• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN PPKn DENGAN PENERAPAN MODEL LEARNING TOGETHER PADA SISWA KELAS VI SDN WONOSARI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN PPKn DENGAN PENERAPAN MODEL LEARNING TOGETHER PADA SISWA KELAS VI SDN WONOSARI"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Meningkatkan Prestasi… (Sumini, 79-85) 79

MENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN PPKn DENGAN PENERAPAN MODEL LEARNING

TOGETHER PADA SISWA KELAS VI SDN 056615 WONOSARI

Sumini, S.Pd.SD SDN 056615 Wonosari [email protected]

Abstrak

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di kelas VI SDN 056615 Wonosari. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang diperoleh siswa Kelas VI SDN 056615 Wonosari. Dari jumlah siswa 20 orang yang mengikuti post test pada bahan ajar Hak Azasi Manusia dengan pembelajaran model cooperative learning hanya 9 orang yang dapat dinyatakan lulus (45%) dan sisanya 11 orang dinyatakan belum lulus (55%). Prosentase kelulusan berdasarkan ketuntasan kriteria minimum tersebut jauh dari prosentase ideal 80%. Bahkan prosentase kelulusan tersebut ternyata lebih kecil daripada prosentase ketidaklulusan. Oleh karena itu, untuk kasus tersebut diadakan remedial klasikal. Hasil siklus pertama menunjukkan bahwa 14 siswa memperoleh nilai minimal 78 (70%), dan pada siklus kedua 18 siswa memperoleh nilai minimal 78 (90%). Pada siklus ketiga yang menitikkberatkan pengamata motivasi belajar membuktikan bahwa motivasi belajar siswa tinggi yang terlihat dari keaktifan siswa mengikuti setiap kegiatan pembelajaran.

Kata Kunci: hasil belajar, model pengajaran learning together, PPKn Abstract

This classroom action research with 3 cycles was conducted in the sixth grade SDN 056615 Wonosari. The background was based on the students’ low achievement in relation to the minimum mastery learning (KKM). Out of 20 students taking post test on teaching materials of Human Rights with cooperative learning model only 9 students passed (45%) and the remaining 11 students did not pass (55%). The percentage is far from ideal percentage 80% at least score 78. Even the percentage of those who passed was smaller than the fail ones. The result of the first cycle showed that 14 students obtained at least 78 (70%), and in the second cycle 18 students achieved 78 (90%) respectively. The third cycle focusing on the learning motivation represented the students’ high learning motivation from the students’ active participation throughout the learning process.

Keywords: learning achievement, learning together model, Civics A. PENDAHULUAN

Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, khususnya dalam pembelajaran PKn, guru mengalami kesulitan dalam mengembangkan model pembelajaran learning together. Ini pun terjadi di SDN 056615 Wonosari pada

(2)

Meningkatkan Prestasi… (Sumini, 79-85) 80 Kelas VI dari jumlah siswa 20 orang yang mengikuti post test pada materi Hak Azasi Manusia dengan pembelajaran learning together, hanya 9 orang yang lulus (45%) dan sisanya sekitar 11 orang belum lulus (55%).

Data tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar PKn pada kelas dapat dinyatakan belum tuntas.Ketidaktuntasan tersebut terlihat dari bukti prosentase kelulusan seluruh siswa hanya mencapai 45%. Prosentase tersebut jauh dari prosentase ideal 80%. Bahkan prosentase kelulusan tersebut ternyata lebih kecil daripada prosentase ketidaklulusan. Oleh karena itu, untuk kasus tersebut perlu diadakan remedial klasikal. Proses remedial klasikal dalam kasus ini penulis lakukan melalui kegiatan penelitian tindakan kelas.

Dalam rangka meningkatkan prosentase kelulusan atau hasil belajar siswa kelas VI tersebut, tentunya guru dituntut merancang model pembelajaran yang lebih tepat serta penerapan media pembelajaran yang variatif.Berdasarkan kenyataan itulah penulis (guru) mencoba mengadakan PTK melalui penerapan model pembelajaran learning together dengan media gambar.

Pembicaraan tentang pembelajaran tidak bisa dilepaskan dari istilah kurikulum dan pengertiannya. Secara singkat hubungan keduanya dapat dipahami sebagai berikut: pembelajaran merupakan wujud pelaksanaan (implementasi) kurikulum atau pembelajaran ialah kurikulum dalam kenyataan implementasinya.

Munandir (2000:255) memberikan batasan mengenai pembelajaran sebagai berikut “pembelajaran ialah hal membelajarkan, yang artinya mengacu ke segala daya upaya bagaimana membuat seseorang belajar, bagaimana menghasilkan peristiwa belajar di dalam diri orang tersebut”.

Slavin (2008) mengungkapkan bahwa David dan Roger Johnson dari Universitas Minnesota mengembangkan model Learning Together dari pembelajaran kooperatif (Jhonson and Jhonson 1987; Jhonson dan Jhonson & Smith, 1991).

Model yang mereka teliti melibatkan siswa yang dibagi dalam kelompok yang terdiri atas empat atau lima siswa dengan latar belakang berbeda mengerjakan lembar tugas. Kelompok-kelompok ini menerima satu lembar tugas, menerima pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok. Model ini menekankan pada empat unsur yakni :

1) Interaksi tatap muka: para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan empat sampai lima siswa.

2) Interdependensi positif : para siswa bekerja bersama untuk mencapai tujuan. 3) Tanggung jawab individual: para siswa harus memperlihatkan bahwa

mereka secara individual telah menguasai materinya.

4) Kemampuan-kemampuan interpersonal dan kelompok kecil: para siswa diajari mengenai sarana-sarana yang efektif untuk bekerja sama dan mendiskusikan seberapa baik kelompok mereka bekerja dalam mencapai tujuan.

Dalam hal ini penggunaan kelompok pembelajaran heterogen dan penekanan terhadap interdependensi positif, serta tanggung jawab individual metode-metode Johnson ini sama dengan STAD. Akan tetapi, mereka juga menyoroti perihal pembangunan kelompok dan menilai sendiri kinerja kelompok, dan merekomendasikan penggunaan penilaian tim ketimbang pemberian sertifikat atau bentuk rekognisi lainnya (Slavin, 2008).

(3)

Meningkatkan Prestasi… (Sumini, 79-85) 81 Pada pembelajaran kooperatif tipe LT setiap kelompok diharapkan bisa membangun dan menilai sendiri kinerja kelompok mereka.Masing-masing kelompok harus bisa memperlihatkan bahwa kelompok mereka adalah kelompok yang kompak baik dalam hal diskusi maupun dalam hal mengerjakan soal, setiap anggota kelompok harus bertanggung jawab atas hasil yang mereka peroleh. Jika hasil tersebut belum maksimal atau lebih rendah dari kelompok lain maka mereka harus meningkatkan kinerja kelompoknya.

Adapun sintaks dari LT adalah: 1) Guru menyajikan pelajaran.

2) Membentuk kelompok yang anggotanya 4 sampai 5 siswa secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan lain-lain).

3) Masing-masing kelompok menerima lembar tugas untuk bahan diskusi dan menyelesaikannya.

4) Beberapa kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya.

5) Pemberian pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok. Bentuk penghargaan yang diberikan kepada kelompok didasarkan pada pembelajaran individual semua anggota kelompok, sehingga dapat meningkatkan pencapaian siswa dan memiliki pengaruh positif pada hasil yang dikeluarkan (Slavin, 2008).

B. METODE PENELITIAN 1. Setting Penelitian

Setting penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut: 1) Lokasi Penelitian :SDN 056615 Wonosari

2) Subyek Penelitian (sample) : Siswa Kelas VII 6 2. Persiapan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, oleh karenanya penelitian ini tidak direncanakan sejak awal, tetapi baru direncanakan setelah hasil dari proses belajar mengajar dirasakan adanya masalah (kurang memuaskan). 3. Siklus Penelitian

Jumlah siklus dalam PTK ini tidak ditentukan sejak awal, tetapi sangat dipengaruhi oleh data yang diperoleh dari hasil analisisnya.Apabila data yang diperoleh sudah memuaskan untuk menjawab permasalahan penelitian, maka siklus penelitian dianggap selesai.

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi dan catatan data lapangan, wawancara, hasil tes dan catatan hasil refleksi/diskusi yang dilakukan oleh peneliti danmitra peneliti.Penentuan teknik tersebut didasarkan ketersediaan sarana dan prasarana dan kemampuan yang dimiliki peneliti dan mitra peneliti.

5. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam PTK ini dilakukan sejak awal, artinya analisis data dilakukan tahap demi tahap atau siklus demi siklus. Hal ini sesuai dengan pendapat Miles dan Huberman dalam Rochiati Wiriaatmaja (2005:139) bahwa

(4)

Meningkatkan Prestasi… (Sumini, 79-85) 82 ….”the ideal model for data collection and analysis is one the interweaves them form the beginning”. Ini berarti model ideal dari pengumpulan data dan analisis data adalah yang secara bergantian berlangsung sejak awal

Tabel 1 Contoh Matrik Analisis Data Siklus Ke… Teknik

Pengumpulan Data

Deskripsi Pelaksanaan dan Hasil yang Diperoleh

Analisis – Refleksi Observasi

Wawancara Hasil Tes

Kolom deskripsi pelaksanaan dan hasil yang diperoleh akan diisi data deskripsi pelaksanaan kegiatan obersvasi itu sendiri (terutama hambatan-hambatan dalam pelaksanaannya) dan diisi dengan data hasil dari pelaksanaan kegiatan pengumpulan data dengan teknik tersebut. Sedangkan kolom analisis refleksi diisi dengan data hasil refleksi analisis yang dilakukan melalui kegiatan diskusi antara peneliti dan mitra peneliti.

C. HASIL dan PEMBAHASAN 1. Hasil Penelitian

a. Siklus I.

Hasil analisis data yang diperoleh pada siklus 1 terangkum pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2 Hail Analisis Data Siklus ke-1 Teknik

Pengumpulan data Deskripsi Pelaksanaan dan Hasil yang Diperoleh

Wawancara Umumnya responden menyatakan bahwa kegiatan

pembelajaran seperti ini membuat mereka termotivasi, namun kadang timbul ketegangan dan rasa takut untuk

ditanya. Ketakutan itu disebabkan mereka tidak

mempersiapkan sebelumnya permasalahan atau materi pelajaran yang sedang dipelajari.

Hasil tes Dari jumlah siswa 20 orang, dengan criteria ketuntasan

belajar 78, 14 orang telah mencapai batas kelulusan (nilai di atas atau sama dengan 78), sedangkan sisanya masih memiliki nilai di bawah batas kelulusan.

Kesimpulan sementara dari hasil analisis data tersebut adalah:

1) Dilihat dari sisi proses dan hasil pembelajaran telah menunjukkan aktivitas peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa.

2) Dilihat dari segi guru itu sendiri terlihat adanya suatu proses optimalisasi tugsa dengan memberikan pembelajaran yang sebaik-baiknya.

Ada beberapa hal yang perlu peningkatan diantaranya:

1) Perlunya pemberian reward atau penguatan guna peningkatan motivasi belajar siswa.

(5)

Meningkatkan Prestasi… (Sumini, 79-85) 83 2) Siswa sebaiknya diberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas seminggu

sebelumnya atau pertemuan sebelumnya. b. Siklus 2

Pembelajaran pada siklus ini menggunakan RPP yang telah dibuat berdasarkan kesepakatan hasil refleksi pada siklus pertama.

Tabel 3 Hail Analisis Data Siklus ke-2 Teknik

Pengumpulan Data Deskripsi Pelaksanaan dan Hasil yang Diperoleh

Wawancara Sebagian besar responden menyatakan bahwa kegiatan

pembelajaran seperti ini menyenangkan dan membuat mereka termotivasi, walaupun motivasi mereka masih bersifat motivasi eksternal yakni ingin mendapat nilai yang lebih baik.

Hasil tes Dari jumlah 20 orang, dengan kriteria ketuntasan belajar

nilai 78, 18 orang telah mencapai batas kelulusan, sedangkan sisanya masih memiliki nilai di bawah batas kelulusan.

Kesimpulan sementara yang dapat diperoleh dari hasil analisis data tersebut adalah bahwa:

1) Dilihat dari segi proses pmebelajaran, tampak bahwa kegiatan pembelajaran sudah cukup efektif terhadap peningkatan hasil belajar siswa.

2) Dilihat dari segi siswa terlihat adanya peningkatan motivasi dan hasil belajar.

3) Dilihat dari segi guru, terlihat adanya peningkatan keterampilan mengajar dan kemampuan mengelola kelas secara keseluruhan.

Beberapa hal yang masih perlu mendapat perhatian guru dalam kegiatan pembelajaran, diantaranya:

1) Penjelasan adanya penilaian proses perlu disampaikan kepada siswa. 2) Media dalam bentuk gambar dapat dibuat dengan gambar bergerak (video)

yang dilengkapi dengan pertanyaan-pertanyaan pengarah. 3) Peningkatan motivasi belajar siswa perlu terus diupayakan.

Siklus ke 2 ini dilanjutkan dengan siklus 3 yang berfokus kepada motivasi belajar siswa terhadap pelaksaan pembelajaran dengan model Learning Together. RPP yang digunakan pada siklus ini memperhatikan masukan-masukan yang diperoleh pada siklus sebelumnya. Berdasarkan hasil observasi, motivasi siswa pada siklus 3 ini meningkat. Ditandai dengan keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Ini disebabkan ketertarikan siswa terhadap bentuk kegiatan pembelajaran yang diterapkan

2. Pembahasan

Berdasarkan observasi dan data lapangan hasil analisis data pada siklus 1 yang diperoleh deskripsi pelaksanaan dan hasil yang diperoleh bahwa pelaksanaan

(6)

Meningkatkan Prestasi… (Sumini, 79-85) 84 observasi dilakukan oleh mitra peneliti. Hasil yang diperoleh, yakni sebagian besar siswa terlihat aktif mengikuti kegiatan pembelajaran karena guru melakukan KBM yang dapat memberdayakan kemampuan siswa sendiri (lihat lampiran catatan lapangan). Keaktifan sebagian siswa itu dalam kegiatan pembelajaran, terlihat dari kegiatan terhadap media pembelajaran yang disajikan, serta dalam kegiatan membuat pertanyaan temannya. Sekalipun keaktifan pada sebagian siswa sudah tampak, namun kualitas jawaban sebagian siswa masih kurang baik.

Media pembelajaran yang dibuat cukup bervariatif dan mudah dipahami anak. Perlunya peningkatan motivasi belajar siswa melalui pemberian reward kepada siswa baik berupa kata-kata maupun bentuk lain.

Refleksi dilakukan dengan cara diskusi antara peneliti dengan mitra peneliti. Diskusi ini membicarakan data yang diperoleh melalui observasi (data lapangan), wawncara dan nilai tes. Hasil refleksi pada tahap ini menyimpulkan bahwa kualitas pembelajaran masih perlu ditingkatkan melalui penyajian pertanyaan sebaik menggunakan bahasa yang lebih ringan, dalam artian mudah dipahami siswa. Perlunya pemberian reward atau penguatan guna peningkatan motivasi belajar siswa. Siswa sebaiknya diberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas seminggu sebelumnya atau pada pertemuan sebelumnya.

Berdasarkan observasi dan data lapangan hasil analisis data pada siklus 2 yang diperoleh deskripsi pelaksanaan dan hasil yang diperoleh bahwa pelaksanaan observasi dilakukan oleh mitra peneliti. Hasil yang diperoleh yakni sebagian besar siswa terlihat aktif mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal ini karena guru melakukan KBM yang dapat memberdayakan melalui kegiatan yang menarik perhatian. Kegiatan Tanya jawab dan analisis terhadap media pembelajran yang disajikan dikaitkan dengan materi pembelajaran memperlihatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Pemilihan media gambar selain sangat disenangi siswa juga memperlihatkan usaha guru untuk mencoba melibatkan siswa yang memiliki latar belakang prestasi yang kurang baik dalam pembelajaran. Reward atau penguatan tampak sudah diberikan oleh guru guna peningkatan motivasi belajar siswa. Hal yang masih tampak kurang maksimal pada siklus ini adalah: tidak adanya penjelasan tentang adanya penilaian proses kepada siswa, walaupun kegiatan tersebut telah dilakukan oleh guru. Waktu pelaksanaan kegiatan belajar belum sesuai dengan rencana.

Sementara itu, hasil refleksi yakni dari hasil kegiatan diskusi antara peneliti dan mitra peneliti menyimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran sudah efektif terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Selain itu, guna kegiatan pembelajaran yang lebih optimal hasil refleksi juga mencatat beberapa hal penting yang perlu diperhatikan guru diantaranya; penjelasan adanya penilaian proses perlu disampaikan kepada siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa betul-betul serius dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Peningkatan motivasi belajar siswa perlu terus diupayakan.

Pada siklus 3 yang menitikberatkan pengamatan pada motivasi belajar siswa yang dilakukan oleh mitra peneliti, hasil yang diperoleh pada umumnya siswa aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran. Ketertarikan siswa terhadap bentuk kegiatan pembelajaran terlihat pada kegiatan menganalisis yang ada kaitannya dengan materi pembelajaran. Motivasi siswa mengikuti pelajaran tampak pada keseriusan siswa dalam mengerjakan tugas dan menjawab

(7)

Meningkatkan Prestasi… (Sumini, 79-85) 85 pertanyaan yang diberikan guru ketika diadakan pembahasan hasil pekerjaannya dengan model learning together.

Berdasarkan hasil refleksi yakni dari hasil kegiatan diskusi antara peneliti dan mitra peneliti menyimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran dengan metode learning together yang telah dipraktekan dalam kegiatan penelitian ini ternyata telah memberikan dampak yang efektif terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Oleh karena, kegiatan pembelajaran sudah dianggap optimal maka berdasarkan hasil refleksi kegiatan penelitian ini dianggap selesai.

D. PENUTUP

Hasil pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang berlangsung dalam 3 (tiga) siklus penelitian dapat disimpulkan: 1) 2) Selama berlangsung PTK, upaya penerapan Model Pembelajaran Learning Together dengan media gambar telah dikelola dengan baik; 3) Kegiatan pembelajaran dengan Model Pembelajaran Learning Together dengan variasi media yang dikelola dengan baik ternyata cukup efektif terhadap peningkatan hasil belajar siswa, dan 4) Media pembelajaran membuat karangan dan menggambar yang divariasikan dengan Model Pembelajaran Learning Together ternyata cukup efektif untuk menyampaikan materi Hak Azasi Manusia .

Berdasarkan simpulan dalam PTK siklus demi siklus perlu dilaksanakan dengan terencana untuk mengevaluasi keberhasilan kegiatan pembelajaran. Diharapkan agar metode learning together bisa diterapkan pada materi Hak Azasi Manusia untuk selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Adinawan, M. C. dan Sugiyono. 2000. Matematika untuk SMP Kelas IX. Jakarta: Erlangga.

Arikunto, S. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara. Budiningrati, H. 1998. Pengembangan Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe

JIGSAW Pada Pengajaran Fisika di SMU. Tesis. IKIP Surabaya.

Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Jaya Darsono, M. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Press.

Ibrohim, M. dkk. 2000.Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press Lie, A. 2002. Cooperative Learning, Mempraktekkan Cooperative Learning

diRuang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Gramedia.

Percivel, F. dan Ellington, H (terjemahan Sudjarwo). 1998. Teknologi Pendidikan. Jakarta: Erlangga.

Slavin, E. R. 1995. Cooperative Learning: theory, research, and practice. New Jersey: Prentice Hall.

Sudjana, Nana. 2001. Penilaian Hasil Dan Proses Hasil Belajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sudjana.1996. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito

Suherman, Erman dkk.1999. Strategi Belajar dan Pembelajaran Matematika. Surabaya: UNESA University Press.

Gambar

Tabel 2 Hail Analisis Data Siklus ke-1  Teknik
Tabel 3 Hail Analisis Data Siklus ke-2  Teknik

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menjelaskan bahwa proses pengendalian kualitas terhadap peralatan yang digunakan dalam produksi kendaraan roda empat di lakukan secara pengambilan sample dan

Hasil penelitian dan pengujian generator HHO tipe basah ini didapatkan generator terbaik pada ketebalan elektroda 1 mm diperoleh data hasil pengujian dengan daya

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian bakteri probiotik SKT-b melalui Artemia dengan dosis yang berbeda pada pascalarva udang windu dapat meningkatkan

Hasil uji mikrobiologi pada air kran, bumbu giling, dan daging ayam pada setiap tahapan proses pembuatan pangan siap saji berbasis daging ayam sebelum diiradiasi dan

Berdasarkan Tabel 3 skor rata-rata hasil belajar siswa berkemampuan akademik tinggi yang belajar strategi pembelajaran CSM sebesar 78,514, lebih tinggi 5,92% dari rata-rata

1. Perilaku Konsumtif belanja online mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik tercermin pada perilaku yang menunjukkan adanya, a) Belanja untuk menjaga

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN INTERIM NOTES TO INTERIM CONSOLIDATED FINANCIAL STATEMENTS 30 September 2017 dan 31 Desember 2016 September 30, 2017 and December 31,

Jadual 4 menunjukkan dengan jelas keperluan sumber yang diperlukan seperti bilangan doktor, bilangan jururawat, jumlah katil mengikut kategori pesakit yang diramalkan oleh model