• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Masalah"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah negara yang memiliki penduduk terbanyak nomor empat di dunia dengan total populasi sekitar 260 juta penduduk yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Penyebab inilah mengapa pemerintah Indonesia kesulitan dalam memenuhi kesejahteraan penduduk Indonesia dalam berbagai aspek seperti aspek Pendidikan, aspek Kesehatan, aspek ekonomi, dan lain-lain. Sehingga dibuatlah berbagai lembaga sosial yang diakui oleh pemerintah Indonesia (resmi) yang bertugas untuk menerima dan menyalurkan kebutuhan pokok atau dasar penduduk.

Dengan adanya lembaga sosial resmi yang memiliki kewenangan atau izin dari pejabat yang berwenang untuk bertugas menerima bantuan sosial yang berupa dana dan menyalurkannya kepada masyarakat diharapkan dapat memperkecil kemungkinan disalahgunakan nya bantuan sosial oleh oknum- oknum tertentu, dan bantuan sosial yang ada dapat disalurkan kepada masyarakat secara maksimal.

Menurut Alvin L. Bertrand Lembaga sosial pada hakikatnya adalah sekumpulan dari norma-norma sosial (struktur-strukur sosial) yang sudah diciptakan agar dapat melaksanakan fungsi masyarakat.1 Menurut Koentjaraningkrat pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktifitas sosial untuk memenuhi kompleks- kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat.

Fungsi Lembaga Sosial dikemukakan oleh Koentjaranigrat bahwa Lembaga atau pranata yang berfungsi untuk:

1. memenuhi kebutuhan kekerabatan, misalnya: pelamaran, perkawinan, poligami, pergaulan antar kerabat, dan perceraian.

1 Https://Seputarilmu.Com/-Pengertian Lembaga Sosial Menurut Para Ahli Di Kunjungi Pada Tanggal 18 Maret 2021 Pukul 15.40

(2)

2. Lembaga atau pranata yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi atau pencarian hidup. Misalnya pertanian, peternakan, industri, koperasi, dan penjualan.

3. Lembaga atau pranata yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan pendidikan. Misalnya pengasuhan kanak-kanak, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, pers, dan perpustakaan.

4. Lembaga atau pranata yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keilmuan, seperti penelitian pendidikan keilmuan.

5. Lembaga atau pranata yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keindahan dan rekreasi, misalnya seni rupa, seni musik, seni tari, teater, dan kesusastraan. Lembaga atau pranata yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan politik, seperti pemerintah, demokrasi, dan kepartaian

6. Lembaga atau pranata yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan jasmani, misalnya: pemeliharaan kecantikan, pemeliharaan kesehatan, dan kedokteran 2

Salah satu dari Lembaga sosial resmi adalah organisasi nirlaba.

Organisasi nirlaba adalah suatu organisasi yang tujuan-tujuannya tidak mencakup penciptaan laba untuk kepentingan pribadi pemilik atau pengelolanya. Organisasi nirlaba sering kali berusaha mencapai keuntungan tersebut untuk tujuan sosial atau pendidikan dari organisasi dan bukannya untuk kepentingan pribadi.3Menurut Setiawan (2007) organisasi nirlaba meliputi; Gereja, Yayasan, Sekolah, Rumah Sakit dan Klinik Publik. Sesuai dengan namanya, organisasi nirlaba adalah organisasi yang dalam menjalankan aktivitas tidak berorientasi untuk menghasilkan keuntungan bisnis (non profit organization). Ukuran keberhasilan yang hendak dicapai organisasi nirlaba bukan keuntungan secara materi, tetapi untuk pelayanan sosial. Namun hal tersebut bukan berarti organisasi nirlaba tidak boleh

2 Atin Sri, Peran Pengurus Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Apik Mandiri Dalam Membina Anak Jalanan Untuk Meraih Pendidikan Di Kelurahan Kota Karang Raya Kecamatan Teluk Betung Timur Kota Bandar Lampung. Lampung, Skripsi 9 November 2017, H.,33.

3 Nickels, William G., Mchugh, James M., Mchugh, Susan M, Pengantar Bisnis ± Understanding Business, Buku 1, Edisi Kedelapan, Salemba Empat, Jakarta, 2009.

(3)

menghasilkan keuntungan. Hanya saja keuntungan yang diperoleh dari aktivitas organisasi semata-mata ditujukan hanya untuk menutupi biaya yang timbul dari kegiatan operasional atau keuntungan yang diperoleh akan disalurkan kembali pada kegiatan utama organisasi tersebut.4

Yayasan merupakan organisasi nirlaba atau organisasi yang dalam menjalankan aktivitas tidak berorientasi untuk menghasilkan keuntungan bisnis (non profit organization). Yayasan (stichting) sudah dikenal masyarakat sejak zaman Hindia Belanda. Pengaturannya telah mengalami perkembangan yang sangat dinamis dari masa ke masa. Yayasan sebagai badan hukum telah diterima dalam suatu yurisprudensi tahun 1882. 5 Dalam rangka menjamin kepastian dan ketertiban hukum Yayasan maka diatur dalam Pasal 365, Pasal 899, Pasal 900, Pasal 1680, Pasal 1852, dan Pasal 1954 KUH Perdata, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan jo. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UU No.

16 Tahun 2001 tentang Yayasan (UU Yayasan), pasal 2 ayat (7) Undang- Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2008 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Tentang Yayasan yang menjadi dasar bagi pelaksanaan Yayasan6

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, yang mulai berlaku 1 (satu) tahun kemudian terhitung sejak tanggal diundangkan dan kemudian diubah dengan UndangUndang Nomor 28 Tahun 2004 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan7, dan dasar hukum yang mengatur tentang yayasan yang lain adalah Peraturan Pemerintah (PP) No. 63 Tahun 2008 tentang Pelaksanaan Undang-Undang tentang Yayasan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001

4 Nasution, Marihot Dan Doddy Setiawan. Pengaruh Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba Di Industri Perbankan Indonesia, Sna X Makasar, 2007.

5 Arie Kusumastuti Maria Suhardiadi, 2002, Hukum Yayasan Di Indonesia, Jakarta, PT.

Abadi, H.,18-19.

6 Dyah Hapsari Prananingrum, Hukum Yayasan Di Indonesia Kajian Filosofi Dan Yuridis, Gentha Publishing, Yogyakarta, 2016, H.3.

7 Undang-Undang No. 16 Tahun 2001 Tentang Yayasan Lembaran Negara RI Tahun 2001 No. 112; Undang-Undang No. 28 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.

16 Tahun 2001 Tentang Yayasan Lembaran Negara RI Tahun 2004 No. 115.

(4)

tentang Yayasan pasal 1 angka 1, yang dimaksud dengan yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota.

Kekayaan awal yayasan berupa kekayaan pribadi pendiri atau para pendiri dijadikan aset yayasan dalam rangka melakukan aktivitas untuk maksud dan tujuan yayasan.8 Pasal 5 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 menyatakan:

“Kekayaan Yayasan baik berupa uang, barang, maupun kekayaan lain yang diperoleh Yayasan berdasarkan Undang-undang ini, dilarang dialihkan atau dibagikan secara langsung atau tidak langsung kepada Pembina, Pengurus, Pengawas, karyawan, atau pihak lain yang mempunyai kepentingan terhadap Yayasan.”

Pendirian yayasan dapat dilakukan oleh satu orang pendiri saja maupun lebih.

Pasal 9 UU No. 16 Tahun 2001 mengatur bahwa yayasan dapat didirikan baik orang perorangan ataupun badan hukum dengan cara memisahkan harta kekayaan maupun dengan surat wasiat. Mengenai bagaimana mendirikan yayasan tersebut diatur dalam pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 menyatakan:

Ayat (1)

“Yayasan didirikan oleh satu orang atau lebih dengan memisahkan sebagian harta kekayaan pendirinya, sebagai kekayaan awal.”

Ayat (3)

“Yayasan dapat didirikan berdasarkan surat wasiat.”9

Hal penting yang berhubungan dengan kekayaan yayasan melalui UU Yayasan, yayasan dapat membuat badan usaha dengan keuntungan yang

8 Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementrian Hukum Dan Hak Asasi Manusia, Penelitian Hukum Tentang Perbandingan Tujuan Dan Pola Kerja Yayasan Di Berbagai Negara Dan Kemungkinan Penerapanya Di Indonesia, Jakarta, 2012, H., 26.

9 Nadia Septia Paulina, Dyah Hapsari Prananingrum, Karakteristik Badan Hukum Rumah Sakit Swasta Di Indonesia, Hal., 188, Vol. 1, No. 2, 2018

(5)

didapat dari badan usaha tersebut harus sesuai dengan maksud dan tujuan yayasan dan tidak dapat dibagikan kepada organ yayasan.10

Dengan demikian, tujuan yayasan memang berbeda, ada yang bergerak di bidang sosial, agama, atau kemanusiaan. Kegiatan sosial yang dilakukan yayasan diperkirakan muncul dari kesadaran masyarakat kalangan mampu yang memisahkan kekayaannya untuk membantu masyarakat yang mengalami kesusahan. Dipilihnya yayasan sebagai wadah untuk beraktivitas sosial tentu bukan tanpa alasan. Dibanding dengan bentuk badan hukum lain yang hanya terkonsentrasi pada bidang ekonomi dan usaha, yayasan dinilai lebih memiliki ruang gerak untuk menyelenggarakan kegiatan sosial seperti pendidikan, kesehatan serta keagamaan yang pada umumnya belum ditangani oleh badan-badan hukum lain11. Yayasan juga merupakan organisasi masyarakat pernyataan ini dikuatkan dengan adanya pasal 5 Undang-undang No. 17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan menyatakan:

Pasal 5

“Ormas bertujuan untuk:

a. meningkatkan partisipasi dan keberdayaan masyarakat;

b. memberikan pelayanan kepada masyarakat;

c. menjaga nilai agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa;

d. melestarikan dan memelihara norma, nilai, moral, etika, dan budaya yang hidup dalam masyarakat;

e. melestarikan sumber daya alam dan lingkungan hidup;

f. mengembangkan kesetiakawanan sosial, gotong royong, dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat;

g. menjaga, memelihara, dan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa; dan

h. mewujudkan tujuan negara.”12

10 Pasal 3 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Tentang Yayasan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 112).

11 Arie Kusumastuti Dan Maria Suhardiadi, Loc.Cit, H.,1

12 pasal 5 Undang-undang No. 17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan

(6)

Hal ini sejalan dengan tujuan dari Yayasan, namun demikian Yayasan berbeda dengan ormas yang lain karena tidak berbasis anggota sesuai dengan pasal 11 ayat (3) UU No 17 tahun 2013. Yayasan memiliki peran yang khusus yang sangat diperlukan untuk mendukung visi dan misi serta tujuan pembentukan negara, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia 13

Yayasan merupakan badan hukum yang kekayaannya terdiri dari kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan dan kemanusiaan14. Yayasan dalam menjalankan kegiatan sosial selain hanya dari kekayaan Yayasan, Yayasan juga dibantu dengan menghimpun bantuan sosial dari berbagai pihak seperti negara, perusahaan-perusahaan, perorangan, dan lain-lain. Di dalam UU No.17 tahun 2013 pasal 37 ayat (1) menyatakan bahwa:

pasal 37:

(1) Keuangan Ormas dapat bersumber dari:

a. iuran anggota;

b. bantuan/sumbangan masyarakat;

c. hasil usaha Ormas;

d. bantuan/sumbangan dari orang asing atau lembaga asing;

e. kegiatan lain yang sah menurut hukum; dan/atau

f. anggaran pendapatan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan belanja daerah.15

Salah satunya adalah mengandalkan donasi dari masyarakat atau disebut juga dengan crowdfunding. Konsep crowdfunding berakar dari konsep crowdsourcing yang memanfaatkan "kerumunan" orang untuk memberikan umpan balik dan solusi untuk mengembangkan kegiatan suatu perusahaan rintisan. Dalam crowdfunding, tujuannya adalah mengumpulkan dana yang dilakukan dengan menggunakan jaringan media sosial (Twitter, Facebook, LinkedIn dan situs – situs blogging). Tujuan utama crowdfunding

13 Gatot Supramono, Hukum Yayasan Di Indonesia, Jakarta, Rineka Cipta, Tahun 2008, H.,2 14 Nadia Septia Paulina, Dyah Hapsari Prananingrum, Karakteristik Badan Hukum Rumah Sakit Swasta Di Indonesia, Jurnal Ilmu Hukum Alethea, H., 190, Vol. 1, No. 2, 2018

15 Pasal 37 ayat (1) Undang-undang No. 17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan

(7)

adalah memberikan alternatif untuk memperoleh pendanaan16 atau menghimpun dana.

Definisi dari menghimpun menurut dari KBBI adalah mengumpulkan.

Penghimpunan atau biasa dikenal dengan istilah fundrising merupakan kegiatan dalam rangka penghimpunan dana dan sumber daya lainnya dari masyarakat baik individu, kelompok, organisasi, perusahaan atau pemerintah.

Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai program dan kegiatan operasional lembaga dalam rangka mencapai tujuan. Dengan demikian kegiatan fundrising bertujuan untuk menghimpun dana dari donatur yang sifatnya mendukung kegiatan sebuah lembaga.17

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejauh ini mengelompokkan crowdfunding dalam 4 (empat) jenis yaitu equity based crowdfunding (crowdfunding berbasis permodalan/kepemilikan saham), lending based crowdfunding (crowdfunding berbasis kredit/utang-piutang), reward based crowdfunding (crowdfunding berbasis hadiah), dan donation based crowdfunding (berbasis donasi).18 Di dalam skripsi ini akan lebih terfokus pada konsep crowdfunding yang donation based crowdfunding (berbasis donasi).

Peran crowdfunding dalam membantu pembiayaan telah terbukti berhasil, namun kekurangan dari sistem ini adalah belum ada legalitas bagi penyelenggara situs crowdfunding dan tidak jelasnya pengawasan dari Pemerintah sebagai bentuk perlindungan terhadap dana kolektif masyarakat untuk melakukan penyaluran bantuan sosial.19 Selain persoalan legalitas

16 Paul Belleflame, dkk., 2010. Crowdfunding: An Industrial Organization Perspective, dipublikasikan di seminar workshop “Digital Business Models: Understanding Strategies', H., 1–2.

17 N.Oneng Nurul Bariyah, Strategi Penghimpunan Dana Sosial Ummat Pada Lembaga- Lembaga Fillantrofi Di Indonesia (Studi Kasus Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhid, Dompet Dhuafa Republika, BAZNAS, Dan BAZIS DKI Jakarta), Vol. I, No. 1, 2016.

18 Indra, 2014. The Rout Of OJK in Promoting Financing For Innovative and Creative Business Activities, disampaikan di Seminar Internasional “Crowdfunding, Alternative Funding For Creative Business”, Jakarta.

19 Iswi Hariyani, Cita Yustisia Serfiyani, Perlindungan Hukum Sistem Donation Based Crowdfunding Pada Pendanaan Industri Kreatif Di Indonesia (The Legal Protection Of The Donation-Based Crowdfunding System On The Creative Indusry In Indonesia), Vol. 12, No.

4, 2015.

(8)

usaha pengelola situs crowdfunding yang melakukan penggalangan dana masyarakat, terdapat berbagai hal yang harus diatur pula seperti tanggung jawab pengelola situs sebagai perantara pemilik proyek dengan supporter.

Donation based crowdfunding adalah kegiatan urun dana dari masyarakat untuk berbagai tujuan khususnya untuk tujuan sosial dan amal. Sarana yang digunakan adalah media internet dan aplikasi atau platform sebagai perantara penghubung donatur dan penerima donasi.

Menurut Bradford, dalam crowdfunding model donasi, penyandang dana (donatur) tidak memperoleh imbal hasil dari dana yang telah didonasikan kepada pemilik program/proyek. Donasinya berdasar atas rasa simpati kepada orang yang dibantunya. Di Indonesia, crowdfunding diatur dalam Undang-undang Nomor 9 tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang dan Barang, dan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1980 tentang Pelaksanaan Pengumpulan Sumbangan. Kedua peraturan tersebut tidak mengatur bentuk entitas atau organisasi yang diizinkan untuk melakukan kegiatan pengumpulan dana. Hal ini menunjukkan adanya kekosongan hukum dalam aktivitas donation based crowdfunding. Potensi penyalahgunaan dana sangat mungkin terjadi.20 Di dalam Undang-undang Nomor 9 tahun 1961 pasal 1 tentang Pengumpulan Uang dan Barang crowdfunding atau yang diartikan dengan pengumpulan uang atau barang dalam undang-undang ini ialah setiap usaha mendapatkan uang atau barang untuk pembangunan dalam bidang kesejahteraan sosial, mental/agama/kerohanian, kejasmanian dan bidang kebudayaan.21 Sedangkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1980 pasal 1 angka (3) tentang Pelaksanaan Pengumpulan Sumbangan, Pengumpulan sumbangan adalah setiap usaha mendapatkan uang atau barang untuk pembangunan dalam bidang kesejahteraan sosial, mental/agama/kerohanian, kejasmanian, pendidikan dan bidang kebudayaan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1

20 Thommy Budiman, Rahel Octora, Perlindungan Hukum Bagi Donatur Dalam Kegiatan Donation Based Crowdfunding Secara Online. Jurnal Kertha Patrika, Vol. 41, No. 3, 2019

21 Pasal 1 Undang-undang Nomor 9 tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang dan Barang

(9)

Undang-undang Nomor 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang.22

Dalam Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Penyaluran Belanja Bantuan Sosial Di Lingkungan Kementerian Sosial yang dimaksud dengan bantuan sosial adalah bantuan berupa uang, barang, atau jasa kepada seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat miskin, tidak mampu, dan/atau rentan terhadap risiko sosial 23 Menurut Pasal 6 Peraturan Menteri Sosial Nomor 1 Tahun 2019 tentang Penyaluran Belanja Bantuan Sosial di Lingkungan Kementerian Sosial, bantuan sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) diberikan dalam bentuk uang, Barang dan/atau, jasa.24 Penerima bantuan sosial yang meliputi perorangan, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat memiliki kriteria masalah sosial yang meliputi kemiskinan, Keterlantaran, kedisabilitasan, keterpencilan, ketunaan sosial atau penyimpangan perilaku, korban bencana, dan/atau korban tindak kekerasan, eksploitasi, diskriminasi, korban penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.25 Hal ini sehubungan dengan kriteria fakir miskin yang ditetapkan oleh Menteri Sosial sebagai dasar untuk melaksanakan penanganan fakir miskin.26

Yayasan sebagai organisasi nirlaba (non provit organization) yang bergerak di bidang sosial haruslah memiliki tujuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat atau wargayang membutuhkan. Yayasan memberikan bantuan atau miliknya kepada masyarakat yang dibantu harus sesuai dengan tujuan suatu yayasan 27

Ini sejalan dengan teori: pertama, teori harta kekayaan yang dipisahkan, harta pendiri yang diberikan untuk tujuan suatu badan hukum dengan suatu

22 Pasal 1 angka (3) Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1980 tentang Pelaksanaan Pengumpulan Sumbangan

23 Pasal 1 Angka 1 Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Penyaluran Belanja Bantuan Sosial Di Lingkungan Kementerian Sosial.

24 Pasal 6 Peraturan Menteri Sosial Nomor 1 Tahun 2019 tentang Penyaluran Belanja Bantuan Sosial di Lingkungan Kementerian Sosial.

25 Pasal 11, ibid.

26 Pasal 12, ibid.

27 Chatamarrasjid, Tujuan Sosial Yayasan dan Kegiatan Usaha Bertujuan Laba, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, H., 180.

(10)

kekayaan namun harta tersebut sudah menjadi harta kekayaan badan hukum tersebut. Dapat diketahui bahwa harta kekayaan yang dipisahkan ditujukan untuk tujuan-tujuan tertentu28. Kedua, teori harta kekayaan bertujuan kekayaan badan hukum adalah kekayaan yang terikat oleh suatu tujuan dan terlepas dari yang memegangnya.29 Dan yang terakhir adalah teori Good Corporate Governance suatu mekanisme yang mengatur tentang tata cara pengelolaan perusahaan berdasarkan aturan yang menaungi perusahaan, seperti anggaran dasar serta aturan-aturan tentang perusahaan.30 Prinsip transparansi dan akuntabilitas yang terdapat dalam Good corporate Governance diperlukan yayasan dalam hal pemeriksaan terhadap yayasan, untuk memastikan bahwa organ yayasan menjalankan tugas dan kewenangannya untuk mewujudkan tujuan yayasan, serta untuk memastikan organ yayasan tidak melakukan pelanggaran hukum dan lalai dalam menjalankan tugasnya. Kenyataannya dalam praktik menunjukkan adanya penyimpangan dalam pengelolaan, konflik antara pengurus atau penyalahgunaan lembaga yayasan.

Peluang adanya penyimpangan dalam Yayasan sangatlah besar, salah satunya dapat terjadi karena sebagaimana diatur dalam UU Nomor 16 tahun 2001 pasal 26 ayat (2) kekayaan Yayasan dapat diperoleh dengan sumbangan atau bantuan tidak mengikat terlebihManusia memiliki naluri belas kasih pada sesamanya sehingga memiliki kesadaran untuk menolong sesamanya.

Pertolongan atau bantuan dapat diberikan dengan bentuk dan cara yang beragam, salah satunya melalui sarana pengumpulan donasi berbasis internet (crowdfunding).31

Ini adalah salah satu contoh kasus penyalahgunaan crowdfunding oleh Yayasan yang terjadi di Yogyakarta, Syam organizer yang diketahui sebagai

28 Y. Sogar Simora, “Karakteristik, Pengelolaan dan Pemeriksaan Badan Hukum Yayasan di Indonesia” Jurnal RechtsVinding,Vol. 1, No. 2, 2012, H., 178.

29 Kusrini Purwijanti dan Iman Prihandono, “Pengaturan Karakteristik Beneficiary Owner Di Indonesia” Notaire, Vol. 1, No. 1, 2018, H., 59.

30 Loc. Cit. h. 15.

31 Thommy Budiman, Rahel Octora, Perlindungan Hukum Bagi Donatur dalam Kegiatan Donation Based Crowdfunding Secara Online, Jurnal Kertha Patrika, Vol. 41, No. 3 ,2019, H., 222

(11)

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di bidang kemanusiaan yang bertujuan untuk bergerak menghimpun dana dan menyalurkannya kepada yang membutuhkan, digeledah oleh densus 88 anti-teror polri Yogyakarta, dari penelusuran kantor Syam organizer ternyata tidak terdaftar di kementrian agama DIY maupun Badan Kesatuan Bangsa (Bakesbang) kota Yogyakarta baik sebagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang bertugas mengumpulkan zakat, sedekah,infak, maupun menyalurkannya, sebagai instansi pemerintah yang mengurusi ormas atau kegiatan kemasyarakatan juga tidak terdata.

Tertera di website syamorganizer.org, lembaga ini mengantongi penetapan dari Kementerian Hukum dan HAM Yayasan Amal Syam Abadi dari notaris Sri Handayani, SH. Mkn No. 34 tanggal qr September 2017.

Sedangkan dari Kementerian Hukum dan HAM AHU-AH.01.06-0006744 tahun 2017, tetapi izin badan hukum itu tidak pernah diurus ke kementrian agama.

Lembaga syam organizer ini banyak menghimpun dana yang mengatasnamakan kemanusiaan seperti program ambulans dan bantuan ke Suriah, Palestina, dan daerah Timur Tengah yang diklasifikasikan sebagai jaringan teroris. Pihak Syam organizer menghimpun dana secara online (donation based crowdfunding) sehingga kegiatannya tidak terpantau oleh Bakesbang.

Bakesbang yang juga bagian dari Badan Intelejen Nasional Daerah (Binda) kota Yogyakarta mengakui kegiatan syam organizer tidak terpantau pihaknya baik kegiatan sosial ataupun kegiatan keagamaan. Ketua RW dan masyarakat sekitartidak menaruh curiga kepada LSM ini karena pengurusnya beralasan sebagai LSM kemanusiaan yang menghimpun dan menyalurkan dana untuk kemanusiaan sehinggadinilai memiliki kegiatan yang baik. (Berita ini diambil dari detiknews)

Melalui kasus di atas, timbulah suatu alasan mengapa harus dilakukan penelitian ini. Penelitian ini harus dilakukan karena lembaga-lembaga yang mengatas namakan kemanusiaan yang salah satunya adalah Yayasan belum memiliki peraturan yang jelas, yang mengatur tentang bentuk

(12)

pertanggungjawaban tindakan penghimpunan (donation based crowdfuding) dan penyaluran dana sosial oleh Yayasan yang tidak sesuai dengan tujuan Yayasan dan tidak tepat sasaran.32

Dari keterangan di atas maka timbulah suatu isu hukum yang akan diteliti dan dijawab sesuai dengan argumentasi hukum yaitu apabila Yayasan melakukan tindakan penghimpunan (donation based crowdfunding) dan menyalurkan dana sosial tidak sesuai dengan tujuan yayasan dan tidak tepat sasaran bagaimana bentuk-bentuk pertanggungjawabannya perlindungan hukum terhadap sistem donation based crowdfunding di dalam peraturan perundang-undangannya serta apa implikasi hukumnya kepada Yayasan yang melakukan kegiatan (penghimpunan dan penyaluran dana) yang tidak sesuai dengan tujuan dan tidak tepat sasaran?

2. Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam proposal ini adalah:

1. Apakah implikasi hukum dalam hal penghimpunan dan penyaluran dana tidak sesuai dengan tujuan dan sasaran Yayasan?

2. Bagaimana bentuk-bentuk pertanggungjawaban terhadap sistem donation based crowdfunding di dalam peraturan perundang- undangannya?

3. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

32 Heri Susanto, https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5520576/kegiatan-syam- organizer-yang-digeledah-densus-tak-terpantau-pemkot-yogya terakhir diakses 14 Mei 2021 pukul 00.37 WIB.

(13)

1. Untuk mengetahui bentuk pertanggungjawaban hukum apabila Yayasan melakukan kegiatan (menghimpun dan menyalurkan bantuan sosial) yang bertentangan dengan tujuan yayasan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Untuk mengetahui apa implikasi hukum dari pelanggaran yang dilakukan Yayasan karena melakukan kegiatan (penghimpunan dan penyaluran dana sosial) yang tidak sesuai dengan tujuan dan tidak tepat sasaran.

4. Manfaat Penelitian

A. Manfaat Teoritis

Secara teoritis melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk pengembangan ilmu hukum terutama norma, teori-teori hukum, sistematika hukum dan peraturan perundang- undangan yang sesuai dengan norma serta kebutuhan yayasan saat ini.

B. Manfaat Praktis

Secara praktis diharapkan penelitian hukum ini dapat memberikan masukan bagi para penegak hukum atau praktisi hukum serta dapat menjadi sumber inspirasi bagi peneliti berikutnya yang relevan atau berkaitan dengan penelitian hukum ini.33

5. Metode Penelitian

Penelitian hukum merupakan proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum maupun doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi.34 Dalam penyusunan skripsi penulis melakukan penelitian mengenai norma atau kaidah dan prinsip-prinsip hukum. Penelitian hukum dilakukan dalam rangka legal problem

33 Chrisdiar.Angella. Kajian Yuridis Terhadap Prinsip Mengenali Pemilik Manfaat Menurut Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2018 Tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pemilik Manfaat Pada Yayasan.Skripsi Februari 2021

34 Titon Slamet Kurnia, Sri Harini Dwiyatmi dan Dyah Hapsari P, Pendidikan Hukum, Ilmu Hukum & Penelitian Hukum Di Indonesia Sebuah Reorientasi, Pustaka Pelajar, Salatiga, 2013, H., 129.

(14)

solving.35 Tujuan tersebut dilakukan untuk dapat membedakan jenis- jenis penelitian lain yang sama untuk menempatkan hukum sebagai obyek penelitian.36 Berikut metode penelitian yang dilakukan dalam penulisan proposal skripsi:

A. Jenis Penelitian

Berkaitan dengan Tanggung Jawab Hukum Dalam Penghimpunan (Crowdfunding) Dan Penyaluran Bantuan Sosial Pada Yayasan maka, jenis penelitian ini penulis menggunakan metode yuridis normatif. Penelitian normatif merupakan penelitian hukum yang dikonsepkan sebagai norma atau kaidah yang berlaku dalam masyarakat, dan menjadi acuan perilaku setiap orang.37 Sehingga, dalam penelitian ini penulis hanya akan mengkaji norma-norma hukum positif yang hanya berkaitan dengan pertanggungjawaban hukum menurut hukum yayasan.

B. Pendekatan Masalah

Di dalam penulisan penelitian ini penulis menggunakan Pendekatan Konseptual (Conceptual Approach) dan Pendekatan Peraturan (Statute Approach). Berikut, merupakan penjelasan pendekatan masalah yang dipakai dalam penelitian ini. Pendekatan konseptual (conceptual approach) merupakan jenis pendekatan dalam penelitian hukum yang mengacu pada analisa penyelesaian permasalahan dari konsep-konsep hukum yang melatarbelakanginya, atau dilihat dari nilai-nilai penormaan sebuah peraturan kaitannya dengan konsep-konsep yangdigunakan.

Sedangkan, pengertian pendekatan peraturan (Statute Approach) penelitian hukum yang mengacu pada peraturan perundang-undangan (baik legilasi maupun regulasi) sehingga

35 Ibid. H., 132.

36 Ibid. H., 132.

37 Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, Citra Aditya, Bandung, 2004, H., 57.

(15)

argumentasi yang dikemukakan mengacu pada peraturan perundang- undangan.38

6. Bahan Hukum

Bahan hukum, yang dikaji meliputi:

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer atau disebut juga primary authority merupakan suatu peraturan bersifat mengikat yang diberlakukan oleh negara. Bentuk dari bahan hukum primer peraturan perundang- undangan dan putusan pengadilan.39 Adapun bahan hukum primer dalam penelitian ini, meliputi:

(i) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;

(ii) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan jo.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UU No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan;

(iii) Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2008 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Tentang Yayasan.

(iv) Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Penyaluran Belanja Bantuan Sosial Di Lingkungan Kementerian Sosial.

(v) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1980 Tentang Pelaksanaan Pengumpulan Sumbangan.

(vi) Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Nomor 111/G/2009/PTUN-JKT

(vii) Undang-Undang Nomer 9 Tahun 1961 Tentang Pengumpulan Uang Atau Barang

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan Hukum Sekunder Merupakan Hasil Penjelasan yang dilakukan yuris terhadap primary authorities atauwritings about the

38 Titon Slamet Kurnia, Sistem Hukum Indonesia Sebuah Pemahaman Awal, CV. Mandar Maju, Bandung, 2016, H., 112.

39 Ibid. H.111.

(16)

law.40 Sehingga bahan hukum sekunder dalam penelitian ini merupakan buku-buku hukum, jurnal-jurnal hukum, skripsi hukum, internet dan bahan bacaan yang membahas atau berkaitan dengan penelitian ini.

7. Sistematika Penulisan

Penelitian ini disusun dengan menggunakan sistematika sebagai berikut:

a. Bab 1 Pendahuluan

Merupakan bab yang memuat latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, serta sistematika penulisan.

b. Bab 2 Tinjauan Pustaka

Merupakan bab yang memuat teori dan konsep yang bersumber dari peraturan perundang-undangan maupun literatur-literatur yang berkaitan dengan pertanggungjawaban hukum dalam penghimpunan (crowdfunding) dan penyaluran bantuan sosial oleh yayasan.

c. Bab 3 Analisis dan Pembahasan

Bab yang memuat hasil penelitian yang berupa peraturan- peraturan pertanggungjawaban hukum dalam penghimpunan dan penyaluran bantuan sosial pada organisasi nirlaba Yayasan.

d. Bab 4 Penutup

Merupakan bab yang memuat kesimpulan dan saran dari pembahasan dalam rumusan masalah.

40 Ibid. H., 112.

Referensi

Dokumen terkait

Pada sisi lain, pengaruh FBIR terhadap CAR adalah positif karena jika FBIR meningkat, berarti telah terjadi peningkatan pendapatan operasional selain bunga dengan persentase yang

meningkatkan ekspor, di mana harga barang ekspor di luar negeri akan lebih murah, sedangkan harga barang impor dari luar negeri akan lebih mahal sehingga impor atas

83 tahun 1993 yang dijabarkan dalam Kepmentan No.96/Kpts/OT.210 /2/1994 Badan Litbang Pertanian terdiri dari 11 unit kerja Eselon II, yaitu Sekretariat Badan, Pusat

Pada tujuan Banjarmasin, selisih biaya perjalanan antara pesawat dari Malang dan pesawat dari Surabaya di bawah angka Rp 190.000, selisih ketepatan jadwal dibawah 57

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 100 Tahun Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di

Meskipun pengaruh perlakuan hanya terlihat nyata pada variabel tinggi tanaman tetapi ada kecenderungan peningkatan rerata hasil pada bahan penelitian yang diberi

Sebagai bank nasional yang pertama kali meluncurkan layanan ATM pada tahun 1987 dan on-line banking system pada tahun 1991, CIMB Niaga dikenal sebagai salah satu bank

Dalam kontes kesusastraan, Damono (1998: 234) mengatakan bahwa karya sastra adalah benda budaya; ia tidak jatuh dari langit, tetapi diciptakan manusia yang