• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1 Saham

Saham dapat didefnisikan sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas (Darmadji, 2001:5-7). Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut.

Saham merupakan surat berharga yang paling popular dan dikenal luas di masyarakat. Umumnya saham yang dikenal sehari-hari merupakan saham biasa (common stock). Ada beberapa sudut pandang untuk membedakan saham :

a. Ditinjau dari segi kemampuan dalam Hak Tagih atau Klaim, maka saham terbagi atas :

1. Saham Biasa (common stocks), yaitu merupakan saham yang menempatkan pemiliknya paling yunior terhadap pembagian deviden, dan hak atas harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.

2. Saham Preferen (Preferred Stocks), merupakan saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan return tetap (seperti bunga obligasi), tetapi juga bisa tidak mendatangkan hasil seperti yang dikehendaki investor. Saham preferen serupa dengan saham biasa karena dua hal, yaitu : mewakili kepemilikan ekuitas dan diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo yang tertulis di atas lembaran saham tersebut; dan membayar dividen. Sedangkan persamaan antara saham preferen dengan obligasi terletak pada tiga hal : ada klaim atas laba dan aktiva sebelumnya; devidennya tetap selama masa berlaku (hidup) dari saham; memiliki hak tebus dan dapat dipertukarkan (convertible) dengan saham biasa. Oleh karena saham preferen diperdagangkan berdasarkan hasil yang ditawarkan kepada investor, maka secara praktis saham preferen dipandang sebagai surat berharga dengan return tetap dan karena itu akan bersaing dengan obligasi di pasar.

(2)

Walaupun demikian, obligasi perusahaan menduduki tempat yang lebih senior dibanding dengan saham preferen.

b. Dilihat dari cara peralihannya saham dapat dibedakan atas:

1. Saham atas unjuk (bearer stocks), artinya pada saham tersebut tidak tertulis nama pemiliknya, agar mudah dipindahtangankan dari satu investor ke investor lainnya. Secara hukum, siapa yang memegang saham tersebut, maka dialah diakui sebagai pemiliknya dan berhak untuk ikut hadir dalam RUPS.

2. Saham atas nama (registered stocks), merupakan saham yang ditulis dengan jelas siapa nama pemiliknya, di mana cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu.

c. Ditinjau dari kinerja perdagangan maka saham dapat dikategorikan atas : 3. Blue-Chip Stocks, yaitu saham biasa dari suatu perusahaan yang memiliki

reputasi tinggi, sebagai leader di industri sejenis, memiliki return yang stabil dan konsisten dalam membayar dividen.

4. Income Stocks, yaitu saham dari suatu emiten yang memiliki kemampuan membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata dividen yang dibayarkan pada tahun sebelumnya. Emiten seperti ini biasanya mampu menciptakan return yang lebih tinggi dan secara teratur membagikan deviden tunai. Emiten ini tidak suka menekan laba dan tidak mementingkan potensi pertumbuhan harga saham (P/E ratio).

5. Growth Stocks (well-known), yaitu saham-saham dari emiten yang memiliki pertumbuhan return yang tinggi, sebagai leader di industri sejenis yang mempunyai reputasi tinggi. Selain itu terdapat juga growth stocks (lesser-known), yaitu saham dari emiten yang tidak sebagai leader dalam industri namun memiliki cirri growth stock. Umumnya saham ini berasal dari daerah dan kurang popular di kalangan emiten.

6. Speculative Stocks, yaitu saham suatu perusahaan yang tidak bisa secara konsiten memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun, akan tetapi mempunyai kemungkinan penghasilan yang tinggi di masa mendatang, meskipun belum pasti.

(3)

7. Counter Cyclical Stocks, yaitu saham yang tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara umum. Pada saat resesi ekonomi, harga saham ini tetap tinggi, di mana emitennya mampu memberikan dividen yang tinggi sebagai akibat dari kemampuan emiten dalam memperoleh penghasilan yang tinggi pada masa resesi. Emiten seperti ini biasanya bergerak dalam produk yang sangat dan selalu dibutuhkan masyarakat seperti rokok, atau consumer goods.

2.2 Abnormal Return

Abnormal return adalah selisih antara tingkat keuntungan yang direalisasi (actual return) dengan tingkat keuntungan yang diharapkan (expected return) dari suatu saham (Lutfi dan Suhartini, 2002:34). Abnormal return dapat bernilai positif dan negatif. Abnormal return positif mengidentifikasikan bahwa actual return suatu saham lebih besar nilainya dibandingkan dengan expected return yang diprediksikan para investor. Sedangkan abnormal return negatif mengidentifikasikan bahwa actual return suatu saham selama periode tertentu lebih kecil dibandingkan dengan expected return yang diprediksikan oleh para investor (Rustamadji, 2001:40).

Actual return merupakan keuntungan yang dapat diterima atas investasi suatu saham pada suatu periode tertentu, secara matematis diformulasikan sebagai berikut (Lutfi dan Suhartini, 2002:34):

Keterangan :

Rj,t = return aktual saham j pada periode t Pj,t = harga saham Individual j pada peride t

Pj,t-1 = harga saham Individual j pada periode sebelumnya Expected return merupakan tingkat keuntungan yang diharapkan oleh investor atas investasi yang ditanamkannya. Expected return dapat ditentukan dengan beberapa teknik, tetapi ada 3 model yang sering digunakan, antara lain :

………. (2.1)





= 

−1 ,

, ,

t j

t j t

j P

Ln P R

(4)

a. Mean Adjusted Return

Jika suatu pasar efisien dan return saham berbeda-beda secara random diseputar nilai sebenarnya, maka rata-rata return dari suatu saham berasal dari perwakilan periode sebelumnya. Jika return mingguan yang digunakan maka abnormal return dapat diperoleh dari persamaan sebagai berikut :

Keterangan :

ARj,t = abnormal return saham j pada periode t

rj,t = return realisasi saham individual j pada periode t

rj, = rata-rata return saham individual j pada periode sebelumnya

b. Market Adjusted Return

Kerena pergerakan saham individual berhubungan dengan pergerakan umum dalam pasar, prosedur penyesuaian lain hanya memindahkan efek pasar pada return mingguan suatu sekuritas. Perhitungan abnormal return dapat diperoleh dari persamaan berikut :

Keterangan :

ARj,t = abnormal return saham j pada periode t

rj,t = return dari indeks saham individual pada periode t Rm,t = return dari indeks pasar pada periode t

c. Market Model Return

Suatu cara yang menjelaskan hubungan suatu saham dengan return suatu pasar dengan menggunakan bentuk regresi linear sederhana antara return saham dengan return pasar. Model expected return dapat dibentuk menggunakan teknik regresi OLS (Ordinary Least Square) dengan persamaan

ARj,t = rj,t – rj ………. (2.2)

ARj,t = rj,t – Rm,t ………. (2.2)

E (Rj,t) = αj + βj*Rmt j ……….. (2.3)

(5)

Keterangan :

E (j,t) = return yang diharapkan dari saham j pada minggu t

αj = intercept dari garis regresi atau tingkat keuntungan saham j βj = koefisien kemiringan (slope) dari garis regresi atau konstanta Rm,t = return market pada minggu t

εj = kesalahan residu saham j pada minggu t Untuk menghitung return market digunakan persamaan :

Keterangan :

Ln = log normal

LQ-45j,t = indeks LQ-45 pada minggu t LQ-45j,t-1 = indeks LQ-45 pada mingg t-1

Abnormal return dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :

Keterangan :

ARj,t = abnormal return saham j pada minggu t Rj,t = actual return saham j pada minggu t

E(Rj,t) = return yang diharapkan dari saham j pada minggu t

2.3 Portfolio Winner-Loser

Portfolio adalah gabungan kepemilikan lebih dari satu saham, obligasi, komoditi, investasi real estate, ekuivalen kas, atau aktiva lain oleh seseorang atau investor institusi (kamus lengkap ekonomi, 2000:1003). Saham-saham yang diperdagangkan di pasar modal, harganya akan berfluktuasi. Hal ini disebabkan oleh perubahan penilaian pelaku pasar terhadap nilai saham yang bersangkutan.

Sehingga untuk meminimalkan resiko, investor mulai membentuk portfolio yang terdiri dari sejumlah saham. Pada waktu pembentukan portfolio, investor memprediksikan bahwa saham-saham yang telah dipilih untuk dimasukkan dalam portfolio sudah merupakan portfolio yang terbaik. Tetapi, dalam kenyataannya

………. (2.4)

ARj,t = Rj,t – E(Rj,t) ……….. (2.5)





= −

−1 ,

,

, 45

45

t j

t j t

m LQ

Ln LQ R

(6)

dapat terjadi bahwa tingkat keuntungan yang diharapkan oleh investor atas sejumlah saham melebihi keuntungan yang diterimanya, sehingga abnormal return yang diperoleh investor atas portfolio yang dibentuknya bernilai negatif.

Sebaliknya, jika keuntungan yang diterima atas investasi sejumlah saham melebihi tingkat keuntungan yang diharapkannya maka abnormal return yang diperoleh investor atas portfolio yang dibentuknya bernilai positif.

Jadi dapat disimpulkan bahwa berdasarkan abnormal return, portfolio dapat digolongkan menjadi 2 yaitu portfolio winner dan portfolio loser. Portfolio Winner adalah portfolio yang terdiri dari saham-saham yang mempunyai abnormal return positif. Portfolio Loser adalah portfolio yang terdiri dari saham- saham yang mempunyai abnormal return negatif.

2.4 Informasi di Pasar Modal

Informasi adalah seperangkat pesan atau berita yang dapat digunakan untuk mengubah tindakan penerima dalam rangka meningkatkan kesejahteraan (Weston, 1991 :588). Informasi merupakan unsur penting `bagi investor dan pelaku bisnis karena informasi pada hakikatnya menyajikan keterangan, catatan atau gambaran, baik untuk keadaan masa lalu, saat ini maupun keadaan masa yang akan datang bagi kelangsungan suatu perusahaan. Oleh karena itu, informasi yang lengkap, relevan, akurat, dan tepat waktu sangat diperlukan oleh investor.

Pada dasarnya ada 3 jenis informasi utama yang perlu diketahui untuk para investor (Pakarti, 2001:89). Informasi yang pertama bersifat fundamental.

Informasi ini berkaitan dengan keadaan perusahaan, kondisi umum industri yang sejenis dan faktor-faktor intern lain yang dapat mempengaruhi kondisi dan prospek perusahaan tersebut dimasa yang akan datang, misalnya informasi tentang kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan kondisi financial perusahaan secara keseluruhan. Informasi kedua berhubungan dengan faktor- faktor teknis dimana informasi mencerminkan kondisi perdagangan efek, flutuasi kurs, dan volume transaksi tersebut. Informasi ini sangat penting bagi para pemodal untuk menentukan kapan suatu efek harus dibeli, dijual atau ditukar dengan saham lain agar dapat diperoleh keuntungan yang maksimal. Informasi

(7)

yang ketiga berkaitan dengan faktor lingkungan yang mencakup kondisi ekonomi, politik dan keamanan negara. Informasi yang terakhir ini perlu diketahui oleh para investor karena informasi tersebut dapat mempengaruhi prospek perusahaan serta perkembangan perdagangan saham, baik secara fundamental maupun teknis.

Informasi yang berkaitan erat dengan keputusan investasi di pasar modal tentunya tidak dapat diabaikan atau dilupakan bagi siapa saja yang berkecimpung dalam investasi. Supaya informasi, khususnya informasi yang menyangkut keuangan dan prestasi perusahaan bermanfaat, maka harus memiliki sifat sebagai berikut (Pakarti, 2001:92-93) :

a. Relevan

Informasi yang relevan adalah informasi yang berhubungan dengan tindakan yang direncanakan untuk dicapai.

b. Akurat

Sifat ini pada dasarnya berkaitan erat dengan pengukuran dan pemrosesannya.

Informasi yang bebas dari kesalahan adalah informasi yang akurat, sehingga kualitas informasi sangat di pengaruhi oleh tingkat keakuratannya.

c. Konsistens/komparabilitas

Informasi diperlukan karena adanya ketidakpastian. Ketidakpastian berkaitan dengan waktu sekarang dan waktu yang akan datang. Kualitas informasi akan bertambah jika informasi tersebut dapat dipertimbangkan dari waktu ke waktu atau dengan informasi lain.

d. Obyektivitas

Obyektivitas ini berkaitan dengan pengukuran yang dapat diulang oleh pihak yang independen dengan menggunakan metode pengkuran yang sama.

e. Ketepatan waktu

Ketepatan waktu ini berkaitan dengan umur informasi. Umur informasi sangat mempengaruhi kualitas informasi.

f. Dapat dimengerti

Sifat ini berhubungan dengan kemampuan pemakai untuk dapat menangkap pesan yang disampaikan. Informasi ini akan bermanfaat kalau pemakai dapat mengerti makna yang terkandung di dalamnya.

(8)

Secara umum dapat dikatakan bahwa informasi berguna jika dapat membantu penilai dalam mengambil keputusan, termasuk keputusan investasi. Dengan kata lain, seorang pengambil keputusan (investor) akan membuat keputusan yang lebih baik jika menggunakan informasi yang tepat.

2.5 Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan perlu diketahui supaya dapat membedakan secara kuantitatif antara perusahaan besar dan kecil. Besar kecilnya perusahaan dapat mempengaruhi kemampuan mengoperasikan perusahaan dalam berbagai situasi dan kondisi yang dihadapi.

Menurut Ferri dan Jones, ukuran perusahaan dapat diukur dengan 2 cara yakni: berdasarkan total rata-rata asset atau rata-rata total penjualan untuk tahun yang bersangkutan (dikutip dari Alemamawati, 2001:9). Selain itu, menurut Alex Weis (www.teenanalyst.com), pada dasarnya untuk mengukur besaran suatu perusahaan (ukuran perusahaan) dapat digunakan nilai kapitalisasi pasar (market capitalization). Nilai kapitalisasi pasar (market capitalization) dapat diperoleh dengan cara mengalikan jumlah saham yang beredar dengan harga pasar saham (closing price).

Nilai kapitalisasi pasar memberi kemungkinan posisi yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada nilai bukunya. Keadaan itu tergantung dari persepsi pelaku pasar saham dalam menentukan permintaan dan penawaran saham.

Nilai kapitalisasi pasar dapat dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan kapitalisasinya yaitu (Farchan dan Sunarto, 2002:68)

1. Kapitalisasi besar (big-cap)

Saham yang berkapitalisasi besar (big-cap) merupakan saham yang nilai kapitalisasi pasarnya lebih besar atau sama dengan Rp 5 triliun. Saham yang berkapitalisasi besar inilah yang disebut sebagai saham blue-chip atau saham lapis pertama.

Pada umumnya saham-saham blue-chip merupakan saham perusahaan yang mempunyai prestasi jangka panjang atas return dan dividen serta

(9)

merupakan perusahaan yang besar yang juga menjadi leader di bidang industrinya.

Saham kelompok ini kebanyakan menjadi incaran investor untuk investasi jangka panjang karena potensi pertumbuhan perusahaan yang mengangumkan disamping pembagian dividen serta eksposure resiko yang relatif rendah. Sehingga saham-saham blue-chip banyak peminatnya dan berdampak pada harga saham yang relatif tinggi.

2. Kapitalisasi sedang (mid-cap)

Saham yang berkapitalisasi sedang (mid-cap) merupakan saham yang memiliki nilai kapitalisasi antara Rp 1 triliun sampai dengan kurang dari Rp 5 triliun. Saham kelompok ini memberikan daya tarik tersendiri bagi investor karena disamping return on investment yang relatif besar juga harga saham yang cenderung stabil.

Pada umumnya perusahaan-perusahaan yang berkapitalisasi sedang adalah perusahaan-perusahaan yang cukup besar dan telah berada di industrinya untuk jangka waktu lama.

3. Kapitalisasi kecil (small-cap)

Saham yang termasuk kelompok ini adalah saham-saham yang memiliki nilai kapitalisasi pasar kurang dari Rp 1 triliun. Saham kelompok ini menjanjikan return on investment yang tinggi karena harga relatif murah namun disertai dengan resiko yang besar pula.

Pada umumnya saham kelompok ini harga sahamnya relatif stabil dan sebagian besar sahamnya tidak pernah ditransaksikan dalam waktu cukup lama atau dengan frekuensi perdagangan 1-2 kali sebulan, sehingga saham tersebut sering disebut saham tidur.

Saham-saham kelompok lapis tiga ini tidak banyak terpengaruh oleh kebijakan keuangan negara, tetapi justru lebih banyak dipengaruhi oleh aksi emiten, seperti akuisisi dan issue sejenisnya. Pengaruh kebijakan ekonomi domestik secara keseluruhan dan pengaruh ekonomi global yang tidak signifikan umumnya tidak mempengaruhi atau sedikit sekali pengaruhnya

(10)

terhadap saham kelompok small-cap dan bahkan terjadi pengaruh yang sebaliknya (negatif).

2.6 Market Overreaction

Istilah overreaction mengacu pada perbandingan secara implicit yang mencerminkan seberapa besar reaksi investor terhadap suatu kejadian (event) telah dipertimbangkan secara tepat. Berapa besar suatu reaksi dinilai tepat? Konsep yang tepat dalam pengukuran ini mengacu pada persoalan revisi probabilitas Bayesian (Bayes’s rule) yang menunjukkan koreksi reaksi terhadap suatu informasi baru. Individu akan merevisi keyakinannya dengan cenderung menekankan pada informasi baru daripada informasi lama (De Bondt dan Thaler,1985:793).

Konsep market overreaction sebenarnya berasal dari psikologi eksperimental, dimana Kahneman dan Tversky (dikutip dari Chan, 1988: 148) dalam penelitiannya membuktikan bahwa manusia memiliki sifat untuk memberikan reaksi secara berlebihan bagi beberapa kejadian yang tidak terduga atau dramatis.

Penelitian psikologis telah menunjukkan bahwa otak menggunakan jalan pintas untuk mengurangi kerumitan dalam menganalisa informasi. Jalan pintas ini memungkinkan otak menghasilkan perkiraan jawaban sebelum mencerna semua informasi yang tersedia secara penuh. Dua contoh jalan pintas tersebut dikenal sebagai representativeness dan familiarity. Representativeness merupakan penilaian berdasarkan kemiripan. Maksudnya, otak membuat asumsi bahwa hal- hal yang mempunyai kualitas sama merupakan hal yang mirip. Familiarity merupakan penilaian berdasarkan hal-hal sudah tidak asing lagi/ dikenal.

Maksudnya, otak menggunakan jalan pintas kemiripan (familiarity) untuk mengevaluasi investasi. Ini bisa menyebabkan kita menginvestasikan terlalu banyak uang di saham yang paling familiar bagi kita. Menggunakan jalan pintas memungkinkan otak untuk mengatur dan memproses sejumlah besar informasi secara cepat. Bagaimanapun juga, jalan pintas ini juga menyulitkan para investor untuk menganalisa informasi baru sehingga mengarah ke kesimpulan yang salah.

(11)

Fenomena overreaction mencerminkan perilaku investor yang “tidak rasional” sehingga akan terjadi koreksi terhadap harga saham pada periode selanjutnya. Tidak rasional dalam konteks ini didefinisikan sebagai keterbatasan pengetahuan investor terhadap setiap kejadian (event), sehingga mereka tidak dapat menentukan perilaku secara tepat (rasional). Perilaku investor yang “tidak rasional” lebih dikarenakan ketidaktahuan mereka terhadap efek dari suatu informasi. Jadi semakin rendah pengetahuan investor terhadap efek dari informasi baru maka semakin besar kecenderungan terjadi overreaction.

De Bondt dan Thaler memperlihatkan bahwa dalam jangka panjang return mengalami perubahan arah secara signifikan. Khususnya, saham-saham yang menghasilkan return terendah (the losers) selama 3 sampai 5 tahun sebelumnya (periode pembentukan) memiliki kinerja lebih baik selama 3 sampai 5 tahun berikutnya (periode pengujian) dibanding saham-saham yang sebelumnya memiliki return tertinggi (the winner).

De Bondt dan Thaler menginterpretasikan hal ini sebagai akibat perilaku investor yang tidak rasional. Mereka mendasarkan pada teori psikologi yang menyatakan bahwa pada saat investor merevisi prospek mereka, mereka cenderung memberi tekanan lebih besar terhadap informasi terbaru dan memberi tekanan lebih kecil terhadap informasi masa lalu. Hal ini mengakibatkan investor terlalu optimis terhadap berita bagus dan terlalu pesimis terhadap berita buruk.

Kondisi ini mengakibatkan secara umum harga pasar saham menyimpang dari nilai fundamentalnya atau harga pasar saham tidak dalam kondisi ekuilibrium, khususnya jika terdapat informasi baru atau kejadian ekstrim. Sebagai contoh, pada saat berita buruk atas suatu saham masuk ke pasar, investor cenderung panik dan selanjutnya menjual saham tersebut. Tekanan jual yang berlebihan akan menyebabkan harga saham terlalu rendah. Akan tetapi, setelah melewati beberapa waktu tertentu investor mulai sadar bahwa mereka memberikan reaksi berlebihan dan selanjutnya melakukan koreksi terhadap harga saham tersebut. Sebagai akibatnya, saham yang mengalami kerugian pada periode sebelumnya akan memperoleh keuntungan pada periode berikutnya. Fenomena inilah yang disebut sebagai market overreaction.

(12)

2.7 Hubungan Besaran Perusahaan Terhadap Terjadinya Market Overreaction

Harga saham mencerminkan nilai suatu perusahaan. Harga saham yang terjadi di pasar modal berfluktuasi. Hal ini disebabkan oleh perubahan penilaian pelaku pasar terhadap nilai saham yang bersangkutan. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan harga saham di pasar modal diantaranya kondisi perekonomian suatu negara, situasi politik, kebijaksanaan yang dikeluarkan pemerintah dan kinerja perusahaan tersebut. Oleh karena itu, para pelaku pasar tidak senantiasa mengutamakan pertimbangan fundamental dalam pemilihan saham, tetapi bergantung pada kondisi di dalam maupun luar bursa.

Dalam keadaan normal, yaitu tidak ada informasi yang beredar, keyakinan para pelaku pasar untuk membeli atau menjual saham, tentunya didasarkan pada pertimbangan fundamental atau prospek perusahaan publik tersebut di masa datang. Sedangkan ketika ada informasi terutama yang berkaitan dengan kondisi ekonomi dan politik, pertimbangan fundamental pun dikebelakangkan. Hal ini dikarenakan informasi tersebut membuat orang sukar menerka arah gerak harga saham sehingga resiko menjadi prioritas pertama dan return menjadi prioritas kedua.

Informasi akan memainkan peran utama dalam keadaan yang tidak normal karena pertimbangan resiko dan return berubah. Dalam keadaan tidak normal, keputusan untuk beli atau jual tidak lagi didasarkan pada pertimbangan rasional (dilandaskan pada pertimbangan fundamental perusahaan), tetapi didasarkan pada pertimbangan emosional. Rasionalitas investor dalam memilih saham dapat diukur dengan sejauh mana mereka dapat menentukan pilihannya untuk mendapatkan return yang maksimal dengan resiko tertentu. Adanya informasi, baik yang dipersepsikan sebagai kabar baik (good news) maupun buruk (bad news) dapat membuat investor cenderung memberikan reaksi yang berlebihan (overreact). Bila ada informasi baru, investor cenderung melakukan transaksi saham yang mendasarkan pada kecenderungan ramai-ramai jual/beli sehingga mendorong harga saham berada diatas/dibawah harga ‘wajarnya’. Fenomena ini

(13)

ditunjukkan dengan terjadinya koreksi harga pada periode pengujian yaitu harga saham yang bergerak berlawanan pada saham-saham dalam portfolio loser maupun winner.

Perbedaan tersedianya informasi relevan juga menjadi salah satu pemicu terjadinya market overreaction, sehingga antisipasi pasar belum pasti sama untuk berbagai ukuran perusahaan. Hal ini dikarenakan informasi mengenai keadaan perusahaan dan faktor-faktor intern pada perusahaan besar lebih mudah didapat dibandingkan perusahaan kecil. Biasanya sebelum perusahaan besar mempublikasikan laporan keuangannya sebagai bentuk informasi untuk membantu investor dalam mengambil keputusan investasi, beberapa media cetak dan elektronik telah mempublikasinya, misalnya berupa laporan keuangan sementara yang belum diaudit, baik laporan triwulan maupun tengah tahunan.

Beberapa media, baik media cetak maupun elektronik, cenderung untuk menyusun dan menyebarkan informasi tentang perusahaan berukuran besar daripada kecil.

Selain itu, para analis dan broker lebih terdorong untuk mencari informasi tentang perusahaan besar dalam melayani investor karena investor pada umumnya lebih banyak memegang saham-saham perusahaan yang mempunyai nilai kapitasalisasi pasar yang besar sebagai investasi utama. Perbedaan dorongan untuk selalu mencari informasi tentang kinerja perusahaan besar berakibat perusahaan emiten besar lebih informatif dibandingkan perusahaan kecil. Berdasarkan kondisi inilah, maka ketika perusahaan berukuran besar mempublikasikan laporan keuangan tahunan, isi informasi yang terkandung dalam laporan tahunan sebagian besar sudah dapat diantisipasi oleh pasar atau telah dibocorkan. Dengan adanya kebocoran informasi sebelum dipublikasikan, dapat mengakibatkan isi informasi yang terkandung dalam publikasi laporan keuangan tahunan tersisa sebagian kecil saja. Pada perusahaan-perusahaan kecil cenderung berlaku sebaliknya. Informasi tentang kinerja perusahaan kecil hampir tidak pernah dipublikasikan. Kurangnya informasi ini menyebabkan resiko berinvestasi menjadi lebih besar pada perusahaan kecil. Konsekuensinya, ketika ada informasi mengenai kinerja atau hal-hal yang berhubungan dengan perusahaan kecil akan mengakibatkan reaksi pasar yang lebih besar dibandingkan dengan event yang sama atas perusahaan

(14)

besar. Reaksi pasar yang lebih besar ini akan ditunjukkan oleh perubahan nilai kapitalisasi yang signifikan pada saat informasi dipublikasi. Perbedaan nilai kapitalisasi yang signifikan ini menunjukkan bahwa terjadinya market overreaction lebih pada saham-saham perusahaan kecil.

2.8 Kerangka Pemikiran

2.9 Hipotesa

Hipotesa pertama :

H1.1: Portfolio losers menghasilkan abnormal return positif

Market overreaction terjadi apabila terjadi pembalikan kinerja pada portfolio loser sebagai akibat adanya informasi yang beredar di pasar.

H1.2 Portfolio winner menghasilkan abnormal return negatif

Market overreaction terjadi apabila terjadi pembalikan kinerja pada portfolio winner sebagai akibat adanya informasi yang beredar di pasar.

Hipotesa kedua :

H2 : Besaran perusahaan mempengaruhi secara signifikan terhadap terjadinya market overreaction

Adanya perbedaan nilai kapitalisasi pasar ketika informasi beredar di pasar menyebabkan terjadinya market overreaction.

Market Overreaction Saham

Portfolio Loser Portfolio Winner

Besar Sedang Kecil

Besaran Perusahaan Nilai Kapitalisasi

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian yang telah di paparkan terdahulu maka berikut ini pe- nulis akan menguraikan inti dari bentuk kesimpulan adalah sebagai berikut bahwa dalam penerapan sangsi

Perhitungan interaksi lambung (hull), propeller dan gaya dorong kapal Interaksi antara hull atau badan kapal dengan propeller ini untuk  menentukan gaya dorong atau trust

Bobot potong ayam broiler meningkat dengan pe- nambahan ampas VCO sampai dengan level 2,0% tapi belum berpengaruh secara nyata terhadap bobot dan persentase karkas, dan

Defenisi Istilah 4.1 Rencana pembelajaran semester (RPS) adalah rencana proses pembelajaran yang disusun untuk kegiatan pembelajaran selama satu semester guna memenuhi

PENYELENGGARA PENELITI KOMITE PENILAI DAN/ REVIEWER PROPOSAL KOMITE PENILAI DAN/ REVIEWER KELUARAN PENELITIAN Pengajuan Proposal Berbasis SBK Output Proposal Pedoman

Untuk itu uluran tangan semua pihak akan dapat m elancarkan program pem bangunan Dayah Jeumala Amal dalam program pendidikan terpadu guna mempersiapkan generasi

yang berkembang di Jawa umumnya berarah barat-timur, maka secara teoritis dapat diinterpretasikan kelu- rusan struktur dengan arah barat- timur sebagai sesar naik

Berdasarkan penelitian yang bersifat deskriptif untuk mengetahui gambaran kandungan zat gizi pada beras hitam kultivar Toraja Sulawesi Selatan, didapatkan hasil