• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEGMEN DAN PENILAIAN KHALAYAK TERHADAP PROGRAM KOMEDI DI TELEVISI (Studi Kasus Acara Extravaganza dan Komedi Betawi)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SEGMEN DAN PENILAIAN KHALAYAK TERHADAP PROGRAM KOMEDI DI TELEVISI (Studi Kasus Acara Extravaganza dan Komedi Betawi)"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

SEGMEN DAN PENILAIAN KHALAYAK TERHADAP PROGRAM KOMEDI DI TELEVISI

(Studi Kasus Acara Extravaganza dan Komedi Betawi)

Oleh

NADIA PRIONA ERI SHANTI A14201018

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

(2)

RINGKASAN

NADIA PRIONA ERI SHANTI. SEGMEN DAN PENILAIAN KHALAYAK TERHADAP PROGRAM KOMEDI DI TELEVISI. Kasus Acara Extravaganza dan Komedi Betawi di Stasiun Trans TV (Di bawah bimbingan DJUARA P. LUBIS).

Tujuan skripsi ini adalah untuk mengetahui penilaian dan segmentasi khalayak terhadap program komedi di televisi. Penelitian ini dilakukan di rukun tetangga (RT) 07dan RT 12 Tegal Parang Utara, Kelurahan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Jumlah responden adalah 83 orang yang terdiri dari 28 responden laki-laki dan 55 orang responden perempuan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survey dan wawancara mendalam. Penelitian dilakukan untuk mengetahui segemntasi yang dilakukan oleh Trans TV terhadap program komedi Extravaganza dan Komedi Betawi, mengidentifikasi karakteristik khalayak program acara komedi di Trans TV, mengetahui pola menonton televisi dan perilaku khalayak terhadap program acara komedi di Trans TV, dan untuk mengetahui segmentasi yang terbentuk pada khalayak dibandingkan dengan segmentasi yang telah ditetapkan oleh Trans TV.

Karakteristik khalayak, pola menonton, dan perilaku khalayak terhadap program komedi Extravaganza dan Komedi Betawi membentuk segmentasinya tersendiri.

Segmentasi ini dibandingkan dengan segmentasi yang telah ditetapkan oleh Stasiun Trans TV. Segmentasi yang terbentuk pada khalayak sesuai untuk variabel jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan usia khalayak, akan tetapi tidak sesuai dengan sasaran khalayak berdasarkan variabel total pengeluaran per bulan.

(3)

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang disusun oleh :

Nama : Nadia Priona Eri Shanti

NRP : A14201018

Program Studi : Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Judul Skripsi : Segmen dan Penilaian Khalayak Terhadap

Program Komedi di Televisi

dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr.Ir. Djuara P. Lubis, MS NIP .131 476600

Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian

Prof Dr. Ir. Didy Sopandie, M Agr.

NIP. 131 124 019

(4)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL

“SEGMEN DAN PENILAIAN KHALAYAK TERHADAP PROGRAM KOMEDI DI TELEVISI ” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADIMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, 08-September 2008

Nadia Priona Eri Shanti A14201018

(5)

RIWAYAT HIDUP

Penulis Lahir di Bogor, 14 Oktober 1983 sebagai anak tertua dari tiga bersaudara pasangan Wawan Priawan dan Nonih Mariyah. Penulis menyelesaikan sekolah menengah atas pada SMU Kornita pada tahun 2001. Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Depertemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui jalur PMDK.

Selama menjadi mahasiswa penulis aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, seperti menjadi anggota MISETA (Mahasiswa Peminat Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian) IPB.

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya yang diberikan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Segmen dan Penilaian Khalayak Terhadap Program Komedi di Televisi” sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.

Skripsi ini merupakan salah satu syarat bagi seluruh mahasiswa program studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, dan juga merupakan syarat untuk memperoleh gelar sarjana pertanian. Dalam proses penulisan skripsi ini, penulis mendapatkan bantuan, dukungan, semangat dari banyak pihak, oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS. selaku dosen pembimbing skripsi, atas semua bantuan, bimbingan dan arahan serta waktu yang diluangkan, kesabaran, perhatiannya selama proses penyususnan skripsi ini

2. Dr.Ir. Ninuk Purnaningsih, MSi dan Martua Sihaloho, MSi selaku dosen penguji skripsi yang telah banyak memberikan masukan dan bimbingan . 3. Orang tua, Zainal Arifin dan Nonih Maryah Arifin, serta Wawan Priawan yang

selalu memberikan perhatian, dukungan, limpahan kasih sayang, pengertian, motivasi, doa, semangat, dan juga semua hal baik secara materil maupun moral yang sangat berarti bagi penulis.

4. Adik-adikku tersayang, Arya dan Ariefan atas semua kasih sayang, perhatian, dukungan, dan doanya, serta kedua kakakku Natalia dan Nurbaiti.

5. Dr. Ir. Sumardjo, MS selaku pembimbing akademik, atas segala kebaikan dan perhatiannya kepada penulis.

6. Rekan perjuanganku Syahrini Dyah Nuryanti, Cut Aya Sofia, M. Iqbal yang telah memberikan dukungan serta bantuannya kepada penulis.

7. Semua KPM IPB Angkatan 38, untuk persahabatan, dukungan dan perhatiannya.

8. Mas Iksan dan Mas Emil dari Trans TV, yang telah memberikan informasi mengenai Extravaganza dan Komedi Betawi.

9. Semua orang di Divisi Public Relations Trans TV, Bu Anita, Pak Ikhwan, Mba Amnada, Mba Ai, Mba Pricilla, Mba Nisa, dan Mas Coconico, atas bantuan dan bimbingannya selama menjadi Public Relations Officer di Trans TV.

(7)

10. Petugas Perpustakaan Pusat IPB, Universitas Indonesia, yang telah menyediakan waktunya membantu penulis dalam mencari literatur.

11. Budi Santoso atas perhatian, dukungan, doa, dan semangatnya yang diberikan kepada penulis.

12. Melody Maker dan Whisper.inc, Mehdy, Ally, Zakky, Ibrahim, Dhika, Paolo, Ryo. Juga kepada Bunda dan Ayah Maker, Mbah Ibu dan Mba Nurul.

13. The Makers Family untuk semua semangat dan dukungan serta persahabatan yang indah.

14. Semua teman di Japan Community atas dukungan dan semangat yang telah diberikan.

15. Semua pihak yang telah membantu dan mendukung penulis dalam mengerjakan skripsi ini.

Penulis sangat berharap apabila skripsi ini dapat diterima dan bermanfaat bagi semua pihak.

Penulis,

Nadia Priona Eri Shanti

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL………x

DAFTAR GAMBAR………...xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang………... 1

1.2 Masalah……….. ………2

1.3 Tujuan……….3

1.4 Kegunaan Penelitian………...3

1.5 Batasan Penelitian……….……….4.

BAB II PENDEKATAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Komunikasi Massa………..5

2.1.2 Televisi dan Perkembangannya………..15

2.1.3 Khalayak Televisi………...25

2.1.4 Selektifitas Pemilihan Acara Televisi………....29

2.1.5 Segmentasi Khalayak……….30

2.2 Kerangka Pemikiran………..32

2.3 Hipotesa 2.3.1 Hipotesa Umum……….33

2.3.2 Hipotesa Kerja………...34

2.4 Definisi Operasional………..35

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian……….37

3.2 Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian...37

3.3 Metode Pemilihan Responden………...38

3.4 Metode Pengumpulan Data………40

3.5 Metode Pengolahan Data dan Analisis Data...40

(9)

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN STASIUN TRANS TV

4.1 Profil Lokasi Penelitian...41 4.2 Profil Stasiun Televisi Trans TV...42 4.3 Profil Acara

4.3.1 Profil Extravaganza...46 4.3.2 Profil Komedi Betawi...48

BAB V SEGMENTASI YANG DITETAPKAN OLEH STASIUN TRANS TV 5.1 Program Acara Extravaganza...50 5.2 Program Acara Komedi Betawi...51

BAB VI PROFIL DAN POLA MENONTON TELEVISI KHALAYAK 6.1 Profil Khalayak...52 6.2 Pola Menonton Televisi Khalayak

6.2.1 Durasi Menonton Televisi...55 6.2.2 Pilihan Acara...57 6.2.3 Frekuensi Menonton Extravaganza dan Komedi Betawi...63

BAB VII PERILAKU KHALAYAK MENONTON PROGRAM KOMEDI 7.1 Penilaian Terhadap Mutu Cerita

7.1.1 Penilaian Terhadap Cerita Extravaganza...67 7.1.2 Penilaian Terhadap Cerita Komedi Betawi...70 7.2 Penilaian Terhadap Pemeran

7.2.1 Penilaian Terhadap Pemeran Extravaganza...75 7.2.2 Penilaian Terhadap Pemeran Komedi Betawi...78 7.3 Penilaian Terhadap Unsur Musik

7.3.1 Penilaian terhadap Unsur Musik Extravaganza...80 7.3.2 Penilaian Terhadap Unsur Musik Komedi Betawi...82 7.4 Penilaian Terhadap Unsur Komedi

7.4.1 Penilaian Terhadap Unsur Komedi Extravaganza...83

(10)

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan...88

7.2 Saran………....90

DAFTAR PUSTAKA………..91

LAMPIRAN...93

(11)

DAFTAR TABEL

Nomor Teks Halaman

Tabel 1. Jumlah Responden Menurut Ciri Pribadinya

di RT 07 dan RT 12, Kelurahan Mampang Prapatan

Jakarta Selatan Tahun 2006 53

Tabel 2. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Durasi Menonton Televisi dan Ciri Pribadinya di RT 07 dan RT 12, Kelurahan Mampang Prapatan

Jakarta Selatan Tahun 2006 56

Tabel 3. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Pilihan Acara Televisi dan Ciri Pribadinya

di RT 07 dan RT 12, Kelurahan Mampang Prapatan

Jakarta Selatan Tahun 2006 59

Tabel 4. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Pilihan Acara Komedi dan Ciri Pribadinya

di RT 07 dan RT 12, Kelurahan Mampang Prapatan

Jakarta Selatan, Tahun 2006 62

Tabel 5. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Frekuensi Menonton Extravaganza dan Komedi Betawi Setiap Minggu dan Ciri Pribadinya di RT 07 dan RT 12, Kelurahan

Mampang Prapatan Jakarta Selatan Tahun 2006 66

Tabel 6. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Penilaiannya Terhadap Cerita Extravaganza dan Ciri Pribadinya di RT 07 dan RT 12,

(12)

Tabel 7. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Penilaiannya Terhadap Cerita Komedi Betawi dan Ciri Pribadinya di RT 07 dan RT 12, Kelurahan Mampang Prapatan

Jakarta Selatan Tahun 2006 71

Tabel 8. Jumlah dan Persentase Responden Menurut

Pengetahuan Terhadap Nama Pemain Extravaganza dan Komedi Betawi, dan Ciri Pribadinya

di RT 07 dan RT 12, Kelurahan Mampang Prapatan

Jakarta Selatan Tahun 2006 75

Tabel 9. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Penilaiannya Terhadap Pemeran Extravaganza dan Ciri Pribadinya di RT 07 dan RT 12,

Kelurahan Mampang Prapatan

Jakarta Selatan Tahun 2006 77

Tabel 10. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Penilaiannya Terhadap Pemeran Komedi Betawi dan Ciri Pribadinya di RT 07 dan RT 12, Kelurahan Mampang Prapatan

Jakarta Selatan Tahun 2006 79

Tabel 11. Jumlah dan Persentase Responden Menurut

Penilaiannya Terhadap Unsur Musik Extravaganza dan Ciri Pribadinya di RT 07 dan RT 12,

Kelurahan Mampang Prapatan

Jakarta Selatan Tahun 2006 81

(13)

Tabel 12. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Penilaiannya Terhadap Unsur Musik Komedi Betawi dan Ciri Pribadinya di RT 07 dan RT 12, Kelurahan Mampang Prapatan

Jakarta Selatan Tahun 2006 83

Tabel 13. Jumlah dan Persentase Responden Menurut

Penilaiannya Terhadap Unsur Komedi Extravaganza dan Ciri Pribadinya di RT 07 dan RT 12,

Kelurahan Mampang Prapatan

Jakarta Selatan Tahun 2006 85

Tabel 14. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Penilaiannya Terhadap Unsur Komedi

Komedi Betawi dan Ciri Pribadinya di RT 07 dan RT 12, Kelurahan Mampang Prapatan

Jakarta Selatan Tahun 2006 87

(14)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Teks Halaman

Gambar 1. Proses Komunikasi Massa 6

Gambar 2. Pola Pancaran Gelombang Elektonika 17 Gambar 3. Kerangka Pemikiran Dilihat dari

Karakteristik Khalayak, Pola Menonton

Televisi dan Perilaku Menonton Program Komedi 33

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Televisi merupakan media massa yang paling banyak diminati oleh masyarakat. Selain memuat informasi yang lebih lengkap, televisi juga merupakan media yang paling menghibur dan mendidik (Caldwell, 2000b). Salah satu stasiun televisi yang kini menjadi sorotan adalah Trans TV, hal ini dikarenakan stasiun televisi ini banyak memproduksi tayangan acaranya sendiri (In House Production), yaitu sekitar 40 persen dari keseluruhan acaranya. Stasiun televisi ini memiliki berbagai macam tayangan acara, salah satunya adalah tayangan komedi. Tayangan komedi merupakan acara yang paling banyak diminati oleh khalayak. Hal tersebut diketahui dari hasil polling di setiap ulang tahun Trans TV yang menyatakan tayangan pilihan khalayak yang berada pada urutan pertama adalah tayangan komedi.

Acara komedi termasuk dalam program hiburan, dimana khalayak yang menikmatinya merasa senang. Acara ini menjadi semakin beragam dan telah menjadi tayangan yang dapat dijadikan sebagai penarik minat khalayak untuk menonton dan untuk menaikkan rating acara di stasiun televisi yang berkaitan, serta untuk menaikkan jumlah pemasangan iklan.

Segmentasi khalayak dilakukan agar stasiun televisi dapat melayani khalayak secara lebih baik, melakukan komunikasi yang lebih persuasif, dan yang terpenting adalah memuaskan kebutuhan dan keinginan khalayak yang dituju.

(16)

program komedi. Program komedi ini memiliki segmentasi khalayak yang telah ditetapkan pada awal pembuatan dan produksinya. Segmentasi ini dilakukan untuk mencapai kelompok khalayak tertentu yang sesuai dengan tema acara dan tujuan pembuatannya.

Program komedi ini selain dapat menghibur khalayaknya, juga dapat memberikan efek pemanfaatan media massa (Rakhmat, 2001), yaitu efek kehadiran media massa, dimana program komedi menjadi tayangan yang menjadi tayangan yang diminati oleh khalayak, efek kognitif berupa perubahan apa yang diketahui oleh khalayak, seperti pengetahuan khalayak tentang program komedi beserta hal-hal yang menyangkut program acara tersebut. Efek afektif dari program komedi ini berkenaan dengan perubahan pada hal yang disenangi, dibenci atau dirasakan. Efek behavioral yang berkaitan dengan program komedi dapat dilihat dari perilaku, tindakan, kegiatan, atau kebiasaan yang diikuti dan dicontoh oleh khalayak. Efek pemanfaatan media tersebut merupakan hasil dari penilaian khalayak terhadap program acara komedi.

1.2 Masalah

Setiap program acara memiliki segmentasi khalayaknya masing-masing, salah satunya adalah program komedi. Penelitian tentang segmen dan penilaian khalayak ini sangat diperlukan karena program komedi ini merupakan salah satu program acara yang paling banyak diminati oleh khalayak.

Stasiun televisi telah menerapkan segmentasi khalayaknya, berdasarkan variabel- variabel yang telah ditentukan untuk mencapai kelompok khalayak tertentu. Oleh karena itu dapat dirumuskan masalah, yaitu :

(17)

1. Bagaimanakah ciri pribadi khalayak program acara komedi?

2. Bagaimanakah pola menonton khalayak program acara komedi stasiun penyiaran televisi?

3. Bagaimanakah perilaku khalayak terhadap program acara komedi di televisi?

4. Apakah khalayak program acara komedi sama dengan segmen yang telah ditetapkan oleh stasiun penyiaran televisi?

1.3 Tujuan

Tingginya minat khalayak dalam menonton program acara komedi dan segmentasi yang telah ditetapkan oleh stasiun televisi, maka penulis menetapkan tujuan dari penulisan ini, yaitu:

1. Untuk mengidentifikasi ciri pribadi khalayak program acara komedi.

2. Untuk mengetahui pola menonton terhadap program acara komedi stasiun penyiaran televisi.

3. Untuk mengetahui perilaku khalayak terhadap program acara komedi di televisi.

4. Untuk membandingkan khalayak acara dengan segmen yang telah ditetapkan oleh stasiun penyiaran televisi.

(18)

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian mengenai khalayak program acara komedi ini diharapkan dapat berguna bagi pembacanya untuk berbagai hal, yaitu :

1. Kegunaan bagi penulis adalah untuk mengetahui segmen khalayak yang terbentuk di masyarakat, khususnya program komedi.

2. Kegunaan bagi pihak stasiun televisi adalah untuk mengetahui ketepatan segmentasi khalayak yang telah ditetapkan terhadap program acara komedinya dan untuk mengidentifikasi adanya variabel lain yang dapat mempengaruhi pola menonton khalayak.

3. Kegunaan bagi masyarakat adalah untuk mengetahui pola menonton program acara komedi dan untuk mengetahui tayangan yang sesuai dengan segmen khalayaknya.

1.5 Batasan Penelitian

Penelitian ini meneliti mengenai penilaian khalayak terhadap program komedi di televisi. Dalam hal ini, faktor-faktor yang mempengaruhi pola menonton khalayak dalam program acara komedi di televisi difokuskan pada program komedi di stasiun Trans TV. Pemilihan stasiun televisi ini dikarenakan stasiun ini memiliki variasi program acara televisi yang diproduksinya sendiri, yaitu berupa program acara komedi yang memiliki segmentasi khalayaknya tersendiri. Trans TV juga merupakan salah satu televisi swasta yang paling banyak ditonton oleh khalayak. Penelitian ini menekankan pada penilaian khalayak terhadap program acara komedi di televisi.

(19)

BAB II

PENDEKATAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Komunikasi Massa

Manusia melakukan komunikasi dalam aktifitas sehari-hari. Selain itu juga komunikasi merupakan cara yang efektif untuk saling berinteraksi maupun mempererat hubungan antar manusia. Komunikasi juga dapat digunakan untuk memperluas sebaran informasi. Adapun komunikasi yang melibatkan banyak orang disebut komunikasi massa. Gerbner (1967) dalam Rakhmat (2004) menyatakan bahwa komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri. Komunikasi ini juga dapat diartikan sebagai komunikasi melalui media massa, yaitu surat kabar, majalah, radio, televisi, dan film. Yang memiliki empat tanda pokok menurut Elizabeth- Noelle Neuman (1973) yang dikutip oleh Rakhmat (2004), yaitu bersifat tidak langsung, satu arah, bersifat terbuka, dan mempunyai publik yang secara geografis tersebar.

Komunikasi juga merupakan salah satu cabang ilmu yang dilahirkan dari teori-teori komunikasi yang dapat memperkokoh keberadaan komunikasi sebagai ilmu yang dapat dimasukkan dalam klasifikasi kelompok ilmu-ilmu sosial. Dalam ilmu komunikasi ini terdapat pembahasan mengenai khalayak komunikasi yang tidak dapat lepas dari proses komunikasi massa. Komunikasi massa dapat

(20)

diartikan sebagai proses penyampaian ide atau pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media massa.

Message

Sender Channel Receiver

Feed Back

Gambar 1. Proses Komunikasi Massa

Proses komunikasi massa diawali oleh komunikator (sender) yang menyampaikan message kepada komunikan (receiver) melalui media (channel) dan kemudian komunikan memberikan feed back atas message yang diterimanya kepada komunikator.

1. Komunikator atau juga dapat disebut sebagai sender, encoder, atau information source merupakan orang yang menyampaikan pesan.

Aristoteles memberikan tiga etos untuk menjadi seorang komunikator yang baik, yaitu good will, good sense, dan good moral character. Good will dapat diartikan sebagai kemauan yang baik untuk memberikan pesan positif bagi tercapainya tujuan komunikasi. Sedangkan good sense adalah mewajibkan komunikator untuk memiliki intelektualitas yang tinggi, dan good moral character adalah sebagai komunikator diharuskan memiliki karakter moral yang baik.

2. Message atau pesan merupakan gagasan atau ide yang disampaikan komunikator kepada komunikan untuk tujuan tertentu. Ada faktor-faktor

(21)

yang harus diperhatikan dalam mempelajari pesan komunikasi, yaitu isi pesan, struktur pesan, format pesan, sifat pesan, dan bahasa pesan.

3. Media massa yang merupakan sarana bagi komunikator untuk menyampaikan pesan kepada massa khalayak dapat dibedakan kedalam media elektronik, yaitu audio dan audio-visual, dan media cetak. Salah satu contoh media massa elektronik adalah televisi. Televisi merupakan media yang paling cepat mengalami perkembangan teknologi yang memiliki karakteristik mahal, terikat pada tenaga listrik sehingga jangkauannya terbatas, dan memerlukan konsentrasi mata dan telinga. Akan tetapi televisi memiliki keunggulan dalam efektifitas sampai pada tingkat behavioral.

4. Komunikan. Pesan komunikasi massa ditujukan kepada khalayak (komunikan) yang relatif besar, heterogen, dan anonim. Khalayak dapat diartikan sebagai sejumlah manusia yang menerima suatu pesan dalam waktu yang sama kendati berada pada tempat yang berjauhan dan tidak saling mengenal serta tidak dapat mengadakan interaksi secara langsung dengan komunikator. Herbert Blumer mengatakan bahwa terdapat empat komponen sosiologis yang dapat dipertimbangkan sebagai identitas khalayak, yaitu :

a) Berasal dari berbagai strata sosial (berbeda umur, tingkat pendidikan, jabatan, pendapatan, dan gaya hidup).

b) Merupakan kelompok anonim yang terdiri dari individu-individu yang tidak saling mengenal.

(22)

c) Karena secara fisik terpisah maka hanya ada sedikit kemungkinan untuk interaksi dan tukar pengalaman sehingga kecil kemungkinan untuk terjadi kontak fisik.

d) Tidak terorganisasi sehingga tidak mungkin digerakkan untuk kepentingan tertentu.

5. Efek. Pada prinsipnya terdapat dua efek dari proses komunikasi massa, yaitu massa dan efek dari pesan komunikasi itu sendiri. Efek kehadiran media massa antara lain nampak pada perubahan sikap, berubahnya pola hidup sehari-hari, dan mungkin juga dapat merubah sistem sosial.

Sedangkan efek pesan komunikasi terjadi dengan adanya perubahan tingkat pengetahuan (kognitif), perubahan sikap (afektif), perubahan perilaku (konatif), dan perubahan sosial (social change).

Selain itu dalam Rakhmat (2004) dinyatakan bahwa komunikasi massa memiliki karakteristik psikologis yang tampak pada pengendalian arus informasi, umpan balik, stimulasi alat indra, dan proporsi unsur isi dengan hubungan.

a. Pengendalian Arus Informasi

Mengendalikan arus informasi berarti mengatur jalannya pesan yang disampaikan dan yang diterima.

b. Umpan balik

Umpan balik merupakan keluaran (output) sistem yang “dibalikkan kembali” (feed back) kepada sistem sebagai masukan (input) tambahan dan berfungsi mengatur keluaran berikutnya. Dalam komunikasi, umpan balik dapat diartikan sebagai respons, peneguhan, dan servomekanisme internal (Fisher, 1978). Sebagai respons, umpan balik ini merupakan pesan yang dikirim kembali

(23)

dari penerima kepada sumber, memberi tahu sumber tentang reaksi penerima, dan memberikan landasan kepada sumber untuk menentukan perilaku selanjutnya.

Umpan balik yang positif adalah respons yang mendorong seseorang atau perilaku komunikatif berikutnya, dan umpan balik yang negatif adalah respons yang menghambat perilaku komunikatif.

c. Stimulasi Alat Indra

Menurut Mc Luhan (1964) sejarah perkembangan penggunaan media massa, dapat dibagi atas : (a) babak tribal dimana alat indera manusia bebas menangkap berbagai stimuli tanpa dibatasi teknologi komunikasi. (b) babak Gutenberg, dimana ketika mesin cetak menyebabkan orang berkomunikasi secara tertulis dan membaca dari kiri ke kanan. (c) babak Noetribal, dimana alat-alat elektronis memungkinkan manusia menggunakan beberapa macam alat indera dalam komunikasi.

d. Proporsi unsur isi dengan hubungan

Pada komunikasi massa unsur isi merupakan hal yang sangat penting. Selain itu pesan media massa juga dapat disimpan, diklarifikasi, dan didokumentasikan.

Selanjutnya Rakhmat (2001) mengatakan bahwa terdapat empat buah efek dari pemanfaatan media massa, yang terdiri dari :

a) Efek kehadiran media massa, yaitu menyangkut pengaruh keberadaan media massa secara fisik.

b) Efek kognitif, yaitu mengenai terjadinya perubahan pada apa yang diketahui, dipahami atau dipersepsikan.

c) Efek afektif, yaitu yang berkenaan dengan timbulnya perubahan pada apa

(24)

d) Efek behavioral, yaitu berkaitan dengan perilaku nyata yang dapat diamati, yang mencakup pola-pola tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berperilaku.

Media massa merupakan salah satu agen sosial yang memiliki peranan dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu menyajikan informasi, berita atau hiburan.

Selain itu media massa juga memiliki kemampuan untuk mengajak dan mengukuhkan norma-norma tertentu dalam masyarakat (Wijaya, 2004).

Penelitian mengenai efek komunikasi massa diawali pada tanggal 30 Oktober 1983 yang meneliti tentang efek komunikasi massa radio yang menyiarkan serangan makhluk Mars ke bumi, Dari penelitian ini Melvin DeFleur (1975) mencetuskan sebuah teori, yaitu Instintive S-R Theory yang menyatakan bahwa media menyajikan stimuli perkasa yang secara seragam diperhatikan oleh massa. Stimuli ini membangkitkan desakan, emosi, atau proses lain yang hampir tidak terkontrol oleh individu. Setiap anggota massa memberikan respon yang sama pada stimuli yang datang dari media massa. Dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan dalam bidang komunikasi massa, seperti penelitian Paul Lazarfeld, Leon Festinger, dan penelitian-penelitian yang lainnya, Mc-Quail merangkumkan hasil penelitian seperti yang tertera dibawah ini :

1) Terdapat kesepakatan bahwa bila efek terjadi, maka efek itu sering kali berbentuk peneguhan dari sikap dan pendapatan yang telah ada.

2) Efek yang timbul akan berbeda tergantung pada prestise atau penilaian terhadap sumber komunikasi.

3) Makin sempurna monopoli komunikasi massa, maka makin besar kemungkinan perubahan pendapat dapat ditimbulkan pada arah yang dikehendaki.

(25)

4) Sejauh mana suatu persoalan dianggap penting oleh khalayak akan mempengaruhi kemungkinan pengaruh media massa, komunikasi massa efektif dalam menimbulkan pergeseran yang berkenaan dengan persoalan yang tidak dikenal, tidak begitu dirasakan, atau tidak begitu penting.

5) Pemilihan atau penafsiran oleh khalayak dipengaruhi oleh pendapat dan kepentingan yang ada dan oleh norma-norma kelompok.

6) Struktur hubungan interpersonal pada khalayak mengantarai arus isi komunikasi, membatasi, dan menentukan efek yang terjadi.

Penelitian-penelitian berikutnya bergeser dari komunikator ke komunikate, dari sumber ke penerima. Khalayak dianggap aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Pendekatan ini dikenal dengan pendekatan “Uses and Gratification” (penguasaan dan pemuasan). Pendekatan ini pertama kali dinyatakan oleh Eluhi Katz (1959) sebagai reaksi terhadap Bernard Berelson yang menyatakan bahwa penelitian komunikasi mengenai efek media massa sudah mati. Yang mulai hidup adalah penelitian tentang usaha untuk menjawab pertanyaan “what do people do with media”. Karena penggunaan media adalah salah satu cara untuk memperoleh pemenuhan kebutuhan, maka efek media sekarang didefinisikan sebagai situasi ketika pemuasan kebutuhan tercapai.

Menurut pencetusnya, Elihu Katz, Jay G. Blumler, dan Michael Gurevitch, Uses and Gratification meneliti asal mula kebutuhan secara psikologis dan sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain, yang membawa pada pola terpaan media yang berlainan (atau keterlibatan pada kegiatan lain), dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan dan akibat-akibat lain,

(26)

Dalam model uses and gratification terdapat asumsi-asumsi yang mendasari teori ini, yaitu :

1) Khalayak dianggap aktif, sebagian penting dari penggunaan media massa diasumsikan mempunyai tujuan.

2) Dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif untuk mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media terletak pada angggota khalayak.

3) Media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain untuk memuaskan kebutuhannya. Kebutuhan yang dipenuhi media hanyalah bagian dari rentangan kebutuhan manusia yang lebih luas. Bagaimana kebutuhan ini terpenuhi melalui konsumsi media amat tergantung kepada perilaku khalayak yang bersangkutan.

4) Banyak tujuan pemilih media massa disimpulkan dari data yang diberikan anggota khalayak; artinya, orang dianggap cukup mengerti untuk melaporkan kepentingan dan motif pada situasi-situasi tertentu.

5) Penilaian tentang arti kultural dari media massa harus ditangguhkan sebelum diteliti lebih dahulu orientasi khalayaknya.

Pendekatan uses and gratification ini memiliki keuntungan dan kerugian, antara lain yaitu keuntungannya dapat memberikan deskripsi dinamis tentang khalayak, anggota khalayak tidak sepenuhnya pasif, dan menjelaskan penggunaan media. Sedangkan kerugiaannya adalah stimuli tidak diperhitungkan, hanya model proses penerimaan saja, terlalu melebih-lebihkan rasionalitas dan keaktifan anggota khalayak, dan menggunakan faktor-faktor mental (seperti motif mencari keterangan).

(27)

Jika dilihat dari teori motivasional dari William J. McGuire (1974) terdapat 16 motif yang dikelompokkan dalam motif kognitif dan motif afektif.

1. Motif Kognitif dan Gratifikasi Media

Motif kognitif menekankan kebutuhan manusia akan informasi dan kebutuhan untuk mencapai tingkat ideasional tertentu. Motif afektif menekankan aspek perasaan dan kebutuhan mencapai tingkat emosional tertentu.

Pada motif kognitif terdapat orientasi pemeliharaan dan pertumbuhan. Pada motif kognitif yang berorientasi pada pemeliharaan McGuire menyebutkan empat teori, yaitu teori konsistensi yang menekankan kebutuhan individu untuk memelihara orientasi eksternal pada lingkungan, teori kategorisasi yang menjelaskan upaya manusia untuk memberikan upaya manusia untuk memberikan makna tentang dunia berdasarkan kategori internal dalam diri kita, dan teori objektifitas yang menerangkan upaya manusia untuk memberikan makna tentang dunia berdasarkan hal-hal eksternal. Disamping itu juga terdapat empat teori kognitif lainnya, yaitu otonomi, stimulasi, teori teleologis dan utilitarian, yang menekankan individu sebagai makhluk yang berusaha mengembangkan kondisi kignitif yang dimilikinya.

Teori otonomi melihat manusia sebagai makhluk yang berusaha mengaktualisasikan dirinya sehingga mencapai identitas kepribadian yang otonom. Teori stimulasi memandang manusia sebagai makhluk yang “lapar stimuli”, yang senatiasa mencari pengalaman-pengalaman baru, yang selalu berusaha memperoleh hal-hal yang memperkaya pemikirannya.

Sedangkan teori teleologis memandang manusia sebagai makhluk yang

(28)

internal dari kondisi yang dikehendakinya. Teori utilitarian memandang individu sebagai orang yang memperlakukan setiap situasi sebagai peluang untuk memperoleh informasi yang berguna atau keterampilan baru yang diperlukan dalam menghadapi tantangan hidup.

2. Motif Afektif dan Gratifikasi Media

Berikut ini terdapat delapan teori yang berkenaan dengan motif afektif yang ditandai oleh kondisi perasaan atau dinamika yang menggerakkan manusia mencapai tingkat perasaan tertentu. Teori yang pertama adalah teori reduksi tegangan yang memandang manusia sebagai sistem tegangan yang memperoleh kepuasan pada pengurangan ketegangan, orang berusaha menghilangkan atau mengurangi ketegangan dengan mengungkapkannya.

Teori yang kedua adalah teori ekspresif yang memandang bahwa orang memperoleh kepuasaan dalam mengungkapkan eksistensi dirinya dengan menampakkan perasaan dan keyakinannya. Teori yang berikutnya adalah teori egodefensif yang beranggapan bahwa dalam hidup ini kita mengembangkan citra diri serta berusaha hidup sesuai dengan diri dan dunia kita. Teori ini menjelaskan mengapa terjadi perhatian selektif atau pemberian makna terhadap pesan komunikasi yang mengalami distorsi.

Teori yang keempat adalah teori peneguhan yang menekankan bahwa orang dalam situasi tertentu akan bertingkah laku dengan suatu cara yang membawanya kepada ganjaran seperti yang telah dialaminya pada waktu lalu, banyak orang menggunakan media massa karena mendatangkan ganjaran berupa informasi, hiburan, hubungan dengan orang lain, dan sebagianya. Teori yang berikutnya adalah teori penonjolan yang memandang manusia sebagai makhluk yang selalu

(29)

mengembangkan seluruh potensinya untuk memperoleh penghargaan dari dirinya dan dari orang lain.

Kemudian teori identifikasi yang melihat manusia sebagai pemain peranan yang berusaha memuaskan egonya dengan menambahkan peranan yang memuaskan konsep dirinya, kepuasan ini diperoleh bila orang mendapatkan identitas peranan tambahan yang meningkatkan konsep dirinya. Teori yang terakhir adalah teori peniruan yang memandang manusia sebagai makhluk yang selalu mengembangkan kemampuan afektifnya.

Selain motif-motif diatas, terdapat juga efek komunikasi massa, yaitu efek kognitif, efek efektif, dan efek behavioral. Efek kognitif terjadi bila terdapat perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsi khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan, atau informasi. Efek afektif timbul karena adanya perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi, atau dibenci khalayak. Sedangkan efek behavioral merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati, yang meliputi, yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berperilaku. Disamping itu juga terdapat efek proposional kognitif yang menekankan pada bagaimana media massa dapat memberikan manfaat yang dikehendaki oleh masyarakat.

Pada tahun 1960, Joseph Kalpper menyatakan terdapat beberapa pengaruh media massa yang disimpulkan pada lima prinsip umum berikut ini :

1) Pengaruh komunikasi massa diantarai oleh faktor-faktor seperti predeposisi personal, proses selektif, keanggotaan kelompok (faktor personal).

(30)

2) Karena faktor-faktor ini, komunikasi massa biasanya berfungsi memperkokoh sikap dan pendapat yang ada, walaupun kadang-kadang berfungsi sebagai media pengubah.

3) Bila komunikasi massa menimbulkan perubahan sikap, perubahan kecil pada intensitas sikap lebih umum terjadi daripada “konversi” (perubahan seluruh sikap) dari satu sisi masalah ke sisi yang lain.

4) Komunikasi massa cukup efektif dalam mengubah sikap pada bidang-bidang dimana pendapat orang lemah.

Komunikasi massa cukup efektif dalam menciptakan pendapat tentang masalah-masalah baru bila tidak ada predeposisi yang harus diperteguh.

2.1.2 Televisi dan Perkembangannya

Media komunikasi massa berupa televisi merupakan salah satu media yang kini banyak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kini masyarakat, terutama masyarakat Indonesia dapat menikmati suguhan acara-acara dari televisi- televisi swasta yang ada di Indonesia, baik berupa tayangan drama, hiburan, berita, maupun tayangan musik dan juga olahraga. Pada dasarnya televisi dapat diartikan sebagai ”melihat dari jauh”.

Televisi dapat diartikan sebagai pemancar televisi yang berfungsi untuk mengubah dan memancarkan sinyal-sinyal gambar (view) bersama-sama dengan sinyal suara sehingga sinyal-sinyal tersebut dapat diterima oleh pesawat televisi penerima pada jarak yang jauh. (Setyobudi, 2004).

Jadi dapat dikatakan media televisi adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk melihat dan mendengar dari jarak jauh. Selain itu Kuswandi (1996)

(31)

mengatakan bahwa komunikasi massa media televisi ialah proses komunikasi antara komunikator dengan komunikan (massa) melalui sebuah sarana, yaitu televisi.

Komunikasi ini bersifat periodik dan penyelenggara komunikasi ini bukanlah perorangan melainkan sebuah organisasi yang kompleks dengan pembiayaan yang sangat besar. Komunikasi massa media televisi memperlihatkan bahwa setiap pesan yang disampaikan melalui media ini mempunyai tujuan mendapatkan khalayak sasaran serta mengharapkan umpan balik secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu juga agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh khalayak.

Menurut Setyobudi (2004) pada permulaannya media ini banyak melibatkan penemu-penemu dan ilmuwan-ilmuwan dari penjuru dunia, seperti Michael Faraday (ilmuwan Inggris, 1791-1867) dan James Clerk Maxwell (ilmuwan Inggris, 1831-1879) yang sama-sama mendalami ilmu tentang gelombang elektromagnetik sebagai media untuk mengirim gambar, suara maupun kombinasi gambar-suara (televisi) untuk dipancarkan dari satu tempat ke tempat yang lain dengan media udara.

Selain itu juga terdapat ilmuwan dari Jerman yang bernama Heinrich Rudolf Hertz (1857-1894) yang melakukan percobaan transmisi gelombang elektromagnetik. Kemudian percobaan-percobaan ini disempurnakan lagi oleh ilmuwan dari Italia, Guglielmo Marconi (1874-1937), yang membuat gelombang elektromagnetik sebagai media suara dan radio yang dikirim dapat diterima dengan baik pada tahun 1901.

(32)

Gelombang elektromagnetik

Pengirim (Transmitter) Penerima (Receiver) Gambar 2. Pola Pancaran Gelombang Elektonika

Percobaan-percobaan mengenai televisi ini tidak berhenti sampai disini saja.

Masih banyak terdapat percobaan-percobaan, seperti yang dilakukan oleh John L.

Baird pada tahun 1926 yang mengadakan eksperimen pemancar televisi, dan kemudian dilanjutkan lagi dengan percobaan oleh Laboratorium Perusahaan Telepone Bell pada tahun 1927. Pada awal tahun 1928, E. F. Anderson melakukan percobaan dan demonstrasi pemancar televisi ukuran tiga inchi persegi. Perkembangan televisi semakin terlihat pada tahun 1951 dan 1954 dimana saluran (channel) Ultra High Frequency (UHF) mulai dibuka dan ditemukannya televisi berwarna.

Negara di Eropa yang menjadi pelopor bagi perkembangan televisi adalah Jerman, yaitu pada tahun 1928, kemudian Perancis pada tahun 1935, Inggris pada tahun 1936. Sedangkan di Amerika Serikat, televisi mulai berkembang pada tahun 1939. Untuk perkembangan televisi di Indonesia dimulai pada tahun 1962, yaitu pada saat TVRI menyiarkan siaran langsung Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia yang ke-17.

(33)

Sejak tahun 1962, masyarakat dapat menikmati suguhan informasi, berita maupun hiburan melalui siaran TVRI sampai pada awal tahun 1990-an. Kemudian pada tahun 1990-an, banyak bermunculan televisi swasta yang mulai eksis didunia pertelevisian, yaitu Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), Surya Citra Televisi Indonesia (SCTV), Televisi Pendidikan/Keluarga Indonesia (TPI), Andalas Televisi (ANTEVE), dan Indosiar Visual Mandiri (INDOSIAR).

Kehadiran lima stasiun televisi swasta di atas dirasa belum cukup, maka Departemen Perhubungan dan Departemen Penerangan dengan Surat Keputusan (SK Menteri Penerangan No: 186/SK/Menpen/1999 memberikan izin kepada lima perusahaan Televisi swasta baru, yaitu PT Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV), TV 7 (PT Kompas Gramedia Group), PT Global Informasi Bermutu (Global TV), Lativi (PT Pasar Raya Mediakarya), dan Metro TV (Koran Media Indonesia).

SK Menpen RI No.286, diberikan izin bagi sembilan perusahaan baru sebagai cadangan apabila izin frekuensi sudah tersedia, yaitu PT MBM Telesindo Prima Lestari (MBM-TV), PT Dian Gema Mitra Guna ( Mitra-TV), PT Jawa Media Televisi Mandiri (JM-TV), Paramita Sadana Adiwara Televisi (Adiwara- TV), Cakrawala Tiara Kencana (Cakrawala-TV), PT Tifar Televisi 5 (TTV 5), PT Nuansa Lintas Nusantara (NLN-TV), PT Visi Muda Nusantara (VM TV), dan Televisi Muhammadiyah (TVM).

Namun Surat Keputusan itu mulai diperbaharui melalui khadiran peraturan yang lebih tinggi, yaitu Undang-undang No.32 tahun 2002 tentang undang- undang penyiaran dimana undang-undang tersebut lebih punya kelonggaran

(34)

Pasal 31 UU No. 32/2002 tentang penyiaran, bagian kesembilan dalam ayat- ayat yang berbunyi :

Lembaga penyiaran yang menyelenggarakan jasa penyiaran radio atau jasa penyiaran relevisi terdiri atas stasiun penyiaran jaringan dan/atau stasiun penyiaran lokal.

1. Lembaga penyiaran publik dapat menyelenggarakan siaran dengan sistem stasiun jaringan yang menjangkau seluruh wilayah Republik Indonesia.

2. Lembaga penyiaran swasta dapat menyelenggarakan siaran dengan sistem stasiun jaringan dengan jangkauan terbatas.

3. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan sistem stasiun jaringan disusun oleh KPI bersama Pemerintah.

4. Stasiun penyiaran lokal dapat didirikan pada lokasi tertentu dalam wilayah Negara Republik Indonesia dengan wilayah jangkauan siaran terbatas pada lokasi tersebut.

5. Mayoritas pemilik modal awal dan pengelolaan stasiun penyiaran lokal diutamakan kepada masyarakat di daerah tempat stasiun lokal itu berada.

Undang-undang penyiaran tersebut dapat memacu pertumbuhan televisi- televisi lokal atau yang berskala propinsi, kabupaten maupun kotamadya untuk terus mengembangkan dan meningkatkan mutu siarannya. Selain itu televisi- televisi lokal ini bermanfaat untuk dijadikan media dalam memperkenalkan potensi-potensi yang ada di daerah, pengenalan sumber daya manusia atau pengembangan lapangan kerja baru, pemerataan informasi edukatif , pengenalan teknologi serta dijadikan filter masuknya budaya negatif dari luar daerah tersebut agar budaya lokal akan tetap lestari.

(35)

Kuswandi (1996) juga mengatakan bahwa terdapat beberapa komponen penting yang harus ada sebagai sarana utama dalam komunikasi massa media televisi ialah, “news rader” (pembaca berita), “news caster” (penyaji berita),

“anchor man/woman” (kru televisi yang bertugas merangkai berita peristiwa),

“down the lines” (kru yang merangkap sebagai pembaca berita dan anchorman), serta “camera” (kamera televisi). Dalam menyampaikan pesannya, media televisi memiliki sifat-sifat, yaitu publisitas, periodesitas, universalitas, aktualitas, dan kontinuitas.

Perkembangan yang pesat dari isi media televisi kepada khalayaknya melahirkan jurnalistik televisi. Sumber berita, baik peristiwa maupun wawancara pendapat, diliput dengan menggunakan kamera elektronik yang dilengkapi mikrofon, sehingga menghasilkan audio-visual (suara atau gambar).

Televisi sebagai media yang menghibur juga dapat menjadi saluran komunikasi yang efektif. Keberadaan televisi sebagai salah satu media komunikasi massa menjadi bagian yang sangat penting sebagai sarana untuk berinteraksi satu dengan lainnya dalam berbagai hal yang menyangkut perbedaan dan persamaan persepsi tentang suatu isu yang sedang terjadi di belahan dunia.

Akan tetapi dengan kehadiran televisi ini juga perlu diwaspadai tentang monopoli negara maju terhadap arus informasi. Kemampuan media televisi dalam menarik perhatian massa menunjukkan bahwa media tersebut telah menguasai jarak secara geografis dan sosiologis.

Daya tarik media televisi sangatlah besar, sehingga dapat merubah pola-pola kehidupan sosial manusia. Media ini telah menjadi panutan baru bagi kehidupan

(36)

televisi dalam menguasai jarak dan ruang dan menjangkau jumlah khalayak yang sangat besar, nilai aktualitas terhadap berita yang sangat cepat, dan daya rangsang media yang cukup tinggi. Selain itu juga televisi memiliki daya tarik dalam informasi yang disajikan lebih singkat, jelas, dan sistematis sehingga pemirsa dapat dengan mudah menangkap isi pesan yang disampaikan. Televisi juga memiliki kekurangan, yaitu bersifat “transitory”, isi pesan yang disampaikan tidak dapat dimemori oleh pemirsa, media ini terikat dengan waktu menonton, televisi juga tidak dapat melakukan kritik sosial dan pengawasan secara langsung.

Munculnya media televisi sebagai salah satu alat komunikasi manusia jarak jauh menandakan bahwa teknologi komunikasi massa yang telah diciptakan oleh para ahli, memberikan satu fenomena sosial dalam kehidupan manusia dalam tinjuan interaksi dan harmoni sosial. Komunikasi massa ini sangat terorganisasi, terdapat pembagian kerja yang rumit, personifikasi yang terampil, intitusi yang profesional dalam melaksanakan operasional dalam melaksanakan operasional media televisi komunikasi massa dengan sistem teknologi satelit.

Media televisi juga berperan sebagai saluran komunikasi manusia yang mencirikan bahwa proses interaksi manusia merupakan hal terpenting bagi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan terhadap informasi yang sedang berkembang. Semakin beriringannya kepentingan manusia dengan hadirnya media televisi, maka dapat terjadi suatu kebutuhan manusia yang terpola dan terencana secara rutinitas, berdasarkan informasi media televisi yang hadir ke rumah pemirsa dengan berbagai sajian informasi dan hiburan.

Media televisi menyediakan informasi dan kebutuhan manusia secara keseluruhan, seperti berita cuaca, informasi finansial atau katalog berbagai macam

(37)

produk barang. Selain itu juga pemirsa akan selalu terdorong untuk mencari sesuatu yang tidak diketahui melalui media televisi. Kehadiran televisi juga memiliki dampak yang kini dipersoalkan tentang sejauh mana masyarakat menjadikan televisi sebagai alat untuk memperluas cakrawala pandang pola pikirnya serta sekaligus memunculkan kondisi peradaban manusia.

Media televisi berperan sebagai sarana tayangan realitas sosial yang dapat dijadikan cara untuk memantau diri manusia dalam kehidupan sosialnya. Media televisi sanggup menjauhkan manusia dari kenyataan hidup sehari-hari, akan tetapi media ini juga dapat disebut sebagai ‘jendela dunia besar’, karena realitas sosial yang berhasil ditayangkannya.

Media televisi bagian penyiaran atau broadcasting merupakan bagian dari beberapa divisi departemen dan merupakan bagian yang paling penting dari suatu stasiun televisi. Bagian ini merupakan panduan antara teknik operasional televisi dan program acara televisi. Oleh karena itu banyak stasiun televisi yang menempatkan bagian penyiaran menjadi satu departemen tersendiri yang biasa disebut dengan Departement On Air Broadcasting dibawah satu manager dengan membawahi dua bagian utama, yaitu Master Control dan VTR On Air, yang lebih memfokuskan pada support teknik, serta bagian Program Traffis Log dan Presentasi yang lebih mengkonsentrasikan pada kontroling waktu tayang program.

Departemen penyiaran ini lebih memfokuskan pada alur proses penyiaran yang dapat berlangsung sampai ke penonton dan mengenai sistem transmisi televisi. Pembahasan mengenai program acara televisi memiliki hubungan yang erat dengan masalah rating antar stasiun televisi, audience share, segmentasi

(38)

1. Sistem Master Control TV Broadcast

Bagian Master Control Room ini merupakan inti dari suatu stasiun televisi broadcasting karena pada bagian ini terletak pengaturan semua tayangan program dan komersial dari sebuah stasiun televisi, atau dapat juga disebut sebagai bagian incoming serta outgoing source controlling. Pada bagian ini juga terdapat sub bagian, yaitu :

- Bagian VTR Material Room, bagian ini bertugas menyangga keperluan materi-materi program, baik berupa film, sinetron atau drama, dan program non-drama yang bersifat taping dan sudah siap tayang berupa tape atau kaset. Selain itu juga bagian ini menyuplai keperluan materi-materi iklan (komersial).

- Bagian studio, bagian ini memiliki andil sebagai penyedia program-program regular baik yang bersifat “Live Event” atau “Recording Program”. Sistem studio ini merupakan integrasi dari berbagai unit sistem, seperti bagian audio (system mixer), video (system camera), pencahayaan (system lighting), dan seni atau art design.

- Bagian siaran langsung (Live Event Support), bagian ini berperan dalam merencanakan dan mengatur jalannya acara langsung atau live event dengan mengatur alokasi waktu, masalah teknis peralatan, serta kegagalan tayangan acara langsung jika terdapat masalah teknis ataupun masalah operasional.

- Bagian presentasi, bagian ini merupakan pengendali utama sebuah siaran yang sedang berlangsung. Bagian ini juga mengatur irama waktu suatu program acara on air (baik berupa live maupun taping) dan alokasi waktu iklan atau komersial yang akan ditayangkan. Selain itu juga menaikkan atau

(39)

menurunkan identitas siaran televisi (logo atau caption), menaikkan atau menurunkan informasi berjalan (crawl atau running text), dan quality control terhadap isi dari program acara maupun iklan.

- Bagian master control atau mc-console, bagian ini berperan sebagai pemantau alur sinyal audio dan video. Disamping itu juga menjadi penyangga utama penyelenggaraan utama penyelenggaraan siaran, membagi-bagikan sinyal input ke bagian lain (studio, presentasi, transfer room). Melakukan quality control audio dan video, menjadi koordinator utama saat siaran langsung, dan memonitoring siaran.

- Bagian rekam atau transfer room, bagian ini berperan untuk memberikan input materi siaran yang sudah siap tayang, merekam materi-materi live atau keperluan siaran tunda, merekam acara off-air (hasil on air yang sudah ke masyarakat), guna keperluan saksi ke pemasang iklan (broadcast on air witness), merekam materi-materi dari luar negeri, dimana bagian ini akan mentransfer ke sistem Indonesia.

- Bagian transmisi, bagian ini bertugas menyiarkan sinyal-sinyal audio dan video ke masyarakat.

2. Sistem Penyiaran Digital TV Broadcast

Dibawah ini terdapat keuntungan menggunakan sistem penyiaran digital, yaitu :

1. sangat sederhana dalam penginstalan

2. sangat kompatibel atau dapat mengikuti perkembangan teknologi yang ada, karena berbasis data atau digital komputerisasi.

(40)

3. mempersempit kesalahan operasional, karena lebih sederhana dalam pengoperasiannya.

4. menghemat dari sisi maintenance karena telah terdapat komputerisasi.

5. penginstalasiannya cukup menggunakan conventer sederhana.

6. sistem software yang terintegrasi dalam satu bahasa (satu operating system).

7. karena sifat pengoperasian sistem yang sederhana sehingga tidak memerlukan keterlibatan personel dalam jumlah yang banyak.

2.1.3 Khalayak Televisi

Khalayak merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam komunikasi massa, karena jika tidak ada khalayak maka komunikasi massa juga tidak akan ada. Khalayak dapat diartikan sebagai orang-orang yang berada dalam komunikasi massa.

Menurut Caldwell (2000, b) khalayak media memiliki tingkatan tersendiri, antara lainnya yaitu The elite stage, The mass stage, The specialized stage, and the interactive stage. The elite audience stage adalah khalayak yang berada pada skala yang relatif kecil dan merefleksikan segmentasi dalam suatu komunitas.

The mass audience stage adalah khalayak yang berada pada keseluruhan populasi dengan berbagai macam segmentasi yang terdapat di masyarakat. Sedangkan specialized audience stage merupakan khalayak yang telah tersegmentasi, dan merupakan suatu kelompok atau grup dari khalayak yang memiliki minat yang special atau minat yang sama. The interactive audience stage adalah individu khalayak yang memiliki kontrol yang selektif dari apa yang khalayak dengar maupun apa yang dilihat. Pada efeknya anggota khalayak juga terlibat pada

(41)

proses-proses sebagai editor, walaupun hanya sebagai penyalur informasi- informasi yang ada.

Caldwell (2000,b) juga menyatakan bahwa secara garis besar terdapat dua tipe khalayak, yaitu general public audience dan specialized audience. General audience merupakan khalayak yang sangat luas, heterogen, dan anonim secara lengkap, contohnya adalah pemirsa televisi dan radio. Specialized audience dibentuk dari berbagai macam kepentingan bersama antar anggotanya sehingga lebih homogen (paling tidak dalam satu aspek tertentu).

Pada prinsipnya terdapat tiga sub kelompok dasar dari khalayak, yaitu the illirate, the pragmatist, dan the intellectual. The illirate merupakan kelompok anggota khalayak yang sebenarnya dapat membaca dan menulis tetapi mereka lebih tertarik pada media audio-visual dengan orientasi pada pesan-pesan superficial dan full action program. The pragmatist merupakan anggota khalayak yang sedang melibatkan diri dalam mekanisme masyarakatnya, mempunyai mobilitas yang cukup tinggi, berpendidikan menengah ke atas, berpendapatan cukup dan bergaya hidup modern. The intellectual merupakan segmen terkecil dari khalayak (tidak lebih dari sepuluh persen), mengelompokkan anggota khalayak yang kreatif, bertipe pemikir, berorientasi pada idealisme, tidak berambisi untuk mendapatkan materi, dan menjadi personal reference bagi khalayak yang lainnya.

Menurut Hiebert (1979), khalayak mengacu pada individu-individu yang secara nyata menggunakan isi media. Khalayak juga merupakan suatu realita karena anggota dari khalayak secara nyata mengkonsumsi apa yang media

(42)

perspektif tentang bagaimana khalayak berinteraksi dengan media massa dan pesan yang dibawanya, yaitu The Individual-Differences Perspective, The Social- Categories Perspective, dan The Social-Relationships Perspective. The Individual-Differences Perspective menggambarkan khalayak dari sisi tingkah laku, dimana proses belajar merupakan stimulus-respon dasar. Pada persfektif ini mengatakan bahwa setiap orang memiliki respon yang sama terhadap suatu pesan.

Dalam The Social-Categories Perspective terdapat kumpulan sosial pada komunitas di Amerika Serikat yang didasari oleh karakteristik jenis kelamin, umur, pendidikan, pendapatan, kepentingan, dan lain-lain. Anggota khalayak memiliki norma sosial yang sama, nilai yang sama, dan perilaku yang sama juga.

Dengan menggunakan persfektif ini, khalayak dihubungkan secara budaya dan berbagi a common frame reference atau kerangka umum referensi.

Pada The Social-Relationships Perspective, hubungan informal secara signifikan mempengaruhi khalayak. Dampak dari komunikasi yang diberikan diubah oleh seseorang yang memiliki hubungan sosial yang besar dengan khalayak. Dalam persfektif ini yang memiliki dampak yang signifikan bukanlah stimulus dari media, melainkan interaksi informal dengan khalayak lainnya dan pemuka pendapat yang menciptakan respon umum.

Khalayak merupakan suatu kesatuan yang berjumlah besar, dan tiap-tiap khalayak akan bereaksi secara individual. Reaksi individual ini bisa saja sama satu dengan yang lainnya. Interaksi khalayak dengan khalayak lainnya, ataupun dengan bukan anggota khalayak, dan pemuka pendapat memiliki dampak kepada bagaimana khalayak merespon dan dapat memimpin reaksi khalayak umum.

(43)

Hiebert (1979) mengatakan bahwa terdapat karakteristik khalayak komunikasi massa, yaitu khalayak cenderung tersusun dari individual-individual yang memiliki pengalaman yang sama dan terpengaruh oleh hubungan sosial interpersonal, khalayak cenderung berjumlah besar, khalayak cenderung bersifat heterogen, khalayak cenderung anonimus, dan khalayak cenderung terpisah secara fisik dari komunikator.

Khalayak merupakan bagian yang sangat penting dan memegang peranan yang sangat besar dalam komunikasi massa. Khalayak dapat diartikan sebagai masyarakat yang menggunakan media massa sebagai sumber pemenuhan kebutuhan bermedianya. Sedangkan penelitian khalayak adalah upaya untuk mencari data mengenai khalayak.

Data mengenai khalayak mencangkup variabel-variabel jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, pendapatan, kedudukan atau jabatan, dan pemilikan media.

Selain itu juga terdapat istilah media exposure, yaitu menekankan pada usaha untuk mencari data khalayak tentang penggunaan media, baik jenis media, frekuensi penggunaan, maupun durasi penggunaan. Disamping itui juga terdapat istilah audience rating yang digunakan untuk mengetahui persepsi khalayak terhadap media, jenis informasi, format acara, dan komunikator yang menjadi favorit khalayak. Audience rating ini sangat baik dilakukan untuk mencari informasi yang paling dibutuhkan untuk mencari informasi yang paling dibutuhkan khalayak, media yang sering digunakan khalayak, format acara yang paling disenangi, dan komunikator yang paling baik dalam menyampaikan pesan- pesan komunikasi massa.

(44)

Terdapat penelitian mengenai efek media massa terhadap khalayak dalam media massa yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kehadiran suatu media atau proses penyampaian pesan mempengaruhi khalayak dalam berfikir, bersikap, dan berperilaku. Penelitian efek ini juga untuk mengetahui sejauh mana perubahan sosial terjadi karena kehadiran media ataupun karena pesan media massa.

Dua peranan yang dilakukan penelitian khalayak dalam komunikasi, yaitu peranan ilmiah dan peranan praktis. Peranan ilmiah yang dilakukan penelitian khalayak adalah memberi ciri ilmiah pada ilmu komunikasi massa, karena salah satu ciri keilmiahan suatu pengetahuan adalah penelitian dan mengembangkan sistem penelitian, menginformasikan eksistensi suatu teori apakah telah ditumbangkan oleh teori lain atau diperkuat keberadaannya, dan melahirkan teori- teori baru yang dapat memperkuat eksistensi komunikasi massa dalam jajaran ilmu-ilmu sosial.

Peranan praktis adalah memberikan informasi kepada broadcaster (stasiun penyiaran) mengenai profil khalayak, kebutuhan khalayak akan media (informasi, hiburan, program-program pendidikan, budaya, dan sebagainya), dan respon khalayak setelah menerima pesan komunikasi massa. Selain itu juga memberikan rekomendasi kepada broadcaster untuk meningkatkan kualitas siarannya berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh setelah melakukan penelitian lapangan.

Terdapat dimensi-dimensi yang tidak bisa lepas dalam menganalisis khalayak, yaitu komponen yang berhubungan dengan angka, seperti sirkulasi,

(45)

rating, tingginya box office, jumlah angka yang terjual, biaya yang harus dikeluarkan dalam mencapai dan meraih ribuan khalayak.

Televisi telah menjadi media massa yang berkembang dan memasuki kehidupan masyarakat. Suatu rating televisi mengatakan bahwa tiap-tiap satu rumah tangga menghabiskan enam jam 15 menit tiap harinya dengan setiap orangnya menghabiskan rata-rata tiga jam perharinya. Pada umumnya khalayak mulai mengkonsumsi televisi pada jam tujuh pagi dan diakhiri jam delapan atau sebelas malam. Komposisi dari khalayak televisi berubah setiap harinya.

Khalayak yang berada pada usia pra sekolah dan khalayak dengan jenis kelamin perempuan biasanya menghabiskan waktu dari hari senin sampai jumat.

Sedangkan pada hari sabtu pagi, kebanyakan khalayak berada pada usia dibawah 13 tahun dan primetime didominasi oleh khalayak berumur 18 sampai dengan 49 tahun. Tidak semua orang memiliki kebiasaan yang sama dalam menonton televisi. Selain itu juga terdapat faktor-faktor demografi yang mempengaruhi kebiasaan khalayak dalam menikmati televisi, yaitu usia, jenis kelamin, kelas sosial, dan pendidikan.

2.1.4 Selektifitas Pemilihan Acara Televisi

Tersedianya berbagai variasi tayangan acara televisi memudahkan khalayak untuk dapat memilih tayangan acara televisi yang ingin ditontonnya. Khalayak televisi juga dapat menentukan pilihan tayangan acara televisi yang diminatinya dengan secara selektif.

Selektifitas pemilihan tayangan acara televisi yang dilakukan oleh khalayak

(46)

antar khalayak televisi. Selektifitas pemilihan tayangan acara televisi ini dapat dilihat dari adanya pemilihan tayangan cara televisi seperti tayangan acara musik dangdut dan acara infotainment (Damayanti, 2004).

2.1.5 Segmentasi Khalayak

Setiap organisasi pada dasarnya merupakan suatu badan yang melayani pelanggannya dalam suatu pasar. Pelanggannya merupakan suatu komunitas yang sangat berpencar dan beraneka ragam dalam tuntutan pembeliannya. Produsen- produsen ini memiliki pola berpikir dalam tiga tahap, yaitu

1) Pemasaran masal (mass marketing), dimana pada tahap ini perusahaan memproduksi, mendistribusikan, dan mempromosikan secara besar-besaran satu jenis produk kepada seluruh pembeli.

2) Pemasaran aneka produk (product differentiated marketing), dimana perusahaan memproduksi dua atau lebih produk yang masing-masing berlainan dalam model ukuran, kualitas dan sebagainya.

3) Pemasaran sasaran (target marketing), dimana pasar mulai dipisahkan secara jelas kedalam banyak segmen pasar, kemudian perusahaan menetapkan pemasaran untuk masing-masing segmen.

Pemisahan pasar dapat dilakukan dengan mengelompokkan pembeli dengan perbedaan dalam hal tuntutan atas produk dan/atau tanggapannya pada usaha- usaha pemasaran. Selain itu juga dapat dilakukan pengelompokkan berdasarkan pendapatan, perbedaan umur, dan lain-lain. Semakin banyak karakteristik yang digunakan dalam segmentasi pasar, maka akan diperoleh pengelompokkan yang

(47)

lebih tepat, namun membutuhkan biaya yang tinggi juga, karena jumlah segmen yang lebih banyak akan makin sedikit populasi dari tiap-tiap segmen.

Selain pengelompokkan pasar menurut segmen demografis, terdapat juga segmen preferensi yang dikelompokkan menurut keinginan pembeli atas dua produk. Berdasarkan segmen pasar ini maka muncul tiga pola yaitu :

1) Preferensi homogen yang menunjukkan suatu pasar yang memiliki referensi yang sama pada tiap konsumennya.

2) Preferensi tersebar yang menunjukkan pilihan konsumen yang terpencar ke seluruh penjuru.

3) Preferensi mengelompok yang didalamnya terdapat kemungkinan pasar memiliki pengelompokkan selera atau pilihan yang tegas.

Segmen pasar dapat diartikan sebagai membagi-bagi pasar dalam beberapa jenis. Variabel-variabel yang dapat digunakan yang menyangkut geografi, demografi, psychografi dan perilaku pada segmentasi pasar barang konsumsi, yaitu segmentasi geografis yang membagi-bagi pasar ke dalam unit-unit geografis, segmentasi demografis yang memisahkan pasar ke dalam kelompok yang didasarkan pada demografis seperti umur, jenis kelamin, besarnya keluarga, siklus keluarga, pendapatan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, dan kebangsaan.

Disamping itu juga terdapat segmentasi psychografis yang membagi-bagi konsumen kedalam kelompok yang berlainan menurut kelas, gaya hidup dan atau berbagai kepribadian. Lalu terdapat segmentasi perilaku yang membagi kosumen menjadi kelompok menurut tingkat pengetahuan, sikap, penggunaan atau tanggapan terhadap suatu produk tertentu.

(48)

Perusahaan membutuhkan cara-cara dalam menetapkan sasaran pasar dalam memasarkan dan menyebarluaskan produknya, Kottler (1990). Langkah yang pertama dilakukan oleh perusahaan adalah menghitung dan menilai potensi keuntungan dari berbagai segmen yang ada. Pada langkah ini terdapat tahap- tahap, yaitu tahap segmentasi pasar dengan menggunakan bauran pelanggan- prospek dan bauran produk-jasa, mencatat hasil penjualan tahun lalu dan memperkirakan untuk tahun yang akan datang, serta promosi dalam mendorong penjualan produk tersebut.

Langkah kedua yang harus dilakukan adalah mengenali terlebih dahulu strategi merangkum pasar, atau seberapa luas pasar yang akan dimasukinya. Hal- hal yang perlu diperhatikan sebelum menentukan salah satu strategi perangkuman pasar, yaitu sumber daya perusahaan, homogenitas produk, tahapan produk dalam daur hidup, homogenitas pasar, dan strategi pemasaran yang dilakukan oleh pesaing.

2.2 Kerangka Pemikiran

Variabel yang dapat diukur untuk mengetahui ciri pribadi khalayak program acara komedi di televisi adalah jenis kelamin, tingkat pendidikan, jumlah pengeluaran, dan usia. Ciri pribadi tersebut diambil berdasarkan ketentuan pihak Trans TV yang menentukan segmentasi khalayaknya berdasarkan empat ciri pribadi diatas. Jenis kelamin ini dilihat khalayak televisi manakah yang lebih sering menonton program acara komedi, apakah khalayak perempuan atau khalayak laki-laki. Jika dilihat dari tingkat pendidikan, maka yang ingin dicari adalah khalayak manakah yang lebih sering menonton program acara komedi,

(49)

apakah khalayak yang berpendidikan setara sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah lanjutan tingkat atas atau setara perguruan tinggi.

Sedangkan ciri pribadi jumlah pengeluaran menjelaskan jumlah pengeluaran per bulan rata-rata khalayak program acara komedi yang akan dibandingkan dengan segmentasi khalayak yang telah ditetapkan oleh stasiun televisi berdasarkan kelompok khalayak yang dibedakan dari total pengeluaran per bulannya. Ciri pribadi usia dapat menjelaskan rata-rata usia khalayak program acara komedi.

Ciri pribadi khalayak program acara komedi dapat menentukan pola menonton khalayak, yaitu durasi menonton dan pilihan acaranya. Sehingga dapat dirumuskan bahwa ciri pribadi khalayak (jenis kelamin, tingkat pendidikan, jumlah pengeluaran, dan usia) mempengaruhi pola menonton televisi, ciri pribadi khalayak juga mempengaruhi perilaku menonton program komedi di televisi.

Keterangan : = menentukan = sama dengan

Gambar 3. Kerangka Pemikiran Dilihat dari Karakteristik Khalayak, Pola Ciri Pribadi

1. Jenis Kelamin 2. Tingkat

Pendidikan 3. Pengeluaran 4. Usia

Pola Menonton 1. Pilihan Acara 2. Durasi 3. Frekuensi

Penilaian Terhadap Program Komedi 1. Cerita

2. Pemeran 3. Musik 4. Komedi

Segmentasi yang Ditetapkan Stasiun

Televisi

(50)

2.3 Hipotesa

2.3.1 Hipotesa Umum

Ciri pribadi khalayak menentukan durasi dan pilihan acara televisi khalayak, dan juga menentukan frekuensi menonton program komedi dan penilaian khalayak terhadap program komedi, sehingga terbentuk segmen pada khalayak tersendiri. Segmen khalayak yang terbentuk dibandingkan dengan segmentasi yang telah ditetapkan oleh stasiun Trans TV.

2.3.2 Hipotesa Kerja

Secara operasional, hipotesa tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Jenis kelamin khalayak menentukan pola menonton televisi (durasi menonton dan pilihan acara).

2. Tingkat pendidikan khalayak menentukan pola menonton televisi (durasi menonton dan pilihan acara).

3. Jumlah pengeluaran khalayak menentukan pola menonton televisi (durasi menonton dan pilihan acara).

4. Usia khalayak menentukan pola menonton televisi (durasi menonton dan pilihan acara).

5. Ciri pribadi khalayak (jenis kelamin, tingkat pendidikan, jumlah pengeluaran, dan usia) berhubungan positif dengan pola menonton televisi (durasi menonton dan pilihan acara).

6. Jenis kelamin khalayak menentukan perilaku menonton program komedi (frekuensi menonton dan penilaian khalayak terhadap program komedi).

(51)

7. Tingkat pendidikan khalayak menentukan perilaku menonton program komedi (frekuensi menonton dan penilaian khalayak terhadap program komedi).

8. Jumlah pengeluaran khalayak menentukan perilaku menonton program komedi (frekuensi menonton dan penilaian khalayak terhadap program komedi).

9. Usia khalayak menentukan perilaku menonton program komedi (frekuensi menonton dan penilaian khalayak terhadap program komedi).

10. Pola menonton televisi (durasi menonton dan pilihan acara) dan pola menonton program komedi (frekuensi menonton dan penilaian khalayak) berdasarkan karakteristik khalayak membentuk segmentasi khalayak tersendiri.

11. Segmen khalayak yang terbentuk sama dengan segmentasi yang telah ditetapkan oleh stasiun Trans TV.

2.4 Definisi Operasional

1. Ciri pribadi khalayak adalah faktor-faktor intern khalayak yang dapat diukur, seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan, jumlah pengeluaran, dan usia.

2. Jenis kelamin adalah pembedaan responden yang akan dikategorikan atas:

a. Laki-laki b. Perempuan

3. Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal terakhir khalayak

Referensi

Dokumen terkait

Penarikan garis batas pengelolaan wilayah laut antara Kabupaten Sumenep dan Kabupaten Pamekasan dengan garis ekuidistan, pada peta dasar yang digunakan, ketiganya berada

Kepemimpinan Dinas Pe1tanian dan Peternakan Kabupaten Berau selalu terbuka dan selalu berusaha meningkatkan kinerja pegawainya dengan cara mempengaruhi cara pandang pegawai

Makna yang terkandung dalam tradisi membuat juadah dalam upacara perkawinan di Korong Kampung Ladang. Dalam tradisi membuat juadah ini, setiap jenis Kue atau

Kenaikan suhu pada belitan auxilary lebih tinggi dibanding belitan utama, dikarenakan nilai resistansi pada belitan auxilary lebih besar dari belitan utama [1][2].Pada

Selanjutnya dilakukan identifikasi pola persebaran kejadian kasus pneumonia pada balita yang ditemukan di tiap kecamatan di Kota Surabaya pada tahun 2012-2014 dan

Pada unit hunian Ebony Duplek (Lower), secara keseluruhan semua ruangan sudah efektif apabila kita analisa menggunakan ketiga parameter standar furniture, adaptif,

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh proporsi penambahan baking powder dan air terhadap karakteristik sensoris (warna, rasa, aroma dan tekstur)

Berdasarkan analisis data wawancara, guru dan siswa sekolah menengah atas kelompok kelas dua berpendapat bahwa siswa mempunyai sifat kompetitif yang tinggi, artinya siswa