• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI MENGAJAR GURU DALAM MENGHADAPI PERBEDAAN KEMAMPUAN BELAJAR SISWA KELAS VII MTS NEGERI BALANG-BALANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STRATEGI MENGAJAR GURU DALAM MENGHADAPI PERBEDAAN KEMAMPUAN BELAJAR SISWA KELAS VII MTS NEGERI BALANG-BALANG"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI MENGAJAR GURU DALAM MENGHADAPI PERBEDAAN KEMAMPUAN BELAJAR SISWA KELAS VII MTS NEGERI

BALANG-BALANG

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikanislam (S.Pd.I) Pada Jurusan

Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar

HASNI 105 190 1222 11

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1436 H/2014 M

(2)
(3)
(4)
(5)

KATA PENGANTAR

للهدد ا لإا لله ددشام ا ددلا لإا لله ددشا اللهللهادد ا ا مددا ,ددمي لإددم ناللهمدد مددملا ددلا قلددلا ا للهددمحلا .للهع امأ .لإاعم أ حصم لاىل م االلهاش ىل ملسم لص م للا. لمس م Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan program sarjana di UNISMUH Makassar.

Dalam penulisan skripsi ini banyak mengalami hambatan mengungat keterbatasan ilmu dan kemampuan yang dimiliki, namun berkat bimbingan, bantuan dan kerja sama dari berbagai pihak secara moril maupun material sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari akan berbagai keterbatasan dan kekurangan dalam penyusunan skripsi ini dan masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, penulis ucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:

1. Orang tua dan suami saya tercinta yang begitu sabar membiayai dan memberikan dukungan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.

2. Bapak Dr. H. Irwan Akib, selaku rektor universitas muhammadiyah makassar.

3. Bapak Drs. H. Mawardi Pewangi M.Pd.I bersama para pembantu dekan Fakultas Agama Islam yang telah mengembangkan Fakultas.

(6)

4. Ibu Amirah Mawardi S.Ag, M.Si ketua jurusan Fakultas Agama Islamyang senatiasa membantu penulis dalam persoalan akademik, terlebih lagi sebagai pembimbing I yang telah banyak meluangkan waktu dan tenaganya dalam memberikan bimbingan dan saran-saran dalam penyelesaian karya tulis ini.

5. Bapak Markas Iskandar, S.Ag,M.Pd.I sebagai pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan saran-sarannya dalam penyelesaian skripsi ini.

6. Para dosen yang senantiasa dengan penuh keikhlasan mentransfer ilmunya hingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

7. Seluruh staf dan guru MTs negeri balang-balang yang telah membantu penulis dalam penelitian dan semua pihak yang telah membantu serta teman-teman seperjuanganku angkatan 2011 yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu khususnya kelas A.

Akhirul kalam, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Makassar, 19 Rabiul Awal 1436 H 10 januari 2015

Penulis

H A S N I

(7)

ABSTRAK

Hasni :105 190 1222 11: Strategi Mengajar Guru Dalam Menghadapi Perbedaan Kemampuan Belajar Siswa Kelas VII Mts Negeri Balang- Balang Kabupaten Gowa. (Dibimbing Oleh : Amirah Mawardi Dan Markas Iskandar).

Penelitian ini bertujuan untuk memahami gambaran tingkat perbedaan kemampuan belajar siswa, mengetahui strategi guru dalam menghadapi perbedaan kemampuan belajar siswa kelas VII , dan mengetahui langkah-langkah yang dilakukan guru dalam menghadapi perbedaan kemampuan belajar siswa kelas VII MTs Negeri Balang- balang.

Penelitian ini dilaksanakan di MTs Negeri balang-balang dengan menggunakan jenis penelitian deskriptif yaitu penelitian yang memberikan gambaran terhadap objek yang telah diperoleh secara mendalam.

Populasi/objek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII yang berjumlah 254 dan guru kelas VII yang berjumlah 13 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa dan guru kelas VII MTs negeri balang-balang sebagai responden sekaligus informan yang dipilih secara porposif sampling dengan jumlah keseluruhan 50 orang dan kepada guru berjumlah 3 orang. Ada dua variabel dalam penelitian ini yaitu strategi mengajar guru, dan perbedaan kemampuan belajar siswa. Instrument yang digunakanoleh peneliti adalah pedoman angket, pedoman observasi, pedoman wawancara, dan catatan dokumentasi. Tekhnik pengumpulan data yang dipakai oleh peneliti adalah:observasi, angket, dan interview.

Penelitian menunjukkan bahwa: siswa kelas VII MTs Negeri balang- balang memiliki tingkat perbedaan kemampuan belajar yang berbeda- beda, ada yang tinggi, sedang dan rendah. Perhatian siswa terhadap pembelajaran 76% sedangkan yang sedang 20% dan kurang 4%.tingkat pemahaman materi, yang tinggi 58%, sedang 30% dan rendah 6%.

Penguasaan materi, yang tinggi 30%, sedang 58%, rendah 12%. yang mengerjakan tugastugas percobaan dari guru 54%, sedang 32%, rendah 14%. 68% siswa mengatakan bahwa guru telah menggunakan bahasa yang mudah difahami,78% mengatakan guru telah menggunakan alat peraga yang sesuai, 45% mengatakan guru memberikan kesempatan untuk belajar sendiri, 54% mengatakan guru mengadakan ulangan harian 60% mengatakan guru telah mengadakan pengayaan atau remedial kepada siswa. langkah-langkah yang dilakukan guru dalam mengatasi perbedaan kemampuan belajar siswa kelas VII MTs Negeri balang-balang adalah mengatir bahan ajar, metode, alat atau media pengajaran, dan evaluasi

(8)
(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

BERITA ACARA MUNAQASYA ... ii

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI ...iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ... v

KATA PENGANTAR ...vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ...ix

DAFTAR TABEL ...xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 3

D. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Strategi Belajar Mengajar ... 5

B. Pengelolaan Strategi Pembelajaran ... 11

C. Fungsi Dan Tujuan Strategi Pembelajaran... 16

D. Perbedaan Kemampuan Belajar ... 21

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 33

B. Lokasi dan Objek Penelitian ... 33

C. Variabel Penelitian ... 34

D. Defenisi Operasional Variabel ... 34

(10)

E. Populasi dan Sampel ... 35

F. Instrument Penelitian ... 37

G. Teknik Pengumpulan Data ... 40

H. Teknik Analisis Data ... 41

BAB VII HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Objektif Lokasi Penelitian ... 44

B. Gambaran Perbedaan Tingkat Kemampuan Belajar Siswa Kelas VII MTs Negeri Balang-Balang Dalam Proses Pembelajaran ... 50

C. Strategi Mengajar Guru Dalam Menghadapi Perbedaan Kemampuan Belajar Siswa Kelas VII MTs Negeri Balang- Balang ... 57

D. Langkah-Langkah Yang Dilakukan Guru Dalam Menghadapi Perbedaan Kemampuan Belajar Siswa Kelas VII MTs Negeri Balang-Balang…… ... 65

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 69

B. Saran-saran ... 71

DAFTAR PUSTAKA ... 73 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Keadaan Populasi ... 37

Tabel 2 Keadaan Sampel ... 38

Tabel 3 Fasilitas Sekolah ... 47

Tabel 4 Perlengkapan Sekolah ... 48

Tabel 5 Siswa Memperhatikan Ketika Guru Sedang Menyampaikan Materi Pelajaran Dikelas ... 51

Tabel 6 Siswa Mampu Memahami Materi Pelajaran Yang Disampaikan Oleh Guru dan Mengingatnya ... 52

Tabel 7 Siswa Dapat Menguasai Materi Pelajaran yang Telah Disajikan Oleh Guru ... 53

Tabel 8 Siswa Mengerjakan Tugas-Tugas yang Diberikan Guru atau Melakukan Percobaan Tentang Materi yang Telah Diajarkan ... 54

Tabel 9 Siswa Mampu Mengerjakan Soal-Soal yang Diberikan Oleh Guru dengan Mandiri ... 56

Tabel 10 Guru dalam Menyampaikan Pelajaran Menggunakan Bahasa yang Mudah Difahami ... 58

Tabel 11 Guru Menggunakan Alat Peraga yang Sesuai dengan Bahan Ajar Ketika Menjelaskan Materi Pelajaran ... 60

Tabel 12 Guru Memberikan Kesempatan Kepada Siswa Untuk Belajar Sendiri ... 61

Tabel 13 Guru Mengadakan Ulangan Harian Setelah Pembelajaran Selesai ... 63

Tabel 14 Guru Memberikan Tugas Pengayaan Atau Remedial Terhadap Siswa ... 64

(12)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa maka tidaklah dapat dipungkiri bahwa penyelenggaraan pendidikan merupakan suatu hal yang mutlak dilakukan. Tolak ukur kemajuan suatu bangsa amatlah ditentukan oleh generasi muda.

Dalam UU No.20 tahun 2003, tentang sistem pendidikan nasional (2003:5) menjelaskan tentang fungsi pendidikan sebagai berikut:

Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bertakwa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi, serta bertanggung jawab.

Penyelenggaraan pendidikan merupakan suatu hal yang rumit dan konpleks, mengingat salah satu dimensi yang amat penting yang tercakup didalamnya ialah pengajaran. Pengajaran adalah alat yang paling efektif untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu. Pengajaran sering diidentikkan dengan pendidikan, meskipun sesungguhnya pengajaran itu adalah salah satu dari bentuk kegiatan pendidkan.

Proses pengajaran adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang terorganisasi, lingkungan ini diatur dan diawasi agar tercipta kegiatan belajar yang menantang dan merangsang para siswa untuk belajar. Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat dua hal yang ikut

(13)

menentukan keberhasilannya, yakni pengaturan proses belajar mengajar dan pengajaran itu sendiri yang keduanya saling keterkaitan. Kemampuan mengatur pembelajaran yang baik akan menciptakan situasi yang memungkinkan anak untuk belajar. Namun masalah yang terkadang dihadapi seorang guru disekolah dalam proses pembelajaran ialah yang berkaitan dengan strategi mengajar guru yang diterapkan didalam kelas.

Akibatnya guru yang tidak mampu menghadapi serta mengatasi masalah tersebut, maka tidak akan mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi Nugroho Hidayanti dalam Anita E. Wallfolk (2002:22), mengemukakan bahwa: fenomena rendahnya mutu pembelajaran disebabkan oleh sikap spekulatif dan intenitif guru dalam memilih metode dan strategi pembelajaran. Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa peningkatan kwalitas pendidikan dapat dilakukan dengan memperbaiki kualitas pembelajaran dengan jalan peningkatan pengetahuan tentang merancag metode pembelajaran yang efektif, efisien dan memiliki daya tarik.

Ketidak mampuan guru dalam melihat perbedaan-perbedaan individual anak dalam kelas banyak membawa kegagalan dalam memelihara dan membina kedekatan antara guru dan anak. Banyaknya anak yang gagal sekolah atau drop out mungkin juga disebabkan oleh praktek pengajaran yang melupakan perbedaan-perbedaan kemampuan

(14)

individual anak disamping faktor lain seperti latar belakang ekonomi, keluarga, atau sebab lainnya.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis dapat merumuskan beberapa masalah.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana gambaran perbedaan tingkat kemampuan belajar siswa kelas VII MTS Negeri Balang-balang dalam proses pembelajaran ?

2. Bagaimana strategi mengajar guru dalam menghadapi perbedaan kemampuan belajar siswa kelas VII MTS Negeri Balang-balang ?

3. Langkah-langkah apa yang dilakukan guru dalam mengatasi perbedaan kemampuan belajar siswa kelas VII MTs Negeri balang-balang ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang dimaksud adalah :

1. Untuk mengetahui perbedaan tingkat kemampuan belajar siswa kelas VII MTS Negeri Balang-balang dalam proses pembelajaran.

2. Untuk mengetahui strategi mengajar guru dalam menghadapi perbedaan kemampuan belajar siswa dalam proses pembelajaran di kelas VII MTS Negeri Balang-balang.

(15)

3. Untuk mengetahui langkah-langkah yang dilakukan guru dalam mengatasi perbedaan kemampuan belajar siswa.

D. Manfaat penelitian

Selain penelitian ini memiliki tujuan dan sasaran, maka penelitian ini juga memiliki target atau manfaat, yakni:

1. Memberikan pengetahuan dan pengalaman bagi penulis dalam melaksanakan penelitian dan penerapan dan pengetahuan.

2. Memberikan informasi kepada penyelanggaraan pendidikan tentang strategi mengajar yang dapat diterapkan dalam menghadapi perbedaan kemampuan belajar siswa dalam proses pembelajaran.

3. Sebagai bahan informasi sekaligus bahan pertimbangan bagi peneliti yang berminat mengadakan penelitian lanjutan secara mendalam.

BAB II

(16)

TINJAUAN PUSTAKA

A.

Pengertian Strategi Belajar Mengajar

Strategi belajar mengajar yang disingkat dengan SBM terdiri dari kata “strategi, belajar dan mengajar”. Namun sebelum membicarakan tentang apa yang dimaksud dengan strategi balajar mengajar, ada baiknya penulis memaparkan lebih awal tentang apa yang dimaksud dengan belajar – mengajar.

Belajar pada dasarnya adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman (Nana Sujana, 1996 : 5).

Akyas Azhari (1996 : 38) mengemukakan bahwa :

“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.”

Oemar Hamalik (1999 : 36) mengemukakan bahwa belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Jadi, belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.

Dalam Al quran dijelaskan pula bahwa orang yang memiliki ilmu pemgetahuan akan diberikan derajat yang tinggi oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-mujaadilah ayat 11 berikut:



























(17)

Terjemahan :

…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(kemenag RI, 2011 : 11)

Dengan demikian, belajar dapat diartikan sebagai suatu usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku melalui pengalaman sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya.

Sedangkan kata mengajar menurut Nana Sudjana (1996 : 7) adalah sebagai berikut:

“Mengajar adalah membimbing kegiatan siswa belajar. Mengajar adalah mengatur dan mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar siswa sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan siswa melakukan kegiatan belajar.”

Mengajar mengandung pengertian sebagai usaha mengorganisasikan lingkungan dalam hubungannya dengan siswa dan bahan pengajaran yang menimbulkan terjadinya proses belajar (moh.

Uzer usman, 1994 : 3). Dengan demikian mengajar berarti segala upaya yang dilakukan secara sengaja, berencana dan sistematis dalam rangka member kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar dalam rangka mencapai suatu perubahan.

Jadi mengajar pada hakikatnya bermaksud mengantarkan siswa mencapai tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Dalam praktek, perilaku mengajar yang dipertunjukkan guru sangat beraneka ragam, meskipun maksudnya sama. Aneka ragam perilaku guru dalam menyajikan materi pelajaran kepada siswa, bila ditelusuri akan diperoleh

(18)

gambaran tentang serangkaian peristiwa atau adanya suatu prosedur yang dirancang oleh guru dalam memberi dorongan kepada siswa belajar.

Rangkaian peristiwa dalam mengajar, sebagai pendorong siswa belajar diterima oleh siswa secara individual pula. Artinya setiap individu siswa memperoleh pengaruh dari luar dalam proses belajar dengan kadar yang berbeda-beda, sesuai dengan kemampuan atau potensi masing- masing. Namun demikian, meskipun pengaruh pengajaran yang diterima bersifat individual, namun proses pengajaran itu sendiri dapat dilakukan dalam bentuk kelompok. Prosedur dalam proses mengajar disebut dengan strategi belajar mengajar (Muhammad Ali, 1992 : 67).

Adapun kata strategi berdasarkan kamus umum bahasa indonesia (2001 : 1092) diartikan dengan ilmu dan seni memimpin bala tentara untuk menghadapi perang dan damai, atau juga sebagai sebuah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.

Menurut Nana Sudjana (1996 : 5) strategi dapat diartikan sebagai suatu garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dari sumber lain Nana Sudjana (1996 : 147) mengemukakan pula bahwa strategi adalah tindakan nyata yang dinilai lebih efektif dan lebih efissien, atau dengan kata lain politik atau taktik yang mencerminkan langkah-langkah secara sistematik dan sistemik.

Sedangkan pengertian yang lain yang dikemukan oleh Oemar Hamalik (1993 : 1) strategi dapat didefinisikan sebagai keseluruhan usaha

(19)

termasuk perencanaan, cara dan tekhnik yang digunakan oleh militer untuk mencapai kemenangan dalam peperangan. Strategi dalam kaitanya dengan proses belajar mengajar, maka strategi diartikan sebagai pola umum kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan atau ditentukan sebelumnya. Jadi pengertian strategi dalam hal ini menunjuk pada karakteristik abstrak dari rentetan perbuatan guru siswa didalam peristiwa belajar mengajar.

Dengan demikian, strategi belajar mengajar adalah pola umum perbuatan guru-siswa didalam perwujudan kegiatan belajar mengajar (J.J Hasibun dan Moedjiono, 1999 : 3).

Dengan demikian, strategi belajar mengajar atau SBM merupakan keseluruhan prosedur yang ditempuh oleh guru dan siswa yang memungkinkan atau memberi kesempatan atau peluang kepada siswa unuk melakukan kegiatan belajar dalam rangka mencapai tujuan tertentu.

Oleh karena itu strategi apa yang dipilih dan digunakan oleh seorang guru, pada hakikatnya bergantung kemampuan guru itu sendiri yang ditandai dengan pengetahuan keterampilan, sikap, dan pengalamannya serta bertalian dengan ruang lingkup proses belajar mengajar.

Oleh sebab itu, setiap guru disamping harus menguasai dunianya sebagai pengajar, juga ia harus menguasai kompetensinya atau kemampuan dalam mengajar. Dalam proses belajar mengajar guru bertugas menyiapkan kondisi belajar, mengatur lingkungan dan

(20)

menciptakan situasi belajar seoptimal mungkin. Hal ini dimaksudkan agar supaya dapat terjalin interaksi antara siswa dan lingkungannya secara efektif. Hal ini menggambarkan bahwa strategi belajar mengajar merupakan bagian integral dari proses pendidikan yang sangat menentukan kualitas lulusan yang sangat diharapkan.

Itulah sebabnya, seorang guru yang profesional hendaknya memiliki bekal dan kesiapan yang memadai agar mampu melaksanakan tugasnya secara efektif. Dari pemaparan singkat diatas, dapat diketahui bahwa seorang guru harus mempunyai kompetensi, harus menguasai strategi, metode, bahan pelajaran dan segala yang berkaitan dengan proses belajar mengajar.

Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa merupaka syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar.

Karena mengajar merupakan suatu usaha dan setiap usaha harus meliputi empat masalah sebagai strategi dasar dari setiap usaha meliputi empat masalah, yakni:

(21)

1. Pengidentifikasian dan penetapan spesifikasi dan kualifikasi hasil yang harus dicapai dan menjadi sasaran usaha tersebut dengan memepertimbangkan aspirasi masyarakat yang memerlukannya.

2. Pertimbanagan dan pemilihan pendekatan utama yang ampuh untuk mencapai sasaran.

3. Pertimbangan dan penetapan langkah-langkah yang ditempuh sejak awal sampai akhir.

4. Pertimbangan dan penetapan tolok ukur dan ukuran baku yang akan digunakan untuk menilai keberhasilan usaha yang dilakukan (Abu Ahmadi, 1997 : 12).

Dari keterangan diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan strategi belajar mengajar adalah tindakan nyata yang dilakukan guru dengan menggunakan berbagai variabel pengajaran baik berupa bahan, metode, alat atau media pengajaran, serta evaluasi agar dapat mendorong atau mempengaruhi siswa belajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

B.

Pengelolaan Strategi Pembelajaran

Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. Kalau belajar dikatakan milik siswa, maka mengajar sebagai tugas atau kegiatan guru.

(22)

Menurut Arni Fajar (2004 : 13) dalam bukunya “porto folio dalam pengajaran IPS” mengemukakan bahwa :

“Mengajar adalah memberikan sesuatu dengan cara membimbing dan membantu kegiatan belajar kepada seseorang (siswa) dalam mengembangkan potensi intelektual, emosional, serta spiritual sehingga potensi-potensi tersebut dapat berkembang secara optimal.”

Tujuan mengajar adalah agar bahan yang disampaikan dapat dikuasai sepenuhnya oleh semua murid, bukan hanya beberapa orang saja yang diberikan angka tinggi. Pengajaran yang baik adalah usaha yang berhasil membawa seluruh peserta didik kepada tujuan itu. Apa yang diajarkan hendaknya dipahami sepenuhnya oleh semua anak didik. Oleh karena itu seorang guru harus mampu membuat pembelajaran menjadi sesuatu yang menyenangkan agar anak didik merasa nyaman. Sebagai mana sabda Rasulullah SAW berikut:

َثَعَ ب اَذِإ َمهلَسَو ِوْيَلَع ُهللَّا ىهلَص ِهللَّا ُلْوُسَر َناَك َلاَق ىَسْوُم ِْبَِأ ْنَع اوُرِّشَب َلاَق ِهِرْمَا ِضْعَ ب ِفِ ِوِباَحْصَأ ْنِم اًدَحَأ

اُرِّسَعُ ت َلاَو اوُرِّسَيَو اوُرِّفَنُ ت َلاَو

)ملسم هاور(

Artinya:

Dari Abu Burdah dari Abu Musa, ia berkata Rasulullah SAW ketika mengutus salah seorang sahabat di dalam sebagian perintahnya Rasulullah SAW bersabda berilah mereka kabar gembira dan janganlah mereka dibuat lari dan permudahkanlah manusia dalam soal-soal agama dan janganlah mempersukar mereka (HR. Imam Muslim)

Hadits diatas sejalan dengan firman Allah dalam surah Al-anbiya’

ayat 107 sebagai berikut:













(23)

Terjemahan :

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.(Kemenag RI : 107)

Dalam ayat lain Allah berfirman dalam surah An-nahl ayat 125 berikut :















Terjemahan :

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.(Kemenag RI : 125)

Menurut S.Nasution (2003 :36) anak didik pada dasarnya berbeda secara individu dalam caranya belajar perbedaan individual ini harus dipertimbangkan dalam strategi mengajar agar tiap anak dapat berkembang sepenunya serta menguasai bahan pengajaran secara tuntas. Namun, ini merupakan suatu tantangan bagi setiap guru yang ingin pekerjaannya benar-benar sebagai suatu profesi.

Banyak guru yang memberi pengajaran untuk keperluan ujian saja yang segera akan dilupakan oleh para peserta didiknya. Namun, bukan itu hasil belajar yang diinginkan. Harapan yang diinginkan dari proses belajar ialah agar anak-anak memahami pelajaran secara mendalam sehingga pelajaran tersebut dapat bermanfaat bagi kehidupannya. Dengan bahan pelajaran yang cukup dan alat peraga yang memadai, maka guru dapat

(24)

mengatasi kondisi tersebut karena guru akan dikatakan gagal jika anak didik tidak mampu menerima pelajaran dengan baik.

Roestia (2006 : 1) mengemukakan bahwa didalam proses belajar mengajar, guru harus mempunyai strategi mengajar, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efissien, mengena pada sasaran yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memilih strategi itu ialah harus menguasai teknik penyajian atau biasanya disebut metode mengajar.

James block sebagaimana yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto (1996:26) menguraikan tentang kegiatan guru pada waktu didalam kelas adalah memperhatikan keragaman siswa sehingga guru memperlakukan mereka dengan cara dan waktu yang berbeda.

Berdasarkan pendapat diatas, dapatlah dipahami bahwa untuk pengembangan intelektual siswa, maka perlu sekali tersedia fasilitas perpustakaan yang cukup yang memberi kemungkinan setiap anak dapat belajar secara individu. Dalam proses belajar bebas atau aktifitas program pengayaan bagi siswa yang memiliki kemampuan belajar yang cepat, perpustakaan merupakan tempat dan fasilitas yang penting. Tanpa ada perpustakaan yang memadai.

Selain itu, juga diperlukan program khusus yang diperuntukkan bagi siswa dengan membuat kelompok untuk siswa yang cepat, kemudian untuk siswa yang lambat dan kelompok khusus bagi siswa yang memiliki hambatan fisik, perbedaan kesiapan dan kecepatan belajar ini perlu mendapat pelayanan yang betul-betul tepat sasaran.

(25)

1. Bagi anak yang cepat, ada dua kemungkinan program yang dapat dikembangkan siswa pengayaan dan percepatan. Program pengayaan ialah pemberian program tambahan bagi anak yang cepat memahami pelajaran untuk pendalaman bahan yang telah dikuasai.

2. Bagi siswa yang lambat, program yang dapat dikembangkan adalah remedial. Bentuk program ini dapat berupa kelas khusus remadial, suatu mata pelajaran tertentu, menambah interaksi antara guru dan murid, karena anak yang lambat mungkin sulit menerima pelajaran bersama, maka guru menjelaskan pelajaran itu secara individual kepadanya.

3. Bagi siswa kelompok khusus lainnya, dalam kelas juga terdapat siswa yang memiliki hambatan fisik (mata juling,hambatan pendengaran dan lain-lain).siswa yang demikian telah menerima penanganan khusus.

Disamping itu, yang tidak kalah pentingnya adalah kegiatan guru dengan penerapan strategi belajar didalam kelas, yaitu dengan melaksanakan program-program pengajaran dalam menghadapi perbedaan kemampuan belajar setiap individu siswa tersebut.

Berdasarkan pemaparan diatas, dapat dipahami bahwa pengelompokan siswa atau prestasi belajarnya dalam satu kelompok memungkinkan guru untuk mengajar anak dengan materi yang sesuai dengan metode mengajar yang tepat pula. Hal ini akan menghilangkan corak pengajaran yang sulit bagi anak lambat dan terlalu mudah bagi anak cepat.

(26)

Metode yang paling tepat diterapkan agar guru dapat dengan mudah melakukan pengelompokan tersebut adalah metode Tanya jawab.

Metode ini juga diterapkan oleh Rasulullah SAW ketika memberikan pelajaran kepada para sahabat. beliau bersabda:

ِساهنلا ُّقَحَأ ْنَم ِهللَّا ُلْوُسَراَي ٌلُجَر َلاَق َلاَق َةَرْ يَرُى ِبَِأ ْنَع َكُّمُأ هُثُ َكُّمُأ هُثُ َكُّمُأ َلاَق ؟ ِةَبْحُّصلا ِنْسُِبِ

)ملسم هاور( َكاَنْدَأ َكاَنْدَأ هُثُ َكْوُ بَأ هُثُ

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a Berkata : ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasul. Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak saya hormati?

Beliau menjawab : “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian yang lebih dekat dan yang lebih dekat dengan kamu (HR. Muslim)

Berdasarkan hadits diatas, maka dalam proses pembelajaran sangat efektif jika guru menggunakan metode Tanya jawab.

C.

Fungsi dan Tujuan Strategi Belajar Mengajar

Jika berbicara tentang masalah belajar mengajar, khususnya fungsi dan tujuan strategi belajar mengajar, maka tak lain yang kita maksudkan itu adalah sesuatu yang dicapai, sama halnya dengan tujuan tuhan menciptakan manusia, seperti dijelaskan dalam surah az-zariyat : 56















Artinya :

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.(Kemenag RI : 56)

Berdasarkan ayat diatas, menunjukkan bahwa fungsi dan tujuan penciptaan manusia oleh Allah swt. Pada dasarnya tidak lain adalah untuk

(27)

menyembah kepadanya. Oleh karena itu, sebagai seorang hamba wajib menyembah dan beribadah hanya kepda Allah swt.

Adapun keterkaitan antara firman Allah tersebut dengan strategi belajar mengajar adalah terletak pada fungsi dan tujuan. Artinya bahwa manusia diciptakan memiliki fungsi dan tujuan, demikian pula dengan strategi belajar mengajar memiliki fungsi dan tujuan. Tujuan akan tercapai apabila suatu usaha berakhir dengan baik dan telah sampai pada tujuan yang telah direncanakan. Suatu usaha biasanya berakhir bila sudah sampai pada tujuan, namun kadang usaha itu berhenti sebelum sampai tujuan. Hal ini belum dapat dikatakan berakhir akan tetapi hanya mengalami hambatan untuk sampai pada tujuan akhir.

Strategi belajar mengajar merupakan suatu cara, taktik, teknik atau metode yang digunakan untuk membimbing aktivitas belajar siswa.

Aktivitas belajar siswa sangat dibutuhkan agar belajar lebih efektif dan dapat mencapai hasil yang optimal. Oleh karena itu, guru harus meningkatkan kesempatan belajar bagi siswa dan meningkatkan kualitas mengajar. Kesempatan belajar siswa dapat ditingkatkan dengan cara melibatkan siswa secara aktif.

Menurut J.J. Hasibuan (1999:3), Proses belajar mengajar yang efisien dapat tercapai apabila dapat menggunakan strategi belajar mengajar. Strategi belajar mengajar siswa diperlukan untuk mencapai hasil yang maksimal. Mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang

(28)

memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yaitu tujuan yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, guru dan siswa yang harus memainkan peranan serta ada dalam bimbingan sosial tertentu. Yaitu kegiatan yang dilakukan, serta sarana dan prasarana belajar mengajar yang tersedia.

Metode megajar adalah alat yang merupakan bagian dari perangkat alat atau cara dalam pelaksanaan suatu strategi belajar mengajar. Oleh karena itu, strategi belajar mengajar merupakan sarana atau alat untuk mencapai tujuan belajar maka metode belajar merupakan alat pula untuk mencapai tujuan belajar (J.J. Hasibuan 1993:3). Upaya pengembangan strategi belajar mengajar harus diarahkan kepada keaktifan optimal belajar siswa (Nana Sujana, 1996:5).

Paradigma tersebut menunjukkan bahwa salah satu usaha untuk meningkatkan kwalitas hasil belajar, dapat ditempuh melalui penggunaan strategi belajar mengajar dengan kemampuan mengembangkan cara belajar siswa aktif. Terwujudnya siswa aktif dan efisiennya proses belajar mengajar, menggambarkan bahwa siswa akan mencapai prestasi belajar yang baik atau setidaknya akan mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Fungsi dan tujuan strategi belajar mengajar tidak lain hanyalah merupakan tujuan dari pengajaran itu sendiri. Oleh karena itu, strategi belajar mengajar merupakan rangkaian dari mengajar atau pengajaran

(29)

yang didalamnya terdapat strategi mengajar yang lazim disebut dengan metode mengajar.

Dalam buku Strategi Belajar Mengajar oleh Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetyo(1997:53), menyebutkan bahwa fungsi dan tujuan strategi belajar mengajar adalah:

a. Untuk membangkitkan motifasi, minat atau gairah belajar siswa.

b. Untuk merangsang keinginan siswa, untuk belajar lebih lanjut, melakukan ekslporasi dan inovasi.

c. Untuk meniadakan penyajian yang verbalitas dan mengaktifkannya dengan pengalaman atau situasi yang nyata dan bertujuan.

d. Untuk mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dengan cara memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi.

Jadi dengan fungsi dan tujuan strategi pengajaran tersebut, maka guru dalam proses belajar mengajar harus melihat kepada tujuan pengajaran dan sebagai rujukan atau kerangka acuan dalam mengajar.

Dengan demikian, pengajaran yang diberikan dapat berhasil guna dan berdaya guna.

Sedangkan Oemar Hamalik, mengatakan bahwa fungsi dan tujuan strategi belajar mengajar, antara lain adalah:

a. Untuk mempermudah memahami pelajaran yang disajikan oleh para guru.

(30)

b. Untuk mempercepat pemahaman siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkan oleh guru.

c. Untuk menarik simpatik para siswa terhadap mata pelajaran yang dipelajarinya(Oemar Hamalik, 1993:7).

Jenis-jenis strategi yang terdapat dalam proses belajar mengajar sangatlah banyak, namun keseluruhannya mengandung tujuan yang sama yakni mengupayakan terciptanya kegiatan belajar siswa yang aktif, efektif, efisien, dan optimal sehingga dapat mencapai hasil yang memuaskan, yakni memiliki atau menguasai sejumlah pengetahuan, keterangan dan nilai serta sikap.

Sukses tidaknya suatu proses belajar mengajar dapat dikatahui dari adanya perubahan dari tingkah laku siswa menuju kesempurnaan pengajaran. Dikatakan sukses apabila :

1. Hasilnya mantap atau tahan lama dapat digunakan siswa dalam hidupnya

2. Siswa dapat menggunakan apa yang dipelajarinya dengan bebas dengan penuh kepercayaan dalam berbagai situasi dalam hidupnya.

Pendekatan strategi belajar mengajar yang diterapkan oleh guru harus tercermin dalam dua hal, yakni dalam satuan pelajaran dan dalam praktek pengajaran. Dalam suatu pelajaran, pemikiran cara belajar siswa aktif tercermin dalam rumusan isi suatu pelajaran pada hakikatnya adalah

(31)

rencana atau proyeksi tindakan yang akan dilakukan oleh guru pada waktu mengajar.

Dengan demikian guru yang akan mengajar dengan pendekatan pada bagaimana mengaktifkan siswa, harus memikirkan hal-hal apa yang akan dilakukan serta menuangkan secara tertulis kedalam satuan pelajaran.merumuskan bahan pelajaran harus diatur agar menantang siswa aktif mempelajarinya. Kegiatan belajar siswa ditetapkan dan diurutkan secara sistematis sehingga memberi peluang adanya kegiatan belajar bersama, kegiatan belajar kelompok, dan kegiatan belajar mandiri atau perseorangan.

Oleh sebab itu, belajar secara aktif bukan semata-mata tuntutan administrasi guru, melainkan bagian penting dari praktek pengajaran agar diperoleh hasil belajar siswa yang optimal. Praktek pengajaran ini wujudnya tidak lain adalah tindakan guru mengajar siswa, yakni adanya interaksi antara guru dan siswa dalam rangka mencapai tujuan pengajaran.

Dengan berpedoman pada satuan pengajaran yang telah dibuat, maka guru harus menciptakan lingkungan dan kondisi belajar yang dapat mendorong semua siswa aktif melakukan kegiatan pembelajaran.

D.

Perbedaan Kemampuan Belajar Siswa

1. Pengertian Perbedaan Kemampuan belajar siswa

(32)

Perbedaan itu dapat dilihat dari dua segi, yakni horizontal dan vertikal. Perbedaan segi horizontal adalah perbedaan individu dalam aspek mental, seperti tingkat kesadaran, bakat, minat, ingatan, emosi, dan sebagainya. Perbedaan vertikal adalah perbedaan individu dalam aspek jasmaniah, seperti: bentuk, tinggi dan besarnya badan, tenaga, dan sebagainya. (Massofa, 2011 : 5).

Kemampuan berasal dari kata dasar “mampu” yang mempunyai arti dapat atau bisa. Kemampuan juga disebut kompetensi. Ada beberapa pengertian mengenai kemampuan, diantaranya adalah kesanggupan, sanggup, dapat melakukan sesuatu, memecahkan masalah. Sedangkan ditinjau dari segi bahasa Indonesia, kemampuan merupakan kesanggupan seseorang untuk berinteraksi di suatu masyarakat bahasa, antara lain mencakupi sopan santun.

Menurut Chaplin dalam kutipan Musa Saputra (2011 : 4) kemampuan mengandung pengertian kecakapan, ketangkasan, bakat dan kesanggupan yang merupakan tenaga daya kekuatan untuk melakukan suatu perbuatan. Menurut Akhmad Sudrajat (2008 : 3) Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecakapan potensial (potential ability). Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau

prestasi), yang dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang. Dapat dicontohkan, setelah selesai mengikuti proses pembelajaran (kegiatan tatap muka ), pada akhir pelajaran siswa diuji oleh guru tentang materi

(33)

yang disampaikannya (tes formatif). Ketika siswa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan guru, maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). Sedangkan kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter).

Sedangkan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.”

Dengan demikian dapat dipahami bahwa perbedaan kemampuan belajar siswa adalah : perbedaan kecakapan, ketangkasan, bakat dan kesanggupan yang merupakan tenaga daya kekuatan siswa untuk melakukan kegiatan belajar dalam memperoleh suatu perubahan tingkah laku dari hasil belajar baik perubahan kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) maupun psikomotorik ( Keterampilan).

Perbedaan ini merupakan hal penting yang harus diketahui oleh guru karena perbedaan ini dapat digunakan oleh guru untuk menentukan metode belajar yang tepat dalam proses belajar mengajar dikelas. Guru haruslah teliti dalam mencari dan menemukan perbedaan yang ada pada siswa, terutama perbedaan-perbedaan yang menonjol. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam proses belajar mengajar dan dalam memberikan pelayanan terhadap siswa agar mampu menemukan dan mengembangkan potensi yang ada dimiliki oleh siswa.

(34)

2. Jenis-Jenis perbedaan kemampuan belajar siswa

Perbedaan individual menyangkut dengan berbagai aspek yang masing-masing memilki ciri-ciri tertentu;

a. Aspek kecerdasan, atau dari segi intelektual. Siswa yang kurang cerdas menunjukkan ciri-ciri belajar lebih lamban, memerlukan banyak latihan, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk maju, tidak mampu melakukan abstraksi.

b. Aspek psikologis, mencakup minat, bakat, perhatian dan juga kemandirian. Minat dan perhatian sangat mempengaruhi perkembangan individu. Didalam salah satu asas diktatik lama disebutkan bahwa dengan adanya perhatian siswa kepada pelajaran yang diberikan guru, maka isi dari materi pelajaran akan terserap dengan baik. Minat turut menentukan perbedaan hasil belajar .

c. Aspek biologis atau keadaan Jasmani, keadaan jasmani tiap siswa berbeda-beda. Perbedaan itu terdapat pada struktur badan (tinggi, berat, dan koordinasi anggota badan), cacat badan (gangguan pada penglihatan, sakit menahun, mudah pusing kepala, dan lain- lain), gangguan penyakit tertentu. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi efisiensi dan kegairahan belajar, mudah lelah, kurang berminat melakukan berbagai kegiatan, dan akan mempengaruhi hasil belajar;

(35)

d. Penyesuaian Sosial dan Emosional, keadaan sosial dan emosi individu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Berbagai sikap sosial dan emosional, adalah pendiam, pemalu, pemberani, mudah bereaksi, senang bekerjasama, suka mengasingkan diri, mudah terpengaruh, sensitif, senang menggantungkan diri kepada orang lain. Tingkah laku sosial dan emosional ini dapat berubah sesuai dengan kondisi dan situasi sekitarnya.

e. Keadaan Keluarga. Keadaan keluarga besar pengaruhnya terhadap individu, dan oleh karenanya terjadi perbedaan individual yang dilater belakangi perbedaan keadaan keluarga. Pengaruhnya terjadi pada perbedaan dalam hal-hal pengalaman sikap, apresiasi, minat, sikap ekonomis, cara berkomunikasi, kebiasaan berbicara, hubungan kerjasama, pola pikir, dan lain-lain.

f. Prestasi Belajar, perbedaan hasil belajar di kalangan para siswa disebabkan oleh faktor-faktor kematangan, latar belakang pribadi, sikap dan bakat terhadap pelajaran, jenis mata ajaran yang diberikan, dan sebagainya .

3. Faktor yang Mempengaruhi Perbedaan Kemampuan Belajar Siswa.

Setiap individu mempunyai ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan;

karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Pada masa lalu, terdapat keyakinan serta kepribadian terbawa

(36)

pembawaan (heredity) dan lingkungan. Hal tersebut merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor yang terpisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Akan tetapi, makin disadari bahwa apa yang dirsakan oleh banyak anak, remaja, atau dewasa merupakan hasil dari perpaduan antara apa yang ada di antara faktor- faktor biologis yang diturunkan dan pengaruh lingkugan. Natur dan nurture merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik- karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan. Sejauh mana seseorang dilahirkan menjadi seorang individu ata sejauh mana seseorang dipengaruhi subjek penelitian dan diskusi. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedangkan karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

4. Kemampuan yang Dimiliki Guru dalam Menghadapi Perbedaan Kemampuan Belajar Siswa.

Dalam upaya meningkatkan pelayanan pendidikan terhadap siswa yang masing-masing individunya berbeda, maka seorang guru yang profesional harus memiliki kemampuan sebagai berikut:

a. Menemukan perbedaan individu siswa

(37)

Setiap individu siswa berbeda satu dengan lainnya, hal ini pengaruhi banyak faktor yang membentuk kepribadian setiap siswa.

Perbedaan individu siswa dapat dikelompokan menjadi:

1) Perbedaan vertikal yaitu perbedaan pada segi fisik setiap individu, misal; tinggi - sedang - pendek, gemuk - sedang - kurus, sehat - tidak sehat dan lain sebagainya.

2) Perbedaan horizontal yaitu perbedaan pada segi psikis dan sosial setiap individu, misal; kemampuan, bakat, minat, emosi, hasil belajar dan lain sebagainya.

Perbedaan individu diatas dipengaruhi oleh faktor keturunan (bakat) dan lingkungan. Perbedaan ini merupakan hal penting yang harus diketahui oleh guru karena perbedaan ini dapat digunakan oleh guru untuk menentukan metode belajar yang tepat dalam proses belajar mengajar di kelas. Guru haruslah teliti dalam mencari dan menemukan perbedaan yang ada pada siswa, terutama perbedaan-perbedaan yang menonjol. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam memberikan pelayanan terhadap siswa agar mampu menemukan dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa.

b. Memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu siswa.

Setelah guru menemukan perbedaan-perbedaan dari setiap individu, maka langkah berikutnya adalah melakukan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran yang disesuaikan dengan perbedaan tersebut agar setiap individu mampu berkembang sesuai dengan

(38)

kemampuan dan kecepatan yang dimiliki oleh masing-masing individu siswa. Mengajar siswa dengan kemampuan belajar cepat akan berbeda dengan mengajar siswa dengan kemampuan belajar kurang atau lambat.

Kemampuan yang berbeda dari setiap individu memerlukan pelayanan tersendiri bagi guru dalam upaya penyesuaian program pengajaran yang akan dibuat dan dilaksanakan. Tetapi hal ini tidaklah mudah bahkan sangat sulit dilakukan bagi mereka yang belum terbiasa dalam upaya pelayanan terhadap perbedaan individu siswa.

Kesulitan-kesulitan yang paling mudah kita temukan dalam lingkungan disekitar kita misalnya; terbatasnya waktu yang disediakan oleh sekolah dalam suatu pertemuan pembelajaran di kelas akan membuat guru tidak maksimal dalam menemukan dan melayani siswa sesuai dengan perbedaan setiap individu walaupun hal ini sudah direncanakan dalam program pengajaran yang akan atau sedang dilaksanakan. Jika kesulitan-kesulitan yang dihadapi ini memang sangat sulit dipecahkan maka guru tidak perlu memaksakan diri sampai diluar batas kemampuannya. Minimal guru mampu melaksanakan pada tahap yang dapat dilaksanakannya, misal; terhadap siswa yang memiliki kemampuan cepat dalam menyerap materi pelajaran maka guru bisa saja memberinya materi atau tugas tambahan untuk dikerjakannya diluar sekolah, sedangkan siswa yang memiliki kemampuan kurang maka guru dapat memberinya materi yang sesuai untuknya. Siswa yang memiliki bakat menonjol bisa diberi kesempatan atau diberi fasilitas untuk

(39)

mengembangkannya sedangkan siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar maka perlu dibantu agar siswa tersebut dapat mengatasi kesulitannya. Dan silahkan kembangkan menurut keadaan dan kemampuan dilingkungan sekolahnya masing-masing.

c. Melakukan diagnosis kesulitan belajar siswa

Tidak semua siswa memiliki kemampuan yang sama dalam menerima materi yang diajarkan oleh seorang guru. Guru hendaknya memberikan perhatian khusus terhadap siswa-siswa yang memiliki tingkat kemampuan rendah dengan berusaha menemukan dan mengatasi kesulitan belajar siswa dengan men-diagnosis kesulitan belajar siswa tersebut. Dan jika tingkat kesulitan belajarnya sangat sulit diidentifikasi maka tidak ada salahnya kita meminta bantuan guru lain atau guru yang berkompeten dalam hal ini dan ini biasanya guru bimbingan dan penyuluhan .

5. Indikator perbedaan Kemampuan Belajar Siswa

Siswa atau peserta didik adalah orang yang dengan sengaja datang kesekolah. Orang tuanyalah yang memasukkannya untuk dididik agar menjadi orang yang berilmu dikemudian hari. Kepercayaan orang tua anak diterima oleh guru dengan kesadaran dan penuh keikhlasan.

Dengan begitu, jadilah guru sebagai pengemban tugas yang bertanggung jawab.

(40)

Tanggung jawab guru tidak hanya terdapat pada seorang anak, tetapi dalam jumlah yamg cukup banyak. Anak dengan jumlahnya yang cukup banyak itu tentu saja dari latar belakang kehidupan sosial keluarga dan masyarakat yamg cukup berlainan. Karenanya, anak-anak yang berkumpul di sekolah tentu mempunyai karakterstik yang bermacam- macam. kepribadian mereka ada yang pendiam, ada yang periang, ada yang suka bicara, ada yang kreatif, ada yang keras kepala dan ada pula yang manja, namun intelektual mereka juga cukup bervariasi begitu juga dengan biologis mereka dengan struktur atau keadaan tubuh yang tidak selalu sama. Oleh karena itu, perbedaan anak pada aspek biologis, intelektual dan psikologis akan mempengaruhi kegiatan belajar mengajar.

Kegiatan pembelajaran di sekolah mempunyai tujuan untuk membantu memperoleh perubahan perilaku bagi setiap pelajar dalam rangka mencapai perkembangan optimal.oleh karena itu, pengenalan terhadap sifat-sifat individual peserta didik sangat perlu. Beberapa sifat peserta didik dalam pembalajaran yang dapat dijadikan indikator perbedaan kemampuan perbadaan kemampuan belajar siswa antara lain:

a. Siswa yang cepat dalam menerima pembelajaran

Siswa yang tergolong cepat dalam belajar pada umumnya dapat menyelesaikan kegiatan belajar dalam waktu yang lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Pada umumnya mereka memiliki tingkat cerdasan diatas rata-rata.

(41)

b. Siswa yang lambat dalam menerima pelajaran

Menurut Abdul Haling (2007 : 138) Siswa yang tergolong lambat membutuhkan waktu yang lebih lama dari pada waktu yang diperkirakan untuk memahami bahan ajar. Akibatnya, siswa golongan ini sering ketinggalan dalam belajar dan ini pula sebagai salah satu sebab tinggal kelas.

Banyak sedikitnya jumlah anak didik dikelas akan pempengaruhi pengelolaan kelas oleh guru. Anak yang menyenangi pelajaran tertentu dan kurang menyenagi pelajaran lain adalah perilaku anak yang bermula dari sikap mereka karena minat yang berlainan. Hal ini mempengaruhi kegiatan belajar anak. Biasanya pelajara yang disenangi dipelajari oleh siswa denagan senang hati. Sebaliknya, pelajaran yang kurang disenangi jarang dipelajari oleh anak, sehingga tidak heran bila materi dari pelajaran itu kurang dikuasai oleh siswa dan mengakibatkan hasil ulangan itu jelek.

Sederatan angka yang terdapat dalam rapor menjadi bukti berhasil atau tidaknya proses belajar mengajar.

Daya serap anak terhadap pelajaran yang diberikan juga bermacam-macam. Oleh karena itu, dikenallah tingkat keberhasilan yang maksimal (istimewa), optimal (baik sekali), minimal (baik), dan kurang untuk setiap bahan yang dikuasai oleh setiap peserta didik.oleh karena itu, dalam menyampaikan pelajaran bagi anak didik yang memiliki daya serap yang kurang guru harus memperjelas materi yang akan diajarkan.

(42)

Rasulullah SAW mengajarkan hal tersebut melalui hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:

ْفَ ي ًلاْصَف اًمَلاَك َمهلَسَو ِوْيَلَع ُهللَّا ىهلَص ِهللَّا ُلْوُسَر ُمَلاَك َناَك ْتَلاَق ُّللَّا اَهَِحَِر َةَشِئاَع ْنَع ْنَم ُّلُك ُوَُُه

ُوَعَِسَ

هاور(

)دواد وبا

Artinya :

Dari Aisyah Rahimahallah berkata, sesungguhnya perkataan Rasulullah adalah ucapan yang sangat jelas, dan dapat memahamkan orang yang mendengarkannya. (HR. Abu Dawud)

c. Siswa yang mampu menunjukkan kreativitas dalam pembelajaran

Siswa yang tergolong kreatif umumnya menunjukkan kreativitas dalam kegiatan tertentu, misalnya dalam melukis, menggambar, olah raga, organisasi, kesenian dan sebagainya. Mereka selalu ingin memecahkan persoalan, berani menanggung resiko dan lebih sering bekerja sendiri.

d. Siswa yang mempunyai prestasi belajar kurang dalam proses pembelajaran.

Menurut Abdul Haling (2007 : 139) Siswa golongan ini memiliki intelegensi yang tergolong tinggi namun prestasi belajarnya tergolong rendah. Gejalah ini biasanya timbul berkaitan dengan aspek motivasi, minat dan kebiasaan belajar.ciri-ciri kepribadian tertentu, dan pola-pola pengasuhan orang tua.

Menghadapi anak didik yang demikian maka guru oerlu memiliki kecakapan dalam melatih dan mengajak anak didik agar menumbuhkan minat dalam pembelajaran.

sebagai mana hadits rasulullah SAW yang berbunyi :

(43)

ٌةَبَبَش ُنَْنََو َمهلَسَو ِوْيَلَع ُهللَّا ىهلَص ِِّبهنلا َلَِإ اَنْ يَ تَأ ٌكِلاَم اَنَ ثهدَح َلاَق َةَبَلاِق ِبَِأ ْنَع ُهَدْنِع اَنَُْقَأَف َنْوُ بِراَقَ تُم

ًمْوَ ي َنْيِرْشِع َ تْشا ْدَق اهنَأ هنَظَو اَُهلَ ف اًقْ يِفَر اًُْيِحَر َمهلَسَو ِوْيَلَع ُهللَّا ىهلَص ِهللَّا ُلْوُسَر َناَكَو ًةَلْ يَلَو ا

اَنَلْىَأ اَنْ يَه

ْمُكْيِلْىَأ َلَِإ اْوُعِجْرا َلاَق ُهاَنْرَ بْخَأَف اَنَدْعَ ب اَنْكَرَ ت ْنهَُع اَنَلَأَس اَنْقَ تْشا ْدَق ْوَأ ْمُىْوُرُمَو ْمُىْوُُِّلَعَو ْمِهْيِف اوُُِقَأَف

ْلَ ف ُةَلاهصلا ْتَرَضَح اَذِإَف يِّلَصُأ ِنِْوُُُتْ يَأَر اََُك اوُّلَصَو اَهُظَفْحَأ َلاْوَأ اَهُظَفْحَأ َءاَيْشَأ َرَك َذَو ْمُكَل ْنِّذَؤُ ي

)ىراخبلا هاور( ْمُك ُرَ بْكَأ ْمُكهمُؤَ يْلَو ْمُكَدَحَأ

Artinya :

Dari Abi Qilabah katanya hadist dari Malik. Kami mendatangi Rasulullah SAW Dan kami pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama beliau selama (dua puluh malam) 20 malam. Rasulullah SAW adalah seorang yang penyayang dan memiliki sifat lembut. Ketika beliau menduga kami ingin pulang dan rindu pada keluarga, beliau menanyakan tentang orang-orang yang kami tinggalkan dan kami memberitahukannya, beliau bersabda : kembalillah bersama keluargamu dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan suruhlah mereka, beliau menyebutkan hal-hal yang saya hapal dan yang saya tidak hapal. Dan shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat. (HR. Imam Bukhari)

(44)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (survey), dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dianalisis dengan analisis deskriptif yaitu penelitian yang mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya.

Data penelitian deskriptif biasanya dikumpulkan survey angket wawancara atau observasi. Penelitian deskriptif kualitatif berusaha mendeskripsikan mengenai kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang sedang tumbuh, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efektif yang terjadi.

B. Lokasi dan Objek Penelitian

Adapun yang menjadi lokasi penelitian adalah di MTS Negri Balang-balang Kabupaten Gowa dan yang menjadi alasan penulis memilih lokasi ini karena di sekolah ini memiliki banyak siswa yang memiliki kemampuan belajar yang sangat bervariasi serta pemilihan starategi pembelajaran oleh guru yang terkadang sulit ditangkap oleh siswa. Dan yang menjadi ojek pada penelitian ini adalah guru dan siswa.

(45)

C. Variabel Penelitian

Suharsimi Arikunto (2003:91) Variabel adalah bagian yang akan diteliti. Variable penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian atau penelitian, dengan demikian variable merupaka bagian penting dari suatu penelitian.

Berdasarkan kajian teori diatas, maka dalam penelitian ini ada dua variabel yang menjadi titik perhatian yaitu :

1. Strategi mengajar guru sebagai variabel bebas (X)

2. Perbedaan kemampuan belajar siswa sebagai variabel terkait (Y).

D. Defenisi Operasional Variabel

Untuk mendapatkan gambaran dan memudahkan pemahaman serta memberikan persepsi yang sama antara penulis dan pembaca terhadap judul dan ruang lingkup penelitian ini, maka penulis terlebih dahulu mengemukakan pengertian yang sesuai dengan variabel judul penelitian.Adapun variabel yang dijelaskan yaitu:

1. Strategi mengajar guru adalah pola-pola umum kegiatan guru dalam mewujudkan kegiatan mengajar untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.

2. Perbedaan kemampuan belajar siswa adalah : perbedaan kecakapan, ketangkasan, bakat, minat, dan kesanggupan yang merupakan tenaga daya kekuatan siswa untuk melakukan kegiatan belajar dalam memperoleh suatu perubahan tingkah laku dari hasil

(46)

belajar baik perubahan kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) maupun psikomotorik ( Keterampilan).

Berdasarkan pengertian tersebut, maka batasan operasional variabel yang dimaksud peneliti adalah pola umum yang digunakan guru dalam mewujudkan kegiatan mengajar yang efektif, sehingga proses pembelajaran dapat menjadi lebih efektif pula dan mencapai tujuan yang diharapkan. Dan penelitian ini terfokus pada kelas VII di MTS Negeri Balang-balang.

E. Populasi dan sampel 1. Populasi

Untuk mengantar penulis pada pemahaman terhadap suatu objek populasi penelitiian dalam skripsi ini. Maka terlebih dahulu penulis memberikan pengertian populasi berdasarkan pendapat Suharsimi Arikunto (1998 : 102) sebagai berikut :

“populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada didalam wilayah penelitian, maka penelitiannya adalah merupakan penelitian populasi studi atau penelitiannya adalah studi sensus”.

Menurut Suharsimi Arikunto (2003:115) populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Bertolak pada pengertian populasi tersebut, maka populasi penelitian ini adalah keseluruhan siswa di MTS Negeri Balang-Balang, tahun ajaran 2014/2015, dengan populasi penelitian yaitu seluruh siswa dan guru dari kelas VII (tujuh) yang ada disekolah tersebut.untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut:

(47)

Tabel 1

Keadaan Populasi Penelitian

No Guru dan siswa

Jenis kelamin

Jumlah Laki-laki perempuan

1 Guru kelas VII 6

7 13

2 Siswa kelas VII

115

139

254

Jumlah 121 146 267

Sumber : Data MTs Negeri Balang-Balang Kabuapten Gowa tahun 2014

2. Sampel

Dalam penelitian ini, tidak seluruh populasi diteliti, Hal ini disebakan oleh keterbatasan waktu, tenaga maupun materi penulis. Oleh karena itu diambil sebagian dari populasi yang ada sebagai wakil (sampel) yang akan diteliti dengan syarat bahwa sampel yang diambil tersebut dapat mewakili seluruh karakteristik populasinya.

“yang menjadi obyek sesungguhnya dari suatu penelitian itu, itulah yang disebut sampel, dan metodologi untuk mewakili individi-individu masuk kedalam sampel yang representative, itulah yang disebut sampling”.(koentjaraningrat, 1985 : 89)

Jika jumlah subjeknya lebih besar dari seratus orang maka dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 % atau lebih. Jumlah sampel yang akan diteliti di MTS Negeri Balang-balang sebanyak 20 % dari jumlah 254

(48)

orang siswa, dan semua guru kelas VII yang jumlahnya 13 orang yang kemudian disebut sebagai informan utama. Penarikan sampel dilakukan dengan cara acak random sampling.

Tabel 2

Keadaan Sampel Penelitian

No Guru dan siswa

Jenis kelamin

Jumlah Laki-laki perempuan

1 Guru kelas VII 1

2 3

2 Siswa kelas VII

25

25

50

Jumlah 26 27 53

F. Instrument Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti dalam melaksanakan tugas yang telah disesuaikan dengan instrument yang digunakan. Instrument pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatan pengumpulan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis.

(49)

Instrument pengumpulan data erat kaitannya dengan teknik pengumpulan data, karena instrument merupakan alat bantu bagi peneliti dalam menggunakan pengumpulan data.(Suharsimi Arikunto,2000 : 24)

Instrumen ini diharapkan dapat membantu peneliti didalam melaksanakan penelitiannya dan mempermudah mendapatkan informasi- informasi guna melengkapi penelitiannya. Instrument yang digunakan peneliti sebagai berikut:

1. Pedoman Observasi

Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena atau gejala-gejala pada objek penelitian atau cara pengumpulan data dengan mengamati secara langsung kelapangan.

Sutrisno hadi dalam Anas Sugiono (2012:203) mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses yang biologis dan psikologis dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.

2. Pedoman wawancara

Yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan tanya jawab atau percakapan dengan informan untuk memperoleh data yang diperlukan, baik dengan menggunakan daftar pertanyaan ataupun percakapan bebas yang berhubungan dengan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya.

(50)

Suharsimi Arikunto dalam Anas Sugiyono (2012:194) berpendapat bahwa wawancara ditinjau dari pelaksanaannya, maka interview atau wawancara dapat dibedakan atas beberapa macam yaitu:

a. Wawancara terstruktur, yaitu teknik pengumpulan data, bila peneliti telah meketahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh.

b. Wawancara semi terstruktur, yaitu teknik pengumpulan data dengan bebas peneliti mewawancarai informan.

c. Wawancara teks berstruktur yaitu teknk pengumpulan data tanpa menggunakan pedoman hanya garis-garis besarnya saja.

3. Pedoman Angket

Yakni metode pengumpulan data dengan cara memberikan angket kepada guru dan siswa guna memperoleh data dalam penelitian.

Hamirul Hadi dan Hariyono (1998:137) menyebutkan macam- macam kuisioner/ angket yaitu :

a. Qusioner berstruktur b. Qusioner tak berstruktur

c. Qusioner kombinasi berstruktur dan tak berstruktur d. Qusioner semi terbuka.

4. Catatan Dokumentasi

Dokumentasi berupa data tertulis yang mengandung keterangan dan penjelaasaan serta pemikiran tentang fenomena yang masi aktual.

Studi dokumentasi berawal dan berproses dari menghimpun dokumen,

(51)

memilih-milih dokumen sesuai dengan tujuan peneliti, menerangkan dan mencatat serta menafsirkan dan menghubung-hubungkan dengan fenomena lain. (surachman dalam wardi bakhtiar, 1997:77)

G. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data yang sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan, maka diperlukan tekhnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: observasi, wawancara, dan angket/kusioner catataan dokumentasi.

a. Observasi

Metode observasi adalah suatu metode yang digunakaan oleh peneliti untuk mengadakan pengamatan langsung terhadap obyek yang akan diteliti. Dalam metode observasi ini tekhnik pengumpulan data dimana peneliti mengadakan pengamatan secara lengsung terhadap objek yang akan diteliti.

Metode ini peneliti gunakan untuk memperoleh data-data yang terkat dengan pola interaksi guru dengan siswa serta factor-faktor yang terkait dalam strategi mengajar guru dalam menghadapi perbedaan kemampuan belajar siswa kelas VII di MTS Negeri Balang-Balang.

b. Angket/kusioner

Metode angket adalah alat pengumpulan data dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan, diharapkan dalam menyebarkan daftar pertanyaan kepada setiap responden, peneliti dapat menghimpun data

(52)

yang relevan dengan tujuan penelitian dan mempunyai tingkat reliabilitas serta validitasnya yang tinggi.metode ini digunakan untuk mencari data tentang strategi yang digunakan guru dalam pembelajaaran.

c. Wawancara

Wawancara adalah teknik dalam upaya menghimpun data yang akurat untuk keperluan pelaksanaan proses pemecahan masalah tertentu, yang sesuai dengan data.

Jenis interview yang digunakan adalah interview terpimpin yaitu interview yang memiliki ciri pokok penginterveuwan tidak saja berfungsi sebagai pengumpulan data melalui Tanya jawab, tetapi juga sebagai pengumpulan data yang relevan dengan maksud penelitian yang telah disiapkan sebelum kegiatan interview yang sebenarnya dilakukan.

Dengan begitu, penyusunan pedoman interview dapat dilakukan secara sistematis, terarah, dan dapat mengumpulkan data sesuai dengan tujuan penelitian.

d. Dokumentasi

Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang sejarah dan lataar belakang berdirinya MTS Negeri Balang-Balang, keadaan guru, keadaan peserta didik, sarana dan prasarana dan struktur keorganisasian.

H. Teknik Analisis Data

(53)

Sedangkan dalam menganalisis data, peneliti menggunakan beberapa metode sebagai berikut :

1. Metode induktif, yaitu teknik analisis data melalui penjelasan yang bersifat khusus kemudian menarik kesimpulan secara umum.

2. Komparatif, yaitu teknik dengan membandingkan beberapa teori atau pendapat, kemudian mengambil suatu kesimpulan.

3. Deskriptif interpretasi yakni teknik analisis data melalui penjelasan melalaui tabel kemudian selanjutnya diberi komentar.

Langkah-langkah yang penulis tempuh adalah sebagai barikut : 1. Memeriksa data untuk melihat kelengkapannya

2. Memasukkan data kedalam tabel lalu menghitungnya

3. Membahas pertemuan-pertemuan lapangan untuk menjawab masalah penelitia

4. Mengelompokan data berdasarkan kategori yang digunakan 5. Menyusun data kedalam tabel-tabel

6. Pembuatan tabel distribusi frekwensi yang dilengkapi dengan persentase masing-masing kategori dengan menggunakan rumus :

P = X 100 %

Keterangan :

P : Angka persentase

F : Frekwensi masing-masing kategori

(54)

N : Jumlah sampel, (Nana Sudjana, 1999 : 37

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Kondisi Objektif Lokasi Penelitian

1. Sejarah Berdirinya MTs Negeri Balang-Balang

Madrasah Tsanawiyah Negeri Balang-Balang sebelumnya dikenal dengan Madrasah Tsanawiyah GUPPI Balang-Balang yang dirintis ± 33 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1974 kemudian resmi berdiri tahun 1975.

Madrasah ini melalui perjalanan yang cukup panjang hingga akhirnya dapat di Negerikan.Guru-guru yang mengajar dan membina serta pengurus lainnya tidak kenal lelah demi membangun sekolah ini.

Madrasah ini telah 10 kali mengalami penggatian kepala sekolah dimana dimulai dari sekolah ini masih beridentitas MTs Guppi sampai dengan berubah menjadi MTs Negeri, kepala sekolah tersebut adalah sebagai berikut :

1. H. Abdullah Dg Sele ( 1975 s.d. 1979 )

2. Abd. Gani ( 1980 s.d. 1983 )

3. Drs. Amirullah AR ( 1984 s.d. 1986 )

Referensi

Dokumen terkait

Ukuran kinerja non financial merupakan respons terhadap masalah ± masalah tersebut dengan cara menggunakan data fisik sederhana dan bukannya data akuntansi yang

Untuk mendesain tampilan game yang akan dikembangakan maka hal yang harus dilakukan oleh pembuat game adalah meletakan obyek yang sudah dibangun dengan cara

kimianya berdasarkan waktu, perubahan struk- tur ini menyebabkan menurunnya kapasitas ikat proteinnya (Maie et al., 2006). Senyawa tanin menempel pada kaki P. canaliculata

Disahkan dalam rapat Pleno PPS tanggal 26 Februari 2013 PANITIA PEMUNGUTAN SUARA. Nama

Oleh karena itu bagi lembaga pendidikan yang mengembangkan pendidikan vokasi tidak perlu minder dan kemudian mengubah menjadi pendidikan akademik, karena akan

Dengan mempertimbangkan pilihan-pilihan adaptasi yang dikembangkan PDAM dan pemangku kepentingan, IUWASH juga merekomendasikan untuk mempertimbangkan aksi-aksi adaptasi

Penegakan s Penegakan sanksi anksi pidana pidana pada pasal 157 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan pada pasal 157 Undang-Undang Nomor 1 Tahun

Skripsi yang berjudul “Budaya dan Etika Kerja Islami dalam Membangun Islamic Branding pada Yayasan Dana Sosial Al-Falah Sidoarjo” ini merupakan penelitian