PENYUSUN Dra. Hj. Sri Suntari, M.Si.
( PPPPTK PKn DAN IPS )
Istiqomah, S.Sos., M.Pd.
( PPPPTK PKn DAN IPS )
Susvi Tantoro, S.Sos.
( PPPPTK PKn DAN IPS )
Lilik Tahmidaten, S.Sos., M.A.
( PPPPTK PKn DAN IPS )
Drs. Nurhadi, M.Pd., M.Si.
( Universitas Negeri Malang )
Dr. Sugeng Harianto, M.Si.
( Universitas Negeri Surabaya )
PEMBAHAS
Drs. FX Sri Sadewo, M.Si.
( Universitas Negeri Surabaya )
Sosiologi SMA – K 10 i
MODUL
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN
MATA PELAJARAN
SOSIOLOGI SMA
KELOMPOK KOMPETENSI 10
PENYUSUN
Dra. Hj. Sri Suntari, M.Si.
( PPPPTK PKn DAN IPS )
Istiqomah, S.Sos., M.Pd.( PPPPTK PKn DAN IPS )
Susvi Tantoro, S.Sos.( PPPPTK PKn DAN IPS )
Lilik Tahmidaten, S.Sos., M.A.( PPPPTK PKn DAN IPS )
Drs. Nurhadi, M.Pd., M.Si.( Universitas Negeri Malang )
Dr. Sugeng Harianto, M.Si.( Universitas Negeri Surabaya )
PEMBAHAS
Drs. FX Sri Sadewo, M.Si.
( Universitas Negeri Surabaya )
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL PPPPTK PKn DAN IPS
2015
Sosiologi SMA – K 10 ii
Sosiologi SMA – K 10 iii PENGANTAR
Salah satu komponen yang menjadi fokus perhatian dalam peningkatan kualitas pendidikan adalah peningkatan kompetensi guru. Hal ini menjadi prioritas baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Sejalan dengan hal tersebut, peran guru yang profesional dalam proses pembelajaran di kelas menjadi sangat penting sebagai penentu kunci keberhasilan belajar siswa. Disisi lain, Guru diharapkan mampu untuk membangun proses pembelajaran yang baik sehingga dapat menghasilkan pendidikan yang berkualitas.
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) diperuntukkan bagi semua guru. Sejalan dengan hal tersebut, pemetaan kompetensi baik Kompetensi Pedagogik maupun Kompetensi Profesional sangat dibutuhkan bagi Guru. Informasi, tentang peta kompetensi tersebut diwujudkan dalam buku modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan dari berbagai mata pelajaran.
PPPPTK PKn dan IPS merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, mendapat tugas untuk menyusun Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), khususnya modul PKB untuk mata pelajaran PPKn SMP, IPS SMP, PPKn SMA/SMK, Sejarah SMA/SMK, Geografi SMA, Ekonomi SMA, Sosiologi SMA, dan Antropologi SMA. Masing-masing modul Mata Pelajaran disusun dalam Kelompok Kompetensi 1 sampai dengan 10. Dengan adanya modul ini, diharapkan semua kegiatan pendidikan dan pelatihan baik yang dilaksan dengan pola tatap muka maupun on-line bisa mengacu dari modul-modul yang telah disusun ini.
Semoga modul ini bisa dipergunakan untuk menjadi acuan dan pengembangan proses pembelajaran, khususnya untuk mata pelajaran PKn dan IPS.
Jakarta, Desember 2015 Direktur Jenderal
Guru dan Tenaga Kependidikan
Sumarna Surapranata, Ph.D NIP. 195908011985032001
Sosiologi SMA – K 10 iv DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR………. v
DAFTAR TABEL……….. v
DAFTAR DIAGRAM……… v
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan ... 2
C. Peta Kompetensi ... 2
D. Ruang Lingkup... 2
E. Saran Cara Penggunaan Modul ……….. 3
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: Analisis Butir Soal 4 A. Tujuan... 4
B. Indikator Pencapaian Kompetensi……… 4
C. Uraian Materi ... 4
D. Aktivitas Pembelajaran... 19
E. Latihan/Kasus/Tugas……….. 20
F. Rangkuman... 20
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut………. 22
H. Kunci Jawaban ……… 22
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: Analisis Data Kuantitatif
dan Kulaitatif
23 A. Tujuan ... 23B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 23
C. Uraian Materi ... 23
D. Aktivitas Pembelajaran... 45
E. Latihan/ Kasus/Tugas ...………. 45
F. Rangkuman ... 46
G. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut………... 47
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: Karya Ilmiah 49 A. Tujuan ... 49
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 49
C. Uraian Materi ... 49
D. Aktivitas Pembelajaran... 61
E. Latihan/ Kasus/Tugas ...………. 61
F. Rangkuman ... 62
G. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut………... 62
H. Kunci Jawaban……… 62
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: Teknik Penulisan Karya Ilmiah 65 A. Tujuan ... 65
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 65
C. Uraian Materi ... 65
D. Aktivitas Pembelajaran... 80
Sosiologi SMA – K 10 v
E. Latihan/ Kasus/Tugas ...………. 80
F. Rangkuman ... 80
G. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut………... 81
KEGIATAN PEMBELAJARAN 5: Penulisan Jurnal 82 A. Tujuan ... 82
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 82
C. Uraian Materi ... 82
D. Aktivitas Pembelajaran... 110
E. Latihan/ Kasus/Tugas ...………. 111
F. Rangkuman ... 111
G. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut………... 111
H. Kunci Jawaban……… 112
KEGIATAN PEMBELAJARAN 6: Laporan PTK 114 A. Tujuan ... 114
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 114
C. Uraian Materi ... 114
D. Aktivitas Pembelajaran... 140
E. Latihan/ Kasus/Tugas ...………. 140
F. Rangkuman ... 140
G. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut………... 141
H. Kunci Jawaban……… 141
Sosiologi SMA – K 10 vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.
Kesimpulan dan Tindak Lanjut……….19
Gamber 2.
Perbedaan Aksioma Dasar, Metode Kuantitattif, dan Kualitatif………..27
Sosiologi SMA – K 10 vii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.
Kesimpulan dan Tindak Lanjut………..19
Tabel 2.
Perbedaan Aksioma Dasar, Metode Kuantitattif, dan Kualitatif………27
Tabel 3.
Contoh Formart buku kode manual………..37
Tabel 4.
Tingkat data dan Statistik………...42
Sosiologi SMA – K 10 viii
DAFTAR DIAGRAM
Diagram 1.
skema Wallace………25
Diagram 3.
Komponen-komponen Analisis Data: Model Interaktif……….44
Sosiologi SMA – K 10 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengembangan keprofesian berkelanjutan sebagai salah satu strategi pembinaan gurudan tenaga kependidikan diharapkan dapat menjamin guru dan tenaga kependidikanmampu secara terus menerus memelihara, meningkatkan, dan mengembangkankompetensi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Pelaksanaan kegiatan PKB akan mengurangi kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki guru dan tenaga kependidikan dengan tuntutan profesional yang dipersyaratkan.
Guru dan tenaga kependidikan wajib melaksanakan PKB baik secara mandiri maupun kelompok. Khusus untuk PKB dalam bentuk diklat dilakukan oleh lembaga pelatihan sesuai dengan jenis kegiatan dan kebutuhan guru.
Penyelenggaraan diklat PKB dilaksanakan oleh PPPPTK dan LPPPTK KPTK, salah satunya adalah di PPPPTK PKn dan IPS. Pelaksanaan diklat tersebut memerlukan modul sebagai salah satu sumber belajar bagi peserta diklat.
Modul tersebut merupakan bahan ajar yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri oleh peserta diklat PKB Guru Sosiologi SMA.Modul ini berisi materi, metode, batasan-batasan, tugas dan latihan serta petunjukcara penggunaannya yang disajikan secara sistematis dan menarik untuk mencapai tingkatan kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya. Dasar hukum dari penulisan modul ini adalah :
1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013.
2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru;
3) Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
Sosiologi SMA – K 10 2 4) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
5) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 41 tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja PPPPTK.
B. Tujuan
1. Meningkatkan kompetensi guru untuk mencapai Standar Kompetensi yang ditetapkan sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
2. Memenuhi kebutuhan guru dalam peningkatan kompetensi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
3. Meningkatkan komitmen guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai tenaga profesional.
C. Peta Kompetensi
Melalui modul PKB diharapkan peserta diklat dapat meningkatkan kompetensi antara lain :
1. Memahami materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran sosiologi
2. Menunjukkan manfaat mata pelajaran sosiologi
3. Menerapkan berbagai pendekatan, strategi, metode, dan teknik penilaian dalam pembelajaran sosiologi
D. Ruang Lingkup
1.
Analisis Butir Soal
2.
Analisis Data Kuantitatif dan Kualitatif
3.Karya Ilmiah
4. Teknik Penulisan Laporan Ilmiah 5. Penulisan Jurnal
6. Menyusun Laporan PTK
Sosiologi SMA – K 10 3 E. Saran Cara Penggunaan Modul
1. Bacalah modul dengan seksama sehingga bisa dipahami 2. Kerjakan latihan tugas
3. Selesaikan kasus/permasalahan pada kegiatan belajar kemudian buatlah kesimpulkan
4. Lakukan refleksi
Sosiologi SMA – K 10 4
Kegiatan Pembelajaran 1 : Analisis Butir Soal
A. TUJUAN
Setelah menyelasikan kegiatan pembelajaran ini, peserta diklat mampu melakukan analisis butir soal dengan menggunakan ITEMAN
B. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI
1. Memahami kegunaan analisis butir
2. Mengenal macam-macam analisis butir soal
3. Memahami iteman sebagai salah satu bentuk analisis butir soal 4. Melakukan analisis butir soal menggunakan ITEMAN
C. URAIAN MATERI
1. Pendahuluan
Kegiatan menganalisis butir soal merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan mutu soal yang telah ditulis. Kegiatan ini merupakan proses pengumpulan, peringkasan, dan penggunaan informasi dari jawaban peserta didik untuk membuat keputusan tentang setiap penilaian (Nitko, 1996: 308). Tujuan penelaahan adalah untuk mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum soal digunakan. Di samping itu, tujuan analisis butir soal juga untuk membantu meningkatkan tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif, serta untuk mengetahui informasi diagnostik pada peserta didik apakah mereka sudah/belum memahami materi yang telah diajarkan (Aiken, 1994: 63). Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat‐tepatnya sesuai dengan tujuannya di antaranya dapat menentukan peserta didik mana yang sudah atau belum menguasai materi yang diajarkan guru.
Tujuan utama analisis butir soal dalam sebuah tes yang dibuat guru adalah untuk menguji validitas dan reliabilitas soal dalam tes atau dalam pembelajaran (Anastasi dan Urbina, 1997:184). Berdasarkan tujuan ini, maka kegiatan analisis
Sosiologi SMA – K 10 5 butir soal memiliki banyak manfaat, di antaranya adalah: (1) dapat membantu para pengguna tes dalam evaluasi atas tes yang digunakan, (2) sangat relevan bagi penyusunan tes informal dan lokal seperti tes yang disiapkan guru untuk peserta didik di kelas, (3) mendukung penulisan butir soal yang efektif, (4) secara materi dapat memperbaiki tes di kelas, (5) meningkatkan validitas soal dan reliabilitas.
Berbagai uraian di atas menunjukkan bahwa tujuan analisis butir soal adalah: (1) untuk menentukan soal‐soal yang cacat atau tidak berfungsi penggunaannya; (2) untuk meningkatkan butir soal melalui tiga komponen analisis yaitu tingkat kesukaran, daya pembeda, dan pengecoh soal.
2. Pelaksanaan Analisis Butir Soal
Dalam melaksanakan analisis butir soal, para penulis soal dapat menganalisis secara kualitatif, dalam kaitan dengan isi dan bentuknya, dan kuantitatif dalam kaitan dengan ciri-ciri statistiknya (Anastasi dan Urbina, 1997: 172). Analisis kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan konstruk, sedangkan analisis kuantitatif mencakup pengukuran kesulitan butir soal dan diskriminasi soal yang termasuk validitas soal dan reliabilitasnya. Jadi, ada dua cara yang dapat digunakan dalam penelaahan butir soal yaitu penelaahan soal secara kualitatif dan kuantitatif. Kedua teknik ini masing‐masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Oleh karena itu teknik terbaik adalah menggunakan keduanya (penggabungan).
a. Analisis Butir Soal Secara Kualitatif
Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan berdasarkan kaidah penulisan soal (tes tertulis, perbuatan, dan sikap). Penelaahan ini biasanya dilakukan sebelum soal digunakan/diujikan. Aspek yang diperhatikan di dalam penelaahan secara kualitatif ini adalah setiap soal ditelaah dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, dan kunci jawaban/pedoman penskorannya.
Dalam melakukan penelaahan setiap butir soal, penelaah perlu mempersiapkan bahan‐bahan penunjang seperti: (1) kisi‐kisi tes, (2) kurikulum yang digunakan, (3) buku sumber, dan (4) kamus bahasa Indonesia. Adapun teknik yang dapat
Sosiologi SMA – K 10 6 digunakan untuk menganalisis butir soal secara kualitatif, diantaranya adalah teknik moderator dan teknik panel.
Teknik moderator merupakan teknik berdiskusi yang di dalamnya terdapat satu orang sebagai penengah. Berdasarkan teknik ini, setiap butir soal didiskusikan secara bersama sama dengan beberapa ahli seperti guru yang mengajarkan materi, ahli materi, penyusun/pengembang kurikulum, ahli penilaian, ahli bahasa.
Teknik ini sangat baik karena setiap butir soal dilihat secara bersama‐sama berdasarkan kaidah penulisannya. Di samping itu, para penelaah dipersilakan mengomentari/ memperbaiki berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Setiap komentar/
masukan dari peserta diskusi dicatat oleh notulis. Setiap butir soal dapat dituntaskan secara bersama‐sama, perbaikannya seperti apa. Namun, kelemahan teknik ini adalah memerlukan waktu lama untuk rnendiskusikan setiap satu butir soal.
Sementara itu teknik panel merupakan suatu teknik menelaah butir soal yang setiap butir soalnya ditelaah berdasarkan kaidah penulisan butir soal, yaitu ditelaah dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, kebenaran kunci jawaban/pedoman penskorannya yang dilakukan oleh beberapa penelaah.
Caranya adalah beberapa penelaah diberikan: butir‐butir soal yang akan ditelaah, format penelaahan, dan pedoman penilaian/ penelaahannya. Pada tahap awal para penelaah diberikan pengarahan, kemudian tahap berikutnya para penelaah berkerja sendiri‐sendiri di tempat yang tidak sama. Para penelaah dipersilakan memperbaiki langsung pada teks soal dan memberikan komentarnya serta memberikan nilai pada setiap butir soalnya yang kriterianya misal: sudah baik, perlu diperbaiki, atau harus diganti. Secara ideal penelaah butir soal di samping memiliki latar belakang materi yang diujikan, beberapa penelaah yang diminta untuk menelaah butir soal memiliki keterampilan, seperti guru yang mengajarkan materi itu, ahli materi, ahli pengembang kurikulum, ahli penilaian,, ahli bahasa, ahli kebijakan pendidikan, atau lainnya.
Sosiologi SMA – K 10 7 Aspek yang dinilai dalam analisis butir soal secara kualitatif ini antara lain:
Aspek Butir Soal Uraian Butir Soal Pilihan Ganda Materi Soal sesuai dengan
indikator (menuntut tes tertulis untuk bentuk Uraian)
Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan sudah sesuai
Materi yang ditanyakan sesuai dengan
kompetensi (urgensi, relevasi, kontinyuitas, keterpakaian sehari‐hari tinggi)
Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau tingkat kelas
Soal sesuai dengan indikator (menuntut tes tertulis untuk bentuk pilihan ganda
Materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi (urgensi, relevasi,
kontinyuitas, keterpakaian sehari‐hari tinggi)
Pilihan jawaban homogen dan logis
Hanya ada satu kunci jawaban
Konstruksi Menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban uraian
Ada petunjuk yang jelas tentang cara
mengerjakan soal
Ada pedoman penskorannya
Tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca
Pokok soal dirumuskan dengan singkat, jelas, dan tegas
Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban merupakan pernyataan yang diperlukan saja
Pokok soal tidak memberi petunjuk kunci jawaban
Pokok soal bebas dan pernyataan yang bersifat negatif ganda
Pilihan jawaban homogen
Sosiologi SMA – K 10 8 dan logis ditinjau dari segi materi
Gambar, grafik, tabel, diagram, atau
sejenisnya jelas dan berfungsi
Panjang pilihan jawaban relatif sama
Pilihan jawaban tidak menggunakan
pernyataan "semua jawaban di atas
salah/benar" dan sejenisnya
Pilihan jawaban yang berbentuk
angka/waktu disusun
berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologisnya
Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal
sebelumnya Bahasa Rumusan kalimat soal
komunikatif
Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baku
Tidak menggunakan kata/ungkapan yang
menimbulkan penafsiran ganda atau salah
pengertian
Tidak menggunakan
Menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia
Menggunakan bahasa yang komunikatif
Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu
Pilihan jawaban tidak mengulang
kata/kelompok kata yang sama, kecuali merupakan
Sosiologi SMA – K 10 9 bahasa yang berlaku
setempat/tabu
Rumusan soal tidak mengandung/ ungkapan yang menyinggung peserta didik
satu kesatuan pengertian
b. Analisis Butir Soal Secara Kuantitatif
Penelaahan soal secara kuantitatif maksudnya adalah penelaahan butir soal didasarkan pada data empirik dari butir soal yang bersangkutan. Data empirik ini diperoleh dari soal yan telah diujikan. Secara klasik, aspek yang perlu diperhatikan dalam analisis butir soal adalah setiap butir soal ditelaah dari segi:
1) Tingkat Kesukaran Butir
Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkatkemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks.
Indeks tingkat kesukaran ini pada umumnya dinyatakan dalam bentuk proporsi yang besarnyaberkisar 0,00 ‐ 1,00 (Aiken (1994: 66). Semakin besar indeks tingkat kesukaranyang diperoleh dari hasil hitungan, berarti semakin mudah soal itu. Suatu soal memiliki TK= 0,00 artinya bahwa tidak ada peserta didik yang menjawab benar dan bila memiliki TK= 1,00 artinya bahwa peserta didik menjawab benar.
Perhitungan indeks tingkat kesukaran ini dilakukan untuk setiap nomor soal.
Pada prinsipnya, skor rata-rata yang diperoleh peserta didik pada butir soal yang bersangkutan dinamakan tingkat kesukaran butir soal itu. Fungsi tingkat kesukaran butir soal biasanya dikaitkan dengan tujuan tes. Misalnya untuk keperluan ujian semester digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran sedang, untuk keperluan seleksi digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran tinggi/sukar, dan untuk keperluan diagnostik biasanya digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran rendah/mudah.
Sosiologi SMA – K 10 10 Untuk soal obyektif atau pilihan ganda rumusnya adalah seperti berikut ini (Nitko, 1996: 310).
Untuk mengetahui tingkat kesukaran soal bentuk uraian digunakan rumus berikut ini.
Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas menggambarkan tingkat kesukaran soal itu. Klasifikasi tingkat kesukaran soal dapat dikategorikan seperti berikut ini.
0,00 ‐ 0,30 soal tergolong sukar
0,31 ‐ 0,70 soal tergolong sedang
0,71 ‐ 1,00 soal tergolong mudah
2) Daya Pembeda Butir
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu butir soal dapat membedakan antara peserta didik yang telah menguasai materi yang ditanyakan dan peserta didik yang tidak/kurang/belum menguasai materi yang ditanyakan. Manfaat daya pembeda butir soal adalah seperti berikut ini.
1) Untuk meningkatkan mutu setiap butir soal melalui data empiriknya.
Berdasarkan indeks daya pembeda, setiap butir soal dapat diketahui apakah butir soal itu baik, direvisi, atau ditolak.
2) Untuk mengetahui seberapa jauh setiap butir soal dapat mendeteksi/membedakan kemampuan peserta didik, yaitu peserta didik yang telah memahami atau belum memahami materi yang diajarkan guru.
Apabila suatu butir soal tidak dapat membedakan kedua kemampuan peserta didik itu, maka butir soal itu dapat dicurigai "kemungkinannya" seperti berikut ini.
Sosiologi SMA – K 10 11
Kunci jawaban butir soal itu tidak tepat
Butir soal itu memiliki 2 atau lebih kunci jawaban yang benar
Kompetensi yang diukur tidak jelas
Pengecoh tidak berfungsi
Materi yang ditanyakan terlalu sulit, schingga banyak peserta didik yang menebak
Sebagian besar peserta didik yang memahami materi yang ditanyakan berpikir ada yang salah informasi dalam butir soalnya
Indeks daya pembeda setiap butir soal biasanya juga dinyatakan dalam bentuk proporsi. Semakin tinggi indeks daya pembeda soal berarti semakin mampu soal yang bersangkutan membedakan peserta didik yang telah memahami materi dengan peserta didik yang belum memahami materi. Indeks daya pembeda berkisar antara ‐1,00 sampai dengan +1,00. Semakin tinggi daya pembeda suatu soal, maka semakin kuat/baik soal itu. Jika daya pembeda negatif (<0) berarti lebih banyak kelompok bawah (peserta didik yang tidak memahami materi) menjawab benar soal dibanding dengan kelompok atas (peserta didik yang memahami materi yang diajarkan guru).
Untuk mengetahui daya pembeda soal bentuk pilihan ganda adalah dengan menggunakan rumus berikut ini.
DP = daya pembeda soal,
BA = jumlah jawaban benar pada kelompok atas, BB = jumlah jawaban benar pada kelompok bawah, N =jumlah peserta didik yang mengikuti tes.
Untuk mengetahui daya pembeda soal bentuk uraian adalah dengan menggunakan rumus berikut ini.
Sosiologi SMA – K 10 12 Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas dapat menggambarkan tingkat kemampuan soal dalam membedakan antar peserta didik yang sudah memahami materi yang diujikan dengan peserta didik yang belum/tidak memahami materi yang diujikan. Adapun klasifikasinya adalah seperti berikut ini (Crocker dan Algina, 1986: 315).
0,40 ‐ 1,00 soal diterima baik
0,30 ‐ 0,39 soal diterima tetapi perlu diperbaiki
0,20 ‐ 0,29 soal diperbaiki
0,19 ‐ 0,00 soal tidak dipakai/dibuang
3) Penyebaran Pilihan Jawaban (untuk soal bentuk obyektif) atau keberfungsian distraktor
Penyebaran pilihan jawaban dijadikan dasar dalam penelaahan soal. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui berfungsi tidaknya jawaban yang tersedia. Suatu pilihan jawaban (pengecoh) dapat dikatakan berfungsi apabila pengecoh:
1) paling tidak dipilih oleh 5 % peserta tes/peserta didik
2) lebih banyak dipilih oleh kelompok peserta didik yang belum paham materi
A. Analisis Butir Soal Dengan Komputer
Analisis butir soal dengan komputer maksudnya adalah penelaahan butir soal secara kuantitatif yang penghitungannya menggunakan bantuan program komputer. Analisis data dengan menggunakan program komputer adalah sangat tepat. Karena tingkat keakuratan hitungan dengan menggunakan program komputer lebih tinggi bila dibandingkan dengan diolah secara manual atau menggunakan kalkulator/ tangan. Program komputer yang digunakan untuk menganalisis data modelnya bermacam‐macam tergantung tujuan dan maksud analisis yang diperlukan. Program yang sudah dikenal secara umum adalah EXCEL, SPSS (Statitistical Program for Social Science), atau program khusus seperti ITEMAN (analisis secara kiasik), RASCAL, ASCAL, dll. Dalam kesempatan kali ini hanya akan disajikan contoh program analisis data dengan menggunakan komputer program ITEMAN.
Sosiologi SMA – K 10 13 B. Analisis Butir Soal Menggunakan Iteman
ITEMAN merupakan program komputer yang digunakan untuk menganalisis butir soal secara klasik. Program ini termasuk satu paket program dalam MicroCAT°n yang dikembangkan oleh Assessment Systems Corporation mulai tahun 1982 dan mengalami revisi pada tahun 1984, 1986, 1988, dan 1993; mulai dari versi 2.00 sampai dengan versi 3.50. Alamatnya adalah Assessment Systems Corporation, 2233 University Avenue, Suite 400, St Paul, Minesota 55114, United States of America Program ini dapat digunakan untuk: (1) menganalisis data file (format ASCII) jawaban butir soal yang dihasilkan melalui manual entry data atau dari mesin scanner; (2) menskor dan menganalisis data soal pilihan ganda dan skala Likert untuk 30.000 siswa dan 250 butir soal; (3) menganalisis sebuah tes yang terdiri dari 10 skala (subtes) dan memberikan informasi tentang validitas setiap butir (daya pembeda, tingkat kesukaran, proporsi jawaban pada setiap option), reliabilitas (KR-20/Alpha), standar error of measurement, mean, variance, standar deviasi, skew, kurtosis untuk jumlah skor pada jawaban benar, skor minimum dan maksimum, skor median, dan frekuensi distribusi skor.
Sebelum menggunakan program Iteman, bacalah manualnya/buku petunjuk pengoperasionalnya secara seksama. Sebagai contoh, tahap awal adalah membuat "file data" (control tile) yang berisi 5 komponen utama, yaitu:
1. Baris pertama adalah baris pengontrol yang mendeskripsikan data.
2. Baris kedua adalah daftar kunci jawaban setiap butir soal.
3. Baris ketiga adalah daftar jumlah option untuk setiap butir coal.
4. Baris keempat adalah daftar butir soal yang hendak dianalisis (jika butir yang akan dianalisis diberi tanda Y (yes), jika tidak diikutkan dalam analisis diberi tanda N (no).
5. Baris kelima dan seterusnya adalah data siswa dan pilihan jawaban siswa.
Setiap pilihan jawaban siswa (untuk soal bentuk pilihan ganda) diketik dengan menggunakan huruf, misal ABCD atau angka 1234 untuk 4 pilihan jawaban atau ABCDE atau 12345 untuk 5 pilihan jawaban.
Sosiologi SMA – K 10 14 C. Langkah-Langkah Menggunakan Program ITEMAN
Pertama, data diketik di DOS atau Windows. Cara termudah adalah menggunakan program Windows yaitu dengan mengetik data di tempat Notepad.
Caranya adalah klik Start-Programs-Accessories-Notepad.
Gambar 1. Langkah – langkah program ITEM Lalu muncul tampilan notepad
Gambar 2. Tampilan Notepad
Kedua, Masukan data dengan memperhatikan format penulisan sesuai program ITEMAN.
Sosiologi SMA – K 10 15 Contoh pengetikan data untuk soal bentuk pilihan ganda:
Soal dianalisis (Y) / Tidak (N) Jumlah butir soal
Spasi
Jawaban kosong
Spasi
Butir soal yang belum dikerjakan Spasi
Jumlah ketukan penulisan
identitas data siswa
Kunci jawaban
Jumlah pilihan/option
Identitas dan Jawaban Siswa
Sosiologi SMA – K 10 16 Ketiga, data yang telah diketik disimpan dalam folder yang didalamnya sudah terisi program ITEMAN. Misal disimpan dengan nama file: SOAL1
Keempat, buka program Iteman untuk mulai melakukan analisis yaitu dengan mengklik icon file Iteman.
Tunggu sampai muncul tampilan berikut ini:
Sosiologi SMA – K 10 17 Kemudian isilah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di layar computer seperti berikut.
Kelima, membaca hasil analisis yaitu:
1) Buka kembali program notepad 2) Klik open
3) Klik file SOALlout
(jika file SOALlout tidak muncul
gantilah Text Documents dengan All Files) 4) Maka akan muncul tampilan data berikut ini:
Enter the name of the input file: SOALl.txt <enter>
Enter the name of the output file: SOALlout.txt <enter>
Do you want the scores written to a file? (Y/N) Y <enter>
Enter the name of the score file: SOALlSCR.txt <enter>
**ITEMAN ANALYSIS IS COMPLETE**
Sosiologi SMA – K 10 18 Membaca data hasil analisis ITEMAN:
1. Untuk melihat tingkat kesulitan butir soal maka data yang dilihat adalah data pada kolom Prop.Correct
2. Untuk melihat daya beda option butir soal maka data yang dilihat adalah data pada kolom Point Biser
3. Untuk melihat keberfungsian distraktor maka data yang dilihat adalah data pada kolom Prop.Endorsing
4. Untuk melihat koefisien reliabilitas maka data yang dilihat adalah data Scale Statistics pada point Alpha
5. Untuk melihat rata-rata tingkat kesukaran/kesulitan semua butir soal maka data yang dilihat adalah data Scale Statistics pada point Mean P
6. Untuk melihat rata-rata daya beda semua butir soal maka data yang dilihat adalah data Scale Statistics pada point Mean Item-Tot.
Sosiologi SMA – K 10 19 Untuk menginterpretasikan data maka dapat dilihat rmbu-rambu penerimaan butir menurut beberpa ahli teori klasik berikut ini:
Kriteria baik tidaknya butir soal menurut Ebel dan Frisbie (1991) dalam Essentials of Educational Measurement halaman 232 adalah bila korelasi point biserial:
>0.40 = butir soal sangat baik;
0.30 - 0.39 = soal baik, tetapi perlu perbaikan;
0.20 - 0.29 = soal dengan beberapa catatan, biasanya diperlukan perbaikan;
< 0. 19 = soal jelek, dibuang, atau diperbaiki melalui revisi.
Adapun tingkat kesukaran butir soal memiliki skala 0 - 1. Semakin mendekati 1 soal tergolong mudah dan mendekati 0 soal tergolong sukar.
Menurut Dawson (1972) butir soal yang memiliki tingkat kesulitan 0,25 – 0,75 dikatakan baik.
Ebel (1972) mengatakan bahwa alat ukur yang memiliki koefisien reliabilitas 0,8 sudah baik. Feldt & Brehmman (1989) menyatakan soal pilihan ganda yang memiliki koefsien reliabilitas lebih besar atau sama dengan 0,70 sudah dikatakan baik.
Menurut Ebel (1972) butir yang memiliki daya pembeda lebih besar atau sama dengan 0,41 dikatakan baik atau menurut Fernandes (1984) butir soal yang memiliki daya pembeda lebih besar dari 0,2 sudah bisa dikatakan baik.
Nitko (1996) menyatakan distraktor dikatakan berfungsi jika paling sedikit dipilih oleh satu orang peserta tes dari kelompok rendah. Menurut Fernandes (1984) distraktor butir soal dikatakan baik jika paling tidak dipilih oleh 2% dari seluruh peserta.
Untuk mempermudah membuat kesimpulan dan tindak lanjut maka dapat dibuat tabel berikut ini:
Sosiologi SMA – K 10 20 No.butir
Tingkat Kesulitan
Daya Beda
Keberfungsian Distraktor
Keterangan
1 0,600 0,425 Semua pilihan
ada yang memilih diterima
…. …. …. ….. …..
12 0,800 -0,144 Pilihan D tidak
ada yang memilih revisi
13 0,700 0,360
Pilihan A dan D tidak ada yang memilih
revisi
Tabel 1. Kesimpulan dan Tindak Lanjut
D. AKTIVITAS PEMBELAJARAN
Pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan andragogi lebih mengutamakan pengungkapan kembali pengalaman peserta diklat menganalisis, menyimpulkan dalam suasana yang aktif, inovatif dan kreatif, menyenamgkan dan bermakna. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam mempelajari materi ini mencakup :
1. Aktivitas individu, meliputi :
Memahmai dan mencermati materi diklat
Mengerjakan latihan tugas, menyelesaikan masalah/kasus pada setiap kegiatan belajar, menyimpulkan
Melakukan refleksi 2. Aktivitas kelompok, meliputi :
mendiskusikan materi pelathan
bertukar pengalaman dalam melakukan pelatihan penyelesaian masalah /kasus
melaksanakan refleksi
E. LATIHAN/KASUS/TUGAS
Lakukan analisis butir soal dari data berikut dengan menggunakan
program ITEMAN :
Sosiologi SMA – K 10 21 ANALISIS BUTIR SOAL
LTH, S.Sos.,M.A.
Tugas Untuk Latihan
Data hasil ujicoba soal UAS MA Mentari sebagai berikut:
IWAN SUYAWAN ABDCEBCEDAABEDCEADBAEEECB TIKA HATIKAH ACCEEBCDBAABEECBBDBAEEAAB YENNY SUKHRAINI ABDDDBCEDAABCACCBDDBCDCAB WIJI PURWANTA ACBCEBCEDDCEEDCCAADAEDBBB HENNY LISTIANA ABDCECBDDAABDEACBDBBBECAB UJANG HERMAWAN CDDCEBCEDCDCEDCCBBCADDCAE NIKEN IRIANTI CDDCEBACDAABEBBCBDBAADAAB MIMIK RIATIN ABDDDBCEDAABCACCBDDBCDCAB
NUR WAHYU ABDBCDCEDAABBCDCBDBAAACAB
RURI SUSIYANTI AEDEEBCEDBBDEDCCBDCDBDCAB
RYSA DWI ABCDEBCEDAABCACCBDBDEBCAB
ANDRIKO ACDCEBCECBCBEDCADABAEBBCB
JOKO SLAMET AAAABBBCCCDDEEAABBCCDDEEA LUKMAN NURHUDA ACDBEBCECDBBEDCCBBAAEDCBB OTAH PIANTO DBBCEBAECAABDCBCBDBAEAEAB AKHMAD SYAMSURIZAL ADDCEBCEDCBCDDCCBDBEEDCAB DENY TRI SETIAWAN ABCDABCEDABCBDCCBDEAEDCAB DEWI SETYOWATI ACCBEBCDCBABEDBCEDBDCBCAC ISMAIL SHOLEH ABDBCDCEDAABBCDCBDBAAACAB JEMI INTARYO ACCEEBCDBAABEECBBDBAEEAAB
KUNCI: ABDCEBCEDAABEDCCBDBAEDCAB
F. RANGKUMAN
Analisis butir soal merupakan kegiatan penelaahan butir soal dengan tujuan untuk setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu. Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat- tepatnya.
Tujuan utama analisis butir soal adalah untuk mengidentifikasi kekurangan‐kekurangan dalam tes atau dalam pembelajaran sehingga bisa dilakukan perbaikan pada pembelajaran atau pada soal itu sendiri Dalam melaksanakan analisis butir soal, para penulis soal dapat menganalisis secara kualitatif, dalam kaitan dengan isi dan bentuknya, dan kuantitatif dalam kaitan dengan ciri-ciri statistiknya (Anastasi dan Urbina, 1997: 172). Analisis kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan konstruk, sedangkan analisis kuantitatif mencakup pengukuran kesulitan butir soal dan diskriminasi soal yang termasuk validitas soal dan reliabilitasnya. Jadi, ada dua cara yang dapat digunakan dalam penelaahan butir soal yaitu penelaahan soal secara kualitatif dan kuantitatif. Kedua teknik ini masing‐masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Oleh karena itu teknik terbaik adalah menggunakan keduanya (penggabungan).
Sosiologi SMA – K 10 22 ITEMAN merupakan program komputer yang digunakan untuk menganalisis butir soal
Program ini dapat digunakan untuk:
1. menganalisis data file jawaban butir soal yang dihasilkan melalui manual entry data atau dari mesin scanner;
2. menskor dan menganalisis data soal pilihan ganda dan skala Likert 3. menganalisis sebuah tes dan memberikan informasi misal: validitas
setiap butir, daya pembeda, tingkat kesukaran, dll.
4. untuk melihat tingkat kesulitan butir soal lihat data pada kolom Prop.Correct
Untuk melihat daya beda option butir soal lihat data pada kolom Point Biser
5. Untuk Untuk melihat keberfungsian distraktor lihat data pada kolom Prop.Endorsing
6. Untuk melihat koefisien reliabilitas lihat data Scale Statistics pada point Alpha
7. Untuk melihat rata-rata tingkat kesukaran/kesulitan semua butir soal lihat data Scale Statistics pada point Mean P
8. Untuk melihat rata-rata daya beda semua butir soal lihat data Scale Statistics pada point Mean Item-Tot.
G. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT
Setelah kegiatan pembelajaran, Bapak/ Ibu dapat melakukan umpan balik dengan menjawab pertanyaan berikut ini :
1. Apa yang anda pahami setelah mempelajari materi analisis butir soal?
2. Pengalaman penting apa yang anda peroleh setelah mempelajari materi analisis butir soal?
3. Apa manfaat materi analisis butir soal terhadap tugas anda ? 4. Apa rencana tindak lanjut anda setelah kegiatan pelatihan ini
H. KUNCI JAWABAN
Sosiologi SMA – K 10 23 DAFTAR PUSTAKA
Aiken, Lewis R. (1994). Psychological Testing and Assessment,(Eight Edition), Boston: Allyn and Bacon.
Anastasi. Anne and Urbina, Susana. (1997). Psicoholological Testing. (Seventh Edition). New Jersey:Prentice‐Hall, Inc.
Crocker, L. & Algina, J. (1986). Introduction to Classical and Modern Test, Theory_. New York: Holt, Rinehart and Winston, Inc.
Badrun Kartowagiran. 2005. Item and Test Analysis (ITEMAN); Makalah
Penyegaran Metodologi Penelitian Pascasarjana UNY Yogyakarta 21-30 Mart 2005.
Tim. 2008. Panduan Analisis Butir Soal, Jakarta: Dirjen Dikdasmen Depdiknas
Kegiatan Pembelajaran 2 :
Analisis Data Kuantitatif dan Kualitatif
A. Tujuan
Setelah mempejari kegiatan pembelajaran ini peserta diklat mampu melakukan analisis data penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif B. Indikator Pencapaian Kompetensi
1. Menjelaskan pengertian penelitian kualitatif 2. Menjelaskan pengertian penelitian kuantitatif
3. Membedakan karakteristik penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif 4. Menjelaskan kedudukan teori dalam penelitian kualitatif
5. Menjelaskan kedudukan teori dalam penelitian kuantitatif 6. Menentukan teknik pengambilan sampel
Sosiologi SMA – K 10 24 7. Menentukan subjek penelitian
8. Melakukan pengolahan data
9. Melakukan analisis data penelitian kuantitatif 10. Melakukan analisis data penelitian kualitatif
C. Uraian Materi
1. Pendahuluan
Dalam Sosiologi dikenal dua metode penelitian yaitu metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif. Dua metode ini didasari oleh paradigma yang berbeda. Paradigma fakta sosial yang menganggap realitas sosial itu bersifat tunggal, nyata, objektif, dan observable mendasari metode penelitian kuantitatif. Sementara itu, paradigma definisi sosial yang menganggap realitas sosial itu bersifat jamak dan subjektif mendasari metode penelitian kualitatif. Oleh karena itu, dua metode itu mempunyai karakteristik yang berbeda, bahkan keduanya berada dalam dua kutup yang berbeda. Kegiatan pembelajaran ini akan mengajak Anda untuk memahami perbedaan metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif, yang ditandai oleh adanya perbedaan pengertian, karakteristik, masalah sampel, masalah pengolahan data, dan masalah analisis data.
2. Pengertian
Baiklah saya akan mengajak Anda untuk memahami apa yang dimaksudkan dengan penelitian dan tahapan-tahapan dalam penelitian. Secara sederhana penelitian dapat diartikan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara logis dan sistematis untuk menemukan kebenaran ilmiah dari sebuah masalah. Kebenaran ilmiah bukanlah kebenaran yang absolut sifatnya, melainkan kebenaran relatif. Artinya, kebenaran ilmiah bersifat sementara dan bisa diuji kembali oleh siapapun dan kapan pun. Kebenaran absolut hanya ada pada kebenaran ajaran agama. Tahapan apa saja yang ada dalam penelitian ilmiah? Pada dasarnya untuk memecahkan sebuah masalah dapat dilakukan dengan dua pendekatan ilmiah, yaitu pendekatan yang bersifat deduktif dan induktif. Pendekatan deduktif merupakan kegiatan penalaran yang bertitik tolak
Sosiologi SMA – K 10 25 dari suatu yang abstrak yang menghasilkan pengukuran konsep dan pengujian hipotesis, sedangkan pendekatan induktif adalah pengalaman atau pengamatan seseorang pada tingkat empiris untuk menghasilkan konsep, proposisi, atau teori. Anda munkin masih mengalami kebingunan dengan uraian di atas. Baiklah saya akan mengutip skema Wallace untuk memperjelas uraian di atas:
Sosiologi SMA – K 10 26
Diagram 1. skema Wallace
Sumber: Dilah dari Singarimbun, Effendi, dan Tukiran (2012: 25)
Skema berpikir Wallace di atas sangat jelas bahwa untuk menjawab atau memecahkan masalah dapat dimulai dari teori sebagai unsur ilmiah yang paling abstrak. Melalui komponen metodologis logika deduksi sebuah masalah dapat dijawab secara teoritis atau sementara. Jawaban teoritis atau sementara terhadap suatu masalah itulah yang disebut dengan hipotesis. Agar menjadi kebenaran empirik harus dilakukan pengujian secara empirik di lapangan dengan terlebih dahulu peneliti menyusun skala dan instrumen penelitian, serta menentukan populasi dan sampel. Peneliti kemudian melakukan pengumpulan data di lapangan. Data yang telah dikumpulkan merupakan data mentah yang harus diolah terlebih dahulu, kemudian baru dilakukan analisis. Data yang telah dianalisis kemudian dilakukan generalisasi yang sebelumnya didahului dengan
Status Hipotesis
OBSERVASI TEORI
GENERALISASI HIPOTESIS
Pengukuran
penyederhanaan informasi Perkiraan parameter
Pengujian Hipotesis Penyusunan konsep
Penyusunan proposisi
Deduksi Logika
Interprestasi Penyusunan Instrumen, Penyusunan Skala, Penentuan Sampel Inferensi
Logika
Sosiologi SMA – K 10 27 membandingkan kembali antara data dengan hipotesis. Membandingkan kembali antara data dengan hipotesis inilah yang disebut dengan pengujian hipotesis.
Pengujian hipotesis biasanya menggunakan teknik statistic. Dari hasil uji statistik kemudian dilakukan apa yang disebut dengan inferensi logika. Apa yang dimaksudkan dengan inferensi logika? Secara sederhana dapat dikatakan bahwa hasil uji statistik tersebut mempunyai implikasi terhadap teori. Hasil penelitian dapat menggugurkan atau merevisi teori-teori yang sudah ada, atau mungkin semakin memperkokoh teori-teori yang sudah ada. Peneliti kemudian menyusun konsep-konsep atau proposisi-proposisi.
Mungkin Anda sudah mengenal dua jenis penelitian, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Cobalah perhatikan kembali skema berpikir Wallace! Dalam skema tersebut terlihat bahwa kegiatan dapat dimulai dari teori atau dari data. Penelitian yang dimulai dari teori disebut dengan penelitian kuantitatif, sedangkan yang dimulai dari data disebut dengan kualitatif.
Saya akan menyegarkan kembali pengetahuan Anda tentang dua istilah yaitu metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif. Qualitative research methods is research techniques designed to obtain the subjective understanding, interpretation, and meaning of social behavior. Sementara itu, quantitative research methods is research techniques designed to produce numerical estimates of human behavior.
3. Perbedaan Karakteristik
Untuk memperdalam pemahaman tentang kedua jenis penelitian tersebut, saya akan mengajak Anda untuk memahami karakteristik penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif serta perbedaan di antara keduanya. Di antara Anda mungkin sudah paham tentang karakteristik dua penelitian tersebut.
Namun ada baiknya saya mengajak Anda untuk mengidentifikasi karakteristik sekaligus perbedaan di antara keduanya. Untuk itu perhatikan table di bawah ini:
Sosiologi SMA – K 10 28 PERBEDAAN AKSIOMA
ANTARA PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF
AKSIOMA DASAR METODE KUANTITATIF METODE KUALITATIF Sifat realitas Tunggal, konkrit,
teramati
Ganda, holistik, dinamis, hasil konstruksi & pema- haman
Hubungan peneliti dengan yang diteliti
Independen Interaktif tidak dapat dipisahkan
Hubungan variabel Sebab-akibat/kausal Timbal balik/interaktif Kemungkinan
generalisasi
Cenderung membuat generalisasi
Transferability/hanya mungkin dalam ikatan konteks dan waktu Peranan nilai Cenderung bebas nilai Terikat nilai
Tabel 2. Perbedaan Aksioma Dasar, Metode Kuantitattif, dan Kualitatif Sumber: Lexy Moleong. Metode Penelitian Kualitatif.
PERBEDAAN KARAKTERISTIK
PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF
ASPEK METODE KUANTITATIF METODE KUALITATIF
Desain spesifik, jelas, rinci
Mantap sejak awal
Menjadi pegangan langkah
demi langkah
Umum
Fleksibel
Berkembang dan muncul
dalam prose penelitian Tujuan Menunjukkan hubungan antar
variabel
Menguji teori
Mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif
Menemukan pola hubungan yang bersifat interaktif
Menggambarkan realitas yg kompleks
Memperoleh pemahaman makna
Menemukan teori
Sosiologi SMA – K 10 29 Teknik
Penelitian
Eksperimen, survey
Kuisioner
Observasi dan wawancara terstruktur
Participant observation
In depth interview
Dokumentasi
Triangulasi Instrumen
penelitian
Test, angket, wawancara
Instrumen yang telah standar
Peneliti sebagai instrumen
catatan, rekaman, kamera,
handycam, dll Data Kuantitatif
Hasil pengukuran variabel yang dioperasionalkan dengan menggunakan instrumen
Deskriptif
Dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan dan tindakan responden,, dll
Sampel/
Sumber Data
Besar
Representatif
Sedapat mungkin random
Ditentukan sejak awal
Kecil
Tidak representatif
Purposive
Berkembang selama proses penelitian
Analisis Setelah selesai pengumpulan data
Deduktif
Menggunakan statistik
Terus menerus sejak awal sampai akhir penelitian
Induktif
Mencari pola, model, tema, teori
Hubungan Dengan Responden
Berjarak, bahkan sering tanpa kontak
Peneliti merasa lebih tinggi
Jangka pendek
Empati, akrab
Kedudukan sama bahkan sebagai guru/konsultan
Jangka lama
Usulan Desain
Luas dan rinci
Literatur berhubungan dengan masalah dan variabel yang diteliti
Singkat
Literatur yang digunakan bersifat sementara, tidak menjadi pegangan utama
Sosiologi SMA – K 10 30
Prosedur yang spesifik dan rinci langkah-langkahnya
Masalah dirumuskan dengan spesifik dan jelas
Prosedur bersifat umum
Masalah bersifat sementara dan akan ditemukan setelah studi pendahuluan
Tidak dirumuskan hipotesis, karena justru akan
menemukan hipotesis
Fokus penelitian ditetapkan setelah diperoleh data awal dari lapangan
Sumber: Lexy Moleong. Metode Penelitian Kualitatif.
4. Kedudukan Teori dalam Penelitian Kuantitatif dan Kulitatif
Menurut Kerlinger (1979), teori merupapakn seperangkat konstruk (variabel-variabel), definisi-definisi, dan proposisi-proposisi yang saling berhubungan yang mencerminkan pandangan sistematik atau suatu fenomena dengan cara memerinci hubungan antarvariabel yang ditujukan untuk menjelaskan fenomena alamiah. Sementara itu, menurut Singarimbun dan Effendi (1981), teori adalah rangkaian yang logis dari satu proposisi atau lebih.
Sementara itu, proposisi adalah pernyataan (statement) tentang sifat dari realitas yang dapat diuji kebenarannya. Teori merupakan informasi ilmiah yang diperoleh dengan meningkatkan abstraksi pengertian-pengertian maupun hubungan-hubungan pada proposisi. Sementara itu, William Wiersma (dalam Sugiyono, 2010: 41) menjelaskan bahwa teori adalah generalisasi atau kumpulan generalisasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sistematik. Sugiyono (2010: 42) menyimpulkan bahwa teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau sistem pengertian ini diperoleh melalui jalan yang sistematis. Suatu teori harus dapat diuji kebenarannya.
Sosiologi SMA – K 10 31 Menurut Hoy dan Miskel (dalam Sugiyono, 2010: 43), teori mempunyai fungsi untuk mengungkapkan , menjelaskan dan memprediksi perilaku yang memiliki keteraturan, juga sebagai stimulan dan panduang untuk mengembangkan pengetahuan. Cooper dan Schindler (dalam Sugiyono, 2010:
44) mengidentifikasi beberapa fungsi teori dalam penelitian:
1. Theory narrows the range of fact we need to study
2. Theory suggest which research approaches are likely to yield the greatest meaning
3. Theory suggest a system for the research to impose on data in order to classify them in the most meaningfull way
4. Theory summarizes what is known about object of study and states the uniformities that lie beyond immediate observation
5. Theory can be used to predict further fact that should be found 6.
Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisis yang ciri-cirinya akan diduga. Populasi dapat dibedakan antara populasi sampling dan populasi sasaran. Perbedaan populasi sampling dan populasi sasaran dapat dijelaskan melalui contoh sebagai berikut: bila sebuah penelitian menjadinya seluruh rumahtangga di sebuah desa sebagai populasi sampling, sedangkan yang diteliti adalah hanya anggota rumahtangga yang bekerja sebagai petani. Anggota rumahtangga yang bekerja sebagai petani yang disebut sebagai populasi sasaran.
Dalam penelitian survey, misalnya, bila populasinya besar maka tidak mungkin meneliti seluruh anggota populasi, karena selain memakan biaya yang sangat besar, juga membutuhkan waktu lama. Secara metodologis dimungkinkan seorang peneliti meneliti sebagian dari anggota populasi. Itulah yang disebut dengan sampel. Dengan meneliti sebagian anggota populasi, kita mengharapkan bahwa hasil yang didapat akan dapat menggambarkan sifat populasi. Untuk mencapai tujuan itu, maka cara-cara pengambilan sampel harus memenuhi syarat-syarat tertentu.
Sosiologi SMA – K 10 32 Sebuah sampel haruslah dipilih sedemikian rupa sehingga setiap satuan elementer mempunyai kesempatan dan peluang yang sama untuk dipilih dan besarnya peluang tersebut tidak boleh sama dengan nol. Itulah yang disebut sebagai sampel acak atau sampel random. Selain itu, pengambilan sampel secara acak haruslah menggunakan metode yang tepat sesuai dengan ciri-ciri populasi dan tujuan penelitian.
Menurut Teken (dalam Singarimbun dan Effendi, 1981: 105-106)), metode pengambilan sampel yang ideal mempunyai sifatsifat sebagai berikut:
1. Dapat menghasilkan gambaran yang dapat dipercaya dari seluruh populasi;
2. Dapat menentukan presisi dari hasil penelitian dengan menentukan penyimpangan bagu (standar) dari taksiran yang diperoleh;
3. Sederhana sehingga mudah dilaksanakan;
4. Dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya serendah- rendahnya.
Sebelum dijelaskan beberapa metode pengambilan sampel, terlebih dahulu akan dijelaskan bahwa pada dasarnya ada dua macam metode pengambilan sampel, yaitu pengambilan sampel secara acak yang disebut random sampling atau probability sampling, dan pengambilan sampel tidak acak, dimana sampel dipilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertente, yang disebut dengan purposive sampling atau quota sampling.
5. Pengambilan Sampel Acak
a. Pengambilan Sampel Acak Sederhana (Simple Random Sampling)
Sampel acak sederhana adalah sebuah sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga tiap unit penelitian atau satuan elementer dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Terpilihnya tiap satuan elementer ke dalam sampel harus benar-benar berdasarkan faktor kebetulan (chance), bebas dari subjektivitas si peneliti atau subjektivitas orang lain. Salah satu cara pengembilan sampel dengan metode sampel acak sederhana adalah dengan mengundi unsur-unsur atau satuan-satuan elementer dalam populasi. Cara ini seperti lazim dipratikkan dalam arisan, undian, dan sebagainya.
Sosiologi SMA – K 10 33 b. Pengambilan Sampel Sistematis (Systematic Sampling)
Apabila jumlah anggota populasi sangat besar, maka pengambilan sampel acak sederhana sulit dilakukan. Dalam kondisi populasi seperti ini maka dibutuhkan metode pengambilan sampel yang tepat dan sesuai. Metode yang sesuai dengan kondisi populasi yang sangat besar adalah pengambilan sampel sistematis. Pengambilan sampel sistematis adalah suatu metode pengambilan sampel di mana hanya unsur sampel pertama dipilih secara acak, sedangkan unsur-unsur sampel berikutnya dipilih secara sistematis menurut suatu pola tertentu.
Cara penggunaan metode ini sebagai berikut: misalnya jumlah satuan- satuan elementer dalam populasi adalah N, dan besar sampel yang akan diambil adalah n, maka hasil bagi N/n dinamakan interval sampel dengan kode k, dan misalnya unsur sampel yang terpilih diberi kode s, maka unsur-unsur sampel selanjutnya dapat ditentukan sebagai berikut:
Unusr pertama = s Unsur kedua = s + k Unsur ketiga = s + 2k Unsut keempat= s + 3k Dan seterusnya
c. Pengambilan Sampel Acak Distratifikasi (Stratified Random Sampling) Metode pengambilan sampel acak distratifikasi digunakan pada saat karakteristik populasi tidak homogen. Makin heterogen suatu populasi, makin besar perbedaan sifat antara lapisan-lapisan tersebut. Untuk dapat menggambarkan secara tepat mengenai sifat-sifat populasi yang heterogen, maka populasi yang bersangkutan harus dibagi-bagi dalam lapisan-lapisan (strata-strata) yang seragam, dan dari tiap lapisan dapat diambil sampel secara acak. Dalam sampel berlapis seperti ini, peluang untuk terpilih antara satu strata dengan yang lain mungkin sama, mungkin pula berbeda.
Metode ini dapat digunakan bila dipenuhi tiga syarat: yaitu: Pertama, harus ada kriteria yang jelas yang akan dipergunakan sebagai dasar untuk
Sosiologi SMA – K 10 34 menstratifikasi pupulasi ke dalam lapisan-lapisan. Kriteria itu, misalnya, luas tanah, pendapatan, tingkat pendidikan, luas usaha, dan sebagainya; Kedua, harus ada data pendahuluan dari populasi mengenai kriteria yang dipergunakan untuk menstratifikasi; dan Ketiga, harus diketahui dengan tepat jumlah satuan- satuan elementer dari tiap lapisan (stratum) dalam populasi itu.
Besarnya sampel yang diambil dari tiap-tiap stratum dapat berimbang dan dapat pula tidak berimbang. Dalam pengambilan sampel yang berimbang, unsur-unsur satuan yang diambil dari tiap stratum berbanding lurus dengan jumlah satuan-satuan elementer dalam stratum yang bersangkutan. Sebagai contoh, suatu populasi distratifikasikan seperti di bawah ini:
Stratum I, jumlah satuan elementer 500 Stratum II, jumlah satuan elementer 300 Stratum III, jumlah satuan elementer 200 --- Jumlah Populasi 1.000
Bila jumlah sampel yang akan diambil adalah 100 sampel, maka secara proporsional stratum I diwakili oleh 50 sampel, stratum II sebanyak 30 sampel, dan stratum III sebanyak 20 sampel.
d. Pengambilan Sampel Gugus Sederhana (Simple Cluster Sampling)
Dalam pratik penelitian acapkali tidak tersedia daftar kerangka sampling yang digunakan sebagai dasar pengambilan sampel. Bila membuat daftar kerangka sampling membutuhkan biaya sangat besar. Untuk mengatasi hal tersebut maka unit-unit analisis dalam suatu populasi digolongkan ke dalam gugus-gugus yang disebut cluster, dan cluster merupakan satuan-satuan darimana sampel akan diambil. Jumlah gugus yang diambil sebagai sampel harus dipilih secara acak. Kemudian unsur-unsur penelitian dalam gugus-gugus diteliti semua.
Sosiologi SMA – K 10 35 e. Pengambilan Sampel Wilayah (Area Sampling)
Cara lain pengambilan sampel bagi populasi yang tidak dapat dibuat dalam daftar kerangka sampling ialah dengan pengambilan sampel wilayah.
Metode ini membutuhkan peta atau potret udara yang cukup jelas dan terperinci dari wilayah yang akan diteliti. Seluruh wilayah yang akan diteliti dibagi ke dalam segmen-segmen wilayah yang mengandung jumlah unit penelitian. Bila jumlah unit penelitian dalam setiap segmen wilayah tidak dapat diketahui atau diduga, maka bisa menggunakan satuan-satuan blok perumahan, pertokoan, dan sebagainya. Batas dari blok-blok atau segmen-segmen wilayah ini harus tegas.
Metode pengambilan sampel wilayah ini hampir sama dengan pengambilan sampek gugus.
6. Pengambilan Sampel Tidak Acak
a. Purposive Sampling atau Quota Sampling
Metode ini memilih sampel dengan menggunakan pertimbangan- pertimbangan tertentu , sedangkan pertimbangan yang diambil berdasatkan tujuan penelitian. Cara pengambilan sampel seperti ini adalah kita memilih sun grup dari populasi sedemikian rupa sehingga sampel yang dipilih mempunyai sifat yang sesuai dengan sifat-sifat populasi. Jadi dalam hal ini peneliti harus mengetahui terlebih dahulu sifat-sifat populasi tersebut dan sampel yang akan ditarik diusahakan supaya mempunyai sifat-sifat populasi tersebut. Ini berarti bahwa purposive sampling tidak akan dapat dilakukan dari populasi yang belum dikenal peneliti tentang sifat-sifatnya, atau yang masih harus dikenal terlebih dahulu.
b. Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data, yang pada awalnya sedikit, lama-lama menjadi besar. Hal ini dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit itu belum mampu memberikan data yang memuaskan, maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai sumber data. Dengan demikian, jumlah sampel sumber data akan semakin besar, seperti bola salju yang menggelinding, lama-lama menjadi besar (Sugiyoni, 2010: 54).
Sosiologi SMA – K 10 36 7. Pengolahan Data
a. Pengolahan Data
Setelah data dikumpulkan melalui berbagai metode pengumpulan data, tahap berikutnya adalah melakukan pengolahan data. Menurut Ulber Silalahi (2009: 319), data diolah untuk mendapatkan data yang siap untuk dianalisis (getting data ready for nalysis). Pada hakekatnya pengolahan data adalah mengubah data menjadi informasi. Hasil pengolahan data berupa data sheets akan memudahkan dalam melakukan analisis data. Kualitas pengolahan data menentukan kualitas data yang akan dianalisis dan menentukan kualitas analisis data. Karena demikian eratnya pengolahan data dengan analisis data, maka acapkali pengolahan data dimasukkan menjadi bagian dari analisis data. Oleh karena itu, analisis data memiliki arti sangat luas meliputi penyerdehanaan data dan penyajian data. Dalam proses analisis data, peneliti mengolah dan mengorganisasi data mentah ke dalam bentuk yang sesuai, terutama untuk diolah dengan menggunakan komputer, menyajikannya dalam berbagai bahan atau gambar untuk meringkas segi-segi atau ciri-ciri dan menginterpretasi atau memberi makna teoritis. Jadi analisis data berhubungan dengan pemilihan alat statistik yang akan digunakan dan penyajian temuan-temuan.
Dengan demikian pengolahan data tidak lain adalah proses menstranformasikan (menyederhanakan dan mengorganisasi) data mentah ke dalam bentuk yang mudah dibaca dan dipahami. Proses transformasi data dilakukan melalui kegiatan penyuntingan (editing), pengkodeaan (coding) dan penskoran (scoring), dan tabulasi (tabulation).
b. Penyuntingan (Editing)
Penyuntingan merupakan kegiatan memeriksa kualitas data dalam instrumen. Dalam kegiatan ini peneliti memeriksa kembali kelengkapan, konsistensi, ketepatan, keseragaman, dan relevansi. Kelengkapan berkaitan dengan kelengkapan lembar kuesioner, identitas sumber data, dan kelengkapan pengisian kuesioner. Akurasi data berhubungan dengan kesesuaian antara pertanyaan yang diajukan dengan jawaban yang diperoleh. Konsistensi nerhubungan dengan kecocokan atau kesesuaian antara data atau jawaban
Sosiologi SMA – K 10 37 yang satu dengan yang lain. Keseragaman adalah data dicatat dalam satuan- satuan yang seragam. Relevansi menunjuk pada kesesuaian, baik kedalaman maupun keluasan, antara data yang diperoleh dan hal yang dipertanyakan atau data yang dibutuhkan. Jika data yang dikumpulkan belum memenuhi syarat- syarat tersebut, maka harus dilakukan pengumpulan data ulang ke lapangan untuk mendapatkan data yang sesuai dengan kebutuhan. Jika pengumpulan data ulang tidak dimungkinkan, karena berbagai alasan, maka instrumen tersebut harus didrop atau dibatalkan (Ulber Silalahi, 2009: 320).
c. Pengkodean (Coding) dan Penskoran (Scoring)
Menurut Ulber Silalahi (2009: 322), pengkodeaan adalah suatu proses pengklarifikasian tanggapan atau jawaban menjadi kategori yang lebih bermakna. Mengkode berarti memberi angka pada tiap kategori pada tiap kategori jawaban (response category) sehingga tiap jawaban memiliki kode tersendiri berupa angka. Pemberian kode berupa angka perlu memperhatikan skala ukuran dari variabel. Untuk itu, kode berupa angka perlu diberi penjelasan makna apakah kuantitatif atau kualitatif atau apakah nominal, ordinal, interval atau rasio. Tutujuan utama coding adalah menyederhanakan penanganan banyak jawaban individual melalui pengklasifikasian mereka ke dalam satu jumlah kelompok lebih kecil, masing-masing meliputi jawaban-jawaban yang mirip dalam isi.
Dalam proses pengolahan data pada penelitian kuantitatif, memberikan kode berupa angka ke setiap kategori jawaban yang berskala nominal disebut dengan coding. Misalnya, memberikan kode berupa angka pada jawaban atas pertanyaan agama yang dianut responden. Pemberian angka 1. Islam, 2. Katolik, 3. Kristen, 4. Hindu, dan 5. Budha pada kategori jawaban agama responden merupakan kode saja, karena skala data dalam kategori jawaban tersebut adalah nominal. Proses pemberian kode berupa angka tersebut disebut coding. Kode angka yang ada pada setiap kategori jawaban tidak menunjukkan adanya tingkatan. Angka 1 pada jawaban Islam tidak lebih kecil dari 2 pada jawaban Katolik dan seterusnya. Demikian sebaliknya angka 5 pada jawaban Budha bukan berarti 5 kali lebih besar dari angka 1 untuk jawaban Islam dan
Sosiologi SMA – K 10 38 seterusnya. Kategori jawaban atas pertanyaan agama menghasilkan data berskala nominal.
Bila skala data meliputi ordinal, interval, dan rasio maka proses pemberian angka pada setiap kategori jawaban disebut dengan scoring. Scoring adalah proses pemberian angka pada setiap kategori jawaban yang menunjukkan adanya perbedaan nilai atau perbedaan tingkatan. Misalnya, tingkat pendidikan responden merupakan data dengan skala ordinal. Penelitian memberi angkan 1 untuk tingkat pendidikan rendah (tidak sekolah s/d lulusan SMP), angka 2 untuk tingkat pendidikan menengah (lulusan SMA), dan angka 3 untuk tingkat pendidikan tinggi (sarjana muda ke atas). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa angka 1 lebih rendah dari angka 2 dan 3, demikian sebaliknya angka 3 lebih tinggi dari angka 1 dan 2. Dengan demikian dapat disimpulkan pula bahwa renponden yang lulus SD lebih rendah pendidikannya dibandingkan dengan responden yang lulus SMA dan sarjana. Demikian pula sebaliknya, responden yang berpendidikan sarjana lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang hanya lulus SD atau SMA.
Namun, peneliti sebelum memberi kode dan skor hendajnya terlebih dahulu menyusun buku kode. Menurut Ulber Silalahi (2009: 329), buku kode adalah satu dokumen yang menggambarkan prosedur pengkodean atau pensekoran dan lokasi data untuk variabel dalam satu format yang dapat menggunakan cara manual atau komputer. Buku kode akan memperkenalkan satu item atau nama variabel spesifik dari observasi dan nomor kode yang menandai gambaran masing-masing kategori yang dicakup dalam item tersebut.
Berikut ini contoh format buku kode manual:
Tabel 3. Contoh Formart buku kode manual Hal
Kues
No.
Pertany
Nama Variabel
Kategori Kode/S
kor
No.
Kotak 1 1 Jenis Kelamin Laki-laki
Perempuan
1 2
1
1 2 Agama Islam
Katolik
Kristen
1 2 3
2