p-ISSN 2615-5532
http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PG PAUD UNTIRTA 2017
KETAHANAN PANGAN KELUARGA DALAM RANGKA
PEMENUHAN GIZI DAN OPTIMALISASI PERKEMBANGAN
OTAK ANAK USIA DINI
Penasehat: Dr. H. Aceng hasani, M.Pd. Pemimpin Redaksi: Atin Fatimah, M.Pd. Tim Prosiding: 1. Dr. Isti Rusdiyani, M.Pd. 2. Ratih Kusumawardhani, M.Pd. 3. Erin Sabrina 4. Annisa Qur’ani Sekretariat: 1. Wulan Nurrohmah2. Sri Astuti febriani Cover dan Tata Letak: Desma Yuliadi Saputra, S.Pd.
JURUSAN PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENINGKATAN KREATIVITAS MENGGAMBAR ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI TEKNIK ARSIR (Penelitian Tindakan di TK Negeri Pembina Kota Serang 2016)
Ade Ika Nopiani
PENINGKATAN KEMAMPUAN SOSIAL MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK KELOMPOK B (Penelitian Tindakan Kelas di PAUD Al-Maidah Bandung-Serang)
Amsanah
MENINGKATKAN KEMAMPUAN SAINS PERMULAAN MELALUI METODE EKSPERIMEN PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN DI RA AR-ROHMAH CILEGON Anissa Sekar Violita
PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN NILAI -NILAI MORAL ANAK USIA 5-6 TAHUN
Balqis Gusetiarini
PENGARUH ALAT PERMAINAN EDUKATIF SI “BAM” TERHADAP KEMANDIRIAN ANAK
Citra Hapsari dan Mila Karmila
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA AWAL ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI BERMAIN PAPAN FLANEL DI TK IZZATI KAMPUNG HIDEUNG KECAMATAN BAROS SERANG BANTEN
Dede Nurhasanah
MENINGKATKAN KEMAMPUAN KREATIVITAS MELALUI KEGIATAN MONTASE (Penelitian Tindakan pada Kelompok B Di PAUD Al-Kautsar Kota Cilegon) Dian Maryati, Atin Fatimah, dan Tricahyani E.Y
PENINGKATAN KECERDASAN KINESTETIK ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI GERAK TARI KREASI (Penelitian Tindakan Kelas di TK Islam Citra Mandiri Serang-Banten) Dinda Nuryuliani
DAFTAR ISI
1
11
23
33
41
51
57
65
p-ISSN 2615-5532
http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/
MENANAMKAN AKHLAQ PADA ANAK USIA DINI DALAM BERBICARA BAIK DAN SOPAN MELALUI METODE BERCERITA DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL (Penelitian Tindakan, Di TK Pertiwi Kelompok B Kabupaten Kuningan, Tahun 2017)
Erna Juherna
PERKEMBANGAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Fadlullah
PENINGKATAN KEMAMPUANMOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN KOLASE ANAK USIA 4-5 TAHUN (Penelitian Tindakan di TK IT SEMUT, Cilegon-Banten)
Fitriani
MENINGKATKAN MINAT BACA MELALUI METODE BERCERITA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN
Iin Inratyani
KECERDASAN SPIRITUAL ANAK USIA 5-6 TAHUN DALAM PENGEMBANGAN NILAI-NILAI AGAMA ISLAM
Khairunnisa
MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN FUN COOKING PADA ANAK KELOMPOK B MADINAH
Lela Nurlaela, Ratih Kusumawardani, dan Tri Sayekti
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA HURUF HIJAIYAH ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KARTU HURUF HIJAIYAH
Nur Intan Pratiwi
MENINGKATKANKETERAMPILAN BERBICARA ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN MENDONGENG DI PAUD DARUL MA’ARIF CILEGON-BANTEN
Nurul Anggraeni Hidayah
PENINGKATAN KETERAMPILAN SOSIAL MELALUI PENERAPAN METODE PROYEK (Penelitian Tindakan Kelas Pada Anak Kelompok A di TK Bangun Cita Insani-Serang)
Opah Musaropah
PERKEMBANGAN MORFOLOGI ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TAMAN KANAK-KANAK
Pupung Puspa Ardini
73
79
91
97
105
115
125
133
143
155
MENINGKATKAN KECERDASAN VERBAL-LINGUISTIK MELALUI KEGIATAN BERNYANYI
Rani Sofia Ardiyani
MENINGKATKAN KEMAMPUAN DISIPLIN MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN
Ratih Chandraningsih
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL KONSEP ANGKA MELALUI MEDIA FLIP CHART PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN DI RA TARBIYATUL AULAD Ria Anggun Kusuma
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI LEGO KONSTRUKTIF
Rina Damayanti dan Atin Fatimah
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL BENTUK GEOMETRI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF MAKE A MATCH PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN
Rosita Sari
MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR ANAKUSIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN TARI KREASI (Penelitian Kualitatif di TK B, Kemala Bhayangkari 2 Pandeglang-Banten)
Siti Magfiroh
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL KONSEP GEOMETRI ANAK KELOMPOK B MELALUI BERMAIN KONSTRUKTIF (Penelitian Tindakan Kelas di RA Ar – Rahmah Pondok Aren – Tangsel)
Siti Rohmah
MENINGKATKAN KREATIVITAS MELALUI BERMAIN LEGO PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK TUNAS MERAK PANDEGLANG
Upiah
PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN MENJAHIT (Penelitian Tindakan Kelas di TK Kartika Siliwangi 39 Kota Serang-Banten)
Usi Rizanti
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK MELALUI METODE BERCERITA DENGAN BONEKA JARI (Penelitian Tindakan Kelas pada Anak TK B di TK Tunas Bangsa Jatiuwung Tangerang Tahun Pembelajaran 2015/2016) Waras Vivi Afiati
167
175
183
193
205
211
219
231
239
245
p-ISSN 2615-5532
http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/
PENINGKATAN KEMAMPUAN FISIK MOTORIK MELALUI PERMAINAN SIRKUIT BOLA (Penelitian Tindakan Pada Kelompok B Paud Al-Furqon Desa Salareuma Kecamatan Cipicung Kabupaten Kuningan, Tahun 2017) Yenti Juniarti dan Gilang Ramadan
PENINGKATAN PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK MELALUI PERMAINAN KARTU BILANGAN PADA ANAK KELOMPOK B USIA 5-6 TAHUN RA AL-JAUHAROTUNNAQIYAH SERANG BANTEN
Yuliani Oktavia
2ϱ5
261
PENINGKATAN KEMAMPUAN SOSIAL MELALUI METODE
BERMAIN PERAN PADA ANAK KELOMPOK B
(Penelitian Tindakan Kelas di PAUD Al-Maidah Bandung-Serang)
Amsanah
PAUD Al-Maidah Bandung - Serang [email protected]
ABSTRACT
Children’s social skills is the way children interact, both in terms of behavior and relate to the surrounding environment. Children’s social skills in group B PAUD Al-Maidah Bandung-Serang is still low there are several causes that affect it such as, nurture, play experience, and differences in cultural background. The purpose of this research is to know the role playing method and increase social skills in group B through role playing method in early childhood Al-Maidah. The method used in this research is a classroom action research methods were designed in a repeating cycle, in this research consisted of two cycles. In the first cycle there are 8 acts and the second cycle there are three acts, with a 75% success criteria. The subject of the study was eight children of group B in PAUD Al-Maidah Bandung-Serang. Data collection techniques in this research was using observation, interviews, field notes and documentation. Data analysis was usi ng data reduction, data presentation and conclusion. Analysis of the data obtained that childrens’s social skills in group B through role playing method in PAUD Al-Maidah Bandung-Serang did as much as two cycles, the first cycle was 8 times actions and the second cycle 3 times actions. Initial stages in the process of role playing was designing RPPH, preparing media will be used, setting up classroom, condition the child. At core activities, children begin to play according to his role, others follow with attention, the teacher giving help to children who have difficulty and teacher stopping activities role playing when playing the role already completed. At the end of the activity the teacher did a discussion about role playing activities that have been implemented and formulate conclusions. Based on the research results obtained that children’s social skills through role playing method known in the initial conditions was 20% after the first cycle increased to 49% in the second cycle has increased significantly, reaching 85% and having success on the indicators that have been targeted. Based on data obtained can be concluded that role playing method can improve social skills of children in group B in PAUD Al-Maidah Bandung-Serang.
p-ISSN 2615-5532
http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/ ABSTRAK
Kemampuan sosial anak merupakan cara anak dalam melakukan interaksi, baik dalam hal bertingkah laku maupun berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Kemampuan sosial anak kelompok B di PAUD Al-Maidah Bandung-Serang masih rendah kemungkinannya ada beberapa penyebab yang mempengaruhinya seperti, faktor pengasuhan, pengalaman bermain, serta perbedaan latar belakang budaya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui proses metode bermain peran dan peningkatan kemampuan sosial pada kelompok B melalui metode bermain peran di PAUD Al-Maidah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas yang dirancang dalam siklus berulang, dalam penelitian ini terdiri dari dua siklus. Pada siklus I terdapat 8 tindakan dan siklus II terdapat 3 tindakan, dengan kriteria keberhasilan mencapai 75%. Subyek penelitiannya adalah 8 anak dari kelompok B di PAUD Al-Maidah Bandung-Serang. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi.Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Analisis data diperoleh bahwa kemampuan sosial anak kelompok B melalui metode bermain peran di PAUD Al-Maidah Bandung-Serang dilakukan sebanyak dua siklus, siklus I sebanyak 8 kali tindakan dan siklus II sebanyak 3 kali tindakan. Tahapan awal yang dilakukan dalam proses bermain peran dengan merancang RPPH, menyiapkan media yang akan digunakan, menyeting kelas, mengkondisikan anak. Pada kegiatan inti, anak mulai bermain sesuai dengan perannya, anak lain mengikuti dengan penuh perhatian, guru memberikan bantuan kepada anak yang kesulitan dan guru menghentikan kegiatan bermain peran pada saat bermain peran sudah mencapai puncak. Pada akhir kegiatan guru melakukan diskusi tentang kegiatan bermain peran yang telah dilaksanakan serta merumuskan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa kemampuan sosial anak melalui metode bermain peran diketahui pada kondisi awal 20% kemudian pada siklus I meningkat menjadi 49% pada siklus II mengalami peningkatan yang signifikan mencapai 85% dan mengalami keberhasilan pada indikator yang sudah ditargetkan. Berdasarkan hasil data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa metode bermain peran dapat meningkatkan kemampuan sosial anak kelompok B di PAUD Al-Maidah Bandung-Serang.
Kata kunci: Kemampuan Sosial; Bermain Peran; Anak Usia Dini.
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk yang unik, yang diciptakan Tuhan dengan segenap kesempurnaan, meskipun begitu manusia tidak mampu hidup sendiri, manusia hidup dalam komunitas yang saling membutuh-kan, saling melengkapi karena itulah manusia disebut sebagai makhluk sosial.
Kemampuan sosial anak merupakan cara anak dalam melakukan interaksi, baik dalam hal bertingkah laku maupun dalam hal berkomunikasi dengan orang lain. Beberapa anak merasa kesulitan dalam berinteraksi dengan teman, guru maupun orang yang baru dikenalnya. Anak akan
baik perkembangan sosialnya apabila pola asuh yang diberikan oleh orangtuanya baik. Namun kebanyakan orangtua sering beranggapan bahwa kemampuan sosial anaknya tidaklah begitu penting untuk di-perhatikan dalam kehidupannya. Karena anak akan dapat belajar dengan sendiri-nya untuk berinteraksi secara baik dengan teman, guru ataupun orang lain.
Kemampuan sosial anak dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, baik orangtua, sanak keluarga, orang dewasa lainnya atau teman sebayanya. Apabila lingkung-an sosial tersebut memfasilitasi atau memberikan peluang terhadap perkem-bangan anak secara positif, maka anak
akan dapat mencapai kemampuan sosial-nya dengan matang. Perkembangan anak bermula dari semenjak anak bayi, sejalan dengan pertumbuhan badannya, bayi yang telah menjadi anak dan seterusnya menjadi orang dewasa, akan mengenal lingkungannya lebih luas. Selain menge-nal kedua orangtuanya, ia juga mengemenge-nal anggota keluarga dan teman-teman sebayanya. Pada waktu anak mulai belajar di sekolah ia juga mulai mengembangkan interaksi, dengan belajar menerima pan-dangan, nilai dan norma sosial. Menginjak masa remaja, ia mampu berinteraksi sosial dengan teman sebayanya, terutama lawan jenisnya. Pada akhirnya, pergaulan sesama manusia menjadi suatu kebutuh-an dalam hidupnya.
Interaksi sosial pada anak pertama kali terjadi dalam lingkungan keluarga ter-utama orangtua dan saudara, pada tahap perkembangan usia selanjutnyaanak akan berinteraksi dengan lingkungan baru seperti berinteraksi dengan lingkungan sosial sekolah.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat dijadikan media untuk memfasili-tasi kemampuan sosial anak, yang dapat dilihat secara langsung melalui suatu proses pembelajaran dan memberikan pengaruh yang cukup besar bagi pem-bentukan perkembangan manusia dalam setiap tahap tugas perkembangannya. Tidak setiap anak memiliki kemampuan sosial seperti yang diharapkan, karena anak memiliki kemampuan dan pengaruh yang berbeda-beda. Ada sebagian anak yang menunjukkan sikap ingin menang sendiri, berkuasa, tidak mau menunggu giliran bila sedang bermain bersama, selalu ingin diperhatikan atau memilih-milih teman. Permasalahan seperti ini merupakan permasalahan sosial yang harus diperbaiki, karena dapat meng-akibatkan anak tidak dihargai oleh
teman-tinggi atau muncul rasa rendah diri dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan ke-hidupan sosial. Oleh karena itu anak harus memiliki kemampuan sosial pada dirinya. Sementara itu, berdasarkan peng-amatan awal pada kelompok B di PAUD Al–Maidah Bandung-Serang, kemampuan sosial anak belum berkembang dengan optimal. Hal ini, tampak terlihat pada saat anak sedang bermain bersama yaitu: (1) anak belum memiliki sikap empati,(2) sulit untuk berbagi, (3) susah untuk be-kerja sama,(4) serta tidak mau bersabar dalam menunggu giliran.Beberapa kurangnya kemampuan sosial anak di atas sangat besar kemungkinannya ada be-berapa penyebab yang mempengaruhi-nya seperti, faktor pengasuhan, penga-laman bermain, serta perbedaan latar belakang budaya.
Serta hampir setiap hari kegiatan pembelajaran di kelompok B mengguna-kan LKA, kegiatan pembelajaran tidak sesuai dengan tema dan metode yang di-gunakan oleh guru hanya metode ceramah sehingga kegiatan pembelajaran tersebut menjadikan anak terlihat jenuh dan kurang tertarik. Berdasarkan per-masalahan tersebut, maka guru perlu menyusun bentuk kegiatan pembelajaran yang kreatif dan inovatif untuk mening-katkan kemampuan sosial anak. Sebagai alternatif dalam memecahkan masalah tersebut diperlukan suatu kegiatan yang tepat agar nantinya kemampuan sosial anak dapat meningkat dengan baik serta tidak melupakan konsep bermain sambil belajar dalam pembelajarannya. Salah satu bentuk kegiatan yang dapat dilaku-kan yaitu dengan metode bermain peran. Bila kegiatan belajar dilakukan dalam suasana bermain, anak akan lebih menik-mati dan senang hatinya, tidak merasa ter-paksa. Dengan demikian anak terdorong dan bersemangat untuk belajar.Kegiatan
p-ISSN 2615-5532
http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/
pendidikan anak usia dini. Oleh karena itu, agar anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan usia dan kemampuannya, anak perlu diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk bermain karena dengan bermain anak-anak sekaligus belajar ber-bagai kemampuan dasar seperti kete-rampilan motorik, bahasa, kognitif ter-masuk kemampuan sosial.
Bermain peran merupakan metode yang dirasa tepat untuk meningkatkan kemampuan sosial anak karena metode ini megajarkan anak memainkan peran-peran orang dewasa yang pernah dilihat oleh anak dengan menirukan peran-peran tersebut anak akan belajar ber-komunikasi dan berinteraksi sosial dengan temannya, serta melatih anak bergaul, bermain bersama dengan teman. Bermain peran dapat melatih anak untuk berkomunikasi dengan teman atau-pun guru, selain itu juga dapat melatih kerja sama, tolong menolong. Kebiasaan anak dalam berinteraksi mempunyai andil besar dalam hubungan sosial dengan or-ang yor-ang ada disekitarnya. Mengingat peran guru sangat penting dalam mem-bangun proses pembelajaran maka guru hendaknya mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan menggunakkan strategi, metode, materi dan media yang menarik agar dapat me-motivasi anak untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar dengan metode bermain peran. Hal ini bertujuan agar pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan bermakna bagi anak, sehingga menimbulkan perubahan yang baik pada tingkah laku anak.
Berdasarkan uraian di atas penulis merasa tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang metode bermain peran sebagai salah satu metode meningkatkan kemampuan sosial anak dengan meng-adakan penelitian dalam bentuk skripsi dengan judul “ Meningkatkan
Kemampu-an Sosial Melalui Metode Bermain PerKemampu-an Pada Kelompok BDi PAUD Al- Maidah Bandung-Serang”.
2. Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, masalah pada penelitian ini dibatas pada:
1. Metode bermain peran di PAUD
Al-Maidah
2. Kemampuan sosial anak kelompok B
di PAUD Al-Maidah.
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang di-paparkan di atas terdapat beberapa masalah yaitu:
1. Bagaimana proses metode bermain
peran untuk meningkatkan kemam-puan sosial pada kelompok B di PAUD Al-Maidah?
2. Bagaimana peningkatan kemampuan
sosial pada kelompok B melalui metode bermain peran di PAUD Al-Maidah?
4. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui proses metode
bermain peran pada kelompok B di PAUD Al-maidah
2. Untuk mengetahui peningkatan
kemampuan sosial pada kelompok B melalui metode bermain peran di PAUD Al-Maidah.
B. Kajian Pustaka
1. Hakikat Anak Usia Dini
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu jenjang pendidikan yang di-tujukan untuk anak usia 0-6 tahun. PAUD merupakan suatu kegiatan pra-sekolah yang diselenggarakan pemerintah untuk mendukung terciptanya generasi Bangsa Indonesia yang lebih unggul. Dalam
undang-undang tentang sistem pendidik-an nasional dinyatakpendidik-an bahwa pendidikpendidik-an anak usia dini adalah suatu upaya pem-binaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertum-buhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14).
Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepri-badian anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7). Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkem-bangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age) dimana saat itu anak akan sangat peka dan sensitif terhadap berbagai rangsangan dan penga-ruh dari luar. Laju perkembangan dan per-tumbuhan anak mempengaruhi masa ke-emasan dari masing-masing anak itu sen-diri. Saat masa keemasan, anak akan mengalami tingkat perkembangan yang sangat drastis di mulai dari pekembangan berpikir, perkembangan emosi, perkem-bangan motorik, perkemperkem-bangan fisik dan perkembangan sosial.
Lonjakan perkembangan ini terjadi saat anak berusia 0-8 tahun, dan lonjakan perkembangan ini tidak akan terjadi lagi di periode selanjutnya.Oleh sebab itu di-butuhkan suasana belajar, strategi dan stimulus yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembang-an perkembang-anak tercapai secara optimal. Pada masa perkembangan anak khususnya per-kembangan usia dini, orang tua harus betul menjadikannya sebagai perhatian khusus, karena hal ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan
2. Kemampuan Sosial Anak Kelompok B Manusia tumbuh dan berkembang di dalam konteks lingkungan. Lingkungan itu dapat dibedakan atas lingkungan fisik, lingkungan sosial dan lingkungan budaya. Lingkungan sosial memberikan banyak pengaruh terhadap pembentukan kepri-badian anak, terutama kehidupan sosio-psikologis. Manusia sebagai makhluk sosial, senantiasa berhubungan dengan manusia lainnya dalam masyarakat. Menurut Yusuf (2006:122) mengungkap-kan bahwa kemampuan sosial merupa-kan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial, kemampuan sosial juga dapat diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, moral dan tradisi, me-leburkan dan menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama.
Pendapat lain menurutCartledge dan Milburn (Syaodih, 2007:50) menyatakan bahwa kemampuan sosial adalah kemam-puan seseorang saat memecahkan masalah sehingga dapat beradaptasi secara harmonis dengan masyarakat di sekitarnya. Kemampuan sosial juga melibatkan faktor-faktor afektif, terutama dalam pengungkapan kemampuan ter-sebut.Adapun menurut Aisyah (2012:9.35) kemampuan sosial merupakan kecakap-an seorkecakap-ang kecakap-anak untuk merespon dkecakap-an mengikat perasaan dengan perasaan positif, dan memiliki kemampuan yang tinggi untuk menarik perhatian mereka. Di dalam kemampuan sosial anak dituntut untuk memiliki kemampuan yang sesuai dengan tuntutan sosial dimana ia berada. Anak yang dapat bersosialisasi dengan baik sesuai tahap perkembangan dan usianya cenderung menjadi anak yang mudah bergaul. Menurut Sunarto dan Hartono (2006:126) “Bersosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan kehidupan
p-ISSN 2615-5532
http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/
hidup didalam kelompoknya, baik kelom-pok kecil maupun kelomkelom-pok masyarakat luas.’’
Menurut Ambron (Yusuf, 2002:123) mengartikan sosialisasi itu sebagai proses belajar yang membimbing anak ke arah perkembangan kepribadian sosial, se-hingga dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif. Kemampuan sosial berhubungan dengan bagaimana kemampuan anak untuk ber-interaksi dengan lingkungan sekitarnya, bagaimana anak memahami dirinya sen-diri. Pengalaman sosial yang paling mem-pengaruhi kemampuan sosial anak adalah lingkungan terdekat anak yaitu keluarga. Berdasarkan beberapa teori mengenai kemampuan sosial tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan kemampuan sosial adalah kecakapan anak untuk merespon perasaan dan dapat menyesuaikan diri terhadap norma, etika dan moral yang terdapat dalam lingkungan dan saling berkomunikasi dengan baik. 3. Bermain Peran
Melalui bermain peran anak dapat meningkatkan seluruh kecerdasan yang dimiliki anak dan juga dapat meningkat-kan kemampuan anak karena anak ameningkat-kan lebih aktif dalam bermain. Menurut Moeslichatoen (2004:38) bermain pura-pura adalah bermain yang menggunakan daya khayal yaitu dengan memakai bahasa atau berpura-pura bertingkah laku seperti benda tertentu, situasi tertentu, atau orang tertentu, dan binatang tertentu yang dalam dunia nyata tidak dilakukan.
Bermain peran juga sering disebut dengan sosiodrama. Menurut Roestiyah (2001: 90) metode sosiodrama atau ber-main peran adalah mendramatisasikan tingkah laku atau ungkapan gerak gerik wajah seseorang dalam hubungan sosial antar manusia. Metode yang akan diguna-kan dalam kegiatan di Taman Kanak-diguna-kanak
tidak boleh asal-asalan saja. Guru harus mempunyai alasan yang kuat dan faktor-faktor yang mendukung pemilihan metode tersebut. Seperti misalnya karak-teristik tujuan kegiatan dan karakkarak-teristik anak yang diajar. Menurut Moslichatoen (2004:9) yang dimaksud dengan karak-teristik tujuan adalah pengembangan kreativitas, pengembangan bahasa, pengembangan emosi, pengembangan motorik dan pengembangan nilai serta pengembangan sikap dan nilai.Pendapat lain bermain peran menurut Sanjaya (2009:159) Role playing atau bermain peran adalah metode pembelajaran se-bagai bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, mengkreasi peritiwa-peristiwa aktual, atau kejadian-kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang.
Berdasarkan pengertian mengenai metode bermain peran tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa metode ber-main peran adalah salah satu cara meng-ajar dengan memainkan atau memeran-kan tokoh-tokoh, binatang atau peristiwa-peristiwa tertentu dan cara bertingkah laku dalam hubungan sosial dimana para murid diikutsertakandalam memainkan peran tersebut.
C. Metode Penelitian 1. Metode Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti meng-gunakan metode penelitian tindakan kelas (classroom action research). Pene-litian ini adalah penePene-litian yang baik di-gunakan dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif, dikarenakan peneliti adalah bagian dari tenaga pendidik yang ada di lembaga sekolah yang akan dijadikan lokasi penelitian. Pada penelitian tindak-an kelas, peneliti harus berupaya untuk memecahkan masalah pada saat yang ber-samaan ketika penelitian berlangsung. Peneliti bukan hanya menjadi seorang
pengamat tetapi akan terjun langsung mencari solusi pemecahan masalah dan memperbaiki keadaan tersebut seraya mengolah data yang diterima.
Menurut Ebbut (Ekawarna,2013:5) Pe-nelitian Tindakan Kelas adalah kajian siste-matik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut. Adapun pengertian pe-nelitian tindakan kelas menurut Arikunto (2012:3) merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara ber-samaan.Tindakan tersebut dilakukan peneliti di bawah bimbingan dan arahan pembimbing dengan maksud untuk mem-perbaiki dan meningkatkan kualitas pem-belajaran.
2. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini bertempat di PAUD Al-Maidah yang berada di Kp. Kangkung Ds. Mander Kec. Bandung. Kabupaten Serang-Banten. Penelitian dilaksanakan pada se-mester genap tahun ajaran 2015/2016, yaitu bulan Mei2016. Penentuan waktu peneliti-an mengacu pada kalender akademik sekolah, karena PTK memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar yang efektif di kelas.
3. Prosedur Penelitian Tindakan Prosedur penelitian yang dilaksana-kan terbagi dalam bentuk siklus. Dengan itu peneliti menggunakan model Stephen Kemmis dan Robin Mc. Taggart. Didalam siklus atau putaran terdapat empat kom-ponen yaitu: (1) Perencanaan, (2) Tindak-an, (3) PengamatTindak-an, (4) Refleksi. Hubung-an Hubung-antara komponen tersebut menunjuk-kan sebuah siklus atau kegiatan berulang.
4. Kriteria Keberhasilan Tindakan Yang menjadi kriteria keberhasilan dalam PTK ini adalah:
1. Guru sudah melaksanakan kegiatan
pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan sosial pada anak meng-gunakan metode yang variatif.
2. Minimal 75% skor total peningkatan
kemampuan sosial anak setelah di-lakukan tindakan mencapai nilai baik atas kegiatan bermain peran yang dilaksanakan anak.
5. Sumber Data
Sumber data pada penelitian ini adalah anak kelompok B di PAUD Al-Maidah yang memiliki kemampuan sosial rendah, dengan sampel 8 anak didik terdiri dari 3 anak perempuan dan 5 anak laki-laki dari jumlah populasi semua anak di kelas. 6. Teknik Pengumpulan Data
Ada beberapa cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data, penelitian ini menggunakan: Observasi, Wawancara, Dokumentasi dan Catatan Lapangan. 7. Pemeriksaan Keabsahan Data
Dalam penelitian ini, pemeriksaan keabsahan datanya adalah sebagai beri-kut: Perpanjangan keikutsertaan, Ke-tekunan pengamatan, Triangulasi, Analisis kasus negatif, Pengecekan/diskusi teman sejawat, Kecukupan referensial, dan Pengecekan anggota.
8. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini
menggunakan teknik Miles dan
Huberman. Milles dan Huberman menga-takan bahwa analisis dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu: reduksi data, penyajian data dan penarik-an kesimpulpenarik-an/verifikasi (Sugiyono, 2010:92).
p-ISSN 2615-5532
http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/
D. Pembahasan
1. Proses Penerapan Metode Bermain Peran
Proses penerapan metode bermain peran terhadap kemampuan sosial anak kelompok B adalah sebagai berikut:
a. Mempersiapkan diri. Peneliti perlu
menguasai bahan pembelajaran dengan baik, memiliki keterampilan untuk digunakan pada kegiatan ber-main peran. Jika perlu untuk mem-perlancar kegiatan guru melakukan latihan terlebih dahulu meski tidak langsung dihadapan anak. selain itu menyiapkan pula bahan dan alat-alat/ media yang akan digunakan.
b. Mempersiapkan perencanaan, pene-liti mempersiapkan Rencana Pelak-sanaan Pembelajaran Harian (RPPH) dan mempersiapkan instrumen pedoman observasi.
c. Mempersiapkan tempat. Hal ini
ber-kaitan dengan posisi peneliti sebagai penyaji pesan kegiatan apakah sudah tepat berada ditengah-tengah anak, apakah situasi tempatnya sudah kon-dusif. Yang terpenting adalah tempat yang luas yang memungkinkan anak untuk bergerak bebas.
d. Mempersiapkan media yang akan digunakan pada kegiatan bermain peran, seperti kostum atau properti-properti yang menarik.
e. Kegiatan peningkatan kemampuan sosial anak melalui kegiatan bermain peran yang dikemas menarik dengan menggunakan media yang bervariatif. Hal tersebut membuat anak tertarik sehingga suasana kegiatan aktif dan menyenangkan. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah bernyanyi, doa dan dilakukan dengan bermain peran dan diakhiri dengan refleksi atau evaluasi.
2. Peningkatan kemampuan sosial anak melalui metode bermain peran di PAUD Al-Maidah.
Berdasarkan teori dari para tokoh tentang kemampuan sosial, maka dapat di-simpulkan bahwa hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti selama delapan pertemuan disiklus I dan tiga pertemuan disiklus II menerapkan metode bermain peran telah mengalami peningkatan dengan prsentase kenaikan diperoleh sebesar 85%.
Peneliti melakukan pengamatan dan melakukan perhitungan secara menye-luruh tentang karakteristik kemampuan sosial anak dan pengukuran dilakukan se-cara terus menerus sampai hasil peng-amatan dapat mencapai hasil yang di-inginkan peneliti dan kolaborator.
Berdasarkan analisis data dengan pre-sentase kenaikan secara keseluruhan di-peroleh kenaikan sebesar 20% dengan hasil 49% pada akhir siklus I, kenaikan 36% dengan hasil 85% pada siklus II. Keber-hasilan ini juga tidak hanya terlihat dari analisis data yang diperoleh saja, tetapi juga sesuai teori-teori yang membahas mengenai kemampuan sosial anak usia 5-6 tahun khususnya dalam meningkatkan kemampuan sosial anak dengan mene-rapkan metode bermain peran.
Sebagaimana yang telah disampaikan pada interpretasi hasil analisis bahwa pe-nelitian ini dikatakan berhasil jika adanya peningkatan kemampuan sosial anak mini-mal 75%. Hasil presentase yang didapat pada siklus II tersebut, maka peneliti dan kolaborator, merasa adanya peningkatan terhadap kemampuan sosial melalui me-tode bermain peran pada anak kelompok B di PAUD Al-Maidah Serang-Banten yang mengalami peningkatan cukup tinggi yaitu sebesar 85% setelah dilakukannya pene-rapan metode bermain peran.
Berdasarkan presentase hasil yang di-dapat pada siklus II, peneliti merasa bahwa peningkatan pada siklus II ini sangat signifikan karena presentase kenaikan di atas batas minimum yang telah ditentu-kan yaitu sebesar 85% dan secara kontinu presentase di atas berada di skala baik yang masuk dalam klasifikasi sangat ber-hasil.
E. Kesimpulan, Implikasi, dan Saran 1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan-pem-bahasan yang telah di jelaskan, peneliti menyimpulkan sebagai berikut:
1. Proses dalam meningkatkan
kemam-puan sosial melalui metode bermain peranguru melakukan persiapan sebelum kegiatan dilakukan yaitu menyusun RPPH, guru memilih tema yang menarik bagi anak, menyedia-kan media yang amenyedia-kan digunamenyedia-kan, me-nyeting kelas sesuai tema bermain peran, mengkondisikan anak, mem-bagi peran yang akan dimainkan dan memberikan gambaran atau pen-jelasan tentang bermain peran yang akan dimainkan. Pada kegiatan ber-main peran, guru menyiapkan dua jenis bermain peran yaitu pada siklus I menggunakan main peran mikro di mana anak bertindak seperti seorang dalang yang mengatur peran dari benda yang dimainkannya, dan siklus II menggunakan main peran makro di mana anak berlaku sebagai aktor. Pada saat kegiatan bermain peran dimulai guru memberikan kebebasan pada anak untuk memainkan peran sesuai dengan imajinasi anak, anak lainnya mengikuti dengan penuh perhatian, guru memberikan bantuan kepada pemeran yang mendapat ke-sulitan. Kegiatan bermain peran di-hentikan pada saat puncak atau
dalam situasi klimaks.Pada akhir ke-giatan bermain peran, guru melaku-kan diskusi tanya jawab tentang bermain peran yang telah anak lakuk-an dlakuk-an memberiklakuk-an penghargalakuk-an bagi anak yang aktif berupa bintang. 2. Penelitian ini berhasil terlihat dari perubahan kemampuan sosial anak di kelas sangat baik pada siklus II ter-lihat kekompakan anak dengan sikap kerjasama antar teman yang baik, semangat belajar yang tinggi, dan rasa berbagi yang tinggi. Hal ini karena guru membuat model peran sesuai dengan apa yang anak minati, me-narik, dekat dengan anak, menye-nangkan dan bermakna, sehingga anak menikmati peran yang didapat-kan. Selain itu, guru juga memper-hatikan dan membimbing anak yang masih kurang kemampuan sosialnya dengan ikut bermain dalam kegiatan bermain peran, kegiatan bermain bersama dan pada saat kegiatan bel-ajar. Sebagaimana telah disampaikan pada interpretasi hasil analisis bahwa penelitian ini dikatakan berhasil jika adanya peningkatan minimal sebesar 75%, maka pada akhir siklus II ini penelitian dikatakan berhasil karena presentase kenaikan yang diperoleh menjadi 85% ini melebihi batas mini-mum yang telah ditentukan peneliti dan kolaborator. Berdasarkan hasil analisis siklus 1 dan 2 maka data pada pra penelitian didapat presentase ke-mampuan sosial anak sebesar 29%, siklus I sebesar 49% sedangkan pada akhir siklus II didapat presentase pe-ningkatan kemampuan sosial sebesar 85%. Dari data tersebut dapat dikata-kan bahwa presentase kemampuan sosial dari keseluruhan anak dari pra penelitian sampai dengan akhir siklus II mengalami peningkatan sebesar
p-ISSN 2615-5532
http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/
Berdasarkan data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan metode bermain peran dapat meningkat-kan kemampuan sosial anak kelompok B di PAUD Al-Maidah Bandung-Serang dan hasil dari proses bermain peran pening-katannya sangat baik.
2. Implikasi
Penelitian ini dilakukan mengingat bahwa banyak subjek penelitian adalah anak kelompok B oleh karena itu, dalam menjalankan proses pembelajaran harus menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan usia dan perkembangan anak. Pembelajaran yang menggunakan metode yang menarik dan menyenang-kan, menstimulasi berbagai kemampuan anak sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan dapat merangsang kemampuan sosial anak dan prestasi anak pun meningkat sesuai harapan serta men-dapatkan hasil pembelajaran yang baik. Metode bermain peran merupakan salah satu metode belajar yang dapat dijadikan seagai alternatif dalam memberikan stimulasi anak agar pembelajaran bisa lebih bermakna dan mudah diterima anak. Berikut ini merupakan implikasi pelak-sanaan metode bermain peran dalam pembelajaran:
1. Guru dapat menerapkan istilah
bel-ajar berpusat pada anak. Hal ini di-karenakan model pembelajaran ber-main peran memberikan kesempatan kepada anak untuk bekerja sama, menambah rasa percaya diri dan mengembangkan prilaku sosial dan perkembangan yang lainnya di antara-nya kemampuan berbahasa moral dan agama anak.
2. Metode bermain peran menstimulasi
kemampuan sosial emosional dan bahasa melalui interaksi antar teman.
3. Belajar sebaiknya mengaktifkan untuk
mau bertanya, menjawab, berperan aktif dalam pembelajaran, dan bisa menjadi bahan ajaran untuk temannya yang kurang paham dengan materi pembelajaran.
4. Belajar juga dilakukan untuk
merang-sang intelektual anak yaitu dengan melakukan penyelesaian terhadap suatu masalah. Kemampuan menye-lesaikan masalah dapat dilatih dengan interaksi sosial dalam kegiatan ber-main peran misalnya dalam membagi tugas peran, memecahkan masalah ketika berebut mainan dan untuk saling mengalah ketika terjadi per-tengkaran.
3. Saran
Bagi guru, hendaknya dapat mem-berikan suasana pembelajaran yang me-narik bagi peserta didik. Menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan usia peserta didik, yang mening-katkan motivasi belajarnya, kemampuan sosialnya dan dapat menjadikan pembel-ajaran lebih bermakna. Lebih menguna-kan metode-metode inovatif dan media-media yang bervariatif dalam pembel-ajaran.
Bagi kepala sekolah, hendaknya men-jadi masukan bagi pengembangan pen-dekatan pembelajaran setiap guru yang akan mengajar di kelas. Memberikan instruksi bagi guru-guru agar mengguna-kan pendekatan pembelajaran yang di-sesuaikan dengan usia dan karakteristik perkemangan anak usia dini.
Bagi peneliti selanjutnya, dapat mengambil pengalaman dan pengetahu-an untuk dapat menerapkpengetahu-an metode ber-main peran dalam meningkatkan ke-mampuan sosial anak pada tahun yang akan datang.
Daftar Pustaka
Aisyah, Siti. Et al, 2012. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Tanggerang Selatan: Universitas Terbuka.
Ariani, Putu Yulan. Et al, 2014. Jurnal Pene-rapan Model Pembelajaran Koope-ratif Tipe Stad Berbantuan Media Balok Untuk Meningkatkan Kemam-puan Sosial AnakKelompok B1 di TK Kumara Satya Dharma Singaraja. Vol. 2, No. 1. Tersedia : http://ejournal.undiksha. ac.id/index.php/JJPAUD/article/ view/325.(01 februari 2016).
Arikunto, Suharsimi. Et al, 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara. Depdiknas. 2009. Optimalisasi Perkem-bangan Anak Melalui Bermain. Jakarta: Depdiknas, Direktorat Pen-didikan Anak Usia Dini.
Djamarah, Bahri. dan Aswan Zain.2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Ekawarna. 2013. Penelitian Tindakan Kelas Edisi Revisi. Jakarta : Referensi. Hurlock, Elizabeth B. 1978. Perkembangan
Anak. Jakarta : Erlangga.
Kementrian Pendidikan Nasional. (2009). Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 tahun 2009. Jakarta: Direktorat Pembinaan TK dan SD.
Kustiya, Rike, Dita. 2015. Meningkatkan Kemampuan Sosial Emosional Melalui Permainan Benteng (Penelitian Tin-dakan Kelas Pada Anak Kelompok B Tk Aisyiyah Bustanul Athfal III Pare Kabupaten Kediri). Skripsi jurusan PG. PAUD FKIP, UNP Kediri: Naskah Publikasi.
Moeslichatoen. 2004. Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Rineka Cipta.
Moleong, J. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda karya Offset.
N.K Roestiyah. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Riduwan. 2009. Belajar Mudah Penelitian
Untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembel-ajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sugiyono. 2010. Memahami Suatu Penel-itian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. Sujiono,Yuliani, N. 2012. Konsep Dasar
Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks.
Sunarto dan Agung Hartono. 2006. Per-kembangan peserta didik. Jakarta: Rineka Cipta.
Syaodih, Ernawulan. 2005. Bimbingan di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Depar-temen Pendidikan Nasional.
Tedjasaputra, Mayke s. 2001. Bermain, Mainan, dan Permainan. Jakarta: PT Grasindo.
Wahyuni, Siti. 2014. Penerapan Metode Bermain Peran Untuk Peningkatan Kemampuan Sosial Anak (Penelitian Tindakan Kelas Pada Anak Kelompok A TK ‘Dewi Sartika Kecamatan Mojo-kerto Kota Kediri. Skripsi S1 PG PAUD Universitas Nusantara PGRI Kediri: Naskah Publikasi. (05 Mei 2016) Yusuf, Syamsu. 2006. Psikologi
Perkem-bangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosda Karya.
p-ISSN 2615-5532