i
ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN PURIFIKASI BAHAN BAKAR PADA FUEL OIL PURIFIER
Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program DIPLOMA - III
ELWIN KRIPTA WIJAYA NIT.03.15.155 / T
AHLI TEKNIKA TINGKAT III
PROGRAM DIPLOMA - III
POLITEKNIK PELAYARAN SURABAYA TAHUN 2019
ii
PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertandatangan di bawah ini :
Nama : Elwin Kripta Wijaya
Nomor Induk Taruna : 03. 15. 155 / T
Program Diklat : Ahli Teknika Tingkat III Menyatakan bahwa KIT yang saya tulis dengan judul :
ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN PURIFIKASI BAHAN BAKAR PADA FUEL OIL PURIFIER
Merupakan karya asli seluruh ide yang ada dalam KIT tersebut, kecuali tema dan yang saya nyatakan sebagai kutipan, merupakan ide saya sendiri.
Jika pernyataan di atas terbukti tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Politeknik Pelayaran Surabaya.
SURABAYA, ……… 2019
ELWIN KRIPTA WIJAYA
iii
PERSETUJUAN SEMINAR KARYA ILMIAH TERAPAN
Judul : ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN
PURIFIKASI BAHAN BAKAR PADA FUEL OIL PURIFIER
NamaTaruna : Elwin Kripta Wijaya NIT : 03.15.155.1.42 / T
Jurusan : Teknika
Program Diklat : Ahli Teknika Tingkat III
Dengan ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diseminarkan SURABAYA, ... 2019
Menyetujui:
Pembimbing I Pembimbing II
Antonius Edy Kristiyono, M.Pd, M.Mar.E Nanang Basuki, S.E, MM
Penata Tk.I (III/d) Pembina (IV/a)
NIP : 19690531 200312 1 001 NIP : 19710408 199803 1 001
Mengetahui:
Ketua Jurusan Teknika
Mengetahui: Ketua JurusanTeknika
Monika Retno Gunarti, S.Si.T, M.Pd Antonius Edy Kristiyono, M.Pd, M.Mar.E
Penata (III/c) Penata Tk.I (III/d)
NIP : 19760528 200912 2 002 NIP : 19690531 200312 1 001
iv
PENGESAHAN
KARYA ILMIAH TERAPAN
ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN PURIFIKASI BAHAN BAKAR PADA FUEL OIL PIRIFIER
Disusun Oleh :
Elwin Kripta Wijaya 03.15.155 / T Ahli Teknika Tingkat III
Telah dipertahankan di depan Panitia Ujian Karya Ilmiah Terapan Politeknik Pelayaran Surabaya
Pada Tanggal ………. 2019
Menyetujui :
Mengetahui:
Ketua Jurusan Teknika
Monika Retno Gunarti, S.Si.T, M.Pd Penata (III/c)
NIP : 19760528 200912 2 002 Penguji I
Antonius Edy Kristiyono, M.Pd, M.Mar.E Penata Tk.I (III/d)
NIP : 19690531 200312 1 001
Penguji II
Nanang Basuki, S.E, MM Pembina (IV/a) NIP : 19710408 199803 1 001
Penguji III
Novrico Susanto, S.T., MM Penata Tk. I (III/d) NIP : 19791129 200312 1 002
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kebesaran Allah SWT tuhan semesta alam, karena atas segala kuasa, berkat dan anugerahnya yang ia telah berikan. Sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Terapan ini. Adapun Karya Ilmiah Terapan ini di susun guna memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan Program Pendidikan DP III Pembentukan di Politeknik Pelayaran Surabaya dengan Mengambil judul:
ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN PURIFIKASI BAHAN BAKAR PADA FUEL OIL PURIFIER
Penulis sangat menyadari bahwa di dalam Karya Ilmiah Terapan ini masih banyak terdapat kekurangan, baik dalam hal penyajian materi maupun teknik penulisannya, oleh karena itu penulis mengharap koreksi dan saran yang nantinya dapat digunakan untuk menyempurnakan Karya Ilmiah Terapan ini. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan banyak terima kasih dan rasa bangga kepada:
1. Bapak Capt. Heru Susanto, MM selaku Direktur Politeknik Pelayaran Surabaya yang telah memberi fasilitas berupa ruang dan waktu atas terselenggaranya Karya Ilmiah Terapan.
2. Ibu Monika Retno Gunarti , S.Si.T, M.Pd selaku kepala jurusan teknika yang telah memberi dukungan pada kami untuk membuat Karya Ilmiah Terapan.
3. Bapak Antonius Edy Kristiyono, M.Pd, M.Mar.E selaku pembimbing I dan Bapak Nanang Basuki, S.E, M.M selaku pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya untuk membimbing saya sampai selesai.
4. Bapak/ibu Dosen Politeknik Pelayaran Surabaya, khususnya lingkungan program studi teknika Politeknik Pelayaran Surabaya yang telah memberi bekal ilmu sehingga saya dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Terapan ini.
5. Orang tua saya yang telah memberi doa restu sehingga saya dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Terapan ini.
6. Seluruh Taruna-Taruni POLTEKPEL Surabaya yang telah membantu dalam memberikan semangat dalam penyelesaian Karya Ilmiah Terapan ini, khususnya angkatan VI Diploma III.
Akhir kata penulis berharap Karya Ilmiah Terapan ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulisnya sendiri. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan petunjuk dan lindungan dalam melakukan penelitian yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk Karya Ilmiah Terapan.
SURABAYA, 2019
Elwin Kripta Wijaya
vi ABSTRAK
ELWIN KRIPTA WIJAYA, 2019. ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN PURIFIKASI BAHAN BAKAR PADA FUEL OIL PURIFIER, (di bimbing oleh Bpk Antonius Edy Kristiyono, M.Pd, M.Mar.E sebagai pembimbing 1 dan Bpk Nanang Basuki, S.E, M.M sebagai pembimbing 2).
Kerja sebuah engine diesel sangat dipengaruhi oleh sistem bahan bakar, khususnya di dunia pelayaran, kemurnian bahan bakar menentukan kelancaran pengoprasian mesin kapal sebagai motor pengerak utama di atas kapal, karena bahan bakar yang digunakan pada kapal biasanya sangat tebal dan kental pada suhu normal, hal ini disebut minyak kelas C kelautan bangker atau HFO, Fuel Oil tidak dapat langsung digunakan pada mesin kapal karena mempunyai viskositas (kekentalan) yang tinggi dan masih mengandung kotoran yang berupa lumpur, pasir dan air. Dimana kotoran ini akan menyebabkan penyumbatan pada lubang nozzle injector, agar hal ini tidak terjadi maka bahan bakar harus dibersihkan dengan cara memisahkan kotoran tersebut dengan pesawat purifier. Dalam pengoperasiannya, purifier tidak selalu bekerja dengan baik. Purifier mengalami beberapa gangguan yang dapat menganggu proses pemurnian, bahkan dapat mengagalkan proses pemurnian bahan bakar sehingga hasil purifikasi tidak optimal. Apabila purifier gagal beroperasi bisa dipastikan mesin kapal mengalami gangguan karena bahan bakar untuk mesin mengandung campuran yang tidak seharusnya. Tujuan dari pembahasan tentang purifier ini untuk memperdalam pemahaman tentang purifier serta mencari tau apa penyebab kegagalan proses pemurnian bahan bakar dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi purifier tidak bekerja secara optimal.
Hal tersebut diatas merupakan penggambaran tentang purifier yang dimana purifikasi berpengaruh terhadap bahan bakar yang dihasilkan. Dalam hal ini purifier merupakan suatu permesinan bantu yang digunakan untuk memurnikan bahan bakar guna kelancaran pengoprasian mesin kapal.
Kata kunci: F.O PURIFIER
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Purifier merupakan suatu alat bantu yang digunakan untuk pemisahan dua cairan yang berbeda berat jenisnya ( Jackson dan Morton, 1977 ). purifier kapal berfungsi untuk membersihkan bahan bakar dari kotoran cair maupun padat (lumpur) yang tercampur sehingga kerusakan pada mesin akibat penggunan bahan bakar yang tidak bersih dapat dikurangi. Untuk menghindari terjadinya suatu masalah pada mesin utama dan mesin bantu, terdapat suatu sistem pembersihan bahan bakar. Pembersihan dimulai sejak bahan bakar berada dalam double bottom. Pada purifier, pembersihan dilakukan dengan sistem gerak putar (sentrifugal), jika tenaga sentrifugal diputar beberapa ribu kali putaran dalam waktu tertentu maka tenaganya akan lebih dari gaya gravitasi dan statis. Sehingga kotoran yang mempunyai massa jenis lebih besar akan terlempar ke bagian luar.
Semakin lama maka kotoran akan menumpuk dan semakin berat. Dengan banyaknya kotoran tersebut harus dibuang dengan cara di blow. Untuk proses pembuangan kotoran tersebut maka valve untuk opening water dibuka sehingga kotoran keluar menuju tangki kotoran. Dalam pengoperasiannya, purifier tidak selalu bekerja dengan baik. Purifier mengalami beberapa gangguan yang dapat menganggu proses pemurnian bahan bakar, bahkan dapat mengagalkan proses pemurnian sehingga hasil purifikasi tidak optimal. Apabila purifier gagal beroperasi bisa dipastikan mesin kapal mengalami gangguan karena bahan bakar untuk mesin mengandung campuran yang tidak seharusnya, sehingga terdapat
banyak kendala dalam pengoprasian mesin induk sebagai motor pengerak utama serta pesawat bantu lainnya yg di akibatkan oleh bahan bakar yg kurang baik.
Tujuan dari pembahasan tentang purifier ini untuk memperdalam pemahaman dan mendalami akan prinsip kerja dari purifier atau sistim purifikasi dan penyebab kegagalan proses pemurnian bahan bakar. Karena pentingnya purifier di kapal dan berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merencanakan melakukan penelitian dengan mengambil judul “ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN PURIFIKASI BAHAN BAKAR PADA FUEL OIL PURIFIER”
B. Rumusan Masalah
Dari permasalahan di atas, dibahas tentang apa itu purifier serta bagaimana proses kerja dalam memurnikan bahan bakar. Dalam hal ini penulis merumuskan masalah yang akan diuraikan dalam bab selanjutnya, yaitu sebagai berikut:
1. Apa penyebab kegagalan proses purifikasi bahan bakar pada fo purifier?
2. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi purifier tidak bekerja secara optimal?
C. Batasan Masalah
Mengingat luasnya permasalahan, penulis menganggap perlunya mengambil batasan-batasan dengan maksud agar tidak menyimpang dalam pembahasan, antara lain :
1. Penyebab kegagalan purifikasi bahan bakar pada purifier ditinjau dari sisi murninya bahan bakar yang dihasilkan.
2. faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi purifier tidak bekerja secara optimal.
D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui apa saja penyebab kegagalan dalam proses pemurnian bahan bakar pada purifier dan bagaimana cara mengatasinya.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi purifier tidak bekeja secara optimal.
E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
❖ Menambah wawasan ilmu pengetahuan yang lebih luas mengenai sistem kerja purifier.
❖ Sebagai gambaran kepada pembaca tentang kegagalan dalam proses pemurnian bahan bakar pada purifier.
❖ Sebagai bahan pertimbangan bagi seorang engineer dalam melakukan perawatan pada purifier.
❖ Sebagai bahan rujukan bagi yang melakukan penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA Review Penelitian Sebelumnya
Adapun penelitian tentang Purifier yang sebelumnya juga pernah dilakukan oleh beberapa peneliti diantaranya seperti:
Tabel. 2.1. Review Penelitian Sebelumnya
No. Penulis Judul Hasil
1.
2.
EKO (2011)
PURBA (2008)
Meningkatkan Hasil Kerja Purifier
Meningkatkan Kerja Purifier
Dalam menunjang kelancaran kerja mesin induk kapal, maka kesiapan purifier sangat diperlukan. Hal tersebut tidak lepas dari peranan yang sangat profesional dari orang-orang khususnya masinis yang menangani purifier di atas kapal. Berdasarkan uraian-uraian di atas yang berkaitan dengan pesawat purifier sebagai sarana penghasil atau membersihkan bahan bakar yang bermutu dan berkualitas yang baik di atas kapal.
menyatakan dalam menunjang kelancaran kerja motor induk diatas kapal, maka kesiapan purifier sangat diperlukan. Hal tersebut tidak lepas dari peranan yang sangat profesional dari orang-orang khususnya masinis yang menangani purifier di atas kapal.Berdasarkan uraian-uraian diatas yang berkaitan dengan pesawat purifier sebagai sarana membersihkan bahan bakar yang bermutu dan berkualitas yang baik diatas kapal.
Landasan Teori 1. Fungsi Purifier
Purifier (separator) adalah suatu alat bantu yang digunakan untuk pemisahan dua cairan yang berbeda berat jenisnya (Jackson dan Morton, 1977). Di kamar mesin purifier berfungsi untuk membersihkan (memisahkan) bahan bakar dari kotoran-kotoran cair maupun padat (lumpur) dengan jalan memberikan gaya sentrifugal pada campuran yang berbeda-beda berat jenisnya, sehingga kerusakan pada mesin akibat penggunaan bahan bakar yang tidak bersih dapat dikurangi. Purifier (separator) yang mempunyai cara keja berdasarkan BJ (berat jenis).
Pembersihan dilakukan dengan sistem gerak putar (sentrifugal), jika tenaga sentrifugal diputar beberapa ribu kali putaran dalam waktu tertentu maka tenaganya akan lebih dari gaya gravitasi dan statis. Gaya sentrifugal ini dihasilkan dengan perputaran dari bowl, dengan memberi pemanasan (heater) terlebih dahulu akan membantu pemisahan karena akan menurunkan berat jenis (BJ) bahan bakar.
F.O purifier berfungsi untuk membersikan bahan bakar, Fuel Oil tidak dapat langsung digunakan pada mesin kapal karena mempunyai viskositas (kekentalan) yang tinggi dan masih mengandung kotoran yang berupa lumpur, pasir dan air yang kemungkinan ikut terbawa pada saat bangker dari darat. Dimana kotoran ini akan menyebabkan penyumbatan pada lubang nozzle injector.
Untuk menghindari terjadinya suatu masalah pada motor sebagai mesin pengerak utama kapal, boiler dan incenerator maka diadakan suatu
sistem pembersihan bahan bakar yang dimulai sejak bahan bakar berada dalam tangki double bottom pengendapan dalam settling dan service tank.
2. Prinsip Pembersihan
Menurut Maanen p.van jilid 1 (1983), bahan bakar cair dapat mengandung kotoran seperti air dan berbagai zat padat yang dapat membahayakan pengoprasian. Kotoran tersebut harus dikeluarkan dari bahan bakar.
Pembersihan memberi pengertian, dalam hal tersebut adalah bahwa suatu campuran berbagai zat dipisahkan dari komponen yang dikehendaki dan yang tidak dikehendaki.
Pada pembersihan tersebut digunakan perbedaan sifat dari komponen, seperti misalnya perbedaan dalam :
a. Kondisi agregasi ( padat,cair,bentuk gas ) b. Kepekatan
c. Titik didih
d. Tegangan permukaan e. Sifat elektromagnetik
Dari perbedaan sifat tersebut dari 1 sampai 4 dapat digunakan saringan yang sering kali dikombinasikan dengan metode pemisahan seperti yang disebut dalam 5. Dalam tangki endap digunakan misalnya saringan turbulo dan pada separator sentrifugal digunakan perbedaan dalam kepekatan dari zat yang hendak dipisahkan. Telah banyak usaha yang dilakukan untuk membersihkan bahan bakar cair hanya dengan bantuan tangki endap dan saringan (relatif, kecil dan murah) dengan
banyak sukses dan kurang sukses. Mengenai penggunaan bahan bakar residu modern, maka penyalur bahan bakar dan para pabrik motor diesel sepakat bahwa membersikan cukup dari bahan bakar tersebut hanya dicapai dengan separator sentrifugal yang bekerja optimal.
Pada bahan bakar kapal sangat penting sekali untuk tetap menjaga agar minyak tetap bebas air. Dalam hal tersebut juga berlaku bahwa pemisahan air yang efisien hanya dimungkingkan dengan bantuan sentrifugasi.
3. Metode Pemisahan
Menurut Sarifuddin Rowa (2002). Prinsip pemisahan terdiri dari beberapa jenis, hal ini disebabkan karena perbedaan berat jenis (BJ) zat cair tersebut. Namun yang sering dipakai di kapal yaitu:
a. Metode Gaya Gravitasi
Metode gaya gravitasi adalah cara dari pada gaya berat, yaitu bahan bakar dari tangki dasar berganda (double bottom), dialirkan ke tangki penyimpanan bahan bakar (settling tank), dalam waktu tertentu untuk mengendapkan air dan lumpur yang dikandung oleh bahan bakar.
Contoh: Suatu cairan yang mengandung minyak jika diendapkan pada suatu wadah atau tangki maka dengan gaya gravitasi bumi cairan yang mempunyai berat jenis yang lebih besar akan ketitik pusat bumi dari pada cairan yang mempunyai berat jenis lebih kecil, seperti pada gambar (2.1).
Gambar 2.1 Metode Gaya Gravitasi
Akan bekerja dua buah gaya ialah gaya berat (air) dan gaya arah ke atas (minyak) gaya ini sesunguhnya juga gaya berat, gaya resultan arah ke bawah yang memisahkan bagian minyak memisahkan diri dari bagian air.
Gaya pemisah sebanding dengan selisih kepekatan dari zat-zat tersebut. Bila kepekatan air dan minyak disamakan maka tidak akan terjadi pemisahan. Selain itu juga gaya pemisah sebanding dengan gaya tarik bumi yang dapat dianggap sebagai konstan.
b. Metode Pembersihan Sentrifugal
Cara ini adalah dengan mengunakan pembersih sentrifugal. Bahan bakar dipanaskan dan dialirkan kepembersih sentrifugal, air dan kotoran-kotoran yang terikut, dipisahkan dengan bahan bakar dengan gaya sentrifugal. Pemisah kotoran yang lazim disebut separator (purifier) adalah pemisah dengan putaran yaitu melakukan pemisahan dengan pengendapan dibidang sentrifugal. Jika pengendapan dengan gaya sentrifugal bekerja sesuai dengan rpm 1500-1900 per-menit, maka pemisahan dan pembersihannya jauh lebih besar dari pada pengendapan gravitasi bumi, seperti pada gambar (2.2).
Gambar 2.2 Pembersihan Sentrifugal
4. Cara Kerja Purifier
Gambar : 2.3
Sumber : http://yantotea.heck.in
Menurut Thomas P.Morton Lisc Jackson (1987), cara kerja purifier sangat identik dengan gaya berat yang dalam prosesnya didukung oleh gaya sentrifugal sehingga proses pemisahannya sangat cepat. Percepatan gaya sentrifugal besarnya antara 6000-7000 kali lebih besar dari pengendapan gravitasi statis. Purifier tersebut terdiri dari sebuah tromol berputar dengan kecepatan tinggi (n = 100 s-1) yang diisikan secara sentral dengan bahan bakar kotor setelah terlebih dahulu diisi dengan air, pada gambar memperlihatkan bentuk bagan suatu bowl dari sentrifugal. Bowl
terbagi atas dua bagian, bagian atas dan bagian bawah dibagian bawah ini terletak suatu dasar yang dapat bergerak, dari gambar dapat kita terangkan bahwa mangkuk tersebut mempunyai dua saluran keluar, proses aliran cairan melalui pusat dan keluar dibawah distributor. Cairan mengalir dan dibagi sesuai dengan jarak antara mangkuk di mana fase liquid atau cairan dipisahkan satu sama lain oleh aksi gaya sentrifugal. Akibat gaya sentrifugal, cairan yang berat (lumpur, air, dan sedimen padat) akan terlempar lebih jauh dari titik pusatnya, karena berat jenisnya lebih besar dan menuju kebawah tempat sidemen berkumpul.
Sedangkan bahan bakar yang telah dipisahkan dari kotoran akan menjadi ringan karena perbedaan berat jenis, kemudian bahan bakar bersih tersebut akan mengalir dibagian atas plat-plat yang berbentuk kerucut selanjutnya bahan bakar tersebut akan terdorong naik menuju saluran keluar bahan bakar bersih, sedangkan air dan kotoran lainnya mengalir ke atas menuju saluran keluar yang letaknya di bawah saluran keluaran bahan bakar bersih. Dengan cara pemisahan tersebut, maka tidak akan lagi terjadi percampuran antara bahan bakar dengan air dan kotoran-kotoran.
Pembuangan kotoran pada purifier bekerja secara otomatis, setelah melampaui waktu yang disetel pada sebuah jam waktu, maka dengan bantuan sebuah sistem hidrolik dasar yang dapat bergerak tertekan ke bawah sehingga lobang-lobang di sekeliling bowl akan terbuka, zat padat yang terkumpul di ruang kotoran (sludge) akan terlempar keluar melalui lubang-lubang tersebut dan selanjutnya melalui sebuah saluran pembuangan disalurkan ke dalam sebuah tangki kotoran.
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa fungsi dari pesawat purifier adalah untuk memisahkan antara cairan bahan bakar dari kotoran dan air, sehingga didapatkan bahan bakar yang bersih dan dapat dipergunakan dengan baik untuk pengoperasian mesin induk.
5. Purifikasi bahan bakar
Proses purifikasi (pemisahan) bahan bakar yang sempurna dari sedimen padat dan kadar air yang ada di dalam bahan bakar, harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang tersebut di bawah ini, yaitu : a. Penggunaan gravity disc
Kemampuan purifier untuk memisahkan bahan bakar dari air dan kotoran (lumpur) sangat dipengaruhi oleh ukuran gravity disc. Dalam purifier minyak yang masuk akan berputar, hal ini bertujuan untuk mengatur cara pelemparan sehingga zat cair yang mempunyai berat jenis lebih besar akan terlempar jauh, sedangkan zat cair yang berat jenisnya ringan akan berada dekat dengan sumbu putaran, jika berat jenis minyak bahan bakar yang masuk ke purifier berubah-ubah maka perbandingan garis tengah (diameter) harus diubah. Dan cincin tersebut adalah gravity disc yang berfungsi untuk menjaga agar cairan bahan bakar dan air tidak bersatu atau bercampur kembali pada waktu air dan bahan bakar itu keluar.
b. Penyesuaian Viskositas temprature Heater
Dalam pemanas tersebut bahan bakar dipanasi sesuai dengan viskositas bahan bakar dengan maksimum suhu yang diizinkan sebesar 98˚C. Suatu pernyataan “tahanan untuk mengalir” dari suatu
sistem yang mendapatkan suatu tekanan. Makin kental sautu cairan, makin besar gaya yang dibutuhkan untuk membuat menggalir pada kecepatan tertentu. Bahan bakar yang ada di atas kapal harus diketahui viskositasnya agar penyesuaian temperature dapat disesuaikan dengan viskositas sehingga bahan bakar sebelum masuk purifier temperaturnya telah mencapai standart.
c. Bahan bakar dalam bowl
Kita mengusahakan agar cairan bahan bakar yang masuk ke dalam alat pemisah tidak melebihi beban yang terlalu berat, sehingga dengan demikian proses pemisahan cairan akan berjalan lebih sempurna.
d. Pemisahan bahan bakar dan kotoran serta air
Untuk memenuhi syarat yang empat cairan dibagi dengan menggunakan plat-plat yang berbentuk kerucut yang disebut disc. Alat ini berjumlah banyak dan tersusun, masing-masing plat terdapat clearance tipis dan rata, sehingga kotoran-kotoran akan menempel pada plat tersebut.
e. Sealing water
Sebelum melakukan pengoperasian purifier, water sealing harus dimasukkan dalam drum assembly saat purifier beroperasi pertama kali yang berguna untuk mengangkut keluar sisa-sisa kotoran yang masih berada dalam disc bowl yang diakibatkan oleh banyaknya bahan bakar kotor yang masuk dalam separator, sehingga jika disc bowl bersih dari kotoran maka proses purifikasi dalam separator bisa berjalan lebih sempurna.
f. Bowl
Pada bowl kadang-kadang tidak berputar dengan normal dan suara terdengar sangat kasar atau tidak halus. Hal ini dapat disebabkan oleh rem atau brake masuk (menekan poros horisontal motor), akibatnya bowl akan sulit berputar, sehingga beban motor akan bertambah atau ampere naik, maka MCB (Magnetic Contactor Breaker) pada saklar akan jatuh. Untuk itu perlu diadakan pengecekan ulang pada setiap bagian purifier sebelum menjalankan.
g. Kebersihan disc
Akibat dari gaya sentrifugal pada proses purifikasi, lumpur dan sedimen padat yang berat jenisnya lebih besar dari pada berat jenisnya bahan bakar akan terlempar keluar, dan bahan bakar bersih mengalir ke bagian dalam disc menuju ke saluran keluar minyak bersih.
Kotoran yang terlempar keluar akan menempel dan tertampung pada dinding bowl bagian dalam dan sebagian pada sela-sela disc, pada saat blowing tidak seluruh kotoran tersebut dapat bersih sempurna, sehingga masih ada sisa-sisa endapan kotoran yang menempel pada dinding bowl bagian dalam dan sela-sela disc, untuk itu perlu dilakukan pembersihan secara manual pada bagian tersebut, sehingga proses purifikasi dapat berjalan sempurna.
6. Jenis Purifier
Dalam kapal dikenal beberapa jenis purifier berdasarkan bentuk, posisi dan fungsinya.
a. Jenis purifier berdasarkan bentuk dan posisinya.
1) Purifier tegak / vertikal.
Biasanya digunakan untuk memisahkan fluida produksi yang mempunyai GLR rendah dan kadar padatan tinggi, purifier ini sudah dibersihkan serta mempunyai kapasitas cairan dan gas yang besar.
2) Purifier datar / horizontal
Sangat baik untuk memisahkan fluida produksi yang mempunyai GLR tinggi dan cairan berbusa. Purifier ini dibedakan menjadi dua jenis, yaitu single tube horizontal purifier dan double tube horizontal purifier. Karena bentuknya yang panjang, purifier ini banyak memakan tempat dan sulit dibersihkan, namun demikian kebanyakan fasilitas pemisahan dilepas pantai menggunakan purifier ini dan untuk fluida produksi yang banyak mengandung pasir, purifier ini tidak menguntungkan.
3) Purifier bulat / spherical.
Purifier jenis ini mempunyai kapasitas gas dan surge terbatas sehingga umumnya digunakan untuk memisahkan fluida produksi dengan GLR kecil sampai sedang namun purifier ini dapat bekerja pada tekanan tinggi. Terdapat dua tipe purifier bulat yaitu tipe untuk pemisahan dua fasa dan tipe untuk pemisahan tiga fasa.
Berdasarkan fasa hasil pemisahanya jenis purifier dibagi dua, yaitu:
1) Purifier dua fasa, memisahkan fluida dormasi menjadi cairan dan gas, gas keluar dari atas sedangkan cairan keluar dari bawah.
2) Purifier tiga fasa, memisahkan fluida formasi menjadi minyak, air dan gas. Gas keluar dari bagian atas, minyak dari tengah dan air dari bawah.
Kelebihan dan kekurangan dari masing-masing purifier:
1) Purifier Vertikal kelebihannya :
a) Pengontrolan level cairan tidak terlalu rumit b) Dapat menanggung pasir dalam jumlah yang besar c) Mudah dibersihkan
d) Sedikit sekali kecenderungan akan penguapan kembali dari cairan
e) Mempunyai surge cairan yang besar Kekurangannya :
a) Lebih mahal
b) Bagian-bagiannya lebih sukar dikapalkan (pengiriman) c) Membutuhkan diameter yang lebih besar untuk kapasitas
gas tertentu 2) Purifier Horisontal
Kelebihannya :
a) Lebih murah dari purifier vertikal
b) Lebih mudah pengiriman bagian-bagiannya
c) Baik untuk minyak berbuih (foaming)
d) Lebih ekonomis dan efisien untuk mengolah volume gas yang lebih besar
e) Lebih luas untuk setting bila terdapat dua fasa cair Kekurangannya :
a) Pengontrolan level cairan lebih rumit daripada purifier vertikal
b) Sukar dalam membersihkan lumpur, pasir, paraffin c) Diameter lebih kecil untuk kapasitas gas tertentu 3) Purifier Bulat
Kelebihannya :
a) Termurah dari kedua tipe diatas
b) Lebih mudah mengeringkan dan membersihkannya dari pada separator vertikal, lebih kompak dari yang lain
Kekurangannya :
a) Pengontrolan cairan rumit
b) Mempunyai ruang pemisah dan kapasitas surge yang lebihk kecil
b. Jenis purifier berdasarkan fungsinya.
Berdasarkan fungsinya atau jenis penggunaannya, purifier dapat dibedakan atas: gas scrubber, knock-out flash-chamber, expansion vessal, chemical electric dan filter.
1) Gas scrubber.
Jenis ini dirancang untuk memisahkan butir cairan yang masih terikut gas hasil pemisahan tingkat pertama, karenanya alat ini ditempatkan setelah purifier, atau sebelum dehydrator, extraction plant atau kompresor untuk mencegah masuknya cairan kedalam alat tersebut.
2) Knock-out
Jenis ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu free water knock-out (FWKO) yang digunakan untuk memisahkan air bebas dari hidrokarbon cair dan total liquid knock-out (TLKO) yang digunakan untuk memisahkan cairan dari aliran gas bertekanan tinggi ( > 125 psi )
3) Flash chamber.
Alat ini digunakan pada tahap ianjut dari proses pemisahan secara kilat (flash) dari purifier. Flash chamber ini digunakan sebagai purifier, tingkat kedua dan dirancang untuk bekerja pada tekanan rendah ( > 125 psi )
4) Expansion vessel.
Alat ini digunakan untuk proses pengembangan pada pemisahan bertemperatur rendah yang dirancang untuk menampung gas hidrat yang terbentuk pada proses pendinginan dan mempunyai tekanan kerja antara 100 -1300 psi.
5) Chemical electric.
Merupakan jenis purifier tingkat lanjut untuk memisahkan air dari cairan hasil separasi tingkat sebelumnya yang dilakukan secara electris (menggunakan prisip anoda katoda) dan umumnya untuk memudahkan pemisahan.
7. Komponen Dalam Purifier
Dikutip dari cidu-blogspot (5 MEI 2017). menyebutkan bahwa komponen dari purifier adalah sebagai berikut
a. Disc
Disc adalah komponen dalam purifier yang berfungsi untuk menahan aliran bahan bakar yang akan dibersihkan secara perlahan-lahan hingga akhirnya bahan bakar keluar menuju ke tangki harian.
b. Bowl Body
Berfungsi sebagai tempat dudukan bowl hood purifier
c. Bowl Nut
Berfungsi untuk mengunci atau menahan bowl hood agar tidak terlepas dari dudukannya.
d. Bowl Hood
Berfungsi sebagai tempat diletakkannya disc-disc yang merupakan tempat terjadinya proses pembersihan minyak.
e. Main Seal Ring
Main seal ring berfungsi sebagai pelapis atau penyekat antara main cylinder dan bowl hood agar minyak tidak terbuang ke sludge tank pada saat purifier sedang beroperasi.
f. Distributor
Berfungsi sebagai tempat saluran masuk bahan bakar kotor yang akan dibersihkan dan berfungsi membagi minyak ke tiap-tiap bagian bowl bisc melalui lubang distributor.
g. Main Cylinder
Main cylinder berfungsi sebagai komponen dalam purifier yang berfungsi sebagai tempat saluran masuk bahan bakar kotor yang akan dibersihkan.
h. Pilot Valve
Pilot valve berfungsi untuk membuka katup saluran air pembuangan menuju sludge tank.
i. Gravity Disc
Gravity disc adalah sebuah cincin yang dipasang dalam purifier untuk menghindari agar bahan bakar dan air tidak bersatu kembali pada saat bahan bakar dan air keluar.
j. Drain Nozzle pada Bowl Body
Berfungsi untuk mengeluarkan air pengisian untuk mengangkat main cylinder (low pressure) pada saat air pengisian (high pressure) masuk dan membuka pilot valve.
k. Sliding Bowl Bottom
Berfungsi untuk membuka kemudian membuang kotoran-kotoran yang ada di dalam bowl lewat sludge port.
l. Sludge Space
Adalah ruang tempat dimana kotoran-kotoran terkumpul.
m. Operation Slide
Berfungsi sebagai tempat dudukan springs dan drain valve plug yang terletak di dalam bowl body.
n. Sludge Port
Berfungsi untuk membuang kotoran-kotoran melalui lubang pembuangan ke sludge tank.
o. Drain Valve Tank
Berfungsi untuk membuka dan menutup drain chanel.
p. Drain Chanel
Berfungsi sebagai saluran pembuangan pada closing water.
q. Oil Paring Chamber
Berfungsi untuk memompa bahan bakar yang naik melalui levelring dan keluar ke pipa outlet.
r. Water Paring Chamber
Berfungsi untuk memompa air yang naik melalui sisi di samping top disc keluar sludge tank.
s. Spiral Gear
Berfungsi untuk menghubungkan dengan putaran antara horizontal shaft dan vertical shaft.
t. Shaft
Shaft disini ada dua buah yaitu shaft horizontal dan shaft vertikal sebagai penghubung antara putaran dari motor bowl.
8. Definisi Bahan Bakar
Heavy Fouel Oil (HFO) juga disebut sebagai bahan bakar berat karena mempunyai kerapatan atau berat jenis yang lebih tinggi dari bahan bakar mentah ringan, dan juga memiliki kadar kekentalan (viscosity) yang lebih tinggi. Jenis bahan bakar mentah yang sangat kental, yang berarti bahwa itu tidak mengalir dengan mudah. Sifat karakteristik umum dari bahan bakar berat adalah gravitasi spesifik yang tinggi, hidrogen untuk rasio karbon, sulfur dan nitrogen. Tidak seperti bahan bakar jenis lain, sebelum pemakaian bahan bakar jenis Heavy Fuel Oil ini harus dipanaskan terlebih dahulu untuk memperoleh kadar kekentalan yang rendah yang mendukung terjadinya kecepatan evaporasi dan bercampurnya udara dan bahan bakar guna menghasilkan pembakaran yang baik.
Marine Diesel Oil (MDO) merupakan bahan bakar jenis solar yang memiliki angka performa cetane number 45, jenis bahan bakar ini umumnya digunakan untuk mesin transportasi, mesin diesel yang umum
dipakai dengan sistem injeksi pompa mekanik (injection pump) dan electronic injection, jenis bahan bakar ini diperuntukkan untuk jenis kendaraan bermotor transportasi dan mesin industri.
9. Sistem Bahan Bakar
Menurut Wahyuddin Muhamad (2010/07). Sistem bahan bakar adalah sistem yang digunakan untuk mensuplai bahan bakar yang diperlukan motor induk. Sistem bahan bakar ini dirancang untuk dua tipe bahan bakar, yaitu : MDO (marine diesel oil) dan HFO (heavy fuel oil).
a. Cara Kerja Sistem Bahan Bakar
Sistem bahan bakar adalah suatu sistem pelayanan untuk motor induk yang sangat vital. Sistem bahan bakar secara umum terdiri dari fuel oil supply, fuel oil purifiering, fuel oil transfer dan fuel oil drain piping system. Sistem bahan bakar suatu sistem yang digunakan untuk mensuplai bahan bakar dari bunker ke service tank dan juga daily tank dan kemudian ke mesin induk atau mesin bantu. Adapun jenis bahan bakar yang digunakan di atas kapal bisa berupa heavy fuel oil (HFO), marine diesel oil (MDO) ataupun solar biasa tergantung jenis mesin dan ukuran mesin. Untuk sistem yang menggunakan bahan bakar HFO untuk opersionalnya, sebelum masuk ke main engine (Mesin utama) HFO harus ditreatment dahulu untuk penyesuaian viskositas, temperatur dan tekanan. Untuk sistem bahan bakar suatu mesin, semua komponen yang mendukung sirkulasi bahan bakar harus terjamin kontinuitasnya karena hal tersebut sangat vital dalam operasional, maka dalam perancangan ini setiap komponen utama
sistem harus ada yang standby (cadangan) dengan tujuan jika salah satu mengalami trouble (disfungsi) dapat secara otomatis terantisipasi dan teratasi.
Sistem bahan bakar ini secara umum terdiri atas fuel oil transfer, filtery dan purifering, fuel oil circulating, fuel oil supply, dan heater.
Seperti pada gambar ( 2.4 ).
GAMBAR 2.4
Bahan bakar di kapal disimpan di double bottom. Koil pemanas harus dipasang pada tangki banker sehingga temperatur bahan bakar pada tangki banker dapat dipertahankan pada temperatur 40 - 500˚C.
Dari banker bahan bakar dipompakan ke settling tank, dimana sebelum masuk pompa bahan bakar akan melalui strainer untuk menyaring kotoran – kotoran. Di settling tank ini juga diberi pemanas dan suhu dipertahankan pada kisaran 50 – 700˚C. Kemudian dari settling tank dipompakan ke centrifuges untuk membersihkannya dari
kotoran dan air. Lalu setelah dari centrifuges masuk ke service tank, dari service tank bahan bakar dialirkan menuju ke supply pump yang mempunyai tekanan 4 bar. Supply pump ini juga disebut bagian bertekanan rendah dari circulating system bahan bakar. Untuk menghindari terbentuknya gas/udara pada bahan bakar, maka dipasang sebuah venting box, venting box terhubung dengan service tank melalui automatic deaerating valve yang bertugas untuk membebaskan gas/udara yang ada dan akan menampung cairan (iquid). Dari bagian bertekanan rendah sistem bahan bakar tersebut (supply pump), bahan bakar kemudian dialirkan ke circulating pump yang akan memompa bahan bakar melewati heater (untuk dipanaskan sampai 1500˚C) dan full flow filter (penyaringan) untuk kemudian masuk ke motor induk.
10. Definisi Peralatan
Pada sistem bahan bakar kapal ada beberapa peralatan yang mendukung sistem tersebut antara lain:
a. System Transfer, Filtering dan purifikasi
Sistem ini bertugas memindahkan bahan bakar dari double bottom ke settling tank, serta membersihkan bahan bakar dari kotoran yang berasal dari double bottom. Heavy fuel oil harus dibersihkan terlebih dahulu dengan melewatkanya melalui centrifuge sebelum masuk ke daily tank. Pada centrifuge nantinya kotoran-kotoran yang terdapat pada bahan bakar yang terdiri atas partikel dan air akan dipisahkan dari bahan bakar.
b. Double bottom/Storage Tank
Adalah tanki induk dari keseluruhan bahan bakar yang dibutuhkan motor induk selama berlayar. Tempat penimbunan bahan bakar yang terletak pada engine room.
Sehubungan dengan kemungkinan suhu rendah air laut yang menyelimuti sebagian tangki dasar, maka bahan bakar dalam tangki tersebut dapat dipanasi untuk menurunkan viskositas serendah mungkin sehingga dapat dipompa. Batas pompa bahan bakar terletak antara 800-1000 cSt. Bila dalam tangki tersimpan bahan bakar dari 380 cSt/50˚C (70 cSt/80˚C), maka bahan bakar harus dengan dipanasi sampai 35˚C. Sebagai bahan pemanas digunakan uap air atau minyak termis.
c. Settling tank
Tangki ini didesain agar dapat mengendapkan kotoran dan air yang ikut terbawa oleh bahan bakar. Kapasitas settling tank didesain untuk mampu menyuplai bahan bakar minimum selama 24 jam (1 hari) operasi mesin ketika tangki settling diisi penuh. Desain tangki dibuat sedemikian sehingga pengeluaran kotoran (endapan) dan air dapat dilakukan secara efisien.
d. Filter
Filter adalah alat yang berfungsi menyaring kotoran yang tercampur dalam bahan bakar.
e. Heater tank (Pemanas tanki)
Merupakan pemanas bahan bakar, sehingga dapat menjaga viskositas bahan bakar yang diinginkan sesuai dengan sepesifikasi.
Dalam pemanas tersebut bahan bakar dipanasi sesuai dengan viskositas bahan bakar dengan maksimum suhu yang diizinkan sebesar 98˚C. Pemanasan dapat berlangsung dengan cara listrik atau dengan uap atau minyak termis. Untuk pemanas pendahulu listrik ditentukan bahwa beban dari luas permukaan yang dipanasi tidak boleh melebihi dari 0,8 W/cm2.
f. FO Fuel Transfer Pump
Pompa yang digunakan adalah gear pump yang berfungsi untuk mengalirkan bahan bakar dari tanki double bottom ke tanki settling untuk diendapkan.
g. FO Feed Pump
Berfungsi memindahkan bahan baker dari Setling tank ke service tank. Pompa yang digunakan adalah pompa jenis roda gigi.
h. Centrifuges (purifier)
Centrifuges berfungsi memisahkan bahan bakar dengan air dan bahan bakar yang bersih dialirkan ke service tank sedangkan kotoran dan air disalurkan ke sludge tank. Centrifuges pada prinsipnya dilengkapi dengan 2 set dengan tipe yang sama dimana 1 set digunakan untuk service dan yang kedua sebagai standby.
1) Berbagai istilah untuk memudahkan pemahaman yang berhubungan dengan pesawat separator :
a) Viskositas (kekentalan) adalah ukuran dari perlawanan suatu bahan bakar cair untuk mengatur gaya perlawanan cairan terhadap arah aliran. Satuan Cst (centistokes) = 0,01 cm2/detik.
b) Spesific grafity adalah massa air persatuan volume dibanding dengan massa pada volume yang sama, nilainya berubah sesuai dengan temperaturnya.
c) Heavy liquid adalah kandungan air dan kandungan berat yang terpisah dari minyak.
d) Sludge adalah zat padat yang terkumpul di dalam bowl.
e) Interface adalah lapisan batas antara fase berat (air) dan fase ringan (minyak) dalam mangkuk pemisah.
f) Purifer operation adalah pengoperasian pemisahan menjadi tiga fase yaitu pemisahan kandungan minyak, air dan zat padat.
Kerangka penelitian
Dalam kerangka penelitian ini penulis akan memaparkan bagan alur dalam menjawab dan menyelesaikan pokok permasalahan yang telah dibuat, sebagai berikut :
Penelitan
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Jenis Penelitian
Pengumpulan Data Utama
Pengolahan Data
Analisis Data
Usulan Pemecahan Masalah
Data Sekunder :
1. Mempelajari dan memahami prinsip kerja purifier 2. Mempelajari dan
memahami dampak purifier terhadap bahan bakar
Data primer : 1. Observasi 2. Wawancara 3. Angket
Kesimpulan dan Saran
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu penelitian proses analisa kualitatif yang mendasarkan pada adanya hubungan sistematis antar variabel yang sedang di teliti. Tujuan analisa data kualitatif yaitu agar peneliti mendapatkan makna hubungan variabel-variabel sehingga dapat digunakan untuk menjawab masalah yang dirumuskan dalam penelitian.
Hubungan antar semantis sangat penting karena dalam analisa kualitatif, peneliti tidak menggunakan angka-angka seperti pada analisa kuantitatif. Prinsip pokok teknik analisa data kualitatif ialah mengolah dan menganalisa data-data yang terkumpul menjadi data yang sistematik, teratur, terstruktur dan mempunyai makna.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada waktu penulis melaksanakan praktek laut dikapal MT.GRIYA AMBON milik perusahaan pelayaran PT.HUMPUSS.
Dikarenakan seluruh taruna-taruni Politeknik Pelayaran Surabaya, pada saat semester V dan VI melaksanakan program dari institusi yaitu praktek laut (prala), dimana program ini wajib dilaksanakan selama kurang lebih satu tahun, dan tempat penelitian yang dilakukan oleh penulis yaitu diatas kapal. Rencana tempat di laksanakannya penelitian di lakukan pada saat melaksanakan praktek laut diatas
kapal selama 1 tahun dengan mengumpulkan data yang akan diteliti dan di analisis.
C. Jenis dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan dan digunakan dalam penyusunan proposal ini adalah data yang merupakan informasi yang diperoleh penulis melalui pengamatan langsung dan wawancara. Dari sumber-sumber ini diperoleh data sebagai berikut .
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diambil seacra langsung dari hasil wawancara dengan pihak terkait, yang mengetahui tentang permasalahan yang akan penulis angkat. Sumber data utama itu adalah kata-kata dan tindakan orang yang diamati atau diwawancarai, yang dihimpun secara tertulis, atau melalui perekam video atau audio tape, pengambilan foto. Dalam hal ini dengan masinis atau crew kapal lainnya yang bertanggung jawab untuk perawatan mesin induk, serta sumber lain selain yang ada di atas kapal seperti dosen maupun orang yang ahli dan lebih tahu tentang permasalahan ini.
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung yang biasanya berupa data dokumentasi dan arsip-arsip resmi, yang diusahakan sendiri pengumpulannya oleh penulis, selain dari sumbernya yang diteliti. Data ini diperoleh dari buku-buku literatur, buku panduan dan internet yang berkaitan dengan obyek penelitian proposal atau yang berhubungan dengan permasalahan yang akan dibahas, yang diperlukan sebagai pedoman teoritis
dan ketentuan formal dari keadaan nyata dalam observasi. Serta dari informasi lain yang telah disampaikan pada saat kuliah.
D. Pemilihan Informan
Wawancara adalah tehnik pengumpulan data atau informasi dengan cara tanya jawab dengan bertatap muka langsung kepada informan dan biasanya dilakukan dengan frekuensi tinggi atau berulang-ulang.
Informan yang penulis maksud disini adalah tanya jawab kepada chief engineer, masinis I, II, III, mandor, oiler serta yang memahami tentang Fuel oil purifier pada saat praktek laut.
E. Teknik Analisis Data
Metode ini dilakukun dengan mengambil gambar tentang obyek yang diteliti sehingga penulis dapat mengetahui proses kerja Turbocharger pada mesin induk kapal.
Milles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2010), menyatakan bahwa aktivitas dalam pengolahan dan analisis data meliputi data reduction, data display, conclusion drawing/verification. Langkah-langkah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
Tabel 3.1 Teknik analisis data menurut milles dan huberman
Sumber : Prof. Dr. Sugiyono
1. Data Collecting (Pengumpulan Data)
Pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Instrumen sebagi alat bantu dalam menggunakan metode pengumpulan data merupakan sarana yang dapat diwujudkan dalam benda, wawancara, observasi, dan yang lain pilihan lainnya.
Instrumen penelitian merupakan sesuatu yang amat penting dan strategi kedudukannya di dalam keseluruhan kegiatan penelitian. Dengan instrumen akan diperoleh data yang merupakan bahan penting untuk menjawab permasalahan, mencari sesuatu yang akan digunakan untuk mencapi tujuan.
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian.
2. Data Reduction (Reduksi Data)
Melakukan reduksi data dapat diartikan sebagai upaya merangkum dan memilih hal-hal pokok serta mefokuskan diri pada data yang relevan dengan permasalahan yang dikaji. Pada kenyataannya, data temuan di lapangan bisa sangat beragam dan heterogen, sehingga perlu dilakukan pemilahan dan penyusunan secara sistematis agar diperoleh data yang dibutuhkan.
3. Data Display (Penyajian Data)
Setelah data di reduksi, tahap berikutnya adalah melakukan display atau penyajian data sehingga temuan dapat digambarkan secara utuh, menyeluruh, sehingga bagian-bagian pokoknya terlihat jelas untuk memudahkan
pemaknaan. Sugiyono (2010) menyatakan bahwa penyajian data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan melalui uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya.
4. Conclusion and Verification (Penarikan Kesimpulan)
Tahapan berikutnya dari analisis data adalah penarikan kesimpulan (konklusi) dan verifikasi. Berdasarkan reduksi dan display data temuan penelitian, peneliti dapat menarik kesimpulan. Penarikan kesimpulan dalam penelitian kualitatif, pada dasarnya masih bersifat sementara, karena data hasil temuan harus diverifikasi dan di check keabsahannya melalui berbagai teknik.
Verifikasi yang dilakukan bertujuan untuk mempertajam pemaknaan temuan, sehingga diperoleh kesimpulan yang benar-benar menggambarkan realita.
DAFTAR PUSTAKA
Cidu. (2012). Purifier
(http://cidu-contohskripsi.blogspot.co.id/search?q=purifier )Diakses pada tanggal 21 april 2017)
Adji.R (1972) ,Pesawat bantu , Jakarta (Persatuan Pelaut Indonesia)
Diambil pada tanggal 5 mei 2017. Pesawat bantu (pesawat bantu) Maaenen p. Van (1983) jilid 1, Politeknik Pelayaran Surabaya
Diambil pada tanggal 5 mei 2017. Motor diesel kapal, NAUTECH.
Meloeng. (Online), (2006). Metode penelitian tentang karya ilmiah terapan, Jakarta Pip semarang (2005), semarang, TIM penyusun politeknik ilmu pelayaran semarang.
Diambil pada tanggal 5 mei 2017. Pesawat bantu (2005).
Thomas p. Morton lisc jackson, 1987.
Diambil pada tanggal 5 mei 2017. General Engineering Knowledge Fpr Marine Engineers, volume 8,35/37 lock line london.
Wahyuddin muhamad /2010/07/sistem-bahan-bakar-kapal-heavy-fuel-oil.html (Online) Diakses pada tanggal 5 mei 2017, http//kapal-
cargo.blogspot.com/2010/07/ sistem-bahan-bakar-kapal-heavy-fuel- oil.html