• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

27

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

Sejarah Terbentuknya Kabupaten Bangka

Selama lebih dari seratus tahun, Bangka dikepalai oleh residen secara administratif dan taktis operasional berada dibawah Pemerintahan Pusat di Batavia (Jakarta). Demikian juga dengan Belitung yang pada mulanya merupakan suatu asisten residen, berdiri sendiri langsung di bawah Pemerintah Pusat. Atas dasar ordonansi tanggal 2 Desember 1933 (Stbl.No.565), terhitung dari tanggal 11 Maret 1933 terbentuklah “Residentie Bangka en Ouderhoregheden” yang menetapkan Biliton (Belitung) menjadi salah satu “onderafdeling” dikepalai oleh seorang

“controleur” dengan pangkat asisten residen dari Karesidenan Bangka, berikut pulau-pulau lain sekitarnya. Pulau Bangka sendiri terbagi dalam lima onderafdeling, yang masing-masing dikepalai oleh seorang controleur. Lima onderafdeling kemudian menjadi Kawedanan Residen Bangka yang terakhir menjelang perang dunia kedua adalah P. Brouwer. Ketika kekuasaan kolonial Belanda atas kepulauan Indonesia direbut oleh Nippon pada tahun 1942, semasa berkobarnya perang Asia Timur Raya, Karesidenan Bangka-Belitung diperintah oleh Pemerintah Militer yang dinamakan “Bangka Biliton Gunseibu”. Pemerintah administratif menurut sistem pemerintahan Belanda diteruskan, dengan mengganti nama/istilah saja, yaitu dengan istilah-istilah Jepang dan atau Indonesia. Sehingga Residence menjadi “chokan” dan controleur menjadi “sidokan”. Namun disamping petugas-petugas Jepang diangkat pembantu-pembantu bangsa Indonesia seperti

“gunco” dan “fuku gunco”. Pada waktu Dai Nippon sudah terdesak didalam peperangan melawan Sekutu, barulah di Bangka dibentuk semacam DPRD, yang dinamakan Bangka Syu Sangikai, yang diketuai oleh Masyarif Datuk Bendaharo Lelo.

Setelah Jepang ditaklukkan oleh sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 kemudian diikuti dengan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, atas inisiatif tokoh-tokoh Sumatera Selatan dibentuklah Pemerintahan Otonomi Sumatera Selatan dibawah pimpinan Gubernur Militer.

Pulau Bangka termasuk didalamnya, dimana pimpinan pemerintahan dipegang oleh Masyarif Datuk Bendaharo Lelo, bekas ketua Bangka Syu Sangikai, dengan gelar Residen yang dibantu oleh seorang asisten residen dan seorang kontrolir yang diperbantukan. Letnan Gouveneur General Nederlandsch Indie mempergunakan kekuasaannya menjadi daerah otonom dengan membentuk Dewan Bangka Sementara (Voorlopige Bangka Raad) dengan surat keputusan tanggal 10 Desember 1946 nomor 8 (Stbl.1946.Nomor 38). Dewan Bangka Sementara ini merupakan Lembaga Pemerintah tertinggi dalam bidang otonomi, dibuka dengan resmi pada tanggal 10 Februari 1947, diangkat sebagai ketua yaitu Masyarif Datuk Bendaharo Lelo, sedangkan anggota-anggotanya terdiri dari 16 orang. Sepuluh bulan kemudian “Dewan Bangka Sementara” ini ditetapkan menjadi “Dewan Bangka” yang tidak bersifat sementara lagi, dengan surat keputusan Lt. GG. Ned.

Indie tanggal 12 Juli 1947 Nomor 7 (Stbl. 1947 Nomor 123) yang dilantik pada tanggal 11 Nopember 1947, dengan ketua dan anggota-anggota Dewan Bangka Sementara itu juga.

(2)

28

Setelah Masyarif meninggal, diangkatlah Saleh Ahmad, Sekretaris dari Dewan tersebut sebagai ketua. Pada bulan Januari 1948 Dewan Bangka bergabung dengan Dewan Riau dan Dewan Belitung dalam suatu federasi Bangka Belitung Riau (BABERI), yang disahkan oleh Lt. GG. Ned. Indie dengan surat keputusan tanggal 23 Januari 1948 nomor 4 (Stbl. 1948 No. 123), yang kemudian disahkan menjadi salah satu Negara Bagian dalam pemerintahan federal Republik Indonesia Serikat (RIS). Hal ini ternyata tidak berlangsung lama, dengan keputusan Presiden RIS No. 141 tahun 1950, Negara Bagian ini disatukan kembali dalam Negara RI, sehingga berlaku Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 dalam wilayah ini.

Kemudian pada tanggal 21 April 1950 datanglah Perdana Menteri Dr. Halim beserta rombongannya ke Bangka yang terdiri dari 18 orang, diantaranya Dr. Mohd.

Isa – Gubernur Sumatera Selatan, tanggal 22 April bertempat di Karesidenan diserahkanlah pemerintahan atas Bangka kepada Gubernur Sumatera Selatan.

Dengan demikian bubarlah Dewan Bangka dan pemerintahan setempat dipimpin oleh R. Soemardjo yang ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia sebagai Residen Bangka Belitung dengan kedudukan di Pangkalpinang. Bangka sendiri menjadi kabupaten, dengan 5 wilayah kewedanan, masing-masing Pangkalpinang, Sungailiat, Belinyu, Mentok dan Toboali dan 13 wilayah kecamatan. Sebagai Bupati yang pertama ditunjuk R. Soekarta Martaatmadja.

Penetapan Bangka sebagai daerah otonom kabupaten didasarkan atas Undang-Undang Darurat Nomor 2, 5 dan 6 tahun 1956. Dalam rangka penyesuaian dengan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah, maka ketiga undang-undang darurat ini diganti dengan Undang-Undang Nomor 28 tahun 1959. Undang-undang inilah kemudian disebut sebagai dasar hukum pembentukan Daerah Tingkat II Bangka dan dijelaskan pemisahan Kabupaten Bangka dengan Kotapraja Pangkalpinang

Letak Geografis dan Administratif Wilayah

Kabupaten Bangka merupakan salah satu dari tujuh wilayah administratif yang menjadi bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki luas wilayah lebih kurang 2 950.68 km² atau 295.068 ha dengan titik koordinat terletak antara 1o29’-2o21’ Lintang Selatan dan 105o36’-106o11’ Bujur Timur.

Kabupaten Bangka dengan ibukota Sungailiat memiliki banyak pantai sebagai tujuan wisata, diantaranya: Pantai Matras, Parai, Tanjung Pesona, Romodong, Teluk Uber, Batu Bedaun, dan lain sebagainya. Adapun jarak dari Sungailiat ke ibukota kabupaten lain dan Kota Pangkalpinang seperti yang tertera pada Tabel 4.

Tabel 4 Jarak dari Sungailiat ke daerah lainnya

No. Dari Sungailiat ke daerah lainnya Jarak (km)

1 Kota Pangkalpinang 33

2 Muntok (Bangka Barat) 140

3 Koba (Bangka Tengah) 90

4 Toboali (Bangka Selatan) 158

(3)

29 Wilayah Kabupaten Bangka berbatasan langsung dengan daratan wilayah kabupaten/kota lainnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu Kabupaten Bangka Barat, Bangka Tengah dan Kota Pangkalpinang. Ditinjau dari ketersediaan infrastruktur dan kehidupan social ekonomi masyarakatnya maka kecamatan di Kabupaten Bangka dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu kecamatan bertipikal kota dan desa. Pengambilan sampel untuk penelitian ini dan penyebaran kuesioner penelitian terletak di dua kecamatan dengan dua desa yang menjadi daerah sampel yaitu Desa Petaling Banjar, Kecamatan Mendo Barat mewakili kecamatan bertipikal kota dan Desa Pemali, Kecamatan Pemali mewakili kecamatan bertipikal desa. Lokasi pengambilan sampel sebagaimana terdapat pada Gambar 9.

Gambar 9 Lokasi kecamatan sampel

Berdasarkan letak geografis, dari delapan kecamatan di Kabupaten Bangka, terdapat dua kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kota Pangkalpinang yaitu Kecamatan Merawang dan Mendo Barat. Kondisi ini secara langsung berpengaruh terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakatnya, terutama desa-desa yang terletak diperbatasan terluar dengan Kota Pangkalpinang.

Bahkan terkadang menjadi suatu persoalan dilematis karena tidak sedikit warga yang berstatus penduduk Kota Pangkalpinang namun berdomisili di wilayah Kecamatan Merawang ataupun Mendo Barat. Selain itu, banyak warga dua kecamatan ini yang memiliki dokumen kependudukan ganda sehingga terkadang menimbulkan polemik tersendiri terutama pada saat akan berlangsungnya pemilihan kepala daerah.

Kecamatan sampel

(4)

30

Keadaan Alam

Iklim, Tanah dan Hidrologi

Wilayah penelitian termasuk dalam Kabupaten Bangka yang berada pada zona tropis, berdasarkan klasifikasi iklim Scmidth-Ferguson wilayah ini termasuk dalam tipe iklim A. Suhu udara rata-rata di Kabupaten Bangka menurut data Stasiun Meteorologi Pangkalpinang menunjukkan variasi antara 25.7˚C hingga 29˚C dengan suhu rata-rata 27˚C.

Tanah di Kabupaten Bangka mempunyai pH rata-rata dibawah 5, didalamnya mengandung mineral bijih timah dan bahan galian lainnya, seperti : pasir kwarsa, kaolin, batu gunung, dan lain-lain. Bentuk dan keadaan tanahnya adalah sebagai berikut :

- 4 persen berbukit seperti Gunung Maras lebih kurang 699 meter, Bukit Pelawan, Bukit Rebo, dan lain-lain. Jenis tanah perbukitan tersebut adalah podsolik coklat kekuning-kuningan dan litosol berasal dari batu plutonik Masam,

- 52 persen berombak dan bergelombang, tanahnya berjenis asosiasi podsolik coklat kekuning-kuningan dengan bahan induk komplek batu pasir kwarsit dan batuan plutonik masam,

- 20 persen lembah/datar sampai berombak, jenis tanahnya asosiasi podsolik berasal dari komplek batu pasir dan kwarsit,

- 25 persen rawa dan bencah/datar dengan jenis asosiasi alluvial hedromotif dan glei humus serta regosol kelabu muda berasal dari endapan pasir dan tanah liat.

Pada umumnya sungai-sungai di daerah Kabupaten Bangka berhulu di daerah perbukitan yang berada di bagian tengah Pulau Bangka dan bermuara di laut.

Sungai-sungai yang terdapat di wilayah Kabupaten Bangka, antara lain : Sungai Baturusa, Sungai Layang, Sungai Menduk, dan lain-lain. Kabupaten Bangka memiliki banyak kolong yang merupakan areal bekas penambangan bijih timah yang luas sehingga menjadikannya tampak seperti danau.

Fauna dan Flora

Di kawasan hutan terdapat binatang liar seperti : rusa, beruk, monyet, lutung, babi, trenggiling, napuh, musang, berbagai jenis burung, ayam hutan. Namun, hutan di Kabupaten Bangka tidak terdapat binatang buas seperti harimau, macan, dan sebagainya.

Tumbuhan hutan terdapat bermacam-macam jenis kayu, seperti : kayu ramin, meranti, kapuk, jelutung, pulai, gelam, bitanggor, meranti rawa, mahang, bakau, dan lain sebagainya.

Khusus untuk tanaman bakau, merupakan jenis tanaman yang menjadi andalan untuk ditanam di rawa-rawa daerah pantai sebagai habitat ikan dan binatang laut lainnya. Penanaman bakau ini menjadi sangat penting karena sebagian besar daerah pinggiran pantai sudah mengalami kerusakan sebagai akibat penambangan timah yang dilakukan baik secara legal maupun illegal di daerah laut.

Penduduk

Penduduk sebagai salah satu sumber daya pembangunan memegang dua peranan penting dalam pembangunan yaitu sebagai subyek/pelaku sekaligus sebagai obyek dari pembangunan. Berdasarkan data Bangka Dalam Angka (2011),

(5)

31 jumlah penduduk di Kabupaten Bangka sampai dengan tahun 2010 adalah sebesar 260 935 jiwa, dengan luas wilayah 2 950.68 km² maka kepadatan penduduk di Kabupaten Bangka adalah 88 jiwa/km², sebagaimana tercantum pada Tabel 5.

Tabel 5 Jumlah penduduk di Kabupaten Bangka tahun 2010

No Kecamatan Luas (km2) Jumlah penduduk (jiwa) Kepadatan (jiwa/km2)

1 Sungailiat 146.38 74 066 506

2 Belinyu 546.50 40 625 74

3 Merawang 164.40 24 962 151

4 Mendo Barat 570.46 43 052 75

5 Puding Besar 383.29 16 068 41

6 Pemali 127.87 23 786 186

7 Riau Silip 523.68 22 275 42

8 Bakam 488.10 15 561 32

Jumlah 2 950.68 260 935 88

Sumber : BPS Kabupaten Bangka (2011)

Berdasarkan Tabel 5, jumlah penduduk pada dua kecamatan penarikan sampel penelitian yaitu Kecamatan Pemali sebanyak 23 786 jiwa dan Kecamatan Mendo Barat sebanyak 43 052 jiwa.

Profil Sosial Budaya

Masyarakat Kabupaten Bangka, pada umumnya Pulau Bangka adalah masyarakat yang mempunyai akar budaya dasar, yakni budaya melayu yang kemudian diperkaya dengan budaya pendatang seperti: Cina, Minangkabau, Batak, Bugis, Jawa, dan lain sebagainya, dan menyatu dengan budaya masyarakat asli.

Beberapa seni budaya yang asli masih terjaga sampai sekarang, bahkan beberapa ritual adat istiadat setempat dikembangkan menjadi bagian dari even pariwisata seperti: nujuh jerami di Desa Gunung Muda Kecamatan Belinyu, rebo kasan di Desa Air Anyir dan mandi belimau di Desa Jada Bahrin Kecamatan Merawang, peringatan 1 muharam di Desa Kenanga Kecamatan Sungailiat, maulud Nabi Muhammad SAW di Desa Kemuja dan Desa Zed Kecamatan Mendo Barat.

Adapun budaya yang menjadi ciri khas masyarakat Kabupaten Bangka serta Pulau Bangka pada umumnya, yang merupakan gambaran kebersamaan dan semangat persatuan adalah adat sepintu sedulang atau lebih dikenal dengan sebutan nganggung atau nganggong dimana pada setiap peringatan hari besar agama islam ataupun momen lainnya masyarakat tiap rumah akan membawakan makanan berupa nasi beserta lauknya ataupun kue-kue yang diletakkan dalam wadah dinamakan dulang kemudian dibawa ke masjid untuk dinikmati secara bersama- sama.

(6)

32

Gambar 10 Adat sepintu sedulang atau lebih dikenal dengan sebutan nganggung atau nganggong di Pulau Bangka

Budaya nganggung atau nganggong masyarakat Bangka sebagaimana tampak pada Gambar 10 juga diadakan untuk menyambut sekaligus menjamu pejabat pemerintahan maupun non pemerintahan, tokoh masyarakat serta tokoh agama.

(7)

33

KERAGAAN PENDIDIKAN MENENGAH DAN FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANGKA PARTISIPASI

KASAR (APK)

Keragaan Pendidikan Menengah

Kondisi sebelum pemekaran Kabupaten Bangka, nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah antar kecamatan terdapat perbedaan yang cukup signifikan. Kecamatan Sungailiat memiliki nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) yang sangat besar, sedangkan kecamatan lainnya memiliki nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) yang lebih kecil. Hal ini menggambarkan bahwa peluang dan kesempatan peserta didik yang dapat mengenyam pendidikan menengah antar kecamatan tidak merata. Kondisi nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah sebelum dan setelah pemekaran wilayah tercantum pada Tabel 6.

Tabel 6 Nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah sebelum dan setelah pemekaran Kabupaten Bangka

No. Kecamatan

Tahun

1998/1999 2000/2001 2003/2004 2009/2010 2010/2011 2011/2012

1 Sungailiat 95,76 97,61 81,83 95,14 90,63 95,94

2 Belinyu 57,72 50,03 41,07 98,87 110,90 91,73

3 Merawang 5,36 9,22 13,45 65,62 47,27 74,64

4 Mendo Barat 11,30 11,29 18,19 63,83 71,42 87,68

5 Bakam - - - 8,40 78,27 54,12

6 Pemali - - - 89,05 98,03 89,07

7 Puding Besar - - - 51,14 71,42 81,70

8 Riau Silip - - - 25,77 47,27 83,42

Tampak dari Tabel 6, nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah untuk kecamatan yang baru terbentuk, yaitu: Bakam, Pemali, Puding Besar dan Riau Silip mengalami peningkatan. Hal ini berarti bahwa meningkatnya partisipasi penduduk dan peserta didik dalam pendidikan, khususnya pendidkan menengah. Satu hal yang paling penting adalah upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan daya serap agar setelah pemekaran wilayah, kebutuhan masyarakat terhadap layanan pendidikan menengah dapat terpenuhi dan akses untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan terjangkau dapat dipermudah. Adapun untuk gambaran nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah sebagaimana terdapat pada Gambar 11.

(8)

34

a. Sebelum pemekaran wilayah b. Setelah pemekaran wilayah

Gambar 11 Nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah sebelum dan setelah pemekaran Kabupaten Bangka

Suatu kondisi yang dapat dimaklumi apabila Kecamatan Sungailiat memiliki nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah yang tinggi karena sebagai ibukota kabupaten sarana dan prasarana pendidikan menengah yang dimiliki cukup memadai sehingga memungkinkan peserta didik leluasa memilih program studi sesuai dengan minat dan keinginan mereka. Selain itu, pilihan bersekolah di sekolah yang berstatus negeri adalah satu alasan tersendiri bagi peserta didik untuk lebih memilih melanjutkan pendidikan menengah ke Sungailiat karena jumlah sekolah negeri yaitu lima unit dengan daya tampung ruang kelas sejumlah lima belas ruang atau paling banyak diantara kecamatan lainnya sehingga peluang dan kesempatan bersekolah di sekolah negeri terbuka lebar ada di Kecamatan Sungailiat. Adapun jumlah prasarana pendidikan menengah berupa gedung sekolah di Kecamatan Sungailiat sebagaimana terdapat pada Tabel 7.

Tabel 7 Jumlah gedung sekolah jenjang pendidikan menengah sebelum dan setelah pemekaran di Kabupaten Bangka

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

i.

j.

k.

l.

m.

n.

o.

p.

Kecamatan Sungailiat yang pada tahun 2003 memiliki 14 unit sekolah jenjang

No. Kecamatan

Tahun

1998/1999 2000/2001 2003/2004 2009/2010 2010/2011 2011/2012

1 Sungailiat 13 14 14 11 11 11

2 Belinyu 6 7 6 5 5 6

3 Merawang 2 2 3 3 3 3

4 Mendo Barat 3 2 5 5 5 5

5 Bakam - - - 1 1 1

6 Pemali - - - 2 2 2

7 Puding Besar - - - 1 1 1

8 Riau Silip - - - 2 2 2

(9)

35 Kecamatan Sungailiat yang pada tahun 2003 memiliki 14 unit sekolah jenjang pendidikan menengah perlahan mengalami penurunan sebagai dampak pembangunan prasarana pendidikan menengah di wilayah pemekaran sehingga ada beberapa sekolah swasta yang tidak mampu bersaing dalam mendapatkan peserta didik dan terpaksa tutup.

Tampak pada Tabel 7, keadaan jumlah ruang kelas jenjang pendidikan menengah mengalami fluktuasi, seperti yang terjadi di Kecamatan Sungailiat dan Belinyu. Sebelum pemekaran wilayah, cakupan wilayah yang luas dengan prasarana terbatas dan fokus pembangunan infrastruktur pendidikan yang sebagian besar teralokasi di ibukota kabupaten telah menjadikan Sungailiat sebagai tujuan favorit peserta didik untuk melanjutkan pendidikan menengahnya. Kondisi daya tampung ruang kelas tiap kecamatan sebagaimana tertera pada Tabel 8.

Tabel 8 Daya tampung pendidikan menengah (ruang kelas) sebelum dan setelah pemekaran Kabupaten Bangka

Tampak dari Tabel 8, bahwa Kecamatan Sungailiat memiliki ketersediaan daya tampung ruang kelas yang sangat banyak. Pada tahun ajaran 2003/2004 atau sebelum pemekaran Kabupaten Bangka, Kecamatan Sungailiat memiliki 153 ruang kelas, namun pada tahun ajaran 2009/2010 berkurang menjadi 126 ruang kelas. Hal ini dikarenakan dalam kurun waktu tersebut ada dua unit SMA swasta yaitu SMA YPBI 11 dan SMA YPLP PGRI yang terpaksa tutup karena sepi pendaftar peserta didik sebagai akibat berdirinya sekolah baru di daerah pemekaran. Namun setelah tahun 2010/201 daya tampung mengalami kenaikan yang mengindikasikan terjadinya peningkatan jumlah peserta didik.

Kabupaten Bangka memiliki permasalahan cukup rumit terkait dengan bidang pendidikan menengah. Terdapat dua kecamatan, Merawang dan Mendo Barat, secara geografis berbatasan langsung dengan Kota Pangkalpinang yang memiliki prasarana pendidikan menengah cukup memadai karena ketersediaan program studi lebih bervariasi mulai dari sekolah menengah atas, madrasah aliyah dan sekolah menengah kejuruan. Hal tersebut menjadi daya tarik bagi peserta didik di dua kecamatan itu ataupun kecamatan lainnya, bahkan tidak jarang juga peserta didik di Sungailiat lebih memilih melanjutkan pendidikannya ke Kota Pangkalpinang.

No. Kecamatan

Tahun

1998/1999 2000/2001 2003/2004 2009/2010 2010/2011 2011/2012

1 Sungailiat 119 139 153 126 131 157

2 Belinyu 48 50 46 45 45 43

3 Merawang 3 8 12 18 22 19

4 Mendo Barat 6 9 16 34 41 46

5 Bakam - - - 3 3 6

6 Pemali - - - 31 28 31

7 Puding Besar - - - 14 14 14

8 Riau Silip - - - 8 14 13

(10)

36

Kondisi ini terjadi juga di beberapa kecamatan lain, seperti Kecamatan Bakam dan Puding Besar yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Kelapa (Kabupaten Bangka Barat). Kasus serupa terjadi juga di Kecamatan Riau Silip bahwa masih ada memilih melanjutkan pendidikan menengah ke Kecamatan Belinyu ataupun Kecamatan Sungailiat, serta penduduk usia pendidikan menengah di Kecamatan Pemali yang memilih melanjutkan pendidikan menengah ke Kecamatan Sungailiat.

Hal ini ternyata terjadi juga antar kecamatan lainnya yang memiliki prasarana pendidikan lebih memadai dan dianggap lebih baik yang berdampak pada nilai APK pendidikan menengah di beberapa kecamatan.

Setelah pemekaran wilayah yang menerapkan sistem otonomi daerah, paradigma pembangunan infrastruktur pendidikan menengah mengalami pergeseran karena tiap kabupaten yang baru dimekarkan mulai memperluas akses dengan menyediakan prasarana pendidikan menengah. Demikian juga orientasi pembangunan infrastruktur pendidikan menengah di Kabupaten Bangka yang semakin memperhatikan wilayah lainnya, khususnya kecamatan yang baru terbentuk pada tahun 2001. Kondisi ini menjadikan peserta didik memiliki kemudahan dalam akses melanjutkan pendidikan menengah sehingga sebagian besar memilih untuk bersekolah di kecamatan tempat tinggalnya walaupun masih ada sebagian kecil yang tetap melanjutkan pendidikan menengah ke Sungailiat ataupun Kota Pangkalpinang.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) Terdapat banyak faktor terkait yang dapat mempengaruhi nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan. Beberapa faktor yang menjadi variabel independen dalam penelitian ini yaitu: jumlah penduduk usia pendidikan menengah, jumlah daya tampung ruang kelas pendidikan menengah, luas wilayah tiap kecamatan dan kepadatan penduduk tiap kecamatan. Hasil regresi data panel dengan menggunakan software eviews 6.0 adalah sebagaimana pada Tabel 9.

Tabel 9 Hasil regresi data panel

Variable Coefficient Prob.

X1 -1.995 0.0000

X2 2.035 0.0000

X3 0.039 0.0004

X4 0.504 0.0000

DUMMY -49.537 0.0005

C 103.698 0.0000

Weighted Statistics

R-squared 0.9432 69.5959

Adjusted R-squared 0.9274 42.2994

Dari output diatas, diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :

̂ D

Berdasarkan hasil output tersebut terdapat nilai R Square 0.9432 yang artinya sebanyak 94.32 persen variabel dependen dapat dijelaskan variabel independen, sisanya sebesar 5.68 persen dijelaskan oleh faktor lain diluar model (tidak dapat dijelaskan oleh model).

(11)

37 Hasil uji statistik t terlihat nilai p-value dari masing-masing koefisien ( < alpha=0,05 yang artinya variable ( ) berpengaruh signifikan terhadap angka partisipasi kasar pendidikan menengah pada taraf nyata 5 persen atau variabel independen (x) berpengaruh secara signifikan (nyata) terhadap variabel dependen (y).

Hasil uji statistik F terlihat nilai dari p-value=0,00000< alpha=0,05 (tolak H0) yang artinya model yang digunakan layak pada taraf nyata 5 persen atau secara keseluruhan variabel x memiliki pengaruh terhadap angka partisipasi kasar pendidikan menengah.

Tampak pada Tabel 10, hasil uji korelasi menunjukkan angka korelasi lebih kecil dari 0,8 dan variabel (x2, x3, x4 dan dummy) signifikan (terlihat pada uji-t) dan tidak ada koefisien korelasi yang memiliki nilai<0.8, maka dapat dikatakan tidak terdapat masalah yang serius. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel yang artinya bahwa tidak ada korelasi antar peubah independen x, dapat disimpulkan bahwa data telah terbebas dari masalah multikolinearitas (Gujarati 2004).

Tabel 10 Hasil uji korelasi

Y x1 x2 x3 x4

Y 1.000000 -0.544795 0.681808 0.267862 0.637748 x1 -0.544795 1.000000 0.104652 0.024744 -0.129476 x2 0.681808 0.104652 1.000000 0.252861 0.517868 x3 0.267862 0.024744 0.252861 1.000000 -0.151655 x4 0.637748 -0.129476 0.517868 -0.151655 1.000000

Hasil regresi, nilai R-square 94.32 persen Nilai R-square 0.9432 menunjukkan bahwa sebesar 94.32 persen nilai angka partisipasi kasar (APK) pendidikan menengah dipengaruhi oleh rasio penduduk usia pendidikan menengah terhadap jumlah total penduduk, rasio jumlah ruang kelas terhadap jumlah total penduduk, luas wilayah kecamatan dan kepadatan penduduk. Sisanya 5.68 persen dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Pada peubah x1, nilai dugaan rataan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah sebesar negatif 1.99 untuk setiap kenaikan peubah bebas rasio jumlah penduduk usia pendidikan menengah terhadap jumlah penduduk seluruhnya dengan asumsi peubah bebas yang lain tetap. Hal ini berarti setiap peningkatan satu orang penduduk usia pendidikan menengah dalam setiap seribu penduduk akan menurunkan 1.99 persen (dibulatkan 2.00 persen) nilai Angka Partisipasi Kasar (APK). Hasil uji-t, terlihat bahwa nilai p-value dari koefisien x2<alpha=0.05, yang artinya rasio penduduk usia pendidikan menengah terhadap jumlah penduduk seluruhnya berpengaruh signifikan terhadap angka partisipasi kasar pendidikan menengah pada taraf nyata 5 persen.

Penduduk usia pendidikan menengah (16-18 tahun) merupakan parameter pembilang untuk menghitung nilai angka partisipasi kasar (APK) pendidikan menengah namun peningkatan jumlah penduduk usia pendidikan menengah di suatu kecamatan ternyata tidak langsung secara otomatis akan menaikkan nilai Angka Partisipasi Kasar (APK). Apabila keberadaan penduduk usia pendidikan menengah (16-18 tahun) tidak diimbangi dengan jumlah siswa pendidikan

(12)

38

menengah di suatu wilayah maka akan menyebabkan nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah akan semakin turun. Sebaran rasio jumlah penduduk usia pendidikan menengah terhadap jumlah penduduk seluruhnya pada tahun 2011 sebagaimana terdapat pada Gambar 12.

Gambar 12 Sebaran rasio penduduk usia pendidikan menengah pada tahun 2011 Berdasarkan Gambar 12, maka Kecamatan Sungailiat memiliki rasio yang paling tinggi. Pada tahun 2010/2011 nilai angka partisipasi kasar (APK) pendidikan menengah Kecamatan Sungailiat adalah sebesar 90.63 persen dan pada tahun 2011/2012 adalah sebesar 95.94 persen, yang artinya mengalami kenaikan sebesar 5.31 persen. Kondisi berbeda terdapat di Kecamatan Belinyu, Bakam dan Pemali.

Hal ini disebabkan tidak merata dan keterbatasan prasarana atau belum tersedianya banyak pilihan jurusan program studi yang terdapat di kecamatan tersebut mengakibatkan masih banyak peserta didik melanjutkan pendidikan ke daerah lain, yaitu Sungailiat dan Kota Pangkalpinang. Beberapa faktor lain yang juga turut menjadi faktor penyebabnya yaitu kemampuan ekonomi orangtua peserta didik, kedekatan jarak dari tempat tinggal, dan masih adanya anggapan bahwa mutu pendidikan di Sungailiat dan Kota Pangkalpinang lebih bermutu, dan lain sebagainya.

Pada peubah x2, nilai dugaan rataan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan menengah akan naik sebesar 2.03 untuk setiap kenaikan peubah bebas rasio jumlah ruang kelas terhadap jumlah total penduduk dengan asumsi peubah bebas yang lain tetap. Hal ini berarti setiap peningkatan satu ruang kelas dalam setiap 10 000 penduduk akan menaikkan 2.03 persen nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah. Hasil uji-t, terlihat bahwa nilai p-value dari koefisien x2<alpha=0.05, yang artinya rasio jumlah ruang kelas terhadap jumlah penduduk seluruhnya berpengaruh signifikan terhadap angka partisipasi kasar pendidikan menengah pada taraf nyata 5 persen.

(13)

39 Pembangunan unit sekolah baru dan bertambahnya ruang kelas jenjang pendidikan menengah menyediakan daya tampung yang lebih banyak sehingga meningkatkan daya serap peserta didik. Ruang kelas merupakan daya tampung yang dapat menggambarkan kemampuan sekolah untuk menyerap peserta didik, sehingga semakin banyak ketersediaan ruang kelas mengindikasikan semakin besar daya serap pendidikan suatu wilayah. Conyers (1994:70) menyatakan bahwa pengembangan pendidikan secara cepat dan dalam waktu yang relatif singkat adalah dengan memperbesar ukuran ruang kelas, yang pada akhirnya akan menaikkan pula rasio murid dan guru, atau dapat pula menggunakan tenaga pendidik yang belum matang guna diperbantukan pada staf pamong yang sudah mapan. Kondisi rasio jumlah ruang kelas terhadap jumlah penduduk seluruhnya sebagaimana tertera pada Gambar 13.

Gambar 13 Sebaran rasio daya tampung pendidikan menengah pada tahun 2011 Berdasarkan Gambar 13, maka daerah yang memiliki rasio jumlah ruang kelas terhadap jumlah penduduk seluruhnya paling tinggi adalah Kecamatan Sungailiat dan Mendo Barat. Nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) kecamatan ini mengalami kenaikan yaitu sebesar 5.31 persen untuk Kecamatan Sungailiat dan 16.26 persen untuk Kecamatan Mendo Barat. Hal ini merupakan dampak dari bertambahnya prasarana pendidikan menengah, khususnya di Kecamatan Mendo Barat didirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Peternakan pada tahun 2005.

(14)

40

Kabupaten Bangka memiliki rasio peserta didik terhadap ruang kelas yaitu 1:27 sedangkan rasio ideal peserta didik jenjang pendidikan menengah terhadap ruang kelas sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 yaitu minimal 1:17 dan maksimal 1:32. Namun pada kenyataannya jumlah daya tampung ruang kelas tersebut belum tersebar secara merata karena masih terdapat kecamatan yang memiliki jumlah ruang kelas jauh dari cukup. Kondisi sebaran jumlah prasarana pendidikan menengah tiap kecamatan pada tahun 2011 sebagaimana tertera pada Gambar 14.

Gambar 14 Sebaran jumlah ruang kelas pendidikan menengah pada tahun 2011 Tampak dari Gambar 14, daya tampung ruang kelas yang ada di Kecamatan Sungailiat adalah yang paling banyak yaitu 157 lokal dan Kecamatan Bakam yang memiliki jumlah ruang kelas paling sedikit atau sebanyak 6 lokal.

Pada peubah x3, nilai dugaan rataan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah akan naik sebesar 0.039 untuk setiap kenaikan peubah luas wilayah kecamatan dengan asumsi peubah bebas yang lain tetap. Hasil uji-t, terlihat bahwa nilai p-value dari koefisien x3<alpha=0.05, yang artinya luas wilayah kecamatan berpengaruh signifikan terhadap angka partisipasi kasar (APK) pendidikan menengah pada taraf nyata 5 persen.

Kondisi sebelum pemekaran wilayah, peningkatan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan menengah hanya terkonsentrasi di Kecamatan Sungailiat karena memiliki prasarana yang beragam. Namun setelah pemekaran wilayah maka nilai

(15)

41 angka partisipasi kasar (APK) pendidikan menengah tampak merata di semua kecamatan, baik yang lama maupun yang baru karena disertai dengan pembangunan unit sekolah baru pendidikan menengah, terutama SMA negeri di tiap kecamatan yang saat ini telah terdapat di semua kecamatan se-Kabupaten Bangka. Kondisi luas wilayah dan sebaran prasarana pendidikan menengah pada tahun 2011 sebagaimana terdapat pada Gambar 15.

Gambar 15 Sebaran jumlah prasarana pendidikan menengah pada tahun 2011 Tampak dari Gambar 15, kecamatan yang memiliki wilayah paling luas yaitu Kecamatan Mendo Barat dengan 570.46 km² dan yang paling sempit yaitu Kecamatan Pemali dengan 127.87 km². Berdirinya unit-unit sekolah baru pendidikan menengah telah meningkatkan nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) di kecamatan yang baru terbentuk pada tahun 2001. Tampak pada Gambar 15, kecamatan yang memiliki wilayah paling luas yaitu Kecamatan Mendo Barat dan kecamatan yang paling sedikit wilayahnya yaitu Kecamatan Pemali. Meskipun memiliki wilayah paling kecil dan hanya memiliki masing-masing satu unit SMA Negeri dan MA Negeri namun nilai Angka Partisaipasi Kasar (APK) pendidikan menengahnya pada tahun 2011 menempati urutan ketiga untuk tingkat kabupaten.

Berdasarkan nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah, Kecamatan Mendo Barat (87.68 persen) lebih kecil daripada Kecamatan Pemali (89.07 persen), yang artinya daya serap pendidikan di Kecamatan Pemali lebih baik daripada di Kecamatan Mendo Barat walaupun jumlah ruang kelas di kecamatan Mendo Barat lebih banyak. Hal ini berarti jumlah peserta didik tiap ruang kelas di Kecamatan Pemali lebih banyak daripada di Kecamatan Mendo Barat.

(16)

42

Terjadinya pemekaran wilayah berarti terjadi penyempitan wilayah karena jumlah luas wilayah tetap tetapi sudah terbagi dalam beberapa kecamatan. Namun di sisi yang lain, pemekaran wilayah juga berarti terbentuknya wilayah baru.

Pemekaran Kabupaten Bangka telah mempercepat pembangunan prasarana pendidikan termasuk pendidikan menengah. Pada tahun 2011 ini, setiap kecamatan yang baru terbentuk pada tahun 2001 di Kabupaten Bangka telah memiliki fasilitas Sekolah Menengah Atas (SMA) berstatus negeri. Kondisi sebaran prasarana pendidikan menengah di Kabupaten Bangka pada tahun 2011 sebagaimana tampak pada Gambar 16.

Gambar 16 Sebaran jumlah prasarana pendidikan menengah pada tahun 2011 Tampak pada Gambar 16, tiap kecamatan telah memiliki prasarana pendidikan menengah. Kondisi ini telah memberikan kemudahan dan memperluas akses pendidikan kepada masyarakat karena peserta didik yang merupakan anak- anak mereka dan generasi penerus tongkat estafet pembangunan tidak perlu jauh- jauh lagi untuk mendapatkan layanan pendidikan menengah khususnya bersekolah negeri kecuali untuk program studi yang belum tersedia didaerahnya.

Pada peubah x4, nilai dugaan rataan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah akan naik sebesar 0.504 untuk setiap kenaikan peubah kepadatan penduduk dengan asumsi peubah bebas yang lain tetap. Hasil uji-t, terlihat bahwa nilai p-value dari koefisien x4<alpha=0.05, yang artinya kepadatan penduduk berpengaruh signifikan terhadap angka partisipasi kasar (APK) pendidikan menengah pada taraf nyata 5 persen.

Meningkatnya jumlah penduduk di beberapa kecamatan ternyata didominasi oleh penduduk usia 16-18 tahun yang merupakan usia penduduk jenjang pendidikan

(17)

43 menengah sehingga ikut mempengaruhi angka partisipasi kasar (APK) penduduk usia 16-18 tahun merupakan parameter pembilang nilai angka partisipasi kasar (APK) pendidikan menengah. Sebaran kepadatan penduduk tiap kecamatan sebagaimana tertera pada Gambar 17.

Gambar 17 Sebaran kepadatan penduduk pada tahun 2011

Tampak dari Gambar 17, kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk paling tinggi adalah Sungailiat yaitu sebesar 549 jiwa/km². Jauh diatas kepadatan rata-rata tingkat Kabupaten Bangka yang hanya 88 jiwa/km². Kemudian untuk tingkat kepadatan terendah yaitu Kecamatan Riau Silip yang hanya 45 jiwa/km².

Kepadatan penduduk di Kecamatan Sungailiat sangat dipengaruhi karena statusnya sebagai ibukota kabupaten yang merupakan pusat pemerintahan. Selain itu juga menjadi pusat perdagangan dan jasa. Ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan menengah yang cukup memadai juga telah menjadikan Sungailiat sebagai pilihan untuk berdomisili bagi masyarakat.

Pemekaran Kabupaten Bangka telah mempercepat pembangunan prasarana pendidikan termasuk pendidikan menengah karena tuntutan kebutuhan. Pada tahun 2011 ini, setiap kecamatan yang baru terbentuk pada tahun 2001 di Kabupaten Bangka telah memiliki fasilitas Sekolah Menengah Atas (SMA) berstatus negeri.

Kondisi ini telah memberikan kemudahan dan memperluas akses pendidikan kepada masyarakat karena peserta didik yang merupakan anak-anak mereka dan generasi penerus tongkat estafet pembangunan tidak perlu jauh-jauh lagi untuk mendapatkan layanan pendidikan menengah khususnya bersekolah negeri kecuali untuk program studi yang belum tersedia didaerahnya.

(18)

Referensi

Dokumen terkait

Kadar lemak nugget keong sawah dengan perbedaan level penambahan bahan pengisi pati temu ireng dengan menggunakan α 0,05 pada taraf signifikan diperoleh p-value

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada petugas rekam medis, peneliti menyimpulkan berikut beberapa kemungkinan petugas tidak menjelaskan

Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit; menghancurkan &amp; menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri,.. parasit, jamur, virus, tumor serta sel-sel

Apabila ada sanggahan, maka dapat disampaikan secara tertulis kepada Pokja Pengadaan Konstruksi Pokja Pengadaan Konstruksi ULP MIN Mila / Ilot Kantor

Pondasi Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL) adalah bangunan konstruksi bawah tanah (sub structure) yang mempunyai sistem kombinasi antara pondasi pelat beton pipih

Pokja ULP tidak boleh menggugurkan penawaran pada waktu pembukaan penawaran, kecuali untuk file penawaran yang sudah dipastikan tidak dapat dibuka

Penyediaan perangkat teknologi informasi dan komputer (TIK) sebagai penunjang pembelajaran multimedia, bertujuan untuk sebagai penunjang media pembelajaran yang

(8) Mekanisme  Pemungutan  pemakaian  Listrik  dan  Air  Bersih  diserahkan   sepenuhnya  kepada  UPTD Pasar dan atau Badan lain yang ditunjuk       oleh Dinas.