• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. dipindahkan begitu saja dari guru ke peserta didik. Peserta didik adalah subjek yang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. dipindahkan begitu saja dari guru ke peserta didik. Peserta didik adalah subjek yang"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kurikulum 13 menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke peserta didik. Peserta didik adalah subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengontruksikan, dan menggunakan pengetahuan. Untuk itu pembelajaran harus berkenaan dengan kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk mrngontruks ika n pengetahuan dalam proses kognitifnya.

Peserta didik diarahkan uutuk menemukan sendiri berbagai fakta, membangun konsep dan nilai-nilai baru diperlukan untuk kehidupannya. Fokus proses pembelajaran diarahkan pada pengembangan keterampilan siswa dalam memproseskan pengetahuan, menemukan dan mengembangkan sendiri fakta, konsep dan nilai-nilai yang diperlukan (Semiawan:1992).

Undang-Undang Nomor 14/2005 tentang Guru dan Dosen menyataka n bahwa setiap guru harus dapat memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikas i untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik. Kompetensi guru di bidang TIK juga merupakan salah satu yang dipersyaratkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2009, Bab II bagian Kesatu Pasal 3, yakni bahwa guru harus menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional. Selain Pada Peraturan Pemerintah tersebut juga dijabarkan bahwa guru harus kompeten dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran dan mampu mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.

(2)

2

Guru tidak hanya dituntut mengkonstruksi konsep pembelajaran namun dapat membimbing siswa dengan menerapkan sistem pembelajaran berbasis pengamatan yang dapat menumbuhkan sikap ilmiah dalam diri siswa. Pembelajaran kimia dapat mudah dipahami jika siswa mampu mengkaitkan konsep yang bersifat abstrak dengan pengalaman nyata baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam skala laboratorium. Pada kurikulum pembelajaran kimia dalam kompetensi dasarnya, suatu materi kimia disebutkan memiliki beberapa konsep materi yang mengharuskan pembuktian melalui praktikum di dalam laboratorium.

Ilmu kimia didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana benda atau materi di alam raya dapat diubah dari bentuk yang ada dengan sifat-sifat tertentu menjadi bentuk- bentuk lain dengan sifat yang berbeda (Petrucci, 1987). Ilmu kimia termasuk dalam rumpun Ilmu pengetahuan alam (IPA), yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan zat yaitu komposisi, struktur dan sifat, transformasi, dinamika dan energetika zat (Tim Penyusun, 2006).

Karakteristik dari konsep-konsep ilmu kimia yang abstrak menyebabkan kimia sulit untuk dipelajari, Kean dan Middlecamp (dalam Maikristina, 2013). Oleh karena itu untuk membantu siswa lebih memahami kimia diperlukan media pembelajaran. Kehadiran media pembelajaran dalam proses belajar mengajar mempunyai arti yang cukup penting, karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara (Djamarah dan Zain, 2006).

Berdasarkan data yang didapat dari lembar angket karakteristik dan kebutuhan siswa kelas XI IPA 3 di SMAN 10 Kota Jambi yang dilaksanakan pada tanggal 2 April 2018, dari 30 jumlah siswa diketahui bahwa siswa sebanyak 90%

(3)

3

mempunyai komputer pribadi sedangkan 100% siswa memiliki handphone android. Serta 93% siswa mengatakan bahwa di sekolah tersebut tersedia komputer untuk belajar.

Bila dilihat dari kebutuhan dalam materi hidrolisis garam, 80% siswa mengatakan bahwa media yang biasa digunakan guru mengajar yaitu media berbasis Power Point dengan bantuan LCD Proyektor. Akan tetapi 40% siswa mengatakan juga perlu menggunakan video pembelajaran dan 33% media teks, media animasi dan media yang bisa disimpan dan ditampilkan pada ponsel, 63% mengatakan bahwa materi tersebut sulit dipahami.

Menurut beberapa siswa biasanya guru menggunakan metode praktikum sebanyak 50% dan diskusi kelompok 47% dalam mengajar, sedangkan penggunaa n LKPD dalam mengajarkan materi sebanyak 57% dan 70% siswa mengatakan bahwa guru tidak menggunakan bahan ajar berbasis teknologi dalam menyampaikan materi hidrolisis garam.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kimia dapat diketahui bahwa salah satu faktor rendahnya aktivitas belajar siswa dikarenakan siswa kurang memaha mi konsep, siswa kesulitan dalam menentukan golongan dari suatu unsur dan sifat -sifatnya. Lemahnya pemahaman konsep siswa juga dikarenakan pembelajaran yang dilaksanakan guru secara umum masih bersifat teacher centered. Belum maksimalnya nilai yang didapatkan karena pembelajaran yang dilaksanakan masih kurang memperhatikan kemampuan berpikir siswa dan kurang menarik. Padahal pengetahuan yang diperoleh siswa melalui kegiatan penemuan dan analisis siswa itu sendiri akan dapat bertahan lebih lama dalam ingatan, apabila dibandingka n dengan cara-cara yang lain. Dan diperoleh informasi bahwa guru sangat jarang

(4)

4

menggunakan metode inkuiri dalam pembelajaran kimia sehingga penulis memutuskan untuk menerapkan metode inkuiri terbimbing. Pada materi ini akan dibahas tentang pengertian larutan hidrolisis dan sifat-sifat larutan hidrolisis garam. Penelitian dari Matthew & Kenneth (2013) menunjukkan bahwa siswa yang diajarkan menggunakan metode pembelajaran inkuiri terbimbing memiliki nilai prestasi yang lebih baik daripada siswa yang belajar dengan menggunakan metode pembelajaran konvensional.

Secara umum dapat dikemukakan bahwa penggunaan lembar kerja siswa dalam pembelajaran memberi manfaat yang nyata seperti proses pembelajaran lebih menarik, lebih interaktif, jumlah waktu mengajar dapat dikurangi, kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan dan proses belajar mengajar dapat dilakukan dimana dan kapan saja, serta sikap belajar siswa dapat ditingkatkan. Sehingga kami disini tertarik menarik pembelajaran lembar kerja siswa serta kami padukan pada keterampilan siswa tersebut dilaboratorium. Makanya sekarang nama lembar kerja siswa sudah berubah menjadi Lembar Kerja Peserta Didik pada kurikulum 2013.

Melihat pada kondisi dan potensi di SMA Negeri 10 Kota Jambi dimana siswa pada umumnya telah memiliki smartphone pribadi menginginkan media pembelajaran berbasis ICT yang menarik seperti media animasi, video pembelajaran dan media yang bisa disimpan dan ditampilkan pada ponsel ini dan juga guru yang masih kesulitan dalam ketersediaan bahan ajar seperti buku untuk para siswa, sehingga penulis menawarkan beberapa jenis program pengembanga n media seperti 3D Pageflip Professional. Dimana media 3D Pageflip Professional untuk mendesain LKPD, sementara itu pada pengembangan e-LKPD terdapat animasi sebagai contohnya secara relevan (nyata) dan program ini unggulan yang

(5)

5

khusus digunakan untuk menampilkan suatu materi yang bisa dilengkapi dengan audio, gambar, animasi bergerak dan video yang lebih menarik daripada Ms. PowerPoint dan program pengembangan lainya. Sehingga pembelajaran lebih menarik bagi siswa

Di sini peneliti bermaksud mengembangkan e-LKPD dengan menggunaka n media 3D Pageflip Professional. Dimana LKPD elektronik dengan menggunaka n 3D PageFlip Professional diharapkan mampu menjadi media yang dapat membantu siswa lebih mudah memahami konsep materi hidrolisis garam.

Penggunaan e-LKPD tidak akan memberikan hasil yang memuaskan tanpa diiringi penggunaan model pembelajaran dalam proses pembelajaran. Pembelajaran dalam kurikulum 2013 mengutamakan pendekatan saintifik. Salah satu model pembelajaran yang pendekatan saintifik adalah inkuiri.

Gulo (2002) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis dan dengan penuh percaya diri. Melalui kegiatan inkuiri siswa diharapkan dapat menghubungkan pengetahuan yang dimilik i dengan informasi yang diberikan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung sehingga dapat mendorong mereka untuk membangun keterampilan berpikir.

Menurut Rustaman (Jafar, 2012) inkuiri lebih menekankan siswa untuk menemukan konsep melalui percobaan dalam laboratorium menggunakan langkah-langkah ilmiah. Inkuiri dipandang sebagai salah satu bentuk pembelajaran yang cocok untuk melatih siswa menemukan jawaban dari masalah dan menemuka n konsep. Inkuiri merupakan model pembelajaran inovatif yang diperlukan untuk

(6)

6

mengaktifkan keterlibatan siswa secara mandiri dalam proses pembelajaran (Siregar dan Hartini, 2010).

Sehingga kami akan menjelaskan penelitian kami. Disini siswa memakai media e-LKPD berbasis inkuiri terbimbing yang bisa mendukung pemikiran secara keterampilan kontektual. Hal ini yang mendasari peneliti untuk dapat melakukan inovasi pada perangkat pembelajaran yang digunakan, karena itulah guru berpartisipasi dalam keterampilan dan dapat dikembangkan pada siswa tersebut. Sehingga dapat memperoleh proses hasil belajar yang baik.

Oleh karena itu diperlukan tindakan untuk dapat mengatasinya. Salah satu solusinya adalah penggunakaan e-LKPD berbasis Inkuiri terbimbing. Beberapa aspek penilaian itu ada 3 ranah yaitu afektif, kognitif dan psikomotor. Peneliti cuma mengangkat psikomotor pada siswa materi hidrolisis garam. Penelitian ini karena pada materi tersebut terdapat berbagai aktivitas-aktivitas sainstis yang dapat dilakukan melalui kerja laboratorium serta berbagai fakta dan konsep akan dapat dengan mudah teramati dan diperoleh oleh siswa. Setelah penerapan e-LKPD berbasis inkuiri terbimbing untuk sikap yang akan dilatih serta diharapkan siswa menjadi aktif dalam prosedur kerja ilmiah dimulai kegiatan prediksi, pengamatan, menafsirkan hasil pengamatan, penggunaan alat, pengkomunikasian sampai penarikan kesimpulan, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman belajar secara langsung dan bermakna guna meningkatkan psikomotor siswa tersebut.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengembangan bahan ajar berupa LKPD elektronik berbasis inkuiri terbimbing dengan judul “Pengembangan e-LKPD untuk

(7)

7

Meningkatkan Psikomotor Siswa pada Materi Hidrolisis Garam Kelas XI SMA Negeri 10 Kota Jambi”.

1.2 Rumusan masalah

Dari uraian yang disajikan pada latar belakang di atas, dapat disusun beberapa rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah prosedur pengembangkan e-LKPD berbasis Inkuiri Terbimbing pada materi hidrolisis garam kelas XI di SMAN 10 Kota Jambi?

2. Bagaimana respon siswa terhadap e-LKPD berbasis Inkuiri Terbimbing pada materi hidrolisis garam kelas XI di SMAN 10 Kota Jambi?

1.3 Tujuan Pengembangan

Adapun Tujuan yang dari pengembangan ini adalah sebagai berikut:

1. Dapat mengetahui prosedur pengembangan e-LKPD berbasis Inkuiri Terbimbing pada materi hidrolisis garam kelas XI di SMAN 10 Kota Jambi. 2. Dapat mengetahui respon siswa terhadap e-LKPD berbasis Inkuiri Terbimbing

pada materi hidrolisis garam kelas XI di SMAN 10 Kota Jambi. 1.4 Batasan Masalah

Agar penelitian ini lebih terinci, maka ruang lingkup masalah yang ditelit i dibatasi pada hal-hal sebagai berikut:

1. Penelitian ini hanya dilakukan pada KD 4.12 Merancang, melakukan, dan menyimpulkan serta menyajikan hasil percobaan untuk menentukan jenis garam.

(8)

8 1.5 Spesifikasi Pengembangan

1. Produk e-LKPD pada materi hidrolisis garam ini dikembangkan dengan menggunakan 3D PageFlip Professional, yang kegiatan pembelajarannya diterapkan secara kontekstual.

2. Produk e-LKPD pada materi hidrolisis garam ini dikembangka n menggunakan perpaduan media 3D Pageflip Professional yang di integrasikan dengan berbagai media seperti video, gambar, animasi yang ditampilkan secara digital baik menggunakan komputer PC, maupun laptop. Sehingga membuat kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.

3. Produk e-LKPD ini menggunakan 3D PageFlip Professional pada materi hidrolisis garam dan terdapat kegiatan pratikum, sehingga dapat diterapkan dalam praktikum yang berbasis kontekstual.

1.6 Manfaat Pengembangan

Manfaat dari penelitian ini diantaranya sebagai berikut : 1. Bagi Guru

Membantu guru dalam menyampaikan konsep-konsep pada materi hidrolis is garam.

2. Bagi Siswa

Membantu siswa dalam memahami materi hidrolisis garam dengan bantuan media pembelajaran yang telah dikembangkan.

3. Bagi Sekolah

Bahan ajar dapat digunakan untuk peningkatan prestasi siswa dan acuan bagi pembelajaran lainnya.

(9)

9 4. Bagi Peneliti

Mengembangkan pembuatan media pembelajaran dengan menggunaka n program 3D Pageflip Professional.

1.7 Defenisi Istilah

Definisi operasional dalam penelitian ini, yaitu:

1. LKPD Berbasis Multimedia artinya LKPD yang sajiannya mengand ung berbagai jenis media seperti gambar, teks, video, animasi dan musik sebagai sumber belajar.

2. Model pembelajaran inkuiri terbimbing memiliki beberapa tahapan dalam pembelajaran yang meliputi: (a) perumusan masalah, (b) menyusun hipotesis, (c) mengumpulkan data, (d) menganalisis data, dan (e) menyimpulka n. (Sanjaya, 2012).

3. 3D Pageflip Professional merupakan program unggulan yang khusus digunakan untuk menampilkan suatu materi yang bisa dilengkapi dengan audio, gambar, animasi bergerak dan video yang lebih menarik dari pada Ms. PowerPoint dan program pengembangan lainya.

4. Hidrolisis garam adalah penguraian garam oleh air atau reaksi ion-ion garam oleh air. (Purba, 2008).

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Biologi Berbasis

Penerapan metode pembelajaran inkuiri terbimbing juga memberikan hasil belajar dan sikap ilmiah yang lebih baik pada siswa yang dibelajarkan dengan metode inkuiri terbimbing

Produk yang dikembangkan pada penelitian ini adalah LKPD berbasis inkuiri pada materi pengklasifikasian ikan menggunakan Model Prosedur pengembangan hasil adaptasi dari

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan LKPD berbasis inkuiri terbimbing berbantuan simulasi PhET untuk digunakan dalam proses pembelajaran Fluida

ABSTRAK Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik LKPD Berbasis Inkuiri Terbimbing Pada Materi Larutan Penyangga Untuk Pembelajaran Kimia SMA Oleh : Vivi Lestari Salah satu bahan

LKPD berbasis inkuiri terbimbing merupakan media yang efektif untuk digunakan dan dapat meningkatkan kemampuan pemahaman matematis siswa, hal tersebut terlihat dari peningkatan

SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pengem- bangan, dapat disimpulkan bahwa: 1 produk yang dihasilkan berupa LKPD tema Gunung Meletus berbasis inkuiri terbimbing, dengan

Bahan ajar yang dikembangkan yaitu berupa e-LKPD model inkuiri terbimbing berbasis android digunakan untuk merekam sejumlah materi yang disisipkan video pembelajaran, games, evaluasi