ONE HEALTH ROADMAP
ELIMINASI RABIES NASIONAL 2030
2019
One Health Roadmap Eliminasi Rabies Nasional ini tersusun atas partisipasi dan kontribusi dari para peserta lokakarya dan pertemuan yang diadakan selama periode 2018-2019 sebagai berikut (berdasarkan urutan abjad):
Tim Teknis
Kontributor
Anak Agung Gde Putra (Pakar)
Arif Hukmi (Kementan)
Asfri Rangkuti (USAID P&R Project)
Bimo (USAID P&R Project)
Chairul Basri (IPB)
Dedi Chandra (KLHK)
Eka Muhiriyah (Kemenkes)
Erna Rahmawati (Kementan)
Ewaldus Wera (Politeknik Pertanian Kupang)
Gunawan (Kementan)
Hariadi Wibisono (Pakar)
Heru Susetya (UGM)
Ichsan Muslih (KLHK)
I.G.N. Dibia (BBVet Denpasar)
Ikke Y. (Kemenkes)
Made Restiati (PDHI Bali)
Pebi Purwo Suseno (Kementan)
Rinto Sukoco (BVet Subang)
Sinurtina Sihombing (Kemenko PMK)
Siti Ganefa (Kemenkes)
Tri Satya Putri Naipospos (Pakar)
Tri Wahyuni (Kementan)
Wahyu Eko (Kementan)
Yohannes Eko (Kemenkes)
Agung Wahyuda (USAID P&R Project)
Andri Jatikusumah (FAO ECTAD)
Anggi Ardiyansyah (PMI)
Anna Sulistri (Kementan)
Aisyah Nurcita Dewi (USAID P&R Project)
Arif Hidayat (Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat)
Asep Kurnadi (Dinas Perternakan Kabupaten Sukabumi)
Awan Yanuarko (Kemendagri)
Dwi Sutanto (Dinas Kesehatan Kota Bogor)
Eka Nurmalasari (KLHK)
Endang (WHO Indonesia)
Enny Supartini (BNPB)
Farman Izhar (Konsultan)
Fuadi Darwis (BNPB)
Ferly Mellyani (BAPPENAS)
Hasman Ma’ani (Kemendesa PDTT)
Joko Daryono (USAID-P&R Project)
Johny Sumbung (BNPB)
Kuntara Anindita (Kemendagri)
Lulu Agustina (KLHK)
M. Azhar (USAID-IDDS Project)
Monica Latuihamallo (USAID Indonesia)
Patria Antariksina (Dinas Peternakan Kota Bogor)
Siseana Gabriela (USAID P&R Project)
Rafiq Anshori (PMI)
Sofyan Afendi (Setkab)
Sorta Rosniuli (Kemenkes)
Sri Yuliani (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat)
Wahid Fakhri (FAO ECTAD)
Yoga Wiratama (Kemendagri)
ii
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR LAMPIRAN ... iv
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR SINGKATAN ... vii
RINGKASAN EKSEKUTIF ... viii
I. LATAR BELAKANG ... 1
1.1. Strategi Global Eliminasi Rabies ... 2
1.2. Strategi Regional Eliminasi Rabies ... 5
1.3. Ekonomi Rabies ... 7
II. ANALISIS SITUASI ... 9
2.1. Sejarah Rabies di Indonesia ... 9
2.1.1. Rabies di Pulau Jawa ... 10
2.1.2. Rabies di Provinsi Kalimantan Barat ... 10
2.1.3. Rabies di Pulau Flores ... 11
2.1.4. Rabies di Pulau Bali ... 12
2.1.5. Rabies di Pulau Nias ... 12
2.1.6. Rabies di Kabupaten Dompu ... 13
2.2. Situasi Epidemiologi Rabies di Indonesia ... 13
2.2.1. Situasi rabies pada manusia... 14
2.2.2. Situasi rabies pada hewan ... 15
2.3. Perkembangan Pengendalian Rabies di Indonesia ... 18
2.4. Tantangan Eliminasi Rabies di Indonesia ... 20
III. KERANGKA STRATEGIS ELIMINASI RABIES ... 22
3.1. Fakta Kunci Tentang Rabies ... 22
3.2. Visi dan Misi ... 23
3.2.1. Visi ... 23
3.2.2. Misi ... 23
3.3. Sasaran dan Tujuan ... 23
3.3.1. Sasaran ... 23
3.3.2. Tujuan ... 24
iii
3.4. Strategi Eliminasi Rabies ... 24
IV. RENCANA STRATEGIS ELIMINASI RABIES ... 27
4.1. Prinsip-prinsip Strategi Eliminasi Rabies ... 27
4.2. Kerangka Kerja Teknis Eliminasi Rabies ... 27
V. RENCANA PELAKSANAAN ELIMINASI RABIES ... 40
5.1. Asumsi dan Pra-kondisi ... 40
5.2. Mekanisme Pelaksanaan ... 40
5.2.2. Kerangka One Health ... 41
5.2.2.1. Koordinasi lintas sektor ... 41
5.2.2.2. Kemitraan pemerintah dan swasta ... 41
5.3. Indikator Epidemiologi Dasar ... 42
5.4. Pembagian Status Daerah ... 44
5.5. Estimasi Populasi Anjing di Indonesia ... 45
5.6. Rencana Kebutuhan Vaksin Rabies Untuk Anjing ... 46
5.7. Jadwal Vaksinasi Anjing... 49
5.8. Rencana Kerja Eliminasi Rabies ... 50
5.8.1. Tahap 1 (2019-2020): Finalisasi Pengembangan Strategi Eliminasi Rabies Nasional dan Persiapan Rencana Pelaksanaan ... 51
5.8.2. Tahap 2 (2021-2023): Pelaksanaan Awal Strategi Eliminasi Rabies Nasional Dengan Prioritas di Daerah-daerah Tertular Berat ... 53
5.8.3. Tahap 3 (2024-2026): Pelaksanaan Strategi Eliminasi Rabies Nasional Skala Penuh di Daerah-daerah Tertular Berat, Sedang dan Ringan ... 55
5.8.4. Tahap 4 (2027-2028): Pengurangan Risiko Rabies Melalui Eliminasi Rabies Pada Anjing ... 56
5.8.5. Tahap 5 (2029-2030): Pertahankan Bebas Rabies Pada Manusia dan Anjing ... 57
5.9. Langkah-langkah Pelaksanaan Strategi Eliminasi Rabies ... 60
VI. RENCANA MONITORING DAN EVALUASI ... 68
BAHAN PUSTAKA... 73
iv
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1. Jumlah Kasus Lyssa per Provinsi (2010-2018) ... 79
LAMPIRAN 2. Jumlah Kasus GHPR per Provinsi (2011-2018) ... 80
LAMPIRAN 3. Distribusi Vaksin Anti Rabies (VAR) per Provinsi (2011-2018) ... 81
LAMPIRAN 4. Distribusi Vaksin HPR per Provinsi (2016-2019) ... 82
LAMPIRAN 5. Distrubusi Kasus Rabies pada Hewan (2017-2018) ... 83
LAMPIRAN 6. Kabupaten/Kota Tertular Rabies per Provinsi ... 84
LAMPIRAN 7. Penetapan Status Daerah Tertular ... 86
LAMPIRAN 8. Estimasi Populasi Anjing per Provinsi di Indonesia... 87
LAMPIRAN 9. Estimasi Jumlah Vaksin Rabies yang Dibutuhkan (2019-2030) ... 91
LAMPIRAN 10. Referensi Hukum Eliminasi Rabies ... 93
LAMPIRAN 11. Regulasi Rabies yang Diterbitkan oleh Pemerintah Daerah ... 95
LAMPIRAN 12. Peran dan Tanggung Jawab/Partisipasi Kelembagaan Dalam Pelaksanaan Strategi Eliminasi Rabies ... 97
LAMPIRAN 13. Tugas dan Fungsi Kelembagaan Teknis Dalam Pelaksanaan Strategi Eliminasi Rabies ... 105
LAMPIRAN 14. Tata laksana Kasus Gigitan Terpadu (TAKGIT) ... 113
LAMPIRAN 15. Survei Pasca Vaksinasi ... 115
v
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Penyebaran rabies di Indonesia sejak 1996 s/d sekarang ______________________ 9 Tabel 2. Dasar hukum pembebasan rabies di suatu daerah di Indonesia ________________ 11 Tabel 3. Dasar hukum pernyataan berjangkitnya rabies di suatu daerah di Indonesia ______ 12 Tabel 4. Introduksi atau re-introduksi wabah rabies pada anjing di suatu daerah atau pulau di Indonesia dan dugaan sumber penularannya _____________________________________ 17 Tabel 5. Indikator epidemiologik dasar untuk menilai perkembangan eliminasi rabies ______ 43 Tabel 6. Penetapan daerah/wilayah berdasarkan situasi rabies _______________________ 45 Tabel 7. Estimasi populasi anjing di daerah tertular berat, tertular sedang dan tertular ringan di Indonesia ________________________________________________________________ 47 Tabel 8. Parameter input dan output untuk perhitungan kebutuhan vaksin rabies hewan ____ 48 Tabel 9. Jadwal vaksinasi massal anjing Tahap 1 – 4 (2019-2028) _____________________ 51 Tabel 10. Rencana monitoring & evaluasi pelaksanaan strategi nasional eliminasi rabies ___ 70 Tabel 11. Rasio manusia : anjing dari sejumlah studi/survei di Indonesia ________________ 89 Tabel 12. Rasio manusia : anjing dari sejumlah studi di negara-negara Asia dan Afrika _____ 90
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Visi, Misi, dan Sasaran One Healh Roadmap Eliminasi Rabies Nasional 2030 ____ x Gambar 2. Skema Eliminasi Rabies Terpadu dan Berkelanjutan _______________________ xi Gambar 3. Lima Tahap Eliminasi Rabies Nasional _________________________________ xii Gambar 4. Situasi Rabies di Indonesia __________________________________________ xiii Gambar 5. Tiga tujuan dalam rencana strategis global untuk terlaksananya perubahan sosial mencapai bebas rabies tahun 2030 _____________________________________________ 4 Gambar 6. Pendekatan tiga tahap untuk mencapai sasaran bersama tahun 2030 __________ 5 Gambar 7. Distribusi kematian per kapita akibat rabies yang ditularkan oleh anjing _________ 7 Gambar 8. Situasi rabies di Indonesia (s/d tahun 2019) _____________________________ 13 Gambar 9. Jumlah Kasus GHPR dan Lyssa di Indonesia (2009-2018) __________________ 14 Gambar 10. Grafik ketersediaan jumlah VAR terhadap jumlah kasus GHPR (2009-2018) ___ 15 Gambar 11. Jumlah kasus rabies pada manusia dan hewan di Indonesia (2009-2018) _____ 16 Gambar 12. Skema Koordinasi Pelaksanaan Eliminasi Rabies Nasional ________________ 41 Gambar 13. Pemetaan daerah berdasarkan situasi rabies dalam periode 2010-2018_______ 46 Gambar 14. Jumlah dosis vaksin rabies yang direncanakan sesuai dengan strategi eliminasi rabies nasional (2019-2030) __________________________________________________ 49 Gambar 15. Tahap 1 s/d tahap 5 dari pelaksanaan strategi eliminasi rabies nasional (2019- 2030) ___________________________________________________________________ 52 Gambar 16. Grafik batang pelaksanaan strategi eliminasi rabies nasional tahap 1 – 5 (2019- 2030) ___________________________________________________________________ 60
vii
DAFTAR SINGKATAN
AEGCD AHMM AMAF APBN APBD ASEAN ASWGL ARACON ARES BAPPENAS BBLitvet BBVet BNPB BPMSOH BPS BVet CNVR CMRR DALYS FAO
ASEAN Experts Group on Communicable Diseases ASEAN Health Ministers’ Meeting
ASEAN Ministers on Agriculture and Forestry Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Association of South East Asian Nations ASEAN Sectoral Working Group on Livestock ASEAN Rabies Control Network
ASEAN Rabies Elimination Strategy
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Balai Besar Penelitian Veteriner
Balai Besar Veteriner
Badan Nasional Penganggulangan Bencana Badan Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan Badan Pusat Statistik
Balai Veteriner
Capture, Neuter, Vaccinate and Release Capture, Mark, Capture and Recapture Disability Adjusted Life Years
Food and Agriculture Organization of the United Nation FAT
GARC
Flourescent antibody test
Global Alliance for Rabies Control GHPR
HPR KAP KIE KLB LPSE LSM OIE
Gigitan hewan penular rabies Hewan penular rabies
Knowledge, Attitude and Practice Komunikasi, Informasi dan Edukasi Kejadian luar biasa
Layanan Pengadaan Secara Elektronik Lembaga swadaya asyarakat
Office International des Epizooties OIE SRR-SEA
OPD PE PEP PHMS PKK
OIE Sub-Regional Representation for South-East Asia Organisasi Perangkat Daerah
Penyelidikan epidemiologi
Post-exposure prophylaxis (profilaksis pasca pajanan) Penyakit Hewan Menular Strategis
Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga
PrEP Pre-exposure prophylaxis (profilaksis pra pajanan) PMI
PUSVETMA RIAD
RIG SAR SARE
Palang Merah Indonesia Pusat Veterinaria Farma
Rabies Immunoperoxidase Antigen Detection Rabies Immunoglobulin
Serum anti rabies
Stepwise Approach towards Rabies Elimination SDG
SDM SEARO SEARS
Sustainable Development Goal Sumber daya manusia
South-East Asia Regional Office South-East Asia Rabies Strategy
viii SKDR
SPM TAKGIT TIKOR TNI/POLRI TSVL UAR UN SDGs VAR WHO
Standar Kewaspadaan Dini dan Respon Standar Pelayanan Minimal
Tata laksana kasus gigitan terpadu Tim Koordinasi
Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Republik Indonesia Tangkap, Sterilisasi, Vaksinasi, dan Lepas
United Against Rabies
United Nation Sustainable Development Goals Vaksin anti rabies
World Health Organization of the United Nation
ix
RINGKASAN EKSEKUTIF
“Indonesia perlu mengokohkan pelaksanaan One Health Roadmap Eliminasi Rabies Nasional untuk mencapai target bebas rabies tahun 2030”
Masalah rabies di Indonesia
Rabies merupakan penyakit yang dapat menyerang berbagai mamalia, termasuk manusia.
Kejadian rabies pada hewan maupun manusia hampir selalu diakhiri dengan kematian (case fatality rate 100%). Penyakit ini ditularkan melalui gigitan anjing (98%), meskipun juga dapat ditularkan oleh kucing dan kera (2%).
Apabila gejala rabies sudah muncul dan virus mencapai otak, penderita tidak dapat diobati.
Meskipun rabies tidak dapat diobati, tetapi penyakit ini sangat mungkin untuk dicegah. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa rabies sebagai salah satu penyakit yang terabaikan (neglected disease). Setiap kasus kematian manusia akibat rabies bukan hanya merupakan kejadian tragis bagi keluarga dan masyarakat, namun juga menjadi indikator yang sangat jelas dari kegagalan sistem kesehatan dan sistem kesehatan hewan di Indonesia.
Angka kematian akibat rabies di Indonesia yang bertahan diantara 100-150 orang per tahun mengindikasikan bahwa rabies masih terus menjadi suatu ancaman bagi masyarakat, terutama bagi anak-anak. Adanya ancaman ini merefleksikan rendahnya investasi pada kampanye vaksinasi massal anjing dan juga masih terbatasnya ketersediaan dan keterjangkauan terhadap vaksin anti rabies (VAR) untuk manusia.
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di Asia yang masih terus berjuang memerangi rabies sampai saat ini. Seperti diketahui dari sejarah rabies di Indonesia (1996-2019), jumlah provinsi dan pulau yang tertular rabies semakin meningkat dengan munculnya wabah rabies di daerah-daerah yang tadinya bebas historis dan juga timbulnya penularan kembali dari daerah-daerah yang tadinya telah dinyatakan bebas.
Dari 34 provinsi yang ada, sejumlah 26 provinsi dinyatakan sebagai daerah endemik rabies.
Delapan provinsi yang masih dinyatakan sebagai daerah bebas rabies adalah Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Papua dan Papua Barat sebagai daerah bebas historis, dan DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur sebagai daerah yang dideklarasikan bebas rabies. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pengendalian rabies di sebagian besar provinsi atau pulau di Indonesia belum berhasil dilakukan.
One Health Roadmap Eliminasi Rabies Nasional 2030
Indonesia sebagai bagian dari negara-negara dunia harus selalu aktif dan turut serta dalam kolaborasi Badan Kesehatan Dunia (WHO), Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE), Badan Pertanian dan Pangan Dunia (FAO), dan Aliansi Global Pengendalian Rabies (GARC), serta lebih dari 100 negara-negara endemik rabies lainnya di dunia dalam berkomitmen menjalankan strategi global eliminasi rabies yang tertuang dalam dokumen berjudul “Zero by 30” (The Global Strategic Plan to end human deaths from dog-mediated rabies by 2030).
x Mengingat jangka waktu yang tersedia hingga 2030 untuk mencapai target nol kematian manusia akibat rabies yang ditularkan oleh anjing hanya 11 (sebelas) tahun, Indonesia perlu melakukan terobosan untuk bergerak lebih cepat dan efektif. Maka dari itu, tersusunlah “One Health Roadmap Eliminasi Rabies Nasional 2030” dengan visi, misi dan sasaran sebagai berikut:
Untuk mencapai sasaran di atas, maka strategi eliminasi rabies yang akan dilaksanakan dalam jangka waktu 11 tahun (2019-2030) adalah sebagai berikut:
A. Eliminasi Rabies pada Anjing, yang terdiri dari sub-strategi (A1) vaksinasi massal anjing, (A2) manajemen populasi anjing, (A3) promosi kepemilikan anjing yang bertanggung jawab, dan (A4) pengawasan lalu lintas hewan dan tindakan karantina.
B. Pencegahan Rabies pada Manusia, yang terdiri dari sub-strategi (B1) penyediaan akses tepat waktu profilaksis pacsa pajanan (PEP), dan (B2) profilaksis pre-pajanan (PrEP) bagi kelompok berisiko tinggi.
C. Penguatan Surveilans Rabies pada Manusia dan Hewan, yang terdiri dari sub-strategi (C1) penguatan sistem surveilans, (C2) penguatan rencana kesiapsiagaan dan respon wabah, dan (C3) penguatan kapasitas diagnosis laboratorium.
D. Peningkatan Kesadaran, yang terdiri dari sub-strategi (D1) peningkatan kesadaran masyarakat dan edukasi, (D2) peningkatan kesadaran dan praktik manajemen Tata laksana Kasus Gigitan Terpadu (TAKGIT).
SASARAN:
Mengeliminasi rabies pada manusia yang ditularkan lewat anjing
di Indonesia tahun 2030"
MISI:
Mengurangi secara bertahap dan akhirnya
mengeliminasi rabies pada manusia di Indonesia melalui vaksinasi massal anjing yang berkelanjutan dan pemberian profilaksis
pasca pajanan
VISI:
“Indonesia bebas rabies 2030”
Gambar 1. Visi, Misi, dan Sasaran One Healh Roadmap Eliminasi Rabies Nasional 2030
xi E. Penguatan Legislasi nasional dan peraturan daerah, yang menjadi dasar
hukum bagi pelaksanaan strategi eliminasi rabies.
F. Pelaksanaan Riset Operasional, melalui pelaksanaan studi dan survei yang terintegrasi untuk perbaikan kebijakan dan strategi eliminasi rabies ke depan.
G. Penguatan Koordinasi Multisektoral dan Kemitraan, melalui penguatan kapasitas perencanaan, kemitraan, dan koordinasi, manajemen program, dan penguatan kerjasama dengan organisasi internasional.
H. Mobilisasi Sumber Daya, melalui pemenuhan kelengkapan dan ketersediaan sumber daya dan penganggaran yang berkelanjutan.
Vaksinasi massal anjing yang reguler dapat menurunkan kasus rabies pada manusia secara bertahap hingga kematian akibat rabies menjadi nol. Vaksin rabies pada manusia (PEP) dapat mencegah kematian pada saat kejadian kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR). Gambar dibawah ini menunjukkan bahwa eliminasi rabies adalah usaha yang bersifat multisektoral (terpadu) dan berkelanjutan.
Indonesia dapat mencapai sasaran bebas rabies apabila konsisten melakukan vaksinasi massal anjing yang berkelanjutan terhadap > 70% populasi anjing berisiko di daerah tertular per tahun selama 3-5 tahun berturut-turut. Rencana kebutuhan vaksin rabies untuk anjing selama 11 tahun (2019-2020) diperkirakan sebanyak 30.882.148 dosis untuk populasi anjing yang diestimasi sebesar 10.943.918 ekor di daerah tertular berat, sedang dan ringan.
Eliminasi rabies terpadu dan berkelanjutan
Vaksinasi massalanjing
Vaksinasi manusia (PEP)
Perilaku anjing dan kesadaran tentang
rabies
Tata laksana Kasus Gigitan Terpadu
(TAKGIT)
Gambar 2. Skema Eliminasi Rabies Terpadu dan Berkelanjutan
xii Dengan menerapkan strategi-strategi pengendalian rabies seperti yang diuraikan diatas, maka di bawah ini adalah rencana kerja eliminasi rabies yang terbagi dalam 5 (lima) tahap. Untuk menjalankan tahapan demi tahapan (2019-2030) dan sesuai dengan landasan teknis eliminasi rabies, maka usaha perlu difokuskan pada 2 (dua) strategi utama yaitu (A1) vaksinasi massal anjing yang menjadi tanggung jawab Kementerian Pertanian, dan (B1) penyediaan akses tepat waktu PEP yang menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan.
Sebagai komponen penting yang menentukan keberhasilan pelaksanaan vaksinasi massal anjing yaitu meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas vaksin rabies dalam negeri oleh Pusat Veteriner Farma. Dengan tersedianya vaksin rabies produksi dalam negeri, diharapkan kebutuhan vaksin tahunan yang berkisar antara 4,7 - 6 juta dosis dapat tercukupi.
Gambar di bawah ini menguraikan Tahap 1 s/d Tahap 5 eliminasi rabies nasional. Target penurunan insidensi rabies pada manusia diharapkan akan menjadi 40% pada Tahap 3 dengan 70% cakupan vaksinasi di daerah tertular berat, sedang dan ringan. Setelah itu target penurunan insidensi diharapkan akan menjadi 80% pada Tahap 4, sebelum diharapkan akan menjadi nol kasus pada Tahap 5.
Gambar 3. Lima Tahap Eliminasi Rabies Nasional
Sesuai jadwal Roadmap, Provinsi Bali saat ini melakukan kampanye vaksinasi massal rabies yang dimulai pada Tahap 1 (2019-2021). Kampanye vaksinasi massal di 9 daerah tertular berat lainnya akan dimulai pada Tahap 2 (2021-2023), dan daerah tertular sedang dan ringan akan dimulai pada Tahap 3 (2024-2026).
xiii Gambar 4. Situasi Rabies di Indonesia
Lima faktor utama di bawah ini merupakan asumsi dan pra-kondisi yang menentukan keberhasilan pencapaian eliminasi rabies tahun 2030:
1) Komitmen pemerintah yang tinggi dan bersifat jangka panjang terhadap penganggaran dan pelaksanaan One Health Roadmap Eliminasi Rabies Nasional 2030.
2) Komitmen pemerintah daerah seluruh daerah tertular rabies untuk menjalankan strategi eliminasi rabies nasional sejak tahap awal dan bergerak secara bertahap seperti yang direncanakan.
3) Jangka waktu yang ditentukan selama 11 (sebelas) tahun (2019-2030) merefleksikan secara akurat perkembangan suatu daerah tertular menuju eliminasi.
4) Vaksinasi berkelanjutan terhadap 70% populasi anjing berisiko di daerah tertular per tahun tetap dapat dipertahankan paling tidak selama 3-5 tahun.
5) Sumber daya yang cukup dan berkesinambungan untuk menjalankan strategi eliminasi rabies nasional, terutama ketersediaan VAR dan SAR (PEP) serta stok vaksin rabies untuk vaksinasi massal anjing per tahun.
Mekanisme Pelaksanaan
Pelaksanaan One Health Roadmap Eliminasi Rabies Nasional 2030 dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).
Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian memegang peranan kunci secara teknis dan administratif dalam pelaksanaan strategi eliminasi rabies di tingkat nasional.
Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota beserta organisasi perangkat daerah (OPD) melaksanakan strategi eliminasi rabies di tingkat daerah, bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi, sektor swasta (LSM, perusahaan dan sebagainya), organisasi profesi, Palang Merah Indonesia (PMI), Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan sebagainya.
xiv Badan-badan internasional seperti WHO, OIE, FAO and GARC juga penting untuk terlibat dalam memberikan dukungan teknis dan finansial dalam pelaksanaan strategi eliminasi rabies.
1
I. LATAR BELAKANG
Rabies adalah salah satu penyakit tertua dan paling mengerikan yang pernah dikenal manusia.
Catatan tertulis dan bergambar mengenai rabies diketahui berumur lebih dari 4.000 tahun yang lalu, dan saat ini sudah endemik di lebih dari 150 negara di seluruh dunia (WHO 2018a). Meskipun rabies dapat dicegah, penyakit ini diperkirakan membunuh 59.000 orang setiap tahun (Hampson K. et al. 2015).
Rabies cenderung terjadi di wilayah bagian dunia yang paling miskin dan di masyarakat yang paling rentan. Sekitar 40% dari korban rabies adalah anak-anak berusia di bawah 15 tahun di Asia dan Afrika. Sembilan puluh sembilan persen dari kasus manusia di Asia dan Afrika disebabkan oleh gigitan anjing yang terinfeksi, dan bukan karena pendedahan terhadap banyak dan beragamnya satwa liar yang bertindak sebagai ‘reservoir’ virus di berbagai kontinen (WHO 2018b).
Selama beberapa tahun belakangan, banyak negara telah melakukan aksi-aksi untuk memperkuat upaya pengendalian rabies dengan cara meningkatkan skala program vaksinasi anjing, membuat bahan biologik manusia untuk profilaksis pasca pajanan (post-exposure prophylaxis) dan profilaksis pra pajanan (pre-exposure prophylaxis) agar lebih mudah diakses, dan melibatkan masyarakat dalam pengendalian rabies.
Rabies yang ditularkan oleh anjing telah dieliminasi dari Eropa Barat, Kanada, Amerika Serikat, dan Jepang. Dua puluh delapan dari 35 negara-negara Amerika Latin melaporkan tidak ada kematian manusia dari rabies yang ditularkan oleh anjing (Vigilato M.A. et al. 2013).
Langkah besar telah dibuat dalam mengurangi kematian akibat rabies di beberapa negara seperti Bangladesh, Filipina, Srilangka, Tanzania, Vietnam, dan Afrika Selatan. Pengalaman ini telah menghasilkan pengetahuan kolektif yang penting tentang aksi apa yang telah berhasil dilakukan, dan telah memperkuat baik kualitas data terkait rabies dan sejumlah alat yang dapat digunakan untuk pengembangan program-program pengendalian terkait rabies, penguatan kapasitas, edukasi, dan surveilans (Minghui R. et al. 2018).
Sebelumnya, respon global terhadap rabies masih terfragmentasi dan tidak terkoordinasi. Tahun 2016, untuk pertama kalinya Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization), Badan Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization), Badan Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties), dan Global Alliance for Rabies Control (GARC) bergabung untuk mendukung negara-negara di seluruh dunia dalam mempercepat aksi-aksi menuju eliminasi rabies yang ditularkan oleh anjing tahun 2030 (WHO 2018c).
Keempat organisasi tersebut sepakat untuk memobilisasi negara-negara anggotanya, portofolio, dan sumber daya untuk mengeliminasi rabies pada manusia yang ditularkan oleh anjing sesuai dengan target tersebut. Banyak negara-negara endemik rabies pada anjing berada pada tahap awal upaya pengendalian dan masih berusaha mengatasi hambatan-hambatan yang berkaitan dengan pemahaman yang terbatas mengenai epidemiologi rabies di wilayahnya, tantangan
2 logistik dan operasional, kekurangan sumber daya, dan kompetisi prioritas dengan penyakit lain (Dodet B. et al. 2008; Jarvis S. 2016; Wallace R.M. 2015; Wallace R.M. 2017).
Setelah konsultasi yang panjang dengan negara-negara yang terkena dampak rabies, keempat organisasi internasional tersebut mengembangkan dan mempublikasikan suatu Rencana Strategis Global (Global Strategic Plan) untuk mengakhiri kematian manusia akibat rabies yang ditularkan oleh anjing tahun 2030 (WHO 2018c).
1.1. Strategi Global Eliminasi Rabies
Suatu dokumen yang berjudul “Zero by 30 - The Global Strategic Plan to end human deaths from dog-mediated rabies by 2030” telah berhasil disusun tahun 2018 oleh WHO, OIE, FAO dan GARC dengan sasaran mengeliminasi rabies pada manusia yang ditularkan oleh anjing tahun 2030.
Pencapaian sasaran dapat dicapai utamanya dengan pemberian profilaksis pasca pajanan (PEP) masif, dan eliminasi rabies pada anjing. Sasaran ini sangat sejalan dengan United Nations Sustainable Development Goals (UN SDGs) 3 yaitu memastikan kehidupan yang sehat dan mempromosikan kesejahteraan untuk semua golongan umur (WHO 2018c).
“Zero by 30” merupakan rencana strategis global untuk mengkoordinasikan respon pencegahan rabies, integrasi penguatan sistem kesehatan manusia dan hewan, dalam rangka mencapai populasi dunia yang paling tidak terlayani dengan cara mengikutsertakan, memberdayakan dan memampukan seluruh negara untuk mengarahkan dan memperkuat upaya eliminasi rabies.
Bebas rabies pada manusia yang ditularkan oleh anjing adalah suatu barang publik global (global public good)1. Empat rasional kunci yang digunakan dalam menilai mengapa dibutuhkan investasi untuk eliminasi rabies tahun 2030 diuraikan dibawah ini (WHO 2015a).
Rasional 1: Rabies adalah masalah utama kesehatan masyarakat yang secara tidak seimbang membebani masyarakat pedesaan yang miskin.
Sebagian besar (99%) dari kematian manusia terjadi di Afrika dan Asia dimana rabies pada anjing dikendalikan secara buruk dan mempengaruhi secara tidak proporsional masyarakat miskin di pedesaan, dimana akses terhadap PEP terbatas atau bahkan tidak ada (Knobel D.L. et al. 2005;
WHO 2013; Hampson K. et al., 2015; Sambo M. et al. 2013).
Rasional 2: Rabies dapat dicegah meskipun mematikan.
Rabies adalah penyakit yang 100% dapat dicegah dengan vaksin meskipun mematikan.
Kematian dapat dihindari dengan PEP, tetapi dengan intervensi ini saja tidak akan bisa
1 Barang publik global (global public goods) adalah semua barang yang dapat diakses oleh semua negara tetapi tidak memiliki kepentingan individu dalam menghasilkannya. Konsep ‘barang publik’ dihubungkan dengan kebijakan ekonomi. Meskipun demikian, saat ini konsep telah berevolusi tidak hanya dari konsep nasional menjadi global, tetapi juga dari suatu konsep yang semata-mata diterapkan untuk produksi barang menjadi sesuatu yang meliputi isu-isu sosial (edukasi, lingkungan dan sebagainya) dan hak-hak dasar, termasuk hak untuk akses kepada kesehatan dan pangan (Eloit M. 2012).
3 mengeliminasi rabies, akan tetapi hanya akan meningkatkan biaya dari waktu ke waktu (Kasempimolporn S. 2008; Zinsstag J. et al., 2009).
Rasional 3: Rabies pada manusia yang ditularkan oleh anjing dapat dieliminasi dengan vaksinasi anjing.
Rabies dapat dicegah pada sumbernya yaitu dengan vaksinasi anjing. Tidak ada lagi kematian manusia akibat rabies dapat dicapai dengan mengeliminasi rabies pada anjing melalui kampanye vaksinasi massal anjing, yang didukung dengan perbaikan akses terhadap PEP (WHO 2013).
Penurunan kematian manusia akibat rabies sangat erat kaitannya dengan penurunan kasus rabies pada anjing, dan telah diperlihatkan di seluruh negara Amerika Latin dan didemonstrasikan oleh proyek-proyek eliminasi rabies di Afrika dan Asia.
Rasional 4: Eliminasi rabies adalah mungkin.
Eliminasi rabies yang ditularkan oleh anjing secara global adalah mungkin. Sementara sektor kesehatan manusia perlu mengambil peran kunci dalam mencegah kematian akibat rabies, peran dari sektor kesehatan hewan adalah sangat penting dalam mengeliminasi rabies anjing pada sumbernya. Pengendalian rabies adalah suatu uji kasus yang efektif untuk pelaksanaan aksi-aksi
‘One Health’2 yang memerlukan kerjasama efektif antara sektor kesehatan manusia dan kesehatan hewan (WHO 2015b; Lankester F. et al. 2014; Bank W. 2012).
Rencana strategis global menetapkan perubahan sosial yang diperlukan untuk mencapai nol kematian manusia akibat rabies tahun 2030 dengan 3 (tiga) tujuan sebagaimana diuraikan dibawah ini (lihat Gambar 5) (WHO 2018c).
TUJUAN 1:
Menggunakan vaksin, obat-obatan, alat dan teknologi secara efektif untuk mereduksi risiko rabies bagi manusia melalui peningkatan kesadaran dan edukasi, peningkatan akses ke perawatan kesehatan, obat-obatan dan vaksin untuk populasi yang berisiko dan vaksinasi anjing.
TUJUAN 2:
Menghasilkan, menginovasi dan mengukur dampak melalui kebijakan, pedoman dan tata laksana pemerintahan yang efektif dengan mengharmonisasikan rekomendasi-rekomendasi, kerangka dan strategi-strategi internasional lewat penguatan kapasitas negara-negara; dan memastikan ketersediaan data yang dapat dipercaya untuk memungkinkan pengambilan keputusan yang efektif dengan mendorong penggunaan teknologi dan inovasi kesehatan, dan alat-alat yang dapat digunakan oleh negara-negara untuk memonitor data, memperkuat kapasitas surveilans dan mengintegrasikan sistem pelaporan.
TUJUAN 3:
Mempertahankan komitmen dan sumber daya melalui keterlibatan berbagai pemangku kepentingan (multi stakeholder) dan mendemonstrasikan dampak kegiatan yang telah selesai di bawah kolaborasi ‘United Against Rabies’ (UAR) terhadap program-program nasional, regional dan global. Kolaborasi UAR terdiri dari WHO, OIE, FAO, dan GARC.
2 Menangani risiko kesehatan pada keterkaitan antara manusia, hewan dan lingkungan yang dibagikan bersama melalui kolaborasi lintas sektoral dan multidisiplin (WHO 2015a).
4 Gambar 5. Tiga tujuan dalam rencana strategis global untuk terlaksananya perubahan sosial mencapai bebas rabies
tahun 2030
Rencana strategis global tersebut menggunakan pendekatan pragmatis dengan membagi proses pencapaian sasaran nol kematian manusia akibat rabies tahun 2030 menjadi 3 (tiga) tahap (lihat Gambar 6) (WHO 2018c).
Ketiga tahap tersebut adalah:
TAHAP 1 (2018-2020): AWAL (START UP)
Tahap 1 akan melibatkan 29 negara dimana dibangun suatu fondasi yang kuat untuk eliminasi rabies dengan mempersiapkan alat-alat dan struktur untuk mengkatalisasi aksi. Kegiatan inti meliputi dukungan negara-negara untuk menyiapkan rencana eliminasi rabies nasional dengan pendekatan One Health yang kuat, dianggarkan, efektif dan berkelanjutan; dan juga memfasilitasi peleburan rencana ini ke dalam upaya-upaya regional terkoordinasi untuk mencapai sasaran global nol kematian pada manusia akibat rabies tahun 2030.
TAHAP 2 (2021-2025): PENINGKATAN (SCALE UP)
Tahap 2 akan melibatkan 52 negara tambahan, sehingga mencakup sebagian besar negara- negara endemik dalam upaya eliminasi rabies. Dengan menggunakan fondasi kuat yang dibangun pada Tahap 1, disaring dan ditingkatkan dengan pembelajaran dan pengalaman untuk memperluas upaya global. Selama fase ini, negara-negara yang terlibat dalam Tahap 1 akan terus didukung, mempromosikan adanya penganggaran dan program-program nasional yang berkelanjutan. Fokus pada tahap ini adalah mempertajam rencana eliminasi regional dengan memobilisasi negara-negara untuk secara bersama-sama, membangun dan melaksanakan strategi di wilayahnya menuju nol kematian manusia akibat rabies tahun 2030.
TAHAP 3 (2026-2030): PENGHENTIAN (MOP UP)
Tahap 3 dimana negara-negara tersisa akan diikutsertakan dalam perang mengeliminasi rabies, dan upaya negara-negara terus didukung mengingat komunitas, bangsa dan regional akan
5 menyelesaikan pencapaian sasaran dalam fase ini. Pembelajaran yang diperoleh pada Tahap 1 dan Tahap 2 adalah vital untuk memastikan kesuksesan dari fase terakhir ini mengingat 19 negara sisa akan didorong menuju eliminasi rabies. Pada tahap ini akan dimanfaatkan seluruh pencapaian yang diperoleh dari dua fase pertama dan membuat nol kematian manusia akibat rabies tahun 2030 menjadi kenyataan.
Gambar 6. Pendekatan tiga tahap untuk mencapai sasaran bersama tahun 2030
1.2. Strategi Regional Eliminasi Rabies
WHO Asia Tenggara (SEARO) bersama dengan 11 (sebelas) negara anggota (8 diantaranya berstatus endemik rabies) tahun 2012 menyusun suatu dokumen yang berjudul: “Strategic Framework for Elimination of Human Rabies Transmitted by Dogs in the South-East Asia Region”. Strategi regional ini dikembangkan untuk eliminasi rabies pada manusia yang ditularkan oleh anjing di wilayah Asia Tenggara melalui strategi pengendalian rabies yang progresif pada anjing dan profilaksis rabies pada manusia di negara-negara endemik dan untuk mempertahankan status bebas rabies di wilayah di Asia Tenggara tahun 2020.
Strategi dalam dokumen tersebut terdiri dari 3 (tiga) elemen yaitu:
(i) pencegahan, dengan mengintroduksi teknik-teknik intervensi yang hemat biaya untuk meningkatkan aksesibilitas, kemampuan dam ketersediaan PEP. Begitu juga dengan mengembangkan program-progam vaksinasi massal anjing;
(ii) promosi, dengan meningkatkan pemahaman tentang rabies melalui advokasi, kesadaran, edukasi dan riset operasional. Begitu juga promosi kepemilikan anjing yang bertanggung jawab; dan
6 (iii) kemitraan, dengan menyediakan dukungan koordinasi untuk mendorong kegiatan-kegiatan anti rabies dengan melibatkan komunitas, masyarakat sipil, pemerintah dan sektor non- pemerintah serta mitra internasional (WHO 2012).
Panggilan untuk melakukan aksi bersama untuk mengeliminasi rabies tahun 2020 di antara negara-negara anggota Association of South East Asian Nations (ASEAN) yang berjumlah 11 (sebelas) negara, ditambah dengan 3 (tiga) negara Asia lainnya (Tiongkok, Jepang dan Korea) diinisiasi tahun 2008 dengan dukungan administratif dari Sekretariat ASEAN dan dukungan teknis dari OIE Sub‐Regional Representation for South‐East Asia (OIE SRR-SEA). Pemikiran mengenai perlunya strategi regional eliminasi rabies tersebut dituangkan ke dalam suatu dokumen awal yang berjudul “The South-East Asia Dog Rabies Elimination Strategy” (SEARS) (OIE 2008).
Panggilan untuk mengadakan aksi eliminasi rabies di ASEAN yang dituangkan dalam dokumen tersebut telah disetujui pada 2 (dua) pertemuan tingkat menteri ASEAN yaitu 30th ASEAN Ministers on Agriculture and Forestry (AMAF) di Vietnam tahun 2008 dan 9th ASEAN Health Ministers’ Meeting (AHMM) di Manila tahun 2008.
Meskipun pemikiran tersebut telah berkembang selama beberapa tahun, namun kesepakatan untuk mengembangkan suatu strategi eliminasi rabies regional baru terbentuk pada pertemuan ASEAN Sectoral Working Group on Livestock (ASWGL) di Myanmar tahun 2012 dengan dukungan dari OIE SRR SEA. Untuk merealisasikan strategi regional tersebut, negara-negara anggota ASEAN yang difasilitasi oleh Sekretariat ASEAN dan dukungan teknis dari OIE SRR- SEA tahun 2016 menyusun suatu dokumen yang berjudul “ASEAN Rabies Elimination Strategy” (ARES).
ARES dirancang untuk melengkapi kerangka regional yang sudah ada, yang dikembangkan untuk mengendalikan dan mengeliminasi rabies pada manusia oleh WHO South-East Asia Regional Office (SEARO) tahun 2012.
ARES belakangan telah disetujui melalui ad referendum oleh ASEAN Sectoral Working Group on Livestock (ASWGL) dan ASEAN Experts Group on Communicable Diseases (AEGCD) tahun 2014. Selanjutnya, dokumen ini disetujui pada pertemuan tingkat menteri yaitu pertemuan 12th ASEAN Health Ministers (AHMM) di Hanoi dan 36th ASEAN Ministers on Agriculture and Forestry (AMAF) di Myanmar tahun 2014 (ASEAN 2012).
ARES merupakan strategi regional yang menyediakan suatu kerangka strategis untuk mereduksi dan mengeliminasi rabies di negara-negara anggota ASEAN tahun 2020. Strategi ini menyatukan 4 (empat) pilar yaitu (i) sosio-budaya, (ii) teknis, (iii) organisasi dan “One Health”, dan (iv) kebijakan dan legislasi yang disebut “STOP-R” untuk memerangi tantangan eliminasi rabies di negara-negara anggota ASEAN.
Pilar SOSIO-BUDAYA meliputi komunikasi rabies dan upaya pengendalian rabies, promosi kepemilikan hewan peliharaan yang bertanggung jawab, perubahan perilaku terhadap pengendalian rabies di sektor kesehatan manusia dan kesehatan hewan, dan dukungan peringatan “World Rabies Day”. Pilar TEKNIS meliputi kegiatan vaksinasi, surveilans dan epidemiologi, kapabilitas laboratorium diagnostik, akses terhadap farmasetikal berkualitas
7 termasuk vaksin dan immunoglobulin, manajemen populasi anjing, monitoring dan pengendalian lalu lintas hewan, dan penelitian. Pilar ORGANISASI dan “ONE HEALTH” meliputi koordinasi regional, nasional dan sub-nasional, koordinasi lintas sektoral, dan kemitraan pemerintah-swasta.
Pilar KEBIJAKAN dan LEGISLASI meliputi dukungan politik tingkat tinggi, legislasi dan penerapannya, dan mobilisasi sumber daya (ASEAN 2012).
1.3. Ekonomi rabies
Rabies merupakan penyakit zoonosis global yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat, pertanian dan ekonomi. Jumlah kematian manusia akibat rabies dari anjing secara global diestimasi sebesar 59.000 setiap tahun, dan penyakit ini bertanggung jawab terhadap hilangnya 3,7 juta DALYs (disability adjusted life years) (Hampson K. et al. 2015).
DALYs merupakan metode untuk memperkirakan beban penyakit rabies secara komprehensif, yang meliputi penghitungan kerugian dan kehilangan produktivitas karena mortalitas dan morbiditas, biaya langsung seperti pemberian VAR dan SAR, serta biaya tidak langsung seperti biaya transportasi dan kehilangan pendapatan. Kerugian peternakan dan biaya surveilans serta tindakan pencegahan seperti vaksinasi juga termasuk di dalamnya (WHO 2018b).
Kerugian ekonomi secara global diestimasi sebesar $US 8,6 miliar setiap tahun. Komponen yang terbesar dari beban ekonomi tersebut disebabkan oleh kematian dini (55%), diikuti dengan biaya langsung PEP (20%) dan kehilangan pendapatan saat mencari PEP (15,5%), dengan biaya yang terbatas sektor veteriner karena vaksinasi anjing (1,5%), dan biaya tambahan bagi masyarakat karena kerugian ternak (6%) (Hampson K. et al. 2015).
Gambar 7. Distribusi kematian per kapita akibat rabies yang ditularkan oleh anjing
Tingkat kematian per kapita akibat rabies tertinggi ada di negara-negara miskin, yang merefleksikan rendahnya investasi pada vaksinasi anjing dan ketersediaan dan keterjangkauan
8 terhadap PEP (lihat Gambar 3) (Hampson K. et al. 2015). Mayoritas kematian diperkirakan terjadi di Asia (59,6%) dan Afrika (36,4%) (WHO 2018b).
Kerugian ekonomi rabies secara menyeluruh di Indonesia belum dikaji sampai saat ini. Suatu studi yang menghitung biaya pengendalian rabies di Pulau Flores mengestimasi beban biaya akibat rabies sebesar $US 1,12 juta ($US 0,60 – 1,47 juta) per tahun. Biaya untuk pemusnahan anjing-anjing berkeliaran merupakan biaya tertinggi, sekitar 39% dari total biaya, diikuti dengan PEP (35%), vaksinasi massal anjing (24%), PrEP (1,4%), dan lain-lain (1,3%) yang terdiri dari investigasi kasus GHPR, diagnostik untuk anjing-anjing terduga rabies, investigasi penelusuran balik kontak manusia dengan anjing terinfeksi rabies, dan karantina anjing yang diimpor (Wera E.
et al. 2013).
Suatu studi mengenai kerugian ekonomi akibat rabies di Provinsi Bali menunjukkan bahwa dampak wabah rabies (2008-2011) adalah sebesar Rp336,5 miliar. Kerugian ekonomi tersebut sebagian besar berasal dari biaya kesehatan masyarakat dan biaya vaksinasi dan depopulasi anjing. Kerugian ekonomi akibat biaya kesehatan masyarakat tertinggi terjadi tahun 2010, sedangkan akibat biaya vaksinasi dan pemusnahan anjing tertinggi tahun 2011 (Batan I.W. et al.
2015).
Vaksinasi massal anjing dinilai sebagai strategi jangka panjang yang lebih hemat biaya (cost- effective) daripada bergantung kepada pemberian PEP. Argumen logis ini menimbulkan pendapat berdasarkan fakta bahwa penanganan rabies pada sumber populasinya, yaitu anjing akan mengarah kepada perlindungan manusia, ternak dan hewan lainnya dari rabies yang ditularkan oleh anjing (Cleaveland S. et al. 2006). Jika rabies yang ditularkan oleh anjing dapat dieliminasi, biaya rabies yang sekarang ini disebabkan oleh kematian dini, kerugian ternak, dan pemberian PEP dapat diartikan sebagai biaya yang dapat dihemat dan menjadi keuntungan karena jiwa manusia terselamatkan (Shwiff S. et al. 2013).
9
II. ANALISIS SITUASI
2.1. Sejarah Rabies di Indonesia
Kasus rabies pertama kali dilaporkan di Indonesia oleh Schoorl pada seekor kuda di Jakarta (1884), kemudian oleh J.W. Esser pada seekor kerbau di Bekasi (1889). Setelah itu, oleh Penning pada seekor anjing (1890) dan oleh E.V. de Haan pertama kali dilaporkan pada manusia (1894) (Kementerian Kesehatan 2017).
Sebelum Indonesia merdeka tahun 1945, rabies hanya ditemukan di Jawa Barat. Setelah Indonesia merdeka, rabies ditemukan di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatera Barat (1953), Sumatera Utara dan Sulawesi Utara (1956), Sumatera Selatan (1959), Lampung (1969), Aceh (1970), Jambi dan DI Yogyakarta (1971), DKI Jakarta, Bengkulu dan Sulawesi Tengah (1972), Kalimantan Timur (1974), Riau (1975), Kalimantan Tengah (1980), dan Kalimantan Selatan (1983).
Campur tangan pemerintah terhadap pengendalian rabies sebenarnya telah dilakukan sejak era tahun 1920-an, dimana Pemerintah Hindia Belanda menerbitkan ordonansi tentang penyakit anjing gila atau rabies, yaitu Hondsdolheids Ordonantie (Staatsblad 1926 Nomor 451 jo Staatblad 1926 Nomor 452).
Tabel 1. Penyebaran rabies di Indonesia sejak 1996 s/d sekarang
Wilayah di Indonesia Provinsi Tahun Pulau Flores Nusa Tenggara Timur 1997
Pulau Ambon Maluku 2003
Pulau Seram Maluku 2003
Pulau Halmahera Maluku Utara 2005
Pulau Morotai Maluku Utara 2005
Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat 2005
Pulau Buru Maluku 2006
Pulau Bali Bali 2008
Pulau Bengkalis Riau 2009
Pulau Rupat Riau 2009
Pulau Nias Sumatera Utara 2010
Pulau Larat Maluku 2010
Pulau Dawera Maluku 2012
Pulai Kisar Maluku 2012
Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat 2015 Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat 2018
10 Dalam dua dekade berikutnya, wabah rabies cenderung semakin menyebar ke wilayah lainnya di Indonesia. Saat ini, 26 provinsi telah dinyatakan tertular rabies, 5 (lima) provinsi bebas historis dan 4 (empat) provinsi dideklarasi bebas rabies. Penyebaran rabies dari satu wilayah ke wilayah lainnya sejak tahun 1996 dapat dilihat pada Tabel 1.
2.1.1. Rabies di Pulau Jawa
Pemerintah Indonesia mencatat sejarah sukses dalam pengendalian dan pemberantasan rabies dengan melakukan vaksinasi massal rabies di Pulau Jawa. Pulau Jawa (Provinsi-provinsi Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur) dinyatakan bebas tahun 1997 melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 892/Kpts/TN.560/9/1997 (lihat Tabel 2). Sampai saat ini, ketiga provinsi tersebut tetap menjadi daerah bebas rabies.
Setelah itu, Pemerintah Indonesia menetapkan 3 (tiga) provinsi di Pulau Jawa, yaitu Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta dan Provinsi Banten, sebagai daerah bebas rabies tahun 2004 melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 556/Kpts/PD.640/10/2004 (lihat Tabel 2). Rabies kemudian muncul kembali di Provinsi Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Garut (2005, 2006, 2009), Kabupaten Tasikmalaya (2006), Kota Sukabumi (2007), Kabupaten Sukabumi (2008, 2010, 2012, 2016), dan Kabupaten Cianjur (2008, 2015). Kemudian, rabies juga dilaporkan di Provinsi Banten, yaitu di Kabupaten Lebak (2008) dan Kabupaten Pandeglang (2010).
Setelah dilaporkannya kembali kasus rabies di kedua provinsi tersebut, Pemerintah Indonesia kemudian menerbitkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 3600/Kpts/PD.640/10/2009 (lihat Tabel 3) yang menyatakan rabies berjangkit kembali di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten.
2.1.2. Rabies di Provinsi Kalimantan Barat
Rabies pertama kali dilaporkan di Provinsi Kalimantan Barat (2005) yaitu terjadi di Kabupaten Ketapang. Setelah melakukan upaya pengendalian dan pemberantasan rabies, Provinsi Kalimantan Barat dinyatakan sebagai daerah bebas rabies (2014) melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 885/Kpts/PD.620/ 8/2014 (lihat Tabel 2). Tidak terlalu lama dari keluarnya Keputusan tersebut, rabies berjangkit kembali di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat (2014). Penyebaran rabies semakin cepat meluas di Provinsi Kalimantan Barat.
Pada awal tahun 2018, Kota Pontianak merupakan satu-satunya kota dari seluruh 14 kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat yang belum ada laporan rabies.
11 Tabel 2. Dasar hukum pembebasan rabies di suatu daerah di Indonesia
No. Daerah bebas Dasar hukum
1. Provinsi Jawa Timur, DI Yogyakarta, Provinsi Jawa Tengah
Kepmentan No. 892/Kpts/TN.560/9/1997 tanggal 15 September 1997
2. DKI Jakarta, Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Barat*
Kepmentan No. 566/Kpts/PD.640/10/2004 tanggal 6 Oktober 2004
3. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Kepmentan No. 4435/kpts/Pd/620/7/2013 tanggal 1 Juli 2013
4. Provinsi Kalimantan Barat* Kepmentan No. 885/Kpts/PD.620/8/2014 tanggal 14 Agustus 2014
5. Pulau Mentawai (Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat)
Kepmentan No. 238/Kpts/PD.650/4/2015 tanggal 7 April 2015
6. Pulau Meranti (Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau)
Kepmentan No. 239/Kpts/PD.650/4/2015 tanggal 7 April 2015
7. Provinsi Kepulauan Riau Kepmentan No. 240/Kpts/PD.650/4/2015 tanggal 7 April 2015
8. Pulau Enggano (Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu)
Kepmentan No. 241/Kpts/PD.650/4/2015 tanggal 7 April 2015
9. Pulau Weh (Kota Sabang, Provinsi Aceh) Kepmentan No. 363/Kpts/PK.320/5/2016 tanggal 31 Mei 2016
9. Pulau Pisang (Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung)
Kepmentan No. 368/Kpts/PK.320/6/2016 tanggal 10 Juni 2016
10. Provinsi Nusa Tenggara Barat* Kepmentan No. 316/Kpts/PK.320/5/2017 tanggal 12 Mei 2017
11. Pulau Tarakan, Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik (Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara)
Kepmentan No.776/Kpts/P.320/11/2018 tanggal 6 November 2018
12. Pulau Tabuan (Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung)
Kepmentan No. 783/Kpts/P.320/11/2018 tanggal 12 November 2018
13. Pulau Makalehi, Buhias, Palepa, Tagulandang, Ruang dan Biaro, Kabupaten Siau Tagulandang Biaro, Provinsi Sulawesi Utara
Kepmentan No. 428/Kpts/PK.320/M/7/2019 tanggal 1 Juli 2019
14. Provinsi Papua Kepmentan No. 429/Kpts/P.320/M/7/2019 tanggal 2 Juli 2019
Catatan: * Provinsi Jawa Barat, Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Barat tidak lagi dinyatakan sebagai daerah bebas dengan berjangkitnya rabies di wilayah tersebut.
2.1.3. Rabies di Pulau Flores
Sebelumnya,Pulau Flores di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah daerah bebas rabies secara historis, sampai dilaporkannya kasus rabies untuk pertama kali di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur tahun 1997. Pernyataan berjangkitnya wabah rabies di Pulau Flores dinyatakan dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 756/Kpts/TN.510/98 (lihat Tabel 3).
Dalam jangka waktu empat tahun berikutnya, rabies sudah menyebar ke Kabupaten Sikka (1998), Kabupaten Ende (1999), Kabupaten Lembata (1999), Kabupaten Ngada (2000), dan Kabupaten Manggarai (2000). Kabupaten Manggarai Barat yang terletak di ujung barat Pulau Flores
12 merupakan daerah bebas rabies hingga tahun 2004, dimana dilaporkan adanya kasus rabies di kabupaten ini, menjadikan seluruh kabupaten di pulau flores sebagai daerah endemik (Scott-Orr H. et al. 2009).
2.1.4. Rabies di Pulau Bali
Sebelumnya, Provinsi Bali adalah daerah bebas Rabies secara historis, sampai dengan dilaporkannya kasus rabies pertama kali yang mengakibatkan kematian manusia di Kabupaten Badung (2008). Dalam hal ini, Pemerintah Indonesia menerbitkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 16371.1/Kpts/PD.610/12/2008 (lihat Tabel 3) yang menyatakan rabies berjangkit di Kabupaten Badung.
Rabies kemudian juga berjangkit di Kota Denpasar (2008) dan dalam jangka waktu dua tahun terus menyebar ke seluruh kabupaten di Provinsi Bali (2010) (Putra A.A.G. 2011).
Tabel 3. Dasar hukum pernyataan berjangkitnya rabies di suatu daerah di Indonesia
No. Pernyataan berjangkitnya rabies Dasar hukum 1. Pulau Flores (Provinsi Nusa Tenggara
Timur
Kepmentan No. 756/Kpts/TN.510/98 tanggal 8 September 1998
2. Kabupaten Halmahera Utara (Povinsi Maluku Utara)
Kepmentan No. 303/Kpts/PD.620/7/2005 tanggal 25 Juli 2005
3. Kabupaten Badung (Provinsi Bali) Kepmentan No. 16371.1/Kpts/PD.610/12/2008 tanggal 1 Desember 2008
4. Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur dan Kota
Sukabumi (Provinsi Jawa Barat) dan Kabupaten Lebak (Provinsi Banten)
Kepmentan No. 3600/Kpts/PD.640/10/2009 tanggal 19 Oktober 2009
5. Pulau Nias Kepmentan No. 1242/Kpts/PD.620/3/2010
tanggal 19 Maret 2010 6. Kabupaten Dompu (Provinsi Nusa
Tenggara Timur)
Kepmentan No. 223/KPTS/PK.320/M/3/2019 tanggal 27 Maret 2019
2.1.5. Rabies di Pulau Nias
Setelah sekian lama Pulau Nias dinyatakan sebagai daerah bebas historis rabies, pada awal tahun 2010 muncul wabah rabies untuk pertama kalinya, yang merenggut nyawa di Kota Gunung Sitoli. Pernyataan berjangkitnya rabies ditetapkan melalui Keputusan Menteri Nomor 1242/Kpts/PD.620/3/2010 (lihat Tabel 3). Penyakit ini kemudian menyebar secara cepat ke seluruh kabupaten di Pulau Nias, sehingga keseluruhan Pulau Nias saat ini dinyatakan sebagai wilayah endemis rabies.
13
2.1.6. Rabies di Kabupaten Dompu
Sebelumnya, Provinsi Nusa Tenggara Barat dinyatakan sebagai daerah bebas historis rabies melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 316/Kpts/PK.320/5/2017 (lihat Tabel 2). Pada awal tahun 2019, muncul wabah rabies di Kabupaten Dompu yang menyebabkan korban manusia yang meninggal dunia. Penyakit ini secara cepat menjalar hampir ke seluruh kecamatan di Kabupaten Dompu. Pernyataan berjangkitnya wabah rabies di Kabupaten Dompu ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 223/KPTS/PK.320/M/3/2019 (lihat Tabel 3).
2.2. Situasi Epidemiologi Rabies di Indonesia
Dari 34 provinsi yang ada, sejumlah 26 provinsi dinyatakan sebagai daerah endemik rabies dan hanya sisa 8 provinsi yang masih dinyatakan sebagai daerah bebas rabies, yaitu Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Papua dan Papua Barat sebagai daerah bebas historis, dan DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur sebagai daerah yang dideklarasikan bebas rabies. Situasi rabies di Indonesia saat ini dapat dilihat pada Gambar 8.
2.2.1. Situasi Rabies pada Manusia
Rabies merupakan penyakit yang paling mematikan di dunia dengan tingkat kematian 99,9%
setelah gejala klinis muncul. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, tercatat rata-rata 100- 150 orang meninggal dunia akibat rabies dalam 10 tahun terakhir (2009-2018) di Indonesia. Total kematian akibat rabies mencapai 1.368 orang (2009-2018) (lihat Gambar 9). Dalam jangka waktu tersebut, kematian akibat rabies yang tinggi jumlahnya terjadi di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, dan Maluku (lihat Lampiran 1).
Gambar 8. Situasi rabies di Indonesia (s/d tahun 2019)
14 Data Kementerian Kesehatan juga menunjukkan selama jangka waktu 2009-2018, terdapat lebih dari 50.000 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) di Indonesia. Rata-rata per tahun kasus GHPR sekitar 74.000 kasus, mengalami peningkatan yaitu dari 45.466 kasus tahun 2009 menjadi 84.750 kasus tahun 2012 atau sebanyak 86,3% (lihat Gambar 9). Hal ini disebabkan pada jangka waktu tersebut terjadi kenaikan tingkat insidensi rabies di beberapa daerah, yaitu di Provinsi Bali, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, dan Maluku. Dalam jangka waktu 2011-2018, Provinsi Bali, Nusa Tenggara Timur dan Sumatera Utara selalu menunjukkan jumlah GHPR yang tinggi (lihat Lampiran 2).
Sumber: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan R.I.
Tahun 2014-2015, kasus GHPR kembali mengalami peningkatan, yaitu sebanyak 73.767 kasus di tahun 2014 dan 80.403 kasus di tahun 2015 (lihat Gambar 9). Kasus GHPR terbanyak terjadi di Bali, sebanyak 42.630 kasus dan Nusa Tenggara Timur, sebanyak 7.386 kasus di tahun 2015 (lihat Lampiran 2). Kasus GHPR di tahun 2016 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2015, yaitu 68.271 kasus. Namun, kasus GHPR dalam dua tahun terakhir kembali mengalami peningkatan yaitu tahun 2017 menjadi 74.912 kasus dan tahun 2018 menjadi 80.868 kasus (lihat Gambar 9).
Pemberian vaksin anti rabies (VAR) merupakan upaya pencegahan primer yang efektif untuk mencegah terjadinya kasus lyssa atau kematian manusia akibat rabies. Gambar 10 menunjukkan grafik ketersediaan jumlah VAR terhadap jumlah kasus GHPR (2009-2018). Grafik menunjukkan terjadi peningkatan ketersediaan jumlah VAR, yaitu sebanyak 35.316 dosis tahun 2009 menjadi 74.331 di tahun 2012 atau meningkat sebanyak 67,8% dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun. Di tahun 2013, terjadi penurunan jumlah VAR menjadi 54.059 dosis. Tahun 2014-2018,
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 GHPR 45466 78574 84010 84750 69136 73767 80403 68271 74912 80868
Lyssa 195 206 184 137 119 98 118 99 111 111
45466
78574
84010 84750
69136
73767
80403
68271
74912
80868
195 206
184
137
119 98
118 99
111 111
0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 80000 90000
0 50 100 150 200 250
GHPR Lyssa
Gambar 9. Jumlah Kasus GHPR dan Lyssa di Indonesia (2009-2018)
15 ketersediaan jumlah VAR hampir selalu konsisten dengan rata-rata sekitar 54.400 dosis per tahun.
Gambar 10. Grafik ketersediaan jumlah VAR terhadap jumlah kasus GHPR (2009-2018)
Sumber: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan R.I.
Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah dosis VAR yang disediakan per tahun adalah rata-rata 70% dari jumlah kasus GHPR setiap tahun. DIstribusi VAR per provinsi (2011-2018) dapat dilihat pada Lampiran 3.
2.2.2. Situasi rabies pada hewan
Kasus rabies pada hewan dari tahun ke tahun menunjukkan tren yang fluktuatif (lihat Gambar 11). Berdasarkan data Kementerian Pertanian tahun 2009, jumlah kasus rabies pada hewan secara keseluruhan di Indonesia yaitu 1.191 kasus dan kasus meningkat menjadi 1.814 tahun 2010. Tahun 2011 terjadi sedikit penurunan menjadi 1.689 kasus.
Dalam jangka waktu 2012-2014 terjadi sedikit penurunan kasus rabies pada hewan yaitu dari 1.293 tahun 2012 menjadi 1.074 tahun 2014, serta diikuti sedikit peningkatan menjadi 1.416 kasus tahun 2015. Dalam jangka waktu 2016-2017, terjadi penurunan hampir separuh (56%) dibandingkan dengan tahun 2015. Kemudian tahun 2018, terjadi peningkatan kembali menjadi 1.085 kasus. Distribusi kasus rabies pada hewan per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.
Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan merupakan 2 (dua) provinsi dengan kasus rabies pada hewan terbanyak tahun 2017 dan 2018. Jika dibandingkan dengan 2017, terdapat sekitar 40%
kenaikan kasus rabies tahun 2018 (lihat Lampiran 5).
35316
63658
71843 74331
54059
59541 57899
45311
51581
57887
45466
78574
84010 84750
69136
73767
80403
68271
74912
80868
0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 80000 90000
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
VAR GHPR
16 Grafik dalam Gambar 11 mengindikasikan tren yang kurang lebih sama antara kasus rabies pada manusia dan hewan. Kasus rabies pada manusia akan mengikuti tren rabies pada hewan. Salah satu sebab meningkatnya kasus rabies pada hewan dan manusia tahun 2015 yaitu ada kenaikan kasus lyssa di Provinsi Sumatera Utara, Bali, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara dan Maluku Utara (lihat Lampiran 1).
Sumber: Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P3TVZ), Kementerian Kesehatan R.I.; Direktorat Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian R.I.
Hubungan antara kasus rabies pada anjing dan kepadatan populasi manusia sering kali diukur menggunakan parameter epidemiologi seperti ‘basic reproduction number’ (R0) (Kurosawa A. et al. 2017). R0 adalah suatu ukuran rata-rata jumlah infeksi sekunder yang dihasilkan oleh individu anjing dalam suatu populasi yang peka. Jika nilai R0 > 1, mengindikasikan suatu kemungkinan yang kuat bahwa penyakit akan menyebar. Antara bulan November 2008 dan Maret 2010, diestimasi bahwa R0 untuk penularan rabies antar anjing di Pulau Bali adalah sekitar 1,2. Nilai ini sama dengan yang dilaporkan di populasi lainnya, seperti di Tanzania, meskipun kepadatan anjing di Pulau Bali setidaknya 10 kali lipat lebih tinggi (> 250 anjing per km2) (Townsend S.E. et al. 2013).
Estimasi ini dikuatkan dengan bukti-bukti yang berkembang bahwa metode yang bertujuan untuk mengendalikan rabies yang menyebar dengan mengurangi kepadatan anjing (seperti dengan pemusnahan massal) tidak akan berjalan efektif (Towsend S.E. and Hampson K. 2014).
Introduksi rabies ke pulau-pulau yang bebas historis di Indonesia seperti Pulau Flores (1997) dan Pulau Bali (2008) diasumsikan karena anjing yang ditransportasikan antar pulau dengan menggunakan kapal ikan (lihat Tabel 4). Hal ini dapat dibuktikan dari suatu studi yang menginvestigasi 27 sampel otak yang dikumpulkan dari hewan terinfeksi rabies dari berbagai
1191
1814 1689
1293 1162 1074
1416
624 625
1085 195 206
184
137
119
98
118
99
111 111
0 50 100 150 200 250
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Kasus Rabies pada Hewan Kasus Rabies pada Manusia (Lyssa) Gambar 11. Jumlah kasus rabies pada manusia dan hewan di Indonesia (2009-2018)
17 spesies di Pulau-pulau Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Flores antara tahun 2008-2010.
Berdasarkan analisis genetika, leluhur virus rabies Indonesia berasal dari Jawa dan keturunannya ditularkan ke Kalimantan, kemudian lebih lanjut ke Sumatera, Flores dan Bali. Keturunan virus rabies Flores kemudian ditularkan ke Sulawesi dan kembali ke Kalimantan. Virus-virus rabies tersebut ditemukan dari berbagai spesies hewan yang ditularkan oleh anjing (Dibia I.N. et al.
2015).
Tabel 4. Introduksi atau re-introduksi wabah rabies pada anjing di suatu daerah atau pulau di Indonesia dan dugaan sumber penularannya
Lokasi wabah Sejarah epidemiologi sebelum wabah
Estimasi
kejadian Waktu
deteksi Dugaan sumber
penularan Sumber
Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah
Tidak ada kasus selama 10 tahun terakhir
Agustus- September 1985
September 1985
Anjing ditranportasikan dari Jawa Barat yang endemik rabies
Waltner-Toews et al. 1990
Larantuka, Pulau Flores, NTT
Populasi naif September 1997 November
1997 Anjing yang dibawa dengan kapal ikan dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara
Bingham J. 2001;
Windiyaningsih C.
et al. 2004;
Scott-Orr H. et al.
2009 Kota Badung,
Bali Pulau naif April 2008 November
2008 Anjing yang dibawa dengan kapal ikan dari Sulawesi
Knobel D. and Hiby E. 2009
Putra A.A.G. et al.
2009;
Susilawathi N.M. et al. 2012
Sumber wabah rabies di Pulau Bali disebabkan oleh virus keturunan Indonesia yang mengikuti suatu introduksi tunggal. Leluhur virus-virus rabies Bali merupakan keturunan dari virus Kalimantan. Penelusuran kontak menunjukkan bahwa peristiwa tersebut kemungkinan besar terjadi pada awal tahun 2018. Introduksi rabies ke populasi anjing yang jumlahnya besar dan tidak divaksin di Bali menggambarkan secara jelas adanya risiko penularan penyakit dari daerah lain. Pemerintah harus meningkatkan kesiapsiagaan dan upaya untuk mengurangi risiko tersebut secara berkelanjutan untuk mencegah kejadian tersebut terulang di kemudian hari (Mahardika G.N.K. et al. 2013).
Ketiadaan (atau belum diketahuinya) reservoir rabies dari satwa liar di Indonesia juga mendukung hipotesis bahwa penyebaran rabies dari pulau ke pulau terjadi melalui perpindahan dan lalu lintas anjing yang diperantai oleh manusia (Mustiana A. 2013).
18
2.3. Perkembangan Pengendalian Rabies di Indonesia
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di Asia yang masih terus berjuang melawan rabies (Ditkeswan 2019). Upaya yang dahulu dilakukan oleh Pemerintah untuk memberantas rabies dengan program vaksinasi dan eliminasi anjing liar yang dilakukan selama bertahun-tahun tidak banyak memberikan hasil. Di daerah tertentu, kasus rabies bahkan semakin meningkat (Adjid R.M.A. et al. 2005).
Di sektor kesehatan manusia, rabies telah ditetapkan sebagai jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501/Menkes/PER/X/2010. Sedangkan di sektor kesehatan hewan, rabies telah ditetapkan sebagai salah satu penyakit hewan menular strategis (PHMS) yang menjadi prioritas di Indonesia karena berdampak terhadap kesehatan masyarakat dan sosio-ekonomi berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 4026/Kpts/OT.140/04/2013.
Di masa lalu, kegiatan pengendalian rabies dengan vaksinasi dan eliminasi anjing dilakukan dengan metode yang disebut ‘Local Area Specific Problem Solving’, yaitu penanganan rabies melalui pendekatan spesifik wilayah yang prinsipnya dipusatkan di daerah-daerah kasus, ditambah daerah-daerah lain yang berbatasan langsung dengan daerah kasus (Adjid R.M.A. et al. 2005).
Namun seperti diketahui dari sejarah rabies di Indonesia (1996-2019), semakin banyak jumlah provinsi dan pulau yang tertular dengan munculnya wabah rabies di provinsi atau pulau yang tadinya bebas historis dan juga timbulnya penularan kembali dari provinsi atau kabupaten yang telah dinyatakan bebas. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pengendalian rabies pada sebagian besar provinsi atau pulau di Indonesia belum berhasil dilakukan, karena berbagai alasan yang belum dapat dicarikan solusinya sampai saat ini.
Perkembangan program pengendalian rabies di Pulau Flores setelah introduksi dan penyebaran sejak tahun 1997 sampai saat ini belum menunjukkan kemajuan yang berarti. Respon awal yang dilakukan untuk melawan penyakit ini adalah dengan memusnahkan anjing di desa-desa tertular di Kabupaten Flores Timur (1998-1999). Sekitar 70% dari seluruh anjing yang ada di kabupaten- kabupaten tertular kemudian dimusnahkan, namun demikian rabies terus menyebar ke seluruh pulau (Windiyaningsih C. et al. 2004).
Kemudian sejak tahun 2000, dilaksanakan tindakan-tindakan pengendalian, termasuk vaksinasi massal anjing, pemusnahan anjing liar, karantina anjing yang dimasukkan ke Pulau Flores, dan pemberian PrEP dan PEP untuk korban gigitan. Tindakan pengendalian tambahan yang juga dilaksanakan adalah investigasi kasus GHPR, uji diagnostik dari anjing terduga rabies, dan penelusuran kembali kontak korban gigitan dengan anjing terinfeksi rabies (Windiyaningsih C. et al. 2004).
Program vaksinasi rabies anjing tahunan, yang diwajibkan bagi setiap pemilik anjing, dilaksanakan di Kabupaten Ende dan Manggarai. Belakangan, program juga dilaksanakan di Kabupaten-kabupaten Flores Timur, Sikka, Nagakeo, Manggarai Timur dan Manggarai Barat.