Page 1 of 21 ANALISIS
SK DIRJEN PENDIS NOMOR: 171 TAHUN 2014
TENTANG PELAKSANAAN UJIAN AHIR MADRASAH BERSTANDAR NASIONAL (UAMBN)
Oleh :
Drs. Sholikin, M.Ed.
Widyaiswara Madya Balai Diklat Keagamaan Surabaya Abstrak
National exam is always debated warmly everytime. Madrasah Aliyah and Tsanawiyah alsa hold it together with schools under ministery of national education. Biside that, students in madrasah Aliyah dan Tsanawiyah have to take national madrasah exam (UAMBN). This article will elaborate, how the UAMBN materials are prepared, then how test blue prints are constructed, then the last how the test items are analysed. The problems analysed critically based on the theory underlined them. The discussion showed that there are problems in preparing the materials, such as, inconsistency in SKL permenag no 2. Thaun 2008 and SKL in SK Dirjen Pendis no. 171 tahun 2014. Indicators in test spisification have been specific SK Dirjen Pendis no.
171 tahun 2014, a lot of test items didn’t apply higher order thinking skill, and did not analysed well.
Key words: UAMBN, test specification, indicator.
A. Pendahuluan 1. Latar Belakang
Ujian nasional merupakan wujud evaluasi pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangkan pengendalian, penjaminan, penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggung jawaban penyelenggaraan pendidikan (UUSPN, No. 20, Tahun 2003, Pasal 1, ayat 21).
▸ Baca selengkapnya: sk panitia pembangunan madrasah
(2)Page 2 of 21 Merujuk hal tersebut di atas Ujian Nasional bisa berfungsi sebagai penyedia informasi tentang kualitas pendidikan secara nasional, juga berfungsi sebagai pemetaan kualitas pendidikana secara nasional, serta penjaminan mutu pendidikan nasional yang pada ahirnya bermuara pada penetapan kebijakan pendidikan masional oleh pemerintah.
Terlepas dari pro dan kontra akan keberadaan Ujian Nasional untuk mata pelajaran umum, seperti Matematika, Biologi, Fisika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Geografi, Kimia, Sosiologi dan Ekomomi untuk tingkat SMA/MA, serta matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Ingggris untuk SMP/MTs. Pemerintah melalui Departemen Agama, menyelenggarakan Ujian Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) bagi madarasah Aliyah dan Madrasah Tsanawiyah, yang meliputi mata pelajaran Alqur’an Hadits , Aqidah Ahlaq, Sejarah Kebudayaan Islam, Bahasa Arab, dengan SK Dirjen Pendis NOMOR:
171 TAHUN 2014. Tentang pelaksanaan UAMBN.
Dengan terbitnya SK Sirjen Pendis NOMOR: 171 TAHUN 2014, maka seluruh madrasah harus melaksanakan UAMBN. SK ini mengatur pelaksanaan UAMBN, yang mencakup tujuan dan fungsi. Dalam pelaksanaan UAMBN disinyalir banyak terjadi kelemahan, baik itu dalam penyiapan, bahan ujian, kepanitiaan, pengolahan hasil ujian dan sebagaianya. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menganggap penting untuk menganalisis hal-hal tersebut karena hasilnya akan bermanfaat bagi perbaikan pelaksanaan UAMBN ke depan.
2. Fokus Kajian
Dalam makalah ini penulis mencoba untuk melakukan analisis kritis pada beberapa hal yang berhubungan dengan pra-pelaksanaan, ketika pelaksanaan dan pos pelaksanaan yang penulis bagi sebagai berikut:
Page 3 of 21 a. Bagaimana Penyiapan Bahan UAMBN di lakasanakan?
b. Bagaimana Kisi-kisi dan Butir soal UAMBN dikembangkan?
c. Bagaimana Telaah Soal UAMBN dilaksanakan?
3. Tujuan Pembahasan
Tujaun dari telaah kritis ini adalah untuk memberikan gambaran kritis tentang pelaksanaan SK Dirjen Pendis NOMOR: 171 TAHUN 2014. Dalam hal ini penulis memberikan dusikusi kritis tentang :
a. Bagaimana Penyiapan Bahan UAMBN di lakasanakan?
b. Bagaimana Kisi-kisi dan Butir soal UAMBN dikembangkan?
c. Bagaimana Telaah Soal UAMBN dilaksanakan?
4. Batasan Masalah
SK Dirjen Pendis NOMOR: 171 TAHUN 2014 berisi tentang pelaksanaan UAMBN bagi madrasah Aliyah dan Tsanawiyah. Namun pada kesempatan kali ini penulis membatasi kajiannya pada pelaksanaan UAMBN madrasah Tsanawiyah saja, karena penulis adalah pernah menjadi guru madrasah tsanawiyah dan itu memudahkan penulis untuk melakukan analisis.
5. Metode Kajian
Dalam kesempatan ini penulis akan menganalisis pelaksanaan SK Dirjen Pendis NOMOR: 171 TAHUN 2014 dengan pendekatan empiris beradasarkan keilmuan maupun temuan-temuan dan kelemahan dalam pelaksanaannya.
Page 4 of 21 B. ANALISIS UAMBN TAHUN 2014
Analisis Pelaksanaan a. Penyiapan Bahan Ujian
Bahan Ujian adalah materi yang akan dipakai dalam mengukur tingkat kompetensi peserta didik. Untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah, yaitu materi yang ada pada mata pelajaran, al Qur’an Hadits, Aqidah Ahlaq, Fiqih, SKI dan Bahasa Arab. Sesuai dengan Permenag no. 2 tahun 2008. Adapun penyiapan bahan ujian menurut POS UAMBN adalah sebagai berikut:
1) Bahan ujian untuk setiap mata pelajaran disusun dengan mengacu pada Permenag nomor 2 tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di madrasah;
2) Bahan ujian mencakup (1) penyusunan kisi-kisi (2) penulisan soal, penelaahan soal dan perakitan soal, (3) penyiapan master copy naskah soal, (4) blangko daftar hadir, dan berita acara;
3) Perangkat naskah soal ujian terdiri atas : (1) naskah soal, (2) kunci jawaban (3) LJ UAMBN dan (4) pedoman penilaian/penskoran, blangko penilaian, blangko daftar hadir peserta dan pengawas, berita acara dan amplop nasakah soal;
4) Naskah soal terdiri atas naskah soal ujian utama dan ujian susulan;
5) Penyiapan perangkat kisi-kisi dan naskah soal dilakukan oleh tim penyusun yang dibentuk oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam;
6) Kepala madarasah berkordinsi dengan Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi u,p, Bidang Pendidikan Madrasah / TOS atau Kemenag Kabupaten/Kota u.p. Seksi Pendidikan Madrasah / TOS Kabupaten/Kota untuk menggandakan, mendistribusikan naskah soal dan / atau mengoreksi LJ UAMBN.
Page 5 of 21 7) Jumlah butir soal dan alokasi waktu (lihat POS)
8) Naskah diketik terbaca, digandakan dan dikemas dan memperhatikan kelayakan kualitas bahan ujian.
9) Naskah dan bahan ujian disimpan di tempat yang terjamin keamanan dan kerahasiaan.
b. Analisis Kelemahan
Analisis POS terhadap penyiapan bahan ujian terdapat beberapa kelemahan antara lain:
1). Standar Kometensi Lulusan (SKL)
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) adalah panduan atau tuntunan bagi semua guru agar proses dan hasil dari pembelajaran terarah dalam pencapaian SKL itu. Berangkat dari SKL itu ditetapak atau di break down menjadi Standar Kompetensi dab Kompetensi Dasar. Oleh karena itu. UAMBN sebagai alat evaluasi nasional, dalam penyusunannya harus mengacu pada SKL tersebut. Dalam lampiran Keputusan Dirjen Pendis no 171 tahun 2014, terdapat inkosistensi dalam penetapan SKL, menurut Permenag no 2, tahun 2008, ada 3 butir untuk SKL Al-qur’an Hadits, sedangkan pada SK Dirjen Pendis no. 171 tahun 2014 ada 5 butir SKL. Artinya ada ketidak cermatan panitia pusat dalan menyusun POS, dalam hal ini dalam penetapan SKL yang akan menjadi acuan pengembangan alat evaluasi yang berstandar nasional. Begitu juga Aqidah Ahlaq, SKL permenag no. 2 th. 2008, ada 2, sedangkan SK Dirjen Pendis menjadi 10, SKI dar 3 butir, menjadi 13, artinya, ada SKL baru versi
Membandingkan denga kisi-kisi UN yang dikeluarkan oleh Diknas, kolom SKL seperti yang ada pada SK Dirjen, tidak ada, yang
Page 6 of 21 ada kolom Kompetensi, sebagai penyaringan dari SK dan KD Standar Isi dengan mempertimbangkan tingkat essesialitas suatu materi.
Pembuat soal yang baik setelah menetapkan jumlah soal yang akan diujikan dia harus memilah materi yang akan diujikan dengan menggunakan kerteria materi essensial. Sesuai dengan kreteria kita ketika akan mennyampaikan materi (skala prioritas); yaitu materi yang mempunyai karakateristik, urgensi, kontinuitas, relevan dan keterpakaian , Safari (2008). Jadi materi yang diujikan tidak boleh hanya dibagi rata, akan tetapi materi mana yang empat karakteristik masuk akan mendapat porsi lebih dari materi yang hanya 3 karakteistik masuk dan seterusnya.
.
2) Kisi-kisi dan Butir Soal UAMBN a) Kisi-kisi Soal
Yang biasa diterbitkan oleh Kemendiknas untuk ujian nasional adalah kisi-kisi UN. Dimana dalam kisi-kisi UN Kemendiknas hanya mencantunkan Kompetensi dan Indikator (bukan SKL dan indicator).
Kriteria kisi-kisi pada UN materinya masih umum. Artinya materinya masih bisa dikembangkan karena belum spesifik, satu inidkator memungkinkan dikembangkan menjadi beberapa inidikator soal yang mengacu pada materi yang lebih spesifik.
Contoh:
Standar Kompetensi Lulusan Skill Membaca No Kompetensi Indikator
Memahami makna dalam wacana tertulis pendek
Menentukan gambaran umum/pikiran utama paragraf atau informasi
tertentu/informasi rinci/informasi tersirat atau rujukan kata atau makna kata/frasa
Page 7 of 21 baik teks
fungsional maupun esai sederhana berbentuk deskriptif (descriptive, procedure, maupun report) dan naratif (narrative dan recount) dalam konteks kehidupan sehari-hari.
atau tujuan komunikatif dalam teks fungsional pendek berbentuk
caution/notice/warning, greeting card, letter/e-mail, short message,
advertisement, announcement, invitation, schedule.
Menentukan gambaran umum/pikiran utama paragraf atau informasi
tertentu/informasi rinci/informasi tersirat atau rujukan kata atau makna kata/frasa atau tujuan komunikatif dalam teks berbentuk procedure.
Menentukan gambaran umum/pikiran utama paragraf atau informasi
tertentu/informasi rinci/informasi tersirat atau rujukan kata atau makna kata/frasa atau tujuan komunikatif dalam teks berbentuk descriptive.
Menentukan gambaran umum/pikiran utama paragraf atau informasi
tertentu/informasi rinci/informasi tersirat atau rujukan kata atau makna kata/frasa atau tujuan komunikatif dalam teks berbentuk recount.
Dari contoh kisi-kisi yang dikembangkan oleh Tim Ujian Nasional, materi sangat luas, yang memungkinkan guru membuat prediksi dari berbagai kemungkinan materi yang ada. Hal ini berbeda denngan Kisi-kisi UAMBN. Dimana materi dan kata kerja opersional nya sudah sangat spesifik. Lihat contoh:
Page 8 of 21 1. Al-Qur’an-Hadis (Madrasah Tsanawiyah)
NO STANDAR KOMPETENSI LULUSAN
INDIKATO R 1. Memahami dan
mencintai Al-Qur‟an dan Hadis sebagai pedoman hidup
Menunjukkan pengertian Al-Qur‟an menurut
bahasa
Menunjukkan salah satu fungsi Al-Qur‟an menurut Q.S. Albaqarah ayat 2
Menunjukkan salah satu fungsi Hadis Menunjukkan cara menfungsikan Al- Qur‟an dan
Hadis dalam kehidupan sehari-hari Menunjukkan contoh penerapan Al- Qur‟an
sebagai pedoman hidup
Menunjukkan salah satu perilaku orang yang mencintai Al-Qur‟an 2. Meningkatkan
pemahaman Al-Qur‟an QS. Al- Fatihah, dan surat-surat pilihan yang telah dihafal di SD/MI melalui upaya penerapan cara membacanya, menangkap maknanya, memahami
kandungan isinya, dan mengaitkannya dengan fenomena kehidupan
Menunjukkan ayat dalam QS. An- Naas yang mengandung tauhid Rububiyyah
Menunjukkan ayat dalam QS. Al- Fatihah yang mengandung tauhid Uluhiyyah
Menunjukkan contoh penerapan ayat QS. Al- Fatihah ayat 5 dalam
kehidupan sehari-hari Kelemahan
Pertama, kisi-kisi yang diterbitkan oleh Kementrian Agama adalah cocok untuk kisi-kisi Soal UAMBN. Apabila kisi-kisi soal sudah bocor, berarti soal juga sudah bocor, dengan demikian adanya pelaksanaan UAMBN tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya, seperti yang diamanatkan UU No. 20, tahun 2003.
Tentang SPN. Bab I, pasal 1, ayat (21), bahwa evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.
Page 9 of 21 Kedua, kalaupun itu memang kisi-kisi UAMBN, tampaknya kisi- kisi dikembangkan dengan tidak cermat. Tanpa melalui prosedur yang semestinya dilalui. Hal ini dapat dibuktikan dari beberapa temuan dalam kisi-kisi soal UAMBN. Temuan tersebut antara lain:
1. Indikator
Indikator adalah komponen yang penting dalam sebuah kisi-kisi, karena ia adalah rumusan pernyataan sebagai bentuk ukuran spesifik yang menunujukan ketercapaian KD dengan menggunakan kata kerja operasional (KKO) (Zainal A, 2011).
KKO adalah sebuah kata kerja yang dapat diukur atau dapat dibuatkan soalnya sesuai dengan bentuk soal. Dalam kisi-kisi UAMBN kata kerja opersionalnya banyak tidak tepat untuk tes dalam bentuk pilihan ganda, seperti menjelaskan, menterjemahkan, menyebutkan dan sebagainya. Kata kerja ini cocok untuk penilaian dalam bentuk uraian. (safari, 2008).
2. Pengembangan Kisi-kisi.
Sebagai kegiatan evaluasi pendidikan tingkat nasional, UAMBN dalam menyiapkan instrumennya harus mengikuti prosedur pengembangan penilaian standar. Dimana karakteristik instumen evaluasi yang baik harus terpenuhi, antara lain valid, reliable, relevan, representative, praktis, deskriminatif, spesifik dan proporsional (Zainal A, 2011). Yang sebelumnya didahului dengan penysusunan kisi-kisi. Kisi-kisi adalah sebuah table yang memuat tentang perincian materi, dan tingkah laku beserta imbangan yang dikekhendaki oleh penilai (Sulistyorini, 2009).
Indikator dalam kisi-kisi merupakan pedoman dalam merumuskan soal yang dikehendaki. Kegiatan perumusan indikator soal merupakan bagian dari kegiatan penyusunan kisi-
Page 10 of 21 kisi. Untuk merumuskan indikator dengan tepat, guru harus memperhatikan materi yang akan diujikan, indikator pembelajaran, kompetensi dasar, dan standar kompetensi.
Indikator yang baik dirumuskan secara singkat dan jelas. Syarat indikator yang baik:
a. menggunakan kata kerja operasional (perilaku khusus) yang tepat, yang dapat diukur.
b. menggunakan satu kata kerja operasional untuk soal objektif, dan satu atau lebih kata kerja operasional untuk soal uraian/tes perbuatan,
c. dapat dibuatkan soal atau pengecohnya (untuk soal pilihan ganda).
Kalau indikator yang ada di kisi-kisi UAMBN itu kisi kisi soal, maka penulis menemukan banyak indikator yang tidak bisa dibuatkan soalnya, seperti:
1. Disajikan dialog, melengkapi dengan ungkapakan yang tepat (B. Arab)
2. Menentukan kalimat Tanya yang tepat. (B. Arab)
3. Disajikan gambar, menentukan kalimat yang tepat sesuai dengan gambar. (b. Arab)
4. Menjelaskana kondisi masarakat Arab Pra Islam, (SKI) 5. Menjelaskan pengertian qodlo’ dan qodar. (A. Ahlaq)
6. Menceritakan biografi singkat pendiri Dinasti Ayyubiyah. (SKI) Indikator tersebut tidak jelas, seperti apa soal yang diinginkan, sperti indicator kisi-kisi B. Arab. Sedangkan soal tidak cocok untuk jenis pilihan ganada ditemukan pada contoh kisi-kisi soal (SKI, A. Ahlaq) dan masih banyak lagi.
Page 11 of 21 3. Stimulus
Stimulus adalah sesuatu yang harus digunakan untuk merespon soal bisa dalam bentuk paragraph, diagram, table atau yang lain. Soal yang baik adalah soal yang menggunakan stimulus dalam menjawab pertanyaan soal. Item soal yang menggunkan stimulus merupakan ciri-ciri soal yang menggunakan pendekatan Higher Order Thinking Skill (HOTS).
Contoh Kisi-kisi dengan stimulus:
Disajikan kalimat yang mengandung salah satu huruf nasab, menentukan huruf nasab yang tepa.
Disajikan kalimat rumpang tentang pemandangan alam sekita, melengkapi dengan kata-kata yang tepat.
Contoh kisi-kisi tanpa stimulus:
Menentukan bacaan sholat
Menentukan jawaban lafadz adzan
Mengidentifikasi sifat-sifat wajib bagi Allah, nafsiah, salbiah dan maknawiyah.
Kisi-kisi yang dikembangkan oleh Tim Kemenag hampir
seluruhnya tidak menggunakan stimulus, kecuali pada maple B. arab.
Artinya kisi-kisi yang ada akan menjadi soal yang mutunya kurang baik, karena peserta ujian akan menjawab soal yang banyak mengacu pada tingkat C1 (ingatan) belum C2 (pemahaman) atau C3
(penerapan) atau yang lebih tinggi dari taxonomi Bloom.
C. Pengembangan Butir Soal
Langkah berikutnya setelah penyusunan kisi-kisi adalah pengembangan butir soal. Kisi-kisi yang baik apabila kisi-kisi tersebut diberikan pengembang soal yang berbeda akan menghasilkan soal yang relative sama. Dalam pengembagan soal ini yang harus dicermati
Page 12 of 21 adalah indikator, karena ia akan membimbing pengembang soal seperti apa soal akan di buat dalam rangka menguji kompetensi yang diharapkan.
Dalam UAMBN ini tes yang dikembangkan adalah dalam bentuk pilihan ganda (PG). Tes pilihan ganda adalah tes yang memuat serangkaian informasi yang belum lengkap, dan untuk melengkapinya dilakukan dengan memilih berbagai alternative pilihan yang disediakan.
(Setiwan dan Sumardiyono, 2011). Sedangkan menurut Safari (2008) soal plihan ganda adalah soal yang sudah disediakan jawabannnya, peserta tes diminta untuk memilih dari pilihan jawaban yang sudah tersedia. Jadi peserta tes dituntut memilih jawaban dari pilhan jawaban yang sudah tersedia, untuk Madrasah Tsanawiyah empat pilihan sedangkan Maddrasah Aliyah lima pilihan jawaban
Menulis tes pilihan ganda diperlukan kecermatan dan ketrampilan dalan mengembangkan soal, hal sulit dalam pengembangan soal pilihan ganda adalah menulis pengecoh, karena pengecoh yang baik harus memeuhi kreteria homogen, logis, dan pnajang pendeknya relative sama dengan kunci jawaban. Berikut adalah kaidah penulisan soal pilihan ganda yang dikembangkan oleh Safari (2008):
a. Soal sesuai dengan indikator b. Pengecoh harus berfungsi
c. Hanya ada satu jawaban yang benar d. Pokok soal dirumuskan dengan jelas
e. Pokok soal tidak memberi petunjuk kearah jawaban yang benar f. Pokok soal tidak mengandung pernyataan negative ganda g. Pilihan jawaban harus homogin dan logis
h. Panjang pendek jawaban relatif sama
Page 13 of 21 i. Pilihan jawaban tidak mengandung pernyataan “ semua pilihan
jawaban di atas benar”
j. Pilihan jawan dalam bentuk angka diurut dari yang kecil ke yang besar atau sebaiknya.
k. Stimulus berfungsi dengan baik
l. Rumusan soal tidak menggunkan kata yang bermakna tidak pasti.
m. Jawaban tidak tergantung pada jawaba sebelumnya.
n. Soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
o. Pilihan jawaban tidak mengulang kata atau frasa yang sama.
Kelemahan
Contoh Pengembangan Soal UAMBN 2014
a. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja
1. Fiqh Soal no 1.
Indikator soal
Menunjukkan macam-macam najis Soal
Pak Rahmat punya tetangga yang memelihara anjing di rumahnya. Tiba-tiba anjing tersebut masuk ke pagar rumah pak Rahmat, di sat pintu pagar terbuka. Anjing itu menjilat salah satu tempat penyimpanan air, tempat penyimpanan air itu termasuk najis ….
a. kecil b. berat c. sedang d. ringan.
Menjadi
Page 14 of 21
“tempat penyimpanan air yang terkena najis anjing termasuk najis….”
2. Fiqih Soal no 6 Indikator
Menentukan hokum gerakan sholat Soal
Ahmad menjadi imam dalam sholat berjamaah. Dari takbirotul ihrom sampai gerakan berikutnya ia lua tidak tasyahud awal pada sholat dhuhur. Hukum sholatnya ….
a. sah kaarena lupa b. tidak sah dan berdosa c. batal dan harus mengulang d. sah harus disertai sujud sahwi Menjadi
“bagaimana hukum sholat bagi orang yang lupa melakukan salah satu rukun sholat ….”
b. Stimulus tidak berfungsi (soal bisa dijawab tanpa memperhatikan stimulus)
1. Fiqh soal no. 16 Indicator
Menentukan salah satu diperbolehkannya shalat jamak Soal:
Ratih melakukan perjalan kapal laut. Ia masih sempat melakaukan sholat dengan waktu yang telah ditentukan.
Perjalanannya menuju Jakarta dengan menggunakan bus dan ia tidak sempat melakukan shalat seperti perjalanannya
Page 15 of 21 pertamanya. Tunjukkanlah salah satu sebab diperbolehkannya shalat jamak qashar ….
a. sedang melakukan perjalanan jauh b. sulit mendapat empat untuk sholat c, banyak penumpang wanitnya d. banyak orang di sekeliling kita.
Soal no 18.
Indicator
Menentukan salah satu cara melakukan sholat Soal:
Sudah lama Fatimah dirawat di rumah sakit. Penyakitnya tidak kunjung sembuh. Tetapi ia tidak banyak mengeluh dan wajahnya tergurat optimism akan kesembuhannya. Sebagai seorang muslimah yang taat beribadah meskipun tidak berdiri ia bisa melakukan shalat dengan cara ….
a. duduk di kuris roda
b. mewakilkan kepada sudara
c. memjamkan mata dengan berdikir
d. bersedekah kepada orang yang tidak mampu c. Panjang pendek jawaban relative sama
1. Al quran Hadits, soal no. 18, 23, 37, 47.
2. SKI, terdapat pada no. 6, 20, 3. Fiqih, terdapt pada no. 30, 37,
d. Pilihan jawaban harus homogin dan logis 1. Al Quran Hadits terdapat pada soal no, 3, 47 2. Fiqh terdapat pada soal no. 10, 14, 16, 39,
3. SKI terdapat pada soal no. 2, 4, 11, 24, 25, 28, 31,
e. Pilihan jawaban tidak mengulang kata atau frasa yang sama.
Page 16 of 21 1. SKI terdapat pada soal no. 12, 32, 37, 39, 41,
2. Fiqih, 44
D. Telaah Soal
Ada dua cara yang baisa dilakukan dalam menelaah soal.
Pertama, penelaahan soal dalam bentuk kwalitatif, artinya kita menelaah saol dari sudut pandang tiga komponen; yaitu komponen atau aspek materi, konstruksi dan baik yang mempunyai kompetensi dalam bidang penulisan soal standar, materi bahasa atau budaya, dan penelaah kwalitatif ini biasanya dilakukan oleh tenaga ahli dan bahasa.
Safari (2008) menyarankan penelaan dengan model panel, yang di dalamnya ada beberapa ahli bahasa, materi dan penulisan soal standar, serta seorang moderator. Tehnik sangat baik karena setiap butir soal dianalisis oleh para ahlinya, seperti ahli bahasa, materi dan soal. Berikut adalah format telaah soal dalam bentuk kwalitatif
Page 17 of 21
No Aspek yang dinilai
Beri tanda √ untuk "Ya" dan X untuk "Tidak" di bawah no. Soal
Nomor Soal
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Aspek Materi
1 Soal sesuai dengan indicator
2 Hanya ada satu kunci jawaban yang tepat 3 Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran 4 Isi materi sesuai dengan jenjang, jenis sekolah dan tingkat sekolah
Aspek Konstruksi
5 Pilihan jawaban harus homogen dan logis 6 Pokok soal dirumuskan dengan singkat, jelas, dan tegas 7
Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan
pernyataan yang diperlukan saja
8 Pokok soal tidak memberi petunjuk ke kunci jawaban 9 Pokok soal tidak merupakan pernyataan negatif ganda 10
Bila menggunakan kata negatif, kata “negatif” harus diberri garis
bawah atau dicetak miring
11
Alternatif jawaban tidak memuat “semua jawaban di atas salah
atau benar
12
Stimulus (Gambar, grafik, tabel, diagram dll) harus benar-benar berfungsi
13 Butir soal tidak bergantung pada butir soal sebelumnya 14 Panjang rumusan jawaban relatif sama 15
Alternatif jawaban yang berbentuk angka harus diurutkan dari
besar ke kecil atau dari kecil ke besar
Bahasa/Budaya
16 Menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa
Page 18 of 21 Indonesia
17 Menggunakan bahasa yang komunikatif
18 Pilihan jawaban tidak mengulang
19 Rumusan kalimat tidak menimbulkan penafsiran ganda
Page 19 of 21 Telaah yang lain adalah dalam bentuk kwantitatif atau empiric, dimana soal diuji cobakan terlebih dahulu, lalu hasilnya dianalisis, untuk mengetahui tingkat kesukaran, daya beda, distrucktor berfungsi atau tidak, tingkat reliabilitas dan validitasnya. Lalu soal yang memenuhi kreteria disimpan, yang kurang baik direvisi, yang tidak baik ditolak atau dibuang. Penelaahan ini bisa menggunakan model tradisional, yaitu dihitung dengan cara manual atau dengan menggunakan sebuah program yang sudah disiapkan, penelaah tinggal melakukan entri data dan computer akan menganalisis secara otomatis
Dalam hal ini UAMBN diduga belum dianalisis, artinya Soal-soal yang diberikan sebagai tolok ukur tingkat kompetensi siswa untuk mata pelajaran
Agama dan Bahasa Arab belum dianalisis secara empiric, dengan demikian belum diketahui, tingkat kesukaran soal, daya beda, apakah distructor berfungsi atau tidak, tingkat validitas dan reliabilitasnya juga belum diketahui. Dengan kata kata lain soal UAMBN belum bisa berfungsi sebagaimana yang diharapkan dalam SK Dirjen Pendis No.171 tahun 2014.
Page 20 of 21 E. KESIMPULAN
UAMBN adalah sebuah kegiatan evaluasi pembelajaran tingkat nasional untuk mata pelajaran Aqidah Ahlaq, Al Qu’an Hadits, Fiqih, Bahasa Arab dan Sejarah Kebudayaan Islam, yang diikuti oleh seluruh siswa Madrasah Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, secara nasional oleh karena itu, UAMBN harus disiapka
secara matang dengan mengikuti langkah-langkah penyusunan soal standar.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyimpulkan beberapa hal yang berhubungan dengan pertanyaan penelitian di atas Antara lain:
1. Adanya inkosistensi SKL yang ada pada permenag no 2. Thaun 2008 dan SKL di SK Dirjen Pendis no. 171 tahun 2014.
2. Kisi-kisi yang dikembangkan oleh tim Kemenag bukan Kisi-kisi Komptensi SKL, hal ini terlihat jelas dari indicator dan materi yang ditetapkan sudah spesifik untuk satu soal.
3. Soal belum menggunakan pendekatan Higher Order Thinking Skill, banyak pada taraf C1 dan C2 saja.
4. Soal UAMBN sudah bocor, karena indicator kisi-kisinya adalah indicator soal yang sudah spesifik dan ini tidak bisa digunakan sebagai alat ukur atau evaluasi yang bisa digunakan untuk kepentingan pendidikan.
5. Saol UMBN diduga kuat belum dianalisis dengan baik, ahirnya mutu soal tidak cocok bila disebut berstandar nasional, Karen:
a. Banyak stimulus soal yang tidak berfungsi, artinya soal dapat dijawab oleh siswa tanpa memperhatikan stimulus.
b. Banyak stem (pokok soal) tidak dirumuskan dengan baik, artinya banyak kalimat dari stem soal yang mubadzir, sehingga perlu dirumuskan kembali.
c. Panjang pendek option tidak relative sama.
d. Soal banyak mgulang kata atau frasa yang sama.
e. Option banyak yang tidak homogin dan logis.
Dari hasil temuan-temuan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pelaksanaan UAMBN, sebagai kegiatan evaluasi belajar tingkat nasional yang ditetapkan dengan SK Dirjen Pendis No. 171 tahun 2014, tidak akan mencapai apa yang diharapkan,
Page 21 of 21 sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan karena hasil dari evaluasi itu tidak dapat dipertanggung jawaban secara ilmiah.
F. SARAN-SARAN
1. Perlu adanya SOP yang menyeluruh bagi pelaksanaan UAMBN dari ditingkat pusat sampai pada panitia pelaksana.
2. Penyusun kisi-kisi dan dan butir soal butir soal harus melibatkan pakar dalam hal penilaian, serta guru-guru yang sudah mempunyai skill dalam hal itu.
3. Setelah Soal sudah dikonstruksi, perlu adanya telaah soal baik secara kwalitatif maupaun kwantitatif, untuk mengetahui daya beda, tingkat kesukaran, reliabilitas dan validitasnya.
Referensi
Chabib, Toha, M., 2003, “Tehnik Evaluasi Pendidikan”, Raja Grafindo Persada, Jakarta Pemerintah Republik Indonesia , Peraturan Menteri Agama no. 2 tahun 2008.
Pemerintah Republik Indonesia, Suratt Keputusan Deirektur Pendidikan Islam, No.
DJI/02/2012
Pemerintah Republik Indonesia, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, No 20 Tahun 2003.
Safari, 2008, “Analsis Butir Soal”. Asosiasi Pengawas Pendidikan Inddonesia, Jakarta Safari, 2008, “Penulisan Butir Soal Berdasrkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan”.
Asosiasi Pengawas Pendidikan Inddonesia, Jakarta.
Setiawan dan Sumardiyono, 2011, “Pengembangan Instrumen Penilaian Pembelajaran Matematika”. P4TK Matematika.
Sukardi, MS, 2011, Evaluasi Pendidikan, Prinsip dan Operasionalnya”. Sinar Grafika Offset, Jakarta.
Sulistyorini, 2009, “Evaluasi Pendidikan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan”. Sukses Offset, Yogyakarta.
Zainal Arifin, 2011, “ Evaluasi Pembelajaran, Prinsip, Teknik dan Prosedur”. PT Remaja Rosdakarya, Bandung.