• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok Belajar Interna

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kelompok Belajar Interna"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

1. ISK (infeksi Saluran Kencing)

2. Krisis Hipertensi

(3)
(4)

Slide >>>

• Menunjukan adanya mikroorganisme /MO dalam urin

• Bakteriuria bermakna menunjukan adanya bakteri

>10

5

cfu bakteri pada biakan urin

Sumber:

(5)

Patogenesis bakteriuri asimtomatik menjadi bakteriuri simtomatik dengan presentasi klinis ISK tergantung dari patogenitas bakteri dan status pasien sendiri (host).

1. Peranan Patogenisitas Bakteri.

Sejumlah flora saluran cerna termasuk Escherichia coli dapat menyebabkan presentasi klinis ISK tergantung juga dari faktor lain seperti perlengketan mukosa oleh bakteri, faktor virulensi, dan variasi fase faktor virulensi.

2. Peranan Faktor Host.

Terjadi dilatasi ureter dan pelvis ginjal tanpa obstruksi saluran kemih dapat menyebabkan gangguan proses klirens normal mempermudah terjadinya refluks MO, contohnya pada perempuan hamil

Sumber:

(6)

- Pada individu normal, urin selalu steril karena dipertahankan jumlah dan frekuensi kencing.

- Uretro distal merupakan tempat kolonisasi mikroorganisme nonpothogenic fastidious Gram-positive dan gram negatif.

- Hampir semua ISK disebabkan invasi mikroorganisme asending dari uretra ke dalam kandung kemih ==> terjadi refluks vesikoureter.

- Proses invasi mikroorganisme hematogen sangat jarang

- Ginjal diduga merupakan lokasi infeksi sebagai akibat lanjut septikemi atau endokarditis akibat Stafilokokus aureus. Kelainan ginjal yang terkait dengan endokarditis (stafilokokus aureus) dikenal Nephritis

Sumber:

PAPDI Halaman 2129

(7)

PATOFISIOLOGI

ISK

(8)

Perempuan

‒ Sistitis. Sistitis adalah infeksi kandung kemih disertai

bakteriuria bermakna

‒ Sindrom uretra akut (SUA) : klinis sistitis tanpa

ditemukan mikroorganisme (steril), sering dinamakan

sistitis bakterialis anaerobik

Laki-laki

– sistitis, prostatitis, epidimidis dan uretritis.

Sumber:

PAPDI Halaman 2129

(9)

1. Pielonefritis akut (PNA).

proses inflamasi parenkim ginjal yang disebabkan infeksi

bakteri

2. Pielonefritis kronis (PNK).

Pielonefritis kronis mungkin akibat lanjut dari infeksi

bakteri berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil.

Obstruksi saluran kemih dan refluks vesikoureter dengan

atau tanpa bakteriuria kronik sering diikuti pembentukan

jaringan ikat parenkim ginjal yang ditandai pielonefritis

kronik

Sumber:

PAPDI Halaman 2129

(10)

Famili, Genus dan Spesies MO yang Paling Sering

Sebagai Penyebab ISK

Sumber:

(11)
(12)

ISK tipe sederhana (uncomplicated).

ISK akut tipe sederhana (sistitis) yaitu non-obstruksi

dan bukan pada perempuan hamil merupakan penyakit

ringan dan tidak menyebabkan akibat lanjut jangka lama

ISK tipe berkomplikasi (complicated)

ISK selama kehamilan.

ISK pada diabetes melltus.

Sumber:

PAPDI Halaman 2134

(13)

Analisa urin rutin; pemeriksaan mikroskop urin ; kultur urin, serta

jumlah kuman/mL urin merupakan protokol standar untuk pendekatan diagnosis lSK.

Pengambilan dan koleksi urin, suhu, dan teknik transportasi sampel urin harus sesuai dengan protokol yang dianjurkan.

lnvestigasi lanjutan terutama renal imoging procedures harus berdasarkan indikasi klinis untuk investigasi faktor predisposisi ISK: – Ultrasonogram (USG)

– Radiografi

• Foto polos perut • Pielografi lV

• Micturating cystogrom – lsotop scanning

Sumber:

PAPDI Halaman 2135

(14)

- Hampir 80% pasien akan memberikan respon setelah 48 jam

dengan antibiotika tunggal; seperti ampisilin 3 gram, trimetoprim 200 mg. Bila infeksi menetap disertai kelainan

urinalisis (lekosuria) diperlukan terapi konvensional selama 5-10

hari

- Reinfeksi berulang (frequent re-infection). - Disertai faktor predisposisi.

- Terapi antimikroba yang intensif diikuti koreksi faktor risiko

- Tanpa faktor predisposisi Asupan cairan banyak

Cuci setelah melakukan senggama diikuti terapi antimikroba takaran tunggal (misal trimetoprim 200 mg)

Sumber:

PAPDI Halaman 2135

(15)

Pielonefrits akut.

Pada umumnya pasien dengan pielonefritis akut memerlukan rawat inap untuk memelihara satus hidrasi dan terapi antibiotika

parenteral paling sedikit 48 jam.

The lnfectious Diseose Society of America menganjurkan satu dari tiga alternatif terapi antibiotik lV sebagai terapi awal selama 48-72 jam sebelum diketahui MO sebagai penyebabnya:

1. Fluorokuinolon

2. Amiglikosida dengan atau tanpa ampisilin

3. Sefalosporin dengan spektrum luas dengan atau tanpa aminoglikosida.

Sumber:

PAPDI Halaman 2135

(16)

- Pada kelompok perempuan tidak hamil ditemukan basiluria

asimtomatik tidak diperlukan terapi antimikroba, cukup lrigasi

MO dengan asupan cairan yang banyak.

- Setiap perempuan hamil dengan basiluri asimtomatik harus

mendapat terapi antimikroba untuk mencegah presentasi klinis

pielonefritis dan komplikasi kehamilannya

Sumber:

PAPDI Halaman 2136

(17)
(18)

DEFINISI

Krisis hipertensi

Peningkatan tekanan darah yang mendadak (sistole ≥180 mmHg

dan/atau diastole ≥120 mmHg), pd penderita hipertensi, yg membutuhkan penanggulangan segera.

Hipertensi emergensi

Kenaikan TD mendadak yg disertai kerusakan organ target yang progresif. Di perlukan tindakan penurunan TD yg segera dalam kurun waktu

menit/jam.

Hipertensi urgensi

Kenaikan TD mendadak yg tidak disertai kerusakan organ target.

(19)

MANIFESTASI KLINIS KRISIS

HIPERTENSI

1. Bidang neurologi:

Sakit kepala, hilang/ kabur penglihatan, kejang, defisit neurologis fokal, gangguan kesadaran (somnolen, sopor, coma).

2. Bidang mata:

Funduskopi berupa perdarahan retina, eksudat retina, edema papil.

3. Bidang kardiovaskular

Nyeri dada, edema paru.

4. Bidang ginjal:

Azotemia, proteinuria, oligouria.

5. Bidang obstetri

Preklampsia dg gejala berupa gangguan penglihatan, sakit kepala hebat, kejang, nyeri abdomen kuadran atas, gagal jantung kongestif dan oliguri, serta gangguan kesadaran/ gangguan serebrovaskuler.

(20)

PENDEKATAN AWAL PD KRISIS

HIPERTENSI

Anamnesis

R/ hipertensi (awal hipertensi, jenis obat anti

hipertensi, keteraturan konsumsi obat).

Gangguan organ (kardiovaskuler, serebrovaskular,

serebrovaskular, renovaskular, dan organ lain).

(21)

Pemeriksaan fisik

Sesuai dengan organ target yang terkena

Pengukuran TD di kedua lengan

Palpasi denyut nadi di keempat ekstremitas

Auskultasi untuk mendengar ada/ tidak bruit pembuluh

darah besar, bising jantung dan ronki paru.

Pemeriksaan neurologis umum

(22)

Pemeriksaan laboratorium awal dan

penunjang

Pemeriksaan laboratorium awal:

a. Urinalisis

b. Hb, Ht, ureum, kreatinin, gula darah dan elektrolit.

Pemeriksaan penunjang: EKG, foto toraks

Pemeriksaan penunjang lain bila memungkinkan:

(23)

Terapi pada Hipertensi Urgency

Sumber:

(24)

Terapi pada Hipertensi Emergency

Sumber:

(25)
(26)

Terapi pada Hipertensi Emergency pd Keadaan Khusus

Sumber:

(27)
(28)

1. Pasien perempuan usia 23 tahun hamil anak pertama 11 minggu tidak ada keluhan, dikonsulkan dari sejawat obgyn. Pemeriksaan fisik tidak ada kelainan, Pemeriksaan labortorium diapatkan : Hb 10,8, L 13800, T 156000, Urinalisa: leu 20-30/Lp, eri 2-3, bakteri +, protein- Tatalaksana yang sesuai pada kasus adalah:

a. Levofloxacin 500mg qx/ hari b. Cotrimoxazole 960mg 2x/ hari c. tunda antibiotik, cek kultur urin d. tunda antibiotik, ulangi urinalisis

(29)

Pembahasan :

Setiap wanita hamil dengan basiluri asimptomatik harus mendapat terapi

(30)

2. Laki2 berusia 57 tahun dIbawa keluarganya ke IGD dengan penurunan

kesadaran sejak 4 jam SMRS. Dari pemeriksaan fisik didapatkan sens apatis

TD 220/120, CT scan kepala gambaran ( ICH luas) terapi hipertensi dan target pada pasien ini adalah

A. Drip nitrogliserin target TD<140/90 dalam 6 jam B. Drip Nicardipin target TD < 140/90 dalam 6 jam

C. Drip Nicardipin target MAP turun 20% dalam 6 jam

D. Drip Nitrogliserin target MAP turun 20% dalam 6 jam E. Nikardipin sampai turun secepatnya

(31)

Terapi pada Hipertensi Emergency pd Keadaan Khusus

Sumber:

(32)

3. Pasien datang dengan keluhan demam tinggi. Dilakukan perawatan di rawat inap selama bebetrapa hari didiagnosis sebagai sepsis & pneumonia HAP. Pada 2x pemeriksaan lab. Ur pertama: 0.9 Ur kedua: 1,9. Urine output: 1800cc/24 jam.

Menurut KDIGO, termasuk AKI stage berapa....

A. AKI stage 1 B. AKI stage 2 C. AKI stage 3 D. AKI stage 4 E. AKI stage 5 Pembahasan :

(33)
(34)

4. Pasien laki-laki umur 60 tahun datang ke poliklinik dengan membawa hasil

Creatine 2 mg/dl. Pasien mempunyai hipertensi sejak 20 tahun yang lalu. 5

tahun yang lalu pasien berobat rutin mendapatkan terapi bisoprolol, ASA, Simvastatin, Ramipril. Setiap kontrol pasien diperiksa fungsi ginjal dan dikatakan baik. 4 bulan yang lalu pasien membawa hasil lab creatinin 1,6 mg/dl. T 150/90 mmHg, edema pretibial bilateral, batas jantung kiri melebar. Dari hasil EKG gambaran LVH. Ejeksi frakasi (EF) 40%. Pathophysiologi kelainan diatas adalah:

A. Sindrom kardiorenal tipe 1

B. Sindrom kardiorenal tipe 2

C. Sindrom kardiorenal tipe 3 D. Sindrom kardiorenal tipe 4 E. Sindrom kardiorenal tipe 5

Slide >>>

Pembahasan :

Penyakit jantung yang menyebabkan kerusakan ginjal sehingga termasuk Sindrom kardiorenal tipe 2

(35)
(36)

5. Pasien Laki-laki 36 tahun datang ke poliklinik mengeluh nyeri pinggang kiri sejak 1 hari lalu. Tidak ada riwayat penyakit apa-apa sebelumnya. Tidak

mengonsumsi obat apa-apa. Hasil pemeriksaan ketok CVA nyeri (+). Hasil CT non kontras didapatkan hasil batu 15x11 mm di area UPJ kiri dan didapatkan kaliektasis ringan sinistra. Sudah mendapatkan terapi sementara analgetik. Tatalaksana selanjutnya:

A. Hidrasi dengan saline i.v B. Diuretik tiazid

C. ESWL

D. Ureteroskopi E. Tamsulosin

(37)

Pembahasan :batu 15x11 mm di area UPJ , untuk batu berukuran <2 cm tatalaksan yang tepat adalah: ESWL

Sumber PPK PAPDI

(38)

6. Seorang wanita 25 tahun mengeluhkan sering buang air kecil dan banyak minum sejak 1 minggu terakhir. Tidak ada riwayat kelainan psikiatri sebelumnya maupun gangguan kesehatan lain. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 92 x/menit, reguler, frekuensi nafas 20x/menit, suhu axilla 36,7 C, pemeriksaan fisik lainnya dalam batas normal.

Pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 12,2 g/dL, Ht 42%, leukosit 6.300/μl, trombosit 324.000, glukosa darah acak 145 mg/dL, ureum 43 mg/dL, kreatinin 0,9 mg/dL, asam urat 8 mg/dL, Na 148 mmol/L, K 3.8 mmol/L, Cl 120 mmol/Dl, Berat Jenis

Urin 1.001, osmolalitas urin 240 mOsm/kg. Setelah dilakukan water deprivation test, osmolaritas urine tetap rendah. Kadar ADH meningkat. Diagnosis yang tepat pada

pasien:

A. idiopathic polidipsia

B. Diabetes Insipidus nefrogenik

C. Diabetes Insipidus sentral D. Nefritis Tubular Akut

(39)

ALGORITMA POLIURIA

Sumber: PAPDI

(40)

7. Perempuan 35 tahun datang ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan

demam tinggi, menggigil, nyeri pinggang kanan. Riwayat batu saluran

kencing, dan dari pemeriksaan laboratorium hb 13 leukosit 18.000 plt 230.000 pada pemeriksaan urinalisa urine leukosit penuh. Diagnosis yang tepat pada pasien ini adalah

A. Sistitis

B. Batu saluran kencing

C. Pielonefritis

D. ISK komplikata

Sumber: PAPDI

(41)

8.Pasien wanita 34 tahun hamil 29 minggu dirawat oleh sejawat obgyn , dikonsulkan ke bagian penyakit dalam dengan darah tinggi. Riwayat Darah tinggi didapatkan dari sebelum hamil . Obat antihipertensi yang aman untuk ibu hamil A.Clonidin B. Metildopa C. ramipril D. Candesartan E. Bisoprolol

(42)

Sumber: PAPDI

(43)

9.Laki-laki,38 tahun untuk ketiga kalinya dirawat dengan lemah kedua tungkai, hingga tidak mampu berdiri. Pasien mendapat amlodipine 1x5mg per hari. Pemeriksaan fisik didapatkan kekuatan motorik

3333 3333 3333 3333

TD 160/100 mmHg, laboratorium didapatkan ureum 38 mg/dl, kreatinin 0,9 mg/dl,kalium 2,1 mEq/L, natrium 138, FT4 1,53 ng/dl, TSH 1,2ulU/ml.pasien ini didiagnosa dnegan hypokalemia. Pemeriksaan awal yang paling tepat adalah…

a.AGD

b.Kalium urin 24 jam

c.Osmolalitas urin 24 jam

d.Transtubuller potassium gradient e.Kalium serum ulang

(44)

Slide >>> Sumber:

(45)

10.Seorang laki-laki, 46 tahun ke poliklinik dengan keluhan demam tinggi 2 minggu, batuk berdahak hijau kental. Pasien berobat, diberikan cefadroksil selama 1 minggu, keluhan mulai berkurang. Beberapa hari kemudian pasien demam, timbul bintik-bintik

merah dikulit serta BAK sedikit. Hasil laboratorium menunjukkan Hb 14,3 g/dl,

leukosit 10.500/uL, trombosit 145.000/uL, hitung leukosit 12-15/LPB, eritrosit 5-8 LPB, bakteri negative, protein negative, silinder negative. Diagnosis yang paling tepat pada pasien adalah…

a.Glomerulonephritis paska infeksi b.Nekrosis tubular akut

c.Nefritis intertisialis

d.Vasculitis renal e.Pielonefritis

Pembahasan :Diagnosis yang paling tepat pada pasien adalah Nefritis intertisialis trias demam, ruam kulit, eosinophilia, gangguan ginjal, gejala timbul post 10-15 hari setelah diberi obat cefalosporin, gejala spesifik demam hilang lalu timbul lagi.

(46)
(47)

11.Seorang perempuan 32 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan lemas sejak 1 minggu terakhir. Pasien punya riwayat hipertensi sejak 6 bulan yang lalu dan mengkonsumsi captopril 3x25 mg, amlodipine 1x 10 mg, clonidine 3x 0,15 mg, serta HCT 1x 12,5 mg. pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 180/100 mmHg, Nadi 72x/mnt, pemeriksaan fisik lain dalam batas normal. Hasil laboratorium menunjukkan GDS 110mg/dl, kreatinin 1,0 mg/dl, kalium 2,3 mEq/L. FT4 TSH normal, penyebab hipertensi yang paling mungkin pada pasien adalah…

a.Hiperaldosteronisme primer

b.Stenosis arteri renalis c.Hiperthyroid

d.Feokromositoma e.Hipotiroidisme

Pembahasan : Penyebab hipertensi yang paling mungkin pada pasien adalah Hiperaldosteronisme primer karena Stenosis arteri renalis disingkirkan karena pada kasus ini terjadi hipokalemia, sedangkan apda stenosis renalis tdk didapatkan ganguan kalium, Feokromositoma disingkirkan karena tidak ditemukan gejala khas TD paradoksial, berkeringat, sakit kepala, Hipotiroidisme, Hiperthyroid bukan karena fungsi thyroid normal

(48)

12.Laki-laki 45 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak nafas sejak 2 hari yang lalu. Pemeriksaan fisik tampak sakit berat, TD 160/90 mmHg, Nadi 110 x/mnt, RR 32 x/mnt, cepat dan dalam, JVP 5+4 cm H2O, batas jantung kanan dan kiri melebar, ronkhi basah halus di seluruh lapang paru. Hasil lab menunjukkan Hb 8,5 gr/dl, leukosit 9000/uL, ureum 230 mg/dl, GDS 180 mg/dl, kreatinin 7,2 mg/dl, natrium 140 mEq/L, kalium 8,1 mEq/L. hasil EKG sebagai berikut:

(49)

Sementara menunggu HD, terapi yang paling tepat harus segera diberikan adalah…

a.Inhalasi salbutamol dan injeksi insulin 8 unit Sc b.Inj. Kalium glukonas 10% IV

c.Inj. Kalsium glukonas 10% IV dan inj. Insulin 8 unit dalam D40% 50 cc IV

d.Inj. Kalsium glukonas 10% IV dan inj. Insulin 8 unit Sc

e.Inj. Insulin 8 unit dalam D40% 50 cc IV dan natrium bikarbonat 100 mEq dalam 4 jam

Pembahasan : Penatalaksanaan hiperkalemia Sementara menunggu HD, terapi yang paling tepat harus segera diberikan adalah Inj. Kalsium

glukonas 10% IV dan inj. Insulin 8 unit dalam D40% 50 cc IV

(50)

Algoritma

Hiperkalemia

(51)

13.Seorang laki-laki 50 tahun dirawat untuk menjalani kateterisasi jantung

dan pemasangan stent jantung. Pasien memiliki riwayat DM sejak 10 tahun

yang lalu dan mendapat metformin 3 x 500 mg. pada pemeriksaan fisik tidak didapatkan kelainan. Laboratorium didapatkan ureum 40 mg/dl dan kreatini

1,2 mg/dl.

Evaluasi fungsi ginjal pasca tindakan pada pasien adalah…

a.Ureum dan kreatinin segera setelah tindakan b.Ureum dan kreatinin 12 jam setelah tindakan c.Ureum dan kreatinin 24 jam setelah tindakan d.Ureum dan kreatinin 36 jam setelah tindakan

e.Ureum dan kreatinin 48 jam setelah tindakan

Pembahasan : berdasarkan HARISON 24-48 jam KDIGO 48 jam

(52)
(53)

14.Seorang laki-laki 47 tahun ke IGD dengan keluhan tidak sadar sejak 6 jam SMRS. Sejak 24 jam sebelumnya pasien mengalami diare lebih dari 20 kali dan muntah tiap makan dan minum. Pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran sopor, TD 90/50 mmHg, nadi 110 x/mnt, RR 22x/ mnt, T 37,5 oC, BB 50 kg, mata cekung, akral dingin, turgor kulit menurun. EKG sinus takikardi. Laboratorium menunjukkan Hb 16,8 g/dl, leukosit 10.000/ul, trombosit 208.000, GDS 110 mg/dl, ureum 80 mg/dl, kreatinin 1,7 mg/dl,

natrium 110 mEq/L, kalium 4,5 mEq/L, klorida 115 mEq/L. setelah dilakukan rehidrasi,

tatalaksana lanjutan yang tepat pada pasien ini adalah… a.NaCl 0,9 % 500 cc dalam 4 jam

b.NS 3% 500 cc dalam 24 jam c.NS 3% 1000 cc dalam 24 jam

d.NS 3% 250 cc dalam 1 jam, dilanjutkan NS 3% 500 cc dalam 24 jam

e.NS 3% 250 cc dalam 1 jam, dilanjutkan NS 3% 1000 cc dalam 24 jam

(54)

Pembahasan : setelah dilakukan rehidrasi, tatalaksana lanjutan yang tepat pada pasien ini adalah NS 3% 250 cc dalam 1 jam, dilanjutkan NS 3% 500 cc dalam 24 jam

(55)

15.Laki-laki 25 tahun datang ke IGD dengan keluhan demam sejak 1 minggu SMRS, keluhan disertai dengan BAK sedikit. Pasien sebelumnya mendapat antibiotic dari

dokter untuk keluhan batuk dan sesak nafas selama 2 hari. Pada pemeriksaan fisik

diteukan kesadaran compos mentis, TD 140/80 mmHg, nadi 120 x/mnt, RR 24 x/ mnt,

T 39 0C, terdapat rash dan jumlah urin 500 cc/ 24 jam. Laboratorium didapatkan

diffcount 0/10/1/81/8/2, ureum 128 mg/dl, kreatinin 3,0 mg/dl. Hasil urinalisis menunjukkan protein ++, sedimen eritrosit 8-10/LPB, silinder eritrosit +. Diagnosis pasti pada kasus ini ditegakkan melalui ?

a.Neutrophil gelatinase associated lipocalin urin b.Anti-streptolysin titer O

c.Biopsi ginjal

d.USG ginjal e.Kadar IgE

(56)

Nefritis interstisial akut demam-

antibiotic-rash-hematuria-eosinofilia-gangguan ginjal)

SUMBER: PAPDI 2118: penunjang  urinalisis-USG- biopsy ginjal (diagnosis pasti)

(57)

16.Seorang wanita, 52 tahun datang ke poiklinik dengan keluhan bengkak di kedua

tungkai. Pasien memiliki riwayat DM sejak 15 tahun dan hipertensi sejak 2 tahun

terakhir. Pasien rutin mengkonsumsi glimepiride 3 mg/ hari dan kaptopril 3 x12,5 mg. tidak diketahui adanya penurunan jumlah diuresis. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 150/100 mmHg dan pitting edema pada kedua tungkai. Hasil laboratorium didapatkan kreatinin 0,6 mg/dl. Urinalisis proteinuria +++, dengan sedimen urin negative. Pathogenesis yang mendasari kelainan ginjal pada pasien ini adalah…

a.Penurunan AGES

b.Perubahan hemodinamik ginjal karena penurunan endotelin

c.penurunan TGF-B yang meningkatkan sintesis matriks ekstraseluler

d.Peningkatan hemodinamik ginjal, Aktivasi sistem RAAS sehinggga meningkatkan aktivitas angiotensin-II peningkatan tekanan intra glomerulus

(58)

Pembahasan : Pathogenesis yang mendasari kelainan ginjal pada pasien ini yaitu

DM nefropati adalah Peningkatan hemodinamik ginjal karena peningkatan

(59)

17.Laki-laki, 50 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan otot2 badan lemah

dan lemas. Pandangan berkunang-kunang tidak ada, mimisan dan gusi

berdarah tidak ada, pusing sempoyongan tidak ada, Mual dan muntah tidak ada. BAB BAK tdak ada keluhan. Pasien punya riwayat hipertensi 1 tahun ini rutin minum obat amlodipine 1x10 mg, candesartan 1x 16 mg, dan klonidin 3x0,15 mg, namun tekanan darah tidak pernah mencapat normal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 160/110 mmhg, nadi 82 x/mnt, RR 22 x/ mnt, T 36,50C, pemeriksaan fisik yang lain DBN. Laboratorium didapatkan GDS 140 mg/dl, Kalium 2,4 mEq/L, kalium urin 45 mEq/ 24 jam. Diagnosis yang paling sesuai untuk kondisi pasien ini adalah…

A.Tirotoksikosis B.Feokromositoma C.Hipertensi primer D.Sindrom Cushing

(60)

Pembahasan : Pada kasus ini terjadi hipertensi skunder akibat hiperaldosteron primer.

Sindrom Cushing bukan karena tdk ada penggunaan steroid, Tirotoksikosis, Feokromositoma bukan karena tdk ada gejala kearah keluhan tersebut

(61)

18.Laki-laki, 45 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan badan lemas. Tidak didapatkan keluhan diare atau muntah sebelumnya. Pasien punya riwayat hipertensi dengan obat amlodipine 1x10 mg, valsartan 1x 160 mg, dan

klonidin 2x0,15 mg, namun tekanan darah tidak pernah mencapat normal.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 170/100 mmhg, nadi 84 x/mnt, RR 24 x/ mnt, T 36,50C, pemeriksaan fisik yang lain DBN. Laboratorium didapatkan GDS 127 mg/dl, Kalium 2,7 mEq/L, kalium urin 45 mEq/ 24 jam. Obat yang paling sesuai untuk kondisi pasien ini adalah…

A.Hidroklorotiazid

B.Spironolakton

C.Furosemide D.Bisoprolol E.Captopril

(62)

Pembahasan : Pada kasus tersebut mengarah ke Hiperaldosteron primer, terapi pada hiperaldosteron primer adalah spironolakton (Sumber PAPDI)

(63)

19.Perempuan 45 tahun datang ke IGD dengan keluhan tiba-tiba sakit

kepala hebat dengan pandangan mata kabur sejak 6 jam SMRS.

Pemeriksaan fisik didapatkan TD 210/160 mmHg, Nadi 90 x/mnt, RR 20 x/mnt, T 36,70C, tampak gambaran perdarahan retina. Laboratorium didapatkan Hb 11,2 g/dl, leukosit 8300 /uL, trombosit 256.000/Ul, ureum 50 mg/dl, kreatinin 1,7 mg/dl. Terapi yang tepat pada pasien ini adalah…

a.Drip nikardipin 5 mg/jam

b.Drip furosemide 10 mg/jam c.Drip nitrogliserin 2 mg/jam

d.Drip klonidin 75 mcg/kgbb/mnt e.Drip nitroprusid 0,1 mcg/kgbb/mnt

(64)

Terapi pada Hipertensi Emergency

Sumber:

(65)

20.Laki-laki 51 tahun dengan keluhan bengkak di kedua kaki dan muka sejak 2 bulan yang lalu. Pasien punya riwayat DM sejak 8 tahun yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 160/100 mmHg, Nadi 88 X/mnt, RR 24 x/mnt, edema palpebra, konjungtiva anemis, kardiomegali, edema pitting

+/+. Hasil laboratorium didapatkan Hb 9,2 g/dl, Ht 28%, ureum 127 mg/dl,

kreatinin 4,8 mg/dl, natrium 132 mEq/L, kalium 5,6 mEq/L. pilihan anti hipertensi yang tepat adalah…

a.Klonidin

b.Lisinopril

c.Amlodipine d.Telmisartan e.Diltiazem

(66)
(67)

21.Perempuan 35 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri pinggang sejak 6 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik dalam batas normal. Hasil urinalisis menunjukkan sedimen eritrosit 10-12/LPB, silinder negative. Hasil USG abdomen menunjukkan batu pada kaliks minor ginjal dengan ukuran

9cm. tatalaksana yang paling tepat pada pasien ini adalah…

a.ESWL

b.Perikutaneus litotripsi c.Tamsulosin 0,4 mg

d.Uretroskopi batu ginjal dan ureter

(68)

Pembahasan: Pada kasus ini Hasil USG abdomen menunjukkan batu pada kaliks minor ginjal dengan ukuran 9cm pilihan terapinya adalah nefrostomi.

(69)

22.Pasien Laki-laki usia muda yakni 18 tahun, datang ke poli dengan bengkak

kedua kelopak mata 2 minggu. Perut membesar, kedua tungkai membengkak, BAK berbusa. TD 120/80, edem palpebra, tungkai, efusi pleura

minimal, asites. Ureum 20, kreatinin 1,1 albumin 1,8 CT 290. Pada urinalisa diapatkan proteinuria +3, wbc 1-2/LPB, rbc 0-1/LPB. Albumin urin kuantitatif 3.800 mg. USG TUG tak tampak kelainan. Keluhan membaik setelah mendapat metilprednisolon satu bulan. Kelainan yang mungkin didapatkan pada patologi ginjal?

A.Nefropati IgA B.Amiloidosis ginjal

C.Nefritis fokal proliperatif

D.Glomerulonefritis lesi minimal

(70)
(71)

Pembahasan :pada usia muda 70-90% yg paling sering terjadi adalah kelainan minimal change disease

(72)

23.Perempuan 25 th dibawa ke igd dengan kondisi lemas. Pasien mengeluh

sering BAK sejak 1 minggu smrs. Sering haus dan banyak minum. Riwayat kecelakaan 1 bulan lalu dg kontusio serebri. PF TD 100/70, nadi 110 bpm,

reguler. Nafas 20, t 37,4. Lidah kering. Pemeriksaan fisik lain dalam batas normal. Lab GDS 145, ur 43, cr 0,9. Na 153. K 4,2. Cl 120. Osm urin 160. Osm plasma 312.

Urinalisis: BJ 1,001. Setelah water depression test dan uji pitresin, terdapat penurunan produksi urin, peningkatan BJ urine, peningkatan osmolalitas urin dan penurunan osmolalitas plasma

Diagnosis yang paling sesuai?

A.Diabetes insipidus tipe campuran B.Diabetes insipidus nefrogenik

C.Diabetes insipidus sentral

D.Polidipsia psikogenik E.Sindrom SIADH

Pembahasan: diagnosis pasien mengarah kepada Diabetes insipidus sentral, karena

Osm urin 160. Osm plasma 312. Urinalisis: BJ 1,001. Setelah water depression test dan uji pitresin, terdapat penurunan produksi urin, peningkatan BJ urine,

(73)

ALGORITMA POLIURIA

Sumber: PAPDI

(74)

24.Pasien laki-laki, 60 tahun, datang dengan riwayat Sirosis Hepatis akibat

hepatitis B datang untuk kontrol. Pada pemeriksaan Fisik didapatkan sklera

ikterik, asites masif. Obat rutin paisen adalah spironolacton dan lactulosa. Pasien baru selesai minum levofloxacin selama seminggu untuk diagnosis pneumonia komunitas. Jumlah urin sejak dirawat kurang dari 20cc/jam. Pada pemeriksaan didapatkan kreatinin 2,8, Na 128, K 3,7. UL eosinofil urin negatif, proteinuria negatif, RBC 0-1/LPB, WBC 0-2/LPB.

Masalah pada pasien yang paling tepat adalah? A.Azotemia prerenal

B.Sindrom hepatorenal

C.Sindrom kompartemen abdominal

D.Nefritis intersisial akut akibat levofloxacin E.Hemolisis akut dan nefrotoxic pigmen hem

(75)

Pembahasan : Pada kasus ini terjadi hepatorenal sindrom akibat sirosi hepatis, memberikan efek terhadap fungsi ginjal.

(76)

25.Pasien laki-laki, 56 tahun datang dengan keluhan nyeri sendi, pasien mengalami artritis kronis terjadi kolik renal akibat Batu urat. Asam urat urin 900 mg/24 jam,

asam urat serum 9,8. Cr 2,8. Ditemukan kristal Monosodium urat pada aspirasi cairan sendi lutut kiri. Terapi jangka panjang yang tepat pada pasien adalah?

A.Kolkisin B.Allopurinol C.Probenesid D.Ferbuxostat E.Sulfinpirazon Pembahasan:

Pada pasien hiperurisemia dengan gangguan fungsi ginjal dapat diberikan febuxostat karena tidak dibutuhkan

(77)
(78)

Referensi

Dokumen terkait

Disini terjadinya motivasi yang kurang terarah pada karyawan oleh pemimpin, disini kurang terarah dimaksudkan dengan kurangnya motivasi yang diberikan oleh pemimpin

Berdasarkan hasil penelitian yang saya peroleh bahwa kiai, ustad dan para santri pondok Pesantren Nurul Athfal telah melaksanakan salat di awal waktu, mereka

Dalam penerimaan terhadap penyandang disabilitas bukan hanya pengakuan dan sambutan saja melainkan juga memunculkan suatu tindakan praktik gereja atau secara khusus

pemasaran (Tabel 3). Pada saluran pemasaran I, jika dilihat dari perolehan keuntungan dan biaya yang dikeluarkan terlihat terjadi perbedaan. Akumulasi biaya

Kelompok tani yang ada di Kecamatan Belik mempunyai kegiatan, baik yang bersifat kegiatan rutin maupun yang tidak rutin. Kegiatan rutin yang umum dilaksanakan adalah

Bentuk ornamen pada kelima gapura masjid (yaitu : gapura Panyeksen, gapura Madep, gapura Ngamal, gapura Poso dan gapura Munggah) yang dipadukan dengan

Move adalah fasilitas untuk memindahkan obyek atau sekumpulan obyek dari suatu tempat ke tempt yang lain pada area

Bila pembangunan sosial lebih berorientasi pada peningkatan kualitas hidup manusia dalam arti luas, maka pembangunan manusia memfokuskan perhatiannya