SENI ARSITEKTUR MASJID SYUHADA DESA DUSUN TERUSAN KECAMATAN MARO SEBO ILIR
KABUPATEN BATANG HARI
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S-1)
Dalam Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam
Oleh AL FADLI NIM: AS.110989
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
2018/2019
MOTTO
1
18. hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
1 Tafsir.com
PEMSEMBAHAN
UNTUK AYAH DAN IBUKU
(Semoga Mereka Selalu Dalam Keadaan Sehat) Amiin Ya Rabbal’Alamin
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis diberikan kekuatan dan kekurangan dalam menyelesaikan skripsi ini dengan judul. “Seni Arsitektur Masjid As- Suhada Desa Dusun Terusan Kecamatan Maro Sebo Ilir Kabupaten Batang Hari”.
Shalawat teriring salam selalu tercurahkan kepada Rasullah Muhammad SAW bererta para sahabat, keluarga dan umatnya sepanjang zaman, Amin ya rabbal ‘alamin.
Selama penyusunan dan penulisan ini, penulis banyak mendapat bantuan, dukungan dan masukan, baik berupa ide ataupun saran dari berbagai pihak. Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terimah kasih yang teristimewa kepada orang tuaku yang selalu memberikan cinta, do’a dan motivasinya yang luar biasa. Selanjutnya, ucapan terimahkasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan terutama kepada Bapak Drs. Sayuti, S. M. Pd. I selaku Pembimbing Skripsi I dan Bapak Muhammad Nur, S.Sos, M. Sy selaku Pembimbing Skripsi II yang selalu memberikan koreksi dan masukan kesempurnaan skripsi ini, terimah kasih sekali saya ucapkan.
Selanjutnya tak lupa pula penulis menyampaikan rasa terimah kasih yang sebesar- besarnya kepada Bapak Dr. H. Hadri Hasan, MA selaku Rektor IAIN Jambi, Selanjutnya Ibu Prof. Dr. Hj. Maisah. M. Pd. I selaku Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, Wakil Dekan I, Wakil Dekan II, Wakil Dekan III, Bapak Aliyas, M. Fil. I, yang luar biasa selaku Ketua Jurusan dan Bapak Agus Fiadi, M. Si selaku Sekretaris Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, serta para karyawan dan karyawati Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin
Jambi yang telah bersusah payah memberikan pelayanan dan berbagi urusan bagi penulis dalam penyelasain dan penyusunan skripsi.
Akhir kata, penulis memohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, Kritik dan Saran sangat diharapkan untuk hasil yang lebih baik dikemudian hari. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Amiin ya rabbal
‘alamin.
Jambi, 23 Jaunuari 2018 Penulis
Al Fadli
NIM: AS.110989
ABSTRAK
Al Fadli, Seni Arsitektur Masjid Syuhada Desa Dusun Terusan, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Batanghari, Skripsi, Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sulthan Thaha Jambi. Pembimbing (1) Drs. Sayuti, S.
M.Pd. I(II) Muhammad Nur, S.Sos, M.Sy.
Penelitian ini dilatar belakangi tentang keinginan penulis untuk meneliti lebih mendalam mengenai seni arsitektur masjid Syuhada di Desa Dusun Terusan, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Kabupaten Batanghari, selain pola arsitektur yang unik. Masjid ini juga tertua di desa dusun Terusan yang berdiri pada tahun 1918 dan yang lebih menarik lagi masjid As-suhada ini dibangun tepat di tepi sungai Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera, dimana pada saat itu sungai Batang hari dahulu menjadi peradaban dan sebagai jalur primadona transportasi air pada saat itu.
Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan bagaimana sejarah masjid Syuhada di desa dusun Terusan, Bagaiamana seni arsitektur bangunan masjid Syuhada, dan bagaimana pola desain masjid Syuhada desa dusun Terusan, Kecamatan Maro Sebo Ilir Kabupaten Batanghari.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kebudayaan dan kualitatif deskriptif, menggambarkan dan menceritakan apa saja yang dialami penulis dengan mendeskripsikan dalam sebuah tulisan, mengenai seni arsitektur masjid Syuhada, data yang diperoleh adalah hasil wawancara mendalam bertempat di desa dusun Terusan, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Kabupaten Batanghari.
Hasilnya adalah masjid Syuhada di desa dusun terusan, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Kabupaten Batanghari adalah masjid tertua di desa dusun terusan yang dibangun pada tahun 1918 kemudian di renovasi pada tahun 1933 dengan tukang kebangsaan China dari Singapore pada masa Belanda. Arsitektur masjid Syuhada ini mengalami akulturasi budaya, kebudayaan melayu bahkan dari menara dan kubah ada kemiripan dengan kubah masjid yang ada di Turki dan Persia. Mengenai pola desain, bentuk, ruang dan kubah masjid Syuhada di desa dusun terusan kecamatan maro sebo ilir kabupaten Batanghari ini adalah yaitu secara umum adalah perwujudan rasa syukur, kepasrahan, dan penyerahan diri terhadap kebesaran Allah SWT, dan jika melihat secara keseluruhan betapa megahnya masjid ini merupakan anugrah dari Allah SWT.
Kata Kunci: Seni, Arsitektur, Banguna Masjid
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...
NOTA DINAS ...
PENGESAHAN ...
SURAT PERYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI ...
MOTTO ...
PERSEMBAHAN ...
KATA PENGANTAR ...
ABSTRAK ...
DAFTAR ISI ...
BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang ... 1
b. Batasan Masalah ... 8
c. Tujuan Penelitian ... 9
d. Manfaat Penelitan ... 9
e. Tinjaun Penelitian Sebelumnya ... 10
f. Kajian Teori ... 11
BAB II METOLOGI PENELITIAN 1. Seting Penelitian ... 20
2. Jenis dan Sumber Data ... 20
3. Penelitian Informan ... 22
4. Metode Pengumpulan Data ... 23
5. Teknik Analisis Data ... 27
6. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data ... 30
7. Penyusunan Laporan ... 31
8. Jadwal Penelitian ... 32
BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN a. Sejarah dan Letak Geografis Dusun Terusan ... 34
b. Mata Pencaharian ... 34
c. Agama dan Sarana Pendidikan ... 36
BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELTIAN a. Sejarah Masjid As-suhada Desa Dusun Terusan ... 40
b. Arsitektur Bangunan Masjid As-suhada Desa Dusun Terusan ... 43
c. Pola Desain Masjid As-suhada Desa Dusun Terusan ... 50
a) Pola Desain Masjid As-Suhada ... 50
b) Bentuk Masjid As-Suhada ... 52
c) Ruang dalam dan Ornamen Masjid As-suhada ... 54
d) Kubah Masjid As-suhada ... 55
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 57
B. Kata Penutup ... 58
DAFTAR PUSTAKA ... 59
LAMPIRAN ... 60
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu bentuk arsitektur2 yang umum nya di kenal bagi masyarakat islam adalah bangunan masjid. Masjid merupakan bangunan yang penting dan tidak dapat di pisahkan dari segala aspek sosial dan budaya masyarakat. Fungsi masjid tidak lagi hanya sekedar tempat untuk melakukan hubungan ritual3 antara manusia dan tuhan nya, tetapi juga berfungsi sebagai tempat melakukan hubungan antar manusia, bahkan dapat digunakan untuk mencari ilmu4. Hakikat dari masjid itu merupakan tempat melakukan segala aktifitas yang berkaitan dengan kepatuhan dengan Allah SWT sesuai dengan ajaran Islam. Lebih jauhnya masjid itu bukan hanya khusus sebagia tempat shalat beserta rangakaian aktifitas yang berkaitan dengan shalat tetapi lebih jauh diartikat sebagai tempat melaksanakan segala aktifitas kaum muslimin berkaitan dengan kepatuhan kepada Tuhan.5
1Menurut Abdul Rochym adalah salah sutu segi kebudayaan yang menyeruh segi kemanusiaan secara langsung, yang dengan sendirinya mengandung faktor pelaksanaan kehidupan manusia. Hal tersebut dapat berupa gambaran dari corak kehidupan mayarakat dari segala kelengkapannya seperti masa kehidupannya, latar belakangnya, pembentukan kebudayaan serta bagaimana kehidupan tersebut direalisasikan ke dalam bentuk-bentuk fisik bangunan, karya seni dan bentuk kepercayaan. Abdul Rochym. Sejarah Arsitektur Islam: Sebuah Tinjauan, (Bandung:
Angkasa, 1983), hlm. 2.
2Hornby mengemukakan, ritual adalah kata sifat (adjective) dari rites. Sebagai kata sifat ritual berarti segala yang dihubungkan atau disangkutkan dengan upacara keagamaan, seperti ritual dance, ritual laws. Sedangkan sebagai kata benda adalah segala yang bersifat upacara keagamaan, seperti upacara gereja Katolik. Bustanuddin Agus, Agama dalam kehidupan masyarakat : Pengantar Antropologi Agama, ( Jakarta : PT. RajaGrafindoPersada, 2006 ), hlm.96.
4 Zein M. Wiryoprawiro, Perkembangan Arsitektur Masjid di Jawa Timur, ( surabaya:
PT. Bina Ilmu, 1989 ), hlm.155.
5 Yulianto Sumalyo, Arsitektur Masjid dan monumen Sejarah Islam ( Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006 ), hlm. 1.
Masjid juga diartikan sebagai tempat syiar Islam yang bertujuan memajukan umat Islam dalam segala aspek kehidupan sosial budaya seperti kegiatan kegiatan pengajian dan ceramah agama yang rutin dilaksanakan pihak pengelola masjid maupun politik.6
Begitu luas dan pentingnya peran masjid tersebut tentunya menjadikan masjid sendiri memiliki nilai arsip visual dari gambaran kehidupan manusia yang melahirkannya sesuai dengan zamannya. 7 Sebagai aspek kultural yang melengkapi suatu wujud dari segala aktifitas manusia, masjid telah mengisi sejarah perkembangan para sulthan yang kaya dan penuh kharisma dalam kekuasaannya juga berhasil pada bangunan – bangunan masjid dan arsitektur lainnya.8
Masjid merupakan salah satu peninggalan arkeologi masa Islam yang merupakan simbol dari adanya pemukiman muslim di suatu tempat. Tak hanya itu, masjid dengan berbagai gaya bentuk bangunannya serta seni arsitekturnya juga mewakili suatu kebudayaan9 bagi masyarakat sekitarnya.
Masuknya Islam dan sejalan dengan perkembangannya di Indonesia telah memberikan pengaruh pada pola dan alam pikiran kehidupan masyarakatnya.
6 A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, ( Jakarta: Bulan Bintang, 1983 ), hlm. 143.
7 Berkaitan dengan nilai arsip visual dan masjid itu sendiri, M. Syaom Barliana menerangkan bahwa dalam arsitektur masjid mengandung dua unsur, yaitu sebagai kristalisasi nilai dan pandangan hidup masyarakat Muslim, dan sekaligus sebagai pembentuk manusia- manusia yang sesuai dengan nilai dan pandangan hudup masyarakatnya itu sendiri. Lihat M.
Syaom Barliana, Perkembangan Arsitektur Masjid: Suatu transformasi Bentuk dan Ruang, ( Bandung, 2008), hlm. 5. Lihat juga Jurnal HISTORIA, Vol IX, No. 2, Desember208.
8 Abdul Rochym, Sejarah Arsitektur Islam: Sebuah tinjauan, hlm.16.
9 Kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa Koentjaraningrat menambahkan bahwa kebudayaan itu ada tiga wujud, yaitu (1) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan, dan sebagainya. (2)Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas dan serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. (3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990 ), hlm. 181, dan hlm. 186-187.
Pengaruh tersebut tidak hanya terbatas pada bidang mental spiritual saja, tetapi juga masuk dalam pola pikir serta kreatifitas yang dilakukan masyarakat. Salah satu bentuk pengaruh itu ditandai dengan munculnya seni bangunan Islam berupa bangunan masjid.
Masjid muncul sebagai pusat kegiatan keislaman yang merupakan perpaduan dari fungsi bangunan sebagai unsur arsitektur islam yang berpedoman pada ketentuan – ketentuan yang diperintahkan oleh tuhan sebagai tempat pelaksanaan ajaran Islam, dengan bangunan sebagai ungkapan tertinggi dari nilai – nilai luhur dari suatu kehidupan manusia yang juga melaksanakan ajaran Islam, sehingga wujud nyata bangunan masjid sebagai aplikasi dari seni arsitektur Islam menjadi kian lengkap, dengan bentuk gaya, corak, dan penampilannya di setiap kurun waktu, setiap daerah, lingkungan kehidupan dengan adat dan kebiasaan, serta latar belakang manusia yang menciptakannya.
Pada awalnya masjid tidak dibentuk bangunan khusus sebagai karya arsitektur tertentu. Berdasarkan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim RA menyebutkan, bahwa : “Kepada Jabir bin Abdullah Al-Anshary, Nabi menerangkan bahwa bumi ini bagiku bersih dan boleh dijadikan tempat untuk sembahyang, maka dimanapun seseorang berada bolehlah ia sembahyang apabila waktunya tiba, 10 maka masjid bisa berarti sekedar sebuah batu atau hamparan rumput savana, atau lapangan padang pasir yang dikelilingi bangunan serambi seperti “Masjid lapangan”11 yang pertama kali dibangun oleh Nabi
10 Hussein Bahreisj, Hadist Sahih Bukhari Muslim, ( Karya Utama , 1982).
11 Lihat M. Syaom Barliana, Perkembangan Arsitektur Masjid: Suatu Transformasi bentuk dan ruang, hlm. 3. Oloan Situmorang, Seni Rupa IslamPertumbuhan dan Perkembangannya ( Bandung: Angkasa), hlm. 22.
Muhammad SWA sebagai lambang syiar Islam yang dikenal dengan masjid An- Nabawi di Madinah. Tetapi perkembangan berikutnya, pola masjid lapangan tersebut justru diikuti oleh banyak bangunan masjid terutama di kawasan timur tengah seperti pasjid Damaskus (Suriah), masjid Qairawan atau Kairouan (Tunisia) yang di bangun oleh Uqbah bin Nafi’ pada tahun 670-675 M, Masjid Sammara (Irak), dan Masjid Ibnu Tulun (Kairo, Mesir). Maka pola masjid lapangan inilah yang kemudian menjadi pola dasar susunan arsitektur bagi masjid- masjid di masa berikutnya.12
Perkembangan bangunan masjid selanjutnya, beberapa masjid yang telah disebutkan diatas ternyata memiliki bangunan yang ramping yang menjulang tinggi dan difungsikan sebagai tempat mengumandangkan adzan dan dikenal dengan sebutan menara atau minaret (Arab: ma’zan). Padahal pada awal pendirian masjid Nabi belum mengenal menara sebagai tempat adzan. Barulah disekitar tahun 45 H (665-666 M) untuk pertama kalinya dibangun sebuah menara sebagai tempat adzan, berupa bangunan ramping dan tinggi yang dimasukkan sebagai bagian dari bangunan masjid. Bangunan menara yang pertama kalinya di bangun di Masjid Besar Basrah.13 Begitupun dengan pemakaian kubah atau qubhat.
Kubah sebagai salah satu bagian dalam arsitektur masjid sebagai penutup bagian atas ataupun atap masjid yang secara umum berupa atap setengah lingkaran dan pada umumnya juga pada bagian puncak tengah lingkaran kubah tersebut terdapat
12 Oloan Situmorang, Seni Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, hlm.22.
13 Gagasan utama timbulnya ide membangun sebuah menara sebagai bagian yang integral dengan bangunan masjid ini adalah melihat dari oerilaku seorang sahabat, Bilal bin Rabah, seorang kulit hitam berasal dari Abbesenia yang masuk Islam, ia dikenal sebagai Muadzin-nya di zaman Rasulullah. Kalau hendak mengumandangkan adzan, ia selalu mencari tempat yang tinggi dan dengan memanjat atap bangunan yang berada di sekitar masjid. Oloan Situmorang, Seni rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembanganya, hlm. 21.
lambang bulan sabit dan ditengahnya terdapat bintang : keduanya ditopang oleh sebuah tongkat.14 Sebagainama penuturan K.A.C Cresswell mengatakan “ bentuk pertama masjid madinah (Masjid Nabawi) belum menggunakan kubah. Desain masjid pertama umat islam itu sangat sederhana, “hanya berbentuk segi empat dengan dinding pembatas di sekelilingnya. Penerapan bentuk atap kubah baru pertama kali ditemukan pada bangunan Qubhat Al-Sakhra (Dome Of The Rock) di Jerussalem (687 M) dan Kubah pada bangunan masjid Jami’ Damaskus.15
Seiring berkembangnya Islam dalam masa dan kurun waktu yang ikut bergulir ternyata membawa perkembangan dan pengaruh yang makin meluas pula terutama di masa Dinasti Umayyah yang menggalakkan pembangunan- pembanguna baik istana maupun masjid ataupun bangunan penting lainnya lengkap dengan taman-taman yang indah. Beberapa bangunan tersebut memiliki gaya campuran yang pengaruhnya berasal dari Syiria-Bizantium dan Persia- Sassania seperti bangunan Masjid Ummayah yaitu Masjid Jama’al Umawi di Damaskus dan Qubhat al-Sakharadi Jerussalem.16 Begitu pula di Indonesia pengaruh terhadap gaya bangunan masjidnya kebanyakan dari corak Persia- Sassania. Hal ini dapat terlihat pada gaya kubahnya yang khas antara kubah Masjid Istiqlal dan bangunan Cut Amir di Samarkand (1405 M).17
14 Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembanganya, hlm. 25.
15Dalam sejarah Islam, pemakaian bentuk kubah ini pertama kali ditemukan pada makam istri Nabi Muhammad bernama Maimunah binti Harist, yang meninggal pada 65 H atau Tahun 680 M. Penemuan ini adalah suatu bukti munculnya suatu pemakaian bentuk atap kubah sebagai salah satu corak bangunan Islam. Tetapi dikutip dari tulisan Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, hlm. 25-26.
16 Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, hlm. 25-26.
17 Ibid., hlm. 25-26.
Munculnya arsitektur masjid di Indonesia, tentu berhubungan erat dengan munculnya masyarakat Muslim. Jika ada teori yang mengatakan, bahwa kedatangan Islam dan terbentuknya kelompok Muslim yang pertama di Indonesia adalah abad VII atau VIII Masehi, maka seharusnya jejak saat itu pula lah sudah ada bangunan masjid yang didirikan. Begitu pula, jika ada pendapat bahwa adanya pemukiman Muslim di Indonesia pada abad XIII Masehi, tentu waktu itu sudah ada masjid-masjid yang didirikan. Tetapi Uka Tjandrasasmita menjelaskan
“sampai sekarang belum ditemukan sisa-siasa peninggalan bangunan masjid di masa itu, sehingga arsitekturnya pun tidak bisa dibicarakan”. 18 Uka juga menambahkan dalam penjelasannya tersebut “Masjid terkuno19 di Indonesia, dilihat dari segi arsitekturnya, menunjukan ciri-ciri abad XVI, XVII, dan XVIII Masehi.
Masjid masjid di Indonesia didirikan selain karena dorongan dari tauhid dan iman, tentu juga disebabkan oleh faktor-faktor alam. Hujan lebat, panas terik, dan gangguan binatang sebagaimana berlaku juga pada pendirian bangunan tempat tinggal serta faktor-faktor yang bisa mengganggu kekhusyukan saat beribadah, merupakan faktor-faktor yang lain yang tidak dapat diabaikan sebagai hasrat dalam mendirikan bangunan masjid tersebut. Dengan kata lain, yang demikian itu dapat dianggap sebagai munculnya pengertian masjid yang sekunder, berupa bangunan, sebagai karya arsitektur. Maka wajar saja jika di Indonesia dengan segala kondisi alam dan lingkungannya, bangunan bangunan masjidnya
18 Uka Tjandrasasmita, “Masjid-masjid di Indonesia”, (dalam nafas Islam: Kebudayaan Indonesia, Joop Ave, Jakarta: Jayakarta Agung Offset, 1991, hlm. 48).
19Di Indonesia mengenal istilah untuk benda-benda peninggalan sejarah dengan istilah kuno, maka masjid-masjid yang tergolong dalam umur yang cukup lama, juga termasuk dalam istilah tersebut yaitu masjid kuno.
tentu memiliki khas gaya arsitektur sendiri yang merupakan hasil dari tradisi masyarakat pribumi seperti yang kita kenal dengan bangunan atap yang berundak20. Hal ini dapat dilihat pada masjid-masjid kuno di Indonesia yang masih memiliki konsep bujur sangkar atau persegi panjang menyerupai Joglo21. Bangunan luar tampak tertutup dengan atap berbentuk limas tunggal atau besusun ganjil, contohnya pada Masjid Kudus dan Masjid Pancasila yang dibangun pada masa Soeharto.
Pada dasarnya dalam Islam tidak memiliki konsep arsitektur baku (memaksa) dan harus memiliki ciri seragam seperti harus ada pemakaian kubah baru dapat dikatakan itu adalah bangunan masjid atau bentuk lainnya,22 bahkan karena sifatnya yang universal, umat Islam bebas membangun masjid dengan coraknya masing-masing. Tak ada bentuk arsitektur atau ornamental baku kecuali kiblatnya. Namun bagi umat Islam masjid adalah “Rumah Allah” yang harus dimuliakan dan inilah yang menjadi faktor kenapa harus ada curahan yang optimal baik dalam hal keterampilan teknologi, estetika, dan falsafah ketika masjid itu dibangun dan sepanjang rangkaian sejarah arsitektur Islam tidak hanya
20 Salah satu bangunan peninggalan budaya Nusantara berbentuk susunan tumpang tindih atau bertingat-tingkat. Atap yang berundak adalah bentuk atap yang bersusun keatas, makin keatas makin kecil dengan bagian atasnya yang berbentuk limas. Jumlah susunannya ganjil atau gasa, biasanya tiga atau lima undak seperti yang terdapat pada masjid Banten. Sekali-kali terdapat pula atap yang bersusun dua undak, tetapi yang demikian ini dinamakan tumpang satu, jadi tetap gasal.
Dikutip dari Abdul Rochym, Masjid Islam dalam karya arsitektur Nasional Indonesia, (Bandung:
Angkasa, 1995), hlm. 55. Lihat juga Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1973) hlm. 75
21 Rumah adat faerah Jawa Tengah.
22 Hal ini sejalan dengan pernyataan Mangunwijaya, bahwa meski buah (hasil karya) arsitektur yang tumbuh dari pohon penghayatan keagamaan biasanya menampakan arti sejati yang di ilhami oleh kedalaman jiwa manusia yang peka dimensi kosmologis, namun kita harus hati-hati dikala menghubungkan suatu predikat “ciri keagamaan” tertentu pada suatu perwujudan bentuk- bentuk arsitektur tertentu dengan predikat Islam atau Kristen misalnya, baru boleh disebut arsitektur dengan predikat Islam atau Kristen jika setiap kepada suatu rangkaian bentuk-bentuk arsitektur. Y. B. Mangunwijaya, Wastu Citra, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013), hlm. 84.
bangunan masjid melainkan juga bangunan-bangunan penting lainnya seperti istana para sultan.
Melihat dari beberapa khasanah seni arsitektur khususnya pada bangunan masjid di Indonesia sungguh menunjukan suatu kebudayaan yang sangat penuh apresiasi sehingga menunjukan betapa Islam berkembang tak hanya membawa ajaran-ajaran yang bersipat kajian keagamaan saja melainkan juga pengaruh terhadap ide-ide, meskipun ide-ide tersebut juga hasil dari gabungan konsep- konsep yang telah ada, dalam hal ini di Desa Dusun Terusan, memiliki salah satu bangunan masjid yang tua yang dikenal dengan nama masjid Syuhada di bangun pada tahun 1933 dan merupakan peninggalan pada masa kolonial Belanda. Selain masjid tersebut merupakan peninggalan kolonial belanda bahwa dari bentuk dan arsitektur masjid tersebut berbeda dengan masjid secara umum yang berada dikecamatan maro sebo ilir khususnya Berangkat dari ketertarikan inilah peneliti ingin menuangkannya dalam sebuah skripsi yang berjudul “seni arsitektur masjid Syuhada Desa Dusun Terusan Kecamatan Maro Sebo Ilir Kabupaten Batang Hari”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi fokus pada penelitan ini yaitu memetakan pola seni arsitektur masjid yang ada di Desa Dusun Terusan.
Untuk itu masalahnya dibatasi kepada arsitektur bangunan yang mendominasi dari ciri bentuk baik itu bentuk atap atau kubah, dan lengkungan yang ada pada masjid Dusun Terusan. Maka bertitik tolak dari batasan tersebut pemasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan menjadi sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah masjid Syuhada di Desa Dusun Terusan ?
2. Bagaimana seni arsitektur bangunan masjid Syuhada di Desa Dusun Terusan ?
3. Bagaimana pola desain arsitektur masjid Syuhada di Desa Dusun Terusan
?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara umum bagaimana pola seni arsitektur bangunan masjid di Desa Dusun Terusan. Selain itu, tujuan penelitian ini dapat diketahui nya unsur-unsur (lokal atau asing) yang mempengaruhi arsitektur masjid. Tujuan penelitian ini diharapkan juga untuk mengetahui kultur masyarakat sekitar yang berperan aktif dalam pendirian masjid tersebut.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini pada dasarnya tetap terkait dengan tujuan penelitian itu sendiri. Adapun manfaatnya sebagai berikut :
1. Secara teoritis untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan mengenai sejarah dan kebudayaan Islam serta peninggalannya di jambi yang harus dilestarikan keberadaannya, khususnya masjid yang ada di Desa Dusun Terusan yang merupakan salah satu perwujudan seni budaya Islam.
2. Secara praktis untuk menambah bahan informasi bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya yang ingin mengetahui
bagaimana seni arsitektur bangunan masjid yang ada di Desa Dusun Terusan.
E. Tinjauan Penelitian Sebelumnya
Penelitian yang terkait dengan seni arsitektur bangunan masjid belum banyak dilakukan terutama di daerah jambi khususnya, terlebih yang memakai konsep memetakan tipologi bentuk bangunan di suatu kawasan. Namun ada sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh Abdul Basid berjudul Kecenderungan Tipologi Arsitektur Majid di Kota Malang23 yang membahas berbagai macam bentuk bangunan masjid Kota Malang, bentuk dasar dari tipologi arsitektur masjid di Kota Malang, dan seberapa jauh pengaruh arsitektur dunia melalui teknologi informasi dan bangunan terhadap kecenderungan arsitektur masjid di Kota Malang. Penelitian tersebut tentu berbeda dengan penelitian ini, meskipun konsep pemetaan terhadap seni arsitektur bangunan masjid tetapi hanya khusus di Kota Malang bukan di jambi apalagi di Desa Dusun Terusan.
Karya Oloan Situmorang dengan judul Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya.24 Buku ini memuat pembahasan tentang perkembangan seni rupa Islam dan salah satu yang luas adalah seni bangunan dalam kesenian Islam.
Secara spesifik menjabarkan bagaimana perkembangan seni arsitektur baik berupa masjid dan monumen sejarah muslim di dunia. Buku ini di gunakan dalam penelitian sebagai alat bantu untuk menganalisa seni arsitektur bangunan Masjid di Desa Dusun Terusan.
23 Abdul Basid, Kecenderungan Tipologi Arsitektur Majid di Kota Malang, (artikel Malang: Lemlitbang UIN Malang,2012lemlitbang.uin-malang.ac.id).
24 Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya.
F. LANDASAN TEORI a. Seni Islam dan Arsitektur
1. Pengertian Seni
Seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dalam perantaraan alat komunikasi ke bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengaran (seni suara), penglihatan (seni rupa, lukis), atau dilahirkan dengan perantara gerak (seni tari, drama). 25 Terkait dengan pembahasan ini tentang masjid adalah sebagai bagian dari umat Islam maka seni disini mengarah pada pengertian kesenian Islam.
Seni Islam 26 merupakan karya seniman yang mengandung dan mengungkapkan keindahan, nilai arsistik dan estetika yang pada sutu segi mengekspresikan pandangan dunia dan pandangan hidup islami dalam ruang dan waktu.27 Proses penciptaan seni Islam itu sendiri adalah bagian dari proses pengabdian atau ibadah kepada Allah SWT yang pada dasarnya mengandung unsur-unsur pengagungan (tahmid), dan penyucian (tasbil) terhadap nya, serta penghormatan (Sholawat) untuk Muhammad SWA sekaligus penyebaran kedamaian (salam) bagi seluruh mahluk-Nya. Dengan kata lain proses penciptaan
25 Abdurrahman Al-Bagdhadi, Seni Dalam Pandangan Islam, (Jakarta, Gema Insani Press, 2001), hlm. 13. Disadur dari Ensiklopedia Indonesia, Jilid V, (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru-Van Houve), hlm. 3080-3081.
26 Tokoh-tokoh Islam turut menerangkan pengertian seni melalui pandangan Islam diantaranya: Menurut Quraish Shihab, seni adalah keindahan yang merupakan ekspresi ruh dan budaya manusia dan lahir dari sisi terdalam manusia dan didorong oleh kecenderungan seniman kepada yang indah, apapun jenis keindahan itu. Dorongan tersebut merupan naluri manusia, atau fitrah yang dianugerahkan Allah SWT kepada hamba-hamba Nya. Lihat M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 385. Menurut Yusuf Al-Qardhawi, seni adalah merasakan dan mengungkapkan keindahan. Lihat Yusuf Qardhawi, Islam Bicara Seni, Terj,Wahid Ahmadi, dkk, (Solo: Intermedia, 1998), hlm. 13.
27 Yusiono, Islam dan Kebudayaan Indonesia, Cet I, (Jakarta: Yayasan Festifal Astiqlal, 1993), hlm. 34. Lihat juga pendapat anshori dalam Sutiono, Pribumisasi Islam Melalui Seni Budaya Jawa, (Yogyakarta: Insan Persada, 2010).
seni Islam harus mengandung proses tazkiah (pembersihan spiritual) yang merupakan esensi ibadah.28
Harmoto membagi seni berdasarkan sifatnya kedalam tiga jenis yaitu:
a) Seni rupa, yang artinya adalah penciptaan keindahan yang mampu berkomunikasi dengan penikmatnya terutama melalui mata. Termasuk di dalam seni rupa adalah jenis lukis, seni patung, arsitektur, dan kerajinan.
b) Seni gerak meliputi seni tari dan seni panggung atau teater.
c) Seni suara meliputi seni vokal dan seni musik.29
Dari pembagian tersebut maka arsitektur adalah termasuk dalam ruang lingkup seni rupa dan masjid menjadi objek bangunan yang di kaji sehingga ini adalah penelitian tentang khasanah kesenian Islam yang berfokus pada arsitektur bangunan masjid sebagai objek kajiannya.
2. Pengertian Arsitektur
Seni Bangunan (arsitektur) menurut Abdul Rochym adalah salah satu segi kebudayaan yang menyentuh segi kemanusiaan secara langsung yang dengan sendirinya mengandung faktor pelaksanaan kehidipan manusia. Hal tersebut dapat berupa gambaran dari corak kehidupan masyarakat dari segala kelengkapannya seperti masa kehidupannya, latar belakangnya, pembentukan kebudayaan serta bagaimana kehidupan tersebut direalisasikan kedalam bentuk-bentuk fisik bangunan, karya seni dan bentuk kepercayaan.30 Hal ini tentu dalam suatu karya fisik tersebut akan mengandung duatu makna secara simbolik baik pada bentuk
28 Armahedi Mazhar, Islam Masa Depan, (Bandung:Penerbit Pustaka, 1993), hlm. 17.
29 Hartomo, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), hlm. 40.
30 Abdul Rochym. Sejarah Arsitektur Islam: Sebuah Tinjauan, hlm. 2.
atau bagian tertentu maupun struktur bangunan tersebut secara keseluruhan.
Begitu pula arsitektur Islam31 yang juga merupakan salah satu gaya arsitektur yang tak hanya menampilan keindahan namun juga kaya akan makna.
Berikut gagasan para tokoh intlektual yang mengerti tentang sejarah arstiketur masjid di Indonesia. Sutjipto mengemukakan gagasan bahwa model masjid kuno di Indonesia berasal dari bangunan tradisional Jawa yang bernama pendopo (Dendapa). Istilah pendopo berasal dari kata mandapa dalam bahasa Sangsekerta yang mengacu pada suatu bagian dari kuil Hindu di India yang berbentuk persegi dan dibangun langsung di atas tanah. Di Indonesia, arsitektur mandapat tersebut dimodifikasi menjadi sebuah ruang besar dan terbuka yang sering digunakan untuk menerima tamu yang kemudian dinamakan pendopo.
Denah pendopo yang bujur sangkar itulah yang menjadi alasan bagi Sutjipto untuk menduganya sebagai model masjid-masjid tua di Indonesia
3. Pengertian Pola Dalam Arsitektur
Berkaitan dengan pola arsitektur, pola yang dimaksudkan disni lebih kepada suatu model dari bentuk arsitektur itu. Biasanya diterjemahkan ke dalam tipe-tipe atau mazhab-mazhab berdasarkan pengaruh dari perkembangan zaman dan kondisi arsitektur di daerah atau negara dimana masjid tersebut berada. Perlu diingat sebagaimana keterangan diatas bahwa arsitektur sangat terkait dan menyentuh segi kemanusiaan secara langsung, yang dengan sendirinya
31 Menurut Achmad Noe’man ketika diwawancarai oleh Agus S. Ekomadyo tentang Islamic Architecture, Noe’man menjawab, “Islamic architecture is architecture that doesn’t have no contradiction with Qur’an and Sunnah”. Dikuti dari Agus S. Ekomadyo, Islam Indonesianity,and moderenity in architecture og Achmad Noe’man: Representing modern Islamic Movoment Narration Beyond the modern Islamic architecture Heritage in Indonesia, makalah disampaikan dalam internasional Symposium of modern Asia architecture Network: (mAAN III), Surabaya: Petra Universit, 2003, hlm. 1.
mengandung faktor pelaksanaan kehidupan manusia. Dengan demikian, selain foktor alam suatu karya arsitektur tersebut akan berwujud sebagaimana keadaan dari masyarakatnya, mka sudah tentu disetiap suatu daerah atau negara-negara yang mendapat pengaruh Islam khususnya di luar negara-negara Arab, memiliki corak atau pola bentuk arsitektur bangunan masjid tersendiri bahkan berberda dengan daerah asalnya Islam itu (Arab).
Dalam dinamika perkembangan kebudayaan, umat muslim sangat memegang peran penting dalam bentuk universal dari pola arsitektur Islam terutama pada sosok tampilan masjid. Ciri universal tersebut menurut Achmad Fanani adalah kubah, minaret atau menara, lengkungan, dan kaligrafi.32 Bila diamati dari bentuk dan ciri-ciri tersebut mengandung ciri pembeda antara satu wilayah sengan wilayah lainnya. Untuk mempermudah kajian ini pengelompokan dari ciri universal tersebut memakai penjelasan dari Oloan Situmorang yang telah membagi berbagai pola bentuk bangunan masjid menjadi beberapa aliran atau madzhab yang sesuai dengan kondisi dari masing-masing daerahnya. Beberapa aliran atau madzhab tersebut adalah :
1) Aliran Arab : daerah pengembangannya adalah Arab Saudi, Kuait, Mesir, Yaman, Yordania, Palestina, Libya, Syiria.
2) Aliram Moor : daerah pengembangannya adalah Maroko, Tunisia, Algeria/Aljazair dan Spanyol.
32 Unsur kubah, minaret, kelengkungan, dan kaligrafi telah menyatukan tampilan arsitektur masjid seakan menjadi sama corak. Semua itu bukan semata-mata benda sucu yang perlu diistimewakan. Keberadaannya memiliki peran dan fungsi serta petanda. Lihat Achmad Fanani, Arsitektur Masjid, (Yogyakarta:Bentang, 2009), hlm. 18.
3) Aliran Turki : daerah pengembangannya adalah Turki, Semenanjung Balkan, sebagian Eropa Timur, beberapa bagian Selatan Uni Soviet seperti Balusistan, Kirgistan, dan Turkistan.
4) Aliran Persia : daerah pengembangannya adalah Irak dan Iran.
5) Aliran India : daerah pengembangannya adalah India, Pakistan, Afganistan, Bangladesh.
6) Aliran Indonesia : daerah pengembangannya adalah Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam, daerah Filipina, bagian Selatan atau disebut denga Kepulauan Mindanao.
7) Aliran Tiongkok : daerah pengembangannya adalah Tiongkok (Cina), Korea, dan Jepang.33
Dalam proses pengelompokan ini Oloan Sitimorang membaginya berdasarkan bentuk kubah, menara, dan lengkungan.34
a) Atap/Kubah
Atap atau Kubah bagi masjid menjadi salah satu item bangunan yang sangat penting dan sudah terasosiasi sebagai bagian dari pada arsitektur masjid.
Meskipun ditinjau dari segi sejarah penggunaan kubah sebelumnya telah lebih dulu digunakan oleh Bangsa Romawi dan Yunani.
b) Menara
Bentuk menara masjid terkait pada aliran-aliran yang ada dalam pengelompokan kubah masjid. Meskipun demikian menara-menara tersebut secara umum banyak yang terpengaruh satu sama lain. Kalau pun ada yang
33 Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, hlm. 18.
34 Ibid., hlm. 28-58.
berbeda, itu hanyalah sekedar penyelesaian dengan selera arsitektur modern masa kini. Terutama di Indonesia, menurut Mangunwijaya, “manusia Indonesia seumumnya bersifat ekliktik (suka campuran), maka tak heran jika bentuk masjid- masjid kita pun begaya campuran.”35 jadi wajar saja ketika melihat bentuk dari menara Kudus kelihatan ada akulturasi budaya Hindu dengan atap tumpang merupakan asal dari pola candi.
35 Y. B . Mangunwijaya, Wastu Citra, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013), hlm. 93.
c) Lengkungan
Disamping kubah sebagai bentuk atap lengkungan (setengah lingkaran) masjid, kita dapat menemukan pula pentuk pintu atau jendela masjid yang berbentuk lengkung. Oloan menyebutnya dalam istilah lengkung tapak kuda.36 Bentuk lengkung pintu atau jendela tapak kuda setengah lingkaran ini telah lama dipakai sebagai ciri khusus bentuk pintu, jendela maupun portal (lengkungan- lengkungan dalam masjid), sebagai ciri khusus dalam unsur arsitektur masjid yang tersapat disemua negara-negara Islam maupun negara lainyang ada bangunan masjidnya. Lengkung-lengkung tersebut memiliki bentuk yang bervariasi sesuai dengan daerah asal bangunan masjid tersebut. Jadi, perbedaan tersebut berdasarkan aliran atau Madzhab daerah perkembangannya, sehingga bentuk lengkung-lengkung tersebut bercorak Arab, Moor, Turki, Persia, India, dan lain sebagainya. Dan biasanya lengkung-lengkung pintu atau jendela ini memiliki keserasian dengan bentuk kubahnya. Dikatakan demikian bahwa kubah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap bentuk lengkungan tersebut, bahkan memiliki kebersamaan bentuk yang searah. Karena kebersamaan tersebut maka melahirkan suatu keselarasan pandangan yang menyatu dalam sebuah bangunan masjid dan menimbulkan sinar keagungan dan keindahan dari masjid tersebut.
Oloan mengamati keseluruan pola bentuk baik pintu maupun jendela bangunan masjid dari setiap daerah sesuai dengan aliran atau madzhab daerah
36 Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, hlm. 38.
perkembangannya,37 maka ia menyimpulkan bahwa corak lengkungan masjid itu dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
a. Corak Lengkung Tunggal
Corak lengkung tunggal dapat ditemui pada bangunan masjid beraliran, Arab, Turki, Persia, India, dan Indonesia, misalnya : Masjid Ibnu Tulun, Al- Azhar, Khirbet al-Mafraj.
b. Corak Lengkung Ganda
Corak ini umumnya ditemukan pada aliran Moor, pada corak ini terlihat kombinasi lengkungan-lengkungan yang amat sangat bervariasi, misalnya : Masjid Alcazar, Sevilla, dan Al-Hambra, Andalusia.
4. Pengertian Masjid
Masjid sebagai suatu bangunan tentunya merupan arsip visual dari gambaran kehidupan manusia yang melahirkannya sesuai dengan zamannya.38 Pendefinisia kata masjid disini di ambil dari pendapat Yulianti Sumalyo yang memaknai hakikat dari masjid itu merupakan tempat melakukan segala aktifitas yang berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah SWT. Sehingga pengertian lebih jauhnya masjid itu bukan hanya khusus tempat shalat beserta rangkaian aktifitas yang berkaitan dengan shalat tetapi lebih jauh diartikan sebagai tempat melaksanakan segala aktifitas kaum muslimin berkaitan dengan kepatuhan kepada Tuhan.39 Berkaitan dengan arsitektural, menurut Pijper, konsep bangunan masjid di Indonesia mulanya memiliki ciri-ciri khusus seperti berdenah persegi panjang,
37 Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, hlm. 39.
38 Abdul Rochym. Sejarah Arsitektur Islam : Sebuah Tinjauan, hlm. 16.
39 Yulianto Sumalyo, Arsitektur Masjid dan Monumen Sejarah Islam, hlm. 1.
mempunyai serambi di depan atau di samping ruang utama, mempunya mihrab di sisi Barat, mempunyai pagar keliling dengan satu pintu dan berapa tumpang.40
5. Pengertian Kebudayaan
Arsitektur terkait sekali dengan segi kehidupan manusia, dan berupakan bagian dari kebudayaan. Kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa.41 Koentjaraningrat mengatakan bahwa kebudayaan itu ada tiga wujud yaitu (1) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan, dan sebagainya. (2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. (3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.42
Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa kebudayaan dapat dikaitkan denga wujud bangunan karena dengan adanya kebudayaan yang bersifat nyata dapat mewujudkan suatu kelakuan yang berfungsi untuk memahami dan menafsirkan lingkungan yang dihadapi. Kelakuan ini menghasilkan benda-benda kebudayaan, seperti bangunan-bangunan lama berupa candi atau masjid tua.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori semiotika. Teori semiotika adalah teori yang dimana sebagai sebuah sistem tanda sign) yang memiliki dimensi tata susunan (structure atau syntactic) dan dimensi makna (meaning). Teori ini merupakan jalan yang ditempuh oleh arsitektur dalam pengkajian arsitektur sebagai sebuah medan kegiatan memproduksi pengetahuan (arsitektur) dalam arti mengenal lebih jauh dari makna filosofis
40 G. F. Pijper, Beberapa Studi Tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1959 (Jakarta: UI Press, 1984), hlm. 27. Lihat juga Uka Tjandrasasmita, “Masjid-masjid di Indonesia”, (dalam Nafas Islam: Kebudayaan Indonesia, Joop Ave, Jakarta Agung Offset, 1991, hlm. 57).
41 Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta Rineka Cipta, 1990), hlm. 181
42 Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, hlm. 186-187
yang terkandung dari suatu bangunan. Teori ini yang dianggap cocok untuk menganalisis pola desain arsitektur masjid as-suhuda di desa terusan.
BAB II
METODE PENELITIAN 1. Seting Penelitian
Penelitian ini berlokasi di Maro Sebo di Desa Terusan. Metode penelitian ini merupakan metode penelitian kualitatif atau penelitian lapangan Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode budaya dengan pendekatan historis.
Mengkaji lebih mendalam tentang pola seni arsitektur masjid yang ada di Desa Dusun Terusan.
2. Jenis dan Sumber Data A. Jenis Data
Data yang penulis kumpulkan terdiri dari data primer dan data skunder.
1. Data Primer
Kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancarai merupakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melalui perekaman video, pengambilan foto atau film. Data atau sumber primer antara lain meliputi dokumen meliputi dokumen historis dan legal, hasil dari suatu eksperimen, data statistik, lembaran-lembaran penulisan kreatif, dan objek-objek seni.43
Data primer mempunyai keuntungan karena sesuai dengan tujuan peneliti dan dikumpulkan dengan prosedur-prosedur yang ditetapkan dan dikontrol oleh peneliti. Data primer yang penulis maksud adalah meminta langsung dengan
43 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kulitatif :Edisi Revisi, (Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 157.
orang yang bersangkutan atau orang yang terlibat dalam objek penelitian ini seperti kepala pengurus masjid Syuhada di desa dusun Terusan.
2. Data Skunder
Data skunder merupakan data yang dikumpulkan dari tangan kedua atau dari sumber-sumber lain yang telah tersedia sebelum penelitian dilakukan. Data yang dikumpulkan melalui sumber-sumber lain yang tersedia dinamakan data skunder. Sumber skunder meliputi komentar, interpretasi, atau pembahasan tentang materi original.44
Bahan-bahan sekunder dapat berupa artikel-artikel dalam surat kabar atau majalah popular, buku atau telaah gambar hidup atau artikel-artikel yang ditemukan dalam jurnal-jurnal ilmiah yang mengevaluasi atau mengkritisi suatu penelitian yang lain. Buletin statistik, laporan-laporan atau arsip organisasi, publikasi pemerintah, informasi yang di publikasikan dan tersedia dari dalam atau luar organisasi, analisis-analisis yang dibuat oleh para ahli, hasil survei terdahulu yang dipublikasikan dan tidak dipublikasikan, data base yang ada di penelitian terdahulu, catatan-catatan publib mengenai peristiwa-peristiwa resmi dan catatan perpustakaan juga merupakan sumber data skunder. Sedangkan data skunder yang di maksud adalah data yang telah terdokumentasikan dan memilki hubungan dengan pokok permasalahan yang akan di teliti atau data yang di ambil dari arsip berita, yang membahas tentang arsitektur masjid di Desa Dusun Terusan dan juga peneliti mengambil data-data dari buku-buku, jurnal, skripsi, yang telah ada yang
44Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial, (Bandung : Refika Aditama, 2012), hlm. 289
bersangkutan dengan penelitian ini, sehingga memperbanyak data agar menjadi akurat.
B. Sumber Data
Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber data adalah subjek di mana data yang bersangkutan dengan penelitian itu di dapatkan. dalam proposal ini sumber datanya adalah:
a) Buku-buku yang bersangkutan dengan proposal ini seperti skiripsi- skiripsi, jurnal, koran media online dan tulisan lainnya yang berhubungan dengan skripsi ini.
b) Data yang di peroleh dari informan yaitu: kepala, staff, pengurus, pengelola Masjid As-syuhada, dan tetua desa Terusan di desa dusun terusan.
1. Datuk Saleh sselaku tetua Desa Terusan 2. Datuk Husin selaku tetua Desa Terusan 3. Datuk Asnawi Selaku Imam Masjid
4. Pak Salamudin selaku Sekretaris Desa Terusan
c) Dokumentasi, sumber data ini di ambil dari dokumentasi yang terdapat di lapangan, lokasi masjid As-syuhada di desa dusun Terusan.
Gambar masjid shuhada saat di lihat dari luar
Gambar masjid as_shuhada di lihat dari dalam
3. Penelitian Informan
Informan adalah orang yang memberikan informasi. Dalam penelitian ini seseorang informan merupakan orang nomor satu setelah peneliti. Karena, tanpa informan, penulis mungkin akan buta dan akan kebingungan untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan penelitian ini.
Informannya adalah orang-orang yang terlibat seperti pengelola Masjid Syuhada desa dusun terusan, selain orang yang terlibat penulis juga mencoba mengali informasi kepada orang-orang atau masyarakat yang dianggap faham dengan penelitian ini.
4. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah sebegai berikut:
a. Observai
Observasi adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki.45 Dengan Observasi kita dapat peroleh gambaran yang lebih jelas tentang kehidupan sosial, yang sukar diperoleh dengan metode lain. Obeservasi juga dilakukan karena masih banyak keterangan yang kurang dalam masalah yang saya selidiki.
Mungkin dari hasil observasi ini saya dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang masalah pada penelitian ini dan dari observasi ini saya mendapat petunjuk-petunjuk tentang cara memecahkannya.
Dengan Observasi sebagai alat pengumpulan data dimaksud observasi yang dilakukan secara sistematis bukan observasi sambil-sambilan atau secara kebetulan saja,dan data observasi harus valid serta menurut kenyataan, melukiskannya dengan kata-kata secara cermat dan tepat mengenai apa yang diamati, mencatatnya dan kemudian mengolahnya.46
45 Cholid Narbuko, Metodologi Penelitian, (Jakarta :Bumi Aksara, 2007), Hlm 70.
46 Nasution, Metode Research Penelitian Ilmiah, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2007),hlm. 106.
Dalam Pelitian ini penulis mencoba meneliti secara Partisipasif.
Maksudnya, pengamatan terlibat merupakan jenis pengamatan yang melibatkan peneliti dalam kegiatan orang yang menjadi sasaran penelitian, tanpa mengakibatkan perubahan pada kegiatan atau aktifitas yang bersangkutan dan tentu saja dalam hal ini peneliti tidak menutupi dirinya selaku peneliti. Untuk menyempurnakan aktifitas pengamatan aktifitas persipatif ini, peneliti harus mengikuti kegiatan keseharian yang dilakukan informan dalam waktu tertentu, memerhatikan apa yang terjadi, mendengarkan apa yang dikatakannya, mempertanyakan informasi yang menarik, dan mempelajari dokumen yang dimiliki.47 Metode ini berguna sebagai data untuk memperlengkap penelitian tentang Arsitektur masjid yang di Desa dusun Terusan.
Ada beberapa pengertian dan pembagian yang perlu diketahui bersama tentang pengamatan dalam penelitian kualitatif. Di dalam buku Lexy J. Moleong dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi tentang macam-macam pengamatan. Dari penjelasannya di dalam buku tersebut dapatlah ditarik kesimpulan, diantaranya yaitu (1) pengamatan secara peranan, (2) pengamatan secara sudut pandang subjek penelitian dan (3) pengamatan secara latar penelitian.
47 Muhammad Idrus, Metode Penelitian Ilmu Sosial, (Jakarta : Erlangga, 2009), hlm.
101.
b. Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data melalui proses tanya jawab lisan yang berlansung satu arah, artinya pertanyaan datang dari pihak yang mewawancarai dan jawaban di berikan oleh yang di wawancara.48
Interview atau wawancara merupakan alat pengumpulan data yang sangat penting dalam penlitian komunikasi kualitatif yang melibatkan manusia sebagai subjek (Pelaku, aktor) sehubungan dengan realitas atau gejala yang dipilih untuk diteliti. Dalam penelitian kualitatif dikenal setidaknya ada tiga jenis wawancara: (a) wawancara percakapan informal, (b) wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara, dan (c) wawancara dengan menggunakan open-ended standart (lihat, misalnya, Patton, 2002:342-347). Wawancara percakapan informal menunjuk pada kecendrungan sifat sangat terbuka dan sanggat longgar (tidak tersruktur) sehingga wawancara memang benar-benar mirip dengan percakapan. Wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara pada umumnya dimaksudkan untuk kepentingan wawancara yang lebih mendalam dengan lebih memfokuskan pada persoalan yang menjadi pokok dari minat penelitian. Wawancara dengan menggunakan standar opended sangat membutuhkan kecermatan dalam kaitan dengan susunan item pertanyaan beserta bagian-bagian yang akan dicakup di dalamnya maupun dalam pilihan kalimat atau kata-kata. Pertanyaan-pertanyaan pada jenis
48 Abdurrahmat Fathoni, Metodologi Penelitian dan teknik penyusunan skripsi, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2011), hlm. 104.
wawancara ini bersifat lebih terstruktur dibandingkan dengan kedua jenis wawancara ini. Hal demikian dikarenakan bahwa peneliti memang bermaksud memperoleh kepastian bahwa kepada setiap sabjek ( informan ) telah disampaikan pertanyaan-pertanyaan yang sama, dengan cara yang sama, termasud standar yang digunakan.49 Pada penelian ini peneliti mencoba memakai teknik wawancara yang ketiga yaitu teknik standar opended, agar hasil wawancara lebih jelas dan data yang didapat dari yang diwawancari lebih valid.
Penulis mengadakan wawancara untuk memperoleh informasi yang tujukan kepada kepala pengurus Masjid Syuhada di desa dusun terusan, sesekali penulis coba mewawancarai masyarakat yang tau tentang Masjid Syuhada di desa terusan.
Adapun pedoman dasar dalam melakukan proses wawancara ini, secara umum dijelaskan sebagai berikut:
a) Peneliti akan menentukan siapa orang pertama yang akan diwawancari terlebih dahulu.
b) Kemudian barulah peneliti menjajaki kepada informan-informan lainnya untuk diwawancarai.
c) Proses wawancara berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak (pewawancara dan yang akan diwawancarai).
d) Waktu wawancara tidak dibatasi dan dianggap selesai ketika tidak ada lagi informasi baru yang didapatkan dari seorang informan.
49 Pawito, Penelitian Komunikasi Kualitatif, (Yogyakarta: LKiS, 2007), hlm. 134.
e) Bahasa yang digunakan pada saat wawancara menggunakan bahasa bahasa Indonesia.
f) Suasana dalam proses wawancara pun akan dibuat senyaman-nyaman mungkin.
g) Alat rekam yang digunakan dalam proses wawancara ini yaitu menggunakan tape recorder/handycam/hand phone.
c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan mempelajari catatan-catatan mengenai data pribadi responden. 50 Di dalam sebuah pendokumentasian, sering dikenal istilah dokumen, record, foto, dan video/film.
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu, bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya menumental dari seseorang yang berfungsi sebagai bukti bahwa hasil penelitian dari observasi/pengamatan dan wawancara mengandung nilai yang kredibel.
Pengumpulan data dalam bentuk dokumentasi seperti dokumen, record, foto dan video/film dalam penelitian ini terdiri dari dua sumber, yaitu sumber internal dan eksternal. Sumber internal yang dimaksudkan di sini yaitu sumber data yang merupakan hasil catatan lapangan dari pengamatan, catatan wawancara, koleksi foto dan video yang dibuat oleh peneliti sendiri. Sumber eksternal yaitu sumber data yang bukan merupakan hasil catatan lapangan dari pengamatan, catatan wawancara, koleksi foto dan video yang dibuat oleh peneliti, melainkan data yang berasal dari pihak-pihak yang terkait dalam penelitian ini yang telah ada sebelumnya. Metode ini penulis gunakan untuk mengupulkan data yang berhubungan dengan arsitektur masjid di desa dusun Terusan.
5. Teknik Analisis Data
Pada bagian analis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain
50 Pawito, Penelitian Komunikasi Kualitatif, (Yogyakarta: LKiS, 2007), hlm 112.
agar dapat menyajikan temuannya.51 Analis data adalah kegiatan mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, member kode atau tanda dan mengkategorikan data sehingga dapat di temukan dan dirumuskan hipotesis kerja berdasarkan data tersebut, dan analisis data ini berguna untuk meruduksi data menjadi perwujudan yang dapat di pahami melalui pendeskripsian secara logis dan sistematis sehingga fokus studi dapat di telaah, di uji, dan di jawab secara cermat dan teliti. .
Menurut Miles dan Huberman, kegiatan analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Terjadi secara bersamaan berarti reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi sebagai sesuatu yang jalin menjalin merupakan proses siklus dan interaktif pada saat sebelum, selama, dan sesudah pengumpulan data dalam bentuk sejajar untuk membangun wawasan umum yang disebut “analisis”.
a. Reduksi Data
Reduksi data bukannlah suatu hal yang terpisah dari analisis. Ia merupakan bagian analis. Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyerderhaan, pengabstraksian dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan yang tertulis dilapangan. Kegiatan melakukan reduksi data yang berlangsung terus menerus, terutama selama proyek yang berorientasi kualitatif berlangsung atau selama pengumpulan data. Selama pengumpulan data berlangsung, terjadi tahapan reduksi (membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi, dan
51 Sylvia Saraswati, Cara muda menulis Proposal, Skripsi,Tesis dan Disertasi, (Jogjakarta :Ar-Ruzz Media, 2009),hlm. 72.
menulis memo). Pilihan-pilihan peneliti tentang bagian mana yang dikode, mana yang dibuang, pola-pola mana yang meringkas sejumlah bagian yang tersebar, cerita-cerita apa yang sedang berkembang, semuanya itu merupakan pilihan- pilihan analisis.52
b. Penyajian Data
Penyajian data yang dimaknai oleh Miles dan Huberman 1992 sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan mencermati penyajian data ini, peneliti akan lebih muda memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Artinya apakah peneliti meneruskan analisisnya atau mencoba untuk mengambil sebuah tindakan dengan memperdalam temuan tersebut.
Kegiatan reduksi data dan proses penyajian data adalah aktivitas-aktivitas yang terkait langsung dengan proses analis data model interaktif. Dengan begitu, kedua proses ini pun berlangsung selama proses penelitian berlangsung dan belum berakhir sebelum laporan hasil akhir penelitian disusun sehingga jangan terburu- buru untuk menghentikan kegiatan display data sebelum yakin bahwa semua yang seharusnya diteliti telah dipaparkan atau disajikan.53
c. Menarik Kesimpulan
Kegiatan analis yang ketiga adalah menarik kesimpulan dan verifikasi.
Ketika pengumpulan data dilakukan, seorang penganalis kualitatif mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi-
52 Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial, (Bandung : Refika Aditama, 2012), hlm 339.
53 Muhammad Idrus, Metode Penelitian Ilmu Sosial, (Jakarta : Erlangga, 2009), hlm 151.
konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat, dan proposisi. Mula-mula keseimpulan belum jelas, tetapi kemudian kian meningkat menjadi lebih terperinci. Kesimpulan-kesimpulan “final” mungkin tidak muncul sampai pengumpulan data berakhir, bergantung pada besarnya kumpulan-kumpulan catatan lapangan, pengkodeannya, penyimpanan, dan metode pencarian ulang yang digunakan, kecakapan peneliti, dan tuntutan pemberi dana, tetapi sering kali kesimpulan itu telah dirumuskan sebelumnya sejak awal, sekalipun seorang peneliti menyatakan telah melanjutkannya “secara induktif”.54
6. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding suatu data. Triangulasi merupakan persoalan penting, dan juga sangat bersifat krusial, dalam upaya pengumpulan data dalam konteks penelitian kualitatif. Peneliti, siapapun dia, selalu menginginkan agar data yang berhasil dikumpulkan bersifat valid. Validitas data dalam penelitian kualitatif lebih menunjuk pada tingkat sejauh mana data yang diperoleh telah akurat mewakili realitas atau gejala yang diteliti. Kemudian realibitas berkenaan dengan tingkat konsistensi hasil dari pengunaan cara pengumpulan data. 55
Trigulasi data bertujuan untuk memeriksa kembali kebenaran dan keabsahan data-data yang diperolah di lapangan tentang Arsitektur masjid Syuhada di desa terusan. Hal itu di dapat perlu di adakan pengecekan ulang terhadap sumber-sumber data dengan cara:
54Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial, (Bandung : Refika Aditama, 2012), hlm 341.
55 Pawito, Penelitian Komunikasi Kualitatif, (Yogyakarta: LKiS, 2007), hlm 97.
a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
b. Membandingkan apa yang dikatakan di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi.
c. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.
d. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah, atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan.
e. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
7. Penyusunan Laporan
Bagian akhir sebuah proses penelitian adalah menyusun laporan. Kegiatan penyusunan laporan ini sangat penting karena merupakan bukti konkrit telah selesainya satu aktivitas penelitian hal yang harus diingat dalam proses penyusunan laporan ini adalah menyajikan hasi-hasil temuan sebagaimana adanya dan jangan pernah berfikir bahwa hasil penelitian ini hanya untuk peneliti. Artinya buatlah laporan dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti oleh mereka yang akan membacanya. Penggunaan bahasa Indonesia yang baku menjadi syarat mutlak suatu penelitian.56 Dan juga penulis berusaha menyajikan secara sistematis agar mudah dimengerti dan mudah di pahami oleh pembaca.
56 Muhammad Idrus, Metode Penelitian Ilmu Sosial, (Jakarta : Erlangga, 2009), hlm 205.
8. Jadwal Penelitian
Penelitian dilakukan dengan pembuatan proposal, kemudian dilanjutkan dengan perbaikan hasil seminar proposal skripsi. Setelah pengesahan judul dan riset, maka penulis mengadakan pengumpulan data, verifikasi data dan analis data dalam waktu yang berurutan. Hasilnya penulis melakukan konsultasi dengan pembimbing sebelum diajukan kepada siding munaqosah. Hasil sidang munaqosah dilanjutkan dengan perbaikan dan pengadaan laporan skripsi.