• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. LANDASAN TEORI. Tabel 2.1 penelitian terdahulu yang terkait

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "II. LANDASAN TEORI. Tabel 2.1 penelitian terdahulu yang terkait"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

II. LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 penelitian terdahulu yang terkait

No Penelitian terdahulu Penelitian

Aspek Terdahulu Ini

1 Damayanti (2010).

Persepsi petani terhadap budidaya wijen di kabupaten sukoharjo

Tujuan Menganalisis hubungan antara faktor internal dan faktor eksternal dengan persepsi petani terhadap budidaya wijen di Kabupaten

Sukoharjo.

Menganalisis pengaruh antara faktor-faktor pembentuk

persepsi petani dengan persepsi petani dalam budidaya bawang putih pasca tanaman

tembakau di Kecamatan

Kledung Kabupaten Temanggung 2 Anggraini (2011)

Persepsi petani terhadap

pengembangan komoditas garut (Marata

arundinacea L) di Kecamatan

Polokarto Kabupaten Sukoharjo.

Variabel Independen

Umur, pendidikan formal, pendidikan

non formal,

pengalaman,

pendapatan, motivasi

Pengalaman, pendidikan non formal, motivasi, intensitas stimuli lingkungan sosial

3 Utomo, et al (2012) persepsi petani terhadap budidaya padi System of Rice Intensification (SRI) di Desa Ringgit Kecamatan Ngombol

Kabupaten Purworejo.

Responden petani yang pernah menerapkan metode SRI dan petani yang pernah menerapkan metode SRI dan kembali ke metode konvensional di Desa Ringgit Kecamatan Ngombol Kabupaten Purworejo.

Petani yang membudidayakan bawang putih di Kecamatan

Kledung Kabupaten Temanggung

5

(2)

4 Andani, et al (2014)

Persepsi petani terhadap program pemberdayaan petani melalui sosialisasi tanmaan obat Artemisia annua L. di Kabupaten

Kepahiang Provinsi Bengkulu

Tujuan Mengetahui tingkat persepsi petani terhadap program pemberdayaan petani melalui sosialisasi

tanmaan obat

Artemisia annua L. di Kabupaten

Kepahiang Provinsi Bengkulu

Mengetahui persepsi petani dalam budidaya bawang putih pasca tanaman tembakau di Kecamatan

Kledung Kabupaten Temanggung.

5 Irsa et al (2018) Persepsi Petani dan Efektivitas

Kelompok Tani Dalam Program Upsus Pajale di Kecamatan Banjar Baru Kabupaten Tulang Bawang

Metode analisis

Korelasi Rank Spearman

Regresi Logistik

6 Boadu P et al (2018) Farmers’

Perception About Quality of Planted Seed Yam and Their Preferences For Certified Seed Yam in Ghana.

Variabel Independen

Usia, Tingkat Pendidikan dan Pendapatan

Pengalaman, pendidikan non formal, motivasi, intensitas stimuli lingkungan sosial

7 Prajapati R.C et al (2018) Perception of Farmers About Organic Farming

Metode analisis

Persentase, Rata-rata, S.D., Skor rata-rata dan Peringkat

Regresi Logistik

Sumber : Data Sekunder B. Tinjauan Pustaka

1. Pembangunan Pertanian

Pembangunan pertanian perlu lebih mengutamakan kegiatan penyuluhan yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat (petani), agar selalu siap dan mampu menguasai serta menerapkan setiap alternatif

(3)

inovasi yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas usahatani dan pendapatan petani, demi perbaikan kesejahteraan keluarga dan masyarakat (Mardikanto, 1993). Pembangunan pertanian menurut Mardikanto (1994) diartikan sebagai suatu proses yang ditujukan untuk selalu menambah produksi pertanian bagi tiap-tiap konsumen, yang sekaligus mempertinggi pendapatan dan produktivitas usaha tiap petani dengan jalan menambah modal skill untuk memperbesar turut campur tangan manusia di dalam perkembangan tumbuh-tumbuhan dan hewan.

Menurut Mosher (1981), pembangunan pertanian merupakan bagian integral dari pembangunan ekonomi dan masyarakat secara umum.

Pembangunan pertanian memberikan sumbangan kepadanya serta menjamin bahwa pembangunan menyeluruh itu (overall development) akan benar- benar bersifat umum dan mencakup penduduk yang hidup dari bertani yang jumlahnya besar dan dalam beberapa tahun mendatang diberbagai negara, akan terus hidup bertani.

Pembangunan pertanian tidak dapat terlaksana hanya oleh petani saja. Untuk melakukan pembangunan pertanian lebih lanjut, makin lama petani makin tergantung pada pihak-pihak di luar lingkungan desa, seperti pupuk, bibit unggul, saluran pengairan, obat-obatan, alat-alat, dan lain-lain yang dibeli dari luar, demikian pula hasilnya harus dijual ke pasar, pengetahuan dari sekolah atau fakultas, dinas penyuluhan, dan sebagainya.

Dengan demikian pertanian dapat maju apabila terdapat interaksi yang positif antara bidang pertanian dengan bidang-bidang lainnya (Hadisapoetra, 1973).

Pembangunan pertanian pada hakekatnya adalah pendayagunaan secara optimal sumberdaya pertanian dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan, yaitu: (1) membangun sumber daya manusia aparatur profesional, petani mandiri dan kelembagaan pertanian yang kokoh; (2) meningkatkan pemanfaatan sumberdaya pertanian secara berkelanjutan; (3) memantapkan ketahanan dan keamanan pangan; (4) meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk pertanian; (5) menumbuh kembangkan usaha

(4)

pertanian yang akan memacu aktivitas ekonomi perdesaan; dan (6) membangun sistem manajemen pembangunan pertanian yang berpihak kepada petani (Apriyanto, 2005).

Pembangunan pertanian dapat didefinisikan sebagai suatu proses perubahan sosial. Implementasinya tidak hanya ditujukan untuk meningkatkanstatus dan kesejahteraan petani semata, tetapi sekaligus juga dimaksudkan untukmengembangkan potensi sumberdaya manusia baik secara ekonomi, sosial, politik, budaya, lingkungan, maupun melalui perbaikan (improvement), pertumbuhan (growth) dan perubahan (change) (Iqbal dan Sudaryanto, 2008).

2. Persepsi

Persepsi merupakan suatu proses yang di dahului oleh pengindraan.

Pengindraan adalah merupakan suatu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat penerima yaitu alat indera. Namun proses tidak berhenti disitu saja, pada umumnya stimulus tersebut diteruskan oleh syaraf ke otak sebagai pusat susunan syaraf, dan tidak lepas dari proses pengindraan, dan proses pengindraan merupakan proses yang mendahului terjadinya persepsi. Proses pengindraan terjadi setiap saat, yaitu pada waktu individu menerima stimulus yang mengenai dirinya melalui alat indera. Alat indera merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya (Walgito, 2010).

“Perception is a constructive process which relies on top-down processing. Stimulus information from our environment is frequently ambiguous so to interpret it, we require higher cognitive information either from past experiences or stored knowledge in order to makes inferences about what we perceive. Helmholtz called it the „likelihood principle‟. For Gregory perception is a hypothesis, which is based on prior knowledge. In this way we are actively constructing our perception of reality based on our environment and stored information.”

Berdasarkan uraian diatas, persepsi adalah proses konstruktif yang mengandalkan proses top-down. Informasi stimulan dari lingkungan kita sering ambigu sehingga untuk menafsirkannya, kita memerlukan informasi kognitif yang lebih tinggi baik dari pengalaman masa lalu atau pengetahuan

(5)

yang tersimpan untuk membuat kesimpulan tentang apa yang kita rasakan.

Helmholtz menyebutnya 'prinsip kemungkinan'. Untuk persepsi Gregory adalah hipotesis, yang didasarkan pada pengetahuan sebelumnya. Dengan cara ini kita secara aktif membangun persepsi kita tentang realitas berdasarkan pada lingkungan kita dan menyimpan informasi (Gregory, 1970).

Gibson (1966) “argues that perception is direct. There is enough information in our environment to make sense of the world in a direct way. sensation is perception: what you see if what you get.

There is no need for processing (interpretation) as the information we receive about size, shape and distance etc. is sufficiently detailed for us to interact directly with the environment.” Gibson (1972), “argued that perception is a bottom-up process, which means that sensory information is analyzed in one direction: from simple analysis of raw sensory data to ever increasing complexity of analysis through the visual system.”

Berdasarkan uraian diatas, Gibson (1966) berpendapat bahwa persepsi itu langsung. Ada cukup informasi di lingkungan kita untuk memahami dunia secara langsung. Sensasi adalah persepsi: apa yang Anda lihat jika Anda dapatkan. Tidak perlu diproses (interpretasi) karena informasi yang kami terima tentang ukuran, bentuk, dan jarak, dll. Cukup rinci bagi kami untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan. Gibson (1972) berpendapat bahwa persepsi adalah proses bottom-up, yang berarti bahwa informasi sensorik dianalisis dalam satu arah: dari analisis sederhana data sensorik mentah ke kompleksitas analisis yang semakin meningkat melalui sistem visual.

“La percepción social involucra esfuerzos para formar una impresión global de las otras personas. Al interactuar con otros, y especialmente cuando es la primera vez, tratamos de combinar diversos trozos de información en una impresión general consistente. El sentido común sugiere que las primeras impresiones son muy importantes, y al igual como sucede en muchos otros casos, la evidencia empírica tiende a concordar con esta creencia de sentido común. Asumimos que las impresiones iniciales que formamos sobre otros moldearán el curso de nuestros futuros encuentros con ellos, y que tales impresiones pueden ser muy resistentes al cambio, aún frente a información posterior contraria.”

(6)

Berdasarkan uraian diatas, persepsi sosial melibatkan upaya untuk membentuk kesan global terhadap orang lain. Ketika berinteraksi dengan orang lain, dan terutama ketika ini adalah pertama kalinya, kami mencoba menggabungkan berbagai informasi menjadi satu kesan keseluruhan yang konsisten. Akal sehat menunjukkan bahwa kesan pertama sangat penting, dan seperti dalam banyak kasus lain, bukti empiris cenderung setuju dengan keyakinan akal sehat ini. Kami berasumsi bahwa kesan awal yang kami bentuk tentang orang lain akan membentuk arah pertemuan kami di masa depan dengan mereka, dan bahwa kesan seperti itu bisa sangat tahan terhadap perubahan, bahkan dalam menghadapi informasi yang bertentangan kemudian (Baron & Byrne, 1994).

“La percepción de personas comparte muchas características de la percepción de objetos, tales como la organización, la selectividad, carácter subjetivo, búsqueda de elementos invariantes, e interpretación del estímulo. Sin embargo, la percepción de personas posee también ciertos rasgos que la distinguen de la percepción de objetos:

a. Las personas son percibidas como agentes causales, capaces de controlar la información que presentan de sí mismas de acuerdo a sus objetivos e intereses.

b. Tanto el objeto como el sujeto de la percepción son personas, lo que permite al perceptor hacer una serie de inferencias acerca de los sentimientos o actitudes de la persona percibida, en base a sus propias experiencias.

c. La percepción de personas implica una interacción muy dinámica, donde la presencia, expectativas y conducta del perceptor pueden afectar la conducta de la persona percibida, en un proceso circular.

d. La percepción de personas es usualmente más compleja que la percepción de objetos, ya que existen muchos atributos no observables directamente, las personas cambian más que los objetos, y la exactitud de la percepción es más difícil de comprobar.”

Berdasarkan uraian diatas, persepsi orang memiliki berbagi banyak karakteristik daripada persepsi objek, seperti organisasi, selektivitas, karakter subyektif, mencari elemen invarian, dan interpretasi stimulus.

(7)

Namun, persepsi orang memiliki fitur-fitur tertentu yang membedakannya dari persepsi objek:

a. Orang dianggap sebagai agen penyebab, yang mampu mengendalikan informasi yang mereka sajikan tentang diri mereka sendiri sesuai dengan tujuan dan minat mereka.

b. Objek dan subjek persepsi adalah orang, yang memungkinkan Perasa membuat serangkaian kesimpulan tentang perasaan atau sikap orang yang dirasakan, berdasarkan pengalaman mereka sendiri.

c. Persepsi orang menyiratkan interaksi yang sangat dinamis, di mana keberadaannya, harapan dan perilaku penerima dapat memengaruhi perilaku orang tersebut dirasakan, dalam proses melingkar.

d. Persepsi orang biasanya lebih kompleks daripada persepsi objek, karena ada banyak atribut yang tidak dapat diamati secara langsung, orang berubah lebih dari objek, dan akurasi persepsi lebih sulit untuk diverifikasi (Moya,1994).

“That every impression that comes in from without, be it a sentence, which we hear, an object or vision, no sooner enters our consciousness than it is drafted off in some determinate directions or others, making connection with other materials already there and finally producing what we call our reaction.

From this it is clear that perception is the reaction elicited when an impression is perceived from without after making connection with other materials in the consciousness (memory).”

Berdasarkan uraian diatas, bahwa setiap kesan yang datang dari luar, baik itu kalimat, yang kita dengar, sebuah objek atau visi, tidak lebih cepat memasuki kesadaran kita daripada dirancang dalam beberapa arah yang menentukan atau lainnya, membuat koneksi dengan bahan lain sudah ada dan akhirnya menghasilkan apa kita sebut reaksi kita. Dari sini jelaslah bahwa persepsi adalah reaksi ditimbulkan ketika kesan dirasakan dari luar setelah dibuat koneksi dengan bahan lain dalam kesadaran (memori) (Adediwura & Tayo, 2007).

Dari sudut pandang ini, dapat disimpulkan bahwa persepsi tidak bisa dilakukan dalam ruang hampa. Tergantung pada beberapa informasi latar

(8)

belakang yang akan memicu areaksi. Persepsi dapat diberi energi oleh pengalaman sekarang dan masa lalu, sikap individu pada saat tertentu, keadaan fisik organ indera, minat orang tersebut, tingkat perhatian, dan interpretasi yang diberikan kepada persepsi.

“An individual‟s ability to perceive a series of fragments as a whole object depends on many factors. The intelligence of the perceiving individual, his past experience, and his mental set (what he expects to see) are very important. As a rule, the more intelligent a person is, the fewer details he needs to perceive a whole. So is with past experience. When we have seen or read information about a picture, the more likely we have no difficulty in seeing what this confusing picture represent.”

Berdasarkan uraian diatas, kemampuan individu untuk merasakan serangkaian fragmen sebagai objek keseluruhan tergantung pada banyak faktor. Kecerdasan persepsi individu, pengalaman masa lalunya, dan mentalnya (apa yang dia harapkan untuk dilihat) adalah sangat penting.

Sebagai aturan, semakin cerdas seseorang, semakin sedikit detailnya perlu memahami keseluruhan. Begitu juga dengan pengalaman masa lalu. Ketika kita telah melihat atau membaca informasi tentang gambar, semakin besar kemungkinan kita tidak mengalami kesulitan dalam melihat apa gambar yang membingungkan ini mewakili (Ruch, 1959).

Menurut Richard L Gregory (1997), dikatakan bahwa persepsi berkaitan secara tidak langsung dengan objek yang diterima oleh indera manusia dan bahwa pengetahuan manusia dibutuhkan guna menyimpulkan objek yang diterima oleh sensor indera kita sehingga objek tersebut menjadi berarti. “Human perception is but indirectly related to objects, being inferred from fragmentary and often hardly relevant data signalled by the eyes, so requiring inferences from knowledge of the world to make sense of the sensory signals.”

Stimulus yang mengenai itu kemudian diorganisasikan, diinterpretasikan, sehingga individu menyadari tentang apa yang diinderakannya itu. Proses inilah yang dimaksud dengan persepsi. Jadi stimulus diterima oleh alat indera, namun kemudian melalui proses persepsi

(9)

seseuatu yang diindera tersebut menjadi sesuatu yang berarti diorganisasikan dan diinterpretasikan (Davidoff, 1981).

Persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang didalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat pengelihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman.

Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suatu penafsiran yang unik terhadap situasi dan bukannya suatu pencatatan yang benar terhadap situasi (Thoha, 2016).

Ada beberapa subproses dalam persepsi, dan yang dapat dipergunakan sebagai bukti bahwa sifat persepsi itu merupakan hal yang komplek dan interaktif. Subproses pertama yang dianggap penting ialah stimulus, atau situasi yang hadir. Subproses selanjutnya adalah registrasi, interpretasi, dan umpan balik (feedback) (Thoha, 2016).

Fellows dalam Mulyana (2011) persepsi adalah proses yang memungkinkan suatu organisme menerima dan menganalisis informasi.

Philip Goodacre dan Jennifer Follers, persepsi adalah proses mental yang digunakan untuk mengenali rangsangan. Sedangkan menurut Joseph A.

DeVito, persepsi adalah proses yang menjadikan kita sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indera kita.

Persepsi adalah inti komunikasi, sedangkan penafsiran (interpretasi ) adalah inti persepsi, yang identik dengan penyandian-balik (decoding), dalam proses komunikasi. Hal ini jelas tampak pada definisi John R.

Wenburg dan William W. Wilmot. Persepsi dapat didefinisikan sebagai cara organisme memberi makna, Rudolph F. Verderber, persepsi adalah proses menafsirkan informasi inderawi, atau J.Cohen, persepsi didefinisikan sebagai interpretasi bermakna atas sensasi representatif objek eksternal;

persepsi adalah pengetahuan yang tamnpak mengenai apa yang ada di luar sana (Mulyana, 2011).

Menurut Mulyana (2011), persepsi manusia dibagi menjadi dua : persepsi terhadap objek (lingkungan fisik ) dan persepsi terhadap manusia.

Persepsi terhadap manusia lebih sulit dan komleks, karena manusia bersifat

(10)

dinamis. Setiap orang memiliki gambaran berbeda mengenai realitas yang ada disekelilingnya. Beberapa prinsip penting mengenai persepsi antara lain a. Persepsi berdasarkan pengalaman

Pola-pola perilaku manusia berdasarkan persepsi mereka mengenai realitas (sosial) yang telah dipelajari. Persepsi manusia terhadap seseorang, objek, atau kejadian dan reaksi mereka terhadap hal-hal itu berdasaekan pengalaman (dan pembelajaran) masa lalu mereka berkaitan dengan orang objek atau kejadian serupa.

b.Persepsi bersifat selektif

Persepsi pada suatu rangsangan merupakan faktor utama yang menentukan selektivitas atas rangsangan tesebut. Faktor internal yang mempengaruhi persepsi yaitu faktor biologis (lapar, haus, dan lain-lain), faktor fisiologis ( tinggi, pendek, sehat sakit, dan sebagainya).; faktor sosial budaya (gender, agama, tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasilan, peranan,status sosial, pengalaman masa lalu, kebiasaan); dan faktor psikologis (kemauan, keinginan,motivasi, pengharapan, dan sebagainya).

Faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi yaitu atribut-atribut objek yang dipersepsi seperti gerakan, intensitas, kontras, kebaruan, dan perulangan objek yang di persepsi.

c. Persepsi bersifat dugaan

Proses persepsi yang bersifat dugaan itu memungkinkan kita menafsirkan suatu objek dengan makna yang lebih lengkap dari ustu sudut manapun. Oleh karena informasi yang lengkap tidak tersedia, dugaan dipelukan untuk membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak lengkap lewat penginderaan itu.

d.Persepsi bersifat evaluatif

Persepsi adalah suatu proses kognitif psikologis dalam diri individu yang mencerminkan sikap, kepercayaan, nilai, dan penghargaan yang digunakan untuk memaknai objek persepsi.

(11)

e. Persepsi bersifat konseptual

Suatu rangsangan dari luar yang harus diorganisasikan. Dari semua pengaruh yang ada dalam persepsi kita, konteks merupakan salah satu pengaruh yang paling kuat. Konteks yang melingkungi kita ketika kita melihat seseorang, suatu objek atau suatu kejadian sngat mempengaruhi struktur kognitif, pengharapan dan persepsi kita.

Persepsi memiliki indikator – indikator sebagai berikut : 1. Penyerapan terhadap rangsang atau objek diluar individu.

Rangsang atau objek yang diserap atau diterima oleh panca indera, baik pengelihatan, pendengaran, peraba, pencium, dan pengecap secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Dari hasil penyerapan atau penerimaan oleh alat-alat tersebut akan mendapatkan gambaran, tanggapan atau kesan didalam otak. Gambaran tersebut dapat tunggal maupun jamak, tergantung objek persepsi yang diamati. Di dalam otak terkumpul gambaran – gambaran atau kesan – kesan, baik yang lama maupun yang baru saja terbentuk. Jelas tidaknya gambaran tersebut tergantung dari jelas tidaknya rangsang, normalitas alat indera dan waktu, baru saja atau sudah lama.

2. Pengertian atau pemahaman

Setelah terjadi gambaran-gambaran atau kesan-kesan didalam otak, maka gambaran tersebut diorganisir, digolong-golongkan (diklasifikasi), dibandingkan, diinterpretasi, sehingga terbentuk pengertian atau pemahaman. Proses terjadinya pengertian atau pemahaman terbentuk sangat unik dan cepat. Pengertian yang terbentuk tergantung juga pada gambaran-gambaran lama yang telah dimiliki individu sebelumnya (disebut apersepsi).

3. Penilaian atau evaluasi

Setelah terbentuk pengertian atau pemahaman, terjadilah penilaian dari individu. Individu membandingkan pengertian atau pemahaman yang baru diperoleh tersebut dengan kriteria atau norma yang dimiliki individu

(12)

secara subjektif. Penilaian individu berbeda-beda meskipun objeknya sama. Oleh karena itu persepsi bersifat individual (Walgito, 1990).

3. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Diri individu akan memepengaruhi dalam individu mengadakan persepsi, ini merupakan faktor internal. Disamping itu masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi proses persepsi, yaitu faktor stimulus itu sendiri dan faktor lingkungan dimana persepsi itu berlangsung, dan ini merupakan faktor eksternal. Stimulus dan lingkungan sebagai faktor eksternal dan individu sebagai faktor internal saling berinteraksi dalam individu mengadakan persepsi (Walgito, 2010).

Persepsi terbentuk atas tiga faktor yaitu pengetahuan, keyakinan dan kebutuhan. “It is knowledge, beliefs and needs that structure our perceptions by interpreting the data of our senses” (Darwin P. Hunt, 2003). Berbagai macan faktor-faktor perhatian yang berasal dari luar maupun dari dalam dapat mempengaruhi proses seleksi persepsi. Adapun faktor-faktor dari luar yang terdiri dari pengaruh-pengaruh lingkungan luar antara lain : intensitas, ukuran, keberlawanan, pengulangan, gerakan dan hal-hal yang baru berikut ketidakasingan. Beberapa faktor dari dalam diri seseorang yang mempengaruhi proses seleksi antara lain: proses belajar (learning), motivasi dan kepribadiannya (Thoha, 2016).

Mulyana (2011) menyatakan bahwa tingkat pendidikan merupakan faktor internal yang mempengaruhi atensi, semakin besar perbedaan aspek- aspek internal maka semakin besar perbedaan aspek-aspek internal maka semakin besar perbedaan pesepsi mereka mengenai realita. Selaras dengan Rakhmat (2001) bahwa tingkat pendidikan akan menghasilkan persepsi yang berbeda pula pada suatu objek atau peristiwa. Perbedaan pengelompokan terhadap objek yang dipersepsi timbul akibat perbedaan tingkat pendidikan individu.

Pengalaman seseorang akan mempengaruhi kecermatan persepsi seseorang terhadap realitas. Pengalaman tidak selalu lewat proses belajar formal, dapat juga bertambah melalui rangkaian peristiwa yang pernah kita

(13)

hadapi. Semakin banyak pengalaman seseorang semakin cermat pula seseorang dalam mempersepsikan objek (Rakhmat, 2001, dan Mulyana, 2011).

Gilmer (1975) mengatakan, “Past experiences can affecting a perception. Ignoring someone's past experience is tantamount to ignoring the main thing that determines perception.” Pengalaman masa lalu mempengaruhi persepsi. Mengabaikan pengalaman masa lalu seseorang sama saja dengan mengabaikan hal pokok yang paling menentukan persepsi.

Persepsi merupakan aktivitas yang intergrated, maka keseluruhan apa yang ada dalam diri individu seperti perasaan, pengalaman, kemampuan berpikir, kerangka acuan, dan aspek-aspek lain yang ada dalam diri individu akan ikut berperan dalam persepsi tersebut. berdasarakan atas hal tersebut, dapat dikemukakan bahwa dalam persepsi itu sekalipun stimulusnya sama, tetapi karena pengalaman tidak sama ada kemungkinan hasil persepsi antara individu satu dengan individu yang lain tidak sama. Keadaan tersebut memberikan gambaran bahwa persepsi itu memang bersifat individual (Walgito, 2010).

Warren (2004) mengatakan bahwa, “The complexity and variety of the knowledge required, social and professional networks are likely to substitute for some of the more formal, hierarchical patterns of communication, and internet to substitute for more conventional methods of delivery.” Kompleksitas dan keragaman pengetahuan yang diperlukan, jaringan sosial dan profesional cenderung menggantikan beberapa pola komunikasi yang lebih formal dan hierarkis, dan internet untuk menggantikan metode penyampaian yang lebih konvensional. Mulyana (2002) berpendapat bahwa tahap penting dalam persepsi adalah informasi yang diinterpretasikan kita melalui salah satu atau lebih indra kita.

Lingkungan atau situasi khusus yang melatarbelakangi stimulus juga akan berpengaruh dalam persepsi, lebih-lebih bila objek yang diperespsi adalah manusia. Objek dan lingkungan yang melatarbelakangi objek merupakan kebulatan atau kesatuan yang sulit dipisahkan. Objek yang sama

(14)

dengan situasi sosial yang berbeda, dapat menghasilkan persepsi yang berbeda (Walgito, 2010). Lingkungan sosial merupakan lingkungan masyarakat dimana dalam lingkungan tersebut terdapat interaksi antara individu satu dengan lainnya yang akan mempengaruhi seseorang dalam membentuk persepsi kepada sesuatu (Walgito, 2003).

Seseorang akan mempersepsikan suatu objek sesuai dengan motivasi mereka (Rakhmat, 2001). Objek yang sama akan di persepsikan beda oleh individu satu dengan lainnya, karena motivasi yang mereka miliki juga berbeda. Makin besar perbedaan motivasi antar individu, semakin besar pula perbedaan persepsi mereka mengenai realitas. Menurut Johannsen dan Terry (1990) merupakan proses atau faktor yang menyebabkan seseorang melakukan suatu tindakan dengan cara-cara tertentu. Memotivasi maksudnya mendorong seseorang mengambil tidakan tertentu.

Persepsi dipengaruhi oleh kebutuhan dan motivasi yang memiliki arti dorongan, berasal dari bahasa latin movere yang berarti mendorong, atau menggerakkan. Motivasi inilah yang mendorong seseorang untuk berperilaku, beraktivitas dalam pencapaian tujuan (Widayatun, 1999).

As’ad (1995) mengartikan motivasi sebagai dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut merupakan gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat sehingga motif tersebut merupakan suatu “driving force” yang menggerakkan manusia untuk bertingkah laku dan di dalam perbuatannya itu mempengaruhi tujuan tertentu. Oleh karena itu, motivasi juga disebut sebagai “the processby which behavior is energized and directed”. Dengan kata lain, motif adalah yang melatarbelakangi individu berbuat untuk mencapai tujuan.

Pendidikan nonformal menurut Sastraatmadja (1993), yaitu sebagai pendidikan yang tidak mengenal batasan umur, kurikulum, uang sekolah, ruangan tertentu dan tidak mengenal waktu. Pendidikan nonformal di bidang pertanian biasanya dilakukan melalui kegiatan penyuluhan. Penyuluhan pertanian merupakan pendidikan non formal yang ditujukan kepada petani beserta keluarganya yang hidup di pedesaan dengan membawa dua tujuan

(15)

utama yang diharapkannya. Untuk jangka pendek adalah menciptakan perubahan perilaku termasuk di dalamnya sikap, tindakan dan pengetahuan, serta untuk jangka panjang adalah menciptakan kesejahteraan masyarakat dengan jalan meningkatkan taraf hidup mereka.

Pendidikan Non Formal diartikan sebagai penyelenggaraan pendidikan yang terorganisir yang berada di luar sistem pendidikan sekolah, isi pendidikan terprogram, proses pendidikan yang berlangsung berada dalam suatu situasi interaksi belajar mengajar yang banyak terkontrol (Mardikanto dan Sutarni, 1982).

4. Petani

Petani sebagai orang yang menjalankan usahataninya yang di samping sebagai juru tani sekaligus juga pengelola (manajer)-nya (Mosher, 1966). Petani adalah penduduk atau orang-orang yang untuk sementara atas secara tetap memiliki dan atau menguasai sebidang “tanah-pertanian” dan mengerjakannya sendiri, baik dengan tenaganya sendiri (beserta keluarganya) maupun dengan menggunakan tenaga orang lain atau orang upahan. Termasuk dalam pengertian “menguasai” disini adalah : menyewa, menggarap (penyakap), memaro (bagi-hasil). Sedang buruh tani tak bertanah tidak termasuk dalam kategori petani.

Petani adalah penduduk yang secara eksistensial terlibat dalam cocok tanam dan membuat keputusan otonom tentang proses cocok-tanam.

Kategori ini dengan demikian mencakup : penggarap, penerima bagi hasil, maupun pemilik-penggarap selama mereka ini berada dalam posisi pembuat keputusan yang relevan tentang bagaimana pertumbuhan tanaman mereka (Wolf, 1970).

Petani adalah penduduk atau orang-orang yang secara de facto memiliki atau menguasai sebidang lahan pertanian serta mempunyai kekuasaan atas pengelolaan faktor-faktor produksi pertanian ( meliputi : tanah berikut faktor alam yang melingkupinya, tenaga kerja termasuk organisasi dan skill, modal dan peralatannya) di atas lahannya tersebut

(16)

secara mandiri (otonom) atau bersama-sama dengen pihak lain (Mardiaknto,1982).

Petani sebagai sosok individu memiliki karakteristik tersendiri secara individu yang dapat dilihat dari perilaku yang nampak dalam menjalankan kegiatan usahatani. Karakteristik individu adalah bagian dari pribadi yang melekat pada diri seseorang. Karakteristik tersebut mendasari tingkah laku seseorang dalam situasi kerja maupun situasi lainnya (Rogers dan Shoemaker, 1986).

Petani adalah manusia yang berusaha mengatur atau mengusahakan tumbuh-tumbuhan dan hewan serta memanfaatkan hasilnya (Soetriono et al, 2006). Batasan petani menurut Departemen Pertanian Republik Indonesia (2002) adalah pelaku utama agribisnis, baik agribisnis monokultur maupun polikultur dari komoditas tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perikanan dan atau komoditas perkebunan.

Adiwilangga (1992) mengemukakan bahwa petani adalah orang yang melakukan cocok tanam dari lahan pertaniannya atau memelihara ternak dan hasilnya dijual guna untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Menurut Faizah (2005) petani adalah setiap orang yang melakukan usaha untuk memenuhi sebagian atau seluruh kebutuhan kehidupannya dibidang pertanian. Menurut Sutomo (2004) petani adalah orang yang menggarap, mengelola tanah milik sendiri bukan milik orang lain.

Ciri-ciri masyarakat petani sebagai berikut: (1) satuan keluarga (rumah tangga) petani adalah satuan dasar dalam masyarakat desa yang berdimensi ganda, (2) petani hidup dari usahatani, dengan mengolah tanah (lahan), (3) pola kebudayaan petani berciri tradisional dan khas, dan (4) petani menduduki posisi rendah dalam masyarakat, mereka adalah ’orang kecil’

terhadap masyarakat di atas-desa (Sajogyo, 1999).

Soekartawi (1998) mengidentifikasikan ”petani kecil” dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1) berusahatani dalam tekanan penduduk lokal yang meningkat, (2) mempunyai sumberdaya terbatas sehingga menciptakan tingkat hidup yang rendah, (3) bergantung seluruhnya atau sebagian kepada

(17)

produksi yang subsisten, dan (4) kurang memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pelayanan lainnya.

Menurut Rodjak (2006), petani sebagai memegang peranan yang penting dalam pemeliharaan tanaman atau ternak agar dapat tumbuh dengan baik, ia berperan sebagai pengelola usaha tani. Petani sebagai pengelola usaha tani berarti ia harus mengambil berbagai keputusan di dalam memanfaatkan lahan yang dimiliki atau disewa dari petani lainnya untuk kesejahteraan hidup keluarganya. Petani yang dimaksud dalam hal ini adalah orang yang bercocok tanam hasil bumi atau memelihara ternak dengan tujuan untuk memperoleh kehidupan dari kegiatan itu. Apabila ada orang yang mengaku petani yang menyimpang dari pengertian tersebut, dapat dikatakan bukan petani. Dilihat dari hubungannya dengan lahan yang diusahakan maka petani dapat dibedakan atas :

1. Petani pemilik penggarap ialah petani yang memiliki lahan usaha sendiri serta lahannya tersebut diusahakan atau digarap sendiri dan status lahannya disebut lahan milik.

2. Petani penyewa ialah petani yang menggarap tanah orang lain atau petani lain dengan status sewa. Alasan pemilik lahan menyewakan lahan miliknya karena membutuhkan uang tunai dalam jumlah yang cukup besar dalam waktu singkat, atau lahan yang dimilikinya itu terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Besarnya nilai sewa lahan biasanya ada hubungan dengan tingkat produktivitas lahan usaha yang bersangkutan, makin tinggi produktivitas lahan tersebut makin tinggi pula nilai sewanya.

3. Petani penyakap (penggarap) ialah petani yang menggarap tanah milik petani lain dengan sistem bagi hasil. Produksi yang diberikan penyakap kepada pemilik tanah ada yang setengahnya atau sepertiga dari hasil padi yang diperoleh dari hasil lahan digarapnya. Biaya produksi usaha tani dalam sistem sakap ada yang dibagi dua dan ada pula yang seluruhnya ditanggung penyakap, kecuali pajak tanah dibayar oleh pemilik tanah.

(18)

4. Petani penggadai adalah petani yang menggarap lahan usaha tani orang lain dengan sistem gadai. Adanya petani yang menggadaikan lahan miliknya, karena petani pemilik lahan tersebut membutuhkan uang tunai yang cukup besar dalam waktu mendesak, tanah miliknya tersebut tidak mau pindah ke tangan orang lain secara mutlak. Namun, adanya hak gadai tersebut secara berangsur-angsur pindah haknya menjadi milik penggadai. Hal ini terjadi apabila uang gadai yang pertama tidak dapat dikembalikan pada waktu yang telah ditetapkan atau uang gadainya terlalu besar, sehingga tidak mungkin lagi untuk dikembalikan. Dalam keadaan demikian biasanya penggadai menambah uang gadainya sesuai dengan nilai atau harga tanah pada saat masa gadainya berakhir.

5. Buruh tani ialah petani pemilik lahan atau tidak memiliki lahan usaha tani sendiri yang biasa bekerja di lahan usaha tani petani pemilik atau penyewa dengan mendapat upah, berupa uang atau barang hasil usaha tani, seperti beras atau makanan lainnya. Hubungan kerja di dalam usaha tani tidak diatur oleh suatu perundang-undangan perburuhan sehingga sifat hubungannya bebas sehingga kontinyuitas kerja bagi buruh tani yang bersangkutan tidak terjamin.

4. Bawang Putih (Allium Sativum L)

Bawang putih (Allium sativum L) merupakan salah tanaman sayuran umbi yang banyak ditanam diberbagai negara di dunia. Di Indonesia bawang putih memiliki banyak nama panggilan seperti orang manado menyebutnya lasuna moputi, orang Makasar menyebut lasuna kebo dan orang Jawa menyebutnya bawang (Wibowo, 2007). Masyarakat pada umumnya hanya memanfaatkan bagian umbi saja, utamanya hanya sebagai bumbu dapur.

Hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa bawang putih memiliki potensi sebagai bahan baku obat-obatan untuk menyembuhkan berbagai penyakit (Samadi, 2000).

Arisandi dan Andriani (2008) menyatakan bahwa bawang putih (Allium Sativum L) salah satu syarat tumbuhnya adalah ditanam pada jenis

(19)

tanah gromosol (ultisol), teksturnya berlempung pasir (gembur) dan draniase baik dengan kedalaman air tanah 50cm-150cm dari permukaan tanah.

Bawang putih adalah salah satu tanaman tertua dari semua tanaman budidaya, telah digunakan sebagai bumbu, makanan dan banyak terdapat pada cerita rakyat untuk obat selama lebih dari 4000 tahun, dan merupakan salah satu tanaman obat yang paling banyak diteliti (Setyono, 2016).

Bawang putih termasuk tanaman rempah yang bernilai ekonomi tinggi karena memiliki beragam kegunaan. Tidak hanya di dapur bawang putih memegang peranan sebagai tanaman apotek hidup.

Bawang putih merupakan tumbuhan terna berumbi lapis atau siung yang bersusun, memiliki batang semu yang terbentuk dari pelepah daun dan termasuk dalam genus Allium. Akar bawang putih terdiri dari serabut- serabut kecil, setiap umbi bawang putih terdiri dari sejumlah anak bawang (siung) yang setiap siungnya terbungkus kulit tipis berwarna putih. Bawang putih termasuk tumbuhan daerah dataran tinggi namun di Indonesia jenis tersebut juga dibudidayakan di dataran rendah. Bawang putih berkembang baik pada ketinggian tanah berkisar 200-250 meter di atas permukaan laut (Savitri, 2008).

Bawang putih (Allium sativum L) termasuk kedalam anggota bawang- bawangan yang paling populer di dunia. Beberapa abad yang lalu, bawang putih merupakan komoditi yang memiliki peranan yang besar dalam membangun bangsa yang kuat dan sehat melalui menu makanan. Bawang putih tidak hanya dikenal sebagai bumbu penyedap masakan, tetapi juga sebagai penangkal berbagai macam penyakit. Hal tersebut masih berlaku hingga sekarang dan mungkin di masa yang akan datang (Wibowo, 2009).

Bawang putih (Allium sativum L.) merupakan komoditas hortikultura yang penting bagi masyarakat Indonesia mengingat ragam dan jumlah pemanfaatannya. Selain itu juga sebagai bahan penyedap makanan hampir di setiap masakan, komoditas ini juga berperan sebagai obat bagi beberapa jenis penyakit. Umbi bawang putih dapat digunakan untuk membantu menurunkan tekanan darah tinggi, mengobati gangguan pernafasan, sakit

(20)

kepala, wasir, susah buang air besar, memar atau luka sayat, cacingan, insomnia, kolesterol, influenza, gangguan saluran kencing, dan lain-lain.

Keadaan ini membawa dampak terhadap tingginya nilai ekonomis bawang putih di mata masyarakat Indonesia (Sandrakirana, dkk, 2018).

Bawang putih (Allium sativum L.) merupakan komoditas sayuran yang banyak mendatangkan keuntungan karena mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Umbi bawang putih banyak digunakan sebagai bumbu masak.

Selain dikonsumsi sebagai bumbu masak, bawang putih dapat digunakan sebagai bahan obat dan kosmetik (Santoso 1988).

Bawang putih dapat tumbuh pada berbagai ketinggian tempat bergantung kepada varietas yang digunakan. Daerah penyebaran bawang putih di Indonesia yaitu Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok dan Nusa Tenggara Timur. Daerah-daerah tersebut mempunyai agroklimat yang sesuai untuk bawang putih sehingga daerah- daerah tersebut sampai saat ini merupakan daerah penghasil utama bawang putih (Ditjentan 1997).

Dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) tanaman bawang putih diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan) Divisi : Spermatophyte (tumbuhan biji) Sub-divisi : Angiospermae (berbiji tertutup) Kelas : Monocotyiedonae (biji berkeping satu) Ordo : Liliales (Liliflorae)

Family (suka) : Liliales Genus (marga) : Allium

Spesies(jenis) : Allium sativum L (Rukmana, 1995).

Secara klinis, bawang putih telah dievaluasi manfaatnya dalam berbagai hal, termasuk sebagai pengobatan untuk hipertensi, hiperkolesterolemia, diabetes, rheumatoid arthritis, demam atau sebagai obat pencegahan atherosclerosis, dan juga sebagai penghambat tumbuhnya tumor. Banyak juga terdapat publikasi yang menunjukan bahwa bawang

(21)

putih memiliki potensi farmakologis sebagai agen antibakteri, antihipertensi dan antitrombotik (Majewski, 2014). Bawang putih memiliki setidaknya 33 komponen sulfur, beberapa enzim, 17 asam amino dan banyak mineral, contohnya selenium. Bawang putih memiliki komponen sulfur yang lebih tinggi dibandingkan dengan spesies Allium lainnya. Komponen sulfur inilah yang memberikan bau khas dan berbagai efek obat dari bawang putih (Londhe, 2011).

Bawang putih (Allium sativum L) adalah herba semusim berumpun yang mempunyai ketinggian sekitar 60 cm. Adapun morfologi dari tanaman bawang putih (Allium sativum L.) ialah sebagai berikut :

a. Daun

Helaian daun bawang putih tipis dan tangkai buahnya padat (solid), berbeda dari daun dan tangkai bunga bawang merah yang berongga menyerupai tabung. Daun bawang putih merupakan daun tunggal, berbentuk pita, tepi rata, ujung runcing, beralur, dan panjangnya dapat mencapai 60 cm dengan lebar hingga 1,5 cm.

b. Batang

Batangnya merupakan batang semu, panjang (bisa 30 cm) tersusun pelepah daun yang tipis, namun kuat.

c. Akar

Terletak di batang pokok atau di bagian dasar umbi ataupun pangkal umbi yang berbentuk cakram. Sistem perakarannya akar serabut, pendek, menghujam ke tanah, mudah goyang dengan air dan angin berlebihan.

d. Siung dan Umbi

Umbi pada bawang putih berupa umbi majemuk berbentuk hampir bulat dengan diameter 4-6 cm yang terdiri atas 8-20 siung. Siung-siung tersebut, bentuknya membulat pada bagian punggungnya dan bagian sampingnya dan agak lebar. Keseluruhan siung dibungkus oleh 3-5 lapis selaput tipis berwarna putih. Sementara itu, setiap individu siung dibungkus lagi oleh dua lapis selaput tipis, dimana selaput sebelah luar

(22)

berwarna putih dan agak longgar, sedangkan selaput sebelah dalam berwarna pink keputihan dan melekat pada siung namun mudah dilepaskan (Zulkarnain, 2016).

Morfologi bawang putih terdiri atas akar, batang, daun, bunga dan umbi.

1. Akar

Tanaman bawang putih memiliki sistem perakaran dangkal yang berkembang dan menyebar disekitar permukaan tanah sampai pada kedalaman 10 cm. Bawang putih memiliki akar serabut dan terbentuk di pangkal bawah batang sebenarnya (discus). Akar tersebut tertanam dalam tanah sebagai alat untuk menyerap air dan unsur hara dari tanah. Sistem perakaran bawang putih menyebar ke segala arah, namun tidak terlalu dalam sehingga tidak tahan pada kondisi tanah yang kering (Samadi, 2000).

2. Batang

Batang bawang putih merupakan batang semu dan berbentuk cakram. Batang tersebut terletak pada bagian dasar atau pangkal umbi yang terbentuk dari pusat tajuk yang dibungkus daun-daun. Ketinggian batang semu bawang putih dapat mencapai 30 cm (Samadi, 2000).

3. Daun

Daun tanaman bawang putih memiliki ciri morfologis yaitu berbentuk pita, pipih, lebar dan berukuran kecil serta melipat ke arah dalam sehingga membentuk sudut pada pangkalnya. Satu tanaman bawang putih biasanya memiliki 8-11 helai daun. Permukaan daun bagian atas berwarna hijau muda dengan kelopak daun yang tipis, kuat, dan membungkus kelopak daun yang yang lebih muda (Samadi, 2000).

4. Bunga

Tanaman bawang putih dapat berbunga namun hanya pada varietas tertentu saja. Bunga bawang putih berupa bunga majemuk yang berbentuk bulat seperti bola, berwarna merah jambu, berukuran kecil, tangkainya pendek, dan bentuknya menyerupai umbi bawang. Bunga

(23)

yang tumbuh dapat menghasilkan biji. Umumnya pada sebagian besar varietas, tangkai bunga tidak tumbuh keluar melainkan hanya sebagian bunga saja yang tampak keluar bahkan tidak sedikitpun bagian bunga yang keluar karena sudah gagal sewaktu masih berupa tunas (Wibowo, 2007).

Pembungaan pada bawang putih dapat mengganggu perkembangan umbi dan tidak memiliki nilai ekonomi sehingga biasanya para petani akan membuangnya. Pada bagian tangkai bunga terbentuk umbi kecil yang menyebabkan pembengkakan sehingga umbi terlihat seperti bunting. Umbi-umbi kecil tersebut dapat digunakan sebagai bahan perbanyakan secara vegetative dengan cara ditanam berulang-ulang selama + 2 tahun (Rukmana, 1995).

5. Umbi

Umbi bawang putih tersusun dari beberapa siung yang masing- masing terbungkus oleh selaput tipis yang sebenarnya merupakan pelepah daun sehingga tampak seperti umbi yang berukuran besar (Rukmana, 1995). Ukuran dan jumlah siung bawang putih bergantung pada varietasnya. Umbi bawang putih berbentuk bulat dan agak lonjong. Siung bawang putih tumbuh dari ketiak daun, kecuali ketiak daun paling luar.

Jumlah siung untuk setiap umbi berbeda tergantung pada varietasnya.

Bawang putih varietas lokal biasanya pada setiap umbinya tersusun 15-20 siung (Samadi, 2000).

Varietas Bawang Putih

Jenis bawang putih yang ditanam di suatu daerah dapat berbeda dengan jenis yang ditanam didaerah lain. Perbedaannya dapat dilihat dari besar tanaman, umur panen, produktivitas tanaman, ukuran umbi, jumlah dan ukuran siung, bentuk dan warna umbi, kandungan zat kimia dalam umbi, persyaratan pertumbuhan dan sebagainya. Terdapat beberapa jenis bawang putih yang telah dikembangkan, yaitu

(24)

a) Varietas unggul lumbu hijau

Lumbu hijau merupakan jenis bawang putih yang tergolong varietas unggul. Varietas ini diduga berasal dari Batu Malang (Jawa Timur) dan banyak di tanam di daerah Batu (Malang), Pacet (Mojokerto), dan Bali. Lumbu hijau tumbuh pada ketinggian 900-1.100 m dpl. Varietas ini tidak dapat berbunga. Tinggi tanaman mencapai 63-75 cm. Diameter batang semu mencapai 1,0-1,2 cm. Umbi Lumbu hijau berbentuk bulat telur dengan ujung meruncing dan dasarnya rata. Tiap umbi memiliki banyak siung sekitar 6-31 buah. Letak siung seolah bertumpukan dengan ukuran yang bervariasi. Panjang siung dapat mencapai 2,1 cm dan diameternya sekitar 1,1-1,2 cm. Aromanya sangat tajam kuat. Umur panen varietas Lumbu Hijau sekitar 95-125 hari, tergantung kesuburan tanah dan pemeliharaan. Pada kondisi normal umumnya Lumbu Hijau sudah dapat dipanen pada umur 112-120 hari, dengan produksi rata-rata 8-10 ton umbi kering per hektar. Sifat lainnya, varietas ini tidak tahan terhadap Alternaria sp.

b) Varietas unggul lumbu kuning

Seperti halnya Lumbu Hijau, Lumbu Kuning berasal dari Batu, Malang, Jawa Timur. Varietas Lumbu Kuning tumbuh baik dengan ketinggian 600-900 m dpl. Dibanding Lumbu Hijau, jumlah produksi Lumbu Kuning sedikit lebih rendah, rata-rata 6-8 ton umbi kering per hektar, namun dapat juga mencapai 11 ton lebih .Tetapi umur panen Lumbu Kuning lebih pendek, yaitu sekitar 85-100 dan paling lama 105- 116 hari. Dengan umur yang relatif pendek ini, varietas Lumbu Kungn dapat ditanam dua kali dalam setahun. Ukuran tanaman, umbi, dan siungnya secara keseluruhan lebih kecil dari Lumbu Hijau. Tinggi tanaman Lumbu Kuning dapat mencapai 57-59cm dengan diameter batang semu 0,9-1,1 cm. Seperti halnya Lumbu Hijau, varietas ini tidak dapat berbunga. Tia umbinya memiliki 14-17 buah siung. Panjang siung 2,0-2,1 cm dan lebarnya mencapai 1,04-1,10 cm. Varietas Lumbu Kuning ini peka terhadap penyakit Alternaria sp.

(25)

c) Varietas unggul lumbu putih

Varietas bawang putih ini merupakan varietas unggul dataran rendah (6-200 m) yang pertama kali dicoba dan dikembangkan di Yogyakarta sehingga dikenal berasal dari kota gudeg tersebut.

Keistimewaan varietas ini terutam pada kemampuannya untuk berdaptasi dengan iklim dan lingkungan dataran rendah. Bawang putih memiliki umbi putih sekitar 7 g, diameneter 3,5-6,0 cm, panjang 2,6-4,0 cm, dengan 15-20 siung per umbi. Warna umbi putih dengan garis-garis ungu tidak merata pada ujungnya. Warna siung putih agak krem. Bawang putih yang memiliki daun tegak berwarna agak keabuan dan berdaum sempit kurang dari 1 cm ini memilik produktivitas 4-7 ton/ha. Umur panennya sekitar 100-110 hari.

d) Ilocos

Jenis ini berasal dari Filipina dan termasuk jenis bawang putih untuk dataran rendah. Pernah dicoba ditanam di dataran rendah Indonesia.

Balas penelitian Hortikultura di Batu (Malang) pernah mencoba menanamnya pada ketinggi 5 m dpl. Mula-mula hasil umbinya kecil- kecil. Namun, setelah dua tahun ditanam, hasilnya agak besar. Sifat- sifatnya pun menjadi lebih mirip Lumbu Kuning.

e) Varietas lokal Jatibarang

Varietas bawang putih yang dikembangkan lokal lainnya adalah Jatibarang. Varietas ini banyk ditemukan dan dikembangkan di Brebes, Jawa Tengah. Dibandingkan varietas lain, umbi varietas Jatibarang ini tergolong tidak terlalu putih, namun kekuningan dengan kulit luar putih.

Ukuran umbi agak kecil, diameter 3,5 cm, dengan berat sekitar 10-13 gram per umbi yang terdiri atas 15-20 siung per umbi yang tersusun secara tidak teratur. Produksi rata-rara mecapai 3-3,5 ton/ha.

f) Varietas lokal Bagor

Varietas bawang putih dataran rendah lain yang bersifat lokal adalah varietas Bagor yang dikembangkan di Nganjuk Jawa Timur.

Varietas lokal ini memiliki ciri khas berupa umbi yang kulitnya putih

(26)

buram dengan umbi berwarna kekuningan, bentuk agak lonjong, dan tidak terlalu bulat, dengan diameter umbi 3-3,5 cm dengan berat 8-10 gram per umbi sebanyk 14-21 siung/umbi. Dibandingkan varietas lokal lain, varietas Bagor tergolong memiliki produktivitas yang lebih tinggi yaitu 5-7 ton/ha.

g) Varietas lokal Sanur

Varietas lokal lainnya adalah varietas Sanur yang dikembangkan di Denpasar, Pulau Dewata, Bali. Seperti lumbu putih, varietas Sanur terutama pada kemampuan beradaptasinya yang luas terhadap iklim dan keragaman lingkungan dataran rendah. Umbinya berukuran besar, berdiameter 3,5-4 cm, berat 10-13 g/umbi dengan 15-20 siung/umbbi.

Dibanding lumbu putih, varietas Sanur memiliki beberapa keunggulan, diantaranya umbi yang lebih besar dan bobot siung yang lebih berat sehingga lebih disukai konsumen. Varietas ini pern ah dicoba di Bogor, Jawa Barat, yang ketinggiannya 40 m dpl, dan hasilnya tidak berbeda dari lumbu putih. Umbinya memilik kulit berwarna putih, umbinya sendiri berwarna kunign dengan susunan siung tidak teratur. Produktivitas varietas Sanur ini mencapai 4-6 ton/ha.

h) Lain-lain

Di Indonesia pernah dicoba ditanam bawang putih dari RRC.

Bawang putih yang disebut Kateng tersebut dicoba di kebun Percobaan Cipanas, Jawa Barat, yang ketinggiannya sekitar 1.100 m dpl. Jenis ini, dalam percobaan tersebut, dapat berumbi. Namun demikian, baru dapat dipanen hasilnya pada umut 6 bulan. Berarti dua bulan lebih lama dari Lumbu Hijau. Hasilnya pun masih terhitung rendah, sekitar 1,4 ton umbi kering per hektar (Wibowo, 2007).

(27)

5. Budidaya Bawang Putih a. Syarat Tumbuh

1.Iklim

a) Ketinggian tempat

Bawang putih jenis tertentu, seperti lumbu putih, dapat ditanam di dataran rendah. Jenis bawang putih ini cocok dibudidayakan di daerah yang terletak antara 200-250 m dpl sehingga terkenal dengan bawag putih dataran rendah. Bawang putih dataran tinggi dapat ditanam pada daerah dengan ketinggian antara 600 – 1.200 m dpl.

b) Temperature

Tanaman bawang putih dapat dibudidayakan dengan baik apabila daerah pertanaman bersuhu udara antara 150C – 200C. pada suhu tersebut udara terasa cukup sejuk. Akan tetapi, tanaman bawang putih juga akan menghambat pertumbuhan jika daerah pertanaman bersuhu udara dibawah 150C. hal ini ditandai oleh pertumbuhan daun yang lambat. Sementara itu didaerah yang bersuhu diatas 270C, pembentukan umbi khususnya tanaman bawang putih dataran tinggi akan terganggu. Sebaliknya tanaman bawang putih dataran rendah dapat dibudidayakan di daerah yang memiliki temperatur 270C – 300C.

c) Sinar matahari

Tanaman bawang putih juga menghendaki penyinaran matahari yang cukup. Jenis bawang putih yang berumur panjang cocok ditanam di daerah subtropics, terutama pada musim panas. Bawang putih yang biasa di tanam di Indonesia merupakan jenis yang berumur pendek atau genjah.

d) Curah hujan

Curah hujan yang merata sepanjang tahun sangat disukai berbagai jenis tanaman. Tanaman bawang memerlukan air cukup banyak selama masa pertumbuhan dan pembentukan umbi , tetapi tidak menyukai tanah yang becek (AAK, 2004).

(28)

2. Tanah

Bawang putih dapat ditanam ditanah tegalan, pekarangan maupun ditanah sawah setelah panen padi. Sifat tanah tertentu dapat memberikan keuntungan dalam budidaya bawang putih. Tanah ringan atau gembur dapat menghasilkan umbi yang lebih baik daripada tanah berat. Tanah yang gembur akan mendorong perkembangan umbi sehingga hasilnya besar-besar. Kondisi tanah yang paling baik adalah tanah lempung atau tanah lempung liat. Bawang puti juga paling menyukai tanah yang banyak mengandung bahan organik atau humus, subur, gembur, aerasi baik dan tidak becek (Wibowo, 2007).

Bawang putih dapat tumbuh pada berbagai ketinggian tempat bergantung kepada varietas yang digunakan. Daerah penyebaran bawang putih di Indonesia yaitu Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok dan Nusa Tenggara Timur. Daerah-daerah tersebut mempunyai agroklimat yang sesuai untuk bawang putih sehingga daerah- daerah tersebut sampai saat ini merupakan daerah penghasil utama bawang putih. Luas pananaman yang paling besar ada pada ketinggian di atas 700 meter. Produksi per satuan luas di dataran tinggi lebih besar dari pada di dataran rendah. Selain varietas (kultivar), syarat-syarat lain yang penting adalah udara sejuk dan kering tanaman pada fase pembentukan umbi (Sandrakirana, dkk, 2018).

b. Perbenihan

1) Persyaratan dan kebutuhan benih

Syarat minimal benih agar tanaman bawang putih dapat tumbuh dengan baik dan seren-tak adalah sebagai berikut: (1) ukuran benih seragam; (2) bebas hama dan penyakit; (3) kemurnian varietasnya terjamin; (4) benih bernas (berat siung sekitar 1,5-3,0 gram); (5) sudah melewati masa dormansi Kebutuhan benih bawang putih sangat ditentukan oleh ukuran benih dan jarak tanam yang diap-likasikan di lapang. Sebagai gambaran adalah penggunaan benih dengan berat benih bawang putih 3 gram per siungnya dan ditanam dengan jarak tanam 15

(29)

x 20 cm, jumlah benih yang dibutuhkan sekitar 240.000 – 300.000 siung, sehingga untuk 1 hektar tanaman diperlukan 720 – 900 kg benih bawang putih. Sedangkan penggunaan benih berukuran rata-rata 1,5 gram dan jarak tanam 15 x 12,5 cm, jumlah benih yang dibutuhkan sekitar 400.000 – 550.000 atau setara 600 – 825 kg benih (Sandrakirana, dkk, 2018).

2) Pematahan dormansi benih

Pada umumnya umbi bawang putih tidak dapat langsung digunakan sebagai bahan tanam karena masa dormansinya yang relatif lama yaitu sekitar 4 bulan setelah masa panen. Perlakuan suhu dapat dilakukan untuk mempercepat proses pematahan dormansi tersebut.

Penyimpanan benih dalam cold storage yang bersuhu 5-10° C selama dua mingggu dapat mempercepat pertumbuhan bawang putih hingga 2 bulan lebih cepat daripada mekanisme penyimpanan yang biasa diterapkan oleh petani (Sandrakirana, dkk, 2018).

3) Persiapan benih

Sebelum ditanam, umbi bawang putih yang telah disiapkan harus dirumih (dipisahkan siungnya). Siung – siung inilah yang nantinya akan digunakan se-bagai benih bawang putih. Setelah dirumih, sebaiknya benih direndam dengan fungisida atau trichoderma cair 10 cc/l air selama 10 menit sesuai dosis yang di-anjurkan. Hal ini dilakukan untuk mencegah serangan patoogen tular tanah atau jamur Fusarium. Selain itu benih dapat direndam dengan ZPT (Zat Pengatur Tum-buh) perangsang pertumbuhan akar dan tunas seperti auksin dan giberelin (Sandrakirana, dkk, 2018).

c. Persiapan Lahan 1) Pengolahan lahan

Lahan yang digunakan untuk menanam bawang putih adalah lahan-lahan yang memiliki tekstur lempung berpasir dengan tekstur yang gembur. Tekstur tanah yang ringan, gembur dan porous dapat menghasilkan tanaman bawang putih yang lebih baik jika dibandingkan

(30)

dengan tanah yang berat seperti liat atau lempung, karena kondisi tanah yang porous menstimulasi perkembangan akar sehingga serapan unsur hara akan berjalan dengan baik. Persiapan lahan dilakukan dengan membersihkan permukaan lahan dari batu-batuan, gulma, semak ataupun sisa pertanaman sebelumnya. Kemudian lahan dibajak minimal sedalam 30 cm sampai gembur, pengelolaan lahan dibuat 21 hari sebelum tanam untuk memperbaiki keadaan tata udara/ aerasi tanah serta menghilangkan gas-gas beracun dan panas hasil dekomposisi sisa tanaman. Kemudian dibuat bedengan yang disesuaikan luas lahan kurang lebih memiliki lebar 100 – 120 cm dengan tinggi bedengan 15- 30 cm dan parit diantara bedengan dengan lebar 30-40 cm (Sandrakirana, dkk, 2018).

Sebelum ditanami, lahan pertanaman bawang putih dibersihkan dari sisa-sisa tanaman dan gulma. Selanjutnya, tanah dibajak atau dicangkul hingga gembur. Setelah itu, lahan dibiarkan selama 1-2 minggu sebelum dibajak/dicangkul untuk kedua kalinya (Zulkarnain, 2016: 201).

Apabila keasaman tanah berada dibawah 5,5, maka perlu dilakukan pengapuran untuk meningkatkan Ph. Pemberian kaput dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah dengan cara ditabur.

Kemudian tanah dicangkul agar kapur tercampur merata. Selanjutnya, lahan dibiarkan lagi selama 2-3 minggu sebelum dilakukan pencangkulan untuk yang ketiga kalinya. Satu minggu kemudian lahan sudah siap ditanami. Adapu kebutuhan kapur utnuk menaikan Ph bergantung pada kondisi keasaman tanah awal. Pengapuran pada lahan bawang putih dengan dosis dolomit sebgai berikut : pada pH tanah 4,0 dibutuhkan dolomit sebanyak 10,24 ton/ha, pada pH tanah 4,5 dibutuhkan dolomit sebanyak 7,87 ton/ha, pada pH tanah 5,0 dibutuhkan dolomit sebanya 5,49 ton/ha, pada Ph tanah 5,5 dibutuhkan dolomit sebanyak 3,12 ton/ha, dan pada Ph tanah 6,0 dibutuhkan dolomit sebanyak 0,75 ton/ha (Zulkarnain, 2016).

(31)

2) Pemupukan dasar

Pada budidaya tanaman pangan ataupun hortikultu-ra termasuk didalamnya bawang putih pem-upukan harus meliputi empat tepat, yaitu tepat do-sis, tepat cara, tepat waktu dan tepat jenis, karena pemupukan yang tepat merupakan faktor penting untuk meningkatkan hasil panen. Pupuk yang digunakan dalam budidaya bawang putih meliputi pupuk organik dan anorganik. Pemupukan dasar diberikan bersamaan saat oleh lahan, jenis pupuk yang diberikan adalah pupuk organik dengan dosis 10 ton/ha, dan SP 36 300-500 kg/ha. Cara pem- berian pupuk organik adalah dengan cara disebar dan diaduk hingga merata pada lapisan olah, dan pemberian pupuk SP 36 adalah seluruh dosis dise-bar secara merata dipermukaan tanah. Sedangkan pertanaman bawang putih di lahan yang mempu-nyai jenis tanah andosol marginal kebutuhan pupuk organik akan lebih besar lagi yaitu 1 kg/lubang tanam (Sandrakirana, dkk, 2018).

Dalam budidaya bawang putih pemupukan dasar dilakukan setelah pengolahan tanah selesai dikerjakan, termasuk pengapuran bila diperlukan, dan dikerjakan sekitar satu minggu atau beberapa hari sebelum penanaman. Dengan demikian pada saat penanaman, pupuk dasar sudah meresap dan menyartu dengan tanah dan menjadikannya lebih subur. Jenis pupuk dasar yang digunakan dapat berupa pupuk organis dan anorganis (Wibowo, 2007)

3) Pemasangan mulsa

Penggunaan mulsa pada budidaya bawang putih dapat menggunakan mulsa plastik atau-pun jerami. Mulsa plastik lebih baik digunakan pada saat musim hujan dan penggunaan mul-sa jerami lebih baik digunakan pada saat musim kemarau, pemasangan kedua mulsa tersebut juga memiliki perbedaan pada mulsa plastik dipasang sebelum waktu penanaman bibit sedangkan pemasangan mulsa jerami setelah dilakukan penanaman bibit bawang putih. Apabila pemasangan mulsa jerami dil-akukan saat musim hujan akan menyebabkan kelembaban

(32)

tanah terlalu tinggi sehingga kurang baik untuk pertanaman bawang putih. Sedangkan pemasangan mulsa plastik tidak di anjurkan pada musim kemarau karena mulsa tersebut terlalu menyerap bahaya matahari dan sedikit memantulkan cahaya sehingga meningkatkan temperatur tanah (zona pe-rakaran) akibatnya pertumbuhan dan perkem-bangn tanaman bawang putih menjadi terhambat (Sandrakirana, dkk, 2018).

d. Penanaman

Bibit suing bawang putih dipotong sebagian pada bagian ujungnya, jangan terlalu panjang, secukupnya saja. Bibit suing ini selanjutnya ditancapkan di bedeng yang telah dibuat sebelumnya telah dibuat lubang- lubang kecil sedalam 3-4 cm. jarak antarlubang merupakan jarak tanam dan diatur sesuai ukuran. Kemudian bibitditancapkan satu-satu dengan posisi tegak lurus dan ujung suing menghadap ke atas. Usahakan agar sekitar ¾ bagian bibit suing yang sudah dipotng ini dapat tertanam ke dalam tanah. Selesai ditanam taburkan tanah halus diatasnya (Wibowo, 2007)

Jarak tanam yang umum digunakan adalah 10 x15 cm untuk benih dengan berat sekitar 1,5 gram atau 15 x 12,5 cm. Untuk benih yang lebih besar bisa menggunakan jarak tanam yang lebih besar untuk mengoptimalkan pertumbuhan umbi dalam tanah. Benih yang digunakan sebaiknya berukuran seragam dengan kedalaman lubang tanam sekitar 2-3 cm untuk siung kecil dan 5-7 untuk siung yang besar. Saat me-nanam yang harus diperhatikan adalah posisi peletakan benih di-mana posisi titik tumbuh harus diletakkan di atas agar pertumbuhan bawang putih dapat optimal (Sandrakirana, dkk, 2018).

e. Pemeliharaan

1) Penyiangan gulma dan Pembubunan

Pemeliharaan tanaman meliputi penyiangan gulma dan penmbumbunan tanah, tujuannya agar struktur tanah dan kebersihan lahan tetap terjaga sehingga pertumbuhan tanaman bisa berjalan

(33)

optimal. Pembumbunan tanah disekitar tanaman dilakukan untuk memperbaiki/ meninggikan bedengan yang sekaligus membersihkan lahan dari akar rumput yang masih tertinggal pada saat penyiangan.

Waktu penyiangan dilakukan berbarengan dengan pemupukan yaitu pada 15, 35 dan 50 HST, frekuensi penyiangan gulma bisa ditambahkan jika laju pertumbuhan gulm cukup pesat. Ketika bawang putih sudah memasuki fase generatif sebaiknya kegiatan penyiangan dihentikn, karena bisa mengganggu proses pembentukan dan pembesaran umbi (Sandrakirana, dkk, 2018).

2) Pemupukan

Kegiatan pemupukan menambahkan unsur hara kedalam tanah untuk memper-baiki kesuburan tanah, tujuannya adalah untuk menyediakan unsur hara yang dapat diserap untuk pertumbuhan tanamana. Pada tanaman bawang putih ter-dapat pemupukan susulan yaitu pemupukan susulan I pada bawang putih diberi-kan pada saat tanaman berumur 15 HST (hari setelah tanam) dengan dosis pupuk urea 200 kg/ha dan NPK 100kg/ha, pemupukan susulan II diberikan pada umur 35 HST dengan dosis urea 100 kg/ha dan NPK 200kg/ha dan pemupukan susulan III diberikan saat tanaman berumur 50-55 HST dengan dosis pupuk NPK sebanyak 300 kg/ha, cara pemberian pupuk susulan I, II dan III dengan cara dibenamkan dala larikan diantara barisan tanaman. Pada saat musim kemarau setelah pemupukan dilakukan pemberian air dengan cara di leb (genangi) secukupnya (Sandrakirana, dkk, 2018).

Pemberian pupuk dilakukan dalam dua tahap, yakni sebagi puuk dasar dan sebagai pupuk susulan. Pupuk dasar yang diberikan adalah pupuk kandang dengan dosis 20 ton/ha, dan urea, TSP, dan ZK masing- masing dengan dosis 200,130, dan 200 kg/ha. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara ditaburkan pada permukaan tanah, lalu dicangkul agar tercampur merata dengan tanah, atau diberikan di dalam larikan disamping barisan tanaman lalu ditutup dengan tanah. Pupuk

(34)

susulan mulai diberikan setelah tanaman berumur 15 hari setelah tanam, yakni berupa urea sebanyak 100 kg/ha. Pada umur 35 hari setelah tanam dilakukan pemupukan susulan kedua berupa ZA sebanyak 100 kg/ha (Zulkarnain, 2016).

3) Pengairan

Pada fase awal pertumbuhan tanaman bawang putih memerlukan ketersediaan air yang cukup, penyiraman atau pengairan sebaiknya dilakukan 2-3 hari sekali, sedangkan didataran tinggi pengairan diberikan sampai dengn 3 kali setiap minggu. Sedangkan pada masa pembentukan tunas sampai pembentukan umbi pengairan dilakukan 7- 15 hari sekali, dan pengairan baru diberhentikan pada saat pembentukan umbi maksimal atau 10 hari sebelum panen. Cara pemberian air dapat dilakukan dengan penyiraman atau penggenangan (leb). Waktu penyiraman yang paling baik adalah pada pagi hari atau sore hari, yaitu pada saat penguapan air dalam tanah dan suhu udaranya rendah (Sandrakirana, dkk, 2018).

f. Hama dan Penyakit

Penyakit yang biasa menyerang pada tanaman bawang putih antara lain berupa embun upas yang penyebabnya adalah jamur Peronospora distruktor. Jamur tersebut adalah sangat ganas yang menyerang tanaman bawang putih yaitu pada daunnya. Kelembaban yang tinggi dan suhu yang rendah bisa meningkatkan intensitas serangan. Sehingga petani dalam budidaya bawang putih harus mengatasinya yaitu dengan menggunakan fungisida dithiocarbamate. Penyakit busuk lapangan putih penyebabnya adalah jamur Sclerotium Revivo jamur ini biasanya menyerang pada umbi dan akar tanaman bawang putih yang terserang penyakit ini akan menjadi busuk.Penyakit pink rot, penyebabnya adalah jamur Pyrenochaeta terestris. Bagian tanaman bawang putih yang diserang adalah pada bagian akar lewat tanah. Jamur ini akan sangat aktif pada kondisi yang panas dan kelembaban yang tinggi. Tanaman yang terserang tumbuhnya menjadi kerdil. Fusarium oxysporum merupakan jamur yang pertama kali diserang

(35)

adalah bagian akar kemudian menjalar ke batang dan daun tanaman bawang putih, sehingga tanaman akan tampak layu (Zulkarnain, 2016).

g. Pemanenan

Panen merupakan proses pengambilan umbi bawang putih yang sudah menunjukkan ciri masak panen optimal, yaitu ada perubahan warna tangkai daun dari hijau segar menjadi kekuningan yang bukan disebabkan oleh penya-kit. Bawang putih yang akan dipanen harus men-capai cukup umur. Tergantung pada varietas dan daerah. Tanaman bawang putih dapat dipanen pada umur 4 bulan setelah tanam atau umur panen yang biasa dijadikan pedoman adalah an-tara 90-120 hari. Umbi bawang putih siap panen bila pangkal batang sudah mulai mengeras dan umbi mulai keluar keatas permukaan tanah atau dapat dilakukan jika lebih dari 50% tanaman memiliki ciri-ciri daunnya menguning serta kering dengan tingkat kelayuan 35-60 %. Cara panen bawang putih, sebagai berikut: 1) Sehari sebe-lum panen, lakukan penyiraman pada pagi hari dan pada sore harinya lakukan penggemburan lahan pertanaman bawang putih; 2) Sehari setelah digemburkan tanahnya, lakukan pen-cabutan tanaman bawang putih sampai semua umbi terangkat semua dan dengan hati-hati jan-gan sampai umbi patah; 3) Tanaman bawang putih yang telah dicabut diikat sebanyak 30 tangkai tiap ikat dan dikumpulkan di tempat yang teduh; 4) Bawang putih yang sudah dipanen ditimbang lalu dibawa ke tempat pengumpulan hasil panen untuk proses pasca panen (Sandrakirana, dkk, 2018).

Kriteria panen pada bawang putih dilihat dari umbinya. Umbi bawang putih siap dipanen apabila 50% bagian atas tanaman telah menguning dan rebah di atas tanah. Akan tetapi, tergantung pada kultivaryang diusahakan dan kondisi iklim, umur panen bawang putih berkisar antara 85-125 hari setelah ditanam. Pemanenan bawang putih dilakukan secara manual dengan cara mencabut umbi, lalu diikat 10-30 tangkai atau umbi per ikatan, lalu keringkan selama 1-2 minggu sampai dengan batangnya mengering. Pengeringan umbi setelah panen ini tidak dilakukan dibawah terik matahari. Apabila pengeringan terpaksa dilakukan

Referensi

Dokumen terkait

Asosiasi insulin dengan antibodi anti- insulin menyebabkan hiperglikemia dan disosiasi kompleks insulin-insulin antibodi yang menyebabkan hipoglikemia pada SAI pasca pemberian 75

Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan penerapan IbM ini sebanyak 25 orang yang terdiri atas masyarakat calon guru yaitu mahasiswa yang sudah tingkat akhir

Pengaturan pemanfaatan sumber daya air untuk irigasi tidak menjamin kepastian hukum karena ketidakjelasan pengertian hak guna usaha air dan belum adanya peraturan

Tabel 3.42 Proses 5.2 Proses Menambah Data Pemesanan Produk Kustom58 Tabel 3.43 Proses 5.3 Proses Menghapus Data Pemesanan Produk Kustom59 Tabel 3.44 Proses 5.4 Proses

Peralatan pertanian tradisional sangat nyaman bagi masyarakat Saotengah dimana mereka bisa menjaga nilai solidaritas dalam melakukan pengelolaan lahan dan masyarakat

Sukanto dan Handoko (1986) yang dikutip oleh Yuli (2005:142) mendefinisikan motivasi sebagai keadaan dalam diri pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu

Tujuan studi ini adalah mengevaluasi aspek fungsi tanaman dan efektifitasnya sebagai pereduksi polusi udara, peredam kebisingan, dan sebagai pembatas fisik (barrier), serta