Saat kita beralih pada dimensi eksternal-kultural dalam model pelembagaan partai menurut Randall dan Svasand, sangat wajar ketika kita mulai dengan hipotesis bahwa Golkar harus dilembagakan dengan cukup baik. hal ini dikarenakan dengan kesimpulan sejarah yang dimulai sejak tahun 1960-an Golkar sangat cukup banyak memiliki kesempatan untuk menempatkan dirinya tertanam dalam opini publik. Jika sejarah tidak cukup, maka status Golkar saat orde baru, dengan segala keistimewaannya, seharusnya Golkar mendapatkan pengakuan nama yang sangat tinggi. Hal ini sejalan dengan hasil survei IFES saat Indonesia akan menyelenggarakan pemilu demokratis pertama tahun 1999, sekitar 90 persen penduduk mengetahui bahwa Golkar sudah menjadi partai politik, fakta ini menunjukan bahwa Golkar telah mendarah daging bagi warga Indonesia.
112
Tantangan Golkar pada awal masa 2000an adalah bagaimana mengembangkan “identitas ganda”. Di satu sisi, perlu meyakinkan pendukung tradisionalnya bahwa label Golkar masih berdiri untuk stabilitas dan pembangunan era Orde Baru. Di sisi lain para pemimpin Golkar harus kredibel untuk komitmen reformasi dan mendukung gerakan-gerakan demokratis, jika ingin melawan kritik dan tuntutan yang datang terus menerus untuk pembubaran partai dari pendukung gerakan reformasi (Tomsa, 2008).
Dengan latar belakang ini, pertanyaan utama untuk reifikasi bukanlah apakah Golkar dapat di reifikasi, melainkan apakah Golkar dapat tetap di reifikasi dalam imajinasi publik, hingga pada level daerah. Pada bagian ini akan menjawab pertanyaan ini dengan menelaah bagaimana partai menggunakan sarana komunikasi politik tidak hanya untuk mempertahankan tingkat reifikasi yang tinggi yang telah terbangun, tetapi juga membentuk dan terbentuk citra baru terhadap partai Golkar terutama pada level daerah. Seperti yang katakana oleh Randall dan Svasand (2002) Jelas satu persyaratan penting untuk reifikasi adalah waktu, tetapi keuntungan lebih lanjut dalam memproyeksikan partai ke publik yang lebih luas kemungkinan adalah akses ke media massa.
a. Simbol Partai
Tomsa menjelaskan (2008) salah satu hal yang penting dalam reifikasi adalah penggunaan simbol dan label partai secara efisien, hal ini dikarenakan mereka dapat berfungsi sebagai alat untuk publik untuk menyusun preferensi elektoral mereka. Pendapat Tomsa dipertegas oleh Mainwaring dan Scully
113
bahwa pemilih secara alami mengasosiasikan harapan tertentu pada partai politik, namun hanya sebagian kecil masyarakat yang mengetahui program dan kebijakan partai secara rinci, namun sebaliknya simbol dan label yang melekat pada partai memudahkan masyarakat dalam melakukan preferensi politiknya.
Nama partai, lambang, warna dan slogan partai memainkan peran penting dalam membentuk imajinasi publik agar tetap lekat dengan partai.
(1) Simbol yang di Bentuk
Simbol yang dibentuk erat kaitannya dengan simbol-simbol tradisional partai. sehingga untuk level lokal sangat dipengaruhi oleh hasil pembentukan di tingkat nasional seperti nama, lambang, warna, dan slogan partai. pada level lokal simbol-simbol partai ini hanya tinggal ditanamkan dalam imajinasi publik.
pasca runtuhnya orde baru simbol-simbol partai ini mulai ditegaskan oleh Golkar sehingga kita akan memulainya tidak di tahun 2014 dimana Ratu Tatu mulai memimpin Golkar di Banten, melainkan pasca runtuhnya orde baru.
Apalah makna nama partai Golkar, lambang pohon beringin, dan bendera kuning.
Dalam kongres luar biasa Golkar pada tahun 1998, para delegasi yang hadir menyetujui perubahan-perubahan dalam konstitusi partai, salah satunya perubahan nama lama Golkar menjadi Partai Golkar. Dipicu oleh peristiwa-peristiwa politik besar dalam negeri membuat Golkar dipaksa untuk merubah nama dan perubahan ini menunjukan bahwa pemimpin Golkar akhirnya mau mengakui bahwa Golkar tak lain merupakan Partai Politik.
114
Perubahan nama ini menandakan dimulainya era baru bagi Golkar, dan kata Kunci Golkar tetap dipertahankan dalam label nama partai, pemimpin Golkar memahami bahwa nama Golkar telah tertanam kuat dalam benak publik.
Hingga pada level lokal Golkar masih menjadi daya tarik, namun karena perubahan nama ini pula administrasi Golkar berubah, kader Golkar yang ada di daerah harus menerima menjadi anggota partai jika ingin terikat secara formal, dan Golkar di haruskan mengikuti konstitusi yang berlaku pada saat itu UU No 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik yang mengharuskan mempunyai kepengurusan sekurang-kurangnya 50% (lima puluh persen) dari jumlah provinsi, 50% (lima puluh persen) dari jumlah kabupaten/kota pada setiap provinsi yang bersangkutan, dan 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah kecamatan pada setiap kabupaten/kota yang bersangkutan.
Bukan hal yang sulit bagi Partai Golkar untuk untuk membentuk kepengurusan di tingkat lokal, hal ini dikarenakan sebelumnya Golkar telah memiliki kepengurusan di level lokal. Di Banten sendiri meski Chasan Sochib pernah menjabat sebagai ketua Satkar Ulama dan Satkar Jawara yang memiliki afiliasi dengan Golkar di masa lalu, namun saat Banten terbentuk menjadi provinsi dan Golkar mendirikan DPD Golkar Banten yang menjabat sebagai ketua umum pertama adalah Mamat Rahayu Abdullah seorang mantan kepala desa.
Perubahan nama dari Golkar menjadi partai Golkar meningkatkan antusias berpartai kader-kader Golkar. Pada Rapim VI Partai Golkar 2003 misalnya tercatat 7.405.566 kader. Namun, per Maret 2004, tercatat naik menjadi
115
14.732.556 kader (Akbar Tandjung, 2008). Dapat dikatakan bahwa sampai batas tertentu keputusan Golkar untuk mengubah identitas namanya menjadi partai sedikit membantu meminimalisir dorongan untuk pembubaran Golkar. Di level daerah Tomsa (2008) perubahan ini sangat diapresiasi ketika menjamurnya partai politik di indonesia, kata kunci Golkar dalam kertas suara dapat menjadi daya tarik tersendiri, membangkitkan citra tertentu yang telah terbentuk selama lebih dari 20 tahun kekuasaan yang hegemonik.
Berikutnya simbol warna kuning dan pohon beringin yang berdasarkan penjelasan resminya melambangkan padi yang menguning yang siap di panen dan pohon beringin merupakan lambang sila ketiga pancasila. Namun simbol untuk warna kuning biasa ditampilkan dalam kampanye-kampanye politik partai sehingga warna kuning sangat melekat dengan Golkar sehingga terbangun saat momentum politik kuning adalah Golkar dan Golkar adalah kuning.
Pohon beringin merupakan pilihan yang sangat logis untuk diadopsi oleh Partai Golkar sebagai logo partai, karena memiliki makna simbolis yang kuat dalam masyarakat Indonesia bahkan di negara-negara asia lainnya. Asal-usul mitologinya berasal dari agama Budha dan Hindu dimana pohon beringin melambangkan keabadian dan perlindungan. Di Indonesia pohon beringin sangat menonjol dalam budaya Jawa dan Bali, dan juga lambang persatuan nasional dan bagian dari lambang negara. Dengan pohon beringin ini Golkar ingin menegaskan posisinya di pulau jawa dengan menggunakan lambang pohon yang menonjol dalam kebudayaan mereka, dan ingin memberikan makna luas ke luar
116
jawa sebagai lambang persatuan Indonesia yang ada pada sila ketiga dasar negara.
Keberadaannya dan penggunaan simbol-simbol ini sebagai penangkap mata sangat penting dalam konteks reifikasi karena logo, nama, warna memenuhi fungsi penting dalam konteks meningkatkan kesadaran publik terhadap partai politik. Selain itu menurut Mainwaring dalam (Tomsa, 2008) biasanya hanya sebagian kecil masyarakat yang mengetahui program dan kebijakan partai politik, sebagian besarnya bergantung pada simbol politik, budaya atau agama untuk membantu mereka untuk memutuskan preferensi pemilihan mereka.
Dari hasil wawancara dengan semua ketua mahasiswa primordial yang ada di Banten semuanya mengatkan warna kuning sebagai simbol tradisional yang paling lekat dengan Golkar. seperti yang disampikan oleh ketua Himpunan Mahsiswa Serang dan ketua Ikatan Mahasiswa Cilegon:
“…..Warna kuning sama logo pohon beringin. Keduanya sering banget dipasang dipinggir jalan, kalau logo kan ikut nempel sama bendera kuningnya Golkar…..” (Wawancara 17 Desember 2022)
“…..Warna kuning sangat identik dengan Golkar, kayaknya semua orang kalau saat pemilu lihat kuning pasti ingatnya Golkar…..”
(Wawancara 17 Desember 2022)
Di negara seperti Indonesia dimana sebagian besar partai politik tidak memiliki program kerja yang canggih kekuatan simbolisme jauh lebih terasa.
Simbol warna kuning dan pohon beringin sudah tertanam begitu kuat dalam pola pikir masyarakat Indonesia hingga pada level lokal, dari semua narasumber masyarakat yang diwawancarai semuanya mengetahui warna dan lambang Partai
117
Golkar, sebaliknya tak ada satupun narasumber yang mengetahui mengenai program kerja Golkar. hal ini menandakan bahwa pengaruh simbol-simbol partai sangat kuat untuk ditanamkan dalam pola pikir masyarakat melebihi program kerja. Dalam momen-momen politik rasanya kaos kuning sangat identik dengan pendukung Golkar, dan kertas suara yang berlogo pohon beringin akan memudahkan preferensi politik masyarakat untuk memilih Golkar saat pemilu tiba.
(2) Simbol yang terbentuk
Simbol-simbol tradisional seperti nama, logo, dan warna partai politik memang lekat dengan pembentukan formal partai politik sehingga sangat dipengaruhi oleh partai politik pusat. Namun, dalam landscape politik lokal tentu partai politik di tingkat lokal memiliki citra tersendiri hal ini dikarenakan perilaku dari figur-figur politik lokal dan budaya di lokal tertentu berbeda antar daerah.
Landscape politik lokal di Banten erat kaitannya dengan dinasti politik, fenomena politik dinasti sebelumnya telah banyak pakar yang membahas.
Misalnya, penelitian Sutisna (2017) meneropong dari segi adanya gejala penyebaran dinasti politik di Banten, Handoyo (2018) mengkaji efek negatif terhadap lingkungan dengan adanya dinasti politik tersebut, dan Sukri (2020) yang mengkaji mengenai jaringan dan strategi dinasti politik di Banten.
Untuk menganalisa bertahannya dinasti politik, memahami konsep familisme dalam politik menjadi salah satu cara, menurut Garzon dan Djati
118
dalam (Sukri, 2020) menyebutkan bahwa familisme adalah budaya politik dengan ketergantungan yang terlalu besar terhadap ikatan keluarga yang kemudian melahirkan kebiasaan untuk menempatkan keluarga atau yang memiliki ikatan kekerabatan pada kedudukan yang tinggi. Familisme dapat diartikan sebagai dorongan psikologis seseorang untuk bisa berkarir di dua ranah, yaitu di ranah publik sebagai birokrat dan ranah privat selaku korporat swasta.
Yang menjadi menarik dalam familisme politik, kepentingan keluarga untuk menempati kedudukan tinggi dalam politik menjadi keutamaan. Di beberapa daerah seperti Lebak ada kelompok Jayabaya dan Pandeglang ada kelompok Natakusuma. Namun kedua keluarga ini mengambil banyak partai untuk keanggotaan keluarganya seperti Jayabaya parpolnya PDIP anaknya Iti Octavia Jayabaya parpolnya Demokrat. Natakusuma lebih kompleks lagi dirinya mantan anggota PPP dan sekarang menjadi Kader PKS, Irna Narulita istri Natakusma Partai Politiknya PDIP, dan anaknya Rizki Natakusuma Partai politiknya Demokrat.
Yang menjadi menarik adalah kelompok nya Chasan Sochib, semua anggota keluarga dari anak, cucu dan menantu, semua yang berkarir dalam dunia politik menggunakan kendaraan politik Partai Golkar dan tak pernah berpindah partai politik. Sangat wajar ketika partai Golkar identik dengan keluarga Chasan Sochib, tak ada satu partai pun di Banten yang memiliki keidentikan sekuat Golkar dengan salah satu kelompok politik di banten yang dimana semua keluarganya masuk dalam satu partai.
119
Dari hasil wawancara dengan semua ketua mahasiswa primordial mengenai ke identikan Golkar di Banten semua menjawab dan merujuk pada makna kata “orang kuat lokal” yang itu keluarga Chasan Sochib, dan satu-satunya orang kuat lokal yang hampir mengimbangi besarnya nama Chasan Sochib di Golkar adalah Aat Syafaat dari Golkar Cilegon. Seperti pendapatnya Ketua Himpunan Mahasiswa Tanggerang, Ketua Ikatan Mahasiswa Cilegon, Ketua Keluarga Mahsiswa Pandeglang, dan ketua Ikatan Mahsiswa Lebak:
“…..Pertama warna kuning, entah kenapa ya kalau saat masa pemilu melihat bendera kuning itu selalu identik dengan Golkar.
Selain kuning ingatan saya selalu tertuju pada Atut dan keluarganya…..” (wawancara dengan ketua Himata, 15 Desember 2022)
“…..Suatu partai besar yang memiliki sumber daya yang kuat, kalau di Cilegon seperti keluarganya Aat Syafaat itu sangat-sangat kuat mungkin hanya baru pilkada kemarin aja kalah…..”
(Wawancara dengan ketua IMC, 17 Desember 2022)
“…..Dinasti politik pragmatis terutama keluarganya Atut. saya melihat ini hampir mirip dengan kondisi Pandeglang, hanya saja di pandeglang keluarga dimyati pakai sistem borong partai…..”
(Wawancara dengan ketua Kumandang, 16 Desember 2022)
“…..Keluarga Atut paling, secara otomatis kalau mendengar Atut langsung teringat dengan dinasti politik. jadi Atut dan dinasti politik.…” (Wawancara dengan sekjen Imala, 13 Desember 2022)
Berikut adalah track record keluarga chasan Sochib dan partai Golkar Banten dalam level politik lokal dan nasional, dinasti yang dibangun oleh Chasan Sochib kemudian menggurita dengan naiknya Atut menjadi gubernur Banten pada 2007-2017 dan keluarga besar menduduki berbagai jabatan publik: Hikmat Tomet (suami), menjadi anggota DPR (2009-2014), Andika Hazrumy (anak) menjadi anggota DPD (2009-2014) dan DPR (2014-2019), Ade Rossi Khaerunisa (menantu) menjadi anggota DPRD Kota Serang (2009-2014), Ratu
120
Tatu Chasanah (adik) menjadi anggota DPRD Banten (2010-2015), Tb. Khaerul Jaman (adik tiri) menjadi Wakil Walikota Serang (2008-2013), Ratna Komalasari (ibu tiri) menjadi anggota DPRD Kota Serang (2009-2014), Heryani (ibu tiri) menjadi Wakil Bupati Pandeglang (2010-2015), dan Airin Rachmi Diany (adik ipar) menjadi Walikota Tangerang Selatan (2011-2016) (Harjanto 2011). Dengan diberlakukannya aturan tentang pilkada serentak, Airin Rachmi Diany yang merupakan walikota Tangerang Selatan periode 2011-2016 harus mengakhiri masa jabatannya lebih cepat pada 2015 (P2D, 2011).
Di masa kepemimpinannya Ratu Tatu Chasanah terdapat tiga tahun pilkada serentak, Pada pilkada serentak 2015, terdapat empat wilayah kabupaten/kota di Provinsi Banten yang ikut serta, yaitu Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Pandeglang. Tiga dari empat daerah tersebut diikuti oleh keluarga Chasan Sochib, yaitu Airin Rachmi Diany (adik ipar Atut) di Kota Tangerang Selatan, Tanto Warsono Arban (menantu Atut) di Kabupaten Pandeglang, dan Ratu Tatu Chasanah (adik Atut) di Kabupaten Serang. Keluarga Chasan Sochib juga ikut dalam pilkada serentak tahun 2017 dan 2018. Tahun 2017 dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Banten, Andika Hazrumy, anak Atut, ikut sebagai Calon Wakil Gubernur Banten berpasangan dengan Wahidin Halim. Sedangkan pada pilkada 2018, Vera Nurlaela Jaman yang merupakan istri dari adik tiri Atut Tubagus Haerul Jaman ikut dalam pilkada Kota Serang (Sukri, 2020: 171).
Semua keluarga Chasan Sochib yang ikut serta dalam kontestasi politik menggunakan Partai Golkar dan tidak pernah berganti partai dari Golkar. Hal ini
121
berbeda dengan kelompok lainnya di Banten yang menggunakan sistem borong partai. dan dinasti politik di luar Banten seperti di Ogan Ilir dan Sulawesi Selatan dimana keluarga dinasti sebelumnya menjadi kader Golkar meski pada akhirnya berpindah partai.
Meneropong keluar Banten dinasti politik yang memang bukan barang baru di Indonesia terjadi di beberapa daerah seperti di Ogan Ilir yang dapat dilihat ketika Ahmad Wazir Noviadi naik menjadi Bupati pada 2015. Ia merupakan anak dari mantan Bupati Ogan Ilir, Mawardi Yahya. Dan di Sulawesi Selatan ketika dikuasai oleh keluarga Yasin Limpo, yaitu istrinya Hj Nurhayati Yasin Limpo dan anak-anaknya, yaitu Tenri Olle Yasin Limpo, Syahrul Yasin Limpo, Tenri Angka Yasin Limpo, Dewie Yasin Limpo, Ichsan Yasin Limpo, Haris Yasin Limpo, dan Irman Yasin Limpo (Petrik 2016). Keluarga dari dinasti politik ini sebelumnya pernah menjadi kader Golkar meski pada akhirnya ada yang berpindah partai.
Semua keluarga menggunakan Partai Golkar dan tidak pernah berpindah partai dari partai Golkar, merupakan poin yang membentuk citra hubungan kuat antara partai Golkar Banten dan dinasti politik Chasan Sochib di Banten. Yang dimana sebetulnya keluarga Chasan Sochib bisa saja menyebarkan keluarganya di berbagai partai politik di Banten, hal ini tentu akan menguntungkan dalam pasar electoral di Banten. Namun hal itu memang tidak berlaku bagi keluarga Chasan Sochib dan Golkar, hubungan yang kuat antara keluarga Chasan dan Golkar sangat dipengaruhi oleh loyalitas kader-kader Golkar pada figur-figur politik dalam partai dimana figur politik ini didominasi oleh keluarga Chasan.
122
Dibalik loyalitas keluarga Chasan Sochib pada Partai Golkar tidak dapat dipungkiri telah terjadinya praktik patron-klien di dalam tubuh Golkar yang telah dijelaskan pada dimensi infus nilai sebelumnya. Dengan kondisi pasar electoral lokal yang lebih kuat melihat sosok figur politik, kader-kader partai baru yang belum memiliki jaringan politik yang luas akan melihat Golkar sebagai kendaraan yang ideal untuk digunakan dalam dunia politik, mengingat kelompok terbesar hanya menggunakan partai Golkar, sehingga pola patron-klien ini terjadi sangat kuat di Golkar.
Hal menarik lainnya, pada banyak penelitian seperti penjelasan Tomsa (2008) partai Golkar di level nasional merupakan partai yang Impersonal, artinya tidak bergantung pada figur politik pasca Orde Baru. namun pernyataan Tomsa Tampaknya tidak berlaku pada level lokal dimana Keluarga Chasan Sochib yang sepenuhnya menggunakan Golkar, membentuk citra partai sebagai partai personalistik, dimana partai politik dikuasai oleh figur politik dari keluarga yang sama dalam hal ini keluarga Chasan Sochib.
Dari pernyataan ketua primordial mengenai satu kata tentang partai Golkar Banten masing-masing di antaranya: Zikri ketua Hamas “dinasti politik”, Rivan Ketua Himata “warna kuning”, Arif ketua IMC “partai besar”, Tb Nisaj Mufakir ketua Kumandang “pragmatis”, Hardis Sekjen Imala “Keluarga Atut”.
Dari pernyataan tersebut “dinasti politik” dan “keluarga atut” menjadi kata yang terdengar tidak asing dalam landscap politik lokal di Banten.
Dalam penelitiannya tahun 2020, Sukri berpendapat bahwa dinasti politik yang terjadi di Banten masuk dalam kategori octopussy dynasties. Sukri yang
123
mengutip Djati (2013) menerangkan octopussy dynasties merupakan dinasti politik yang berbasis pada jaringan kuasa yang berbentuk gurita karena jaringannya yang luas. Djati (2013) dengan mengutip pendapat Syarif Hidayat dalam (Sukri, 2020) menyebutkan bahwa dinasti politik di Banten dibangun berdasarkan jejaring kuasa yang ada mulai dari koalisi kelompok , monopoli sosial, ekonomi, kekerasan dan sebagainya. Dinasti politik di Banten termasuk ke dalam bentuk yang dirancang oleh para kerabat untuk terjun ke dunia politik.
Jika dilihat dari keberlangsungan dinasti politik dan relasi kuasa kelompok Chasan Sochib di Banten, Dinasti ini terbilang cukup kuat karena berhasil menempatkan keluarganya dalam pos-pos strategis kepala daerah di Banten. Pada pilkada serentak 2015, terdapat empat wilayah kabupaten/kota di Provinsi Banten yang ikut serta, yaitu Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Pandeglang. Tiga dari empat daerah tersebut diikuti oleh keluarga Chasan Sochib, yaitu Airin Rachmi Diany (adik ipar Atut) di Kota Tangerang Selatan, Tanto Warsono Arban (menantu Atut) di Kabupaten Pandeglang, dan Ratu Tatu Chasanah (adik Atut) di Kabupaten Serang. Keluarga Chasan Sochib juga ikut dalam pilkada serentak tahun 2017, 2018, dan 2019.
Dua tahun sebelum pilkada serentak 2015, pada tahun 2013 Ratu Atut dan adiknya Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan ditangkap oleh KPK atas kasus suap kepada hakim Mahkamah Konstitusi, Akil Mokhtar, tentang perkara sengketa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, dan korupsi pengadaan sarana-prasarana alat-alat kesehatan dan pengadaan
124
barang lainnya di Provinsi Banten dari tahun 2011 sampai 2013. Banyak pakar politik dan politisi yang memprediksi bahwa dinasti politik Chasan Sochib akan segera runtuh. Namun pada kenyataannya, dipenjaranya Atut dan Wawan tidak berpengaruh pada kemenangan keluarganya pada Pilkada Banten 2015, Pilgub 2017, dan hanya kalah pada Pilkada 2019, sedangkan di pilkada 2020.
Keluarga Chasan Sochib yang menang pada pilkada Banten 2015 adalah Airin Rachmi Diany (adik ipar Atut) yang berpasangan dengan Benyamin Davnie di Kota Tangerang Selatan, Tanto Warsono (menantu Atut) yang menjadi wakil bagi Irna Narulita di Kabupaten Pandeglang, dan Ratu Tatu Chasanah (adik Atut) yang berpasangan dengan Pandji Tirtayasa di Kabupaten Serang.
Dari empat wilayah yang ikut dalam pilkada serentak di Banten, tiga di antaranya dimenangkan oleh keluarga Chasan Sochib. Keluarga ini kembali menang dalam pilgub 2017 dengan naiknya anak Atut, yaitu Andika Hazrumy sebagai Wakil Gubernur Banten berpasangan dengan Wahidin Halim. Hanya pada pilkada 2018 di Kota Serang keluarga Chasan Sochib mengalami kekalahan; Vera Nurlaela Jaman yang merupakan istri dari adik tiri Atut gagal menjadi walikota.
Sedangkan pada Pilkada 2020 Ratu Tatu Chasanah kembali terpilih menjadi Bupati Serang dan Anaknya Pilar Saga Ichsan menjadi wakil walikota Tangerang Selatan.
Lagi-lagi semua anggota keluarga menggunakan partai yang sama Partai Golkar. dari kemenangan-kemenangan ini semua asumsi akan runtuhnya dinasti politik Chasan Sochib tidak terbukti. Sekaligus menjadi penegas bahwa dinasti ini telah mengakar kuat di masyarakat. Menurut Sukri (2020) Setidaknya ada tiga
125
alasan yang membuat dinasti Chasan Sochib begitu langgeng di Banten (1) Pengaruh Sentral Chasan Sochib sebagai Local Strongman, (2) Jejaring Keluarga dan Strategi Politik Keluarga Chasan Sochib, (3) Rendahnya Partisipasi Politik Masyarakat Banten.
Familisme politik yang pada akhirnya membentuk dinasti politik merupakan inang dalam demokrasi Indonesia. Secara perlahan akan menurunkan nilai demokrasi dimana dalam demokrasi nilai equality yakni kesamaan hak dan kewajiban semua masyarakat untuk dapat ikut serta dalam pemilihan umum.
Namun kemudian politik kekerabatan ini muncul seolah mengebiri kesempatan orang.
Makna dinasti politik yang dianggap negatif oleh mayoritas orang tampaknya masih dianggap lumrah oleh masyarakat Banten dan bersikap permisif. Hal ini dapat dilihat ketika 2013 Atut dan Wawan ditangkap oleh kasus yang dipermasalahkan oleh KPK juga berkaitan dengan perluasan pengaruh dinasti politik yaitu tentang perkara sengketa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Lebak. Namun pada pilkada serentak berikutnya dan seterusnya keluarga Chasan Sochib masih dapat meraih kemenangan dalam pilkada bahkan dalam Pilgub kecuali di tahun 2018, fakta ini menunjukan bahwa sebagian besar masyarakat masih permisif pada dinasti politik yang padahal sudah jelas-jelas melakukan tindak pidana korupsi.
Sikap permisif dan melumrahkan dinasti politik sangat dipengaruhi oleh kesiapan masyarakat dalam menerima sistem demokrasi. Masyarakat masih menganggap bahwa sangat wajar ketika keluarga tersebut mencalonkan diri
126
kembali meskipun keluarganya sudah terbukti korup, karena sudah diberikan sesuatu oleh figure politik. dengan kekuatan materil dan jaringan kuat yang dimiliki keluarga Chasan Sochib akan sangat mudah ketika harus merawat konstituen untuk kemudian loyal dan kembali memilih Golkar di pilkada berikutnya.
Menurut Firman Noor saat diwawancara “dinasti politik sangat lumrah terjadi di daerah-daerah yang kantong kemiskinanya sangat tinggi, sehingga menjadikan figur lokal menjadi topangan utama bagi masyarakat”. Berdasarkan data BPS 2021 Kabupaten Tangerang merupakan kabupaten dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Banten dengan jumlah 272,32 ribu jiwa penduduk miskin, diikuti oleh Kabupaten Labek sebanyak 134.75 ribu jiwa, Kabupaten Pandeglang 131.43 ribu jiwa, dari ketiga daerah tersebut kepala daerahnya memiliki trah keluarga dengan kepala daerah sebelumnya. Di Tangerang dan Pandeglang kader Golkar menjadi Bupati dan wakil Bupati. Selain itu kelompok jawara yang selalu diberdayakan oleh keluarga Chasan sangat loyal ketika momen pilkada sehingga membantu dalam memobilisasi masa untuk kepentingan pemeanangan.
Pada akhirnya kesuksesan dinasti politik Chasan Sochib di Banten yang dimotori oleh Partai Golkar dan satu-satunya partai politik yang digunakan oleh keluarga dinasti, membentuk framing lain bahwa Partai Golkar adalah partai dinasti. Dan membuat Partai Golkar Banten terlihat seperti partai personalistik kebalikan dari Partai Golkar di level nasional yang disebutkan oleh Tomsa sebagai partai Impersonal.
127 b. Akses Pada Media Lokal
Dalam konteks ini media massa menjadi instrumen penting, karena menjadi mesin pembentuk imajinasi publik. Media massa telah menjadi alat yang sangat diperlukan dalam demokrasi modern, baik partai maupun individu.
Beberapa pengamat bahkan mengatakan kekuatan gambar yang disampaikan oleh media telah lama melampaui kekuatan program dan ideologi (McNair , 2003: 39).
Randal dan Svasand (2006) berpendapat akses pada media massa adalah hal yang paling menguntungkan dalam mereifikasi partai politik. Akses pada sistem penyiaran memudahkan para politisi untuk mengontrol siaran dan penerbitan berita, yang cenderung diarahkan pada berita-berita positif untuk kepentingan partainya.
Meskipun menjamurnya media lokal di Banten belum mengubah fakta bahwa sebagian besar masyarakat Banten, masih beralih ke televisi nasional untuk mendapatkan informasi tentang politik nasional. Perkembangan media lokal merupakan indikator yang jelas bahwa ada peningkatan permintaan informasi tentang politik lokal. Hal inilah yang membuat pertanyaan bagaimana media baru mendekati landskap politik lokal.
Secara umum, hubungan antara setidaknya beberapa media dan elit kuat Golkar di Provinsi Banten sangat dekat, didasari setidaknya ada 2 alasan utama keintiman ini. Pertama, banyak mantan jurnalis yang kemudian beralih menjadi