• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PERBANDINGAN TINGKAT KESEHATAN BANK DENGAN MENGGUNAKAN METODE RGEC PADA PT BANK CIMB NIAGA TBK DAN PT BANK PAN INDONESIA TBK PERIODE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PERBANDINGAN TINGKAT KESEHATAN BANK DENGAN MENGGUNAKAN METODE RGEC PADA PT BANK CIMB NIAGA TBK DAN PT BANK PAN INDONESIA TBK PERIODE"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERBANDINGAN TINGKAT KESEHATAN BANK DENGAN MENGGUNAKAN METODE RGEC

PADA PT BANK CIMB NIAGA TBK DAN

PT BANK PAN INDONESIA TBK PERIODE 2014-2018

1

Febriana Candra Dewi

2

Abednego Priyatama

1,2Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma, Jl. Margonda Raya No. 100, Depok 16424, Jawa Barat

1[email protected]

2[email protected]

ABSTRAK

Dalam dunia perbankan, tingkat kesehatan bank merupakan salah satu unsur yang penting dalam keberlangsungan hidup sebuah lembaga perbankan. Tingkat kesehatan bank yang sehat akan memberikan manfaat besar bagi bank untuk dapat memperoleh kepercayaan nasabah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesehatan Bank pada Bank CIMB Niaga dan Bank Panin periode 2014-2018 dengan menggunakan metode RGEC. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesehatan bank pada Bank CIMB Niaga dan Bank Panin periode 2014-2018 memperoleh: (1) Bank CIMB Niaga dengan rasio NPL dan LDR dalam kurun waktu lima tahun dinyatakan cukup sehat terbukti memperoleh rata-rata 3,63% dan 99,82%. Sedangkan Bank Panin dalam kurun waktu lima tahun dinyatakan sehat dengan bukti rata-rata rasio NPL sebesar 2,71% dan memperoleh rasio LDR kurang sehat terbukti dengan memperoleh rata-rata 111,71%. (2) Hasil penilaian Good Corporate Governance (GCG) Bank CIMB Niaga dan Bank Panin pada tahun 2014-2018 dinyatakan baik. (3) Bank CIMB Niaga memperoleh NIM 4,09% dinyatakan sehat, dan Bank Panin memperoleh NIM 6,09% dinyatakan sangat sehat. Sedangkan untuk rasio ROA kedua bank dinyatakan sehat. Nilai rata-rata yang diperoleh kedua bank tersebut yaitu 1,26% dan 1,70%. (4) Hasil penilain Capital (permodalan) Bank CIMB Niaga dan Bank Panin selama tahun 2014-2018 berada dalam kondisi sangat sehat dengan nilai rata-rata CAR kedua bank dalam kurun waktu lima tahun berturut-turut adalah 17,61% dan 20,64%.

Kata Kunci: Kesehatan Bank, RGEC

PENDAHULUAN

Tingkat kesehatan bank dapat dinilai dari beberapa indikator, salah satu sumber utama indikator yang dijadikan dasar penilaian adalah laporan keuangan bank yang bersangkutan. Laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu.

Laporan keuangan dibuat dengan maksud untuk memberikan gambaran atau laporan kemajuan yang secara periodik dilakukan pihak manajemen perusahaan yang bersangkutan. Dengan kata lain laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakainya dalam pengambilan keputusan. Dari laporan keuangan akan terbaca bagaimana kondisi bank yang sesungguhnya, termasuk kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Berdasarkan laporan keuangan akan dapat dihitung sejumlah rasio yang lazim dijadikan dasar penilaian tingkat kesehatan bank.

(2)

KERANGKA TEORI

Perbankan

Perbankan dikenal pada zaman Babylonia, kegiatan perbankan kemudian berkembang ke zaman Yunani Kuno serta zaman Romawi. Pada saat itu perbankan hanya lebih bersifat tukar menukar uang, sehingga orang yang melakukannya disebut pedagang uang. Kemudian usaha ini berkembang dengan menerima tabungan, menitipkan ataupun meminjamkan uang dengan memungut bunga pinjaman. Setelah zaman Yunani, muncul usaha bank Romawi yang operasinya lebih luas lagi, yaitu tukar menukar mata uang, menerima deposito dan memberikan kredit. Kegiatan perbankan tidak terlepas dari perkembangan perdagangan, seiring dengan perkembangan perdagangan dunia, maka perkembangan perbankan pun semakin pesat. Perkembangan yang mulanya hanya berada di kawasan Eropa akhirnya menyebar ke Asia Barat.

Bank menurut Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya ke masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak. Secara sederhana bank diartikan sebagai lembaga yang kegiatan usahanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa-jasa bank lainnya (Kasmir, 2004).

Berdasarkan peraturan BI No.9/7/PBI/2007, Bank Umum dapat didefinisikan sebagai bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sedangkan pengertian bank menurut Kasmir (2012:12) adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dana tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa bank lainnya seperti jasa setoran, jasa pembayaran, jasa pengiriman uang, jasa penagihan dan jasa kliring.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat dikemukakan bahwa bank adalah suatu lembaga keuangan sebagai tempat penitipan atau penyimpan uang penyalur atau perantara kredit, pencipta uang giral dan pemberi jasa dalam lalu lintas pembayaran serta sebagai pengedar uang.

Laporan Keuangan

Ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar Akuntansi Keuangan No. 1 (2009), menyatakan bahwa laporan keuangan bertujuan umum (selanjutnya disebut sebagai ’laporan keuangan’) adalah laporan keuangan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna laporan.

Menurut Standar Akuntan Keuangan (Ikatan Akuntan Indonesia 2002:4) tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Selain itu laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dan kejadian di masa lalu. Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship) atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.

Tingkat Kesehatan Bank

Analisis tingkat kesehatan bank merupakan cara yang digunakan untuk analisis kinerja bank yang menggambarkan keberhasilan yang dicapai oleh bank dilihat dari rasio-rasio keuangan dengan

(3)

menggunakan informasi dari laporan neraca dan laba rugi. Dasar pentingnya penilaian tingkat kesehatan bank berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/2/PBI/2013 tentang penetapan status dan tindak lanjut pengawas bank umum konvensional.

Metode RGEC merupakan metode penilaian tingkat kesehatan bank dengan mengukur faktor Risk Profile (profil risiko), Good Corporate Governance (tata kelola perusahaan yang baik), Earnings (penilaian rentabilitas) dan Capital (penilaian permodalan). Metode atau pendekatan yang digunakan dalam menilai kesehatan bank ini mengacu pada Peraturan Bank Indonesia No.13/1/PBI/2011 tentang Penilaian tingkat kesehatan bank umum, yaitu dengan menggunakan pendekatan risiko (Risk-based Bank Rating) baik secara individual maupun secara konsolidasi.

METODE PENELITIAN

Objek penelitian ini adalah Bank CIMB Niaga dan Bank PAN Indonesia (Bank Panin). Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data kuantitatif yang diperoleh dari laporan publikasi tahunan yang diterbitkan oleh Bank CMB Niaga periode 2014-2018, sumber data diperoleh melalui situs resmi Bank CMB Niaga, dan laporan tahunan yang diterbitkan oleh Bank Panin periode 2014-2018, sumber data diperoleh melalui situs resmi Bank Panin. Pengumpulan data dilakukan dengan dua metode, yaitu metode kepustakaan dan metode dokumentasi (observasi tidak langsung). Teknik analisis data yang digunakan dalam menjawab rumusan masalah dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif untuk menjelaskan secara rinci bagaimana perbandingan tingkat kesehatan bank pada Bank CIMB Niaga dan Bank Panin dengan menggunakan metode RGEC, antara lain:

1. Risk Profile (Profil Risiko)

Dalam penelitian Profil Risiko Bank CIMB Niaga dan Bank Panin dinilai menggunakan dua analisis risiko, yaitu:

a. Risiko kredit

Untuk mengukur risiko kredit digunakan rasio Non Performing Loan (NPL). NPL merupakan rasio untuk menghitung kredit bermasalah menggunakan kualitas kredit yang tergolong Kurang Lancar (KL), Diragukan (D) dan Macet (M) dibagi total pembiayaan kredit. Perhitungan rasio Non Performing Loan (NPL) sebagai berikut:

Sumber: SE BI 13/30/DPNP2011

Hasil presentase NPL kemudian diperingkatkan berdasarkan kriteria peringkat risiko kredit sebagai berikut

:

Tabel 1

Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Risiko Kredit (NPL)

Peringkat Kriteria Keterangan

𝐍𝐏𝐋 = 𝐊𝐫𝐞𝐝𝐢𝐭 𝐁𝐞𝐫𝐦𝐚𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡

𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐊𝐫𝐞𝐝𝐢𝐭 × 𝟏𝟎𝟎%

(4)

Sumber: Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/24/DPNP/2011

b. Risiko Likuiditas

Untuk mengukur risiko likuiditas digunakan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR). LDR merupakan rasio antara jumlah seluruh kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank.

Perhitungan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) sebagai berikut:

Sumber: SE BI 13/30/DPNP2011.

Hasil Presentase LDR kemudian diperingkatkan berdasarkan kriteria peringkat risiko likuiditas sebagai berikut

:

Tabel 2

Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Risiko Likuiditas (LDR)

Sumber: Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/24/DPNP/2011

2. Good Corporate Governance (GCG)

Menurut Ikatan Bankir Indonesia (2016: 104) Good Corporate Governance (GCG) merupakan pedoman mengenai kesepakatan antar stakeholder dalam mengidentifikasi dan merumuskan keputusan-

1 2 3 4 5

0%<NPL<2%

2%<NPL≤5%

5%<NPL≤8%

8%<NPL≤11%

NPL>11%

Sangat Sehat Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat

Tidak Sehat

Peringkat Kriteria Keterangan

1 70% - < 85% Sangat Sehat

2 60% - < 70% Sehat

3 85% - < 100% Cukup Sehat

4 100% - 120% Kurang Sehat

5 >120% - < 60% Tidak Sehat 𝐋𝐃𝐑 = 𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐊𝐫𝐞𝐝𝐢𝐭

𝐃𝐚𝐧𝐚 𝐏𝐢𝐡𝐚𝐤 𝐊𝐞𝐭𝐢𝐠𝐚 × 𝟏𝟎𝟎%

(5)

keputusan strategi secara efektif dan terkoordinasi. Bank menetapkan nilai komposit hasil self-assessment pelaksanan GCG bank, dengan menetapkan peringkat komposit sebagai berikut:

Tabel 3

Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Good Corporate Governance (GCG)

Sumber: Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/15/DPNP/2013

Apabila suatu bank memperoleh nilai komposit 1 maka masuk kedalam predikat sangat baik, jika bank memperoleh nilai momposit rendah yaitu 5 maka masuk kedalam predikat tidak baik, maka bank tersebut

kurang baik dalam mengelola GCG.

3. Earnings (Rentabilitas)

Dalam penelitian ini rentabilitas Bank CIMB Niaga dan Bank Panin hanya diukur melalui dua rasio, yaitu:

1. Return On Assets (ROA)

Return On Assets (ROA) digunakan untuk mengukur efisiensi dari penggunaan asset dalam menghasilkan laba. Perhitungan rasio Return On Assets (ROA) sebagai berikut:

Sumber: Siamat (2005,213)

Hasil perhitungan prosentase ROA kemudian dikelompokkan berdasarkan kriteria penetapan peringkat komponen rentabilitas (ROA) sebagai berikut

:

Tabel 4

Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Komponen Rentabilitas (ROA) Nilai Komposit (NK) Predikat Komposit

1 Sangat Baik

2 Baik

3 Cukup Baik

4 Kurang Baik

5 Tidak Baik

Peringkat Kriteria Keterangan

1 >2% Sangat Sehat

2 1,25% - 2% Sehat

3 0,5% - 1,25% Cukup Sehat

𝐑𝐎𝐀 = 𝐋𝐚𝐛𝐚 𝐒𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐏𝐚𝐣𝐚𝐤

𝐑𝐚𝐭𝐚 − 𝐑𝐚𝐭𝐚 𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐀𝐬𝐞𝐭 × 𝟏𝟎𝟎%

(6)

Sumber : Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/24/DPNP/2011

Bank dikatakan sangat sehat jika memperoleh nilai lebih dari 2%, sedangkan jika bank memperoleh nilai dibawah 0,5% maka dikatakan negatif dan masuk kedalam bank yang tidak sehat.

2. Net Interest Margin (NIM)

Net Interest Margin (NIM) digunakan untuk mengukur pengelolaan aktiva produktif sehingga menghasilkan pendapatan bunga bersih. Perhitungan rasio Net Interest Margin (NIM) sebagai berikut:

Sumber: Taswan (2010:559)

Hasil perhitungan prosentase NIM kemudian dikelompokkan berdasarkan kriteria penetapan peringkat komponen rentabilitas (NIM) sebagai berikut:

Tabel 5

Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Komponen Rentabilitas (NIM)

Sumber: Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/24/DPNP/2011

4. Capital (Permodalan)

Dalam penelitian ini Permodalan PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk hanya diukur melalui faktor yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR). Capital Adequacy Ratio (CAR) digunakan untuk mengukur kecukupan modal untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan aktiva. Perhitungan rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) sebagai berikut:

4 0% - 0,5% Kurang Sehat

5 Negatif Tidak Sehat

Peringkat Kriteria Keterangan

1 >5% Sangat Sehat

2 2,01% - 5% Sehat

3 1,5% - 2% Cukup Sehat

4 0% - 1,49% Kurang Sehat

5 Negatif Tidak Sehat

𝐍𝐈𝐌 = 𝐏𝐞𝐧𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐁𝐮𝐧𝐠𝐚 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐢𝐡

𝐑𝐚𝐭𝐚 − 𝐑𝐚𝐭𝐚 𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐀𝐬𝐞𝐭 𝐏𝐫𝐨𝐝𝐮𝐤𝐭𝐢𝐟 × 𝟏𝟎𝟎%

𝐂𝐀𝐑 = 𝐌𝐨𝐝𝐚𝐥 𝐁𝐚𝐧𝐤

𝐀𝐓𝐌𝐑 × 𝟏𝟎𝟎%

(7)

Sumber: Taswan (2010:540)

Hasil perhitungan prosentase CAR kemudian dikelompokkan berdasarkan kriteria penetapan peringkat komponen rentabilitas (CAR) sebagai berikut:

Tabel 6

Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Komponen Rentabilitas (CAR)

Sumber: Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/24/DPNP/2011

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ikhtisar keuangan Bank CIMB Niaga dan Bank Panin Periode 2014-2018 secara garis besar digambarkan pada Tabel dibawah ini:

Tabel 7

Ikhtisar Keuangan Bank CIMB Niaga Periode 2014-2018

(dalam jutaan Rupiah)

Keterangan 2014 2015 2016 2017 2018

Kredit

Bermasalah 6.881.335 6.633.404 6.894.089 6.827.249 5.760.517 Total Kredit 176.383.449 177.429.171 180.081.612 185.115.806 188.462.431 Laba Sebelum

Pajak 2.961.618 1.141.004 2.574.924 4.155.020 4.850.818 Total Aset Rata

– Rata 226.014.416 236.005.837 240.210.490 253.938.586 266.543.471 Modal 31.063.921 31.653.447 35.412.743 38.176.404 40.888.460 ATMR 199.385.130 194.398.235 197.207.014 205.238.857 207.960.418

Peringkat Kriteria Keterangan

1 >12% Sangat Sehat

2 9% - 12% Sehat

3 8% - 9% Cukup Sehat

4 6% - <8% Kurang Sehat

5 <6% Tidak Sehat

(8)

Keterangan 2014 2015 2016 2017 2018 Pendapatan

Bunga Bersih 10.689.495 11.386.360 12.094.030 12.403.379 12.011.731 Rata – Rata

Total Aktiva

Produktif 265.698.476 274.204.135 281.727.895 297.212.767 314.010.944 Total Dana

Pihak Ketiga 174.723.234 178.533.007 180.571.134 189.317.196 190.750.218 Sumber: Laporan Keuangan Bank CIMB Niaga

Tabel 8

Ikhtisar Keuangan Bank Panin Periode 2014-2018

(dalam jutaan Rupiah)

Keterangan 2014 2015 2016 2017 2018

Kredit

Bermasalah 2.267.777 2.933.115 3.624.572 3.802.685 4.335.491 Total Kredit 111.944.302 117.743.573 125.049.120 128.651.727 137.385.515 Laba Sebelum

Pajak 4.332.354 3.593.991 2.993.212 1.986.491 3.022.929 Total Aset Rata

– Rata 168.347.130 177.879.611 191.147.797 206.358.425 210.373.108 Modal 24.719.660 31.465.905 33.881.411 36.536.016 41.488579 ATMR 142.880.591 156.315.862 165.358.012 166.147.165 177.856.566 Pendapatan

Bunga Bersih 6.026.941 7.201.296 8.442.968 8.650.954 8.964.494 Rata – Rata

Total Aktiva

Produktif 113.634.099 121.251.896 131.898.100 135.967.371 138.213.875 Total Dana

Pihak Ketiga 99.316.188 113.791.958 136.462.210 138.250.684 130.900.554

Sumber: Laporan Keuangan Bank Panin

(9)

Tabel 7 dan tabel 8 merupakan ikhtisar Bank CIMB Niaga dan Bank Panin yang akan dihitung untuk mengetahui apakah kedua bank tersebut sehat atau tidak.

Risk Profile (Profil Risiko)

Menurut Ikatan Bankir Indonesia (2016) profil risiko adalah gambaran keseluruhan risiko yang melekat pada operasional bank (sebelum dilakukan upaya kontrol), baik yang dapat dikuantifikasikan maupun yang tidak, yang berpotensi memengaruhi posisi keuangan bank. Dalam penelitian ini profil risiko Bank CIMB Niaga dan Bank Panin Periode 2014-2018 hanya diukur melalui dua faktor, yaitu:

1. Risiko Kredit

Menurut Ikatan Bankir Indonesia (2016) risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank sesuai dengan perjanjian yang disepakati.

Berdasarkan Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/24/DPNP Perhitungan rasio Non Performing Loan (NPL) adalah sebagai berikut:

Sumber: SE BI 13/30/DPNP2011

Berikut hasil perolehan dan grafik perbandingan NPL Bank CIMB Niaga dan Bank Panin periode 2014- 2018:

Tabel 9

Perolehan NPL Bank CIMB Niaga dan Bank Panin Periode 2014-2018

Periode Bank CIMB Niaga

Peringkat dan Keterangan

Bank Panin

Peringkat dan Keterangan 2014 3,90% 3 (Cukup Sehat) 2,03% 2 (Sehat) 2015 3,73% 3 (Cukup Sehat) 2,50% 2 (Sehat) 2016 3,82% 3 (Cukup Sehat) 2,90% 2 (Sehat) 2017 3,68% 3 (Cukup Sehat) 2,95% 2 (Sehat)

2018 3,05% 2 (Sehat) 3,16% 2 (Sehat)

Rata-rata 3,63% 3 (Cukup Sehat) 2,71% 2 (Sehat) Sumber: Data di Olah Dari Laporan Keuangan Bank CIMB Niaga dan Bank Panin

Berdasarkan perhitungan Tabel 9 diatas dapat dilihat bahwa pada tahun 2014 Bank CIMB Niaga memperoleh NPL Gross sebesar 3,90%, kemudian pada tahun 2015 terjadi penurunan NPL menjadi 3,73%. Hal ini karena adanya penurunan pada kredit bermasalah dan Bank CIMB Niaga menekan kredit

𝐍𝐏𝐋 = 𝐊𝐫𝐞𝐝𝐢𝐭 𝐁𝐞𝐫𝐦𝐚𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡

𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐊𝐫𝐞𝐝𝐢𝐭 × 𝟏𝟎𝟎%

(10)

macet dengan melakukan beberapa strategi diantaranya yaitu melaukan recorvery dengan menual jaminan kedua adalah dengan meningkatkan loan loss coverage (LLC). Pada tahun 2016 Bank CIMB Niaga mengalami kenaikan menjadi 3,82% yang dipengaruhi oleh kenaikan kredit bermasalah, kemudian tahun 2017 dan 2018 Bank CIMB Niaga menunjukkan kerja keras, fokus kolektibilitas, dan kinerja yang baik untuk mengurangi jumlah kredit bermasalah dengan menurunnya NPL Gross pada tahun 2017 3,68%

menjadi 3,05% pada tahun 2018, ini menunjukkan nilai NPL Gross berfluktuasi sehingga perlu dilakukan kontrol terhadap jumlah kredit yang diberikan dan penagihan atas piutang. Karena secara umum, semakin besar kredit yang diberikan, semakin besar pula risiko kredit bermasalah.

Sedangkan Bank Panin mengalami kenaikan setiap tahunnya, dapat dilihat pada Tabel 4.3, tahun 2014 NPL Gross sebesar 2,03%, tahun 2015 2,50%. Tahun 2016 memperoleh 2,90% hal ini disebabkan meningkatnya jumlah kredit yang diberikan, disamping jumlah kredit, kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya pulih juga mneyebabkan kredit bermasalah meningkat. Tahun 2017 memperoleh 2,95%, dan tahun 2018 3,16%, terjadinya fluktuasi ini tidak berdampak negatif karena masih dikategorikan sehat.

Maka analisis untuk risiko kredit mulai tahun 2014 sampai dengan 2018 selama kurun waktu 5 tahun menggunakan rasio NPL Gross diperoleh nilai rata-rata 3,63% untuk Bank CIMB Niaga memperoleh predikat cukup sehat, sedangkan rata-rata yang di peroleh Bank Panin 2,71% memperoleh predikat sehat.

2. Risiko Likuiditas

Menurut Ikatan Bankir Indonesia (2016) risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas atau dari asset likuid berkualitas tinggi yang dapat digunakan tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan bank.

Berdasarkan Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/24/DPNP Perhitungan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah sebagai berikut:

Sumber: SE BI 13/30/DPNP2011

Berikut hasil perolehan dan grafik perbandingan LDR Bank CIMB Niaga dan Bank Panin periode 2014- 2018:

Tabel 10

Perolehan LDR Bank CIMB Niaga dan Bank Panin Periode 2014-2018

Periode Bank CIMB Niaga

Peringkat dan

Keterangan Bank Panin Peringkat dan Keterangan

2014 100,95% 4 (Kurang Sehat) 112,71% 4 (Kurang Sehat) 2015 99.38% 3 (Cukup Sehat) 156,20% 5 (Tidak Sehat)

𝐋𝐃𝐑 = 𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐊𝐫𝐞𝐝𝐢𝐭 𝐃𝐚𝐧𝐚 𝐏𝐢𝐡𝐚𝐤 𝐊𝐞𝐭𝐢𝐠𝐚

× 𝟏𝟎𝟎%

(11)

2016 99,72% 3 (Cukup Sehat) 91,64% 3 (Cukup Sehat)

2017 97,78% 3 (Cukup Sehat) 93,05% 3 (Cukup Sehat)

2018 98,80% 3 (Cukup Sehat) 104,95% 4 (Kurang Sehat)

Rata-rata 99,82% 3 (Cukup Sehat) 111,71% 4 (KurangSehat) Sumber: Data di Olah Dari Laporan Keuangan Bank CIMB Niaga dan Bank Panin

Berdasarkan perhitungan Tabel 10 dapat dilihat bahwa tahun 2014 Bank CIMB Niaga memperoleh hasil perhitungan LDR 100,95% tergolong kurang sehat dan Bank Panin 112,71% yang tergolong kurang sehat. Tingginya LDR disebabkan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh lebih cepat dibandingkan kredit. Tahun 2015 Bank CIMB Niaga mengalami penurunan menjadi 99,38% tergolong cukup sehat, sedangkan Bank Panin pada tahun 2015 mengalami peningkatan cukup drastis menjadi 156,20%

tergolong tidak sehat, dikarenakan kebijakan moneter cenderung ketat (tight bias monetary policy) dengan kenaikan BI rate secara kumulatif sebesar 200 bps sejak 2013 menyebabkan kondisi likuiditas ekonomi menjadi ketat. Kenaikan BI Rate dan suku bunga penjaminan, tingginya Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan di tengah melambatnya kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) memicu persaingan suku bunga simpanan antar bank dan berimbas pada kondisi likuiditas perbankan Tahun 2016 sampai dengan 2018 Bank CIMB Niaga dan Bank Panin mengalami penurunan dan kenaikan yang menunjukkan ketidakstabilan kedua bank tersebut. Selama kurun waktu lima tahun nilai rata-rata Bank CIMB Niaga 99,82% tergolong cukup sehat karena nilai rasio yang semakin rendah memberikan indikasi semakin tingginya kemampuan likuiditas yang bersangkutan.Sedangkan Bank Panin memperoleh nilai rata-rata 111,71% tergolong kurang sehat, menunjukan ketidakmampuan menangani likuiditas dengan baik.

Dengan demikian bank CIMB Niaga maupun Bank Panin harus lebih waspada terhadap tingginya nilai rasio LDR.

Good Corporate Governance (GCG)

Menurut Ikatan Bankir Indonesia (2016) Good Corporate Governance (GCG) merupakan pedoman mengenai kesepakatan antar stakeholder dalam mengidentifikasi dan merumuskan keputusan-keputusan strategi secara efektif dan terkoordinasi. Indikator penilaian pada GCG menggunakan bobot penilaian berdasarkan nilai komposit dari ketetapan Bank Indonesia menurut PBI No.13/1/PBI/2011 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum.

Berikut hasil perolehan dan grafik perbandingan GCG Bank CIMB Niaga dan Bank Panin periode 2014- 2018:

Tabel 11

Perolehan Predikat GCG Bank CIMB Niaga dan Bank Panin Periode 2014-2018

Periode Bank CIMB

Niaga Keterangan Bank

Panin Keterangan

(12)

2014 1,5 Baik 1,8 Baik

2015 1,5 Baik 1,8 Baik

2016 1,5 Baik 1,8 Baik

2017 1,5 Baik 1,8 Baik

2018 1,5 Baik 1,8 Baik

Rata-rata 1,5 Baik 1,8 Baik Sumber: Data di Olah Dari Laporan Keuangan Bank CIMB Niaga dan Bank Panin

Berdasarkan tabel 11, penilaian Good Corporate Governance (GCG) Bank CIMB Niaga dan Bank Panin menunjukan hasil yang baik. Untuk periode 2014 sampai dengan 2018. Bank CIMB Niaga memperoleh predikat GCG “Baik”, dan Bank Panin memperoleh predikat GCG “Baik”. Maka dari itu, dapat dikatakan predikat GCG mengalami kondisi stabil.

Earnings (Rentabilitas)

Menurut Komang dan Luh 2015 rentabilitas (earnings) merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari modal yang diinvestasikan dalam total aktiva. Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/24/DPNP pada tanggal 25 Oktober 2011, penilaian terhadap faktor rentabilitas diukur dengan beberapa parameter/indikator. Dalam penelitian ini rentabilitas Bank CIMB Niaga dan Bank Panin hanya diukur melalui dua faktor, yaitu:

1. Return On Assets (ROA)

Return On Assets (ROA) digunakan untuk mengukur efisiensi dari penggunaan aset dalam menghasilkan laba. Berdasarkan Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No.13/24/DPNP Perhitungan rasio Return On Assets (ROA) adalah:

Sumber: Siamat (2005, 213)

Berikut hasil perolehan dan grafik perbandingan ROA Bank CIMB Niaga dan Bank Panin periode 2014- 2018:

Tabel 12

Perolehan Predikat ROA Bank CIMB Niaga dan Bank Panin Periode 2014-2018

Periode Bank CIMB Niaga

Peringkat dan

Keterangan Bank Panin Peringkat dan Keterangan

2014 1,31% 2 (Sehat) 2,57% 1 (Sangat Sehat)

𝐑𝐎𝐀 = 𝐋𝐚𝐛𝐚 𝐒𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐏𝐚𝐣𝐚𝐤

𝐑𝐚𝐭𝐚 − 𝐑𝐚𝐭𝐚 𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐀𝐬𝐞𝐭

× 𝟏𝟎𝟎%

(13)

2015 0,48% 4 (Kurang Sehat) 2,02% 1 (Sangat Sehat) 2016 1,07% 3 (Cukup Sehat) 1,56% 2 (Sehat) 2017 1,63% 2 (Sehat) 0,96% 3 (Cukup Sehat) 2018 1,81% 2 (Sehat) 1,43% 2 (Sehat)

Rata-rata 1,26% 2 (Sehat) 1,70% 2 (Sehat)

Sumber: Data di Olah Dari Laporan Keuangan Bank CIMB Niaga dan Bank Panin

Berdasarkan perhitungan Tabel 12 diatas dapat dilihat bahwa tahun 2014 Bank CIMB Naiga memperoleh nilai sebesar 1,31% tergolong cukup sehat, dan Bank Panin memperoleh nilai sebesar 2,57% tergolong sangat sehat, dengan memperoleh ROA yang baik maka kedua bank menunjukan kinerja yang baik, karena semakin tinggi rasio ROA berarti rasio profitabilitas bank semakin baik dari segi penggunaan aset.

Pada tahun 2015 Bank CIMB Niaga mengalami penurunan menjadi 0,48 tergolong kurang sehat, karena pada tahun 2015 bank-bank lebih preventif atau lebih berhati-hati dalam melakukan bisnis sehingga laba yang diperoleh pada tahun 2015 turun dari tahun sebelumnya. Bank CIMB Niaga, Bank Panin pun mengalami penurunan pada tahun 2015 menjadi 2,02 tergolong sangat sehat. Dalam kurun waktu 2016- 2018 Bank CIMB Niaga mengalami peningkatan, terbukti bahwa efisiesi dari penggunaan asset dalam menghasilkan laba sudah sangat baik. Sedangkan Bank panin dalam kurun waktu 2016-2018 mengalami ketidakstabilan tetapi masih tergolong sehat. Semakin tinggi nilai ROA bank, maka laba yang didapatkan juga semakin tinggi sehingga bank dikatakan dalam kondisi sangat sehat atau sehat.

2. Net Interest Margin (NIM)

Menurut Ikatan Bankir Indonesia (2016) Net Interest Margin (NIM) digunakan untuk mengukur gross margin dari aktiva kredit dan investasi dari bank. Berdasarkan Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No.13/24/DPNP Perhitungan rasio Net Interest Margin (NIM) adalah sebagai berikut:

Sumber: Taswan (2010:559)

Berikut hasil perolehan dan grafik perbandingan NIM Bank CIMB Niaga dan Bank Panin periode 2014- 2018:

Tabel 13

Perolehan Predikat NIM Bank CIMB Niaga dan Bank Panin Periode 2014-2018

Periode Bank CIMB Niaga

Peringkat dan

Keterangan Bank Panin Peringkat dan Keterangan

2014 4,02% 2 (Sehat) 5,30% 1 (Sangat Sehat)

𝐍𝐈𝐌 = 𝐏𝐞𝐧𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐁𝐮𝐧𝐠𝐚 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐢𝐡 𝐑𝐚𝐭𝐚 − 𝐑𝐚𝐭𝐚 𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐀𝐬𝐞𝐭 𝐏𝐫𝐨𝐝𝐮𝐤𝐭𝐢𝐟

× 𝟏𝟎𝟎%

(14)

2015 4,15% 2 (Sehat) 5,93% 1 (Sangat Sehat)

2016 4,29% 2 (Sehat) 6,40% 1 (Sangat Sehat)

2017 4,17% 2 (Sehat) 6.36% 1 (Sangat Sehat)

2018 3,82% 2 (Sehat) 6,48% 1 (Sangat Sehat)

Rata-rata 4,09% 2 (Sehat) 6,09% 1 (SangatSehat) Sumber: Data di Olah Dari Laporan Keuangan Bank CIMB Niaga dan Bank Panin

Berdasarkan tabel 13, perolehan NIM Bank CIMB Niaga dan Bank Panin mengalami naik turun pada total NIM walaupun dapat dikatakan stabil. Dalam kurun wakru lima tahun Bank CIMB Niaga memperoleh nilai NIM 4,02%, 4,15%, 4,29%, 4,17%, dan 3,82% sehingga Bank CIMB Niaga dikatakan dalam kondisi sehat. Bank Panin mengalami penurunan perolehan NIM pada tahun 2017 tetapi masih dalam kondisi stabil. Dalam kurun lima waktu Bank Panin memperoleh nilai NIM dengan kategori sangat sehat. Semakin tinggi nilai NIM, maka marjin bunga bersih yang didapatkan juga tinggi sehingga bank dikatakan dalam kondisi sangat sehat atau sehat.

Capital (Permodalan)

Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No.13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011, penilaian terhadap faktor permodalan diukur dengan beberapa parameter/indikator. Dalam penelitian ini permodalan Bank CIMB Niaga dan Bank Panin diukur melalui rasio CAR. Capital Adequacy Ratio (CAR) digunakan untuk mengukur kecukupan modal untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan aktiva.

Berdasarkan Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No.13/24/DPNP perhitungan rasio Capital Adequacy Ration (CAR) sebagai berikut:

Sumber: Taswan (2010:540)

Berikut hasil perolehan dan grafik perbandingan CAR Bank CIMB Niaga dan Bank Panin periode 2014- 2018:

Tabel 14

Perolehan Predikat CAR Bank CIMB Niaga dan Bank Panin Periode 2014-2018

Periode Bank CIMB Niaga

Peringkat dan

Keterangan Bank Panin Peringkat dan Keterangan

2014 15,58% 1 (Sangat Sehat) 17,30% 1(Sangat Sehat) 2015 16,58% 1 (Sangat Sehat) 20,12% 1(Sangat Sehat) 2016 17,95% 1 (Sangat Sehat) 20,48% 1(Sangat Sehat) 2017 18,60% 1 (Sangat Sehat) 22% 1(Sangat Sehat) 2018 19,66% 1 (Sangat Sehat) 23,328% 1(Sangat Sehat)

𝐂𝐀𝐑 = 𝐌𝐨𝐝𝐚𝐥 𝐁𝐚𝐧𝐤

𝐀𝐓𝐌𝐑 × 𝟏𝟎𝟎%

(15)

Rata-rata 17,61% 1 (Sangat Sehat)

20,64%

Sumber: Data di Olah Dari Laporan Keuangan Bank CIMB Niaga dan Bank Panin

Berdasarkan tabel 14, CAR Bank CIMB Niaga dan Bank Panin mengalami kenaikan dalam kurun 5 tahun, dapat dikatakan CAR Bank CIMB Niaga dan Bank Panin stabil dan tergolong sangat sehat.

Semakin tinggi nilai CAR, maka bank dikatakan dalam kondisi sehat. Bank CIMB Niaga dan Bank Panin pun mampu menjadi salah satu bank yang masuk ke dalam daftar bank kategori buku 4, yang dimaksud bank kategori buku 4 adalah bank yang memiliki modal inti Rp30 Triliun.

Hasil penelitian yang didapat dengan menganalisis tingkat kesehatan pada Bank CIMB Niaga dan Bank Panin dengan menggunakan metode RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earings, Capital) pada periode 2014-2018. Berikut ini adalah tabel hasil penelitian untuk penilaian menggunakan metode RGEC, sebagai berikut:

Tabel 15

RGEC Bank CIMB Niaga Periode 2014-2018

FAKTOR RASIO Periode

Keterangan

2014 2015 2016 2017 2018

Risk Profile (R) NPL

Gross* 3,90% 3,73% 3,82% 3,68% 3,05% Cukup Sehat LDR* 100,9% 99,38% 99,72% 97,78% 98,80% Cukup Sehat Good Corporate

Governance (G) GCG* 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 Baik

Earnings (E) ROA* 1,31% 0,48% 1,07% 1,63% 1,81% Sehat

NIM* 4,02% 4,15% 4,29% 4,17% 3,82% Sehat Capital (C) CAR* 15,58% 16,58% 17,95% 18,60% 19,66% Sangat Sehat

*Berdasarkan Data di Olah Dari Laporan Keuangan Bank CIMB Niaga Tabel 16

RGEC Bank Panin Periode 2014-2018

FAKTOR RASIO Periode

Keterangan

2014 2015 2016 2017 2018

Risk Profile (R) NPL

Gross* 2,03% 2,50% 2,90% 2,95% 3,16% Sehat

LDR* 112,7% 156,2% 91,64% 93,05% 104,9% Kurang Sehat Good Corporate

Governance (G) GCG* 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8 Baik

Earnings (E) ROA* 2,57% 2,02% 1,56% 0,96% 1,43% Sehat

NIM* 5,30% 5,93% 6,40% 6,36% 6,48% Sangat Sehat

Capital (C) CAR* 17,30% 20,12% 20,48% 22% 23,33% Sangat Sehat

*Berdasarkan Data diolah dari Laporan Keuangan Bank Panin

1 (Sangat Sehat)

(16)

SIMPULAN DAN SARAN

Dalam penelitian mengenai Analisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Bank dengan Menggunakan Metode RGEC ini dapat disimpulkan bahwa Bank Panin lebih unggul dibandingkan Bank CIMB Niaga.

Bank Panin lebih unggul dari Bank CIMB Niaga dapat dilihat dari rasio NPL dan NIM. Sedangkan Bank CIMB Niaga unggul dalam rasio LDR. Dalam rasio GCG, ROA, dan CAR memiliki tingkat kesehatan yang sama. Pada penelitian selanjutnya diharapkan untuk dapat menambah periode penelitian dan sampel penelitian agar didapatkan hasil yang lebih maksimal dan dapat membantu pihak-pihak yang membutuhkan informasi mengenai kinerja bank. Pada penelitian selanjutnya diharapkan untuk dapat menambah variabel yang digunakan agar cakupan penelitian lebih luas lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Bank Indonesia. Peraturan Bank Indonesia Nomor: 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 perihal Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum

_____________. Peraturan Bank Indonesia Nomor: 9/1/PBI/2007 perihal Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum

_____________. Peraturan Bank Indonesia Nomor: 13/1/PBI/2011 perihal Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum

_____________. Peraturan Bank Indonesia Nomor: 13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 perihal Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum

_____________. Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/30/2011. Tentang Perubahan Ketiga atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001 perihal Laporan Keuangan Publikasi Triwulan dan Bulanan Bank Umum serta yang Disampaikan kepada Bank Indonesia

_____________. Peraturan Bank Indonesia Nomor: 15/2/PBI/2012 Tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum

Emilia. 2017. Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Metode RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earnings, and Capital). Skripsi. Uin Raden Fatah Palembang

Hening Asih Widyaningrum., Suhadak., Topowijono. 2014. “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Menggunakan Metode Risk-Based Bank Rating (RBBR) (Studi Pada Bank yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Dalam IHSG Sub Sektor Perbankan Tahun 2012)”. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB) Vol. 9 No. 2 April 2014

Hery Susanto., Moch Dzulkirom AR., Zahroh Z.A. 2016. Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Menggunakan Metode RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earnings, Capital) Studi Pada Bank Mandiri (Persero) Tbk, yang Terdaftar di BEI Tahun 2010-2014

Ikatan Akuntansi Indonesia. 2002. Standar Akuntansi Keuangan. Penerbit Salemba Empat, Jakarta

Ikatan Akuntansi Indonesia. 2004. Standar Akuntansi Keuangan. PSAK No.17, Penerbit Salemba Empat, Jakarta

Ikatan Akuntansi Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan. PSAK No. 1, Penyajian Laporan Keuangan. Jakarta: Salemba Empat

Ikatan Bankir Indonesia. 2016. Strategi Manajemen Risiko Bank. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jamal Wiwoho. 2014. “Peran Lembaga keuangan Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank Dalam

Memberikan Distribusi Keadilan Bagi Masyarakat”. E-jurnal Akuntansi Universitas Sebelas Maret

Kartika Ratna Sari. 2017. Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Menggunakan Metode RGEC Pada Bank BUMN yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta

Kasmir, 2004. Pemasaran Bank . Jakarta: Kencana

______. 2012. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

(17)

Monika Basama. 2017. Analisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Bank Dengan Metode RGEC di Indonesia (Studi Komparatif: Bank Swasta Nasional dan Bank Asing Tahun 2013-2015. Skripsi.

Universitas Lampung

Muhammad Nizar Syechfuddin. 2015. “Analisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Bank Menggunakan Rasio RGEC Pada Bank Muamalat Indonesia dan Bank BRI Syariah periode 2011-2013. Artikel ilmiah

Ni Putu Noviantini Permata Yessi., Sri Mangesti Rahayu., Maria Goretti Wi Ending NP. “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Menggunakan Pendekatan RGEC (Risk Profile, Good Corporate Gvernance, Earnings, Capital) Studi Pada PT Bank Sinar Harapan Bali Periode 2010-2012”. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), Vol No.1 Januari 2015

Noor Mutia. http://noormutia.blogspot.com/2014/04/blk5.html?m=1. Penilaian Kesehatan Bank CAMELS dan RGEC . Diakses Tanggal 31 Oktober 2019 Jam 12.52 WIB

Nur Atyka. 2015. Penilaian Kesehatan Bank Dengan Meode RGEC Pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Periode 2011-2013. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta

Peraturan Otoritas Jaksa Keuangan. Nomor: 4/POJK.03/2016 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum

Republik Indonesia. 1998. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan . Jakarta

Ryan Hadifin., Sri Mangesti Rahayu., Zahroh ZA. 2018. “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Menggunakan Metode Risk Profile, Earnings and Capital (Studi Pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Periode 2013-2016”. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB) Vol 57 No. 2 April 2018 Santi Octaviani Nadya Saraswati. 2018. “Analisis Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Dengan Metode

Risk Profile, Good Corporate Governance, Earnings, Capital”. Jurnal akuntansi, Vol 5 No. 2 Juli 2018.

Sari, Komang A.N dan Luh Komang Sudjarni. 2015. “Pengaruh Likuiditas Leverage Pertumbuhan Perusahaan Profitabilitas terhadap Kebijakan Dividen pada Perusahaan Manufaktur di BEI”. E- jurnal manajemen 4(10):3346-3374

Siamat, Dahlan. 2005. Manajemen Lembaga Keuangan. Jakarta: Rajawali

Surat Edaran Bank Indonesia No.13/30/DPNP/2011 Perihal: Laporan Keuangan Publikasi Triwulan dan Bulanan Bank Umum Serta Laporan Tertentu Disampaikan Kepada Bank Indonesia.

Surat Edaran Bank Indonesia. 2011. Surat Edaran Bank Indonesia No.13/24/DPNP Tanggal 25 Oktober 2011, Tentang Matriks Perhitungan Analisis Komponen Faktor Analisis RGEC Untuk Bank Kecil.

Taswan. 2008. Akuntansi Perbankan: Transaksi dalam Valuta Rupiah. Yogyakarta: UPP STIN YKPN _______. 2010. Manajemen Perbankan, Konsep, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta. UPP STIN YKPN Tommy Ilham Muharram. 2019. Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Menggunakan Metode RGEC

Pada PT Bank Pembangunan Jawa Barat dan Banten Tbk Periode 2013-2014. Penulisan Ilmiah.

Universitas Gunadarma

Totok dan Nuritomo. 2014. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta: Salemba Empat

Ulfi Rana Nurmala Madyawati. 2018. Analisis Perbandingan Kinerja Bank Syariah dan Bank Konvensional di Indonesia. Skripsi. Universitas Islam Indonesia

Vanessa Elisabeth Korompis., Tri Oldy Rotinsulu, Jacky Sumarauw. 2015. “Analisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Bank Berdasarkan Metode RGEC (Studi Pada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT Bank Mandiri Tbk Tahun 2012-2014)”. Jurnal EMBA, Vol 3 No. 4 Desember 2015, Hal 433-442.

Vivi Mauliyana., Nengah Sudjana. 2016. “Analisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Bank Berdasarkan Pendekatan Risk Profile, Earnings, dan Capital Terhadap Bank Milik Pemerintah dan Bank Milik Swasta”. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB) Vol. 36 No. 1 2016

Referensi

Dokumen terkait

Langkah pengerjaan pada tugas akhir ini yaitu pada perhitungan aspek Risk Profile menggunakan rasio NPL ( Non Performing Loan ) dan rasio LDR ( Loan to Deposit Ratio

Fаktor risk profile (profil risiko) menggunаkаn NPL ( Non Performing Loаn ) untuk mengukur risiko kredit dаn LDR ( Loаn Deposit Rаtio ) untuk mengukur

Ukuran yang digunakan dalam metode RGEC yaitu rasio NPL, LDR, GCG, ROA, NIM, dan CAR.Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa pada tahun 2011, 2012, dan 2013

Hasil dari perhitungan tersebut menunjukkan bahwa risiko kredit BCA sangat baik, karena berdasarkan dari kriteria penetapan penilaian NPL (Kriteria Penetapan

Rasio NPL adalah rasio kredit bermasalah terhadap total kredit yaitu sebesar 2,03%, dengan nilai kotor 89,80 dan bobot rasio 5% menghasilkan nilai bersih rasio sebesar 4,49, hal ini

Hasil penelitian menunjukan pada peride tahun 2016-2020 secara keseluruhan dengan menggunakan rasio Non Performing Loan NPL, Return On Equity ROE, dan Capital Adecuancy Ratio CAR PT

PEMBERITAHUAN OBLIGASI BERKELANJUTAN II BANK CIMB NIAGA TAHAP IV TAHUN 2018 “OBLIGASI” INFORMASI INI MERUPAKAN PEMBERITAHUAN ATAS INFORMASI TAMBAHAN DAN/ATAU PERBAIKAN DARI

Hasil peneliatan ini menunjukan bahwa PT Bnak Jago, Tbk periode 2019-2021 ditinjau dari Risk Profile menggunakan risiko kredit mendapatkan predikat sangat sehat dan menggunakan risiko