1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Arktik merupakah salah satu dari lima samudera yang terdapat di bumi dan merupakan samudera yang paling kecil dan paling dangkal diantara lima samudera yang lain. Letak astronomis Arktik berada pada 90°00’ LU dan 0°00’
BT.1 Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh USGS (US Geological Survey) kekayaan alam berupa minyak, gas alam beserta gas cair berada di wilayah lingkaran Arktik. Arktik diperkirakan memiliki sekitar 30 persen sumber daya gas alam yang tersisa atau sekitar 44 miliar barel, dan 13 persen dari pasokan minyak yang belum dimanfaatkan atau sekitar 90 miliar barel.2
Arktik berada diantara negara-negara besar yang mengelilinginya yakni Amerika Serikat, Kanada, Norwegia, Denmark dan Rusia. Negara-negara tersebut melakukan klaim atas kepemilikan wilayah Arktik, dimana wilayah tersebut merupakan wilayah tidak bertuan. Klaim itu dilakukan karena masing-masing negara memiliki hak yang sama berdasarkan United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).3 Klaim dilakukan oleh negara-negara tersebut karena
1 IlmuGeografi.com, Samudera Arktik: Pengertian, Letak dan Karakteristik , diakses dalam https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/samudera/samudera-arktik/amp (30/1/2018,13:22 WIB)
2 Kenneth J. Bird et al., Circum-Arctic Resources Appraisal: Estimates of Undiscovered Oil and Gas North of the Arctic Circle, diakses dalam http://pubs.usgs.gov/fs/2008/3049/ (14/6/2015,12:20 WIB)
3 Arnold Stephan dan Idjang Tjarsono, Kebijakan Kanada Memperkuat Militernya di Samudera Arktik (2005-2013), Jurnal Online Mahasiswa Bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 1, No. 1 (2014), hal 2.
2
terdapat sumber minyak dan gas alam yang terkandung di Arktik yang dapat meningkatkan perekonomian negaranya.4
Rusia merupakan salah satu negara yang turut melakukan klaim atas wilayah Arktik. Arktik mulai menjadi prioritas utama dalam kebijakan luar negeri Rusia pada awal tahun 2000-an.5 Upaya Rusia dalam melakukan klaim kepemilikan wilayah Arktik disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Rusia kepada komisi PBB pada tahun 2001 bahwa wilayah perairan di lepas pantai utara adalah bagian dari wilayah maritim Rusia. Klaim tersebut didasari oleh formasi geologi di bawah laut, dikenal sebagai Pegunungan Lomonosov, merupakan perpanjangan dari landas kontinen Rusia.6 Untuk memperkuat klaimnya, pada tahun 2007 Rusia melakukan ekspedisi untuk menanamkan bendera nasional Rusia di dasar laut Arktik dengan menggunakan kapal selam yang dapat memecahkan es dan bertenaga nuklir.7
Mengingat disepanjang perbatasan itu terdapat banyak kekayaan alam yang melimpah, sehingga diperlukan untuk menjaga keamanan kegiatan ekonomi Rusia pada wilayah tersebut. Selain itu, dengan mencairnya wilayah Arktik membuka akses Rusia ke Samudera Arktik sehingga dapat dengan mudah melakukan perdagangan laut antara Utara Eropa dan Timur Laut Asia, karena rute
4 Kutub Utara, Arena Persaingan Baru, diakses dalam
http://indonesian.irib.ir/editorial/fokus/item/74829-Kutub_Utara,_Arena_Persaingan_Baru (14/6/2015,11:46 WIB)
5 Synthia Fawaati dan Idjang Tjarsono, Strategi Rusia Melalui Russia’s New Arctic Strategy 2008- 2013, Jurnal Transnasional, Vol. 5, No. 2 (2014), hal. 1, dalam Oleg Alexandrov, Labyrinths of the Arctic Policy: Russia Needs to Solve an Equation with Many Unknowns, Russia in Global Affair, Vol. 63, No. 3, (2009), hal. 110
6 BBC News, Bendera Rusia di dasar Arktik, diakses dalam http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/08/070802_russiaarcticoil.shtml
(14/6/2015,12:33 WIB)
7 BBC News, Loc.Cit.
3
tersebut dapat menghemat waktu dan biaya yang akan dikeluarkan.8 Kemudian pada tahun 2009 Rusia mengeluarkan kebijakan National Security Strategy to 2020, dimana dalam kebijakan tersebut didalamnya bertujuan untuk menjamin kemanan militer dengan rencananya membangun unit militer Rusia di kawasan Samudera Arktik.9
Banyaknya negara yang juga melakukan klaim kepemilikan atas wilayah Arktik membuat Rusia semakin banyak mengeluarkan kebijakan yang berfokus pada Arktik. Berbagai upaya dilakukan oleh Rusia dalam pengklaiman kepemilikan wilayah Arktik untuk memperluas batas wilayah Rusia. Kebijakan yang dikeluarkan oleh Rusia tidak serta merta dikeluarkan tanpa adanya pertimbangan yang dapat menguntungkan suatu negara.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dijelaskan, penulis akan membahas lebih lanjut mengapa Rusia mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dapat mengancam negara-negara sekitar Arktik yang lain. Maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu : Mengapa Rusia mengeluarkan kebijakan pengklaiman wilayah Arktik tahun 2001-2009?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
8 Charles M. Perry dan Bobby Andersen, 2012, New Strategic Dynamics in The Arctic Region, Washington DC: The Institute for Foreign Policy Analysis, hal. 52
9 Arnold, Op.Cit., hal. 3
4
1. Untuk mengetahui alasan, latar belakang serta kepentingan Rusia dalam mengeluarkan kebijakan luar negeri mengenai pengklaiman kepemilikan wilayah Arktik.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang membentuk kebijakan luar negeri Rusia dalam pngklaiman wilayah Arktik tahun 2001-2009.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi serta kontribusi bagi akademisi untuk mengetahui dan memberikan sumbangan pemikiran atau memperkaya konsep-konsep dan teori-teori yang berkaitan dengan analisa kebijakan luar negeri yang dilakukan oleh Rusia dalam pengklaiman wilayah Arktik.
1.4.2 Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan menjadikan pedoman sebagai bahan kajian para mahasiswa, khususnya studi Hubungan Internasional serta pemerhati masalah internasional khususnya tentang pengklaiman wilayah Arktik yang dilakukan oleh Rusia.
1.5 Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian ini, penulis akan menjelaskan beberapa literatur mengenai penelitian terdahulu guna melihat persamaan dan perbedaan dengan penelitian penulis. Sebelumnya juga telah dilakukan beberapa penelitian mengenai Rusia dan kaitannya dengan perebutan klaim wilayah Arktik ini yaitu pada penelitian yang pertama oleh Adindya Ayudya dengan judul Reaksi Kanada
5
dalam Menghadapi Tindakan Rusia Terkait Klaim Wilayah di Lingkaran Arktik tahun 2001-2012.10 Adindya menjelaskan mengenai reaksi Kanada sebagai negara yang juga berada di sekitar wilayah Arktik, menghadapi tindakan yang dilakukan oleh Rusia dalam klaim kepemilikan Arktik. Klaim Rusia terhadap wilayah tersebut menjadi yang terbesar dari semua negara yang berbatasan dengan Arktik, sehingga negara disekitar wilayah Arktik merasa ‘sensitif’ dengan Rusia saat mereka membuat akses ke sumber daya dalam wilayah tersebut dan menanam tiang bendera Rusia. Kanada yang biasanya merupakan negara yang tidak ingin ikut campur untuk berseteru dengan negara lain, akhirnya menjadi defensif dan merasa terancam karena pernyataan dan tindakan yang dilakukan oleh Rusia.
Kemudian pendekatan yang digunakan oleh Adindya dalam menganalisis penelitian tersebut adalah teori persepsi ancaman, teori geopolitik, dan teori neoliberalisme. Melalui teori-teori tersebut, Adindya menjelaskan bahwa Kanada melakukan reaksi dengan menyatakan menentang tindakan Rusia dalam menanam bendera Rusia di wilayah Arktik dan kemudian Kanada merilis kebijakan baru yang terkait Arktik, yaitu Intergrated Nothern Strategy untuk melindungi kedaulatan di wilayah Arktik.
Lebih lanjut menurut Adindya, dengan adanya sumber daya yang melimpah di wilayah Arktik, dapat menimbulkan ketegangan antara negara- negara yang merasa memiliki kepentingan di sekitar wilayah tersebut. Cadangan minyak yang mulai menipis, dapat berpotensi menjadikan negara-negara di sekitar wilayah Arktik akan berkonflik, terutama Kanada dan Rusia. Kanada yang
10 Adindya Ayudya, Reaksi Kanada dalam Menghadapi Tindakan Rusia Terkait Klaim Wilayah di Lingkaran Arktik tahun 2001-2012, Jurnal Analisis Hubungan Internasional, Vol. 2, No. 2 (2013)
6
awalnya negara yang tidak ingin ikut campur dengan urusan perseteruan kemudian menjadi merasa terancam karena Rusia yang pada awalnya mengeluarkan pernyataan bahwa kerjasama internasional itu penting untuk menjaga kedaulatan Arktik, baik itu kerjasama bilateral maupun multilateral.
Namun Rusia juga menyatakan bahwa juga akan ada kemungkinan ketegangan yang dapat berkembang karena potensi yang dimiliki oleh Arktik. Kemudian Rusia berkeinginan untuk membangun formasi militer khususnya di Arktik yang bertujuan untuk melindungi kepentingan Rusia yang dikhawatirkan akan ada masalah yang berkembang disekitar Arktik. Ketidak konsistennya perilaku Rusia tersebut mengakibatkan Kanada mengeluarkan kebijakan-kebijakan seperti mempromosikan stabilitas dan transparansi yang sejalan dengan hukum internasional, dimana kebijakan tersebut bertujuan untuk mendapatkan pengakuan internasional mengenai keberadaan dan posisinya di Arktik. Oleh karena itu, Kanada memperkuat militernya dan menunjukkan kekuasaannya yang berkaitan dengan segala aktivitas di Arktik.
Penelitian yang dilakukan oleh Adindya dan penulis memiliki persamaan yaitu fenomena yang diangkat, dimana penulis membahas mengenai analisa kebijakan yang dikeluarkan oleh Rusia tentang pengklaiman wilayah Arktik, sedangkan Adindya membahas mengenai reaksi Kanada dalam menghadapi kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Rusia terkait klaim di wilayah Arktik.
Selain Adindya, penelitian lain yang dilakukan oleh Synthia Fawaati dan Idjang Tjarsono dengan judul Strategi Rusia Melalui Russia’s New Arctic Strategy
7
(2008-2013) yang menjelaskan mengenai strategi yang dilakukan oleh Rusia melalui Russia’s New Arctic Strategy merupakan kebijakan yang dikeluarkan oleh Rusia untuk memperkuat klaim wilayah Arktik atas kepemilikannya.11 Kebijakan tersebut merupakan kebijakan yang pertama kali dikeluarkan oleh Rusia tentang kefokusan kebijakannya hanya pada satu wilayah, yakni wilayah Arktik. Rusia yang pada awalnya tidak pernah mengeluarkan kebijakan yang hanya fokus pada satu wilayah, kemudian mengeluarkan kebijakan yang hanya berfokus pada wilayah Arktik, membuat Rusia melakukan tindakan yang lebih signifikan atas wilayah Arktik. Rusia mengeluarkan kebijakan tersebut karena wilayah Arktik menjadi prospek terhadap sumber daya yang belum ditemukan di Arktik.
Synthia dan Idjang menggunakan perspektif realis dan teori Aktor Rasional oleh Graham T. Allison untuk menganalisa penelitian ini. Menggunakan perspektif realis karena menurut Synthia dan Idjang, sebuah negara menentukan pilihan tindakan sendiri sesuai dengan perhitungan rasional dimana perhitungan rasional tersebut dilakukan dengan mengolah dan mempertimbangkan keputusan yang akan diambil oleh suatu negara dan alasan mendasar sebuah negara yang menjalankan suatu kebijakan domestik maupun luar negeri karena adanya kepentingan nasional. Kemudian, berdasarkan teori Aktor Rasional, strategi Rusia dalam Russia’s New Arctic Strategy merupakan sebuah upaya Rusia yang telah dipertimbangkan karena banyaknya sumber daya yang terkandung di Arktik untuk meningkatkan perekonomian Rusia.
11 Synthia Fawaati dan Idjang Tjarsono, Strategi Rusia Melalui Russia’s New Arctic Strategy 2008-2013, Jurnal Transnasional, Vol. 5, No. 2 (2014)
8
Kemudian menurut Synthia dan Idjang, fokus kepentingan nasional Rusia pada Samudera Arktik dicapai melalui strategi yang meliputi strategi sumber daya alam, strategi Rute Laut Utara, strategi militer dan strategi keamanan lingkungan.
Strategi sumber daya alam ini dilakukan bertujuan memperoleh hak untuk mengeksplorasi kekayaan alam di Samudera Arktik. Kemudian strategi Rute Laut Utara dilakukan agar Rusia juga mendapatkan Rute Laut Utara diluar batas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE)-nya sehingga keberadaan regulasinya bisa diterapkan diseluruh wilayah tersebut. Strategi militer bertujuan untuk menjaga kedaulatan wilayah yang berbatasan langsung dengan Samudera Arktik serta mengintensifkan kegiatan yang berhubungan dengan sumber daya alam. Selanjutnya, strategi lingkungan yang bertujuan untuk melindungi ekosistem Rusia yang dikhawatirkan akan memunculkan resiko perubahan iklim global dan kegiatan ekonomi di Samudera Arktik.
Penelitian yang dilakukan oleh Synthia dan Idjang memiliki persamaan fenomena dengan penelitian penulis yakni mengenai analisa kebijakan Rusia dalam melakukan klaim di wilayah Arktik, namun perbedaannya terdapat pada penelitian Synthia dan Idjang yang berfokus pada kebijakan Russia’s New Arctic Strategy, sedangkan penulis berfokus pada alasan Rusia mengeluarkan kebijakan- kebijakan mengenai Arktik pada tahun 2001-2009.
Pada penelitian lainnya oleh Arnold Stephan dan Idjang Tjarsono dengan judul Kebijakan Kanada Memperkuat Militernya di Samudera Arktik tahun 2005-
9
2013.12 Negara-negara yang berada disekitar wilayah Arktik seperti Amerika Serikat, Kanada, Rusia, Norwegia dan Denmark memiliki hak untuk menyatakan klaimnya di wilayah Arktik, hal tersebut berdasarkan Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS). Rusia yang terlebih dulu memusatkan perhatiannya pada wilayah Arktik dengan memperkuat militernya membuat negara-negara disekitar Arktik tersebut memusatkan kebijakannya di Laut Arktik, tidak terkecuali Kanada.
Penelitian yang dilakukan oleh Arnold dan Idjang menggunakan pendekatan Neorealis yang menyatakan bahwa sikap manusia tidak ada hubungannya mengenai alasan suatu negara untuk mencapai kekuasaannya, melainkan struktur dan arsitektur sistem internasional yang mendorong negara untuk mencapai kekuasaannya, karena dalam system internasional tidak ada otoritas tertinggi diatas kekuasaan suatu negara. Oleh karena itu, suatu negara akan meningkatkan kekuatannya untuk melindungi diri apabila diserang oleh negara lain. Selain itu, Arnold dan Idjang juga menggunakan teori Aksi-Reaksi Model oleh Barry Buzan. Berdasarkan teori tersebut, Kanada memperkuat militernya di wilayah Arktik karena sebagai reaksi terhadap kebijakan Rusia yang menekankan penguatan militer di wilayah Arktik, oleh karena itu Kanada sebagai salah satu negara yang berada di kawasan Arktik merasa terancam dengan tindakan yang dilakukan oleh Rusia.
12 Arnold Stephan dan Idjang Tjarsono, Kebijakan Kanada Memperkuat Militernya di Samudera Arktik (2005-2013), Jurnal Online Mahasiswa Bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 1, No. 1 (2014)
10
Kekuatan militer merupakan instrument utama dalam sistem internasional dalam menjaga kedaulatan territorial suatu negara. Rusia yang mengeluarkan kebijakan untuk memperkuat kekuatan militernya di wilayah Arktik membuat Kanada terancam dengan kebijakan tersebut dan juga memperkuat militernya untuk menjaga kedaulatannya di wilayah Arktik dengan melakukan operasi militernya di wilayah Arktik, pada tahun 2005 dua kapal perang Kanada memasuki Teluk Hudson, tahun 2006 Kanada mulai mengeluarkan kebijakan untuk memperkuat kemanan di Utara Kanada, hingga pada tahun 2008 Kanada mengeluarkan kebijakan Canada First Defence Strategy, tahun 2009 Kanada kembali mengeluarkan kebijakan yang disebut dengan Canada’s Northern Strategy: Our North, Our Heritage, Our Future, dimana kebijakan tersebut untuk melindungi wilayah Kanada bagian Utara melalui pelaksanaan patroli pemerintah dengan meningkatkan pasukan di darat, di laut, dan di wilayah udara Kutub Utara.
Penelitian yang dilakukan Arnold dan Idjang memiliki kesamaan dengan penulis yaitu mengenai fenomena yang diangkat tentang kebijakan yang dikeluarkan oleh suatu negara untuk mempertahankan bahkan memperkuat keberadaan negaranya dalam wilayah Arktik, namun bedanya penelitian yang dilakukan oleh Arnold dan Idjang tentang kebijakan yang dikeluarkan oleh Kanada, sedangkan penulis mengenai kebijakan yang dikeluarkan oleh Rusia.
Penelitian selanjutnya oleh Rahmat Jiwandono dengan judul Kepentingan Rusia Mengeksplorasi Minyak di Laut Arktik.13 Penelitian yang dilakukan oleh Rahmat menjelaskan bahwa Rusia tetap mengeksplorasi minyak di Laut Arktik
13 Rahmat Jiwandono, 2014, Kepentingan Rusia Mengeksplorasi Minyak di Laut Arktik, Skripsi, Yogyakarta: Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
11
meskipun pada tahun 2010 segala hal yang berkaitan dengan penggunaan kekayaan alam di Laut Arktik telah diatur oleh Hukum Konvensi Laut. Selain itu, alasan Rusia tetap mengeksplorasi minyak di Arktik karena sebagai kawasan penyangga ekonomi dan strategis Rusia.
Penelitian yang dilakukan oleh Rahmat menggunakan perspektif realisme dan teori Geopolitik. Perspektif realisme digunakan dalam penelitian ini karena menurut Rahmat kepentingan mengeksplorasi minyak di Laut Arktik merupakan tindakan politik internasional karena kepentingan merupakan tujuan kekuasan suatu negara yang tidak dapat dihindarkan. Selain itu, Rahmat menggunakan teori Geopolitik, dapat dilihat dari keputusan Rusia yang mengamankan jalur akses laut potensial tertentu, dimana membutuhkan kehadiran pasukan militer untuk melakukan pengawasan dan pemeliharaan.
Penelitian yang dilakukan oleh Rahmat memiliki kesamaan dengan penulis yaitu mengenai kepentingan Rusia dalam melakukan klaim kepemilikan wilayah Arktik, namun perbedaannya dalam penelitian Rahmat berfokus pada sumber daya yang dimiliki oleh Arktik sehingga membuat Rusia melakukan klaimnya pada wilayah tersebut, sedangkan penulis berfokus pada latar belakang keputusan Rusia mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk melakukan klaim kepemilikan Arktik.
Penelitian terakhir yang direview oleh penulis yaitu penelitian yang dilakukan oleh Andri Zuhdi dengan judul Upaya Greenpeace Menyelamatkan
12
Arktik dari Kepentingan Pengeboran Minyak dan Gas Rusia.14 Penelitian ini menjelaskan tentang upaya yang dilakukan Greenpeace dalam menyelamatkan Arktik dari kepentingan pengeboran minyak dan gas oleh Rusia dimana Arktik merupakan wilayah kutub utara yang kaya akan kandungan minyak dan gas bumi didalamnya, dan lingkaran Arktik tersebut merupakan salah satu wilayah yang potensial untuk dieksplorasi kekayaannya. Meskipun begitu, wilayah Arktik merupakan salah satu daerah yang paling ekstrim di bumi, karena jika dieksplorasi dan eksploitasi kekayaannya akan menjadi sumber minyak yang mahal dan sulit yang pernah diproduksi di bumi. Namun dengan banyaknya sumber daya alam yang terkandung di daerah Arktik membuat Rusia sebagai salah satu negara yang berada dalam wilayah Arktik sangat berambisi terhadap klaim wilayah tersebut serta dengan adanya perubahan iklim mengakibatkan pencairan es wilayah Arktik lebih cepat sehingga memudahkan Rusia untuk melakukan akses Rusia ke Samudera Arktik. Selain itu, Rusia telah menjadikan Arktik sebagai fokus tujuan utama untuk kepentingan nasional negaranya.
Penelitian yang dilakukan oleh Andri menggunakan perspektif pluralisme dan teori Organisasi Internasional. Perspektif pluralisme digunakan karena menurut Andri kaum pluralis memandang bahwa hubungan internasional tidak hanya terbatas pada hubungan antar negara saja namun juga hubungan antara individu dan kelompok kepentingan dimana negara tidak selalu sebagai aktor utama dan aktor tunggal. Kemudian, Andri menggunakan teori Organisasi Internasional karena dalam penelitian ini Greenpeace merupakan aktor non-negara
14 Andri Zuhdi, Upaya Greenpeace Menyelamatkan Arktik dari Kepentingan Pengeboran Minyak dan Gas Rusia, Jurnal Online Mahasiswa FISIP, Vol. 3 No. 2 (2016)
13
yang dapat memainkan peranan dan fungsi sebagai organisasi internasional dan mengambil konsep peran dari teori Organisasi Internasional yang focus terhadap peranan dari NGO (Non-Governmental Organizations) mengenai konsep Enviromentalisme yang merupakan upaya untuk menyeimbangkan hubungan antara manusia dan berbagai sistem.
Kemudian hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Andri adalah Rusia yang telah memfokuskan tujuan utamanya terhadap Arktik membuat Rusia meningkatkan aktivitasnya di wilayah tersebut dan mengeksplorasi kekayaan yang terkandung di Arktik untuk perusahaan negara minyak dan gas bumi milik Rusia yakni Gazprom dan Rosneft. Adanya aktivitas berbahaya yang dilakukan, berpotensi terhadap perubahan lingkungan Arktik dan dunia. Tak terkecuali Rusia yang memiliki andil besar dalam isu perubahan lingkungan Arktik, yaitu pencemaran lingkungan dari transportasi lintas batas; degradasi lahan; perubahan dan penipisan keanekaragaman sumber daya hayati; kondisi makhluk hidup memburuk; efek samping dan ancaman perubahan iklim global. Kemudian, upaya Greenpeace untuk menyelamatkan wilayah tersebut yaitu melakukan kampanye;
teguran terhadap perusahaan; negosiasi Greenpeace dengan perusahaan;
melakukan monitoring, penelitian, evaluasi; meluncurkan laporan global; petisi penolakan; forum internasional; dan membentuk opini masyarakat internasional.
Penelitian yang dilakukan oleh Andri memiliki kesamaan dengan penulis yaitu mengenai Rusia yang sangat berambisi untuk melakukan klaim kepemilikan wilayah Arktik, namun bedanya penelitian yang dilakukan oleh Andri tentang upaya yang dilakukan Greenpeace setelah Rusia mengeluarkan kebijakan yang
14
mengakibatkan perubahan iklim dimana dapat merusak lingkungan Arktik sedangkan penulis berfokus pada latar belakang Rusia mengeluarkan berbagai kebijakan untuk melakukan klaim kepemilikan wilayah Arktik.
Dari lima penelitian terdahulu yang digunakan oleh penulis sebagai relevansi dengan penelitian yang dilakukan mengenai Analisis Kebijakan Luar Negeri Rusia dalam Pengklaiman Wilayah Arktik terdapat persamaan dan perbedaan didalamnya. Persamaannya yaitu sama-sama membahas mengenai isu perebutan wilayah Arktik oleh negara-negara sekitarnya. Kemudian perbedaan antara penulis dengan lima penelitian terdahulu tersebut yaitu pada negara yang melakukan klaim dan teori yang digunakan dalam meneliti masalah oleh peneliti terdahulu.
Tabel 1.1 Posisi Penelitian
No Judul dan Nama Peneliti
Jenis Penelitian dan Alat Analisa
Data
Hasil
1 Reaksi Kanada dalam Menghadapi Tindakan Rusia Terkait Klaim Wilayah di Lingkaran Arktik tahun 2001- 2012
Oleh: Adindya Ayudya
Eksplanatif Pendekatan:
Persepsi Ancaman, Geopolitik, Neoliberalisme
- Klaim yang dilakukan oleh Rusia menjadi yang terbesar dibandingkan dengan negara-negara di sekitar Arktik yang lain.
- Klaim yang dilakukan Rusia membuat negara- negara di sekitar wilayah Arktik terancam, salah satunya Kanada karena ketidak konsistenan Rusia dalam mengeluarkan pernyataan dan tindakan.
2 Strategi Rusia Melalui Russia’s New Arctic Strategy 2008-2013 Oleh: Synthia Faawati
Deskriptif Pendekatan:
Realisme, Rational Actor
- Kebijakan yang
dikeluarkan pertama kali oleh Rusia untuk fokus hanya pada satu wilayah - Strategi baru Rusia dalam
15
dan Idjang Tjarsono Model melakukan klaim di Arktik meliputi strategi sumber daya alam, Rute Laut Utara, militer dan lingkungan.
3 Kebijakan Kanada Memperkuat Militernya di Samudera Arktik (2005-2013)
Oleh : Arnold Stephan dan Idjang Tjarsono
Eksplanatif Pendekatan:
Neo-realis, Aksi- Reaksi Barry Buzan
- Kebijakan Kanada yang semakin meningkatkan kapastias militernya di wilayah Arktik
- Pengeluaran kebijakan yang dikarenakan merasa
terancam dengan
banyaknya negara lain yang
melakukan klaim
kepemilikan tersebut 4 Kepentingan Rusia
Mengeksplorasi Minyak di Laut Arktik Oleh : Rahmat Jiwandono
Deskriptif Pendekatan : Realisme, Teori Geopolitik
- Rusia tetap mengeksplorasi minyak di Laut Arktik meskipun telah diatur oleh Hukum Konvensi Laut - Rusia tetap mengeksplorasi
minyak di Arktik sebagai penyangga perekonomian negaranya
5 Upaya Greenpeace Menyelamatkan Arktik dari Kepentingan Pengeboran Minyak dan Gas Rusia
Oleh : Andri Zuhdi
Eksplanatif Pendekatan : Pluralisme, Teori Organisasi Internasional
- Rusia yang mengeksplorasi minyak dan gas bumi di Arktik mengakibatkan lingkungan di Artkik terganggu
- Greenpeace telah melakukan berbagai macam upaya agar Rusia meminimalisir kegiatannya di Arktik
16 6 Analisis Kebijakan
Luar Negeri Rusia dalam Klaim Wilayah Arktik 2001-2009 Oleh : Nova Lita Anggreani
Eksplanatif Pendekatan : Teori Kebijakan Luar Negeri William D.
Coplin
- Kekayaan kandungan yang terdapat di Arktik memiliki keuntungan bagi negara- negara disekitarnya, tidak terkecuali bagi Rusia yang dapat meningkatkan perekonomian negara dengan mengekspor sumber daya alam yang tersedia di Arktik
- Kebijakan luar negeri yang dikeluarkan Rusia dipengaruhi oleh konteks internasional, kondisi politik dalam negeri serta kondisi ekonomi dan militer Rusia
1.6 Kerangka Teori dan Konsep
1.6.1 Teori Kebijakan Luar Negeri William D. Coplin
Penjelasan kebijakan luar negeri William D. Coplin terdapat dalam bukunya dengan judul Pengantar Politik Internasional yang menjelaskan mengenai hal-hal yang mempengaruhi kebijakan luar negeri serta proses yang terjadi sebelum kebijakan tersebut dikeluarkan dan diimplementasikan.
Kebijakan luar negeri dibuat sebagai akibat dari pengaruh pertimbangan- pertimbangan tertentu yang terdapat didalamnya sebelum kebijakan tersebut dikeluarkan. Sehingga salah besar jika mengganggap bahwa para pengambil kebijakan luar negeri bersikap sembarangan tanpa mempertimbangan rasionalitasnya.
Menurut Coplin terdapat tiga konsiderasi yang memengaruhi para pengambil kebijakan luar negeri. Pertama, konteks internasional. Terdapat tiga
17
elemen penting dalam konteks internasional terhadap politik luar negeri suatu negara, yaitu geografis, ekonomis, dan politis. Tiga elemen tersebut berhubungan dengan lingkungan internasional suatu negara serta hubungan ekonomi dan politik antara negara itu dengan negara-negara lain.15 Kedua, kondisi politik dalam negeri. Kondisi politik dalam negeri dapat diartikan sebagai situasi yang terjadi di dalam negeri yang berkaitan dengan keputusan yang akan dikeluarkan. Pada kondisi ini berfokus pada hubungan antara para pengambil keputusan politik luar negeri dengan aktor-aktor politik dalam negeri yang memengaruhi perilaku politik luar negeri suatu negara.16 Pengambilan keputusan suatu negara tidak dapat dipisahkan oleh pengaruh dari policy influencers yang merupakan sumber dukungan bagi rezim pengambil keputusan. Para pemimpin suatu negara bergantung dengan keinginan anggota masyarakatnya untuk memberi dukungan. Dukungan dari policy influencers dapat membuat para pengambil keputusan memiliki jabatan yang lebih pasti dan dengan mudah melaksanakan kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan dengan menggunakan sumber-sumber dari policy influencers.17
Di sisi lain, policy influencers juga membutuhkan para pengambil keputusan. Kebutuhan tersebut berupa tuntutan-tuntutan kepada para pengambil keputusan untuk memperlancar jalan politik dalam negeri maupun politik luar negeri. Jika tuntutan tidak terpenuhi, maka para pengambil
15 William D. Coplin, 2003, Pengantar Politik Internasional: Suatu Telaah Teoritis, Bandung:
Sinar Baru Algensindo, hal. 165
16 Ibid., hal. 74
17 Ibid., hal. 76
18
keputusan dapat kehilangan dukungan baik secara sebagian maupun seluruhnya. Tuntutan policy influencers dalam negara demokrasi dapat berupa pemberian suara sedangkan dalam negara autokrasi dapat berupa wadah yang bersifat nonpublik. Para pengambil keputusan dapat menanggapi tuntutan- tuntutan dari policy influencers dengan menerima atau menolaknya tuntutan tersebut.18
Dalam policy influencers terdapat 4 (empat) tipe yaitu Bereaucratic Influencers, Partisan Influencers, Interest Influencers, dan Mass Influencers.
Pertama, yaitu bureaucratic influencers atau birokrat yang memengaruhi, yaitu menunjuk pada berbagai individu maupun organisasi dalam lembaga eksekutif pemerintah yang bertugas untuk membantu para pengambil keputusan dalam menyusun dan melaksanakan kebijakan. Anggota birokrasi juga terkadang merupakan anggota kelompok pengambil keputusan, sehingga sulit untuk membedakan batasan yang jelas antara birokrat dan para pengambil keputusan. Oleh sebab itu, kelompok birokratis sangat berpengaruh dalam proses pengambilan kebijakan.19
Dalam sistem politik tertutup dan terbuka, bureaucratic influencers tidak terlalu banyak memiliki perbedaan, karena dalam kedua sistem tersebut kelompok birokratis beroperasi dibelakang layar dengan pemberian informasi untuk mengambil keputusan dan digunakan sebagai instrumen bagi pelaksanaan keputusan tersebut. Pengaruh dalam peroses pengambilan keputusan ditentukan oleh kepercayaan kelompok-kelompok birokratis kepada
18 Ibid.
19 Ibid., hal 82
19
para pemimpin puncak. Oleh karena itu, dalam sistem politik terbuka dukungan rakyat kurang berperan dalam upaya kelompok birokratis untuk memengaruhi kebijakan.20
Kedua, yaitu partisan influencers atau partai-partai yang memengaruhi, yaitu memiliki upaya untuk memengaruhi kebijakan dengan cara menekan para penguasa dan dengan menyediakan personel-personel yang bisa berperan dalam pengambilan keputusan. Partisan influencer ini bertujuan untuk menerjemahkan tuntutan-tuntutan masyarakat menjadi tuntutan-tuntutan politis, yaitu tuntutan para pengambil keputusan yang menyangkut kebijakan- kebijakan pemerintah.21 Dalam sistem politik tertutup, partisan influencer bisa dipandang sebagai kelompok politik yang melanggar hukum maupun sebagai bagian dari satu partai. Dalam negara autokrasi yang hanya memiliki satu partai, dalam partai tersebut terdapat memiliki banyak kepentingan dan komitmen yang berbeda-beda, namun karena persatuan partai dianggap sebagai norma suci dalam sistem satu partai, maka perbedaan kepentingan tersebut dirahasiakan. Dalam partai tersebut sering terjadi perbedaan pendapat dalam berbagai isu dan ketidaksepakatan dalam partai, namun hanya diekspresikan sebelum keputusan akhir berhasil dicapai. Partisan influencers dapat memengaruhi kebijakan secara besar-besaran hanya pada saat kebijakan tersebut belum diresmikan.
Dalam sistem politik terbuka, partisan influencers sering ditemui seperti bekerjasama dengan dua partai atau mungkin lebih karena mereka
20 Ibid., hal 83
21 Ibid., hal.84
20
mengganggap bahwa lebih baik membentuk banyak partai. Namun dalam sistem dua partai atau multi partai terdapat beragam pandangan dalam menanggapi setiap isu. Jika disiplin kepartaian lemah, maka berbagai pandangan tersebut akan diekspresikan secara terbuka dan pemberian suara di lembara legislatif harus diadakan tanpa mempertimbangkan garis-garis kepartaian. Sebaliknya, jika disiplin kepartaian cukup kuat, maka berbagai pandangan tersebut mungkin dihasilkan dalam perdebatan di dalam partai dan jarang terjadi pada pemberian suara untuk menentang kebijakan-kebijakan yang disetujui oleh partai.22
Ketiga, yaitu interest influencers atau kepentingan yang memengaruhi, yaitu influencers yang terdiri atas sekelompok orang yang tergabung karena memiliki kepentingan yang sama, namun belum seluas aktivitas kelompok partai, tetapi sangat dibutuhkan untuk menyerahkan sumber-sumber untuk mendapat dukungan dari policy influencer atau pengambil keputusan yang lain. Kepentingan ini dapat bersifat ekonomis, etnis atau geografis dengan menggunakan tindakan kolektif.23 Dalam sistem politik tertutup, interest influencers harus menjalankan kepentingannya di belakang layar, terutama di negara-negara yang menganut satu partai karena peraturan dalam sistem politik tersebut tidak memungkinkan untuk memiliki keberagaman kepentingan.
Dalam sistem politik terbuka, interest influencers memiliki peran yang lebih besar. Seperti banyaknya organisasi dan kelompok informal yang
22 Ibid., hal. 85
23 Ibid., hal. 87
21
mewakili berbagai kepentingan, baik bersifat ekonomis maupun non- ekonomis. Kelompok-kelompok interest influencers biasanya memiliki sumber finansial yang besar sehingga mampu untuk memengaruhi partisan influencers, bureaucratic influencers, bahkan para pengambil keputusan.
Untuk membentuk dukungan dalam kepentingan mereka, interest influencers memiliki beberapa teknik, salah satunya yaitu mereka dapat menjanjikan dukungan finansial atau mengancam akan menarik kembali dukungan mereka.24
Keempat, yaitu mass influencers atau masyarakat yang memengaruhi, yaitu influencers mengacu kepada berbagai opini yang dimiliki oleh populasi manusia kemudian dipertimbangkan oleh para pengambil keputusan pada saat menyusun politik luar negeri.25 Dalam sistem politik tertutup, sikap mass influencers sangat dipengaruhi oleh para pengambil keputusan dengan membangun opini agar mendukung kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh para pengambil keputusan dengan menggunakan media komunikasi massa seperti radio, televisi, dan surat kabar. Karena dalam sistem politik tertutup berbagai media massa dikontrol dari atas, dan kebebasan berpendapat biasanya dibatasi melalui sensor, maka dalam sistem politik tertutup, para pengambil keputusan lebih mudah untuk memanipulasi opini massa dibandingkan dengan sistem politik terbuka.
Dalam sistem politik terbuka, berbagai opini lebih terbuka dan lebih bebas sehingga sulit untuk dimanipulasi langsung oleh para pengambil
24 Ibid.
25 Ibid., hal. 88
22
keputusan. Dalam halnya negara demokrasi yang memiliki sistem politik terbuka, massa dapat menerima informasi dari berbagai sumber media komunikasi massa, namun tidak memungkiri bahwa kadang-kadang informasi yang didapatkan ditata kembali oleh para pengambil keputusan dengan cara menyembunyikan informasi tertentu. Mass influencer yang diperlukan oleh para pengambil keputusan dalam sistem politik terbuka, yaitu pada saat pemilu, karena berbagai informasi yang diberikan oleh opini publik mengenai para pengambil keputusan dapat berpengaruh pada hasil akhir pemilu.26
Konsiderasi terakhir yang memengaruhi para pengambil kebijakan luar negeri yaitu kemampuan ekonomi dan militer. Ekonomi dan militer merupakan dua sektor yang saling berkaitan dalam suatu negara, ekonomi dan militer dapat berubah dan tumbuh tergantung pada kondisi teknologi dan sosial. Biasanya negara yang memiliki tingkat industri yang tinggi adalah negara yang memiliki standar hidup paling tinggi dan pada umumnya merupakan negara militernya paling kuat. Sehingga perkembangan industri berfungsi sebagai penghubung yang penting antara sektor ekonomi dan sektor militer pada suatu negara.27 Untuk itu sektor ekonomi dan militer dapat menjadi pertimbangan sebelum keputusan dikeluarkan karena faktor tersebut dapat mempertahankan keamanan suatu negara.
Lebih jelasnya mengenai tiga konsiderasi yang mempengaruhi keputusan politik luar negeri, dapat dilihat dari model yang telah digambarkan oleh Coplin untuk mempermudah penjelasan bagaimana proses pengambilan
26 Ibid., hal. 89
27 Ibid., hal. 114
23
keputusan luar negeri dirumuskan beserta hal-hal yang memengaruhinya.
Model tersebut dapat dilihat dari gambar dibawah ini.
Gambar 1.1
Faktor Pengaruh Pengambilan Kebijakan Luar Negeri William D.
Coplin
Sumber: William D. Choplin, 2003, Pengantar Politik Internasional: Suatu Telaah Teoritis, Bandung: Sinar Baru Algensindo, hal.30.
Pada penelitian ini difokuskan pada konteks internasional, kondisi politik dalam negeri serta kondisi ekonomi dan militer, dimana ketiga faktor tersebut sesuai dengan apa yang melatarbelakangi Rusia mengeluarkan kebijakan untuk pengklaiman kepemilikan wilayah Arktik. Untuk memudahkan dalam implementasi teori ini pada isu yang dibahas oleh penulis,
Politik dalam negeri
Pengambil keputusan
Tindakan politik luar negeri
Kondisi ekonomi dan
militer
Konteks internasional (suatu produk tindakan politik
luar negeri seluruh negara pada masa lalu,
sekarang, dan masa depan yang
mungkin atau yang diantisipasi)
24
maka berikut adalah model tiga konsiderasi yang berpengaruh pada keputusan luar negeri Rusia dalam melakukan klaim kepemilikan wilayah Arktik.
Gambar 1.2
Faktor Pengaruh Kebijakan Luar Negeri Rusia dalam Pengklaiman Arktik
Faktor pertama yang dapat mempengaruhi kebijakan luar negeri yaitu konteks internasional, menurut Coplin terdapat tiga elemen penting dalam konteks internasional terhadap politik luar negeri suatu negara yaitu geografis, ekonomis dan politis. Pertama, geografis merupakan bagian yang penting dalam konteks internasional karena kedekatan geografis dapat berhubungan
Gazprom sebagai interest influencer yang memengaruhi
Rusia dalam mengambil
keputusan
Pengambil keputusan
Tindakan politik luar negeri
Salah satu negara GNP terbesar dan salah satu negera militer terkuat di
dunia
Persaingan antar negara yang memiliki sumber
daya gas alam dan minyak terbesar di dunia
25
dengan perdagangan antar negara. Demikian juga dengan Rusia yang merupakan salah satu negara yang menjadi bagian dari Arktik, dimana sebesar 200 mil wilayah Arktik berada dalam landas kontinen Rusia, sehingga membuat Rusia memiliki peran untuk menggunakan wilayah tersebut untuk menjalankan perdagangan antar negara.
Kedua, kondisi ekonomi melalui persaingan yang dilakukan oleh negara-negara yang memiliki sumber daya alam minyak dan gas alam terbesar dengan memperebutkan pangsa pasar dunia dan membuat negara-negara lain ketergantungan dengan melakukan impor pada negara yang memiliki minyak dan gas alam terbesar. Terakhir, hubungan politik penting dalam konteks internasional terhadap politik luar negeri untuk menjadi negara yang memiliki power dan diakui oleh dunia. Hubungan politik yang dimaksud seperti Rusia yang menyadari bahwa peta politik dunia yang multipolar karena banyak negara yang mengekspansi minyak dan gas alam maka Rusia memutuskan untuk mengeksplorasi Arktik.
Faktor kedua yaitu kondisi politik dalam negeri dapat memengaruhi pengambilan keputusan berdasarkan stabilitas atau instabilitas dalam negara.
Kondisi politik domestik di Rusia yaitu kepentingan pemerintah Rusia dalam mengambil keputusan yang dipengaruhi oleh interest influencers yaitu Gazprom sebagai perusahaan gas alam terbesar yang dijadikan sebagai policy influencers dalam menekan kebijakan pengklaiman Arktik untuk menjadikan kembali negara pecahan Uni Soviet sebagai negara Great Power dan memelihara identitas nasional Rusia ditengah peningkatan arus globalisasi
26
yang semakin terbuka dan transparan dengan melalui produksi gas alam terbesar di dunia.28
Faktor terakhir yang berpengaruh dalam pengambilan kebijakan yaitu kondisi ekonomi, cara mengetahui pendapatan suatu negara dapat dilihat dari konsep Gross National Product (GNP) yang gunanya untuk mengukur nilai seluruh barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara dalam jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun.29 Rusia merupakan salah satu negara yang memiliki pendapatan nasional tertinggi di dunia, Rusia memiliki pendapatan yang dapat dilihat dari GNP pertahunnya hingga tahun 2015 terus meningkat menjadi 65.166.840,30 Rubel Rusia atau sekitar USD 1.155.966,88 per tahun.30 Lalu, menurut Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) Rusia merupakan salah satu negara yang memiliki cadangan gas alam terbesar di dunia.31 Sehingga penghasilan yang didapatkan oleh Rusia besar pengaruhnya dari pengeksporan gas alam yang dimilikinya dan untuk memperbanyak sumber daya alam negara dalam pengeksporan maka Rusia melakukan klaim kepemilikan atas wilayah Arktik.
Selain dari kondisi ekonomi, juga ada kondisi militer yang dapat mempengaruhi keputusan luar negeri suatu negara, kekuatan militer dapat dilihat dari tiga kriteria terpenting yaitu: (1) jumlah pasukan, (2) tingkat
28Antaranews.com, Kebangkitan Rusia : determinasi dan paragmatisme Putin, diakses dalam https://www.antaranews.com/berita/399175/kebangkitan-rusia-determinasi-dan-pragmatisme-putin (22/1/2019,19.50 WIB)
29 William D. Coplin, Op.Cit, hal.115
30 Trading Economics, Produk Nasional Bruto-Daftar Negara, diakses dalam
https://id.tradingeconomics.com/country-list/gross-national-product (28/2/2018,15.44 WIB)
31 Organization of the Petroleum Exporting Countries, 2015, Annual Statistical Bulletin, hal. 94
27
pelatihan (3) sifat perlengkapan militernya.32 Jadi, kekuatan militer berkaitan dengan jumlah tentara, kualitas perlengkapan serta tingkat keterlatihan.
Namun, jika dilihat dari perang khusus seperti perang nuklir dan perang gerilya, maka jumlah tentara kurang berarti jika dibandingkan dengan jenis perlengkapan dan tingkat keterlatihan.
Rusia merupakan negara yang dimana negara-negara lain patut untuk merasa insecure dengan keadaan militer Rusia. Rusia merupakan negara yang memiliki nuklir dan kondisi militer Rusia terpenuhi dalam tiga kriteria kekuatan militer yaitu jumlah pasukan, tingkat pelatihan dan sifat kelengkapan militer. Pertama, jumlah pasukan aktif tentara Rusia hingga tahun 2017 mencapai 4 juta pasukan aktif dimana jumlah pasukan tersebut lebih banyak dibandingkan pasukan tentara Amerika Serikat yang merupakan negara militer terkuat diseluruh dunia yang hanya memiliki 2,5 juta pasukan aktif. Kedua, tingkat pelatihan para pasukan tentara Rusia yang memiliki keterampilan teknis dalam menggunakan mesin perang dan para pasukan yang dengan tepat mengambil keputusan saat kondisi perang. Terakhir yaitu jenis perlengkapan dalam militer, Rusia memiliki perlengkapan militer jumlah tank mencapai 15 ribu tank, 3000 jet tempur dan 60 kapal selam untuk mempertahankan keamanan negaranya.33
Kondisi militer Rusia kemudian semakin meningkat dengan adanya kebijakan luar negeri tentang Arktik. Ekplorasi Arktik membutuhkan
32 William D. Coplin, Op.Cit. hal.124
33 Sindonews.com, Indonesia Masuk 20 Besar Militer Terkuat di Dunia, diakses dalam https://international.sindonews.com/read/1189393/42/indonesia-masuk-20-besar-militer-terkuat- di-dunia-1489764210 (27/2/2018,10:23 WIB)
28
infrastruktur yang kuat dengan teknologi yang canggih agar tetap dapat mempertahankan kondisi lingkungan Arktik tanpa merusak ekosistem laut dan mencegah ketidaksengajaan minyak tumpah ke laut Arktik. Kemudian, militer Arktik juga dapat meningkat dengan pelatihan terus menerus dan mempelajari pendidikan khusus tentang Arktik untuk meningkatkan kualitas pasukan Angkatan Laut Rusia di Arktik.
1.7 Metodologi Penelitian 1.7.1 Metode Penelitian
Pada penelitian ini, penulis menggunakan tipe penelitian eksplanatif yakni suatu penelitian yang bertujuan untuk dapat menjelaskan suatu fenomena yang terjadi dan penjelasan tersebut merupakan upaya menjawab pertanyaan “mengapa” sebagai salah satu ciri metode penelitian eksplanatif.34 1.7.2 Level Analisa
Terdapat unit analisa dan unit eksplanasi dalam penelitian ini guna memfokuskan arah penelitian. Unit analisa dalam penelitian ini yaitu alasan Rusia mengeluarkan kebijakan klaim kepemilikan Arktik yang tergolong dalam level negara dan unit eksplanasinya yaitu politik luar negeri Rusia dalam pengklaiman kepemilikan Arktik yang juga tergolong dalam level negara. Adapun model yang digunakan yakni model korelasionis, dimana unit analisa dan unit eksplanasi memiliki level yang seimbang.
34 Mohtar Mas’oed, 1990, Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi, Jakarta: PT Pustaka LP3ES, hal. 261.
29 1.7.3 Teknik Analisa Data
Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa data kualitatif. Data yang akan didapatkan mengenai fenomena yang akan diteliti akan dikumpulkan dan dianalisis secara lengkap, kemudian akan dijelaskan dalam bentuk eksplanatif yang berdasarkan oleh kerangka teori yang digunakan oleh penulis.
1.7.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk penelitian eksplanatif yang diterapkan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research). Dalam teknik ini penulis mengumpulkan data yang telah terjamin validitasnya, baik berupa buku ataupun literatur yang menyangkut tentang fenomena yang diangkat.
1.7.5 Ruang Lingkup Penelitian 1.7.5.1 Batasan Materi
Pada penelitian ini, penulis membatasi ruang lingkup penelitian yaitu pada pemahaman alasan, latar belakang, kepentingan beserta faktor-faktor yang menentukan Rusia mengeluarkan kebijakan pengklaiman wilayah Arktik.
1.7.5.2 Batasan Waktu
Penelitian ini akan terbatas mulai pada tahun 2001 saat Rusia mulai memfokuskan kebijakannya untuk Arktik hingga tahun 2009 dengan berbagai macam kebijakan yang dikeluarkan, dimana pada
30
kebijakan itu pula Rusia menempatkan Arktik sebagai fokus tujuan nasional Rusia.
1.8 Hipotesa
Menurut teori Pengambilan Keputusan Luar Negeri oleh William D.
Coplin terdapat tiga konsiderasi yang memengaruhi kebijakan luar negeri suatu negara yaitu konteks internasional, kondisi politik dalam negeri, serta kondisi ekonomi dan militer. Begitu juga dengan Rusia dalam mempertimbangkan keputusan untuk mencapai kepentingan nasional negaranya, maka Rusia mengeluarkan kebijakan yang berfokus hanya pada wilayah Arktik pada tahun 2001-2009, dimana kebijakan tersebut dipengaruhi oleh faktor konteks internasional, yaitu Rusia yang bersaing dengan negara-negara yang memiliki sumber daya minyak dan gas alam terbesar untuk memperebutkan pangsa pasar minyak dan gas alam dunia. Untuk mempertahankan negaranya sebagai salah satu negara adidaya di dunia, maka Rusia akan melakukan segala sesuatu untuk mempertahankan posisi negaranya. Dalam kondisi politik dalam negeri, kebijakan klaim wilayah Arktik dipengaruhi oleh Gazprom sebagai interest influencers yang menekan pemerintah Rusia dalam memutuskan kebijakan yang berdasarkan pada keinginannya dalam menjadikan Uni Soviet kembali berjaya di Eropa Timur, khususnya untuk negara bekas pecahan Uni Soviet untuk meningkatkan stabilitas negara seiring dengan perkembangan arus globalisasi yang semakin terbuka dan transparan dengan cara meningkatkan produksi hasil sumber daya alam, sehingga Gazprom selalu menjadi perusahaan terbesar dengan pemasokan gas alam tertinggi di dunia. Kemudian dari kondisi ekonomi dan militer yang dapat
31
menguntungkan negara, keuntungan yang didapatkan oleh Rusia dapat meningkatkan perekonomian negara Rusia dengan kandungan yang terdapat di Arktik melalui pengeksporan sumber daya alam tersebut, dan dapat meningkatkan kekuatan militer Rusia dengan mengembangkan segala kebutuhan pangkalan militer di Samudera Arktik baik dari segi infrastruktur maupun pelatihan terus menerus untuk meningkatkan kualitas pasukan Angkatan Laut Rusia di Arktik untuk menjaga dari serangan-serangan negara lain yang turut memperebutkan wilayah Arktik.
1.9 Sistematika Penulisan
Pada penelitian ini, penulis membagi menjadi 4 (empat) bab untuk memudahkan dalam memetakan dan menjelaskan penelitian yang diangkat. Pada BAB I berisi Pendahuluan yang dijelaskan mulai dari latar belakang masalah yang diteliti hingga hipotesa penulis dalam mengimplementasikan fenomena yang diangkat dengan teori yang digunakan, kemudian pada akhir bab diberikan sistematika penulisan untuk mengetahui apa saja yang dibahas dalam penelitian ini. Kemudian, BAB II berisi data-data yang mendukung penulis dalam meneliti tentang Arktik dan Rusia yang bertujuan untuk memperkuat analisa penulis. Pada BAB III merupakan analisa penulis mengenai implementasi teori yang digunakan dengan fenomena yang diangkat melalui data-data yang valid meliputi kondisi domestik Rusia, kondisi ekonomi Rusia, kondisi militer Rusia dan konteks internasional yang memengaruhi pengambilan keputusan Rusia. Terakhir yaitu BAB IV merupakan Penutup yang berisi tentang kesimpulan dari penelitian dan
32
saran untuk peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian yang mengangkat fenomena yang sama dengan penulis.
Untuk lebih jelasnya, sistematika penulisan dari penelitian dapat dilihat dari tabel berikut :
No. BAB ISI BAB
1 BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuaan Penelitianhi 1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Praktis 1.4.2 Manfaat Akademis 1.5 Penelitian Terdahulu
1.6 Kerangka Teori dan Konsep 1.7 Metodologi Penelitian
1.7.1 Metode Penelitian 1.7.2 Level Analisa
1.7.3 Teknik Pengumpulan Data 1.7.4 Ruang Lingkup Penelitian
1.7.4.1 Batasan Materi 1.7.4.2 Batasan Waktu 1.8 Hipotesa
1.9 Sistematika Penulisan 2 BAB II Arktik dan Rusia
2.1 Gambaran Umum Arktik 2.2 Arti Penting Arktik bagi Rusia 2.3 Kebijakan-Kebijakan Rusia
dalam Klaim Arktik
3 BAB III Analisa Kebijakan Rusia terhadap Arktik
3.1 Konteks Internasional yang Memengaruhi Pengambilan Keputusan Rusia
3.2 Kondisi Politik Dalam Negeri Rusia
3.3 Kondisi Ekonomi Rusia 3.4 Kondisi Militer Rusia 4 BAB IV Penutup 4.1 Kesimpulan
4.2 Saran