• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A."

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

54 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Objek Penelitian

a. Gambaran Umum Provinsi Banten

Geografi Demografi Dan Ekonomi

Berdasarkan posisi geografisnya, Provinsi Banten memiliki batas batas:

Utara – Laut Jawa; Selatan - Samudra Hindia; Barat – Selat Sunda; Timur – Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat. Provinsi Banten secara umum merupakan dataran rendah dengan ketinggian 0 – 257,93 meter di atas permukaan laut, serta memiliki beberapa gunung dengan ketinggian mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut (Banten Dalam Angka, 2021: 3).

Wilayah administrasi Provinsi Banten terdiri dari empat wilayah kabupaten dan empat kota, berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tanggal 25 Oktober 2019 luas daratan masing-masing kabupaten/kota, yaitu: Kabupaten Pandeglang (2.746,89 km2), Kabupaten Lebak (3.426,56 km2), Kabupaten Tangerang (1.011,86 km2), Kabupaten Serang (1.734,28 km2), Kota Tangerang (153,93 km2), Kota Cilegon (175,50 km2), Kota Serang (266,71 km2), serta Kota Tangerang Selatan (147,19 km2) (Banten Dalam Angka, 2021: 4).

(2)

55

Penduduk Banten tahun 2020 berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020 (September) mencapai 11.904.562 jiwa yang terdiri atas 6.070.271 jiwa penduduk laki-laki dan 5.834.291 jiwa penduduk perempuan. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk per tahun 2010-2020 sebesar 1,10 persen (Banten Dalam Angka, 2021: 84).

Sementara itu besarnya angka rasio jenis kelamin tahun 2020 penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan sebesar 104,04. Kepadatan penduduk di Provinsi Banten tahun 2020 mencapai 1.232 jiwa/km2. Kepadatan Penduduk di 8 kabupaten kota cukup beragam dengan kepadatan penduduk tertinggi terletak di Kota Tangerang dengan kepadatan sebesar 12.314 Jiwa/Km2 dan terendah di Kabupaten Lebak 405 Jiwa/ Km2 (Banten Dalam Angka, 2021: 84).

Pada tahun 2020 angkatan kerja di Provinsi Banten sebanyak 6.213.233 orang, yang terdiri dari 4.007.816 laki-laki dan 2.205.417 perempuan. Dari seluruh angkatan kerja tersebut, 5.552.172 orang (89,36%) bekerja dan 661.061 orang (10,64%) merupakan pengangguran. Sebagian besar dari penduduk yang bekerja merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas sebanyak 1.930.268 orang (34,76%) dan lulusan Sekolah Dasar sebanyak 1.863.695 orang (33,56%).

Sementara itu, menurut lapangan pekerjaan utamanya, sebanyak 1.259.785 orang (22,69%) bekerja pada lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor. kemudian sebanyak 1.128.392 orang (20,32%) bekerja pada lapangan usaha Industri Pengolahan (Banten Dalam Angka, 2021: 85).

(3)

56

Pada tahun 2020, sebagian besar penduduk Provinsi Banten (93,80%) sudah mempunyai pengeluaran per kapita sebulan di atas 500.000 rupiah, dengan rincian sebanyak 15,86 persen pada kisaran 500.000-749.999 rupiah, sebanyak 18,01 persen pada kisaran 750.000-999.999 rupiah, 25,26 persen pada kisaran 1.000.000-1.499.999 rupiah, dan sebanyak 34,67 persen sudah di atas 1.500.000 rupiah. Pengeluaran penduduk tersebut sebesar 49,88 persen digunakan untuk makanan dan 50,12 persen untuk bukan makanan (Banten Dalam Angka, 2021: 666).

Pada September 2020 terdapat 857,64 ribu penduduk miskin di Provinsi Banten . Persentase penduduk miskin tersebut meningkat menjadi 6,63 persen pada bulan September 2020. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Banten menunjukkan peningkatan 0,01 poin menjadi 72,45 pada tahun 2020.

IPM tersebut ditopang oleh Umur Harapan Hidup sepanjang 69,96 tahun, Harapan Lama Sekolah sepanjang 12,89 tahun, Rata-rata Lama Sekolah sepanjang 8,89 tahun, dan Pengeluaran per kapita yang disesuaikan sebesar 11,96 juta rupiah per tahun (Banten Dalam Angka, 2021: 150).

Agama Dan Budaya

Sebanyak 11,12 juta jiwa (94,82%) atau mayoritas penduduk provinsi Provinsi Banten beragama Islam. Kemudian Kristen menjadi agama mayoritas kedua dengan jumlah pemeluk sebanyak 308,94 ribu jiwa atau 2,62% dari penduduk Banten. Berikutnya, 143,32 ribu jiwa (1,22%) beragama Katolik, 141,64 ribu jiwa (1,2%) beragama Budha, 8,47 ribu jiwa (0,07%) beragama

(4)

57

Hindu, 2,22 ribu jiwa (0,02%) beragama Konghucu, dan yang menganut aliran kepercayaan (Sunda wiwitan) 6,54 ribu jiwa (0,06%) (katadata.co.id, 2021).

Berdasarkan pangkalan data pondok pesantren Kemenag (2022) Banten memiliki 4.579 pondok pesantren, dengan kalkulasi santri 156.933. Sebanyak 60.897 santri yang bermukim dan 96.042 santri yang tidak bermukim. Dengan jumlah tipe pesantren 2.884 satuan pendidikan dan 1.695 penyelenggara satuan pendidikan.

Kuatnya pengaruh Islam di Provinsi Banten membentuk kelompok elit sosial Banten yaitu kyai dan jawara. Dua kelompok elit ini di dalam masyarakat banten memiliki tempat tersendiri dan privilege hal ini tidak terlepas dari peran dan history dua kelompok ini dalam perjuangan Banten.

Okamoto (dalam Munjin, 2018) menyebut kyai dan jawara sebagai informal leaders yang sangat penting. Banten memiliki banyak pesantren. Kyai merupakan pemilik dan pengelola pesantren-pesantren tersebut yang mengajarkan ajaran Ahl al-Sunnah wa al- Jama„ah, terutama di wilayah selatan.

Kyai di Banten dianggap sebagai pemimpin informal di masyarakat.

Di masa lalu saat masih era kesultanan, sebagian kyai masuk dalam sistem birokrasi pemerintahan kesultanan, baik di tingkat pusat maupun lokal.

kedudukan kyai sebagai “perpanjangan tangan”

sultan dalam proses Islamisasi di daerah-daerah pedesaan. Sebab, kesultanan berdiri atas dasar upaya Islamisasi, baik untuk me- ngembangkan pengaruh maupun untuk memperkuat kekuasaan

(5)

58

dan kedudukan sultan. Kondisi ini sangat menguntungkan kyai yang kedudukannya sebagai pemimpin masyarakat. Kedudukan kyai semacam itu terus berlangsung walaupun kesultanan Banten telah berakhir pada tahun 1820, yaitu Sultan Rafiuddin (1813- 1830) sebagai sultan Banten yang terakhir. Berakhirnya kesultanan seiring dimulainya kekuasaan pemerintah kolonial Belanda.

Tihami (dalam Munjin, 2018) mencatat, pada abad 19, kyai berhasil memobilisasi masyarakat untuk memberontak seperti puncak pemberontakan petani di Cilegon pada 1888 yang dipimpin oleh Kyai Haji Wasid. Hamid (2010) Kyai juga memainkan kekuasaan penting dalam memobilisasi pemberontakan komunis di Banten pada 1926.

Kyai di Bantan hingga saat ini masih dianggap sebagai pemimpin informal masyarakat, dan sering dijadikan rujukan bagi masyarakat baik dalam kegiatan keagamaan maupun non keagamaan. Karena pandangan masyarakat Banten masih menganggap kyai adalah orang yang berilmu dan memiliki wawasan luas.

Seiring perkembangan Islam di Banten, muncul tradisi budaya baru yang lahir dari masyarakat Banten yaitu debus yang merupakan hasil dari akulturasi budaya banten pra Islam dan masa Islam di Banten. Debus merupakan kebudayaan banten yang menggabungkan ilmu kanuraga, magis, dan agama.

Debus mulai populer di Banten sejak abad ke-16 sebagai media pengenalan Islam di masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570). Saat itu

(6)

59

masyarakat setempat masih mempercayai kebiasaan nenek moyang sebagai agama mereka (goodnewsformindonesia.id, 2021).

Permainan silat dalam pertunjukan debus sekarang ini adalah sesuatu yang baru. Sebelumnya debus tidak diiringi dengan permainan silat, tetapi suatu tarian yang nampaknya tidak dalam pementasan debus akhir-akhir ini merupakan upaya penggabungan dengan permainan debus asli. Sejarah ilmu persilatan di banten memiliki akar yang sangat panjang. Di dalam serat centhini disebutkan bahwa pada masa pra-Islam telah dikenal istilah “paguron” atau

“padepokan” di daerah dekat sekitar Gunung Karang, Pandeglang. (Majelis Ulama Indonesia Provinsi Banten, 2004)

Pada masa lalu banyak kyai yang tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama pada santrinya, tetapi juga para kyai membekali santri-santrinya dengan ilmu kanuraga, hal ini dikarenakan banyak dari para kyai di Banten yang mendirikan pondok pesantren di pedalaman daerah, sehingga rawan akan kejahatan. Daerah tersebut sulit di jangkau oleh para tentara kesultanan (Humaeni, 2014).

Dari sekian banyak santrinya, ada sebagian yang memang memiliki kecenderungan dan minat yang besar serta bakat kepada persilatan dan ilmu kanuragan, ketimbang memperdalam dan menguasai ilmu-ilmu agama.

Kelompok santri inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan jawara. Oleh karena itu, di Banten, jawara sangat hormat dan segan kepada kyai karena bagaimanapun sebagian jawara ada yang menghabiskan masa kecil dan masa

(7)

60

mudanya di Pesantren, dansebagian mereka mendapatkan ilmu magis dari para kyai. Jadi hubungan kyai dan jawara seperti hubungan guru dan murid, atau hubungan orang tua dan anak. Sehingga, jawara segan dan takut menghadapi kyai, terutama kyai kharismatik (Humaeni, 2014).

Secara historis, di Banten Utara merupakan tempat di mana jawara lebih terkonsentrasi dan merupakan tempat di mana komunis pada 1926 mempertahankan basisnya. Kecamatan Ciomas dan Pabuaran berlokasi di antara Banten Utara dan Banten Selatan yang juga dikenal sebagai wilayah kyai dan jawara dan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu mereka. Di atas semua itu, kyai dan jawara sebagai elite bagi masyarakat Banten merupakan kenyataan yang tidak terbantahkan (Masaki dan Hamid, 2008: 113).

Setidaknya terdapat 159 padepokan pencak silat yang masih aktif di provinsi Banten (poskota.co.id, 2021). Menurut Saniin Guru Besar Paguron Lutung Kasarung saat di wawancara (2022) “jika di total secara keseluruhan dengan padepokan-padepokan silat di pelosok daerah yang kurang diperhatikan bisa mencapai 1000 padepokan silat di Banten, karena di kabupaten serang saja terdapat 386 padepokan”.

Dari banyaknya padepokan silat di Banten terdapat beberapa padepokan silat yang dikenal secara luas diantaranya ialah Tjimande Tarikolot Kebun Djeruk Hilir (TTKKDH), Jalak Rawi, Macan Paku Banten, Satria Muda Indonesia, Trumbu Bandrong, Macan Guling, Gagak Lumayang, Si Pecut, Pusaka Tani, dan lainnya dengan jumlah anggota yang cukup besar. Potensi ini

(8)

61

patut dipertahankan dan dikembangkan sebagai budaya masyarakat Banten.

Dengan masing-masing nama perguruan tetap berkibar, dan nama pendekar itu sendiri di Banten yang akhirnya menjadi nama organisasi payung Pendekar Banten, muncul dari nama aslinya: jawara (Mansur, 2000).

Dari perjalanan histori, kemampuan ilmu kanuraga, wawasan yang luas soal agama, kyai dan pendekar di Banten masih dianggap sebagai kelompok elit dalam kehidupan sosial. Beberapa tokoh kyai dan jawara diantaranya memiliki kekuatan modal yang kuat sehingga memperkuat legitimasi status elit sosial dikalangan masyarakat Banten.

b. Profil Partai Golkar dan Sejarah Golkar Banten

Secara historis, Golkar pertama kali didirikan oleh Soeharto dan Suhardiman pada tanggal 20 Oktober 1964. Golongan karya memiliki akar sejarah yang panjang dalam perpolitikan Indonesia. Semangat yang melatar belakangi pembentukan Golkar adalah untuk membendung pengaruh dari Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mempertahankan ideologi pancasila. Dengan semangat dan tujuan bersama seluruh organisasi anti komunis berhimpun dalam wadah yang sama yaitu Sekretariat Bersama (Sekber) Golkar (Tandjung, 2008:

40).

Tandjung (2008) menegaskan pada awal pertumbuhan Sekber Golkar beranggotakan 61 organisasi fungsional yang kemudian berkembang menjadi 291 organisasi fungsional. Ini dikarenakan kesamaan visi di masing-masing keanggotaannya. Kemudian keanggotan Sekber Golkar dikelompok an menjadi 7 berdasarkan kekaryaannya ke dalam Kelompok Induk Organisasi (KINO),

(9)

62

diantaranya; (1) Koperasi Serbaguna Gotong Royong (KOSGORO), (2) Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), (3) Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), (4) Organisasi Profesi, (5) Ormas Pertahanan Keamanan (HANKAM) (6) Gerakan Karya Rakyat Indonesia (GAKARI) (7) Gerakan Pembangunan.

Di bawah kepemimpinan orde baru Golkar tumbuh menjadi kekuatan politik yang mengusung ideologi modernisasi dan non sektarian (Tandjung, 2008). Brigadir Jenderal (Brigjen) Djuhartono merupakan ketua terpilih pertama Golkar sebelum digantikan Mayor Jenderal (Mayjen) Suprapto Sukowati lewat Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) I, pada Desember 1965.

Saat proses pembentukan Provinsi Banten, di dalam internal DPRD Jawa Barat diwarnai dengan persaingan di antara partai politik. Proses politik pembentukan provinsi Banten diusung oleh Golkar. Golkar ingin mencari dukungan politik karena pada pemilu tahun 1999 perolehan suara Golkar di wilayah Banten menurun, bahkan kalah dibandingkan dengan perolehan suara PDIP (Rohmah, 2018)

Saat Banten pisah dari Jawa Barat tahun 2000, secara natural DPD Partai Golkar Banten terbentuk di tahun 2001 dikarenakan Banten pada saat itu telah memiliki 6 DPD II kabupaten Kota (meliputi DPD II Kab. Serang, Kab.

Pandeglang, Kab. Lebak, Kab. Tangerang, Kota Cilegon, Kota tangerang) yang sebelumnya dibawah naungan DPD Golkar Jawa Barat.

Ebby Djauharie adalah ketua Golkar Banten pertama dan terpilih secara aklamasi, sebelumnya menjabat ketua Golkar Kabupaten Tangerang dan

(10)

63

merangkap ketua DPRD kabupaten Tangerang. Ebby Djauharie didampingi oleh Humaedi sebagai sekretaris Golkar Banten pertama yang sekaligus menjabat anggota DPRD Kabupaten Serang.

Tabel 4.1

Ketua Partai Golkar Banten dari Masa ke Masa

Periode 2000-2004 2004-2009 2009-2014 2014-2019 2019-2024 Ketua

Umum

Ebby Djuaheri

Mamat Rahayu

Hikmat Tomet

Tatu Chasanah

Tatu Chasanah Sekretaris

Umum Humaedi Mahfud

Saopvi

Iman Ariyadi

Fachrul Razi

Bahrul Ulum Bendahara

Umum

Chandrasasi Elia

Chaeri Wardana

Chaeri Wardana

Ita Rusdiana

Dudi Setiadi (sumber: diolah oleh penulis)

Saat akan menyelenggarakan Musda ke II Golkar Banten di Tahun 2004, konstelasi perebutan ketua umum DPD II mengalami kenaikan tensi hal ini dilatarbelakangi banyak tokoh lokal yang mulai bermunculan. Saat itu Aat Syafaat yang merupakan tokoh Golkar dari Cilegon berhadapan dengan Mamat Rahayu Abdullah dari Kabupaten Serang. Diluar dugaan Mamat Rahayu yang tidak terlalu diperhitungkan terpilih menjadi ketua umum, hal ini dilatarbelakangi mobilisasi masa DPD tingkat II kabupaten kota oleh Chasan Sochib di arahan untuk memilih mamat Rahayu.

Terpilihnya Mamat Rahayu yang di support oleh Chasan Sochib adalah titik balik Golkar Banten membentuk dinasti politik, karena pada konstelasi Pilgub 2002 Ratu Atut di usung Golkar menjadi Wakil Gubernur untuk mendampingi Djoko Munandar. Pada pilgub berikutnya tahun 2006 Atut

(11)

64

Kembali terpilih menjadi Gubernur Banten sekaligus cikal bakal mengguritanya dinasti politik di Banten. Dan Suaminya Hikmat Tomet terpilih Secara Aklamasi pada musda Golkar Banten tahun 2019.

Saat Hikmat Tomet meninggal dunia pada tanggal 9 November 2013, Ratu Tatu Chasanah yang pada saat itu menjabat sebagai ketua harian Partai Golkar Banten mencalonkan diri sebgai calon ketua umum pada musdalub 2013. Hasilnya Tatu terpilih menjadi ketua umum menglahkan pesaingnya Tb Iman Ariyadi. Di musda ke V Ratu Tatu terpilih kembali secara aklamasi menjadi ketua umum Partai Golkar Banten.

Saat ini ketua umum Partai Golkar adalah Airlangga Hartarto dan didampingi oleh sekretaris Jenderal Lodewijk Freidrich Paulus. Di Banten sendiri ketua DPD I Partai Golkar Banten adalah Ratu Tatu Chasanah di dampingi oleh sekretaris Bahrul Ulum. Partai Golkar menamakan pancasila sebagai satu-satunya ideologi partai yang patut untuk dipertahankan. Partai Golkar memposisikan diri sebagai partai non-aliran dan non-sektarian.

Dalam perkembangannya Golkar melahirkan ormas dan sayap-sayap partai baru bagi Golkar sendiri diantaranya; (1) Angkatan Muda Partai Golkar (2) Kesatuan Perempuan Partai Golkar (3) Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (4) Satuan Karya Ulama Indonesia (5) Majelis Dakwah Islam (6) Himpunan Wanita Karya (7) Pengajian Al-Hidayah.

2. Deskripsi Data

a. Struktur Partai Golkar Banten

(12)

65

Melalui surat keputusan Nomor: Skep-435/DPP/Golkar/XII/2021 mengesahkan dan menetapkan komposisi dan personalia Dewan Pimpinan Daerah Partai Golongan Karya Provinsi Banten masa bakti 2020-2025 (hasil perubahan), diantaranya:

Tabel 4.2

Struktur Kepengurusan Golkar Banten

Nama Jabatan

Hj. Ratu Tatu Chasanah, SE.,

M.Ak Ketua

H. Bahrul Ulum, S.Ag., M.AP Sekertaris H Dudi Setiadi, SE Bendahara

H. Fitron Nur Ikhsan, M.Sc Wakil Ketua Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan Hj. Nurul Aini Yitno, SE Wakil Ketua Bidang Hubungan

Organisasi Kemasyarakatan Kuswara, S. Sos Wakil Ketua Bidang Pemenangan

Pemilu

Gousta Veriza, SH., MH Wakil Ketua Bidang Hukum dan Ham

Drs. H. Mohammad Faisal, SH Wakil Ketua Bidang Pariwisata dan Ekonomi

Ust. Oman Baihaki Wakil Ketua Bidang Kerohanian DO. PO. Abbas Sunarya Wakil Ketua Bidang Pendidikan

dan Kebudayaan

Guntur Setiawan, SH Wakil Ketua Bidang Kesehatan dan Lingkungan Hidup

H. Pilar Saga Ichsan, ST Wakil Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga

Hj. Ade Rossi Khoersunnisa,

S.Sos.,M.Si Wakil Ketua Bidang Perempuan

H. M. Kasmin, S. AP Wakil Ketua Bidang Tani dan Nelayan

H. Tanto Warsono Arban, SE., ME

Wakil Ketua Bidang Hubungan Lembaga Politik

(Sumber: www.golkarbanten.or.id, 2022)

(13)

66 792.269

565.341

808.902

739.844

Pemilu 2004 Pemeilu 2009 Pemilu 2014 Pemilu 2019 Perolehan Suara

b. Data Persentase Suara Golkar Banten dalam pemilu 2014-2019

Pelembagaan partai politik memiliki orientasi dan muara pada perolehan suara saat pemilu tiba. Sehingga perolehan suara dapat menjadi salah satu data pembanding untuk melihat banyaknya masyarakat memilih parti politik. Penulis membatasi data perolehan pemilu Partai Golkar di Banten sesuai sesuai dengan judul penelitian yaitu di masa kepemimpinan Ratu Tatu Chasanah.

Gambar 4.1

Perolehan Suara Partai Golkar di Banten 2014-2019

(Sumber: KPU Banten)

Berdasarkan data di atas, Partai Golkar Banten memperoleh suara paling tinggi ketika pemilu 2014, satu tahun setelah Ratu Atut Chosiah terjerat kasus korupsi. Dan pasca di pimpin oleh Ratu Tatu Chasanah. Artinya isu korupsi terhadap dinasti politik tidak begitu berpengaruh pada pemilu partai Golkar di banten. Sehingga ada faktor lain yang membuat masyarakat Banten memberikan pilihannya pada Golkar.

(14)

67 Gambar 4.2

Perolehan Suara dalam Pemilu Banten 2014

(Sumber: Antarabanten, 2014)

Meski pencapaian tertinggi partai Golkar pada tahun 2014 dengan memperoleh 808.902 suara, hal ini membuat partai Golkar mendapat 15 kursi di DPRD Banten sama dengan PDIP, namun Partai Golkar masih kalah dalam jumlah suara oleh PDIP yang memperoleh 842.691 suara.

Gambar 4.3

Perolehan Suara Pada Pemilu Banten 2019

(Sumber Rumah Pintar Pemilu KPU Banten 2019)

842.691 808.902

576.193 474.996

394.543

379.328 390.887 349.726

326.256 284.376

446.52 906.193

870.659 739.844

277.463

30.123 182.476

661.132

131.723 345.436

146.808 337.746

133.879 534.256

78.444 9.293

(15)

68

Berbeda dengan pemilu 2014, dalam pemilu 2019 Partai Golkar mengalami penurunan suara dengan perolehan 739.884 suara dan menjadi partai ketiga yang memperoleh suara terbanyak dalam pemilu Banten. Golkar di tahun 2019 hanya memperoleh 11 kursi, dibawah Gerindra dengan 16 kursi dengan perolehan 906.193, dan PDIP 13 kursi dengan perolehan suara 870.659.

Dalam hal ini kabupaten Serang selalu menyumbang suara terbesar dalam kontestasi partai Golkar di Banten. Saat Pilkada Banten 2017 Serang menyumbang 365.775 suara bagi Wahidin dan Andika yang merupakan kader Golkar. Pada Pileg 2019 Dapil II yang meliputi wilayah Kabupaten Serang menyumbang suara terbesar bagi Partai Golkar 128.144 suara.

c. Paradigma Baru Partai Golkar

Salah satu capaian partai Golkar di era reformasi meski memiliki ikatan kuat dengan orde baru di masa lalu adalah terbentuknya paradigma baru Partai Golkar. karena dengan paradigma baru berdampak pada reformasi dalam tubuh Golkar dengan lebih menyesuaikan dengan kondisi demokrasi. Paradigma partai Golkar menjadi acuan utama partai Golkar di era reformasi.

Paradigma baru merupakan bentuk penegasan dari Golkar bahwa Partai Golkar berbeda dengan Golkar di bawah kekuasaan orde baru. Kepemimpinan baru Golkar hasil munaslub 1998 telah menegaskan dalam nilai-nilai dan budaya politik baru partai Golkar. paradigma baru merupakan rumusan yang sangat jelas dari transformasi nilai dan budaya politik Partai Golkar (Tandjung, 2008: 221).

Di masa lalu Geneologi golkar banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai dan konsepsi yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Dampak

(16)

69

sentralisasi kekuasaan di tangan Dewan Pembina, dalam hal ini presiden soeharto, telah mengembangkan pola-pola hubungan istimewa dalam tubuh golkar yang bersifat patrimonial. Konsep ini seperti yang dikatakan oleh Harold Crouch dikembangkan dengan mengaitkan latar belakang kebudayaan jawa pra kolonial (Tandjung, 2008: 223).

Paradigma baru partai Golkar ini berisi “pokok-pokok doktrin, visi, misi, dan platform partai”. Di dalam perumusannya terkandung aspek-aspek pembaharuan bagi Golkar. Pembaharuan ditunjukan melalui perubahan struktur atau kelembagaan dan aspek kesinambungan rampak pada kekukuhan Partai Golkar untuk tetap berideologi pancasila dan doktrin karya kekaryaan (Hasil Munas X Partai Golkar, 2019: 147).

Hasil Munas X Partai Golkar menegaskan pembaharuan yang dilakukan Golkar selain untuk meluruskan sejumlah kekeliruan lama, juga diarahkan untuk mewujudkan partai Golkar yang mandiri, demokratis, kuat, solid, berakar, dan responsive. Dengan paradigma baru ini partai golkar diharapkan mampu menjadi partai yang modern dengan pengertian yang sesungguhnya.

Pembaharuan itu sendiri didorong oleh faktor utama yang berasal dari dalam diri partai Golkar sendiri, yaitu jati diri dan watak Golkar sebagai pembaharu. Sebagaimana disebutkan dalam point keempat ikrar panca bhakti partai golkar. Etos atau semangat pembaruan pada sejatinya merupakan fitrah atau sikap dasar Parti Golkar sejak kelahirannya.

Paradigma baru partai Golkar ini sudah mulai diwujudkan melalui pembaruan internal, terutama terhadap struktur dan kelembagaan organisasi.

(17)

70

Kelembagaan tersebut juga diikuti dengan diwujudkannya kedaulatan ditangan anggota. Yaitu mekanisme setiap pengambilan keputusan organisasi dilakukan secara lebih terbuka, demokratis, dari bawah (bottom-up), dan dengan pemungutan suara secara langsung (Hasil Munas X Partai Golkar, 2019: 148).

Visi Partai Golkar

Terwujudnya masyarakat Indonesia yang bersatu, berdaulat, maju, modern, damai, adil, makmur, beriman dan berakhlak mulia, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dan

bermartabat dalam pergaulan dunia. Misi Partai Golkar

1.Menegaskan, mengamankan, dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa demi memperkokoh Negara Kesatuan Republik

Indonesia.

2.Mewujudkan cita-cita proklamasi melalui pelaksanaan pembangunan nasional di segala bidang untuk merealisasikan masyarakat yang demokratis dan

berdaulat, sejahtera dan makmur, menegakkan supremasi hukum dan menghormati hak asasi manusia, serta terwujudnya ketertiban dan perdamaian

dunia.

3.Mewujudkan pemerintahan yang efektif dengan tata pemerintahan yang baik, bersih, berwibawa dan demokratis.

Tujuan Partai Golkar

(18)

71

1. Mempertahankan dan mengamalkan Pancasila serta menegakkan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

2. Mewujudkan cita-cita bangsa sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

3. Menciptakan masyarakat adil dan makmur, merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam

wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4. Mewujudkan kedaulatan rakyat dalam rangka mengembangkan kehidupan demokrasi, yang menghormati dan menjunjung tinggi kebenaran, keadilan

hukum dan hak asasi manusia.

Ikrar Panca Bakti Partai Golkar

1. Kami warga Partai Golongan Karya adalah insan yang percaya dan takwa kepadaTuhan Yang Maha Esa;

2. Kami warga Partai Golongan Karya adalah pejuang dan pelaksana untuk mewujudkan cita-cita Proklamasi 1945, pembela serta pengamal Pancasila;

3. Kami warga Partai Golongan Karya adalah Pembina persatuan dan kesatuan bangsa yang berwatak setia kawan;

4. Kami warga Partai Golongan Karya bertekad bulat melaksanakan amanat penderitaan rakyat untuk membangun masyarakat adil, makmur, aman, tertib,

dan sentausa;

5. Kami warga Partai Golongan Karya setia kepada Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, mengutamakan kerja keras, jujur, dan

bertanggungjawab dalam melaksanakan pembaharuan dan pembangunan.

(19)

72 B. Pembahasan

1. Infus Nilai

Secara sederhana Infus nilai dimaknai sebagai kekuatan budaya partai serta sistem nilai yang khas dan dapat menjadi sumber vital kohesi partai (Randal dan Svasand, 2002). Ini juga mengacu pada perilaku anggota dan kelompok populis (basis popular) pendukung partai dengan keterkaitannya pada ideologi dan platform partai.

Pada tahun 1999, total 23.741.749 warga Indonesia memberikan suara mereka untuk Partai Golkar pada pemilu yang dianggap paling demokratis untuk pertama kalinya, pada tahun 2004, perolehan suara Golkar dari keseluruhan persentase turun dari 22,44 menjadi 21,58, namun meski kalah jumlah suara yang mencoblos logo Golkar justru meningkat menjadi 24.480.757. Fakta bahwa 20 juta orang masih memilih Golkar meski patron utama mereka presiden Soeharto telah turun dari kursi kepresidenan (Dirk Tomsa, 2008)

Dalam hal ini Pancasila tampaknya menjadi satu-satunya model politik yang diterima secara luas di Indonesia dan menjadi ideologi partai Golkar secara tertulis. Namun apakah konsep yang pada masa orde baru dimaksudkan untuk mempromosikan perdamaian dan harmoni masih mewakili nilai-nilai politik apapun atau justru terdapat konsep lain yang lebih menarik bagi konstituen Partai Golkar secara khusus pada level lokal di Banten.

a. Basis Populer Partai

(20)

73

Hal yang sama terjadi di Banten pada Pemilu 2014 Partai Golkar Banten memperoleh 808.905 suara yang merupakan suara paling tinggi dalam sejarah Partai Golkar Banten. Di Pilgub berikutnya pada tahun 2017 Golkar Banten mendelegasikan kadernya Andika Hazrumy untuk maju di Pilgub Banten sebagai Wakil Gubernur dan berhasil terpilih. Fakta bahwa di Banten 800 ribu orang masih memilih partai Golkar dan menjadikan Golkar sebagai partai Pemenang pemilu kedua di Banten pada tahun 2014, meski pada tahun sebelumnya 2013 Ratu Atut Chosiah yang merupakan patron Partai Golkar dan merupakan Gubernur Banten sekaligus ibu kandung dari Andika Hazrumy ditetapkan bersalah dalam Kasus Korupsi pengadaan alat kesehatan dan suap dalam sengketa pilkada Lebak.

Memasuki masa reformasi Partai Golkar sadar akan posisinya yang mulai terancam karena selalu dikaitkan dengan masa Orde Baru yang otoriter. Partai Golkar mempertahankan nilai demokrasi pancasila dan bisa dibilang pancasila sebagai pilar utama partai Golkar hingga saat ini. Langkah dalam menjadikan pancasila sebagai pilar utama partai diikuti oleh partai-partai lain, sebagian besar partai pada pemilu kedua pasca berakhirnya orde baru menggunakan pancasila sebagai landasan ideologis (Tomsa, 2008)

Meskipun partai Golkar di semua wilayah dan daerah berideologi pancasila. Namun apakah konsep pancasila ini yang dulunya dimaksudkan untuk mempromosikan perdamaian dan harmoni masih mewakili nilai-nilai politik apapun atau justru terdapat konsep lain yang lebih menarik bagi konstituen Partai Golkar.

(21)

74

Menurut Dirk Tomsa (2008), alasan terus menerusnya orang Indonesia memilih Partai Golkar adalah persepsi diri partai sebagai satu-satunya partai yang sah untuk memerintah di Indonesia. Demikian pula yang terjadi di tingkatkan lokal secara khusus di Banten. Partai Golkar Banten terus berfungsi sebagai wadah dalam menyalurkan opsi politik yang menggunakan orientasi keagamaan, sosial budaya, dan kedaerahan. Penulis memetakan basis pendukung partai Golkar di Banten meliputi dua segmentasi; Sosial Budaya, dan Kedaerahan.

(1) Hubungan Jawara dan Golkar di Banten

Pada dasarnya Jawara memperoleh kekuatan fisik dan magi (hikmah, kekebalan, kebatinan) dari kyai. Secara historis di Banten Jawara memang merupakan murid dari Kyai di masa kesultanan Banten. Sedangkan secara fisik Jawara adalah pendekar yang pintar silat dan memiliki ilmu kekebalan sehingga tidak dapat terluka oleh senjata tajam. Ilmu semacam ini didapatkan oleh jawara baik secara berguru atau dari keturunan (Tihami dalam Hamid, 2013).

Sehingga jawara merupakan kekuatan masa yang memiliki pengaruh kuat di lingkungan masyarakat Banten. Secara opsi politik Jawara menyalurkannya pada figur-figur Golkar Banten yang sedang berkontestasi dalam panggung politik, tak jarang jawara ini ikut turun tangan membantu pemenangan sebagai tim sukses figur Golkar yang sedang mencalonkan diri.

Pendapatnya Abah Edy sebagai sesepuh partai Golkar Banten, sejak dulu, memang tidak dapat napikan bahwa Golkar Banten memiliki pengaruh

(22)

75

yang cukup besar bagi kelompok Jawara di Banten. Hal ini tidak lepas dari peran Chasan Sochib sebagai orang kuat lokal yang berhasil mengorganisir jawara di Banten. Sehingga jawara saat menjelang pemilu dapat menjadi mesin politik Golkar meski tidak semuanya.

“…..Justru yang menonjol ketika pemilu adalah kelompok pendekar, ini juga kerana faktor Chsan Sochib yang dianggap punya jasa besar terhadap kelompok pendekar di Banten. Apalagi sekarang pendekar Banten wadahnya banyak diisi oleh para kader Golkar, ini membuat tali pertalekan mereka jauh lebih kuat lagi…..” (Wawancara, 19 Desember 2022)

Pendapatnya abah Edy selaku kader Golkar tulen dipertegas secara secara langsung oleh abah Saniin Guru Besar Paguron Lutung Kasarung Abah Sakun Guru Besar Paguron Medal Suci saat di wawancara:

“….Kalau tidak ada keluarga yang nyalon, abah mah pasti pilih golkar, kalau pemilihan bupati atau gubernur pilihnya keluarga ibu (tatu) aja. Karena bu tatu dekat dengan pendekar Banten, dan bapaknya dulu (Abah Chasan) yang merintis pendekar banten sekaligus memperjuangkan Banten….” (wawancara tanggal 26

Januari 2022) Pendapatnya Abah Saniin sejalan dengan Abah .... Guru Besar paguron ....

“...pilihan partai pasti Golkar Abah mah, kitakan udah ada ikatan dengan yang diatas kurang pas aja kalau pilih yang lain, untuk pemilihan dewan pun abah pasti pilih yang dari Golkar sekalipun dia bukan dari keluarga Ibu (Tatu Chasanah) karena kan kita sudah dekat dengan orang-orangnya (Golkar)...” (wawancara tanggal 15 Juni 2022)

Setidaknya terdapat tiga alasan mengapa para kelompok jawara di luar struktural Golkar dapat membantu pemenangan Golkar (1) hubungan masa lalu antara tokoh-tokoh Golkar dengan jawara. (2) organisasi penghimpun pendekar (jawara) dipimpin oleh tokoh-tokoh Golkar. (3) Pemberdayaan para pendekar Banten oleh keluarga-keluarga tokoh Golkar.

(23)

76

Melihat potensi Jawara di Banten, pemerintah orde baru membentuk Satkar Jawara pada tahun 1972 dan kemudian berubah nama menjadi Persatuan Pendekar Persilatan Seni Budaya Banten Indonesia (PPPSBBI) pada tahun 1973 di Batu Kuwung, Serang, Banten. PPPSBBI ini merupakan organisasi otonom di dalam Golkar untuk mendukung potensi Jawara di Banten. H. Tubagus Chasan Sochib memimpin Satkar Jawara sejak Pendiriannya. Chasan Sochib merupakan politisi Golkar, pendekar Banten, sekaligus pengusaha. Secara singkat Chasan Sochib menjadi tokoh jawara yang dominan dan berhasil menjadikan anaknya Ratu Atut Chosiah menjadi Wakil Gubernur pada tahun 2002 (Hamid dalam Munjin, 2018).

Pada era reformasi pasca, setelah Banten resmi menjadi provinsi tahun 2000. Lebih jauh Hamid (dalam Munjin, 2018) kekuatan politik yang lebih besar telah ke Jawara. Sebab kekuatan politik jawara tidaklah muncul kekuatan politik jawara yang tulen, melainkan jawara yang baru, yakni jawara-pengusaha yang dimana benih-benihnya sudah tumbuh sejak orde baru.

Di masa reformasi hingga kini kelompok Jawara dapat dilihat dari dua kategori kelompok yaitu, kelompok Jawara oligarkis dan kelompok Jawara pendekar paguron. Kelompok Jawara oligarki adalah kelompok jawara yang bertransformasi menjadi pengusaha dan jika masuk dalam dunia politik akan lebih cepat menjadi elit politik. kelompok jawara ini banyak lahir dari keturunan Chasan Sochib dan orang-orang lingkaran keluarga Chasan Sochib seperti Andika Hazrumy dan Pilar Saga Ichsan.

(24)

77

Prasyarat terbentuknya oligarki adalah stratifikasi material yang ekstrim.

Stratifikasi tersebut terbentuk akibat konsentrasi kekayaan dan hak milik pada orang atau kelompok tertentu yang secara niscaya selalu tumbuh menjadi golongan kecil (Winters, 2011). Di dalam internal partai Golkar banten keluarga Chasan Sochib dapat dikatakan sebagai oligarki, karena memiliki stratifikasi kekayaan yang ekstrim dan terpusat pada kelompok keluarganya.

Andika Hazrumy, Pilar Saga Ichsan, dan Ratu Tatu Chasanah merupakan kader Jawara dan merupakan Pimpinan di Organisasi Kependekaran, menariknya mereka kader Golkar yang memiliki harta kekayaan paling besar diantara kader Golkar lainnya di Banten, hal ini bisa di lacak melalui LHKPN Pejabat Negara.

Tabel 4.3

Pimpinan Organisasi Kependekaran dan Laporan Harta Kekayaannya

Nama

Jabatan di Organisasi kependekaran

Jabatan di Partai Golkar

Harta Kekayaan (LHKPN) Ratu Tatu

Cahasanah

Ketua Silat Kaserangan

Ketua Umum Partai Golkar Banten

23.966.139.522

Andika Hazrumy Ketua Umum PPPSBBI

Wasekjend Partai Golkar

19.254.572.667

Pilar Saga Ichsan Ketua Harian PPPSBBI

Ketua Harian AMPG Banten

29.181.557.037 Tb. Haerul

Jaman

Ketua DPP PPPSBBI 2016

Kader Golkar

Banten 10.653.103.075 (Sumber: diolah oleh Penulis)

Untuk perbandingan harta kekayaan elit Golkar Banten lainnya diluar keluarga dinasti per 31 Desember 2021 dapat dilihat: Fitron Nur Ikhsan sebesar

(25)

78

Rp. 2.000.100.000, Fahmi Hakim Sebesar Rp.1.372.459.969, dan Bahrul Ulum Sebesar Rp.1.436.547.522 (LHKPN, 2022). Pada dasarnya elit jawara adalah elit Golkar yang memiliki kekayaan yang besar, karena stratifikasi materil di Banten hanya terpusat di beberapa kelompok .

Setidaknya ada sepuluh sumber pendapatan yang terkendali langsung oleh keluarga Chasan Sochib. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah (1) PT Sinar Ciomas Wahana Putra; (2) PT Ginding Mas Wahana Nusa; (3) PT Unifikasi Profesional Media Consultan; (4) PT Profsional Indonesia Lentra Raga; (5) PT Andika Pradana Utama; (6) PT Pelayaran Sinar Ciomas Pratama;

(7) PT Hotel Ratu Bidakara; (8) PT Putra Perdana Jaya; (9) PT Bali Pasific Pragama; (10) PT Buana Wardana Utama. Kesepuluh perusahaan tersebut ditambah dua perusahaan milik Tanto Warsono Arban, Menantu Ratu Atut Chosiah, yaitu PT Arban Global Nusantara dan PT Arban Media. Perusahaan perusahaan tersebut selalu mengisi projek-projek pemerintahan provinsi Banten.

misalnya saja PT Hotel Ratu Bidakara selalu menjadi tempat favorit pemerintah provinsi Banten dalam mengadakan berbagai agenda formal, seperti misalnya rapat, acara pemberian penghargaan, sampai seminar semua pernah diselenggarakan di hotel ini.

Kelompok jawara ini selain berbisnis, mereka bisa mengatur tender di pemerintahan provinsi Banten. Karni dan Achmad (dalam Munjin, 2018) menjelaskan bahwa siapa saja yang ingin menggarap projek di Banten harus setor 30% kepada jawara sebelum proses tender, dan setelah deal harus tambah

(26)

79

10% kepada pimpinan projek. Dengan bisnis dan tender, Jawara ini benar-benar kuat secara materil.

Kategori jawara yang kedua adalah Jawara pendekar paguron, atau jawara yang fokus mengurusi perguruan silatnya. Kelompok ini yang menjadi basis akar rumput bagi partai Golkar Banten. karena sifat ketokohan para guru besar (pimpinan) Paguron di masyarakat, mereka memiliki strata sosial yang tinggi di lingkungan sosialnya. Inilah yang memudahkan kelompok ini untuk memobilisasi masa kepada partai Golkar saat pemilu.

Dua kelompok jawara ini memiliki hubungan yang saling terikat dan saling memberikan keuntungan satu sama lainnya, secara hirarkis kelompok pertama adalah elit partai dan kelompok kedua adalah akar rumput partai.

jawara oligarkis berperan sebagai pemberi bantuan pada jawara paguron, dan jawara paguron berperan menjaring massa saat pemilu untuk tokoh golkar yang sekaligus masih bagian dari kelompok jawara.

Saat ini tokoh-tokoh Golkar memiliki peran sentral dalam mengorganisir dan mengembangkan pendekar Banten. Para guru besar padepokan-padepokan di Serang seringkali di ajak berunding oleh ketua Golkar Banten sekaligus Bupati serang. Bahkan setelah kepergian Chasan Sochib Organisasi pendekar PPPSBBI diteruskan trah kepemimpinannya oleh cucunya Andika Hazrumy dan Pilar Saga Ichsan menjabat sebagai ketua harian DPP. Sedangkan anaknya, Ratu Tatu Chasanah membuat wadah baru yang lingkupnya lebih spesifik yaitu Silat Kaserangan yang akan dipromosikan sebagai silat asli Banten yang berasal dari

(27)

80

Serang. Dalam pembentukan silat kaserangan ini Tatu seringkali mengundang para guru besar padepokan silat di serang dan para pendekar ke pendopo untuk membuat gerakan-gerakan khas silat kaserangan.

Selain mengorganisir para pendekar Banten, tokoh Golkar yang merupakan bagian dari jawara seringkali memberikan pekerjaan sampingan seperti pengamanan kepada kelompok akar rumput. contohnya Ketua Umum Golkar Banten Tatu Chasanah mempekerjakan para pendekar yang memiliki titel guru besar dari beberapa paguron untuk menjaga kediamannya. Tidak hanya bertugas menjaga kediaman tokoh, saat masuk masa kampanye pemilu para pendekar sering kali ditugaskan untuk menjadi keamanan, untuk menjaga ketertiban kampanye dari internal Golkar Banten. tentu tugas-tugas keamanan seperti ini memiliki bayaran materil.

Tokoh-tokoh Golkar Banten yang duduk dalam pemerintahan seringkali memberi kesempatan pada setiap paguron untuk tampil dalam event-event acara pemerintah. Tak jarang tokoh-tokoh ini memberikan bantuan materil berupa alat perlengkapan silat, dan seragam untuk pentas. Hal ini dianggap sebagai bentuk promosi budaya lokal, sekaligus bentuk pemberdayaan terhadap pendekar- pendekar Banten yang tergabung dalam setiap paguron, seperti Ratu Tatu Chasanah dan Fahmi Hakim yang seringkali memberi bantuan materil berupa perlengkapan kesenian pencak silat dan debus. Hal serupa disampaikan oleh Abah Edy selaku sesepuh di Golkar Banten:

“…..Terlepas dari peran Chasan Sochib, Kader-kader Golkar tidak sedikit yang sering memberikan bantuan kepada masing-masing

(28)

81

paguron. Hal ini dikarenakan mereka (Kader Golkar) juga dulunya pernah menjadi pendekar atau belajar beladiri di paguron tersebut, sehingga selain karena bantuan pemilu, mereka juga punya rasa ingin saling membantu dan membesarkan terhadap paguron nya….”

(Wawancara tanggal 19 Desember 2022)

Sebelumnya Pendapatnya Abah Edy diperkuat pendapatnya abah Sakun Guru Besar Paguron Medal Suci:

“....Untuk tugas pengamanan pemilu biasanya setiap paguron yang diminta oleh ibu (Tatau Chasanah), biasanya 150 pendekarmah gak akan kurang untuk tugas pengamanan apalagi saat pemilu, 150 itu delegasi dari masing-masing paguron.

Bayarannya satu orang biasanya 150 ribu, kadang bisa kurang kalau yang bertugas banyakan mah. Masalah seragam untuk pentas kita sering dikasih juga sama alat musiknya. kaya bang Fahmi Hakim, Ibu Tatu itu sering ngasih bantuan berupa alat kesenian silat ke tiap-tiap paguron....” (wawancara tanggal 15 Juni 2022)

Pemberdayaan terhadap pendekar Banten sudah berlangsung sejak lama, dan ini sudah menjadi kebiasaan turun-temurun. Contohnya di masa lalu ketika perusahaan PT Sinar Ciomas Raya ini memenangkan proyek-proyek konstruksi dan infrastruktur keluarga Chasan Sochib selalu mengadakan acara pertunjukan hiburan di malam hari, diantaranya jaipongan dan debus. Saat pertunjukan berlangsung keluarga Chasan menyawer para penari jaipong atau pemain debus, tak jarang juga Chasan membagikan uang kepada para penonton yang hadir.

Kebanyakan mengira bahwa saweran dan pembagian uang ini persoalan jaipong dan debus semata, padahal lebih dari itu merupakan pemberdayaan kearifan lokal (Munjin, 2018: 14).

(29)

82

Salah satu gerakan kongkrit para pendekar Banten dalam memenangkan calon dari Golkar dapat dilihat dalam Pilgub Banten 2017. Salah satu padepokan silat Kesti Paguyuban Tjimande Tarikolot Kebon Djeruk Hilir (TTKKDH) secara terangan-terangan mendukung pasangan Wahidin-Andika, seperti yang dikatakan oleh Maskun MS ketua Dewan Pimpinan cabang kesti TTKKDH Anyer (dalam Ramdayanah, 2019):

“karena kebetulan yang nyalon kemarin wagubnya Andika Hazrumy yaitu cucu nya pendiri pendekar Banten dan Banten adalah identik dengan pendekar nah disitulah orang-orang TTKKDH yang didalam nya terdiri dari pendekar dan beberapa ulama jadi ikut mendorong pak Andika dalam pilgub tahun 2017”

Selain TTKKDH padepokan lain Paguron Lutung Kasarung yang terletak di desa Kadu Beureum Kabupaten Serang juga turut serta mendukung Andika sebagai calon Gubernur, seperti yang dikatakan oleh Abah Saniin selaku Guru Besaran Paguron Lutung Kasarung:

“....ya tadi itu karena ada Andika yang merupakan cucu dari pendiri pendekar Banten, ya abah pasti pilih Andika, karena Andika merupakan cucu dari pendiri pendekar Banten yang berperan aktif dalam membesarkan pendekar Banten. kita harus ada rasa terimakasih juga...” (wawancara tanggal 26 Januari 2022) Dalam kasus pileg pun sama seperti yang disampaikan Abah Sakun Guru Besar Medal Suci saat di wawancara:

“...kita juga disini membantu kang Fahmi saat nyalon dewan, karena biasanya sifat ketokohan para pendekar di masyarakat lebih di dengar. Kalau calon dewan partai lain sudah punya pandangan sendiri kalau mereka menganggapnya gak akan bisa masuk lewat abah kalau disini, karena abah sudah terlanjur di cap kuning...” (Wawancara tanggal 15 Juni 2022)

(30)

83

Para pendekar Banten yang mendukung pasangan Wahidin-Andika tidak hanya sekedar menyatakan dukungan secara verbal, tetapi ikut turun langsung dalam memobilisasi masa untuk memilih pasangan Wahidin-Andika. Seperti gerakan sosial “Rabu Biru” Yaitu suatu gerakan yang bertujuan untuk mengajak masyarakat ikut berpartisipasi dalam pilgub Banten pada tahun 2017 dalam rangka mengajak pemilih untuk memenangkan pasangan calon Wahidin Halim- Andika Hazrumy dengan cara memberikan cap pada telapak tangan dengan tinta biru di kain putih yang telah disediakan (Ramdayanah, 2019: 57).

Para tokoh pendekar Banten yang di lingkungan masyarakatnya ditokohkan oleh masyarakat setempat, saat masa pemilu seringkali berperan sebagai vote getting bagi calon dari Golkar. misalnya saja abah Sakun Guru Besar Medal Suci dan abah Saniin Guru Besar Paguron Lutung Kasarung yang menjadi tokoh masyarakat di lingkungannya secara terang-terangan mengajak masyarakat di lingkunganya untuk memilih pasangan WH-Andika saat masa pilgub 2017, begitupun dengan dukungan abah Sakun pada Fahmi Hakim saat Pileg 2019, meskipun mengajaknya lebih sering dari mulut ke mulut.

Hubungan masa lalu antara Golkar dan Jawara seperti pembentukan Satkar Jawara oleh Soeharto di Batu Kuwung, dan para pendekar (nama lain dari jawara saat ini) yang diorganisir dan diberdayakan oleh figur-figur Golkar membuat pendekar atau jawara ini merasa memiliki hubungan emosional yang lebih dengan partai Golkar jika dibandingkan dengan partai lain di provinsi Banten, meskipun memang Chasan Sochib yang merupakan tokoh Golkar dan

(31)

84

Jawara di masa lalu yang menjadikan jembatan antara Golkar dan Jawara terlihat lebih dekat jika dibandingkan dengan partai lain di Banten.

(2) Daerah basis pendukung Partai Golkar di Banten

Provinsi Banten terdiri dari 8 kabupaten kota diantaranya; Kota Serang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Cilegon, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Pandeglang. Hampir semua daerah di Banten, memiliki orang kuat lokal. Sederhananya setiap daerah di Banten telah bertuan. Bicara basis politik akar rumput di masing-masing daerah di Banten tidak akan lepas dari sosok tokoh lokal daerah tersebut.

Terdapat 7 dari 8 daerah di Banten memiliki orang kuat yang berusaha untuk berkuasa lebih dari 2 periode. Keluarga Aat Syafaat di Kota Cilegon, Haerul Jaman di Kota Serang, Tatu Chasanah di Kabupaten Serang, Keluarga Ismet Iskandar di Kabupaten Tangerang, Keluarga Airin Rachmi di Tangerang Selatan, Keluarga Jayabaya di Lebak, Keluarga Dimyati di Pandeglang. Setelah berkuasa dua periode orang kuat lokal ini selalu menjadikan anak, Istri, ataupun saudara untuk maju di pilkada berikutnya, agar kekuasaanya dapat berlanjut hingga 3 periode bahkan sampai 4 periode. Hanya Haerul Jaman di Kota Serang yang gagal menjadikan istrinya menjadi walikota, sehingga berkuasa hanya 2 periode. Ada 5 daerah yang orang kuatnya berpartai Golkar yaitu Kabupaten Serang, Kota Tangerang Selatan, Kota Cilegon, Kabupaten Tangerang. Dan Kota Serang.

(32)

85

Dengan sumber finansial dan jaringan sosial yang kuat, orang kuat lokal ini memiliki kepercayaan diri untuk mengusung sanak saudaranya di pilkada berikutnya. Hanya Kota Tangerang yang mantan walikotanya tidak pernah mencalonkan saudaranya untuk periode ketiganya. Untuk memudahkan analisis kita dapat melihat tabel berikut ini mengenai perolehan kursi DPRD tingkat II dan suara dalam pemilu 2019 di kabupaten/kota di provinsi Banten;

Tabel 4.4

Perolehan Kursi DPRD Golkar Kabupaten Kota

Nama Kabupaten/K

ota

Jumlah Kursi DPRD kabupate

n/Kota Periode

2014- 2019

Jumlah Kursi DPRD Kabupat en/kota Periode 2019-

2024

Persentas e Suara DPRD Kabupate

n/Kota pemilu 2019

keteranga n

Posisi Partai Golkar

di DPRD

Partai ketua DPRD

Bupati/Wali kota

Kota

Tangerang 6 6 12.02 %

Perolehan kursi stabil

Wakil Ketua

II

PDIP Demokrat

Kota Serang 7 7 14.11 %

Perolehan kursi stabil

Wakil

Ketua I Gerindra PAN Kota Cilegon 10 10 23.94 %

Perolehan kursi stabil

Ketua Golkar Berkarya

Kota Tangerang

Selatan

9 10 16.59 %

Perolehan kursi meningka

t

Ketua Golkar Golkar

Kabupaten

Tangerang 7 6 12.88 %

Perolehan kursi menurun

Wakil Ketua

II

PDIP Golkar

Kabupaten

Lebak 8 6 10.35 %

Perolehan kursi menurun

Wakil Ketua III

Gerindra Demokrat

Kabupaten

Pandeglang 8 7 12.79 %

Perolehan kursi menurun

Wakil

Ketua I Gerindra PPP

Kabupaten

Serang 9 9 15.89 %

Perolehan kursi stabil

Ketua Golkar Golkar

(Sumber: Rumah Pintar Pemilu, 2019)

(33)

86

Coattail effect atau efek ekor jas pilpres 2019 sangat berpengaruh pada perolehan suara partai Golkar di banyak daerah di Banten terutama wilayah selatan, seperti Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak. Ini dapat terlihat bagaimana Partai Gerindra mengalami peningkatan kursi yang sangat signifikan di DPRD Lebak, dari 4 kursi menjadi 9 kursi yang menjadikan Grindara menjadi ketua DPRD, Di Pandeglang Gerindara juga menjadi Ketua DPRD dari yang sebelumnya wakil ketua I.

Selain coattail effect yang mempengaruhi penurunan suara Golkar, orang kuat Lebak dan Pandeglang, memiliki karakter politik akomodatif, artinya semua kalangan akan diakomodir dan orang kuat lokal, contoh kasus di Lebak saat pemilukada Lebak 2018 Iti Oktavia lawannya kotak kosong dan tidak ada lawan.

Khusus pandeglang, orang-orang pesantren dan tokoh agama memiliki power yang lebih kuat di kalangan masyarakat, sifat akomodatif terhadap tokoh agama oleh dinasti dimyati membuat Golkar cenderung menjadi opsi cadangan bagi orang-orang pandeglang. Hal ini sejalan dengan pernyataan Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Pandeglang TB Ahmad Nisaj Nafakir:

“…di Pandeglang basis kuatnya masih condong pada kelompok pesantren, dai, dan kyai. Kedekatan keluarga Dimyati dengan tokoh agama memang sudah dibangun dari jauh-jauh hari, seperti merapat pada Abuya dimyati terlepas didukung atau tidak, didoakan atau tidak oleh beliau, terus merapat pada Mathlaul Anwar, dan pesantren tradisional lainnya…”(wawancara 16 Desember 2022)

Pendapat lain disampaikan oleh Sekjen Ikatan Mahasiswa Lebak, Hardis

“…Kalau saat ini tidak sekuat dulu, saat jamannya Jaro Karis. Jaro karis itu dulunya bahkan lebih kuat dari Jayabaya di Lebak. Sekarang

(34)

87

baru muncul maman suparman ketua umum DPD lebak mulai diperbincangkan di warung-warung kopi. tapi jika dibandingkan dengan Jayabaya tentu masih kuat Jayabaya…”(Wawancara 13 Desember 2022) Coattail effect juga sangat berpengaruh di kabupaten Tangerang, hal ini dapat terlihat jelas dari partai partai pengusung prabowo mengalami peningkatan perolehan kursi di legislatif, yang terlihat jelas adalah partai Gerindra dari 5 kursi pada pileg 2014 menjadi 7 kursi pada pileg 2019. Sedangkan hampir seluruh partai pengusung Jokowi penurunan suara di kabupaten tangerang. Pendapat diatas sejalan dengan pernyataan Fitron Nur Ikhsan ketua Bappilu Partai Golkar Banten sekaligus Wakil Ketua I bidang OKP Golkar Banten:

“…orang kuat yang tercipta di level lokal merupakan mesin politik utama bagi Golkar, karena Golkar tidak memiliki sosok tokoh kuat di nasional,misalnya Prabowo untuk Gerindra, Jokowi untuk PDIP. Oleh karena itu agar Golkar tidak tergerus oleh coattail efek pilpres, Golkar coba menangkalnya dengan kekuatan utamanya yaitu coba menjual tokoh-tokoh lokal. Suka tidak suka coattail effect di pemilu 2019 sangat berpengaruh bagi partai Golkar, dan ini di Banten berlaku bagi semua partai koalisi Jokowi. Terlihat di beberapa daerah Golkar mengalami penurunan suara di Pileg 2019 terutama daerah yang Golkar tidak memiliki tokoh kuat lokalnya seperti Pandeglang dan Lebak. Tapi di kabupaten Tangerang kekuatan pak Ismet Iskandar mengalami pelemahan ini terlihat dari Gerindra dan PDIP yang mengalami peningkatan perolehan kursi di DPRD, Tangerang Selatan, Cilegon, dan Kabupaten Serang saya rasa Golkar masih memiliki orang kuat…”(Wawancara, 04 November 2022)

Untuk wilayah perkotaan kecuali kota tangerang, meliputi Kota Tangerang Selatan, Kota Serang, dan Kota Cilegon suara partai Golkar cenderung stabil hal ini dikarenakan di tiga kota ini tokoh-tokoh partai Golkar masih menjadi tokoh kuat lokal, di Cilegon ada Aat Syafaat mantan Walikota dua periode 2005-2010, di Serang ada Haerul Jaman mantan Walikota dua

(35)

88

periode 2011-2018, di Tangerang Selatan ada Airin Rachmi mantan Walikota dua periode 2011-2021. Meski dalam pemilu yang terakhir di dua kota mengalami kekalahan, namun tokoh kuat ini masih memiliki jaringan sosial yang kuat, sehingga Golkar masih memiliki loyalis pendukungnya, terlebih mereka mantan Walikota 2 periode.

Khusus Kota Tangerang memang didominasi oleh kelompok Wahidin Halim, meski demikian perolehan kursi di kota tangerang masih stabil. menurut Rivan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Tangerang:

“…Partai Golkar di Kota Tangerang seringkali mengadakan acara- acara kepemudaan yang bersifat populis, saya rasa dalam aktivitas kepemudaan partai Golkar dapat dikatakan selangkah lebih unggul dari partai lainnya. seperti turnamen sepak bola tarkam yang bertajuk Golkar Cup, turnamen voli Golkar Cup, Gelaran E Sport Golkar OKU League, dan acara olahraga gerak jalan pagi di benteng bon menjadi agenda rutinan partai Golkar di Kota Tangerang. Sehingga basis pemilih milenial menjadi terakomodir oleh partai Golkar. kalau untuk Tangerang Selatan betul kelompok nya ibu Airin dan keluarganya masih memiliki jaringan yang kuat karena bu Airin orangnya mau turun ke bawah, dan aktif juga di kegiatan-kegiatan sosial seperti PMI, ditambah lagi finansial keluarga Airin sangat kuat, kasus korupsi yang menimpa Wawan suaminya Airin, sepertinya tidak terlalu ngefek ke masyarakat di Tangsel…”(wawancara 15 Desember 2022)

Ada dua daerah yang DPRD dan Kepala Daerahnya merupakan Kader Golkar yaitu Kabupaten Serang, dan Kota Tangerang Selatan. Kabupaten serang menjadi wilayah paling menarik karena daerah asal tokoh-tokoh partai Golkar Banten, dan salah satu daerah yang dipimpin langsung oleh bupati yang sedang menjabat ketua Partai Golkar Banten Ratu Tatu Chasanah dan Ketua DPRD

(36)

89

Bahrul Ulum yang sekaligus Sekjen Golkar Banten. Kabupaten Serang memang cenderung stabil untuk perolehan kursi DPRD nya.

Pada level Provinsi, keistimewaan lainnya Kabupaten Serang untuk partai Golkar merupakan penyumbang suara terbesar bagi partai Golkar baik saat pemilu Banten maupun saat Pilgub Banten. Pada pemilu 2014 Golkar memperoleh 117.416 dan meningkat pada pemilu 2019 menjadi 128.144 suara.

Sedangkan pada Pilgub 2017 Kabupaten serang dan Kota Tangerang merupakan penyumbang suara terbesar bagi pasangan Wahidin Halim dan Andika Hazrumy masing menyumbang 506.134 suara dan 365.775 suara karena di 7 kabupaten kota lainnya pasangan WH-Andika kalah dengan selisih tipis. Tidak mengherankan jika di Kabupaten Serang Bupati dan Ketua DPRD merupakan Kader Golkar Banten, yang keduanya merupakan Ketua Umum dan Sekretaris DPD Golkar Banten.

(37)

90 Tabel 4.5

Perolehan Suara Golkar pada Pemilu 2019 berdasarkan Daerah Pemilihan

Banten 1(Kota Serang) 45.918 Suara Banten 2 (Kabupaten Serang) 128.144 Suara Banten 3 (Kabupaten Tangerang) 93.018 Suara Banten 4 (Kabupaten Tangerang) 106.725 Suara Banten 5 (Kota Tangerang) 55.879 Suara Banten 6 (Kota Tangerang) 35.155 Suara Banten 7 (Kota Tangerang Selatan) 84.737 Suara Banten 8 (Kabupaten Lebak) 66.594 Suara Banten 9 (Kabupaten Pandeglang) 96.199 Suara Banten 10 (Kota Cilegon) 27.475 Suara (Sumber: KPU Provinsi Banten 2019)

Layaknya keluarga Jayabaya di Lebak dan Dimyati di Pandeglang yang memiliki pengaruh kuat, tokoh-tokoh berpengaruh Golkar Banten lahir atau pernah berdomisili di Kabupaten Serang seperti Chasan Sochib, Ratu Atut Chosiyah, dan Ratu Tatu Chasanah. Alasan utama kuatnya orang-orang di Kabupaten Serang memilih figur Golkar didasari hubungan tradisional dan emosional antara rakyat dengan figur Golkar. Hubungan tradisional yang meluas ini didasari pada patron-klien dan rasa hormat yang tinggi terhadap pimpinan lokal (tokoh). Seperti yang dikatakan oleh Firman Noor Kepala Pusat Riset Politik BRIN:

(38)

91

“....setelah masa orde baru banyak memunculkan figur-figur kuat di tingkat lokal hal ini dikarenakan kurangnya pengawasan dari pusat terhadap daerah, dan biasanya tokoh tersebut menjadi patron jika mereka masuk dalam partai. apalagi kalau kita berbicara Banten lekat dengan politik kekerabatan dan figur-figur politik yang berpengaruh....” (wawancara tanggal 8 Maret 2022)

Politisi yang disebutkan di atas merupakan tokoh lokal yang sangat disegani (putra daerah) yang telah mencapai keunggulan dalam koridor kekuasaan lokal. Atas capaian-capaiannya mereka dikagumi oleh masyarakat di daerah asalnya. Terpilihnya Ratu Tatu Chasanah sebagai Ketua Umum DPD Golkar Banten dan Bupati Kabupaten Serang dua periode di tahun 2020, menambah bobot persepsi ini dan menumbuhkan insentif persepsi masyarakat Serang untuk mendukung Golkar di masa-masa yang akan datang.

Ketua mahsiswa Serang saat di wawancara alasan mengapa masyarakayt serang masih memilih Partai Golkar ketika kadernya terjerat kasus korupsi dalam hal ini adalah Ratu Atut Chosiah, dalam wawancaranya korupsi Atut seakan hanya menjadi angin lalu bagi masyarakat serang, sehingga cenderung lebih permisif terhadap kasus korupsi Atut. Hal ini dikarenakan kuatnya hubungan emosional antara keluarga Chasan Sochib yang juga merupakan tokoh Golkar dengan masyarakat serang. Menurut Zikri Wahyudi ketua Himpunan Mahsiswa Serang:

“…Kalu lingkupnya serang mungkin karena tokoh Golkar banyak dari serang, artinya kedekatan secara kedaerahan juga ada. Ya kaya orang-orang ciomas itukan kenapa milih Golkar karena rumah mereka dekat dengan rumahnya keluarga besar Chasan Sochib.

apalagi keluarganya sering ngasih Bantuan…” (Wawancara 17 Desember 2022)

(39)

92

Sosok figur keluarga Chasan Sochib di Kabupaten Serang memang sangat kuat kedekatannya dengan masyarakat. Hal ini terus dirawat oleh Golkar, dan Kabupaten Serang menjadi wilayah yang paling kuat dan lekat terhadap Golkar jika dibandingkan tujuh kabupaten kota lainnya di Provinsi Banten.

Disaat pemilihan Bupati Serang 2020 dau calon Bupati yang mencalonkan diri yaitu Ratu Tatu Chasanah dan Nasrul Ulum merupakan kader Golkar, meskipun Nasrul Ulum di usung oleh Partai Gerindra sebagai kendaraan politiknya, namun sebelumnya karir politiknya dari Partai Golkar. Meski dalam perhitungan suara Ratu Tatu Chasanah yang terpilih menjadi Bupati Serang. hal ini membuat Golkar di Kabupaten Serang menjadi terlihat dominan jika dibandingkan dengan partai-partai lain.

Kuatnya sosok figur keluarga Chasan Sochib di Kabupaten serang hal ini dapat dilihat juga dalam pemilihan Gubernur pada tahun 2017. Dimana Andika Hazrumy yang merupakan kader Golkar Banten dan anak dari Ratu Atut Chosiah maju sebagai Calon Wakil Gubernur mendampingi Wahidin Halim dan berhasil terpilih menjadi Wakil Gubernur. Di seluruh kabupaten kota Provinsi Banten kecuali di Kabupaten serang dan Kota Tangerang pasangan Wahidin-Andika kalah dalam jumlah total suara hal ini dapat dilihat dari tabel berikut ini:

(40)

93

Tabel 4.6

Perolehan Suara Pilgub Banten 2017

(Sumber: KPU Banten 2017)

Dengan keterangan Wahidin Halim dan Andika Hazrumy no urut 1 (berwarna kuning), dan Rano Karno dan Embay Mulya Syarif no urut 2 (berwarna hijau). Jika dilihat dari tabel diatas maka Kabupaten Serang dan Kota Tangerang merupakan dua wilayah pemilih basis suara terbesar WH dan

Kota Cilegon Kota Serang

Kota Tangerang

Kota Tangerang Selatan

Kab. Tangerang Kab. Serang

Kab. Pandeglang Kab. Lebak

(41)

94

Andika, dengan kemenangan hanya di dua wilayah ini dengan selisih yang begitu besar menunjukan bahwa Wahidin dan Andika sangat didukung oleh wilayah asal mereka, untuk Andika setidaknya keluarga Besarnya berasal dari Kabupaten Serang.

Dalam kasus Pileg 2019, Kabupaten Serang merupakan penyumbang suara terbesar bagi partai Golkar, hal ini dapat dilihat dari tabel berikut:

(42)

95 Tabel 4.7

Perolehan Suara Pileg Banten 2019

Banten 1 (Kota Serang) Banten 2 (Kab Serang)

Banten 3 (Kab Tangerang) Banten 4 (Kab Tangerang)

Banten 5 (Kota Tangerang) Banten 6 (Kota Tangerang)

Banten 7 (Kota Tangerang Selatan)

Banten 8 (Kab lebak)

Banten 9 (Kab. Pandeglang) Banten 10 (Kota Cilegon) (Sumber: KPU Banten 2019)

48.629

39.834

45.918 130.413 128.144

90.013

123.685

116.177 93.018

106.713

72.836 62.736

75.691

66.058 60.072

135.174 104.478

105.763

96.499

65.278 96.111

45.496 34.667

27.475 134.599

106.725 104.130

121.477

88.189 105.763

(43)

96

Jika melihat pada data-data yang tersaji, kabupaten serang memiliki pengaruh besar dalam menyumbang suara bukan hanya untuk figur politik tetapi juga untuk Golkar itu sendiri. Jika menurut Tomsa Provinsi Sulawesi Selatan adalah basis utama Golkar, maka Kabupaten Serang adalah basis utama Golkar Banten jika dilihat dari data-data yang tersaji.

Menurut Tomsa (2008) di tingkat nasional Sulawesi Selatan merupakan basis populer Golkar berdasarkan regional provinsi. Maka Kabupaten Serang dapat dikatakan basis populer Golkar di Banten berdasarkan regional kabupaten/kota untuk Banten. Jika di Sulawesi Selatan di tahun 1999 cenderung melihat figur lokal seperti Habibie dan 2004 melihat figur lokal seperti Jusuf Kalla, maka di Kabupaten Serang Paran Habibi dan Kalla, dimainkan oleh keluarga Chasan Sochib seperti Ratu Atut Chosiah dan Ratu Tatu Chasanah.

Masyarakat Kabupaten serang melihat figur-figur politik Golkar merupakan putra daerah yang mesti didorong untuk naik ke posisi-posisi penting dalam politik. Kerena dalam kajian nya Tomsa (2008) sentimen regional atau etnis dalam politik indonesia sangat signifikan besar. Selain sentiment regional, hubungan emosional yang telah lama dibangun oleh figur- figur Golkar merupakan modal politik yang dapat memberikan keuntungan elektoral bagi partai. Terlepas figur dan sosok dari partai Golkar yang terkadang diinterpretasikan dengan hal yang negatif, faktanya figur-figur tersebut sangat membantu dalam mendongkrak suara partai.

(44)

97

Figure tokoh lokal terkesan menjadi aset berharga bagi partai Golkar krena sangat berpengaruh secara pengambilan keputusan dan magnet saat pemilu. Chasan Sochib dan Aat Syafaat adalah dua tokoh yang paling berpengaruh, namun secara kasat mata Chasan Sochib lebih memiliki pengaruh kuat ini dapat dilihat dari sejarah perjalanan Partai Golkar di Banten dan sangat berdampak pada Kabupaten Serang. Hal ini juga di sampaikan oleh abah Edy:

“….Sejak berdirinya Golkar di Banten, Chasan Sochib dan Aat Syafaat adalah dua tokoh sentral bagi Golkar Banten, keduanya memiliki basis masa yang kuat di daerah nya masing-masing. Chasan Sochib di Kabupaten Serang bahkan pengaruhnya meluas ke kabupaten/kota lainnya, Aat Syafaat di Cilegon. Setiap pemilu dua wilayah ini Kabupaten Serang dan Kota Cilegon harus diakui selalu menjadi harapan dan tumpuan bagi Golkar Banten. Mungkin itu karena Golkar memiliki dua tokoh kuat di daerah tersebut membuat Golkar memiliki banyak simpatisan di Kabupaten Serang dan Cilegon….” (Wawancara 19 Desember 2022)

Selain alasan figur partai, karakteristik Kabupaten secara kependudukan hampir mirip dengan karakteristik pemilih Golkar di dalam penelitian Tomsa (2008), menurutnya mayoritas pendukung Golkar tidak berpendidikan tinggi karena 48% diantaranya tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas, apalagi perguruan tinggi. Faktanya hanya 6%

pendukung Golkar yang lulusan perguruan tinggi. berdasarkan hasil publikasi BPS Kabupaten serang 2019 rata-rata lama sekolah masyarakat Kabupaten Serang adalah kelas 6 SD hingga kelas 1 SMP. Lebih lanjut tomsa menjelaskan mayoritas pendukung Golkar tersebar di wilayah pedesaan di Indonesia, 33.8%

yang dikategorikan sebagai pemilih perkotaan dan 66.2% dikategorikan sebagai pemilih pedesaan yang dimana standar pendidikan rendah dan akses ke media

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Oleh karena itu, dalam penelitian ini dihasilkan peta tiga dimensi di wilayah Kelurahan Sisir dan Kelurahan Giripurno Kota Batu sebagai salah satu daerah yang memiliki

Selain itu, hasil penelitian ini juga beriringan dengan hasil penelitian Kusuma (2016), berjudul “Strategi Pemasaran Penerimaan Peserta Didik Baru di SMK

hubungan kemitraan antara swasta (ASITA) dengan Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan yang di dalamnya Dinas. Kebudayaan dan

Diharapkan dapat menjadi intervensi yang bisa diaplikasikan untuk perawatan ibu hamil yang mengalami kecemasan dalam menghadapi persalinan atau selama kehamilan

Selain itu pengguna dapat memilih hasil pohon yang digunakan dan jumlah hasil pohon yang digunakan beserta jumlah sortimen kayu tersebut, jenis pohon yang dipilih

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas secara umum masalah pokok yang diteliti adalah bagaimana penggunaan media kartu kwartet seri

Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pola karakteristik curah hujan harian dan membuat model sintetik curah hujan harian di Kabupaten Pringsewu dengan menggunakan