ANALISIS PENERAPAN MODEL UTAUT 2,
PERCEIVED RISK, DAN TRUST UNTUK MENGUJI BEHAVIORAL INTENTION MAHASISWA
PENGGUNA GOPAY
S K R I P S I
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Akuntansi
Program Studi Akuntansi
Oleh:
Antonius Prasetyo Wibowo NIM: 172114137
PROGRAM STUDI AKUNTANSI JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
2021
i
ANALISIS PENERAPAN MODEL UTAUT 2,
PERCEIVED RISK, DAN TRUST UNTUK MENGUJI BEHAVIORAL INTENTION MAHASISWA
PENGGUNA GOPAY
S K R I P S I
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Akuntansi
Program Studi Akuntansi
Oleh:
Antonius Prasetyo Wibowo NIM: 172114137
PROGRAM STUDI AKUNTANSI JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
2021
ii
iii
iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“Apabila impian dan cita-citamu tercapai berterima kasihlah pada Tuhan, Apabila impian dan cita-citamu belum tercapai bersyukurlah kepadaNya
Karena Ia sedang mengarahkanmu pada jalan yang terbaik.
Tetaplah setia pada hal-hal kecil, karena dengan kesetiaanmu, Tuhan akan mempersiapkan hal besar bagimu”
Hasil penelitian ini saya persembahkan untuk:
Bapak Petrus Legiono dan Ibu Sukirah Miti Indriyani, Mey Mulyani, dan Vincentius Alan Putra Serta seluruh pembaca hasil penelitian ini
v
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI - PROGRAM STUDI AKUNTANSI
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya menyatakan bahwa Skripsi dengan judul:
ANALISIS PENERAPAN MODEL UTAUT 2, PERCEIVED RISK, DAN TRUST UNTUK MENGUJI BEHAVIORAL INTENTION MAHASISWA PENGGUNA
GOPAY
dan diajukan untuk diuji pada tanggal 17 Mei 2021 adalah hasil karya saya.
Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin, atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau simbol yang menunjukkan gagasan atau pendapat atau pemikiran dari penulis lain yang saya aku seolah-olah sebagai tulisan saya sendiri dan atau tidak terdapat bagian atau keseluruhan tulisan yang saya salin, tiru, atau yang saya ambil dari tulisan orang lain tanpa memberikan pengakuan pada penulis aslinya.
Apabila saya melakukan hal tersebut di atas, baik sengaja maupun tidak, dengan ini saya menyatakan menarik skripsi yang saya ajukan sebagai hasil tulisan saya sendiri ini. Bila kemudian terbukti bahwa saya ternyata melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain seolah-olah hasil pemikiran saya sendiri, berarti gelar dan ijasah yang telah diberikan oleh universitas batal saya terima.
Yogyakarta, 31 Mei 2021 Yang membuat pernyataan,
(Antonius Prasetyo W)
vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:
Nama : Antonius Prasetyo Wibowo Nomor Mahasiswa : 172114137
Demi pegembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:
ANALISIS PENERAPAN MODEL UTAUT 2, PERCEIVED RISK, DAN TRUST UNTUK MENGUJI BEHAVIORAL INTENTION MAHASISWA
PENGGUNA GOPAY
Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap menyantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya.
Yogyakarta, 31 Mei 2021 Yang menyatakan,
Antonius Prasetyo Wibowo
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan kasih dan karuniaNya sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.
Penulis memperoleh bantuan, bimbingan, dan arahan dari berbagai pihak dalam menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada:
1. Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D selaku Rektor Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan kepribadian kepada penulis
2. Aurelia Melinda Nisita W. M.Sc selaku Pembimbing yang telah membantu serta membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Ibu Ilsa Haruti Suryandari, S.E., S.IP., M.Sc., Ak., CA dan ibu Klemensia Erna Christina Sinaga, S.E., M.Sc., AMA yang telah membantu penulis dalam menyempurnakan karya tulis skripsi ini.
4. Bapak, ibu, kakak, dan adik yang membantu secara finansial dan non finansial serta mendoakan penulis hingga skripsi ini dapat selesai.
5. Pemerintah Republik Indonesia melalui Kemenristekdikti dan LPDP yang telah membiayai perkuliahan sejak awal hingga akhir perkuliahan.
6. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Yogyakarta, 31 Mei 2021
Penulis
viii DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... .iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS ... v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI... .vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiii
ABSTRAK ... xiv
ABSTRACT ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 6
E. Sistematika Penulisan ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
A. Landasan Teori ... 9
1. Financial technology ... 9
2. E-wallet ... 10
3. Model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology ... 11
4. Model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT 2) ... 28
5. Perceived Risk ... 30
6. Trust ... 32
7. Behavioral Intention... 33
B. Penelitian Terdahulu ... 34
C. Perumusan Hipotesis Penelitian ... 38
ix
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 49
A. Desain Penelitian ... 49
B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 50
1. Waktu Penelitian ... 50
2. Tempat Penelitian... 50
C. Subjek dan Objek Penelitian ... 50
1. Subjek Penelitian ... 50
2. Objek Penelitian ... 50
D. Data Penelitian ... 51
E. Teknik Pengumpulan Data ... 51
F. Populasi dan Sampel Penelitian ... 53
1. Populasi ... 53
2. Sampel ... 54
3. Teknik Pengambilan Sampel... 54
G. Variabel Penelitian ... 55
1. Definisi Operasional Variabel ... 55
2. Pengukuran Variabel ... 60
3. Jenis data ... 60
H. Model Penelitian ... 61
I. Teknik Analisis Data ... 62
1. Model Pengukuran (Outer Model) ... 63
2. Model Struktural (Inner Model) ... 68
BAB IV PROFIL PERUSAHAAN ... 69
A. Sejarah Singkat ... 69
B. Registrasi GoPay dan GoPay Plus ... 69
C. Fitur GoPay dan GoPay Plus ... 71
D. Top up GoPay ... 74
E. Cara bertransaksi menggunakan GoPay ... 75
BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 79
A. Deskripsi Data ... 79
B. Analisis Data ... 94
1. Uji Validitas Konvergen ... 95
2. Validitas Diskriminan ... 108
3. Reliabilitas ... 113
x
4. Pengujian Model Struktural (Inner Model) ... 114
5. Pengujian Hipotesis (Bootstrapping) ... 115
C. Pembahasan ... 118
BAB VI PENUTUP ... 131
A. Kesimpulan ... 131
B. Keterbatasan Penelitian ... 132
C. Saran ... 132
DAFTAR PUSTAKA ... 134
LAMPIRAN ... 144
xi
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Teori Penyusun UTAUT ... 15
Tabel 2. Definisi Aspek Risiko ... 31
Tabel 3. Item Kuesioner ... 52
Tabel 4. Parameter Uji Validitas dalam Model PLS ... 67
Tabel 5. Data Responden Hasil Penyebaran Kuesioner ... 79
Tabel 6. Data Responden Tereliminasi ... 80
Tabel 7. Karakteristik Responden ... 80
Tabel 8. Demografi Responden... 81
Tabel 9. Lama Penggunaan GoPay dan Intensitas Penggunaan GoPay... 84
Tabel 10. Deskripsi Data Konstruk Performance Expectancy... 85
Tabel 11. Deskripsi Data Konstruk Effort Expectancy ... 86
Tabel 12. Deskripsi Data Konstruk Social Influence ... 87
Tabel 13. Deskripsi Data Konstruk Facilitating Conditions ... 88
Tabel 14. Deskripsi Data Konstruk Hedonic Motivation ... 89
Tabel 15. Deskripsi Data Konstruk Price Value ... 90
Tabel 16. Deskripsi Data Konstruk Habit ... 91
Tabel 17. Deskripsi Data Konstruk Perceived Risk ... 92
Tabel 18. Deskripsi Data Konstruk Trust ... 93
Tabel 19. Deskripsi Data Konstruk Behavioral Intention ... 94
Tabel 20. Nilai Outer Loading Konstruk Performance Expectancy ... 96
Tabel 21. Nilai Outer Loading Konstruk Effort Expectancy ... 97
Tabel 22. Nilai Outer Loading Konstruk Social Influence ... 98
Tabel 23. Nilai Outer Loading Konstruk Facilitating Conditions Uji 1 ... 99
Tabel 24. Nilai Outer Loading Konstruk Facilitating Conditions Uji 2 ... 100
Tabel 25. Nilai Outer Loading Konstruk Hedonic Motivation ... 101
xii
Tabel 26. Nilai Outer Loading Konstruk Price Value ... 102
Tabel 27. Nilai Outer Loading Konstruk Habit ... 103
Tabel 28. Nilai Outer Loading Konstruk Perceived Risk ... 104
Tabel 29. Nilai Outer Loading Konstruk Trust ... 105
Tabel 30. Nilai Outer Loading Konstruk Behavioral Intention ... 106
Tabel 31. Nilai Average Variance Extracted (AVE) ... 107
Tabel 32. Validitas Diskriminan Berdasarkan Nilai Cross Loading ... 109
Tabel 33. Validitas Diskriminan Berdasarkan Nilai Akar AVE ... 112
Tabel 34. Nilai Cronbach’s Alpha dan Composite Reliability ... 113
Tabel 35. Hasil Uji R-Square ... 114
Tabel 36. Hasil Uji Bootstrapping ... 115
xiii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar I: Kategori Financial Technology ... 9
Gambar II: Kerangka Model UTAUT... 28
Gambar III: Kerangka Model UTAUT 2 ... 30
Gambar IV: Kerangka Konseptual Penelitian ... 40
Gambar V: Model Penelitian ... 61
Gambar VI: Fitur Utama GoPay ... 71
Gambar VII: Fitur Lainnya GoPay ... 72
Gambar VIII: Perbandingan GoPay dan GoPay Plus ... 74
Gambar IX: Outer Loading Konstruk Performance Expectancy ... 96
Gambar X: Outer Loading Konstruk Effort Expectancy ... 97
Gambar XI: Outer Loading Konstruk Social Influence ... 98
Gambar XII: Outer Loading Konstruk Facilitating Conditions Uji 1 ... 99
Gambar XIII: Outer Loading Konstruk Facilitating Conditions Uji 2 ... 100
Gambar XIV: Outer Loading Konstruk Hedonic Motivation ... 101
Gambar XV: Outer Loading Konstruk Price Value ... 102
Gambar XVI: Outer Loading Konstruk Habit ... 103
Gambar XVII: Outer Loading Konstruk Perceived Risk ... 104
Gambar XVIII: Outer Loading Konstruk Trust ... 105
Gambar XIX: Outer Loading Konstruk Behavioral Intention ... 106
xiv ABSTRAK
ANALISIS PENERAPAN MODEL UTAUT 2, PERCEIVED RISK, DAN TRUST UNTUK MENGUJI
BEHAVIORAL INTENTION MAHASISWA PENGGUNA GOPAY
Antonius Prasetyo Wibowo NIM: 172114137
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2021
Penelitian ini bertujuan untuk menguji minat perilaku pada mahasiswa pengguna GoPay di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT 2), perceived risk, dan trust. Hasil penelitian ini diharapkan mampu berkontribusi pada penyelesaian masalah minat pengguna GoPay, pengembangan sistem GoPay, percepatan cashless society di Indonesia, dan memperlambat penyebaran virus korona.
Penelitian ini dilakukan dengan metode survei menggunakan kuesioner.
Kuesioner dalam bentuk link Google Forms dibagikan melalui sosial media Whatsapp, Line, dan Instagram. Responden dalam penelitian ini berjumlah 321 mahasiswa. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik snowball sampling. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah Partial Least Square (PLS). Data pada penelitian ini diolah menggunakan alat analisis SmartPLS 3.3.3.
Kesimpulan dari penelitian ini menemukan bahwa minat perilaku mahasiswa menggunakan GoPay dipengaruhi secara positif oleh social influence, hedonic motivation, habit, dan trust. Di sisi lain, performance expectancy, effort expectancy, facilitating conditions, dan price value tidak berpengaruh positif terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Perceived risk tidak berpengaruh negatif terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kata kunci: UTAUT 2, perceived risk, trust, behavioral intention, GoPay
xv ABSTRACT
ANALYZING THE APPLICATION OF UTAUT 2 MODEL, PERCEIVED RISK, AND TRUST TO TEST BEHAVIORAL
INTENTION OF STUDENTS WHO USE GOPAY
Antonius Prasetyo Wibowo NIM: 172114137
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2021
This study aims to test the behavioral intention of students who use GoPay in the Province of Yogyakarta with the Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT 2) model, perceived risk, and trust. The results of this study are expected to contribute towards the solution for GoPay users’ interest problem, the development of the GoPay system, the acceleration of cashless society in Indonesia, and the impediment of coronavirus spreading.
This research was conducted with a survey method using a questionnaire. The questionnaire in the form of a Google Forms link was distributed through social media which were Whatsapp, Line, and Instagram. Respondents in this study were 321 students. Sampling was applied by the snowball sampling technique. The data analysis technique used in this study was Partial Least Square (PLS). The data of this study were processed using the SmartPLS 3.3.3 analysis tool.
The conclusion of this study found that the students’ behavioral intention of using GoPay is positively influenced by social influence, hedonic motivation, habit, and trust. On the other hand, performance expectancy, effort expectancy, facilitating conditions, and price value do not positively affect the behavioral intention of students using GoPay in the Special Region of Yogyakarta. Perceived risk does not negatively affect the behavioral intention of students using GoPay in the Special Region of Yogyakarta.
Keywords: UTAUT 2, perceived risk, trust, behavioral intention, GoPay
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pada tanggal 12 Maret 2020, World Health Organization (WHO) menetapkan COVID-19 sebagai pandemi global karena penyebarannya yang sangat cepat dan luas (Kompas.tv, 2020). Baru-baru ini beberapa media dan penelitian menyampaikan kemampuan SARS-CoV-2 menempel pada beberapa benda di sekitar kita. Doremalen et al. (2020:1) menemukan bahwa SARS- CoV-2 dapat bertahan di udara, permukaan tembaga, permukaan karton, stainless steal dan plastik. Juru bicara WHO menyarankan penggunaan uang non tunai jika memungkinkan, namun kemudian mengklarifikasi bahwa WHO tidak memberikan panduan khusus penggunaan contactless payment (theconversation.com, 2020). Di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/382/2020 dan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 mengajak dan mendorong masyarakat untuk mengupayakan pembayaran non tunai selama pandemi COVID-19.
Alat pembayaran non tunai dapat berupa uang elektronik (e-money) dan dompet elektronik (e-wallet). Dompet elektronik didefinisikan sebagai alat pembayaran digital atau elektronik yang berbasis server (Mulyana dan Wijaya, 2018:64). GoPay, OVO, DANA, Link aja, Sakuku dan iSaku merupakan sebagian contoh dari dompet elektronik di Indonesia (www.bi.go.id, 2020).
Sejak kuartal 4 tahun 2017 hingga kuartal 2 tahun 2020 GoPay konsisten menduduki peringkat pertama e-wallet terpopuler di Indonesia berdasarkan
pengguna aktif dan jumlah download (iPrice.co.id, 2020). GoJek sebagai penyedia layanan pembayaran non tunai yaitu GoPay telah memperoleh gelar decacorn dengan nilai valuasi lebih dari 10 miliar dolar AS (money.kompas.com, 2019). Selain itu, GoPay juga memperoleh kepercayaan dari pemerintah untuk melaksanakan beberapa program seperti penyaluran bantuan sosial prakerja, pembayaran PBB, dan retribusi (money.kompas.com, 2020). Hal ini menunjukkan pertumbuhan GoPay hingga pada tahap kedewasaan.
Pada awal April 2020, muncul fitur GoPay Plus sebagai versi yang lebih lengkap dari GoPay. Fitur ini menawarkan beberapa fasilitas tambahan diantaranya yaitu perlindungan ekstra saldo, pengembalian saldo yang disalahgunakan, limit saldo lebih besar, dan pay later. Kehadiran fitur Plus pada GoPay yang diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan pembobolan saldo justru memunculkan permasalahan baru. Dilansir dari mediakonsumen.com (2020), ada banyak keluhan mengenai upgrade GoPay menjadi GoPay Plus diantaranya akun GoPay yang diblokir, sulitnya melakukan pembaharuan data, penolakan E-KTP, dan insentif bantuan sosial prakerja yang terhambat. Permasalahan ini apabila tidak segera diatasi dapat berpengaruh terhadap minat perilaku pengguna GoPay di masa mendatang.
Penelitian mengenai minat perilaku pengguna e-wallet dan GoPay sebelumnya telah dilakukan oleh Megadewandanu (2016) dan Nuriska et al.
(2018). Kedua peneliti tersebut menggunakan model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT 2) dalam penelitiannya.
Megadewandanu (2016:60) mengungkapkan bahwa perlu dilakukan penelitian kembali seiring pertumbuhan dan kedewasaan mobile wallet. Di sisi lain, Nuriska et al. (2018:113) mengungkapkan bahwa perlu menambahkan variabel lain yang dianggap layak untuk menguji minat perilaku pengguna GoPay seperti persepsi risiko dan kepercayaan.
Penelitian ini berfokus pada pengujian minat perilaku pengguna GoPay dengan model UTAUT 2 ditambah variabel perceived risk dan trust. Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT 2) adalah model untuk menguji perilaku menggunakan teknologi dari perspektif konsumen dengan tujuh konstruk, yaitu performance expectancy, effort expectancy, sosial influence, facilitating condition, hedonic motivation, price value, dan habit (Venkatesh et al., 2012). Peneliti menambahkan variabel perceived risk dan trust untuk melengkapi penelitian sebelumnya. Perceived risk dan trust juga ditambahkan karena adanya risiko pembobolan saldo, kegagalan upgrade GoPay menjadi GoPay Plus, dan pemblokiran akun GoPay yang dapat menurunkan tingkat kepercayaan pengguna GoPay.
Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa. Mahasiswa dipilih karena dipandang mampu mempercepat laju perkembangan non tunai sekaligus memberikan dampak viral terhadap pemanfaatan dompet elektronik (Bank Indonesia, 2017:27). Secara umum, penelitian ini diharapkan dapat menambah literatur pengujian perilaku pengguna e-wallet dan menjadi bahan pertimbangan pihak pengelola GoPay dalam mengembangkan sistemnya.
Secara khusus penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan penggunaan e-
wallet sebagai sarana contactless payment di masa pandemi untuk mengurangi tingkat penyebaran COVID-19 dan berkontribusi pada penyelesaian masalah berkaitan dengan perilaku pengguna GoPay.
B. Rumusan Masalah
a. Apakah performance expectancy berpengaruh terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay?
b. Apakah effort expectancy berpengaruh terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay?
c. Apakah social influence berpengaruh terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay?
d. Apakah facilitating conditions berpengaruh terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay?
e. Apakah hedonic motivation berpengaruh terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay?
f. Apakah price value berpengaruh terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay?
g. Apakah habit berpengaruh terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay?
h. Apakah perceived risk berpengaruh terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay?
i. Apakah trust berpengaruh terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay?
C. Tujuan
a. Mengetahui pengaruh performance expectancy terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay.
b. Mengetahui pengaruh effort expectancy terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay.
c. Mengetahui social influence terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay.
d. Mengetahui pengaruh facilitating conditions terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay.
e. Mengetahui pengaruh hedonic motivation terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay.
f. Mengetahui pengaruh price value terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay.
g. Mengetahui pengaruh habit terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay.
h. Mengetahui pengaruh perceived risk terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay.
i. Mengetahui pengaruh trust terhadap behavioral intention mahasiswa pengguna GoPay.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, penelitian ini memiliki manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan mampu menambah kajian literatur pengujian minat perilaku pengguna e-wallet dan menjadi bahan pertimbangan pengembangan sistem GoPay. Penelitian ini juga diharapkan dapat meningkatkan penggunaan e-wallet sebagai sarana contactless payment di masa pandemi sebagai upaya mengurangi tingkat penyebaran COVID-19. Secara khusus penelitian ini diharapkan mampu berkontribusi pada penyelesaian masalah berkaitan dengan minat perilaku pengguna GoPay.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi masyarakat, penelitian ini dapat menambah wawasan mengenai penggunaan GoPay sebagai sarana contactless payment di masa pandemi COVID-19 dan di masa mendatang.
b. Bagi pengembang e-wallet khususnya GoPay, penelitian ini dapat menjadi acuan pengembangan e-wallet agar lebih diterima masyarakat.
c. Bagi pemerintah, penelitian ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi alternatif solusi untuk mempercepat Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) dan mempercepat penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan merupakan hal yang penting dalam sebuah karya tulis ilmiah. Adapun sistematika dalam penulisan karya tulis ilmiah ini sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan
Bab ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II Tinjauan Pustaka
Bab ini berisi landasan teori, penelitian terdahulu, kerangka konseptual, dan rumusan hipotesis penelitian.
BAB III Metodologi Penelitian
Bab ini menjelaskan jenis penelitian, subjek penelitian, objek penelitian, waktu dan tempat penelitian, teknik pengambilan sampel, teknik pengumpulan data, variabel penelitian, dan teknik analisis data.
BAB IV Profil Perusahaan
Bab ini menjelaskan profil perusahaan GoJek selaku penyedia e-wallet GoPay.
BAB V Pembahasan
Bab ini menjelaskan analisis data yang diperoleh selama penelitian berlangsung beserta pembahasan hasil penelitian.
BAB VI Penutup
Bab ini menjelaskan kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran.
9 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori
1. Financial technology
Menurut IOSCO (2017:4) financial technology adalah Istilah gambaran dari berbagai model bisnis inovatif dan teknologi baru yang berpotensi mengubah industri jasa keuangan. IOSCO membagi financial technology menjadi 8 kategori yaitu pembayaran, asuransi, perencanaan, pinjaman dan pendanaan, blockchain, perdagangan dan investasi, data dan analitik, serta keamanan. Kedelapan kategori tersebut digambarkan sebagai berikut:
Gambar I: Kategori Financial Technology Sumber: IOSCO (2017:4)
Tentang teknologi finansial, Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 menyatakan sebagai berikut:
Teknologi finansial adalah penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan, dan keandalan sistem pembayaran. Teknologi finansial dikategorikan menjadi lima yaitu: sistem pembayaran, pendukung pasar, manajemen investasi, pinjaman, pembiayaan, dan penyediaan modal, serta jasa finansial lainnya. Teknologi finansial memiliki kriteria: bersifat inovatif, dapat berdampak pada produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis finansial yang telah eksis, dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, dapat digunakan secara luas, kriteria lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
2. E-wallet
Menurut Mulyana dan Wijaya (2018:64) e-wallet adalah alat pembayaran digital atau elektronik yang berbasis server. E-wallet biasanya berupa aplikasi yang memerlukan akses internet untuk terhubung dengan server penerbitnya. E-wallet berbeda dengan e-money, salah satu perbedaannya terdapat pada media penyimpanannya. E-wallet menggunakan server untuk media penyimpanan datanya sedangkan e- money menggunakan chip untuk media penyimpanannya (Mulyana dan Wijaya, 2018:64). Selanjutnya, menurut Nandhini dan Girija (2019:4061) e-wallet adalah alat pembayaran virtual non tunai yang dapat menggantikan uang tunai. Sedangkan, Bank Indonesia melalui Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran BAB I Pasal 1 Nomor 7 menjelaskan bahwa dompet elektronik adalah layanan elektronik untuk menyimpan data instrumen pembayaran antara lain alat pembayaran dengan menggunakan kartu dan/atau uang
elektronik, yang dapat juga menampung dana, untuk melakukan pembayaran.
3. Model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology
Model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology pertama kali diperkenalkan oleh Venkatesh et al. (2003). UTAUT merupakan model gabungan dari delapan teori yang telah ada sebelumnya.
Kedelapan teori yang menjadi dasar penyusun model UTAUT yaitu:
a. Theory of Reasoned Action (TRA)
Theory reasoned action (TRA) adalah teori yang dikembangkan pada tahun 1980 oleh Ajzen dan Fishbein. Teori ini lahir karena kurang berhasilnya penelitian-penelitian yang menguji teori sikap (Jogiyanto, 2007:25). Penelitian terdahulu menemukan hubungan yang lemah antara pengukuran-pengukuran sikap dengan kinerja dari perilaku sukarela (Jogiyanto, 2007:25). TRA dapat digunakan untuk pengujian secara longitudinal maupun secara cross-section (Jogiyanto, 2007:57).
Hasil penelitian Ajzen dan Fishbein (1980) menunjukkan bahwa hasil TRA jangka pendek lebih signifikan daripada hasil TRA jangka panjang (Jogiyanto, 2007:57).
b. Technology Acceptance Model (TAM)
Technology acceptance model (TAM) adalah salah satu model penerimaan dan penggunaan teknologi yang sangat berpengaruh dan umum (Jogiyanto, 2007:111). Teori ini merupakan pengembangan dari TRA oleh Ajzen dan Fishbein (1980). Model ini menggunaan perceived
usefulness dan perceived ease of use untuk menguji minat perilaku menggunakan teknologi dan penggunaan teknologi sesungguhnya (Jogiyanto, 2007:113).
c. Motivational Model (MM)
Teori motivasi sering dibedakan menjadi dua kelas motivasi untuk melakukan suatu perilaku yaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik (Davis et al. 1992:1112). Motivasi ekstrinsik mengacu pada kinerja suatu aktivitas yang dianggap berperan dalam mencapai hasil yang dihargai dan berbeda dari aktivitas itu sendiri, seperti peningkatan kinerja, gaji, atau promosi (Davis et al. 1992:1112). Sementara motivasi intrinsik mengacu pada kinerja suatu aktivitas tanpa penguatan yang jelas selain proses melakukan aktivitas itu sendiri (Davis et al.
1992:1112).
d. Theory of Planned Behavior (TPB)
Theory of planned behavior (TPB) merupakan pengembangan dari theory of reasoned action (TRA). Teori ini dikembangkan oleh Icek Ajzen pada tahun 1988 dengan menambahkan sebuah konstruk yaitu perceived behavioral control. Perceived behavioral control ditambahkan untuk mengontrol perilaku yang dibatasi oleh kekurangan dari sumber-sumber daya yang digunakan untuk melakukan perilaku (Jogiyanto, 2007:61).
e. Combined TAM and TPB (C-TAM-TPB)
Combined TAM and TPB (C-TAM-TPB) adalah model gabungan dari technology acceptance model (TAM) dan theory of planned behavior (TPB). Model gabungan ini diharapkan dapat digunakan untuk mendapatkan model yang lebih lengkap untuk menentukan penggunaan sistem (Jogiyanto, 2007:198). Menurut Taylor and Todd (1995a:563) model ini digunakan untuk menguji perbedaan penggunaan teknologi untuk pengguna yang berpengalaman dan tidak berpengalaman.
f. Model of PC Utilization (MCPU)
Model of PC Utilization (MCPU) merupakan model penerimaan dan penggunaan personal computer sebagai bagian dari teknologi.
Model ini diadaptasi dari sebagian besar teori perilaku manusia dalam Triandis (1977) (Venkatesh et al., 2003). Sifat Model of PC Utilization sangat cocok untuk memprediksi penerimaan dan penggunaan berbagai teknologi informasi (Venkatesh et al., 2003).
g. Innovation Diffusion Theory (IDT)
Innovation Diffusion Theory (IDT) merupakan model pengukur persepsi mengadopsi inovasi pada teknologi informasi (Moore dan Benbasat, 1991:192). Model ini menjelaskan pengembangan instrumen yang dirancang untuk mengukur persepsi pengguna dalam mengadopsi inovasi teknologi informasi (Moore dan Benbasat, 1991:193).
Instrumen ini dimaksudkan sebagai alat untuk mempelajari adopsi awal
TI oleh inividu dalam organisasi dan perbedaan teknologi dalam organisasi (Moore dan Benbasat, 1991:193).
h. Social Cognitive Theory (SCT)
Social cognitive theory (SCT) lahir dari pentingnya memahami faktor-faktor perilaku individu yang memengaruhi penggunaan suatu teknologi (Jogiyanto, 2007:257). Social cognitive theory berbasis pada prinsip bahwa pengaruh-pengaruh lingkungan, kognitif, dan perilaku saling memengaruhi satu sama lain (Jogiyanto, 2007:258). Lingkungan atau karakteristik situasional memengaruhi perilaku pada situasi tertentu, yang kemudian gilirannya dipengaruhi kembali oleh perilaku (Jogiyanto, 2007:258). Hubungan timbal balik antara lingkungan, perilaku, dan kognitif disebut sebagai triadic reciprocality (Jogiyanto, 2007:258).
Tabel 1. menunjukkan rangkuman kedelapan teori penyusun UTAUT:
Tabel 1. Teori Penyusun UTAUT
Teori Konstruk inti Definisi
Theory of Reasoned Action (TRA) TRA merupakan salah satu teori perilaku manusia yang paling fundamental, berpengaruh, dan telah
digunakan untuk
memprediksi berbagai macam perilaku. Davis et al.
(1989) menerapkan TRA untuk penerimaan individu terhadap teknologi dan menemukan bahwa varians yang dijelaskan sebagian besar konsisten dengan studi yang menggunakan TRA dalam konteks perilaku lain.
Attitude toward behavior
Attitude toward behavior adalah perasaan positif atau negatif seseorang tentang melakukan perilaku (Fishbein dan Ajzen, 1975:216 dalam Venkatesh et al., 2003:428).
Subjective norm
Subjective norm adalah persepsi orang bahwa kebanyakan orang yang penting baginya berpikir dia harus atau tidak harus melakukan perilaku tersebut (Fishbein dan Ajzen, 1975:302 dalam Venkatesh et al., 2003:428).
Technology Acceptance Model (TAM) TAM disesuaikan dengan
konteks sistem informasi, dan dirancang untuk memahami penerimaan dan penggunaan teknologi informasi di tempat kerja.
TAM 2 memperluas TAM dengan memasukkan subjective norm sebagai variabel prediksi tambahan dari niat dalam kasus penggunaan yang diwajibkan (Venkatesh dan Davis, 2000).
Perceived usefulness
Perceived usefulness adalah tingkat keyakinan seseorang bahwa menggunakan sistem tertentu akan meningkatkan
kinerjanya (Davis, 1989:320)
Tabel 1. Teori Penyusun UTAUT (Lanjutan)
Teori Konstruk inti Definisi
Technology Acceptance Model (TAM)
Perceived ease of use
Perceived ease of use adalah tingkat keyakinan bahwa menggunakan sistem tertentu akan bebas dari usaha (Davis, 1989:320).
Subjective norm
Diadaptasi dari TRA/TPB. Disertakan hanya dalam TAM 2.
Motivational Model (MM) Badan penting penelitian psikologi telah mendukung teori motivasi umum sebagai penjelasan untuk perilaku (Venkatesh et al., 2003).
Vallerand (1997) menyajikan tentang prinsip-prinsip dasar dari teori motivasi ini dalam tiga level yaitu global, kontekstual, dan situasional.
Dalam domain sistem informasi, Davis et al. (1992) menerapkan teori motivasi untuk memahami adopsi dan penggunaan teknologi baru.
Extrinsic motivation
Extrinsic motivation adalah persepsi bahwa pengguna ingin melakukan suatu aktivitas karena dianggap berperan penting dalam mencapai hasil yang dihargai dan berbeda dari aktivitas itu sendiri, seperti peningkatan kinerja, gaji, atau promosi (Davis et al., 1992:1112).
Intrinsic motivation
Intrinsic motivation adalah persepsi bahwa pengguna ingin melakukan aktivitas tanpa penguat yang jelas selain proses melakukan aktivitas itu sendiri (Davis et al., 1992:1112).
Tabel 1. Teori Penyusun UTAUT (Lanjutan)
Teori Konstruk inti Definisi
Theory of Planned Behavior (TPB) TPB memperluas TRA
dengan menambahkan konstruk perceived behavioral control (Ajzen, 1991). Di TPB, perceived behavioral control menjadi penentu tambahan dari niat dan perilaku. TPB telah berhasil diterapkan untuk memahami penerimaan individu dan penggunaan banyak teknologi yang berbeda (Venkatesh et al., 2003).
Attitude toward behavior
Diadaptasi dari TRA
Subjective norm
Diadaptasi dari TRA
Perceived behavioral control
Perceived behavioral control adalah kemudahan atau kesulitan yang dirasakan dalam melakukan perilaku (Ajzen, 1991:188).
Dalam konteks penelitian sistem informasi, kontrol perilaku dapat didefinisikan sebagai persepsi kendala internal dan eksternal pada perilaku (Taylor dan Todd, 1995b:149).
Combined TAM and TPB (C-TAM-TPB) Model ini menggabungkan
variabel prediksi TPB dengan perceived usefulness dari TAM untuk menyediakan model hybrid (Taylor dan Todd, 1995a)
Attitude toward behavior
Diadaptasi dari TRA/TPB
Subjective norm
Diadaptasi dari TRA/TPB
Perceived behavioral control
Diadaptasi dari TRA/TPB
Perceived usefulness
Diadaptasi dari TAM
Tabel 1. Teori Penyusun UTAUT (Lanjutan)
Teori Konstruk inti Definisi
Model of PC Utilization (MPCU) Model of PC Utilization berasal sebagian besar dari teori perilaku manusia (Triandis, 1977 dalam Venkatesh et al., 2003). Sifat Model of PC Utilization sangat cocok untuk memprediksi penerimaan individu dan penggunaan berbagai teknologi informasi (Venkatesh et al., 2003).
Namun, sesuai dengan akar teori, penelitian ini akan menguji pengaruh faktor penentu ini pada niat (Venkatesh et al., 2003).
Job-fit Job-fit adalah tingkat seorang individu percaya bahwa menggunakan
teknologi dapat meningkatkan
kinerjanya (Thompson et al., 1991:129).
Complexity Complexity adalah tingkat seseorang menganggap suatu inovasi relatif sulit untuk dipahami dan digunakan (Thompson et al., 1991:128).
Long-term consequences
Long-term
consequences adalah hasil yang akan diperoleh di masa mendatang (Thompson et al., 1991:129) Affect towards
use
Affect towards use adalah perasaan gembira, bahagia, atau senang, atau depresi, jijik, tidak senang, atau benci yang terkait dengan seseorang dengan tindakan tertentu (Thompson et al., 1991:127).
Tabel 1. Teori Penyusun UTAUT (Lanjutan)
Teori Konstruk inti Definisi
Model of PC Utilization (MPCU)
Social factors Social factors adalah internalisasi individu dari budaya subjektif kelompok referensi, dan kesepakatan interpersonal spesifik yang dibuat individu dengan orang lain, dalam situasi sosial tertentu (Thompson et al., 1991:126).
Facilitating conditions
Faktor objektif di lingkungan yang disetujui pengamat membuat suatu tindakan mudah dilakukan. Misalnya, pengembalian barang yang dibeli secara online difasilitasi ketika tidak ada biaya yang dibebankan untuk mengembalikan barang tersebut. Dalam konteks sistem informasi, penyediaan dukungan untuk pengguna PC dapat menjadi salah satu jenis kondisi fasilitasi
yang dapat
memengaruhi
pemanfaatan sistem (Thompson et al., 1991:129).
Tabel 1. Teori Penyusun UTAUT (Lanjutan)
Teori Konstruk Inti Definisi
Innovation Diffusion Theory (IDT) Dalam sistem informasi,
Moore dan Benbasat (1991) mengadaptasi karakteristik inovasi yang disajikan Rogers (1995) dan menyempurnakan konstruk yang dapat digunakan untuk mempelajari penerimaan teknologi secara individu.
Moore dan Benbasat (1996) menemukan dukungan untuk validitas prediksi dari karakteristik inovasi ini.
Relative advantage
Relative advantage adalah tingkat seseorang percaya bahwa suatu inovasi lebih baik daripada pendahulunya (Moore dan Benbasat, 1991:195).
Ease of use Ease of use tingkat seseorang percaya bahwa suatu inovasi dianggap mudah dipelajari dan digunakan (Moore dan Benbasat, 1991:215).
Image Image adalah tingkat seseorang percaya penggunaan inovasi dapat meningkatkan status sosial seseorang (Moore dan Benbasat, 1991:195).
Visibility Visibility adalah sejauh mana seseorang dapat melihat orang lain menggunakan sistem dalam organisasi (Moore dan Benbasat, 1991 dalam Venkatesh et al., 2003:431).
Compatibility Compatibility adalah tingkat seseorang percaya bahwa inovasi konsisten dengan nilai- nilai yang ada, kebutuhan, dan pengalaman masa lalu pengguna (Moore dan Benbasat, 1991:195).
Tabel 1. Teori Penyusun UTAUT (Lanjutan)
Teori Konstruk Inti Definisi
Innovation Diffusion Theory (IDT) Results
demonstrability
Sifat nyata dari hasil penggunaan inovasi, termasuk kemampuan observasi dan komunikasinya (Moore dan Benbasat, 1991:203).
Voluntariness of use
Sejauh mana
penggunaan inovasi dianggap sukarela, atau karena keinginan bebas (Moore dan Benbasat, 1991:195)
Tabel 1. Teori Penyusun UTAUT (Lanjutan)
Teori Konstruk Inti Definisi
Social Cognitive Theory (SCT) Teori sosial kognitif dianggap sebagai teori perilaku manusia yang paling kuat. Compeau dan Higgins (1995b) menerapkan dan memperluas SCT ke konteks pemanfaatan komputer, sementara Compeau dan Higgins (1995a) juga menggunakan SCT untuk mempelajari kinerja. Model Compeau dan Higgins (1995b) mempelajari penggunaan komputer tetapi sifat model dan teori yang mendasari
memungkinkannya diperluas ke penerimaan dan penggunaan teknologi informasi secara umum (Venkatesh et al., 2003).
Model asli Compeau dan
Higgins (1995b)
menggunakan penggunaan sebagai variabel dependen tetapi sesuai dengan semangat memprediksi penerimaan individu.
Outcomes expectation- performance
Outcomes expectation- performance
didefinisikan sebagai kinerja terkait dengan konsekuensi perilaku.
Secara khusus, performance
expectancy
berhubungan dengan hasil terkait pekerjaan
(Compeau dan
Higgins, 1995b:197) Outcomes
expectation- personal
Outcomes expectation- personal didefinisikan sebagai konsekuensi pribadi dari perilaku tersebut. Secara khusus, ekspektasi pribadi berhubungan dengan harga diri individu dan rasa pencapaian (Compeau
dan Higgins,
1995b:198).
Self-efficacy Penilaian kemampuan seseorang dalam menggunakan
teknologi untuk menyelesaikan
pekerjaan atau tugas tertentu (Venkatesh et al., 2003:432).
Affect Kecintaan seseorang terhadap perilaku tertentu misalnya, penggunaan komputer (Venkatesh et al., 2003:432).
Tabel 1. Teori Penyusun UTAUT (Lanjutan)
Teori Konstruk Inti Definisi
Social Cognitive Theory (SCT)
Anxiety Perilaku yang
membangkitkan reaksi cemas atau emosional saat dilakukan misal, saat menggunakan komputer (Venkatesh et al., 2003:432).
Sumber: Venkatesh et al. (2003)
Dari kedelapan teori tersebut, Venkatesh et al. (2003:447) menghasilkan model UTAUT dengan empat konstruk yaitu performance expectancy, effort expectancy, social influence dan facilitating conditions untuk menguji perilaku menggunakan teknologi. Keempat konstruk tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a. Performance expectancy
Menurut Venkatesh et al. (2003:447) performance expectancy adalah sejauh mana menggunakan sistem akan memberikan keuntungan dalam peningkatan kinerja. Performance expectancy menunjukkan kegunaan suatu sistem dalam kehidupan sehari-hari (Venkatesh et al., 2012:43). Selain itu, performance expectancy juga berkaitan dengan kemampuan sistem untuk meningkatkan pencapaian, meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan efisiensi (Venkatesh et al., 2012:43).
Performance expectancy disusun oleh lima konstruk. Berikut penjelasan dari kelima konstruk tersebut:
1) Perceived usefulness
Perceived usefulness adalah tingkat keyakinan seseorang bahwa menggunakan sistem akan meningkatkan kinerjanya (Davis, 1989:320). Peningkatan kinerja dapat berupa peningkatan kecepatan penyelesaian tugas, peningkatan produktivitas, efektivitas dan kemudahan.
2) Extrinsic Motivation
Extrinsic motivation adalah persepsi bahwa pengguna akan melakukan kegiatan karena dianggap berdampak pada pencapaian hasil yang berbeda dari kegiatan tersebut, misalnya peningkatan kinerja, pembayaran, atau promosi (Davis et al., 1992:1112).
3) Job-fit
Job-fit adalah kemampuan sebuah sistem meningkatkan kinerja individu (Thompson et al., 1991:129). Peningkatan kinerja yang dimaksud dapat berupa peningkatan kecepatan mengerjakan tugas, peningkatan kualitas, efektivitas, dan hasil.
4) Relative Advantage
Relative advantage adalah sejauh mana menggunakan inovasi lebih baik daripada menggunakan pendahulunya (Moore dan Benbasat, 1991:195). Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan penyelesaian tugas, kualitas, efektivitas dan produktivitas. Selain itu, menggunakan sistem juga akan membuat pekerjaan menjadi semakin mudah.
5) Outcomes Expectation
Outcomes expectation merujuk pada konsekuensi penggunaan sistem (Compeau dan Higgins, 1995b:197). Konsekuensi yang dimaksud dapat berupa peningkatan efektivitas, penghematan waktu, pengakuan, dan promosi jabatan.
b. Effort Expectancy
Effort expectancy adalah tingkat kemudahan berkaitan dengan penggunaan sistem (Venkatesh et al., 2003:450). Effort expectancy menunjukkan kemudahan suatu sistem untuk dipelajari, dipahami, dan digunakan sehingga seseorang akan terampil menggunakan sistem tersebut (Venkatesh et al., 2012:43). Effort expectancy disusun oleh tiga konstruk. Berikut ini ketiga konstruk tersebut:
1) Perceived Ease of Use
Perceived ease of use adalah sejauh mana menggunakan sistem tidak memerlukan usaha (Davis, 1989:320).
2) Complexity
Complexity adalah sejauh mana sebuah sistem sulit untuk dipahami dan digunakan (Thompson et al., 1991:128).
3) Ease of Use
Ease of use adalah sejauh mana inovasi mudah dipelajari dan digunakan (Moore dan Benbasat, 1991:215).
c. Social Influence
Menurut Venkatesh et al. (2003:451) social influence adalah tingkat seseorang merasa orang-orang yang penting percaya bahwa Ia harus menggunakan sistem baru. Social influence berkaitan dengan pengaruh dari orang-orang yang penting dan dihargai untuk menggunakan suatu sistem (Venkatesh et al., 2012:43). Social influence disusun oleh tiga konstruk. Ketiga konstruk tersebut adalah:
1) Subjective Norm
Subjective norm adalah pandangan seseorang bahwa sebagian besar orang penting baginya berpikir Ia harus atau tidak boleh melakukan perilaku (Ajzen, 1991:188).
2) Social influence
Social influence adalah pengaruh individu yang menanamkan habit dan perjanjian interpersonal spesifik dalam suatu kelompok yang telah dibuat individu dengan yang lain pada situasi sosial tertentu (Thompson et al., 1991:126).
3) Image
Image adalah tingkat penggunaan suatu sistem dinilai berpengaruh untuk meningkatkan status sosial seseorang (Moore dan Banbasat, 1991:195).
d. Facilitating conditions
Menurut Venkatesh et al. (2003:453) facilitating conditions adalah sejauh mana infrastruktur dan teknis yang ada mendukung penggunaan sistem. Facilitating conditions berkaitan dengan tersedianya sarana, pengetahuan, dan bantuan yang diperlukan dalam menggunakan suatu sistem (Venkatesh et al., 2012:43). Selain itu, facilitating conditions juga berkaitan dengan kecocokan sistem dengan teknologi lain yang digunakan (Venkatesh et al., 2012:43). Facilitating conditions disusun oleh tiga konstruk yaitu:
1) Perceived Behavioral Control
Perceived behavioral control adalah persepsi kendala internal dan eksternal pada perilaku dan kemampuan individu, sumber daya yang memfasilitasi, dan kondisi teknologi yang memfasilitasi (Ajzen, 1991:188; Taylor dan Todd, 1995b:149).
2) Facilitating conditions
Facilitating conditions adalah faktor objektif di lingkungan yang anggap pengamat akan membuat suatu tindakan mudah dilakukan, termasuk penyediaan komputer pendukung (Thompson et al., 1991:129).
3) Compatibility
Compatibility adalah sejauh mana inovasi dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang ada, kebutuhan, dan pengalaman potensial pengguna (Moore dan Benbasat, 1991:195).
Gambar II: Kerangka Model UTAUT Sumber: Venkatesh et al. (2003:447)
4. Model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT 2) Venkatesh et al. (2012) memberikan tambahan tiga konstruk untuk model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT 2).
Ketiga konstruk baru dalam UTAUT 2 yaitu hedonic motivation, price value, dan habit. Ketiga konstruk tersebut ditambahkan untuk melengkapi kesenjangan dalam model UTAUT.
Pertama, hedonic motivation merupakan bagian dari motivasi intrinsik menjadi pelengkap performance expectancy yang merupakan extrinsic motivation (Venkatesh et al., 2012:7). Selanjutnya, price value cocok untuk penggunaan teknologi oleh konsumen karena harga perolehan perangkat dan layanan menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan (Venkatesh et al., 2012:8). Terakhir, habit merupakan faktor tambahan yang menjadi pelengkap penerimaan awal. Habit menjadi faktor kritis yang akan
memprediksi penggunaan teknologi. Berikut ini penjelasan lebih lanjut ketiga konstruk tersebut:
a. Hedonic Motivation
Hedonic motivation merupakan bagian dari intrinsic motivation (Vallerand, 1997:279). Hedonic motivation diartikan sebagai kesenangan yang diperoleh dari penggunaan teknologi (Brown dan Venkatesh, 2005:405). Hedonic motivation telah terbukti memiliki peran penting dalam penerimaan dan penggunaan teknologi (Venkatesh et al., 2012:8).
b. Price value
Price value menjadi pembeda antara penggunaan konsumen dan penggunaan dalam organisasi. Dalam hal ini konsumen secara individu membayar biaya yang karyawan tidak bayarkan karena difasilitasi oleh organisasi. Menurut Zeithaml (1988:17) biaya atau harga moneter biasanya dibandingkan dengan kualitas produk atau layanan untuk menentukan nilai tambah yang diperoleh dari suatu produk atau jasa.
Price value menjadi positif ketika manfaat dari penggunaan teknologi dianggap lebih besar daripada biaya yang dikorbankan untuk menggunakan teknologi. Price value positif akan memiliki dampak positif pada behavioral intention menggunakan sistem.
c. Habit
Habit adalah tingkat seseorang cenderung berperilaku secara otomatis karena belajar (Limayem et al., 2007:709). Belajar dalam hal
ini dapat diartikan sebagai tahap awal penggunaan sistem. Dalam penelitian ini habit lebih dipandang sebagai perilaku seseorang. Oleh karena itu, habit dapat diartikan sebagai perilaku seseorang karena terbiasa. Pengalaman dapat menjadi salah satu faktor pembentukan habit tergantung pada tingkat intensitas perilaku. Semakin seseorang memiliki pengalaman dan intensitas tinggi berperilaku maka perilaku tersebut akan semakin menjadi kebiasaan.
Gambar III: Kerangka Model UTAUT 2 Sumber: Venkatesh et al. (2012) 5. Perceived Risk
Featherman dan Pavlou (2003:453) mendefinisikan perceived risk sebagai ketidakpastian mengenai kemungkinan adanya konsekuensi negatif dari penggunaan produk atau layanan. Konsumen dengan persepsi risiko tinggi cenderung tidak membeli produk atau layanan online (Lee dan Tan,
2003:883). Menurut Featherman dan Pavlou (2003:454) perceived risk tersusun dari beberapa aspek diantaranya yaitu performance risk, financial risk, time risk, psychological risk, social risk, privacy risk, dan overall risk.
Berikut merupakan definisi dari masing-masing aspek perceived risk:
Tabel 2. Definisi Aspek Risiko Aspek Perceived
Risk
Deskripsi dan definisi
Performance risk Kemungkinan produk atau layanan tidak berfungsi atau berfungsi tidak sesuai dengan yang dirancang dan diiklankan oleh karena itu gagal memberikan manfaat yang diharapkan oleh pengguna.
Financial risk Potensi pengeluaran biaya yang terkait dengan harga pembelian awal dan biaya pemeliharaan produk selama pemakaian. Aspek risiko keuangan diperluas dengan memasukkan potensi kerugian finansial karena penipuan.
Time risk Kemungkinan konsumen akan kehilangan waktu saat membuat keputusan pembelian yang buruk.
Keputusan pembelian yang buruk bisa terjadi karena konsumen membutuhkan banyak waktu untuk mencari-cari produk dan melakukan pembelian, mempelajari cara menggunakan produk atau layanan hanya untuk menggantinya jika tidak sesuai dengan harapan.
Psychological risk Potensi kehilangan harga diri dan frustrasi karena perasaan tentang diri sendiri. Konsumen merasa tidak bijaksana jika mereka memperoleh produk yang tidak baik dan mungkin merasa merusak image mereka karena tidak mencapai tujuan pembelian mereka.
Social risk Potensi hilangnya status dalam kelompok sosial sebagai akibat mengadopsi produk atau layanan, terlihat bodoh, atau tidak trendi.
Privacy risk Potensi kehilangan kendali atas informasi pribadi, seperti ketika informasi tentang anda digunakan tanpa sepengetahuan atau izin anda. Hal ini termasuk ketika ada konsumen yang dipalsukan.
Overall risk Ukuran perceived risk saat semua kriteria dievaluasi bersama-sama.
Sumber: Featherman dan Pavlou (2003:455)
Penelitian sebelumnya menggunakan faktor-faktor risiko yang dipersepsikan dalam penelitian berkaitan dengan minat perilaku konsumen dan menemukan bahwa perceived risk berdampak buruk pada behavioral intention karena minat dapat berakhir dikarenakan adanya risiko (Monilakshmane dan Rajeswari, 2018:154). Eneizan et al. (2019:4) menyampaikan bahwa penelitian sebelumnya menggunakan perceived risk sebagai prediktor dari behavioral intention memperoleh hasil yang bersifat negatif. Hasil penelitian behavioral intention oleh Lee (2013:154) mengungkapkan bahwa perceived risk berpengaruh negatif terhadap behavioral intention. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa perceived risk memiliki pengaruh negatif terhadap behavioral intention (Liu dan Wei, 2003:232; Akhlaq dan Ahmed, 2015:637).
6. Trust
Alalwan et al. (2017:103) mendefinisikan trust sebagai akumulasi keyakinan pelanggan atas integritas, kebajikan, dan kemampuan yang dapat meningkatkan kemauan seseorang untuk melakukan sesuatu. Merhi et al.
(2019:4) mendefinisikan trust pada teknologi sebagai persepsi tertentu dan kekuatan emosional yang kemudian akan memengaruhi kepercayaan pengguna pada teknologi. Merhi et al. (2019:4) menyatakan jika ada kepercayaan yang tinggi dalam suatu teknologi, maka akan menurunkan perceived risk sehingga secara positif memengaruhi behavioral intention. Eneizan et al. (2019:4) menyampaikan bahwa trust memberikan pengaruh positif dan menjadi prediktor behavioral intention yang signifikan.
Penelitian terdahulu membuktikan bahwa trust memberikan pengaruh positif terhadap behavioral intention (Alalwan et al. 2017; Hidayat et al.
2020; Merhi et al. 2018).
7. Behavioral Intention
Behavioral intention adalah keinginan seseorang melakukan suatu perilaku (Jogiyanto, 2007:25). Menurut Jogiyanto (2007:25) minat belum merupakan perilakunya. Manmman et al. (2016:51) mendefinisikan minat sebagai seberapa keras orang mau mencoba dan berapa banyak determinasi yang mereka rencanakan untuk digunakan dalam melakukan suatu perilaku.
Di sisi lain, Venkatesh et al. (2003:445) menggunakan intention sebagai prediksi dari perilaku pada masa mendatang. Intention dapat digunakan untuk memprediksi perilaku aktual, oleh karena itu masalah yang terkait dengan penggunaan ukuran subjektif usage tidak berlaku (Venkatesh et al., 2003:446). Venkatesh et al. (2012:43) menegaskan bahwa behavioral intention berkaitan dengan minat seseorang yang telah menggunakan suatu sistem dan akan menggunakannya lagi sesering mungkin. Selain itu, Venkatesh et al. (2012:43) juga menjelaskan behavioral intention berkaitan dengan melanjutkan penggunaan suatu sistem pada masa mendatang.
Behavioral intention berbeda dengan customer loyalty. Loyalitas mengacu pada perasaan setia pada objek loyalitas, daripada transaksi komersial yang berulang (Casidy dan Wymer, 2016:196). Kesetiaan pada objek loyalitas berarti pengguna tidak ingin menggunakan objek lain yang sejenis atau mengganti objek loyalitas. Hal ini dipertegas oleh Budiarta dan
Fachira (2017:151) yang menyatakan bahwa pelanggan yang loyal tidak akan beralih ke penyedia layanan lain dengan perbedaan kecil, seperti harga atau layanan. Hal ini menyebabkan pesaing dikecualikan dari pertimbangan (Bowen dan Shoemaker, 1998). Di sisi lain, orang yang berminat terhadap suatu produk atau layanan tetap bisa mengganti-ganti produk atau layanan sesuai dengan faktor yang memengaruhi minatnya.
B. Penelitian Terdahulu
1. Venkatesh et al. (2012) melaui penelitian ini mengenalkan model terbaru dari Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) yaitu Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT 2).
UTAUT 2 memiliki tiga konstruk baru yaitu hedonic motivation, price value, dan habit. Model UTAUT 2 diharapkan mampu melengkapi model sebelumnya dalam menganalisis perilaku menggunakan teknologi dari perspektif konsumen. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan untuk performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions terhadap behavioral intention menggunakan sistem. Selain itu, terdapat juga pengaruh signifikan untuk facilitating conditions dan behavioral intention menggunakan sistem terhadap use behavior. Hedonic motivation berpengaruh positif terhadap behavioral intention menggunakan sistem. Price value berpengaruh positif terhadap behavioral intention menggunakan sistem. Habit akan berpengaruh positif terhadap behavioral intention menggunakan sistem dan penggunaan sistem. Behavioral intention menggunakan sistem akan
berpengaruh positif terhadap penggunaan sistem pada tingkat pengalaman yang lebih rendah.
2. Alalwan et al. (2017) melakukan penelitian berkaitan dengan adopsi mobile banking di Yordania. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh signifikan performance expectancy, effort expectancy, hedonic motivation, price value, dan trust terhadap behavioral intention. Behavioral intention dan facilitating condition berpengaruh signifikan terhadap actual adoption mobile banking di Yordania. Di sisi lain social influence tidak berpengaruh positif terhadap behavioral intention.
3. Nuriska et al. (2018) melakukan penelitian untuk memberikan solusi atas permasalahan perilaku konsumen dalam menggunakan GoPay, khususnya di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian tersebut dilakukan menggunakan model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT 2). Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Nuriska et al.
(2018) dengan penelitian ini terdapat pada variabel eksternal yang ditambahkan oleh peneliti dan subjek penelitian. Penelitian Nuriska et al.
(2018) menggunakan model UTAUT 2 tanpa variabel eksternal, sedangkan penelitian ini menambahkan perceived risk dan trust untuk menjawab latar belakang masalah pada penelitian ini. Subjek penelitian Nuriska et al.
(2018) adalah pengguna GoPay di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sedangkan penelitian ini berfokus pada mahasiswa pengguna GoPay yang berkuliah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan performance expectancy, effort expectancy, social
influence, dan hedonic motivation tidak berpengaruh positif terhadap behavioral intention menggunakan GoPay di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sisi lain, Facilitating conditions, price value dan habit berpengaruh positif dan signifikan terhadap behavioral intention menggunakan GoPay di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil dari penelitian ini juga menunjukkan hubungan facilitating conditions dan effort expectancy terhadap behavioral intention di moderasi oleh usia. Selain penelitian Nuriska et al. (2018) peneliti belum menemukan penelitian lain terhadap terhadap behavioral intention pengguna GoPay menggunagakan model UTAUT 2.
4. Merhi et al. (2019) melakukan penelitian ini dengan tujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang menghambat dan meningkatkan adopsi mobile banking lintas budaya. Peneliti menggunakan model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT 2) dengan tambahan konstruk perceived risk, perceived privacy dan trust. Peneliti menghapus konstruk facilitating condition dan konstruk moderasi dari penelitian ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan habit, perceived risk, perceived privacy, dan trust memiliki pengaruh signifikan terhadap intensi menggunakan mobile banking konsumen Lebanon dan Inggris. Selain itu, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa performance expectancy, effort expectancy, dan price value secara unik berbanding terbalik di Lebanon dan Inggris. Performance expectancy berpengaruh signifikan di Lebanon namun tidak di Inggris, sementara effort expectancy dan price value berpengaruh signifikan di
Inggris namun tidak di Lebanon. konstruk lain dalam penelitian ini yaitu social influence dan hedonic motivation tidak mencapai signifikansi di kedua negara.
5. Martins et al. (2014) melakukan penelitian dengan model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT 2) ditambah perceived risk untuk menguji adopsi internet banking. Hasil dari penelitian ini menunjukkan performance expectancy, effort expectancy, social influence dan perceived risk berpengaruh terhadap behavioral intention, sedangkan facilitating condition tidak berpengaruh terhadap use behavior. Perceived risk berpengaruh positif dan signifikan terhadap performance risk, financial risk, time risk, psychological risk, social risk, privacy risk, dan overall risk.
Perceived risk berpengaruh negatif dan signifikan terhadap behavioral intention. Perceived risk berpengaruh negatif dan signifikan terhadap performance expectancy. Effort expectancy berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perceived risk. Behavioral intention berpengaruh positif dan signifikan terhadap use behavior.
6. Putranto (2020) melakukan penelitian untuk menguji faktor-faktor dalam model UTAUT2 yang memengaruhi para pengguna dalam menggunakan layanan mobile banking. Hasil penelitian ini menunjukkan performance expectancy dan habit berpengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan mobile banking. Habits dan behavioral intention berpengaruh positif dan signifikan terhadap actual behavior. Di sisi lain, pengaruh facilitating conditions, hedonic motivation, price value, social influence,
dan effort expectancy terhadap behavioral intention tidak terdukung.
Pengaruh facilitating conditions terhadap actual behavior tidak terdukung.
7. Putri dan Suardikha (2019) melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi niat dan perilaku menggunakan e-money berdasarkan model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT 2). Penelitian ini tidak memasukan usia, jenis kelamin, dan pengalaman ke dalam faktor moderasinya. Hasil penelitian ini menunjukkan performance expectancy, effort expectancy, social influence, dan facilitating conditions tidak berpengaruh terhadap behavioral intention menggunakan e-money. Di sisi lain, facilitating conditions, hedonic motivation, price value, dan habit berpengaruh positif terhadap behavioral intention menggunakan e-money. Selain itu, behavioral intention menggunakan sistem berpengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan e-money.
8. Hidayat et al. (2020) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa ada pengaruh signifikan dari effort expectancy, social influence, facilitating conditions, perceived trust, perceived risk, dan habit terhadap behavioral intention, sedangkan facilitating conditions, habit, dan behavioral intention memiliki hubungan yang signifikan dengan use behavior. Di sisi lain, performance expectancy, hedonic motivation dan price value tidak berpengaruh signifikan terhadap behavioral intention.
C. Perumusan Hipotesis Penelitian