• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAYA SAING JAGUNG DI KABUPATEN DAIRI PROVINSI SUMATERA UTARA COMPETITIVENESS OF MAIZE AT DAIRI DISTRICT, NORTH SUMATRA PROVINCE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DAYA SAING JAGUNG DI KABUPATEN DAIRI PROVINSI SUMATERA UTARA COMPETITIVENESS OF MAIZE AT DAIRI DISTRICT, NORTH SUMATRA PROVINCE"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

DAYA SAING JAGUNG DI KABUPATEN DAIRI PROVINSI SUMATERA UTARA

COMPETITIVENESS OF MAIZE AT DAIRI DISTRICT, NORTH SUMATRA PROVINCE

Helentina Situmorang1*

1*Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh Email: [email protected]

*Penulis Korespondensi: [email protected]

ABSTRACT

The problem in maize farming is its low productivity, so that the competitiveness of maize farming is low. The objectives of this research are analyzing maize farm competitiveness and the impact of input and output policy in maize farming competitiveness in Dairy District. The research method is Policy Analysis Matrix (PAM). This research used cross-section data.

Maize production in Dairi District as a result of the PAM showed potentially had competitive as well as comparative advantages. PAM analysis also showed that input policies protected maize farmers, but output policy did not protect maize farmers.

Keywords: Maize Farming; Competitiveness; Policy Analysis Matrix.

ABSTRAK

Permasalahan dalam usahatani jagung adalah produktivitasnya yang rendah sehingga daya saing usahatani jagung rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing usahatani jagung dan dampak kebijakan input dan output terhadap daya saing usahatani jagung di Kabupaten Dairi. Metode penelitian yang digunakan adalah Analisis Matriks Kebijakan (PAM).

Penelitian ini menggunakan data cross section. Hasil penelitian menunjukkan usahatani jagung memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif. Analisis PAM juga menunjukkan bahwa kebijakan input melindungi petani jagung, tetapi kebijakan output tidak melindungi petani jagung.

Kata kunci: Usaha Tani Jagung, Daya Saing, Analisis Matriks Kebijakan

PENDAHULUAN

Tanaman pangan merupakan sub sektor pertanian yang memiliki nilai ekonomi dan berpotensi tinggi untuk dikembangkan di Indonesia. Tanaman pangan utama Indonesia adalah padi, jagung dan kedelai. Jagung menjadi pangan strategis sebagai upaya diversifikasi pangan karena mengandung sumber karbohidrat yang sama dengan beras. Hasil olahan jagung adalah tepung jagung menjadi produk makanan. Selain menjadi sumber pangan, jagung digunakan sebagai pakan ternak, minuman, pelapis kertas, dan farmasi. Selain itu, beberapa negara membuat jagung menjadi alkohol sebagai campuran bahan bakar kendaraan untuk mengurangi polusi. Berdasarkan hasil penelitian Memon et al, 2012 bahwa jagung merupakan produksi tertinggi dari tanaman sereal dan sangat penting bagi dunia dengan permintaan jagung yang

(2)

semakin meningkat seperti di Pakistan. Oleh sebab itu permintaan jagung semakin meningkat berasal dari dalam negeri dan impor.

Faktor lain ketergantungan impor jagung disebabkan mutu jagung lokal yang masih rendah. Hal ini ditunjukkan bahwa harga jagung lokal di tingkat petani pada tahun 2011 sebesar Rp. 2700- Rp. 3.200 per kilogram (kg) dengan kadar air 14% - 20%. Sementara harga jagung internasional Rp. 3.400 per kg dengan kadar air 12% - 14% (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2011). Sehingga pabrik pakan lebih memilih jagung impor daripada jagung lokal karena kadar airnya sudah sesuai kebutuhan pabrik, sedangkan jagung lokal harus dikeringkan ulang.

Hal ini mengindikasikan daya saing jagung Indonesia masih rendah. Selain itu daya saing jagung juga terkait dengan kemampuan ketersediaan dan penggunaan input produksi jagung yang efisien yaitu ketersediaan lahan, penggunaan benih unggul, penggunaan pupuk yang optimal, penggunaan tenaga kerja, inovasi teknologi, dan faktor lain. Pemerintah sudah menyalurkan benih unggul untuk mengurangi penggunaan benih lokal.

Provinsi Sumatera Utara menjadi produsen jagung terbesar kelima di Indonesia dan daerah sentra produksi jagung di Kabupaten Karo, Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Dairi (Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara, 2011). Pemerintah Kabupaten Dairi menjadikan jagung sebagai salah satu komoditas unggulan. Namun, daya saing jagung lokal diduga masih rendah. Sehingga pemerintah mengambil kebijakan tarif impor jagung sebesar 5% tahun 2012 dan pernah naik tarif impor jagung sebesar 10 % tahun 1993 untuk melindungi petani jagung Indonesia. Selain itu, pemerintah juga mengambil kebijakan memberikan bantuan benih jagung dan subsidi pupuk (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2012). Pemerintah Daerah Kabupaten Dairi menjamin stabilitas harga jagung maka dikeluarkan Keputusan Bupati Dairi nomor 520/106/III/2011 tentang penetapan harga pokok pembelian daerah komoditi jagung tahun 2011 di Kabupaten Dairi yang telah disempurnakan dengan peraturan Bupati Dairi nomor 4 tahun 2012. Pemerintah Kabupaten Dairi akan melakukan pembelian jagung petani apabila harga jagung di pasar dibawah Rp 2,000 per kg. Namun, berdasarkan wawancara dengan petani di Kabupaten Dairi, jika harga pokok pembelian jagung sebesar Rp 2,000 per kg tidak memberikan keuntungan bagi petani. Apakah kebijakan yang diberikan pemerintah sudah mendukung peningkatan produksi jagung di Kabupaten Dairi. Oleh sebab itu tujuan penelitian ini adalah menganalisis daya saing (keunggulan kompetitif dan komparatif) jagung di Kabupaten Dairi dan menganalisis dampak kebijakan input dan output terhadap daya saing jagung di Kabupaten Dairi.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di wilayah Kabupaten Dairi. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa wilayah tersebut merupakan salah satu sentra produksi jagung di Provinsi Sumatera Utara. Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2012-April 2013.

Penarikan contoh secara purposive berdasarkan kriteria petani contoh dipilih dengan pekerjaan utama petani contoh berusahatani jagung, periode usahatani jagung sebanyak dua kali dalam setahun dan peneliti didampingi penyuluh pertanian untuk pemilihan petani contoh.

Petani contoh dipilih sebanyak 80 petani dari masing-masing 4 desa yang memiliki produksi jagung terbesar di Kecamatan Tanah Pinem dan Tigalingga. Kecamatan Tanah Pinem terdiri dari Desa Pasir Tengah sebanyak 20 petani dan Desa Pamah sebanyak 20 petani. Selanjutnya

(3)

Kecamatan Tigalingga terdiri dari Desa Sukandebi sebanyak 20 petani dan Desa Bertungen Julu sebanyak 20 petani.

Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer untuk memperoleh informasi mengenai produksi jagung melalui wawancara dengan petani. Data primer tersebut adalah data karakteristik petani dan usahatani jagung pada satu musim tanam yang terdiri dari penggunaan input (benih, pupuk, herbisida, tenaga kerja dan input yang lain), harga input, harga output dan permasalahan yang dihadapi petani. Data sekunder diperoleh dari (1) Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara; (2) Badan Pusat Statistik Kabupaten Dairi; (3) Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara; (4) Dinas Pertanian Kabupaten Dairi; dan (5) Penyuluh Pertanian Kecamatan Tanah Pinem dan Tigalingga.

Analisis daya saing jagung dilakukan dengan pendekatan terhadap penggunaan sumberdaya domestik dan tradable input. Metode analisis yang digunakan adalah Policy Analysis Matrix (PAM) yang merupakan alat analisis yang digunakan untuk mengetahui efisiensi ekonomi dan besarnya insentif atau dampak intervensi dalam pengusahaan berbagai aktivitas usahatani secara keseluruhan dan sistematis (

Pearson, dkk 2005)

. PAM dapat digunakan untuk mengestimasi biaya, pendapatan dan daya saing komoditas usahatani ditingkat petani serta identifikasi dampak kebijakan pemerintah.

Tabel 1. Policy Analysis Matrix

Uraian Penerimaan

(revenues)

Biaya (Cost)

Keuntungan (profit) Input

Tradeable

Faktor Domestik Harga privat

(private prices)

A B C D = A-B-C

Harga sosial (social prices)

E F G H = E-F-G

Dampak kebijakan dan distorsi pasar

(divergences)

I = A-E J = B-F K = C-G L = D-H

= I-J-K Sumber : Monke and Pearson, (1989)

Keterangan : D = private profits; H = social profits; I = output transfers; J = input transfers; K

= factor transfers; L = net tranfers.

Tahapan dalam menggunakan metode PAM adalah: (1) identifikasi input secara lengkap dari usahatani jagung, (2) menentukan harga bayangan (shadow price) dari input dan output usahatani jagung, (3) memilah biaya menjadi kelompok tradable dan domestik, (4) menghitung penerimaan dari usahatani jagung, dan (5) menghitung dan menganalisis berbagai indikator yang bisa dihasilkan PAM. Policy Analysis Matrix (PAM) disajikan pada Tabel 1.

Analisis Keuntungan

1. Keuntungan privat/private profits: D=A-B-C, merupakan indikator keunggulan kompetitif dari sistem komoditi berdasarkan teknologi, nilai output, biaya input dan transfer kebijakan yang ada. Jika D>0, artinya sistem komoditi tersebut memperoleh keuntungan diatas normal. Hal ini memberikan implikasi bahwa komoditi tersebut mampu melakukan ekspansi, kecuali apabila sumberdaya terbatas atau adanya alternatif yang lebih menguntungkan.

(4)

2. Keuntungan sosial/social profits: H=E-F-G, merupakan indikator keunggulan komparatif atau efisiensi dari sistem komoditi pada kondisi tidak ada divergensi dan penerapan kebijakan yang efisien, apabila H>0. Tetapi jika H<0, artinya komoditi tersebut tidak mampu bersaing tanpa bantuan atau intervensi pemerintah.

Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

1. Analisis keunggulan komparatif diperoleh dari nilai Domestic Resources Cost Ratio (DRCR)=G/(E-F), merupakan indikator kemampuan sistem komoditi membiayai faktor domestik pada harga sosial. Jika DRCR>1 maka sistem komoditi tidak mampu hidup tanpa bantuan atau intervensi pemerintah, sehingga memboroskan sumber daya domestik yang langka. Jika DRCR<1, maka sistem komoditi makin efisien dan memiliki daya saing tinggi (keunggulan komparatif) serta mampu berkembang tanpa bantuan dan intervensi pemerintah disamping memiliki peluang ekspor.

2. Analisis keunggulan kompetitif diperoleh dari Rasio Biaya Privat/ Private Cost Ratio ( PCR)=C/(A-B). Nilai PCR berapa menjelaskan berapa banyak sistem komoditi dapat menghasilkan untuk membayar faktor domestik dan tetap dalam kondisi kompetitif.

Suatu usahatani jagung akan lebih kompetitif jika nilai D>0 atau nilai C (harga privat domestik)<(A-B). Jika PCR<1 atau nilainya lebih kecil lagi, artinya sistem produksi usahatani jagung mampu membiayai faktor domestiknya pada harga privat dan kemampuannya semakin meningkat (memiliki keunggulan kompetitif).

Dampak Kebijakan Pemerintah Kebijakan Output

1. Transfer output/output transfer (I)=A-E yaitu selisih antara penerimaan yang dihitung atas harga finansial (private) dengan penerimaan yang dihitung berdasarkan harga bayangan atau sosial. Nilai transfer output menunjukkan terdapat kebijakan pemerintah yang dapat diterapkan pada output sehingga membuat harga output privat dan sosial berbeda. Jika I (nilai transfer output)>0, artinya adanya transfer dari masyarakat (konsumen) terhadap produsen, demikian sebaliknya. Dengan kata lain masyarakat membeli dan produsen menerima dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang seharusnya, demikian sebaliknya jika I<0 maka masyarakat membeli dan produsen menerima harga lebih rendah dari harga seharusnya.

2. Nominal Protection Coefficient on Output (NPCO) =A/E. NPCO merupakan rasio penerimaan yang dihitung berdasarkan harga privat dengan penerimaan yang dihitung berdasarkan harga sosial yang merupakan indikasi dari transfer output. Jika NPCO>1 artinya kebijakan bersifat protektif terhadap output dimana pemerintah menaikkan harga output di pasar dalam negeri diatas harga efisiensinya (harga dunia), dan sebaliknya kebijakan bersifat disinsentif jika NPCO<1. Apabila tarif impor produk pertanian diturunkan akan menurunkan nilai A (harga produk menurun), sehingga nilai NPCO menurun.

Kebijakan Input

1. Transfer input (J)=B-F, yaitu selisih antara biaya input yang dapat diperdagangkan pada harga privat dengan biaya yang dapat diperdagangkan pada harga sosial. Nilai transfer input menunjukkan adanya kebijakan pemerintah yang diterapkan pada input tradable.

Jika nilai Transfer Input >0 (positif), menunjukkan adanya transfer dari petani produsen kepada produsen input tradable, demikian juga sebaliknya. Atau dengan kata lain

(5)

menunjukkan besarnya transfer (insentif) dari produsen ke pemerintah melalui penerapan kebijakan tarif impor.

2. Nominal Protection Coefficient on Input: NPCI=B/F. Indikator yang menunjukkan tingkat proteksi pemerintah terhadap harga input domestik. Kebijakan bersifat protektif terhadap input jika nilai NPCI<1, berarti ada kebijakan subsidi terhadap input tradable, dimana hal ini dapat pula menunjukkan adanya hambatan ekspor input, sehingga proses produksi dilakukan dengan menggunakan input dalam negeri. Sebaliknya jika NPCI>1 artinya pemerintah menaikkan harga input tradable di pasar domestik diatas harga efisiensinya. Hal ini membawa implikasi sektor yang menggunakan harga input tersebut dirugikan dengan tingginya harga beli input produksi.

3. Transfer faktor (K)=C-G, merupakan nilai yang menunjukkan perbedaan harga privat dengan harga sosialnya yang diterima produsen untuk pembayaran faktor-faktor produksi yang tidak diperdagangkan. Nilai transfer faktor menunjukkan adanya kebijakan pemerintah terhadap produsen dan konsumen yang berbeda dengan kebijakan input tradable. Jika nilai transfer faktor > 0 (positif), artinya terdapat transfer dari produsen kepada produsen input non tradable, atau dengan kata lain terdapat kebijakan pemerintah yang melindungi produsen faktor domestik dengan pemberian subsidi positif, demikian juga sebaliknya jika negatif atau transfer faktor < 0 maka kebijakan lebih berpihak kepada produsen atau petani jagung.

Kebijakan Input-Output

1. Effective Protection Coefficient : (EPC)=(A - B)/(E - F). Koefisien proteksi efektif merupakan analisis gabungan antara koefisien proteksi output nominal dengan koefisien input nominal. Nilai EPC menggambarkan sejauh mana kebijakan pemerintah bersifat melindungi atau menghambat produksi domestik dan merupakan tingkat transfer kebijakan dari pasar output dan input tradable. Apabila EPC>1, berarti pemerintah menaikkan harga output dan input tradable di atas harga efisien. Sebaliknya bila EPC<1 maka kebijakan tidak berjalan efektif.

2. Transfer bersih/ net transfer (L)=D-H merupakan selisih antara keuntungan bersih privat dengan keuntungan bersih sosialnya. Bila L>0 menunjukkan adanya tambahan surplus produsen yang disebabkan penerapan kebijakan pada input dan output. Sebaliknya jika L<0 menunjukkan penurunan surplus produsen yang disebabkan oleh penerapan kebijakan input-output.

3. Profitability Coefficient (PC)=D/H. Koefisien keuntungan adalah perbandingan antara keuntungan bersih privat dengan keuntungan bersih sosial dan merupakan indikasi yang menunjukkan dampak insentif dari semua kebijakan. Apabila PC>1, berarti secara keseluruhan kebijakan pemerintah memberikan insentif kepada produsen. Sebaliknya jika PC<1, maka kebijakan pemerintah membuat keuntungan menjadi lebih kecil bila dibandingkan dengan tanpa adanya kebijakan.

4. Subsidy Ratio to Producer (SRP)=L/E. Rasio subsidi untuk produsen merupakan proporsi dari penerimaan total pada harga sosial yang diperlukan apabila subsidi digunakan sebagai satu-satunya kebijakan untuk menggantikan seluruh kebijakan komoditi dan ekonomi makro. Apabila nilai SRP negatif artinya kebijakan pemerintah menyebabkan produsen mengeluarkan biaya produksi lebih besar dari biaya imbangannya (opportunity cost), dan sebaliknya jika SRP positif berarti produsen mengeluarkan biaya produksi lebih kecil dari opportunity cost.

(6)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 2 menunjukkan secara finansial dan ekonomi usahatani jagung di Kabupaten Dairi menguntungkan. Ada atau tidak adanya intervensi pemerintah usahatani jagung masih menguntungkan secara finansial dan ekonomi. Namun, keuntungan privat lebih kecil dari keuntungan sosial.

Tabel 2 Tabel PAM Usahatani Jagung per Hektar di Kabupaten Dairi Keterangan Penerimaan/ Revenue

Biaya/ Cost

Keuntungan/ Profit Input Tradable Input Domestik

Harga Finansial/ Private 16,246,669.32 1,627,811.18 11,639,604.75 2,979,253.38 Harga Ekonomi/ Social 18,351,028.12 1,698,403.79 12,712,690.48 3,939,933.85 Dampak

Kebijakan/Divergences -2,104,358.81 -70,592.61 -1,073,085.72 -960,680.47 Sumber: Data Diolah (2012)

Berdasarkan Tabel 2 diperoleh nilai PCR=0.80 dan DRCR (Domestic Resources Cost Ratio)=0.76. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani jagung memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif di Kabupaten Dairi. Tetapi, nilai PCR dan DRCR usahatani jagung didaerah penelitian lebih besar dari hasil penelitian Suryana Achmad dan Agustian Andang (2014) untuk usahatani jagung pada 9 Provinsi menjadi sentra produksi jagung di Indonesia diperoleh rata- rata PCR= 0,54 dan DRCR= 0,48. Demikian juga hasil penelitian Shah et al (2014) daya saing jagung di Pakistan (DRCR=0,37 dan PCR= 0,73) dan hasil penelitian Rahman et al (2016) daya saing jagung di Bangladesh diperoleh DRCR= 0,54. Semakin kecil nilai PCR dan DRCR yang diperoleh, maka semakin tinggi tingkat keunggulan kompetitif dan komperatif yang dimiliki atau daya saingnya semakin kuat. Hasil penelitian ini menemukan bahwa usahatani jagung memiliki daya saing rendah di Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara. Hal ini didukung oleh penelitian Suryana Achmad dan Agustian Andang (2014), bahwa berdasarkan Provinsi Sumatera Utara memiliki daya saing yang rendah dibandingkan dengan Provinsi Lampung, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.

Dampak kebijakan pemerintah terhadap output dapat dilihat dari nilai Output Transfer (OT)=-2,104,358.81 dan Nominal Protection Coefficient on Output (NPCO)=0.89. Hal ini menunjukkan harga jagung di pasar domestik lebih rendah dari harga internasionalnya, artinya tarif impor jagung 5% berjalan tidak efektif. Hal yang sama diperoleh hasil penelitian Olagunju (2015) dan Darmayanti dkk (2018) di Provinsi Sulawesi Selatan bahwa nilai Output Transfer negatif yang menunjukkan terjadi kegagalan pasar.

Dampak kebijakan pemerintah terhadap input dilihat dari nilai transfer input=-70,592.61, Nominal Protection Coefficient on Input (NPCI)=0.96 dan transfer faktor=-1,073,085.72. Hal ini menunjukkan bahwa harga input privat lebih rendah dari harga yang seharusnya dibayarkan (input ditingkat harga internasional), artinya kebijakan subsidi pupuk yang dilakukan oleh pemerintah berjalan efektif. Hal yang sama diperoleh hasil penelitian Darmayanti dkk (2019) bahwa kebijakan pemerintah terhadap subsidi pupuk mendukung petani jagung atau memberikan insentif positif kepada petani jagung di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan; hasil penelitian Rahman et al. (2016) bahwa usahatani jagung di Bangladesh memiliki keunggulan kompetitif karena harga input usahatani jagung disubsidi pemerintah. Demikian juga hasil penelitian Kone et al. (2015) bahwa tanaman serelia memiliki

(7)

keunggulan komparatif lebih besar dibandingkan kapas karena pemerintah memberikan subsidi input yang besar bagi tanaman tersebut.

Dampak kebijakan pemerintah terhadap input-output usahatani jagung di Kabupaten Dairi diperoleh nilai EPC=0.88 , Transfer bersih/net transfer= -960,680.47, PC= 0.76, dan SRP=

-0.05. Nilai EPC= 0.88 (EPC<1) artinya kebijakan pemerintah terhadap harga faktor produksi yang diperdagangkan, faktor produksi sumber daya domestik, serta harga jagung secara keseluruhan kurang mendukung atau disinsentif pada petani jagung dalam mengembangkan produksi jagung, sehingga petani menerima sekitar 88% dari nilai harga sosial (nilai yang sebenarnya). Transfer bersih/net transfer= -960,680.47, artinya bahwa transfer yang diterima produsen petani jagung lebih kecil sebesar Rp 960,680.47 per ha dari transfer yang diberikan kepada konsumen. Hal ini menunjukkan penurunan surplus produsen yang disebabkan oleh penerapan kebijakan input-output. Demikian juga nilai PC=0.76, artinya keuntungan yang diterima oleh petani jagung lebih kecil dari harga sosialnya. Petani jagung menerima keuntungan 76% dari keuntungan harga sosialnya. Nilai SRP= -0.05, artinya bahwa kebijakan pemerintah menyebabkan petani jagung di Kabupaten Dairi mengeluarkan biaya produksi lebih besar 5%

dari opportunity cost untuk produksi jagung. Dengan demikian, perlindungan pemerintah melalui subsidi pupuk dan kebijakan tarif impor juga penetapan harga dasar pembelian jagung mengakibatkan petani memperoleh keuntungan aktual yang lebih tinggi dari yang seharusnya diterima, artinya pemerintah lebih berpihak kepada konsumen (industri pakan dan industri pangan) daripada ke produsen (petani jagung). Hal yang sama hasil penelitian yang diperoleh Darmayanti dkk (2019) bahwa kebijakan proteksi output jagung di Provinsi Sulawesi Selatan masih rendah.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan tujuan penelitian, maka beberapa hal yang dapat disimpulkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: usahatani jagung di Kabupaten Dairi memiliki keunggulan kompetitif (PCR=0.80) dan komparatif (DRCR=0.76), tetapi daya saingnya masih rendah. Hal ini disebabkan dampak kebijakan pemerintah terhadap input-output (subsidi pupuk, subsidi benih, tarif impor jagung dan penetapan harga pokok pembelian jagung sebesar Rp.2,000 per kg) belum melindungi petani jagung di Kabupaten Dairi, artinya pemerintah lebih berpihak kepada konsumen (industri pakan dan industri pangan) dibandingkan terhadap produsen (petani jagung).

Saran

Berdasarkan kesimpulan, maka implikasi kebijakan pemerintah sebaiknya menghapus subsidi input (subsidi pupuk dan benih) dan fokus memberikan jaminan harga jagung lebih tinggi dari Rp. 2,000 per kg sehingga meningkatkan keuntungan petani dan petani termotivasi untuk meningkatkan produksi jagung.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2011. Statistik Daerah Provinsi Sumatera Utara. Medan. Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara.

(8)

Darmayanti, N. W. S.,Winandi, R dan Tinaprilla, N. 2019. Analisis Daya Saing Jagung Di Wilayah Sentra Produksi Di Indonesia Dengan Pendekatan Policy Analysis Matrix (PAM). Forum Agribisnis: Agribusiness Forum, 8 (2):137-154. DOI:

https://doi.org/10.29244/fagb.8.2.137-154

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2011. Prospek Pengembangan Jagung. Jakarta Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.

Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian. 2012. Pedoman Pelaksanaan Penyediaan Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian Tahun 2012. Jakarta Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian.

Kone B, Lebailly, Berti F, Theriault V, Dembele M. 2015. Competitiveness and incentive production of cotton sector in Mali. Research journal of Agriculture and Environmental Management.12(4),pp 509-51.

Memon, S.Q., M.S. Mirjat, A.Q. Mughal, N. Amjad. 2012. Evaluation Of Inputs and Outputs Energy For Maize Grain Yield. Sarhad J. Agric. 28(3):387-394

Olagunju, Funke Iyabo. 2015. Comparative advantage and competitiveness of cashew crop in Nigeria : the policy analysis matrix. International Journal of Agriculture and

Economic Development, 3(1), 1-14.

Pearson, S., C. Gotsch dan S. Bahri. 2005. Aplikasi Policy Analysis pada Pertanian Indonesia.

Terjemahan. Jakarta.Yayasan Obor Indonesia.

Rahman, Sanzidur., M Haque Kazal, Ismat Ara Begum, dan Muhammad Jahangir Alam. 2016.

Competititveness, Profitability, Input Demand and Output Supply of Maize Production in Bangladesh. J Agriculture, 6 (21). DOI : 10.3390/agriculture 6020021.

Shah et al, 2014. Competitiveness Of Maize Production In Pakistan. 12th Asian Maize Conference And Expert Consultation On Maize For Food, Feed, Nutrition and Environmental Security 30 October-01 November 2014. Bangkok.

Suryana Achmad dan Agustian Andang. 2014. Analisis Daya Saing Usahatani Jagung Di Indonesia. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian, 12 (2), Desember 2014:143-156.

Referensi

Dokumen terkait

Randugunting Kota Tegal Tahun Anggaran 2015 dalam waktu 3 (tiga) hari kerja.. setelah pengumuman pemenang, terhitung mulai hari Sabtu tanggal 15 Agustus

Selanjutnya setelah penerapan model pembelajaran PRAKTAK, lapisan pemahaman konsep bangun datar yang dipenuhi subjek mahasiswa calon guru pada akhirnya adalah

Misalnya, kalau kita tulis model (M/M/1) : FIFO// ∞/∞ , ini berarti bahwa model menyatakan kedatangan distribusikan secara Poisson, waktu pelayanan distribusikan secara

Hasil penelitian yang diperoleh peneliti sesuai dengan Tabel 6 mulai dari kognitif yaitu dari pre-test yang memiliki rata-rata 66,8, nilai tersebut masih

Dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan perlu ada pengawasan, yang akan mengarahkan para karyawan agar dapat melaksanakan pekerjaan dengan tepat dan sesuai dengan

Peacock dan wiseman adalah dua orang yag mengemukakan teori mengenai perkembangan pengeluaran pemerintah yang terbaik. Teori mereka didasarkan pada suatu pandangan bahwa

Laju perubahan dimensi yang terjadi pada biji kedelai varietas Baluran dari ketiga lokasi penanaman umumnya sama dengan laju pindah massa air, yaitu mengalami perubahan yang besar

Mengatur parameter mix menjadi 100% basah (wet) akan membuat sinyal suara yang diolah menjadi suara yang terdengar seperti dari ruangan yang jauh, sementara