanaan Strategis adalah dokumen perencanaan organisasi perangkat daerah untuk periode lima tahun yang memuat Visi, Misi, Tujuan, Strategi, Kebijakan Program dan Kegiatan yang disusun sesuai dengan Tugas dan Fungsi organisasi perangkat daerah serta berpedoman kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dan bersifat indikatif.

Proses penyusunan Renstra Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama dilakukan melalui Focus

Group Discussion (FGD) yang melibatkan unsur bagian-bagian yang ada di Biro Otonomi Daerah

dan Kerjasama.

1.2. Landasan Hukum

1. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1999 Nomor 156, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3882);

2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 185, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4012);

(6)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 6-IV

3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesoa Tahun 2004 Nomor 164, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4484);

5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

6. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);

7. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja

Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Masyarakat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4693);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

(7)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 7-IV

13. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4761);

15. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815);

16. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4816);

17. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);

18. Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah; 19. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan

Daerah;

20. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah Daerah dengan Pihak Luar Negeri

21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2009 tentang Pedoman Peningkatan Kapasitas Pelaksana Kerjasama Daerah;

22. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Kerjasama Daerah;

23. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2009 tentang Pembinaan dan Pengawasan Kerjasama Antar Daerah;

24. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

25. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2009 tentang Pedoman Kerjasama Departemen Dalam Negeri dengan Lembaga Asing Non Pemerintah

26. Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 239/IX/6/8/ 2003 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah; 27. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun 2011 tentang Pedoman Perjalanan

Dinas ke Luar Negeri bagi Pejabat/Pegawai di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri, Pemerintah Daerah, dan Pimpinan serta Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;

(8)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 8-IV

28. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 74 Tahun 2012 tentang Kerjasama Pemerintah Daerah dengan Badan Swasta Asing

29. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 20 Tahun 2008 tentang Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Jawa Barat (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2008 Nomor 19 Seri D, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 54);

30. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2009 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2009 Nomor 6 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 64);

31. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 25 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Barat (RPJMD) Tahun 2013-2018 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013 Nomor 25 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 160);

32. Peraturan Gubernur Nomor 29 Tahun 2009 tentang Tugas Pokok, Fungsi, Rincian Tugas Unit dan Tata Kerja Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat.

1.3. Maksud dan Tujuan

Maksud penyusunan Rencana Strategis Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama Tahun 2013-2018 adalah menyusun dokumen perencanaan organisasi perangkat daerah untuk periode lima tahun yang memuat Visi, Misi, Tujuan, Strategi, Kebijakan Program dan Kegiatan yang disusun sesuai dengan Tugas dan Fungsi organisasi perangkat daerah serta berpedoman kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018 dan bersifat indikatif.

Tujuan Rencana Strategis Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama Tahun 2013-2018 adalah sebagai bahan pedoman dan acuan dalam penyusunan Rencana Kerja Tahunan Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama.

1.4. Sistimatika Penulisan

Sistimatika penulisan Renstra Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama Tahun 2014-2018 terdiri dari 7 (tujuh) Bab sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab I memuat dan menjelaskan mengenai latar belakang, landasan hukum, maksud dan tujuan penyusunan renstra serta sistematika penulisan

(9)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 9-IV

Bab II memuat dan menjelaskan mengenai tugas, fungsi dan struktur organisasi OPD, Sumber Daya OPD, kinerja pelayanan OPD serta tantangan dan peluang pengembangan pelayanan OPD

BAB III : ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

Bab III memuat dan menjelaskan mengenai permasalahan berdasarkan tugas dan fungsi pelayanan SKPD, telaahan Visi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih, telaahan Renstra K/L, telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis serta Penentuan Isu-isu Strategis.

BAB IV : VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

Bab IV memuat dan menjelaskan mengenai Visi dan Misi, Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah OPD serta Strategi dan Kebijakan OPD

BAB V : RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF

Bab IV memuat dan menjelaskan mengenai rencana program dan kegiatan, indikator kinerja, kelompok sasaran, dan pendanaan indikatif, sebagaimana tabel Rencana Program, Kegiatan, Indikator Kinerja, Kelompok Sasaran, dan Pendanaan Indikatif OPD.

BAB VI : INDIKATOR KINERJA OPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD Bab VI memuat dan menjelaskan mengenai indikator kinerja OPD yang secara langsung menunjukkan kinerja yang akan dicapai OPD dalam lima tahun mendatang sebagai komitmen untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran RPJM, dengan dilengkapi tabel Indikator Kinerja OPD yang mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD

BAB VII : PENUTUP

Bab VII memuat dan menjelaskan mengenai kaidah pelaksanaan kegiatan serta penegasan komitmen OPD terhadap pelaksanaan Renstra maupun RPJMD

(10)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 10-IV

BAB II

GAMBARAN PELAYANAN OPD

2.1. Tugas dan Fungsi

Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 20 Tahun 2008 tentang Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat, Sekretariat Daerah mempunyai tugas pokok membantu Gubernur dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah, Satuan Polisi Pamong Praja dan Lembaga lain di lingkungan Pemerintah Daerah.

Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 29 Tahun 2009 tentang Tugas, Pokok dan Fungsi, Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama merupakan salah satu unit kerja pada Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat yang mempunyai tugas pokok mengkaji bahan kebijakan umum pengendalian dan evaluasi serta fasilitasi urusan pemerintahan dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut, Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama mempunyai fungsi :

a. Pengkajian bahan kebijakan umum di bidang penyelenggaraan otonomi daerah; b. Pengkajian bahan kebijakan umum penataan daerah otonom;

c. Pengendalian, evaluasi dan fasilitasi penyelenggaraan urusan pemerintahan di wilayah provinsi ;

d. Pengkajian bahan kebijakan umum di bidang pendapatan asli daerah; e. Pengkajian bahan kebijakan umum di bidang perimbangan keuangan; f. Evaluasi di bidang pendapatan asli daerah dan perimbangan keuangan; g. Pengkajian bahan kebijakan umum di bidang fasilitasi kerjasama pemerintahan.

Berdasarkan tugas pokok dan fungsi tersebut, Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama memiliki rincian tugas sebagai berikut :

a. Mengkaji bahan kebijakan umum urusan pemerintahan di bidang fasilitasi otonomi daerah yang meliputi penyelenggaraan, fasilitasi dan evaluasi pelaksanaan otonomi daerah serta penataan daerah otonom;

b. Mengkaji bahan kebijakan umum urusan pemerintahan di bidang pendapatan asli daerah yang meliputi perencanaan, evaluasi pendapatan asli daerah;

c. Mengkaji bahan kebijakan umum penerapan perimbangan keuangan yang meliputi perencanaan dan evaluasi dana perimbangan keuangan;

d. Mengkaji bahan kebijakan umum urusan pemerintahan di bidang pembinaan kerjasama pemerintahan yang meliputi kerjasama dalam negeri dan luar negeri;

(11)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 11-IV

e. Mengkaji bahan pedoman umum implementasi dan fasilitasi urusan pemerintahan dalam pelaksanaan otonomi daerah, pola pengembangan pendapatan asli daerah, perimbangan keuangan dan kerjasama pemerintahan;

f. Mengkaji bahan telaahan staf, pengkajian dan bahan pertimbangan pengambilan keputusan di bidang fasilitasi urusan pemerintahan dalam pelaksanaan otonomi daerah, pendapatan asli daerah, perimbangan keuangan dan pembinaan kerjasama pemerintahan; g. Melaksanakan pembinaan umum penyelenggaraan pemerintahan dalam aspek fasilitasi

urusan pemerintahan;

h. Mengkaji bahan pedoman dan melaksanakan tugas-tugas fasilitasi penyelenggaraan pemerintahan dalam aspek fasilitasi urusan pemerintahan dalam rangka pemberdayaan Kabupaten/Kota;

i. Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait dalam rangka sinkronisasi pelaksanaan tugas-tugas penyelenggaraan otonomi daerah;

j. Melaksanakan pengendalian, evaluasi dan pelaporan penyelenggaraan otonomi daerah, pendapatan asli daerah, perimbangan keuangan dan kerjasama pemerintahan;

k. Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait.

Untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi termaksud, Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama membawahkan :

A. BAGIAN FASILITASI URUSAN PEMERINTAHAN DAN PENATAAN DAERAH TUGAS POKOK :

Merumuskan bahan kebijakan umum, penyelenggaraan, evaluasi, fasilitasi penyelenggaraan urusan pemerintahan dalam pelaksanaan otonomi daerah serta penataan daerah otonom.

FUNGSI :

a. Perumusan bahan kebijakan umum penyelenggaraan otonomi daerah; b. Perumusan bahan kebijakan penataan daerah otonom;

c. Perumusan bahan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan otonomi daerah; d. Perumusan bahan peningkatan kapasitas otonomi daerah ;

e. Perumusan bahan fasilitasi penyelenggaraan otonomi daerah. RINCIAN TUGAS :

a. Merumuskan bahan kebijakan umum penyelenggaraan otonomi daerah; b. Merumuskan bahan kebijakan penataan daerah otonom;

(12)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 12-IV

c. Merumuskan pedoman umum penyelenggaraan, evaluasi dan pengembangan otonomi daerah;

d. Merumuskan bahan telaahan staf, pengkajian, pemecahan masalah dan bahan pertimbangan pengambilan keputusan di bidang penyelenggaraan otonomi daerah; e. Merumuskan bahan pelaksanaan fasilitasi penyelenggaraan otonomi daerah;

f. Merumuskan bahan perumusan pedoman fasilitasi dan pelaksanaan otonomi daerah dalam rangka pemberdayaan kabupaten/kota;

g. Merumuskan bahan koordinasi penyelenggaraan, evaluasi, pengembangan dan pelaporan pelaksanaan otonomi daerah;

h. Merumuskan bahan peningkatan kapasitas penyelenggaraan otonomi daerah ; i. Merumuskan bahan laporan fasilitasi penyelenggaraan otonomi daerah; j. Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait.

SUB BAGIAN FASILITASI PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAH PROVINSI TUGAS POKOK :

Menyusun bahan kebijakan umum dan fasilitasi penyelenggaraan urusan Pemerintahan Provinsi.

FUNGSI :

a. Penyusunan bahan kebijakan umum penyelenggaraan urusan Pemerintah Provinsi; b. Penyusunan bahan fasilitasi penyelenggaraan urusan Pemerintah Provinsi.

RINCIAN TUGAS :

a. Menyusun bahan kebijakan umum penyelenggaraan urusan pemerintahan provinsi; b. Menyusun bahan pedoman umum penyelenggaraan urusan pemerintahan provinsi; c. Menyusun bahan telaahan staf, pengkajian, pemecahan masalah dan bahan

pertimbangan pengambilan keputusan di bidang penyelenggaraan urusan pemerintahan provinsi;

d. Menyusun bahan pelaksanaan fasilitasi penyelenggaraan urusan pemerintahan provinsi; e. Menyusun bahan koordinasi dan harmonisasi penyelenggaraan urusan pemerintahan

provinsi;

f. Menyusun bahan peningkatan kapasitas penyelenggaraan urusan pemerintahan provinsi;

g. Menyusun laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah (LPPD) provinsi;

h. Menyusun dan mengelola basis data laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah (LPPD) provinsi;

(13)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 13-IV

i. Melaksanakan ketatausahaan Biro;

j. Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait..

SUB BAGIAN FASILITASI URUSAN PEMERINTAH KABUPATEN/ KOTA; TUGAS POKOK :

Menyusun bahan kebijakan umum dan fasilitasi penyelenggaraan urusan pemerintahan kabupaten/kota.

FUNGSI :

a. Penyusunan bahan kebijakan umum fasilitasi penyelenggaraan urusan kabupaten/kota ; b. Penyusunan bahan fasilitasi penyelenggaraan urusan pemerintahan kabupaten/kota. RINCIAN TUGAS :

a. Menyusun bahan kebijakan umum fasilitasi penyelenggaraan urusan pemerintahan Kabupaten/Kota;

b. Menyusun bahan pedoman umum fasilitasi penyelenggaraan urusan pemerintahan Kabupaten/Kota;

c. Menyusun bahan telaahan staf, pengkajian, pemecahan masalah dan bahan pertimbangan pengambilan keputusan dalam memfasilitasi penyelenggaraan urusan pemerintahan Kabupaten/Kota;

d. Menyusun bahan pelaksanaan fasilitasi penyelenggaraan urusan pemerintahan Kabupaten/Kota;

e. Menyusun bahan koordinasi dan harmonisasi dalam memfasilitasi penyelenggaraan urusan pemerintahan Kabupaten/Kota;

f. Menyusun bahan peningkatan kapasitas penyelenggaraan urusan pemerintahan Kabupaten/Kota ;

g. Melaksanakan evaluasi laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah (LPPD) Kabupaten/Kota;

h. Menyusun dan mengelola basis data LPPD Kabupaten/Kota;

i. Memfasilitasi penyusunan Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban Kepala Daerah Kabupaten/Kota, Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) Kabupaten/Kota dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (ILPPD) Kabupaten/Kota;

j. Menyusun bahan laporan fasilitasi penyelenggaraan urusan pemerintahan Kabupaten/Kota;

(14)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 14-IV

SUB BAGIAN FASILITASI PENATAAN DAERAH DAN EVALUASI OTONOMI DAERAH PROVINSI

TUGAS POKOK :

Menyusun bahan kebijakan umum penataan daerah dan evaluasi otonomi daerah provinsi. FUNGSI :

a. Penyusunan bahan kebijakan umum dan fasilitasi penataan daerah ;

b. Penyusunan bahan kebijakan umum evaluasi penyelenggaraan otonomi daerah provinsi ;

RINCIAN TUGAS :

a. Menyusun bahan kebijakan umum penataan daerah;

b. Menyusun bahan kebijakan dan fasilitasi penataan daerah otonom serta pembentukan kecamatan di Kabupaten/Kota;

c. Menyusun bahan pedoman umum evaluasi otonomi daerah serta penataan daerah otonom;

d. Menyusun bahan telaahan staf, pengkajian dan bahan pertimbangan pengambilan kebijakan berdasarkan hasil evaluasi dan penataan daerah otonom;

e. Menyusun bahan koordinasi evaluasi otonomi daerah serta penataan daerah otonom; f. Menyusun dan mengelola basis data penataan daerah otonom dan pembentukan

Kecamatan di Kabupaten/Kota;

g. Menyusun bahan laporan hasil evaluasi otonomi daerah serta penataan daerah otonom;

h. Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait.

B. BAGIAN PENDAPATAN DAERAH TUGAS POKOK :

Merumuskan bahan pengkajian kebijakan umum, dan evaluasi pendapatan daerah. FUNGSI :

a. Merumuskan bahan kebijakan umum perencanaan pendapatan daerah; b. Merumuskan bahan kebijakan umum evaluasi pendapatan daerah; c. Merumuskan bahan fasilitasi penyelenggaraan pendapatan

(15)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 15-IV

a. Merumuskan bahan kebijakan umum pengelolaan Pendapatan Asli Daerah yang meliputi perencanaan, evaluasi dan pengembangan pendapatan dari penerimaan pajak, retribusi, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan serta lain-lain pendapatan Daerah yang sah;

b. Merumuskan bahan kebijakan umum perencanaan keuangan yang meliputi perencanaan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Penghasilan (PPh), Bagi Hasil Sumber Daya Alam (SDA), Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK);

c. Merumuskan bahan evaluasi pendapatan asli daerah yang meliputi evaluasi pendapatan dari penerimaan pajak, retribusi, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan serta lain-lain pendapatan Daerah yang sah;

d. Merumuskan kebijakan umum evaluasi dana perimbangan keuangan;

e. Merumuskan bahan pedoman umum pengelolaan pendapatan asli daerah yang meliputi perencanaan dan evaluasi pendapatan dari penerimaan pajak, retribusi, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan serta pengelolaan dana perimbangan keuangan;

f. Merumuskan bahan telaahan staf, pengkajian, pemecahan masalah dan bahan pertimbangan pengambilan keputusan di bidang pendapatan asli daerah dan dana perimbangan keuangan;

g. Merumuskan bahan pelaksanaan fasilitasi pengelolaan pendapatan asli daerah dan perimbangan keuangan;

h. Merumuskan bahan perumusan pedoman fasilitasi dan pelaksanaan fasilitasi pengembangan pendapatan asli daerah dan perimbangan keuangan dalam rangka pemberdayaan aparat Kabupaten/Kota;

i. Merumuskan bahan koordinasi, perencanaan, evaluasi pendapatan asli daerah dan perimbangan keuangan;

j. Menyusun bahan pelaksanaan fasilitasi hasil evaluasi Pendapatan Asli Daerah dan perimbangan keuangan ;

k. Merumuskan bahan laporan fasilitasi pendapatan asli daerah dan perimbangan keuangan;

l. Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait.

SUB BAGIAN PENDAPATAN ASLI DAERAH TUGAS POKOK :

Menyusun bahan perumusan kebijakan umum dan fasilitasi perencanaan pendapatan asli daerah.

(16)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 16-IV

FUNGSI :

a. Penyusunan bahan perumusan kebijakan pendapatan asli daerah; b. Penyusunan bahan fasilitasi pendapatan asli daerah.

RINCIAN TUGAS :

a. Menyusun bahan kebijakan pendapatan asli daerah;

b. Menyusun bahan fasilitasi pendapatan asli daerah dalam rangka pemberdayaan aparat Kabupaten/Kota;

c. Menyusun bahan pedoman pendapatan asli daerah;

d. Menyusun bahan telaahan staf, pengkajian, pemecahan masalah dan bahan pertimbangan pengambilan kebijakan di bidang pendapatan asli daerah;

e. Menyusun bahan pelaksanaan fasilitasi pendapatan asli daerah; f. Menyusun bahan laporan fasilitasi pendapatan asli daerah; g. Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait.

SUB BAGIAN PERIMBANGAN KEUANGAN TUGAS POKOK :

Menyusun bahan perumusan kebijakan umum dan fasilitasi pengelolaan dana perimbangan.

FUNGSI :

a. Penyusunan bahan kebijakan umum pengelolaan dana perimbangan; b. Penyusunan bahan fasilitasi pengelolaan dana perimbangan.

RINCIAN TUGAS :

a. Menyusun bahan kebijakan pengelolaan dana perimbangan yang meliputi perencanaan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Penghasilan (PPh), Bagi Hasil Sumber Daya Alam (SDA), Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK);

b. Menyusun bahan fasilitasi pengelolaan dana perimbangan; c. Menyusun bahan pedoman pengelolaan dana perimbangan;

d. Menyusun bahan telaahan staf, pengkajian, pemecahan masalah dan bahan pertimbangan pengambilan kebijakan di bidang pengelolaan dana perimbangan; e. Menyusun bahan pelaksanaan fasilitasi pengelolaan dana perimbangan;

f. Menyusun bahan laporan fasilitasi perimbangan keuangan; g. Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait.

(17)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 17-IV

SUB BAGIAN EVALUASI PENDAPATAN DAERAH TUGAS POKOK :

Menyusun bahan perumusan evaluasi di bidang pendapatan asli daerah dan pengelolaan dana perimbangan

FUNGSI :

a. Penyusunan bahan evaluasi di bidang pendapatan asli daerah dan pengelolaan dana perimbangan;

b. Penyusunan bahan fasilitasi penyusunan evaluasi di bidang pendapatan asli daerah dan pengelolaan dana perimbangan.

RINCIAN TUGAS :

a. Menyusun bahan evaluasi pendapatan asli daerah yang meliputi penerimaan pajak, retribusi, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan serta lain-lain pendapatan Daerah yang sah;

b. Menyusun bahan evaluasi pengelolaan dana perimbangan yang meliputi merumuskan bahan kebijakan umum perencanaan keuangan yang meliputi perencanaan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Penghasilan (PPh), Bagi Hasil Sumber Daya Alam (SDA), Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK);

c. Menyusun bahan fasilitasi penyusunan evaluasi pengelolaan yang meliputi penerimaan pajak, retribusi, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan serta lain-lain pendapatan daerah yang sah;

d. Menyusun bahan fasilitasi penyusunan evaluasi pengelolaan yang meliputi penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Penghasilan (PPh), Bagi Hasil Sumber Daya Alam (SDA), Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK);

e. Menyusun bahan telaahan staf, pengkajian, pemecahan masalah dan bahan pertimbangan keputusan berdasarkan hasil evaluasi;

f. Menyusun bahan koordinasi evaluasi pendapatan asli daerah dan pengelolaan dana perimbangan;

g. Menyusun bahan laporan evaluasi pendapatan asli daerah dan perimbangan keuangan; h. Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait.

(18)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 18-IV

C. BAGIAN KERJASAMA DALAM NEGERI TUGAS POKOK :

Merumuskan bahan kebijakan umum kerjasama dalam negeri. FUNGSI :

a. Perumusan bahan kebijakan umum kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga.

b. Perumusan bahan fasilitasi pelaksanaan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga.

c. Perumusan bahan evaluasi pelaksanaan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga.

d. Perumusan bahan fasilitasi penyelesaian perselisihan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga.

RINCIAN TUGAS :

a. Merumuskan bahan kebijakan umum kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga.

b. Merumuskan bahan fasilitasi kerjasama Antar Daerah dan Kerjasama Pihak Ketiga. c. Merumuskan pedoman umum pelaksanaan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama

Pihak Ketiga.

d. Merumuskan bahan telaahan staf, perencanaan, pengkajian, pemecahan masalah dan bahan pertimbangan kebijakan di bidang kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga.

e. Merumuskan bahan evaluasi dan pembinaan pelaksanaan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga.

f. Merumuskan bahan fasilitasi penyelesaian perselisihan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga.

g. Merumuskan bahan laporan pelaksanaan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga.

h. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait dan membangun jejaring kerjasama yang representatif.

SUB BAGIAN KERJASAMA ANTAR DAERAH TUGAS POKOK :

(19)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 19-IV

FUNGSI :

a. Penyusunan bahan kebijakan umum kerjasama Antar Daerah; b. Penyusunan bahan fasilitasi kerjasama Antar Daerah;

c. Penyusunan bahan koordinasi kerjasama Antar Daerah; d. Penyusunan bahan laporan kerjasama Antar Daerah.

RINCIAN TUGAS :

a. Menyusun bahan perumusan kebijakan umum kerjasama Antar Daerah; b. Menyusun bahan fasilitasi kerjasama Antar Daerah;

c. Menyusun bahan koordinasi kerjasama Antar Daerah;

d. Menyusun pedoman umum pelaksanaan kerjasama Antar Daerah;

e. Menyusun bahan telaahan staf, perencanaan, pengkajian, pemecahan masalah dan bahan pertimbangan kebijakan di bidang kerjasama Antar Daerah;

f. Menyusun bahan laporan pelaksanaan kerjasama Antar Daerah;

g. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait dan membangun jejaring kerjasama yang representatif.

SUB BAGIAN KERJASAMA PIHAK KETIGA TUGAS POKOK :

Menyusun bahan perumusan kebijakan umum kerjasama pihak ketiga. FUNGSI :

a. Penyusunan bahan perumusan kebijakan umum kerjasama Pihak Ketiga; b. Penyusunan bahan fasilitasi kerjasama Pihak Ketiga;

c. Penyusunan bahan koordinasi kerjasama Pihak Ketiga; d. Penyusunan bahan laporan kerjasama Pihak Ketiga. RINCIAN TUGAS :

a. Menyusun bahan perumusan kebijakan umum kerjasama Pihak Ketiga; b. Menyusun bahan fasilitasi kerjasama Pihak Ketiga;

c. Menyusun bahan koordinasi kerjasama Pihak Ketiga;

(20)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 20-IV

e. Menyusun bahan telaahan staf, perencanaan, pengkajian, pemecahan masalah dan bahan pertimbangan kebijakan di bidang kerjasama Pihak Ketiga;

f. Menyusun bahan laporan pelaksanaan kerjasama Pihak Ketiga;

g. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait dan membangun jejaring kerjasama yang representatif.

SUB BAGIAN EVALUASI DAN PENYELESAIAN PERSELISIHAN KERJASAMA TUGAS POKOK :

Menyusun bahan perumusan evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga.

FUNGSI :

a. Penyusunan bahan perumusan kebijakan umum evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga;

b. Penyusunan bahan kebijakan umum evaluasi dan penyelesaian perselihan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga;

c. Penyusunan bahan laporan evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga.

RINCIAN TUGAS :

a. Menyusun bahan perumusan kebijakan umum evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga;

b. Menyusun bahan evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama Antar Daerah dan Pihak Ketiga;

c. Menyusun bahan pedoman umum evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga;

d. Menyusun bahan evaluasi kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga;

e. Menyusun bahan fasilitasi penyelesaian perselisihan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga;

f. Menyusun bahan telaahan staf, perencanaan, pengkajian, pemecahan masalah dan bahan pertimbangan kebijakan di bidang evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga;

g. Menyusun bahan pembinaan pelaksanaan evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga;

h. Menyusun bahan laporan pelaksanaan evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama Antar Daerah dan kerjasama Pihak Ketiga;

(21)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 21-IV

i. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait.

D. BAGIAN KERJASAMA LUAR NEGERI TUGAS POKOK :

Merumuskan bahan kebijakan umum kerjasama luar negeri. FUNGSI :

a. Perumusan bahan kebijakan umum kerjasama Antar Pemerintahan dan kerjasama dengan Badan /Lembaga di luar negeri;

b. Perumusan bahan fasilitasi pelaksanaan kerjasama Antar Pemerintahan dan kerjasama dengan Badan/Lembaga di luar negeri;

c. Perumusan bahan evaluasi pelaksanaan kerjasama Antar Pemerintahan dan kerjasama dengan Badan/Lembaga di luar negeri;

d. Perumusan bahan fasilitasi penyelesaian perselisihan kerjasama Antar Pemerintahan dan kerjasama dengan Badan/Lembaga di luar negeri.

RINCIAN TUGAS:

a. Merumuskan bahan kebijakan umum kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota di luar negeri;

b. Merumuskan bahan kebijakan umum kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Badan/Lembaga di luar negeri;

c. Merumuskan bahan fasilitasi pelaksanaan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dan Badan/Lembaga di luar negeri; d. Merumuskan pedoman umum pelaksanaan kerjasama antara Pemerintah Provinsi

dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dan Badan/Lembaga di luar negeri; e. Merumuskan bahan telaahan staf, perencanaan, pengkajian, pemecahan masalah dan

bahan pertimbangan pengambilan kebijakan di bidang kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dan Badan/Lembaga di luar negeri;

f. Merumuskan bahan evaluasi dan pembinaan pelaksanaan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dan Badan/Lembaga di luar negeri;

g. Merumuskan bahan fasilitasi penyelesaian perselisihan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dan Badan/Lembaga di luar negeri;

h. Merumuskan bahan laporan pelaksanaan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dan Badan/Lembaga di luar negeri;

(22)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 22-IV

i. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait dan membangun jejaring kerjasama yang representatif;

SUB BAGIAN KERJASAMA ANTAR PEMERINTAHAN TUGAS POKOK :

Menyusun bahan perumusan kebijakan umum kerjasama antar Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota di luar negeri.

FUNGSI :

a. Penyusunan bahan perumusan kebijakan umum kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota di luar negeri;

b. Penyusunan bahan fasilitasi kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota di luar negeri;

c. Penyusunan bahan koordinasi kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota di luar negeri;

d. Penyusunan bahan fasilitasi kerjasama antara Pemerintah Kabupaten/Kota dengan Pemerintah Kabupaten/Kota di luar negeri;

e. Penyusunan bahan laporan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota di luar negeri.

RINCIAN TUGAS:

a. Menyusun bahan perumusan kebijakan umum kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota di luar negeri;

b. Menyusun bahan fasilitasi kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota di luar negeri;

c. Menyusun bahan koordinasi kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota di luar negeri;

d. Menyusun bahan pedoman umum pelaksanaan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota di luar negeri;

e. Menyusun bahan fasilitasi kerjasama antara Pemerintah Kabupaten/Kota dengan Pemerintah Kabupaten/Kota di luar negeri;

f. Menyusun bahan telaahan staf, perencanaan, pengkajian dan bahan pertimbangan pengambilan kebijakan di bidang kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota di luar negeri;

g. Menyusun bahan laporan pelaksanaan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota di luar negeri;

(23)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 23-IV

h. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait dan membangun jejaring kerjasama yang representatif.

SUB BAGIAN KERJASAMA DENGAN BADAN/LEMBAGA TUGAS POKOK :

Menyusun bahan perumusan kebijakan umum kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Badan/Lembaga di luar negeri.

FUNGSI :

a. Penyusunan bahan perumusan kebijakan umum kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Badan/Lembaga di luar negeri;

b. Penyusunan bahan fasilitasi kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Badan/Lembaga di luar negeri;

c. Penyusunan bahan koordinasi kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Badan/Lembaga di luar negeri;

d. Penyusunan bahan laporan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Badan/Lembaga di luar negeri.

RINCIAN TUGAS:

a. Menyusun bahan perumusan kebijakan umum kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Badan/Lembaga di luar negeri;

b. Menyusun bahan fasilitasi kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Badan/Lembaga di luar negeri;

c. Menyusun bahan koordinasi kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Badan/Lembaga di luar negeri;

d. Menyusun bahan pedoman umum pelaksanaan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Badan/Lembaga di luar negeri;

e. Menyusun bahan telaahan staf, perencanaan, pengkajian dan bahan pertimbangan pengambilan kebijakan di bidang kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Badan/Lembaga di luar negeri;

f. Menyusun bahan laporan pelaksanaan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Badan/Lembaga di luar negeri;

g. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait dan membangun jejaring kerjasama yang representatif.

(24)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 24-IV

SUB BAGIAN EVALUASI DAN PENYELESAIAN PERSELISIHAN KERJASAMA TUGAS POKOK :

Menyusun bahan perumusan kebijakan umum evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama luar negeri.

FUNGSI :

a. Penyusunan bahan perumusan kebijakan umum evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dan Badan/Lembaga di luar negeri;

b. Penyusunan bahan evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota di luar negeri;

c. Penyusunan bahan evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Badan/Lembaga di luar negeri;

d. Penyusunan bahan laporan evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dan Badan/Lembaga di luar negeri.

RINCIAN TUGAS:

a. Menyusun bahan perumusan kebijakan umum evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dan Badan/Lembaga di luar negeri;

b. Menyusun bahan evaluasi kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dan Badan/Lembaga di luar negeri;

c. Menyusun bahan fasilitasi penyelesaian perselisihan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dan Badan/Lembaga di luar negeri

d. Menyusun bahan pedoman umum evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dan Badan/Lembaga di luar negeri;

e. Menyusun bahan telaahan staf, perencanaan, pengkajian dan bahan pertimbangan pengambilan kebijakan di bidang evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dan Badan/Lembaga di luar negeri;

f. Menyusun bahan laporan evaluasi dan penyelesaian perselisihan kerjasama antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dan Badan/Lembaga di luar negeri;

(25)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 25-IV

BAGIAN FASILITASI URUSAN PEMERINTAHAN DAN PENATAAN DAERAH Subbagian Fasilitasi Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi Subbagian Fasilitasi Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten/Kota Subbagian Fasilitasi Penataan Daerah dan Evaluasi Otonomi Daerah

Provinsi

BAGIAN KERJASAMA LUAR NEGERI

Subbagian Kerjasama Antar Pemerintahan Subbagian Kerjasama dengan Badan/Lembaga Subbagian Evaluasi dan Fasilitasi Penyelesaian Perselisihan Kerjasama BAGIAN KERJASAMA DALAM NEGERI Subbagian Kerjasama Antar Daerah

Subbagian Kerjasama Pihak Ketiga

Subbagian Evaluasi dan Penyelesaian Perselisihan

Kerjasama

BAGIAN PENDAPATAN DAERAH

Subbagian Pendapatan Asli Daerah

Subbagian Perimbangan Keuangan

Kepala Subbagian Evaluasi Pendapatan Daerah BIRO OTONOMI DAERAH

DAN KERJASAMA

Berdasarkan Tugas Pokok dan Fungsi tersebut disusun Rencana Strategis Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama Tahun 2013 – 2018 dengan berpedoman kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, dan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2009 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah, serta Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 50 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018.

2.2. Struktur Organisasi OPD Sumber Daya OPD

Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 20 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Barat, dengan bagan/struktur organisasi Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama adalah sebagai berikut :

2.3. Kondisi Kepegawaian

Jumlah Pegawai Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama sampai dengan Tahun 2013 berjumlah 49 orang yang terdiri dari :

- Golongan IV = 6 (enam) orang.

- Golongan III = 37 (tiga puluh tujuh) orang - Golongan II = 6 (enam) orang

(26)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 26-IV

2.4. Kinerja Pelayanan Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama serta Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama

Kinerja pelayanan Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama sesuai dengan perkembangan hasil program dan kegiatan dalam Rencana Strategis Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama Tahun 2008-2013 pada umumnya pencapaian kegiatan rata-rata mencapai 100%, dengan pencapaian keuangan secara keseluruhan rata-rata mencapai 91,86%. Berikut ini analisis gambaran potensi dan permasalahan aspek pengelolaan keuangan.

TABEL : ALOKASI ANGGARAN DAN REALISASI TAHUN 2008-2013 NO TAHUN ALOKASI REALISASI % KET MURNI PERUBAHAN 1 2008 6,334,269,550.00 5,882,982,000.00 92.88% 2 2009 6,830,378,000.00 8,320,378,000.00 6,806,077,767.00 81.80% 3 2010 6,201,200,000.00 6,401,200,000.00 5,398,058,350.00 84.33% 4 2011 4,164,118,423.95 4,164,118,423.95 3,735,683,027.00 89.71% 5 2012 6,399,418,424.00 5,913,243,424.00 5,432,267,550.00 91.87% 6 2013 9,129,473,700.00 9,229,473,700.00 8,178,941,268.00 88.62%

Terdapat beberapa indikator yang tidak tercapai antara lain penyusunan Peraturan Gubernur tentang Penjabaran Urusan Pemerintah Provinsi sebagai tindak lanjut Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintah Provinsi.

Tantangan dan peluang pengembangan pelayanan pada pendapatan daerah, baik perimbangan keuangan maupun pendapatan asli daerah, diukur dengan meningkatnya persentase potensi yang dilaksanakan dengan penyusunan bahan kebijakan pemerintah pusat dalam meningkatkan pendapatan dan penyusunan kebijakan umum pengelolaan sumber-sumber pendapatan daerah untuk mewujudkan kebijakan-kebijakan Gubernur tentang penyusunan potensi daya saing daerah yang tidak menimbulkan gejolak masyarakat .

(27)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 27-IV

Kinerja pelayanan PAD dan Dana Perimbangan yang dilaksanakan baik oleh OPD Daerah maupun instansi vertikal pada umumnya setiap tahun meningkat, sejalan dengan realisasi penerimaan pendapatan yang ditetapkan pada target APBD. Tantangan dan peluang meningkatkan PAD dan dana perimbangan adalah meningkatkan peran hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah melalui pertumbuhan investasi dan perekonomian daerah yang akan berdampak kepada penerimaan pendapatan pemerintahan baik lokal, regional maupun nasional.

Peranan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah terhadap PAD di Provinsi Jawa Barat mencapai 71,15 % lebih tinggi dibandingkan dengan peranan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan dan Lain-lain PAD yang Sah. Sedangkan Kabupaten kota hanya mencapai rata-rata 57,34 %.

Demikian juga dari aspek kerjasama pembangunan yang diukur dengan kerjasama antar daerah maupun kerjasama dengan pihak ketiga serta kerjasama luar negeri, masih perlu dioptimalkan. Kendala yang dihadapi antara lain lemahnya perencanaan program/kegiatan kerjasama, komitmen pelaksanaan kerjasama melalui program dan kegiatan yang didukung anggaran yang memadai, belum secara optimal dilakukan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta peran dan fungsi Tim Koordinasi Kerjasama Daerah (TKKSD) belum sepenuhnya dipahami oleh OPD.

Selain itu, ketidaksesuaian antara variabel-variabel pendukung juga merupakan faktor penyebab tidak tercapainya target Indikator Sasaran Strategis. Sebagai contoh, tidak terapainya target indikator sasaran (jumlah naskah kerjasama) kerjasama dengan pemerintah di luar negeri.

2.5 Pencapaian indikator kinerja sasaran strategis sampai dengan 5 (lima) tahun ke depan dengan target kinerja sasaran jangka menengah yang direncanakan dalam pelayanan Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama dapat diukur sebagai berikut :

No Sasaran Strategis Realisasi 2013 2018 Kena-ikan (%) Penca-paian thd Target (%) Target Rea-lisasi 1. Tersusunnya kebijakan umum implementasi otonomi daerah dan penataan daerah otonom

2 doku-men 4 doku-men 4 doku-men 100% 100%

(28)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 28-IV

No Sasaran Strategis Realisasi 2013 2018 Kena-ikan (%) Penca-paian thd Target (%) Target Rea-lisasi sesuai ketentuan UU 32 Tahun 2004 yang disertai ketentuan normatif dan petunjuk teknis operasionalnya 2.

Tersusunnya

kebijakan

umum

pengelolaan

sumber-sumber

pendapatan daerah;

2 doku-men 7 doku-men 7 doku-men 250 % 100 % 3.

Tersusunnya

kebijakan

peningkatan pendapatan

daerah;

2 doku-men 10 doku-men 10 doku-men 400 % 100 % 4.

Terlaksananya kerjasama

daerah

dalam

pembangunan

berbasis

potensi

di

berbagai

bidang;

45 doku-men 100 100 105% 100% 5.

Terlaksananya kerjasama

daerah

dengan

luar

negeri

dalam

pembangunan

berbasis

potensi

di

berbagai

bidang;

5 doku-men 10 doku-men 10 doku-men 100% 100% 6.

Tersusunnya

dokumen

regulasi/pedoman/petun-1 6 6 500% 100%

(29)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 29-IV

No Sasaran Strategis Realisasi 2013 2018 Kena-ikan (%) Penca-paian thd Target (%) Target Rea-lisasi

juk teknis pelaksanaan

administrasi

kerjasama

daerah

7

Terfasilitasinya

rekomendasi izin PDLN

95% 100% 100% 5% 100% 8.

Terlaksananya evaluasi

Kerjasama daerah

5 doku-men 10 10 100% 100%

(30)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 30-IV

BAB III

ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN

TUGAS DAN FUNGSI

Isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan oleh

Organisasi Perangkat Daerah dalam perencanaan strategis, yang berdampak secara signifikan

bagi tercapainya tujuan dan sasaran Pemerintah Daerah dan Organisasi Perangkat Daerah.

Isu-isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi secara eksternal adalah permasalahan-permasalahan,

tantangan dan potensi sebagaimana tertera dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah

(RPJMD) Tahun 2013 sampai dengan 2018 dan secara internal yang dihadapi oleh Biro

Otonomi Daerah dan Kerjasama ke depan.

3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Biro Otonomi Daerah dan

Kerjasama Provinsi Jawa Barat.

Tabel 3.1

Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama

Provinsi Jawa Barat

Aspek Kajian Capaian/Kondisi Saat

ini

Standar yang Digunakan

Faktor yang Mempengaruhi

Permasalahan Pelayanan SKPD Internal (Kewenangan SKPD) Eksternal (di Luar Kewenangan

SKPD) Penyelenggara-an perumusan bahan kebijakan umum fasilitasi urusan pemerintahan dan penataan daerah,

kerjasama dalam negeri, kerjasama luar negeri dan pendapatan daerah

- Terbentuknya Kabupaten Pangandaran melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2012 PP No 78 Tahun 2007 ttg Tata Cara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan Daerah. Rekomendasi Gubernur - Hak Inisiatif DPR RI dalam usulan Pemben-tukan DOB - Sinergitas antar sektor terkait - Kebijakan/ Renstra kementeri-an/lembaga; - Program/ kegiatan kementerian/ lembaga; - Revisi peraturan perundang-undangan terkait - Moratorium (pemberhenti an sementara) pembentukan daerah - Sarana dan prasarana yang terbatas untuk meningkatkan daya saing daerah - Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Kerjasama Daerah - Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional - Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Internasional - PP Nomor 50 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah - Permendagri No. 3 Tahun 2008 ttg Pedoman - Fasilitasi penyusunan kebijakan umum kerjasama dalam dan luar negeri - Fasilitasi dan

Koordinasi penyelenggara-an kerjasama dalam dan luar negeri - Evaluasi

penyelenggara-an kerjasama dalam dan luar negeri

- Kebijakan pemerintah - Kurangnya pemahaman OPD/kab/ kota terhadap Perda

(31)

RENSTRA BIRO OTONOMI DAERAH DAN KERJASAMA TAHUN 2013-2018 31-IV

Aspek Kajian Capaian/Kondisi Saat

ini

Standar yang Digunakan

Faktor yang Mempengaruhi

Permasalahan Pelayanan SKPD Internal (Kewenangan SKPD) Eksternal (di Luar Kewenangan

SKPD) Pelaksanaan

Kerjasama Daerah dengan pihak Luar Negeri Rekomendasi terhadap Peraturan Menteri Keuangan tentang Alokasi Dana Perimbangan untuk

Provinsi Jawa Barat dan Kab/Kota di Jawa Barat Tahun 2011 PP No. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan Keuangan Fasilitasi Kebijakan Umum Kepala Daerah dan kebijakan teknis SKPD terkait Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Makro Nasional Kementrian Terkait, Kebijakan Perusahaan PMA dan PMDN Masalah koordinasi pengelolaan sektor peningkatan potensi ekonomi , keuangan dan pelayanan publik oleh SKPD pusat dan daerah Fasilitasi intensifikasi dan ekstensifikasi PBB dan BPHTB di kabupaten/kota - PP No. 16 Tahun 2000 ttg Pembagian Hasil Penerimaan PBB antara

Pemerintah Pusat dan Daerah

- - PP No. 113 Tahun 2000 ttg Penentuan

Besarnya Nilai

Perolehan Obyek

Pajak tidak Kena

Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

Fasilitasi kerjasama antara pemerintah Provinsi, Kanwil Ditjen Pajak, Kabupaten Kota dan KPP Pratama Kebijakan, program dan kegiatan SKPD Kabupaten/ kota Kekurangan SDM penilai objek pajak, peta zona nilai tanah masih terbatas, SISMIOP kecamatan masih terbatas, adanya masalah tunggakan PBB P2 - Identifikasi pengembangan potensi PAD - PP No. 91 Tahun 2010 ttg Jenis Pajak Daerah yang Dipungut Berdasarkan Penetapan Kepala

Daerah atau Dibayar sendiri oleh Wajib Pajak Fasilitasi kebijakan teknis SKPD terkait dan kerjasama antara pemprov dengan kabupaten/ kota Kebijakan strategis, program dan kegiatan kabupaten/ kota Keterbatasan upaya dalam meningkatkan investasi daerah, objek PDRD, perluasan jenis PDRD dan diskresi penetapan tarif Pajak Daerah - Peraturan Gubernur Nomor 43 Tahun 2012 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda Nomor 9 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Kerjasama Daerah - PP 50 Tahun 2007 ttg Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah - Permendagri 3 Tahun 2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kerjasama Daerah dengan Luar Negeri

- Fasilitasi penyusunan kebijakan umum kerjasama dalam dan luar negeri - Fasilitasi dan

Koordinasi penyelenggaraan kerjasama dalam dan luar negeri - Evaluasi

penyelenggaraan kerjasama dalam dan luar negeri

Kebijakan Pemerintah Kurangnya

pemahaman OPD dan kab/kota terhadap Pergub Keputusan Gubernur

Jawa Barat No.

119.05/Kep.1096-OtdaKsm/2011 tentang - PP 50 Tahun 2007 ttg Tata Cara - Pelaksanaan Kerjasama Daerah - Fasilitasi penyusunan kebijakan umum kerjasama dalam Program/ Kegiatan Kerjasama TKKSD belum mengatur

Gambar

TABEL : ALOKASI ANGGARAN DAN REALISASI  TAHUN 2008-2013   NO  TAHUN  ALOKASI  REALISASI  %  KET  MURNI  PERUBAHAN  1  2008     6,334,269,550.00  5,882,982,000.00  92.88%  2  2009  6,830,378,000.00  8,320,378,000.00  6,806,077,767.00  81.80%  3  2010  6,201

Referensi

Dokumen terkait

Agung Pribadi, Head of the Information and Cooperation Services Communication Bureau (KLIK) of the Ministry of Energy and Mineral Resources (ESDM), said ahead of the turn

Tanda positif (+) tersebut menunjukkan bahwa hubungan motivasi dengan hasil belajar biologi siswa searah, semakin tinggi persepsi siswa terhadap kinerja guru untuk

Untuk meningkatkan kapasi- tas dan kualitas pengeringan produk ½ jadi dan produk jadi batik kayu, tim melakukan rekayasa mesin pro- duksi sesuai dengan kebutuhan

Dalam Depdiknas (2004: 1) dijelaskan bahwa kegiatan ekstrakurikuler merupakan program sekolah, berupa kegiatan siswa yang bertujuan untuk memperdalam dan memperluas

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kualitas pelayanan pada Permata Bank Cabang TasikmalayaMetode penelitian yang digunakan adalah metode survey.Data

Kepala Subbagian Umum Tahun 2019 Hardcopy, softcopy Sesuai retensi arsip 508 Buku-buku koleksi perpustakaan BP PAUD Dikmas.

Beberapa perubahan ketentuan dalam PSAK tersebut sebagian relevan untuk akad asuransi syariah yang diatur dalam PSAK 108 (2009), seperti pengakuan pendapatan kontribusi peserta,