KERTAS KEBIJAKAN
PROYEKSI PERKEMBANGAN PERHUTANAN SOSIAL DI SUMATERA SELATAN
Perhutanan Sosial yang menjadi salah satu agenda RPJMN diharapkan dapat menjawab beberapa permasalahan nasional yang juga terjadi di Sumatera Selatan. Terutama yang terkait dengan masyarakat yang memiliki ketergantungan pada sumber daya hutan, desa-desa yang berada disekitar dan didalam kawasan huta dan konflik ternurial. Syaratnya adalah kuatnya POKJA PPS Sumsel yang terbentuk melaui SK Gubernur No. 154 Tahun 2017, sinergi yang baik para pihak, dukungan pendanaan yang mencukupi dan kuatnya dukungan kebijakan.
LATAR BELAKANG
Masyarakat Indonesia masih banyak yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya hutan. Dari lebih kurang 72 ribu desa, terdapat 25.863 desa berada didalam dan sekitar kawasan hutan. Demikian juga di Sumatera Selatan (Sumsel), ada 699 Desa yang ada dalam situasi tersebut. Lebih kurang 70% masyarakatnya sangat tergantung pada sumber daya hutan.
Provinsi Sumatera Selatan kaya akan sumberdaya hutan, berdasarkan SK.
Menhut No. 866/Kpts- II/2014 kawasan hutan tercatat seluas 3.466.901 Hektar terdiri dari Hutan Konservasi 790.625 hektar, Hutan Produksi 2.098.949 hektar dan Hutan Lindung 577.327 hektar.
Kondisi hutan tersebut saat ini sudah dikelola oleh Hutan Tanaman Industri (HTI), Hutan Alam (HA) Restorai Ekosistem (RE) dan Jasa Lingkungan (JL) seluas 1,5 Juta hektar
dengan masyarakat. Seluas 13.132 Ha dikelola dengan sistem pinjam pakai untuk pertambangan. Sementara yang dikelola oleh masyarakat dengan skema Perhutanan Sosial hanya 5% dari total luas hutan yang sudah berizin.
Kedepan, ketimpangan ini diharapkan dapat dikurangi melalui Perhutanan Sosial
(Pehutsos), dan cita – cita pengelolaan hutan untuk kesejahteraan masyarakat
sebagaimana Nawacita pemerintahan Jokowi – Jusuf Kalla dapat terwujud. Perhutsos
juga diharapkan dapat menjadi salah satu solusi akan permasalahan tenurial dan keadilan pemanfaatan kawasan hutan, termasuk di Sumsel.
POTENSI DAN CAPAIAN
Sumsel memiliki potensi Perhutsos cukup besar, dimana berdasarkan Peta Indikatif Areal Perhutanan Sosial (PIAPS) yang dikeluarkan KLHK, SK No.22/Menlhk/ Setjen/
PLA.0/1/2017, potensi Sumsel seluas 492.263 Ha, yang tersebar di 16 kabupaten/kota (Lihat Tabel 2). Selanjutnya menurut Studi Hutan Kita Institute (HaKI) mengindikasikan potensi Perhutsos di Sumsel lebih luas lagi, yaitu sekitar 1 juta hektar. 1
Tabel 1. Luas dan Sebaran Potensi Perhutanan Sosial Sumsel Menurut PIAPS
Meskipun para penggiat Perhutsos Sumsel sudah bergerak sejak awal 2007 namun perkembangannya sampai dengan awal 2017 ini baru mencapai 81.827 Ha.
Perkembangan ini juga menunjukkan kecenderungan fluktuatif. Menurun pada 2011- 2013, dan baru ada sedikit kenaikan pada 2015. Pada tahun 2016, meskipun ada lebih dari 10 izin baru (PAK) di Sumsel, namun dari sisi luasan hanya 4.968 Ha yang merupakan Hutan Kemasyarakatan dan Hutan Desa. (lihat Grafik 2. Perkembangan Perhutsos Sumsel 2009-2016)
1
Analisa Potensi Indikasi Perhutanan Sosial di Sumsel oleh Tim GIS HaKI seluas 1.009.791 hektar;
BAGAIMANA PERHUTSOS SUMSEL KEDEPAN?
Sekarang ini Perhutsos sudah menjadi program nasional dengan target 12,7 juta pada tahun 2019, walaupun banyak kalangan menganggap ini sebuah ketidakmungkinan, namun optimisme dan keberpihakan ini selayaknya di apresiasi.
Dalam kontek Sumsel, beberapa prasyarat awal untuk percepatan sudah ada ; seperti komitmen politik pemerintah daerah dan pembentukan Kelompok Kerja Percepatan Perhutanan Sosial (POKJA PPS). Selanjutnya memastikan bagaimana komitmen dan sistem tersebut bisa operasional. Ada 2 skenario yang mungkin akan terjadi dalam perjalanan Perhutsos Sumsel, dan kedua scenario ini akan memberikan dampak yang masing-masing berbeda yaitu ;
1) Skenario Bisnis Biasa
Jika Perhutsos Sumsel berjalan layaknya bisnis biasanya atau Busines as Usual (BAU) 2 , dimana masing–masing penggiat bekerja sendiri - sendiri, birokrasi yang rumit, dukungan pendanaan lemah, dukungan kebijakan kurang dan lack of effort, maka sampai pada periode akhir target PIAPS tahun 2019, luas perhutanan sosial di Sumsel maksimal hanya akan ada pada angka 122.741 Ha atau hanya mengalami penambahan 8,3 persen dari target PIAPS.
2) Skenario Percepatan
Skenario lainya adalah skenario Percepatan Perhutanan Sosial (PPS) 3 , dimana ada penambahan luas wilayah kelola masyarakat sebesar 164.088 Ha setiap tahun-nya sampai dengan tahun 2019 (Llihat Grafik 3. Skenario Perhutanan Sosial Sumsel 2017-2019).
2
Skenario BAU diperhitungkan dari tren perkembangan Perhutsos Sumsel yang lalu dengan membandingkan target PIAPS Sumsel. Asumsinya adalah berdasarkan tren perkembangan periode 2009 -2016 yang rata-rata penambahan adalah antara 9.091 - 10.128 Ha.
3