11
LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1 Pemahaman Perpajakan 2.1.1 Definisi Pajak
Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007 Pasal 1 ayat (1), memberikan definisi pajak : “Pajak merupakan kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Sementara itu, menurut Mardiasmo (2013:1) memberikan definisi pajak sebagai berikut : “Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.
Dalam bukunya Waluyo (2011:2) membahas pengertian pajak yang dilakukan oleh para ahli, salah satunya adalah Prof. Dr. P. J. A. Adriani mengatakan bahwa: “ Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh mereka yang wajib membayarkan menurut peraturan, tanpa mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang kegunaannya untuk membiayai pengeluaran umum terkait dengan tugas negara dalam menyelenggarakan pemerintahan”.
2.1.2 Fungsi Pajak
Menurut Mardiasmo (2013:1) pajak memiliki beberapa fungsi yaitu: 1. Fungsi budgetair
Pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran- pengeluaran diantaranya untuk membiayai pembangunan jalan, jembatan, rumah sakit, kantor polisi, belanja pegawai, dll.
2. Fungsi regulered
Pajak digunakan sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dibidang sosial dan ekonomi. Sebagai contoh yaitu dikenakannya pajak yang lebih tinggi untuk minuman keras agar peredaran minuman keras dapat ditekan dan pajak yang tinggi untuk barang-barang mewah.
2.1.3 Sistem Pemungutan Pajak
Menurut Waluyo (2011:17) membagi sistem pemungutan pajak menjadi 3 yaitu :
1. Official Assessment System
Sistem ini merupakan sistem pemungutan pajak yang memberikan wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang. Ciri-ciri official assessment system :
a. Wewenang untuk menentukan besarnya pajak yang terutang berada pada fiskus.
b. Wajib Pajak bersifat pasif.
c. Utang pajak timbul setelah dikeluarkan Surat Ketetapan Pajak (SKP) oleh fiskus.
2. Self Assessment system
Sistem ini merupakan pemungutan pajak yang memberi wewenang, kepercayaan, tanggung jawab kepada Wajib Pajak untuk menghitung, membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar.
3. Witholding System
Sistem ini merupakan sistem pemungutan pajak memberi wewenang kepada pihak ketiga untuk memotong atau memungut besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.
2.2 Definisi Kepatuhan Fiskus
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia dalam bukunya Siti Rahayu kurnia (2010:138), istilah kepatuhan berarti tunduk atau patuh pada ajaran atau aturan. Dalam perpajakan kita dapat memberi pengertian bahwa kepatuhan perpajakan merupakan ketaatan, tunduk dan patuh serta melaksanakan ketentuan perpajakan. Kepatuhan memenuhi kewajiban perpajakan dimana harus bertanggung jawab
menetapkan sendiri kewajiban perpajakannya dan kemudian secara akurat dan tepat waktu membayar serta melaporkan pajaknya tersebut.
Sedangkan fiskus merupakan petugas pajak yang berkewajiban melakukan pembinaan, penelitian dan pengawasan serta pemeriksaan kewajiban perpajakan Wajib Pajak berdasarkan ketentuan dalam perundang-undangan perpajakan. Jadi, kepatuhan fiskus itu merupakan kepatuhan pegawai pajak terhadap aturan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.
2.2.1 Kewajiban Fiskus
Dalam bukunya Wirawan B. Ilyas dan Richard Burton (2010:210) terdapat hak dan kewajiban fiskus, yakni:
Kewajiban Fiskus:
a. Kewajiban untuk membina Wajib Pajak.
Kewajiban fiskus untuk membina Wajib Pajak merupakan satu kewajiban yang sangat penting sekalipun sistem perpajakan yang dipakai sekarang adalah sistem self assesment. Suksesnya penerimaan pajak antara lain juga ditentukan melalui pembinaan yang dilakukan oleh fiskus. Pembinaan dapat dilakukan melalui berbagai upaya antara lain pemberian penyuluhan ketentuan perpajakan terbaru, pemberian pengetahuan perpajakan, baik melalui media massa maupun penerangan langsung kepada masyarakat. b. Kewajiban merahasiakan data Wajib Pajak.
Setiap petugas pajak, sesuai ketentuan Pasal 34 Undang-undang Ketentuan Umum Perpajakan, dilarang mengungkapkan kerahasiaan Wajib Pajak kepada pihak lain atas segala sesuatu yang menyangkut masalah data perpajakan. Masalah kerahasiaan data di bidang perpajakan merupakan hal yang sangat penting, karena data yang disampaikan oleh Wajib Pajak kepada fiskus bertalian erat dengan masalah data perusahaan, penghasilan, kekayaan, pekerjaan, dan data-data lainnya yang tidak boleh diketahui pihak lain. Kerahasiaan bertalian dengan data pribadi Wajib Pajak sehingga perlu dijaga informasinya oleh fiskus.
c. Kewajiban melaksanakan Putusan.
Putusan Pengadilan Pajak harus diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum. Putusan pengadilan pajak tersebut langsung dapat dilaksanakan dengan tidak memerlukan lagi keputusan pejabat yang berwenang kecuali peraturan perundang-undangan mengatur lain. Salinan putusan atau salinan penetapan tersebut akan dikirim kepada para pihak dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal putusan pengadilan pajak diucapkan atau dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sejak tanggal putusan setelah diucapkan. Sesuai Pasal 88 ayat (2) Undang-undang Pengadilan Pajak, Putusan Pengadilan Pajak harus dilaksanakan oleh pejabat yang berwenang dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal diterima putusan.
2.3 Etika
Menurut bukunya Rosady Ruslan (2008:31) etika (etimologi) berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu mos dan dalam bentuk jamaknya mores, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan) dan menghindari dari hal-hal tindakan yang buruk.
Etika dan moral hampir sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan. Moral atau moralitas digunakan untuk menilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika digunakan untuk pengkajian sistem-sistem nilai-nilai yang berlaku. Istilah lain yang identik dengan etika adalah sebagai berikut:
a. Susila (Sanskerta), lebih menunjukkan dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila) yang lebih baik (su).
b. Akhlak (Arab), berarti moral, dan etika berarti ilmu akhlak.
2.4 Kode Etik
Kata “ethic” dalam bahasa inggris memiliki 2 (dua) arti, yaitu prinsip-prinsip benar dan salah yang diterima individu atau suatu kelompok sosial dan suatu sistem prinsip-prinsip yang mengatur tentang moralitas dan perilaku yang diterima. Dalam Kamus Bahasa Indonesia “etik” adalah kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, dan nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Norma etik lebih sering disebut sebagai norma moral, keberdayaannya
pada kesadaran pribadi tentang hakikat diri sebagai manusia pribadi, manusia ciptaan Tuhan dan manusia anggota masyarakat.
Dalam bukunya Irwansyah Lubis (2010:38) kode etik adalah aturan moral positif yang berlaku secara internal dalam suatu kelompok tertentu (organisasi). Sebagai kumpulan sistem prinsip-prinsip moral, kode etik dibuat secara sukarela (volunteer) oleh anggota-anggota kelompok tersebut yang terkait dengan kelompok itu sendiri.
2.5 Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak
Kode etik Direktorat Jenderal Pajak menurut Irwansyah Lubis (2010:40) yang dikutip dari buku Modul Pelatihan Code of Conduct-Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pegawai dalam Bidang Kode Etik, pelayanan dan penegakan hukum di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak merupakan standar integritas yang diharapkan dari seorang pegawai Direktorat Jenderal Pajak dalam melayani masyarakat Wajib Pajak dalam rangka memenuhi kewajiban perpajakannya. Kode etik ini juga merupakan kerangka kerja bagi standar perilaku yang diharapkan dalam rangka pelaksanaan kegiatan sehari-hari.
Kode etik ini mempunyai tiga (3) prinsip yang berlaku untuk semua pegawai Direktorat Jenderal Pajak, yaitu:
1) Melaksanakan tugas dengan jujur, benar dan efisien dengan menghargai hak-hak publik termasuk pihak-hak-pihak-hak yang berhubungan dengan Direktorat Jenderal Pajak.
2) Memenuhi kewajiban kita untuk menerapkan good govermance dalam penyelenggaraan pemerintah yang telah canangkan oleh pemerintah Republik Indonesia secara profesional berintegritas.
3) Tidak memiliki kepentingan-kepentingan pribadi dalam menjalankan tugas yang dapat menyebabkan Direktorat Jenderal Pajak mengalami kerugian.
Sedangkan dalam bukunya Liberti Pandiangan (2008:45) menyebutkan bahwa salah satu bagian penting dari modernisasi perpajakan adalah perubahan sikap dan perilaku sumber daya manusianya. Hal ini didukung dengan adanya kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Yang dimaksud dengan kode etik adalah pedoman sikap, tingkah laku, dan perbuatan yang mengikat pegawai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari.
Kode etik bertujuan untuk: 1) meningkatkan disiplin pegawai, 2) menjamin terpeliharanya tata tertib, 3) menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja kondusif, 4) menciptakan dan memelihara kondisi kerja serta perilaku yang profesional, serta 5) meningkatkan citra dan kinerja pegawai.
Sejak pertama kali diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 222/KMK.03/2002, kode etik pegawai sudah beberapa kali mengalami perubahan terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PMK.3/2007. Kode etik yang berisi kewajiban dan larangan ini wajib dipatuhi setiap pegawai dalam menjalankan tugasnya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. Adapun kewajiban dan larangan tersebut adalah sebagai berikut.
• Kewajiban yang harus dipenuhi:
1. Menghormati agama, kepercayaan, budaya, dan adat istiadat orang lain. 2. Bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel.
3. Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak.
4. Memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak, sesama pegawai, atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya.
5. Mentaati perintah kedinasan.
6. Bertanggung jawab dalam penggunaan barang iventaris milik Direktorat Jenderal Pajak.
7. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor.
8. Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan.
9. Bersikap, berpenampilan, dan bertutur kata secara sopan. • Larangan yang harus dihindari
1. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas. 2. Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik.
3. Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung.
4. Menyalahgunakan fasilitas kantor.
5. Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun, baik langsung maupun tidak langsung, dari Wajib Pajak, sesama pegawai, atau pihak lain, yang
menyebabkan pegawai yang menerima, patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya.
6. Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan.
7. Melakukan perbuatan yang patut di duga dapat mengakibatkan gangguan, kerusakan dan atau perubahan data pada sistem informasi milik Direktorat Jenderal Pajak.
8. Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat Direktorat Jenderal Pajak.
2.5.1 Profesional
Menurut buku Panduan Pelaksanaan Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak (2007:2) dan sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PMK.3/2007 Pasal 3 ayat (2), bekerja secara profesional meliputi:
a. Integritas
Integritas merupakan ukuran kualitas moral pegawai yang diwujudkan dalam sikap jujur, bersih dari tindakan, dan senantiasa mengutamakan kepentingan negara.
b. Disiplin
Disiplin merupakan pencerminan ketaatan pegawai terhadap setiap ketetuan yang berlaku.
2.5.2 Transparan
Menurut buku Panduan Pelaksanaan Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak (2007:4) dan sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PMK.3/2007 Pasal 3 ayat (2), transparan dimana setiap pegawai bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai denga ketentuan yang berlaku.
Namun demikian, kerahasiaan jabatan sesuai dengan peraturan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007 Pasal 34 ayat (1) tetap harus diterapkan. Terkait dengan transparansi yang dituntut dari setiap pegawai, maka hal pegawai berada dalam atau berpotensi mengalami situasi kepentingan dalam melaksanakan tugas, yang bersangkutan harus melaporkan secara tertulis hal tersebut kepada atasannya.
2.5.3 Akuntanbel
Menurut buku Panduan Pelaksanaan Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak (2007:6) dan sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PMK.3/2007 Pasal 3 ayat (2), akuntanbel artinya dimana pegawai harus bertanggung jawab dan bersedia untuk diperiksa oleh pihak yang berwenang atas setiap keputusan atau tindakan yang diambil dalam rangka pelaksanaan tugas, antara lain sebagai berikut:
1. Setiap pegawai harus dapat mempertanggung jawabkan pekerjaannya sesuai dengan prosedur yang berlaku.
2. Setiap pegawai harus mampu meminimalkan risiko kegagalan dengan cara melaksanakan tugas sesuai prosedur secar serius, hati-hati, dan tepat waktu. 3. Setiap pegawai berusaha secara maksimal untuk menguasai tugas yang
diberikan, bertanggung jawab atas hasil serta melakukan tindakan-tindakan antisipatif dalam melaksanakan tugasnya.
4. Setiap pegawai bertanggung jawab atas segala keputusan, pendapat, atau perbuatan yang terikat dengan kepentingan kedinasan.
2.6 Pelaporan Pelanggaran Kode Etik Pegawai
Sesuai Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-11/PJ/2012 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pelaporan Pelanggaran (Whistleblowing) di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak, dimana menyebutkan bahwa pelapor dapat melaporkan pelanggaran yang dilakukan pegawai dengan cara-cara sebagai berikut:
a. Secara langsung, yaitu melalui tatap muka dengan Help Desk Kepatuhan Internal dan Transformasi Sumber Daya Aparatur (KITSDA).
b. Secara tidak langsung, yaitu melalui saluran-saluran pengaduan yang disediakan berikut ini:
1. Saluran telepon (021) 52970777 2. Kring Pajak 500200
3. e-mail [email protected] 4. e-mail [email protected]
2.7 Pelayanan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikutip oleh Juniarso Ridwan dan Achmad Sodik Sudrajat (2009:18) pelayanan dijelaskan sebagai hal, cara, atau
hasil pekerjaan melayani. Sementara itu definisi pelayanan menurut Kotler yang dikutip oleh Juniarso Ridwan dan Achmad Sodik Sudrajat (2009:18) menyatakan bahwa pelayanan adalah setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat pada suatu produk secara fisik.
2.8 Pelayanan Pajak
Salah satu upaya untuk mencapai tingkat kepuasan yang tinggi atas pelayanan perpajakan adalah dengan meningkatkan kualitas pelayanan kepada Wajib Pajak. Menurut Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-84/PJ/2011 tentang Pelayan Prima, mengatakan bawha pelayanan yang baik adalah indikator utama dalam membangun citra Direktorat Jenderal Pajak, sehingga kualitas pelayanan harus terus menerus ditingkatkan dalam rangka mewujudkan harapan dan membangun kepercayaan seluruh stakeholder perpajakan terhadap Direktorat Jenderal Pajak. Semua aspek tersebut memerlukan perubahan "mindset" dari setiap pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP), sehingga pembangunan budaya melayani (service mindset) mutlak diperlukan. Oleh karena itu, setiap pegawai harus menjiwai dan saling mengingatkan pegawai lainnya yang belum benar-benar melakukan perubahan tersebut. Adapun cara pegawai dalam melaksanakan pelayanan kepada Wajib Pajak, yaitu berpedoman pada:
1. Waktu pelayanan di Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) adalah pukul 08.00 sampai dengan 16.00 waktu setempat. Selisih waktu antara jam kerja dengan jam pelayanan digunakan untuk persiapan dalam memberikan layanan (doa dan spirit pagi, pengarahan, merapikan tata ruang dan administrasi serta persiapan bagi petugas TPT) dan persiapan tutup layanan (melakukan evaluasi layanan yang dilakukan, merapikan dan menyelesaikan administrasi layanan pada hari tersebut). Pada jam istirahat, pelayanan tetap diberikan dengan cara mengatur secara bergiliran petugas yang beristirahat dan menambah jumlah petugas jika TPT terlihat antrian yang panjang.
2. Yang bertugas di Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) dan Help Desk adalah pegawai yang sudah memiliki kemampuan untuk melayani masyarakat termasuk pelayanan perpajakan.
3. Setiap tamu yang datang ke Tempat Pelayanan Terpadu (TPT), harus ada petugas keamanan yang menyambut, menanyakan keperluan, dan mempersilahkan tamu dengan sopan untuk mengambil antrian.
4. Bila antrian cukup panjang dan waktu menunggu lebih lama, maka petugas harus memberikan penjelasan dengan baik, sopan, dan tetap ramah.
5. Bila petugas tidak dapat menerima laporan atau surat yang disampaikan oleh Wajib Pajak, misalnya karena kurang lengkap, maka petugas harus menjelaskan secara jelas dan ramah, sampai Wajib Pajak memahami dengan baik.
2.9 Hasil Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian terdahulu yang dapat dijadikan sebagi referensi dalam penelitian ini, yaitu :
a. Menurut David J. Prottas (Journal:2013) tentang “Relationships Among Employee Perception of Their Manager’s Behavioral Integrity, Moral Distress, and Employee Attitudes and Well-Being”. Dimana hasil penelitiannya adalah sebagai berikut : Hypothesized relationships among reports by employees of moral distress, their perceptions of their manager’s behavioral integrity (BI), and employee reports of job satisfaction, stress, job engagement, turnover likelihood, absenteeism, work-to-family conflict, health, and life satisfaction were tested using data from the 2008 National Study of the Changing Workforce (n = 2,679). BI was positively related to job satisfaction, job engagement, health, and life satisfaction and negatively to stress, turnover likelihood, and work-to-family conflict, while moral distress was inversely related to those outcomes. The magnitudes of relationships with job satisfaction, job engagement, and life satisfaction were greater with BI than with moral distress. Moral distress mediated the relationships between BI and the employee outcomes, supporting the view that employee’s perceptions of their manager’s BI might influence the employee’s behaviors as well as their attitudes. Dengan hasil terjemahan, yaitu hubungan hipotesis persepsi moral karyawan terhadap integritas perilaku manajer dan kepuasan kerja karyawan, stres, keterlibatan kerja, perjanjian omset, absensi, kesehatan. Kepuasan kerja dimana diuji menggunakan data 2008 dari National Study of the Changing Workforce engagement (n = 2.679). Integritas berhubungan
positif dengan kepuasan kerja, keterlibatan kerja, kesehatan, kepuasan hidup, dan berhungan negatif terhadap stres, omset. Sementara itu tekanan moral berbanding terbalik dengan integritas prilaku tersebut. Besarnya hubungan kepuasan kerja, keterlibatan kerja, dan kepuasan hidup dibandingkan dengan tekanan moral. Tekanan moral merupakan penghubung antara integritas prilaku dan persepsi karyawan terhadap integritas prilaku manajer dimana sangat mempengaruhi perilaku karyawan.
b. Menurut Patrick M. Erwin tentang (Journal:2011) tentang “Corporate Codes of Conduct: The Effects of Code Content and Quality on Ethical Performance”. Dimana hasil penelitiannya adalah sebagai berikut: Corporate codes of conduct are a practical Corporate Social Responsibility (CSR) instrument commonly used to govern employee behavior and establish a socially responsible organizational culture. The effectiveness of these codes has been widely discussed on theoretical grounds and empirically tested in numerous previous reports that directly compare companies with and without codes of conduct. Empirical research has yielded inconsistent results that may be explained by multiple ancillary factors, including the quality of code content and implementation, which are excluded from analyses based solely on the presence or absence of codes. This study investigated the importance of code content in determining code effectiveness by examining the relationship between code of conduct quality and ethical performance. Companies maintaining high quality codes of conduct were significantly more represented among top Corporate Social Responsibility (CSR) ranking systems for corporate citizenship, sustainability, ethical behavior, and public perception. Further, a significant relationship was observed between code quality and Corporate Social Responsibility (CSR) performance, across a full range of ethical rankings. These findings suggest code quality may play a crucial role in the effectiveness of codes of conduct and their ability to transform organizational cultures. Future research efforts should transcend traditional comparisons based on the presence or absence of ethical codes and begin to examine the essential factors leading to the effective establishment of Corporate Social Responsibility (CSR) policies and sustainable business practices in corporate culture. Dengan hasil terjemahan,
yaitu kode etik perusahaan adalah tanggung jawab sosial perusahaan yang digunakan untuk mengatur perilaku karyawan dan membangun budaya organisasi yang bertanggung jawab secara sosial. Penelitian ini meneliti pentingnya dalam menentukan kode efektivitas dengan meneliti hubungan antara kode etik kualitas dan kinerja etis. Perusahaan mempertahankan kode etik berkualitas tinggi dengan bermakna lebih. Selanjutnya, hubungan yang signifikan diamati antara kode kualitas dan kinerja CSR (Corporate Social Responsibility) di berbagai peringkat etis. Temuan ini menunjukkan kode kualitas memainkan peran penting dalam efektivitas kode etik dan kemampuan mereka untuk mengubah budaya organisasi. Upaya penelitian harus melampaui perbandingan tradisional yang didasarkan ada atau tidak adanya kode etik dan mulai memeriksa faktor-faktor penting yang mengarah ke pembentukan efektif, kebijakan CSR (Corporate Social Responsibility) dan praktek bisnis yang berkelanjutan dalam budaya perusahaan.
c. Menurut Boerner, Catherine M (Journal:2011) tentang “Employee Compliance Program Surveys Can Be Helpful on Many Fronts”. Dimana hasil penelitiannya adalah sebagai berikut: Many of the key outcome measures of the effectiveness of your compliance program can come from conducting an employee survey. It is very important to also allow for comments in the employee survey to identify any problems or frustrations and evaluate the way aspects of the compliance program are perceived. As your compliance program matures, the results of the employee survey should clearly reflect that maturation. When conducting an employee survey, the best and most accurate results are when you can survey the entire population and ensure that your response rate reflects a statistical level of sampling to be within +/- 5% precision at 99% confidence. This means if the survey were conducted 100 times, in 99 samples the results obtained would fall within 5% of the true population value. The employee comments within the survey really can be helpful on many fronts but most importantly provide you with feedback or understanding to find and fix problems. Dengan hasil terjemahan, yaitu kunci dari efektivitas kepatuhan datang dari melakukan survei karyawan. Hal ini sangat penting untuk survei karyawan dalam mengidentifikasi masalah atau mengevaluasi program kepatuhan yang telah
dirasakan. Hasil survei karyawan harus jelas mencerminkan pematangan itu. Ketika melakukan survei karyawan yang terbaik dan paling akurat hasilnya bila dapat meneliti seluruh populasi dan memastikan bahwa tingkat respon mencerminkan tingkat statistik sampling berada dalam +/- 5% dan dengan kepercayaan 99%. Ini berarti jika survei dilakukan 100 kali dalam 99 sampel hasil yang diperoleh akan jatuh dalam 5% dari nilai populasi yang sebenarnya. Komentar karyawan dalam survei benar-benar dapat membantu di berbagai bidang, tetapi yang paling penting menyediakan umpan balik atau pemahaman untuk menemukan dan memperbaiki masalah.
2.10 Kerangka Pemikiran Teoritis
Kepatuhan fiskus merupakan aspek yang penting dalam meningkatkan penerimaan pajak. Dengan patuhnya fiskus maka diharapkan dapat memberikan pelayanan yang membuat Wajib Pajak merasa puas. Dengan puasnya Wajib Pajak maka Wajib Pajak akan memiliki kesadaran dalam membayar dan melaporkan pajak mereka. Kode etik diharapkan dapat membuat pegawai atau fiskus patuh terhadap peraturan yang telah di atur dan kode etik diharapkan membawa perubahan pola tindak pegawai untuk meningkatkan citra Direktorat Jenderal Pajak.
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Variabel dalam model penelitian ini adalah:
a. Kepatuhan fiskus (X) sebagai variabel bebas (independen variable). b. Kode etik pegawai (Y) sebagai variabel terikat (dependen variable). c. Pelayanan pajak (Z) sebagai variabel terikat (dependen variabel).
2.11 Hipotesis
Menurut Sakaran (2006:135) Dalam bukunya Haryadi Sarjono dan Winda Julianita (2011:L-9), menjelaskan hipotesis adalah hubungan yang diperkirakan
Kepatuhan fiskus (X)
Kode etik pegawai (Y)
Pelayanan Pajak (Z)
secara logis diantara dua atau lebih variabel yang diungkapkan dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji. Hubungan tersebut dapat diperkirakan berdasarkan jaringan asosiasi yang ditetapkan dalam kerangka teoritis yang dirumuskan untuk studi penelitian.
Atas dasar kerangka pemikiran teoritis diatas, maka hipotesis pada penelitian ini adalah:
1. Ha : Variabel kepatuhan fiskus berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel kode etik pegawai di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Tamansari Dua.
2. Ho : Variabel kepatuhan fiskus tidak berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel kode etik pegawai di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Tamansari Dua.
3. Ha1 : Variabel kepatuhan fiskus berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel pelayanan pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Tamansari Dua.
4. Ho1 : Variabel kepatuhan fiskus tidak berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel pelayanan pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Tamansari Dua.
5. Ha2 : Variabel kode etik pegawai berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel pelayanan pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Tamansari Dua.
6. Ho2 : Variabel kode etik pegawai tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel pelayanan pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Tamansari Dua.