ISBN: 978-602-7998-43-8
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL
AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN EKONOMI PERDESAAN I
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
2014
AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN EKONOMI PERDESAAN I
Penanggung Jawab:
Ketua Program Studi Agribisnis Universitas Trunojoyo Madura
Editor:
Andrie Kisroh Sunyigono Ellys Fauziyah
Mardiyah Hayati
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA 2014
Katalog dalam Terbitan
Proceeding: Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan I
Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura, UTM Press 2014
viii + 396 hlm.; 17x24 cm
ISBN 978-602-7998-43-8
Editor: : Andrie Kisroh Sunyigono Ellys Fauziyah
Mardiyah Hayati Layouter : Taufik R D A Nugroho Cover design : Didik Purwanto
Penerbit : UTM Press
* Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO Box. 2 Kamal Bangkalan
Telp : 031-3013234 Fax : 031-3011506
KATA PENGANTAR KETUA PANITIA Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh Bismillahirrohmanirrohim
Segala puji kami panjatkan ke hadapan Illahi atas terselenggaranya Seminar Nasional “Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan I” Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura pada tanggal 21 Mei 2014. Seminar ini merupakan seminar yang diselenggarakan secara mandiri oleh Program Studi Agribisnis untuk pertama kalinya dan direncanakan dilakukan secara rutin tiap tahun. Tujuan diselenggarakannya seminar ini adalah untuk: 1) Memberikan rekomendasi kebijakan, langkah dan strategi dalam upaya pengembangan sektor agribisnis yang terkait erat dengan wilayah perdesaan, 2) Memberikan wadah untuk berbagi pengalaman dan tukar menukar ide bagi semua stakeholder terkait baik akademisi, pelaku bisnis dan pemerintah, 3) Menumbuhkan komitmen bersama dalam pengembangan sektor agribisnis yang bertitik tumpu pada wilayah perdesaan dalam upaya mencapai visi pembangunan pertanian. Selanjutnya, pada akhir seminar diharapkan tergalang sinergi untuk meningkatkan mutu dan dayaguna penelitian dan dapat menjadi masukan bagi berbagai pihak yang berwenang dalam pengambilan kebijakan.
Makalah kunci disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, MS selaku Guru Besar Universitas Brawijaya Malang, dan makalah utama oleh Dr.Ir. Agus Wahyudi, SE; MM (Badan Pengembangan Wilayah Suramadu/BPWS), Andrie Kisroh Sunyigono, PhD selaku Pakar Ekonomi Pertanian Universitas Trunojoyo Madura dan. Dr. Sitti Aida Adha Taridala, SP, M.Si sebagai pemakalah terbaik dari Universitas Halu Uleo.
Disamping itu terdapat makalah penunjang bersumber dari berbagai instansi/lembaga penelitian seperti BPTP antara lain dari Bogor dan Jawa Timur, Loka Penelitian Sapi Potong Pasuruan, serta Perguruan Tinggi dari berbagai wilayah seperti Jakarta, Gorontalo, Bandung, Tegal, Surabaya, Malang dan Madura. Topik-topik yang disajikan sangat bervariasi, secara garis besar terhimpun ke dalam 4 bidang yakni agribisnis, sosiologi, nilai tambah dan sosial ekonomi.
Terima kasih kepada semua pihak yang memberikan kontribusi utamanya PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO).
Akhirnya selamat mengkaji makalah-makalah di prosiding ini.
Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatu
Bangkalan, Juni 2014.
Ketua Panitia,
Ihsannudin, MP.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR KETUA PANITIA ... iv DAFTAR ISI ... v
AGRIBISNIS
MANAJEMEN AGRIBISNIS DAN PERMASALAHANNYA ... 3 P. Julius F. Nagel
TANGGAPAN KONSUMEN TERHADAP ECO-LABEL PADA PRODUK PERTANIAN ... 14
Joko Mariyono
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP STRATEGI BERSAING DAN KINERJA PERUSAHAAN ... 21
Hary Sastrya Wanto, Ruswiati Suryasaputra
PERANAN BAITUL MAAL WATTAMWIL UNTUK PENINGKATAN SEKTOR PERTANIAN ... 32
Renny Oktafia
PENINGKATAN MUTU BUAH APEL SEPANJANG RANTAI PASOK DARI PASCAPANEN SAMPAI DISPLAY SUPER MARKET ... 41
I Nyoman Sutapa, Jani Rahardjo, I Gede Agus Widyadana, Elbert Widjaja ANALISIS PENGEMBANGAN DESA WISATA BERBASIS POTENSI LOKAL KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG ... 57
Selamet Joko Utomo
RISIKO USAHA PETERNAKAN AYAM PETELUR UTAMA
KECAMATAN GALIS KABUPATEN PAMEKASAN ... 68 Lilis Suryani, Aminah H.M Ariyani
KELAYAKAN EKONOMI USAHA GARAM RAKYAT DENGAN TEKNOLOGI MADURESSE BERISOLATOR ... 83
Makhfud Efendy, Ahmad Heryanto
STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI PLINTIR PISANG DI KECAMATAN ARJASA KEPULAUAN KANGEAN ... 107
Mu’awana, Taufik Rizal Dwi Adi Nugroho
SOSIOLOGI
RELASI AKTOR DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PRODUK TERRA (TERONG RAKYAT) ... 121
Titis Puspita Dewi, Mohammad Asrofin, Erwin Merawati, Ali Imron
PERLUNYA KECUKUPAN BAHAN PANGAN DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN MASYARAKAT SECARA NASIONAL ... 133
Isbandi dan S.Rusdiana
RELASI SEGI TIGA SISTEM KREDIT DALAM MASYARAKAT PERDESAAN STUDI KASUS DI DESA MAJENANG, KECAMATAN KEDUNGPRING, KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR ... 146
Indah Rusianti, Faridatus Sholihah, Arini Nila Sari
DAMPAK SOSIAL DAN EKONOMI PEMBANGUNAN AGROPOLITAN DI DESA NGRINGINREJO, KECAMATAN KALITIDU, KABUPATEN BOJONEGORO ... 159
Alifatul Khoiriyah, Santi Yuli Hartika, Yunny Noevita Sari, dan Ali Imron PEMANFAATAN PERAN MODAL SOSIAL PADA PEKERJA SEKTOR INFORMAL PEREMPUAN (Studi Pada Pedagang Kaki Lima Perempuan Di Kota Malang) ... 168
Ike Kusdyah Rachmawati
PROGRAM AKSI MEDIA KOMUNITAS PEDESAAN BAGI WARGA KEPULAUAN TIMUR MADURA SEBAGAI SARANA PENINGKATAN AKSES, KETERBUKAAN INFORMASI, DAN PEMBERDAYAAN PUBLIK ... 181
Surokim, Teguh Hidayatul Rachmad
MODEL PENGEMBANGAN KOMPETENSI PENYULUH PERTANIAN DI PROVINSI GORONTALO ... 194
Mohamad Ikbal Bahua
NILAI TAMBAH
PENERAPAN QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) UNTUK PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK OLAHAN WORTEL ... 213
Yurida Ekawati, Surya Wirawan Widiyanto
PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BERBASIS JAGUNG DI
KABUPATEN BANGKALAN ... 224 Weda Setyo Wibowo, Banun Diyah Probowati, Umi Purwandari
STRATEGI PENGUATAN POSISI TAWAR PETANI KENTANG MELALUI PENGUATAN KELEMBAGAAN ... 234
Ana Arifatus Sa’diyah dan Dyanasari
INOVASI TEKNOLOGI SAPI POTONG BERBASIS MANAJEMEN BUDIDAYA DAN REPRODUKSI MENUJU USAHATANI KOMERSIAL ... 250
Jauhari Efendy
POTENSI SAMPAH ORGANIK SEBAGAI PELUANG BISNIS PUPUK ORGANIK DAN PAKAN TERNAK ... 258
Jajuk Herawati, Yhogga Pratama Dhinata, Indarwati
UJI KELAYAKAN PENGOLAHAN SERBUK INSTAN BEBERAPA VARIETAS JAHE DALAM UPAYA MENINGKATKAN NILAI EKONOMI ... 270
Indarwati, Jajuk Herawati, Tatuk Tojibatus, Koesriwulandari
POTENSI CACING TANAH SEBAGAI PELUANG BISNIS ... 280 Yhogga Pratama Dhinata, Jajuk Herawati, Indarwati
PEMBUATAN DAGING TIRUAN MURNI (MEAT ANALOG) SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK ... 290
Sri Hastuti
STRATEGI PERCEPATAN PENGEMBANGAN USAHATANI TEBU DI MADURA301
Miellyza Kusuma Putri, Mokh Rum
STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI SALAK DI
KABUPATEN BANGKALAN ... 312 Iffan Maflahah
SOSIAL EKONOMI
PEMANFAATAN SUMBERDAYA PEKARANGAN MELALUI PROGRAM KRPL DI PUHJARAK, KEDIRI ... 331
Kuntoro Boga Andri dan Putu Bagus Daroini
PERSEPSI PETANI TERHADAP NILAI LAHAN SEBAGAI DASAR PENETAPAN LAHAN PERTANIAN PADI SAWAH BERKELANJUTAN ... 343
Mustika Tripatmasari, Firman Farid Muhsoni, Eko Murniyanto
PARTISIPASI ANGGOTA KOPERASI SERBA USAHA (KSU) TUNAS MAJU DI KECAMATAN SAMIGALUH, KABUPATEN KULONPROGO ... 351
Eni Istiyanti, Lestari Rahayu,Supriyadi
VEGETABLE CONSUMPTION PATTERN IN EAST JAVA AND BALI ... 367 Evy Latifah, Hanik A. Dewi, Putu B. Daroini, Kuntoro B. Andri,Joko Mariyono
ANALISIS DINAMIKA PERDAGANGAN BERAS DAN GANDUM DI INDONESIA ... 381
Tutik Setyawati
KERAGAAN HASIL BEBERAPA VARIETAS UNGGUL BARU KEDELAI
DAN TINGKAT KEUNTUNGAN USAHATANI DI LOKASI
PENDAMPINGAN SL-PTT KABUPATEN SAMPANG ... 389 Moh. Saeri, Sri Harwanti dan Suyamto
PERANAN BAITUL MAAL WATTAMWIL UNTUK PENINGKATAN SEKTOR PERTANIAN
Renny Oktafia
Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) Bersih dan Amanah Surabaya Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) SBI Surabaya
ABSTRAK
Kelompok tani mempunyai peran yang strategis dalam berbagai kegiatan pertanian baik yang berkaitan dengan usahatani maupun kegiatan sosial ekonomi petani. Peningkatan pembinaan kelompok tani diarahkan pada penerapan sistem agribisnis, peningkatan peran petani dan anggota masyarakat pedesaan lainnya dengan menumbuh kembangkan kerja sama antar petani dan pihak lain yang terkait untuk mengembangkan usaha taninya. Pembangunan pertanian menghadapi permasalahan yang klasik yakni rendahnya pendapatan petani. Rendahnya pendapatan ini diakibatkan dari rendahnya produktivitas ditingkat petani. Hal ini akibat dari tidak tersedianya informasi teknologi maju dan tidak tersedianya modal kerja. Lembaga Keuangan Mikro Syariah Agribisnis merupakan Lembaga intermediasi keuangan bagi para anggota kelompok tani dan warga yang terpilih dari lingkungan ikatan pemersatunya (tingkat desa) yang bersepakat untuk bekerjasama saling menolong dengan menabung secara teratur dan terus-menerus sehingga terbentuk modal bersama yang terus berkembang, guna dipinjamkan kepada para anggota untuk tujuan produktif dan kesejahteraan dengan tingkat bagi hasil/jasa tabungan maupun pembiayaan yang layak dan bersaing. Keberadaan Lembaga Keuangan Mikro Syariah sebagai modal pembangunan pertanian di Indonesia sangat penting, seperti yang diterapkan dalam bentuk lembaga Baitul Maal Wattamwil (BMT).
Kata Kunci: Kelompok tani, pembangunan pertanian, BMT, pembiayaan syariah.
THE ROLE OF BAITUL MAAL WATTAMWIL IN THE ENHANCEMENT OF AGRICULTURE SECTOR
ABSTRACT
Farmer groups have a strategic role in both agricultural activities related to farming and farmers' socio-economic activities. Increased formation of farmer groups directed at the application of the agribusiness system, an increase in the participation of farmers and other rural community members to foster cooperation among farmers and other relevant parties to develop their farm. Agricultural development is a classic problem facing the low income of farmers. This is due to the low income of the low level of productivity in this petani.Hal a result of the unavailability of advanced information technology and lack of working capital.Islamic Microfinance Institutions Agribusiness is a financial intermediary for the members of farmer groups and citizens who elected unifying bond of the environment (the village) who agreed to cooperate with each other to help save regularly and continuously, forming together the growing capital, to loan to members for productive purposes and welfare to the level of profit sharing/savings services as well as financing a viable and competitive. The existence of Islamic Microfinance Institutions as the capital of agricultural development in Indonesia is very important, as it is applied in the form of Baitul Maal Wattamwil institutions(BMT).
Keywords: Farmer Groups, Agricultural Development, BMT, Islamic Finance.
PENDAHULUAN
Mempertimbangkan berbagai potensi dan keunggulan yang dimiliki, serta tantangan pembangunan yang harus dihadapi, Indonesia memerlukan suatu transformasi ekonomi berupa percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi menuju negara maju sehingga Indonesia dapat meningkatkan daya saing sekaligus mewujudkan kesejahteraan untuk seluruh rakyat Indonesia.
Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) merupakan langkah awal untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju dan termasuk 10 (sepuluh) negara besar di dunia pada tahun 2025 melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif, berkeadilan danberkelanjutan. Untuk mencapai hal tersebut, diharapkan pertumbuhan ekonomi riil rata-rata sekitar 7-9 persen per tahun secara berkelanjutan. Dengan melihat dinamika global yang terjadi serta memperhatikan potensi dan peluang keunggulan geografi dan sumber daya yang ada di Indonesia, serta mempertimbangkan prinsip pembangunan yang berkelanjutan, dalam kerangka MP3EI, Indonesia perlu memposisikan dirinya sebagai basis ketahanan pangan dunia, pusat pengolahan produk pertanian,perkebunan, perikanan, dan sumber daya mineral serta pusat mobilitas logistik global.
Sektor pertanian adalah penghasil pangan. Sementara itu aktor utama pertanian adalah petani serta buruh tani yanghampir semuanya tinggal di pedesaan. Jumlahnya sangat besar dan secara umum tingkat kesejahteraannya tertinggal darikelompok masyarakat yang lain. Oleh karena itu meskipun kontribusi relatif sektor pertanian dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) makin rendah tetapi peran sektor ini sangat strategis, baik dalam pencapaian Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).2
Kelompok tani mempunyai peran yang strategis dalam berbagai kegiatan pertanian baik yang berkaitan dengan usahatani maupun kegiatan social ekonomi petani.
Peningkatan pembinaan kelompok tani diarahkan pada penerapan sistem agribisnis, peningkatan peran serta petani dan anggota masyarakat pedesaan lainnya dengan menumbuhkembangkan kerja sama antar petani dan pihak lain yang terkait untuk mengembangkan usaha taninya.
Pengembangan kelompok tani diarahkan pada peningkatan kemampuan setiap kelompok tani dalam melaksanakan fungsinya, peningkatan kemampuan para anggota dalam mengembangkan agribisnis, penguatan kelompok tani menjadi kuat dan mandiri.
Kelompok tani yang berkembang bergabung dengan kelompok tani lain dalam satu wilayah tertentu yaitu desa untuk mengembangkan fungsinya sehingga mempunyai kemandirian yang kuat, lebih mudah menjalin kemitraan dan dapat menembangkan fungsi kelompok tani.
Peningkatan gabungan kelompok tani diharapkan agar gapoktan berfungsi sebagai unit usahatani, unit usaha pengolahan, unit usaha sarana dan prasarana produksi, unit pemasaran dan keuangan mikro serta usaha penunjang lainnya sehingga menjadi kuat
2 Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025
dan mandiri. Keberadaan gapoktan merupakan jawaban atas berbagai peluang dan hambatan sesuai dengan lingkungan sosial, ekonomi, dan teknis membutuhkan suatu organisasi yang lebih besar dengan bergabungnya kelompok tani dalam satu wilayah (desa). Pembentukan gapoktan dilakukan dalam suatu musyawarah oleh kelompok tani bahwa mereka akan bergabung dalam gapoktan.3
Pembangunan pertanian menghadapi permasalahan yang klasik yakni rendahnya pendapatan petani. Rendahnya pendapatan ini diakibatkan dari rendahnya produktivitas di tingkat petani.Hal ini akibat dari tidak tersedianya informasi teknologi maju dan tidak tersedianya modal kerja. Kondisi ini menyebabkan rendahnya mutu produk yang dihasilkan oleh petani sehingga harga yang diterima petani rendah.Salah satu upaya mengatasi permodalan dengan Program Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP).
Gapoktan PUAP merupakan suatu lembaga petani di pedesaan yang diharapkan sebagai lembaga pembiayaan agribisnis perdesaan. Lembaga pembiayaan agribisnis berperan sebagai salah satu unsur pelancar bagi keberhasilan dalam program pembangunan sektor pertanian.Peranan kredit bukan saja sebagai pelancar pembangunan, tetapi dapat juga menjadi unsur pemacu adopsi teknologi yang diharapkan mampu meningkatkan produksi, nilai tambah dan pendapatan masyarakat.
Lembaga Keuangan Mikro Syariah Agribisnis merupakan Lembaga intermediasi keuangan bagi para anggota kelompok tani dan warga yang terpilih dari lingkungan ikatan pemersatunya (tingkat desa) yang bersepakat untuk bekerjasama saling menolong dengan menabung secara teratur dan terus-menerus sehingga terbentuk modal bersama yang terus berkembang, guna dipinjamkan kepada para anggota untuk tujuan produktif dan kesejahteraan dengan tingkat bagi hasil/jasa tabungan maupun pembiayaan yang layak dan bersaing.
Keberadaan Lembaga Keuangan Mikro sebagai modal pembangunan pertanian di Indonesia sangat penting. Berangkat dari sejarah tentang keberadaan lembaga keuangan mikro di pedesaan.Masyarakat Indonesia sejak lama mengembangkan keuangan mikro, seperti: arisan, lumbung desa, jimpitan, dsb. Beberapa Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat (LPSM) mengembangkan LKM Non Bank yang secara riil juga memberikan pelayanan keuangan mikro, seperti: Baitul Maal Wattamwil (BMT).4
Pandangan Tentang Baitul Maal Wattamwil.
Baitul maal wattamwil (BMT) terdiri dari dua istilah, yaitu baitul maal dan baitut tamwil. Baitul maal lebih mengarah pada usaha-usaha pengumpulan dan penyaluran dana non-profit, seperti: zakat, infak, shadaqoh dan wakaf. Sedangkan baitut tamwil sebagai usaha pengumpulan dan penyaluran dana komersial. Usaha-usaha tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari BMT sebagai lembaga pendukung kegiatan ekonomi masyarakat kecil dengan berlandaskan syariah.
Peran umum BMT yang dilakukan adalah melakukan pembinaan dan pendanaan yang berdasarkan system syariah. Peran ini menegaskan arti penting prinsip-prinsip syariah dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Sebagai lembaga keuangan syariah yang
3 Cucuk Redono, Jurnal llmu-ilmu Pertanian Volume,5, Nomor I Juli 2012, STPP Magelang
bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat kecil, maka BMT mempunyai tugas penting dalam mengemban misi keislaman dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Dengan keadaan tersebut keberadaan BMT setidaknya mempunyai beberapa peran:
1. Melakukan pembinaan dan pendanaan usaha kecil.
2. Melepaskan ketergantungan masyarakat pada rentenir disebabkan rentenir mampu memenuhi keinginan masyarakat dalam hal dana dengan segera.
3. Menjaga keadilan ekonomi masyarakat dengan distribusi yang merata.5
Dalam menjalankan usahanya BMT tidak jauh dengan perbankan syariah hanya saja cakupannya lebih mengarah kepada mikro, dimana operasional BMT mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Konsep Produk BMT. Secara garis besar, pengembangan produk BMT dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu: Produk Penghimpunan Dana, Produk Penyaluran Dana, dan Produk Jasa.
2. Produk Penghimpunan Dana. Dalam operasionalisasi penghimpunan dana pada BMT menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Prinsip Wadi’ah yaitu pemberian mandat untuk menjaga sebuah barang yang dimiliki seseorang dengan cara tertentu, ada dua jenis wadi’ah, yaitu wadi’ah yad amanah (tangan amanah) dan wadi’ah yad dhomanah (tangan penanggung).
b. Prinsip Mudharabah adalah penyerahan modal uang pada orang yang berbisnis sehingga ia mendapatkan prosentasi keuntungan, ada beberapa jenis mudharabah yaitu: Mudharabah mutlaqah dapat berupa tabungan mudharabah dan deposito mudharabah, Mudharabah muqayadah merupakan simpanan khusus dimana pemilik dana dapat menetapkan syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh BMT, penyaluran dana mudharabah langsung kepada pelaksana usahanya, dimana bank bertindak sebagai perantara yang mempertemukan antara pemilik dana dengan pelaksana usaha.
3. Produk Penyaluran Dana. Produk penyaluran dana di BMT dapat dikembangkan dengan tiga model, yaitu:
a. Prinsip Jual Beli (tijarah), yang terdiri dari: (1) Pembiayaan murabahah merupakan salah satu bentuk jual beli dimana penjual memberikan informasi kepada pembeli tentang biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan komoditas dan tambahan profit yang diinginkan yang tercermin dalam harga jual, (2) Salam merupakan transaksi jual beli barang pesanan diantara pembeli dengan penjual dimana spesifikasi dan harga pesanan harus sudah disepakati diawal transaksi sedangkan pembayarannya dilakukan dimuka secara penuh, dan (3) Istishna’ merupakan jual beli suatu barang yang akan dibuat oleh produsen yang juga menyediakan barang bakunya.
5 Heri Sudarsono, 2008, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, Ekonisia, Yogyakarta
b. Prinsip Sewa (ijarah), pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli, namun perbedaannya terletak pada obyek transaksinya, bila pada jual beli obyek transaksinya adalah barang maka pada ijarah obyek transaksinya jasa.
c. Prinsip Bagi Hasil, yang terdiri dari: Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan, Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama bertindak sebagai pemilik dana (shahibul maal) yang menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lain sebagai pengelola usaha (mudharib).
4. Akad Pelengkap. Akad pelengkap dikembangkan sebagai akad pelayanan jasa, yang meliputi sebagai berikut: (1) Alih utang piutang (Al-Hiwalah), (2) Gadai (Rahn), (3) Akad saling bantu membantu atau bukan komersil (Al-qard) dan (4) Perwakilan (Wakalah)6.
Prospek Baitul Maal Wattamwil Untuk Sektor Pertanian.
Seiring dengan perkembangan lembaga-lembaga keuangan syariah, terutama perbankan syariah di Tanah Air, koperasi yang dikelola secara syariah juga mulai bermunculan di berbagai daerah. Di antara lembaga-lembaga keuangan syariah yang mengalami perkembangan cukup pesat adalah perbankan syariah, yang tumbuh sekitar 40 persen per tahun dengan total aset yang sudah mencapai sekitar Rp 140 triliun atau sekitar empat persen dari total aset perbankan nasional.
Perkembangan perbankan syariah yang pesat tersebut tentunya juga akan berdampak pada perkembangan lembaga-lembaga keuangan lainnya seperti koperasi syariah. Apalagi, perbankan syariah kini didukung dengan gairah keagamaan di Indonesia yang mengalami tren kenaikan sehingga berdampak pada melonjaknya demand terhadap produk dan layanan yang bernuansa syariah.
Apalagi saat ini, sistem kapitalisme yang menjadi kebanggaan sistem ekonomi global tengah terseok-seok lantaran virus krisis-keuangan dan ekonomi yang secara terus-menerus menggerogotinya. Akibatnya, kapitalisme dan liberalisme sebagai mainstream sistem ekonomi global mulai hilang kredibilitasnya. Sementara, perekonomian yang dibangun di atas fondasi kebersamaan dan kerakyatan, seperti koperasi dan UMKM, justru tampil gagah dan kuat dalam menghadapi krisis ekonomi global.
Secara teologis, keberadaan koperasi syariah didasarkan pada surah al-Maidah Ayat 2, yang menganjurkan untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan melarang sebaliknya. Koperasi syariah mengandung dua unsur di dalamnya, yakni ta aurun (tolong-menolong) dan syirkah (kerja sama). Dengan demikian, koperasi syariah biasa disebut syirkatu at-tauniyyah, yaitu suatu bentuk kerja sama tolong-menolong antarsesama anggota untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.
6 Ismail Nawawi, 2011, Perbankan Syari’ah, Surabaya: VIVPRESS
Dari segi legalitas, koperasi syariah belum tercantum dalam UU No 25/1992 tentang Perkoperasian. Untuk sementara, keberadaan koperasi syariah saat ini didasarkan pada Keputusan Menteri (Kepmen) Koperasi dan UKM Republik Indonesia No 91/Kep/M.KUKM/IX/2004 tanggal 10 September 2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Usaha Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS). Kemudian, selanjutnya diterbitkan instrumen pedoman standar operasional manajemen KJKS/UJKS Koperasi, pedoman penilaian kesehatan KJKS/UJKS koperasi, dan pedoman pengawasan KJKS/UJKS koperasi.
Koperasi Jasa Keuangan Syariah atau biasa disebut KJKS adalah koperasi yang bergerak di bidang pembiayaan, investasi, dan simpanan dengan pola syariah.
Sementara, Unit Jasa Keuangan Syariah (UJKS) Koperasi adalah unit usaha dalam koperasi yang kegiatannya bergerak di bidang pembiayaan, investasi, dan simpanan dengan pola syariah. UJKS koperasi biasa juga dianggap sebagai koperasi, konvensional yang menawarkan produk dan layanan dengan pola syariah.
Seiring dengan bermunculannya koperasi syariah, tentunya diharapkan ada payung hukum yang menaunginya berupa UU koperasi syariah tersendiri, seperti pada UU Perbankan Syariah. Kalaupun belum bisa dengan UU tersendiri, setidaknya dilakukan revisi terhadap UU Perkoperasian yang ada dengan mengakomodasi keberadaan koperasi syariah. Kehadiran UU ini secara otomatis akan mempercepat pertumbuhan koperasi syariah sebagaimana yang telah terjadi pada perbankan syariah.
Beberapa koperasi syariah yang tergabung dalam KJKS/UJKS yang ada saat ini adalah hasil konversi dari Baitul Mal dan wa Tamwil (BMT) yang juga saat ini belum memiliki payung hukum. Adapun jumlah KJKS/UJKS koperasi per April 2012 adalah sekitar 4.117 unit dengan jumlah anggota sekitar 762 ribu anggota dan total asetnya mencapai Rp. 5 triliun-Rp. 8 triliun. Jumlah ini akan semakin bertambah pada masa mendatang seiring dengan perkembangan industri keuangan yang berbasis syariah akhir-akhir ini.
Strategi yang bisa dilakukan untuk mempercepat perkembangan koperasi syariah ataupun lembaga mikro syariah lainnya adalah melalui program linkage program dengan lembaga perbankan syariah. Bank-bank syariah bisa menyalurkan pembiayaan mikronya lewat KJKS ataupun BMT yang jaringannya tersebar di seluruh Indonesia.
Hal ini akan menghindarkan terjadinya perebutan pasar antara perbankan dan lembaga keuangan mikro syariah yang selama ini sudah menggarap sektor mikro dan menengah.
Program sinergi lembaga keuangan syariah ini akan mengoneksikan jaringan bank dan lembaga keuangan mikro sehingga akan mendorong terjadinya transfer manajemen dan teknologi di antara lembaga keuangan syariah. Misalnya, jaringan BMT yang ada saat ini hampir mencapai 5 000-an unit dengan jumlah cabang 22 ribu. Jika saja setiap desa yang kini berjumlah 78.124 memiliki BMT, ini akan mempermudah perbankan melalu BMT mengakses desa-desa yang ada.
Koperasi syariah dan lembaga mikro keuangan syariah lainnya dapat pula menggunakan jaringan masjid yang berjumlah 800 ribu. Ini akan menjadi jaringan yang besar dalam mengakses permodalan dan pembiayaan.Pemberdayaan umat melalui
maksimalisasi peran koperasi dan lembaga keuangan syariah berdampak pada peningkatan jumlah wirausaha-wirausaha baru yang berasal dari pelosok desa di negeri ini. Jumlah pengusaha dari total penduduk Indonesia sudah di kisaran 1,5 persen, tumbuh pesat yang sebelumnya hanya sekitar 0,24 persen. Ini tidak terlepas dari kontribusi sektor koperasi dan UMKM. Sudah saatnya perekonomian negeri ini dibangun berdasarkan semangat kerakyatan, seperti koperasi yang memiliki imunitas kuat terhadap guncangan krisis keuangan dan ekonomi.7
Berdasarkan fenomena terus berkembangnya koperasi syariah yang telah diuraikan diatas, bisa disinergikan dengan kelompok-kelompok tani untuk mendirikan lembaga keuangan mikro seperti BMT ini. Dengan BMT Gapoktan ini dapat menyalurkan kebutuhan petani melalui akan permodalan.
Hal ini karena mayoritas petani membutuhkan pembiayaan untuk pengadaan input pertanian, hal ini dikarenakan keterbatasan modal yang dimiliki petani. Hasil ini senada dengan pendapat Beik dan Hafiduddin (2008) yang menyatakan bahwa salah satu permasalahan mendasar yang dihadapi oleh sector pertanian di Indonesia yaitu ketersediaan kredit (pembiayaan).
Aburaida (2011) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa permintaan kredit (pada sektor pertanian) muncul untuk modal kerja jangka pendek. Sedangkan untuk pemasaran hasil pertanian, memberikan informasi bahwa petani memiliki daya tawar yang baik dalam hal penjualan, karena mayoritas pembeli membayar secara tunai.
Menurut Ashari dan Saptana dalam Rahmita (2011), pemerintah telah berusaha mengatasi permasalahan lemahnya permodalan petani dengan meluncurkan berbagai program kredit untuk sektor pertanian. Kredit untuk petani tersebut memakai sistem bunga yang menunjukkan hasil kurang memuaskan, bahkan menimbulkan permasalahan baru yaitu membengkaknya hutang petani dan kredit macet. Berdasarkan hal tersebut model pembiayaan dengan skema sesuai syariah merupakan model pembiayaan yang bisa memberikan solusi untuk sektor pertanian.8
Beberapa hal yang melandasi prospek pembiayaan syariah untuk sektor pertanian adalah sebagai berikut:
1) Karakteristik pembiayaan syariah sesuai dengan kondisi bisnis pertanian. Dalam dunia usaha (termasuk sektor pertanian) fluktuasi besarnya pendapatan sudah menjadi fenomena umum. Skim pembiayaan syariah terutama dengan bagi hasil, sangat sesuai dengan bisnis pertanian sehingga lebih memberikan rasa keadilan karena untung dan rugi dibagi bersama-sama.
2) Skim syariah sudah dipraktekkan secara luas oleh petani di Indonesia. Secara budaya banyak petani sudah mengenal model pembiayaan yang menyerupai atau sejalan dengan system syariah mudharabah seperti maro dan sebagainya.
3) Luasnya cakupan usaha di sektor pertanian. Usaha sektor pertanian mencakup beberapa subsistem yang luas, mulai dari subsistem pengadaan, budidaya, panen, pascapanen, pengolahan hingga pemasaran hasil.
7 http://www.depkop.go.id/
4) Produk pembiayaan syariah cukup beragam. Luasnya cakupan usaha dan komoditas pertanian telah diantisipasi dengan produk pembiayaan syariah yang juga beragam.
Hal ini memungkinkan anggota untuk memilih jenis produk pembiayaan syariah yang sesuai dengan kondisi dan karakteristik usaha mereka.
5) Tingkat kepatuhan petani. Usaha pertanian saat ini masih digeluti oleh sebagian besar petani kecil di pedesaan, dan umumnya mereka menghormati aturan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Adanya skim pembiayaan yang sesuai dengan ajaran agama diharapkan emosional akan mempermudah petani dalam menerima sistem pembiayaan syariah. Nilai-nilai keadilan dan perlakuan yang sama dalam meraih kesempatan berusaha diharapkan dapat juga diterima kalangan non muslim.
6) Komitmen BMT untuk usaha kecil dan mikro. Dari pengalaman yang dilakukan oleh lembaga syariah selama ini,alokasi pembiayaan terbesar diperuntukkan untuk UKM. Komitmen ini merupakan peluang besar untuk sektor pertanian yang mayoritas berskala usaha kecil.
7) Usaha di sektor pertanian merupakan bisnis riil. Hal ini sesuai dengan prinsip pembiayaan syariah yang menitikberatkan pada pembiayaan sektor riil dan justru melarang pembiayaan pada sektor yang spekulatif.9
PENUTUP
Keberadaan Lembaga Keuangan Mikro sebagai modal pembangunan pertanian di Indonesia sangat penting. Berangkat dari sejarah tentang keberadaan lembaga keuangan mikro di pedesaan.Masyarakat Indonesia sejak lama mengembangkan keuangan mikro, seperti: arisan, lumbung desa, jimpitan, dsb. Beberapa Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat (LPSM) mengembangkan LKM Non Bank yang secara riil juga memberikan pelayanan keuangan mikro, seperti: Baitul Maal Wattamwil (BMT).
Terdapat beberapa jenis produk pembiayaan syariah yang berpeluang besar untuk diimplementasikan pada sektor pertanian diantaranya adalah mudharabah, musyarakah, murabahab, salam, dan istishna. Banyaknya alternatif pembiayaan syariah ini cukup memberikan keleluasaan bagi pelaku bisnis pertanian untuk memilih skim pembiayaan disesuaikan dengan jenis kegiatan dan skala eknomi usaha.
Implementasi pembiayaan syariah untuk kegiatan usaha pertanian di pedesaan memiliki prospek yang positif. Hal ini dilandasi oleh antara lain:
1) Karakteristik pembiayaan syariah sesuai dengan kondisi bisnis pertanian.
2) Skim syariah sudah dipraktekkan secara luas oleh petani di Indonesia.
3) Luasnya cakupan usaha di sektor pertanian.
4) Tingkat kepatuhan petani.
5) Produk pembiayaan syariah cukup beragam.
6) Komitmen BMT untuk usaha kecil dan mikro.
7) Usaha di sektor pertanian merupakan bisnis riil.
9Ashari dan Saptana, Forum Penelitian Agro Ekonomi,Volume 23, No.2, Desember 2005
DAFTAR PUSTAKA
Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia, 2011-2025 Cucuk Redono, Jurnal llmu-ilmu Pertanian Volume,5, Nomor I Juli 2012, STPP
Magelang
Rusli Burhansyah, EPP.Vol. 7. No.2. 2010
Heri Sudarsono, 2008, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, Ekonisia, Yogyakarta.
Ismail Nawawi, 2011, Perbankan Syari’ah, Surabaya: VIVPRESS http://www.depkop.go.id/
Fajar Adi, 2013, Analisis Pembiayaan Syariah Bagi Sektor Pertanian
Ashari dan Saptana, Forum Penelitian Agro Ekonomi,Volume 23, No.2, Desember 2005 LAMPIRAN
Tabel 1 Estimasi harga premium untuk pakaian organik Variabel
Spesifikasi 1 Spesifikasi 2 Estimasi
premium
nilai P Estimasi premium
nilai P Tipe pencelupan (1= low impact) 6,0 % 0,3257 7,8 % 0,2291 Proses pencelupan (1=tanpa celup) 3,3 % 0,5777 4,9 % 0,4375 Golongan umur (1=anak-anak) -17,0 % 0,1346 -14,1 % 0,272 Organik (1=dengan kapas organic 37,7% 0,0001
% kandungan kapas organic 30,0 % 0,0001
Tabel 2 Estimasi harga premium dengan interaksi golongan umur dengan bahan organik dan proses pencelupan.
Variabel
Spesifikasi 1 Spesifikasi 2 Estimasi
premium
nilai P Estimasi premium
nilai P Tipe pencelupan (1= low impact) 4,9 % 0,4345 6,8% 0,3039 Proses pencelupan (1=tanpa celup) -2,5% 0,7228 -1,1% 0,8929 Golongan umur (1=anak-anak) -35,1% 0,0023 -33,1% 0,0094 Organik (1=dengan kapas organic 29,4% 0,0001
% kandungan kapas organic 24,0 0,0001
Interaksi anak dan bahan organic 90,2% 0,0531
Interaksi anak dan % bahan organik 72,8% 0,0461
Interaksi anak dan proses pencelupan -31,3% 0,3912 31,9% 0,3669 Interaksi anak dan proses tanpa
pencelupan
-33,4% 0,3254 35,5% 0,2752