• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV ANALISIS DATA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV ANALISIS DATA 4.1. Gaya Kepemimpinan

Menurut teori yang diungkapkan oleh Prasetyo (2006) gaya kepemimpinan adalah cara yang digunakan dalam proses kepemimpinan yang diimplementasikan dalam perilaku kepemimpinan seseorang untuk mempengaruhi orang lain, untuk bertindak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Demikian pula Departemen Engineering PT Primayudha Mandirijaya, pimpinan mengimplementasikan beberapa cara dalam mempengaruhi para karyawannya dalam pemenuhan tugasnya.

Cara-cara tersebut tercakup dalam lima dimensi gaya kepemimpinan, yaitu relasi antara pimpinan dan anggota kelompok, cara pengambilan keputusan oleh pimpinan, cara pimpinan memperlakukan karyawan, dan cara pimpinan menghadapi masalah (Prasetyo 2006). Perwujudan teori tersebut bila dilihat pada gaya kepemimpinan pimpinan Departemen Engineering PT Primayudha Mandirijaya, sebagai berikut:

a. Relasi Antara Pimpinan Dan Anggota Kelompok

Kinerja pimpinan sangat penting untuk meningkatkan efektivitas organisasi.Sementara lingkungan organisasi yang baik dibutuhkan oleh seorang pimpinansupaya bisa bekerja dengan baik. Prasetyo (2006) mengatakan hubungan yang terjadi antara pimpinan dan anggota kelompok akan menentukan situasi sejauh mana anggota kelompok menyukai pimpinan dan mau mematuhi pimpinannya. Di Departemen Engineering, bawahan merasa interaksi yang dibangun antara pimpinan dengan bawahan kurang harmonis. Hampir setiap pagi ketika pimpinan masuk ke dalam ruangan kerja, pimpinan tidak memberikan salam terlebih dahulu kepada karyawan dan bersikap acuh tak acuh terhadap karyawan. Karyawan juga tidak menyapa pimpinannya. Bahkan ketika pimpinan berpapasan dengan seorang karyawan di jalan dan karyawan menyapanya, pimpinan tidak menanggapi sapaan tersebut. Komunikasi yang terjadi diantara pimpinan dan karyawan

(2)

Departemen Engineering PT Primayudha Mandirijaya terjadi disaat ada hal-hal penting saja, sehingga muncul persepsi pimpinan kurang memperhatikan kebutuhan karyawan dan kurang memahami karyawan.

b. Cara Pengambilan Keputusan Oleh Pimpinan

Simon (1947) dalam Kartono (1983) mengemukakan tiga proses dalam pengambilan keputusan yang berupa Intelegence Activity, Design Activity, Choice Activity. Teori ini juga nampak pada perilaku pimpinan Departemen Engineering PT Primayudha Mandirijaya. Manajer Engineering mengambil keputusan dengan proses Design Activity, terlihat ketika pimpinan bersikap tegas dalam pengambilan keputusan untuk tidak menyetujui pembelian water heater. Pimpinan memiliki alasan tersendiri untuk tidak menyetujui pengadaan water heater, beliau ingin bertindak tegas kepada karyawan-karyawan departemen lain untuk tidak mudah meminta pengadaan barang, dan mengacu pada anggaran yang telah ditentukan.

Dalam pengadaan barang, perusahaan memiliki anggaran tersendiri untuk membeli barang-barang tersebut. Pimpinan bermaksud untuk tidak salah bertindak dalam menyetujui pengadaan barang karena akan terjadi pembengkakan anggaran. Pimpinan akan memilih barang berfasarkan prioritas dan anggaran. Meskipun pimpinan tidak menyetujui pengadaan barang water heater, pimpinan memiliki alternatif lain dengan membeli termos.

c. Cara Pimpinan Memperlakukan Karyawan

Dalam mengembangkan dan memajukan suatu organisasi manajer dengan pengaruh kepemimpinan yang dimilikinya berkewajiban untuk memahami perilaku setiap

(3)

karyawan yang berada di lingkungan kerjanya. Menurut Daft dalam Fahmi (2012) dalam memperlakukan karyawan, seorang pimpinan diharuskan untuk mempergunakan kekuatannya. Kekuatan itu terdiri dari legitimasi, penghargaan, dan koersif. Pimpinan Departemen Engineering PT Primayudha Mandirijaya memiliki kekuatan legitimasi yang berasal dari posisi manajemen formal dalam sebuah organisasi dan otoritas yang diberikan padanya.

Pimpinan Departemen Engineering cenderung tidak memberikan penghargaan atas prestasi kerja dan kurang memperdulikan cara dan proses penyelesaian tugas oleh para karyawan. Hal terpenting bagi pimpinan adalah semua sudah selesai tepat pada waktunya apabila beliau sudah memberikan tenggang waktu dalam penyelesaian tugas. Manager Departemen Engineering juga memiliki kekuatan koersif yang mengacu pada otoritas untuk menghukum atau merekomendasikan pada otoritas, hal ini terlihat ketika karyawan tidak mengirimkan e-mail laporan tepat waktu, pimpinan akan marah tanpa mendengarkan penjelasan dari karyawan.

d. Cara Pimpinan Menghadapi Masalah

Menurut Fahmi (2012) cara pimpinan menghadapi masalah adalah mencari solusi secara umum yang dapat diterapkan dalam menyelesaikan masalah dalam bidang kepemimpinan. Pimpinan Departemen Engineering PT Primayudha Mandirijaya memiliki cara yang cepat dan tanggap dalam mencari solusi atas suatu masalah.

Salah satu contoh tindakan pimpinan Departemen Engineering PT Primayudha Mandirijaya dalam menghadapi masalah adalah ketika ada seorang karyawan Electric Spinning 2 yang diberi surat peringatan oleh seorang forman

(4)

(Assistant Manager) karena mesin yang sudah diperbaiki tidak dapat berjalan normal kembali. Pimpinan Department Engineering kemudian turun tangan terhadap masalah ini. Pimpinan menanyakan mengenai kronologi kejadian, tetapi pimpinan tidak mengizinkan forman tersebut memberikan surat peringatan terhadap karyawannya karena kerusakan terjadi bukan dari mereka tetapi dari teknisi mesin luar perusahaan yang salah dalam menangani kerusakan.

4.2. Kinerja Karyawan

Menurut Armstrong dan Baron (1998) dalam Wibowo (2007) kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi ekonomi. Untuk mengetahui apakah selama pelaksanaan kinerja terdapat deviasi dari rencana yang telah ditentukan, atau apakah kinerja dapat dilakukan sesuai jadwal waktu yang ditentukan atau apakah hasil kinerja telah tercapai sesuai dengan yang diharapkan disebut pengukuran kinerja Wibowo (2007).

Departemen Engineering PT Primayudha Mandirijaya memilki pengukuran kinerja yang telah dilakukan dengan cara:

a. Presensi

Absensi atau presensi adalah dokumen yang mencatat jam hadir setiap karyawan di suatu organisasi Riadi (2014). PT Primayudha Mandirijaya memiliki mesin scanner yang digunakan untuk scan data pada barcodedi kartu identitas karyawan yang dilakukan di Time Keeper. Hasil scanner dari barcode tersimpan secara otomatis di software komputer kemudian user bisa mengolah data untuk pembuatan laporan presensi dan kemudian dicetak menjadi dokumen presensi.

Absensi berfungsi mengukur proporsi waktu kehadiran dan kesiapan kerja pegawai. Dengan absensi juga dapat mengetahui moral dan sikap pegawai dalam suatu perusahaan atau organisasi.

(5)

Tingkat absensi mengindikasikan komitmen pegawai terhadap perusahaan Wibisono (2011). Bagian NIK Sebab Tidak Hadir Jumlah Hadir Keterangan S I A C STAFF 970711 1 1 970712 1 1 970713 1 2 3 970714 970115 970116 1 1 970117 970118 1 1 970119 970120 1 1 970121 2 2 RTP Umum 970904 970901 2 2 4 970902 2 2 980903 981228 990903 1 1 010904 151406 1 1 SIPIL 970945 1 1 990906 2 1 3 970911 1 1 970946 2 2 980908 010902 1 1 150902 150903 1 1 WTP 000319 020301 990373 150341 Workshop 140318 150347 150352 Diesel Oil Treatment 970447 000338 1 1 2 970469 2 2 000341 2 2 0100315 1 1

(6)

Diesel Compresor 140340 2 2 140347 970478 1 1 150358 4 4 000348 150342 010307 000375 970448 000333 150344 AC 2 140345 150305 151484 970369 151081 970327 AC 1 970321 1 1 140322 1 1 2 130352 150359 990348 000369 1 1 Power House 980328 1 1 130371 150350 970389 990323 140325 Elect Lab &

Winding 140304 150351 150327 150323 Elect 2 000324 140309 1 1 140310 1 1 141108 1 1 140327 140330 150343 1 1 150322 140331 140339 150316 140306 140344

(7)

150340 150348 Elect 1 970457 3 2 5 150320 2 2 150324 150335 1 1 980341 980330 1 1 2 150325 980546 3 3 980555 2 2 000123 150450 1 1 150679 972451 139805 1 1 000134 2 2 984502 2 2 980562 Total 71

Departemen Engineering memiliki 93 karyawan dan 11 staff, dalam waktu satu bulan Departemen Engineering terdapat 38 karyawan yang tidak masuk kerja dengan alasan kepentingan keluarga, 18 karyawan tidak masuk kerja dengan alasan ijin sakit, 15 karyawan tidak masuk karena cuti. Dalam waktu satu bulan karyawan yang tidak masuk berjumlah 71 dari 2496 hari kerja (Perbulan:6 hari kerja*4 minggu*104 karyawan=2496).Ketidakhadiran karyawan mengindikasikan bagaimana komitmen pegawai terhadap perusahaan.

b. Loyalitas Karyawan

Alasan para karyawan Departemen Engineering PT Primayudha Mandirijaya untuk tetap tinggal di perusahaan adalah

1. Sudah mendapatkan banyak ilmu yang sebelumnya tidak mereka dapatkan. Semakin sedikitnya lapangan kerja yang tersedia kadang menyebabkan seseorang tetap bekerja di perusahaan tempatnya bekerja meskipun dengan situasi kerja yang buruk.

(8)

2. Keraguan akan mendapatkan pekerjaan lain apabila berhenti dari pekerjaannya, meskipun pimpinan terkadang marah-marah terhadap hasil kinerja mereka. 3. Karyawan bekerja bukan semata-mata untuk mencari

uang, tetapi karena tempat mereka bekerja dirasa menyenangkan.

Alasan-alasan tersebut memiliki kesamaan dengan teori yang telah diungkapkan oleh Poerwadarminta (2002), yaitu kecenderungan karyawan untuk tidak pindah ke perusahaan lain yang disebabkan adanya kesesuaian situasi dan kondisi perusahaan dengan tujuan yang ingin dicapai.

c. Disiplin Karyawan

Menurut Siagian (2003) pendisiplinan pegawai merupakan suatu bentuk pelatihan yang berusaha memperbaiki dan membentuk pengetahuan, sikap dan perilaku karyawan sehingga pada karyawan tersebut secara sukarela berusaha bekerja secara kooperatif dengan para karyawan yang lain serta meningkatkan prestasi kerjanya. Departemen Engineering PT Primayudha Mandirijaya memiliki jam kerja karyawan yaitu pukul 08.00 WIB - 16.00 WIB, Sebelum memulai aktivitas para karyawan melakukan absensi scanner di Timekeeper. Di Departemen Engineering tidak memiliki sanksi khusus jika karyawannya terlambat, karyawan yang ingin datang terlambat diberi slip keterangan mengapa karyawan tersebut datang terlambat, tidak ada sanksi atau denda apapun terhadap kedisiplinan kedatangan karyawan.

Kedisiplinan kerja di Departemen Engineering tidak hanya meliputi absensi saja, namun ada peraturan khusus yaitu dilarang membawa makanan apapun ke dalam pabrik ataupun kantor. Saat absen scannerpara satpam memeriksa tas para karyawan apakah ada yang membawa makanan di dalam tas atau tidak.

(9)

Tetapi para karyawan Departemen Engineering tidak sepenuhnya mematuhi peraturan tersebut, mereka masih saja membawa makanan melalui pintu belakang pabrik dan ketika istirahat mereka makan di dalam ruangan kantor. Para satpam lalai terhadap pengawasan, mereka hanya menjaga pintu masuk utama tanpa memeriksa pintu-pintu yang lain

Seperti yang diungkapkan oleh Kelman (1985), terdapat 3 tingkatan mengenai disiplin, yaitu disiplin karena kepatuhan, disiplin karena identifikasi, disiplin karena internalisasi. Para karyawan melaksanakan tingkatan disiplin karena kepatuhan yang didasarkan atas dasar perasaan takut. Disiplin kerja dalam tingkatan ini dilakukan semata untuk mendapatkan reaksi positif dari pimpinan atau atasan yang memiliki wewenang. Sebaliknya, jika pengawas tidak ada di tempat disiplin kerja tidak akan tampak.

d. Kerjasama Tim

Mulyadi (2001) mengungkapkan kerjasama tim akan menjadi bentuk organisasi, pekerjaan yang cocok untuk memperbaiki kinerja perusahaan. Departemen Engineering memiliki cara tersendiri agar bisa berhasil dalam suatu organisasi dan memahami hal-hal sebagai berikut:

1. Proses pengenalan tuntas antara anggota tim

2. Proses pemahaman yang mendalam antar anggota tim 3. Pembentukan solidaritas antara anggota tim

4. Strategi mengatur satu tim efektif 5. Motivasi dalam tim

6. Kepemimpinan dalam tim

7. Menentukan target, program dan tujuan bersama 8. Kepemimpinan dalam tim

(10)

9. Membangun norma dan aturan dalam tim

10. Membangun komunikasi dan hubungan antar tim 11. Mengelola konflik dalam tim

12. Proses kreatif dalam tim

Departemen Engineering memiliki cara tersendiri untuk memelihara kekompakan satu sama lain. Ini dapat dilihat dari cara Supervisor Elect Spinning 2 memenuhi kebutuhan para anggotanya untuk melaksanakan tugasnya. Seperti contohnya, supervisor yang mengambil sendiri buku laporan di ruang administrasi, mengambil keperluan alat tulis, isolasi, mengambil barang persediaan indent di store. Hal ini dilakukan oleh supervisor untuk meringankan para anggotanya, semua barang perlengkapan kerja disediakan oleh Supervisor Elect Spinning 2.

Berbeda dengan bagian Elect Spinning 1, supervisor tidak menyediakan barang-barang keperluan para anggotanya sehingga para anggotanya mendapat kesulitan dalam melaksanakan tugasnya. Ini dapat mengurangi kekompakan tim.

4.3. Faktor Penilaian Kinerja Karyawan PT Primayudha Mandirijaya

Berikut adalah contoh hasil penilaian kinerja karyawan Departemen Engineering PT Primayudha Mandirijaya :

No Faktor yang Dinilai Penilaian 1-2 Sangat Buruk 3-4 Buruk 5-6 Cukup Baik 7-8 Baik 9-10 Sangat Baik 1 Absensi 1 3 2 2 Disiplin 1 4 1 3 Loyality 1 3 2 4 Tanggung Jawab 1 5 5 Kerjasama Tim 1 5

(11)

Tabel diatas adalah hasil penilaian kinerja karyawan Departement Engineering PT Primayudha Mandirijaya. Tabel tersebut berisi tentang aspek-aspek yang dinilai dari PT Primayudha Mandirijaya serta nilai yang diberikan untuk karyawan. Di dalam tabel terlihat bahwa total penilaian kinerja karyawan Departemen Engineering adalah nilai/score 11 untuk cukup baik, nilai/score 32 untuk baik, dan nilai/score 5 untuk sangat baik terhadap kinerja karyawan. Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar karyawan Departement Engineering PT Primayudha Mandirijaya memiliki kinerja yang baik.

4.4. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan

Berdasarkan dimensi-dimensi gaya kepemimpinan dapat diketahui karakteristik pimpinan Departemen Engineering PT Primayudha Mandirijaya memiliki gaya kepemimpinan otoriter atau otokratis. Hal ini terlihat dalam dimensi gaya kepemimpinan dalam memperlakukan karyawan dengan mengharapkan para pengikutnya menyelesaikan tugas dengan tepat waktu tanpa memperdulikan proses penyelesaian tugas. (Prasetyo 2006) juga mengungkapkan gaya kepemimpinan otoriter atau otokratis dibangun atas dasar kekuasaan. Pengikut seringkali dimotivasi dengan rasa takut. Dengan gaya ini, pemimpin memerintah pengikutnya untuk mengerjakan tugas dan pengikut tersebut diharapkan untuk menyelesaikannya tanpa harus bertanya-tanya.

Sedangkan hasil pengukuran indikator kinerja mengindikasikan komitmen pegawai terhadap perusahaan. Total penilaian kinerja karyawan Departemen Engineering adalah nilai 11 untuk cukup baik,

6 Efectivity 2 4 7 Work Quality 2 4 8 Creativity dan Inisiative 2 4 Total Penilaian Kinerja 11 32 5

(12)

nilai 32 untuk baik, dan nilai 5 untuk sangat baik terhadap kinerja karyawan. Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar karyawan Departement Engineering PT Primayudha Mandirijaya memiliki kinerja yang baik.

Selain itu Departemen Engineering terdapat 93 karyawan dan 11 staff yang memiliki enam hari kerja per minggu. Berdasarkan hasil rekapitulasi absensi,dalam waktu satu bulan Departemen Engineering terdapat 38 karyawan yang tidak masuk kerja dengan alasan kepentingan keluarga, 18 karyawan tidak masuk kerja dengan alasan ijin sakit, 15 karyawan tidak masuk karena cuti.Ketidakhadiran karyawan mengindikasikan bagaimana komitmen pegawai terhadap perusahaan. Dalam waktu satu bulan karyawan yang tidak masuk berjumlah 71 dari 2496 per hari kerja, jadi prosentase karyawan yang masuk kerja adalah 8,78% yang menyimpulkan kinerja karyawan baik. Dengan demikian dapat disimpulkan karyawan Departemen Engineering PT Primayudha Mandirijaya memiliki kinerja yang baik.Hal ini menunjukan bahwa tidak ada pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan. Hal ini terbukti dengan nilai kinerja karyawan yang baik.

Gambar

Tabel  diatas  adalah  hasil  penilaian  kinerja  karyawan  Departement  Engineering PT Primayudha Mandirijaya

Referensi

Dokumen terkait

Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini berhubungan dengan gaya kepemimpinan terutama gaya kepemimpinan direktif, gaya kepernimpinan suportif, gaya kepernimpinan

Blok Media Group, menurut hasil wawancara dan pengamatan langsung dilapangan bahwa komunikasi kepemimpinanya secara formal dan non formal memiliki gaya komunikasi yang santai,

Berdasarkan teori gaya kepemimpinan situasional dari beberapa ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan situasional adalah perilaku seorang pemimpin yang

Menurut Umar (2004) gaya kepemimpinan adalah suatu cara atau teknik seseorang dalam menjalankan suatu kepemimpinan dan dapat pula diartikan sebagai norma perilaku

Besarnya kupon obligasi yang diberikan dipengaruhi oleh bagaiamana tingkat suku bunga SBI, menurut teori (Sulistyastuti, 2002) ketika tingkat suku bunga SBI

Berdasarkan kategori pendidikan dapat dilihat manajer dengan kategori pendidikan D3 memiliki persepsi bahwa pemimpin mempunyai gaya kepemimpinan yang dapat

Seperti dua gaya kepemimpinan sebelumnya gaya kepemimpinan situasional juga termasuk dalam kategori tinggi hal ini dilihat dari rata-rata total Skor yang

Gaya kepemimpinan yang tepat mempunyai peranan yang sangat penting bagi kemajuan perusahaan, gaya kepemimpinan yang tepat dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis