1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
WHO menetapkan virus Corona sebagai sebuah pandemi. Istilah pandemi menurut KBBI dimaknai sebagai wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas. Saat ini virus Covid 19,(Covid-19 adalah singkatan dari Corona Virus Disease 2019 yang berarti virus corona Covid-19 ini pertama kali muncul di tahun 2019) sudah meluas menjangkiti hampir semua negara di dunia. Coronavirus adalah keluarga besar virus yang bisa menyebabkan penyakit, mulai dari flu biasa hingga penyakit pernapasan paling parah, seperti Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS) dan Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS). Sejak pertama kali virus ini terdeteksi di Wuhan, China, pada Desember 2019, wabah ini telah berkembang sangat cepat. WHO lalu melabeli wabah virus corona Covid-19 ini sebagai pandemi global.
Gejala-gejala COVID-19 yang paling umum adalah demam, rasa lelah, dan batuk kering. Beberapa pasien mungkin mengalami rasa nyeri dan sakit, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan atau diare, Gejala-gejala yang dialami biasanya bersifat ringan dan muncul secara bertahap. Beberapa orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala apa pun dan tetap merasa sehat. Sebagian besar (sekitar 80%) orang yang terinfeksi berhasil pulih tanpa perlu perawatan khusus. Sekitar 1 dari 6 orang yang terjangkit COVID-19 menderita sakit parah dan kesulitan bernapas. Orang-orang lanjut usia (lansia) dan orang-orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung atau diabetes, punya kemungkinan lebih besar mengalami sakit lebih serius.
WHO menyarankan kepada negara-negara yang sudah terdampak virus Covid-19 untuk menerapkan Physical Distancing kepada masyarakatnya dalam upaya untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Banyak dari fasilitas umum yang ditutup sebagai salah satu upaya menghindari orang-orang berkerumun di satu tempat, upaya tersebut
2
bertujuan untuk mengurangi kontak fisik antar individu. Tak terkecuali penutupan fasilitas di satuan pendidikan yaitu sekolah, universitas, madrasah, dll.
Di Indonesia, sejak dikeluarkannya surat pernyataan darurat covid-19, sejak saat itu fasilitas sekolah dan perguruan tinggi ditutup. Seluruh sekolah tidak memiliki pilihan lain kecuali melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) melalui daring atau luring. Model Blended Learning dilakukan sebagai alternatif jika kondisi belajar dengan tatap muka memungkinkan dilakukan dengan syarat infrastuktur sekolah sudah memenuhi standar protokoler kesehatan.
Pemerintah memperkenalkan PJJ pada masa Pandemi Covid- 19 dengan istilah Belajar Dari Rumah (BDR). Berdasarkan hasil informasi dan evaluasi dari stake holder pendidikan, masa BDR menuai beberapa kekurangan dan kelemahan. Untuk mendapatkan data akurat dinas pendidikan melaui Satgas Covid -19 melakukan survey pelaksanaan BDR kepada orang tua dan siswa.
Pada masa Pandemi Covid-19 hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah masalah keberlangsungan pendidikan anak-anak dan keterjaminan kesehatannya. Diperlukan data otentik untuk memotret secara langsung permasahalan apa yang dihadapi orang tua dan anak-anak selama BDR.
Pada saat berlaku BDR orang tua rata-rata mengalami kesulitan untuk mendampingi anaknya belajar di rumah. Kesulitan orang tua dialami karena pelajaran terlalu sulit dan tidak mudah untuk dipahami, kesulitan mengatur waktu membimbing belajar anak karena orang tua memiliki aktivitas atau pekerjaan, anak susah diatur, dan susah diajak belajar karena bosan. Kesulitan yang cukup signifikan juga masalah kuota atau koneksi Internet. Orang tua siswa hampir 100 persen setuju bahwa berharap anak-anaknya bisa belajar mandiri tanpa tergantung pada guru dan komunikasi yang baik antara guru dan orang tua harus tetap terjalin.
3 B. Tujuan
Memberikan penjelasan, panduan,dan arahan mengenai Pembelajaran Jarak Jauh atau Belajar dari Rumah kepada Guru, Siswa, dan Orangtua/wali.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana persiapan dan pelaksanaan Pembelajaran jarak jauh? 2. Apa kesulitan yang dihadapi dalam penerapan Pembelajaran Jarak
Jauh?
3. Apakah solusi untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi dalam penerapan Pembelajaran Jarak Jauh?
4 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. TAHAP PERSIAPAN
Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning) adalah layanan proses belajar mengunakan teknologi informasi untuk menjangkau keterbatasan akses peseta didik dengan memanfaatkan berbagai media atau sumber yang tersedia di Internet agar pembelajaran lebih bermakna.
Kesulitan dan kejenuhan dalam belajar selama BDR harus dihindari. Pembelajaran pada masa BDR harus mampu mengaktifkan berbagai bakat bawaan yang dimiliki oleh peserta didik. Langkah-langkah pengelolaan pembelajaran yang dilakukan para guru harus memperhatikan psikologis dan mendorong mereka untuk mengaktualisasikan dirinya secara mandiri dan bertanggung jawab.
Panduan pembelajaran pada masa BDR perlu disusun untuk menjaga layanan pembelajaran tetap menyenangkan dan memotivasi para peserta didik berkarakter mandiri. Pendekatan pembelajaran harus variatif dan mengaktifkan seluruh kecerdasan yang dimiliki peserta didik. Untuk itu Langkah-langkah pembelajaran kolaboratif dan pendekatan belajar kooperatif perlu dikembangkan agar mereka bisa saling bekerja sama dan saling melengkapi kekurangan masing-masing.
Bahan ajar yang disusun oleh guru harus memberikan samangat, optimisme, dan harapan-harapan baik ketika mereka mampu memahaminya. Dekonstruksionisme yang dikemukakan oleh Derrida memberi peluang kepada guru untuk kreatif menuangkan ideidenya dalam mengembangkan pembelajaran dan berfokus pada penumbuhan seluruh kecerdasan yang dimiliki para peserta didik serta memperhatikan perbedaan karakterisik yang di miliki peserta didik. Setiap peserta didik bukan tidak suka belajar tetapi terkadang apa yang dia miliki tidak terfasilitasi di dalam pembelajaran. Evaluasi pembelajaran tidak bisa diberlakukan sama pada setiap peserta didik. Evaluasi pembelajaran harus memperhatikan kecenderungan kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik.
5
Kompetensi Inti yang ada dalam Kurikulum 2013 harus jadi fokus pengembangan kompetensi minimal yang harus dimiliki peserta didik. Setiap mata pelajaran harus merancang setiap pembelajaran mengacu kepada pengembangan kompetensi spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi spiritual dan sosial diajarkan dengan pembiasaan, kompetensi pengetahuan dan ketermapilan diajarkan dengan melatih peserta didik mengolah pengetahuan melalu kegiatan analisis, sintesa, evaluasi dan mencipta. Bahan ajar yang disajikan harus mengembangkan empat kompetensi inti tersebut. Pendekatan rekonstruksionis dalam pembelajaran harus memberi peluang kepada peserta didik membangun kemampuan persepsi yaitu menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk mendeteksi atau menginterpretasi informasi yang diterima oleh alat indera. Selain itu pembelajaran memberi pengalaman untuk menumbuhkan kesadaran siapa dirinya dan dimana lingkungan dia tinggal.
Mengacu pada Surat Edaran no. 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pen-didikan dalam masa darurat penyebaran covid-19. Menjelaskan relaksasi kurikulum dan pembelajaran pada masa pandemi covid-19. menyebutkan bahwa:
1. Belajar dari Rumah melalui pembelajaran jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan;
2. Belajar dari Rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19;
3. Aktivitas dan tugas pembelajaran Belajar dari Rumah dapat bervariasi antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/ fasilitas belajar di rumah; 4. Bukti atau produk aktivitas Belajar dari Rumah diberi umpan baiik yang
bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif.
6
Adapun yang dimaksud dengan penyesuaian Kurikulum K13 mengalami penyederhanaan untuk menyesuaikan dengan keadaan saat ini, yakni:
1. Pemetaan kurikulum;
a. Analisis yang meliputi Materi esensial dan prasyarat; dan KD yang tumpang tindih/materi banyak beririsan;
b. Reformulasi/penyederhanaan.
2. Menyusun strategi pengembangan perangkat ajar : a. Mengidentifikasi KD yang akan menjadi acuan; b. Menyusun tujuan pembelajaran;
c. Menyusun silabus/desain perangkat ajar;
d. Mengembangkan RPP dan modul belajar/Lembar Aktivitas. 3. Persiapan aplikasi/platform belajar Online.
Ada banyak sekali Platform/aplikasi yang bisa digunakan untuk pelaksanaan pembelajaran daring,contohnya google classroom, quipper, ruangguru, zenius, Whatsapp(media komunikasi), dll. Namun untuk pemilihan aplikasi disesuaikan dengan kebutuhan guru dalam menyampaikan materi dan tugas dan juga kemampuan siswa dalam mengakses aplikasi-aplikasi tersebut.
B. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh. 1. Daring
a. Persiapan 1) Siswa
a) Memiliki program BDR secara tertulis dalam bentuk jadwal pelajaran
b) Memiliki petunjuk pelaksanaan Daring atau Luring.
c) Memiliki Bahan Ajar yang dilengkapi langkah-langkah pembelajaran yang jelas lengkap dengan alat evaluasi d) Memiliki alat komunikasi dan kemampuan akses Internet
7
e) Memiliki kontak person guru atau teknisi sekolah jika terjadi kesulitan belajar.
2) Guru
a) Menyiapkan program pembelajaran BDR selama satu semester
b) Memiliki bahan ajar yang berorientasi pada pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan literasi.
c) Memiliki alat evaualsi dalam bentuk soal-soal HOTS. d) Memiliki media pembelajaran multimedia dengan
memanfaatkan berbagai media di Internet. e) Menggunakan model pembelajaran yang
direkomendasikan pada kurikulum 2013 3) Kepala Sekolah dan Manajeman Sekolah
a) Membentuk tim pengembang kurikulum BDR b) Menentukan teknik pembelajaran daring
c) Menetapkan protokol kesehatan pembelajaran pada masa BDR.
d) Mengalokasikan biaya pembuatan modul berbasis keterampilan berpikir
e) Mengalokasikan pelatihan pembuatan soal-soal HOTS f) Mengalokasikan biaya pelatihan pembuatan media
pembelajaran
g) Melakukan supervisi pembelajaran daring
h) Menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran secara daring
4) Pengawas Sekolah
a) Membuat program monitoring pelaksanaan BDR
b) Membuat alat evaluasi periodik tentang pelaksanaan belajar sesuai protokol kesehatan,
8 5) Orang tua siswa
a) Mengalokasikan anggaran untuk kuota Internet bagi yang mampu.
b) Memiliki edaran program dan jadwal pelaksanaan BDR c) Memiliki kontak person guru/wali kelas atau teknisi
sekolah 6) Infrastrukutur
a) Alat komunikasi b) Jaringan Internet
c) Ruangan nyaman untuk belajar d) Bahan Ajar dan media belajar b. Pelaksanaan
1) Siswa
a) Sebelum belajar siswa melakukan pembiasaan dalam rangka pembentukan karakter misalnya; menyanyikan lagu Indonesia raya, literasi, dhuha, berdoa dll
b) Melaksanakan instruksi pembelajaran sesuai dengan pendekatan dan model pembelajaran yang dikembangkan guru
c) Melaksanakan pembelajaran dengan menganalisis, sintesis, evaluasi dan mencipta terhadap materi belajar yang tersedia dalam modul.
d) Melakukan komunikasi dua arah dengan guru melalui media komunikasi yang disediakan dan disepakati oleh guru.
e) Melakukan evaluasi pembelajaran dengan mengerjakan soal HOTS atau unjuk kerja secara virtual.
2) Guru
a) Mengecek kehadiran peserta didik
b) Melakukan dan mengarahkan kegiatan pembiasan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)/ Gerakan Masyarakat Sehat dalam pengembangan
9
c) Menjelaskan langkah-langkah pembelajaran dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang harus dilakukan siswa
d) Menjelaskan hasil yang harus dicapai siswa
e) Membahas jawaban hasil evaluasi yang dikerjakan siswa. f) Membuka ruang dialog sebagai bahan untuk umpan balik
pembelajaran berikutnya.
3) Kepala Sekolah dan Manajeman Sekolah
1) Melakukan monitoring terhadap guru dalam melaksanakan BDR 2) Melakukan monitoring terhadap kehadiran peserta didik dalam
kegiatan BDR.
3) Melakukan evaluasi periodik terhadap kendala pelaksanaan BDR guru dan siswa.
4) Membangun komunikasi dengan komite sekolah dan orang tua 5) Membuat laporan periodik kepada pihak dinas melalui pengawas
pendidikan. 4) Pengawas Sekolah
1) Melakukan monitoring manajemen BDR
2) Membuat pembinaan dan pengayaan untuk kegiatan BDR 5) Orang tua siswa
1) Mendampingi peserta didik selama BDR berlangsung 2) Mengawas peserta didik selama BDR
3) Memotivasi peserta didik untuk belajar mandiri dan bertanggung jawab
4) Membantu kesulitan teknis belajar peserta didik melalui komunikasi dengan guru
6) Infrastrukutur
1) Memiliki jaringan Internet yang memadai 2) Alat komunikasi berfungsi dengan baik 3) Memiliki Bahan ajar daring
10 7) Kurikulum
1) Mengajarkan kompetensi inti dalam kurikulum 2013 berfokus pada pendidikan karakter mandiri, tangung jawab, disiplin, gorong royong, religius, dan keterampilan berpikir.
2) Pendekatan kolaboratif atau tematik.
3) Menggunakan multimedia dan aplikasi pembelajaran 4) Durasi Pembelajaran maksimal 4 x 45 JP per hari. 8) Proses pembelajaran
1) Melatih kemampuan berpikri tingkat tinggi 2) Melatih komunikasi
3) Melatih kreativitas
4) Melatih kemampuan menuangkan ide ke dalam karya tulis 5) Membuat produk karya kreatifitas berbasis multimedia dan
Internet
6) Mempublikasikan karya di media sosial Internet. 9) Media pembelajaran
1) Video tutorial di lntenet 2) Aplikasi belajar di Internet 3) Televisi streaming
4) Radio streaming
10) Penilaian hasil pembelajaran 1) Evaluasi soal uraian CBT
2) Evaluasi soal pilihan ganda CBT 3) Unjuk kerja virtual
c. TAHAP MONITORING DAN EVALUASI 1) Monitoring
a) Program monitoring menggunakan aplikasi harian
b) Program moniteoring menggunakan daftar ceklis atau angket periodik
2) Evaluasi
11
b) Diagram Kendali pembelajaran yang dihadapi c) Rencana tindak lanjut untuk perbaikan program 3) Sanksi
a) Teguran Lisan b) Teguran Tertulis
c) Sanksi administrative sesuai dengan peraturan yang berlaku
C. DAMPAK COVID-19 DI SEKTOR PENDIDIKAN
Lebih dari 91% populasi siswa di dunia telah dipengaruhi oleh penutupan sekolah karena pandemi covid-19. Kementerian di berbagai Negara telah mengambil langkah di setiap sekolah dan universitas untuk melakukan pembelajaran melalui internet. Sebulan yang lalu, sebagian besar sekolah-sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi di Indonesia telah menutup sistem PBM (Proses Belajar Mengajar) yang dilakukan seperti biasanya menjadi sistem pembelajaran daring.
Pembelajaran online ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dan proses menghentikan penyebaran virus melalui interaksi langsung di antara orang banyak. Peralihan proses pembelajaran yang dulunya melalui tatap muka menjadi online tentunya memaksa berbagai pihak untuk dapat mengikuti proses dan alurnya, supaya sistem pembelajaran tetap berjalan dengan baik. Namun ternyata, sistem ini tidak berjalan se-efektif yang kita bayangkan, bahkan seluruh pihak mengalami kesulitan, tidak hanya siswa, orang tua, guru, dan pemerintah ikut merasakannya.
Pembelajaran online ini memberikan dampak yang sangat besar, baik dampak positif dan juga dampak negatifnya. Seperti yang kita lihat, dari seluruh masyarakat tidak seluruhnya melek teknologi, baik guru, siswa, dan orang tua masih ada yang dalam tahap adaptasi dengan kemajuan teknologi saat ini, apalagi masyarakat yang ada di desa atau pedalaman juga para masyarakat yang lahir di zaman tahun 1960-an tentu sangat susah untuk mempelajarinya lagi terutama guru, masih banyak guru-guru yang belum mahir dalam mengaplikasikan teknologi zaman ini.
12
Sama halnya dengan siswa/siswa, masih amatir dalam menggunakan teknologi, diakibatkan oleh kurangnya sarana teknologi pendukung pembelajaran di sekolah mereka, sehingga sistem daring ini kurang efektif bagi mereka, bukan menambah pengetahuan melainkan kurang memahami pembelajaran yang mereka terima.
Namun di sisi lain, kegagapan teknologi ini menjadi suatu pemacu untuk setiap pihak yang terkait pembelajaran online ini, menjadi lebih serius dan mendalami sistem teknologi agar semakin mahir dalam menggunakannya, tidak hanya untuk pembelajaran daring, namun juga untuk kehidupan sehari-hari.
Terlepas dari kegagapan teknologi, ternyata yang ikut menjadi masalah adalah kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki oleh setiap pihak. Banyak guru dan juga siswa yang tidak bisa memenuhi fasilitas teknologi ini, jangankan untuk memenuhi bagian ini, bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari juga masih kesulitan. Dan masalah ini, kerap dirasakan oleh masyarakat kita yang berada di perekonomian menengah hingga bawah.
Seperti contoh, adanya kuliah daring mengharuskan siswa memiliki laptop dan juga handphone. Namun ternyata masih ada siswa yang tidak memiliki laptop hanya memiliki handphone, sedangkan untuk mengerjakan tugas kuliah dan sebagainya harus sistem ketik dan kirim lewat softcopy, maka siswa yang tidak memiliki laptop akan kesulitan, dan warung internet di berbagai daerah saat ini pasti tutup akibat adanya kebijakan PSBB, tidak hanya merasakan kesulitan, mungkin saja siswa tersebut bisa berhenti kuliah.
Masalah lain yang ikut menjadi dampak pembelajaran online ini adalah jaringan internet dan biaya. Di Indonesia khususnya, masih banyak daerah-daerah yang tidak memiliki atau kurang akses internetnya, sehingga para siswa atau siswa yang bertempat tinggal di wilayah ini akan merasa kesulitan dalam mengikuti kelas online.
Sehingga tidak sedikit para siswa dan siswa yang rela untuk memanjat pohon atau pergi ke bukit-bukit agar tetap bisa mengikuti kelas
13
online. Selain itu, jaringan internet tidak akan berjalan jika tidak ada biaya. Namun, tidak semua orang memiliki biaya yang cukup untuk membeli kuota, apalagi pada saat ini, harga kuota juga semakin melonjak tinggi akibat meningkatnya permintaan masyarakat akan kuota karena interaksi masyarakat saat ini telah beralih kepada sistem online. Kembali kepada masyarakat yang memiliki ekonomi yang rendah, akan kesulitan untuk membeli kuota.
Akibat adanya pembelajaran online, pemerintah akhirnya membuat kebijakan untuk meniadakan UN bagi siswa SMA, SMP, dan SD. Kebijakan ini dilakukan selain untuk memutus rantai penyebaran COVID-19, juga dilakukan karena banyak siswa yang kesulitan menghadapi UN.
Di sisi lain, ada juga dampak positif yang ditimbulkan oleh pembelajaran online sendiri. Melalui pembelajaran online ini, seluruh pihak atau bahkan masyarakat akan ikut mempelajari teknologi dan seperti yang kita tahu teknologi adalah pendukung dalam berjalannya Revolusi Industi 4.0, dengan begitu masyarakat sedikit demi sedikit akan mulai mempersiapkan diri menghadapi Revolusi yang akan kita hadapi nantinya. Sisi positifnya yang lain adalah para siswa dan siswa akan lebih santai dalam mengikuti pembelajaran online ini, juga dapat mengulang-ulang pembelajaran tersebut. Pembelajaran online ini, memang tidak asing lagi untuk dilakukan, terutama di Negara maju. Namun, untuk Indonesia sendiri hal ini masih sangat mula untuk dilakukan karena masih banyak aspek yang harus dipertimbangkan.
Apresiasi layak diberikan kepada guru, sekolah, dan peserta didik karena mereka bisa beradaptasi dengan cepat. Namun, seiring berjalannya waktu semua pihak perlu mengevaluasi pembelajaran daring tersebut agar tujuannya bisa tercapai secara optimal.
14 BAB III PEMBAHASAN
Implementasi pembelajaran daring yang sudah berjalan beberapa pekan ini secara umum berjalan lancar. Kendati demikian, seiring perjalanan waktu sudah mencul banyak permasalahan.
Pada minggu-minggu awal, di media sosial banyak sekali siswa yang mengeluh dengan tugas yang diberikan. Mereka beralasan tugas yang diberikan terlalu banyak sehingga membuat siswa keberatan dalam mengerjakan tugas. Terlebih tugas tersebut harus dikumpulkan dalam selang waktu yang singkat.
Selain itu, siswa banyak mengeluhkan tentang sarana pembelajaran yang belum memadai, mulai dari keterbatanasa jaringan internet, keterbatasan HP atau PC, dan keterbatasan kuota internet. Bahkan, untuk siswa yang tempat tinggalnya jauh dari jangkauan jaringan internet harus rela untuk mencari sinyal yang bagus meskipun harus naik ke dataran yang lebih tinggi.
Dilihat dari sudut pandang guru, kesulitan yang sering dihadapi ialah kurangnya keseriusan siswa untuk mengerjakan tugas, sehingga banyak sekali siswa yang harus dipaksa untuk mengerjakan tugas supaya nilai tugasnya tidak kosong. Tentu saja alangkah tidak bijak kalau serta merta menyalahkan para guru. Dalam situasi darurat, guru waktu itu harus bertindak cepat agar pembelajaran bisa berjalan efektif. Ponsel yang semula hanya sebagai media komunikasi, sekarang bermulti fungsi. Termasuk dalam memberikan materi dan tugas dalam durasi yang sangat pendek.
Berdasarkan kondisi di atas, maka sekolah perlu mengambil langkah yang tepat dalam menyelesaikan permasalahn yang muncul. Penggunaan platform yang berbeda-beda terhadap siswa dari beberapa guru membuat anak kebingunan, karena dari berbagai platform yang digunakan cenderung baru dipakai pada saat ini. Beberapa kursus digital yang selama ini memberikan layanan dalam penggunaan media pembelajaran dengan menggunakan android, menjadi salah satu solusi bagi guru dan siswa dalam berusaha menyelesaikan proses pembelajaran.
Kepala sekolah dan wakil kepala sekolah harus terlibat langsung dalam mengevaluasi kinerja guru dalam memberikan layanan pembelajaran. Sekolah
15
harus mempunyai platform atau Learning Management System (LMS) yang dalam waktu sebentar dapat dipahami oleh guru dalam memberikan materi, tugas atau evaluasi. Begitupun dengan siswa, harus bisa lebih mudah dioperasikan sehingga tujuan pembelajaran daring bias berjalan dengan optimal.
Dukungan sekolah dalam menyediakan sarana dan prasarana, dan guru menyiapkan materi ajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran daring tersebut diberikan. Quipper salah satu bimbingan belajar digital yang selama pandemic ini memberikan akses gartis video berbayarnya, sehingga bias dinikmati oleh semua kalangan siswa dan guru. Begitupun dengan provider yang ada di Indonesia, banyak yang memberikan akses internet gratis, yang dapat digunakan oleh guru dan ssiwa dalam mengakses platform pembelajaran yang ada di Indonesia.
Quipper pun memberikan layanan quipper create yang dapat digunakan oleh sekolah khsuusnya guru dalam memberikan modul modul atau tugas serta ujian dalam bentuk online.
Fasilitas ini tentunya sangat bermanfaat bagi sekolah sekolah yang menggunakan pembelajaran jarak jauh. Guru dan siswa harus membuat akun quipper masing-masing yang terkoneksi dengan email guru atau siswa.
Berikut beberapa tampilan quipper scholl dan quipper create yang bias digunakan oleh sekolah dalam melakukan pembelajaran jarak jauh.
19
Dari beberapa ilustrasi di atas, quipper atau platform lain bisa digunakan untuk proses Belajar di Rumah dengan baik. Pembuatan akun yang sederhana dan pemakaian paltform yang mudah dapat mejadi daya tarik agar siswa bisa tetap belajar di rumah.
Pembelajaran daring ini mempunyai dampak positif dan dampak negatif, namun alangkah baiknya jika kita bisa mengambil hikmah dari itu semua. Dibalik pembelajaran daring ini, ternyata banyak sekali hikmah yang bisa diambil.
Seperti yang kita rasakan, kebanyakan siswa belum mengenal yang namanya aplikasi belajar online. Tetapi setelah adanya pandemi ini, kita semua bisa merasakan pembelajaran daring via aplikasi, sehingga kita bisa berinovasi dan mencoba hal baru. Siswa maupun guru dapat menguasai teknologi untuk menunjang pembelajaran secara online ini. Di era teknologi yang semakin canggih ini, guru maupun siswa dituntut agar memiliki kemampuan dalam bidang teknologi pembelajaran. Penguasaan siswa maupun guru terhadap teknologi pembelajaran yang sangat bervariasi, menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.
Selain itu, dengan pembelajaran daring siswa bisa jadi lebih berkembang. Siswa berkembang karena ketika siswa belajar dengan caranya sendiri, mereka mengembangkan kemampuan untuk memfokuskan diri dan merenung. Bekerja
20
dengan cara mereka sendiri juga memberi siswa kesempatan untuk memikul tanggung jawab pribadi atas apa yang mereka pelajari dan apa yang harus mereka kerjakan.
21 BAB IV Simpulan
Pembelajaran jarak Jauh merupakan program penyelenggaraan kelas pembelajaran dalam jaringan untuk menjangkau kelompok target yang masif dan luas. Melalui jaringan, pembelajaran dapat diselenggarakan secara masif dengan peserta yang tidak terbatas. Pembelajaran daring bisa menjadi cara alternatif untuk siswa belajar dengan baik ditengah pandemi Covid-19, juga bisa menjadi salah satu upaya memutus rantai penyebaran Covid-19.
Namun, kita harus bisa mencari solusi permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Kita juga harus bisa mengevaluasi diri supaya pembelajaran bisa berjalan baik.
Harapannya, jangan sampai pembelajaran jarak jauh hanya menghasilkan peserta didik sebagaimana robot yang hanya melulu mengerjakan latihan soal dengan tugas-tugas tanpa mampu berpikir dalam level tinggi.
Untuk itu keberhasilan pembelajaran jarak jauh tersebut perlu adanya kerjasama sinergis antara guru, sekolah, orang tua, dan peserta didik. Sekolah perlu menaruh kepedulian kepada orang tua peserta didik yang tidak mampu membeli kuota atau tidak memiliki ponsel memadai dengan memfasilitasi, agar pembelajaran daring bisa berjalan optimal.
Di samping itu, kesuksesan pembelajaran daring selama masa krisis Covid-19 ini tergantung pada kedisiplinan semua pihak. Oleh karena itu, pihak sekolah di sini perlu membuat skema dengan menyusun manajemen yang baik dalam mengatur sistem pembelajaran jarak jauh. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat jadwal yang sistematis, terstruktur dan simpel untuk memudahkan komunikasi orang tua dengan sekolah agar putra-putrinya yang belajar di rumah dapat terpantau secara efektif.