2.1. Identifikasi Solomon Tong
Solomon Tong lahir pada tanggal 20 Oktober 1939 di China. Beliau adalah putra kelima dari tujuh bersaudara. Ayahnya meninggal sewaktu beliau masih berumur 4 tahun. Karena saat itu China dalam situasi perang melawan Jepang, maka pada tahun 1949 ibunya membawa lima orang anaknya ke Indonesia, dan akhirnya menetap di Surabaya. Hidup mereka pas-pasan. Ibunya harus bekerja keras seorang diri untuk membesarkan lima orang anaknya.
Di Surabaya, Solomon Tong disekolahkan di SD Ming Kwang, kemudian melanjutkan sekolah di sekolah Tionghoa Chung Hua High School untuk SMP dan SMA. Dalam masa bersekolah, Solomon Tong mencapai berbagai macam prestasi, misalnya dalam bidang atletik dan vokal. Sebelum lulus SMA, Solomon diangkat menjadi guru di SMA Chung Hua High School.
Selulusnya dari sekolah, Solomon Tong meneruskan bekerja sebagai guru di sana, mengajar olahraga dan paduan suara, dan juga menjadi asisten pelatih paduan suara gereja. Beliau mencari nafkah untuk membantu ibunya memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Kecintaannya pada dunia paduan suara berawal dari mendengar paduan suara gereja, sampai beliau menjadi asisten pelatih dan akhirnya menjadi pelatih paduan suara gereja.
Pada tahun 1954, Tino Kerdijk, seorang blasteran Belanda Indonesia menggelar konser Messiah gubahan G.F. Handel di gedung THR Jl. Kusuma Bangsa. Konser itu membuat Solomon Tong kecil sebagai penonton sangat terkesan dan kagum bukan main. Itulah pertama kalinya Solomon Tong mendengar paduan suara yang diiringi orkestra simfoni. Ketika Tino Kerdijk mengumumkan akan dibentuknya paduan suara untuk konser Die Jahreszeiten gubahan J. Haydn, Solomon beserta ketiga saudaranya yaitu Caleb, Joseph dan Stephen Tong langsung mendaftar, dan keempat-empatnya diterima menjadi penyanyi di bagian tenor. Sejak saat itu, Solomon memiliki mimpi untuk berangan- angan mendirikan sebuah orkestra dan menjadi konduktornya.
Mimpi itu akhirnya terwujud pada tahun 1986. Waktu itu paduan suara GKA Trinitas yang dipimpin oleh Solomon ingin menggelar konser dengan
8
Universitas Kristen Petra
menampilkan sebuah cantata berjudul O Divine Redeemer gubahan Gounod. Ini merupakan pengalaman pertama bagi Solomon. Untuk konser tersebut, selain melatih paduan suara, Solomon membentuk string ensemble untuk mengiringi paduan suara. Konser itu digelar di Ballroom Hotel Hyatt Surabaya dan dihadiri oleh 500 undangan.
Pernah pada tahun 1991, Solomon Tong diundang oleh paduan suara Gereja Kristus Jemaat Mangga Besar Jakarta yang ingin menggelar konser bertepatan dengan peresmian gedung gereja yang baru. Solomon menyanggupinya dan bersedia pulang-pergi Jakarta-Surabaya selama 4 bulan demi melatih paduan suara itu. Ketua paduan suara ingin agar konser itu diiringi oleh orkestra. Saat itu Solomon Tong belum mempunyai orkestra sehingga ia meminjam tenaga pemain orkestra dari sebuah sekolah musik. Namun para pemain orkestra itu tidak rutin mengikuti latihan yang hanya diadakan tiga kali menjelang konser. Dan akhirnya terkuak bahwa sebenarnya itu bukanlah orkestra, melainkan para pemain yang disewa hanya ketika ada job order. Karena ketidakprofesionalan para pemain orkestra tersebut dan pihak manajemennya, konser yang ditonton oleh 3500 undangan itu tidak berjalan dengan baik, bahkan hingga tersebar isu tak sedap bahwa Solomon tidak mengerti tentang orkestra. Solomon menganggap isu tersebut bukanlah sesuatu yang penting. Namun dari pengalaman tersebut beliau bertekad untuk mendirikan orkestranya sendiri pada suatu saat, agar semua acara dapat dilatih dan dipersiapkan secara matang, tidak perlu minta tolong pada orang lain untuk menyuplai pemain orkestra.
Akhirnya keinginan tersebut terwujud dengan didirikannya Surabaya Symphony Orchestra (SSO) pada tahun 1996 bersama-sama dengan Suwadji Widjaja dan Rudy Setiawan. SSO adalah satu-satunya orkestra permanen di Surabaya hingga saat ini. Pada tahun 1997 beliau membentuk sebuah paduan suara yang dinamai Surabaya Oratorio Society (SOS) yang sampai sekarang tampil bersama SSO dalam konser.
Dua bulan dari sejak dibentuknya, SSO diundang tampil pada acara bulanan Persekutuan Pengusaha Kristen Visi dan Misi di Hotel Sheraton Surabaya. SSO tampil dengan 60 orang pemain. Sebagian dari mereka adalah pemain dari Yogyakarta. Penampilan pertama mereka memukau dan mengesankan para
Universitas Kristen Petra
undangan, bahkan GM Hotel Sheraton Mr. Robert Van Meerendong ingin berkenal dengan Solomon Tong dan akhirnya menjadi mitra yang setia bagi SSO. Hingga kini, SSO sudah mengadakan lebih dari 50 konser besar dan tidak terhitung konser kecil lainnya.
Tidak mudah bagi SSO untuk bisa tetap eksis, karena SSO merupakan orkestra yang berorientasi pada musik klasik, bukan seperti orkestra lain yang mengikuti selera masyarakat dengan mengusung musik yang sedang populer pada jaman itu. SSO tetap pada pendiriannya yaitu menampilkan nomor-nomor musik klasik pada setiap konsernya, padahal sebenarnya SSO bisa memiliki lebih banyak peminat bila memainkan lagu-lagu pop yang diorkestrasikan, seperti halnya orkestra di Indonesia yang lainnya, misalnya Twilite Orchestra dan Erwin Gutawa Orchestra.
Selain memimpin SSO, Solomon Tong juga sering diundang universitas dan seminari untuk menjadi dosen tamu untuk mata kuliah teori musik, filsafat musik, dan musik estetika. Terkadang beliau diminta untuk menjadi dirigen tamu dalam choir conducting dan orchestra conducting di luar kota. Namun beliau memutuskan bahwa ia tidak akan mengambil keuntungan pribadi dari musik, sehingga uang yang didapatkan dari pengajaran maupun ceramah itu beliau gunakan untuk memberi sumbangan pada karyawan, murid dan mahasiswa yang kurang mampu, atau langsung dimasukkan ke kas SSO yang biaya operasionalnya defisit puluhan juta rupiah per bulan. Karena konsistensinya untuk tidak mengomersialkan musik klasik itulah, pada 7 Desember 2006 International Theological Seminary di Los Angeles, Amerika Serikat, memberikan anugerah doktor kehormatan (honoris causa) pada Solomon Tong di bidang musik, terkait dengan dedikasinya terhadap musik klasik (Hurek, par. 26). Pada 6 Oktober 2007 beliau mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur yang diberikan pada 10 seniman berprestasi di Jawa Timur. Dengan demikian beliau diakui oleh masyarakat akan kecintaannya terhadap musik klasik dan idealismenya dalam memasyarakatkan musik klasik di Surabaya.
Sumber nafkah utama beliau dari dulu hingga kini adalah bengkel piano yang didirikan di rumahnya dan memperjualbelikan piano. Istrinya, Esther Karlina Magawe adalah seorang pianis dan guru piano senior di Surabaya. Beliau adalah
Universitas Kristen Petra
pianis tetap di SSO dan SOS. Berkat beliau, SSO dan SOS hingga saat ini tidak pernah kekurangan pemain piano yang kompeten, karena beliau selalu mampu untuk menghasilkan murid-murid yang terjamin kualitasnya, dan beliau sendiri selalu siap untuk mengiringi SOS dan SSO. Demi memenuhi kebutuhan SSO dan SOS, Solomon Tong setiap hari menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuat orkestrasi dari lagu-lagu yang hendak dimainkan di konser mendatang. Karena itulah SSO dan SOS bisa tetap eksis dan tidak pernah kehabisan lagu untuk dimainkan dalam konsernya (personal conversation, 13 March 2008).
2.2. Identifikasi Buku 2.2.1. Pengertian buku
Buku adalah lembar kertas yang berjilid, berisi tulisan, gambar atau kosong (Kamus Besar Bahasa Indonesia 152).
Menurut Ensiklopedi Umum (223), buku adalah lembaran kertas yang dicetak, dilipat dan diikat bersama pada punggungnya.
Buku dalam pengertian modern adalah hasil percetakan, biasanya dijilid, berisi tentang karya sastra, tulisan-tulisan sejarah, statistikal, matematikal, atau data lain, karya gambar, partitur musik, atau kombinasi dari beberapa elemen-elemen tersebut. Buku sebagai tulisan sejarah, sebagai sarana untuk mengekspresikan pemikiran dan perasaan, atau bisa dalam bentuk tulisan imajinatif, dan sebagai media penyimpanan dan penyebaran pengetahuan. Buku merefleksikan dan berpengaruh besar terhadap perkembangan peradaban (The Universal Standard Encylopedia 963-4).
Menurut The Encyclopedia Americana International Edition (220), secara fungsional buku didefinisikan sebagai bentuk komunikasi yang dirangkai menjadi satu atau beberapa unit dengan tujuan penyajian yang sistematis dan terlindung oleh bahan yang tahan lama.
2.2.2. Sejarah buku di dunia
Pada jaman purba, buku lahir sebagai sebuah jaminan mencegah musnahnya tradisi-tradisi lisan yang berkembang terlalu panjang dan detil agar tidak hilang dari ingatan. Ilmuwan-ilmuwan menganggap bahwa bentuk buku
Universitas Kristen Petra
yang paling awal muncul adalah tanah liat, batu pipih, dan tabung-tabung poligon dari bangsa Assiria Kuno, Babilonia, Kaldea, dan bangsa lain yang terdahulu. Namun berdasarkan kesepakatan dari yang berwenang, yang dianggap sebagai bentuk buku yang paling awal muncul adalah gulungan-gulungan papyrus berisikan tulisan bangsa Mesir sekitar milenium ketiga sebelum masehi, yang berisikan tulisan-tulisan sakral dan keduniaan. Berdasarkan anggapan ini, maka buku tertua yang diketahui adalah gulungan papyrus yang dikenal sebagai The Proverbs of Ptahhotep, berisi tentang peribahasa-peribahasa dari Ptahhotep yang bijaksana, yang hidup sekitar tahun 2650 SM (Morse 964). Buku tertua lainnya adalah Book of the Dead yang dipersiapkan sebagai bawaan saat pemakaman untuk arwah-arwah yang akan berangkat. Buku ini untuk menjaga mereka dalam perjalanan ke dunia lain dan untuk memberikan keterangan tentang penghakiman yang menanti mereka (The Encyclopedia Americana International Edition 220).
Papyrus sebagai media penulisan, sangat mudah dan murah untuk diproduksi, dan dapat disesuaikan dengan tujuan penulisan. Penggunaannya tersebar dari Mesir, Yunani, Roma dan bagian dunia lainnya. Papyrus terbuat dari kulit pohon yang dikeringkan, disambung dengan perekat, lalu digulung dan dimasukkan dalam silinder yang dalam bahasa Yunani disebut dengan volume. Papyrus banyak terdapat di negeri-negeri sekitar Laut Tengah, terutama Mesir. Pada abad ketujuh, orang Mesir mempersulit ekspor bahan papyrus ke Eropa, sehingga kemudian di Eropa dipakai perkamen yang dibuat dari kulit binatang seperti anak sapi, domba, dan keledai. Perkamen yang sudah ditulisi dilipat dan disusun seperti buku yang kita ketahui sekarang ini. Karena pembuatan perkamen mahal sekali, lembaran buku lama biasanya digosok hingga bersih kemudian ditulisi lagi. Lain lagi dengan di India dan di Bali, yang menggunakan daun pohon lontar. Di Babilon dan Assiria digunakan tanah liat yang dibentuk persegi datar. Di Cina mulanya digunakan sutra, lalu ditemukan pembuatan kertas dari potongan-potongan kain oleh Tsai Lun. Metode pembuatan kertas ini dibawa ke Eropa pada abad keempatbelas. Dengan adanya kertas, penulisan lebih mudah karena kertas mudah disimpan dan lebih tahan lama.
Pada jaman kebesaran Romawi dan Yunani, banyak budak diharuskan menjalin buku dengan tangan. Di Eropa abad pertengahan, pekerjaan ini biasanya
Universitas Kristen Petra
dilakukan oleh biarawan. Di negara-negara lain, kaum cendekiawan dan alim ulama pula yang menjalin buku dengan tangan.
Penemuan mesin cetak dari pelat huruf yang dapat dipindah-pindah adalah peristiwa terbesar sepanjang sejarah buku. Namun perubahan yang dihasilkan dari penemuan mesin cetak itu tidak langsung terlihat. Dibutuhkan sekitar satu abad bagi buku cetak untuk mengembangkan bentuknya yang tidak lagi didominasi oleh estetika naskah abad pertengahan. Tujuan dari percetakan adalah produksi yang lebih cepat dan harga yang lebih rendah dari buku sejenis yang sudah ada. Tokoh utama dalam penemuan mesin cetak dan dasar-dasar percetakan adalah Johann Gutenberg. Buku yang pertama kali dicetak adalah Gutenberg Bible (The Encyclopedia Americana International Edition 226). Dengan ditemukannya mesin cetak, buku berkembang dengan sangat pesat hingga kini.
Jadi buku adalah lembaran-lembaran kertas yang berisikan tulisan, gambar, maupun kosong, dirangkai menjadi satu, dan memiliki fungsi sebagai salah satu bentuk komunikasi, misalnya mengekspresikan pemikiran dan perasaan, media penyimpanan dan penyebaran pengetahuan.
2.3. Identifikasi Autobiografi 2.3.1. Pengertian Autobiografi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (66), autobiografi adalah riwayat hidup pribadi yang ditulis sendiri.
Menurut Ensiklopedi Indonesia (331), autobiografi adalah riwayat hidup seseorang yang ditulisnya sendiri.
Autobiografi berasal dari bahasa Yunani yaitu autos yang berarti sendiri, bios yang berarti hidup, dan graphein yang berarti menulis. Autobiografi adalah biografi yang ditulis oleh subjek itu sendiri, atau bekerjasama dengan seorang penulis dalam pembuatannya, biasanya menggunakan kata-kata “disunting oleh”, “dengan”, atau “as told to” (Wikipedia). Salah satu contohnya adalah Sukarno: An Autobiography: as told to Cindy Adams.
Menurut Encyclopædia Britannica (1009), autobiografi memiliki hubungan yang sangat dekat, atau merupakan bentuk khusus dari karya biografikal. Karena autobiografi ditulis oleh orang itu sendiri, maka cerita riwayat
Universitas Kristen Petra
hidupnya “belum selesai”. Autobiografi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu autobiografi informal dan autobiogafi formal.
Autobiografi informal mencakup berbagai macam bentuk, mulai dari tulisan-tulisan pribadi yang dibuat semasa hidup yang tidak dimaksudkan untuk publikasi. Kumpulan surat-surat, buku harian, dan jurnal yang ditulis oleh orang itu sendiri bisa digolongkan dalam autobiografi informal. Selain itu, ada pula autobiografi informal dalam bentuk sebuah memoar atau kenangan. Autobiografi dalam bentuk ini biasanya isinya menekankan pada apa yang diingat oleh penulis, lebih dari mengenai penulis itu sendiri. Memoar berisi tentang pengalaman-pengalaman, orang-orang, dan peristiwa-peristiwa yang dianggap penting dalam hidupnya. Contohnya adalah memoar Winston Spencer Churchill mengenai Perang Dunia kedua, yang mendapatkan hadiah Nobel untuk sastra pada tahun 1953 (Encyclopædia Britannica 1009; Ensiklopedi Indonesia 2195).
Autobiografi formal berbentuk seperti biografi pada umumnya. Sebuah kisah kehidupan yang dibentuk oleh berbagai kumpulan informasi, termasuk informasi yang terdistorsi dan terlewatkan secara sadar maupun tidak sadar.
Secara umum biografi bertumpu pada dokumen-dokumen dan sudut pandang yang beragam, sedangkan autobiografi dibuat berdasarkan ingatan penulis.
Jadi autobiografi adalah riwayat hidup seseorang yang ditulis oleh orang itu sendiri berdasarkan ingatannya. Terkadang tokoh tersebut berkolaborasi dengan seorang penulis atau editor dalam pembuatan autobiografi tersebut.
2.3.2. Sejarah Autobiografi
Pada jaman dahulu hingga abad pertengahan, sudah ada beberapa contoh tulisan yang bisa disebut autobiografi. Pada abad kedua sebelum Masehi, Ssu-ma Ch’ien, seorang ahli sejarah klasik berkebangsaan Cina, memuat riwayat hidupnya secara singkat dalam Shihchi, “Historical Records”. Selain itu, contoh lainnya adalah surat rasul Paulus pada awal era Kristiani dan Julius Caesar dalam Commentaries yang menceritakan sekilas mengenai dirinya sendiri dan sebagian besar bercerita tentang penaklukan Gaul dan cara kerja mesin militer Roma (Encyclopædia Britannica 1010).
Universitas Kristen Petra
Ada pula The Confessions, autobiografi Santo Agustinus. Buku tersebut mengungkapkan dan membandingkan karakter dan perilaku sang santo sebelum dan sesudah ia masuk dalam kekristenan (“Sulit Mencari Objektivitas dalam Biografi,” par. 3-5).
Secara umum, dapat dikatakan bahwa autobiografi dimulai sejak jaman renaissance pada abad ke-15. Autobiografi pertama dibuat oleh Margery Kempe, seorang wanita berkebangsaan Inggris yang tidak pernah belajar mengenai sastra. Autobiografi formal pertama dibuat beberapa generasi kemudian oleh seorang tokoh humanis, Enea Sylvio Piccolomini, setelah ia diangkat sebagai Paus Pius II pada tahun 1458. Dalam buku autobiografi pertamanya, Commentarii, yang judulnya mengimitasi autobiografi karangan Julius Caesar, Paus Pius II menceritakan karirnya hingga menjadi seorang paus (Encyclopædia Britannica 1010).
Autobiografi terus berkembang dan berbagai tokoh menulis autobiografinya. Namun kata autobiografi sendiri pertama kali muncul dalam cetak adalah di The Monthly Review pada tahun 1797 (Encyclopædia Britannica 1010).
2.3.3. Keadaan Buku Autobiografi di Indonesia Masa Kini
Buku autobiografi yang belakangan beredar di Indonesia saat ini adalah buku autobiografi yang ditulis oleh seorang penulis berdasarkan wawancara terhadap tokoh tersebut. Contohnya adalah Titiek Puspa: A Legendary Diva karangan Alberthiene Endah. Buku ini bercerita mengenai perjalanan hidup Titiek Puspa sejak kecil hingga kini, dari seorang gadis biasa hingga menjadi penyanyi senior di tanah air. Autobiografi lainnya adalah Chrisye, Sebuah Memoar Musikal, yang juga ditulis oleh Alberthiene Endah. Buku ini menceritakan pengalaman hidup Chrisye dan perjalanan karirnya.
Sebuah buku autobiografi lain yang sudah cukup lama diproduksi namun masih dinilai berkualitas oleh beberapa kalangan adalah Sukarno: An Autobiography karangan Cindy Adams, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Sebagai autobiografi yang ditulis dari sudut pandang satu orang, seharusnya isinya
Universitas Kristen Petra
monoton. Apalagi pembagian babnya kronologis sesuai fase-fase perjuangan Sukarno. Namun kepiawaian Bung Karno dalam bercerita menjadikan buku ini sangat menarik. Membaca autobiografinya itu seperti membaca sebuah novel. "I'm a master at choosing words," kata Bung Karno (Qaris, par. 23; Adams 179).
Di Indonesia belakangan ini sebenarnya cukup susah menggolongkan sebuah buku sebagai autobiografi atau biografi. Yang kini sedang marak adalah penulisan buku-buku biografi oleh tokoh-tokoh masyarakat, khususnya tokoh politik, militer dan selebriti. Namun buku-buku biografi ini kebanyakan menjadi seperti sebuah buku autobiografi, karena merupakan pesanan dari sang tokoh sendiri. Sudut pandang tokoh menjadi faktor terpenting. Kebanyakan penulis biografi hanya menggali dari satu sumber, yaitu tokoh yang akan dibiografikan. Meskipun penulisannya dibuat sebagaimana mestinya buku biografi, esensi buku tersebut adalah sebuah autobiografi. Kalaupun ada sumber lain, itu harus seijin sang tokoh, atau paling tidak harus mendukung keinginan sang tokoh.
Terkadang buku autobiografi maupun biografi dibuat untuk mengungkapkan sebuah fakta, misalnya lewat memoar yang khusus menyorot suatu fase dalam kehidupan tokoh, seperti Bukunya mantan Presiden B.J. Habibie: Detik-detik yang Menentukan, atau dua buku Jenderal Wiranto: Bersaksi di Tengah Badai dan Selamat Jalan Timor Timur; Pergulatan Menguak Kebenaran.
Di dunia politik, hampir semua calon presiden dan calon wakil presiden memiliki biografinya masing-masing, atau paling tidak buku yang bertutur tentang dirinya (“Ramai-ramai Unjuk Diri Melalui Biografi,” par.1, 11).
Salah satu faktor larisnya buku autobiografi maupun biografi adalah karena setiap tokoh memiliki “pasar”nya sendiri (Kuntowijoyo 12). Dengan demikian, segmen pembacanya sangat jelas. Tak heran pembaca rela merogoh saku lebih dalam hanya untuk memiliki panduan sejarah atau riwayat hidup idola mereka.
Kepopuleran sang tokoh juga bisa menjadi salah satu faktor pendorong orang membeli buku yang berisi tentang riwayat hidupnya. Misalnya buku biografi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Sang Demokrat yang dalam sebulan sudah naik cetak dua kali. Alasan orang membeli buku ini adalah karena figur beliau, bukan pada adanya fakta baru yang membuat penasaran. Namun
Universitas Kristen Petra
faktor kepopuleran ini tidak selamanya bisa meningkatkan penjualan, karena yang dicari pembeli adalah apa yang ditulis, bukan siapa yang ditulis. Pengungkapan fakta sejarah baru dalam buku biografi juga berperan penting dalam membuat buku biografi menjadi menarik (Qaris, par. 3, 14).
Penulisan biografi, menurut sejarawan Deliar Noer, mulai marak pada era 1970-an. Mungkin karena saat itu Angkatan 45 sudah mulai berumur dan ingin berbagi cerita perjuangannya. Bung Hatta sempat menuliskan memoarnya yang cuma satu jilid. Sisa ceritanya terkubur bersama dengan sang tokoh (dikutip dalam Qaris, par. 31). Lalu penulisan biografi kembali marak setelah era reformasi, karena para politisi berebut muncul dan ingin mengenalkan diri, visi dan misinya kepada masyarakat lewat buku biografi mereka (Qaris, par. 33).
Buku biografi memang tidak pernah surut. Hingga masa kini, masih banyak orang yang meminta untuk dibuatkan biografinya, sampai-sampai penerbit Pustaka Sinar Harapan kewalahan dan akhirnya menolak sebagian permintaan. Dalam satu tahun, tidak kurang dari tiga puluh buku biografi diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan, yang mana jumlahnya berarti 30-40% dari total jumlah buku yang diterbitkan oleh penerbit ini. Bahkan penulis biografi pun juga kewalahan menerima pesanan penulisan buku biografi. Usamah Hisyam, penulis biografi Susilo Bambang Yudhoyono, mengaku karena banyak permintaan, beliau membatasi dalam satu tahun hanya membuat biografi satu tokoh, dan tidak membuatkan biografi untuk tokoh-tokoh yang bermasalah (“Ramai-ramai Unjuk Diri Melalui Biografi,” par. 13-16).
Para artis yang ramai-ramai membuat biografi mengaku semata-mata hanya ingin berbagi pengalaman, bukan untuk mengejar popularitas ataupun keuntungan materi (“Ramai-ramai Unjuk Diri Melalui Biografi,” par.12).
Jadi secara umum, alasan-alasan orang Indonesia menulis autobiografi dan biografi adalah untuk berbagi pengalaman, menjelaskan permasalahan atau sebagai counter terhadap isu-isu miring, mencari dukungan, menciptakan animo masyarakat, dan menciptakan opini positif.
Universitas Kristen Petra
2.4. Identifikasi Desain Grafis 2.4.1. Pengertian Desain Grafis
Desain grafis adalah seni atau profesi dalam komunikasi visual yang mengombinasikan gambar, teks dan ide untuk menyampaikan informasi pada audience, terutama untuk memberikan hasil tertentu (Dictionary.com).
Menurut American Heritage Dictionary, desain grafis adalah praktek atau profesi mendesain informasi secara visual dalam bentuk cetak atau elektronik, seperti untuk iklan, publikasi, atau website (Dictionary.com).
Fungsi desain grafis menurut Cullen (11) adalah untuk mengomunikasikan pesan melalui penataan teks dan gambar.
Menurut Rand, mendesain itu lebih dari sekedar menghimpun, menyusun, ataupun mengedit. Mendesain adalah memberi arti dan nilai tambah, menjelaskan, menyederhanakan, menerangkan, mengubah, mengagungkan, mendramatisasi, membujuk, dan bahkan mungkin menghibur. Mendesain adalah bagaikan mengubah dari bentuk prosa menjadi puisi (Cullen 5, 10).
Desain grafis adalah bidang analitis yang menuntut sejumlah keahlian, mencakup manajemen, pemecahan masalah, dan ketajaman visual. Desain adalah suatu proses penemuan. Desain adalah sebuah perjalanan yang mengungkapkan komunikasi melalui tahap-tahap yang terpisah, yang mencakup riset dan pengumpulan informasi, brainstorming, konseptualisasi, eksperimen dan pengembangan, dan eksekusi. Ketika melakukan pendekatan terhadap masalah desain, fokus desainer harus bukan pada hasil akhir. Meskipun hasil akhir memang penting, jalan yang dilalui juga sama pentingnya. Penemuan dan insight yang berharga, dicapai melalui setiap tahap dalam proses desain. Tak peduli proyek besar atau kecil, setiap tahap menuntut perhatian penuh (Cullen 25).
Desainer adalah creative thinker dan pemecah masalah visual. Setiap proyek menuntut estetika dan pendekatan intelektual yang berbeda untuk berkomunikasi dengan tepat, efektif dan secara istimewa. Meskipun aturan-aturan dan teknik dasar desain harus dipelajari, diterapkan dan dipraktekkan, penyelesaian visualnya bukanlah sesuatu yang bisa diformulasikan. Setiap desainer menyumbangkan kemampuan, pengetahuan, keahlian, pengalaman dan
Universitas Kristen Petra
intuisinya masing-masing dalam proses desain, yang mana akan membentuk dan membedakan semua proyek (Cullen 43).
Jadi desain grafis adalah seni atau profesi yang mengombinasikan elemen-elemen desain, dan ide untuk berkomunikasi secara visual, baik dalam bentuk desain cetak maupun elektronik, dan harus melalui tahapan-tahapan riset dan pengumpulan informasi, brainstorming, konseptualisasi, eksperimen dan pengembangan, dan eksekusi.
2.4.2. Layout
Dalam mendesain isi buku, dikenal istilah layout. Layout didefinisikan sebagai menyatukan elemen-elemen menjadi satu dalam suatu area untuk menciptakan interaksi satu sama lain sehingga mengomunikasikan pesan dalam suatu konteks. Pesan tersebut dapat tersampaikan atau bahkan dimanipulasi melalui permainan elemen-elemen tersebut dengan pertimbangan yang matang. Elemen-elemen ini dapat berupa kata-kata, fotografi, ilustrasi, grafik, digabungkan dengan kombinasi kuat hitam, putih dan warna (Swann 11).
Lembaran yang kosong tidak memiliki arti, namun sangat potensial bagi desainer untuk membuatnya berarti. Warna, bentukan, gambar, ruang dan tipografi bergabung untuk menyampaikan suatu pesan. Dalam menata elemen-elemen visual, desainer memerlukan sistem penyusunan yang membantu audience mempertimbangkan sebuah desain. Sistem penyusunan, atau hierarchy, menetapkan tingkat aktivitas dan kepentingan setiap elemen dan menentukan susunannya dalam desain. Elemen yang dominan maupun kurang penting diatur untuk mencapai kejelasan pesan. Sebuah hirarki yang kuat dan sistematis menjadikan desain dapat diterima, berkesinambungan, terintegrasi, terarah, dan bervariasi (Cullen 73).
Hirarki dibentuk dengan cara menciptakan sebuah focal point yang jelas. Focal point adalah titik yang mampu menarik mata untuk memprakarsai interaksi antara viewer dengan desain. Ketika focal point dan elemen subordinat bergabung, mata akan memusatkan perhatiannya pada desain tersebut. Lalu mata akan mulai merasakan sistem susunannya dan dituntun sesuai alur. Tanpa adanya visual hierarchy, elemen-elemen desain menuntut perhatian yang sama. Mata akan kacau
Universitas Kristen Petra
dan bergerak terus menerus ke seluruh permukaan tanpa arah yang jelas, sehingga tidak ada yang terkomunikasikan. Menunjukkan pesan melalui hirarki adalah pendekatan yang efektif untuk menyusun isi dan menambah nilai desain (Cullen 74).
Pertama-tama dimulai dengan mengurutkan elemen-elemen visual berdasarkan tingkat kepentingannya. Sederhananya, desainer harus menentukan apa yang harus dilihat pertama, kedua, ketiga, dan sebaginya oleh viewer. Dengan demikian, desainer memberikan peranan bagi masing-masing elemen dalam menyampaikan pesan. Yang harus diingat dalam hal ini adalah elemen-elemen desain tidak bisa memiliki kekuatan visual yang sama, karena hal itu akan membuat desain kekurangan hirarki, dan viewer menjadi bingung menentukan elemen yang penting dan yang kurang penting. Meskipun desain itu membuat kesan pertama yang kuat pada viewer, namun tidak menyediakan titik awal untuk mengikat viewer (Cullen 76).
2.4.3. Elemen-Elemen dalam Desain Grafis
Menurut Siebert dan Ballard (11), elemen-elemen dalam desain grafis meliputi garis, bentukan, tekstur, ruang, ukuran, value dan warna. Elemen-elemen tersebut diibaratkan sebagai bahan dalam membuat masakan. Dengan bahan-bahan yang sama, bisa dikomposisikan untuk membuat resep masakan yang berbeda-beda, sama seperti elemen-elemen desain yang ada bisa digunakan untuk membuat desain yang berbeda-beda, bergantung pada bagaimana mereka digunakan dan dikomposisikan.
2.4.3.1. Garis (Line)
Garis adalah unsur desain yang menggabungkan antara satu titik dengan titik lainnya. Garis merupakan unsur dasar yang membangun bentuk. Garis bisa berupa garis lurus (straight) maupun garis lengkung (curve). Garis bisa berbentuk tebal, tipis, atau titik-titik.
Garis pembatas (rule) adalah garis yang memisahkan sebagian layout dari bagian yang lain. Vertical rule dapat digunakan untuk memisahkan layout menjadi bentuk kolom-kolom. Garis titik atau garis putus-putus dapat digunakan
Universitas Kristen Petra
untuk menghubungkan informasi, misalnya seperti daftar makanan yang dihubungkan dengan harga menggunakan garis titik-titik dalam buku menu. Garis lengkung memberi kesan elegan dan indah (Siebert dan Ballard 12).
Dalam desain, garis dapat digunakan untuk mengatur informasi, memberi tekanan pada suatu kata, menghubungkan informasi, membentuk suatu bentukan, memberikan outline pada foto untuk memisahkannya dari elemen yang lain, membuat grid, membuat grafik, membuat pola atau ritme dengan membuat banyak garis, mengarahkan mata audience, dan memberikan kesan akan adanya suatu emosi (Siebert dan Ballard 13).
2.4.3.2. Bentukan (Shape)
Bentukan adalah segala sesuatu yang memiliki panjang dan lebar. Ada tiga jenis bentukan yang berbeda, yaitu bentukan geometrik seperti segitiga, bujur sangkar, persegi panjang, dan lingkaran, yang teratur dan terstruktur, lalu bentukan alam (binatang, tumbuhan, manusia) yang tidak teratur dan berubah-ubah, serta bentukan abstrak yang merupakan versi sederhana dari bentukan alam. Contoh dari bentukan abstrak adalah simbol yang menunjukkan fasilitas untuk orang yang berhalangan secara fisik (sosok dalam kursi roda yang sudah disederhanakan).
Bentukan dapat digunakan untuk memotong sebuah foto dengan menarik (seperti dengan memotongnya berbentuk oval), menyimbolkan sesuatu (cinta dilambangkan dengan bentukan hati), membuat sebuah blok copy menjadi lebih menarik (misalnya copy dibuat berbentuk bintang), membuat format baru (misalnya membuat brosur dengan bentuk segitiga), menonjolkan informasi (membuat bentukan dengan tinta warna lain di belakang copy yang penting), menyiratkan huruf (misalnya menggunakan segitiga untuk mewakili huruf A), menyatukan desain dengan subjeknya (misalnya menggunakan bentukan geometris pada brosur seorang arsitek), dan menyatukan semua elemen dalam layout, misalnya dengan menggunakan blok copy berbentuk persegi, memotong foto berbentuk persegi, dan bullet berbentuk persegi dalam teksnya (Siebert dan Ballard 14-5).
Universitas Kristen Petra
Sedangkan menurut Purwosuwito (par. 2) berdasarkan pada kategori sifatnya, bentukan dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu huruf (character), simbol (symbol), dan bentuk nyata (form). Huruf direpresentasikan dalam bentuk visual yang dapat digunakan untuk membentuk tulisan sebagai wakil dari bahasa verbal dengan bentuk visual langsung, seperti A, B, C, dan sebagainya. Simbol direpresentasikan dalam bentuk visual yang mewakili bentuk benda secara sederhana dan dapat dipahami secara umum sebagai simbol atau lambang untuk menggambarkan suatu bentuk benda nyata, misalnya gambar orang, bintang, matahari dalam bentuk sederhana (simbol), bukan dalam bentuk nyata (dengan detail). Bentuk nyata betul-betul mencerminkan kondisi fisik dari suatu obyek. Seperti gambar manusia secara detil, hewan atau benda lainnya.
2.4.3.3. Tekstur (Texture)
Tekstur adalah tampilan dari permukaan yang terlihat maupun terasa. Tekstur dapat digunakan untuk menambahkan keragaman dan dimensi pada desain. Ada dua jenis tekstur yaitu tactile texture dan visual texture. Tactile texture adalah tekstur yang dapat dirasakan dengan diraba, misalnya tinta cetak pada kertas yang kasar dan uncoated, atau dengan menggunakan teknik emboss. Visual texture menciptakan ilusi akan adanya tekstur. Wallpaper biasanya dicetak demikian sehingga terlihat seakan terbuat dari kain misalnya linen. Bahkan sekelompok teks juga memiliki visual texture dari pola gelap terang yang diciptakan oleh huruf-huruf dan ruang di antaranya.
Sebenarnya pola (pattern) adalah sejenis visual texture. Ketika sebuah gambar atau sebaris kata-kata diulang terus-menerus, misalnya dalam kertas pembungkus, ritme dari gelap terang menambahkan dimensi pada permukaan. Karena itulah pola bisa membuat background atau border yang indah pada layout.
Tekstur dapat digunakan untuk menghubungkan gambar dengan background (misalnya memberi pola bunga-bungaan sebagai frame di sekitar foto yang elegan), memberikan suatu nuansa pada layout (desain dengan menggunakan tekstur kertas yang lembut akan memberikan perasaan hangat), menciptakan kontras untuk menarik perhatian (memberikan blok warna di sekeliling ilustrasi atau foto di tempat yang bertekstur), menipu mata, menimbulkan emosi tertentu,
Universitas Kristen Petra
menciptakan perasaan akan adanya keragaman dan kedalaman, serta menambahkan keaktifan (Siebert dan Ballard 16-7).
2.4.3.4. Ruang (Space)
Ruang adalah jarak atau daerah di antara atau di sekitar bentukan-bentukan, yang mana pada praktek desain dapat dijadikan unsur untuk memberi efek estetika desain.
Meskipun ada banyak elemen dalam suatu desain, white space harus ada. White space adalah ruang kosong yang tidak terisi oleh teks maupun gambar. Ruang ini menyediakan peristirahatan bagi mata dan secara visual mengatur semua yang ada pada halaman, misalnya white space antar kolom teks (gutter) menyediakan batasan untuk membantu pembaca dalam membaca teks.
Peletakan dan gelap terang bentukan pada halaman menciptakan perbandingan ruang dan focal point (penarik perhatian). Bila sebuah kata dibuat dalam ukuran besar dan dikelilingi oleh white space, maka mata pembaca akan langsung terarah pada kata tersebut, meskipun banyak teks lain yang terdapat pada bagian lain dari halaman tersebut.
Ruang dapat digunakan untuk memberikan peristirahatan untuk mata, menciptakan pertautan antar elemen (pemberian ruang sempit antara elemen-elemen akan membuat elemen-elemen-elemen-elemen tersebut terlihat berhubungan), membentuk bentukan positif dan negatif, menonjolkan suatu elemen (dengan memberikan banyak ruang kosong di sekitarnya), membuat layout mudah untuk diikuti (misalnya dengan memberi margin), membuat sebuah halaman terlihat dinamis (memiliki ruang jeda yang tidak sama antara elemen-elemen), dan membuat tulisan terlihat sejelas mungkin misalnya dengan mengatur jeda antar huruf, kata, dan baris senyaman mungkin untuk dibaca. (Siebert dan Ballard 18-9).
2.4.3.5. Ukuran (Size)
Ukuran adalah elemen yang mendefinisikan besar kecilnya suatu obyek. Ukuran memegang peranan penting dalam membuat layout yang fungsional, menarik dan teratur. Untuk membuat sebuah layout yang fungsional, ukuran huruf dan gambar yang dipilih harus memudahkan pembaca untuk melihat dan
Universitas Kristen Petra
membaca dari jarak tertentu. Misalnya, dalam membuat brosur rumah yang ditargetkan untuk para pensiunan, ukuran font yang digunakan harus cukup besar untuk dapat dibaca oleh orang-orang tua. Hal yang kita inginkan untuk dilihat pertama kali oleh audience, tampilkan paling besar, dan hal-hal yang kurang penting lainnya ditampilkan lebih kecil. Headline biasanya lebih besar daripada teks yang mengikutinya.
Ukuran bisa digunakan untuk menunjukkan elemen mana yang terpenting dengan membuatnya berukuran paling besar, juga bisa memberikan kesadaran akan besar kecilnya sesuatu pada pembaca (dalam foto biasanya obyek dibandingkan dengan tangan untuk perbandingan), membuat semua elemen mudah dilihat (dengan menggunakan ukuran huruf dan gambar yang lebih besar untuk poster yang akan ditempel di dinding), mendapatkan perhatian (dengan menggunakan ukuran yang tidak sama dengan standar umumnya), membandingkan dua elemen untuk menjadikan menarik (misalnya meletakkan foto ukuran besar di sebelah sebaris teks kecil), menyela ruang dengan cara yang menarik, membuat elemen-elemen mengisi bidang desain dengan pas (misalnya font dibuat berukuran kecil agar tersedia lebih banyak ruang untuk gambar), dan membentuk kesan konsisten sepanjang brosur atau koran, misalnya dengan membuat semua headline berukuran sama (Siebert dan Ballard 20-1).
2.4.3.6. Value
Value adalah gelap terang pada suatu daerah. Value memberikan bentuk dan tekstur pada segala sesuatu di sekeliling kita. Setiap elemen pada layout memiliki value. Value itu relatif, karena itu value dari sebuah elemen dapat dipengaruhi oleh background dan elemen-elemen lain yang ada di sekitarnya. Value merupakan sarana yang penting untuk mengekspresikan tema. Menggunakan sedikit variasi dari terang ke gelap (low contrast value) dapat menciptakan nuansa tenang. Menggunakan variasi yang cukup besar dari terang ke gelap (high contrast value) memberikan perasaan dramatis atau kegemparan.
Value dapat digunakan untuk memisahkan secara visual antara teks yang berbeda (misalnya mengubah warna teks lain menjadi lebih tipis dan gelap), menuntun mata melalui halaman (menggunakan gradasi warna pada background),
Universitas Kristen Petra
menciptakan pola misalnya papan catur, memberi ilusi akan adanya kedalaman dan isi (memberikan shade untuk membuat benda terlihat tiga dimesi), membuat suatu karya terasa lembut (hanya menggunakan value yang terang), membuat sebuah layout terlihat dramatis, menonjolkan suatu elemen, dan membuat obyek terlihat berada di depan atau di belakang lainnya (Siebert dan Ballard 20-1).
2.4.3.7. Warna (Color)
Warna adalah perwujudan secara fisik dari gelombang cahaya. Warna tercipta dari perbedaan panjang pendek gelombang cahaya yang dipantulkan oleh permukaan benda, dan memiliki variasi yang tak terhingga.
Warna merupakan salah satu elemen yang terpenting dalam desain, dan bisa dijadikan alat untuk menarik perhatian. Bisa jadi warna adalah elemen pertama yang diingat seseorang ketika melihat sesuatu untuk pertama kalinya. Warna bersangkut paut dengan persepsi dan interpretasi subjektif. Bahkan jika melihat objek yang sama, orang akan menggambarkannya dengan referensi dan pengalaman yang berbeda dan akan mengekspresikan warna yang sama dengan istilah yang beragam. Warna merupakan fenomena yang terjadi karena adanya tiga unsur, yaitu cahaya, objek dan observer (dapat berupa mata ataupun alat ukur).
Dalam pembagian warna, kita menggunakan lingkaran warna (color wheel). Warna-warna dalam lingkaran warna terdiri atas tiga bagian, yaitu:
- Warna primer, terdiri atas warna merah, kuning, dan biru. Warna primer merupakan warna dasar dalam lingkaran warna.
- Warna sekunder, terdiri dari oranye, hijau, dan ungu. Warna sekunder merupakan campuran dua warna primer dengan perbandingan yang sama. Warna oranye merupakan percampuran warna merah dan kuning, warna hijau merupakan percampuran warna biru dan kuning, sedangkan warna ungu merupakan percampuran warna merah dan biru.
- Warna tersier, merupakan percampuran antara warna primer dan sekunder disebelahnya dengan perbandingan yang sama. Warna tersier terlihat unik dan cantik, seperti hijau limau (lime green) yang dihasilkan dari campuran warna
Universitas Kristen Petra
hijau dan kuning. Ada warna hijau toska yang dihasilkan dari percampuran warna hijau dan biru. Warna indigo, dihasilkan dari campuran ungu dan biru.
Gambar 2.1. 12 Hue Color Wheel
Sumber: Bonnie Skaalid, Classic Graphic Design Theory
(Saskatchewan: University of Saskatchewan, 1999) (telah diolah kembali) Available:
http://www.usask.ca/education/coursework/skaalid/theory/cgdt/color.htm Dalam proses percampuran warna yang diterapkan dalam peralatan atau perangkat input maupun output, kita mengenal ada dua macam cara, yaitu percampuran warna additive dan warna subtractive.
- Percampuran warna additive adalah percampuran warna primer cahaya yang terdiri atas warna red, greed, dan blue dimana percampuran ketiga warna primer dengan jumlah yang sama akan menghasilkan warna putih. Kombinasi antara dua warna primer akan menghasilkan warna sekunder. Warna sekunder tersebut, yaitu cyan (gabungan warna green dan blue), magenta (gabungan warna blue dan red), yellow (gabungan warna red dan green). Prinsip pencampuran warna additive diterapkan pada monitor, TV, video, scanner, dll.
Universitas Kristen Petra
Gambar 2.2. Additive Color System Sumber: Donald Johansson, Colors on the Web Available: http://www.colorsontheweb.com/colortheory.asp
- Warna subtractive adalah warna sekunder dari warna additive, namun secara material warna subtractive berbeda dengan warna additive. Warna additive dibentuk dari cahaya, sedangkan warna subtractive dibentuk dari pigmen warna yang bersifat transparan. Tinta cetak adalah contoh dari pencampuran warna subtractive. Warna subtractive terdiri atas cyan, magenta, yellow. Secara teori, pencampuran ketiga warna subtractive akan menghasilkan warna hitam, tetapi kenyataan di lapangan adalah warna coklat tua (karena keterbatasan pigmen tinta cetak), oleh sebab itu, ditambahkan warna hitam (black yang dinyatakan dengan simbol K, berasal dari kata key) untuk menambah kepekatannya. Saat ini CMYK menjadi warna standar dalam proses cetak separasi warna di industri grafika.
Universitas Kristen Petra
Gambar 2.3. Subtractive Color System Donald Johansson, Colors on the Web
Available: http://www.colorsontheweb.com/colortheory.asp
Model warna merupakan suatu metode untuk menjelaskan metode pembentukan warna. Pada salah satu aplikasi digital komputer grafis yaitu Adobe Photoshop, ada beberapa model warna yang disediakan. Setiap pilihan model warna akan menentukan jenis output dan jenis koreksi warna yang dilakukan. - RGB, menggunakan 3 channel, yakni red, green, dan blue dalam
memproduksi warna. Kamera digital, scanner, monitor, dan TV adalah contoh peralatan yang bekerja secara RGB. Gambar dalam bentuk RGB bekerja dengan 24 bit, dimana tiap channel warna mengandung 8 bit.
- CMYK, menggunakan 4 channel, yaitu cyan, magenta, yellow, dan black dalam memproduksi warna. Tinta cetak, printer toner adalah contoh peralatan yang bekerja secara CMYK. Umumnya, gambar dalam bentuk CMYK bekerja dengan 32 bit, dimana tiap channel warna mengandung 8 bit.
- Lab, merupakan model warna tiga dimensi yang terdiri atas L (lightness), A (jangkauan warna dari red-green), dan B (jangkauan warna dari blue-yellow). Lightness menandakan terang dan gelap, sementara A dan B adalah koordinat
Universitas Kristen Petra
chromaticity, yaitu menunjuk kepada derajat intensitas warna. Satuan Lab dibuat oleh badan internasional (CIE) pada tahun 1976 dengan tujuan agar ada satu standar warna yang bisa membantu komunikasi warna dari berbagai peralatan yang berbeda.
Warna memiliki karakteristik yang dinyatakan dalam istilah HSL.
- Hue, istilah yang dipakai dalam dunia warna untuk klasifikasi merah, kuning, biru, dll.
- Saturation/chroma, merupakan derajat intensitas suatu warna. Semakin tinggi nilai saturasinya, maka warna akan semakin colorful, semakin rendah nilai saturasinya, warna semakin menuju ke abu-abu atau semakin pudar warnanya. - Lightness, merupakan nilai terang gelapnya suatu warna (Dameria 8, 10,
15-20)
Dalam psikologi warna, persepsi psikologis terhadap warna adalah pengalaman subyektif. Maka dari itu, panjang gelombang akan menyebabkan dua orang yang menyatakan warna yang sama namun selalu sedikit berbeda. Dasar pengelihatan warna yang dimiliki manusia secara biologis akan dapat pula menimbulkan derajat universalitas yang tinggi antar budaya dan bahasa dalam mempersepsi warna.
Riset telah membuktikan bahwa respon manusia sebagian dipengaruhi oleh aspek psikologis, didasari oleh efek warna yang ditangkap oleh mata dan sistem saraf, dan sebagian lagi dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalamannya. Penjelasan sederhananya dalam ilmu sains adalah sebagai berikut. Retina berfokus pada warna sebagai gelombang cahaya yang memiliki berbagai panjang gelombang, sudut bias, pantul, dan penyerapan, tergantung pada hue. Persepsi mata terhadap masing-masing warna memicu reaksi langsung dalam otak dan sistem saraf otonom.
Sebagai contohnya, warna panas seperti merah, oranye dan kuning, memiliki panjang gelombang yang terpanjang, menuntut energi untuk melihatnya. Itulah mengapa warna-warna ini terlihat menonjol di mata. Warna-warna tersebut juga merangsang otak dan meningkatkan denyut nadi serta laju pernapasan.
Universitas Kristen Petra
Sebaliknya, warna dingin seperti biru dan hijau, memiliki panjang gelombang terpendek dan dengan mudah memasuki mata. Maka timbullah efek meredakan dan menenangkan yang memperlambat metabolisme (Sutton dan Whelan 154).
Berikut ini adalah beberapa rangkuman dari warna dan psikologisnya (Dameria 29-50).
- Merah : hidup, cerah, pemimpin, gairah, kuat, panas, bahaya, emosi yang meledak, agresif, brutal.
- Oranye : muda, kreatif, keakraban, dinamis, persahabatan, dominan, arogan. - Kuning : segar, cepat, jujur, adil, tajam, cerdas, sinis, kritis, murah/tidak
eksklusif.
- Hijau : sensitif, stabil, formal, toleransi, harmonis, keberuntungan, pahit. - Biru : kebenaran, kontemplatif, damai, intelegensi tinggi, meditatif,
emosional, egosentris, racun.
- Ungu : artistik, personal, mistis, spiritual, angkuh, sombong, diktator. - Pink : romantis, sensual, lembut, ceria, jiwa muda.
- Coklat : alami, kesederhanaan yang abadi, hangat, budaya, tradisi. - Putih : jujur, bersih, polos, higienis, monoton, kaku.
- Hitam : kuat, kreativitas, magis, idealis, fokus, terlalu kuat, superior, merusak, menekan.
- Netral : warna yang klasik, natural, jarang menimbulkan reaksi keras bagi yang melihat, dan tidak akan terlihat kuno karena selalu trendy. Warna ini tidak dominan, dan cocok dipadukan dengan warna apapun, khususnya warna yang lebih kuat. Warna yang dapat dikategorikan sebagai warna netral adalah abu-abu, krem, beige, coklat, hitam dan putih.
2.4.4. Prinsip-Prinsip Desain
Prinsip-prinsip desain menentukan apa yang akan dilakukan dengan elemen-elemen desain. Seandainya elemen-elemen desain tadi adalah bahan untuk memasak, maka prinsip desain adalah resep masakan yang memberitahu apa yang harus dilakukan dengan bahan-bahan tersebut. Prinsip-prinsip desain mempengaruhi setiap keputusan dalam membuat suatu layout, misalnya di mana
Universitas Kristen Petra
harus meletakkan teks, gambar. Prinsip-prinsip desain antara lain adalah keseimbangan, aksentuasi, irama, dan kesatuan (Siebert dan Ballard 29).
2.4.4.1. Keseimbangan (Balance)
Keseimbangan adalah pembagian beban secara merata. Keseimbangan sangat penting, sehingga perasaan tidak nyaman akan muncul saat melihat sesuatu yang tidak seimbang. Begitu pula dengan keseimbangan dalam layout. Bila layout tidak memiliki keseimbangan, pembaca akan merasa ada yang salah dengan halaman tersebut.
Ada dua pendekatan dalam mencapai keseimbangan. Yang pertama adalah keseimbangan simetris. Keseimbangan simetris tercapai ketika berat dari komposisi terbagi rata di sekitar sumbu vertikal maupun horizontal. Dalam kenyataan biasanya, keseimbangan simetris diasumsikan dengan bentuk yang identik pada kedua sisi dari sumbu-sumbunya. Bentuk dari simetri yang terlihat mirip namun tidak identik, disebut dengan approximate symmetry. Keseimbangan simetris dapat menyampaikan kekuatan dan kestabilan, cocok untuk karya yang tradisional dan konservatif. Keseimbangan simetris secara normal diasumsikan dengan bentuk yang identik ditinjau dari kedua sisi dari sumbunya (Siebert dan Ballard 30; McClurg-Genevese, par. 9)
Pendekatan satunya adalah asimetris, yang bisa dilakukan dengan cara menata obyek-obyek yang berlainan sehingga mencapai berat yang sama pada masing-masing sisi halaman. Untuk elemen penyeimbang dalam desain asimetris, bisa digunakan warna, value, ukuran, bentukan dan tekstur. Daerah yang gelap terlihat lebih berat daripada daerah yang terang, sehingga sebuah bentukan kecil berwarna hitam di sebelah kiri bisa menyeimbangkan ruang kosong besar di sebelah kanan. Keseimbangan asimetris menunjukkan perbedaan, variasi, gerakan, kejutan dan ketidakformalan pada suatu karya. Asimetris cocok untuk karya yang harus menginformasikan dan menghibur, misalnya brosur perjalanan.
Universitas Kristen Petra
Gambar 2.4. Contoh Keseimbangan Simetris dan Asimetris Sumber: The Principles of Design
Ada berbagai cara untuk menciptakan keseimbangan, yaitu mengulang suatu bentukan dengan jeda yang teratur baik secara horizontal ataupun vertikal, memusatkan elemen-elemen pada satu halaman, meletakkan beberapa gambar kecil dalam satu area untuk menemani satu blok teks atau satu gambar ukuran besar, menggunakan satu atau dua bentukan tidak umum dan biarkan yang lainnya berbentuk biasa saja, mencerahkan karya yang berisi banyak teks dengan visual yang cerah dan berwarna-warni, berikan white space yang banyak di sekitar satu blok teks atau foto yang sangat gelap, penataan sebidang besar daerah terang di tengah karya dan sebagian kecil daerah gelap di bagian ujung, meletakkan sedikit teks yang dikelilingi banyak white space untuk menemani foto atau ilustrasi yang besar dan gelap, dan membagi halaman dengan jumlah yang sama antara baris dan kolom (Siebert dan Ballard 30-1).
2.4.4.2. Irama (Rhythm)
Irama adalah sebuah pola yang tercipta melalui pengulangan elemen-elemen yang bervariasi. Irama dapat menciptakan rasa bergerak, dan dapat membentuk pola dan tekstur. Irama dapat diciptakan melalui repetisi dan variasi. Repetisi adalah pengulangan elemen-elemen yang sama secara konsisten. Repetisi mempersatukan suatu karya. Tapi tanpa variasi, repetisi bisa jadi membosankan. Variasi adalah perubahan pada bentuk, ukuran atau posisi elemen. Halaman-halaman dengan kolom teks yang identik harus diberi jeda dengan menggunakan headline atau gambar. Dengan menyeimbangkan antara repetisi dengan variasi, karya dapat terlihat sebagai satu-kesatuan namun ada elemen-elemen yang tetap membuat pembaca merasa tertarik.
Universitas Kristen Petra
Dalam sebuah karya, irama dapat menyatakan perasaan atau nuansa. Menempatkan elemen-elemen pada jarak dan jeda yang tetap dapat menimbulkan nuansa yang tenang dan menenangkan, dan membuat teks lebih mudah dibaca. Perubahan yang mendadak dalam ukuran dan jarak antar elemen (irama cepat dan hidup) membangun nuansa yang mengasyikkan. Iklan sering menggunakan irama cepat untuk menarik dan menahan perhatian audience.
Beberapa cara untuk menciptakan irama adalah dengan mengulang beberapa elemen yang bentuknya bermiripan disertai jeda yang teratur di antaranya (regular rhythm), mengulang beberapa elemen dengan ukuran semakin lama semakin besar dan diberi jeda yang bertambah besar pula di antaranya (progressive rhythm), membuat semua teks berukuran sama tapi gambar-gambar ukurannya berbeda (repetition with variation), menyeling-nyelingkan teks besar dan gelap dengan teks yang tipis dan terang, menyeling-nyelingkan halaman-halaman berwarna gelap dengan halaman-halaman berwarna terang pada brosur, mengulang bentukan yang sama pada daerah yang berbeda-beda dalam satu layout, mengulang elemen yang sama di tempat yang sama pada setiap halaman koran (misalnya mengulang masthead dengan ukuran yang semakin mengecil), dan menggunakan banyak elemen dengan sedikit jeda di antaranya, atau sedikit elemen dengan banyak jeda di antaranya (Siebert dan Ballard 32-3).
2.4.4.3. Aksentuasi / Penekanan (Emphasis)
Aksentuasi adalah penekanan pada apa yang diinginkan untuk dilihat pertama kali oleh audience. Untuk menarik perhatian pembaca, setiap layout membutuhkan focal point. Tanpa adanya focal point, pembaca akan berlalu dengan cepat. Namun bila terlalu banyak point of interest, pembaca tidak akan tahu yang mana yang harus dilihat terlebih dahulu, dan akan menyerah. Dengan kata lain, memberi tekanan pada semuanya berarti tidak menekankan pada apapun. Karena itulah maka elemen yang paling penting harus dipilih, berdasarkan pesan yang akan dikomunikasikan dan berdasarkan target audience. Setelah memilih elemen yang akan ditekankan, ada banyak metode yang bisa dilakukan untuk menarik perhatian ke sana. Aturan umumnya adalah bahwa focal point diciptakan ketika suatu elemen berbeda dengan yang lainnya. Pada suatu
Universitas Kristen Petra
penataan di mana semuanya vertikal, elemen yang horizontal akan terlihat menonjol. Sebuah ilustrasi kecil dan detil yang dikelilingi bidang besar dan berwarna datar dapat membentuk focal point. (Siebert dan Ballard 35).
2.4.4.4. Kesatuan (Unity)
Kesatuan adalah ketika semua elemen terlihat seperti saling berhubungan satu sama lain. Salah satu cara untuk menyatukan teks dan gambar adalah dengan mengelompokkannya. Elemen-elemen yang berdekatan akan terlihat menyatu. Cara lainnya adalah dengan pengulangan. Sebuah warna, bentukan atau tekstur yang diulang pada desain akan terlihat menyatu. Misalnya dengan mengambil warna dari foto untuk digunakan sebagai background. Variasi bisa digunakan untuk membuat kesatuan layout tidak membosankan. Untuk menciptakan kesatuan, berbagai hal bisa dilakukan misalnya dalam satu layout hanya menggunakan satu atau dua jenis typeface lalu divariasikan dalam ukuran dan ketebalan (Siebert dan Ballard 36-7).
2.4.5. Tipografi
Tipografi adalah ilmu yang mempelajari tentang huruf. Huruf merupakan bagian terkecil dari struktur bahasa tulis dan merupakan elemen dasar untuk membangun sebuah kata atau kalimat. Rangkaian ini tidak hanya mengacu pada suatu obyek atau gagasan, namun kadang juga memiliki kemampuan untuk menyuarakan suatu kesan atau citra secara visual (Sihombing 3).
Tipografi adalah visible language, yaitu bahasa yang dapat dilihat. Tipografi adalah salah satu sarana untuk menerjemahkan kata-kata yang terucap ke halaman yang dapat dibaca. Peran dari tipografi adalah untuk mengomunikasikan ide atau informasi dari halaman tersebut ke pembaca. Semua hal yang berkaitan dengan desain komunikasi visual memiliki unsur tipografi di dalamnya. Kurangnya perhatian pada tipografi dapat mempengaruhi desain yang indah menjadi kurang atau tidak komunikatif (Yunita 48).
Dalam mendesain, salah satu yang harus diberi perhatian utama adalah tipografi. Berdasarkan pada nilai fungsional murni, desainer harus menyediakan
Universitas Kristen Petra
tingkat keterbacaan yang cukup, hirarki, dan kejelasan dalam menyajikan informasi verbal. Namun tipografi juga membawa pesan-pesan nonverbal.
Tipografi mempersatukan desain melalui penempatannya sebagai pelengkap dan pembanding dengan semua elemen visual lainnya. Desainer menyusun tipografi untuk mengundang pembaca ke dalam desain tersebut dan memelihara hubungan antara pembaca dengan desain itu. Tipografi adalah faktor yang menuntun (seperti dirigen dalam sebuah orkestra) yang mengendalikan aktifitas dalam halaman (simfoni) sehingga bisa mengalir. Mendesain dengan tipografi merupakan suatu kegiatan yang berseni dan harus memperhatikan detail, sehingga membutuhkan ketelitian dan kompetensi. Dalam menggunakan tipografi, tidak ada suatu batasan bagi desainer kecuali imajinasinya sendiri (Cullen 90).
Typeface memiliki kepribadian, baik itu dingin, sophisticated, atau ramah, yang mana nantinya membentuk sikap dari desain. Typeface dapat memberikan kesan pertama yang penting dalam penyampaian pesan. Type dapat mengikat atau tidak mengikat pembaca. Typeface harus memiliki karakter yang mampu mewakilkan jiwa dari desain sementara juga harus tampak jelas dan mudah terbaca. Fungsi, isi dan siapa yang melihat desain tersebut adalah hal-hal yang menentukan dalam proses pemilihan typeface. Bila typeface dipilih sembarangan, maka fungsi komunikasi dari desain tidak akan terpenuhi (Cullen 91).
Klasifikasi font secara umum berdasarkan pada karakteristik fisik dasar, dapat dibagi menjadi serif, san serif, script, dan dekoratif. Font serif adalah font yang memiliki kaki atau kait di bagian ujung-ujungnya. Sanserif adalah font yang tidak memiliki kait. Font script adalah font yang dibuat nampak menyerupai tulisan tangan. Font dekoratif adalah font yang secara fisik telah mengalami modifikasi atau distorsi dari bentuk-bentuk fisik font dasar.
Tipografi diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok yang memungkinkan terjadinya identifikasi berdasarkan sejarah perkembangannya. Ada lima klasifikasi utama typeface, yaitu old style (contohnya Garamond), transitional (Baskerville), modern (Bodoni), egyptian/slab serif (Century Expanded) dan contemporary/san serif yang diwakili dengan Helvetica (Sihombing 39).
Universitas Kristen Petra
Ada empat prinsip pokok tipografi yang sangat mempengaruhi keberhasilan sebuah desain yaitu legibility, clarity, visibility dan readability.
Legibility adalah kualitas pada huruf yang membuat huruf tersebut dapat terbaca. Dalam suatu karya desain dapat terjadi cropping, overlapping, dan sebagainya, yang dapat berakibat pada kurangnya legibilitas suatu huruf. Untuk menghindari hal tersebut, desainer harus mengenal dan mengerti karakter bentuk suatu huruf dengan baik.
Readability adalah penggunaan huruf dengan memperhatikan hubungannya dengan huruf yang lain sehingga terlihat jelas. Dalam menggabungkan huruf-huruf untuk membentuk suatu kata atau kalimat, harus memperhatikan hubungan antara huruf yang satu dengan huruf yang lain, khususnya jarak antar huruf. Ketepatan jarak tersebut bukan berdasarkan hitungan matematis namun harus dilihat dan dirasakan. Ketidaktepatan menggunakan spasi dapat mengurangi kemudahan membaca suatu keterangan yang mengakibatkan informasi yang disampaikan dalam suatu desain terkesan kurang jelas. Huruf yang digunakan mungkin sudah legible, namun bila pembaca lelah dan kurang dapat membaca teks dengan lancar, maka teks dikatakan tidak readable, yang mana dapat mengakibatkan sebuah desain disebut gagal karena kurang komunikatif.
Visibility adalah kemampuan suatu huruf, kata atau kalimat dalam suatu karya desain komunikasi visual dapat terbaca dari jarak tertentu. Font yang digunakan untuk headline dalam brosur tentu ukurannya harus berbeda dengan yang digunakan untuk billboard. Billboard harus menggunakan font yang berukuran besar agar dapat terbaca dari jarak tertentu. Setiap karya desain memiliki jarak baca dan huruf-huruf yang digunakan harus dapat terbaca dalam jarak tersebut sehingga desain bisa berkomunikasi dengan baik.
Clarity adalah kemampuan huruf-huruf yang digunakan dalam suatu desain untuk dapat dibaca dan dimengerti oleh target audience yang dituju. Agar suatu karya desain dapat berkomunikasi dengan pengamatnya, maka informasi yang disampaikan harus dapat dimengerti oleh pengamat. Unsur desain yang dapat mempengaruhi clarity adalah visual hierarchy, warna, pemilihan typeface dan lain-lain.
Universitas Kristen Petra
Keempat prinsip pokok dalam desain tipografi tersebut bertujuan untuk memastikan agar informasi yang ingin disampaikan oleh suatu karya desain dapat tersampaikan dengan tepat. Sebagai salah satu elemen dalam desain, tipografi juga dapat berekspresi dan membawa emosi, menunjukkan pergerakan elemen dalam desain, dan memperkuat arah dari suatu desain seperti elemen-elemen yang lain. Karena itulah banyak kita temui desain yang hanya menggunakan tipografi sebagai elemen utama, tanpa ada obyek gambar (Yunita 52-3).
2.4.6. Grid
Kata grid digunakan untuk menjelaskan kekuatan struktural di balik sebuah desain. Grid adalah alat yang menjelaskan ruang aktif dari sebuah halaman dan membantu desainer membuat keputusan yang penuh pertimbangan mengenai komposisi dan penyusunan. Grid memungkinkan desainer untuk mempertahankan kendali, menciptakan hubungan visual, dan mempersatukan desain (Cullen 53).
Sederhananya, grid adalah rangkaian garis khayalan atau semu yang berpotongan dan membagi bidang desain secara horizontal dan vertikal dalam jumlah dan ukuran tertentu. Grid umumnya digunakan sebagai garis bantu pedoman peletakan elemen-elemen desain dalam bidang desain. Dengan adanya grid, layout dapat diolah menjadi lebih menarik dan teratur. Umumnya grid digunakan dalam merancang sebuah layout dalam jumlah halaman yang banyak agar terdapat keutuhan dalam desain. Grid jarang digunakan untuk perancangan desain satu halaman saja (Sutopo 57).
Grid merupakan susunan baris yang fleksibel bukan mengikat. Sifatnya adalah sebagai panduan atau pedoman, bukan sebagai hukum. Dengan variasi penyusunan yang berbeda, satu kerangka grid dapat menghasilkan berbagai jenis layout yang berbeda-beda, yang ditujukan untuk menghindari kebosanan setelah membaca puluhan halaman dengan posisi yang sama. Karena itulah tidak ada susunan yang cukup baku dalam menyusun grid.
Universitas Kristen Petra
Gambar 2.5. Anatomi Grid Sumber: Layout Design Workbook
Margins menentukan area aktif dalam bidang komposisi dan mengarahkan pengamat menuju ke elemen-elemen visual. Ukuran margin bisa bervariasi tergantung pada format halaman dan isi desain. Margin yang lebih kecil meningkatkan luas area yang dapat digunakan untuk mendesain, yang mana memungkinkan desain yang lebih kompleks dengan elemen yang lebih bervariasi. Margin besar mengurangi area aktif pada halaman, namun meningkatkan luas white space, menciptakan sebuah lingkungan visual yang luas dan terbuka, yang ramah, mengundang, dan menenangkan. Sebagai contoh, buku dengan teks yang berkesinambungan tanpa keluasan visual dari margin yang besar. Margin yang besar menyediakan ruang komposisional yang stabil, yang mengarahkan mata langsung ke area positif dalam desain, dan juga memberikan tempat bagi jari untuk memegang karya tersebut. Margin tidak dibuat untuk memerangkap elemen-elemen visual dalam ruang komposisional, namun dibuat untuk mengaktifkan daerah positif dari desain. Dalam banyak kasus, margin luar dapat dilanggar untuk membiarkan elemen visual mengarahkan ke halaman selanjutnya.
Columns atau kolom adalah bagian yang memanjang secara vertikal yang digunakan untuk menjajarkan elemen-elemen visual. Lebar dan jumlah kolom
Universitas Kristen Petra
bergantung pada jumlah informasi yang ingin disampaikan baik dalam bentuk teks maupun gambar.
Gutter atau column intervals adalah pemisah antar kolom. Gutter berfungsi untuk mencegah bentrokan antar teks ataupun antar informasi visual dengan cara menyediakan ruang negatif yang memisahkan kolom yang satu dengan kolom berikutnya. Gutter sangat penting ketika elemen-elemen diletakkan pada posisi yang sama dari kolom ke kolom. Misalnya bila teks yang berkesinambungan diletakkan bersebelahan, gutter mencegah mata pembaca untuk bergerak dari baris yang satu ke baris paragraf di sebelahnya.
Flowlines membagi halaman menjadi bagian yang memanjang secara horizontal dan menciptakan titik-titik jajar untuk peletakan elemen-elemen visual.
Grid modules adalah bidang aktif yang memuat elemen-elemen visual. Desainer dapat menentukan modul tertentu untuk diisi dengan teks atau gambar, dan dapat diaplikasikan ke halaman-halaman selanjutnya. Dengan demikian dapat tercipta konsistensi, karena pembaca dapat berharap untuk melihat informasi sejenis di posisi modul yang sama. Namun dalam hal ini harus berhati-hati agar tidak menimbulkan kesan monoton. Meskipun mengulang posisi elemen-elemen visual membantu dalam mempertahankan konsistensi, hal itu juga mengurangi susunan desain yang aktif dan berirama. Desainer bisa juga memilih untuk membuat variasi dalam posisi teks dan gambar. Hal ini akan meningkatkan keharmonisan, irama, dan tekanan dari desain dan mengurangi pengulangan yang tidak efektif dan dapat diramalkan (Cullen 54-9).
2.4.7. New Simplicity
Setiap gaya desain menimbulkan perkembangan gaya desain lain yang berlawanan. Kekacauan dari sesuatu yang kompleks yang menegaskan era Post-Modern dan terus berlanjut sampai pada era digital akhirnya mendapatkan perlawanan pada sekitar tahun 90-an. New Simplicity (kadang disebut Neo-Modern), sebuah pengurangan layer dari penulisan dan gambar menjadi bentuk pesan yang sempurna. Bukan merupakan pengulangan dari Swiss International Style, namun sedikit lebih playful. Pelajaran mengenai Post-Modern yang bersih, bahwa desain grafis harus memiliki personality, seharusnya mengekspresikan
Universitas Kristen Petra
perbedaan yang beragam. Sesuatu yang dianggap berlebihan ditolak, namun daya tariknya tidak. Bentuk geometri dasar dan teks yang tidak terikat diperkenalkan kembali. Warna pastel yang menyenangkan dan ornamen yang minimalis diminta. Kekompleksan tidaklah tepat untuk semua masalah desain, dan bukan pendekatan yang sesuai untuk semua desainer. Jumlah tekstur yang berlebihan seringkali mengalahkan sebuah ide. Simplicity mengumpulkan semangat karena peningkatan informasi yang sebelumnya tidak pernah terjadi, baik dalam bentuk cetak maupun dalam internet, memaksa desainer membantu viewer untuk memimpin dalam sebuah halaman, kemasan, atau monitor dengan efisien.
Gaya desain simplicity adalah untuk meminimalisasikan keruwetan dari sebuah komponen, namun tidak seluruhnya. Minimalisme dan kekacauan adalah seperti dua sisi pada sebuah koin. Mengurangi desain grafis pada bagian-bagian kecil ketika mempertahankan ciri khas bagian tersebut dan menyampaikan ide, dan di saat yang sama menarik perhatian audiens, benar-benar merupakan sebuah tantangan. Gaya minimalis berfungsi paling baik sebagai poin yang berlawanan untuk lebih menjelaskan desain, kemudian simplicity yang radikal akan mencuri perhatian (Heller dan Chwast 255-6).
2.5. Desain Grafis dalam Buku Autobiografi
Buku autobiografi terbitan Indonesia saat ini umumnya berupa buku teks, yaitu buku dengan banyak tulisan, dengan sedikit halaman lampiran berisi foto-foto tokoh selama hidupnya atau momen-momen yang krusial dalam hidupnya. Biasanya foto-foto tersebut disertai teks berupa keterangan tentang foto tersebut. Lembaran yang berisi gambar biasanya dipisahkan dengan lembaran yang berisi tulisan. Halaman yang berisi tulisan biasanya dicetak hitam putih dengan kertas uncoated, sedangkan halaman gambar dicetak berwarna di atas kertas coated, misalnya kertas glossy. Namun ada juga foto yang dicetak pada kertas uncoated dan berupa foto hitam putih.
Contoh buku autobiografi terbitan lama adalah Sukarno: An Autobiography yang dibuat edisi bahasa Indonesianya berjudul Sukarno Penyambung Lidah Rakyat. Cetakan pertama buku terbitan Bobbs-Merrill di Indianapolis tahun 1965