• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL PERSETUJUAN PEMBIMBING PENGESAHAN TIM PENGUJI ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL i ii iii iv v vii ix BAB I PENDA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL PERSETUJUAN PEMBIMBING PENGESAHAN TIM PENGUJI ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL i ii iii iv v vii ix BAB I PENDA"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

vii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI iii

ABSTRAK iv

KATA PENGANTAR v

DAFTAR ISI vii

DAFTAR TABEL ix

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 1

B. Rumusan Masalah 4

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 5

D. Penjelasan Judul 5

E. Metode Penelitian 7

F. Sistematika Penulisan 9

BAB II LANDASAN TEORITIS A. „Urf

1. Definisi„Urf 11

2. Macam-macam„Urf 12

3. Dasar Hukum„Urf 14

4. Persyaratan „Urf 15

5. Pendapat Ulama tentang Kedudukan „Urf

dalam Hukum Islam 17

6. Kehujjahan„Urf 18

B. Puasa

(8)

viii

1. Pengertian dan Dasar Hukum Puasa 20 2. Syarat Wajib dan Syarat Sah Puasa 22 3. Rukun Puasa dan Sunnah-Sunnah Puasa 25 4. Hal-hal yang Membatalkan Puasa 32 5. Orang yang Boleh Meninggalkan Puasa 36

6. Hikmah Puasa 39

BAB III HASIL PENELITIAN

A. Monografi Jorong Kampung Batu Selatan Nagari

Kampung Batu Dalam Kecamatan Danau Kembar 42 B. Pelaksaan Tradisi Membungsukan Puasa di Akhir Bulan

Ramadhan 50

C. Pandangan Hukum Islam terhadap Tradisi Membungsukan

Puasa di Akhir Bulan Ramadhan 55

D. Analisa Penulis 71

BAB 1V PENUTUP

A. Kesimpulan 74

B. Saran- Saran 75

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(9)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Luas Kenagarian Kampung Batu Dalam Menurut Jorong 45 Tabel 3.2 Jumlah Penduduk Nagari Kampung Batu Dalam Menurut

Jorong 46

Tabel 3.3 Jumlah Penduduk Nagari Kampung Batu Dalam Menurut

Tingkat Pendidikan 47

Tabel 4.4 Jumlah Hewan Yang Disembelih 5

(10)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tradisi dalam Islam dikenal dengan „urf yaitu sesuatu yang menjadi kebiasaan manusia, dan mereka mengikutinya dalam bentuk setiap perbuatan yang populer di antara mereka, ataupun suatu kata yang biasa mereka kenal dengan pengertian tertentu, bukan dalam pengertian etimologi, dan ketika mendengar kata itu, mereka tidak memahaminya dalam pengertian lain.1 „Urf berarti amal perbuatan yang telah diketahui, sedangkan adat kebiasaan adalah kebiasaan yang umum dilakukan. Keduanya diakui sebagai sumber hukum dan oleh semua madzhab hukum. Sedangkan madzab Maliki lebih menekankan pentingnya adat ini dari pada madzhab yang lainnya. Namun hukum adat ini sah apabila tidak menyinggung masalah yang disebutkan dalam al-Quran dan al-Sunnah. Apabila ada adat yang bertentangan dengan ketetapan syari‟ah yang manapun, adat ini dianggap bukan hukum Islam dan harus dihindarkan.2

Menurut Mushtafa Ahmad al-Zarqa‟ sebagaimana yang dikutip oleh Nasrun Haroen dalam bukunya Ushul Fiqh, mengatakan bahwa „Urf merupakan bagian dari adat, karena adat lebih umum dari „urf. „Urf harus berlaku pada kebanyakan orang di daerah tertentu.3 Seperti kebiasaan masyarakat di Jorong Kampung Batu Selatan Nagari Kampung Batu Dalam Kecamatan Danau Kembar Kabupaten

1Abd. Rahman Dahlan, Ushul Fiqh, (Jakarta: Amzah, 2011), Cet. ke- 2, h. 209

2Rahman I Doi, Penjelasan Lengkap Hukum-hukum Allah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), Cet. ke-1, h. 114

3Nasrun Haroen, Ushul Fiqh I, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), Cet. ke- 2, h. 138

(11)

Solok, yang mana di daerah tersebut melaksanakan tradisi membungsukan puasa pada akhir bulan Ramadhan. Namun tidak ada tuntutan bagi masyarakat untuk melaksanakan tradisi tersebut, akan tetapi ini sudah menjadi kebiasaan sejak dahulunya.

Tradisi membungsukan puasa pada akhir bulan Ramadhan bertujuan untuk membukakan puasa siang hari di akhir bulan Ramadhan. Dimana tradisi ini diawali dengan penyembelihan hewan. Jadi, hewan yang telah disembelih akan dijadikan sebagai menu untuk membukakan puasa siang hari di akhir bulan Ramadhan. Bukan hanya menyembelih hewan, masyarakat Jorong Kampung Batu Selatan juga membuat galamai yang dijadikan sebagai hidangan tambahan untuk membukakan puasa siang hari di akhir Ramadhan. Tradisi ini mereka lakukan setelah beriuran selama setahun, uang yang terkumpul dari iuran tersebut mereka gunakan untuk membeli hewan yang akan disembelih. Tradisi ini mereka mulai dengan menyembelih sapi di pagi hari. Setelah sapi tersebut selesai disembelih, kemudian hasil sembelihan itu dibagi-bagi. Hingga tengah hari gulai sapi telah matang, dengan itulah mereka membukakan puasa siang hari di akhir Ramadhan.4

Di satu sisi penyembelihan hewan di akhir bulan Ramadhan merupakan suatu hal yang baik untuk meningkatkan dan menjalin silaturahmi. Namun, di sisi lain penyembelihan ini digunakan untuk membukakan puasa di siang hari.

Sebagian besar masyarakat Jorong Kampung Batu Selatan masih melakukan tradisi tersebut dan sebagian yang lainnya sudah tidak melakukannya lagi.

Dalam melaksanakan puasa Ramadhan waktu untuk berbuka puasa dapat

4Midarnis, Masyarakat Jorong Kampung Batu Selatan, Wawancara Pribadi, Hari Minggu Tanggal 1April 2018

(12)

dilihat dari pengertian puasa itu sendiri yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dengan disertai niat berpuasa bagi orang yang telah diwajibkan untuk berpuasa sejak dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan syarat-syarat tertentu.5

Dasar hukumnya QS. al-Baqarah ayat 187:

ْمُكَّنَأ ُهَّللا َمِلَع َّنَُلَ ٌساَبِل ْمُتْ نَأَو ْمُكَل ٌساَبِل َّنُه ْمُكِئاَسِن َلَِإ ُثَفَّرلا ِماَيِّصلا َةَلْ يَل ْمُكَل َّلِحُأ ُهَّللا َبَتَك اَم اوُغَ تْ باَو َّنُهوُرِشاَب َنلآاَف ْمُكْنَع اَفَعَو ْمُكْيَلَع َباَتَ ف ْمُكَسُفْ نَأ َنوُناَتَْتَ ْمُتْنُك اوُِّتَِأ َُّثُ ِرْجَفْلا َنِم ِدَوْسلأا ِطْيَْلْا َنِم ُضَيْ بلأا ُطْيَْلْا ُمُكَل ََّيََّ بَتَ ي َّتََّح اوُبَرْشاَو اوُلُكَو ْمُكَل اَهوُبَرْقَ ت لاَف ِهَّللا ُدوُدُح َكْلِت ِدِجاَسَمْلا ِفِ َنوُفِكاَع ْمُتْ نَأَو َّنُهوُرِشاَبُ ت لاَو ِلْيَّللا َلَِإ َماَيِّصلا َنوُقَّ تَ ي ْمُ َّلَ َل ِساَّنلِل ِهِتاَي ُهَّللا ُِّيََّ بُ ي َكِلَ َك

Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.

Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.

Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”.

Dalam ayat ini Allah membolehkan seseorang untuk makan dan minum sepanjang malam hingga terbit fajar, kemudian Allah juga menyuruh seseorang untuk menyempurnakan puasa hingga terbenam matahari.6 Berdasarkan ayat di atas jelaslah bahwa jika seseorang makan dan minum dengan sengaja, atas

5Moh Rifa‟i, Ilmu Fiqh Islam, (Semarang: Karya Toha Putra, 1978), h. 332

6Wahbah az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Wasith (Al-fatihah-At-Taubah) ; Penerjemah: Muhtadi, dkk, (Jakarta: Gema Insani, 2012), Cet. ke- 1, h. 82

(13)

kemauan sendiri, dan sadar bahwa ia sedang berpuasa, maka batallah puasanya.

Untuk menentukan waktu berbuka puasa telah ditentukan waktunya oleh syari‟at Islam, yaitu pada waktu terbenam matahari. Namun berbeda halnya dengan masyarakat di Jorong Kampung Batu Selatan, mereka melaksanakan puasa dan membukakan puasa tidak pada waktu yang telah ditentukan.

Tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat di Jorong Kampung Batu Selatan ini terlihat aneh karena dilakukan oleh umat Islam yang tentu saja sudah memahami ketentuan-ketentuan puasa. Namun kenyataannya, mereka tetap melaksanakan tradisi ini untuk membukakan puasanya di siang hari di akhir bulan Ramadhan. Permasalahan yang muncul apa yang melatarbelakangi mereka melakukan dan bagaimana pula pemahaman mereka terhadap aturan berpuasa menurut Islam. Untuk itu penulis membahasnya dalam sebuah skripsi yang berjudul “Tradisi Membungsukan Puasa di Akhir Bulan Ramadhan di Jorong Kampung Batu Selatan Nagari Kampung Batu Dalam Kecamatan Danau Kembar Menurut Hukum Islam”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka penulis merumuskan masalah yang akan dibahas yaitu:

1. Bagaimana pelaksanaan tradisi membungsukan puasa di akhir bulan Ramadhan di Jorong Kampung Batu Selatan ?

2. Bagaimana hukum tradisi tersebut menurut Hukum Islam ? C. Tujuan dan Kegunaan Penulisan

1. Tujuan Penulisan

(14)

Sesuai dengan masalah di atas maka pembahasan dalam skripsi ini bertujuan untuk:

a. Untuk mengetahui pelaksanaan tradisi membungsukan puasa di akhir bulan Ramadhan di Jorong Kampung Batu Selatan.

b. Untuk mengetahui hukum tradisi membungsukan puasa di akhir bulan Ramadhan di Jorong Kampung Batu Selatan Nagari Kampung Batu Dalam menurut Hukum Islam.

2. Kegunaan Penulisan

a. Untuk memenuhi salah satu syarat supaya bisa meraih gelar Sarjana Hukum pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi Fakultas Syari‟ah Program Studi Hukum Keluarga Islam.

b. Sebagai salah satu bentuk sumbangan pemikiran bagi masyarakat, insan akademis dan lain-lain, khususnya dalam bidang syari‟ah.

c. Untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak membukakan puasa siang hari di akhir bulan Ramadhan.

D. Penjelasan Judul

Untuk menghindari kekeliruan dalam memahami judul skripsi ini, maka penulis merasa perlu menjelaskan kata-kata yang dapat meragukan pembaca.

Tradisi : Adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dilakukan masyarakat.7 Yang dimaksud adalah tradisi yang turun- temurun yang dilakukan oleh masyarakat

7Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), h. 1080

(15)

Jorong Kampung Batu Selatan yang sampai sekarang masih dilakukan, yaitu tradisi membungsukan puasa.

Membungsukan : berasal dari kata bungsu, di mana masyarakat mengartikannya dengan bersenang-senang.8 Puasa : Menahan diri dari segala sesuatu yang bisa

membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari dengan niat berpuasa dengan catatan yang bersangkutan layak untuk berpuasa.9

Bulan Ramadhan : Bulan ke- 9 tahun Hijriyah (29 atau 30 hari), pada bulan ini orang Islam diwajibkan berpuasa.10

Hukum Islam : Peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan yang berkenaan dengan kehidupan berdasarkan kitab al-Quran.11 Secara operasional, hukum Islam yang penulis maksud adalah status hukum tradisi menyembelih hewan pada akhir bulan Ramadhan tersebut.

8Midarnis, Masyarakat Jorong Kampung Batu Selatan, Wawancara Pribadi, Hari Minggu Tanggal 1April 2018

9Hasan Ayyub, Fikih Ibadah, Penerjemah: Abdurrahman, (Jakarta: Cakra Lintas Media, 2010), h. 409

10Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h. 924

11Abd. Rahman Dahlan, op. cit., h. 15

(16)

Jorong Kampung Batu Selatan : Salah satu dari sepuluh jorong yang terdapat di Nagari Kampung Batu Dalam Kecamatan Danau Kembar.

Dari beberapa penjelasan istilah yang terdapat di dalam judul yang penulis kemukakan di atas dapat dipahami bahwa maksud judul “tradisi membungsukan puasa di akhir bulan Ramadhan di Jorong Kampung Batu Selatan Nagari Kampung Batu Dalam Kecamatan Danau Kembar menurut hukum Islam adalah bagaimana kebiasaan membungsukan puasa di akhir bulan Ramadhan di Jorong Kampung Batu Selatan Nagari Kampung Batu Dalam Kecamatan Danau Kembar apakah sudah sesuai dengan syari‟at.

E. Metode Penelitian

1. Jenis dan Lokasi Penelitian

Penelitian pada dasarnya merupakan tahapan untuk mencari sebuah kebenaran. Untuk mencari kebenaran itu dalam penyusunan skripsi ini penulis melakukan jenis penelitian field research. Field research adalah riset ke lapangan dengan wawancara, yaitu penulis mengadakan penelitian ke lapangan dengan mencari data-data yang berhubungan dengan permasalahan ini. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif.12

Lokasi atau daerah penelitian yang akan penulis teliti adalah Jorong Kampung Batu Selatan Kenagarian Kampung Batu Dalam Kecamatan Danau Kembar.

2. Teknik Pengumpulan Data

12Nanang Martono, Metode Penelitian Sosial, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), h. 217

(17)

Dalam mengumpulkan data, penulis menggunakan beberapa metode, yaitu:

a. Wawancara, yaitu proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai.13 Di mana wawancara ini dilakukan kepada pemuka adat, pemuka agama dan masyarakat Jorong Kampung Batu Selatan.

b. Observasi, yaitu pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap masalah- masalah yang diteliti.14 Penulis mengumpulkan data dengan aktif dan turut serta dalam mengamati permasalahan ke lapangan.

c. Dokumentasi, yaitu data-data yang berupa lembaran, tulisan-tulisan, atau dalam bentuk lain yang dapat menunjang data dalam penelitian.15

3. Teknik Pengolahan Data

Setelah data diperoleh, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan metode sebagai berikut:16

a. Seleksi data, yaitu menyeleksi data yang dapat diambil dari wawancara, seluruh bagian merupakan potensi yang sama kuatnya dalam menghasilkan sesuatu yang dicari.

b. Klasifikasi data, yaitu setelah data terkumpul dan diteliti lalu dikelompokkan menurut jenis dan bentuknya untuk diambil kesimpulan.

4. Teknik Analisa Data

13Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi, (Jakarta: Kencana, 2013), h. 133

14Husnaini Usman, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 30

15Burhan Bungin, op. cit. h. 154

16Burhan Ashshofa, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), h. 66

(18)

Dalam menyajikan data, penulis menyajikan data dalam bentuk deskriptif, yaitu menggambarkan fakta-fakta dan data-data yang diperoleh dengan menggunakan kalimat dalam bentuk paragraf. Setelah itu baru dilakukan penarikan kesimpulan. Juga menggunakan metode deduktif, yaitu dimulai dari penjelasan yang umum kepada yang lebih khusus.17

F. Sistematika Penulisan

Untuk lebih jelas dan terarahnya skripsi ini, maka penulis membuat sistematika penulisannya sebagai berikut:

Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari empat bab yang masing- masing menampakkan titik berat yang berbeda, namun dalam satu kesatuan yang berkorelasi.

Bab pertama yaitu pendahuluan, yang berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, penjelasan judul, metode penelitian, lokasi penelitian dan sistematika penulisan.

Bab kedua berisi landasan teoritis yang terdiri dari „Urf dan puasa dalam Islam. Pada sub bab „urf akan dikemukakan definisi „urf, macam-macam „urf, dasar hukum „urf, persyaratan „urf, pendapat ulama tentang kedudukan „urf dalam hukum Islam dan kehujjahan „urf, sedangkan masalah puasa terdiri dari pengertian puasa dan dasar hukumnya, syarat wajib dan syarat sahnya puasa, rukun puasa dan sunnah puasa, hal yang membatalkan puasa, orang yang boleh meninggalkan puasa dan hikmah puasa,

Bab ketiga menguraikan tentang hasil penelitian yang meliputi monografi

17Cik Hasan Bisri, Penuntun Penyusunan Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi, (Jakarta: Logos,1998), h. 61

(19)

Jorong Kampung Batu Selatan Nagari Kampung Batu Dalam Kecamatan Danau Kembar, pelaksanaan tradisi menyembelih hewan di akhir bulan Ramadhan, dan pandangan hukum Islam terhadap tradisi menyembelih hewan di akhir bulan Ramadhan.

Bab keempat yang merupakan bagian penutup berisi tentang kesimpulan dan saran-saran.

(20)

11 BAB II

LANDASAN TEORITIS

A. ‘URF

Dikalangan ahli hukum terkenal dengan ungkapan ‟urf itu terdapat pengakuannya dalam syara‟, „urf itu adalah syari‟at muhkamah.Oleh karena itu perlu dibahas sampai sejauh mana pengakuan syara‟ terhadap „urf dan pengaruhnya terhadap pembinaan hukum dan keputusan pengadilan.18

1. Definisi ‘Urf

„Urf berasal dari kata yang terdiri dari huruf „ain, ra‟, dan fa‟ yang berarti kenal. Dari kata ini muncul kata ma‟rifah (yang dikenal), ta‟rif (definisi), kata ma‟ruf (yang dikenal sebagai kebaikan), dan kata „urf (kebiasaan yang baik)19

„Urf adalah suatu keadaan, ucapan, perbuatan, atau ketentuan yang telah dikenal manusia dan telah menjadi tradisi untuk melaksanakannya atau meninggalkannya.Dikalangan masyarakat, „urf ini sering disebut adat.20

Asmawi menyebutkan di dalam bukunya perbandingan ushul fiqh, „urf adalah sesuatu yang berulang-ulang dilakukan oleh masyarakat daerah tertentu, dan terus-menerus dijalani oleh mereka, baik hal demikian terjadi sepanjang masa atau pada masa tertentu saja. Kata “sesuatu” mencakup sesuatu yang baik dan sesuatu yang buruk, mencakup pula hal yang bersifat perkataan dan hal yang bersifat perbuatan. Ungkapan “daerah tertentu” menunjuk kepada „urf „amm.

18Sulaiman Abdullah, Sumber Hukum Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 1995), h. 77

19Abd. Rahman Dahlan,Ushul Fiqh, (Jakarta: Amzah, 2011), Cet. ke-2, h. 209

20Rachmat Syafe‟i, Ilmu Ushul Fiqih, (Bandung: Pustaka Setia, 2010),h. 128

(21)

Contohnya ialah:

a. Mudarabah, yang menjadi „urf masyarakat Baghdad b. Qirad, yang menjadi „urf masyarakat Hijaz

c. Bai‟u al-salam, yang menjadi „urf masyarakat Hijaz d. Bai‟u al-Istisna‟, yang menjadi „urf masyarakat Hijaz21 2. Macam-Macam ‘Urf

a. Ditinjau dari segi berdasarkan syara‟ atau terlepas dari syara‟, yaitu:

1) „Urf yang dibenarkan oleh syara‟, atau tidak dibenarkan oleh syara‟.

Seperti memelihara jenazah, memelihara diri dari yang merusak badan, mengadakan perjudian di kala ada kematian, dan sebagainya. „Urf ini jelas kedudukannya yang berdasarkan pada syara‟ dapat terus berjalan dan yang bertentangan dengan syara‟ harus dihentikan.

2) „Urf yang tidak ditunjuki oleh syara‟, baik yang menyuruh atau melarangnya.

Macam yang kedua ini tergantung kepada sebab pendorong dan pelaksana kemanfaatannya. Kalau sebab terjadinya „urf itu dibenarkan oleh syara‟ dan pelaksanaannya tidak bertentangan dengan syara‟ serta mendatangkan kemaslahatan bagi orang banyak, maka „urf itu dapat dibenarkan dan kalau sebaliknya, jika „urf itu mendatangkan kemafsadatan, maka harus dihentikan.22

b. Ditinjau dari segi jangkauannya, „urf dapat dibagi dua, yaitu:

1) ‟Urf al-Amm

21Asmawi, Perbandingan Ushul Fiqh, (Jakarta:Hamzah, 2011), h. 161

22Asymuni A. Rahman, Kedudukan Adat Kebiasaan („Urf) Dalam Hukum Islam, (Yogyakarta: CV Bina Usaha, 1983), Cet. ke- 1, h. 6

(22)

Yaitu kebiasaan yang bersifat umum dan berlaku bagi sebagian besar masyarakat dalam berbagai wilayah yang luas.Misalnya, membayar ongkos kendaraan umum dengan harga tertentu, tanpa perincian jauh atau dekatnya jarak yang ditempuh, dan hanya dibatasi oleh jarak tempuh maksimum.

2) ‟Urf al-Khashsh

Yaitu adat kebiasaan yang berlaku secara khusus pada suatu masyarakat tertentu, atau wilayah tertentu saja. Misalnya, kebiasaan masyarakat yang menjadikan kuitansi sebagai alat bukti pembayaran yang sah, meskipun tanpa disertai dengan dua orang saksi.23

c. Ditinjau dari segi jenisnya, apakah ucapan atau perbuatan, maka „urf ini dibagi:

1) „Urf Qauli

Yaitu ucapan atau istilah yang sudah dikenal oleh sekelompok masyarakat atau seluruh masyarakat bahwa arti atau maksudnya adalah sesuatu yang tertentu itu, seperti lafal lahmun, yang berarti daging hewan yang halal dimakan, tidak termasuk daging ikan. Sehingga kalau orang berjanji akan memberi nafkah daging pada istrinya, sedang istrinya menuntut pengertian daging itu daging ikan, maka tidak dapat dibenarkan karena menurut „urf, lahmun itu tidak termasuk daging ikan.

2) „Urf Fi‟li

Yaitu perbuatan orang banyak yang sudah dikenal masyarakat banyak, seperti bila berkendaraan bertemu dengan iring-iringan jenazah, maka menghentikan atau melambatkan kendaraan, atau memberikan kado pada

23Abd. Rahman Dahlan, op.cit., h. 210

(23)

teman yang melangsungkan upacara perkawinannya.24

d. Ditinjau dari segi keabsahannya, al-‟urf dapat pula dibagi menjadi dua yaitu:

1) ‟Urf ash-Shahihah

Yaitu sesuatu yang telah saling dikenal oleh manusia dan tidak bertentangan dengan dalil syara‟, tidak menghalalkan yang haram dan juga tidak membatalkan yang wajib.

2) ‟Urf al-Fasidah

Yaitu sesuatu yang telah saling dikenal manusia, tetapi bertentangan dengan syara‟, atau menghalalkan yang haram dan membatalkan yang wajib.25 3. Dasar Hukum ‘Urf

a. Al-Qur‟an

Dalam syariat Islam, dalil yang dipakai untuk menetapkan „urf sebagai ketentuan hukum ialah QS.al-A‟raf ayat 199:

َيَِّلِهاَْاا ِنَع ْ ِرْعَأَو ِ ْرُ ْلاِب ْرُمْأَو َوْفَ ْلا ِ ُ

Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”

Meskipun kata „urf di sini diartikan dari segi bahasa, yakni perkara yang biasa dikenal baik, namun juga dapat dipakai untuk menguatkan penggunaan „urf dalam arti istilah.

b. As-Sunnah

Sabda Nabi kepada Hindun isteri Abu Sufyan, ketika Hindun mengadukan suaminya, bahwa suaminya itu kikir dalam memberi nafkah. Maka Nabi bersabda:

24Asymuni A. Rahman, op.cit., h. 7

25Rachmat Syafe‟i, op.cit., h. 129

(24)

ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ِهَّللا ِلوُسَر ىَلَع َناَيْفُس ِبَِأ ُةَأَرْما َةَبْتُع ُتْنِب ٌدْنِه ْتَلَ َد ْتَلاَق َةَشِئاَع ْنَع ِنِيِفْكَي اَم ِةَقَفَّ نلا ْنِم ِنِيِطْ ُ ي َلا ٌحيِحَش ٌلُجَر َناَيْفُس اَبَأ َّنِإ ِهَّللا َلوُسَر اَي ْتَلاَقَ ف َمَّلَسَو ُلوُسَر َلاَقَ ف ٍحاَنُج ْنِم َكِلَذ ِفِ َّيَلَع ْلَ َ ف ِهِمْلِع ِْيَْغِب ِهِلاَم ْنِم ُتْ َ َأ اَم َّلاِإ َِّنَِب يِفْكَيَو ِكيِنَب يِفْكَيَو ِكيِفْكَي اَم ِ وُرْ َمْلاِب ِهِلاَم ْنِم ِ ُ َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ِهَّللا .

ٌقَفَّ تُم )

ِهْيَلَع (

Artinya: Dari „Aisyah yang berkata: “Hindun binti Utbah istri Abi Sufyan menghadap Rasul SAW, berkata: Wahai Rasul! Sesungguhnya Abu Sufyan itu seorang laki-laki yang sangat kikir. Dia tidak memberi nafkah padaku dan pada anakku yang mencukupi, kecuali apa yang aku ambil dari hartanya tanpa sepengetahun dia. Apakah aku memikul dosa atas perbuatanku itu? Rasul SAW bersabda: ambillah dari hartanya secara ma‟ruf apa yang mencukupi kebutuhanmu dan mencukupi kebutuhan anakmu.”(Muttafaq Alaihi)26

Kata bil-ma‟ruf, dapat diartikan pada cara maupun jumlah yang pantas.

Menurut asy-Syaukani maksudnya jumlah yang diambil itu sepantasnya, yang diketahui menurut adat bahwa jumlah itu mencukupi atau wajar.

Berdasarkan nash-nash di atas, fuqaha khususnya fuqaha Malikiyah dan Hanafiyah menetapkan sesuatu ketentuan hukum berdasarkan atau bersandar pada

„urf yang telah memenuhi syarat-syarat yang dapat diterima sebagai ketentuan hukum Islam.

4. Persyaratan ‘Urf

Sebagaimana yang telah dilihat pada nash-nash yang dijadikan sebagai landasan kebolehan menggunakan „urf sebagai sandaran penetapan hukum Islam, maka akan dilihat bahwa „urf yang dapat diterima itu adalah „urf yang membawa

26Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqani, Terjemah Buluqhul Maram, Penerjemah: Abu Ihsan al- Atsari, (Solo: Al-Tibyan, 2006), h. 528

(25)

kepada kemaslahatan dan „urf itu telah terkenal dalam masyarakat dan dipandang baik.

Ulama ushul menuangkan ketentuan itu dalam perumusan, bahwa „urf itu dapat diterima sebagai sandaran penetapan hukum dengan persyaratan sebagai berikut:

a. „Urf itu dominan berlakunya dalam masyarakat. Artinya, kebiasaan itu selaludan tetap berlaku dan berjalan dalam masyarakat secara terus-menerus sehingga masyarakat dapat menerima berlakunya „urf itu dengan sukarela.

Jumlah berapa kali terjadi, tidak ada batasannya.

b. „Urf itu berlaku pada masa itu, bukan „urf yang pernah berlaku, tetapi pada masa penetapan ketentuan hukumnya „urf sudah berubah dalam arti tidak berlaku lagi.„ Urf yang tidak berlaku lagi dalam masyarakat, tidak dapat ditetapkan sebagai ketentuan hukum yang berlaku. Misalnya, dalam suatu masyarakat pernah berlaku ketentuan orang yang memelihara hewan betina orang lain, cukup nanti diberi upah setengah dari anak hewan itu. Sekarang disamping si pemelihara hewan itu mendapat setengah dari anak hewan itu, ia juga mendapatkan setengah dari harga kenaikan harga hewan yang dipelihara itu. Karena sudah berubah „urf, maka kalau ada sengketa diantara pemilik hewan dengan pemelihara hewan, untuk menetapkan hukumnya tidak dapat ditetapkan ketentuan hukum „urf lama, tetapi harus diberlakukan „urf baru.

c. „Urf itu tidak bertentangan dengan nash qath‟i yang berlaku secara khusus.

Dengan kata lain, „urf dapat dijadikan ketentuan hukum kalau tidak ada nash qath‟i yang secara khusus melarang mengucapkan atau melaksanakan

(26)

perbuatan yang telah terbiasa dilakukan oleh masyarakat. Misalnya dalam suatu masyarakat mengadakan acara perjudian bila ada anggota masyarakat yang meninggal dunia ditempat keluarga yang meninggal itu. Sebagian dari uang orang yang menang pada perjudian tersebut akan diberikan kepada keluarga yang meninggal dunia. „Urf yang demikian itu tidak dapat diterima karena bertentangan dengan ayat Al-Quran surat al-Maidah ayat 90:

ِناَطْيَّشلا ِلَمَع ْنِم ٌسْجِر ُملاْزلأاَو ُباَصْنلأاَو ُرِسْيَمْلاَو ُرْمَْلْا اََّنَِّإ اوُنَم َنيِ َّلا اَ ُّ يَأ اَي َنوُحِلْفُ ت ْمُكَّلَ َل ُووُبِنَتْجاَف

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

d. „Urf itu tidak bertentangan seluruhnya dengan nash sehingga seluruh ketentuan nash itu tidak berlaku. „Urf yang tidak betentangan dengan ketentuan hukum berdasarkan nash, bahkan juga merupakan petunjuk pelaksanaan dari nash itu menuju kemaslahatan atau terlihat sedikit bertentangan dengan sebagian ketentuan nash, sedangkan kalau dilaksanakan „urf itu akan membawa kepada kemaslahatan, dan jika tidak dilaksanakan akan menimbulkan kesulitan, maka

„urf yang demikian dapat diberlakukan.27

5. Pendapat Ulama Tentang Kedudukan ‘Urf Dalam Hukum Islam a. „Urf sahih dan pandangan para ulama

„Urf sahih itu harus dipelihara dalam pembentukan hukum dan pengadilan.

Maka seorang mujtahid diharuskan untuk memeliharanya ketika ia menetapkan hukum. Begitu juga seorang Qadhi (hakim) harus memeliharanya ketika sedang

27Asymuni A. Rahman, op.cit., h. 14

(27)

mengadili. Sesuatu yang telah disepakati dan dianggap mendatangkan kemaslahatan bagi manusia serta selama hal itu tidak bertentangan dengan syara‟

harus dipelihara.28

Imam Malik mendasarkan sebagian besar hukumnya pada perbuatan penduduk Madinah. Abu Hanifah bersama murid-muridnya berbeda pendapat dalam beberapa hukum dengan dasar atas perbuatan „urf mereka. Sedangkan Imam Syafi‟i ketika sudah berada di Mesir, mengubah sebagian pendapatnya tentang hukum yang telah dikeluarkannya ketika beliau berada di Bagdad. Hal ini karena perbedaan „urf, maka tak heran kalau beliau mempunyai dua mazhab, mazhab qadim (terdahulu/pertama) dan mazhab jadid (baru). Begitu pula dalam fiqih Hanafiyah, banyak hukum-hukum yang berdasarkan atas „urf.29

b. Hukum „urf fasid

Adapun „urf yang rusak, tidak diharuskan untuk memeliharanya, karena memeliharanya itu berarti menentang dalil syara‟ atau membatalkan dalil syara‟.

Apabila manusia telah saling mengerti akad-akad yang rusak, seperti akad riba maka bagi „urf tidak mempunyai pengaruh dalam membolehkannya.30

6. Kehujjahan ‘Urf

„Urf menurut penyelidikan bukan merupakan dalil syara‟ tersendiri. Pada umumnya, „urf ditujukan untuk memelihara kemaslahatan umat serta menunjang pembentukan hukum dan penafsiran beberapa nash. Dengan „urf dikhususkan lafal yang „amm (umum) dan dibatasi yang mutlak. Karena „urf pula terkadang qiyas itu ditinggalkan. Karena itu, sah mengadakan kontrak borongan apabila „urf

28Rachmat Syafe‟i, op.cit., h. 129

29Ibid., h. 130

30Ibid., h. 130

(28)

sudah terbiasa dalam hal ini, sekalipun tidak sah menurut qiyas, karena kontrak tersebut adalah kontrak atas perkara yang ma‟dum (tiada).31

Para ulama mazhab fiqh, pada dasarnya bersepakat untuk menjadikan „urf secara global sebagai dalil hukum Islam. Perbedaan pendapat di antara mereka terjadi mengenai lingkup aplikasi dari „urf itu sendiri. Dalam kaitan ini, perlu dikemukakan hal-hal sebagai berikut:

a. Perihal kebiasaan masyarakat Arab terdahulu yang kemudian dikonfirmasi secara positif oleh syariat sehingga ia menjadi hukum syara‟. Mengenai hal ini, para ulama bersepakat bahwa kebiasaan tersebut mengikat secara syar‟i segenap kaum muslim. Kebiasaan semacam ini tetap kukuh, tidak berubah sebagaimana berubahnya waktu dan tempat.

b. Perihal kebiasaan masyarakat Arab terdahulu yang kemudian dikonfirmasi secara negatif oleh syariat sehingga ia menjadi haram hukumnya. Mengenai hal ini, para ulama bersepakat bahwa kebiasaan semacam ini harus dijauhkan oleh segenap kaum muslim. Inilah yang disebut „urf fasid.32

B. PUASA

Dalam agama Islam, puasa mempunyai pengertian dan aturan yang spesifik dan terperinci. Puasa merupakan bagian penting dari keberagaman seorang muslim karena merupakan pilar Islam atau rukun Islam.33

Puasa yang diwajibkan karena sebagai salah satu rukun Islam adalah puasa Ramadhan. Zarqany dan yang lainnya menyebutkan bahwa puasa Ramadhan diwajibkan setelah dua malam berlalu dari bulan Sya‟ban pada tahun kedua

31Ibid., h. 131

32Asmawi, op.cit., h. 162

33Gus Arifin, Fiqih Puasa, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2013), h. 76

(29)

Hijriyah. Sebelum puasa Ramadhan diwajibkan, Nabi Muhammad SAW melakukan puasa Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa di hari itu. Rasulullah SAW juga sebelumnya puasa selama tiga hari disetiap bulannya sejak hari kedatangannya di Madinah berhijrah hingga Allah mewajibkan puasa Ramadhan bagi beliau dan umatnya.34

1. Pengertian dan Dasar Hukum Puasa

Puasa secara etimologi berarti menahan diri dan menjauhi sesuatu secara mutlak.Sedangkan makna puasa secara terminologi adalah menahan diri dari segala sesuatu yang bisa membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari dengan niat berpuasa dengan catatan yang bersangkutan layak untuk berpuasa.35

Puasa Ramadhan hukumnya fardhu„ain bagi setiap mukallaf (orang Islam yang berakal dan sudah baligh) yang mampu melaksanakannya. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur‟an, al-Sunnah, dan Ijma‟ para ulama.36

a. Al-Qur‟an

Dasar hukumnya QS. al-Baqarah ayat 183:

َنوُقَّ تَ ت ْمُكَّلَ َل ْمُكِلْبَ ق ْنِم َنيِ َّلا ىَلَع َبِتُك اَمَك ُماَيِّصلا ُمُكْيَلَع َبِتُك اوُنَم َنيِ َّلا اَ ُّ يَأ اَي

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini diturunkan pada bulan Sya‟ban tahun kedua Hijriyah. Tercatat dalam sejarah Islam bahwa pada tahun kedua Hjriyah inilah umat Islam mulai

34Kadar M. Yusuf, Tafsir Ayat Ahkam, (Jakarta: Hamzah, 2013), h. 64

35Hasan Ayyub, Fikih Ibadah, Penerjemah: Abdurrahman, (Jakarta: Cakra Lintas Media, 2010), h. 409

36Gus Arifin, op.cit., h. 77

(30)

secara resmi diwajibkan berpuasa di bulan Ramadhan. Adapun yang diseru dalam ayat ini adalah orang-orang mukmin, tidak manusia secara keseluruhan.Hal itu menunjukkan dua makna, pertama puasa hanya diwajibkan pada orang-orang mukmin saja, karena iman itulah yang menjadi dasar adanya perintah. Jika iman tidak ada maka perintah beribadah juga tidak ada. Sebab, puasa itu adalah rukun Islam dan sekaligus perwujudan dari iman itu sendiri. Kedua, puasa itu hanya dalam arti mendapatkan pahala dari Allah, jika didasarkan atas iman.

b. As-Sunnah

َلاَق اَمُ ْ نَع ُللها َيِضَر َرَمُع ِنْبا ْنَع ىَلَع ُمَلاْسِلإْا َِنُِب ملسو للها ىلص ِللها َلْوُسَرلاَق :

ٍسَْخَ

ُّجَحَو ِةاَكَّزلا ُءاَتْ يِإَو ِةَلاَّصلا ُماَقِإَو ِللها ُلْوُسَر ًادَّمَُمُ َّنَأَو ُللها َّلاِإ َهَلِإ َلا ْنَأ ُةَداَ َش :

َناَ َمَر ُمْوَصَو ِتْيَ بْلا .

ُّ ِراَ ُبْلَا ُواَوَر ) (

Artinya: Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khattab ra dia berkata:Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda“Islam didirikan di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah, menegakkan shalat, memberikan zakat, mengerjakan haji dan berpuasa pada bulan Ramadhan”.

(HR. Bukhari)37

Kata al-haj (haji) yang didahulukan dari kata ash-shaum (puasa) menunjukkan bahwa pelaksanaan haji lebih menuntut banyak pengorbanan waktu dan harta. Dalam riwayat lain, kata ash-shaum didahulukan karena kewajiban berpuasa lebih merata (bisa dilakukan oleh mayoritas umat Islam) daripada berhaji.38

c. Ijma‟

37Achmad Sunarto dkk, Tarjamah Shahih Bukhari 3, (Semarang: CV. Asy Syifa‟, 1992), h. 17

38Gus Arifin, op.cit., h. 85

(31)

Ikatan Islam dan sendi agama itu ada tiga, di atasnya didirikan Islam dan siapa yang meninggalkan salah satu di antaranya, berarti ia kafir terhadapnya dan halal darahnya, mengakui bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, shalat fardu dan puasa Ramadhan. Adapun dari ijma‟, para ulama sepakat bahwa hukum puasa bulan Ramadhan adalah fardhu. Kefardhuaannya itu dapat diketahui dari agama yang mengingkarinya dihukumi kafir, sama seperti orang yang mengingkari kefardhuan shalat, zakat, dan haji.

Jumhur ulama dan sebagian pengikut Imam Syafi‟i berpendapat bahwa tidak ada puasa yang pernah diwajibkan atas umat Islam sebelum bulan Ramadhan.39

2. Syarat Wajib dan Syarat Sah Puasa a. Syarat Wajib Puasa

Syarat wajib puasa yaitu:

1) Islam

Dengan demikian orang kafir tidak wajib berpuasa dan tidak wajib mengqadha (mengganti).Begitulah menurut Jumhur ulama.Kalaupun mereka melakukannya, tetap dianggap tidak sah.Namun, ulama berbeda pendapat dalam menentukan apakah syarat Islam ini merupakan syarat wajib dari puasa atau syarat sahnya puasa.Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan para ulama itu dalam memahami ayat kewajiban berpuasa, mengenai orang kafir apakah masuk di dalamnya atau tidak.

Menurut madzhab Hanafi, orang kafir tidak termasuk dalam ketentuan

39Ibid., h. 86

(32)

orang yang diwajibkan untuk berpuasa.Sementara itu, Jumhur ulama berpendapat bahwa mereka termasuk dalam setiap firman Allah, dengan demikian mereka wajib melaksanakan semua syari‟at-Nya (dalam hal ini mereka wajib memeluk agama Islam, dan melaksanakan puasa). Jadi, menurut pendapat pertama (madzhab Hanafi) mereka hanya menanggung dosa atas kekafirannya, sedangkan menurutpendapat kedua (Jumhur ulama) mereka menanggung dosa kekafiran dan meninggalkan syari‟at.40

2) Aqil (berakal)

Orang gila tidak mengerti perbuatannya sendiri, mengapa berbuat, untuk apa berbuat, dan akibat apa dari perbuatannya. Agama Islam tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Orang gila tidak mampu berbuat, maka orang gila tidak terikat kewajiban puasa.41

3) Baligh (berakal dan melewati masa pubertas)

Orang dewasa diwajibkan untuk berpuasa, sedangkan anak-anak diperbolehkan untuk berpuasa sebagai latihan.

4) Mampu42

Orang yang lemah badannya karena sakit atau karena lelah dalam perjalanan dibolehkan untuk tidak berpuasa, akan tetapi ia wajib mengqadhanya di luar bulan Ramadhan pada hari-hari halal berpuasa, yaitu hari-hari selain hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, dan hari-hari tasyrik.

5) Menetap (mukim atau tidak dalam perjalan/musafir )

40Ibid., h. 87

41Yusuf Qardhawi, Fiqih Shiyam Puasa Menurut Al-Qur‟an dan As-Sunnah, (Jakarta:

Islamuna Press, 1996), h. 49

42Gus Arifin, op.cit., h. 88

(33)

b. Syarat Sah Puasa

1) Menurut Mazhab Hanafi ada 3:

a) Syarat wajib puasa: Islam, berakal, baligh b) Syarat wajib melaksanakan puasa: Sehat, mukim

c) Syarat sah melaksanakan puasa: Niat, tidak ada yang menghalangi, tidak ada yang membatalkan.

2) Menurut Mazhab Maliki ada 2:

a) Syarat wajib: Baligh, mampu berpuasa

b) Syarat sah:Niat, suci dari haid dan nifas, Islampada waktunya, juga disyaratkan orang yang berpuasa berakal.

3) Menurut Mazhab Syafii ada 2:

a) Syarat wajib: Islam, baligh, berakal, ada kemampuan

b) Syarat sah:Islam, berakal, suci dari haid dan nifas sepanjang hari, dilaksanakan pada waktunya.

4) Menurut Mazhab Hambali ada 2:

a) Syarat wajib:Islam, baligh, mampu berpuasa b) Syarat sah: Niat, suci dari haid dan nifas.43 3. Rukun Puasa dan Sunnah-Sunnah Puasa

a. Rukun Puasa

1) Berniat puasa Ramadhan

Dalam melaksanakan ibadah, terdapat satu hal yang sangat prinsip dan mendasar dalam pelaksanaan ibadah, termasuk puasa. Hal yang mendasar dan

43Ibid., h. 90

(34)

prinsip ini adalah ibadah puasa yang akan dilakukan harus didasarkan pada niat. Nabi bersabda:

اَ ْ نَع ُهَّللَا َيِضَر َيَِّنِمْؤُمْلَا ِّمُأ َةَصْفَح ْنَعَو َلاَق ملسو هيلع للها ىلص ِِّ َّنلَا ِنَع ,

: َْلَ ْنَم (

ُهَل َماَيِص َلاَف ِرْجَفْلَا َلْبَ ق َماَيِّصلَا ِتِّيَ بُ ي )

ُةَسْمَْلَْا ُواَوَر ) (

Artinya: “Dari Hafshah Ummul Mukminin bahwa Nabi SAW bersabda:

"Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.(HR. Imam Lima).44

Berdasarkan hadis ini maka dapat ditegaskan bahwa waktu berniat itu mulai dari terbenam matahari sampai terbit fajar. Dalam berniat itu seseorang harus menjelaskan puasa yang akan dilakukan. Apakah puasa itu nazar, qadha, kifarat, puasa sunnah, atau puasa Ramadhan.45

Para ulama sependapat mengenai pentingnya niat sebelum melaksanakan puasa.Akan tetapi, mereka berbeda dalam menetapkan perlunya ta‟yin (menjelaskan) dalam berniat dan waktu niat tersebut. Perbedaan itu adalah sebagai berikut:

a) Di antara para fuqaha ada yang tidak mewajibkan berniat pada puasa bulan Ramadhan, seperti az-Zuhri, Atha, dan Zufar. Mereka berpendapat bahwa puasa Ramadhan tidak memerlukan niat dari seorang muslim, ia hanya dituntut untuk menahan dan ia bisa disebut orang yang berpuasa.46 b) Menurut Imam Malik dan Syafi‟i, dalam berniat seseorang harus

menjelaskan puasa yang akan dilakukan itu, seperti puasa Ramadhan, nazar, dan yang lainnya.

44Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-shan‟ani, Subulussalam Sharah Bulughul Maram 2, (Jakarta:Darus Sunnah,2008), h. 114

45Kadar M. Yusuf, op.cit., h. 66

46Yusuf Qardhawi, op.cit., h. 101

(35)

c) Abu Hanifah menjelaskan, sah puasa Ramadhan dalam bulan Ramadhan dengan niat secara mutlak, tanpa menyebutkan Ramadhannya, seperti

“saya berpuasa besok.” Bahkan menurutnya, sah juga puasa Ramadhan dengan niat bukan puasa Ramadhan, kecuali bagi orang musafir. Jika seorang musafir berniat puasa selain Ramadhan dalam bulan Ramadhan maka puasanya itu sesuai dengan apa yang diniatkan. Sebab orang musafir tidak wajib melaksanakannya, maka puasa apapun yang dia niatkan maka tetap realitasnya puasa Ramadhan.47

Perbedaan pendapat ini dilatarbelakangi oleh berbedanya mereka dalam mengartikan niat. Bagi Maliki dan Syafi‟i, berniat tidak cukup dengan menjelaskan jenis suatu ibadah, tetapi perlu juga menjelaskan macamnya. Jadi, menurut mereka tidak cukup menjelaskan puasa secara mutlak, namun perlu juga menentukan puasa Ramadhan ataupun puasa nazar misalnya. Menurut Abu Hanifah, niat itu cukup menentukan jenis suatu ibadah, tidak perlu macamnya seperti puasa, kecuali jika terdapat lebih dari satu kemungkinan, maka seseorang perlu menentukan salah satu dari kemungkinan itu.

Selain dari perbedaan di atas, para ulama juga berbeda pendapat tentang kapan niat tersebut dilakukan:

a) Menurut Imam Malik, niat puasa itu harus dilakukan di malam hari sebelum fajar, baik puasa wajib maupun puasa sunnah.

b) Imam Syafi‟i menjelaskan, niat puasa wajib dilakukan di malam hari sebelum fajar dan niat puasa sunnah boleh dilakukan setelah fajar.

47Kadar M. Yusuf, op.cit., h. 77

(36)

c) Menurut Abu Hanifah, niat puasa baik wajib maupun sunnah, boleh dilakukan setelah fajar dengan syarat jika puasa itu mempunyai waktu yang telah ditentukan, seperti puasa Ramadhan dan puasa nazar pada waktu tertentu. Akan tetapi, jika puasa itu adalah puasa wajib yang tidak memiliki waktu tertentu, maka niat harus dikerjakan di malam hari sebelum fajar.48

d) Menurut mazhab Hambali. Mazhab ini mengharuskan niat dilakukan pada malam hari untuk semua jenis puasa wajib. Adapun puasa sunnah niat bisa dilakukan walaupun telah lewat waktu Zuhur (dengan syarat belum makan atau minum sedikitpun sejak fajar)49

Penyebab terjadinya perbedaan di atas adalah karena terdapatnya hadis mengenai itu yang bertentangan antara satu dengan yang lain.50

Hadis tersebut ialah:

اَ ْ نَع ُهَّللَا َيِضَر َيَِّنِمْؤُمْلَا ِّمُأ َةَصْفَح ْنَعَو َلاَق ملسو هيلع للها ىلص ِِّ َّنلَا ِنَع ,

: َْلَ ْنَم (

ُهَل َماَيِص َلاَف ِرْجَفْلَا َلْبَ ق َماَيِّصلَا ِتِّيَ بُ ي )

ُةَسْمَْلَْا ُواَوَر ) (

Artinya:“Dari Hafshah Ummul Mukminin bahwa Nabi SAW bersabda:

"Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya."(HR. Imam Lima).51

Dan hadis yang diriwayatkan oleh Muslim:

ْتَلاَق اَ ْ نَع ُهَّللَا َيِضَر َةَشِئاَع ْنَعَو :

َتاَذ ملسو هيلع للها ىلص ُِّ َّنلَا َّيَلَع َلَ َد (

ٍمْوَ ي َلاَقَ ف . ٌءْيَش ْمُكَدْنِع ْلَه : اَنْلُ ق ?

َلا : َلاَق . َرَ اًمْوَ ي اَناَتَأ َُّثُ ٌمِئاَص اًذِإ ِّ ِ َف : ,

48Ibid., h. 78

49Gus Arifin, op.cit., h. 93

50Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 3, (Bandung: PT Alma‟arif, 1978), h. 210

51Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-shan‟ani, loc.cit.,

(37)

اَنْلُقَ ف ٌسْيَح اَنَل َ ِدْهُأ : َلاَقَ ف ,

: ِهيِنيِرَأ َلَكَأَف اًمِئاَص ُتْحَبْصَأ ْدَقَلَ ف , )

ٌمِلْسُُااَوَر ) (

Artinya: “'Aisyah raberkata: Suatu hari Nabi SAW masuk ke rumahku, lalu beliau bertanya: "Apakah ada sesuatu padamu?" Aku menjawab:

Tidak ada. Beliau bersabda: "Kalau begitu aku puasa." Pada hari lain beliau mendatangi kami dan kami katakan: Kami diberi hadiah makanan hais (terbuat dari kurma, samin, dan susu kering). Beliau bersabda: "Tunjukkan padaku, sungguh tadi pagi aku puasa." Lalu beliau makan”.(HR. Muslim).52

Imam Malik melakukan tarjih terhadap kedua hadis ini. Maka yang rajih menurutnya adalah hadis Hafshah. Sedangkan Imam Syafi‟i melakukan jama‟ (kompromi) terhadap kedua hadis ini. Maka menurutnya, hadis Hafshah menunjukkan puasa wajib dan hadis Aisyah menunjukkan puasa sunnah.

Dengan demikian puasa wajib berniat di malam hari sebelum fajar, sedangkan puasa sunnah boleh berniat di siang hari sebelum tergelincir matahari. Adapun Abu Hanifah membedakan antara puasa wajib mu‟ayyan al-waqt (waktunya ditentukan) dengan puasa wajib fial-zimmah (dalam tanggungan). Menurutnya, yang pertama niatnya boleh setelah fajar, sedangkan yang terakhir niatnya harus sebelum fajar.53

2) Menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh di siang hari dalam bulan Ramadhan mulai dari imsak menjelang Subuh, hingga tenggelamnya matahari di sore hari (Magrib)

Yang termasuk dalam kategori makan dan minum adalah memakan sesuatu, atau memasukkan sesuatu ke mulut dengan sengaja sehingga masuk ke dalam pencernaan, walaupun yang melakukannya tidak merasa senang atau

52Ibid., h. 116

53Kadar M. Yusuf, op.cit., h. 79

(38)

merasa nikmat, seperti beberapa macam obat yang sengaja dimasukkan melalui mulut dengan diminum atau ditelan atau diisap. Sedangkan dalam kategori bersetubuh adalah mengeluarkan air mani (sperma) dengan cara disengaja yang dapat membangkitkan nafsu syahwatnya dan hal-hal lain yang dapat menimbulkan keluarnya mani, maka orang tersebut telah batal puasanya.54 b. Sunnah-Sunnah Puasa

1) Berbuka lebih awal

Disunnahkan bagi orang yang sedang berpuasa mempercepat berbuka.

Rasulullah SAW telah menganjurkan melakukan itu dengan memberikan contoh darinya, baik perkataan atau perbuatannya. Seperti sabda beliau:

ِّ ِ ِمْرِّ تلِلَو َلاَق ملسو هيلع للها ىلص ِِّ َّنلَا ِنَع هنع للها يضر َةَرْ يَرُه ِبَِأ ِثيِدَح ْنِم :

:

اًرْطِف ْمُ ُلَجْعَأ ََّلَِإ ِداَبِع ُّبَحَأ لَاَ ت ُهَّللَا َلاَق

Artinya: “Menurut riwayat Tirmidzi dari hadis Abu Hurairah rabahwa Nabi SAW bersabda: "Allah 'Azza wa Jalla berfirman: Hamba-hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah mereka yang paling menyegerakan berbuka."(HR. Tirmidzi).55

Beliau lebih menyukai cepat berbuka karena hal ini dapat mengandung kemudahan bagi manusia, beliau membenci lambat berbuka, karena hal tersebut dapat menyerupai sikap keterlaluan dalam beragama, yang biasa dilakukan oleh para pemeluk agama-agama yang lain.56

2) Sahur dan mengakhirkan waktu sahur

Hal yang disunnahkan Nabi bagi orang yang berpuasa adalah makan sahur dan mengakhirkannya. Sahur adalah memakan sesuatu pada waktu

54Yusuf Qardhawi, op.cit., h. 97

55Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-shan‟ani, op. cit., h. 119

56Ibid., h. 144

(39)

malam sebelum Subuh, yakni setelah tengah malam sampai fajar. Hal itu dimaksudkan agar dapat memberi kekuatan bagi orang yang berpuasa, baik rasa lapar, haus, khususnya pada waktu siang hari.57 Oleh karena itu beliau bersabda:

َلاَق هنع للها يضر ٍكِلاَم ِنْب ِسَنَأ ْنَعَو ملسو هيلع للها ىلص ِهَّللَا ُلوُسَر َلاَق :

ًةَكَرَ ب ِروُحَّسلَا ِفِ َّنِ َف اوُرَّحَسَت ( )

ِهْيَلَع ٌقَفَّ تُم ) (

Artinya:“Dari Anas Ibnu Malik rabahwa Rasulullah SAW bersabda:”Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan sahur itu ada berkahnya”. (Muttafaq Alaihi).58

3) Berbuka dengan kurma jika mudah diperoleh atau dengan air.

Jika tidak mendapati kurma, bisa digantikan dengan makan yang manis- manis. Di antara ulama ada yang menjelaskan bahwa dengan makan yang manis-manis (semacam kurma) ketika berbuka itu akan memulihkan kekuatan, sedangkan meminum air akan menyucikan.59

َلاَق ملسو هيلع للها ىلص ِِّ َّنلَا ِنَع هنع للها يضر ِِّّ َّ لَا ٍرِماَع ِنْب َناَمْلَس ْنَعَو :

اَذِإ (

ٌروُ َ ُهَّنِ َف ٍءاَم ىَلَع ْرِطْفُ يْلَ ف ْدَِ َْلَ ْنِ َفٍرَْتِ ىَلَع ْرِطْفُ يْلَ ف ْمُكُدَحَأ َرَطْفَأ )

ُةَسْمَْلَْا ُواَوَر ) (

Artinya: Dari Sulaiman Ibnu Amir Al-Dhabby bahwa Nabi SAW bersabda:

“Apabila seseorang di antara kamu berbuka, hendaknya ia berbuka dengan kurma, jika tidak mendapatkannya, hendaknya ia berbuka dengan air karena air itu suci." (Riwayat Imam Lima)60

4) Berdo‟a ketika berbuka

Ada tiga orang yang do‟anya tidak ditolak. Yaitu pemimpin yang adil,

57Gus Arifin, op.cit., h. 141

58KH. Ahmad Mudjab Mahalli, Hadis-Hadis Muttafaq Alaihi, (Jakarta: Kencana, 2003), h. 527

59Sayyid Sabiq, op.cit., h. 256

60Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqani, op.cit., h. 293

(40)

orang yang berpuasa ketika dia berbuka, do‟a orang yang terzalimi.Perlu diketahui bersama bahwa ketika berbuka puasa adalah salah satu waktu terkabulnya do‟a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.61

5) Lebih banyak berderma dan beribadah di bulan Ramadhan.

Dari Ibnu „Abbas ra, ia berkata:

َناَ َمَر ِفِ ُنوُكَي اَم ُدَوْجَأ َناَكَو ِْيَْْلْاِب ِساَّنلا َدَوْجَأ ملسو هيلع للها ىلص ُِّبَِّنلا َناَك َخِلَسْنَ ي َّتََّح َناَ َمَر ِفِ ٍةَلْ يَل َّلُك ُواَقْلَ ي ُمَلاَّسلا ِهْيَلَع ُليِْبِْج َناَكَو ُليِْبِْج ُواَقْلَ ي َيَِّح َناَك ُمَلاَّسلا ِهْيَلَع ُليِْبِْج ُهَيِقَل اَذِ َف ، َن ْرُقْلا ملسو هيلع للها ىلص ُِّبَِّنلا ِهْيَلَع ُ ِرْ َ ي ِةَلَسْرُمْلا ِحيِّرلا َنِم ِْيَْْلْاِب َدَوْجَأ ُّ ِراَ ُبْلَا ُواَوَر ).

(

Artinya: “Nabi SAW adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan.

Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril menemui beliau. Jibril datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al- Qur‟an) hingga Al-Qur‟an selesai dibacakan untuk Nabi SAW.

Apabila datang menemuinya, beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus”. (HR. Bukhari)62

4. Hal-hal yang Membatalkan Puasa a. Makan dan minum

b. Jima‟

c. Keluarnya mani (sperma) dengan nikmat d. Suntik

e. Muntah dengan sengaja

f. Keluarnya darah haid maupun nifas g. Berbekam

61Kadar M. Yusuf, op.cit., h.74

62Achmad Sunarto dkk, op.cit., h. 93

(41)

Kadar M. Yusuf menyebutkan dalam bukunya tafsir ayat ahkam, Ada beberapa hal yang dapat membatalkan puasa, yaitu makan dan minum, memasukkan sesuatu ke dalam rogga mulut, muntah dengan sengaja, mencampuri istri, mengeluarkan mani secara langsung, haid, dan murtad.63Jika seseorang makan atau minum karena lupa bahwa ia sedang berpuasa maka puasanya tidak batal. Mengenai ini Nabi Muhammad SAW bersabda:

َلاَق هنع للها يضر َةَرْ يَرُه ِبَِأ ْنَعَو ملسو هيلع للها ىلص ِهَّللَا ُلوُسَر َلاَق :

َوُهَو َيِسَن ْنَم (

ٌمِئاَص َبِرَش ْوَأ َلَكَأَف ,

ُهَمْوَص َّمِتُيْلَ ف , ُواَقَسَو ُهَّللَا ُهَمَ ْ َأ اََّنَِّ َف ,

) هْيَلَع ٌقَفَّ تُم ) (

Artinya: Dari Abu Hurairah rabahwa Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa lupa bahwa ia sedang puasa, lalu ia makan dan minum, hendaknya ia meneruskan puasanya, karena sesungguhnya ia telah diberi makan dan minum oleh Allah".(Muttafaq Alaihi).64

Demikian pula tidak batal puasanya karena keluar mani dengan tidak langsung, seperti keluarnya karena mengkhayal atau melihat dengan syahwat.

Akan tetapi, hal itu dapat mencederai pahala puasa.

Apabila seseorang melakukan salah satu dari hal yang membatalkan puasa, seperti yang telah disebutkan di atas, maka dia wajib mengqadha puasanya itu, kecuali jima‟(bersetubuh). Bersetubuh tidak cukup dengan mengqadha puasa itu saja, tetapi dia juga wajib membayar kafarat berupa memerdekakan budak, atau apabila dia tidak mampu atau budak tidak ada maka kepadanya diwajibkan berpuasa dua bulan berturut-turut dan jika tidak mampu juga maka wajib memberi makan enam puluh orang fakir miskin.

63Kadar M. Yusuf, loc.cit.,

64Syaikh Abdullah Abdurrahman Alu Bassam, Syarah Hadits Hukum Bukhari Muslim, Penerjemah: Arif Wahyudi dkk, (Jakarta: Pustaka As Sunnah, 2010), h. 484

(42)

َلاَق هنع للها يضر َةَرْ يَرُه ِبَِأ ْنَعَو :

َلاَقَ ف ملسو هيلع للها ىلص ِِّ َّنلَا َلَِإ ٌلُجَر َءاَج ( :

ِهَّللَا َلوُسَر اَي ُتْكَلَه َلاَق .

َكَكَلْهَأ اَمَو : َلاَق ?

َلاَقَ ف َناَ َمَر ِفِ ِ َأَرْمِا ىَلَع ُتْ َ قَو : :

ًةَبَ قَر ُقِتْ َ ت اَم ُدَِ ْلَه َلاَق ?

َلاَق َلا : َلاَق ِْيََّ ِباَتَتُم ِنْيَرْ َش َموُصَت ْنَأ ُييِطَتْسَت ْلَ َ ف :

َلا :

َلاَق َلاَق اًنيِكْسِم َيَِّّتِس ُمِ ْطُت اَم ُدَِ ْلَ َ ف : ملسو هيلع للها ىلص ُِّ َّنلَا ِ ُأَف َسَلَج َُّثُ َلا :

َلاَقَ ف ٌرَْتِ ِهيِف ٍ َرَ ِب َلاَقَ ف اَ َِ ْ َّدَصَت :

ُجَوْحَأ ٍتْيَ ب ُلْهَأ اَ ْ يَ تَ ب َلا َْيََّ ب اَمَف اَّنِم َرَقْ فَأ ىَلَعَأ :

َلاَق َُّثُ ُهُباَيْ نَأ ْتَدَب َّتََّح ملسو هيلع للها ىلص ُِّ َّنلَا َكِحَ َف اَّنِم ِهْيَلِإ ُهْمِ ْ َأَف ْبَهْذا :

َكَلْهَأ ٍمِلْسُمِل ُ ْفَّللاَو ُةَ ْ بَّسلَا ُواَوَر ))

(

Artinya:Abu Hurairah ra berkata: Ada seorang laki-laki menghadap Rasulullah SAW, lalu berkata: Wahai Rasulullah, aku telah celaka. Beliau bertanya:

“Apa yang mencelakakanmu?” Ia menjawab: Aku telah mencampuri istriku pada saat bulan Ramadhan. Beliau bertanya: “Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memerdekakan budak?” ia menjawab: Tidak.

Beliau bertanya:”Apakah engkau mampu puasa dua bulan berturut- turut?”Ia menjawab: Tidak. Lalu ia duduk, kemudian Nabi SAW memberinya sekeranjang kurma seraya bersabda: “Bersedekahlah dengan ini.”Ia berkata: “Apakah kepada orang yang lebih fakir daripada kami? Padahal antara dua batu hitam di Madinah tidak ada sebuah keluarga pun yang lebih memerlukannya daripada kami. Maka tertawalah Nabi SAW sampai terlihat gigi siungnya, kemudian bersabda:

“Pergilah dan berilah makan keluargamu dengan kurma itu”. (HR.

Imam Tujuh).65

Menurut Jumhur ulama fikih, membayar kafarat yang wajib dibayarkan karena telah bersetubuh siang hari di bulan Ramadhan harus dengan tertib (sesuai urutan) yaitu, memerdekakan budak. Jika tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu juga maka wajib memberi makan enam puluh orang miskin. Imam Malik berpendapat bahwa membayar kafarat tersebut berdasarkan takhyir (boleh memilih) antara membebaskan budak, berpuasa dua bulan atau memberi makan. Dengan melakukan salah satu dari tiga hal tersebut,

65Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqani, op.cit., h. 300

(43)

maka ia telah membayar kafarat.66

Mengenai siapa yang wajib membayar kafarat, Jumhur ulama berpendapat bahwa wanita dan laki-laki sama-sama berkewajiban membayar kafarat, selama keduanya menyengaja bersetubuh itu, dengan kemauan mereka sendiri bukan terpaksa di siang hari Ramadhan sambil meniatkan berpuasa. Jika bersetubuh itu terjadi dalam keadaan lupa atau kedua suami isteri itu dipaksa, atau mereka tidak berniat berpuasa, maka tidaklah wajib kafarat bagi seorangpun. Seandainya isteri dipaksa oleh suami, kafarat itu wajib atas suami dan tidak wajib atas isteri.Menurut mazhab Syafi‟i tidak wajib kafarat bagi wanita baik terjadinya dengan kemauan sendiri, maupun dalam keadaan terpaksa.Ia hanya wajib membayar qadhanya saja. Menurut Nawawi diwajibkan membayar satu kafarat saja yaitu khusus atas pihak suami, sedangkan isteri tidak perlu mengeluarkan sesuatu apapun serta tidak dibebani kewajiban, karena kafarat itu merupakan kewajiban mengenai harta yang khusus disebabkan bersetubuh, maka ia dibebankan kepada pihak suami semata tidak isteri sama halnya seperti mahar.67

Para ulama juga berbeda pendapat dalam menetapkan berbekam dan muntah sebagai sesuatu yang dapat membatalkan puasa. Perbedaan itu adalah:

a. Menurut Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Auza‟i, berbekam itu membatalkan puasa.

هنع للها يضر ٍسْوَأ ِنْب ِداَّدَش ْنَعَو ٍلُجَر ىَلَع ىَتَأ ملسو هيلع للها ىلص ِهَّللَا َلوُسَر َّنَأ (

َناَ َمَر ِفِ ُمِجَتَْ َوُهَو ِييِقَبْلاِب َلاَقَ ف .

ُموُجْحَمْلاَو ُمِجاَْ َا َرَطْفَأ : )

َّلاِإ ُةَسْمَْلَْا ُواَوَر )

ّ ِ ِمْرِّ تلَا (

66Yusuf Qardhawi, op.cit., h. 139

67Sayyid Sabiq, op.cit., h. 29

(44)

Artinya:Dari Syaddad Ibnu Aus bahwa Nabi SAW pernah melewati seseorang yang sedang berbekam pada bulan Ramadhan di Baqi', lalu beliau bersabda: "Batallah puasa orang yang membekam dan dibekam."(HR.

Imam Lima kecuali Tirmidzi).68

b. Menurut Imam Malik, Syafi‟i, dan at-Tsauri, berbekam itu makruh dan tidak membatalkan puasa.

َلاَق هنع للها يضر ٍكِلاَم ِنْب ِسَنَأ ْنَعَو ِمِئاَّصلِل ُةَماَجِْ َا ِتَهِرُك اَم ُلَّوَأ :(

ِبَِأ َنْب َرَفْ َج َّنَأ ;

ٌمِئاَص َوُهَو َمَجَتْحِا ٍبِلاَ

َلاَقَ ف ملسو هيلع للها ىلص ُِّ َّنلَا ِهِب َّرَمَف ,

":

ِناَ َه َرَطْفَأ

", َُّثُ

ِمِئاَّصلِل ِةَماَجِْ َا ِفِ ُدْ َ ب ملسو هيلع للها ىلص ُِّ َّنلَا َ َّ َر َوُهَو ُمِجَتَْ ٌسَنَأ َناَكَو ,

ٌمِئاَص ُِّنِْطُقَراَّدلَا ُواَوَر ))

(

Artinya:Anas Ibnu Malik raberkata: Pertama kali pembekaman bagi orang yang puasa itu dimakruhkan adalah ketika Ja'far Ibnu Abu Thalib berbekam sewaktu puasa. Lalu Nabi SAW melewatinya dan beliau bersabda:

"Batallah dua orang ini." Setelah itu Nabi SAW memberikan keringanan untuk berbekam bagi orang yang puasa.Dan Anas pernah berbekam ketika puasa.(HR. Daruquthni).69

c. Menurut Abu Hanifah, berbekam itu tidak makruh dan tidak pula membatalkan puasa.

اَمُ ْ نَع ُهَّللَا َيِضَر ٍساَّبَع ِنْبِا ِنَعَو ;

ٌمِرُْمَُوُهَو َمَجَتْحِا ملسو هيلع للها ىلص َِّ َّنلَا َّنَأ ( ,

ٌمِئاَص َوُهَو َمَجَتْحاَو )

ُّ ِراَ ُبْلَا ُواَوَر ) (

Artinya: “Dari Ibnu Abbas rabahwa Nabi SAW pernah berbekam dalam keadaan ihram dan pernah berbekam sewaktu puasa”.(HR. Bukhari).70

Adapun mengenai muntah, Jumhur ulama berpendapat, jika muntah itu disengaja maka puasa itu batal, tetapi jika tidak disengaja maka puasa tidak batal.

68Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqani, op.cit., h. 295

69Ibid., h. 296

70Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqani, loc.cit.,

Referensi

Dokumen terkait

Hasil evaluasi terhadap narasumber pelatihan menunjukkan bahwa lebih dari separuh peserta menyatakan narasumber pelatihan sangat baik, hal itu menggambarkan bahwa narasumber

3.5 Memahami manusia Indonesia dalam bentukbentuk dan sifat dinamika interaksi dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi 4.1 Menyajikan hasil • Pengamatan pengamatan

CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGGAMBAR PERSPEKTIF PADA MATA PELAJARAN SENI BUDAYA SISWA KELAS XI IPA 2 SMA NEGERI 2

produk baik Proses tidak terkendali dengan penentuan ukuran lot produksi pada sistem produksi yang mengalami deteriorasi dengan kriteria minimasi ongkos dengan proses

Dari hadis diatas rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya , agar menuntut ilmu, terutama sekali adalah ilmu agama kepada orang yang menguasai ilmu tersebut,

Menurut fuqaha dari kalangan mazhab hanafi, zina adalah hubungan seksual yang dilakukan seorang laki-laki secara sadar terhadap perempuan yang disertai nafsu

ARSITEKTUR, PERENC & PENGEMB KEBIJAKAN ITB L 351015 FAK.. MATEMATIKA &

HUBUNGAN PERSEPSI SISWA TERHADAP KOMPETENSI GURU DENGAN MOTIVASI BELAJAR