BAB II LANDASAN TEORI. Beberapa pengertian atau definisi pajak menurut para ahli dibidang keuangan

Teks penuh

(1)

6 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Perpajakan 1. Definisi Pajak

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (sehingga dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung.

Beberapa pengertian atau definisi pajak menurut para ahli dibidang keuangan negara, ekonomi, maupun hukum mancanegara antara lain adalah sebagai berikut:

Definisi pajak yang dikemukakan oleh Sommerfeld Ray M., Anderson Herschel M., dan Brock Horace R:

Pajak adalah suatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah, bukan akibat pelanggaran hukum, namun wajib dilaksanakan, berdasarkan ketentuan yang ditetapkan lebih dahulu, tanpa mendapat imbalan yang langsung dan proporsional, agar pemerintah dapat melaksanakan tugas-tugasnya untuk menjalankan pemerintahan (Moh.

Zain:2005).

Definisi pajak yang dikemukakan oleh Prof. Dr. P. J. A. Andriani:

Pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (undang-undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran- pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk menyelengarakan pemerintahan (R. Santoso Brotodihardjo: 2003).

Definisi pajak yang dikemukakan oleh Prof. Dr.H. Rochmat Soemitro SH:

Pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (undang-undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-

(2)

pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk menyelengarakan pemerintahan.

Menurut UU No. 28 tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Undang- Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan:

Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Sementara pemahaman pajak dari perspektif hukum menurut Soemitro merupakan suatu perikatan yang timbul karena adanya undang-undang yang menyebabkan timbulnya kewajiban warga negara untuk menyetorkan sejumlah penghasilan tertentu kepada negara, negara mempunyai kekuatan untuk memaksa dan uang pajak tersebut harus dipergunakan untuk penyelengaraan pemerintahan.

Dari berbagai definisi yang diberikan terhadap pajak baik pengertian secara ekonomis (pajak sebagai pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah) atau pengertian secara yuridis (pajak adalah iuran yang dapat dipaksakan) dapat ditarik kesimpulan tentang ciri-ciri yang terdapat pada pengertian pajak antara lain sebagai berikut:

1. Pajak dipungut oleh Negara baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah berdasarkan atas undang-undang serta aturan pelaksanaannya.

2. Pemungutan pajak mengisyaratkan adanya alih dana (sumber daya) dari sektor swasta (wajib pajak membayar pajak) ke sektor negara pemungut pajak administrator pajak).

(3)

3. Pemungutan pajak diperuntukkan bagi keperluan pembiayaan umum pemerintah dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahan, baik rutin mupun pembangunan.

4. Tidak dapat ditunjukkan adanya imbalan (kontraprestasi) individual oleh pemerintah terhadap pembayaran pajak yang dilakukan oleh wajib pajak.

5. Selain fungsi budgeter (anggaran) yaitu fungsi mengisi Kas Negara /Anggaran Negara yang diperlukan untuk menutup membiayaan penyelengaraan pemerintahan, Pajak juga berfungsi sebagai alat untuk mengtur waktu atau melaksanakan kebijakan negara dalam lapangan ekonomi dan sosial (fungsi mangatur / regulatif).

2. Fungsi Pajak

Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara, khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan sumber pendapatan negara untuk membiayai semua pengeluaran termasuk pengeluaran pembangunan. Pajak mempunyai beberapa fungsi, yaitu:

a. Fungsi Penerima (Budgetair)

Pajak berfungsi untuk menghimpun dana dari masyarakat bagi Kas Negara, yang diperuntukkan bagi pembiayaan pengeluaran-pengeluaran pemerintah.

Untuk pembiayaan pembangunan, uang dikeluarkan dari tabungan pemerintah, yakni penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran rutin.

Fungsi budgetair ini merupakan fungsi utama pajak atau fungsi fiskal (fiscal function), yaitu suatu fungsi dalam mana pajak digunakan sebagai alat untuk

(4)

memasukkan dana secara optimal ke kas negara berdasarkan undang-undang perpajakan yang berlaku.

Faktor-faktor yang berperan penting dalam memengaruhi dan menentukan optimalisasi pemasukan dana ke kas negara melalui pemungutan pajak kepada negara antara lain adalah:

1. Kejelasan dan kepastian peraturan perundang-undangan perpajakan

Undang-undang yang jelas, sederhana, mudah dimengerti akan memberi penafsiran yang sama bagi wajib pajak dan fiskus.

2. Tingkat intelektual masyarakat

Dalam tingkat intelektual yang cukup baik, secara umum maka akan makin mudah bagi wajib pajak untuk memahami peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

3. Kualitas petugas pajak (intelektual, keterampilan, integritas, moral tinggi) Kualitas petugas pajak sangat menentukan efektivitas undang-undang dan peraturan perpajakan.

4. Sistem administrasi perpajakan yang tepat

Administrsi perpajakan hendaklah merupakan proritas tertinggi karena kemampuan pemerintah untuk menjalankan fungsinya secara efektif bergantung kepada jumlah uang yang dapat diperolehnya memalui pemungutan pajak.

b. Fungsi Mengatur (Regulerend)

Pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur struktur pendapatan ditengah masyarakat dan struktur kekayaan antara para pelaku ekonomi. Fungsi mengatur

(5)

ini sering menjadi tujuan pokok dari sistem pajak, paling tidak dalam sistem perpajakan yang benar tidak terjadi pertentangan dengan kebijaksanaan Negara dalam ekonomi dan sosial.

3. Syarat Pemungutan Pajak

Agar pemungutan pajak tidak menimbulkan hambatan atau perlawanan, maka pemungutan pajak harus memenuhi syarat sebagai berikut (Mardiasmo, 2009) :

1. Pemungutan pajak harus adil ( Syarat Keadilan)

Sesuai dengan tujuan hukum, yakni mencapai keadilan, undang-undang dan pelaksanaan pemungutan harus adil. Adil dalam perundang-undangan diantaranya mengenakan pajak secara umum dan merata, serta disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

2. Pemungutan pajak harus berdasarkan undang-undang (Syarat Yuridis)

Di Indonesia, pajak diatur dalam UUD 1945 pasal 23 ayat 2. Hal ini memberikan jaminan hukum untuk menyatakan keadilan, baik bagi negara maupun warganya.

3. Tidak menggangu perekonomian (Syarat Ekonomis)

Pemungutan pajak harus diusahakan sedemikian rupa agar tidak menggangu kondisi perekonomian, baik kegiatan produksi, perdagangan, maupun jasa.

4. Pemungutan pajak harus efisien (Syarat Finansiil)

Sesuai fungsi budgetair, biaya pemungutan pajak harus dapat ditekan sehingga lebih rendah dari hasil pemungutannya.

5. Sistem pemungutan pajak harus sederhana

(6)

Sistem pemungutan yang sederhana akan memudahkan wajib pajak dalam menghitung beban pajak yang harus dibiayai sehingga akan memberikan dampak positif bagi para wajib pajak untuk meningkatkan kesadaran dalam pembayaran pajak. Sebaliknya, jika pemungutan pajak rumit, orang akan semakin enggan membayar pajak.

4. Hukum Pajak

Hukum pajak merupakan merupakan landasan kerja bagi pemerintahan mempunyai peranan yang sangat penting, sebab inti hakikat hukum administrasi negara menurut Sjachran Basah adalah dimungkinkan administrasi negara (pemerintah) untuk menjalankan fungsinya dan melindungi warga (termasuk wajib pajak) terhadap sikap tindak administrasi negara (dalam arti mengatur kehidupan warganya dalam mengeluarkan ketetapan-ketetapan yang menimbulkan akibat hukum bagi objek yang diaturnya) serta melindungi pemerintah itu sendiri (Syofrin Syofyan).

Pengertian hukum pajak menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:

Menurut Rochmat Soemitro pengertian hukum pajak adalah ”suatu kumpulan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara pemerintah sebagai pemungut pajak dan rakyat sebagai pembayar pajak”.

Menurut R. Santoso Brotodihardjo pengertian hukum pajak adalah ”keseluruhan dari peraturan-peraturan yang meliputi wewenang pemerintah untuk menyerahkan kembali kepada masyarakat dengan memalui kas negara”.

Undang-undang pajak adalah produk hukum dan oleh karena itu harus tunduk pada norma-norma hukum baik mengenai pembuatannya, pelaksanaannya,

(7)

maupun mengenai materinya. Hukum selalu bertujuan memberi keadilan dan disamping itu hukum sebagai alat digunakan untuk mengatur tata tertib /tertib hukum.

Dalam Undang-undang Dasar 1945 Pasal 23 Ayat (2) ditetapkan bahwa:

”Segala pajak untuk keperluan negara berdasarkan undang-undang”.

Hukum pajak dibedakan menjadi hukum pajak material (material tax law) dan hukum pajak formal (formal tax law). Undang-undang pajak mengandung ketentuan-ketentuan hukum formal dan ketentuan-ketentuan hukum material.

Menurut Mardiasmo, definisi hukum pajak material dan hukum pajak formal adalah sebagai berikut:

1. Hukum pajak materiil, memuat norma-norma yang menerangkan keadaan, perbuatan, peristiwa hukum yang dikenai pajak (objek pajak), siapa yang dikenakan pajak (subjek pajak), berapa besar pajak yang dikenakan (tarif pajak), segala sesuatu tentang timbul dan hapusnya utang pajak, dan hubungan antara pemerintah dan Wajib Pajak.

2. Hukum pajak formil, memuat bentuk/tata cara untuk mewujudkan hukum materiil menjadi kenyataan (cara melaksanakan hukum pajak materiil).

Hukum ini memuat antara lain:

1. Tata cara penyelengaraan (prosedur) penetapan suatu utang pajak.

2. Hak-hak fiskus untuk mengadakan pengawasan terhadap para Wajib Pajak mengenai keadaan, perbuatan dan peristiwa yang menimbulkan utang pajak.

(8)

3. Kewjiban Wajib Pajak misalnya menyelengarakan pembukuan/pencatatan, dan hak-hak Wajib Pajak misalnya mengajukan keberatan dan banding.

5. Tata Cara Pemungutan Pajak

Menurut Siti Resmi (2011), Pemungutan pajak dapat dilakukan berdasarkan 3 stelsel yaitu:

1. Stelsel nyata (riil stelsel), pengenaan pajak didasarkan pada objek (penghasilan yang nyata), sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak, yakni setelah penghasilan yang sesungguhnya diketahui.

2. Stelsel anggapan (fictieve stelsel), pemungutan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur oleh undang-undang. Misalnya, penghasilan suatu tahun dianggap sama dengan tahun sebelumnya, sehingga pada awal tahun pajak sudah dapat diterapkan besarnya pajak yang terutang untuk tahun pajak berjalan.

3. Stelsel campuran, stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan stelsel anggapan. Pada awal tahun, besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan, kemudian pada akhir tahun besarnya pajak disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya.

6. Sistem Pemungutan Pajak

Menurut Mardiasmo (2009), Sistem pemungutan pajak dapat dibagi menjadi:

1. Offisial Assesment system yakni sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pemungut pajak (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang harus dibayar (pajak yang terutang) oleh seseorang.

(9)

2. Self Assesment system yakni suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang, kepercayaan, tanggung jawab kepada Wajib Pajak untuk menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar.

3. Witholding System yakni suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga untuk memotong atau memungut besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.

B. Wajib Pajak

Wajib Pajak (WP) adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan, termasuk pemungut pajak atau pemotong pajak tertentu (Suandy, 2004). Wajib pajak dapat dibedakan atas dua, yaitu:

1. Wajib Pajak Orang Pribadi adalah orang pribadi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan.

2. Wajib Pajak Badan adalah sekumpulan orang atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan lainnya, BUMN atau BUMD dengan nama dan dalam bentuk apapun, Firma, Kongsi, Koperasi, Dana Pensiun, Persekutuan, Perkumpulan, Yayasan, Organisasi Massa, Organisasi Politik atau Organisasi yang sejenis, Lembaga, Bentuk Usaha Tetap dan Bentuk Usaha lainnya.

(10)

Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 235/KMK./03/2003, Wajib Pajak dapat ditetapkan sebagai WP Patuh yang dapat diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak apabila memenuhi semua syarat sebagai berikut:

1. Tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan dalam 2 (dua) tahun terakhir;

2. Dalam tahun terakhir penyampaian SPT Masa yang terlambat tidak lebih dari 3 (tiga) masa pajak untuk setiap jenis pajak dan tidak berturut-turut;

3. SPT Masa yang terlambat itu disampaikan tidak lewat dari batas waktu penyampaian SPT Masa masa pajak berikutnya;

4. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak

5. Tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir; dan

6. Dalam hal laporan keuangan diaudit oleh akuntan publik atau Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan harus dengan pendapat wajar tanpa pengecualian sepanjang pengecualian tersebut tidak mempengaruhi laba rugi fiskal.

C. Pajak Penghasilan

1. Definisi Pajak Penghasilan

Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Dengan kata lain, Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan terhadap orang pribadi

(11)

atau perseorangan dan badan yang berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya selama 1 (satu) tahun pajak. Undang-undang PPh mengatur pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan.

Undang-undang PPh mengatur subjek pajak, objek pajak serta cara menghitung dan melunasi pajak terutang. Undang-undang PPh juga memberikan fasilitas kemudahan dan keringanan bagi Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan.

2. Subjek Pajak Penghasilan

Subyek pajak adalah pihak yang mempunyai kewajiban-kewajiban subyektif, atau terhadap siapa saja akan ditagih. Sesuai dengan Undang-undang No. 38 tahun 2008 tentang pajak penghasilan, yang termasuk subjek pajak penghasilan adalah:

1. a. orang pribadi atau perseorangan;

b.warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak

2. Badan

3. Bentuk usaha tetap (BUT) Subyek pajak PPh meliputi:

1. Subyek Pajak Dalam Negeri

Subyek dalam negeri dapat berbentuk orang pribadi, warisan yang belum terbagi, badan, dan BUT. Subyek pajak dalam negeri memiliki ciri-ciri seperti berikut:

a. Orang pribadi atau perseorangan

(12)

Orang pribadi sebagai subjek pajak dapat bertempat tinggal atau berada di Indonesia ataupun di luar Indonesia. Orang Pribadi akan menjadi subyek pajak dalam negeri apabila memenuhi kententuan-ketentuan berikut ini:

1. Bertempat tinggal di Indonesia

2. Berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam kurun waktu 12 bulan 3. Mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia. Ketentuan tinggal

lebih dari 183 hari tersebut tidaklah harus berturut-turut dan jangka waktu 12 bulan itu bukanlah satu tahun pajak, tetapi dihitung dari bulan sejak berada di Indonesia (domicile principle).

b. Warisan belum terbagi

Warisan belum terbagi dianggap sebagai subyek pengganti, yaitu menggantikan pihak yang berhak atas warisan tersebut. Warisan belum terbagi mulai menjadi subyek pajak sejak saat meninggalnya pewaris.

c. Badan

Badan adalah sekumpulan orang atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha.

d. Bentuk Usaha Tetap

Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan untuk menjalankan kegiatan usaha secara teratur di Indonesia, oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 6 bulan,

(13)

dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia.

2. Subyek Pajak Luar Negeri

Subyek pajak luar negeri meliputi subyek pajak yang bertempat tinggal, bertempat kedudukan, yang didirikan di luar Indonesia yang menerima atau memperoleh penghasilan di Indonesia. Subyek pajak luar negeri memiliki ciri- ciri sebagai berikut:

a. Orang pribadi

Orang pribadi tergolong sebagai subyek pajak luar negeri bila memenuhi beberapa kriteria berikut ini:

1. Tidak bertempat tinggal di Indonesia

2. Berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan

3. Menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.

b. Badan

Suatu badan di luar negeri dapat menjadi subyek pajak bila badan tersebut mempunyai hubungan ekonomis (memperoleh penghasilan) dari Indonesia.

3. Objek Pajak Penghasilan

Obyek pajak adalah sasaran yang akan dikenakan pajak, dalam hal ini yang menjadi obyek pajak adalah penghasilan. Menurut UU PPh 2008, penghasilan

(14)

adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh subyek pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun. Objek Pajak PPh antara lain, yaitu:

a. Gaji, upah, komisi, bonus, atau gratifikasi, uang pensiun atau imbalan lainnya untuk pekerjaan yang dilakukan;

b. Honorarium, hadiah undian dan penghargaan;

c. Laba bruto usaha;

d. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta;

e. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah diperhitungkan sebagai biaya;

f. Bunga;

g. Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun, yang dibayarkan oleh perseroan, pembayaran dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis, pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi kepada pengurus dan pengembalian SHU koperasi kepada anggota;

h. Royalti;

i. Sewa dari harta;

j. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala; dan k. Keuntungan karena pembebasan utang.

(15)

4. Pajak Penghasilan Pasal 21

Pajak Penghasilan pasal 21 Adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan. Pemotong Pajak Penghasilan 21 adalah sebagai berikut:

1. Pemberi kerja yang terdiri dari orang pribadi dan badan.

2. Bendahara pemerintah baik Pusat maupun Daerah

3. Dana pensiun atau badan lain seperti Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) dan badan-badan lainnya;

4. Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta badan yang membayar honorarium atau pembayaran lain kepada jasa tenaga ahli, orang pribadi dengan status subjek pajak luar negeri, peserta pendidikan, pelatihan dan magang;

Penyelenggara kegiatan, termasuk badan pemerintah, organisasi yang bersifat nasional dan internasional, perkumpulan, orang pribadi serta lembaga lainnya yang menyelenggarakan kegiatan;

Penerima Penghasilan Yang Dipotong PPh Pasal 21 adalah sebagai berikut:

1. Pegawai;

2. Penerima uang pesangon, pensiun atau uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua, atau jaminan hari tua, termasuk ahli warisnya;

3. Bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan, antara lain meliputi:

(16)

a. tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas yang terdiri dari pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai dan aktuaris;

b. pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati,pemain drama, penari, pemahat, pelukis dan seniman lainnya;

c. olahragawan;

d. penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator, e. pengarang, peneliti, dan penerjemah;

f. pemberi jasa dalam segala bidang, termasuk teknik, computer dan system aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi dan sosial, serta pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan;

g. agen iklan;

h. pengawas atau pengelola proyek;

i. pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi perantara;

j. petugas penjaja barang dagangan;

k. petugas dinas luar asuransi;

l. distributor multilevel marketing atau direct selling;dan kegiatan sejenisnya.

(17)

4. Peserta kegiatan yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan keikutsertaanya dalam suatu kegiatan, antara lain meliputi :

a. peserta perlombaan dalam segala bidang, antara lain perlombaan olah raga, seni, ketangkasan, ilmu pengetahuan, teknologi dan perlombaan lainnya;

b. peserta rapat, konferensi, sidang, pertemuan, atau kunjungan kerja;

c. peserta atau anggota dalam suatu kepanitiaan sebagai penyelenggara kegiatan tertentu;

d. peserta pendidikan, pelatihan, dan magang;

e. peserta kegiatan lainnya.

5.Pajak Penghasilan Pasal 25

Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 adalah angsuran atau cicilan PPh yang harus dibayar oleh Wajib Pajak (WP) pada setiap bulan (masa pajak). Jika WP tidak melakukan pembayaran atau penyetoran PPh Pasal 25 untuk suatu bulan, maka WP dapat dikenai sanksi perpajakan sesuai dengan ketentuan dan peraturan perpajakan yang berlaku. Ketentuan umum mengenai penghitungan besarnya angsuran PPh Pasal 25 ini diatur dalam peraturan-peraturan berikut:

1. Pasal 25 UU PPh Nomor 7 Tahun 1983 stdtd UU Nomor 36 Tahun 2008;

2. Peratuan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 255/PMK.03/2008 stdd PMK Nomor 208/PMK.03/2009 tentang Penghitungan Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan Dalam Tahun Berjalan Yang Harus Dibayar Sendiri Oleh Wajib Pajak Baru, Bank, Sewa Guna Usaha Dengan Hak Opsi, Badan Usaha Milik

(18)

Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Wajib Pajak Masuk Bursa Dan Wajib Pajak Lainnya Yang Berdasarkan Ketentuan Diharuskan Membuat Laporan Keuangan Berkala Termasuk Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu;

3. Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-22/PJ/2008 tentang Tata Cara Pembayaran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 25; dan

4. Peraturan Dirjen Pajak Nomor 32/PJ/2010 tentang Pelaksanaan Pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 25 Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu.

6. Tarif Pajak Penghasilan

Sejak diberlakukan UU PPh 2008 dengan sistem self-assessment, pemerintah telah melakukan perubahan tarif pajak sebanyak empat kali. Bagi wajib pajak dalam negeri dan BUT, penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh pada suatu tahun pajak dapat dikurangi dengan biaya-biaya sebagaimana diatur pasal 6 UU PPh 2008, sehingga akan diperoleh penghasilan neto. Menurut UU PPh 2008, tarif pajak yang diterapkan atas penghasilan kena pajak adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1

Tarif Pajak Penghasilan Orang Pribadi

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak Sampai dengan Rp 50.000.000,-

di atas Rp 50.000.000,- sampai dengan Rp 250.000.000,- di atas Rp 250.000.000,- sampai dengan Rp 500.000.000,- diatas Rp 500.000.000,-

5%

15%

25%

30%

Sumber: www.pajak.go.id

(19)

7. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)

PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) adalah penghasilan yang menjadi batasan tidak kena pajak bagi Wajib Pajak Orang Pribadi, dengan kata lain apabila penghasilan neto Wajib Pajak Orang Pribadi jumlahnya dibawah PTKP tidak akan terkena Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25/29 dan apabila berstatus sebagai pegawai atau penerima penghasilan sebagai objek PPh Pasal 21, maka penghasilan tersebut tidak akan dilakukan pemotongan PPh Pasal 21. Besarnya penghasilan tidak kena pajak (PTKP) untuk tahun pajak 2013 sebagai berikut:

Tabel 2.2

Penghasilan Tidak Kena Pajak Mulai Tahun 2013

No Keterangan Setahun

1. Diri Wajib Pajak Orang Pribadi Rp 24.300.000,- 2. Tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin Rp 2.025.000,- 3. Tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya

digabung dengan penghasilan suami

Rp 24.300.000,-

4. Tambahan untuk setiap anggota keturunan sedarah semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang ditanggung sepenuhnya, maksimal 3 orang untuk setiap keluarga.

Rp 2.025.000,-

Sumber: www.pajak.go.id

D. Tingkat Pemahaman Wajib Pajak

Pemahaman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, paham berarti (a) mengerti benar(akan), tahu benar (akan), (b) pandai benar dan mengerti benar

(20)

(terhadap sesuatu hal). Sedangkan pemahaman diartikan sebagai proses, perbuatan atau cara memahami. Jadi pemahaman merupakan suatu proses dari berjalannya pengetahuan seseorang.

Masalah tingkat pemahaman perpajakan dari wajib pajak perlu untuk dibahas karena pengetahuan perpajakan adalah salah satu faktor potensial bagi pemerintahan untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajibannya.

Tingkat pemahaman wajib pajak menurut Muslim (2007:11) adalah sebagai berikut:

Semakin tinggi tingkat pengetahuan dan pemahaman wajib pajak terhadap peraturan perpajakan, maka semakin kecil kemungkinan wajib pajak untuk melanggar peraturan tersebut sehingga meningkatkan tingkat kepatuhan wajib pajak.

Tingkat pemahaman wajib pajak atas perpajakan dapat diukur berdasarkan

“pemahaman wajib pajak pada kewajiban menghitung, membayar dan melaporkan pajak terutangnya” (Lestari, 2010).

E. Kepatuhan Wajib Pajak

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1995: 1013), istilah kepatuhan berarti “tunduk atau patuh pada ajaran atau aturan”. Dalam perpajakan, kepatuhan perpajakan merupakan ketaatan, tunduk, dan patuh serta melaksanakan ketentuan perpajakan. Jadi, wajib pajak patuh adalah wajib pajak yang taat dan memenuhi serta melaksanakan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

(21)

Kepatuhan wajib pajak menurut Norman D. Nowak (Moh. Zain:2004) adalah sebagai berikut:

Kepatuhan wajib pajak adalah suatu iklim kepatuhan dan kesadaran pemenuhan kewajiban perpajakan, tercermin dalam situasi dimana wajib pajak paham atau berusaha untuk memahami semua ketentuan perundang- undangan perpajakan, mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas, menghitung pajak yang terhitung dengan benar, dan membayar pajak yang terutang tepat pada waktunya.

Menurut Safri Nurmantu kepatuhan perpajakan dapat didefinisikan sebagai

”suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya”.

Ada dua macam kepatuhan, yaitu kepatuhan formal dan kepatuhan material.

1. Kepatuhan formal adalah suatu keadaan di mana wajib pajak memenuhi kewajiban secara formal sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Perpajakan.

2. Kepatuhan material adalah suatu keadaan di mana wajib pajak secara subtantif atau hakikatnya memenuhi semua ketentuan material perpajakan, yakni sesuai isi dan jiwa Undang-Undang Perpajakan.

Menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 544/KMK.04/2000, bahwa kriteria kepatuhan wajib pajak adalah:

1. tepat waktu dalam menyampaikan SPT untuk semua jenis pajak dalam 2 tahun terakhir.

2. tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali telah memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak.

(22)

3. tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dalam jangka waktu 10 tahun terakhir.

4. dalam 2 tahun terakhir menyelengarakan pembukuan dan dalam hal terhadap wajib pajak pernah dilakukan pemeriksaan, koreksi pada pemeriksaan yang terakhir untuk masing-masing jenis pajak yang terutang paling banyak 5%.

5. wajib pajak yang laporan keuangannya untuk 2 tahun terakhir diaudit oleh akuntan publik dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, atau pendapat dengan pengecualian sepanjang tidak memengaruhi laba rugi fiskal.

F. Surat Pemberitahuan (SPT)

1. Definisi Surat Pemberitahuan (SPT)

Surat pemberitahuan (SPT) merupakan dokumen yang menjadi alat kerja sama antara wajib pajak dan administrasi perpajakan, yang memuat data-data yang diperlukan untuk menetapkan secara tepat jumlah pajak yang terutang.

Pengertian SPT dalam Pasal 1 butir 10 UU KUP dijelaskan bahwa, “Surat pemberitahuan adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan pembayaran pajak yang terutang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.”

2. Fungsi Surat Pemberitahuan (SPT)

Fungsi surat pemberitahuan (SPT) bagi wajib pajak adalah:

a. Memberikan data dan angka yang relevan dengan penghitungan kena pajak.

b. Menentukan besarnya pajak yang harus dibayar.

(23)

c. Melaporkan pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan/atau melalui pemotongan, pemungutan pihak lain dalam satu tahun pajak, atau bagian tahun pajak (wajib pajak penghasilan).

d. Melaporkan pembayaran dari kegiatan pemotongan atau pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain (wajib pajak penghasilan).

e. Melaporkan pembayaran pajak yang dipungut dalam hal ini adalah pajak pertambahan nilai dan pajak atas penjualan barang mewah (PPN dan PPnBM), bagi pengusaha kena pajak

3. Jenis Surat Pemberitahuan (SPT)

Jenis surat pemberitahuan (SPT) ada dua macam, yaitu:

a. SPT masa adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak yang terutang dalam masa pajak.

b. SPT tahunan adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan pembayaran terutang dalam satu tahun pajak.

4. Batas Waktu Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT)

Penyampaian surat pemberitahuna (SPT) diatur jangka waktunya untuk:

a. SPT masa selambat-lambatnya 20 hari setelah akhir masa pajak b. SPT tahunan selambat-lambatnya 3 bulan setelah akhir tahun 5. Sanksi Administrasi Tidak Menyampaikan SPT

Surat Pemberitahuan (SPT) yang tidak disampaikan atau disampaikan tidak sesuai dengan batasan waktu yang ditentukan, dikenakan sanksi administrasi berupa denda (Undang-Undang No. 16 Tahun 2000 tentang KUP) :

a. Rp 50.000,00 untuk SPT Masa;

(24)

b. Rp 100.000,00 untuk SPT Tahunan.

G. Penelitian Terdahulu

Dian Anggraeni dalam penelitiannya yang berjudul "Pengaruh Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Terhadap Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan" tahun 2011. Menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kepatuhan wajib pajak orang pribadi dengan penyampaian SPT Tahunan.

Dan kepatuhan wajib pajak orang pribadi memiliki pengaruh sebesar 28,7%

terhadap penyampaian SPT Tahunan dan sisanya sebesar 71,3% dipengaruhi oleh faktor lain. Dan koefisien regresi berpengaruh positif sebesar 0.683, hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kepatuhan wajib pajak orang pribadi maka semakin tinggi juga wajib pajak dalam penyampaian SPT Tahunan.

Farid Syahril (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Tingkat Pemahaman Wajib Pajak dan Kualitas Pelayanan Fiskus terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak PPh Orang Pribadi”. Menyimpulkan bahwa tingkat pemahaman wajib pajak berpengaruh signifikan positif terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak.

Rustiyaningsih (2011) menguji tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak. Penelitian ini membuktikan bahwa pemahaman terhadap self assessment system, kualitas pelayanan, tingkat pendidikan, tingkat penghasilan, sanksi perpajakan berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak.

(25)

H. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Tingkat Pemahaman Wajib Pajak

(x)

Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak PPh

Orang Pribadi (y)

Figur

Memperbarui...

Related subjects :