Mencegah
Korupsi:
Penyimpangan
dalam Penerimaan
Negara dari PNBP
dan Cukai
Oleh: Misbah Hasan
1 .7 3 8 1 .6 6 6 ,3 8 1 .8 9 5 1 .9 4 3 ,6 7 2 .1 6 5 1 .9 6 1 2 .2 3 2 ,7 0 1 6 9 9 ,9 1 6 3 3 ,6 1 .7 4 4 2 .0 7 0 2 .0 0 7 ,3 5 2 .2 2 1 2 .2 1 3 ,1 2 2 .4 6 1 2 .3 0 9 2 .5 4 0 ,4 2 2 .7 3 9 2 5 8 9 ,9 2 .7 5 0 -1.500 -1.000 -500 0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 M R M R M R M A P B N P R s e me n ta ra M 2017 2018 2019 2020 2021 T ri lli u n R p
Postur APBN 2017-2021
Pendapatan Belanja Defisit
Sumber : Kemenkeu, 2021 2,41% 2,51% 2,19% 1,82% 1,84% 2,20% 1,76% 6,34% 6,09% 5,7% -333 -341 -326 -269 -296 -349 -308 -1.039 -956 -1.006 -1.200 -1.000 -800 -600 -400 -200 0 M R M R M R M AP BN P R Se me nt ar a M 2017 2018 2019 2020 2021 0,00% 1,00% 2,00% 3,00% 4,00% 5,00% 6,00% 7,00% Tr ill iun Rp
Defisit APBN Tahun 2017-2021
Defisit % Defisit
• 2020, Defisit Anggaran terkoreksi semakin dalam dari –Rp307,2 T (1,8 thpPDB) menjadi–Rp1.029,2 triliun(6,34 thpPDB).
• Optimalisasi pendapatan negara dan efisisensi belanja k/l belum tercermin pada skema ini, hal ini terlihat dari tingginya SILPA sebesar Rp234,7 trilliun pada realisasi sementara APBN 2020;
• Potensi Korupsi Pendapatan: MarkDown; Penggelapan Potensi Korupsi Belanja: MarkUp; & Belanja Fiktif.
Postur APBN 2017-2021
Praktik Korupsi Perpajakan
Praktik Korupsi Perpajakan:
1. Jual Beli posisi “Basah” di Ditjen Pajak yang dilakukan oleh Bagian Personalia. Pola ini turut mendukung budaya korupsi di institusi perpajakan.
2. Pemerasan petugas pajak kepada wajib pajak sebagai “Uang Lelah” jasa pengurusan administrasi perpajakan;
3. Pengemplangan Pajak. Praktiknya “Suap” WP kepada Petugas Pajak. Ex: Suap kepada Kepala Kanwil Pajak Jakarta Khusus (Ditjen Pajak) oleh PT. Eka Prima Ekspor Indonesia. Nilai suap Rp6 Milyar untuk mencabut Surat Tagihan Pajak dari Pajak Pertambahan Nilai Barang Ekspor & Bunga Tagihan Tahun 2014-2015 senilai Rp78 Milyar.
Penerimaan Negara Bukan Pajak
(PNBP)
adalah pungutan yang dibayar
oleh orang pribadi atau badan dengan
memperoleh manfaat langsung maupun
tidak langsung atas layanan atau
pemanfaatan sumber daya dan hak yang
diperoleh negara, berdasarkan peraturan
perundang-undangan, yang menjadi
penerimaan Pemerintah Pusat di luar
penerimaan perpajakan dan hibah dan
dikelola dalam mekanisme anggaran
pendapatan dan belanja negara
Definisi
cukai
Cukai
adalah pungutan negara yang
dikenakan terhadap barang-barang
tertentu karena mempunyai sifat
konsumsi perlu dikendalikan, peredaran
diawasi, pemakaian mempunyai dampak
negatif kepada masyarakat atau
lingkungan hidup, atau barang yang perlu
dikenakan pungutan. Contoh : Etil
Alkohol, Minuman Mengandung Etil
Alkohol (Bir, Shandy, Anggur, Arak dll),
Hasil Tembakau seperti rokok (sigaret),
cerutu, Rokok Daun, Tembakau Iris.
Regulasi PBNP dan Cukai
Cukai diatur dalam:
• UU Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai
mencabut Undang-Undang Nomor 11 Tahun
1995 tentang Cukai.
PBNP diatur dalam:
• UU No. 9 tahun 2018 tentang Penerimaan
Negara Bukan Pajak mencabut
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang
Penerimaan Negara Bukan Pajak.
261,98 311,22 409,32 408,99 294,14 293,51 18,8% 31,5% -0,1% -28,1% -0,2% -0,4 -0,3 -0,2 -0,1 0 0,1 0,2 0,3 0,4 50,00 100,00 150,00 200,00 250,00 300,00 350,00 400,00 450,00 LKPP LKPP LKPP LKPP Outlook APBN 2016 2017 2018 2019 2020 2021
Tren PNBP dan Pertumbuhan 2016-2021
Nominal (Triliun Rp) Pertumbuhan (%)
KODE URAIAN AKUN UU APBN 2020 Perpres 54/2020 Perpres 72/2020 Selisih Revisi I
Selisih
Revisi II APBN 2021 PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK 366.995.145.278 297.755.472.298 294.140.953.906 -69.239.672.980 -72.854.191.372 298.204.166.025
A PNBP SUMBER DAYA ALAM (SDA) 160.358.258.585 82.225.908.748 79.086.884.879 -78.132.349.837 -81.271.373.706 104.108.834.374 SDA MIGAS 127.313.220.000 53.294.922.943 53.294.922.943 -74.018.297.057 -74.018.297.057 74.999.710.000 - Minyak Bumi 96.807.720.000 40.385.879.343 40.385.879.343 -56.421.840.657 -56.421.840.657 57.934.230.000 - Gas Bumi 30.505.500.000 12.909.043.600 12.909.043.600 -17.596.456.400 -17.596.456.400 17.065.480.000 SDA Non MIGAS 33.045.038.585 28.930.985.805 25.791.961.936 -4.114.052.780 -7.253.076.649 29.109.124.371 - Pertambangan Mineral dan Batu Bara 26.209.094.486 22.134.087.862 19.351.516.817 -4.075.006.624 -6.857.577.669 22.100.539.815 - Pendapatan Kehutanan 4.738.942.055 4.417.574.264 4.197.183.539 -321.367.791 -541.758.516 4.613.275.097 - Pendapatan Perikanan 900.354.236 900.354.236 900.354.236 0 0 957.190.166 - Pendapatan Pertambangan Panas Bumi 1.196.647.807 1.478.969.443 1.342.907.344 282.321.636 146.259.537 1.438.119.293
B PENDAPATAN DARI KEKAYAAN NEGARA
DIPISAHKAN (KND) 49.000.000.000 65.000.000.000 65.000.000.000 16.000.000.000 16.000.000.000 26.130.490.000 C PNBP LAINNYA 100.945.313.169 94.738.807.084 100.053.788.845 -6.206.506.085 -891.524.324 58.790.144.843
Data PNBP dan Cukai
Modus Korupsi PNBP
Praktik Korupsi PNBP SDA :
1. Adanya pungutan tanpa
adanya dasar hukum atau
pungutan liar (pungli),
2. Pajak terlambat atau tidak
disetor ke kas negara.
3. Penggunaan langsung PNBP,
dan
4. PNBP dikelola di luar
mekanisme APBN
5. Menyelundupan pajak cukai
Praktik Korupsi PNBP SDA :
1. Pemberian ijin Tambang,
Konservasi Hutan,
Perkebunan, dll yang
melanggar UU – praktiknya
melalui SUAP kepada Kepala
Daerah;
2. Potential Loss hasil hutan
(kayu), dll
3. Tidak disetor ke Kas Negara,
tapi dimasukkan (dulu) ke
Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
Pengelolaan penerimaan negara bukan pajak
(PNBP) di 36 kementerian dan lembaga (K/L)
minimal sebesar
Rp 352,38 miliar dan
US$ 78,07 juta
yang belum sesuai dengan
ketentuan.
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan
permasalahan ketidakpatuhan terhadap ketentuan
peraturan perundang-undangan pada pengelolaan
penerimaan negara bukan pajak (PNBP) oleh
pemerintah dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan
Semester (IHPS) I Tahun 2019.
Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
Temuan lain dari BPK RI atas PNBP yaitu:
1. Keterlambatan, atau kurang, atau tidak
dipungutnya PNBP ke kas negara sehingga
menyebabkan kerugian negara.
2. Terdapat pungutan yang belum
memiliki dasar hukum dan
digunakan langsung dengan total
penarikan mencapai Rp 28,81 miliar.
3. Penerimaan negara dari PNBP tidak optimal
karena tidak memiliki sistem pengawasan
yang handal
Temuan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC)
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mengungkap 57 kasus
penyelundupan mobil mewah dan 10 kasus untuk motor sepanjang
tahun 2019.
Angka tersebut melonjak tajam jika dibandingkan dengan tahun 2018
yang hanya terjadi penyelundupan mobil mewah sebanyak 7 unit dan
motor mewah sebanyak 127 unit.
Adapun potensi kerugian negara akibat penyelundupan
sepanjang 2019 tersebut diperkirakan mencapai Rp
647,5 miliar.
Sementara itu, Bea Cukai mencatat keseluruhan nilai
barang yang diselundupkan mencapai Rp 312,92 miliar untuk mobil, dan
Rp 10,83 miliar untuk motor.
Catatan riset FITRA Tahun 2018 terkait PNBP non-migas:
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor kehutanan hanya Provisi Sumber Daya
Hutan/PSDH dan Dana Reboisasi/DR yang
signifikan untuk dihitung, sementara yang lainnya sangat kecil. Besaran kontribusi PNBP ini pun
masih rendah dan fluktuatif. Di tahun 2015, besaran PNBP yang diperoleh hanya Rp4,2 triliun pedahal deforestasi/ eksplorasi hutan di tahun itu cukup besar yaitu mencapai 727,981.2 hektar per tahun. Salah satu modus yang banyak dipakai adalah perusahaan menggunakan izin operasi dengan status Hutan Tanaman Industri (HTI) namun beroperasi di kawasan hutan alam, sehingga
perusahaan tersebut tidak membayar PNBP Dana Reboisasi.
2. Sektor Perkebunan
Berdasarkan penelitian di 7 kabupaten, sektor perkebunan sebenarnya cukup berpotensi meningkatkan pendapatan daerah atau negara. Hanya saja tata kelola, monitoring, dan tidak transparan menyebabkan sulitnya menghitung dan mendapatkan besaran penerimaan negara yang sesungguhnya dari usaha
perkebunan.
Seperti contohnya di Kab. Kendal, ketika peneliti melakukan wawancara dan pengajuan permohonan data perusahaan sangat tertutup, selain itu lemahnya regulasi terkait pemungutan di sektor perkebunan juga menjadi penyebab minimnya pendapatan. Untuk pajak perijinan (HGU) per 1 Ha hanya sebesar Rp150.000 untuk 25 tahun.
Uraian
Laporan Realisasi APBN Sumber: LKPP 20162013 Realisasi 2014 Realisasi 2015 Realisasi 2016 Realisasi
II. Penerimaan Negara Bukan Pajak 354.751.889.117 398.590.523.613 255.528.476.434 261.976.344.626 1. Penghasilan Sumber Daya Alam 226.406.189.261 240.848.282.407 100.971.872.884 64.901.905.473 2. Bagian Pemerintah atas Laba BUMN 34.025.604.050 40.314.429.901 37.643.720.744 37.133.172.874 3. PNBP Lainnya 69.671.855.890 87.746.767.296 81.697.425.599 117.995.377.742 4. Pendapatan BLU 24.648.239.915 29.681.044.008 35.315.457.265 41.945.888.535
3. Sektor Perikanan:
Walaupun sektor perikanan masih sangat kecil berkontribusi terhadap pendapatan negara tetapi beberapa tahun ini kontribusinya terus meningkat. Penerimaan pajak mencapai Rp839,5 milyar (2016), atau hanya 0,01% dari total pajak. Sedangkan
penerimaan PNBP mencapai 362,11M (2016), atau hanya 0,14% dari total PNBP. Bahkan kontribusi sektor ini terhadap PDB mencapai 267,75Trilyun. Salah satu yang membuat sektor ini sangat minin berkontribusi adalah karena tarif retribusi izin yang diberlakukan sangat kecil, tapi pada pelaksanaannya nelayan harus membayar pungutan (liar) dengan jumlah yang cukup banyak. Hal ini karena proses perijinan dirasakan berbelit dan menyulitkan, serta biaya yang diinformasikan pada pengaju izin simpang siur tidak jelas.
Rekomendasi
Memperjelas regulasi
seperti aturan tarif,
penyetoran, dan batasannya
lebih detail kedalam PMK
agar meminimalisir praktek
pemburu rente.
Mendorong pengawasan
berbasis online dan
membuka informasi agar
meminimalisir kebocoran
pendapatan dan pungli.
Memperkuat kelembagaan di
Direktorat PNBP agar bisa
optimal dan melakukan
inovasi agar meningkatkan
pendapatan.
Terima kasih
Seknas FITRA:
Jl. Tebet Timur Dalam IXC No. 4 RT 012/RW 009 Tebet Timur, Kelurahan Tebet Timur Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan 12820.
Tele/fax: 021-7947608
Email :[email protected]