• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelayanan transportasi publik: studi kasus prrogam bus sekolah gratis menuju Kediri the Servce City.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pelayanan transportasi publik: studi kasus prrogam bus sekolah gratis menuju Kediri the Servce City."

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

PELAYANAN TRANSPORTASI PUBLIK

(Studi Kasus Program Bus Sekolah Gratis Menuju Kediri

The Service City

)

SKRIPSI

Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Guna Memperoleh Gelar

Sarjana Strata Satu (S-1) dalam Ilmu Ushuludin dan Filsafat

Oleh :

DESI ERNAWATI NIM : E34213117

JURUSAN FILSAFAT POLITIK ISLAM

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Judul : Pelayanan Transportasi Publik (Studi Kasus progam Bus Sekolah

Gratis Menuju Kediri The Servis City) Kota Kediri berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi seluruh masyarakat. Pemerintahan yang baik merupakan pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakatnya. Branding Harmoni Kediri The Service City tujuan untuk mewujudkan Kediri sebagai kota jasa dan pelayanan. Progam Bus Rapid Transit atau bus sekolah Gratis menjadi salah satu bentuk untuk

mewujudkan dari tercapainya branding Harmoni Kediri The Servis City. Progam

berbasis pemberian pelayanan transportasi kepada pelajar. Transportasi menjadi kebutuhan mendasar dalam kehidupan masyarakat, sebagai fungsi memberikan kemudahan dan kelancaran dalam aktivitas masyarakat. Menjadi tugas pemerintah untuk menyelenggarakan pelayanan transportasi umum, termasuk memfasilitasi jasa transportasi untuk pelajar yang menjamin rasa aman dan selamat sampai tujuan.

Tujuan yang ingin dicapai dalam penyelenggaraan progam bus sekolah gratis yakni untuk meningkatkan pelayanan dan penyediaan jasa transportasi dalam menunjang aksebilitas dan mobilitas masyarakat kota Kediri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pelayanan bidang transportasi yang telah diselenggarakan oleh pemerintah kota Kediri kepada masyarakat terutama pelajar di kota Kediri. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif.

(7)

1. Pendekatan dan jenis Penelitian ...12

2. Penentuan Lokasi Penelitian ...13

3. Pemilihan Informan ...13

(8)

x

5. Teknik Pengumpulan Data ...16

6. Teknik Analisis Data...17

7. Pengujian Keabsahan Data ...18

H. Sistematika Pembahasan ...19

BAB II PERSPEKTIF TEORI ...20

A. Pelayanan Publik ...21

1. Definisi Pelayanan Publik ...21

2. Pelayanan Publik di Tingkat Pusat dan Daerah ...23

3. Regulasi Pelayanan Publik dan Implementasi ...28

B. Strategi Pengolahan dan Pengaduan dalam Pelayanan ...29

C. City Branding ...36

1. Harmony Kediri ...38

2. Kediri The Service City ...39

D. Definisi Operasional……….40

BAB III DESKRIPSI DATA ...42

A. Gambaran Umum Kota Kediri ...42

1. Kondisi Geografis Daerah ...47

2. Demografi Kota Kediri ...44

B. Program Bus Sekolah Gratis ...50

1. Penyelenggaraan ...50

2. Dasar Hukum ...54

3. Biaya Operasional ...55

(9)

xi

C. Profil Dinas Perhubungan Kota Kediri...58

1. Visi dan Misi ...58

2. Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi ...59

3. Susunan Organisasi ...59

BAB IV ANALISIS DATA ...61

A. Latar Belakang Program Bus Sekolah Gratis ...61

B. Implementasi Program Bus Sekolah Gratis Sebagai Optimalisasi Pelayanan Transportasi Publik Menuju Kediri The Service City ...69

1. Bentuk Pelayanan Transportasi Publik Bus Sekolah Gratis di Kota Kediri ...69

2. Hambatan dalam Implementasi Program Bus Sekolah Gratis ...74

3. Program Pengaduan Layanan Transportasi Publik...76

4. Analisis Pelayanan Program Bus Gratis dengan Teori Pengukuran Kerja Zheitamal ...77

BAB V PENUTUP ...80

A. Kesimpulan ...80

B. Saran ...81

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

1. Surat Keputusan Walikota Kediri

2. Panduan Wawancara

3. Deskripsi Wawancara

4. Dokumentasi

(10)

xii

6. Surat penelitian

(11)

xiii

DAFTAR

TABEL

Tabel 3.1 Komposisi Penduduk Menurut kelompok Usia dan Jenis Kelamin Kota Kediri Tahun

2014 ………...44

Tabel 3.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan ………...…47

Tabel 3.3 Jumlah Sekolah dan Siswa di Kota Kediri ………48

Tabel 3.4 Rincian Dana Operasional Progam Biaya Bus Sekolah Gratis …………..………...…55

Tabel 4.1 Data Pelaku Kecelakaan di Kota Kediri berdasarkan Profesi Tahun 2008-2009 …….66

Tabel 4.2 Data Korban Kecelakaan di Kota Kediri Berdasarkan Profesi Tahun 2008-2009 ...…67

(12)

xiv

DAFTAR

GAMBAR

Gambar 2.1 Respon Organisasi Terhadap Pengaduan dan Implikasinya Terhadap Kepuasan

Pengguna Layanan ……….………...34

Gambar 2.2 Logo Brand Harmoni Kediri The Service City ……….……….41

Gambar 3.1 Peta Kota Kediri ………43

Gambar 3.2 Rute Bus Rapid Transit I ………...52

Gambar 3.3 Rute Bus Rapid Transit II ……….53

Gambar 3.4 Rute Bus Rapid Transit III ………54

Gambar 3.5 Menu Applikasi TransInfo Kota Kediri ………57

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada era modern ini transportasi sudah menjadi kebutuhan khusus yang harus

dimiliki oleh setiap orang atau keluarga. Menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat

perkotaan. Fungsi trasnportasi dalam aktifitas di perkotaan memiliki peranan penting yang

berpengaruh di dalam segala aspek kehidupan. Selain kendaraan pribadi juga diperlukan

sebuah transportasi publik sebagai alat penunjang transportasi kegiatan sehari-hari untuk

memenuhi kebutuhan.

Termasuk salah satunya adalah transportasi kendaraan sepeda motor. Transportasi

kendaraan sepeda motor ini telah menjadi andalan bagi masyarakat di Indonesia baik untuk

tujuan berpergian jarak jauh maupun jarak dekat. Produktivitas permintaan pembelian

transportasi sepeda motor kian hari kian bertambah. Hal ini menjadi salah satu bukti

bahwa sepeda motor telah menjadi transportasi andalan bagi masyarakat. Terlebih

pembelian sepeda motor tidak menjadi beban untuk kalangan menengah kebawah.

Sebuah kota dikatakan modern apabila telah tersedianya sarana transportasi yang

memadai. Fungsi, peranan serta masalah yang ditimbulkan oleh sarana transportasi ini

semakin ruwet seiring dengan kemajuan teknologi dan pertambahan penduduk. Peranan

transportasi semakin penting sejalan dengan tingkat kemajuan ekonomi dan kemakmuran

negara. Hal ikhwal yang bersangkut paut dengan transportasi menyinggung langsung

kebutuhan pribadi warga kota dan berkaitan langsung dengan kehidupan ekonomi kota.

Transportasi ternyata telah menjadi ciri kemajuan kebudayaan dan sekaligus menjadi

beban kebudayaan itu sendiri.1 Ketika kota-kota masih kecil dan belum berkembang

(14)

seperti sekarang, sarana transportasi masih merupakan barang mahal dan belum menjadi

kebutuhan umum.

Revolusi industri dengan segala manifestasinya ternyata telah mampu mengubah

wajah kota, terutama sistem transportasinya. Penemuan kereta api oleh Trevitchick tahun

1804, penemuan automobil oleh Gottfried Daimler tahun 1887, penemuan kapal terbang

oleh Wreight bersaudara tahun 1903) dan alat-alat transportasi lainnya telah mendorong

lajunya revolusi industri dan sekaligus mendorong revolusi transportasi.2 Termasuk

transportasi kendaaan sepeda motor. Salah satu yang menjadi permasalahan adalah ketika

transportasi sepeda motor dijadikan sebagai salah satu sarana untuk pergi ke sekolah yang

dikemudikan oleh para pelajar sendiri. Sedangkan para pelajar belum berhak untuk

mengendarai sepeda motor sendiri, mengingat terdapat salah satu aturan bagi pengendara

sepeda bermotor yaitu mengenai kepemilikan SIM (Surat Izin Mengemudi).

Selain dikarenakan belum memiliki SIM, sangat dikhawatirkan apabila para pelajar

ugal-ugalan dalam berkendara yang kemudian berdampak pada bahaya kecelakaan lalu

lintas dan hilangnya nyawa. Karena menurut psikologi jiwa seorang pelajar yang masih

remaja adalah individu yang unik dengan proses pekembangan yang harus dilaluinya baik

secara fisik maupun psikologis. Masa remaja merupakan masa transisi dan merupakan

masa yang sulit bagi remaja sehingga kemungkinan akan terjadi perubahan perilaku terkait

dengan perkembangan yang terjadi pada remaja tersebut.3 Atau bisa disimpulkan bahwa

pelajar masih dalam kondisi emosi yang labil. Meskipun tidak semua, selain itu banyaknya

kendaraan bermotor yang dikendarai oleh setiap pelajar tentunya juga menambah volume

kendaraan lalulintas sehingga menyebkan kendala kemacetan arus lalulintas.

2Ibid, 86.

3Nasriati Ririn, Kesehatan Jiwa Remaja, (Ponorogo: Fakultas Ilmu Kesehatan Univ Muhammdiyah,

(15)

Akhir-akhir ini banyak media membahas tentang larangan membawa kendaraan

pribadi, baik motor maupun mobil oleh kalangan pelajar. Pada awalnya larangan yang

dikeluarkan oleh Kasatlalulintas (Kesatuan Lalu Lintas) melalui surat edaran Nomor B/

789/ VIII/ 2016. Selanjutnya telah dikirim ke seluruh dinas pendidikan dan sekolah di

daerah masing-masing. Dengan alasan banyaknya kasus pelanggaran dalam berkendara di

kalangan pelajar. Selain itu pelajar, belum berhak mendapatkan SIM. Salah satu bentuk

tindakan juga dilakukan oleh Polrestabes Surabaya yang telah disampaikan melalui media

yakni sebagai berikut:

“Program SOS (Save Our Student) yang digaungkan oleh Satuan Lalu Lintas

Polrestabes Surabaya dilaksanakan bertujuan untuk mengurangi adanya kecelakaan lalu lintas yang kerap melibatkan pengendara roda dua terutama dari kalangan pelajar. Penindakan berupa teguran maupun tilang diberikan anggota satuan lalu lintas Polrestabes Surabaya kepada para pelajar yang melanggar aturan lalu lintas.”4

Ramainya pembahasan media mengenai larangan membawa kendaraan pribadi bagi

pelajar, ditanggapi oleh Pemkot (Pemerintah Kota) Kediri. Pemkot memberikan solusi

atas surat edaran yang telah dikeluarkan oleh Kasatlantas dengan membuat program

transportasi bus sekolah gratis. Program ini dikeluarkan sebagai inovasi pelayanan

transportasi bagi para pelajar yang ada di kota Kediri. Hal itu karena mengingat pelajar

merupakan asset bangsa yang harus dilindungi. Tentu tidak hanya kota Kediri, di kota lain

yakni Blitar juga turut memberikan solusi atas surat edaran mengenai larangan membawa

kendaraan pribadi dengan program memberikan sepeda ontel gratis bagi para pelajar.

Pada 7 September 2016 program bus sekolah gratis resmi di launching oleh Wali

Kota Kediri Abdullah Abu Bakar.5 Dengan adanya program bus sekolah gratis yang

diharapkan akan meminimalisir pelanggaran lalu lintas dan menekan angka kecelakaan

4Progam Save Our Student, Minimalkan Laka Lantas Pelajar. (DelikNews.com)

5Andhika Dwi, Wali Kota Kediri Resmikan Tiga Bus Bagi Pelajar dan Mahasiswa Gratis,

(16)

para pelajar. Program bus sekolah gratis sebagai pelayanan publik yang merupakan bagian

dari tugas Negara yang berkewajiban untuk memberikan public service (pelayanan

masyarakat). Pembiayaan belanja program tersebut diambilkan dari dana APBD

(Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). Maka, sesuai dengan fungsi APBD yaitu

untuk mengatur alokasi dana dari seluruh pendapatan Negara kepada pos-pos belanja

untuk pengadaan barang-barang dan jasa-jasa publik, serta pembiayaan pembangunan

lainnya.

Selain dengan dikeluarkannya program Bus sekolah gratis untuk menunjang

transportasi bagi pelajar kota Kediri, tujuan lain dikeluarkanya program ini juga

merupakan wujud dari tujuan menjadikan Harmoni Kediri The Service City. Brand ini

diusung oleh pemerintah kota Kediri berdasarkan suasana gotong royong yang masih

sangat terasa, maka dari situlah merupakan salah satu contoh harmonisasi di Kota Kediri.

Brand Harmonisasi Kediri The Service City, yang didukung dengan beberapa program

baru seperti semarakkan kota, segarkan kota, layanan publik 360 derajat, iklim investasi

dan rencana tata ruang wilayah. Beberapa program tersebut memiliki manfaat untuk

pembangunan kota menjadi lebih baik. Termasuk dengan program Bus sekolah Gratis bagi

pelajar Kota Kediri dalam kategori rencana tata ruang wilayah dan layanan publik 360

derajat.

Peningkatan kualitas pelayanan publik saat ini sedang dilakukan oleh pemerintah

kota Kediri. Sekaligus memperkenalkan brand baru yang diusung kota Kediri The service

city, meninggkatkan standar mutu pelayanan kepada masyarakat. Untuk menghilangkan

penilaian buruk masyarakat terhadap pelayanan publik di kota Kediri. Mengingat pada

orde baru sistem pemerintah Indonesia menerapkan sistem sentralisasi di segala bidang.

Tipe ini kental sekali dengan sistem politik yang mengacu ke pemerintah diatasnya

(17)

bertindak hanya memilah dan memilih yang membawa keuntungan bagi mereka saja.

Pemerintah sebagai pelayan masyarakat kurang peduli dengan kepentingan masyarakat,

hal ini kemudian berakibat terhadap ketidak berhasilan pemerintah pusat dalam

memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.6 Akibatnya tingkat

kepuasan masyarakat terhadap pelayanan pemerintah merosot tajam hingga akhirnya

memicu munculnya gerakan reformasi yang digalang oleh kelompok-kelompok reformasi

muda yang beraliran politik demokratis yang terdidik sampai puncaknya pada tahun 1998.

Gerakan reformasi yang menuntut misi untuk memberikan kebebasan kepada

pemerintah daerah yang sebesar-besaranya dalam rangka mengurus dan

menyelenggarakan urusan pemerintahan atau disebut sebagai otonomi daerah. Otonomi

daerah bertujuan untuk menciptakan suatu sistem pembagian kekuasaan antar daerah yang

mapan dimana pemerintah pusat dapat meningkatkan kapasitas, memperoleh dukungan

masyarakat, dan mengawasi pembagian sumber daya secara adil.7 Pemerintah telah diberi

kesempatan dan keleluasaan terhadap inovasi dan kreatifitas dan pembangunan local

wisdom daerah masing-masing. Termasuk bagian mendalam dari otonomi daerah adalah

pelayanan publik (public service). Pelayanan publik merupakan aktifitas yang dilakukan

pemerintah untuk memenuhi permintaan masyarakat dalam bidang kehidupan tertentu

yang bersifat kolektif untuk kepentingan umum.

Amanat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah serta

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah

Pusat, telah memberikan kekuasaan baru yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi

daerah untuk mengelola pemerintahannya sendiri (kecuali di bidang pertahanan,

keamanan, peradilan, Fiskal, urusan Luar Negeri dan Agama yang memang menjadi

6Abdul Chalik, Pelayanan Publik Tingkat Desa, Perubahan dan Pengalaman Desa-desa di Kabupaten

Gresik, (Yogyakarta: Interpena, 2015), 1

(18)

wewenang pemerintah pusat. Undang-undang tersebut memang kemudain direvisi

menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang nomor 36 tahun

2004, yang mengembalikan beberapa hak pemerintah provinsi yang hamper tercukur habis

oleh Undang-Undang sebelumnya. Namun tokoh Undang-Undang revisi tersebut tetap

memberikan kebebasan yang cukup luas bagi PemProv dan Pemkab/ Pemkot untuk

menafsirkan ke arah mana pembangunan di wilayahnya akan di bawa.8

Adanya kewenangan Otonomi Daerah melalui Undang-Undang Nomor 32 tahun

2004 dan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2004 otomatis terjadi perubahan

pemerintahan, dari yang bertipe sentralistik dan berstruktur ketat menjadi tipe

desentralistik partipatif yang berstruktur longgar dan fleksibel. Perubahan ini dengan

sendirinya menghendaki adanya perubahan dalam tatanan nilai dan tata perilaku

pemerintah/ birokrasi.

Dengan adanya program bus sekolah gratis yang dikelola oleh pihak

Dishubkominfo (Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika), merupakan

perwujudan dari Kediri The Service City. Menjadi salah satu program yang bersinggungan

langsung dengan upaya untuk menciptakan pelayanan yang baik dan maksimal.

Optimalisasi pelayanan publik harus sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 tahun

2009 yaitu rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai

dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas

barang, jasa atau pelayanan administrasi yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan

publik.

Pemkot Kediri sebagai pemberi pelayanan publik kepada masyarakat berusaha

mengoptimalkan pelanyanannya dengan berbagai inovasi-inovasi dan kreativitas. Salah

satunya adalah program transportasi bus sekolah gratis ini. Program yang memfokuskan

(19)

untuk memberikan pelayanan transportasi gratis bagi pelajar kota Kediri. Sehingga para

pelajar kota Kediri dapat menikmati pelayanan transportasi gratis untuk menuju ke sekolah

dengan keadaan senang, nyaman dan selamat. Mengingat pelajar sebagai asset bangsa

yang harus dipersiapkan untuk mewujudkan cita-cita bangsa maka sudah selayaknya jika

pelajar mendapatkan fasilitas pelayanan transportasi publik yang baik.

Berdasarkan dari kondisi yang telah diuraikan, peneliti mengungkapkan bahwa

pelayanan transportasi publik berfokus pada pelayanan transportasi publik yang diberikan

kepada pelajar kota Kediri. Peneliti ingin mengetahui bagaimana pelayanan yang

diberikan kepada pelajar dan apakah pelayanan transportasi yang diberikan sudah

memenuhi standart pelayanan yang telah ditentukan. Oleh karena itu peneliti mengangkat

tema penelitian pelayanan transportasi publik program bus sekolah gratis menuju Kediri

The Service City. B. Batasan masalah

Berdasarkan kondisi yang telah diuraikan pada latar belakang masalah, maka

batasan penelitian yang dibahas dalam penulisan ini adalah Pelayanan Transportasi Publik

melalui Program Bus Sekolah Gratis di Kota Kediri.

C. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalah disusun

sebagai berikut :

1. Faktor-faktor apa yang melatarbelakangi kebijakan program transportasi bus sekolah

gratis di Kota Kediri?

2. Bagaimana implementasi program bus sekolah gratis sebagai pelayanan transportasi

publik menuju Kediri The Service City?

D. Tujuan Penelitian

(20)

1. Mendiskripiskan faktor-faktor yang melatarbelakangi kebijakan program transportasi

bus sekolah gratis di Kota Kediri.

2. Mendiskripsikan implementasi program bus sekolah gratis sebagai pelayanan

transportasi publik menuju Kediri The Service City?

E. Manfaat penelitian

1. Manfaat Teoritis

Dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya mengenai pelayanan

transportasi publik bus gratis untuk pelajar di kota Kediri. Serta mengembangan ilmiah

yang terkait suatu tujuan pemerintah kota Kediri untuk mewujudkan Kediri The

Service City.

2. Manfaat Praktis

Menjadi sumbangsih pemikiran serta contoh positif bagi pemerintahan di kota lainnya.

Sekaligus mengembangkan kualitas tatanan pemerintahan yang lebih baik.

F. Penelitian yang Relevan

Diantara penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini adalah :

1. Uswatun Fitroh, tahun 2015 melalui karya, “Efektifitas Pelayanan Angkutan Bus

Sekolah Gratis Dinas Perhubungan Komunkasi dan Informatika Kota Blitar”.9 Jurnal

ini membahas mengenai efektivitas pelayanan angkutan bus sekolah gratis oleh Dinas

Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kota Blitar dengan menggunakan

pengukuran efektifitas melalui indikator dari peraturan Menteri perhubungan Nomor

PM 29 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perhubungan Nomor

PM 98 Tahun 2013 tentang Standart Pelayanan Minimal Angkutan Orang dengan

9Uswatun Fitroh dan Fitrotun Niswah, Efektifitas Pelayanan Angkutan Bus Sekolah Gratis Oleh Dinas

(21)

kendaraan Bermotor umum dalam trayek yang meliputi keamanan, keselamatan,

Keterjangkauan, Kesetaraan dan Keteraturan.

2. Surya Shandra Setiawan dan Weni Rosdiana, tahun 2016 melalui karyanyayang

berjudul “ Evaluasi Program Bus Sekolah di Kota Surabaya”.10 Dalam penelitiannya

menghasilkan bahwa program bus sekolah Surabaya didapatkan atas penghargaan dari

Kementrian Perhubungan Republik Indonesia atas kemanagan pengahragaan Wahana

Tata Nugraha Indoensia yang diberikan kepada Dinas Perhubungan kota Surabaya,

sejumlah 4 unit. Namun setelah baru beberapa kali beroperasi program bus sekolah

gratis mendapat penolakan dari supir angkutan umum. Setelah mendapat penolakan

dari supir angkutan umum program bus sekolah gratis Surabaya berhenti sementara.

Sampai akhirnya dapat berjalan kemabali pada tahun 2008 degan landasan hukum

dalam pelaksanaannya.

3. Diah Nur Fitriana, tahun 2014 melalui karya berjudul “Inovasi Pelayanan Publik

BUMN (Studi Deskriptif tentang Inovasi Boarding Pass System dalam Meningkatkan

Kualitas Pelayanan Kereta Api PT KAI di Stasiun Gubeng Surabaya)”.11 Jurnal ini

membahas tentang inovasi pelayanan yang dilakukan PT KAI sebagai reaksi atas

pergeseran paradigm pelayanan public dari Old Publikc Servis New menjadi Publik

Administration. Pelayanan publik yang ideal yakni harus responsive terhadap berbagai

kepentingan dan nilai publik, adanya pembaharuan pelayanan dilakukan untuk

mendapatkan pelayanan KA yang lebih baik. Serta membahas inovasi terbaru yang

dikeluarkan PT KAI yakni mengenai Board Pass System.

10Surya Shandra Setiawan dan Weni Rosdiana, Evaluasi program Bus Sekolah di Kota Surabaya, Vol.

1 No. 1 (Tahun 2016)

11Diah Nur Fitriana, Inovasi Pelayanan Publik BUMN (Studi Deskripsi tentang Inovasi Boarding Pass

(22)

4. Rina Mei Mirnasari tahun 2013, melalui karya yang berjudul “Inovasi pelayanan

Publik UPTD Terminal Purabaya – Bungurasih”. 12 Jurnal ini membahas tentang

inovasi Smart Card yang berada di UPTD Terminal Purabaya-Bungurasih termasuk

Sustaining Innovation (inovasi Terusan) merupakan proses inovasi yang membawa

perubahan baru namun tetap mendasarkan pada kondisi pelayanan dan system yang

sedang berjalan.

5. Theresia Tarigan dkk tahun 2015, melalui karya yang berjudul “Pelayanan

Transportasi Publik Pekerja di Koridor Antar kota Ungaran-Bawen”. Jurnal ini

membahas tentang pelayanan transportasi publik dalam prespektif transportasi

berkelanjutan terkait dengan indikator keterjangkauan dan aksesbilitas penumpang.

Keterjangkauan yang dilihat dari komponen biaya perjalanan ongkos dan waktu

tempuh dari rumah ke tempat bekerja.

6. Haryono Eko Pujianto, tahun 2013 melalui karya yang berjudul “Upaya Optimalisasi

Kualitas Pelayanan Publik dalam Pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik Di

Kantor Kecamatan Gedangan”.13 Jurnal tersebut membahas mengenai sejauh mana

upaya optimalisasi kualitas pelayanan publik dalam pelayanan kartu tanda penduduk

elektronik di kantor kecamatan Gedangan. Elektronik KTP atau e-KTP merupakan

kartu demografi dokumen yang memuat system keamanan/kontrol yang baik dari sisi

administrasi atau teknologi informasi dengan berdasarkan database demografi

nasional. Dalam penelitiannya menunjukkan bahwa optimalisasi pelayanan

pembuatan e-KTP di Sidoarjo telah dilakukan melalui realisasi dari sosialisasi

pemerintah setempat yang pada proses pembuatan e-KTP tidak di pungut biaya.

12Rina Mei Mirnasari, Inovasi Pelayanan Publik UPTD Terminal Purabaya-Bungurasih, Vol. 1 No. 1

(Januari, 2013)

13Haryono dan Wahyu Eko Pujianto, Upaya Optimalisasi Pelayanan Publik Dalam Pelayanan Kartu

(23)

Sehingga menunjukkan bahwa sosialisasi di Kbupaten Sidoarjo berlangsung

signifikan dengan tujuan masyarakat Sidoarjo khususnya Kecamatan Gedangan dapat

melaksanakan kewajiban sebagai warga negara Indonesia.

7. Skripsi karya Sumariyanto Wansca dengan judul, “PELAYANAN PUBLIK BIDANG

KESEHATAN (Studi Kasus Kualitas Pelayanan Kesehatan bagi Penerima Jamkesmas

di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soegiri Lamongan Tahun 2012)”.14 Dalam

penelitiannya menghasilkan bahwa kualitas pelayanan publik di RSUD Dr. Soegiri

Lamongan yang tercover dalam dimensi Tangibel, Responsiveness, Reliability dan

Assurance telah menunjukkan sisi pelayanan yang baik dan memuaskan bagi pasien jamkesmas, berbagai fasilitas penunjang dalam pelayanan telah tersedia dalam jumlah

yang memadai. Hal ini sebagai bukti tanggungjawab rumah sakit yang memperoleh

sertifikat ISO iuntuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.

Dari hasil penelitian yang relevan yang ditemukan oleh penulis, dengan judul

penulis Pelayanan Transportasi Publik (Studi Kasus Program Bus Gratis Menuju

Kediri The Service City ). Pendalaman pada pelayanan transportasi publik yang

didukung oleh applikasi android sebagai langkah mewujudkan barnding suatu kota

tertentu menjadi pembeda dengan penelitian lain. Penelitian ini merupakan kelanjutan

dan pelengkap dai beberapa penelitian yang sudah dilakukan.

G. Metode penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Jenis penelitian adalah penelitian lapangan jenis diskriptif dengan analisa

kualitatif, berupa pendekatan yang bertujuan untuk mempertahankan keutuhan dari

14Sumariyanto Wansca, Pelayanan Publik Bidang Kesehatan (Studi Kasus Kualitas Pelayanan

(24)

objek penelitian dalam arti objek yang dipelajari sebagai suatu keseluruhan yang

terintegrasi. Metode penelitian kualitatif merupakan proses/ prosedur penelitian yang

bertujuan untuk mengumpulkan, mendeskripsikan dan menganalisis data deskriptif

yang berupa tulisan, ungkapan dan perilaku manusia yang diamati.15

Peneliti menggunakan metode ini karena peneliti merasa perlu adanya

pendekatan yang dapat melakukan kajian secara mendalam mengenai implementasi

program bus sekolah gratis. Hal ini berdasarsarkan metode kualitatif sebagai prosedur

penelitian yang menghasilakn data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau tulisan dari

orang-orang dan perilaku yang diamati.

Alasan peneliti menggunakan metode penulisan kualitatif dikarenakan dari sifat

masalah yang diteliti, dalam penelitian ini berupaya mengunggkap dan memahami

sesuatu dibalik fenomena yang kompleks. Penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan

gambaran tentang sejauh mana pelayanan transportasi publik bus sekolah gratis bagi

pelajar di kota Kediri

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus yakni

suatu penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam terhadap suatu

organisasi, lembaga atau fenomena tertentu. Ditinjau dari wilayahnya hanya meliputi

daerah atau subyek yang sangat sempit, sedangkan ditinjau dari sifat penelitian maka

lebih mendalam.16 Peneliti berusaha menuliskan secara deskriptif pelayanan

transportasi publik bus sekolah gratis bagi pelajar di kota Kediri.

2. Penentuan Lokasi Penelitian

Moleong dalam bukunya menjelaskan bahwa cara terbaik yang perlu ditempuh

dalam penentuan lapangan penelitian ialah dengan jalan mempertimbangkan teori

15M. Irfan Islamy, Policy Analysis : Seri Monografi Kebijakan Public, (Malang: University

Brawijaya, 2000)

(25)

subtansif. Moleong mengatakan, pergilah dan jajakilah lapangan untuk melihat apakah

terdapat kesesuaian dengan kenyataan yang berada di lapangan.17 Selain itu

keterbatasan geografis dan praktis seperti waktu, biaya, tenaga menjadi pertimbangan

dalam penentuan lokasi penelitian.

Dalam melaksanakan penelitian ini, penulis menetapkan lokasi penelitian di

Kota Kediri dengan alasan:

1. Dengan pertimbangan bahwa di Kota Kediri adanya program bus gratis bagi

para pelajar yang menarik untuk diteliti.

2. Peneliti telah mengenal kondisi Kota Kediri baik berhubungan dengan letak

geografisnya maupun birokrasinya.

3. Adapun pertimbangan yang ingin di gunakan adalah karena program bus

sekolah gratis ini merupakan suatu program baru yang telah dikeluarkan oleh

pemerintah kota Kediri sekaligus sebagai salah satu usaha perwujudan bagian

dari brand kota Kediri yakni Kediri The Servis City.

3. Pemilihan Informan

Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi

tentang situasi dan kondisi latar penelitian.18 Dalam pemilihan informan peneliti harus

melihat pada kualitas informan yang akan diteliti karena pemanfaatan informan untuk

memberikan informasi dalam hal berbicara, bertukar pikiran atau mebandingkan suatu

kejadian yang ditemukan dari subjek lainnya sangat membantu bagi peneliti.

Dalam penelitian ini penulis memilih informan menggunakan teknik purposive

sampling, dimana informan yang dipilih pertama atau key informan yakni kapala dinas

(26)

Perhubungan komunikasi dan informatika kota Kediri yang merupakan pihak dianggap

paling mengetahui dan memahami tentang permasalahan dalam penelitian ini. Selain

itu peneliti juga menggunakan teknik snowball, dimana pemilihan informan lanjutan

dalam rangka penggalian data untuk mendapatkan variasi dan kedalaman informasi

diperoleh atas dasar rujukan atau rekomendasi dari key informan. Selanjutnya

penentuan informan yakni yang mewakili penerima pelayanan transportasi publik

berupa bus sekolah gratis yang dilakukan dengan accidental sampling yakni penarikan

sampel yang dilakukan dengan cara memilih orang yang kebetulan di temui.19

4. Sumber Data dan Jenis Data

Data-data penelitian ini diperoleh dari beberapa sumber data diantaranya :

a. Data primer yang akan diperoleh melalui:

Menururt Johanes Supranto bahwa yang dimaksdu dengan data primer

ialah data yang dikumpulkan sendiri oleh perorangan/ suatu organisasi langsung

melalui objeknya, yakni data yang didapatkan peneliti dari hasil wawancara.20

Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data dengan memberikan pertanyaan

langsung secara lisan dengan informan guna memperoleh keterangan dalam

mendukung data yang terkumpul.

Informan yang dipilih sebagai sampel berdasarkan pemikiran logis

karena dipandang sebagai sumber data atau informasi mempunyai relevansi

yang erat dengan permasalahan yang diteliti. Penentuan informasi peneliti

menggunakan teknik snowball sampling (berkembang mengikuti informasi atau

data yang diperlukan). Hal ini dilakukan dengan maksud agar informasi yang

terkumpul memiliki variasi yang lengkap dengan melibatkan berbagai pihak

19Sutinah, Handout Metodologi Penelitian Sosial, (Balai Pustakan: Surabaya, 2006), 85

20Johannes Supranto, Metode Riset Aplikasinya Dalam Pemasaran, (Jakarta : Rineka Cipta, 2002),

(27)

yang dianggap memahami fenomena yang ada, dan yang dipandang mengerti

dan memahami kehidupan individu-individu sebagai anggota masyarakat lokasi

penelitian.

Maka peneliti mencoba mendapatkan hasil data dari hasil wawancara

dengan Dihubkominfo (Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika) kota

Kediri yaitu dari Kasi Manajemen Angkutan, Kabid Manajemen Lalu Lintas,

Kasi. Manajemen Keselamatan Jalan dan penerima pelayanan tranportasi publik

berupa bus sekolah gratis.

1) Data sekunder

Sukmadinata menjelaskan jika yang dimaksud dengan data sekunder adalah

data yang diperoleh dari dokumen, buku-buku dan arsip-arsip yang

berkaitan dengan topik data yang akan diteliti dengan metode penulisan

kualitatif.21 Data sekunder diperoleh melalui :

2) Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan

catatan-catatan atau dokumen yang ada dilokasi penelitian serta

sumber-sumber lain yang relevan dengan objek penelitian.

3) Studi kepustakaan, yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan

berbagai literatur buku, jurnal, majalah, laporan penelitian dan lain-lain.

5. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang valid atau memungkinkan sesuai dengan data

yang dihimpun maka teknik yang digunakan antara lain dengan menggunakan

metode-metode sebagai berikut :

a. Wawancara

(28)

Dalam metode wawancara peneliti melakukan kontak langsung dengan responden

penelitian. Pertanyaan-pertanyaan diajukan secara lisan dan jawaban dikemukakan

secara lisan pula. Dalam menentukan pihak yang diwawancarai atau informan

peneliti memilih pihak yang berkaitan dengan masalah penelitian, karena tidak

semua orang dapat dijadikan informan.

b. Partispasi

Partisipasi merupakan salah satu bentuk cara mencari data utama atau informasi

dalam metode penelitian kualitatif.22 Dimana dalam penelitian ini, peneliti

melakukan pengumpulan data melalui keterlibatan langsung dengan obyek yang

diteliti. Jika objek tersebut merupakan masyarakat atau kelompok individu, maka

peneliti harus berbaur dengan yang diteliti (immersion) sehingga peneliti dapat

mendengar, melihat dan merasakan pengalaman-pengalaman yang dialami oleh

objek yang sedang diteliti. Selain itu pada metode ini juga membutuhkan

pengenalan secara mendalam antara peneliti dengan informan sehingga dibutuh

waktu untuk mendapatkan data atau informasi.

c. Observasi

Observasi adalah metode ilmiah yang diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan

secara sistematis mengenai fenomena-fenomena yang diselidiki.

d. Dokumentasi

Pengamatan, pencatatan atau mengcopy berbagai dokumen yang memperkuat

analisis data penelitian khususnya dokumen-dokumen , bahan-bahan panduan,

arsip-arsip maupun data-data yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti

pada kabupaten Kediri.

6. Teknik Analisis Data

(29)

Peneliti menggunakan model analisis data yang dikembangkan oleh Miles dan

Hubermen yang terdiri dari tiga hal utama atau alur kegiatan yang akan dilaksnakan

dari awal hingga selesai yaitu reduksi data (data reduction), penyajian data (data

display) dan penarikan kesimpulan (conclusion).

a. Reduksi data

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada

penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data yang muncul dari

catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data berlangsung secara terus menerus selama

proyek yang berorientasi kualitatif berlangsung. Selama pengumpulan data

berlangsung, terjadilah tahapan reduksi selanjutnya (membuat ringkasan,

mengkode, menelusur tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi dan menulis

memo). Reduksi data atau proses transformasi ini berlanjut terus sesudah penelitian

lapangan sampai laporan akhir lengkap tersusun.23

b. Penyajian data

Terdapat banyak jenis penyajian data seperti diantaranya jenis matrik, grafik,

jaringan dan bagan. Semua dirancang guna menggabungkan informasi yang

tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah diraih, dengan demikian seorang

penganalisis dapat melihat apa yang sedang terjadi dan menetukan menarik

kesimpulan yang benar ataukah terus melangkah analisis yang menurut saran yang

dikiaskan oleh penyajian sebagai sesuatu yang mungkin berguna.

c. Menarik kesimpulan

Penarikan kesimpulan dalam pandangan Miles merupakan sebagian dari

konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverivikasi selama penelitian

23M. Irfan Islamy, Policy Analysis : Seri Monografi Kebijakan Public, (Malang: University

(30)

berlangsung. Verivikasi dilakukan sesingkat pemikiran kembali yang melintas

dalam pikiran penganalisis. Makna-makna yang muncul dari data harus di uji

kebenarannya, dan kecocokannya yang nantinya menjadi validitasnya.

7. Pengujian Keabsahan data

Dalam proses ini peneliti mencari data yang dapat dipercaya kebenarannya atau

yang mempunyai kebasahan tinggi. Keabsahan data adalah tolok ukur dalam melihat

derajad kepercayaan akan kebenaran penelitian. 4 macam kriteria keabsahan data

menurut Patton :

a. Derajat kepercayaan (credibility) yang diperoleh melalui wawancara, inventarisasi

daya pendukung serta pengalaman faktual.

b. Keteralihan (transferability) adalah terjaminnya kesamaan konteks pengirim dan

penerima data. Sehingga untuk menjamin keteralihan data maka penulis mencatat

serta membuat data deskriptif secukupnya temasuk hasil wawancara dan observasi.

c. Ketergantungan (depenbility), atau pengakuan yang diberikan oleh pembimbing

atas data yang didapatkan oleh peneliti.

d. Kepastian (confirmability). Penekanan kualitatif ada pada data penelitian dan bukan

kepada siapa yang meneliti atau diteliti.

H. Sistematika Penulisan

Sistematika pembahasan dalam penelitian ini terbagi dalam lima bab : Bab Satu,

menguraikan tentang pendahuluan yang berisi Latar Belakang Masalah, Batasan Masalah,

Rumusan Masalah, Tujuan penelitian, Manfaat Penelitian, Kajian Pustaka, Metode

Penelitian dan Sistematika Pembahasan.

Bab Dua menguraikan tentang Perspektif Teori dan penelitian yang terdahulu.

Perspektif teori memuat penjelasan teoritis sebagai landasan penelitian, penjabaran

(31)

membahas dua subab yakni konsep teori pelayanan publik dan city branding Kediri the service city. Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilaksanakan.

Bab Tiga, Metode Penelitian. Menguraikan metode perolehan data yang digunakan

dalam penelitian oleh penulis dan mendeskripsikan data penelitian. Pada bab ini meliputi

(wawancara, observasi, dokumentasi dll), teknik analisis data/ pengelolaan data.

Bab Empat, berupa Penyajian dan Analisis Data. Bab ini menjadi bagian terpenting

dalam penulisan skripsi. Mendeskripsikan dan menganalisis guna menjawab masalah

penelitian. Berisi gambaran umum tentang obyek penelitian, penyajian data dan analisis

(32)

BAB II

PERSPEKTIF TEORI

A. Pelayanan Publik

1. Definisi Pelayanan Publik

Secara etimologi pelayanan publik terdiri dari dua kata yakni pelayanan dan

publik. Pelayanan adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan landasan tertentu dimana tingkat pemuasannya hanya dapat dirasakan

oleh orang yang melayani atau dilayani, tergantung kepada kemampuan penyedia jasa

dalam memenuhi harapan pengguna.1 Sedangkan publik adalah sejumlah manusia yang

memiliki kebersamaan berfikir, perasaan, harapan, sikap dan tindakan yang benar dan

baik berdasarkan nilai-nilai norma yang mereka miliki.2 Secara terminologi pelayanan

publik adalah segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun

jasa publik yang menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan oleh institusi pemerintah

pusat atau daerah dalam rangka pemenuuhan kebutuhan masyarakat, maupun dalam

rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.3

Dalam UU nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik dijelaskan

bahwasanya pelayanan publik merupakan kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam

rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan

bagi setiap warga Negara dan penduduk atas barang, jasa dan atau pelayanan

administrasi yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.4 Dijelaskan juga

bahwasanya penyelenggara pelayanan ialah semua institusi penyelenggara Negara,

1Moenir, Managemen Pelayanan Umum di Indonesia (Jakarta: Bumi Aksara,2002), 26 2Syafi’I, Pengantar Ilmu Pemerintahan (Jakarta: PT. Pertja,1999), 5

(33)

korporasi, lembaga independen yang dibentuk berdasarkan undang-undang untuk

kegiatan pelayanan publik, dan badan hukum lain yang dibentuk semata-mata untuk

kegiatan pelayanan publik.

David Osborne dan Ted Gaebler dalam bukunya yang berjudul Reiventing Government, menjelaskan mengenai upaya peningkatan pelayanan publik oleh birokrasi pemerintah yaitu dengan memberi wewenang kepada pihak swasta lebih

banyak berpartisipasi. Karena mereka menyadari pemerintah itu milik rakyat bukan

rakyat milik kekuasaan pemerintah.5 Dalam rangka memperbaiki sistem untuk

mewujudkan masyarakat yang lebih beradab Osborn dan Gaebler menyimpulkan

prinsip yang dianggap sebagai keputusan gaya baru yakni pemerintah sebagai pembuat

kebijakan tidak perlu harus selalu menjadi pelaksana dalam berbagai urusan

pemerintahan tetapi hendaknya cukup sebagai penggerak.

Sebagai badan yang memiliki masyarakat luas, pemerintah bukan hanya

senantiasa melayani publik tetapi juga memberdayakan segenap lapisan secara optimal.

Sebagai pemilik wewenang untuk mengkompetisikan berbagai lapisan, pemerintah

hendaknya tetap menyuntikkan ide pembangunan, namun dalam misinya ini tetap tetap

diberi kebebasan berkarya kepada berbagai lapisan tersebut agar hasil dan berbagai

masukan dapat di tampung, dalam rangka pemenuhan kebutuhan bersama. Dengan

demikian berbagai pihak bukan hanya sekadar menghabiskan anggaran tetapi

menemukan pertumbuh kembangannya.6

(34)

Bentuk pelayanan publik dibagi menjadi tiga :7

(1)Layanan dengan lisan. Layanan ini dilakukan oleh pegawai bidang hubungan

masyrakat, bidang informasi dan bidang lainnya yang tugas-tugasnya

memberikan penjelasan kepada siapa saja yang membutuhkan. (2) Layanan

dengan tulisan. Layanan ini merupakan bentuk layanan peling menonjol dalam

implementasi tugas, tidak hanya dari aspek jumlah tetapi juga dari aspek

peranannya. Layanan melalui tulisan dinilai cukup efesien terutama untuk

layanan jarak jauh karena faktor biaya. (3) Layanan bentuk perbuatan. Layanan

ini sering terkombinasi dengan layanan lisan, sebab hubungan lisan terbanyak

dilakukan dalam hubungan pelayanan secara umum, namun fokusnya

diperbuatan itu sendiri yang ditunggu oleh orang berkepentingan.

Tujuan pelayanan publik:8

1. Terwujudnya batasan dan hubungan yang jelas tentang hak dan

tanggungjawab, kewajiban dan kewenangan seluruh pihak yang terkait

dengan penyelenggaraan pelayanan publik.

2. Terwujudnya sistem penyelenggaraan pelayanan publik yang layak sesuai

dengan asas-asas umum pemerintahan dan koperasi yang baik.

3. Terpenuhinya penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan peraturan

perundangan.

4. Terwujudnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat dalam

penyelenggaraan publik.

(35)

Instansi yang melakukan pelayanan publik dapat mengembangkan pola

penyelenggaraan pelayanan sendiri dalam rangka upaya menemukan dan menciptakan

inovasi peningkatan pelayanan publik.9

2. Pelayanan Publik Tingkat Pusat dan Daerah

Tugas dan wewenang pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesungguhnya

berbeda. Bahwasannya tugas pemerintah pusat adalah urusan politik luar negeri,

pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiscal nasional dan agama. Sedangkan

urusan pemerintah daerah adalah mengatur mengurus sendiri urusan pemerintah pusat

yang diselenggarakan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Otonomi daerah

yang merupakan bagian penting dalam upaya pengembangan kreativitas dan prakarsa

masyarakat otonomi daerah tingkat II, bukan saja sebagai perwujudan dari amanat

undang-undang akan tetapi tuntutan kondisi pembangunan dewasa ini menuntut agar

daerah lebih mampu melaksanakan berbagai tugas pemerintahan dan mampu

melaksanakan berbagai tugas pemerintahan dan lebih banyak berperan dalam

pembangunan. Apabil otonomi dapat dilaksakan melalui secara efektif, maka

diharapkan Daerah Tingkat II potensinya akan lebih kreatif dalam mengembangkan

potensi daerahnya dan sebagai ujung tombak pelayanan kepada masyarakat.10

Sehingga dalam pelaksaan urusan-urusan tersebut harus dilaksanakan secara

maksimal melalui pelayanan publik yang diselenggarakan secara prima.11 Tugas

pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah dalam bidang pelayanan publik

sesungguhnya adalah sama. Dalam konteks kewenangannya hubungan kewenangan

pemerintah daerah pusat dan dilaksanakan secara terkait, tergantung, sinergis sebagai

9Ibid., 22

(36)

suatu sistem pemerintahan, adil dan selaras berdasarkan undang-undang.12 Pada

pelaksanaan kewenangan pemerintah pusat maupun daerah menyelenggarakan

pelayanan publik dengan mengikuti ketentuan dalam undang-undang pelayanan publik

dan hubungan pelayanan publik diantara keduanya dapat dilaksanakan secara adil dan

selaras berdasarkan undang-undang.

Dalam penyelenggraannya terdapat beberapa urusan pemerintah daerah linier

dengan urusan pemerintah pusat, antara lain :13

a. Layanan yang berkaitan dengan persoalan kependudukan.

b. Pelayananan yang berikatan dengan persoalanan ketertiban dan keamanan

c. Pelayanan yang berkaitan dengan perizinan.

d. Pelayanan yang berikaitan dengan kesejahteraan.

e. Pelayanan yang berkaitan dengan pengawasan kegiatan masyarakat.

f. Pelayanan yang berkaitan dengan pengembangan perekonomian. Dll

Selain itu pemerintah sebagai penyelenggara sekaligus penanggungjawab

dalam menyelenggarakan pelayanan publik berkewajiban untuk :14

a. Menyusun dan menerapkan standar pelayanan.

b. Menyusun, menetapkan dan mempublikasikan maklumat pelayanan.

c. Menempatkan pelaksana yang kompeten.

d. Menyediakan sarana, prasarana dan atau fasilitas pelayanan publik yang

mendukung terciptanya iklim pelayanan yang memadai.

12 Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah. Lihat dalam Widjaja,

Penyelenggaraan Otonomi Daerah di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), 315

(37)

e. Memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas penyelenggaraan

pelayanan publik.

f. Melaksanakan pelayanan yang sesuai dengan standar pelayanan.

g. Memberikan pertanggungjawaban terhadap pelayanan yang diselenggarakan dsb.

Terdapat beberapa prinsip yang harus dipenuhi oleh penyelenggara pelayananan

berdasarkan keputusan MENPAN (Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara)

Nomor 63 Tahun 2003:15

1. Kesederhanaan, artinya prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit, mudah

dipahami dan mudah dilaksanakan.

2. Kejelasan, dalam hal ini kejelasan mencakup dalam tiga hal diantaranya :

a. Persyaratan teknis dan administrative pelayanan publik.

b. Unit kerja atau pejabat yang berwenang dan bertanggungjawab dalam

memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan dan persoalan dalam

pelaksanaan pelayanan publik.

c. Rincian biaya pelayanan publik pelayanan dan tata cara pembayaran.

3. Kepastian waktu, artinya pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam

kurun waktu yang telah ditentukan.

4. Akurasi, artinya produksi pelayanan publik diterima dengan benar, tepat dan sah.

5. Keamanan, dalam artian proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa

aman dan kepastian hukum.

6. Tanggungjawab, pemimpin penyelenggaraan pelayanan publik atau pejabat yang

ditunjuk bertanggungjawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian

keluhan/ persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik.

15Ratmiko dan Atik Septi Winarsih, Manajemen Pelayanan: Pengembangan Model Konseptual,

(38)

7. Kelengkapan sarana dan prasarana, tersedianya sarana dan prasarana kerja,

peralatan sarana teknologi telekomunikasi dan informatika.

8. Kemudahan akses, tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai, mudah

dijangkau oleh masyarakat dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan

informatika.

9. Kedisiplinan, kesopanan dan keramahan, pemberi layanan harus bersikap disiplin,

sopan dan santun, ramah serta memberikan pelayanan dengan ikhlas.

10.Kenyamanan, lingkungan pelayanan harus tertib, teratur, disediakan rumah tunggu

yang nyaman, bersih, rapi, lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan

fasilitas pendukung layanan.

Standar pelayanan menurut MENPAN (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara)

Nomor 63 Tahun 2004:16

1. Prosedur pelayanan, prosedur yang dibakukan bagi pemberi dan penerima

pelayanan termasuk pengaduan.

2. Waktu penyelesaian. Waktu penyeleseian yang ditetepakna sejak saat pengajuan

permohonan sampai dengan penyelesaian pelayanan termasuk pengaduan.

3. Biaya pelayanan, biaya atau tariff pelayanan termasuk rincian yang ditetepkan

dalam proses pemberian pelayanan.

4. Produk pelayanan, hasil pelayanan akan diterima sesuai dengan ketentuan yang

telah ditetapkan.

5. Sarana dan prasarana, penyediaan sarana dan prasarana pelayanan yang memadai

oleh penyelenggara publik.

(39)

6. Kompetensi petugas pemberi pelayanan, kompetensi petugas pemberi pelayanan

harus ditetapkan dengan tepat berdasarkan pengetahuan, keahlian, sikap dan

perilaku yang dibutuhkan.

Pelayanan yang dituntut untuk memenuhi kebutuhan kepuasan pelanggan maka

harus dapat diukur sejauh mana kinerja dari pemberi pelayanan publik tersebut, berikut

merupakan dimensi kualitas pelayanan seperti dikutip oleh Zeithamal, Parasuraman dan

Berry :17

1. Tangilabe (Ketampakan Fisik), melihat fasilitas operasional yang diberikan, apakah sesuai dengan kebutuhan dalam pelaksanaan. Fasilitas cukup mudah untuk

didapatkan dan infrastruktur pendukung telah memenui standart kualitas serta

memenuhi kebutuhan pelanggan.

2. Reliabiliti (Reliabilitas), kemampuan untuk menyelenggarakan pelayanan yang dijanjikan akurat.

3. Responsiveness (daya tanggap), kerelaan untuk menolong customer dan menyelenggaran pelayanan secara ikhlas. Serta ketanggapan dalam memberikan

respon pada pengaduan pelanggan atau pada penyeleseian masalah secara tepat.

4. Assurance (Jaminan), pengetahuan dan kesopanan para pekerja dan kemampuan mereka dalam memberikan kepercayaan kepada pelanggan.

Membahas mengenai pelayanan publik maka tidak luput dari suatu program

pemerintah. Progam-programadalah setiap aktifitas/ kegiatan pemerintah yang

dirancang untuk mewujudkan kesejahteraan publik melalui pengelolaan barang dan

layanan publik yang memenuhi hak-hak dasar manusia.18Maka penyusunan isi progam/

17 Falih Suaedi dan Bintoro Wardiyanto, Revitalisasi Administrasi Negara Reformasi Birokrasi dan

e-Governance, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), 72

(40)

kebijakan harus memenuhi indikator pertimbangan etika, yakni manfaat, Pemenuhan

Hak, Keadilan dan pemeliharaan dan juga indikator pelayanan publik seperti 1).

Efektifitas progam, 2). Produktifitas keluaran yang dibutuhkan masyarakat, 3).

Efesiensi dan kepuasam. Dalam pelaksanaan programharus didukung oleh kualitas dan

kuantitas sumberdaya baik sumberdaya manusia, dana, sarana fisik dan Teknologi.

Progam/kebijakan yang dirancang oleh pemerintah daerah selain

mempertimbangkan kelayakan operasional (kelayakan implementasi) bagi pelaksana

juga harus mempertimbangkan kelayakan etika yang ada dan berkembang dalam

masyarakatnya berdasarkan pertimbangan manfaat program bagi masyarakat,

pemenuhan hak bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan, keadilan pelaku dan

akses, serta jaminan pemeliharaan atau keberlanjutan program tersebut.19Badan

pelaksana akan menilai dan mengusulkan ukuran-ukuran kelayakan operasional

program sesuai dengan kemampuannya, atau megusulkan untuk mendapatkan

penguatan yang dibutuhkan untuk keberlangsungan program yang dijalankan. Publik

juga dapat menilai dan memberi usulan agar program memenuhi kriteria layanan

dengan indikator-indikator. Efektifitas progam-program untuk mencapai tujuan yang

diinginkan, produktifitas keluaran pemerintah daerah yang sesuai dengan kebutuhan

masyarakat, efesiensi dan kepuasan masyarakat. Publik selain menilai isi programdari

segi etika dan moral juga menilai pelaksanaan program berdasarkan kriteria kinerja

pelayanan yang mereka terima.

3. Regulasi Pelayanan Publik dan Implementasi

Esensi pelayanan publik sejatinya sudah termaktub dalam undang-undang

otonomi daerah nomor 32 tahun 2004. Namun undang-undang tersebut dianggap belum

(41)

dapat memberikan kepastian hukum, sehingga kemudian munculah undang-undang

nomor 25 tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik. Undang-undang tersebut memberikan

penguatan dan kepastian hukum untuk melayani dan meningkatkan partisipasi

masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu undang-undang

tersebut harus dapat terimplementasikan sampai hal-hal teknis dan praktis hingga bias

dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik, sedangkan yang dilayani bisa

merasakan dampak keberadaan penyelenggaraan pelayanan publik tersebut.20

Karena implementasi adalah suatu penerapan ide, konsep, kebijakan dan inovasi

suatu tindakan praktis hingga memberikan dampak baik berupa perubahan

pengetahuan, ketrampilan maupun nilai dan sikap maka undang-undang tersebut dapat

diimplementasikan dalam beberapa regulasi melalui perundang-undangan atau

peraturan lanjutan tingkat daerah.

B. Strategi Pengolahan Pengaduan dalam Pelayanan

Era reformasi menghadirkan suatu tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara

yang baru, dimana kedaulatan rakyat ditempatkan pada posisi tertinggi. Hal ini telah

tertera dalam bentuk pengesahan berbagai undang-undang untuk menjamin hak-hak

politik masyarakat, yaitu kebebasan berbicara, berserikat dan menyampaikan pendapat

di muka umum tanpa rasa takut. Dalam bidang-bidang kehidupan yang lain masyarakat

juga menginginkan adanya praktik demokrasi dan keterbukaan seperti pada bidang

pelayanan publik. Pelayanan publik di tuntuk untuk mempraktikkan demokrasi, hal ini

dikarenakan kinerja pemerintah salah satunya diukur dari kemampuannya menyediakan

layanan publik yang efesien, efektif dan akuntabel bagi seluruh masyarakat terutama

(42)

masyarakat miskin dan kurang beruntung. Salah satu wujud praktik demokrasi dalam

pelayanan publik adalah memberi kesempatan pada masyarakat untuk menyampaikan

keluhan (complain) atau pengaduan ketika pelayanan yang diterimanya tidak sesuai

dengan harapan atau tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh pemberi layanan.

Menurut Dwiyanto tersedianya ruang untuk menyampaikan aspirasi (voice) dalam

bentuk pengaduan dan protes terhadap jalannya penyelenggaraan pemerintahan dan

pelayanan publik akan sangat penting peranannya bagi upaya perbaikan kinerja tata

pemerintahan secara keseluruhan.21

Sebagai percontohan pengelolaan keluhan di sektor publik adalah negara

Skandi Navia yang mendirikan sebuah lembaga Ombudsman. Ombudsman merupakan

suatu lembaga yang didirikan sebagai sarana untuk menyampaikan keluhan bagi

masyarakat yang merasa tidak puas dengan pelayanan pemerintah. Karena pentingnya

pengaduan sebagai upaya untuk mendemokratisasikan pelayanan publik agar pada

akhirnya pelayanan publik yang diterima oleh masyarakat memiliki kualitas yang tinggi

maka menuntut birokrasi pemerintah untuk dapat mengelola mekanisme pengaduan

dengan baik.

Memberikan suatu akses pada masyarakat untuk menyuarakan aspirasi mereka

terhadap pelayanan publik yang mereka terima melalui mekanisme pengaduan akan

menjadi instrument penting untuk memperbaiki kualitas pelayanan publik yang

disediakan oleh pemerintah. Bentuk pengaduan yang paling sederhana seperti telepon,

surat, email taupun bisa datang langsung dan menyampaikan keluhannya secara lisan.

Pengaduan yang dikelola dengan baik akan mendatamgkan manfaat atau

keuntungan bagi organisasi yang dikomplain, seperti diantaranya :22

(43)

a. Organisasi atau instansi semakin tahu akan kelemahan/ kekurangannya dalam

memberikan pelayanan kepada pelanggan.

b. Sebagai alat instropeksi diri instansi untuk senantiasa responsive dan mau

memperhatikan ‘suara’ dan ‘pilihan’ pelanggan.

c. Mempermudah instansi mencari jalan keluar untuk meningkatkan mutu pelayanan.

d. Bila segera ditangani, pelanggan merasa kepentingan dan harapannya diperhatikan.

e. Dapat mempertebal rasa percaya dan kesetiaan pelanggan kepada organisasi

pelayanan.

f. Penanganan komplain yang benar dan berhasil bisa meningkatkana kepuasan

pelanggan.

Mekanisme pengaduan akan menjadi instrument penting untuk memperbaiki

kualitas pelayanan publik yang disediakan oleh pemerintah tidak serta merta dapat

dilakukan dengan mudah dan lancar.23 Dalam artian masyarakat dapat terbuka

menyampaikan keluhan dan seluruh anggota birokrasi pemberi layanan publik akan

dengan sennag hati memberikan respon terhadap berbagai keluhan yang disampaikan

oleh masyarakat. Meskipun saluran untuk menyampaikan keluhan atau pengaduan telah

dibuka masyarakat belum tentu akan menggunakan mekanisme yang ada karena

berbagai pertimbangan, salah satunya adalah menyangkut efektivitas respon yang

diberikan oleh pmeberi layanan terhadap pengaduan yang disampaikan oleh pengguna

layanan.

Dengan demikian pengelolaan pengaduan yang disampaikan masyarakat

menjadi kunci keberhasilan birokrasi pemerintah dalam mengelola pengaduan tersebut.

Sebelum mampu untuk membangun sistem mengelola pengaduan, maka langkah

23

(44)

penting yang harus diketahui adalah memahami apa-apa harapan-harapan pengguna

layanan ketika mereka menyampaikan pengaduan dan bagaimana merespon pengaduan

tersebut dengan tepat. Secara teoritis hubungan antara harapan pengguna layanan dan

respon terhadap pengaduan, untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam skema sebagai

berikut :

Gambar 2.1. Respon Organisasi Terhadap Pengaduan Dan Implikasinya Terhadap Kepuasan Pengguna Layanan

Dari gambar diatas terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan untuk

merespon pengaduan pengguna layanan diantaranya :24 (1) Timeliness (ketepatan waktu

di dalam merespon pengaduan). (2)Facilitation (mekanisme atau prosedur untuk

melakukan pengaduan). (3) redress (manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh

apabila melakukan pengaduan dalam bentuk kompensasi). (4) apology (Pengakuan dan

permintaan maaf dari institusi pemberi layanan. (5) Credibility (kemauan institusi

untuk bertanggungjawab dan menjelaskan persoalan yang dikeluhkan). (6) Attentivenes

(cara melakukan komunikasi dan perhatian secara pribadi terhadap pelanggan yang

(45)

melakukan pengaduan). Respon yang tepat dari sebuah instansi mampu memberikan

sebuah kepuasan pada penerima layanan tersebut, sehingga penerima layanan akan

menceritakan pengalamannya terhadap kalayak umum. Respon yang tepat dapat

meningkatkan citra positif instansi sebagai pemberi layanan. Sehingga seiring

berjalannya waktu mampu meningkatkan kepercayaan (trust) masyarakat terhadap

birokrasi pemerintah. selain itu manajemen pengelolaan pengaduan yang baik juga akan

membantu institusi publik bagian mana yang memerlukan perbaikan atau proses

perencanaan dan pengelokasian sumberdaya sebagai alat bantu untuk menilai kepuasan

pelanggan.

Pendapat Islami dalam buku Administrasi Negara. Isu-isu kontemporer tentang

manajemen pengelolaan pengaduan yang baik harus memperhatikan beberapa hal

seperti diantaranya :

1. Mudah diakses dan dipublikasikan dengan sempurna.

2. Kecepatan pelayanan dengan batas waktu penanganan yang pasti dan menjaga

agar pelanggan terus mengetahui perkembangannya.

3. Konfidensial, untuk melindungi staf dan pelanggan yang menyampaikan

complain.

4. Informatif, memberikan informasi yang cukup bagi pemimpin sehingga

pelayanan bisa senantiasa ditingkatkan.

5. Mudah dipahami dan digunakan.

6. Jujur, dengan menyediakan prosedur lengkap untuk menyelidikinya.

7. Efektif, setiap keluhan ditangani dengan menggunakan instrument dan

(46)

8. Terus-menerus dimonitor dan diaudit, untuk memastikan masalahnya telah

diselesaikan dengan sempurna.

Manajemen pengaduan yang baik akan menjamin organisasi publik untuk:

a. Secara efektif mampu merespon dan memecahkan pengaduan yang

disampaikan pengguna layanan

b. Mampu memanfaatkan informasi tersebut sebagai upaya untuk melakukan

berbagai perbaikan organisasi.

Pelayanan Berbasis Teknologi dan Informasi

Dalam perkembangan teknologi dan informasi telah berkembang dengan sangat

dengan sangat pesat sehingga dalam banyak pekerjaan kini sudah bisa dikerjakan secara

cepatdan praktis dengan demikian mampu menghemat biaya dan waktu. Melalui

pemanfaatan teknologi informasi ini memungkinkan berbagai bentuk layanan dapat

dikemas dalam suatu program(software) tertentu yang memiliki kemampuan

memproses data dengan kecepatan dan akuratan yang sangat tinggi, sehingga mampu

memprediksi interval waktu yang diperlukan untuk menyelesaikanberbagai langkah

penting dalam proses penyeleseian suatu kerjaan.

Peranan teknologi bagi suatu instansi penyelenggara pelayanan publik dilihat

dari hubungan antara variasi-variasi teknologi dengan struktur organisasi yang secara

(47)

teknologi informasi sebagai enabler organisasi berdapak luas sehingga munculah

fenomena Electronic Governance (teknologi elektronik informasi).25

Karakteristik dan fokus dari e-Governance: 26

1. Penggunaan teknologi informasi ditujukan untuk membangun memperbaiki proses

dan memperlancar hubungan dalam organisasi pemerintah dan antar organisasi

pemerintah dalam masyarakat.

2. Terdapat tiga lingkup yang terintegrasi satu dengan yang lainnya yaitu lingkup

inter, intra dan antar pemerintah dengan masyarakat.

a. Fokus pada layanan pemerintah, penggunaan teknologi informasi ditujukan

untuk meningkatkan efesiensi, kecepatan dan kelancaran layanan

pemerintah kepada publik.

b. Fokus pada struktur birokrasi, birokrasi teknologi informasi fokus pada

karakter struktur birokrasi yang berubah sebagai akibat dari revolusi

teknologi informasi.

c. Fokus pada model organisasi berbasis teknologi informasi yang merupakan

model organisasi era digital.

Namun berdasarkan studi yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa kegagalan

implementasi dari e-Governance diberbagai instansi sering disebabkan oleh ketidak

mengertian dari impementor atau sumber daya manusianya yang masih rendah.

25Falih Suadi dan Bintoro, Revitalisasi Adinistrasi Negara Reformasi Birokrasi dan e-Governance,

(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), 77

(48)

Munculnya aplikasi e-Governance juga membawa dampak yang sangat luas, yang

kemudian terbagi menjadi tiga lingkup dampak dari aplikasi e-Governance:27

1. Publik / Bussiness to Governance

Aplikasi e-Govermen pada lingkup ini berdampak pada (a) peningkatan partisipasi

masyarakat dan sektor bisnis dalam penyelenggaraan pemerintahan melalui media

sistem teknologi internet. (b) peningkatan kuantitas dan kualitas layanan informasi

yang diberikan oleh organisasi pemerintah. (c) peningkatan keterbukaan

penyelenggaraan pemerintahan. (d) peningkatan daya tanggap pelaksana kegiatan

pembangunan.

2. Inter Agency

Aplikasi pada lingkup ini sangat memberikan dampak positif pada : (a) Peningkatan

kecepatan dan kelancaran komunikasi serta distribusi informasi antara satu

organisasi pemerintah dengan organisasi pemerintah lainnya. (b) Peningkatan

ketepatan pelaksanaan dan hasil pekerjaan yang dilaksnakan secara bersama-sama

oleh beberapa organisasi pemerintah. (c) Peningkatan keterbukaan antaar organisasi

pemerintah dalam pelaksanaan progam.

3. Intra Agency

Aplikasi dalam lingkupmini juga berdampak pada : (a) Peningkatan koordinasi

antara unit/ bagian dalam organisasi. (b) Peningkatan kecepatan dan kelancaran

pelaksanaan pekerjaan. (c) Peningkatan ketepatan hasil dan pelaksanaan pekerjaan.

(d) Efesiensi waktu, tenaga dan dana pelaksanaan pekerjaan.

C. City Branding

(49)

Branding kota menjadi semakin penting sebagai kota di seluruh dunia bersaing

untuk perhatian konsumen. Wisatawan dan investor kelompok lain pemangku

kepentingan, yang menghasilkan uang untuk kebutuhan kota, Kavartzis menjelaskan

bahwa dinamika kota ini terdiri dari investasi, pariwisata, sumber daya dan isu-isu

sosial dan ini menciptakan lingkungan unik yang kota harus membedakan dari kota

lain.

Pada intinya pengelola tempat ingin agar konsumen memiliki citra yang positif

terhadap kotanya dengan mulai mempengaruhi mereka dengan cara yang baik dan

ajakan agar mereka datang atau tinggal karena memang salah satu dimensi dasar dari

segmentasi pasar adalah geografi, dimana orang hidup mencari nafkah mendefinisikan

masyarakat di lingkungan kota tersebut. Tapi pemangku kepentingan dari kota tidak

terbatas pada pemerintah dan warga kota saja namun juga terbuka bagi investor dan

turis. Semua elemen ini didesain untuk bekerja sama dan saling memberikan efek yang

positif.

Brand awalnya merupakan temuan ilmu pemasaran yang diterapkan pada

produk (barang atau jasa). Pada perkembangannya, aplikasi konsep brand kemudian

meluas ke berbagai objek seperti event, orang dan tempat. Sebuah brand kemudian

didefinisikan sebagai kombinasi dari sebuah perusahaan, layanan, produk atau lokasi

geografis makna intinya, gambar, nama dan logo. Sementara branding adalah proses

“merancang, perencanaan dan menceritakan nama dan identitas dalam rangka

membangun atau mengelola reputasi “dari perusahaan, layanan, produk, atau lokasi

geografis.28

28

Gambar

Gambar 3.2 Rute Bus Rapid Transit I …………………………………………………………...52
Gambar 2.1. Respon Organisasi Terhadap Pengaduan Dan
Gambar 2.2 Logo Brand Harmoni Kediri The Service City
Gambar 3.1 Peta Kota Kediri3
+7

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu bentuk pelayanan publik yang dilaksanakan oleh pemerintah adalah.. pemenuhan kebutuhan kesehatan

Pelayana publik dapat di artikan sebagai bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat dan

Pengaruh Kualitas Pelayanan, Harga, dan Citra Merek Terhadap Kepuasan Pelanggan Dalam Pemakaian Jasa Transportasi Bus Studi Kasus Pada PT.. Posma

Aplikasi pelaporan pelayanan publik berbasis android ini merupakan aplikasi yang dapat digunakan untuk membantu dan mempermudah bagi masyarakat untuk memberikan

Sehingga Pelayanan publik (Pelayanan Administrasi) di kantor Percut Sei Tuan yang diberikan oleh Kantor Camat Percut Sei Tuan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, maka

Permasalahan Kualitas Kinerja pegawai di Kecamatan Tabukan Kabupaten Batola terhadap pemberian pelayanan publik masih menjadi sorotan besar dari masyarakat, dan masyarakat masih