BAB I PENDAHULUAN. Pelindo II (Persero) yang mana PT Pelindo II (Persero) sendiri merupakan

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

PT Pelindo II (Persero) Cabang Cirebon adalah salah satu cabang dari PT Pelindo II (Persero) yang mana PT Pelindo II (Persero) sendiri merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sahamnya sepenuhnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia sebagaimana termuat dalam Akta Pendirian Nomor 3 tanggal 1 Desember 1992, sebagaimana diubah dengan Akta Nomor 4 tanggal 5 Mei 1998 yang keduanya dibuat oleh Imas Fatimah, SH., Notaris di Jakarta serta telah disetujui oleh Menteri Kehakiman RI dengan Surat Keputusan Nomor C2-17612-HTO1O1TH.98 tanggal 6 Oktober 1998. Perubahan Anggaran Dasar Perusahaan terakhir adalah berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham yang dituangkan dalam Akta Notaris No. 2 dari Notaris Agus Sudiono Kuntjoro, SH., tanggal 15 Agustus 2008 jo. Akta Nomor 3 tanggal 30 Juli 2009. Perubahan Anggaran Dasar tersebut telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.1

PT Pelindo II (Persero) Cabang Cirebon juga sebagai Badan Usaha Pelabuhan (BUP) yang salah satu kegiatan di Pelabuhan Cirebon adalah melakukan Bongkar Muat Batubara dan hal ini sejalan dengan ketentuan Pasal 90 ayat 3 huruf g UU Nomor 17 tahun 2008, yang menyebutkan:

      

(2)

“Penyediaan dan/atau pelayanan jasa kapal, penumpang, dan barang sebagaimana dimaksud pada ayat 2 terdiri atas :

g. Penyediaan dan/atau pelayanan jasa bongkar muat barang “

Aktifitas atas usaha bongkar muat batu bara yang dilakukan oleh PT Pelindo II Cabang Cirebon, juga diirngi dengan adanya penarikan tarif kontribusi pelayanan bongkarmuat batubara kepada para pelaku usaha lainnya sebagai bagian dari kegiatan PT Pelindo II Cabang Cirebon yang bertindak selaku Badan Usaha Pelabuhan (BUP).

Penarikan tarif kontribusi atas pelayanan bongkar muat oleh PT Pelindo II Cabang Cirebon dimaksudkan untuk memberikan peningkatan pendapatan dan guna mempertahankan kelangsungan kegiatan pelayanan jasa kepelabuhan di pelabuhan Cirebon. 2

Kegiatan penentuan tarif kontribusi pelayanan bongkarmuat batubara di Pelabuhan Cirebon tentunya harus sejalan dengan ketentuan yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan khusunya tentang jenis, struktur dan penggolongan tarif serta kesepakatan yang dibuat pun tidak boleh bertentangan dengan Undang-undang Nomor 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

Ketentuan peraturan perundang-undangan baik dalam Undang-undang nomor 21 tahun 1992 sebagaimana yang telah di ubah dengan undang-undang nomor 17 tahun 2008 tentang pelayaran, peraturan-peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 2001 sebagaimana juga telah diubah dengan Peraturan Pemerintah

      

(3)

nomor 61 tahun 2008 tentang Kepelabuhan serta Peraturan Menteri Perhubungan atau keputusan menteri perhubungan wajib menjadi Pedoman bagi PT Pelindo II Cabang Cirebon dalam melakukan setiap aktifitasnya khusunya terkait penarikan tarif begitu pula dengan kesepakatan-kesepakatan yang dibuat dengan mitra bisnis ataupun pelaku usaha lainnya tentunya juga harus sejalan dengan semangat UU nomor 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 sendiri secara juridis memiliki keterkaitan yang erat dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (yang selanjutnya disebut UUD 1945), khususnya dengan Pasal 33 UUD 1945. Hal tersebut tidak hanya tercermin pada bagian Mengingat Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, melainkan juga tercermin dalam ketentuan Pasal 3 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 yang menyebutkan tentang Tujuan pembentukan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999.

Pasal 33 UUD 1945 merupakan dasar acuan normatif guna menyusun kebijakan perekonomian nasional yang mana dalam pasal 33 UUD 1945 menjelaskan bahwa pembangunan ekonomi berdasarkan demokrasi yang bersifat kerakyatan dengan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia melalui pendekatan kesejahteraan dan mekanisme pasar. 3Sejalan dengan Pasal 33 UUD

Negara RI Tahun 1945 tersebut, Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 dalam

      

3 Sirait, 2011, “Hukum Persaingan di Indonesia UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktek

(4)

Pasal 3 juga mengatur mengenai kegiatan ekonomi, dibentuk dengan tujuan untuk4:

a. Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat;

b. Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil;

c. Mencegah praktek monopoli, dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha; dan

d. Terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha.

Dengan adanya Undang-undang Nomor 5 tahun 1999 ini dimaksudkan untuk memberikan jaminan kepastian hukum dan perlindungan yang sama kepada setiap pelaku usaha dalam berusaha, dengan cara mencegah timbulnya praktik-praktik monopoli dan/atau persaingan usaha yang tidak sehat lainnya dengan harapan dapat menciptakan iklim usaha yang kondusif, dimana setiap pelaku usaha dapat bersaing secara wajar dan sehat.5

      

4 Usman, , 2013, “Hukum Persaingan usaha di Indonesia”, Sinar Grafika, Jakarta, hal 90-91. 5Meyliana, 2013, “Hukum Persaingan Usaha Studi Konsep Pembuktian Terhadap Perjanjian Penetapan Harga dalam Persaingan Usaha”, Setara Press, Malang, hal 15-16.

(5)

UU Nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat secara garis besar dapat dikelompokan menjadi 3 yakni 6:

1. Perjanjian yang dilarang (Pasal 4 sampai dengan Pasal 16); 2. Kegiatan yang dilarang (Pasal 17 sampai dengan Pasal 24); 3. Posisi Dominan (Pasal 25 sampai dengan Pasal 29).

Secara garis besar tindakan- tindakan tertentu tersebut dapat digolongkan dalam dua katagori, yaitu pertama, tindakan yang dilakukan dalam rangka kerjasama dengan sesama pelaku usaha ekonomi dan kedua tindakan atau perbuatan hukum yang dilakukan oleh pelaku usaha dan atau kelompok pelaku usaha tersebut tanpa melibatkan pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha lain. 7

Berikut dapat diuraikan bentuk-bentuk perjanjian yang dilarang, kegiatan yang dilarang dan posisi Dominan yang dilarang dalam Undang-undang nomor 5 tahun 1999, sebagaimana yang terurai dibawah ini 8 :

a. Perjanjian yang dilarang, diantaranya adalah : 1. Perjanjian Oligopoli (Pasal 4);

2. Perjanjian Penetapan Harga ( Pasal 5); 3. Perjanjian Diskriminasi Harga (Pasal 6);

4. Perjanjian Penetapan Harga di Bawah Harga Pasar (Pasal 7); 5. Perjanjian Penjualan Kembali Dengan Harga Terrendah (Pasal 8); 6. Perjanjian Pembagian Wilayah Pasar (Pasal 9);

      

6 Usman Op Cit, hal 120. 7 Ibid, hal 102

(6)

7. Perjanjian Pemboikotan (Pasal 10); 8. Perjanjian Kartel (Pasal 11); 9. Perjanjian Trust (Pasal 12); 10. Perjanjian Oligopsoni (Pasal 13); 11. Perjanjian Integrasi Vertikal (Pasal 14); 12. Perjanjian Tertutup (Pasal 15);

13. Perjanjian Dengan Pihak Luar Negeri (Pasal 16). b. Kegiatan yang dilarang, diantaranya adalah :

1. Kegiatan Monopoli, (Pasal 17); 2. Kegiatan Monopsoni, (Pasal 18)

3. Kegiatan Pengusaan Pangsa Pasar, (Pasal 19) - Menolak dan atau menghalangi Pasar - Menghalango konsumen pesaing

- Membatasi peredaran dan atau penjualan produk - Diskriminasi terhadap pelaku usaha tertentu 4. Kegiatan Jual Rugi (Dumping), (Pasal 20) 5. Kegiatan manipulasi biaya, (Pasal 21)

6. Kegiatan persekongkolan, (Pasal 22, 23 dan 24); - Tender

- Rahasia perusahaan

(7)

c. Posisi Dominan yang dilarang, diantaranya adalah : 1. Penyalahgunaan Posisi Dominan, (Pasal 25); 2. Jabatan Rangkap, (Pasal 26);

3. Pemilik Saham Mayoritas, (Pasal 27);

4. Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan (Pasal 28 dan Pasal 29). Penetapan harga (price fixing) antar pelaku usaha dilarang oleh Pasal 5 dari undang-undang anti monopoli, sebab penetapan harga secara bersama-sama dikalangan pelaku usaha selanjutnya dapat menyebabkan tidak berlakunya hukum pasar mengenai harga yang terbentuk dari adanya penawaran dan permintaan.9

Kesepakatan bersama yang dibuat antara PT Pelindo II Cabang Cirebon dengan perusahaan Bongkar Muat batu Bara atau pelaku usaha lainnya akan penulis dalami dari sudut pandang Penetapan harga sebagaimana ketentuan Pasal 5 ayat 1 Undang-undang nomor 5 tahun 1999 yang termasuk dalam bentuk perjanjian yang dilarang. Kesepakatan terkait aturan tentang Kontribusi tarif pelayanan bongkar muat batu bara apakah akan berdampak terhadap persaingan dalam penentuan tarif bongkar muat batu bara di pelabuhan Cirebon dan dapatkah pengenaan tarif kontribusi tersebut disepakati oleh para pelaku usaha sementara PT Pelindo II Cabang Cirebon berkedudukan sebagai Badan Usaha Pelabuhan.

      

(8)

1.2.Perumusan Masalah

Dalam penelitian ini akan dikemukakan perumusan masalah sebagai berikut:

1. Apakah Kesepakatan Bersama yang dibuat antara PT Pelindo II Cabang Cirebon dengan Organisasi Perusahaan Bongkar Muat (PBM) Batubara terkait penyesuaian tarif kontribusi pelayanan bongkar muat batu bara telah sesuai dengan kedudukan PT Pelindo II Cabang Cirebon sebagai Badan Usaha Pelabuhan?

2. Bagaimana Kedudukan Kesepakatan Bersama terkait penyesuaian tarif kontribusi pelayanan bongkar muat batu bara ditinjau dari ketentuan Pasal 5 ayat 1 UU Nomor 5 tahun 1999?

1.3.Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui kesesuaian Kesepakatan Bersama yang dibuat antara PT Pelindo II Cabang Cirebon dengan Organisasi Perusahaan Bongkar Muat (PBM) Batubara terkait penyesuaian tarif kontribusi pelayanan bongkar muat batu bara dalam kedudukannya sebagai Badan Usaha Pelabuhan (BUP).

2. Untuk mengetahui kesesuaian kedudukan kesepakatan bersama atas penyesuaian tarif kontribusi pelayanan bongkar muat batu bara yang dibuat antara PT Pelindo II Cabang Cirebon dengan organisasi perusahaan

(9)

bongkar muat batubara ditinjau dari ketentuan Pasal 5 ayat 1 UU nomor 5 tahun 1999 .

1.4.Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk :

1. Secara teoritis, sebagai sumbangan pemikiran bagi pengembangan disiplin ilmu yaitu Ilmu Hukum pada umumnya dan khususnya Hukum Bisnis. 2. Secara praktis, sebagai bahan yang dapat memberikan sumbangan

pemikiran bagi para pengambil keputusan pada instansi, organisasi, perusahaan, badan usaha terkait baik swasta maupun pemerintah dalam menentukan kebijakan yang berhubungan dengan perjanjian-perjanjian, kontrak-kontrak bisnis, yang berkaitan dengan praktek monopoli atau kegiatan yang dilarang dan persaingan tidak sehat dalam masyarakat industri serta yang berkaitan dengan Penetapan Harga yang termasuk dalam perjanjian yang dilarang UU Nomor 5 tahun 1999.

3. Sumbangan pemikiran dan bahan informasi bagi para peminat atau peneliti khususnya mengenai Hukum Persaingan Usaha untuk memperdalam penelitian ini.

(10)

1.5.Keaslian Penelitian

Penelitian berjudul “Kesepakatan Bersama atas penyesuaian tarif

kontribusi pelayanan bongkar muat batubara ditinjau dari Kedudukan PT Pelindo II Cabang Cirebon dan UU Nomor 5 tahun 1999”, berdasarkan

penelusuran kepustakaan terdapat peneliti yang melakukan penelitian mengenai perjanjian penetapan harga, yakni tesis yang disusun oleh Devi Meyliana S.K.,S.H.,M.H. dari Fakultas Hukum Program Pascasarjana Universitas Indonesia dengan judul Analisa Yuridis Pembuktian Perjanjian

Penetapan harga dalam hukum persaingan usaha (Studi terhadap putusan-putusan KPPU tentang Perjanjian Penetapan harga), namun terdapat

perbedaan penelitian, Penulis lebih meneliti terkait Kedudukan suatu badan Usaha dalam suatu Perjanjian serta meneliti apakah kesepakatan bersama yang dibuat sesuai dengan ketentuan Pasal 5 ayat 1 UU Nomor 5 tahun 1999, yang mana terhadap kesepakatan bersama belum pernah di uji dan di putus oleh KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) maupun oleh Pengadilan sementara Penulis atas nama Devi Meyliana S.K.,S.H.,M.H. meneliti Penetepan Harga dari sisi pembuktian atas kasus-kasus yang telah mendapat putusan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :