• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada Era Globalisasi seperti sekarang ini telah membawa budaya -budaya baru yang berkembang di kota-kota besar dan salah satunya adalah ‘Korean Wave’

atau yang bisa disebut dengan ‘Hallyu’. ‘Hallyu’ adalah sebuah fenomena sosial yang telah mewabah di dunia dan di Indonesia itu sendiri yaitu penyebaran budaya pop Korea ke dunia Internasional dengan produknya mulai dari drama, film, lagu, fashion, gaya hidup, kosmetik, dan produk-produk industri lainnya mulai merambat ke dalam kehidupan masyarakat. ‘Korean Wave’ atau ‘Hallyu’ semakin mudahnya memasuki kehidupan masyarakat dengan adanya media massa seperti internet, facebook, youtube, twitter, dan sebagainya serta tidak dapat dipungkiri bahwa adanya media massa menjadi saluran utama penggerak Korean Wave karena kemudahan informasi melalui media massa ini.

Hallyu atau Korean Wave adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia sejak tahun 1990-an.

Umumnya Hallyu memicu banyak orang-orang di negara tersebut untuk mempelajari Bahasa Korea dan kebudayaan Korea. Kegemaran akan budaya pop Korea dimulai di Republik Rakyat Tiongkok dan Asia Tenggara mulai akhir 1990- an. Istilah Hallyu diadopsi oleh media Tiongkok setelah album musik pop Korea, HOT, dirilis di Cina. Serial drama televisi Korea mulai diputar di Tiongkok dan menyebar ke negara-negara lain seperti Hongkong, Vietnam, Thailand, Filipina, Amerika Serikat, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Indonesia itu sendiri. Pada saat ini, Hallyu diikuti dengan banyaknya perhatian akan produk Korea Selatan, seperti masakan, barang elektronik, musik, dan film.

Korea Selatan berhasil menjerat hati penggemar di semua kalangan terutama di Asia disebabkan “kontenhybridbudaya” populer yang memadukan budaya barat dengan tetap mempertahankan nuansa Asia di dalamnya . Pada tahun 2011 Korean Tourism Organization atau KTO melakukan survei online mengenai Korean Wave kepada warga negara asing yang diikuti oleh 12.085 responden dari 102 negara di dunia. Survei ini berlangsung pada tanggal 11 Mei hingga 31 Mei 2011 dan disebarkan melalui situs KTO, email, dan layanan jejaring sosial seperti

(2)

2 Twitter dan Facebook (KOCIS No.2, 2011: 27). Hal tersebut dapat dilihat lebih rinci pada gambar 1.1.

Gambar 1.1

Survey Mengenai Popularitas Korean Wave

Sumber: KOCIS No.2, 2011

Dapat dilihat dari survey mengenai popularitas Korean Wave itu sendiri menunjukan 53,30% warga negara asing menyukai K-Pop dibandingkan dengan TV Drama, Film dan lainnya. Hal tersebut menunjukan bahwa popularitas dari K- Pop lebih tinggi, dan dapat dilihat dari perkembangannya juga banyak produk kecantikan, pakaian, aksesoris, makanan yang berbau Korean Wave, hingga banyaknya boy band dan girl band yang ada di Indonesia.

Dengan adanya Korean Wave atau “Hallyu” ini menimbulkan banyaknya komunitas-komunitas pecinta korea yang bermunculan. Bandung merupakan surganya komunitas di mana reputasinya sebagai kota kreatif melahirkan berbagai macam komunitas yang ada di Bandung, salah satunya adalah komunitas korea.

Komunitas korea di Bandung itu sendiri ada banyak dari komunitas pecinta boyband, girlband, tari tradisional, bahasa korea, film, modern dance, dan lain sebagainya.

Komunitas yang berada di Bandung salah satunya adalah Bandung Korea Community atau biasanya disebut dengan Hansamo. Hansamo merupakan singkatan dari Hangugeul Saranghaneun Saramdeuri Moim. Bandung Korea Community atau Hansamo ini merupakan komunitas korea terbesar di Bandung dan 90% pecinta korea ikut dalam komunitas Hansamo ini. Komunitas ini berdiri pada 10 September 2006 oleh 15 orang pecinta Korea. Mereka mengenal satu sama lain melalui sebuah forum di dunia maya yang membahas segala hal tentang Korea.

(3)

3 (http://ayobandung.com/read/20170109/60/14924/mengenal-hansamo-

komunitas-pecinta-budaya-korea-terbesar-di-bandung, diakses pada 01 November 2017 pukul 18.30)

Gambar 1.2

Logo Komunitas Korea Hansamo

Sumber : Arsip Hansamo

Bandung Korea Community atau Hansamo ini selain komunitas korea terbesar di Bandung, komunitas ini juga memiliki kegiatan yang beraneka ragam tentang korea yaitu Hansamo Act (Kelas Akting), Hansamo Dancer (kelas menari untuk tarian tradisional Korea dan Modern Dance), Voice of Hansamo (kelas menyanyi), Hansamo Literacy (kelas bahasa Korea), Hansamo Manhwa (kelas menggambar), Hansamo Movie Discussion (kelas diskusi film dan drama), dan Hansamo B-byoys (kelas break dance, kelas hanya untuk anggota pria).

Salah satu alasan mengapa Bandung Korea Community ini dianggap kuat dari komunitas korea yang lainnya adalah Hansamo merupakan salah satu komunitas budaya Korea yang diakui pemerintah Korea dan Hansamo memang sudah banyak mendapatkan bantuan dari Kedutaan Pemerintah Korea Selatan yang ada di Jakarta. Selain itu, komunitas Hansamo ini memiliki berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan budaya korea sehingga dengan hal tersebut membuat komunitas Hansamo ini tidak akan pernah mati karena budaya akan terus ada dan komunitas Hansamo ini tidak hanya berfokus dengan satu hal saja tetapi lebih luas cakupannya tentang budaya korea dari yang tradisional hingga modern.

(4)

4 Komunitas Hansamo memiliki anggota hingga 2.200 yang terdaftar dengan presentasi 90 persen anggota asal Bandung dan sisanya berada di daerah lain seperti Jakarta dan wilayah Jawa Barat. Meski banyak dan tersebar, anggota aktif dalam komunitas Hansamo berkisar pada angka 100 hingga 200 orang. Tujuan dari Komunitas Hansamo ini adalah untuk memperkenalkan budaya Korea di Indonesia dan memperkenalkan budaya Indonesia (khususnya Sunda) kepada masyarakat Korea yang tinggal di Indonesia.

Komunitas Hansamo ini juga menjadi tempat ajang bertukar informasi segala hal tentang tentang Korea, seperti drama Korea, artis Korea, makanan Korea, dan lainnya. Hal yang membuat peneliti tertarik yaitu semua kegiatan Hansamo Bandung mendapat dukungan dari Kedutaan Besar Republik Korea di Jakarta. Anggota komunitas ini juga pada 2009 pernah diundang pemerintah Korea mengunjungi Korea. Selain itu, kurang lebih 11 tahun berdiri Komunitas Hansamo ini telah menyelenggarakan lebih dari 20 event kebudayaan Korea di sekitar Bandung dan Jakarta serta berpartisipasi lebih dari 50 aktivitas budaya dan komunitas korea di sekitar Bandung dan Jakarta.

Hansamo sendiri sudah dikenal oleh media Korea Selatan. Hansamo juga pernah diliput oleh Arirang TV pada tahun 2007, Korean Broadcasting System (KBS), hadir sebagai bintang tamu Indonesia Moring Show NET TV pada Juli 2017, dan bahkan Kedutaan Besar Korea Selatan di Jakarta juga cukup sering mengundang komunitas Hansamo ini. Komunitas Hansamo ini hingga sekarang makin berkembang dan semakin mengikuti banyak aktivitas event dan aktivitas budaya hingga luar Bandung.

Gambar 1.3

Event kebudayaan Korea

(5)

5 Sumber : facebook.com/hansamo diakses pada 01 November 2017 pukul 13.05

Dengan persamaan menyukai budaya korea dengan berbagai macamnya dari musik, film, makanan, dan lain sebagainya menciptakan sebuah hubungan sosial, di mana hubungan sosial dijelaskan oleh gillin sebagai sebuah proses yang dinamis antara individu dengan individu lain atau dengan kelompok atau hubungan antar kelompok. Hubungan ini tercipta karena pada dasarnya manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain. Di mana melalui tindakan komunikasi seseorang dapat mengelola persamaan dan perbedaan tersebut. Sebuah hubungan antara dua pribadi, tidak terlepas dengan komunikasi antar pribadi.

Sebuah hubungan antar individu berjalan melalui sebuah proses, mulai dari proses pengembangan hubungan yaitu: kontak-keterlibatan-keakraban, hingga proses pemutusan hubungan yaitu: pelemahan-pemutusan (De Vito, 1997:231- 236). Proses ini juga bukan sesuatu yang statis tetapi dinamis, dalam artian pengembangan hubungan tidak berhenti pada hubungan akrab, pemutusan hubungan pun tidak berhenti pada keterputusan. Hubungan akrab bisa mengalami perlemahan, begitu juga hubungan yang terputus terjalin kembali dengan melakukan kontak. Komunitas Hansamo ini memberikan kemudahan informasi kepada pecinta korea untuk membangun sebuah hubungan dengan pecinta korea lainnya melalui komunitas ini.

Mac Parks (2007) menulis “we humans are social animalsdown to our very cells. Nature did not make us noble loners” dalam pernyataan ini adalah motivasi manusia untuk membina hubungan lebih kepada faktor yang dibawa sejak lahir daripada dipelajari. Ini berarti membangun sebuah hubungan dengan orang lain merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Terkait dengan hal ini maka hubungan antar pribadi dimaknai sebagai suatu sistem sekaligus proses. Hubungan antar pribadi sebagai suatu sistem dimana perubahan yang terjadi pada satu elemen dalam hubungan akan berpengaruh pada elemen lainnya. Semakin bergantung satu dengan yang lain, maka semakin

(6)

6 besarlah pengaruh yang dirasakan bila terjadi perubahan pada satu elemen. Sebagai sebuah proses, hubungan antar pribadi disebutkan terus berubah, berkembang dan dinamis. Perubahan yang terjadi mungkin tidaklah besar, namun sebagai bagian dari hubungan, individu pasti juga mengalami perubahan. Sebuah hubungan ada dari waktu ke waktu yang berarti tercipta sejarah bersama yang menjadi bagian dari hubungan dan mempengaruhi interaksi.

Komunitas ini memberikan kemudahan bagi pecinta korea dengan menyediakan berbagai macam akses dengan mudah dan untuk membangun atau mengelola sebuah hubungan dengan pecinta korea lainnya, untuk bertukar informasi tentang segala macam hal mengenai korea dari musik, film, makanan, dan lain sebagainya. Komunitas korea secara nyata membawa perubahan dalam bagaimana seseorang melakukan interaksi sosial. Hubungan yang terjalin antar individu tidak terlepas dengan keberadaan modal sosial itu sendiri.

Modal sosial mengacu kepada ciri organisasi sosial, seperti jaringan, norma, dan kepercayaan yang memfasilitasi koordinasi dan kinerja agar saling menguntungkan. Granovetter menyebutkan bentuk kegiatan yang pertama memelihara atau memperkuat ikatan sosial dengan keluarga yaitu strong ties invesment dan bentuk yang kedua memelihara ikatan dengan kenalan atau membangun ikatan dengan kenalan baru yaitu weak ties invesment. Dengan hal tersebut Putnam memperkenalkan istilah bonding social capital dan bridging social capital. Bonding merujuk kepada hubungan diantara kelompok yang relatif homogen seperti anggota keluarga dan teman dekat, yang memiliki hubungan yang kuat. Sedangkan bridging, mengacu kepada hubungan yang terjalin dengan teman jauh, rekan, dan kolega.

Seperti yang diketahui, Putnam menyebutkan bahwa meskipun hubungan weak ties cenderung mempunyai ikatan yang lemah, hubungan ini penting seperti yang dijelaskan lebih mendalam oleh Granovetter bahwa fenomena yang terjadi didasari oleh kenyataan dimana mereka yang berada di lingkungan sosial (strong ties) cenderung memiliki akses kepada informasi yang kurang lebih sama dengan yang dimiliki anggota lain dalam lingkungan sosial tersebut. Dari hal tersebut untuk mendapatkan informasi baru mereka harus memperolehnya dari koneksi di luar lingkungan sosialnya (weak ties).

(7)

7 Modal sosial merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia, bahkan pendapatan secara langsung dipengaruhi oleh kualitas jaringan sosial yang telah dimiliki oleh seseorang, bahkan kualitas hidup seseorang dipengaruhi oleh jaringan sosial atau seberapa banyak hubungan dengan orang lain tersebut (Putnam 2007:138). Modal sosial dianggap penting dalam komunikasi karena adanya interaksi di dalamnya, dengan proses komunikasi dapat melihat bagaimana perilaku komunikasi komunitas pecinta korea dalam membentuk modal sosial tersebut.

Pembentukan modal sosial dalam penelitian ini akan melihat bagaimana perilaku komunikasi yang diawali dari terbentuknya hubungan pada tingkat individual dan kelompok dan dalam penelitian ini akan melihat bagaimana hubungan tersebut dapat memberikan sebuah manfaat positif bagi mereka yang terlibat dalam hubungan tersebut. Modal sosial menghasilkan hal positif seperti rasa tanggungjawab, kepedulian, kejujuran, kerjasama, inklusif, mutual trust, solidaritas, transfaransi, perasaan aman, dan nyaman bahkan etos kerja positif.

Dalam Sugandi (2011), modal sosial yang terbentuk adalah di kelompok yang ada dalam medium yaitu Facebook, dimana penelitian ini menyebutkan bahwa Facebook memungkinkan pengguna tetap terhubung dan berkomunikasi, saling memberikan dorongan emosional serta berbagi informasi meski hal ini tidak mungkin secara tatap muka dan membantu dalam membuka jaringan yang lebih luas dan kontak yang relatif sulit ditemukan dalam dunia nyata.

Modal sosial yang akan diteliti oleh peneliti adalah modal sosial dalam kelompok dunia nyata dimana modal sosial biasanya terbentuk dalam suatu komunitas karena ada kesamaan yang sama dalam minat sehingga hubungan yang terjalin cenderung lebih memberikan manfaat positif satu dengan lainnya, pada penelitian ini Komunitas Korea Hansamo dipilih karena merupakan komunitas yang berjalan cukup lama hingga kini yaitu 11 tahun dibandingkan dengan Kmunitas Korea lainnya. Dalam hal ini peneliti akan melihat fenomena dari interaksi, perilaku dan pengalaman yang dialami oleh anggota aktif Komunitas Korea Hansamo.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pada komunitas korea yaitu Hansamo yang dijadikan objek penelitian.

Komunitas Korea Hansamo ini dipilih karena merupakan salah satu komunitas

(8)

8 yang terbesar di Bandung dan salah satu komunitas yang diakui dan diberikan bantuan oleh Kedutaan Pemerintah Korea Selatan. Adanya Komunitas Korea ini mempermudah pecinta Korea untuk menjalin hubungan serta mengembangkan jaringan sosial itu sendiri dan dengan adanya hal tersebut tidak jauh dari adanya modal sosial didalamnya. Karena antusias Komunitas Korea inilah peneliti tertarik untuk mengamati bagaimana perilaku komunikasi Komunitas Korea dalam pembentukan modal sosial, maka penelitian ini berjudul “Perilaku Komunikasi Komunitas Korea dalam Pembentukan Modal Sosial”.

1.2 Fokus Penelitian

Penelitian ini berfokus pada bagaimana Perilaku Komunikasi Komunitas Korea Dalam Pembentukan Modal Sosial dan latar belakang keikutsertaan dalam komunitas korea sebagai batasan masalah yang akan diteliti.

1.3 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti membuat identifikasi masalah berupa pertanyaan penelitian terkait perilaku komunikasi Komunitas Korea dalam Pembentukan Modal Sosial.

1. Bagaimana motif anggota dalam Komunitas Korea Hansamo ?

2. Bagaimana hubungan yang terjalin dalam pembentukan Modal Sosial Komunitas Korea Hansamo?

3. Bagaimana komunikasi verbal dan nonverbal yang digunakan Komunitas Korea Hansamo dalam pembentukan Modal Sosial?

4. Bagaimana proses pembentukan Modal Sosial Komunitas Korea Hansamo?

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui motif anggota dalam Komunitas Korea Hansamo.

2. Untuk mengetahui hubungan yang terjalin di dalam Komunitas Korea Hansamo dalam pembentukan Modal Sosial.

3. Untuk mengetahui bagaimana komunikasi verbal dan nonverbal yang digunakan Komunitas Korea dalam pembentukan Modal Sosial.

4. Untuk mengetahui proses pembentukan Modal Sosial dalam Komunitas Korea Hansamo.

(9)

9 1.5 Kegunaan Penelitian

1.5.1 Aspek Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan pengetahuan ilmu komunikasi dalam industri media serta menambah kajian studi komunikasi. Secara teoritis, hasil penelitian ini akan memberikan manfaat sebagai rujukan informasi dan mengembangkan ilmu yang dapat dimanfaatkan oleh pihak lain dalam penelitian selanjutnya.

1.5.2 Aspek Praktis 1. Bagi Peneliti

Penelitian ini memberi manfaat dalam proses pembelajaran untuk memahami prosedur penelitian karya ilmiah, mengaplikasikan teori-teori, menganalisis realita, dan merelevansikan teori yang didapatkan saat perkuliahan dengan implementasinya di lapangan.

2. Bagi Akademisi

Penelitian diharapkan dapat menjadi rujukan informasi untuk melakukan penelitian selanjutnya yang serupa.

(10)

10 1.6 Waktu dan Periode Penelitian

Penelitian dilakukan selama bulan September 2017 hingga Februari 2018 Tabel 1.1

Waktu Penelitian

Kegiatan Tahun 2017-2018

Sep Okt Nov Des Jan Feb

Menentukan topik penelitian

Pra penelitian dan observasi

Penyusunan proposal Pengumpulan data observasi dan tinjauan pustaka

Pengajuan seminar Proposal

Penelitian (wawancara + pengolahan hasil) Sidang Akhir

Referensi

Dokumen terkait

Transformasi teks tradisional ke dalam bentuk baru yakni entitas nasional dipercaya sebagai langkah awal yang mampu mengokohkan kembali kekuasaan tertentu. Dalam konteks

Ball concentration and ball feeling atau konsentrasi pada bola dan daya perasaan untuk bola.(2) Footwork and body movement, yaitu cara mengatur serta menggerakkan kaki dan

Holiah, Pengelolaan Wakaf Tunai Pada Tabung Wakaf Indonesia Untuk Pemberdayaan Dibidang Pendidikan, skripsi manajemen dakwah, UIN SyarifHidayatullah Jakarta, 2011. Ibnu

Kesimpulan Untuk membuat aplikasi program pengenalan pola angka pada sistem operasi android dengan menggunakan template matching seperti program ini, keberhasilan pengenalan

Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang bermakna antara daya antioksidan dari ekstrak etanol daun katuk yang didapat dari hasil ekstraksi dengan pelarut

Disetujui dengan perbaikan (jangka waktu perbaikan ... hari) dan seminar ulang 4.. Mahasiswa

Maka permasalahan yang menjadi pembahasan dalam penelitian ini adalah Kriteria apakah yang dipakai pihak bank untuk menentukan debiturnya telah melakukan wanprestasi dan

Dengan demikian, tercapailah tujuan awal peneliti untuk mendesain ulang batik Cimahi dengan cara mengolah motif dalam lembaran tekstil dengan menggunakan teknik