3
I. PENDAHULUAN
Chrysophyta merupakan salah satu divisio dari fitoplankton yang berperan sebagai produsen di perairan. Organisme air seperti udang-udangan dan larva ikan memperoleh karbohidrat, lemak, dan protein dari Chrysophyta (Sze, 1986). Chrysophyta memiliki pigmen warna yang terdiri dari karoten dan xantofil yang berwarna kuning (Bold & Wynne 1985 dalam Yazwar, 2008). Chrysophyta disukai oleh ikan, sehingga dapat mendukung kelimpahan ikan di perairan. Hal ini disebabkan oleh morfologinya yang mudah ditelan oleh ikan. Davis (1955) menyatakan bahwa dinding sel Chrysophyta memiliki pori-pori yang terdiri dari dua bagian yaitu tutup (epiteka) dan wadah (hipoteka). Kedua tutup tersebut mudah membuka sehingga memudahkan ikan mencerna isi sel dengan bantuan enzim pencernaan.
Berdasarkan habitat hidupnya, Chrysophyta tersebar luas di perairan tawar dan laut dengan populasi yang bervariasi. Chrysophyta sensitif terhadap perubahan lingkungan perairan. Sifatnya yang sensitif memungkinkan Chrysophyta dapat dengan cepat merespon dan mampu merefleksikan perubahan-perubahan kualitas air (Prygiel & Coste, 1993).
Kualitas lingkungan perairan erat kaitannya dengan pengaruh beban masukan dari daratan. Sukimin (2007) menyatakan bahwa hal-hal yang dapat mempengaruhi kualitas perairan dapat berasal dari daratan seperti pemukiman, limbah industri, pertanian, sedimentasi, serta peralihan fungsi hidrologi dan habitat. Pengaruh terbesar yang dapat ditimbulkan oleh beban masukan dari daratan adalah peningkatan kandungan bahan organik di perairan. Akumulasi bahan organik tersebut selanjutnya secara alami akan didekomposisi oleh mikroorganisme yang ada di perairan dan digunakan sebagai bahan makanan organisme akuatik dalam bentuk zat hara.
Pertambahan jumlah penduduk dapat berindikasi pada peningkatan pembukaan lahan. Dampak peningkatan pembukaan lahan salah satunya dapat mengubah fungsi utama daerah tangkapan air (DTA) yang awalnya merupakan daerah resapan air menjadi lahan pertanian dan pemukiman. Masyarakat di sekitar Waduk Penjalin, serta daerah aliran Sungai Soka, Penjalin, dan Garung memanfaatkan DTA tersebut untuk aktivitas pertanian, tegalan, dan pemukiman penduduk. Aktivitas masyarakat tersebut akan menghasilkan buangan, baik langsung
4
maupun terserap tanah yang nantinya akan terakumulasi ke dalam perairan Waduk Penjalin. Setiap tahunnya, aktivitas masyarakat yaitu pertanian dan tegalan akan menghasilkan limbah pupuk dan pestisida, serta pemukiman akan menghasilkan limbah rumah tangga. Hal tersebut akan meningkatkan buangan yang masuk ke dalam badan perairan dan pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas perairan.
Eksistensi dan kelimpahan fitoplankton di dalam suatu ekosistem sangat ditentukan oleh interaksinya terhadap faktor fisika, kimia, dan biologi. Tingginya kelimpahan fitoplankton pada suatu perairan adalah akibat pemanfaatan nutrien, radiasi sinar matahari, suhu, dan pemangsaan oleh zooplankton (Basmi, 1988). Menurut Goldman & Horne (1983), tiga faktor utama penentu tingkat pertumbuhan fitoplankton adalah suhu, penetrasi cahaya, dan nutrien atau zat hara yang optimum.
Suhu merupakan salah satu parameter penting yang mempengaruhi proses kehidupan dan distribusi fitoplankton serta mempengaruhi laju fotosintesis dan pertumbuhan fitoplankton secara alami (Radiarta, 2013). Penetrasi cahaya menujukkan jarak cahaya yang dapat menembus ke dalam perairan. Kedalaman penetrasi cahaya berhubungan erat dengan intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam suatu perairan sehingga erat kaitannya dengan proses fotosintesis yang terjadi di lingkungan akuatik. Tingkat kecerahan yang tinggi sangat berguna bagi fitoplankton untuk melakukan proses fotosintesis sehingga dapat berkembang dengan baik (Ruttner, 1965).
Zat hara berupa nitrat dan fosfat dapat mempengaruhi kesuburan perairan. Selain nitrat dan fosfat, kandungan silika di perairan juga dapat mempengaruhi kelimpahan fitoplankton (Ayuningsih et al., 2014). Bentuk nitrogen yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh organisme perairan adalah amonia dan nitrat. Nitrat adalah zat hara hasil dari reaksi biologi yaitu nitrogen organik, limbah industri, dan limbah domestik. Fungsi nitrat adalah sebagai komponen pembentukan protein pada tubuh organisme (Susanto, 2008). Kandungan nitrat di perairan yang tidak tercemar biasanya lebih tinggi daripada kandungan amonia (Effendi, 2003).
Keberadaan fosfat di perairan sangat penting bagi organisme terutama berfungsi dalam pembentukan protein dan metabolisme. Fosfat juga berperan dalam transfer energi di dalam sel misalnya adenosine triphosphate (ATP) dan adenosine
diphosphate (ADP). Ortofosfat adalah bentuk fosfat yang paling sederhana di
perairan (Boyd, 1982).
5
Ketersediaan silika seringkali menjadi faktor pembatas bagi populasi fitoplankton. Silika merupakan zat hara yang berperan sebagai regulator bagi kompetisi fitoplankton. Fitoplankton dari Divisio Chrysophyta selalu mendominasi perairan pada konsentrasi silika yang tinggi. Diatom dari kelas Bacillariophyceae merupakan salah satu spesies yang menggunakan silika sebagai penyusun dinding selnya (Egge & Aksnes, 1992).
Kelimpahan menunjukkan total individu per volume perairan, sedangkan distribusi horizontal menunjukkan pola persebaran organisme. Kelimpahan dan distribusi horizontal organisme di perairan merupakan respon organisme terhadap faktor fisika dan kimia perairan. Kekuatan hubungan antara kelimpahan dan distribusi horizontal fitoplankton dengan faktor fisika dan kimia perairan dapat ditentukan dengan analisis korelasi. Sugiyono (2004) menyatakan bahwa analisis korelasi digunakan untuk melihat kekuatan hubungan antarfaktor yang tidak dikendalikan oleh peneliti.
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk melihat korelasi antara kondisi lingkungan perairan dengan kelimpahan fitoplankton di perairan waduk. Waduk Penjalin yang terletak di Desa Winduaji, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah dibangun pada tahun 1930 dengan luas 1,25 km2. Sumber air waduk tersebut berasal dari air hujan yang jatuh di daerah aliran sungai (DAS) dan air hujan yang langsung jatuh ke waduk (Purwati et al., 2010). Istanto et al. (2010) menambahkan bahwa fungsi utama Waduk Penjalin adalah untuk irigasi pada musim kemarau dan pengendali banjir.
Salah satu penelitian yang pernah dilakukan di Waduk Penjalin yang berkenaan tentang korelasi kelimpahan Chrysophyta dengan faktor fisika dan kimia perairan adalah penelitian Persada (2013). Kelimpahan Chrysophyta yang didapatkan di Waduk Penjalin pada tahun 2012 oleh Persada berkisar 453-1.556 ind. l-1dengan korelasi antara kelimpahan Chrysophyta dengan nitrat, ortofosfat, dan silika sangat lemah hingga lemah. Berdasarkan penelitian di perairan Waduk Penjalin tersebut, distribusi horizontal fitoplankton khususnya Chrysophyta perlu dikaji lebih lanjut korelasinya dengan faktor fisika dan kimia perairan untuk menentukan kekuatan hubungan diantara kedua variabel tersebut.
Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat dirumuskan tiga permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini. Pertama, bagaimana kelimpahan dan distribusi horizontal Chrysophyta serta faktor fisika dan kimia perairan Waduk Penjalin.
6
Kedua, bagaimana tingkat kesamaan antarstasiun berdasarkan kelimpahan, distribusi horizontal Chrysophyta, serta faktor fisika dan kimia perairan. Ketiga, bagaimana korelasi antara kelimpahan dan distribusi horizontal Chrysophyta dengan faktor fisika dan kimia perairan di Waduk Penjalin.
Merujuk uraian permasalahan tersebut, terdapat tiga tujuan dalam penelitian ini yaitu :
1. Mengetahui kelimpahan dan distribusi horizontal Chrysophyta serta faktor fisika dan kimia perairan Waduk Penjalin,
2. Mengetahui tingkat kesamaan antarstasiun berdasarkan kelimpahan, distribusi horizontal Chrysophyta, serta faktor fisika dan kimia perairan,
3. Mengetahui korelasi antara kelimpahan dan distribusi horizontal Chrysophyta dengan faktor fisika dan kimia perairan di Waduk Penjalin.
Urgensi penelitian yang dilakukan adalah database untuk monitoring kelimpahan, distribusi horizontal Chrysophyta, serta faktor fisika dan kimia perairan yang bermanfaat dalam menunjukkan dinamika kesuburan perairan, yang selanjutnya dapat menjadi informasi dasar untuk meningkatkan hasil bidang perikanan di Waduk Penjalin.