VARIASI JARAK UJI KESESUAIAN BERKAS CAHAYA SINAR – X DI LABORATORIUM RADIOLOGI POLITRKNIK AL ISLAM BANDUNG
Oktarina Damayanti
Program Studi Diploma Tiga Radiologi, Polteknik Al Islam Bandung Email : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini membahas tentang uji kesesuaian berkas sianar-X sehingga pesawat sinar-X yang digunakan masih dalam batas aman. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Politeknik Al Islam Bandung dengan variasi FFD (Focus Film Distan) yaitu pada jarak 110 cm, 100 cm, dan 90 cm, juga variasi lain yang digunakan adalah variasi faktor eksposi yaitu I (57,5 kV, 32 mA, 0,125 s), II (60 kV, 32 mA, 0,125 s), dan III (62,5 kV, 32 mA, 0,125 s). dengan luas lapang berkas sinar-X menggunakan unit RMI Collimator Tool dan Beam Alligment Test Tool. Prosedur penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu penelitian kuantitatif. Dengan menyiapkan sistem digital radiograf, mengatur tabung dan memastikan posisi tabung dan sistem radiografi digital tidak dalam kondisi miring. Langkah berikutnya mengatur FFD dengan beberapa variasi yaitu 110 cm, 100 cm dan 90 cm, juga variasi lain yang digunakan adalah variasi faktor eksposi yaitu I (kV 45 mAs 100 mA 4.00), II (kV 50 mAs 100 mA 4.00), dan III (kV 55 mAs 100 mA 4.00). dan menempatkan Collimator Tool dan Beam Alligment Test Tool di atas kaset dengan ukuran 24 x 30 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil uji berkas cahaya kolimasi pada pesawat rontgen di Politeknik Al-Islam Bandung, terjadi ketidak sesuaian luas lapangan cahaya sinar-X dengan luas lapangan cahaya kolimasi dimana luas lapangan cahaya sinar-X keluar lebih kecil dari pada luas lapangan cahaya kolimasi yaitu |∆X|+|∆Y|=1,4%FFD. Sesuai dengan yang ditetapkan oleh National Council on Radiation Protection (NRCP) yaitu |∆X|+|∆Y|≤ 3% FFD nilai ketidaksesuaian luas lapangan berkas cahaya kolimasi masih dalam batas toleransi yang disepakati.
Kata kunci : FFD, RMI Collimator Tool, Beam Alligment Test Tool
ABSTRACT
The research is test of X-ray beams so the X-ray machine used is still within safe limits. This research was conducted at the Laboratory of Politeknik AL Islam Bandung with variations of FFD (focus film distand) 110 cm, 100 cm and 90 cm, also other variations used were variations in exposure factors, namely I (57.5 kV, 32 mA, 0.125 s), II (60 kV, 32 mA, 0.125 s), and III (62.5 kV, 32 mA, 0.125 s). with the X-ray beam area using the RMI Collimator Tool and the Beam Aligment Test Tool unit. The research procedure used in this research is quantitative research. By setting up a digital radiography system, adjusting the tube and ensuring the position of the tube and the digital radiography system is not tilted. The next step is to adjust the FFD with several variations, namely 110 cm, 100 cm and 90 cm, also other variations used are variations in exposure factors, namely I (kV 45 mAs 100 mA 4.00), II (kV 50 mAs 100 mA 4.00), and III ( kV 55 mAs 100 mA 4.00). and place the Collimator Tool and the Beam Aligment Test Tool on the cassette with a size of 24 x 30 cm. The results showed that the results of the collimation light beam test on an X-ray machine at the Al-Islam Polytechnic Bandung, there was a mismatch of the X-ray light field area with the collimated light field area where the outgoing X-ray light field area was smaller than the collimated light field area, namely |∆X|+|∆Y|=1.4%FFD. In accordance with what is determined by the National Council on Radiation Protection (NRCP), namely |∆X|+|∆Y|≤ 3%FFD,
the value of the mismatch of the collimated light beam field is still within the agreed tolerance limits
Keywords : FFD, RMI Collimator Tool, Beam Alligment Test Tool
PENDAHULUAN
Uji Kesesuaian (Compliance Testing) adalah uji untuk memastikan bahwa pesawat Sinar-X memenuhi persyaratan keselamatan radiasi dan memberikan informasi diagnosis atau pelaksanaan radiologi yang tepat dan akurat (Chadidjah 2012). Uji kesesuaian merupakan dasar dari suatu program jaminan mutu radiologi diagnostik yang mencakup sebagian tes program jaminan mutu, khususnya parameter yang menyangkut keselamatan radiasi. Tujuan utama Program Jaminan Kualitas (Quality Assurance Program) pada Instalasi Radiologi adalah diagnosa pasien yang tepat dan akurat. Tujuan ini akan terkait dengan program jaminan kualitas menyeluruh yang disesuaikan dengan kebutuhan fasilitas yang mencakup 3 (tiga) hal, yaitu: mengurangi paparan radiasi, peningkatan citra diagnostik dan siasat penekanan biaya (Dwi 2008).
Mutu diartikan sebagai penjamin pencapaian tujuan atau luaran yang diharapkan dan mutu harus selalu mengikuti perkembangan pengetahuan profesional terkini. Untuk itu mutu harus diukur dengan derajat pencapaian tujuan dan harus memenuhi berbagai standar/ spesifikasi (ISO 2000). Untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan maka berbagai komponen input, process dan output harus ditetapkan secara jelas dan rinci, antara lain mencakup aspek manajemen dan teknis dengan berpedoman pada pencapaian visi serta pewujudan misi yang ditetapkan bersama. Salah satu kegiatan jaminan mutu adalah kegiatan kendali mutu (QC) (Anonim 2009). Pengujian kesesuaian luas lapang kolimator dengan luas lapang berkas sinar-X merupakan salah satu program dalam QC. Pengujian kolimator dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode, salah satunya adalah dengan alat uji kolimator Unit RMI (Collimator Tool dan Beam Alligment Test Tool) yang dirancang untuk mengevaluasi kolimator. Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan No. 1250/SK/XII/2009, bahwa gambaran pertengahan lapang sinar-X harus berada diantara 2% (maksimum) dari jarak fokus ke bidang film/ FFD (Focus Film Distance) terhadap pertengahan lapangan penyinaran berkas cahaya kolimator dalam perencanaan bayangan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis merumuskan masalah Bagaimana kelayakan kolimator pada pesawat sinar-X merk/type Toshiba yang ada di Laboratorium Politeknik Al Islam Bandung dari hasil pengujian kesesuaian luas lapang kolimator dengan variasi antara lain, variasi FFD yaitu pada jarak 110 cm, 100 cm, dan 90 cm, juga variasi lain yang digunakan adalah variasi faktor eksposi yaitu I (57,5 kV, 32 mA, 0,125 s), II (60 kV, 32 mA, 0,125 s), dan III (62,5 kV, 32 mA, 0,125 s). dengan luas lapang berkas sinar-X menggunakan unit RMI Collimator Tool dan Beam Alligment Test Tool. Penelitian ini dibatasi pada Pengujian kesesuian luas lapang kolimator dengan luas lapang sinar-X dapat dilakukan dengan beberapa metode antara lain menggunakan Unit RMI Collimator Tool dan Beam Alignment Test Tool dengan variasi antara lain, variasi FFD yaitu pada jarak 110 cm, 100 cm, dan 90 cm, juga variasi lain yang digunakan adalah variasi faktor eksposi yaitu I (kV 45 mAs 100 mA 4.00), II (kV 50 mAs 100 mA 4.00), dan III (kV 55 mAs 100 mA 4.00).
METODOLOGI PENELITIAN
Prosedur penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu penelitian kuantitatif. Dengan menyiapkan sistem digital radiograf, mengatur tabung dan memastikan posisi tabung dan sistem radiografi digital tidak dalam kondisi miring. Langkah berikutnya mengatur FFD dengan beberapa variasi yaitu 110 cm, 100 cm dan 90 cm, juga variasi lain yang digunakan adalah variasi faktor eksposi yaitu I (kV 45 mAs 100 mA 4.00), II (kV 50 mAs 100 mA 4.00), dan III (kV 55 mAs 100 mA 4.00). dan menempatkan Collimator Tool dan Beam Alligment Test Tool di atas kaset dengan ukuran 24 x 30 cm. Permukaan sistem digital radiografi. Kolimator diatur sedemikian rupa sehingga bidang lampu kolimator sebangun dengan garis rectangular yang ada di plat Collimator Tool seperti pada Gambar 1. Setelah semua alat dan bahan siap seperti pada Gambar 2, kemudian dilakukan penyinaran, agar dapat diperoleh densitas yang dapat diobservasi menggunakan beberapa faktor
eksposi antara lain: 1. 57,5 kV, 0,125 s dan 32 mA 2. 60 kV, 0,125 s dan 32 mA 3. 62,5 kV, 0,125 s dan 32 mA dengan kaset ukuran 24 x 30 cm.
Pengujian kesesuian luas lapang kolimator dengan luas lapang sinar-X dilakukan di Laboratorium Politeknik Al Islam Bandung menggunakan Unir RMI (Collimator Tool dan Beam Alignment Test Tool). Data yang dihasilkan dalam bentuk gambar yang dibetuk oleh unit digital radiografi. Masing-masing data tersebut dievaluasi dengan melihat batas tegas garis yang dibentuk oleh sumbu X dan sumbu Y, menentukan titik tengah antar batas tegas garis dan batas radiasi hambur. Jarak antar titik tengah dengan batas garis pada sumbu X merupakan nilai dan pada sumbu Y merupakan nilai Xn dan
pada sumbu Y merupakan Yn, yang digunakan untuk menghitung penyimpangan yang terjadi.
Analisis data yang dilakukan dengan cara melakukan penelitian yaitu dengan langkah mengatur FFD dengan beberapa variasi yaitu 110 cm, 100 cm dan 90 cm, dan variasi faktor exposi I (kV 45 mAs 100 mA 4.00), II (kV 50 mAs 100 mA 4.00), dan III (kV 55 mAs 100 mA 4.00). dan menempatkan Collimator Tool dan Beam Alligment Test Tool di atas kaset dengan ukuran 24 x 30 cm.
Gambar 1. Bidang lampu sebangun dengan garis rectangular
Gambar 2. Setting penguji kongruensi kolimasi
Evaluasi diperlukan untuk menghasilkan hasil penelitian yang lebih baik. Evaluasi dalam penelitian ini meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Standar toleransi penyimpangan luas lapang kolimator dengan luas lapang sinar-X.
1. Xn ≤ 2 % FFD
2. Yn ≤ 2 % FFD
- Xn = X1 + X2
- Yn = Y1 + Y2
Gambar 3. Hasil uji kongruensi kolimasi a. Standar toleransi penyimpangan titik pusat berkas sinar-X
Ɵ ≤ 30 dengan : tan Ɵ =𝑎𝑏 𝑎𝑒 tan Ɵ = 𝑑𝑒 𝑥 𝑎𝑐 𝑎𝑒 𝑥 𝑐𝑒 Ɵ = tan−1 𝑑𝑒 𝑥 𝑎𝑐 𝑎𝑒 𝑥 𝑐𝑒
Gambar 4. Ilustrasi pengukuran penyimpangan titik pusat berkas Sinar-X (Wiyono 2010)
Gambar 5 Penyimpangan titik pusat berkas Sinar-X (Fluke 2005) Dengan X1 + X2
HASIL DAN PEMBAHASAN
Faktor Exposi kV 45 mAs 100 mA 4.00 dengan Focus Film Distance (FFD) 90cm X1 = 13,4 – 13,5 = 0,1 cm
X2 = 13,4 – 12,7 = 0,7 cm Y1 =10,4 – 10,8 =0,4 cm Y2 = 10,8 – 10,7 = 0,1 cm
Total penyimpangan lapangan cahaya dengan lapangan sinar-X pada sumbu X dan sumbu Y adalah sebagai berikut :
∆X = X1 + X2 = 0,1 + 0,7 = 0,8 % ∆Y = Y1 + Y2 = 0,4 + 0,1 = 0,5 %
Total penyimpangan lapangan cahaya dengan lapangan sinar- X adalah sebagai berikut : |∆X| + |∆Y| = 0,8 + 0,5 = 1,3 % FFD
Tabel 1. Hasil Penyinaran Dengan FFD 90 cm kV 45 mAs 100 mA 4.00
Batas toleransi untuk nilai kongruensi luas lapangan kolimasi yang telah ditetapkan oleh National Council on Radiation Protection (NRCP),yaitu :
a. (X1 + X2) ≤ 2 % FFD b. (Y1 + Y2) ≤ 3 % FFD c. |∆X| + |∆Y| ≤ 3 % FFD
Hasil yang didapat menyatakan kalua hasil penyimpanagn masih dibatas toleransi yang ditentukan. b. Faktor Exposi kV 45 mAs 100 mA 4.00 dengan Focus Film Distance
(FFD) 100 cm
X1 = 13,3 – 13,4 = 0,1 cm X2 = 13,2 – 12,8 = 0,4 cm Y1 = 10,7 – 10,5 =0,2 cm Y2 = 10,7 – 10,9 = 0,2 cm
Total penyimpangan lapangan cahaya dengan lapangan sinar-X pada sumbu X dan sumbu Y adalah sebagai berikut :
∆X = X1 + X2 = 0,1 + 0,4 = 0,5 % ∆Y = Y1 + Y2 = 0,2 + 0,2 = 0,4 %
Total penyimpangan lapangan cahaya dengan lapangan sinar- X adalah sebagai berikut : |∆X| + |∆Y| = 0,2 + 0,4 = 0,6 % FFD
Titik ukur Tepi lap. Cahaya (cm) Tepi lap. Cahaya (cm) |∆1|+|∆2|(% FFD) |∆X| + |∆Y| (% FFD) X1 13,4 13,5 0,8 1,3 X2 13,3 12,7 Y1 10,4 10,8 0,5 Y2 10,8 10,7 Toleransi ≤2 % FFD ≤3 % FFD
Tabel. 2 Hasil Penyinaran Dengan FFD 100 cm kV 45 mAs 100 mA 4.00 Titik ukur Tepi lap.
Cahaya (cm) Tepi lap. Cahaya (cm) |∆1|+|∆2|(% FFD) |∆X| + |∆Y| (% FFD) X1 13,3 13,4 0,2 0,6 X2 12,8 13,2 Y1 10,7 10,5 0,4 Y2 10,7 10,9 Toleransi ≤2 % FFD ≤3 % FFD
Batas toleransi untuk nilai kongruensi luas lapangan kolimasi yang telah ditetapkan oleh National Council on Radiation Protection (NRCP),yaitu :
a. (X1 + X2) ≤ 2 % FFD b. (Y1 + Y2) ≤ 3 % FFD c. |∆X| + |∆Y| ≤ 3 % FFD
Hasil yang didapat menunjukan kalua berkas lapangan kolimasi pada FFD 100 masih dalam batas yg diizinkan.
c. Faktor Exposi kV 45 mAs 100 mA 4.00 dengan Focus Film Distance (FFD) 110 cm
X1 = 13,3 – 13,4 = 0,1 cm X2 = 13,2 – 12,8 = 0,4 cm Y1 = 0,7 – 10,7 =0 cm Y2 = 10,7 – 11 = 0,3cm
Total penyimpangan lapangan cahaya dengan lapangan sinar-X pada sumbu X dan sumbu Y adalah sebagai berikut :
∆X = X1 + X2 = 0,1 + 0,4 = 0,5 % ∆Y = Y1 + Y2 = 0 + 0,3 = 0,3 %
Total penyimpangan lapangan cahaya dengan lapangan sinar- X adalah sebagai berikut : |∆X| + |∆Y| = 0,5 + 0,3
= 0,8 % FFD
Tabel. 3 Hasil Penyinaran Dengan FFD 110 cm kV 45 mAs 100 mA 4.00 Titik ukur Tepi lap.
Cahaya (cm) Tepi lap. Cahaya (cm) |∆1|+|∆2|(% FFD) |∆X| + |∆Y| (% FFD) X1 13,3 13,4 0,5 0,8 X2 13,2 12,8 Y1 10,7 10,7 0,3 Y2 10,7 11 Toleransi ≤2 % FFD ≤3 % FFD
Batas toleransi untuk nilai kongruensi luas lapangan kolimasi yang telah ditetapkan oleh National Council on Radiation Protection (NRCP),yaitu :
(X1 + X2) ≤ 2 % FFD a. (Y1 + Y2) ≤ 3 % FFD b. |∆X| + |∆Y| ≤ 3 % FFD
Hasil yang didapat menunjukan kalua berkas lapangan kolimasi pada FFD 110 masih dalam batas yg diizinkan.
KESIMPULAN
Pengujian yang telah dilakukan terhadap berkas cahaya kolimasi pesawat rontgen di Politeknik AL-Islam Bandung adalah sebagai berikut:
a. Untuk melakukan uji berkas cahaya kolimasi dengan menggunakan collimator test tool dan beam aligment test tool di Politeknik Al-Islam Bandung adalah dengan pengujian menggunakan collimator test tool dan beam aligment test tool yang diletakan di atas kaset, kemudian diatur jarak FFD (Focus Film Distance) sebesar 110, 100 cm dan 90 cm dan besar ukuran luas penyinaran cahaya kolimasi, selanjutnya dilakukan ekpose dengan Kv 45, mA 100, mAs 4.00, lalu hasil dari pengujian tersebut dievaluasi.
b. Berdasarkan hasil uji berkas cahaya kolimasi pada pesawat rontgen di Politeknik Al-Islam Bandung, terjadi ketidak sesuaian luas lapangan cahaya sinar-X dengan luas lapangan cahaya kolimasi dimana luas lapangan cahaya sinar-X keluar lebih kecil dari pada luas lapangan cahaya kolimasi yaitu |∆X|+|∆Y|=1,4%FFD. Sesuai dengan yang ditetapkan oleh National Council on Radiation Protection (NRCP) yaitu |∆X|+|∆Y|≤ 3%FFD nilai ketidaksesuaian luas lapangan berkas cahaya kolimasi masih dalam batas toleransi yang disepakati.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul M, H, B., 2016. Pengembangan media pembelajaran matapelajaran pendidikan agama islam berbasis autoplay untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran pada materi tatacara shalat siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 11 Rogojampi. Prorgram studi pendidikan agama Islam ; Skripsi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi., 2014. Panduan Penyusunan Capaian Pembelajaran Lulusan Program Studi, Jakarta
Dr. Andoyo S., 2008. Media dan Sumber Pembelajaran ; disampaikan pada pendidikan dan pelatihan profesi menengah pertama.Universitas Pendididkan Indonesia. Bandung :
Fitro., 2013. Optimalisasi Tri Dharma perguruan tinggi dosen menggunakan tahapan IT master plan. Studi Informatika : Jurnal Sistem Informasi, Vol 6 No 1 Hal 1-6. ISSN 1979-0767
Markus M., 2013. Peran Dosen dalam mengembangkan karakter mahasiswa. Jurnal : Humaniora Vol 4 No.2 Hal 800-810
Nunu M., 2012. Media Pembelajaran (Kajian terhadap langkah-langkah pemilihan media dan implementasinya dala pembelajaran). Jurnal Pemikiran Islam; Vol 37 No. 1 Hal 27-33. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 8 Tahun 2012 Tentang Kerangka Kualifikasi Nasional
Indonesia. (PERPRES NO 8, 2012)
Penerapan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia No. 73 Tahun 2013 Tentang Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia Bidang Pendididkan Tinggi. (PERMENDIKBUD No 73, Tahun 2013)
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 26 Tahun 2018 Tentang Klasifikasi Politeknik Kesehatan Di Lingkungan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementeria Kesehatan, (PERMENKES No 28, Tahun 2018) :
Riza Y., 2016. Identifikasi permasalahan pendidikan di Indonesia untuk meningkatkan mutu dan profesinalisme guru. Confrence : Kovensi Nasional pendidikan Indonesia (KONAPSI) VIII, Jakarta.
Sri Yuliawati., 2012. Kajian implementasi Tri Dharma perguruan tinggi sebagai fenomena pendidikan tinggi di indonesia. Program Pasca sarjana UHAMKA ; Artikel pendidikan hal 28-33 Vol 29 Nomor 318.
Sutrisna, W. 2017. Tridharma Perguruan Tinggi ( Pendidikan dan Pengabdian Kepada Masyarakat), Yogyakarta