• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNALISME LINGKUNGAN DALAM KONFLIK PABRIK SEMEN DI REMBANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNALISME LINGKUNGAN DALAM KONFLIK PABRIK SEMEN DI REMBANG"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

JURNALISME LINGKUNGAN DALAM KONFLIK PABRIK SEMEN DI REMBANG

(Analisis Wacana Kritis Terhadap Pemberitaan Mengenai Konflik Pembangunan Pabrik PT Semen Indonesia di Kendeng Utara, Rembang, Pada Media Mainstream dan Media Alternatif Periode Juni 2014 - Desember

2015)

NASKAH PUBLIKASI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya

Universitas Islam Indonesia Oleh

Khumaid Akhyat Sulkhan NIM. 14321151

Muzayin Nazaruddin NIDN. 0516087901

Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Psikologi Dan Ilmu Sosial Budaya

Universitas Islam Indonesia

2018

(2)

ii

(3)

iii Jurnalisme Lingkungan dalam Konflik Semen di Rembang

(Analisis Wacana Kritis Terhadap Pemberitaan Mengenai Konflik Pembangunan Pabrik Semen PT Semen Indonesia di Rembang oleh Media

Mainstream dan Media Alternatif Periode Juni 2014-Desember 2015)

Khumaid Akhyat Sulkhan

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi FPSB UII Menyelesaikan Studi pada Tahun 2018

Muzayin Nazaruddin

Dosen Pengajar Program Studi Ilmu Komunikasi FPSB UII

Abstract

This research aims to reveal the discourse produced by mainstream media and alternative media about conflict of cement factory development of PT Semen Indonesia in Rembang in perspective of environmental journalism. The subject of the mainstream media category is Liputan6.com, while the alternative media subject is Selamatkanbumi.com. The focus of this research is on the text of the news about the conflict in the construction of the PT Semen Indonesia plant from June 2014 to December 2015. this research uses fairclough norman critical discourse analysis that focuses on text, civic practices, and socio-cultural practices

Meanwhile, this research also uses environmental journalism theory by Ana Nadya Abrar and environmental journalist attitude formulated by Agus Sudibyo in book “34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan”. In this study, the authors found that Liputan6.com also lacks environmental and biocentric pro-environmental attitudes. Because media Liputan6.com tend to support the discourse of "mine for the welfare." The narrative presented by the media cornered the arguments of the factory repellent by presenting statements from experts and politicians, without an in-depth investigation of the impact of the construction of a cement plant in Rembang. The news tends to one side so that, of course, is less professional.

Meanwhile, Selamatkanbumi.com quite aggressively raise the news about the conflict environment in Rembang. Their big discourse is "mine destroys the environment." Selamatkanbumi.com includes three attitudes of environmental journalism, except professionalism. Because the content they serve mostly is press release and one side which has not fulfilled a quality journalistic work.

Keywords: Critical Discourse Analysis, Conflict of Cement Plant Development in Rembang, Environmental Journalism

(4)

1 Pendahuluan

Pada satu dekade terakhir ini, sebagaimana dikatakan oleh Wiko Saputra (2013:24), pemerintah benar-benar menggenjot pertumbuhan melalui eksploitasi sumber daya alam yang masif. Persoalannya ialah ketika kepentingan ekonomi tersebut menghajar habis-habisan sumber daya alam tanpa ampun. Maka, bila mengacu pada keterangan Wiko, bisa dikatakan bahwa konflik lingkungan di Indonesia tak luput dari permasalahan struktural yang melibatkan relasi kuasa pemerintah dalam melanggengkan industrialisasi.

Salah satu konflik lingkungan yang banyak disorot adalah polemik mengenai keberadaan PT. Semen Indonesia di Rembang yang melibatkan aspek lingkungan hidup. Sebagaimana ditegaskan oleh Ming-Ming Lukiarti, dalam buku Rembang Melawan (Cipta, 2015:145), bahwa penambangan karst di kawasan Kendeng oleh PT. Semen Indonesia, akan merusak sumber mata air di Gunung Watuputih yang dalam kehidupan sehari-hari juga dimanfaatkan oleh PDAM (Perusahaan Air Minum Daerah) Rembang untuk melayani puluhan ribu warga Lasem dan Rembang.

Konflik lingkungan di Rembang telah menarik perhatian banyak kalangan, mulai dari aktivis, akademisi, pegiat lingkungan, pejabat publik hingga para ulama. Banyak mereka yang mendukung pemberhentian operasi pembangunan pabrik semen di Rembang, meski tak sedikit pula yang kemudian menyatakan pro terhadap adanya industri semen yang ironisnya banyak datang dari warga area pertambangan itu sendiri.

Banyak asumsi mengenai alasan mengapa muncul gerakan masyarakat Rembang pro semen ini, akan tetapi yang jelas, pemahaman mengenai lingkungan, terutama pentingnya karst, masih minim di kalangan masyarakat (Cipta, 2015:18). Sehingga hal tersebut acap kali mengakibatkan masyarakat menelan begitu saja mitos-mitos kesejahteraan yang dijejalkan oleh korporasi tanpa memahami adanya potensi krisis lingkungan.

(5)

2 Melihat fakta tersebut, pengenalan serta pemahaman mengenai persoalan lingkungan menjadi penting, dalam konteks masyarakat Rembang juga Indonesia secara luas supaya tidak terjadi distorsi gerakan yang malah mendukung pihak-pihak yang hendak mengeksploitasi alam secara besar-besaran. Pemahaman tentang persoalan lingkungan hidup juga akan semakin meningkatkan kesadaran dalam diri masyarakat, sehingga makin banyak orang yang bersedia berjuang melestarikan alam.

Tentu saja dalam hal ini, medialah yang memiliki peran penting memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam.

Sebab, umumnya para pekerja media (pers) di Indonesia secara fundamental juga mengimani 9 elemen jurnalisme yang dirumuskan oleh Bill Kovach dan Rossenstiel yang salah satu poin utamanya adalah memprioritaskan kepentingan masyarakat (Kovach dan Rossenstiel, 2006:6). Bahkan, pentingnya liputan terkait isu lingkungan telah disadari oleh para pegiat pers sehingga lahirlah suatu disiplin kajian jurnalisme lingkungan. Ana Nadya Abrar mendefinisikan jurnalisme lingkungan sebagai cara-cara jurnalistik yang mengedepankan masalah lingkungan hidup dan berpihak pada kesinambungannya (Abrar, 1993:9).

Peran jurnalisme lingkungan di Indonesia sangat penting. Sebab, seperti disampaikan Agus Sudibyo dalam buku 34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan, tujuan utama dari jurnalisme lingkungan adalah menyampaikan seruan kepada publik untuk berpartisipasi terhadap kelestarian lingkungan hidup (Sudibyo, 2015:4).

Namun, belum bisa dipastikan sudah sejauh mana media-media di Indonesia mengawal wacana pembebasan lingkungan di Rembang. Mengingat seringkali media hanya terpaku pada konflik prosedural, teknis, dan mengabaikan liputan mendalam mengenai lingkungan. Selain itu, media juga tak lepas dari kepentingan-kepentingan para pemegang kuasanya.

Kondisi inilah yang kemudian menjadikan raison d’etre model media alternatif berorientasi pemahaman intersubjektif dan kesadaran nyata

(6)

3 masyarakat/komunitas (Karman, 2013: 25). Boleh dibilang kemunculan sejumlah media alternatif yang konsen terhadap aktivitas jurnalisme lingkungan menjadi sebuah perlawanan terhadap dominasi media mainstream yang lebih mementingkan kemauan pasar.

Berdasarkan paparan di atas, maka dalam penelitian ini penulis hendak mengungkap wacana pemberitaan konflik semen di Rembang dalam media mainstream dan media alternatif, dari perspektif jurnalisme lingkungan. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan skema analisis wacana kritis yang dikembangkan oleh Norman Fairclough. Analisis wacana kritis Fairclough ini akan berfokus pada tiga aspek, yaitu teks, praktik kewacanaan, dan praktik sosial budaya.

Media mainstream dalam konteks penelitian ini adalah media online Liputan6.com. Media tersebut dipilih karena pertama, Liputan6.com merupakan berita online nasional serta memiliki intensitas pemberitaan mengenai konflik pabrik semen di Rembang yang cukup banyak. Selain itu Liputan6.com menjadi media di Indonesia dengan peringkat top 8 sites versi alexa.com tahun 2018.

Selain itu, pada tahun 2016, Liputan6.com menyabet penghargaan The Best Digital Product (Produk Digital Terbaik) Kategori "News & Magazine App" dan The Best Website (Situs Terbaik) di kategori "Situs Berita" pada acara Social Media Award (SMA) dan Digital Marketing Award (DMA) 2016 yang dihelat di Jakarta.

Sedangkan media alternatif yang dipilih dalam hal ini ialah media online Selamatkanbumi.com. Media ini disebut sebagai media alternatif dengan mempertimbangkan asalnya sebagai media yang digagas oleh organisasi Forum Komunikasi Masyarakat Agraris (FKMA).

Tinjauan Pustaka

A. Penelitian Terdahulu

Muhammad Solihin, dalam tesisnya yang meneliti konstruksi berita mengenai konflik Kendeng di media online Kompas.com dan Suaramerdeka.com

(7)

4 menemukan bahwa media-media tersebut memiliki kecenderungan untuk berperan netral dan seringkali sebagai pemertajam konflik, disamping lebih menekankan sisi human interest-nya demi kepentingan pasar (Solihin, 2016:188).

Tesis Muhammad Sholihin ini, meskipun cukup menggambarkan kecenderungan media mainstream, namun belum mengkaji sisi jurnalisme lingkungan yang ada di media-media tersebut. Sehingga perbedaannya dengan riset ini selain dari sisi kajian jurnalismenya juga pada media yang diteliti.

Selanjutnya skripis milik Rizki Ramadhan Nasution. Pada skripsi tersebut, Rizki hendak melihat dan mendeskripsikan bagaimana implementasi jurnalisme lingkungan dalam pemberitaan kabut asap di Harian Waspada edisi 01 September- 13 November 2015. Serta skripsi Rosalita Dian Utami yang menganalisis framming jurnalisme lingkungan dalam pemberitaan pembangunan pabrik semen di kawasan pegunungan Kendeng, Rembang oleh media online mongabay.id.

Keduanya sama-sama menggunakan analisis framming model Robert N. Entman untuk melihat bagaimana wacana jurnalisme lingkungan diproduksi. Dua penelitian tersebut walaupun sama-sama mengkaji soal jurnalisme lingkungan, akan tetapi memiliki perbedaan yang cukup mendasar dengan penelitian ini.

Pertama, penelitian ini hendak mengungkap wacana dalam media mainstream dan alternatif menggunakan analisis wacana kritis yang dikembangkan Norman Fairclough. Berbeda dengan Entman yang melihat teks berita dari dua unsur, yaitu seleksi isu serta penonjolan isu. Analisis wacana kritis model Fairclough memandang posisi wacana pada teks sebagai praktik transfer makna yang berlandaskan pada ideologi-ideologi tertentu sebagai bagian dari pengukuhan dominasi dan subordinasi terhadap masyarakat. Dalam konsepnya, Fairclough, menawarkan tiga dimensi analisis yaitu teks, praktik kewacanaan, dan praktik sosial.

Penelitian mengenai jurnalisme lingkungan lainnya penulis kutip dari jurnal Discourse And Communication yang diterbitkan oleh Sagepub.com, yakni artikel jurnal Monika Bednarek dan Helen Caple yang fokus membahas

(8)

5 bagaimana penerbitan The Sydney Morning Herald (SMH), Australia, memainkan cerita-cerita fenomena lingkungan di korannya.

Dalam jurnal tersebut, Monika dan Helen menemukan fakta bahwa SMH acap kali menyadur judul film dan lagu untuk judul cerita-cerita fenomena lingkungannya. Selain itu, mereka juga menemukan adanya ketidaksesuaian antara judul, gambar, dengan keterangan cerita. Seperti dalam berita cerita It’s Spraytime On The Waterfront, dengan judul Spraytime yang menurut peneliti merupakan perumpamaan dari Playtime disertai gambar sekelompok anak yang tengah bermain-main air. Padahal di keterangan berita tersebut, secara serius SMH sedang membicarakan soal badai.

Dari perspektif PDA (Positive Discourse Analysis), dominasi gambar serta judul cerita itu secara positif dimaknai sebagai sebuah cara agar pembaca tidak bosan. Namun dari perspektif CDA (Critical Discourse Analysis), pemberitaan semacam itu cukup problematik karena berpotensi membuat pembaca meremehkan dampak serius bencana lingkungan yang mungkin diakibatkan ulah manusia (5-18). Perbedaannya dengan penelitian ini cukup banyak, sebab penelitian Monika hanya fokus pada permasalahan bagaimana wacana jurnalisme lingkungan diproduksi di media SMH dari pandangan PDA serta CDA, sementara penelitian ini berusaha melihat bagaimana dua kategori media mewacanakan kebenaran atas konflik lingkungan di Rembang.

B. Kerangka Teori

1. Wacana dan Analisis Wacana Kritis

Teori mengenai wacana atau discourse tak bisa lepas dari pemikiran seorang Michel Foucault. Menurut Foucault, dalam buku Archaelogy of Knowledge (Foucault, 1972:80), wacana di definisikan sebagai "general domain of statements.”

(9)

6

"Lastly, instead of gradually reducing the rather fluctuating meaning of the word 'discourse', I believe that I have in fact added to its meanings:

treating it sometimes as the general domain of all statements, sometimes as an individualizable group of statements, and sometimes as a regulated practice that accounts for a certain number of statements". (Foucault, 1972:80).

Maknanya ialah, wacana acap kali menjadi domain umum dari segala pernyataan, kadang sebagai pernyataan sekelompok individu, dan bahkan sejumlah praktik kebijakan bagi sejumlah pernyataan. Artinya wacana tidak dipandang sebagai teks semata, akan tetapi bagaimana teks tersebut diproduksi sedemikian rupa sehingga memiliki kekuatan.

Lebih jauh, Foucault menjelaskan bahwa wacana berasal dari kekuasaan yang bekerja melalui jaringan relasi serta interaksi (Haryatmoko, 2010:12-15).

Namun, kekuasaan dalam pandangan Foucault tidak semata-mata dipahami sebagai bentuk penindasan, akan tetapi sebagai sebuah hal yang memiliki sifat produktif (Jorgensen dan Philips, 2010:25).

Teori wacana Fouault ini memberi pengaruh kuat bagi perkembangan model analisis wacana kritis yang juga memperlakukan kekuasaan sebagai sesuatu yang produktif serta memandang pentingnya pola-pola dominasi dimana suatu kelompok sosial merupakan subordinasi kelompok sosial lain.

Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan analisis wacana kritis model Fairclough. Dalam Discourse and Social Change, Norman Fairclough memandang bahasa sebagai praktik sosial (Fairclough, 1992:63-64). Pandangan Fairclough ini kemudian menempatkan wacana sebagai bentuk tindakan seseorang atau kelompok ketika melihat realitas. Selain itu, pandangan Fairclough juga mengimplikasikan terjadinya hubungan timbal balik antara wacana dan struktur sosial. Ada tiga dimensi yang ditawarkan Fairclough dalam analisis wacana kritisnya yang antara lain sebagai berikut:

1. Teks (tuturan, pencitraan visual, atau gabungan ketiganya)

(10)

7 2. Praktik kewacanaan yang melibatkan pemroduksian dan pengonsumsian

teks

3. Praktik sosial, menganalisis hubungan praktik kewacanaan dengan praktik sosial yang menyusun konteks dari wacana tersebut.

Model ini memakai prinsip-prinsip yang mengatakan bila teks tidak bisa dipahami atau dianalisis secara terpisah, melainkan hanya bisa dipahami melalui jaringan antartekstualitas serta hubungannya dengan konteks sosial (Jorgensen dan Philips, 2010:130).

b. Jurnalisme Lingkungan

Ana Nadya Abrar mendefinisikan jurnalisme lingkungan atau environmetal journalism sebagai cara-cara jurnalistik yang mengedepankan masalah lingkungan hidup dan berpihak pada kesinambungannya (Abrar, 1993:9).

Di Indonesia peran jurnalisme lingkungan sangat penting. Sebab, seperti disampaikan Agus Sudibyo dalam bukunya, bahwa tujuan utama dari jurnalisme lingkungan adalah usaha menyampaikan seruan kepada publik untuk berpartisipasi terhadap kelestarian lingkungan hidup (Sudibyo, 2015:4).

Jurnalisme lingkungan sendiri pada dasarnya merupakan jurnalisme yang mesti berihak. Dalam artian berpihak pada upaya-upaya meminimalisir berbagai tindakan yang merugikan lingkungan hidup serta memihak segala bentuk kegiatan yang bertujuan melestarikan alam. Oleh karena itu, menurut Muhammad Badri (dalam Agus Sudibyo, 2014: 5-6) ada beberapa sikap yang mesti tumbuh dalam wartawan lingkungan, diantaranya:

1. Pro-keberlanjutan: Artinya turut berkontribusi dalam mewujudkan lingkungan hidup yang mendukung kehidupan berkelanjutan, yaitu kondisi lingkungan yang bisa dinikmati generasi saat ini tanpa harus mengurangi kesempatan generasi mendatang.

2. Biosentris: Berkontribusi dalam mewujudkan kesetaraan spesies, mengakui bahwa setiap spesies memiliki hak yang sama untuk berada di

(11)

8 lingkungan hidup. Sehingga setiap perubahan yang hendak dilakukan mesti mempertimbangkan keunikan masing-masing spesies dan sistem di dalamnya.

3. Pro-keadilan lingkungan: Berpihak kepada kaum yang lemah, agar bisa mendapat akses terhadap lingkungan yang bersih, aman, serta bebas dari berbagai dampak kerusakan lingkungan.

4. Profesional: Memahami materi-materi tentang lingkungan, kaidah-kaidah jurnalistik, taat pada etika profesi serta tuntuk pada hukum.

Para akademisi dan praktisi media yang tergabung dalam Asian Federation of Environmental Journalists pernah melakukan sebuah ratifikasi code of ethics pada tahun 1998, tepatnya dalam event 6th world congress of environmental journalism di Colombo, Sri Lanka1. Adapun poin-poin yang diratifikasi ialah sebagai berikut:

1. Jurnalis lingkungan wajib menginformasikan kepada khalayak mengenai hal-hal yang menjadi ancaman bagi lingkungan hidup mereka, baik itu yang berskala regional, nasional, maupun global.

2. Tugas para jurnalis lingkungan adalah untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya isu-isu lingkungan. Karena itu, jurnalis harus melaporkan dari beragam pandangan.

3. Tugas jurnalis tidak hanya membangun kewaspadaan masyarakat atas berbagai macam hal yang dapat mengancam lingkungan mereka, akan tetapi juga turut membangun kesadaran berkelanjutan. Untuk itu, wartawan juga mesti berusaha menuliskan solusi-solusi atas permasalah lingkungan.

1 Accountablejournalisme.org. “Asian Federation of Environmental Journalists Code of ethics.”https://accountablejournalism.org/ethics-codes/international-asian-federation-of- environmental-journalists. Diakses 20 Februari 2018.

(12)

9 4. Mampu memelihara jarak dari berbagai kepentingan politik baik itu dari

perusahaan, pemerintah, politisi, maupun organisasi sosial dengan tidak memasukkan kepentingan mereka. Dengan kata lain, hal ini membuat seorang jurnalis mesti melaporkan berita dari berbagai sisi.

5. Jurnalis harus menghindar sejauh mungkin dari info-info yang sifatnya spekulatif dan komentar-komentar tendensius. Memastikan otentitas narasumber dari berbagai pihak mejadi penting.

6. Jurnalis lingkungan harus mengembangkan keadilan informasi, dalam artian membantu pihak siapapun untuk mendapat informasi tersebut.

7. Jurnalis lingkungan harus menghormati hak-hak individu yang terkena dampak permasalahan lingkungan, misalnya korban bencana.

8. Jurnalis lingkungan tidak boleh ragu untuk mengoreksi apa saja yang ia yakini sebagai sebuah kebenaran.

Kehadiran jurnalisme lingkungan dalam kehidupan bangsa Indonesia memang sangat penting, sebab masih banyak tindakan-tindakan di negeri ini, baik oleh industri mauapun warga setempat, yang belum memperhatikan kelestarian lingkungan.

c. Media Mainstream dan Media Alternatif

Sampai saat ini, di Indonesia belum ada penelitian yang secara tegas dan eksplisit mendefinisikan media arus utama atau mainstream dan media alternatif.

Definisi serta karakteristik mengenai media mainstream dan media alternatif ini peneliti ambil dari riset Crhistian Fuhz dalam European Journal Of Social Theory yang diterbitkan tahun 2010 berjudul Alternative Media As Critical Media.

Mengutip salah satu dari empat pendekatan definisi media alternatif Bailey, Cammaerts, dan Carpentier (Dalam Fuhz, 2010:176), peneliti menemukan beberapa karakteristik dari media mainstream dan media alternatif. Pertama, media mainstream cenderung merupakan media yang memiliki skala penerbitan besar, bisa dimiliki negara atau bisa komersial, sangat hirarkis, serta mendominasi

(13)

10 wacana sementara media alternatif sebagai media dengan skala penerbitan kecil, independen, non-hirarkis, dan tidak mendominasi wacana.

Dari segi isi dan bentuk, media mainstream mengarah pada isu apa yang dianggap populer dan menjual. Walaupun dorongan untuk mendapatkan keuntungan bisa berakibat pada kurangnya kualitas, kompleksitas, dan kecanggihan (Dalam hal ini Fuhz menyamakannya dengan jurnalisme kuning yang menyederhanakan kenyataan dan difokuskan pada contoh tunggal, emosionalisme, dan sensasionalisme).

Konten-konten dilaporkan seolah itu sesuatu yang penting, namun sebenarnya tidak terlalu penting bagi masyarakat luas. Bahkan seringkali konten semacam itu ditujukan untuk mengalihkan perhatian audiens dari konfrontasi dengan masalah sosial aktual dan penyebabnya. Sebaliknya media alternatif seringkali ditandai oleh bentuk dan konten kritis. Ada konten oposisi yang memberikan alternatif bagi perspektif heterogen represif dominan yang mencerminkan peraturan modal, patriarki, rasisme, seksisme, nasionalisme, dan sebagainya. Isi semacam itu mengungkapkan sudut pandang oposisi yang mempertanyakan semua bentuk heteronomi dan dominasi (Fuhz, 2010: 179) .

Mengenai struktur organisasi, perusahaan media mainstream yang kapitalis hierarkis mendapat penghasilan dengan menjual konten ke khalayak atau dengan iklan. Ada kepemilikan pribadi atas perusahaan media dan ada struktur hierarkis dengan perbedaan kekuatan yang jelas, dimana hal tersebut menciptakan aktor pembuat keputusan berpengaruh dan peran yang kurang berpengaruh serta pembagian kerja di dalam organisasi media.

Sedangkan media alternatif biasanya adalah organisasi media akar rumput.

Maksudnya menggunakan sistem keputusan kolektif dan pengambilan keputusan konsensus oleh mereka yang bekerja dalam organisasi, tidak ada hierarki dan otoritas, distribusi kekuatan simetris, tidak ada kepemilikan pribadi. Media semacam ini tidak dibiayai oleh iklan atau penjualan komoditas, namun oleh sumbangan, pendanaan publik, sumber daya pribadi, atau bahkan tanpa strategi

(14)

11 biaya sama sekali. Pembagian kerja terbagi antara peran penulis, perancang, penerbit, dan distributor, cenderung saling tumpang tindih (2010:179).

Pada media mainstream distribusi merupakan bentuk pemasaran yang memanfaatkan teknologi tinggi. Departemen distribusi, pemasaran dan hubungan masyarakat, spesialis dan strategi, departemen penjualan, iklan, dan kontrak distribusi. Di media alternatif, juga teknologi yang memungkinkan reproduksi mudah dan murah digunakan. Strategi seperti anti hak cipta, akses gratis, atau konten terbuka memungkinkan konten dibagikan, disalin, didistribusikan, atau bahkan seringkali diubah secara terbuka.

Semua pengertian di atas barangkali tak sepenuhnya bisa digunakan untuk melihat konteks dari media mainstream dan media alternatif. Tetapi paling tidak, berangkat dari pengertian-pengertian di atas kita bisa memahami orientasi dari kedua media tersebut, kecenderungan pemberitaannya, serta karakteristiknya.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough. Analisis wacana kritis Fairclough memandang posisi wacana pada teks sebagai praktik transfer makna yang berlandaskan pada ideologi-ideologi tertentu sebagai bagian dari pengukuhan dominasi dan subordinasi terhadap masyarakat.Sementara itu, penelitian ini menggunakan paradigma kritis. Sebab paradigma kritis percaya bahwa media adalah sarana dimana kelompok dominan dapat mengontrol kelompok yang tidak dominan bahkan memarjinalkan mereka dengan menguasai dan mengontrol media (Eriyanto, 2001:24).

Unit analisis dalam penelitian ini adalah teks-teks pemberitaan mengenai konflik pendirian pabrik semen di Rembang periode Juni 2014 sampai Desember 2015 Pada Liputan6.com dan Selamatkanbumi.com. Alasan pemilihan waktu tersebut, karena peneliti berasumsi bahwa tahun 2014-2015 merupakan tahun awal ketika wacana-wacana perlawanan terhadap pendirian pabrik semen PT.

Semen Indonesia mulai dimapankan dan disebarkan ke khalayak.

(15)

12 Semua unit analisis yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan skema Fairclough yang detailnya antara lain sebagai berikut:

1. Teks (tuturan, pencitraan visual, atau gabungan ketiganya)

2. Praktik kewacanaan yang melibatkan pemroduksian dan pengonsumsian teks

3. Praktik sosial, menganalisis hubungan praktik kewacanaan dengan praktik sosial yang menyusun konteks dari wacana tersebut.

Hasil dan Pembahasan A. Temuan Analisis Teks

1. Liputan6.com

Secara umum, teks berita di portal Liputan6.com pada periode Juni 2014 hingga Desember 2015 didominasi oleh narasi-narasi yang mendukung berdirinya pabrik semen PT Semen Indonesia di kawasan pegunungan Kendeng Utara yang berada di daerah Rembang. Sejumlah teks menyatakan bahwa berdirinya pabrik semen di Kendeng telah memenuhi prosedur ramah lingkungan, dibuktikan dengan kekuatan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang telah mereka kantongi.

Selain itu, teks ini juga menyatakan bahwa PT Semen Indonesia telah mendapat dukungan dari kalangan ulama dan sebagian warga Rembang dalam proses pembangunannya. Pada titik ini, teks berita menempatkan orang-orang di balik adanya prosedur Amdal, ulama, pejabat negara serta sebagian warga, sebagai pihak yang netral, seolah tidak memiliki kepentingan apapun selain memajukan ekonomi. Sehingga dukungan mereka menjadi legitimasi moral bagi pabrik. Pada saat bersamaan, beberapa berita melemahkan argumen warga yang berupaya memertahankan lingkungannya, terutama sumber mata air, agar tidak rusak karena pembangunan pabrik. Berita yang melemahkan tersebut, umumnya menarasikan perlawanan warga sebagai buah dari kekhawatiran semata, tanpa didukung bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan masyarakat penolak dianggap sebagai kelompok yang belum mengetahui bahwa berdirinya pabrik PT

(16)

13 Semen Indonesia akan membawa keuntungan bagi masyarakat Rembang secara luas.

Beberapa teks mungkin kelihatan pro dengan masyarakat Rembang. Akan tetapi, teks-teks yang tampaknya mendukung perlawanan itu cenderung mengarahkan pembaca untuk bersimpati saja terhadap massa yang melawan.

Dalam artian, tidak memperkuat wacana lingkungan yang coba disuarakan oleh masyarakat Rembang.

2. Selamatkanbumi.com

Selamatkanbumi.com, sebagai media yang berpihak terhadap lapisan masyarakat kelas bawah telah menunjukkan keberpihakannya secara jelas.

Sebagian besar teksnya, baik press release maupun berita, mendukung perjuangan masyarakat Rembang untuk menolak pendirian pabrik semen PT Semen Indonesia di kawasan Kendeng.

Dalam konteks polemik pembangunan pabrik semen PT Semen Indonesia di Rembang, menurut penulis ada tiga aspek problema lingkungan yang ditunjukkan Selamatkanbumi.com. Pertama, segala aktivitas pembangunan PT Semen Indonesia akan mengancam kelestarian sumber mata air dan goa bawah tanah di sekitar kawasan CAT Watuputih, Kendeng. Kedua, kerusakan-kerusakan itu terjadi disebabkan karena penggunaan alat-alat tambang yang akan menghancurkan titik-titik resapan air. Ketiga, terjadi konflik sosial baik warga dengan warga maupun warga dengan aparat. Konflik sosial ini merupakan dampak dari pembangunan pabrik tersebut.

Sejauh ini, selamatkanbumi.com telah menghadirkan paparan poin dari kemungkinan dampak negatif terhadap lingkungan Kendeng yang akan terjadi bila pabrik semen berdiri. Namun sayangnya, sebagian besar teks justru terfokus pada pelanggaran HAM, yakni aksi kekerasan aparat yang berusaha menghalau warga Rembang. Sementara wacana-wacana ekologis justru terpinggirkan.

Kekurangan lainnya dari Selamatkanbumi.com ialah, beritanya cenderung satu arah saja dan narasinya menghadirkan suatu konflik yang hitam putih: antara

(17)

14 para petani yang tertindas dan pabrik semen yang menindas melalui aparat. Jelas, media ini belum memenuhi kaidah jurnalistik yang ideal. Apalagi tidak ada disclaimer atau keterangan mengenai apakah mereka sudah mencoba menemui pihak aparat maupun PT Semen.

Selain itu, beberapa teks dalam Selamatkanbumi.com juga menuduh tanpa bukti kuat. Seperti salah satu teks yang menyebut bahwa upaya perusakan ekosistem di lingkungan Kendeng menjadi bagian dari konspirasi global.

Argumen tersebut terkesan mengada-ada karena belum ada bukti kuatnya sehingga, pada titik tertentu, justru berpotensi menurunkan kredibilitas gerakan media tersebut.

B. Praktik Kewacanaan

Pertama, penulis akan membahas bagaimana proses produksi wacana Liputan6.com. Berdasarkan wawancara dengan Harun Mahbub, redaktur pelaksana atau penanggungjawab berita-berita daerah di Liputan6.com, intinya Liputan6.com bukan platform ideologis dan politis, mereka tidak mengawal satu isu tertentu (Harun Mahbub, wawancara, 13 Februari 2018).

Dalam konteks polemik pembangunan Pabrik PT Semen Indonesia di Rembang, Harun mengaku tidak tertarik. Baginya isu-isu terkait konflik agraria di Kendeng tidak seksi. Dalam artian tidak mendatangkan traffic. Oleh karena itu, ia tidak mengirim wartawan maupun kontributor ke daerah tersebut. Adapun berita- berita yang berkaitan dengan Rembang pada periode Juni 2014-Desember 2015, merupakan hasil liputan ketika massa penolak pabrik semen dari Rembang melakukan aksi di Semarang atau Jakarta. Selebihnya berasal dari press release/siaran pers PT Semen Indonesia.

Sikap ini yang memengaruhi perspektif Liputan6.com dalam memberitakan Rembang. Ada beberapa poin yang bisa dicermati mengenai hal ini. Pertama, jika teks mengenai pembangunan semen diperkuat dengan dukungan dari Wakil Presiden RI serta ulama, ditambah justifikasi Amdal, maka teks-teks

(18)

15 tentang penolakan warga cenderung dinarasikan sebagai suatu kekhawatiran tanpa ada bukti kuat.

Kedua, tidak ada justifikasi moral dari tokoh atau justifikasi prosedural guna memerkuat argumen warga, misalnya dengan menulis dari perspektif pegiat lingkungan yang memang konsen terhadap isu di sana. Ketiga, argumen warga diperlemah lewat pernyataan Direktur PT Semen Indonesia, bahwa mereka yang melakukan penolakan perlu diberi tahu mengenai dampak kesejahteraan yang akan dibawa oleh pabrik semen.

Demikian, dapat disimpulkan bahwa karena Liputan6.com enggan mengawal konflik di Rembang, maka wacana-wacana yang terbentuk cenderung melemahkan massa yang menolak pabrik. Dalam hal ini, konflik lingkungan lebih dilihat sebagai konteks saja tanpa ada pendalaman lebih jauh. Selebihnya, mereka lebih banyak memuat press release dari pabrik PT Semen Indonesia, sehingga berita-berita yang memuat pencitraan mereka porsinya relatif lebih banyak.

Proses produksi wacana dari Liputan6.com selaku media yang dimiliki salah satu perusahaan teknologi ternama di Indonesia (Elang Media Teknologi Group), lebih memerhatikan content include traffic daripada mengawal satu isu tertentu. Traffic ini mendukung Liputan6.com untuk mendapat uang dari para pengiklan. Sebagaimana logika media online mainstream, kalau pengunjung situsnya banyak, mudah dijual untuk bisnis ke para pengiklan.

Berbeda dengan Selamatkanbumi.com yang secara ideologis sarat akan upaya advokasi terhadap masyarakat yang terancam ruang hidupnya. Peneliti telah melakukan wawancara dengan Abdus Somad, salah seorang pendiri media selamatkanbumi.com.

Berdasarkan penuturan Somad, Tim Selamatkanbumi.com memosisikan diri mereka sebagai media alternatif yang berpihak pada masyarakat. Secara spesifik, mereka berpihak terhadap masyarakat yang terancam ruang hidupnya.

Maka, wacana-wacana yang diproduksi kebanyakan bertutur soal perampasan

(19)

16 lahan serta pembangunan pabrik yang berpotensi merusak lingkungan (Abdus Somad, wawancara, 28 Oktober 2017).

Dalam pemberitaannya, tim media Selamatkanbumi.com mengacu pada jurnalisme lingkungan karena berita-berita mereka didominasi oleh persoalan lingkungan dengan berbagai macam dinamikanya. Namun, tim media Selamatkanbumi.com juga menganut jurnalisme advokasi. Artinya mereka mengawal isu lingkungan secara berkesinambungan serta membangun ruang bagi masyarakat. Implementasi ruang ini diwujudkan melalui jurnalisme warga yang kemudian lebih banyak berisi siaran pers/press release dari masyarakat (Abdus Somad, wawancara, 8 Februari 2018). Sebelumnya, tim Selamatkanbumi.com juga telah memberi pelatihan kepada masyarakat yang mereka advokasi, seperti pelatihan menulis dan penggunaan media sosial. Pelatihan ini dilakukan di beberapa daerah seperti Rembang dan Kulonprogo.

Dinamika di ruang redaksi Selamatkanbumi.com tidaklah hierarkis.

Karena semangat keberpihakan terhadap masyarakat itu, mereka kemudian menerima semua teks press release dari masyarakat. Dengan catatan, selama press release itu berisikan informasi mengenai perampasan lahan atau ancaman terhadap lingkungan hidup. Jika memang ada tulisan yang dirasa belum layak untuk dipublikasikan, entah karena kesalahan ejaan atau kurangnya data, tim Selamatkanbumi.com tidak serta merta langsung menolaknya begitu saja.

Sebaliknya mereka akan berdiskusi dengan si penulis dulu sampai tulisan diperbaiki.

Intinya, semua tulisan baik dalam bentuk berita maupun press release akan tetap dimuat, asalkan bercerita seputar ancaman lingkungan hidup. Dalam hal ini, jumlah pemuatan press release yang lebih banyak daripada berita juga dipengaruhi oleh terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) Selamatkanbumi.com. Selain SDM, faktor keuangan juga menjadi sebab mengapa press release lebih banyak daripada berita langsung. Dengan mengandalkan uang pribadi untuk menghidupi media, tim Selamatkanbumi.com tidak bisa menjangkau daerah-daerah konflik secara maksimal. Oleh karena itu, mereka

(20)

17 memanfaatkan suara warga melalui press release untuk dimuat. Paling tidak, dengan press release itu ada informasi yang tetap bisa mereka sampaikan walaupun tidak berada langsung di lokasi kejadian.

Begitulah konteks umum produksi pemberitaan Selamatkanbumi.com, juga ketika mereka memuat informasi mengenai konflik pembangunan Pabrik PT Semen Indonesia di Rembang pada periode 2014-2015. Selanjutnya, penulis membaca bahwa Selamatkanbumi.com memproduksi beberapa wacana untuk membentuk suatu konstruksi kebenaran terkait Rembang. Diantaranya Selamatkanbumi.com lebih banyak memuat narasi mengenai kekerasan aparat terhadap masyarakat Rembang yang melakukan perlawanan terhadap pembangunan pabrik semen.

Menurut Somad, melalui narasi tersebut, Selamatkanbumi.com ingin menunjukkan bahwa militerisme menjadi hambatan besar bagi perjuangan masyarakat untuk menyelamatkan lingkungan hidupnya. Tindakan-tindakan kekerasan aparat menunjukkan bahwa mereka merasa berkuasa atas masyarakat.

Dalam produksi wacana, Selamatkanbumi.com menyimbolkan perlawanan dengan sosok “Ibu.” Hal ini bisa dilihat dari banyaknya narasi tentang Ibu di dalam teks yang digunakan untuk menyebut sebagian besar massa penolak pabrik semen. Somad bertutur alasannya ialah karena sosok Ibu dinilai lebih peka melihat realitas sosial sekaligus sosok yang selalu melindungi. Dalam konteks konflik lingkungan di Rembang, Ibu menjadi simbol dari sosok yang melihat ancaman alam dan berupaya melindunginya.

C. Praktik Sosial Budaya

Konstruksi kebenaran yang diwacanakan oleh dua media tersebut, tentunya tidak lepas dari kondisi sosial budaya yang melatarbelakanginya.

Sehingga perlu dipetakan bagaimana sesungguhnya kondisi sosial budaya di Rembang yanga telah memengaruhi produksi wacana media Selamatkanbumi.com dan Liputan6.com.

(21)

18 Konflik lingkungan yang terjadi di Rembang tidak bisa dipisahkan dari konstruksi makna “Tambang Untuk Kesejahteraan.” Dalam buku berjudul Mitos Tambang untuk Kesejahteraan yang ditulis oleh Hendra Tri Ardianto, disebutkan bahwa wacana kesejahteraan muncul di era gubernur Bibit Waluyo pada periode 2008-2013. Saat itu, Jawa Tengah memiliki angka kemiskinan yang tinggi, yaitu sekitar 6,6 juta orang atau 20,43% dari seluruh masyarakat Jawa Tengah.

Konsentrasi kemiskinan ini berada di kawasan pedesaan.

Rembang, merupakan salah satu kabupaten yang memiliki desa-desa dengan tingkat kemiskinan tinggi. Bibit bahkan menyebut Rembang menjadi kota termiskin nomor 2 di Jawa Tengah. Kondisi kemiskinan ini dimaknai oleh Bibit sebagai akibat dari tidak terkelolanya potensi-potensi daerah di Rembang (Ardianto, 2016: 26). Selanjutnya, untuk mengentaskan kemiskinan, Bibit menyatakan ada dua bidang yang harus diperbaiki: infrastruktur dan energi.

Dengan keberadaan infrastruktur yang baik dan energi yang tercukupi, menurut Bibit, dapat membuka peluang masuknya investasi-investasi ekonomi skala besar.

Dalam hal ini, pertambangan semen, dinilai sebagai salah satu investasi yang potensial. Sebab Jawa Tengah memiliki jumlah karst yang cukup melimpah.

Dukungan terhadap pertambangan semen ini ditegaskan dalam RPJMD Provinsi Jateng 2008-2013.

PT Semen Indonesia sendiri memperoleh izin untuk membangun pabrik di daerah Rembang sekitar tahun 2012. Sebelumnya, PT Semen Indonesia sudah terlebih dahulu memasuki wilayah Pati, ketika namanya masih Semen Gresik.

Akan tetapi kalah dalam gugatan sidang PTUN tahun 2010. Masuknya PT Semen Indonesia dengan kucuran dana sekitar tiga triliunan ini digadang-gadang akan mampu memperkuat ekonomi daerah. Tak pelak, makna “tambang untuk kesejahteraan” pun digaungkan oleh Bibit hingga periode gubernurnya habis dan digantikan Ganjar Pranowo, yang juga melanggengkan makna tersebut hingga sekarang.

(22)

19 Makna “tambang untuk kesejahteraan” ini lahir dari konstruksi bahwa kemiskinan hadir karena adanya potensi yang belum dimanfaatkan dan investasi tambang skala besar menjadi salah satu solusi untuk hal itu. Konstruksi ini disokong dengan sejumlah kegiatan yang memperkuat posisi pabrik semen sebagai industri ramah lingkungan sebagaimana UU No. 4 Tahun 2009 tentang pertambangan Minerba.

Kegiatan-kegiatan pendukung itu ialah: pertama, adanya penghargaan- penghargaan atas Good Minning Practice (GMP) seperti, Proper Emas tahun 2012-2013, Green Industry tahun 2012 & 2013 dan Indonesian Green Award tahun 2013. Penghargaan-penghargaan ini dijadikan legitimiasi bahwa pembangunan pabrik semen tidak akan merusak lingkungan.

Kedua, melalui aktivitas Corporate Social Responsibility, PT Semen Indonesia mengklaim kedatangannya menyumbang pengaruh positif terhadap sosiokultural masyarakat Rembang. Diwujudkan dengan berbagai bantuan materi untuk pembangunan masjid, pelatihan tenaga kerja, pinjaman pada UKM, dan lain sebagainya. Ketiga, adanya justifikasi kalangan akademisi dari berbagai perguruan tinggi ternama seperti Eko Haryono dan Heru Handayana dari Universitas Gadjah Mada, serta Ika Bagus Priyambadan dari Universitas Diponegoro (Undip). Selain pakar intelektual, justifikasi ini diperkuat lewat testimoni warga yang sudah diberi bantuan CSR dan juga statement tokoh ulama besar seperti KH. Maimun Zubair (Ardianto, 82-113).

Semua itu dilakukan guna memperkuat wacana kesejahteraan perusahaan tambang. Dengan menempatkan institusi pemberi penghargaan, akademisi, warga, dan para ulama sebagai kelompok netral, PT Semen Indonesia hendak menunjukkan pada publik bahwa pertambangan tidak akan menyebabkan kerusakan ekologis namun justru menguntungkan bagi perekonomian penduduk.

Namun, wacana kesejahteraan yang coba digalakkan PT Semen Indonesia ini justru mendapat perlawanan dari sebagian masyarakat Rembang. Perlawanan ini berakar dari konteks sosial budaya yang ada di dalam struktur masyarakat.

(23)

20 Dalam kesehariannya, sebagian besar warga Rembang menjadikan kegiatan bertani sebagai ‘soko’ kehidupan (Ardianto, 2016:167). Menurut Hidayat (dalam Ardianto, 2016:169), di Desa Tegaldowo dan Timbrangan yang menjadi lokasi konflik, sekitar 70% warganya menjadi petani sekaligus beternak Kambing dan Sapi.iijn

Dengan konteks sosial budaya demikian, maka masyarakat di kawasan Rembang, khususnya Timbrangan dan Tegaldowo, cenderung melihat pembangunan pabrik semen sebagai ancaman. Ada beberapa hal yang membuat mereka berpikiran seperti itu. Pertama, cara-cara penyerobotan lahan yang dilakukan PT Semen Indonesia penuh dengan manipulasi. Kedua, masyarakat di sana juga berkaca pada aktivitas pertambangan skala kecil sebelumnya. Lahan yang dekat dengan area pertambangan kapur, cenderung tidak bisa mendapat hasil baik lantaran sering terkena polusi tambang berupa debu dan lumpur kala hujan turun (Ardianto, 2016:166-195).

Selain itu, lokasi penambangan PT Semen Indonesia berada di kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih yang termasuk daerah lindung geologi berdasarkan Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 2007 tentang RTRW Nasional Pasal 53-60 dan dalam Peraturan Daerah (Perda) No 14 Tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Rembang. Sehingga sebetulnya PT Semen Indonesia telah melanggar aturan. Daerah tersebut juga menjadi pemasok sumber air terbesar untuk masyarakat kawasan Kendeng.

Bosman Batubara, mahasiswa yang tengah menempuh studi doktoral di UNESCO-IHE, Institute For Water Education, Delft, Belanda, menyebut pertambangan di kawasan Kendeng memiliki ponor sebagai lubang masuknya air hujan dan air ini kemudian tersimpan dalam sungai bawah tanah. Bosman juga menyebut, berdasarkan data lapangan warga, ada 49 goa bawah tanah dengan 4 diantaranya memiliki sungai bawah tanah (Cipta et.all, 2015: 63). Dengan adanya penambangan di kawasan tersebut, maka keadaan ponor maupun goa bawah tanah menjadi terancam. Efek jangka panjangnya adalah hilangnya sumber mata air

(24)

21 yang tentu akan mengganggu stabilitas pertanian dan peternakan di daerah tersebut. Sehingga penghidupan masyarakat terancam.

Dari paparan penulis di atas, dapat diketahui bahwa ada dua pertarungan wacana yang terjadi sepanjang konflik pembangunan PT Semen Indonesia di Rembang. Antara “tambang untuk kesejahteraan” yang dikontruksi oleh PT Semen Indonesia melawan “tambang mengancam lingkungan” yang merupakan produk perlawanan masyarakat Rembang serta sejumlah pegiat lingkungan.

Kedua wacana inilah yang kemudian memengaruhi berita-berita di media massa. Tak terkecuali Liputan6.com dan Selamatkanbumi.com. Media Liputan6.com menjadi alat bagi PT Semen Indonesia dalam menyebarkan wacana “tambang untuk kesejahteraan.” Hal ini karena berita-berita di Liputan6.com, secara umum, menyatakan bahwa PT Semen Indonesia mendapat justifikasi moral dari berbagai kalangan serta justifikasi prosedural Amdal sebagai pertambangan yang akan mendatangkan keuntungan ekonomi bagi daerah.

Sementara itu, media Selamatkanbumi.com menjadi basis dari gerakan masyarakat, mengampanyekan wacana “tambang merusak lingkungan” melalui berita-beritanya. Dari mulai militerisme yang menindas masyarakat sampai poin- poin negatif hadirnya PT Semen Indonesia.

D. Diskusi Teoritik

Menurut Ana Nadya Abrar, jurnalisme lingkungan adalah cara-cara jurnalistik yang mengedepankan masalah lingkungan hidup dan berpihak pada kesinambungannya (Abrar, 1993:9). Genre ini senantiasa berbicara mengenai problema lingkungan hidup dengan segala konsekuensi juga solusinya. Problema lingkungan hidup, menurut Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup (KMNLH) dan Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan (dalam Abrar, 1993:21), memiliki tiga aspek, yaitu problema lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lingkungan sosial.

Demikian jurnalisme lingkungan paling tidak harus meng-cover tiga aspek sebagaimana penulis paparkan di atas. Karena tujuan utamanya adalah untuk

(25)

22 menyampaikan seruan kepada publik agar berpartisipasi terhadap kelestarian lingkungan hidup (Sudibyo, 2015:4). Jika menilik Liputan6.com, bisa dibilang media tersebut memiliki kinerja yang tidak maksimal dalam memuat berita-berita berkaitan dengan konflik lingkungan di Rembang pada perode Juni 2014- Desember 2015. Sebagaimana yang penulis temukan dalam analisis teks sepanjang periode tersebut. Bahwa narasi tentang pertambangan sebagai kesejahteraan lebih mendominasi daripada argumen massa penolak.

Inti dari teks-teks itu hendak mengonstruksi suatu kebenaran bahwa PT Semen Indonesia telah memenuhi prosedur ramah lingkungan, dibuktikan dengan adanya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Terlebih PT Semen Indonesia akan memperkuat sektor ekonomi di daerah tersebut. Selain itu, pembangunan pabrik dilakukan untuk menunjuang kegiatan infrastruktur dan memenuhi konsumsi semen yang semakin meningkat.

Mengenai solusi atas masalah lingkungan di Rembang, Liputan6.com cenderung tidak memiliki ketegasan dalam berpihak. Malah mereka justru mendukung kelancaran pembangunan pabrik. Bahkan Liputan6.com menjustifikasi pembangunan pabrik itu sendiri menjadi solusi atas peningkatan sektor ekonomi. Hal ini ditunjukkan dalam narasi berita berjudul Pendirian Pabrik Semen Tuai Protes, Ini Kata Semen Indonesia. Berdasarkan pernyataan sekretaris PT Semen Indonesia, pihaknya akan berupaya mengenalkan keuntungan berdirinya pabrik semen kepada pihak-pihak yang masih menolak.

Intinya, seakan-akan solusi agar konflik selesai dengan baik adalah memberitahu/mengedukasi masyarakat Timbrangan dan Tegaldowo bahwa pertambangan semen akan memberikan dampak positif bagi kehidupan mereka.

Sementara itu, pada media Selamatkanbumi.com, tiga aspek problema lingkungan itu juga belum tercover dengan cukup baik dalam teks-teks mereka.

Alih-alih membahas bagaimana dampak alat-alat tambang terhadap lingkungan di area Kendeng secara lebih terperinci, kebanyakan teks cenderung menarasikan benturan kepentingan antara aparat dengan warga sebagai dampak konflik

(26)

23 lingkungan tersebut. Benturan kepentingan yang lebih mengarah pada pelanggaran HAM Aparat ini mendominasi pemberitaan Selamatkanbumi.com dari rentang waktu Juni 2014-Desember 2015.

Logika yang coba disampaikan media tersebut ialah, pabrik semen PT Semen Indonesia dalam pembangunannya mengancam sumber mata air di kawasan CAT Watuputih, Kendeng. Dalam proses legalisasinya pun PT Semen Indonesia sudah menyalahi RTRW Nasional Pasal 53-60 dan dalam Peraturan Daerah (Perda) No. 14 Tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Rembang yang menetapkan kawasan tersebut sebagai daerah lindung geologi.

Akan tetapi, dari pihak pemerintah, seperti gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo maupun Bupati Rembang, mendukung pembangunan tersebut. Hal ini memicu reaksi keras sebagian masyarakat yang kemudian berupaya menghentikan pembangunan pabrik. Namun, aksi masyarakat yang menolak ini mendapat sambutan dari aparat berupa kekerasan-kekerasan fisik.

Sepanjang periode tersebut satu-satunya solusi yang coba ditawarkan dalam teks-teks Selamatkanbumi.com hanya satu hal: menghentikan pembangunan pabrik PT Semen Indonesia. Sayangnya, dari segi kajian lingkungan, belum ada pembahasan yang cukup mendalam. Misalnya melakukan wawancara dengan pegiat lingkungan yang memang konsen terhadap isu di Rembang atau melakukan analisis mendalam melalui berbagai kajian pustaka.

Selain dilihat dari cakupan isu, untuk melihat apakah sebuah media sudah menerapkan kerja yang bermutu untuk memuat berita lingkungan dalam perspektif jurnalisme lingkungan, dapat ditinjau dari beberapa sikapnya.

Sebagaimana dijelaskan dalam buku 34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan yang ditulis Agus Sudibyo. Sikap-sikap itu ialah seperti berikut:

1. Pro-keberlanjutan: berkontribusi dalam kelestarian lingkungan hidup, dengan tujuan agar dapat dinikmati di masa sekarang hingga masa mendatang.

(27)

24 2. Biosentris: memandang kesetaraan spesies dan menghargai sistem

kehidupan di dalamnya.

3. Pro-keadilan lingkungan: berpihak kepada kaum yang lemah agar dapat merasakan lingkungan yang bebas dari kerusakan.

4. Profesional: memahami materi dan isu-isu tentang problema lingkungan, serta menerapkan kaidah jurnalistik yang benar (Sudibyo, 2015:6).

Selain sikap-sikap tersebut, kita juga bisa meniliknya dari kode etik jurnalisme lingkungan yang disusun Asian Federation of Environmental Journalists dalam event 6th world congress of environmental journalism di Colombo, Sri Lanka, 1998.

Adapun poin-poin yang diratifikasi ialah sebagai berikut:

1. Jurnalis lingkungan wajib menginformasikan kepada khalayak mengenai hal-hal yang menjadi ancaman bagi lingkungan hidup mereka, baik itu yang berskala regional, nasional, maupun global.

2. Tugas para jurnalis lingkungan adalah untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya isu-isu lingkungan. Karena itu, jurnalis harus melaporkan dari beragam pandangan.

3. Tugas jurnalis tidak hanya membangun kewaspadaan masyarakat atas berbagai macam hal yang dapat mengancam lingkungan mereka, akan tetapi juga turut membangun kesadaran berkelanjutan. Untuk itu, wartawan juga mesti berusaha menuliskan solusi-solusi atas permasalah lingkungan.

4. Mampu memelihara jarak dari berbagai kepentingan politik baik itu dari perusahaan, pemerintah, politisi, maupun organisasi sosial dengan tidak memasukkan kepentingan mereka. Dengan kata lain, hal ini membuat seorang jurnalis mesti melaporkan berita dari berbagai sisi.

5. Jurnalis harus menghindar sejauh mungkin dari info-info yang sifatnya spekulatif dan komentar-komentar tendensius. Memastikan otentitas narasumber dari berbagai pihak mejadi penting.

(28)

25 6. Jurnalis lingkungan harus mengembangkan keadilan informasi, dalam

artian membantu pihak siapapun untuk mendapat informasi tersebut.

7. Jurnalis lingkungan harus menghormati hak-hak individu yang terkena dampak permasalahan lingkungan, misalnya korban bencana.

Jurnalis lingkungan tidak boleh ragu untuk mengoreksi apa saja yang ia yakini sebagai sebuah kebenaran.

Selamatkanbumi.com, berdasarkan wawancara penulis dengan salah satu pendirinya, memiliki sikap pro-keberlanjutan. Hal ini bisa dilihat dari teks-teks yang muncul sepanjang periode Juni 2014-Desember 2015. Teks-teks tersebut, konsisten mengawal penolakan pembangunan pabrik PT Semen Indonesia di Rembang. Selamatkanbumi.com juga menunjukkan sikap biosentris sekaligus pro-keadilan lingkungan dengan memerjuangkan masyarakat Rembang supaya tetap bisa menjaga sistem hubungan mereka dengan alam Kendeng yang dinilai terancam oleh adanya tambang semen tersebut.

Sayangnya, Selamatkanbumi.com masih belum menunjukkan sikap profesionalitas. Pertama, berita-berita yang dipublikasikan pada periode Juni 2014-Desember 2015 hanya memuat satu sisi, yaitu dari massa penolak. Kedua, lebih banyak press release dari masyarakat daripada beritanya. Bambang Muryanto, mantan ketua Aliansi Jurnalis Independen di Yogyakarta, berpendapat media Selamatkanbumi.com tidak memenuhi standar tulisan berita yang ideal (Bambang Muryanto, wawancara, 5 Maret 2018). Menurut Bambang, walaupun Selamatkanbumi.com menganut jurnalisme advokasi, namun tidak seharusnya mereka terjebak dalam aktivisme dengan menonjolkan suara dari kelompok- kelompok yang mereka perjuangkan semata. Selamatkanbumi.com tetap wajib menekankan cover both side bahkan multiside.

Pemuatan press release tanpa adanya saring juga pada akhirnya justru membuat Selamatkanbumi.com tidak bisa menghindari info-info yang bersifat spekulaitf. Contohnya, tentang salah satu press release yang membicarakan

(29)

26 konspirasi global. Hal ini tentu tidak sesuai dengan kode etik jurnalisme lingkungan yang telah disusun oleh Asian Federation of Environmental Journalists.

Sementara itu, Liputan6.com cenderung tidak memiliki sikap-sikap media jurnalisme lingkungan dalam konteks konflik semen di Rembang. Harun selaku redaktur mengklaim Liputan6.com sebagai media yang objektif dan tidak berupaya mengawal isu apapun. Terlebih, ia sama sekali tidak memandang konflik di Rembang penting untuk diberitakan.

Sehingga otomatis Liputan6.com tidak memiliki sikap pro-keberlanjutan, biosentris, apalagi pro-keadilan lingkungan. Sikap ini juga tidak sesuai dengan kode etik jurnalisme lingkungan Asian Federation of Environmental Journalists yang mementingkan keterbukaan informasi, edukasi, serta semangat pelestarian lingkungan untuk masyarakat.

Hal ini juga bisa dilihat dari teks-teks berita yang dimuat pada periode Juni 2014-Desember 2015. Berita-berita tersebut, sebagaimana penulis katakan, didominasi oleh narasi-narasi yang tidak memihak masyarakat Rembang. Masalah paling mengakar dari Liputan6.com adalah karena media tersebut tidak memandang konflik di Rembang sebagai kepentingan masyarakat luas. Jurnalisme lingkungan sebagaimana prinsip jurnalisme secara umum juga berorientasi pada masyarakat luas. Seperti dirumuskan dalam 9 elemen jurnalisme Bill Kovach dan Rossenstiel (2006:6).

Adapaun jika argumen dari redakturnya ialah soal objektifitas, maka itu bukan alasan yang tepat untuk tidak berpihak terhadap masyarakat. Andreas Harsono, wartawan cum pegiat HAM, mengatakan bahwa sebetulnya objektifitas merupakan metode dalam jurnalsitik, bukan tujuan. Objektif lebih dipahami sebagai upaya seorang wartawan untuk memuat berita yang berimbang, akurat, jujur, dan transparan.

Tentu saja bila mengacu pada makna yang dijabarkan Andreas, Selamatkanbumi.com juga belum bisa dibilang telah menerapkan metode objektif

(30)

27 mengingat teks-teks mereka yang cenderung satu sisi dan lebih banyak muatan press release-nya.

Pada titik ini, narasi dari kedua media itu punya satu kesamaan:

pertarungan kepentingan antar manusia. PT Semen Indonesia yang menginginkan CAT Watuputih karena keberadaan karst yang bagus dan melimpah dan masyarakat Rembang yang tak mau lingkungan hidupnya rusak. Sebab, dapat mengancam keberlangsungan hidup mereka untuk jangka waktu lama.

Bila ditarik lebih makro, narasi mengenai pembangunan pabrik semen PT Semen Indonesia ini merupakan bagian dari “modernisasi masyarakat.” Sebab, dalam modernisasi, industri merupakan anak emas dan memang itulah tujuan utamanya.

Hal ini bisa kita lihat melalui teori pertumbuhan ekonomi Rostow, salah satu versi dari modernisasi. Teori yang mulanya dikembangkan untuk membendung pengaruh sosialisme pada saat perang dingin ini dikembangkan oleh pemerintahan militer Indonesia di bawah Soeharto sejak tahun 1967 (Fakih, 2009:

50).

Modernisasi mencita-citakan perubahan sosial masyarakat dari tradisional menuju ke masyarakat industri atau masyarakat konsumsi masa tinggi. Teori ini sebetulnya juga bertolak dari uraian Adam Smith, pandangan ekonomi klasik, yang menyatakan bahwa kegiatan ekonomi bertumpu pada industri sementara proses produksi dilakukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan konsumen (Fakih: 2009:42). Untuk tercapainya hal itu, dibutuhkan akumulasi modal melalui tabungan, hutang luar negeri, dan investasi.

Teori modernisasi merupakan cikal lahirnya teori pembangunan atau developmentalisme. Menurut Mansour Fakih, dalam buku Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, developmentalisme dikembangkan dalam rangka membendung semangat masyarakat antikapitalisme dan merupakan siasat baru untuk mengganti formasi sosial kolonialisme yang baru runtuh (Fakih, 2009:178).

(31)

28 Amerika Serikat menyebarkan paham ini dengan berbagai cara untuk mendukung ekonomi yang kapitalistik. Dalam konteks Indonesia, developmentalisme dimapankan oleh para akademisi, LSM, dan praktik-praktik pengukuhan ideologi melalui sosial budaya oleh pemerintah negara.

Namun, pada praktiknya developmentalisme mengalami berbagai permasalahan. Faham ini dianggap tidak dapat menyelesaikan berbagai problem masyarakat seperti kesenjangan antar kelas, dominasi ideologi, budaya, persoalan gender, dan bahkan persoalan lingkungan. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development), dalam praktiknya justru kontra produktif dengan wacana kesejahteraan yang ada di dalam masyarakat.

Penutup

Kesimpulannya, dalam pemberitaan Liputan6.com periode Juni 2014 – Desember 2015, kebanyakan teks mendukung wacana “Semen Untuk Kesejahteraan.” Alih-alih bersikap netral, seperti kata redakturnya, Liputan6.com justru banyak memuat siaran pers dari PT Semen Indonesia. Siaran pers ini bisa dilihat dari berita-berita yang menarasikan bahwa pembangunan PT Semen Indonesia telah mendapat legitimasi dari sebagian warga Rembang, Wakil Presiden dan juga sudah mendapat legitimasi Amdal.

Sementara itu, warga penolak dalam sebagian besar teks yang penulis analisis, diposisikan sebagai pihak yang menolak tanpa argumen kuat. Beberapa teks mungkin kelihatan pro dengan masyarakat Rembang yang menolak semen.

Akan tetapi, teks-teks yang tampaknya mendukung perlawanan itu cenderung mengarahkan pembaca untuk bersimpati saja terhadap massa yang melawan.

Dalam artian, tidak memperkuat wacana lingkungan yang coba disuarakan oleh masyarakat Rembang.

Sedangkan Selamatkanbumi.com sebagai media yang ideologis dan membela masyarakat penolak pabrik terus menarasikan wacana “Tambang Merusak Lingkungan” pada periode yang sama. Beberapa teks berita dalam Selamatkanbumi.com menyorot konflik antara warga penolak dengan aparat yang

(32)

29 membela pabrik semen. Dalam teks-teks berita tersebut, aparat diposisikan sebagai corong bagi pabrik semen untuk berdiri. Mereka bukannya membela masyarakat namun justru melakukan kekerasan terhadap masyarakat yang menolak pembangunan pabrik PT Semen Indonesia.

Selebihnya, tulisan-tulisan dalam media Selamatkanbumi.com didominsasi siaran pers dari warga langsung. Siaran-siaran Pers tersebut secara umum menuntut agar pihak pabrik PT Semen Indonesia menghentikan pembangunannya.

Untuk memerkuat argumen, siaran-siaran pers warga juga memaparkan dampak negatif bila pabrik semen berdiri di kawasan CAT Watuputih seperti potensi rusaknya sumber mata air dan menurunnya kegiatan ekonomi petani. Sayangnya, teks-teks dalam media Selamatkanbumi.com cenderung melihat dari satu pihak saja, hal itu berlangsung sepanjang periode 2014-2015, sehingga konflik cenderung ditampilkan hitam putih.

Sementara itu, berdasarkan definisi dari jurnalisme lingkungan, menurut Ana Nadya Abrar, dan sikap pro-keberlanjutan, biosentris, pro-keadilan lingkungan, dan profesional, yang dirumuskan oleh Agus Sudibyo ditambah 8 poin kode etik Asian Federation of Environmental Journalists yang spiritnya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan, penulis menemukan beberapa hal.

Pertama, media Liputan6.com dalam analisis penulis, bukan media yang maksimal dalam pemberitaan mengenai problema lingkungan. Dalam berita-berita Liputan6.com, konflik lingkungan cenderung ditampilkan sebagai kekhawatiran warga semata tanpa ada dukungan lebih lanjut dengan reportase mendalam maupun pernyataan pakar lingkungan terkait hal tersebut.

Sebaliknya, media ini justru memerkuat makna “tambang untuk kesejahteraan” dengan menghadirkan narasi yang melegitimasi pembangunan semen, baik narasi prosedural seperti telah sahnya Amdal maupun narasi dukungan dari pihak-pihak tertentu, seperti Wakil Presiden Jusuf Kala.

(33)

30 Media Liputan6.com, berdasarkan analisis penulis, juga tidak memiliki 4 sikap dalam mengawal isu lingkungan sebagaimana dipaparkan Agus Sudibyo.

Harun Mahbub, redaktur pelaksana kanal regional media tersebut, menyatakan bahwa media Liputan6.com adalah media yang objektif dan tidak tertarik pada isu di Rembang. Pernyataan ini kontradiktif dengan teori jurnalisme secara umum yang menyatakan bahwa kepentingan publik adalah yang utama.

Apalagi konflik lingkungan di Rembang telah mendapat perhatian dari berbagai kalangan pada periode tersebut. Dengan demikian secara kode etik Asian Federation of Environmental Journalists, media ini jelas tidak memiliki semangat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai isu lingkungan.

Berbanding terbalik dengan Liputan6.com, Selamatkanbumi.com lebih maksimal dalam mengawal isu lingkungan di Rembang. Dalam analisis penulis, media tersebut telah menerapkan sikap pro-keberlanjutan, biosentris, dan mendukung keadilan lingkungan. Hal ini bisa dilihat dari konsistensi Selamatkanbumi.com dalam mengawal isu lingkungan di Rembang.

Namun, kelemahan dari media ini ialah, lebih banyak press release dibanding beritanya. Meskipun press release tersebut, berdasarkan kesepakatan redaksi Selamatkanbumi.com, menjadi bagian dari jurnalisme warganya. Media ini terjebak pada aktivisme, sehingga hanya menyuarakan massa yang diperjuangkannya. Meski begitu, minimnya produksi berita di media ini juga disebabkan masalah sedikitnya SDM dan kurangnya dana operasional. Boleh dibilang dua media tersebut belum menampilkan tulisan-tulisan jurnalistik yang ideal. Bahkan bila dikaji secara kode etik jurnalisme lingkungan dari Asian Federation of Environmental Journalists, dua media tersebut belum dapat memenuhi semua kriterianya.

Berdasarkan penelitian ini, penulis memiliki beberapa saran untuk media Liputan6.com dan Selamatkanbumi.com. Pertama, untuk Liputan6.com, hendaknya menjadi media yang betul-betul memerhatikan kepentingan masyarakat bukan hanya traffic. Objektifitas sebaiknya digunakan sebagai metode

(34)

31 agar memeroleh keutuhan informasi, bukan dijadikan tujuan. Selain itu, jangan sampai media Liputan6.com menjadi media yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang justru memiliki agenda yang kontra terhadap kepentingan masyarakat luas.

Kedua, untuk Selamatkanbumi.com, memang betul bahwa kita mesti mengawal segala isu yang berkaitan dengan masyarakat luas seraya memberi ruang bagi siapapun untuk menyampaikan gagasannya. Namun, sebagai media alternatif yang berorientasi pada konten jurnalistik, jangan kemudian menjadi media yang propagandis. Alih-alih, menayangkan berita berkualitas, yang ada justru kebanyakan press release dari aliansi-aliansi masyarakat. Meski tujuannya untuk masyarakat, akan tetapi hal ini justru akan menjadikan media Selamatkanbumi.com hanya menampilkan info-info yang sifatnya spekulatif dan komentar-komentar tendensius. Memastikan otentitas narasumber dari berbagai pihak sangat penting.

Ketiga, untuk kedua media tersebut, sebaiknya menyajikan laporan yang utuh dan dapat mengedukasi masyarakat. Jangan sampai satu sisi saja. Bila memang ditolak oleh pihak yang berkaitan dengan konflik, hendaknya penolakan atau sangkalan tersebut juga ditulis. Paling tidak, dengan begitu kita bisa tahu bahwa ada upaya memenuhi kaidah jurnalistik.

Terakhir, karena penelitian ini masih berfokus pada bagaimana suatu teks diproduksi dalam sebuah media dengan tujuan yang tidak netral, politis. Sehingga kekurangan penelitian ini terletak pada pembuktian apakah teks-teks tersebut memberi pengaruh pada pembaca dan sejauh mana pengaruh itu. Maka, untuk para peneliti selanjutnya yang tertarik mengkaji jurnalisme lingkungan, penulis menyarankan agar melakukan penelitian-penelitian yang mengkaji dampak.

(35)

32 Daftar Pustaka

Buku :

Abrar, Ana Nadya. Mengenal Jurnalisme Lingkungan Hidup. Yogyakarta : Gajah Mada University Perss, 1993.

Ardianto, Hendra Tri. Mitos Tambang Untuk Kesejahteraan: Pertarungan Wacana Kesejahteraan dalam Kebijakan Pertambangan.Yogyakarta:

Penerbit PolGov, 2016.

Cipta, Dwi, et.al. Rembang Melawan: Membongkar Fantasi Pertambangan Semen di Pegunungan Kendeng. Yogyakarta: Literasi Press, 2015.

Fairclough, Norman. Discourse and Social Change. Cambridge: Polity Press, 1992.

Fakih, Mansour. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi.

INSISTPress: Yogyakarta, 2009.

Foucault, Michel. The Archaelogy of Knowledge. (trans. A. M. Sheridan Jurnal Poetika Vol. IV No. 2, Desember 2016 118 Smith). London:

Routledge, 1972.

Harsono, Andreas. Agama Saya Adalah Jurnalisme. Yogyakarta: Kanisius, 2010.

Haryatmoko. Michel Foucault dan Politik Kekuasaan: Membongkar Teknik, Mekanisme, dan Strategi Kekuasaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2010.

Jorgensen, Marianne W dan Louise J. Philips. Analisis Wacana: Teori dan Metode. Pustaka Pelajar: Yogyakarta, 2010.

(36)

33 Kovach, Bill dan Tom Rosenstiel. Sembilan Elemen Jurnalisme (terj.).

Jakarta: Pantau, 2001.

Saputra, Wiko. MP3EI: Pembangunan Ekonomi dan Terancamnya Hak Dasar Masyarakat (Kritik dan Kajian Terhadap Kebijakan Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025.

Jakarta: Perkumpulan Prakarsa, 2014.

Sudibyo, Agus. 34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan: Panduan Praktis Untuk Jurnalis. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2014.

Jurnal :

Bednarek, Monica and Helen Caple. “Playing With Environmental Stories In The News—Good or Bad Practice?,” Discourse & Communication No.

4 (2010). Halaman 6-23.

Fuhz, Crhistian. “Alternative Media As Ceritical Media,” European Journal Of Social Theory No. 2 (2010). Halaman 174-179.

Karman. “Media dan Kepentingan Publik: Praktik Media Massa Menurut Teori Normatif,” Jurnal INSANI, No. 15 (Desember, 2013), halaman 21- 25.

Skripsi :

Ganies, Oktaviana. “Analisis Konflik Sumber Daya Alam di Pegunungan Kendeng Utara, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah: Studi kasus : Rencana pembangunan pabrik semen oleh PT. SMS di Kecamatan Tambakromo dan Kayen ” Skripsi Sarjana, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor, Bogor, 2015.

(37)

34 Nasution, Rizki Ramadhani. “Analisis Isi Penerapan Jurnalisme Lingkungan Dalam Pemberitaan Kabut Asap di Harian Waspada Edisi 01 September-13 November 2015,” Skripsi Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, Medan, 2016.

Solihin Mohammad. “Konstruksi Berita Konflik Pabrik Semen Kendeng di Media Berita Online:Analisis Framming Kompas.com dan Suaramerdeka.com,” Tesis Pascasarjana, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2016.

Prastika, Ratna. “Bingkai Jurnalisme Lingkungan Dalam Pemberitaan Kabut Asap di Riau Pada Media Online: Studi Kualitatif Dengan Pendekatan Analisis Framming Mengenai Bingkai Jurnalisme Lingkungan Pemberitaan Kabut Asap di Riau Pada Media Online Riau Pos dan Tribun Pekanbaru Edisi Maret 2014,” Skripsi Sarjana Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung, Bandung, 2015.

Utami, Dian Rosalita. “Praktik Jurnalisme Lingkungan Dalam Pemberitaan Pembangunan Pabrik Semen Di Kawasan Pegunungan Kendeng Rembang (Analisis Framming Praktek Jurnalisme Lingkungan pada Media Mongabay.co.id, Periode Februari-Agustus 2014)” Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atmajaya, Yogyakarta, 2016.

Refrensi Online :

Accountable journalisme.org. “Asian Federation of Environmental Journalists Code of ethics.” https://accountablejournalism.org/ethics- codes/international-asian-federation-of-environmental-journalists. Diakses 20 Februari 2018.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Sistem Operasi adalah sistem terintegrasi dari berbagai program yang mengelola operasi CPU, kendali input/ output dan sumber daya serta aktivitas penyimpanan dari

Kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di SMAI tersebut diatas, menjadi suatu pertanyaan “Apakah kegiatan tersebut dapat membentuk karakter siswa seperti yang tertuang dalam

Hasil pengumpulan data bahwa perencanaan program dibuat dari bawah ke atas ( buttom up ) yaitu puskesmas membuat rencana berdasarkan evaluasi program tahun sebelumnya

[r]

• Plentiful natural resources, workers, wealth, and markets explain why Great Britain was the country where the Industrial Revolution began. 254) • The pace of industrialization

Arifin dan Riharjo (2014) melakukan penelitian mengenai pertanggungjawaban keuangan pada pondok pesantren Nazhatut Thullab, dari penelitian tersebut diketahui bahwa

Persamaan dengan penelitian ini adalah pada metode analisis dengan pendekatan simulacra Jean Baudrillard, adapun perbedaanya yaitu pada objek, jika dipenelitian

Mencari estimasi kerugian maksimum pada tingkat kepercayaan ( yaitu sebagai nilai kuantil ke- dari distribusi empiris return portofolio yang diperoleh