• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KEPEMIMPINAN DAN EFEKTIVITAS KINERJA A.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II KEPEMIMPINAN DAN EFEKTIVITAS KINERJA A."

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

14 BAB II

KEPEMIMPINAN DAN EFEKTIVITAS KINERJA A. Kepemimpinan

1. Pengertian Kepemimpinan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kepemimpinan mengandung arti “perihal pemimpin, cara memimpin”. Kemudian, dalam hal ini terdapat dua buah konsep, yakni pemimpin dan kepemimpinan. Kedua istilah ini memang hampir mirip tetapi memiliki esensi makna dan pengertian yang berbeda. Yang pertama lebih merujuk pada subyek (pelaku) sementara istilah kedua lebih merujuk pada proses atau karakter. Pemimpin adalah oarang yang berdiri di depan dan memiliki pengaruh tertentu sehingga memungkinkan orang lain untuk melakukan sesuatu yang dikehendakinya atau yang diinginkan oleh sebuah lembaga atau organisasi. Sementara itu, kepemimpinan sebagai sebuah konsep pastilah memiliki definisi yang sangat beragam.

Dalam literatur bahasa inggris, kepemimpinan lazim dikenal dengan istilah “leadership” yang berkonotasi sama. Dalam bahasa Inggris, kata leadership itu sendiri berasal dari asal kata “leader” yang berarti pemimpin.

Dalam kata leadership, imbuhan “ship” adalah sinonim dengan imbuhan ke-an dalam tata bahasa Indonesia (Dr. Moch Fakhruroji, 2019, hal. 9-10).

Agar memperoleh kemantapan dalam merumuskan pengertian kepemimpinan ada baiknya dikemukakan terlebih dahulu beberapa pendapat tentang kepemimpinan itu sendiri, yang di tinjau dari berbagai sudut

(2)

pandang. Seperti pengertian kepemimpinan yang diungkapkan oleh Tead dalam Sutarto (2006)“leadership is the activity of influencing people to cooperate toward some goal wich come to find desirable”. (kepemimpinan adalah aktivitas memengaruhi orang-orang agarmau bekerjasama untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan). Lain lagi pendapat Terry dalam Thoha (2007) yang mengartikan “kepemimpinan adalah aktivitas untuk memengaruhi orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi”.

Adapun pengertian kepemimpinan menurut sutarto (2006) “rangkaian kegiatan penataan berupa kemampuan memengaruhi perilaku orang lain dalamsituasi tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan”. (Rohaeni, 2016, hal. 34).

Pengertian lain menurut Fred Ltuthans “Leadership cannot exist with out the full inclusion, initiatives and the corporation of the employees.” Di mana sebuah kepemimpinan tidak dapat ada tanpa inklusi penuh, inisiatif, dan kerjasama dari karyawan (Luthans, 2010, hal. 413). Sedangkan menurut Angelo Kinicki, (Kinicki, 2007) leadership is “a process whereby an individual influences a group of individuals to achieve a common goal.”

(Kepemimpinan adalah “suatu proses dimana seorang individu memengaruhi sekelompok individu untuk mencapai tujuan bersama”) (Kinicki A. , 2007, hal. 163).

Dari pendapat-pendapat para ahli di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pada dasarnya kepemimpinan itu ialah seni maupun suatu proses untuk

(3)

memengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama maupun tujuan organisasi sekalipun.

2. Gaya Kepemimpinan

Menurut Kartono gaya kepemimpinan seseorang dapat dilihat dari beberapa indikator, yakni Kemampuan pengambilan keputusan, kemampuan memotivasi, kemampuan komunikasi, kemampuan mengendalikan bawahan, dan tanggung jawab(Kartono, 2008)

Secara teoritis, gaya kepemimpinan dikategorikan kepada beberapa jenis berdasarkan ciri dan karakteristik masing-masing sebagaimana yang akan diuraikan berikut.

a. Kepemimpinan paternalistik

Pada kenyataannya, pemimpin dengan gaya paternalistik hampir tidak pernah memberikan keluasan kepada orang-orang yag berada di bawahnya untuk melaksanakan delegasi, kecuali dengan pegawasan yang cenderung berlebihan. Munculnya gaya kepemimpinan ini biasanya disebabkan oleh reputasi bawahan yang dikenal sebagai orang yang “tidak dapat diandalkan”

sehingga pemimpin memiliki asumsi bawahan mereka harus didampingi dan diberikan arahan secara terus-menerus.

b. Kepemimpinan demokratik

Kepemimpinan dengan gaya demokratik seringkali dianggap sebagai salah satu gaya yang ideal dalam kepemimpinan. Hampir semua orang dapat menerima ketika dirinya dipimpin oleh seorang demokrat. Kepemimpinan demokratik menganggap anggotanya bukan hanya sebagai bawahan, tetapi

(4)

juga sebagai mitra kerja. Hal inilah yang menyebabkan munculnya hubungan komunikasi yang relatif terjalin dengan baik. Pandangan ini tentu saja akan melahirkan perilaku pemimpin yang berbeda pula. Mereka mau mengakomodirpendapat bawahan, bahkan meminta saran kepada mereka tanpa ragu-ragu. Pemimpin dengan gaya ini juga seringkali meminta dirinya untuk dievaluasi oleh anggotanya.

Untuk lebih memudahkan dalam mengidentifikasi gaya kepemimpinan demokratik, beberapa indikator di bawah ini dapat dijadikan kriteria.

1) Menempatkan manusia dalam pandangan yang terhormat dan berpotensi.

2) Senantiasa berusaha mempertautkan antara kepentingan dan tujuan organisasi dengan tujuan dan kepentingan pribadi.

3) Terbuka dalam menerima kritik dan saran dari siapapun. Sikap Berusaha menciptakan iklim yang kondusif dan mengutamakan kerjasama yang kompak.

4) Mendorong pengikut untuk bebas dalam melakukan inisiatif, melaui kreativitas yang dinamis.

5) Senantiasa membawa diri untuk dapat berkembang sebagai pemimpin yang berwawasan luas, handal dan berwibawa.

c. Kepemimpinan otoriter

Tipologi kepemimpinan otoriter atau dapat juga disebut sebagai otokratis, biasanya tidak dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang.

Jikapun dapat bertahan, hanyalah pada lingkungan terbatas. Dengan

(5)

pengertian ini saja, gaya kepemimpinan ini bukanlah gaya kepemimpinan yang universal yang dapat diterima hampir semua kalangan.

Daya tahan gaya kepemimpinan ini akan semakin berkurang ketika para pengikut semakin berkembang dan semakin cerdas. Otoritasrisme dipandang sebagai sesuatu yang kontra-produktif sebab merendahkan nilai-nilai kemanusiaan yang semestinya dijunjung tinggi oleh seorang pemimpin. Oleh kaena itu, seiring perkembangan pemahaman pengikut, pemimpin dengan gaya ini justru akan dijauhi.

Kepemimpinan otoriter biasanya dapat dicirikan melalui beberapa karakteristik berikut :

1) Menganggap organisasi sebagai milik pribadi.

2) Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.

3) Menganggap pengikut sebagai alat semata.

4) Tidak mau menerima kritik, saran atau pendapat.

5) Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya.

6) Dalam menggerakkan organisasi, mereka selalu menggunakan unsur paksaan dan bersifat menghukum.

d. Kepemimpinan laissez-faire

Gaya ini dikenal sebagai gaya yang sangat bebas dan terbuka.

Bahkan, bagi sementara orang, gaya kepemimpinan semacam ini mengakibatkan hilangnya kepatuhan bawahan dan menurunnya harga diri seorang pemimpin. Mereka menjalankan kepemimpinan dengan cara mendelegasikan wewenang sepenuhnya kepada para bawahannya.

(6)

Gaya kepemimpinan ini seolah-olah posisi pemimpin adalah simbol belaka. Mereka memiliki kewenangan tetapi jarang sekali menggunakannya. Mereka telah memberikan kebebasan setiap bawahannya untuk mengambil keputusan dan menetapkan kebijakan serta langkah-langkah strategis untuk pengembangan organisasi yang dipimpinnya.

Beberapa karakteristik penting dari gaya kepemimpinan laissez-faire antara lain :

1) Kebebasan lengkap untuk keputusan kelompok atau individual dengan partisipasi pemimpin yang sangat minim.

2) Sangat delegatif dan memberikan kepercayaan penuh kepada bawahan.

3) Membebaskan bawahan untuk melakukan pendekatan apapun dalam pekerjaan mereka, asalkan dapat menyelesaikan sesuai target dan waktu yang telah ditentukan.

e. Kepemimpinan kharismatik

Kharismatik adalah gaya kepemimpinan yang diperlihatkan melalui kesetiaan dan tanggung jawab dari para pengikutnya, bukan karena pemimpin tersebut memiliki kemahiran khusus atau ada pada kedudukan khusus, tetapi karena para pengikutnya menanggapinya sebagai individu.

Seperti dasar kemahiran dan keahlian. Dasar daya tarik ini unik bagi individu dan situasi. Uniknya lagi, pengaruh kharismatik tidak dapat dipindahkan kepada orang lain.

(7)

Gaya kepemimpinan ini biasanya menggunakan gaya persuasif dan edukatif. Kharismatik dapat muncul dalam diri seseorang ketika seseorang itu memiliki tiga macam kecerdasan sekaligus; intelektual, emosional dan spiritual. Ketiga kecerdasan ini menjadi daya pikat bagi siapapun sehingga orang lain merasa beruntung bekerjasama dengannya.

f. Kepemimpinan situasional

Gaya kepemimpinan situasional adalah gaya kepemimpinan yang tidak mengandalkan satu gaya kepemimpinan saja. Hal ini bukanlah tindakan yang tidak konsisten. Namun, hal ini disebabkan oleh kesadaran pemimpin bahwa oragnisasi yang dipimpinnya senantiasa mengalami perubahan, baik dalam lingkungan internal maupun eksternal organisasi.

Semua perubahan ini pastilah membutuhkan pola-pola yang berbeda dalam memimpin.

Salah satu perubahan yang selalu terjadi dalam organisasi adalah naik-turunnya kualitas kerja dan kesiapan orang-orang dalam memikul tanggung jawab. Hal ini sangat penting untuk diketahui oleh seorang pemimpin, karena berkaitan dengan kebijakan yang akan diambilnya dalam membagi-bagikan jenis pekerjaan dan tanggung jawab sekaligus (Dr. Moch Fakhruroji, 2019, hal. 111-124).

3. Unsur-Unsur Kepemimpinan

Sebagai sebuah proses, kepemimpinan merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai unsur yang saling berkaitan satu sama lain. Elemen- elemen inilah yang bakal memungkinkan aktivitas kepemimpinan dapat

(8)

berjalan sebagaimana mestinya. Adapun beberapa elemen atau unsur yang di maksud ialah sebagai berikut.

a. Pemimpin

Unsur pertama dalam kepemimpinan adalah seorag pemimpin.

Disadari atau tidak, kebutuhan akan adanya seorang pemimpin adalah sesuatu yang mutlak. Pemimpin dalam kehidupan sehari-hari sering kita anggap sebagai orang yang dianggap mampu memegang tanggung jawab tertentu untuk kepentingan orang banyak. Oleh karena itu, kita menjadikannya sebagai orang yang memiliki kewenangan tertentu.

b. Anggota

Secara logis, konsep pemimpin baru muncul manakala ada yang dipimpin. Dalam hal ini, eksistensi seorang pemimpin dibuktikan dengan adanya para pengikut atau orang-orang yang mengikutinya.Dari uraian di atas dapat diperoleh pemahaman bahwa antara pemimpin dan anggota memiliki hubungan yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme).

Dengan demikian dalam perspektif pengikut, seorang pemimpin adalah simbol yang akan menjalankan fungsi diplomatik dan fungsi wewenang.

Dalam hubungan semacam itu, keharmonisan antara pemimpin dengan pengikut tentu akan dapat dipelihara dengan baik.

c. Organisasi

Unsur selanjutnya adalah organisasi atau wadah. Organisasi berasal dari kata organ yang artinya tubuh. Sebagaimana tubuh, tentu memiliki bagian-bagian yang meskipun masing-masing memiliki fungsi

(9)

tersendiri, namun baru dianggap sebuah tubuh jika semua komponen ini dapat berfungsi secara sinergis dan harmonis. Organisasi menjadi salah satu unsur penting yang memungkinkan berjalannya sebuah aktivitas kepemimpinan. Seorang pemimpin yang memiliki bawahan tentu saja memerlukan organisasi atau wadah, sekecil apapun organisasi itu.

Organisasi inilah yang akan mengatur masing-masing fungsi, baik fungsi pemimpin atau anggota-anggotanya.

d. Tujuan

Tujuan adalah sesuatu yang dijadikan sebagai titik-tolak gerakan dan semua kegiatan yang diselenggarakan. Seorang pemimpin, bagaimanapun hebatnya, jika tidak memiliki tujuan yang jelas dan tidak mampu menggambarkan tujuan-tujuan oraganisasi kepada para pengikutnya adalah hal yang sia-sia. Transparansi mengenai tujuan hingga ke tingkat paling bawah adalah hal pokok yang harus diperhatikan oleh seorang pemimpin.

e. Lingkungan

Unsur yang terakhir adalah lingkungan. Lingkungan adalah space atau ruang dimana seorang pemimpin menjalankan tugas dan fungsinya.

Banyak teori yang menekankan pentingnya lingkungan dalam aktivitas kepemimpinan dan manajemen. Seorang pemimpin memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan organisasi yang dipimpinnya.

Berdasarkan beberapa uraian di atas, dapat diidentifikasi secara ringkas bahwa dalam kepemimpinan selalu berhadapan dua pihak atau lebih yang

(10)

dicakup dalam sebuah wadah atau organisasi berikut lingkungannya dalam rangka mencapai tujuan. Pihak pertama disebut sebagai pemimpin dan pihak yang lain disebut sebagai orang yang dipimpin. Kepemimpinan sebagai proses memimpin biasanya berisi kegiatan menuntun, membimbing, membantu, menunjukkan jalan dan melatih agar orang yang dipimpinnya dapat melakukan tugas sesuai dengan tujuan bersama (Dr. Moch Fakhruroji, 2019, hal. 20-25).

4. Tujuan Dan Fungsi Kepemimpinan a. Tujuan kepemimpinan

1) Media untuk mencapai tujuan organisasi.

Kepemimpinan merupakan salah satu faktor penting dalam usaha mewujudkan dan mencapai suatu tujuan organisasi, sehingga setiap pemimpin dapat diamati dari keseriusannya untuk mewujudkan visi dan misinya, karena visi dan misi itu merupakan implementasi dari tujuan yang diinginkan.

2) Memengaruhi atau memotivasi pihak lain.

Tujuan utama sebuah kepemimpinan adalah memengaruhi atau memotivasi orang mapun pihak lain untuk ikut terlibat aktif dalam mekanisme kerja organisasi.

Sedangkan fungsi-fungsi kepemimpinan itu dapat diwujudkan dalam bentuk :

1) Pengambilan keputusan dan kemauan merealisasikan keputusan tersebut.

2) Pendelegasian wewenang dan pembagian kerja para bawahan.

(11)

3) Meningkatkan daya guna dan hasil guna semua unsur manajemen

4) Melaksanakan prinsip-prinsip manajemen (planning, actuating, organizing, dan controling).

5) Memotivasi bawahan, agar bekerja dengan efektif dan bersemangat.

6) Mengembangkan imajinasi, kreativitas, dan loyalitas bawahan.

7) Penilaian prestasi dan pemberian teguran atau penghargaan kepada bawahan.

8) Perencana, pelaksana dan pengontrol aktifitas organisasi.

9) Mengkordinasi dan mengintegrasi kegiatan-kegiatan bawahan.

10) Pengembangan kualitas kompetensi, keterampilan bawahan melalui pendidikan atau pelatihan.

11) Melaksanakan pengawasan berbasis penghargaan.

12) Menajaga aktivitas-aktivitas perusahaan, organisasi sesuai dengan izinnya.

13) Mempertanggung jawabkan semua tindakan kepada pemilik, karyawan, dan pemerintah.

14) Membina dan mempertahankan kelangsungan hidup organisasi.

15) Memberikan jaminan berupa keamanan, ketenangan, kompensasi dan keselamatan bagi semua anggota (Dr.

Istikomah, 2020, hal. 80-81).

(12)

5. Kriteria Pemimpin dalam Islam

Menurut Dr. H. Saifuddin Herlambang, M.A dalam bukunya menyebutkan ada tiga kriteria pemimpin yang disepakati oleh mayoritas ulama. Ketiga kriteria tersebut yaitu :

a. Integritas

Dalam hal kepemimpinan, ada empat sifat wajib Rasulullah Saw. yang merupakan pencerminan karakter beliau dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin umat. Inilah yang mungkin dapat dicontoh oleh seorang pemimpin agar ia dikategorikan sebagai pemimpin yang memiliki integritas.

Berikut sifat-sifat Rasulullah Saw. sebagai seorang pemimpin dibagi ke dalam beberapa bagian berikut :

1) Shiddiq

Shiddiq artinya jujur dalam perkataan dan perbuatan. Rasulullah Saw.sangat disukai oleh banyak pihak karena memiliki sifat yang terpuji yakni benar secara lisan dan perbuatan. Beliau selalu memperlakukan orang dengan adil dan jujur. Beliau tidak hanya berkata dengan kata-kata, akan tetapi juga dengan perbuatan dan keteladanan.

Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw. selalu konsisten, tidak ada perbedaan antara perkataan dan perbuatan. Terkait pentingnya dengan sifat ini, Allah Swt. berfirman dalam Q.S. At-Taubah/9:119 yang berbunyi :

َنْي ِك ِد هصلا َع َم اْيُن ْي ُ كَو َ ه

للّٰا اي لَّحا ايُن َم ُ ٰ ا َنْي ِذ َّ

لا اَىُّي َ

آٰي

١١٩

(13)

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!”(At- Taubah/9:119)

Ayat di atas menunjukkan bahwa seorang pemimpin haruslah memiliki sifat yang jujur baik dari segi ucapan maupun perbuatannya.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kendatinya seorang pemimpin harus melakukan upaya good governance seperti transparansi, akuntabilitas, dan responbilitas atas aktivitas operasional institusi yang dipimpinnya.

Dalam praktiknya, pemerintah yang bersih adalah pemerintah yang efektif, efesien, jujur, transparan, dan bertanggungjawab. Demikian disimpulkan dari sifat Shiddiq yang tercermin pada diri Rasulullah Saw.

2) Amanah

Karakter pemimpin Rasulullah Saw. yang kedua adalah amanah.

Gelar amanah atau al-amin (orang yang dapat dipercaya), sudah disematkan pada diri Nabi Muhammad Saw. jauh sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang benar-benar bertanggungjawab pada tugas dan kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepadanya, baik kepercayaan untuk mengelola perekonomian, politik, ataupun urusan agama. Hakikatnya, amanah masyarakat itu adalah amanah Tuhan. Terkait pentingnya amanah, Allah Swt. berfirman dalam Q.S. al-Ahzab/33:72 yang berbunyi :

(14)

ا َىَن ْ

ل ِم ْح َّي ْنَا َنْيَةَاَف ِلاَت ِج ْ

لا َو ِ ض ْر َ ا ْ

لا َو ِت ٰي ٰم َّسلا ى َ

لَع َثَنا َم َ ا ْ

لا اَن ْض َر َغ اَّنِا

ْ لا ا َى َ

ل َمَح َو ا َىْن ِم َن ل ْ ف ْش َ َ ا َو ۙا ً

ل ْي ُى َج ا ًم ْي ُ ل َظ نا َ َ

ك ٗهَّنِا ۗ نا َس ُ ْ ن ِا ٧٢

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah melimpahkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya karena khawatir mengkhianatinya. Amanah itu akhirnya dipikul oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan bodoh” (Al-Ahzab/33:72)

Ayat di atas menunjukkan bahwa setiap manusia mengemban amanah yang pasti dipertanggung jawabkan di akhirat kelak dihadapan Allah Swt. Nabi Muhammad termasuk figur dan tauladan terbaik dalam menjalankan amanah. Sejarah menunjukkan bahwa Rasulullah Saw.

tidak pernah mengkhianati orang lain ataupun kelompoknya dan selalu menjaga kepercayaan orang, baik dalam hal merahasiakan apa yang patut dirahasiakan dan menyampaikan sesuatu yang perlu disampaikan.

3) Tabligh

Tabligh meruapakan sifat Rasul yang ketiga. Cara dan metodenya perlu ditiru. Sebagaimana diketahui, sasaran dakwah pertama beliau adalah keluarga terdekatnya, setelah itu baru disampaikan kepada orang lain. Selain itu, Rasulullah Saw. lebih sering menyampaikan pesan melalui tindakan beliau. Artinya, beliau melakukan terlebih dahulu sebelum meminta orang lain untuk melakukannya. Terkait pentingnya tabligh, Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Maidah/5:67 yang berbunyi :

(15)

َج ْغ َّ

لَة اَم َ ف ْ

ل َػ ْ فَح ْم َّ

ل ْ

ن ِا َوۗ َكِ ة َّر ْن ِم َكْيَلِا َل ِزْن ُ

ا ٓا َم ْؼ ِ لَة ُ

ل ْي ُس َّرلا اَىُّي َ آٰي َنْي ِر ِف ٰ

ك ْ لا َم ْي ل َ ْ

لا ى ِد ْىَي ا َ ل َ ه

للّٰا َّ

ن ِا ۗ ِساَّنلا َن ِم َكُم ِص ْػَي ُ هللّٰاَوۗ ٗهَخَل ٰس ِر ٦٧

Artinya : Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.

Allah memelihara kamu dari gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(Al- Maidah/5:67)

Ayat di atas menjelaskan bahwa sangat dibutuhkan kesungguhan dalam menyampaikannya dan kesabaran dalam menanggung konsekuensi. Meskipun ayat ini ditujukan kepada nabi secara khusus namun berlaku juga bagi setiap muslim untuk melakukan dakwah kepada Allah tanpa terkecuali. Banyak permasalahan yang menyangkut kepribadian seseorang pemimpin yang tidak mampu menguasai dirinya dan keluarganya, artinya ia tidak selesai dengan persoalan dirinya sendiri. Misalnya, seorang pemimpin yang tempramental, ia berarti tidak menguasai dirinya. Pemimpin yang cacat moral dan karakter buruk sulit menguasai dirinya sendiri.

4) Fathanah

Fathanah merupakan sifat Rasul Allah yang ke empat, yaitu memiliki kecerdasan. Kecerdasan beliau sangat terlihat dari metode dakwah yang beliau gunakan. Nabi Muhammad dengan karunia Allah memiliki kecakapan luar biasa (genius aqbariyah) dan kemimpinan

(16)

yang agung (genius leadership/qiyadah aqbariyah). Terkait pentingnya fathanah, Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah/2:282 yang berbunyi :

ُۗه ْيُت ت ُ ْ كا َ

فى ًّم َس ُّم ٍل َج َ اى ٰٓ

لِاٍنْي َدِتْمُخْنَيا َدَحاَذِاآْيُنَم ٰ اَنْي ِذ َّ

لااَىُّي َ آٰي

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berutang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu mencatatnya.(Al-Baqarah/2:282)

Ayat diatas berkaitan dengan kesuksesan Nabi Muhammad Saw.

sebagai seorang pemimpin karena dikarunia dengan kecerdasan oleh Allah Swt. kecerdasan yang di maksud ialah kelengkapan administrasi, dimana hal tersebut merupakan manifestasi dari kecerdasan atau fathanah. Selain itu, kecerdasan yang dimiliki Rasulullah tidak hanya dalam menyampaikan wahyu Allah, tetapi juga menjaga amanah Allah untuk memimpin umat dengan agama Islam yang diturunkan untuk seluruh manusia yang akan menjadi rahamatanlil’alamin.

b. Adil

Adil merupakan kriteria universal yang akan berlaku hingga kapanpun bagi setiap pemimpin. Universalitas kriteria adil bagi sorang pemimpin dapat diserap dari pemahaman terhadap firman Allah Q.S. al-Hadid/57:25 yang berbunyi :

(17)

َو ِج ٰنِ يَب ْ

لاِة ا َنَل ُس ُر اَنْل َس ْرَا ْدَلَل ُساَّنلا َم ْي ُ

لَيِل َ نا َذْي ِم ْ

لا َو َب ٰ ت ِك ْ

لا ُم ُى َػ َم اَن ْ ل َزْن َ

ا ٗه ُر ُصْنَّي ْن َم ُ ه

للّٰا َم َ

ل ْػَيِل َو ِسا َّنلِل ُعِفاَن َمَّو ٌدْي ِد َش ٌس ْ

أَة ِهْي ِف َدْي ِدَح ْ لا اَن ْ

ل َزْن َ

ا َو ِۚ ِط ْس ِل ْ لاِة ٌزْيِز َغ ٌّي ِي ك َ َ ه

للّٰا َّ

ن ِا ِۗب ْي َغْلاِة ٗه َ ل ُس ُر َو ࣖ

٢٥

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa”. (Al-Hadid/57.225).

Ayat ini menegaskan semua utusan Allah Swt. di utus dengan membawa nilai-nilai keadilan di tengah-tengah masyarakat. Allah menyebutkan kata “utusan-utusan Allah” dengan bentuk plural itu untuk membuktikan kepada orang-orang munafik di masa Nabi bahwa ajaran- ajaran yang dibawa Nabi Muahmmad Saw. itu juga sama dengan apara Nabi sebelumnya, yaitu menegakkan keadilan di muka bumi. Dengan bersikap adil, hukum ditengah-tengah masyarakat dapat ditegakkan dan segala urusan manusia akan berjalan dengan penuh kemaslahatan.

c. Memiliki Kemampuan

Setiap individu sudah seharusnya mengukur kemampuan dirinya dalam memimpin masyarakat yang memilihnya, sehingga ia dapat menjadi

(18)

pemimpin yang diharapkan rakyatnya. Paling tidak ia harus mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin yang memiliki kapabilitas sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang kelak ia pimpin (Dr. H. Saifuddin Herlambang, 2018, hal. 53-66).

B. Efektivitas Kinerja

1. Pengertian Efektivitas Kinerja

Suatu perusahaan atau instansi nyatanya selalu berusaha agar karyawan yang terlibat di dalamnya dapat mencapai efektivitas kinerja yang baik. Keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuan tentunya dimulai dari keberhasilan masing-masing karyawan yang berada di dalamnya.

Efektivitas kinerja menjadi unsur pokok untuk mencapai sebuah tujuan atau sasaran yang telah ditentukan dalam setiap organisasi. Efektivitas kinerja dapat dikatakan efektif, apabila tercapainya tujuan atau sasaran yang telah ditentukan sebelumnya. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. yang terkandung dalam Q.S. At-Taubah/9:105 yang berbunyi :

ِب ْي َغْلا ِمِلٰع ى ٰ ل ِا َ

ن ْو ُّد َدُت َس َو ۗ ن ْيُن ِم ْؤ ُم َ ْ لا َو ٗه ُ

ل ْي ُس َر َو ْم ُ ك َ

ل َم َغ ُ ه

للّٰا ى َدَي َس َ ف ا ْي ُ

ل َم ْغا ِل ك َو ُ ِة ْم ُ

كُئِ ت َنُيَف ِةَداَى َّشلاَو ِۚ َ

ن ْي ُ

ل َم ْػَح ْمُخ ْ ن ُ

ك اَم ١٠٥

Artinya : “Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.(At-Taubah/9:105)

(19)

Ayat di atas menjelaskan bahwa yakni bersegeralah untuk mengerjakan amalan-amalan kebaikan dan ikhlaslah dalam mengerjakannya semata-mata karena Allah. Dan amal yang baik akan diketahui oleh orang- orang beriman. Di mana sesuai dengan ayat di atas agar seseorang dapat bekerja dengan baik dan ikhlas dalam bekerja sehingga dapat menghasilkan kinerja yang maksimal.

Dalam hal ini kita akan mengenal terlebih dahulu apa yang di maksud dengan efeltivitas kinerja. Efektivitas menurut Handoko (2006) menyatakan “Efektivitas adalah kemampuan untuk memilih tujuan yang paling tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan”. Senada dengan pendapat Maulana & Rachman (2016) bahwa

“Efektivitas diartikan sebagai kemampuan suatu unit yang mencapai tujuan yang diinginkan”. Dengan demikian, efektivitas lebih menekankan bagaimana hasil yang diinginkan itu tercapai sesuai dengan rencana yang telah ditentukan (Irma Erawati, 2017, hal. 14).

Menurut Suwarto (2014), Kinerja adalah perilaku atau apa yang dilakukan karyawan, bukannya apa yang diproduksi atau apa hasil dari kerja mereka. Sedangkan menurut Benardin (2000) mendefinisikan performance sebagai berikut: "Performance is defined as the record of outcomes produced on a specified job function or activity during a specified time period"(Kinerja atau prestasi adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi- fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu).

(Dr. H. Bukman Lian, 2017, hal. 94).

(20)

Dari definisi di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa yang di maksud dengan efektivitas kinerja adalah kemampuan berhasil tidaknya suatu usaha atau kerja yang di lakukan oleh seorang individu untuk mencapai suatu yang maksimal serta memilih tujuan dan sasaran yang tepat guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Bernardin dan Russel (2001), mengemukakan lima kriteria primer yang dapat digunakan untuk mengukur kerja karyawan yaitu :

a. Quality, merupakan tingkat sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan.

b. Quantity, merupakan jumlah yang dihasilkan seperti jumlah unit ataupun jumlah aktivitas yang dihasilkan.

c. Timeliness, yaitu lama suatu kegiatan diselesaikan pada waktu tertentu, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain.

d. Cost Effectiveness, besarnya penggunaan sumberdaya organisasi guna mencapai hasil yang maksimal atau pengurangan kerugian dari setiap unit penggunaan sumberdaya.

e. Need For Supervision, kemampuan karyawan untuk melaksanakan fungsi-fungsi pekerjaan tanpa memerlukan pengawasan seorang supervisor untuk mencegah tindakan yang kurang diinginkan.

(Huseno, 2016, hal. 94-96).

(21)

2. Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Efektivitas Kinerja

Efektivitas kinerja dipengaruhi oleh beberapa faktor, The Liang Gie (1991:53) mengatakan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas dan efisiensi kerja pegawai adalah :

a. Motivasi.

b. Kemampuan.

c. Suasana kerja.

d. Lingkungan kerja.

e. Perlengkapan dan fasilitas.

f. Produktivitas.

Kemudian, M.Steers (1980:192), Zulyanti (205:29) dalam Resi Yudhaningsih (2011:41) menjelaskan bahwa indikator mengukur efektivitas kerja meliputi:

a. Kemampuan menyesuaikan diri.

b. Prestasi kerja.

c. Kepuasan kerja. (Juemi, 2013, hal. 1013-1014)

Referensi

Dokumen terkait

Kawasan hutan mangrove di stasiun riset Yayasan Gajah Sumatera (YAGASU) Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan dipilih sebagai tempat penelitian karena

Pada Hari ini Senin Tanggal Dua Puluh Tujuh Bulan Maret Tahun Dua Ribu Tujuh Belas , dimulai pada Pukul 11.00 WIB sd 12.00 WIB telah diadakan acara Pemberian Penjelasan Pelelangan

Penelitian ini akan menerapkan Fuzzy Logic dengan menggunakan metode tsukamoto utuk menentukan tingkat polusi udara, zat pencemar digunakan variabel input.. Basis

Karakteristik limbah cair domestik sebelum terjadi pengolahan di Perumahan Green Tombro Kota Malang yaitu memiliki pH = 9, kandungan COD sebesar 296,45 mg/l, dan kandungan BOD sebesar

Dengan menggunakan metode bermain peran (role play) dengan tema “Daily Conversation at School” disertai dengan terjemahannya dan juga materi percakapan mengenai Tata Boga

Here, the teacher runs the activity using jigsaw technique and following the procedure such as; First, teacher divided students into groups of four and each student

Seperti yang telah disebutkan dalam sub bab sebelumnya bahwa perbedaan antara Ibn hazm dan al-Rafi‟i tentang meminang di atas pinangan orang lain adalah hanya

Pengujian BET dilakukan untuk mengetahui luas permukaan aktif dari WO 3 dalam bentuk serbuk menggunakan alat Quantachrome autosorb iQ, prosesnya dengan memberikan pemanasan