• Tidak ada hasil yang ditemukan

8 MODEL PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN KUPANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "8 MODEL PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN KUPANG"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

Abstrak

Strategi peningkatan sektor perikanan yang dipandang relatif tepat untuk meningkatkan daya saing adalah melalui pendekatan klaster. Di beberapa negara, industri yang berbasis klaster telah terbukti mampu menunjukkan kemampuannya secara berkesinambungan dalam menembus pasar. Strategi klaster menawarkan upaya pembangunan ekonomi yang lebih efektif dan komprehensif. Strategi ini yang dikenal dengan minapolitan. Kebijakan minapolitan ini bertujuan untuk pengembangan daerah. Untuk mendukung pengembangan kawasan tersebut, perlu dibangun model pengembangan kawasan minapolitan untuk menggambarkan kondisi yang terjadi saat ini dan akan terjadi di masa depan dalam bentuk data simulasi berdasarkan kondisi nyata. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model pengembangan minapolitan berbasis budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang. Dalam membangun model ini digunakan metode analisis sistem dinamik dengan software Powersim. Model ini terdiri atas tiga sub model yaitu sub model lahan, budidaya dan industri pengolahan. Hasil simulasi setiap komponen menunjukkan kecenderungan kurva pertumbuhan positif naik mengikuti kurva eksponensial. Namun pada komponen pertambahan penduduk dan peningkatan lahan permukiman selalu diimbangi oleh laju pengurangan jumlah penduduk akibat kematian dan migrasi keluar sehingga dalam model ini terjadi hubungan timbal balik positif (positive feedback) melalui proses reinforcing dan timbal balik negatif (negative feedback) melalui proses balancing. Adapun komponen lahan budidaya yang telah ditentukan kesesuaian dan daya dukung lahan berdasarkan parameter untuk budidaya rumput laut sehingga pertambahan luas lahan budidaya rumput laut pada suatu saat akan sampai pada titik keseimbangan tertentu (stable equilibirium) yaitu luas lahan budidaya dengan tingkat kesesuain sangat sesuai, bentuk model seperti ini dalam sistem dinamik mengikuti pola dasar archtype “limits to growth”.

Kata kunci : model, pengembangan, rumput laut, sistem dinamik 8.1 Pendahuluan

Wilayah Kabupaten Kupang memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup besar untuk dikembangkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, salah satu potensi yang dimiliki sesuai dengan karakteristik wilayahnya adalah sektor kelautan dan perikanan. Melihat potensi yang besar ini, maka pengembangan kawasan minapolitan merupakan pilihan tepat sebagai konsep pembangunan wilayah dengan menyesuaikan potensi dan karakteristik wilayah yang bersangkutan. Pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang dimaksudkan agar terjadi peningkatan efisiensi dan efektifitas dengan menurunkan komponen biaya dari hulu sampai hilir dalam produksi suatu komoditi.

(2)

Bentuk pemusatan yang dilakukan adalah dimana dalam suatu kawasan tersedia subsistem-subsistem dalam agribisnis perikanan dari subsistem hulu hingga hilir serta jasa penunjang. Adanya pemusatan aktifitas tersebut dapat mengurangi biaya-biaya terutama biaya transportasi antar subsistem yang terfokus pada komoditas perikanan tersebut. Efisiensi dan efektifitas yang diciptakan, dengan sendirinya akan mampu meningkatkan daya saing produk perikanan baik pada skala domestik maupun internasional.

Banyak permasalahan yang kompleks yang dihadapi dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang, yang sulit diselesaikan dengan hanya menggunakan suatu metode spesifik saja. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang kompleks tersebut adalah dengan pendekatan sistem (system approach). Pendekatan sistem dapat menyelesaikan masalah dengan baik bagi permasalahan multidisiplin yang kompleks (Manestch dan Park, 1977). Eriyatno, 1998 menyatakan bahwa pendekatan sistem didefinisikan sebagai suatu metodologi penyelesaian masalah yang dimulai dengan secara tentatif mendefinisikan atau merumuskan tujuan dan hasilnya adalah suatu sistem operasi yang secara efektif dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Pendekatan sistem dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang, perlu diketahui hubungan antar beberapa komponen yang saling berpengaruh satu sama lain baik pada usaha on farm maupun off farm. Untuk melihat hubungan antar komponen dalam pengembangan kawasan minapolitan tersebut perlu dibangun model yang merupakan simplikasi dari sistem. Sebagaimana diketahui bahwa model dapat dibedakan atas dua jenis yaitu model statik dan model dinamik, namun yang banyak digunakan adalah model dinamik karena memiliki variabel yang dapat berubah sepanjang waktu sebagai akibat dari perubahan input dan interaksi antar elemen-elemen sistem. Melalui model dinamik dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang ini, dapat menggambarkan dunia nyata yang terjadi selama ini sekaligus sebagai proses peramalan dari suatu keadaan untuk masa yang akan datang. Melihat besarnya peran permodelan dalam pengembangan kawasan, dilakukan penelitian permodelan di Kabupaten Kupang dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang.

(3)

8.2 Metode Analisis Model Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Kupang

8.2.1 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang diperlukan dalam menyusun model pengembangan kawasan minapolitan berupa data primer dan data sekunder yang diperoleh dari responden dan pakar yang terpilih, serta dari berbagai instansi yang terkait dengan topik penelitian. Data primer yang diperlukan berupa faktor-faktor atau variabel penting yang berpengaruh dalam pengembangan minapolitan. Variabel tersebut diperoleh dari wawancara terhadap responden di lokasi penelitian. Data primer yang diperlukan berupa data yang berkaitan dengan kendala, kebutuhan, dan lembaga yang terlibat dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang, sedangkan data sekunder yang diperlukan adalah data jumlah penduduk, luas lahan budidaya, rata-rata pendapatan penduduk, produksi komoditas unggulan, input produksi (bibit), dan harga produk.

8.2.2 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penyusunan model pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang dilakukan melalui diskusi, wawancara, kuesioner, dan survei lapangan dengan responden di wilayah studi yang terdiri dari berbagai pakar dan stakeholder yang terkait dengan kegiatan pengembangan kawasan minapolitan untuk pengumpulan data primer, dan beberapa kepustakaan dan dokumen dari beberapa instansi yang terkait dengan penelitian untuk pengumpulan data sekunder.

8.2.3 Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan pengembangan kawasan minapolitan secara berkelanjutan di Kabupaten Kupang adalah sistem dinamik dengan bantuan software powersim constructor version 2.5d. Tahapan-tahapan dalam sistem dinamik meliputi analisis kebutuhan, formulasi masalah, identifikasi sistem, simulasi model, dan validasi model. Dalam analisis sistem dinamik ini akan dikaji tiga sub model yaitu sub model lahan, sub model budidaya laut, dan sub model industri pengolahan dan pemasaran.

a. Analisis Kebutuhan

Analisis kebutuhan bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan setiap pelaku yang terlibat dalam pengembangan minapolitan. Berdasarkan kajian

(4)

pustaka, stakeholder yang terlibat dalam pengembangan kawasan minapolitan ini dapat dilihat dalam Tabel 36.

Tabel 36 Analisis kebutuhan aktor dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang

No. Aktor / stakeholder Kebutuhan

1. Masyarakat/nelayan 1.1 Terbukanya lapangan kerja 1.2 Produksi perikanan meningkat 1.3 Tersedianya modal usaha 1.4 Pemasaran yang baik dan tinggi 1.5 Peningkatan pendapatan nelayan 1.6 Tersedianya sarana produksi 1.7 Harga jual yang tinggi

1.8 Tersedianya sarana informasi 2. Pemerintah 2.1 Kebijakan kawasan minapolitan

2.2 Pendapatan daerah meningkat

2.3 Peningkatan kesejahteraan masyarakat 2.4 Pengembangan potensi unggulan 2.5 Pengembangan wilayah

2.6 Kemitraan nelayan dengan pihak terkait 3. Lembaga keuangan 3.1 Profitabilitas usaha

3.2 Pengembalian pinjaman modal tepat waktu 4. Pedagang pengumpul &

pedagang besar

4.1 Kualitas hasil perikanan terjamin 4.2 Harga beli yang rasional

4.3 Kontinuitas hasil kelautan/perikanan 4.4 Margin keuntungan tinggi

4.5 Akses modal yang mudah

4.6 Jaringan pemasaran yang kondusif 5. Industri pengolahan 5.1 Kontuinitas produksi & mutu yang terjamin

5.2 Harga beli rasional

5.3 Terjaminnya persediaan bahan baku 5.4 Keamanan berusaha

6. LSM 6.1 Lingkungan sehat

6.2 Tidak terjadi konflik sosial 6.3 Transportasi

6.4 Good governance

7. Perguruan tinggi 7.1 Kemitraan dengan perguruan tinggi 7.2 Hasil kajian yang aplikatif

7.3 Kualitas dan kuantitas hasil perikanan terjamin

b. Identifikasi Sistem

Identifikasi sistem merupakan suatu rangkaian hubungan antara pernyataan dari kebutuhan-kebutuhan dengan pernyataan masalah yang harus dipecahkan dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut. Tujuan identifikasi sistem adalah untuk memberikan gambaran tentang hubungan antara faktor-faktor yang saling mempengaruhi dalam kaitannya dengan pembentukan suatu sistem. Hubungan antar faktor digambarkan dalam bentuk diagram lingkar sebab-akibat (causal loop), kemudian dilanjutkan dengan interpretasi diagram lingkar ke dalam konsep kotak gelap (black box). Dalam menyusun kotak gelap,

(5)

jenis informasi dikategorikan menjadi tiga golongan yaitu peubah input, peubah output, dan parameter-parameter yang membatasi struktur sistem. Gambaran diagram lingkar sebab-akibat dapat dilihat pada Gambar 46 dan diagram kotak gelap pada Gambar 47.

Gambar 46 Diagram lingkar sebab-akibat (causal loop) pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang

(6)

c. Simulasi Model

Simulasi model merupakan cara untuk menirukan keadaan yang sesungguhnya (Robert, 1983), sedangkan menurut Muhammadi et al., 2001, simulasi model merupakan peniruan perilaku suatu gejala atau proses. Tujuan simulasi adalah untuk memahami gejala atau proses, membuat analisis, dan peramalan perilaku gejala atau proses tersebut di masa depan. Dengan menggunakan perangkat lunak powersim, variabel-variabel akan saling dihubungkan membentuk suatu sistem yang dapat menirukan kondisi sebenarnya. Hubungan antar variabel dinamakan diagram alir (flow diagram), dimana variabel ini digambarkan dalam bentuk simbol yaitu simbol aliran (flow symbol) yang dihubungkan dengan level (level symbol). Penghubung antara flow dan level disebut proses aliran yang digambarkan melalui panah aliran. Hasil simulasi model berupa gambar atau grafik yang menggambarkan perilaku dari sistem. Kelebihan dilakukannya simulasi dalam analisis kesisteman adalah bahwa permasalahan yang penuh dengan ketidakpastian dan sulit dipecahkan dengan metode analisis lainnya, dapat diselesaikan dengan simulasi model.

d. Validasi Model

Terdapat dua pengujian dalam validasi model yaitu uji validasi struktur dan uji validasi kinerja. Uji validasi struktur lebih menekankan pada keyakinan pada pemeriksaan kebenaran logika pemikiran, sedangkan uji validasi kinerja lebih menekankan pemeriksaan yang taat data empiris. Model yang baik adalah yang memenuhi kedua syarat tersebut yaitu logis-empiris (logico-empirical).

Uji validasi struktur bertujuan untuk memperoleh keyakinan sejauh mana keserupaan struktur model mendekati struktur nyata. Uji ini dibedakan atas dua jenis yaitu validasi konstruksi dan kestabilan struktur. Validasi konstruksi adalah keyakinan terhadap konstruksi model diterima secara akademis, sedangkan kestabilan struktur adalah keberlakuan atau kekuatan (robustness) struktur dalam dimensi waktu (Muhammadi et al., 2001). Uji validasi kinerja bertujuan untuk memperoleh keyakinan sejauh mana kinerja model sesuai (compatible) dengan kinerja sistem nyata sehingga memenuhi syarat sebagai model ilmiah dengan yang taat fakta, yaitu dengan melihat apakah perilaku output model sesuai dengan perilaku data empiris. Penyimpangan terhadap output model dengan data empiris dapat diketahui dengan uji statistik yaitu menguji penyimpangan rata-rata absolutnya (AME : Absolute Means Error) dan penyimpangan variasi absolutnya (AVE : Absolute Variation Error). Batas

(7)

penyimpangan yang dapat diterima berkisar antara 5 – 10% (Muhammadi et al., 2001). Adapun rumus untuk menghitung nilai AME dan AVE seperti di bawah ini :

Rumus AME (Absolute Means Error) = (Si – Ai) / Ai x 100%…….……(16)

Si = Si / N dan Ai = Ai / N

dimana : S = Nilai simulasi A = Nilai aktual

N = Interval waktu pengamatan

Rumus AVE (Absolute Variation Error) = (Ss – Sa) / Sa x 100%…….…….(17)

Ss = ((Si - Si)2) / N dan Sa = ((Ai - Ai)2) / N

dimana : Sa = Deviasi nilai aktual Ss = Deviasi nilai simulasi N = Interval waktu pengamatan

e. Uji Kestabilan Model

Uji kestabilan model pada dasarnya merupakan bagian dari uji validasi struktur. Uji ini dilakukan untuk melihat kestabilan atau kekuatan (robustness) model dalam dimensi waktu. Model dikatakan stabil apabila struktur model agregat dan disagregat memiliki kemiripan. Caranya adalah dengan menguji struktur model agregat yang diwakili oleh sub-sub model yang ada.

f. Uji Sensitivitas Model

Uji sensitivitas merupakan respon model terhadap suatu stimulus. Respon ini ditunjukkan dengan perubahan perilaku dan/atau kinerja model. Stimulus diberikan dengan memberikan perlakuan tertentu pada unsur atau struktur model.

8.3 Hasil dan Pembahasan Model Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Kupang

8.3.1 Simulasi Model Pengembangan Kawasan Minapolitan

Model dinamik pengembangan kawasan minapolitan di wilayah Kabupaten Kupang dibangun melalui logika hubungan antara komponen yang terkait dan interaksinya. Komponen-komponen yang terkait adalah pertumbuhan penduduk, luas lahan kawasan minapolitan, luas lahan permukiman, luas lahan industri, luas lahan budidaya, produksi dan keuntungan usaha nelayan, pendapatan pemanfaatan industri, biaya industri pengolahan, keuntungan, dan sumbangan pengembangan minapolitan terhadap produk domestik regional

(8)

bruto (PDRB) Kabupaten Kupang. Model dinamik yang dibangun terdiri atas tiga sub model yang mewakili dimensi ekologi, ekonomi, dan sosial yaitu (1) sub model lahan minapolitan yang menggambarkan perkembangan kebutuhan lahan untuk permukiman, budidaya, fasilitas, dan lahan untuk industri pengolahan serta dinamika pertumbuhan penduduk; (2) sub model budidaya laut yang menggambarkan perkembangan produksi, jumlah rumput laut yang dipakai pada kebun bibit, penjualan bibit, keuntungan dari pembibitan keuntungan usaha nelayan minapolitan; dan (3) sub model industri pengolahan rumput laut yang menggambarkan biaya pengolahan, keuntungan yang diperoleh dari hasil pengolahan serta PDRB.

Perilaku model dinamik pengembangan kawasan minapolitan di wilayah perbatasan Kabupaten Kupang dianalisis dengan menggunakan program powersim constructor version 2.5d. Struktur model minapolitan ini dapat dilihat pada Gambar 48 dan persamaan model dinamis pada Lampiran 22. Analisis dilakukan untuk 30 tahun yang akan datang, dimulai pada tahun 2007 dan berakhir pada tahun 2037. Waktu 30 tahun ini diharapkan dapat memberikan gambaran perkembangan kawasan minapolitan di wilayah Kabupaten Kupang untuk masa jangka panjang. Beberapa data awal dan asumsi-asumsi yang digunakan dalam pemodelan ini antara lain :

1. Simulasi model minapolitan berbasis budidaya laut ini merupakan simulasi dari tiga kecamatan pesisir di Kabupaten Kupang yaitu Kecamatan Semau, Kupang Barat dan Sulamu. Luas lahan minapolitan terdiri atas dua lahan yaitu lahan minapolitan darat dan lahan minapolitan laut.

2. Jumlah penduduk kecamatan Semau, Kupang Barat dan Sulamu masing-masing sebesar 6.280 jiwa, 14.234 jiwa dan 14.457 jiwa pada tahun 2007 (BPS Kabupaten Kupang, 2008). Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kupang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kelahiran dan kematian, namun saat ini faktor perpindahan penduduk juga mempunyai pengaruh yang cukup besar. Luas lahan perairan untuk pengembangan minapolitan budidaya laut masing-masing kecamatan sekitar 689,22 ha untuk Kecamatan Semau, 3040,47 ha untuk Kecamatan Kupang Barat, dan 365,34 ha untuk Kecamatan Sulamu.

3. Komoditas budidaya yang dimodelkan meliputi komoditas rumput laut yang merupakan komoditas unggulan di lokasi studi. Produksi budidaya rumput laut untuk Kecamatan Semau sebesar 600 ton dan Kecamatan Kupang Barat

(9)

sebesar 1.100 ton tahun 2007 sedangkan untuk Kecamatan Sulamu data tidak tersedia.

4. Hasil rumput laut akan diolah menjadi dodol dan pilus. Untuk mengolah tersebut dibutuhkan industri pengolahan dengan tenaga kerja. Pembudidaya rumput laut tahun 2007 di Kecamatan Semau sejumlah 995 jiwa dan Kecamatan Kupang Barat sejumlah 1650 orang.

5. Lahan budidaya adalah lahan dengan kelas sangat sesuai, sedangkan untuk lahan dengan kelas sesuai dan tidak sesuai dipakai sebagai lahan konservasi. 6. Sumbangan pengembangan minapolitan terhadap produk domestik regional

bruto (PDRB) Kabupaten Kupang dihitung dari PDRB perikanan yang meliputi komoditas rumput laut.

Gambar 48 Struktur model dinamik pengembangan kawasan minapolitan berbasis rumput laut di Kabupaten Kupang

a. Sub Model Pengembangan Lahan Minapolitan

Sub model pengembangan lahan minapolitan di Kabupaten Kupang terdiri atas tiga kecamatan yaitu Kecamatan Semau, Kupang Barat dan Sulamu. Komponen-komponen yang saling berhubungan dan memberikan pengaruh pada sub model pengembangan lahan minapolitan adalah lahan budidaya, lahan

(10)

industri, dan lahan permukiman. Lahan minapolitan terdiri atas lahan minapolitan darat dan lahan minapolitan laut. Adapun pengaruh dari setiap komponen-komponen tersebut seperti pada Gambar 49.

Gambar 49 Struktur model dinamik sub model pengembangan lahan minapolitan di Kabupaten Kupang

Simulasi model dinamik untuk lahan minapolitan (Gambar 50) berawal dari luas perairan laut dengan kelas kesesuaian sangat sesuai untuk budidaya rumput laut dan luas lahan daratan yang terbagi atas dua bagian, yaitu (1) lahan industri adalah lahan yang dibutuhkan dari industri rumah tangga dan (2) lahan permukiman yang diasumsikan pemakaiannya sebesar 20 m2 per jiwa. Untuk pemodelan dinamis minapolitan laut hanya akan dimodelkan lahan budidaya rumput laut (perairan dengan tingkat kesesuaian sangat sesuai) saja, sehingga untuk pertimbangan lingkungan seperti kawasan konservasi laut diambil dari luas perairan dengan tingkat kesesuaian sesuai dan tidak sesuai tidak dimodelkan. Pemodelan dinamis minapolitan darat diasumsikan alokasi penggunaan lahan untuk kawasan industri pengolahan dan permukiman. Luas lahan industri pengolahan di dapat dari kebutuhan industri dodol dan pilus per rumah tangga (asumsi 100 m2 per industri rumah tangga).

Pengembangan lahan minapolitan di Kabupaten Kupang berada di tiga kecamatan yaitu Semau, Kupang Barat, dan Sulamu. Simulasi model dinamik alokasi penggunaan lahan Kecamatan Semau berawal dari luas lahan darat 143,42 km2 dan 6,89 km2 lahan di laut. Di lahan minapolitan laut digunakan untuk lahan budidaya rumput laut 5,94 km2 (diambil dari kelas kesesuaian sangat

(11)

sesuai), sedangkan untuk kondisi eksisting luas lahan budidaya adalah 1,21 km2. Laju pengurangan dari alokasi fasilitas budidaya sebesar 2% per tahun dan laju pertumbuhan lahan budidaya rumput laut sebesar 10%. Jumlah penduduk eksisting (tahun 2007) sebanyak 6.280 jiwa dengan tingkat kelahiran 1,13%, tingkat kematian 0,53%, imigrasi 1,84% dan emigrasi 1,04%. Asumsi pemakaian lahan pemukiman per jiwa sebesar 20 m2 (2.10-5 km2). Lahan industri pengolahan di tahun 2007 belum tersedia. Berdasarkan asumsi-asumsi ini dihasilkan simulasi model penggunaan lahan di kawasan minapolitan Kecamatan Semau seperti pada Tabel 37.

Tabel 37 Simulasi perkembangan pemanfaatan lahan minapolitan rumput laut (km2) di Kecamatan Semau

Alokasi penggunaan lahan kawasan minapolitan budidaya rumput laut Kecamatan Semau dari Tabel 37 menunjukkan terjadi penambahan luas lahan budidaya rumput laut dari 1,21 km2 pada tahun 2007 menjadi 3,41 km2 pada tahun 2022 dengan laju pertambahan luas sebesar 15% per tahun. Demikian pula yang terjadi pada luas lahan permukiman, pada tahun 2007 luas lahan sebesar 0,13 km2 naik menjadi 4,77 km2 pada tahun 2037, sementara luas lahan industri pengolahan rumput laut naik menjadi 1,94 km2 di tahun 2037.

Dengan asumsi pertambahan pemanfaatan lahan budidaya 10% per tahun, maka pada tahun 2037 pemanfaatan lahan belum terpakai secara keseluruhan dari total alokasi penggunaan lahan budidaya sebesar 5,94 km2. Hal ini memungkinkan untuk dilakukannya kegiatan ekstensifikasi dalam rangka

(12)

meningkatkan produksi rumput laut di Kecamatan Semau. Apabila simulasi ini dilakukan untuk jangka waktu 30 tahun dengan asumsi laju pertambahan pemanfaatan lahan budidaya sebesar 20%, maka pada tahun 2034 luas lahan budidaya rumput laut akan maksimal dibudidayakan dengan luas 5,94 km2 dengan jumlah petakan rumput laut sebesar 1.930 unit dan lahan industri rumah tangga membutuhkan luas industri 2,65 km2.

Simulasi lahan minapolitan Kecamatan Kupang Barat berawal dari luas lahan minapolitan darat 149,72 km2 dan 30,40 km2 lahan minapolitan laut. Di lahan minapolitan laut digunakan untuk lahan budidaya rumput laut 22,29 km2 (diambil dari kelas kesesuaian sangat sesuai). Kondisi eksisting luas lahan budidaya adalah 3,23 km2. Laju pengurangan dari alokasi fasilitas budidaya sebesar 2% per tahun dan Laju pertumbuhan lahan budidaya rumput laut sebesar 10%. Jumlah penduduk eksisting (tahun 2007) sebanyak 14.342 jiwa dengan tingkat kelahiran 1,70%, tingkat kematian 0,47%, imigrasi 2,86% dan emigrasi 1,65%. Asumsi pemakaian lahan pemukiman per jiwa sebesar 20 m2 (2.10-5 km2). Berdasarkan asumsi-asumsi ini dihasilkan simulasi model penggunaan lahan di kawasan minapolitan Kecamatan Kupang Barat yang disajikan pada Tabel 38.

Tabel 38 Simulasi perkembangan pemanfaatan lahan minapolitan rumput laut (km2) di Kecamatan Kupang Barat

Alokasi penggunaan lahan kawasan minapolitan budidaya rumput laut Kecamatan Kupang Barat dari Tabel 38 menunjukkan terjadi penambahan luas

(13)

lahan budidaya rumput laut dari 3,23 km2 pada tahun 2007 menjadi 9,10 km2 pada tahun 2037 dengan laju pertambahan luas sebesar 10% per tahun. Demikian pula yang terjadi pada luas lahan permukiman, pada tahun 2007 luas lahan sebesar 0,29 km2 naik menjadi 12,76 km2 pada tahun 2037 dengan laju pertumbuhan 1% per tahun. Sementara luas lahan industri pengolahan rumput laut naik menjadi 5,17 km2 pada tahun 2037. Dengan asumsi pertambahan pemanfaatan lahan budidaya 10% per tahun, maka pada tahun 2037 pemanfaatan lahan belum terpakai secara keseluruhan dari total alokasi penggunaan lahan budidaya sebesar 22,29 km2. Hal ini memungkinkan untuk dilakukannya kegiatan ekstensifikasi dalam rangka meningkatkan produksi rumput laut di Kecamatan Kupang Barat, agar dapat memperoleh luas lahan budidaya maksimal dalam jangka waktu 30 tahun adalah menaikkan laju pertumbuhan lahan budidaya rumput laut sebesar 30% sehingga didapat lahan budidaya maksimal sebesar 22,24 km2 pada tahun 2034. Jika laju pertumbuhan luas lahan budidaya ditambah 30% per tahun maka akan terdapat penambahan unit longline rumput laut sebesar 7.414 unit petakan per 3000 m2 setiap tahun.

Tabel 39 Simulasi perkembangan pemanfaatan lahan minapolitan rumput laut (km2) di Kecamatan Sulamu

Simulasi lahan minapolitan Kecamatan Sulamu berawal dari luas lahan minapolitan darat sebesar 270,12 km2 dan 3,65 km2 lahan minapolitan laut. Di lahan minapolitan laut digunakan untuk lahan budidaya rumput laut 3,20 km2 (diambil dari kelas kesesuaian sangat sesuai). Kondisi eksisting luas lahan

(14)

budidaya adalah 0,10 km2. Laju pengurangan dari alokasi fasilitas budidaya sebesar 2% per tahun dan laju pertumbuhan lahan budidaya rumput laut sebesar 10%. Jumlah penduduk eksisting (tahun 2007) sebanyak 14.457 jiwa dengan tingkat kelahiran 1,57%, tingkat kematian 0,80%, imigrasi 2,96% dan emigrasi 1,90%. Asumsi pemakaian lahan pemukiman per jiwa sebesar 20 m2 (2.10-5 km2). Lahan industri pengolahan di tahun 2007 belum tersedia. Berdasarkan asumsi-asumsi ini dihasilkan simulasi model penggunaan lahan di kawasan minapolitan Kecamatan Sulamu yang disajikan pada Tabel 39.

Alokasi penggunaan lahan kawasan minapolitan budidaya rumput laut Kecamatan Sulamu dari Tabel 39 menunjukkan terjadi penambahan luas lahan budidaya rumput laut dari 0,10 km2 pada tahun 2007 menjadi 0,29 km2 pada tahun 2037 dengan laju pertambahan luas sebesar 10% per tahun. Demikian pula yang terjadi pada luas lahan permukiman, pada tahun 2007 luas lahan sebesar 0,29 km2 naik menjadi 11,71 km2 pada tahun 2037 dengan laju pertumbuhan 1% per tahun, sementara luas lahan industri pengolahan rumput laut naik menjadi 0,16 km2 pada tahun 2037.

Dengan asumsi pertambahan pemanfaatan lahan budidaya 10% per tahun, maka pada tahun 2037 pemanfaatan lahan belum terpakai secara keseluruhan dari total alokasi penggunaan lahan budidaya sebesar 3,20 km2. Hal ini memungkinkan untuk dilakukannya kegiatan ekstensifikasi dalam rangka meningkatkan produksi rumput laut di Kecamatan Sulamu. Berbeda dengan Kecamatan Semau dan Kecamatan Kupang Barat, pada Kecamatan Sulamu ini perlu dilakukan pengembangan rumput laut sebesar-besarnya agar dapat memaksimalkan lahan budidaya rumput laut yang tersedia. Dalam rangka memaksimalkan lahan budidaya rumput laut dapat dilakukan dengan cara menaikkan laju pertumbuhan sebesar 140% untuk jangka waktu 30 tahun sehingga pada tahun 2036 didapatkan luas lahan budidaya rumput laut yang maksimal sebesar 3,16 km2 untuk jumlah petakan rumput laut sebesar 1.053 unit dan membutuhkan lahan industri sebesar 1,44 km2. Namun hal ini tidak mungkin dilakukan di Kecamatan Sulamu yang masih mengalami banyak kendala dan masalah dalam budidaya laut khususnya rumput laut, salah satu diantaranya adalah jumlah masyarakat yang bermata pencaharian sebagai pembudidaya rumput laut tidak cukup untuk menggarap lahan budidaya tersebut, sehingga hal yang paling memungkinkan dilakukan adalah melibatkan masyarakat Kecamatan Sulamu dalam pelatihan budidaya rumput laut sehingga kegiatan ekstensifikasi

(15)

b. Sub Model Budidaya Rumput Laut di Kawasan Minapolitan

Sub model budidaya rumput laut menggambarkan hubungan beberapa komponen seperti luas lahan budidaya sebagai komponen utama dan selanjutnya diikuti oleh komponen lainnya seperti jumlah petakan rumput laut, kebutuhan bibit rumput laut, produksi rumput laut, dan keuntungan budidaya rumput laut. Stock flow diagram (SFD) sub model budidaya rumput laut disajikan pada Gambar 51.

Gambar 51 Struktur model dinamik sub model budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang

Peningkatan luas lahan khususnya lahan budidaya rumput laut akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi rumput laut. Dalam hal ini, peningkatan luas lahan untuk budidaya rumput laut akan berpengaruh terhadap peningkatan produksi rumput laut yang kemudian akan berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan pembudidaya. Hubungan antar komponen ini merupakan hubungan timbal balik positif (positive feedback) melalui proses reinforcing. Tabel 40 sampai 42 masing-masing untuk Kecamatan Semau, Kupang Barat, dan Sulamu menunjukkan peningkatan produksi rumput laut periode 2007–2037.

Untuk sub model budidaya ini, simulasi berawal dari luas lahan budidaya rumput laut yang terbagi atas dua faktor utama yaitu jumlah unit longline rumput laut (selanjutnya disebut petakan) per 3000 m2 dan kebutuhan bibit rumput laut yang akan ditanam di pada petakan. Untuk jumlah petakan membutuhkan tenaga kerja yaitu 5 orang per petakan. Kebutuhan bibit rumput laut, dibutuhkan bibit

(16)

2400 kg per 3000 m2 (800 ton per km2), kemudian laju pengurangan panen rumput laut dipengaruhi oleh persen kematian rumput laut sebesar 10%, sedangkan laju pertambahan panen rumput laut dipengaruhi oleh kenaikan berat rumput laut yaitu 6 kali berat semula (200 gr) dan jumlah panen normal dalam 1 tahun sebanyak 6 kali panen. Setelah pemanenan dilakukan, proses berikutnya adalah penjemuran rumput laut untuk mendapatkan rumput laut kering. Dalam proses pengeringan ini, diasumsikan rendemen rumput laut sebesar 12,5% dari berat rumput laut basah sebelum dijual.

Dalam sub model budidaya ini juga terdapat biaya operasional sebesar Rp63.312.000,00 per petak per tahun dan kenaikan modal sebesar 6% per tahun, kedua faktor ini yang mempengaruhi besarnya pengeluaran dalam produksi budidaya rumput laut ini. Biaya operasional merupakan biaya dari analisis kelayakan usaha (finansial) yang telah dibahas pada bab 5 pada disertasi ini. Penerimaan usaha budidaya rumput laut ini diperoleh dari hasil penjualan rumput laut kering dengan harga Rp10.000,00 per kg.

Tabel 40 menyajikan hasil simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Semau tahun 2007-2037. Dengan asumsi laju pertambahan lahan budidaya 10% dan perhitungan produksi budidaya yang telah dibuat, pada tahun 2037 didapatkan peningkatan hasil panen kering rumput laut sebesar 10.707 ton dari 3.799 ton pada tahun 2007. Untuk mendapatkan 3.799 ton pada tahun 2007 dibutuhkan bibit rumput laut sebesar 968 ton yang akan ditanam pada luas lahan budidaya 1,21 km2 dengan jumlah petakan 403 unit.

Keuntungan usaha budidaya laut ini mengalami peningkatan dari Rp10.926.009.600,00 pada tahun 2007 menjadi Rp30.790.180.359,00 pada tahun 2037. Dilihat dari keuntungan yang diperoleh jika hasil panen rumput laut kering terjual semuanya tanpa diolah terlebih dahulu dapat meningkatkan pendapatan para pembudidaya rumput laut di Kecamatan Semau.

(17)

Tabel 40 Simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Semau

Tabel 41 menyajikan hasil simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Kupang Barat tahun 2007-2037. Dengan asumsi laju pertambahan lahan budidaya 10% dan perhitungan produksi budidaya yang telah dibuat, pada tahun 2037 didapatkan peningkatan hasil panen kering rumput laut sebesar 28.581 ton dari 10.142 ton pada tahun 2007. Untuk mendapatkan 10,142 ton pada tahun 2007 dibutuhkan bibit rumput laut sebesar 2.584 ton yang akan ditanam pada luas lahan budidaya 3,23 km2 dengan jumlah petakan 1.077 unit. Keuntungan usaha budidaya laut ini mengalami peningkatan dari Rp29.166.124.800,00 pada tahun 2007 menjadi Rp82.191.969.058,00 pada tahun 2037. Dilihat dari keuntungan yang diperoleh jika hasil panen rumput laut kering terjual semuanya tanpa diolah terlebih dahulu dapat meningkatkan pendapatan para pembudidaya rumput laut di Kecamatan Kupang Barat.

(18)

Tabel 41 Simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Kupang Barat

Tabel 42 menyajikan hasil simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Sulamu Tahun 2007-2037. Dengan asumsi laju pertambahan lahan budidaya 10% dan perhitungan produksi budidaya yang telah dibuat, pada tahun 2037 didapatkan peningkatan hasil panen kering rumput laut sebesar 885 ton dari 314 ton pada tahun 2007.

Untuk mendapatkan 314 ton pada tahun 2007 dibutuhkan bibit rumput laut sebesar 80 ton yang akan ditanam pada luas lahan budidaya 0,10 km2 dengan jumlah petakan 33 unit. Keuntungan usaha budidaya laut ini mengalami peningkatan dari Rp902.976.000,00 pada tahun 2007 menjadi Rp2.544.643.005,00 pada tahun 2037. Dilihat dari keuntungan yang diperoleh jika hasil panen rumput laut kering terjual semuanya tanpa diolah terlebih dahulu dapat meningkatkan pendapatan para pembudidaya rumput laut di Kecamatan Sulamu.

(19)

Tabel 42 Simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Sulamu

Peningkatan produksi usaha rumput laut ini akan berdampak pada peningkatan keuntungan usaha rumput laut yang diterima oleh pembudidaya. Hasil simulasi model dinamik menunjukkan peningkatan keuntungan usaha rumput laut mengikuti pertumbuhan yang cukup tajam dan membentuk pola pertumbuhan dari kurva sigmoid, dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan menjual hasil panen rumput laut kering saja dapat meningkatkan pendapatan pembudidaya rumput laut di Kabupaten Kupang, sehingga diperlukan suatu kontinuitas produksi rumput laut karena menguntungkan dan dapat mensejahterakan masyarakat sekitar pesisir.

c. Sub Model Pengembangan Industri Pengolahan Rumput Laut

Sub model pengembangan industri pengolahan rumput laut kering merupakan bagian pemodelan untuk mengetahui pengaruh

(20)

komponen-komponen dalam pengembangan usaha rumput laut di Kabupaten Kupang. Dalam simulasi sub model ini terdapat beberapa komponen yang saling berpengaruh seperti jenis olahan rumput laut, kapasitas produksi, tenaga kerja, industri rumah tangga, biaya produksi, keuntungan penjualan hasil olahan, dan PDRB di Kabupaten Kupang. Pengaruh antar komponen dalam sub model ini disajikan dalam stock flow diagram (SFD) seperti terlihat pada Gambar 52.

Gambar 52 Struktur model dinamik sub model industri pengolahan dan

pemasaran rumput laut di Kabupaten Kupang

Berbeda dengan sub model budidaya, pada pemodelan industri pengolahan ini hasil panen rumput laut tidak dijual seluruhnya melainkan dibagi 10% untuk diolah menjadi makanan dan sisanya 90% dijual kering tanpa diolah terlebih dahulu. Untuk rumput laut yang diolah, dibagi menjadi dua hasil olahan yaitu dodol dan pilus. Contoh hasil pengolahan dodol dan pilus yang telah dilakukan dapat dilihat pada Lampiran 23. Untuk pengolahan rumput laut saat ini berupa industri rumah tangga dengan tenaga kerja 5 orang per olahan pilus dan 5 orang per olahan dodol. Kapasitas produksi masing-masing dodol dan pilus sebesar 960 kg per tahun per industri rumah tangga. Untuk harga jual dodol Rp65.000,00 per kg dan harga jual pilus Rp55.000,00 per kg. Produk domestik regional bruto (PDRB) merupakan hasil sumbangan dari keuntungan penjualan dodol, pilus dan rumput laut kering.

(21)

Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Semau Tahun 2007-2037 disajikan pada Tabel 43. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dari hasil panen kering 3.779 ton pada tahun 2007 didapatkan PDRB sebesar Rp33.427.311.170,00 dari hasil penjualan 90% rumput laut kering dan 10% hasil olahan dodol dan pilus. Peningkatan industri rumput laut olahan dodol meningkat dari Rp10.589.022.785,00 pada tahun 2007 menjadi Rp29.840.530.378,00 pada tahun 2037 sedangkan untuk olahan pilus meningkat dari Rp8.689.322.785,00 pada tahun 2007 menjadi Rp24.487.056.624,00 pada tahun 2037. PDRB Kecamatan Semau dari rumput laut mencapai Rp94.200.259.521,00 pada tahun 2037.

Tabel 43 Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (Rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Semau

Tabel 44 menyajikan hasil simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (Rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Kupang Barat tahun 2007-2037. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dari hasil

(22)

panen kering 10.142 ton pada tahun 2007 didapatkan PDRB sebesar Rp89.231.582.710,00 dari hasil penjualan 90% rumput laut kering dan 10% hasil olahan dodol dan pilus. Peningkatan industri rumput laut olahan dodol meningkat dari Rp28.266.564.955,00 pada tahun 2007 menjadi Rp79.656.952.992,00 pada tahun 2037 sedangkan untuk olahan pilus meningkat dari Rp23.195.464.955,00 pada tahun 2007 menjadi Rp65.366.275.120,00 pada tahun 2037. PDRB Kecamatan Kupang Barat dari rumput laut mencapai Rp251.460.196.902,00 pada tahun 2037.

Tabel 44 Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (Rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Kupang Barat

Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Sulamu tahun 2007-2037 disajikan pada Tabel 45. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dari hasil panen kering 314 ton pada tahun 2007 didapatkan PDRB sebesar Rp2.762.587.700,00

(23)

dari hasil penjualan 90% rumput laut kering dan 10% hasil olahan dodol dan pilus. Peningkatan industri rumput laut olahan dodol meningkat dari Rp875.125.850,00 pada tahun 2007 menjadi Rp2.466.159.535,00 pada tahun 2037 sedangkan untuk olahan pilus meningkat dari Rp718.125.850,00 pada tahun 2007 menjadi Rp2.023.723.688,00 pada tahun 2037. PDRB Kecamatan Sulamu dari rumput laut mencapai Rp7.785.145.415,00 pada tahun 2037.

Tabel 45 Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (Rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Sulamu

Peningkatan setiap komponen yang ada dalam sub model industri ini mengikuti pertumbuhan kurva sigmoid sampai batas tertentu. Akibat keterbatasan lahan budidaya akan mengalami suatu titik kesetimbangan tertentu (stable equilibirium) dimana keuntungan dan peningkatan PDRB tidak dapat ditingkatkan lagi di kawasan minapolitan budidaya rumput laut ini, dan sub model pengolahan ini dapat dikatakan mengikuti pola (archetype) limit to growth dalam sistem dinamik.

(24)

8.3.2 Simulasi Skenario Model Pengembangan Kawasan Minapolitan Kinerja model yang digambarkan dalam struktur sistem menggambarkan kondisi saat ini. Seiring dengan perjalanan waktu, maka akan terjadi perubahan kinerja sistem sesuai dengan dinamika waktu yang akan terjadi pada masa yang akan datang, berdasarkan hal tersebut, disusun berbagai skenario pada model yang telah dibangun sebagai strategi yang dapat dilakukan ke depan dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan di wilayah Kabupaten Kupang. Skenario yang dibangun terdiri atas tiga skenario antara lain (1) skenario pesimis (2) skenario moderat, dan (3) skenario optimis.

Skenario pesimis dapat diartikan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh pada kinerja sistem mengalami kemunduran atau terjadi perubahan dari keadaan eksisting yang mengarah pada tercapainya kinerja sistem atau terjadi perubahan yang sangat cepat dari keadaan yang perlu dihambat perkembangannya. Skenario moderat diartikan sebagai perubahan beberapa variabel yang berpengaruh pada kinerja sistem dimana perubahan tersebut lebih baik daripada skenario pesimis, sedangkan skenario optimis diartikan bahwa terjadi perubahan yang lebih besar dari variabel-variabel yang berpengaruh pada kinerja sistem dimana perubahan ini lebih baik dari skenario pertama dan kedua. Adapun variabel-variabel tersebut sebagai variabel kunci yang sangat berpengaruh pada kinerja sistem meliputi laju pertumbuhan lahan budidaya, persen kematian rumput laut, harga jual, kenaikan berat rumput laut dari berat semula (waktu ditanam), waktu panen dalam 1 tahun, dan persen olahan rumput laut. Variabel-variabel ini akan berpengaruh terhadap perubahan penggunaan lahan di kawasan minapolitan, peningkatan produksi, tingkat keuntungan usaha nelayan, dan sumbangan terhadap PDRB. Hasil simulasi skenario model perubahan penggunaan lahan budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang dapat dilihat pada Gambar 54.

Model yang diskenariokan pada penggunaan lahan ini adalah lahan budidaya yang mengambil tempat di wilayah perairan Kecamatan Semau, Kecamatan Kupang Barat dan Kecamatan Sulamu. Pada Gambar 54 terlihat bahwa perubahan tiga skenario dalam model ini menunjukkan perubahan yang berbeda-beda dimana perubahan yang lebih nyata terlihat dengan semakin bertambahnya tahun simulasi. Pada skenario optimis, peningkatan luas lahan budidaya sangat cepat sebagai akibat dari laju pertumbuhan sebesar 10% setiap tahun, sedangkan untuk skenario moderat 5% dan pesimis 3%.

(25)

Tabel 47 Simulasi skenario sumbangan PDRB (Rp) di Kecamatan Kupang Barat

(26)

8.3.3 Uji Validasi Model

Secara garis besar uji validasi model dapat dilakukan dalam dua bentuk yaitu uji validasi struktur dan uji validasi kinerja.

a. Uji Validasi Struktur

Uji validasi struktur lebih menekankan pada keyakinan pemeriksaan kebenaran logika pemikiran atau dengan kata lain apakah struktur model yang dibangun sudah sesuai dengan teori. Secara logika, terlihat bahwa pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat akan diikuti oleh peningkatan kebutuhan lahan. Pertumbuhan penduduk ini dipengaruhi oleh pertambahan jumlah penduduk yang berasal dari kelahiran (natalitas) dan penduduk yang datang (imigrasi), serta pengurangan jumlah penduduk akibat kematian (mortalitas) dan perpindahan penduduk keluar wilayah (emigrasi). Pertumbuhan penduduk dan peningkatan kebutuhan luas lahan minapolitan (darat) mengikuti pola pertumbuhan kurva sigmoid dimana pada suatu waktu tertentu akan menemui titik keseimbangan (stable equilibrium) sesuai dengan konsep limits to growth (Meadows, 1985). Dalam hal ini terjadi proses reinforcing yang diimbangi oleh proses balancing. Kondisi ini terjadi karena keterbatasan ketersediaan lahan yang dapat menjadi faktor pembatas dan menekan pertumbuhan penduduk.

Lahan daratan yang tersedia akan dimanfaatkan untuk alokasi permukiman penduduk, ruang fasilitas, penyediaan ruang terbuka hijau dan kawasan lindung, serta lahan untuk kegiatan industri pengolahan hasil budidaya laut; sedangkan lahan perairan yang tersedia akan dimanfaatkan untuk pengembangan produksi budidaya laut dan kegiatan pemanfaatan lain seperti arus lalu lintas/tempat parkir perahu/kapal, jarak antar rakit dan perlindungan ekosistem lainnya. Karena keterbatasan luas lahan, maka semakin luas penggunaan lahan untuk tujuan tertentu akan berpengaruh terhadap luas lahan untuk tujuan penggunaan lain. Dalam hal ini akan terjadi konversi lahan untuk memenuhi kebutuhan penggunaan lahan.

Berkaitan dengan dengan lahan budidaya laut (perairan), terlihat bahwa semakin luas ketersediaan lahan budidaya akan berdampak pada semakin meningkatnya produksi usaha budidaya laut yang dihasilkan oleh nelayan/pembudidaya. Hal ini juga berdampak terhadap peningkatan keuntungan yang diperoleh. Namun demikian semakin tinggi intensitas penggunaan lahan budidaya akan menyebabkan tekanan terhadap lahan sehingga kualitasnya dapat menurun. Akibatnya produksi usaha budidaya laut juga akan menurunnya

(27)

keuntungan yang diperoleh petani. Ini berarti konsep Limits to Growth juga terjadi terhadap produksi dan keuntungan usaha budidaya laut minapolitan. Dengan melihat hasil simulasi model dinamik berdasarkan struktur model yang telah dibangun yang sesuai dengan konsep teori empirik seperti diuraikan di atas, maka model pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang dapat dikatakan valid secara empirik.

b. Uji Validasi Kinerja

Uji validasi kinerja merupakan aspek pelengkap dalam metode berpikir sistem. Tujuan dari validasi ini untuk memperoleh keyakinan sejauh mana kinerja model sesuai (compatible) dengan kinerja sistem nyata, sehingga model yang dibuat memenuhi syarat sebagai model ilmiah yang taat fakta (Muhammadi et al., 2001). Uji validasi kinerja dilakukan dengan cara menvalidasi kinerja model dengan data empiris. Uji ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji statistik seperti uji penyimpangan antara nilai rata-rata simulasi terhadap aktual (absolute means error = AME) dan uji penyimpangan nilai variasi simulasi terhadap aktual (absolute variation error = AVE), dengan batas penyimpangan yang dapat diterima maksimal 10%.

Dalam uji validasi kinerja, dapat digunakan satu atau beberapa komponen (variabel) baik pada komponen utama (main model) maupun komponen yang terkait (co-model) (Barlas, 1996). Dalam penelitian ini digunakan uji validasi kinerja AME dengan menggunakan data aktual pertumbuhan jumlah penduduk periode empat tahunan yaitu tahun 2006 sampai tahun 2009. Adapun jumlah penduduk aktual dan hasil simulasi di Kabupaten Kupang seperti pada Tabel 49.

Tabel 49 Perbandingan jumlah penduduk aktual dan hasil simulasi model di Kabupaten Kupang

No Tahun

Jumlah penduduk Kabupaten Kupang (jiwa)

Aktual Simulasi

Semau Sulamu Kupang Barat

Semau Sulamu Kupang Barat 1 2007 6.230 14.350 14.212 6.280 14.457 14.342 2 2008 6.430 15.206 14.972 6.368 14.722 14.692 3 2009 6.435 15.610 14.981 6.457 14.991 15.050

Berdasarkan hasil perhitungan uji validasi kinerja pada model ini, diperoleh nilai AME dan AVE lebih kecil dari 10% yaitu sekitar 0,49% - 3,97% (AME) dan 1% - 7,77% (AVE), sehingga dapat disimpulkan bahwa model ini

(28)

memiliki kinerja yang baik, relatif tepat dan dapat diterima secara ilmiah. Adapun hasil perhitungan uji validasi kinerja AME dan AVE seperti pada Tabel 50.

Tabel 50 Hasil perhitungan nilai AME dan AVE dalam uji validasi kinerja model

(a) Kecamatan Semau (b) Kecamatan Kupang Barat

(c) Kecamatan Sulamu

8.3.4 Uji Kestabilan dan Uji Sensitivitas Model

Sebagaimana diketahui bahwa uji kestabilan model dilakukan untuk melihat kestabilan atau kekuatan (robustness) model dalam dimensi waktu. Model dikatakan stabil apabila struktur model agregat dan disagregat memiliki kemiripan. Caranya adalah dengan menguji struktur model terhadap perilaku agregat dan disagregat harus memiliki kemiripan. Adapun uji kestabilan model berdasarkan struktur model agregat dan disagregat dapat dilihat pada Gambar 49 (agregat) dan Gambar 50, 52 dan 53 (disagregat). Hasil simulasi pada struktur model disagregat memperlihatkan kemiripan dengan struktur model agregatnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa model tersebut dapat dikatakan stabil.

Uji sensitivitas dilakukan untuk melihat respon model terhadap suatu stimulus (Muhammadi et al., 2001). Respon ini ditunjukkan dengan perubahan perilaku dan/atau kinerja model. Stimulus diberikan dengan memberikan intervensi tertentu pada unsur atau struktur model. Hasil uji sensitivitas ini adalah dalam bentuk perubahan perilaku dan/atau kinerja model sehingga dapat diketahui efek intervensi yang diberikan terhadap satu atau lebih unsur atau model tersebut. Adapun perubahan perilaku kinerja model berdasarkan intervensi yang diberikan dapat dilihat pada Gambar 54 sampai 57 dimana pada gambar-gambar tersebut terlihat besarnya perubahan dari setiap perubahan satu

(29)

atau lebih unsur di dalam model tersebut. Pada Gambar 55 misalnya, dengan memberikan intervensi dengan meningkatkan input produksi dalam suatu kegiatan usaha budidaya, maka produksi budidaya laut yang diharapkan juga akan semakin besar. Hal ini terlihat dengan semakin tajamnya perubahan kurva dari skenario pesimis ke skenario moderat dan optimis. Dengan adanya perubahan nilai produksi pada setiap pertambahan tahun dapat disimpulkan bahwa model sangat sensitif terhadap intervensi yang diberikan.

8.4 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemodelan sistem dinamis yang telah dilakukan, hasil simulasi setiap komponen menunjukkan kecenderungan kurva pertumbuhan positif naik mengikuti kurva eksponensial. Namun pada komponen pertambahan penduduk dan peningkatan lahan permukiman selalu diimbangi oleh laju pengurangan jumlah penduduk akibat kematian dan migrasi keluar sehingga dalam model ini terjadi hubungan timbal balik positif (positive feedback) melalui proses reinforcing dan timbal balik negatif (negative feedback) melalui proses balancing. Adapun komponen lahan budidaya yang telah ditentukan kesesuaian dan daya dukung lahan berdasarkan parameter untuk budidaya rumput laut sehingga pertambahan luas lahan budidaya rumput laut pada suatu saat akan sampai pada titik keseimbangan tertentu (stable equilibirium) yaitu luas lahan budidaya dengan tingkat kesesuain sangat sesuai, bentuk model seperti ini dalam sistem dinamik mengikuti pola dasar archtype “limits to growth”. Untuk meningkatkan perubahan kinerja model maka skenario yang perlu dilakukan adalah skenario optimis dengan melakukan intervensi yang lebih besar terhadap variabel kunci yang berpengaruh dalam model.

Gambar

Tabel 36  Analisis kebutuhan aktor dalam pengembangan kawasan minapolitan                  di Kabupaten Kupang
Gambar 46    Diagram lingkar sebab-akibat (causal loop) pengembangan       kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang
Gambar 48  Struktur model dinamik pengembangan kawasan minapolitan                  berbasis rumput laut di Kabupaten Kupang
Gambar 49   Struktur model dinamik sub model pengembangan lahan         minapolitan di Kabupaten Kupang
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian, jika menggunakan kriteria batas penerimaan item menggunakan INFIT MNSQ, maka dapat diketahui bahwa Item 19 diterima atau  fit dengan modelnya..

ditampilkan hasil utuk gaya batang (Element Force-Frames), untuk berpindah / menampilkan output yang lain klik pada bagian kanan atas kotak dan pilih tipe

Berdasarkan hasil analisis data pada soal nomor 1 diperoleh hasil, yaitu pada tahap memahami masalah terdapat 77,8% siswa dapat memahami masalah dengan baik; dan sebanyak

Semakin baik kualitas pakan yang dikonsumsi ternak, maka akan diikuti dengan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi dan makin efisien penggunaan pakannya (Pond et

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang tidak nyata antara bahan organik dan dosis MOL batang pisang terhadap semua peubah pertumbuhan dan

[r]

Komunikasi interpersonal adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau mengubah sikap, pendapat atau perilaku baik

Hiperglikemia postprandial merupakan gangguan homeostasis glukosa yang paling dini ,yang dapat diidentifikasi ; keadaan ini merupakan faktor risiko yang kuat