5 BAB II
LANDASAN TEORI 2.1 Supply chain
Istilah Supply Chain telah digunakan sejak tahun 1970-an. Seperti yang digunakan oleh Banbury, (1975) yang menggunakan konsep Supply Chain di artikelnya yang berjudul “ Distribution – The final link in the electricity – Supply Chain”, yang menuliskan tentang Supply chain aliran listrik menuju konsumen akhir. Dan istilah Supply Chain Management sendiri muncul pada awal 1980-an yang dikemukakan oleh Oliver dan Weber. Supply Chain adalah sebuah jaringan yang terdiri dari beberapa pihak yang menyuplai raw material, merakit, memproduksi produk, dan mendistribusikannya melalui satu atau banyak distributor, kepada customer akhir.
Pada Supply Chain ini terdapat tiga aliran yang parallel, yaitu barang dan pelayanan, informasi, dan finansial. Supply chain mencakup setiap usaha yang terlibat dalam memproduksi dan memberikan produk akhir, dari pemasok untuk pelanggan. Lima proses Plan, Make, Source, Deliver, Return, Secara luas mendefinisikan upaya ini, yang meliputi mengelola pasokan dan permintaan, sumber bahan baku dan suku cadang, manufaktur dan perakitan, pergudangan dan inventaris, order dan manajemen pesanan, distribusi di semua saluran, dan pengiriman ke pelanggan. Supply Chain yang baik akan meningkatkan efektivitas, efisiensi dan kualitas serta menciptakan keunggulan kompetitif. Oleh karena itu, lahirlah konsep baru untuk mengintegrasikan dengan baik semua pihak yang terlibat, yaitu Supply Chain Management.
Istilah Supply Chain Management pertama kali dicetuskan oleh Oliver dan Weber pada tahun 1982, yaitu metode, alat atau pendekatan pengelolaan Supply Chain. Supply Chain Management telah didefinisikan oleh banyak pihak dan masih dianggap sebagai sinonim untuk kata logistik, suplai, dan kontrol Supply Chain. Menurut (Chen & Simchi-Levi, 2004) Supply Chain Management adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan secara efisien
pemasok, produsen, gudang dan toko sehingga barang yang diproduksi dan didistribusikan dengan jumlah yang tepat, untuk lokasi yang tepat, dan pada waktu yang tepat dalam rangka meminimalkan seluruh sistem biaya serta memuaskan kebutuhan service level.
Tujuan Supply Chain Management adalah untuk mendesain Supply Chain dan menyinkronkan proses utama pemasok, perusahaan dan pelanggan, sehingga dapat terjadi kesesuaian antara aliran layanan, material dan informasi, dengan permintaan pelanggan (Krajewski et al., 2007).
Tantangan dalam mengelola Supply Chain terdapat pada dua hal utama, yaitu, kompleksitas struktur Supply Chain dan ketidakpastian. Kompleksitas struktur Supply Chain terdapat pada banyak pihak yang terlibat dan memiliki kepentingan yang berbeda – beda, serta adanya perbedaan bahasa, zona waktu, dan budaya antar perusahaan. Sedangkan ketidakpastian terdapat pada ketidakpastian permintaan, pasokan ( lead time pengiriman, harga, dan kualitas bahan baku ), dan ketidakpastian internal, yakni kerusakan mesin, kinerja mesin yang tidak sempurna, dan ketidakpastian kualitas produksi (Christopher, M.
1998).
2.2 Penilaian Kinerja Supply Chain
Penilaian kinerja dapat difenisikan sebagai proses kualifikasi efisiensi dan efektivitas suatu tindakan. Sebuah ukuran kinerja dapat didefinisikan sebagai metrik yang digunakan untuk mengukur efisiensi dan atau efektivitas suatu tindakan. Penilaian kinerja seharusnya berkontribusi lebih banyak untuk manajemen bisnis dan peningkatan kinerja dalam bisnis (Chan & Qi, 2003).
Penilaian kinerja pada Supply Chain sangat penting, karena dengan adanya penilaian kinerja tersebut perusahaan dapat mengatur perusahaannya berdasarkan kinerja perusahaan yang telah terukur. Menurut (Hervani et al., 2005), penilaian kinerja perusahaan berlanjut, berkembang dan mencakup pendekatan dan penilaian kuantitatif dan kualitatif. Berbagai ukuran kinerja sangat tergantung pada tujuan, strategi, dan karakteristik organisasi atau unit bisnis.
Menurut Beamon, B. M. (1998) mengkategorikan ukuran kinerja menjadi dua, yaitu, kelompok kualitatif dan kuantitatif. Penilaiankualitatif tidak dapat
diukur. Beberapa contoh penilaian kualitatif pelanggan kepuasan dan HCI (Human Capital Index). Kepuasan pelanggan dapat diukur dengan meminta pelanggan untuk menilai perusahaan dari skala 1-5. Sedangkan contoh penilaian kuantitatif diantaranya adalah ketepatan dalam proses pengiriman, yakni dalam hal jumlah dan ketepatan waktu.
2.3 Pengukuran Kinerja
Pengukuran terdiri dari penetapan suatu bilangan menurut suatu kejadian tertentu. Pengukuran mencakup 3 proses sebagai berikut:
1. Pemilihan kejadian yang cukup mudah diamati.
2. Menggunakan simbol atau angka untuk mewakili suatu kejadian.
3. Menerapkan sebuah aturan untuk menghubungkan pengamatan berdasarkan simbol.
Hal tersebut dipertegas oleh Robert Simon bahwa pengukuran merupakan suatu nilai yang kuantitatif yang dapat dibuat skala untuk maksud perbandingan (Simons et al., 2000). Proses pengukuran dalam penelitian terdiri dari 3 kegiatan yaitu:
1. Menentukan dimensi penelitian
2. Merumuskan ukuran masing-masing dimensi.
3. Menentukan tingkat ukuran yang akan digunakan.
Kinerja merupakan hasil kerja dan usaha keras organisasi dalam merealisasikan tujuan yang ditetapkan oleh organisasi dan peranan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Sedangkan menurut Mulyadi kinerja adalah keberhasilan personel, untit orgnisasi atau tim dalam mewujudkan sasaran strategis yang telah ditetapkan sebelumnya (Mulyadi, 2010). Kinerja merupakan bentuk bangunan yang memiliki bentuk bervariasi sehingga cara mengukurnya bervariasi tergantung beberapa faktor (Cullen et al., 1995). Untuk mencapai tujuan kinerja memiliki 4 aspek sebagai berikut:
1. Kemampuan
2. Tingkat tujuan yang ingin dicapai 3. Penerimaan tujuan perusahaan
4. Hubungan antara tujuan dan kinerja karyawan dalam organisasi. Dimana setiap elemen tersebut berpengaruh kepada kinerja seseorang.
Kemampuan yang dibutuhkan oleh organisasi untuk menciptakan kinerja yang efektif diantaranya:
1. Monitor
Organisasi memerlukan informasi untuk dapat meningkatkan kinerja mereka.
2. Analyze
Organisasi harus mengerti apa yang telah terjadi pada bisnis mereka dan mengapa itu terjadi. Kemudian mampu mengidentifikasikan masalah dan mengambil sikap untuk menghadapi isu – isu yang muncul.
3. Plan
Kegiatan organisasi pertama kali adalah menentukan rencana strategi. organisasi membutuhkan sumber anggaran secara akurat, data dan peramalan akan datang.
Pengukuran kinerja adalah satuan matrik yang digunakan untuk menghitung efektifitas dan efisiensi suatu rangkaian tindakan (Neely et al., 1995). Beberapa elemen dalam pengukuran kinerja adalah sebagai berikut:
1. Perbaikan kinerja dapat diukur berdasarkan:
a) Kecepatan dalam meningkatkan efisiensi kinerja.
b) Kualitas layanan, pelayanan yang buruk dapat menghilangkan manfaat yang dicapai dalam kualitas dan kecepatan.
c) Nilai, nilai adalah kombinasi dari kualitas, kecepatan dan harga yang memungkinkan pelanggan untuk merasakan bahwa mereka mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
2. Pengembangan karyawan
Segmen proses penilaian kinerja berkaitan dengan keahlian karyawan.
Tugas utama dalam suatu kepemimpinan adalah mengembangkan kemempuan karyawan sehingga menciptakan karyawan yang berkualitas.
3. Kepuasan karyawan
Kepuasan karyawan adalah elemen kunci dalam perbaikan kinerja.
4. Keputusan kompensasi
Menghubungkan kompensasi karyawan dengan hasil yang dihasilkan sehingga dapat menelusuri peningkatan kinerja mereka dan dapat memberikan motivasi.
5. Komunikasi
Dengan adanya komunikasi yang jelas antara pimpinan dan karyawan maka akan memungkinkan untuk melakukan evaluasi kinerja secara bersama-sama. Hal ini merupakan sebagai pengaman baik pimpinan maupun karyawan agar tidak terkejut dalam penilaian kinerja berikutnya.
Pengukuran kinerja memiliki tujuan yang lebih dari sekedar teknik untuk mengukur, melainkan sebagai identifikasi kelemahan proses yang ada. Ada 2 tujuan pengukuran kinerja adalah sebagai berikut:
1. Sasaran kerja
Merupakan hasil yang ingin dicapai atau kontribusi yang diberikan terhadap pencapaian sasaran tim bagian departemen.
2. Sasaran pengembanagan
Sasaran pengembangan yaitu sasaran pribadi terkait dengan apa yang harus diperhatikan dan dipelajari individu agar mampu meningkatkan kinerja mereka (Michael, 2006). Beberapa syarat pengukuran kinerja yang efektif adalah:
a) Didasarkan pada aktifitas dari karakteristik organisasi itu sendiri sesuai sudut pandang pelanggan
b) Evaluasi atas berbagai aktifitas mengunakan ukuran kineraja yang Customer-validated.
c) Memberikan tanggapan untuk membantu anggota organisasi mengenai masalah yang ada dan melakukan perbaikan .
2.4 Model Pengukuran Kinerja
Dalam melakukan pengukuran kinerja terdapat beberapa pilihan metode yang bisa digunakan antara lain Balanced Scorecard, Integrated Performance Measurement system (IPMS), Performance Prism, dan Supply Chain Operation Reference (SCOR). Pada metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Supply Chain Operation Reference (SCOR) dengan menggunakan sistem pembobotan dengan Analythical Hierarcy Process (AHP).
2.4.1 Supply Chain Operation Reference (SCOR)
Model Supply Chain Operations Reference (SCOR) adalah suatu model yang dikembangkan oleh Supply Chain Council (SCC) pada tahun 1996.
Model SCOR digunakan untuk mengukur dan meningkatkan kinerja total rantai pasokan perusahaan. Model ini meliputi penilaian terhadap pengiriman dan kinerja pemenuhan permintaan, pengaturan inventaris dan aset, fleksibilitas produksi, jaminan, biaya-biaya proses, serta faktor- faktor lain yang mempengaruhi penilaian kinerja keseluruhan sebuah rantai pasokan yang ada pada supply chain council version 11.0. Sebagai sebuah model referensi, maka pada dasarnya SCOR model didasarkan pada tiga pilar utama, yaitu:
1. Pemodelan proses : referensi untuk mengidentifikassi model suatu proses rantai pasok agar lebih mudah diterjemahkan dan dianalisis.
2. Pengukuran kinerja : referensi untuk mengukur kinerja suatu rantai pasok perusahaan sebagai standart pengukuran.
3. Penerapan best practices : referensi untuk menentukan best practices yang dibutuhkan oleh prusahaan.
Model SCOR sendiri berisi beberapa bagian dan diselenggarakan sekitar lima manajemen utama proses Plan, Source, Make, Deliver, dan Return. Model bisa digunakan untuk menggambarkan rantai pasokan yang sangat sederhana atau sangat kompleks menggunakan seperangkat hampir semua rantai pasokan.
Model ini telah mampu menggambarkan dan memberikan dasar untuk perbaikan rantai pasokan untuk proyek global serta proyek-proyek spesifik lokasi. Model SCOR menyediakan sebuah kerangka berfikir untuk mengukur dan mengerti kondisi dan kinerja supply chain saat ini serta menciptakan fondasi untuk melakukan improvement.
Adapun struktur dari SCOR adalah sebagai berikut :
Sumber : Supply chain Council 2012
Gambar 2. 1 Struktur SCOR
Ruang lingkup utama dari proses SCOR adalah plan, source, make, deliver, dan return.
a) Plan :Merupakan proses-proses yang menyeimbangkan permintaan dan pasokan secara menyeluruh yang bertujuan untuk mengembangkan kebutuhan pengiriman, produksi dan pasokan secara optimal. Plan mencakup proses menaksir kebutuhan distribusi, perencanaan dan pengendalian persediaan, perencanaan produksi, perencanaan material, perencanaan kapasitas dan melakukan penyesuaian supply chain plan dengan financial plan..
b) Source : Merupakan Proses-proses pembelian barang dan jasa yang bertujuan untuk memenuhi permintaan aktual atau yang direncanakan.
Jadi proses bisa bergantung pada apakah barang yang dibeli termasuk stocked, make to order, atau engineer-to-order products..
c) Make : Merupakan proses transformasi material menjadi produk akhir untuk memenuhi permintaan aktual yang direncanakan. Kegiatan make atau produksi dapat dilakukan atas dasar ramalan untuk memenuhi target stok (make-to-stock), atas dasar pesanan (make-to-order), atau (engineer- to-order). Proses yang terlibat disini adalah pejadwalan produksi, melakukan kegiatan produksi dan melakukan pengetesan kualitas, mengelola barang setengah jadi, memelihara fasilitas produksi, dll.
d) Deliver : Merupakan proses-proses penyediaan produk jadi/jasa untuk memenuhi permintaan aktual ataupun yang direncanakan, mencakup manajemen pemesanan, manajemen transportasi, dan juga distribusi.
Proses yang terlibat diantaranya adalah menangani pesanan dari pelanggan, memilih perusahaan jasa pengiriman, menangani kegiatan pergudangan produk jadi dan mengirim tagihan ke pelanggan.
e) Return : Merupakan proses-proses yang diasosiakan dengan pengembalian dan penerimaan produk dengan kategori pengembalian produk. Proses ini diperluas hingga kelayanan setelah pengiriman produk kepada konsumen. Postdelivery-customer support juga merupakan bagian dari return.
SCOR mengidentifikasi lima atribut utama kinerja supply chain yakni reliability, responsiveness, flexibility, cost, dan asset.
a) Reliability : Kehandalan suatu proses dalam menjalankan fungsinya baik itu dari segi sistem, peralatan, maupun sumber daya manusia.
b) Responsivenes : Tingkat kecepatan dalam menanggapi atau merespon kondisi yang berkaitan dengan fungsinya.
c) Flexibility : Tingkat fleksibilitas dalam menjalankan fungsinya.
d) Cost : Biaya yang terkait pada supply chain e) Asset : Kemampuan dalam mengelola asset
Pada model SCOR terdapat sebuah komponen yang disebut dengan metric. Metric adalah standar penilaian kinerja suatu proses. Metric SCOR mendiagnosa metric. SCOR menerapkan tiga tingkatan metric standar.
Metric level satu : mendiagnosa kualitas keseluruhan supply chain metric ini juga dikenal sebagai matric strategi dan key performance indicator (KPI).
Pembanding metric level satu membantu membangun target yang realistis yang mendukung tujuan strategis.
Metric level dua : bertindak mendiagnosa metric level satu hubungan diagnosa membantu untuk mengidentifikasi penyebab gap untuk kinerja level satu.
Metric level tiga : bertindak untuk mendiagnosa metric level tiga
Performance SCOR terdiri dari dua jenis unsur yaitu performance atribut (atribut kinerja) dan metrik. Sebuah atribut kinerja adalah pengelompokan metrik yang digunakan untuk mengekspresikan strategi. Atribut itu sendiri tidak bisa diukur, digunakan untuk mengatur arah strategis. Metrik mengukur kemampuan rantai pasokan untuk mencapai atribut-atribut strategis. Setiap metrik dari SCOR model berasosiasi secara tepat pada salah satu dari atribut kinerja, seperti tersaji pada Tabel 1.
1. Supply Chain Reliability (RL) berkaitan dengan keandalan
2. Supply Chain Responsiveness (RS) berkaitan dengan kecepatan waktu respon setiap perubahan
3. Supply Chain Agility (AG) berkaitan dengan keflesibelan di dalam menghadapi setiap perubahan
4. Supply Chain Cost (CO) berkaitan dengan biaya-biaya di dalam Supply chain
5. Efisiensi (AM) dalam pengelolaan asset berkaitan dengan nilai suatu barang
Tabel 2. 1 Atribut Kinerja dan Metrik dalam SCOR
No Atribut Kinerja Definisi atribut kerja Metrik Level 1
1.
Reliabilitas rantai pasok(Supply Chain Reliability)
Kinerja rantai pasok
perusahaan dalam memenuhi pesanan pembeli dengan produk, jumlah, waktu, kemasan, kondisi, dan dokumentasi yang tepat, sehingga mampu memberikan kepercayaan kepada pembeli bahwa pesanannya dapat terpenuhi dengan baik.
Pemenuhan Pesanan Sempurna (Perfect Order Fulpillment)
2.
Responsivitas Rantai Pasok (Supply Chain
Kecepatan waktu rantai pasokan perusahaan dalam memenuhi pesanan
Waktu tunggu pemenuhan pesanan (Order Fulfillment
Responsiveness) konsumen. Cycle Time)
3.
Agilitas Rantai Pasok (Supply Chain Agility)
Agilitas rantai pasok dalam merespon perubahan pasar untuk
mendapatkan atau
mempertahankan keunggulan kompetitif
Upside Supply\Chain Flexibility
Upside Supply Chain Adaptability
4.
Biaya Rantai Pasok (Supply
Chain Costs)
Biaya yang berkaitan dengan pelaksanaan proses rantai pasok
Biaya total manajemen rantai pasok
Cost of Good Sold
5.
Manajemen Aset Rantai Pasok (Supply Chain
Asset Management)
Efektifitas suatu perusahaan dalam manajemen aset untuk mendukung terpenuhinya kepuasan konsumen
Waktu Siklus Pengembalian Kas (Cash to Cash Cycle Time)
2.4.2 Analythical Hierachy Process (AHP)
Analythical Hierarchy Process disebut AHP, merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh (Azmiyati & Hidayat, 2017).
Model pendukung keputusan ini akan menguraikan masalah multi faktor atau multi kriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki. Analitycal Hierarchy Process (AHP) adalah metode untuk memecahkan suatu situasi yang komplek tidak terstruktur kedalam beberapa komponen dalam susunan yang hirarki, dengan memberi nilai subjektif tentang pentingnya setiap variabel secara relatif, dan menetapkan variabel mana yang memiliki prioritas paling tinggi guna mempengaruhi hasil pada situasi tersebu (Rias Prastika et al., 2015).
Peralatan utama Analitycal Hierarchy Process (AHP) adalah memiliki sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan ke dalam kelompok kelompoknya dan diatur menjadi suatu bentuk hirarki. AHP memiliki
keunggulan karena dapat menggabungkan unsur objektif dan subjektif dari suatu permasalahan.
Menurut (Wibisono, 2006), penyusunan AHP terdiri dari tiga langkah dasar yaitu :
1. Desain Hirarki
Memecahkan persoalan yang kompleks dan multikriteria menjadi hirarki 2. Memprioritaskan Prosedur
Setelah masalah berhasil dipecahkan menjadi struktur hirarki dipilih prioritas prosedur untuk mendapatkan nilai keberartian relatif dari masing- masing elemen di tiap level.
3. Menghitung hasil
Setelah membentuk matriks preferensi, proses matematis dimulai untuk melakukan normalisasi dan menemukan bobot prioritas pada setiap matriks
Perbandingan berpasangan digunakan untuk mempertimbangkan faktor – faktor keputusan dengan memperhitungkan hubungan antara faktor dan sub faktor itu sendiri. Langkah pertama yang dalam menetapkan proioritas elemen – elemen dalam suatu persoalan keputusan adalah dengan membuat perbandingan berpasangan terhadap suatu kriteria yang ditentukan, agar diperoleh skala yang bermanfaat ketika membandingkan dua elemen.
Perbandingan berpasangan akan disajikan dalam bentuk matriks. Seseorang yang akan memberikan jawaban perlu mempunyai pengertian menyeluruh tentang elemn – elemen yang dibandingkan, dan relavisinya terhadap kriteria atau tujaun yang dipelajari.
Untuk mengintegrasikan data yang bersifat kualitatif menjadi data kuantitatif maka pada perbandingan berpasanagan ini digunakan skala perbandingan 1 s/d 9. Skala ini memiliki tingkat akurasi tinggi dan sudah dibuktikan pada bebagai permaslahan.
Tabel 2. 2 Skala Perbandingan Berpasangan
Tingkat Definisi Keterangan
1 Kedua elemen sama pentingnya
Kedua elemen mempunyai pengaruh yang sama
3 Elemen yang satu sedikit lebih penting dibanding yang lain
Pengalaman dan pertimbanagan sedikit menyokong satu elemen dibandingkan yang lain
5
Elemen yang satu sangat penting dibandingkan elemen yang satu lagi
Pengalaman dan pertimbanagan kuat menyokong satu elemen dibandingkan yang lain
7 Elemen yang satu jelas lebih dibanding yang lain
Satu elemen sangat berpengaruh dan terlihat dominan
9 Satu elemen lebih mutlak lebih penting daripada yang lain
Bukti bahwa elemen yang satu lebih penting daripada yang lain sangat jelas
2,4,6,8 Nilai tengan diantara dua pertimbangan yang berdekatan
Niali ini diberikan jika terdapat keraguan diantara dua penilaian Sumber : (Wind & Saaty, 1980)
Metode AHP yang digunakan adalah matrik perbandingan berpasangan yang menggunakan pemisalan A1, A2, A3,,,,,An seperti Gambar 2.3. Matrik ini membandingkan elemen A1 dalam kolom disebelah kiri dengan elemen A1, A2, A3, dan seterusnya yang terdapat dibaris atas berkenaan dalam sifat C disudut kiri atas. Lalu diulangi kolom A2 dan seterusnya.
Gambar 2. 2 Matrik perbandingan berpasangan metode AHP
Untuk mengisi matrik perbandingan berpasangan, digunakan bilangan untuk menggambarkan relatif pentingnya suatu elemen diatas yang lainnya, berkenaan dengan sifat tersebut. Dalam metode AHP, hal terpenting yang harus diperhatikan adalah masalah inconsistency.
Keputusan perbandingan yang diambil dikatakan “Perfecty Consistent”
jika dan hanya jika aik, akj = aij, dimana I, j, k = 1, 2, ,,,,,,,,,,,,,, n. Tetapi konsistensi ini tidak boleh dipaksakan. Namun tingginya inkosistensi memang sangat tidak diinginkan jika matriks resiprocal konsisten maka λ max = n.
(Hussain et al., 2015) mendefinisikan ukuran konsistensi sebagai Consistency Index:
Keterangan : λ maksimum = nilai eigen terbesar dari metrik berordo n n = jumlah kriteria
Untuk setiap matriks n, matriks random dibuat dan nilai rata-rata CI dihitung dengan rumus berikut:
Keterangan : CI = Indeks konsistensi CR = Rasio konsistensi RI = Random indeks
Apabila nilai CR ≤ 0,1, maka masih dapat ditoleransi tetapi bila CR > 0,1 maka perlu dilakukan revisi, Nilai CR = 0 dapat dikatakan “perfectly consistent”