PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan keinginan perusahaan dalam meningkatkan kualitas produk atau layanan serta kebutuhan konsumen yang semakin meningkat, dunia bisnis di Indonesia semakin kompetitif. Dimulai dari perubahan sistem yang digunakan di perusahaan, hingga penggunaan cara-cara yang dapat memberikan keuntungan yang optimal bagi perusahaan. Aktivitas perusahaan sektor publik dan bisnis senantiasa berubah dan berkembang selaras dengan perubahan internal dan eksternal organisasi atau perusahaan. Perubahan di lingkungan internal berupa perbaikan metode operasi, misalnya perubahan penggunaan cara-cara manual ke teknologi dan dikendalikan oleh manajemen. Sedangkan perubahan di lingkungan eksternal seperti perubahan iklim demokrasi, kebijakan pemerintah yang terkait, serta dinamika pasar yang bergerak berada di luar kontrol perusahaan.
Setiap aktivitas ataupun usaha pasti memiliki risiko. Utamanya dalam menghadapi tuntutan perubahan dan peningkatan kapabilitas perusahaan, pasti memunculkan risiko (risk) sekaligus peluang (opportunities) bagi perusahaan tersebut. Risiko pada hakikatnya merupakan kejadian yang memiliki dampak negatif terhadap sasaran dan strategi perusahaan¹. Risiko tersebut umumnya tidak bisa dihindari, namun bisa dikurangi dengan cara mengelolanya agar tidak mengganggu aktivitas perusahaan dalam rangka mencapai tujuan. Risiko berkenaan dengan kemungkinan terjadinya kegagalan dan kerugian bagi perusahaan. Risiko berskala rendah tidak membawa dampak yang terlalu signifikan bagi perusahaan. Namun risiko berskala besar yang dapat berdampak pada tidak tercapainya tujuan dan misi perusahaan. Kegagalan tujuan dan misi bagi perusahaan dapat mengakibatkan distrust (ketidakpercayaan) dari konsumen atas pelayanan yang diberikan. Dalam kondisi terburuk dan sebagaimana yang pernah terjadi, distrust dapat menyebabkan hilangnya perusahaan yang bersangkutan.
Tak terkecuali dalam bisnis jasa transportasi, yang mengutamakan keamanan dan kenyamanan pelanggan, terdapat banyak risiko yang mungkin dapat menghambat tercapainya tujuan dan pengembangan perusahaan jasa transportasi itu sendiri. Salah satu bagian atau komponen utama yang harus diperhatikan dalam mengelola risiko perusahaan jasa transportasi adalah pada kendaraan operasionalnya.
Terkait dengan operasional jasa transportasi, risiko kecelakaan merupakan hal yang harus mendapat porsi lebih untuk diperhatikan. Hal ini disebabkan karena kecelakaan dapat berakibat langsung terhadap hilangnya kepercayaan konsumen terhadap perusahaan penyedia jasa. Terlebih untuk rute antar kota, dimana rasa aman menjadi salah satu yang terpenting bagi masyarakat. Selain risiko kecelakaan masih mungkin terdapat risiko operasional lainnya yang dapat menghambat tercapainya tujuan perusahaan.
PT. Primajasa Perdanarayautama adalah salah satu perusahaan yang menyediakan layanan transportasi antar kota khususnya rute Jakarta-Bandung dan sebaliknya. Perusahaan ini melayani rute tersebut dengan kendaraan bus maupun travel. Rute Jakarta-Bandung dan sebaliknya merupakan jalur tersibuk yang dilayani oleh perusahaan, terlebih setelah Oktober 2006 Primajasa membuka rute baru, Bandung Supermall – Bandara Soekarno-Hatta. Dalam melakukan aktivitas mengangkut penumpang akan mungkin ditemukan beberapa risiko yang dapat menghambat kelancaran proses layanan tersebut khususnya risiko kecelakaan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Terlebih rute perjalanan ini melalui jalan tol Cipularang, dimana jalan tol tersebut mempunyai permasalahan kecelakaan lalu lintas yang sangat serius disamping masalah konstruksi di beberapa lokasi. Data PT Jasa Marga menunjukkan bahwa dalam kurun waktu April 2005 sampai dengan April 2006 telah terjadi 181 kecelakaan dengan korban 27 orang meninggal dunia, 134 orang luka berat dan 176 orang luka ringan.
(http://www.hubdat.web.id/keselamatan/auditcipularang.pdf)
Tabel 1.1 Data Kecelakaan Tol Cipularang April 2005-April 2006
Data kecelakaan diatas menunjukkan bahwa sejak dioperasikan April 2005, jalan tol Cipularang merupakan kawasan yang rentan akan risiko kecelakaan. Selain itu, sejak dibuka pada pertengahan 2005 tersebut, jalan tol Cipularang pernah mengalami peristiwa amblasnya jalan. Hal ini semakin menambah faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya kecelakaan di jalan tol tersebut selain adanya masalah operasional bus (internal) itu sendiri. (http://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Tol_Cipularang)
Tabel 1.2 Data Jalan Amblas Tol Cipularang
Dari data PrimaJasa sendiri (2006-April 2009), terdapat sekitar 46 kasus kecelakaan bus penumpang dengan rincian dibawah.
Tabel 1.3 Jumlah Kecelakaan Bus PrimaJasa 2006-2009
Data diatas merupakan salah satu fakta ancaman risiko bagi operasional bus Primajasa untuk kedepannya disamping risiko-risiko lain yang sekiranya ditemukan dalam proses identifikasi. Manajemen risiko (risk management) menjadi kebutuhan yang strategis dan menentukan perbaikan kinerja perusahaan, dalam hal ini operasional bus perusahaan. Manajemen risiko secara umum dibagi tiga tahap, yaitu pengidentifikasian risiko dan penyebabnya, pengukuran risiko itu sendiri, dan yang terakhir pengendalian (pengelolaan) risiko. Risiko yang dikelola dengan optimal akan memunculkan berbagai peluang dan mengurangi ketidakpastian sehingga kelangsungan dari layanan perusahaan dapat terus terjaga. Manfaat dari perusahaan mengimplementasikan suatu pengelolaan risiko secara umum adalah :
a. Menjamin pencapaian tujuan. b. Memperkecil kemungkinan bangkrut.
c. Menstabilkan dan meningkatkan pendapatan perusahaan. d. Adanya ketenangan dalam berpikir.
e. Memberikan keamanan pekerjaan
Secara lebih spesifik manfaat perusahaan mengimplementasikan manajemen risiko antara lain mengurangi pengeluaran, menaikkan keuntungan, dan mencegah perusahaan dari kegagalan. (http://www.vibiznews.com/knowledge/risk/pengertiandanprinsiprisiko.pdf)
PrimaJasa sebagai salah satu perusahaan yang bersaing dalam pasar “transportation service” dan mempunyai strategi peningkatan keamanan dan layanan yang memuaskan, harus dapat mengimplementasikan teknik manajemen risiko yang tepat seperti disebutkan diatas. Khusus penanganan risiko kecelakaan, PrimaJasa telah menerapkan asuransi pada pengelolaan risikonya. Akan tetapi, asuransi yang digunakan hanya untuk penumpang, sedangkan proses penanganan untuk kerusakan pada bus ditanggung pihak perusahaan Primajasa sendiri setelah terjadinya kerugian. Selain itu, perusahaan menerapkan kebijakan tersebut tanpa prosedur ataupun tahapan yang jelas dan sistematis, dimana proses manajemen risiko tidak hanya mengandalkan good feeling semata. Untuk itu dibutuhkan sebuah tahapan manajemen risiko operasional yang tepat agar kebijakan yang digunakan semakin menjamin tercapainya sasaran perusahaan itu sendiri (form yang terkait terlampir).
Intinya adalah meneliti apakah perusahaan bus antar kota tersebut telah menangani risiko operasionalnya dengan benar atau tidak. Sesuai latar belakang yang telah diuraikan maka penulis mengambil judul penelitian yaitu “Analisis Risiko Operasional Bus Antar Kota Menggunakan Peta Risiko” (studi kasus : PT PRIMAJASA PERDANARAYAUTAMA : rute asal dan tujuan Bandung).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah penelitian antara lain:
a. Bagaimana mengidentifikasi semua risiko operasional bus serta risiko apa saja yang teridentifikasi disertai penyebabnya.
b. Bagaimana mengukur kemungkinan terjadinya risiko operasional tersebut, serta dampak kerugian yang ditimbulkannya.
c. Bagaimana cara penanganan atau pengelolaan yang tepat untuk risiko operasional bus.
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian yang dilakukan mempunyai tujuan antara lain :
a. Dapat mengidentifikasi semua risiko operasional bus dan penyebab timbulnya risiko tersebut.
b. Dapat mengukur kemungkinan terjadinya risiko operasional tersebut, serta dampak kerugian yang ditimbulkannya.
c. Dapat menentukan cara penanganan atau pengelolaan yang tepat untuk risiko operasional bus.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian bagi perusahaan antara lain :
a. Memberikan usulan atau rekomendasi cara yang tepat dalam mengidentifikasi penyebab timbulnya risiko dalam perusahaan dalam hal ini risiko operasional kendaraan angkutan penumpang disertai langkah dalam mengukur kemungkinan risiko operasional tersebut. b. Memberikan usulan penanganan risiko tersebut sebagai salah satu upaya perusahaan agar
dapat terus bertahan dan berkembang dalam dinamika pasar layanan transportasi khususnya angkutan penumpang antar kota.
Sedangkan manfaat penelitian bagi masyarakat adalah sebagai tambahan informasi mengenai proses manajemen risiko yang ada di perusahaan, serta acuan bagi perusahaan lain untuk terus meningkatkan layanan yang aman dan nyaman.
1.5 Batasan Penelitian
Dalam melakukan penelitian tugas akhir ini, terdapat beberapa batasan penelitian antara lain :
a. Penelitian memfokuskan hanya pada operasional bus penumpang saja.
b. Perhitungan probability hanya menggunakan data kecelakaan bus angkutan penumpang perusahaan PrimaJasa rute asal dan tujuan dari Bandung seperti rute Lebak Bulus-Bandung, Bekasi-Bulus-Bandung, Kali Deres-Bulus-Bandung, Tanjung Priok-Bulus-Bandung, Cikarang-Bandung, BSM-Bandara Soekarno Hatta dan rute sebaliknya (contoh : Bandung-Lebak Bulus).
c. Identifikasi penyebab risiko berdasarkan rata-rata penyebab secara umum (kebanyakan) untuk seluruh rute yang disebutkan diatas.
d. Pengolahan data hanya menggunakan data dari tahun 2006 sampai 2009 (asumsi setelah adanya Tol Cipularang).