ANALISIS POKOK UJI
ANALISIS POKOK UJI
(TINGKAT KESUKARAN, DAYA PEMBEDA, PENGECOH DAN
(TINGKAT KESUKARAN, DAYA PEMBEDA, PENGECOH DAN
EFEKTIVITAS OPSI)
EFEKTIVITAS OPSI)
Pendahuluan
Pendahuluan
Prinsip pengukuran hasil belajar, pada dasarnya dapat dikenakan pada dua aspek Prinsip pengukuran hasil belajar, pada dasarnya dapat dikenakan pada dua aspek perubahan
perubahan atau atau pertumbuhan pertumbuhan fisik (fisik (biologis) dabiologis) dan n perkembangan perkembangan psikis psikis (psikologi). (psikologi). PengukuranPengukuran pertumbuhan fisik lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan pengukuran psikis (psikologis). pertumbuhan fisik lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan pengukuran psikis (psikologis). Proses pengukuran atribut psikologis pada dasarnya suatu pengukuran terhadap Proses pengukuran atribut psikologis pada dasarnya suatu pengukuran terhadap performansi
performansi tipikal, tipikal, yaitu yaitu penampilan penampilan yang yang merupakan merupakan karakter karakter tipikal tipikal seseorang seseorang yangyang cenderung muncul dalam bentuk respon terhadap situasi-situasi tertentu yang sedang dihadapi. cenderung muncul dalam bentuk respon terhadap situasi-situasi tertentu yang sedang dihadapi. Kegiatan proses pengukuran atribur psikologis, dilakukan dengan merumuskan eksistensi atau Kegiatan proses pengukuran atribur psikologis, dilakukan dengan merumuskan eksistensi atau struktur atribut tersebut secara teoritis. Konstruk teoritis dilakukan untuk merumuskan struktur atribut tersebut secara teoritis. Konstruk teoritis dilakukan untuk merumuskan karakteristik gejala-gejala atau tampilan tertentu bberkaitan dengan atribut psikologis yang karakteristik gejala-gejala atau tampilan tertentu bberkaitan dengan atribut psikologis yang diukur.
diukur.
Disisi lain, pembelajaran merupakan suatu sistem yang kompleks mencakup banyak Disisi lain, pembelajaran merupakan suatu sistem yang kompleks mencakup banyak elemen yang saling berkaitan satu sama lain untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam prosesnya elemen yang saling berkaitan satu sama lain untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam prosesnya melalui tiga tahap utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Sesuai dengan misi melalui tiga tahap utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Sesuai dengan misi pendidikan,
pendidikan, yaituyaitu transferring knowledge and valuetransferring knowledge and value, tahap evaluasi membutuhkan instrument, tahap evaluasi membutuhkan instrument yang bukan hanya mampu mengukur keberhasilan ilmu (kognitif), melainkan juga nilai (afektif) yang bukan hanya mampu mengukur keberhasilan ilmu (kognitif), melainkan juga nilai (afektif) dan keterampilan (psikomotor). Dengan kata lain, setiap aspek yang ada dalam proses dan keterampilan (psikomotor). Dengan kata lain, setiap aspek yang ada dalam proses pembelajaran
pembelajaran membutuhkan membutuhkan alat alat ukur ukur yang yang tepat tepat dan dan sesuai sesuai agar agar data data yang yang diperoleh diperoleh sesuaisesuai dengan keadaan di lapangan.
dengan keadaan di lapangan.
Kompetensi yang harus Anda kuasai setelah
Kompetensi yang harus Anda kuasai setelah mempelajari modul ini adalah:mempelajari modul ini adalah:
Modul 1
Modul 1
1. Anda mampu memahami prosedur analisis pokok uji berdasarkan daya pembeda, tingkat kesukaran, pengecoh dan efektivitas opsi.
2. Anda mampu nganalisis pokok uji melaui latihan terhadap perangkat tes/instrument. 3. Anda mampu membedakan pokok uji yang valid dan reliabel dengan yang tidak
Untuk menguasai kompetensi tersebut di atas, maka modul ini akan dibagi menjadi tiga kegiatan belajar, yaitu kegiatan belajar 1 membahas tentang tingkat kesukaran, kegiatan belajar 2 membahas tentang daya pembeda dan kegiatan belajar 3 membahas tentang pengecoh dan efektivitas opsi.
Selanjutnya, Anda harus mempelajari modul ini secara seksama sesuai dengan petunjuk pengerjaan modul, sehingga Anda betul-betul dapat mempraktikkannya dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di sekolah. Anda juga harus lebih aktif dan kreatif menganalisis kualitas tes, sehingga dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar peserta didik yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan.
Untuk mempelajari modul ini, sebaiknya Anda ikuti petunjuk berikut ini:
1. Bacalah modul ini dengan baik, teratur, dan tidak meloncat-loncat agar Anda memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang utuh.
2. Catatlah istilah, kalimat atau rumus yang kurang dimengerti dan berikan tanda khusus dengan menggunakan stabilo. Selanjutnya, Anda diskusikan dengan teman atau langsung ditanyakan kepada tutor.
3. Setelah setiap penggal kegiatan belajar selesai dibaca, usahakan Anda membuat rangkuman sendiri yang ditulis tangan. Hal ini dimaksudkan untuk menambah ingatan dari apa yang sudah dibaca. Jangan lupa, kerjakanlah latihan dan tes formatif yang ada pada bagian akhir kegiatan belajar.
4. Untuk menambah wawasan Anda tentang analisis kualitas tes dan butir soal, bacalah beberapa buku sumber yang tercantum dalam daftar pustaka.
Semoga anda berhasil menyelesaikan modul 1 ini dengan baik!
TINGKAT KESUKARAN
1. Pengertian
Perhitungan tingkat kesukaran soal adalah pengukuran seberapa besar derajat kesukaran suatu soal. Jika suatu soal memiliki tingkat kesukaran seimbang (proporsional), maka dapat dikatakan bahwa soal tersebut baik. suatu soal tes hendaknya tidak terlalu sukar dan tidak pula terlalu mudah (Arifin, 2011).
Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang dinyatakan dalam bentuk indeks. Indeks tingkat kesukaran pada umumnya dinyatakan dalam bentuk proporsi yang besarnya berkisar 0,00-1,00 (Aiken dalam Ratnawulan dan Rusdiana, 2015).
Semakin besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh dari hasil hitungan, berarti semakin mudah soal itu. Suatu soal memiliki TK = 0.00, artinya tidak ada siswa yang menjawab benar dan apabila memiliki TK = 1,00 artinya siswa menjawab benar. Perhitungan indeks tingkat kesukaran dilakukan untuk setiap nomor soal. Pada prinsipnya, skor rata-rata yang diperoleh peserta didik pada butir soal yang bersangkutan dinamakan tingkat kesukaran butir soal.
Fungsi tingkat kesukaran butir soal dikaitkan dengan tujuan tes. Misalnya untuk keperluan ujian semester digunakan butir soal yang memiliki tinggkat kesukaran sedang, untuk keperluan seleksi digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran tinggi/sukar, dan untuk keperluan diagnostik digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran rendah/mudah.
a. Menghitung tingkat kesukaran soal bentuk objektif
Untuk menghitung tingkat kesukaran soal bentuk objektif dapat digunakan dengan dua cara, yaitu :
1) Menggunakan rumus tingkat kesukaran (TK):
TK =
(Arifin, 2011) Keterangan :
WL = jumlah peserta didik yang menjawab salah dari kelompok bawah WH = jumlah peserta didik yang menjawab salah dari kelompok atas nL = jumlah kelompok bawah
2) Menggunakan proporsi menjawab yang benar ( propotion correct )
Persamaan yang digunakan untuk menentukan proportion correct (p) adalah : p =
( Arifin, 2011). Keterangan :
p = tingkat kesukaran
∑B = jumlah peserta didik yang menjawab benar N = jumlah peserta didik
Contoh:
40 orang peserta didik SMP di tes dalam mata pelajaran IPA. Dari seluruh peserta didik tersebut, ada 25 orang yang dapat menjawab dengan benar pada soal nomor 1. Dengan demikian, tingkat kesukaran soal no 1 itu adalah :
p =
= 0,625
Menafsirkan tingkat kesukaran, dapat digunakan kriteria sebagai berikut: p > 0,70 = mudah
0,30 ≤ p ≤ 0,70 = sedang p < 0,30 = sukar
Dengan demikian, soal nomor 1 dalam contoh diatas termasuk “sedang”. Tingkat kesukaran model ini banyak mengandung kelemahan, karena tingkat kesukaran ini sebenarnya merupakan “ukuran kemudahan” soal. Semakin tinggi indeks tingkat kesukaran (p), maka semakin mudah soalnya. Sebailiknya, semakin rendah tingkat kesukarannya maka semakin sulit soalnya.
(Arifin, 2011).
Menurut Arikunto (2013), untuk mencari tingkat kesukaran suatu soal digunakan rumus sebagai berikut:
P =
(Arikunto, 2013) Dimana:
P = indeks kesukaran
B = banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes
Contoh latihan:
Ada 10 orang siswa yang mengerjakan tes yang terdiri dari 10 soal. Jawaban tesnya dianalisis dan jawaban tertera seperti berikut ini. (1= jawaban betul dan 0= jawaban salah).
Tabel 1.1 data persiapan perhitungan indek kesukaran
Siswa Nomor soal Skor
siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Abner 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 7 Marike 1 1 0 1 0 1 0 0 1 0 7 Yabes 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 7 Haya 0 0 1 0 1 0 0 1 1 0 4 Lika 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 6 Kevin 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 7 Loviani 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 7 Ester 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 4 Oca 1 0 0 1 1 1 0 0 1 0 5 Wisnu 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 5 Jumlah 6 7 4 6 6 6 6 5 6 5 Contoh :
Ada 36 orang siswa mengikuti tes dalam suatu kelas. Dari jumlah siswa tersebut ada 12 orang yang dapat mengerjakan soal nomor 3 dengan betul. Maka indeks kesukarannya adalah:
P =
=
= 0,33
Dari tabel yang disajikan tersebut, dapat ditafsirkan bahwa: 1) Soal nomor 1 mempunyai taraf kesukaran
= 0,6.
2) Soal nomor 3 mempunyai taraf kesukaran
= 0,4.
b. Menghitung tingkat kesukaran soal bentuk uraian
Untuk menghitung tingkat kesukaran suatu soal bentuk uraian digunakan rumus sebagai berikut:
Mean = Tingkat kesukaran =
Contoh:
Tabel 1.2 data skor tes uraian
Nama Nomor soal Skor total
1 2 3 4 5 Yabes 4 5 2 0 9 20 Loviani 6 7 0 10 8 31 Ike 5 0 10 8 7 30 Haya 0 7 8 9 10 33 Ruth 10 7 9 8 10 43 Kevin 2 5 10 9 10 36 Abner 0 3 6 10 8 27 Lika 10 8 5 10 10 42 Ester 7 7 9 0 7 30 Oca 10 0 9 10 10 39
10 orang peserta didik mengikuti tes dengan 5 soal berbentuk uraian. Skor maksimum ditentukan 10 dan skor minimum 0. Hitunglah tingkat kesukaran pada soal nomor 7.
Mean =
=
=
2,7 Tingkat kesukaran = = =
0,27Tingkat kesukaran 0,27 berada diantara 0,00 dan 0,30 berarti soal tersebut termasuk sukar.
Menurut Arikunto (2013), ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran sering diklasifikasikan sebagai berikut:
soal dengan P 0,00 sampai 0,30 adalah soal sukar
soal dengan P 0,31 sampai 0,70 adalah soal sedang
Latihan 1a
1. Apa yang dimaksud dengan tingkat kesukaran?
2. Jelaskan perbedaan perhitungan tingkat kesukaran soal objektif dan soal uraian!
3. 40 orang siswa mengikuti tes ulangan semester. Dari jumlah siswa yang mengikuti tes, ada sekitar 11 orang menjawab soal nomor 2 dengan benar. Maka, hitunglah indeks kesukarannya dan buatlah tabel analisis soalnya!
Rangkuman
Tingkat kesukaran adalah pengukuran seberapa besar derajat kesukaran suatu soal. Indeks tingkat kesukaran pada umumnya dinyatakan dalam bentuk proporsi yang besarnya berkisar 0,00-1,00. Besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh dari hasil hitungan, berarti semakin mudah soal itu. Suatu soal memiliki TK = 0.00, artinya tidak ada siswa yang menjawab benar dan apabila memiliki TK = 1,00 artinya siswa menjawab benar. Perhitungan indeks tingkat kesukaran dilakukan untuk setiap nomor soal. Menghitung tingkat kesukaran dapat digunakan untuk soal bentuk objektif dan soal bentuk uraian.
Tes Formatif 1a
1. Suatu soal dikatakan memiliki tingkat kesukaran seimbang, jika… a. Soal terlalu sukar
b. Soal terlalu sedang c. Tidak terlalu sukar d. Terlalu Mudah
e. Tidak sukar dan tidak mudah
2. Suatu soal memiliki indeks tingkat kesukaran soal sukar, maka bilangan yang tepat untuk menyatakannya adalah… a. 0,31 b. 0,25 c. 0,81 d. 0,70 e. 1,00
3. Apabila suatu soal memiliki indeks tingkat kesukaran sebesar 0,00 artinya… a. Soal mudah
c. Soal perlu direvisi d. Soal gagal
e. Soal sedang
4. 36 orang peserta didik SMA di tes dalam mata pelajaran Biologi. Dari seluruh peserta didik tersebut, ada 25 orang yang dapat menjawab dengan benar pada soal nomor 1. Dengan demikian, proporsi untuk tingkat kesukaran soal no 1 itu ada lah…
a. 0, 30 mudah b. 0,36 sukar
c. 0, 70 sukar d. 0,53 sedang e. 0,69 sedang
5. 27 orang peserta didik SMA di tes dalam mata pelajaran Biologi dengan 5 soal essay. Dari seluruh peserta didik tersebut, ada 15 orang yang dapat menjawab dengan benar pada soal nomor 1. Skor maksimal 5 dan skor minimal 0. Dengan demikian, tingkat kesukaran soal no 1 itu adalah… a. 0, 815 b. 0,185 c. 0, 30 d. 1,08 e. 0, 018
Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban Tes Formatif 1a yang terdapat di bagian akhir modul ini dan hitunglah jumlah jawaban yang benar. Untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1, gunakanlah rumus sebagai berikut :
Kriteria tingkat penguasaan: 80 – 100 = Baik Sekali 70 – 79 = Baik
60 – 69 = Cukup 40 – 59 = Kurang
< 40 = Kurang Sekali
Jika tingkat penguasaan Anda 70 % atau lebih, berarti Anda berhasil. BAIK! Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Jika masih di bawah 70 %, Anda harus mengulang materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.