• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN LITERASI DIGITAL PADA PEMBELAJARAN IPA DI ERA NEW NORMAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGEMBANGAN LITERASI DIGITAL PADA PEMBELAJARAN IPA DI ERA NEW NORMAL"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN LITERASI DIGITAL PADA PEMBELAJARAN IPA DI ERA NEW NORMAL

I Komang Wisnu Budi Wijaya1 ; Ni Kadek Supadmini2 Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar12

[email protected]1 ; [email protected]2 ABSTRAK

Di era Society 5.0 penguasaan akan berbagai literasi sangat penting untuk dimiliki oleh setiap individu. Salah satu literasi yang penting di era ini adalah literasi digital. Pembelajaran daring yang dilakukan di era New Normal dapat dijadikan momentum untuk mengembangkan literasi digital salah satunya melalui pembelajaran IPA. Penelitian ini tergolong ke dalam studi kepustakaan. Penulis meng- kaji berbagai literatur yang berkaitan dengan literasi digital dan pembelajaran IPA. Hasil penelitian menyatakan bahwa literasi digital dapat dikembangkan melalui pembelajaran IPA dengan berbagai cara misalnya mengarahkan siswa untuk mencari sumber informasi dalam bentuk digital yang berkaitan IPA dan mengajarkan siswa untuk menggunakan aplikasi belajar IPA secara daring. Dalam pengem- bangan literasi digital peran guru adalah sebagai pengembang, pengguna sistem digital, pelatih dan fasilitator. Selain itu, pengembangan literasi digital juga akan menumbuhkan nilai karakter bangsa seperti mandiri, rasa ingin tahu, kerja keras, disiplin dan toleransi.

Kata Kunci: Literasi, Digital, Pembelajaran IPA, New Normal ABSTRACT

In the society Era of 5.0, the mastery of various literation is really important for every individual to have. One of the important literation in this era is digital literation. Online learning which is done in the new normal era can be a momentum for developing digital literation, one of the example is through science learning. This research is classified as literature study. The writer studied some of the literature which are related with digital literation and science learning. The result of the study stated that digital literation can be developed by science learning through some ways like guiding students to find infor- mation resources in digital platform which are related to science learning and also teaching students using science learning application by online. In digital literation development, the role of teacher are as developer, digital system user, trainer and facilitator. On the other hand, digital literation development also can grow the nation’s character values such as independence, curiosity, hard work, discipline and tolerance.

Keywords: Literations, Digital, Science Learning, New Normal

PENDAHULUAN

Dunia saat ini telah memasuki era Society 5.0. Era ini didefinisikan sebagai era konsep te- knologi masyarakat yang berpusat pada manu- sia yang berkolaborasi dengan system teknologi (Artificial Intelligent dan Internet of Things) untuk menyelesaikan masalah sosial yang terintegra- si dalam dunia maya dan dunia nyata (Rouf, 2019, p.910). Konsep ini awalnya berkembang di Jepang. Konsep Society 5.0 ini sebenarnya ti- dak jauh berbeda dengan konsep yang dikem-

bangkan di berbagai tempat, misalnya di Eropa disebut dengan revolusi industri 4.0, Asia meng- gunakan istilah smart cities dan Amerika Utara menggunakan istilah industrial internet (Hen- darsyah, 2019, p.176). Pada era ini, penguasaan sistem teknologi virtual dan nyata akan menjadi tolok ukur kemajuan seorang individu dan se- buah bangsa. Perkembangan teknologi dan in- formasi sangat pesat dan tak terprediksi. Oleh karena itu, setiap individu diharapkan mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perkemban- gan tersebut agar bisa menjadi ‘pemenang” di

(2)

era ini.

Pada era Society 5.0, literasi merupakan ke- butuhan utama bagi setiap manusia untuk me- menuhi kebutuhan hidupnya (Anggraeni, Fauz- iyah, & Fahyuni, 2019, p.190). Salah satu literasi yang penting dikembangkan di era Society 5.0 adalah literasi digital. Literasi digital merupa- kan ketertarikan, sikap dan kemampuan indi- vidu dalam menggunakan teknologi digital dan alat komunikasi untuk mengakses, mengelola, mengintegrasikan, menganalisis dan mengeval- uasi informasi, membangun pengetahuan baru, membuat dan berkomunikasi dengan orang lain agar dapat berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat (Setyaningsih, Abdullah, Prihan- toro, & Hustinawaty, 2019, p.1203). Terdapat dua alasan terkait pentingnya literasi digital dikem- bangkan di era Society 5.0. Pertama, di era Society 5.0 informasi dapat diperoleh dalam waktu yang cepat dan sudah terdigitalisasi dan terkomputa- si oleh kemajuan teknologi (Anggraeni et al., 2019, p.191). Kedua, tantangan di era ini adalah penyalanggunaan big data dan tingginya cyber crime yang dapat mengganggu kestabilan sosial di masyarakat sehingga diperlukan kompetensi literasi digital untuk menjaga stabilitas sosial di masyarakat (Istiqomah, 2018, p.10).

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada hakekatnya dipandang sebagai produk, proses dan prosedur. Sebagai proses diartikan semua kegiatan ilmiah untuk menyempurnakan peng- etahuan tentang alam maupun untuk menemu- kan pengetahuan baru. Sebagai produk diarti- kan sebagai hasil proses, berupa pengetahuan yang diajarkan dalam sekolah atau di luar se- kolah ataupun bahan bacaan untuk penyebaran pengetahuan. Sebagai prosedur dimaksudkan adalah metodologi atau cara yang dipakai untuk mengetahui sesuatu (riset pada umumnya) yang lazim disebut metode ilmiah (Trianto, 2010, p.110). Oleh karena itu, pembelajaran IPA hen- daknya mengakomodasi kegiatan ilmiah. Dalam kegiatan ilmiah tersebut, tentunya diperlukan proses eksplorasi informasi mengenai perkem- bangan produk-produk IPA. Informasi tentang perkembangan produk IPA saat ini tersedia dalam bentuk digital dan dapat diakses secara luas melalui internet. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa kompetensi literasi digital sangat dibutuhkan untuk mensukseskan proses pembelajaran IPA.

Saat ini seluruh masyarakat dunia sedang dihadapkan pada situasi pandemi Covid-19. Hal

ini tentunya berdampak pada perubahan pola pembelajaran siswa, termasuk juga pembelaja- ran IPA. Pada pertengahan Juni 2020, telah ter- bit surat keputusan bersama (SKB) lima menteri terkait pelaksanaan era New Normal. Era New Normal adalah era masyarakat menjalankan akti- vitas secara normal di tengah pandemi Covid-19 dengan tetap berpedoman pada protokol kese- hatan. Salah satu isi SKB lima menteri tersebut adalah berkaitan dengan pendidikan. Dalam SKB tersebut dijelaskan bahwa satuan pendi- dikan yang berada di zona kuning dan merah Covid-19 melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan konsep pembelajaran berbasis virtual atau yang dikenal dengan pembelajaran daring.

Pembelajaran daring ini dapat dijadikan mo- mentum untuk mengembangkan literasi digital melalui pembelajaran IPA.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk studi kepustakaan.

Studi kepustakaan merupakan studi yang dilakukan oleh penulis untuk mencari dasar pi- jakan serta memperoleh dan membangun lan- dasan teori, kerangka berpikir dan menentukan dugaan sementara (Darmadi, 2011) Data yang dikumpulkan adalah data sekunder. Peneliti mengeksplorasi berbagai literatur seperti buku, jurnal dan sumber lainnya yang berkaitan den- gan literasi digital, pembelajaran IPA dan era New Normal. Data tersebut kemudian dianali- sis dengan teknik analisis isi. Teknis analisis isi adalah analisis ilmiah terhadap isi suatu pesan atau literatur (Supadmini, Wijaya, & Larashanti, 2020, p.79).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hakikat IPA

Pada hakekatnya, IPA dipandang sebagai proses, sebagai produk dan sebagai aplikasi.

Sebagai proses, IPA diartikan semua kegiatan ilmiah untuk menyempurnakan pengetahuan tentang alam maupun untuk menemukan pen- getahuan baru. Sebagai produk, IPA diartikan sebagai hasil proses, berupa pengetahuan yang diajarkan dalam sekolah atau di luar seko- lah ataupun bahan bacaan untuk penyebaran pengetahuan. Sebagai aplikasi, teori-teori IPA akan melahirkan teknologi yang dapat mem- beri kemudahan bagi kehidupan (Trianto, 2010, p.110).

(3)

Ada tiga komponen yang menjadi batasan dalam sains yaitu : 1) kumpulan konsep, prin- sip, teori dan hukum ; 2) proses ilmiah dan 3) sikap kerja keras, jujur, keteguhan hati dan rasa ingin tahu tentang fenomena alam. Ketiga kom- ponen tersebut harus dimiliki oleh setiap indi- vidu agar bisa disebut sebagai saintis (Mariana

& Praginda, 2009, p.19). Seorang saintis dalam proses penemuan dan pembaharuan ilmu sains melalui sebuah metode yang dikenal dengan metode ilmiah. Dalam metode ilmiah, seorang saintis akan menemukan masalah, mempredik- si penyelesaian masalah, melakukan eksplora- si dan menghasilkan kesimpulan berupa pro- duk sains. Dalam melaksanakan metode ilmiah tersebut, tentunya harus disertai dengan karak- ter positif misalnya jujur, kerja keras, teliti dan tekun.

Pembelajaran IPA di Indonesia menurut Kurikulum 2013 dilangsungkan pada jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) serta sekolah menengah atas dan kejuru- an (SMA/SMK). Di jenjang SD, pembelajaran IPA terintegrasi dengan pelajaran tematik pada kelas IV – VI. Pada jenjang SMP, pembelajaran IPA mendapat alokasi waktu 5 jam pelajaran per minggunya sedangkan pada jenjang SMA pem- belajaran IPA dilakukan secara terpisah yaitu berupa pelajaran Biologi, Fisika dan Kimia (Wi- jaya, 2018, p.30). Jika direnungkan, maka pembe- lajaran IPA hendaknya mengakomodasi hakekat IPA yaitu sebagai produk, proses dan sikap.

Pembelajaran IPA hendaknya dilakukan dengan pendekatan konsep, pendekatan keterampilan proses sains dan pendekatan lingkungan (Susi- wi, 2007, p.6). Pendekatan konsep bertujuan agar siswa memahami konsep IPA secara utuh dan bisa menerapkannya dalam kehidupan se- hari-hari. Pendekatan keterampilan proses sains dilakukan untuk melatih aspek psikomotor siswa dalam bidang IPA misalnya mengamati, berhipotesis, merancang percobaan mempredik- si dan menyimpulkan. Pendekatan lingkungan adalah proses pembelajaran IPA yang meng- gunakan lingkungan sebagai sumber dan me- dia belajar. Harapannya adalah siswa memiliki sikap positif terhadap lingkungan.

Pembelajaran IPA hendaknya beradap- tasi dengan perkembangan teknologi informa- si. terdapat beberapa alasan yang mendasari perlunya mengintegrasi teknologi informasi ke dalam kegiatan pembelajaran IPA. Alasan tersebut, yaitu : (1) dengan hadirnya teknologi

informasi dalam kegiatan pembelajaran, maka akan terjadi pergeseran paradigma pembelaja- ran yang semula pembelajaran berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa, (2) model pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi informasi merupakan model pembelajaran yang aktif dan kolaboratif dan (3) pembelajaran yang berbasis teknologi informa- si dapat meningkatkan motivasi, keterampilan dan struktur berpikir (Sutrisno, 2011, p.132).

Kehadiran teknologi informasi dalam pembe- lajaran IPA memberikan peranan penting yaitu sebagai ; (1) pendukung kegiatan inkuiri melalui simulasi kegiatan praktikum kimia di laboratori- um dan (2) memberikan visualisasi tentang kon- sep kimia yang abstrak atau mikroskopis (Kirna, 2010, p. 214).

Literasi Digital

Organisasi UNESCO mengidentifikasi bahwa terdapat 7 (tujuh) literasi yang dibutuh- kan dalam abad ke-21 yaitu literasi dasar, literasi visual, literasi media, literasi komputer, literasi kultural, literasi digital dan literasi jaringan. Lit- erasi digital merupakan kemampuan individu dalam memahami dan memanfaatkan informasi yang bersumber dari berbagai sistem komputa- si digital (Anggraeni et al., 2019, p.194). Literasi digital dapat ditinjau dari tiga perspektif. Perta- ma, literasi digital merupakan akuisisi dari ket- erampilan-keterampilan yang berkembang pada abad ke-21. Kedua, literasi digital merupakan bagian dari keterampilan berpikir. Ketiga mer- upakan ikatan erat dalam praktek dan budaya digital (Mardina, 2017, p.7). Terdapat delapan elemen esensial dalam mengembangkan ke- mampuan literasi digital yaitu ; a) Kultural yaitu pemahaman atau budaya para pengguna sistem komputasi digital ; b) kognitif yaitu kemampuan berpikir terkait isi konten digital ; c) Konstruktif yaitu kemampuan individu dalam membangun atau merancang sesuatu yang kekinian ; d) Ko- munikatif, yaitu kemampuan dalam berkomu- nikasi dalam jejaring digital ; e) Percaya diri ; f) Kreatif yaitu kemampuan dalam membuat ses- uatu yang inovatif ; g) Kritis, yaitu kemampuan menyikapi dan mempercayai isi dari konten dig- ital dan h) Bertanggung jawab dalam menggu- nakan konten digital (Bawden, 2001, p.22). Ter- dapat tujuh tingkatan berkaitan dengan literasi digital yaitu sebagai berikut :

Literasi Informasi : kemampuan individu untuk mencari, menggunakan dan mengelola

(4)

informasi yang tersedia dalam sistem digital.

a. Digital Scholarship : kemampuan individu untuk menggunakan sistem digital dalam berbagai kegiatan akademik seperti peneli- tian dan kegiatan akademik lainnya.

b. Learning Skills : kemampuan individu untuk menggunakan sistem digital sebagai sarana belajar dengan tim.

c. ICT Literacy : kemampuan individu untuk mengelola perangkat lunak yang tersedia dalam sistem digital.

d. Manajemen privasi : kemampuan individu untuk mengelola dan menjaga data pribadi- nya yang disimpan dalam sistem digital.

e. Communication dan Collaboration : kemam- puan individu untuk berkomunikasi dan bekerjasama dengan individu lainnya melalui sistem digital.

f. Media Literacy : kemampuan individu untuk menyaring dan memilah berbagai informasi yang tersedia pada media-media digital (Ste- fany, Nurbani, & Badarrudin, 2017, p.15).

Pengembangan Literasi Digital Melalui Pembelajaran IPA

Seperti yang sudah dipaparkan sebelum- nya bahwa literasi digital dapat dikembangkan melalui pembelajaran IPA. Hal itu dikarenakan pada pembelajaran IPA siswa mencari berb- agai sumber informasi untuk menemukan dan membuktikan kebenaran produk-produk IPA.

Terlebih lagi saat ini di era New Normal pembela- jaran IPA dilaksanakan secara daring. Pengem- bangan komponen literasi digital melalui pem- belajaran IPA dapat dilihat pada Tabel 1

Tabel 1. Pengembangan Literasi Digital Melalui Pembelajaran IPA No Komponen Literasi

Digital Kegiatan Pembelajaran IPA

1 Literasi Informasi a. Guru menyajikan sebuah permasalahan yang berkaitan den- gan IPA kemudian menyarankan kepada siswa untuk men- cari literatur di internet untuk menjawab permasalahan yang diberikan.

b. Guru memberikan strategi kepada siswa terkait cara mendapa- tkan informasi yang dibutuhkan.

2 Digital Scholarship Guru memberikan tugas IPA berupa penelitian sederhana atau proyek tertentu dengan menggunakan literatur digital sebagai referensi utama.

3 Learning Skills Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran IPA mulai dari per- encanaan, pelaksanaan dan evaluasi menggunakan sistem digital.

Misalnya menginformasikan rencana pembelajaran kepada siswa melalui WhatsApp Group, melaksanakan pembelajaran melalui ap- likasi meeting online seperti Zoom, Google Meet dan aplikasi meet- ing online lainnya. Evaluasi pembelajaran menggunakan aplikasi Quiziz, Kahoot, Google form dan aplikasi lainnya

4 ICT Literacy Guru melatih siswa menggunakan software yang bermanfaat dalam pembelajaran misalnya mengunduh e-book tentang IPA, menggunakan aplikasi meeting online, menggunakan aplikasi evaluasi belajar online dan bagi pebelajar kimia guru bisa melatih cara penggunaan aplikasi Chemsketch atau Chem Draw.

5 Manajemen Privasi Guru menyarankan siswa dalam menyetorkan tugas IPA melalui saluran yang bersifat privasi misalnya ke email guru, melalui ap- likasi media sosial sehingga melatih siswa untuk menjaga privasi.

6 Communication and Col-

laboration Guru melatih siswa cara berkomunikasi melalui aplikasi meeting online dan memberikan tugas kelompok tentang IPA

7 Media Literacy Guru mendidik siswa untuk membiasakan mencari informasi berkaitan dengan IPA pada saluran digital yang valid dan actual misalnya e-book, jurnal, situs resmi dan melarang siswa menggu- nakan sumber referensi yang penulisnya tidak jelas dan diragu- kan kebenarannya.

(5)

Literasi digital menunjang perkembangan keterampilan IPA. Misalnya dalam menemukan masalah dan mengeksplorasi sumber untuk pe- mecahan masalah memerlukan keterampilan lit- erasi informasi, learning skills, dan media literacy.

Demikian halnya ketika menyimpulkan sebuah permasalahan, siswa diharapkan memiliki salah satu kemampuan dalam aspek literasi yaitu communication and collaborative. Selain itu, as- pek-aspek literasi digital juga turut menunjang pengembangan karakter sainstis yaitu tekun dan kerja keras.

Dalam melaksanakan pembelajaran IPA untuk pengembangan literasi digital, maka diperlukan peran guru. Peran guru antara lain sebagai :

a. Sebagai pengembang. Guru diharapkan mampu merancang pembelajaran yang mel- atih siswa untuk berinteraksi dengan sistem digital sehingga bisa mengasah literasi digi- tal siswa.

b. Sebagai pengguna sistem digital. Guru sebe- lum mengajar menggunakan sistem digital,

tentunya harus menggunakan dan mem- pelajari terlebih dahulu sistem digital yang akan digunakan.

c. Sebagai pelatih. Guru diharapkan mampu melatih siswa menggunakan sistem digital yang bermanfaat untuk proses pembelajaran siswa.

d. Sebagai fasilitator. Guru harus mampu mem- fasilitasi siswa mengalami kesulitan dalam belajar menggunakan sistem digital .

Pada 7 (tujuh) tingkatan literasi digital dapat dikembangkan pula nilai-nilai karakter bangsa. Saat ini pemerintah telah mencetuskan sebanyak delapan belas nilai karakter yang wa- jib ditanamkan kepada peserta didik yaitu re- ligius, gemar membaca, peduli lingkungan, ju- jur, kreatif, demokratis, mandiri, disiplin, kerja keras, rasa ingin tahu, cinta tanah air, semangat kebangsaan, bersahabat, cinta damai, peduli so- sial, tanggung jawab, toleransi dan menghargai prestasi. Nilai karakter yang terkandung dalam komponen literasi digital disajikan pada Tabel 2

Tabel 2. Nilai Karakter pada Komponen Literasi Digital

No Komponen Literasi Digital Karakter yang Dikembangkan

1 Literasi Informasi Mandiri, rasa ingin tahu dan gemar membaca

2 Digital Scholarship Kerja keras, gemar membaca, kreatif dan rasa ingin tahu.

3 Learning Skills Disiplin, rasa ingin tahu, gemar membaca dan kerja keras 4 ICT Literacy Rasa ingin tahu, mandiri dan kerja keras

5 Manajemen Privasi Toleransi, peduli sosial dan tanggung jawab 6 Communication and Collaboration Semangat kebangsaan, bersahabat dan cinta damai 7 Media Literacy Mandiri, rasa ingin tahu dan gemar membaca, jujur dan

peduli lingkungan SIMPULAN

Pengembangan literasi digital bisa dilaku- kan melalui pembelajaran IPA. Hal itu dikare- nakan pada pembelajaran IPA siswa melakukan penelusuran informasi secara digital untuk men- emukan, mendukung atau menyanggah produk IPA. Ketujuh komponen literasi digital dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran IPA. Dalam pengembangan literasi digital guru berperan sebagai pengembang, pengguna sistem digital, pelatih dan fasilitator. Pengembangan literasi digital juga mendukung pengembangan nilai karakter peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, H., Fauziyah, Y., & Fahyuni, E.

F. (2019). Penguatan Blended Learning Berbasis Literasi Digital Dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0. Al- Idarah: Jurnal Kependidikan Islam, 9(2).

Bawden, D. (2001). Information and digital literacies: a review of concepts. Journal of Documentation, 57(2), 218–259.

Hendarsyah, D. (2019). E-Commerce di Era Industri 4.0 dan Society 5.0.

IQTISHADUNA: Jurnal Ilmiah Ekonomi Kita, 8(2), 171–184.

Istiqomah. (2018). Pembelajaran dan Penilaian High Order Thinking Skills. Surabaya: Pustaka Media Guru.

(6)

Kirna, I. M. (2010). Pengaruh Penggunaan Hypermedia dalam Pembelajaran Menggunakan Strategi Siklus Belajar terhadap Pemahaman dan Aplikasi Konsep Kimia Siswa SMP yang Memiliki Dua Gaya Belajar Berbeda. Universitas Negeri Malang.

Mardina, R. (2017). Literasi Digital Bagi Generasi Digital Natives. Prosiding Seminar Nasional Perpustakaan & Pustakawan Inovatif Kreatif Di Era Digital, 340–352. Surabaya:

Perpustakaan Universitas Airlangga.

Mariana, I. M. A., & Praginda, W. (2009). Hakekat IPA dan Pendidikan IPA. Bandung: P4TK IPA.

Rouf, A. (2019). Reaktualisasi dan Kontekstualisasi Kearifan Lokal dengan Manhaj Global:

Upaya menjawab problematika dan tantangan pendidikan di era Society 5.0 dan Revolusi Industri 4.0. Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana UNNES, 910–914. Semarang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang.

Setyaningsih, R., Abdullah, Prihantoro, E., &

Hustinawaty. (2019). Model Penguatan Literasi Digital Melalui Pemanfaatan E-Learning. Jurnal ASPIKOM, 3(6), 1200–

1214.

Stefany, S., Nurbani, & Badarrudin. (2017).

Literasi Digital Dan Pembukaan Diri: Studi Korelasi Penggunaan Media Sosial Pada Pelajar Remaja di Kota Medan. Sosioglobal Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Sosiologi, 2(1), 8–31.

Supadmini, N. K., Wijaya, I. K. W. B., &

Larashanti, I. A. D. (2020). Implementasi Model Pendidikan Lingkungan UNESCO Di Sekolah Dasar. Cetta : Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(1), 77–83.

Susiwi. (2007). Pendekatan Pembelajaran dalam Pembelajaran Kimia. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Sutrisno. (2011). Pengantar Pembelajaran Inovatif Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Jakarta: Gaung Persada Press.

Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu.

Jakarta: PT Bumi Aksara.

Wijaya, I. K. W. B. (2018). Strategi Penanaman Taksonomi Pembelajaran IPA Pada Siswa Sekolah Dasar (SD) Untuk Membentuk Generasi Literasi Sains. Adi Widya, 3(1), 30–36.

Gambar

Tabel 1. Pengembangan Literasi Digital Melalui Pembelajaran IPA No Komponen Literasi
Tabel 2. Nilai Karakter pada Komponen Literasi Digital

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul “ Pengembangan Virtual Lab Berbasis STEM dalam Pembelajaran IPA untuk Meningkatkan Literasi Sains Siswa pada

Penguatan literasi digital dapat dilakukan melalui model pengembangan kurikulum pendidikan SMA Islam yang memanfaatkan media digital dalam tujuan, materi, strategi maupun

Literasi digital juga didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengetahui cara menggunakan komputer, telepon pintar, peranti lain , termasuk internet, untuk menemukan ,

Guru dapat meningkatkan dan mengembangkan kegiatan kemandirian belajar dan kemampuan literasi digital yang dimiliki siswa, dengan cara memberikan tugas sesuai batas

Misalnya saja informasi yang sekiranya dapat diperoleh dari berbagai jurnal ilmiah yang berkenaan dengan Pendidikan Agama Islam, literasi digital dan generasi

1) Literasi digital adalah suatu bentuk kemampuan untuk mendapatkan, memahami dan menggunakan informasi yang berasal dari berbagai sumber dalam bentuk digital.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa media buku cerita bergambar digital berbasis literasi sains yang telah dikembangkan dapat dikategorikan baik sehingga layak digunakan dalam

Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap media yang dikembangkan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kualitas komik digital sebagai media literasi