Misalkan Persilschein Itu Selalu Ada
In the blood of Eden
Lie the woman and the man With the man in the woman And the woman in the man
In the blood of Eden
Lie the woman and the man We wanted the union Oh the union of the woman The woman and the man
-“Blood of Eden,” Peter Gabriel
Masa lalu menyangkut dengan masa kini. Dahulu, kini, dan sepanjang masa.
Begitulah kondisi yang ada di Jerman dan Indonesia. Kondisi masa lalu di Indonesia, seperti konflik berdarah komunisme, tampaknya akan selalu menggenangi percakapan, baik itu politik maupun diskusi sosial ke depannya.
Katanya, rekonsiliasi yang dibutuhkan. Itu belum bisa menjadi jawaban hingga kini.
Mungkin, jalan penyelesaian bukan sekedar kemauan beberapa pihak belaka. Ada suatu kondisi yang harus diperbaiki. Misalnya, pemahaman terhadap apa yang sebenarnya terjadi.
Misalkan di Jerman. Masa lalu di sana masih menyangkut dengan percakapan masa kini. Di sudut sotoh rumah hingga di pojok jejaring media sosial, hal itu masih menjadi permasalahan.
Buku Nazi Billionaires tulisan David de Jong.
Jika penyelesaian konflik masa lalu di Indonesia tersebut lebih cenderung untuk rekonsiliasi. Tidak demikian dengan di Jerman. Nazi Billionairesnya David de Jong menjadi salah satu kompilasi yang menjelaskan cara penyelesaian masa lalu cenderung mengarah kepada tuntutan terhadap suatu pengakuan oleh hartawan yang mendominasi perekonomian negara itu sejak jaman Nazi masih berdiri.1
Bahkan, para hartawan tersebut cukup dikenal dengan nama perusahaan yang mereka kendalikan hingga kini.
Tulisan ini akan bertumpu kepada sejumlah fakta yang penulis temukan pada buku Nazi Billionaires tulisan David de Jong.
Bagaimana Nazi, Porche, dan Volkswagen Selibat?
Banyak para hartawan Jerman yang katanya memiliki ras “Arya Murni” memanfaatkan pengambilalihan aset para hartawan Jerman memiliki ras Yahudi atau sebutannya Aryanization.
Salah satu contoh seperti Günther Quandt. Sang pemilik saham mayoritas produsen kendaraan ternama, BMW, yang hingga kini masih dilanjutkan oleh keturunannya masih sering ditanyai mengenai fakta penggunaan para Yahudi yang “ditahan dan dipaksa” untuk bekerja di perusahaannya.2
Demikianlah dengan Porsche. Dr. Ing. h.c. Ferdinand Porsche KG selaku pendiri perusahaan mobil berakselerasi sport tersebut memiliki kontak langsung dengan Hitler atas tawarannya mengenai rancangan mobil rakyat (Volkswagen) yang dimintai oleh Hitler sebelumnya.3
1 Lihat selengkapnya pada: David de Jong, Nazi Billionaires: The Dark History of Germany’s Wealthiest Dynasties, (William Collins: London, 2022).
2 De Jong, Nazi Billionaires, hlm. 139- 141.
3 Ferdinand Porsche awalnya bekerja sebagai direktur teknik pada Daimler- Benz. Hubungannya dengan Hitler malahan didahului dengan pekerjaannya memperbaiki limousine Mercedes milik Hitler.
Menariknya, Porsche sebelumnya menolak permintaan pemerintahan komunis Uni Soviet (Joseph Stalin) untuk mengepalai produksi mobil di negara itu. Lihat: De Jong, Nazi Billionaires, hlm. 59- 60.
Mobil tersebut kini dikenal dengan Volkswagen Beetle (VW Kodok).4 Menariknya, rancangan Porsche tersebut adalah penyempurnaan atas rancangan awal yang dibuat oleh seorang teknisi mobil berdarah Yahudi, Joseph Ganz.5
Hitler dan Volkswagen Beetle
(Sumber: https://static.dw.com/image/41099718_303.jpg, diunduh 06 Juli 2022)
Presentasi pertama mobil yang masih diminati di kalangan pecinta mobil klasik tersebut dilakukan di Berlin Motor Show yang diakhiri dengan ketidakpuasan Hitler atasnya.
Ia kemudian memerintahkan Porsche untuk memberikan serangkaian perintah terhadap Volkwagen tersebut: (i) agar Porsche merancang mobil tersebut dapat dimuati oleh empat orang; (ii) mobil tersebut harus bermesin diesel; dan (iii) harus berpendingin mesin agar dikemudian hari mobil tersebut dapat digunakan untuk kepentingan militer Jerman.
Menariknya, Hitler sempat mengganti sebutan mobil VW Kodok tersebut dengan sebutan Kraft durch Freude- Wagen yang kurang lebih berarti “kendaraan kekuatan melalui kemuliaan.”6 Hal tersebut mengecewakan Ferdinand Porsche yang berharap bahwa mobil tersebut akan menyandang namanya.7
4 Permintaan Hitler untuk membuat mobil VW tersebut didasari atas kekesalannya atas sejumlah pabrikan mobil yang hanya fokus membuat mobil mewah dan bukan mobil yang dapat dijangkau rakyat banyak. Penamaan Beetle terhadap Volkswagen diberikan oleh New York Times. Lihat: De Jong, Nazi Billionaires, hlm. 121.
5 Lihat: Ibid., hlm. 69.
6 Ibid., hlm. 120- 121.
7 Tata letak pabrik Volkswagen direncanakan meniru kompleks pabrik River Rouge milik Ford di Detroit, Amerika Serikat. Sempat terjadi perbincangan antara Porsche dan Henry Ford mengenai hal itu. Ibid., hlm. 121.
Moto “Deutschland Über Alles” a la Hitler menyengsarakan segala aspek perikemanusiaan Yahudi di Jerman pada saat itu. Di samping, banyak kaum Yahudi mencari domisili di negara lain, banyak pula bentuk perbudakan yang diantaranya menyebabkan kematian pada beberapa kamp konsentrasi pada sejumlah lokasi di Jerman.
Perbudakan yang dimaksud adalah kerja paksa pada sejumlah pabrik yang dimiliki hartawan Jerman tersebut.
“Perbudakan” pun Berlaku bagi Warga Negara Jerman yang Berkhianat
Kemunculan Perang Dunia II menuntut kesediaan persenjataan bagi tentara Nazi.
Banyak pabrik kendaraan yang menyesuaikan produknya sesuai dengan kebutuhan militer, seperti VW Beetle versi Schwimmwagen (the swimming car).
Sejak bulan Juni 1940, pabrik Volkswagen menerima pekerja yang mencakup ratusan perempuan berwarganegara Polandia serta para tahanan militer Jerman yang dianggap tidak patuh (insubordinate) maupun lari dari tugas (deserter).8 Disamping itu, dilibatkan pula 650 orang selaku tahanan berwarganegara Rusia untuk mendukung kinerja VW.
Menarik untuk diketahui, bahwa kehilangan kontrol Porsche terhadap Volkswagen atas rancangan VW Beetle berakhir dengan pembagian keuntungan sebesar 1%
pada setiap penjualan mobil tersebut. Namun, kendaraan klasik itu telah berhenti diproduksi pada tahun 2003 lalu.9
Pemisahan Ras Yang Kabur dan Pemurnian Bayi
Upaya Jerman memisahkan ras melalui sejumlah aspek salah satunya melalui hukum.
Rezim Hitler menelurkan Nuremberg Race Laws yang ditetapkan pada September
8 Bahkan Hitler pun meminta kepada Ferry (anak Ferdinand) Porsche untuk memberikan jarring anti nyamuk kepada kendaraan militer.
9 Ibid., hlm. 225.
1935 yang membenarkan pengambilalihan segala aset yang dimiliki masyarakat Jerman berdarah Yahudi serta melarang kawin campur dengan masyarakat golongan tersebut.10
Porsche 356
(Sumber: https://i0.wp.com/otoblitz.net/wp-content/uploads/2019/04/1948-Porsche- 356.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1, diunduh 06 Mei 2022)
Salah satu pihak yang dirugikan dari pemberlakuan hukum tersebut adalah Adolf Rosenberger. Pembalap berdarah Yahudi yang juga menanamkan modalnya kepada Porsche, terlempar begitu saja dari korporasi.
Tanpa menghargai andil Rosenberger, Ferdinand Porsche mengambil saham milik Rosenberger tanpa melakukan restitusi di masa Nazi berkuasa.11
10 Ibid., hlm. 85.
11 Menariknya, Rosenberger tetap berupaya mempertahankan hak atas andilnya dalam Porsche.
Seperti, meminta Porsche untuk memberikan hak baginya untuk memiliki paten dan mengelola jaringan industry Porsche di negara pelindungnya, Amerika Serikat. Namun, hal itu tampaknya sia- sia.Lihat:
Ibid., hlm. 93 dan 122.
Mercedes “Rekordwagen” W125 berlogo Nazi yang melesat hingga 432 Km/ jam pada tahun 1938 di Autobahn (jalan tol yang meniadakan aturan batas kecepatan di Jerman).
Mobil dengan kecepatan tersebut dilaju oleh Rudolf Caracciola tersebut menjadi mobil kedua tercepat didunia yang dites di jalanan umum hingga kini. Peringkat pertama diisi oleh Koenigsegg Agere RS
yang dikemudikan oleh Niklas Lilya pada tahun 2017. Rekor pecah setelah 79 tahun berlalu!12 (Sumber: Ullstein Bild/ Getty Images)
Bengisnya, terdapat sebuah program “pemurnian bayi” yang dikenal Lebensborn.13 Sederhananya, program tersebut melaksanakan apa yang dinamakan sebagai usaha
“memperbanyak ras Arya” di muka bumi ini.
Namun, mirisnya program yang diinisiasi oleh Heinrich Himmler ini tidak memikirkan kelangsungan masa depan bayi yang dihasilkan dari program tersebut secara jelas.14 Apalagi, bayi tersebut dipisahkan dari orangtua sebenarnya sehingga mengalami kekaburan akan latar belakang mereka sendiri.
12 Ketika Mercedes W125 dikemudikan kembali oleh pembalap andalan tim Mercedes AMG Petronas F1, Valtteri Bottas, ia membayangkan dan mengagumi Caracciola yang pernah melesatkan mobil klasik itu hingga kecepatan luar biasa. Apalagi, Caracciola melakukan tes tanpa teknologi balap aman seperti yang dikenal kini! Lihat video testimoni Hamilton terhadap Mercedes W125 pada: “Valtteri Drives the Classic Mercedes W125 from 1937,” https://www.youtube.com/watch?v=s0Dj0CVM3mM, diunduh 06 Mei 2022.
13 Ibid., hlm. 90.
14 Para bayi yang berasal dari program Lebensborn tersebut kini menyongsong masa senja mereka.
Salah satu diantaranya merasa kehilangan identitas akibat kekaburan masa lalu. Lihat lebih lanjut cerita Folker Heinicke sebagai salah satu orang yang kelahirannya berasal dari Lebensborn: “Secret Nazi
‘Lebensborn Children’ Go Public,” https://www.nbcnews.com/id/wbna15548608, diunduh 06 Mei 2022.
Di samping itu, terdapat pasangan berdarah Yahudi dan Arya yang terafiliasi dengan keanggotaan di Nazi. Albert Reimann selaku hartawan Jerman berdarah Arya dan anggota Nazi memiliki hubungan “special” dengan seorang perempuan Yahudi, Emily Landecker pada tahun 1940an yang artinya masih menguatnya peranan Nazi.
Mirisnya, ayah Landecker meninggal di kamp konsentrasi. Namun, hubungan pasangan tersebut tetap awet.
Artikel yang mengangkat kisah tersebut diterbitkan oleh New York Times dengan judul
“Nazis Killed Her Father, Then She Fell in Love with One.”15
Money Laundering dan Tax Evasion Sejak Dahulu Berdiri Tegak:
Dulles, Indonesia, dan Nazi
Bentuk kekuatan ekonomi Jerman pada masa berkuasanya Hitler tampak dibagi ke dalam tiga kelompok hartawan: Kelompok Joseph Goebbels, Kelompok Hermann Göring, dan Kelompok Heinrich Himmler.
Bentuk aryanizations juga dilakukan dalam hal pengambilalihan badan usaha perbankan yang dimiliki oleh masyarakat Jerman berdarah Yahudi. Biasanya pengambilalihan akan didahului dengan penempatan “orang Hitler” menjadi bagian dari petinggi perusahaan tersebut (trustee).
Keluarga Rotschild misalkan. S. M. von Rotschild sebagai badan usaha perbankan milik keluarga yang masih akan eksis atas kekayaannya hingga kini, diambilalih secara paksa oleh keluarga von Finck melalui bank Merck- Finck.
Disamping beberapa keluarga Yahudi lainnya, terdapat upaya pengambilalihan yang cukup sulit akibat strategi pelapisan (layering) atas identitas pemilik sebenarnya (beneficial owners) suatu perusahaan.
Misalnya, upaya pengambilalihan usaha konglomerasi milik keluarga Petschek.
Keluarga tersebut telah merancang layering dengan menempatkan kepemilikan
15 Lihat: “Nazis Killed Her Father, Then She Fell in Love with One,”
https://www.nytimes.com/2019/06/14/business/reimann-jab-nazi-keurig-krispy-kreme.html, diunduh 06 Mei 2022.
badan usaha kepada United Continental Corporation (UCC) milik salah satu petinggi CIA, John Foster Dulles.16
Dulles yang namanya kerap berkaitan dengan pembunuhan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy; upaya kudeta terhadap pemerintahan Soekarno; dan pembasmian komunis di Indonesia, tampaknya memiliki latarbelakang yang kompleks pula.
Apakah peran Dulles melalui UCC tersebut mendorong pendirian Freeport di Papua?
Tentu ini menjadi pertanyaan pula.
Upaya penggemplangan pajak (tax evasion) juga sudah berlaku sejak lama di Jerman.
Misalnya, menghindari pajak warisan (inheritance tax) para pewaris sudah mewarisi hartanya sebelum ia meninggal atau malahan melakukan perpindahan domisili harta ke negara bebas pajak, seperi Luxemburg, Swiss, maupun Austria. Bahkan, beberapa keluarga ada yang menetapkan basis usahanya di negara tersebut.
Oleh karena itu, Karl Petscheck, mengungkapkan alasannya tidak dapat memberikan perusahaannya kepada Nazi berdasarkan alasan bahwa ia “bukanlah pemilik” perusahaan itu, melainkan ketiga perusahaan afiliasi tersebut.17
Keterlibatan salah satu private bank teranyar hingga kini, J. P. Morgan terhadap pengaburan konglomerasi Petscheck diketahui melalui rumor yang dipercayai.
Oleh karena kesulitan itulah, maka Hugo Dietrich (salah satu penasehat hukum von Flick selaku pihak yang ingin mengambilalih) memberi saran kepada pemerintahan Hitler untuk menempatkan trustee negara pada setiap perusahaan yang ingin diambil alih.
Hukum tersebut dikenal ddengan Decree Concering the Utilization of Jewish Assets yang berisi diperbolehkannya negara menempatkan trustee pada setiap perusahaan yang dianggap dimiliki atau berafiliasi dengan Yahudi dan
16 Lihat lebih lanjut keterlibatan Dulles pada upaya pembunuhan Presiden Amerika Serikat John F.
Kennedy pada: Greg Piulgrain, “JFK vs. Allen Dulles: Battleground Indonesia,” (Skyhorse Publishing:
New York, 2020).
17 Ibid., hlm. 125.
diperbolehkannya trustee tersebut menjual badan usaha meskipun sang pemilik menolak.18
Mungkin, hal ini mirip dengan apa yang terjadi di Indonesia. Misalnya, beberapa konglomerasi yang bergerak di bidang kebun sawit di Indonesia menancapkan kantor pusatnya di Singapura.
Rekonsiliasi di Jerman
Penaklukan Jerman oleh para sekutu menyebabkan adanya 2 negara yang mengadili kejahatan perang yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Meskipun, terdapat peradilan yang dilakukan oleh Perancis dan Jerman itu sendiri.19
David de Jong cenderung menganalisis proses peradilan yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat. Sedangkan analisisnya mengenai peradilan Uni Soviet, ia menulis bahwa ada kekhawatiran pihak Amerika Serikat terhadap peradilan yang diadakan oleh Uni Soviet yang cenderung tidak adil (terutama kepada para hartawan Jerman) karena pandangan mereka yang anti-kapitalis.20
Ketidakadilan menjadi hal yang tidak sesuai dengan latar belakang diadakannya peradilan oleh sekutu berdasarkan Perjanjian Potsdam yaitu: democratization, denazification, demilitarization, dan decartelization.21 Peradilan ada karena perjanjian antara tiga negara tersebut memberlakukan International Military Tribunal (IMT) di Nuremberg.
Keputusan hukuman mati dijatuhkan kepada beberapa pihak seperti Hermann Göring dan menteri luar negeri pemerintahan Hitler, Joachim von Ribbentrop.22
18 Ibid., hlm. 127.
19 Peradilan yang dilakukan oleh Jerman dilakukan di Kota Hannover dan Starnberg.
20 Lihat: de Jong, Nazi Billionaires, hlm. 210.
21 Ibid., hlm. 193.
22 Hermann Göring memutuskan untuk bunuh diri sebelum eksekusi dilaksanakan. Disamping itu, Robert Ley, selaku pemiliki Volkswagen memutuskan bunuh diri sebelum keputusan pemenjaraan atasnya dilakukan.
Banyak pihak yang terafiliasi denga Nazi bebas dari hukuman (denazification). Ada pula dari antara mereka yang dikaryakan untuk beberapa perusahaan anyar di Jerman. Misalnya, Werner Neumann yang ditunjuk untuk bergabung dengan kelompok usaha keluarga Quandt.
Menariknya, Neumann tampaknya belum mau berpisah dengan kejayaan Nazi. Ia terbukti menginfiltrasi sebuah partai politik di Jerman setelah diketahui oleh militer Inggris.
Di samping itu, Porsche merekut mantan ajudan Heinrich Himmler yang bernama Joachim Peiper. Ia ditunjuk sebagai kepala penjualan.
Bahkan saat ini dibentuk sebah organisasi Stille Hilfe (Bahasa Inggris: Silent Help) sebuah organisasi pertolongan bagi pihak maupun keturunannya yang pernah bergabung di organisasi sayap Nazi, SS.
Rekonsiliasi Aset yang Disita Nazi
Tampak terdapat usaha para hartawan Jerman berdarah Yahudi untuk meminta kembali aset yang diambil oleh Nazi sebelumnya. Misalkan, Baron von Rotschild meminta restitusi. Namun, ia hanya menerima sisa aset yang masih ada akibat aset bank miliknya telah dilkuidasi oleh Nazi.23
Disamping itu, keluarga Dreyfus menuntut kembali hartanya atas badan perbankan yang diambilalih Nazi. Mereka memperoleh segelintir saham pada perusahaan asuransi dan reasuransi anyar yang terafiliasi dengan pemerintahan Hitler, Allianz dan perusahaan reasuransi, Munich Re.24
Peugeot Mengambil Keuntungan dari Porsche
23 Ibid., hlm. 196.
24 Allianz dan Munich Re menjadi salah satu perusahaan yang diuntungkan atas aryanizaton.
Ferdinand Porsche dan Anton Piech sebelumnya telah dibebaskan sebelum diadili.
Namun demikian, mereka bepergian ke daerah penguasaan Perancis untuk urusan bisnis dan ditahan oleh pemerintahan Prancis untuk diadili kembali.25
Namun menariknya, upaya menarik kedua insinyur ke peradilan malahan menjadi ajang keluarga Peugeot untuk membela Porsche agar tidak diadili. Menurut de Jong alasan tersebut dilatarbelakangi rivalitas Porsche dan Renault.
Keterlibatan Porsche dianggap dapat mengurangi rivalitas kedua keluarga produsen otomotif anyar asal Prancis tersebut. Meskipun demikian, Porsche diminta untuk memberikan sejumlah nasehat terjait pengembangan Renault 4CV dalam masa pemenjaraannya.
Renault 4CV
(Sumber: https://images.autofun.co.id/file1/bb8b4bc85f5d42cc8c6e04401cb4e7ce_750x420.jpg, diunduh 06 Mei 2022)
Menariknya, Ferry Porsche dalam masa pengasingannya di Austria menancapkan
“ruh” pabrikan tersebut yang dikenal hingga kini, yakni sports car. Pada saat itulah, Porsche 356 dirancang.26 Penjualan mobil tersebut sangat sukses di kalangan orang berduit masa itu.27
Kebangkitan Ekonomi Jerman Barat dan Dorongan Pemerintahan Harry Truman Terhadapnya
25 Lihat: de Jong, Nazi Billionaires, hlm. 210- 211.
26 Porsche 356 menjadi salah satu mobil klasik yang cukup laku di jamannya dengan desain bodi yang abadi.
27 Ibid., hlm. 227.
Tekanan perang dialami Amerika Serikat seperti Perang Dingin dan Perang Korea.
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Harry Truman, membutuhkan sokongan produksi senjata yang memadai bagi militer Abang Sam tersebut. Disamping itu, baik negara Jerman Barat dan Jerman Timur memperoleh bantuan dana dari Amerika Serikat melalui program yang sama dengan bantuan terhadap Indonesia, yakni Marshall Plan.28
Begini, kelangkaan akan barang terjadi di Amerika Serikat akibat fokus pabrik di negara tersebut untuk memproduksi persenjataan. Oleh karena itu, pabrik di Jerman Barat menyanggupi untuk mengisi kelangkaan barang dan terjadilah peningkatan perekonomian di negara itu.
Partai Politik AfD dan Pandangannya
Keterlibatan pendanaan partai AfD (Alternative für Deutschland) cukup menarik untuk dibahas hingga kini. Partai yang berpandangan cenderung ke “kanan/ konservatif”
tersebut dikabarkan didanai oleh salah satu hartawan Jerman yang masa lalu keluarganya pernah terlibat dengan Nazi, von Finck.29
Menariknya, pendanaan partai tersebut juga melibatkan suatu perdagangan emas secara online.30 Perdagangan tersebut dilakukan ketika mata uang Euro mengalami penurunan.
Misalkan Perscilschein Itu Selalu Ada
Salah satu hal yang diperlukan untuk membersihkan identitas seseorang untuk dikatakan bersih dari Nazi berupa Persilschein (surat persil).31 Surat tersebut
28 Lihat: de Jong, Nazi Billionaires, hlm. 213.
29 Pandangan sayap kanan yang dimaksud cenderung anti imigran dan anti- Uni Eropa. Lihat: Ibid., hlm. 298.
30 Ibid., hlm. 302.
31 Ibid., hlm. 203.
diperoleh dengan pembuktian berupa adanya pernyataan pihak bahwa orang tersebut berkelakuan tidak terafiliasi dengan Nazi.
Anak- anak sebagai salah satu korban Perang Dunia II di Jerman
(Sumber: https://www.dw.com/en/what-germanys-postwar-refugees-taught-us-about-integration/a- 18575558, diunduh 05 Mei 2022)
Bagi beberapa perusahaan yang dikabarkan terkait dengan latar belakang peranan baik perusahaan tersebut maupun pengurusnya terhadap Nazi masih menjadi suatu ganjalan tersendiri.
Tidak seperti, pelekatan status “golongan terlarang” yang masih berlaku pada hukum di Indonesia. Pelekatan sebuah perusahaan terhadap Nazi menciptakan kerugian tersendiri. Ada beberapa pengurus perusahaan yang mencoba menjelaskan dengan kecenderungan bahwa masa lalu berbeda dengan masa yang akan datang. Ada pula pihak yang mengelak untuk memberikan komentar.
Namun demikian, terdapat fenomena pengurus perusahaan mencari “pembenaran”
dengan melibatkan sejarawan untuk menyelidiki keterlibatan baik masa lalu keluarganya maupun perusahaannya terhadap Nazi.32
Disamping itu, terdapat yayasan yang berasal dari usaha keluarga yang pernah terlibat dengan Nazi tersebut untuk mendanai sejumlah kegiatan akademik. Misalnya, keluarga Reimanns melalui Alfred Landecker Foundation mendanai sebuah program studi baru di Oxford University.
32 Ibid., hlm. 287.
Penutup
Bagaimana dengan rekonsiliasi di Indonesia? Tampaknya penyelesaian damai suatu kejahatan kemanusiaan tidak ditakdirkan bertemu hingga titik ujung.
Saya pun tak memberikan ajakan bagi pembaca sekalian untuk memahami maupun merefleksikan bacaan tersebut secara gamblang.
Bahwa ada sebuah fakta yang layak untuk disebarkan.
Setidak- tidaknya kita perlu memberikan waktu untuk melihat rincian tetek bengek mengenai sebuah fakta kemanusiaan.
Setidak- tidaknya.