KOMITE PENGHAPUSAN DISKRIMINASI RAS Lembar Fakta No. 12
158
Kampanye Dunia Untuk Hak Asasi Manusia
Diskriminasi Ras: Perserikatan Bangsa-Bangsa Bertindak
“Tujuan Pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah .... mencapai kerja sama internasional .... dalam memajukan dan mendorong penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan dasar bagi semua orang, tanpa membedakan ras, jenis kelamin, bahasa, dan agama”
Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (rangkuman Mukadimah)
“Semua manusia dilahirkan bebas dan sederajat dalam martabat dan haknya”
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Pasal 1)
Dalam deklarasi, kovenan dan konvensi internasional yang susul-menyusul sejak PBB berdiri, Negara-Negara Anggota sepakat bahwa semua umat manusia memiliki hak yang sama dan tidak dapat dicabut, serta berikrar akan menjamin dan mempertahankan hak tersebut.
Meskipun demikian, diskriminasi ras tetap menjadi batu penghalang bagi perwujudan hak asasi manusia sepenuhnya.
Meskipun ada kemajuan di beberapa wilayah, ternyata pembedaan, pengecualian, pembatasan dan pengistimewaan atas dasar ras, warna kulit, keturunan, asal-usul kebangsaan atau suku bangsa, masih terus menciptakan dan mempertajam pertentangan, dan menyebabkan penderitaan yang tak terperi dan hilangnya nyawa.
Ketidakadilan dasar yang sama besarnya dengan bahaya yang muncul akibat diskriminasi ras mendorong PBB menjadikan penghapusan diskriminasi ras sebagai sasaran kegiatan PBB.
Semakin besarnya keprihatinan internasional terhadap diskriminasi ras membuat Majelis Umum PBB pada 1963 melakukan langkah resmi dengan menetapkan Deklarasi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Ras, yang terdiri dari empat pokok masalah:
• Doktrin apapun mengenai perbedaan atau keunggulan ras adalah keliru secara ilmiah, terkutuk secara moral, tidak adil dan berbahaya secara sosial, dan tidak memiliki pembenaran dalam teori maupun praktek.
• Diskriminasi Ras – dan terlebih lagi, kebijakan-kebijakan Pemerintah yang dilandasi keunggulan atau kebencian ras, merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang dasar, membahayakan hubungan bersahabat antar penduduk, kerja sama antar bangsa, dan perdamaian serta keamanan internasional.
• Diskriminasi Ras merugikan tidak hanya para korban, tetapi juga para pelaku.
• Tujuan pokok PBB adalah menciptakan masyarakat dunia yang bebas dari pemisahan dan diskriminasi ras yang melahirkan kebencian dan perpecahan.
Pada 1965 Majelis Umum memberikan perangkat hukum kepada masyarakat dunia dengan mengesahkan Konvensi Internasional Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Ras. Konvensi tersebut memuat langkah-langkah yang telah disepakati semua Negara – begitu mereka menjadi peserta dengan cara meratifikasi atau menyetujui Konvensi tersebut – untuk menghapuskan diskriminasi ras.
Berdasarkan Konvensi tersebut, Negara-Negara Pihak berikrar:
• Tidak melibatkan diri dalam tindakan atau praktek diskriminasi ras terhadap pribadi, kelompok orang atau lembaga, dan
menjamin bahwa para pegawai dan lembaga pemerintah melakukan hal yang sama;
• Tidak mensponsori, membela atau mendukung diskriminasi yang dilakukan oleh pribadi atau organisasi;
• Meninjau kebijakan pemerintah, di tingkat nasional maupun daerah, dan mengubah atau mencabut undang-undang dan peraturan yang menciptakan diskriminasi ras;
• Melarang dan menghentikan diskriminasi ras yang dilakukan pribadi, kelompok atau organisasi;
• Mendorong organisasi serta gerakan yang merangkul banyak ras dan setiap cara untuk menyingkirkan penghalang antar- ras dan tidak mendorong apapun yang memperkuat pemisahan ras.
Konvensi ini berlaku pada 1969 setelah 27 Negara Anggota meratifikasi atau menyetujuinya. Pada akhir 1990 Konvensi diratifikasi atau disetujui oleh 128 Negara – lebih dari tiga perempat negara anggota PBB. Ini merupakan Konvensi Hak Asasi yang paling tua dan paling banyak diratifikasi.
Di samping memuat kewajiban-kewajiban Negara Pihak, Konvensi telah membentuk Komite Penghapusan Diskriminasi Ras. Komposisi, wewenang serta pekerjaan Komite diuraikan dalam Lembar Fakta ini, yang juga dilampiri teks Konvensi yang lengkap dan daftar Negara Pihak.
Pengalaman Perintisan
Komite Penghapusan Diskriminasi Ras (seterusnya disebut Komite) adalah badan pertama yang dibentuk oleh PBB untuk memantau dan menilai langkah-langkah Negara Pihak dalam memenuhi kewajiban berdasarkan persetujuan hak asasi manusia yang spesifik.
Komite Ketiga (yang menangani masalah sosial, kemanusiaan dan kebudayaan) dari Majelis Umum PBB menetapkan untuk memasukkan pembentukan Komite dalam Konvensi berdasarkan alasan bahwa tanpa sarana pelaksanaan, Komite ini tidak akan benar-benar efektif.
Tindakan ini menjadi contoh. Setelah itu dibentuklah lima Komite lain dengan anggaran dasar serta fungsi sejenis:
Komite Hak Asasi Manusia (yang bertanggungjawab sesuai dengan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik),
46Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan, Komite Menentang Penyiksaan,
47Komite Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya,
48dan Komite Hak Anak.
49Prosedur
Konvensi merumuskan tiga prosedur yang memungkinkan Komite meninjau langkah-langkah legislatif, peradilan, administratif dan langkah-langkah lain yang diambil masing-masing Negara untuk memenuhi kewajiban melawan diskriminasi ras.
Pertama adalah persyaratan agar semua negara yang meratifikasi atau menyetujui Konvensi tersebut menyampaikan laporan berkala kepada Komite.
Prosedur kedua dalam Konvensi tersebut mengatur tentang pengaduan-pengaduan antar Negara.
Prosedur ketiga diperuntukkan bagi seorang atau sekelompok orang yang menyatakan diri sebagai korban diskriminasi
46
Lembar fakta tengah dipersiapkan.
47
Lihat Lembar fakta No. 4.
48
Lembar fakta tengah dipersiapkan.
49
Lihat Lembar fakta No. 10.
160
ras menyampaikan pengaduan kepada Komite terhadap Negara mereka. Hal ini hanya boleh dilakukan apabila Negara bersangkutan merupakan Negara Pihak dan telah mengeluarkan pernyataan mengakui kewenangan Komite untuk menerima pengaduan seperti itu. Sampai akhir 1990,
5014 Negara telah mengeluarkan pernyataan semacam itu.
Konvensi ini juga menentukan bahwa Negara-negara tersebut dapat membentuk atau menunjuk sebuah badan nasional, yang berhak menerima pengakuan dari perseorangan atau kelompok orang yang menyatakan diri sebagai korban pelanggaran hak dan telah menggunakan seluruh upaya penyelesaian dalam negeri yang tersedia. Hanya apabila tidak puas pada badan yang ditunjuk, pengirim pengaduan dapat membawa persoalan tersebut kepada Komite agar dipertimbangkan.
(Dalam program aksi yang dibentuk oleh Konperensi Sedunia Kedua untuk Melawan Rasisme dan Diskriminasi Ras pada 1983, Negara-negara diminta membuka kesempatan seluas dan semudah mungkin untuk mempergunakan prosedur penanganan pengaduan semacam itu di dalam negeri mereka. Prosedur tersebut harus dipublikasikan dan korban diskriminasi harus dibantu agar dapat memanfaatkannya. Peraturan pembuatan pengaduan dibuat sederhana dan pengaduan harus ditangani dengan segera. Harus tersedia bantuan hukum bagi korban diskriminasi yang tidak mampu dalam pengadilan perdata maupun pidana dan harus ada hak memperoleh ganti-rugi yang layak.)
Wilayah Tanpa Pemerintahan Sendiri
Komite mendapat tanggung jawab dari Konvensi untuk memberi pandangan serta saran atas pengaduan kepada badan- badan PBB yang diajukan oleh perseorangan atau kelompok orang di Wilayah Perwalian PBB serta Wilayah-wilayah Tanpa Pemerintahan Sendiri, yang menyatakan adanya diskriminasi ras. Komite juga memberikan pandangan dan saran mengenai langkah-langkah legislatif, yudisial, administratif maupun langkah-langkah lain terhadap laporan yang diberikan oleh badan- badan PBB untuk melawan diskriminasi ras di wilayah-wilayah ini.
Keanggotaan
Komite dalam rumusan Konvensi beranggotakan “18 ahli bermoral tinggi dan sudah diakui ketidak-berpihakannya.“
Anggota-anggota dipilih untuk masa kerja 4 tahun oleh Negara-negara Pihak. Separuh anggota dipilih setiap dua tahun sekali.
Komposisi Komite mempertimbangkan perwakilan yang adil bagi wilayah-wilayah geografis di dunia maupun peradaban serta sistem hukum yang berbeda.
51Otonomi
Komite adalah suatu badan otonom. Para ahli yang bekerja dalam Komite dipilih berdasarkan dalam kapasitas pribadi.
Mereka tidak dapat dipecat maupun digantikan tanpa persetujuan mereka. Menurut Konvensi, mereka menyusun tata kerja mereka sendiri dan tidak menerima perintah dari luar. Pembiayaan para anggota Komite dipenuhi oleh Negara-negara Pihak, bukan oleh PBB.
Namun hubungan Komite dengan PBB cukup jelas. Komite telah dibentuk dengan Konvensi yang dirancang dan ditetapkan oleh PBB. Sekretariat Komite – yang dibentuk di Pusat Hak Asasi Manusia di Jenewa – disediakan dan dibiayai oleh
50
Aljazair, Costa Rica, Denmark, Ekuador, Perancis, Hungaria, Islandia, Itali, Belanda, Norwegia, Peru, Senegal, Swedia dan Uruguay.
51