TEORI DAN PENDEKATAN KONSELING
ANALISIS TRANSAKSIONAL
makalah
disusun untuk memenuhi tugas dan bahan presentasi mata kuliah jurusan bimbingan dan konseling
Model-Model Konseling
Oleh
KELOMPOK X
Syufiyatuddin Indah Haqqun 1206104030032
Rayyan 1206104030031
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah membantu dan mengizinkan kami untuk dapat menyelesaikan makalah ini, shalawat beriring salam tak lupa kami sanjung sajikan kepada Nabi penerang umat Nabi Muhammad saw, yang mana beliau telah memberi pencerahan tentang ilmu pengetahuan.
Makalah yang berjudul “Pendekatan Teori Analisis Transaksional” ini kami buat untuk melengkapi tugas-tugas kelompok mata kuliah Model-model Konseling. Semoga makalah ini dapat berguna bagi para pembaca sebagai penambah ilmu pengetahuan. Demikian, apabila terdapat kesalahan kami mohon maaf, dan semoga makalah ini dapat berguna nantinya.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...1
1.3 Tujuan Penulisan...2
BAB II PEMBAHASAN...3
2.1 Sejarah Perkembangan teori Transaksional...3
2.2 Pengertian Analisis Transaksional...3
2.3 Pemahaman Individu...4
2.4 Perkembangan Perilaku...5
2.5 Hakikat Konseling...8
2.6 Kondisi Pengubahan...8
2.9 Contoh Kasus Analisis Transaksional...13
BAB III PENUTUP...23
3.1 Simpulan...23
3.2 Saran...23
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Transaksional Analisis merupakan salah satu pendekatan psysikoterapi dalam konseling yang mana dalam pendekatan TA ini lebih mengutamakan interaksi antara individu yang satu dengan yang lainnya baik verbal maupun non verbal. Pendekatan ini dapat diberikan baik dalam konseling individual maupun kelompok, tapi akan lebih mudah diamati bila dilakukan dalam kelompok karena konselor secara langsung bisa melihat interaksi dan komunikasi antara semua anggota kelompok (games people play ).
Pendekatan ini menekankan pada aspek perjanjian dan keputusan. Melalui perjanjian ini tujuan dan arah proses terapi dikembangkan sendiri oleh konseli, juga dalam proses terapi ini menekankan pentingnya keputusan-keputusan yang diambil oleh konseli. Maka proses terapi mengutamakan kemampuan konseli untuk membuat keputusan sendiri, dan keputusan baru, guna kemajuan hidupnya sendiri.
Transaksional Analisis (TA) dikembangkan oleh Eric Berne tahun 1960. Dalam mengembangkan pendekatan ini Eric Berne menggunakan berbagai bentuk permainan antara orang tua, orang dewasa dan anak. Dalam eksprerimen yang dilakukan Berne mencoba meneliti dan menjelaskan bagaimana status ego anak, orang dewasa dan orang tua, dalam interaksi satu sama lain, serta bagaimana gejala hubungan interpersonal ini muncul dalam berbagai bidang kehidupan seperti misalnya dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam sekolah, dan sebagainya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah perkembangan analisis transaksional ? 2. Bagaimana pengertian analisis transaksional ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui dan memahami sejarah perkembangan analisis transaksional 2. Mengetahui dan memahami pengertian analisis transaksional
3. Mengetahui dan memahami pemahaman individu 4. Mengetahui dan memahami perkembangan perilaku 5. Mengetahui dan memahami hakikat konseling 6. Mengetahui dan memahami kondisi pengubahan 7. Mengetahui dan memahami mekanisme pengubahan
8. Mengetahui dan memahami kelemahan dan kelebihan analisis transaksional
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Perkembangan teori Transaksional
Analisis transaksional merupakan karya besar Eric Berne (1961). Berne merupakan ahli ilmu jiwa terkenal di Amerika, lahir di Montreal 10 Mei 1910, memulai karirnya sebagai psikiatris tahun 1941 sebagai psikoanalisis. Namun pada akhirnya berne menciptakan teori baru karena kecewa dengan pelaksanaan psikoanalisa yang membutuhkan waktu lama sampai bertahun tahun dalam menganalisa pasien. Gagasan tentang AT mulai dikenalkan ke publik tahun 1949 melalui makalah yang berjudul “ the nature of intuition”, tetapi dalam tulisan tersebut konsep AT belum dirumuskan dengan jelas. Konsep AT secara resmi mulai diperkenalkan pada berbagai forum ilmiah, antara lain pada “ weatern regional meeting of the american group psychoteraphy association “ di Los Angles Amerika Serikat tahun 1957 melalui makalah yang berjudul “ Transctional Analysis : A New and effective Method Of Group Therapy”.
Eric berne melakukan percobaan selama hampir 15 tahun dan akhirnya berne merumuskan hasil percobaanya itu dalam suatu teori yang disebut “ Analisis Transaksional dalam psikoterapi” yang diterbitkan pada tahun 1961, selanjutnya tahun1964 dia menulis pula tentang “ games people play “dan tahun 1966 menerbitkan “Principles of Group treatment”. Pengikut Eric Berne adalah Thomas Harris, Mc Neel J. dan R.Grinkers. Sejak kematian Berne, 1970, pengikutnya selalu berupaya mengembangkan AT ini. AT yang pada mulanya dipergunakan Berne untuk terapi kelompok, sekarang telah meluas pula untuk terapi Individual dan tersebar luas baik di Amerika Serikat maupun di Amerika Selatan, Eropa, India atau Jepang.
2.2 Pengertian Analisis Transaksional
dianalisis yaitu meliputi bagaimana bentuk cara dan isi dari komunikasi mereka. Dari hasil analisis dapat ditarik kesimpulan apakah transaksi yang terjadi berlangsung secara tepat, benar dan wajar. Bentuk, cara dan isi komunikasi dapat menggambarkan apakah seseorang tersebut sedang mengalami masalah atau tidak. Kata transaksi selalu mengacu pada proses pertukaran dlm suatu hubungan. Dlm komunikasi antar pribadi juga dikenal transaksi yang dipertukarkan adalah pesan-pesan, baik verbal maupun non verbal.
AT dikembangkan oleh Eric Berne tahun 1960 yang ditulisnya dalam buku Games People Play. Analisis Transaksional (AT) dapat digunakan dalam konseling individual, tetapi lebih cocok digunakan dalam konseling kelompok. Analisis Transaksional melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh klien, yang dengan jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arah proses konseling. Pendekatan ini menekankan pada aspek perjanjian dan keputusan. Melalui perjanjian ini tujuan dan arah proses terapi dikembangkan sendiri oleh klien, juga dalam proses terapi ini menekankan pentingnya keputusan-keputusan yang diambil oleh klien. Maka proses terapi mengutamakan kemampuan klien untuk membuat keputusan sendiri, dan keputusan baru, guna kemajuan hidupnya sendiri.
2.3 Pemahaman Individu
Pandangan analisis transaksional tentang hakekat manusia ialah :
1. Pada dasarnya manusia mempunyai keinginan atau dorongan – dorongan untuk memperoleh sentuhan atau “stroke”.
3. Manusia mampu memahami keputusan-keputusannya pada masa lalu & kemudian dapat memilih untuk memutuskan kembali atau menyesuaikan kembali keputusan yang pernah diambil
4. Manusia mempunyai kebebasan untuk memilih & dalam tingkat kesadaran tertentu individu dapat menjadi mandiri dalam menghadapi persoalan hidupnya
5. Hakekat manusia selalu ditempatkan dalam interaksi sebagai dasar pertumbuhan dirinya.
6. Manusia dapat ditingkatkan, dikembangkan dan diubah secara langsung melalui proses yang aman, menggairahkan dan bahkan menyenangkan.
2.4 Perkembangan Perilaku
1. Struktur Kepribadian
Ketika Berne menghadapi klien, ia menemukan bahwa kliennya kadang-kadang berfikir, berperasaan dan berperilaku seperti anak-anak, tapi di lain kesempatan terlihat seperti orang tua atau orang dewasa. Berdasarkan pengalamanya dengan klien itu, Berne berkesimpulan bahwa manusia memiliki berbagai bentuk kondisi ego, atau disebutnya dengan ego states yaitu unsur-unsur kepribadian yang terstruktur dan itu merupakan satu kesatuan yang utuh.
Menurut Eric Berne bahwa status ego seseorang terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut:
Gambar dalam bentuk diagram strruktur kepribadian adalah sebagai berikut:
Gambar. Diagram Struktur Kepribadian
a. Status Ego orang tua. (ego state parent)Yaitu bagian dari kepribadian yg menunjukkan sifat-sifat orang tua, berisi perintah (harus & semestinya). Jika individu merasa dan bertingkah laku sebagaimana orang tuanya dahulu, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut dalam status ego orang tua. Status ego orang tua merupakan suatu kumpulan perasaan, sikap, pola-pola tingkah laku yang mirip dengan bagaimana orang tua individu merasa dan bertingkah laku terhadap dirinya.
b. Status Ego dewasa (Ego state adult)Yaitu bagian dari kepribadian yg objektif, stabil, tidak emosional, rasional, logis, tidak menghakimi, berkerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan, selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah. Dalam status orang dewasa selalu akan berisi hal-hal yang produktif, objektif, tegas, dan efektif dan bertanggung jawab dalam menghadapi kehidupan. Jika individu bertingkah laku sesuai dengan yang telah disebutkan tadi, maka individu tersebut dikatakan dalam status ego dewasa..
c. Status ego anak (ego state child)Yaitu bagian dari kepribadian yang menunjukkan ketidakstabilan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif, masih dalam perkembangan, berubah-ubah, ingin tahu dan sebaginya.
Status ego anak berisi perasaan, tingkah laku dan bagaimana berpikir ketika masih kanak-kanak dan berkembang bersama dengan pengalaman semasa kanak-kanak.
2. Sikap dasar manusia.
Sehubungan dengan penilaian seseorang terhadap dirinya (I) dan orang lain (you), Thomas Harris (1985 : 50) mengklasifikasikan adanya 4 macam sikap dasar sesuai dengan perkembangan manusia.
a. Posisi pertama : I’m Not OK – You’re OK
Posisi ini menunjukkan bahwa pada diri seseorang merasakan bahwa ia lebih rendah dari orang lain. Posisi ini adalah sikap umum yang yang pertama dimiliki oleh anak pada masa awal kanak-kanak.
b. Posisi kedua : I’m Not OK – You’re Not OK
Yaitu sikap dasar yang memandang jelek baik atas dirinya maupun kepada orang lain. Kondisi seperti ini menandakan seseorang bermasalah atau depresi.Keadaan ini lebih parah dan berbahaya dari posisi pertama
c. Posisi ketiga : I’m OK – You’re Not OK
Yaitu sikap yang memandang jelek terhadap orang lain.Posisi hidup ini menunujukkan adanya kecenderungan pada diri seseorag untuk
menuntut seseorang, menyalahkan seseorang,
d. Posisi keempat : I’m OK – You’re OK
Posisi ini adalah posisi hidup yang baik atau kepribadian yang sehat dan menunjukkan adanya suatu keseimbangan pada diri seseorang. Posisi ini menunjukkan adanya pengakuan akan orang lain yang memiliki hak yang sama dengan dirinya.
3. Pribadi sehat dan bermasalah.
a. Pribadi sehat.
Dalam pandangan teori ini kepribadian individu yang sehat adalah sebagai berikut;
Memiliki posisi kehidupan I’M ok – You ‘re OK
Status ego berfungsi secara tepat
Relatif bebas dari script
Memahami dirinya dan orang lain
b. Pribadi bermasalah.
Kepribadian yang dipandang tidak normal menurut teori ini adalah sebagai berikut;
Posisi kehidupan I’am OK – You ‘re not OK
Posisi kehidupan I’am not OK – You ‘re not OK
Kontaminasi status ego
Eksklusi (batas status ego yang kaku).
2.5 Hakikat Konseling
Hakikat Konseling dalam pendekatan Analisis transaksional yaitu perancangan status ego klien dalam bertransaksi sehingga klien mampu mempromosikan dirinya dengan tepat. Serta berupaya untuk merangsang rasa tanggung jawab pribadi klien atas tingkah lakunya sendiri, pemikiran yang logis, rasional, tujuan-tujuan yang realistis, berkomunikasi dengan terbuka, wajar, dan pemahaman dalam berhubungan dengan orang lain. Konseling dalam pendekatan ini cenderung ke arah aspek-aspek kognitif dan behavioral dan dirancang untuk membantu orang-orang dalam mengevaluasi putusan-putusan yang telah dibuatnya menurut kelayakan sekarang.
2.6 Kondisi Pengubahan
1.Tujuan Konseling Analisis Transaksional
a. Konselor membantu klien yang mengalami kontaminasi status ego yang berlebihan.
b. Konselor membantu mengembangkan kapasitas diri klien dalam menggunakan semua status egonya yang cocok, mencakup memperoleh kebebasan dan kemampuan yang dapat ditembus diantara status egonya.
c. Konselor berusaha membantu klien dalam mengembangkan seluruh status ego dewasanya. Pengembangan ini pada hakikatnya adalah menetapkan pikiran dan penalaran individu, untuk itu individu membutuhkan kemampuan serta kapasitas yang optimal dalam mengatur hidupnya sendiri.
d. Konselor membantu klien dalam membebaskan dirinya dari posisi hidup yang kurang cocok serta menggantinya dengan rencana hidup yang baru yang lebih produktif.
2. Sikap, Peran Dan Tugas Konselor
a. Sebagai guru, konselor menerangkan konsep-konsep seperti analisis struktural, analisis transaksional analisis skenario, dan analisis permainan.
b. Sebagai pelatih, konselor mendorong dan mengajari agar klien mempercayai ego dewasanya sendiri, membantu klien agar terampil melaksanakan hubungan antar pribadi dengan menggunakan status ego yang tepat.
c. Sebagai nara sumber, Konselor Membantu klien dalam hal menemukan kondisi masa lalu yg tdk menguntungkan.
d. Sebagai fasilitator, Konselor menolong klien mendapatkan perangkat yg diperlukan, menyediakan lingkungan yang menunjang untuk mencapai perubahan klien atau keseimbangan ego state klien.
3. Sikap,Peran dan Tugas Klien
a. Klien mampu dan bersedia memahami dan menerima kontrak konseling
b. Klien harus aktif dalam proses konseling
c. Klien memperlihatkan kesediaan untuk berubah dg benar-benar berbuat.
Ada beberapa implikasi yang menyangkut hubungan konselor dan klien, yaitu:
a. Tidak ada jurang pengertian yang tidak bisa dijembatani di antara konselor dan klien. Konselor dan klien berbagi kata-kata dan konsep-konsep yang sama, dan keduanya memiliki pemahaman yang sama tentang situasi yang dihadapi.
b. Klien memiliki hak-hak yang sama dan penuh dalam konseling.
Berarti klien tidak bisa dipaksa untuk menyingkapkan hal-hal yang tidak ingin diungkapkannya.
c. Kontrak memperkecil perbedaan status dan menekankan persamaan di antara konselor dan klien.
2.7 Mekanisme Pengubahan
1. Tahap – Tahap Konseling
Menurut Harris, proses konseling AT ada beberapa tahapan, yaitu:
a. Pada bagian pendahuluan digunakan untuk menentukan kontrak dengan klien, baik mengenai masalah maupun tanggung jawab kedua pihak.
b. Pada bagian kedua baru mengajarkan Klien tentang ego statenya dengan diskusi bersama Klien ( Shertzer & Stone, 1980 : 209).
akan melangkah kearah tujuan yang telah ditetapkan, dan klien tahu kapan kontraknya akan habis. Kontrak bagi Dusay (Cosini, 1984 : 419 ) adalah berbentuk pernyataan klien – konselor untuk bekerja sama mencapai tujuan dan masing-masing terikat untuk saling bertangung jawab.
d. Setelah kontrak ini selesai, baru kemudian konselor bersama klien menggali ego state dan memperbaikinya sehingga terjadi dan tercapainya tujuan konseling.
2. Teknik Konseling
Dalam AT konseling diarahkan kepada bagaimana klien bertransaksi dengan lingkungannya. Karena itu, dalam melakukan konseling ini, konselor memfokuskan perhatian terhadap apa yang dikatakan klien kepada orang lain dan apa yang dikatakan orang lain kepada klien. Untuk itu, teknik yang sering digunakan dalam AT diantaranya adalah analisis struktur, analisis transaksional, analisis mainan dan analisis skript.
a. Analisis Struktur
Analisis struktur maksudnya adalah analisis terhadap status ego yang menjadi dasar struktur kepribadian klien yang terlihat dari respons atau stimulus klien dengan orang lain.
Konselor menganalisis pola transaksi dalam kelompok, sehingga konselor dapat mengetahui ego state yang mana yang lebih dominan dan apakah ego state yang ditampilkan tersebut sudah tepat atau belum.
c. Analisis Mainan
Analisis mainan adalah analisis hubungan transaksi yang terselubung antara Klien dengan konselor atau dengan Lingkungannya. Konselor menganalisis suasana permainan yang diikuti oleh klien untuk mendapat sentuhan, setelah itu dilihat apakah klien mampu menanggung resiko atau malah bergerak kearah resiko yang tingkatnya lebih rendah.
d. Analisis Skript
Analisis Skript ini merupakan usaha konselor untuk mengenal proses terbentuknya skript yang dimiliki klien. Analisis skript ini hendaknya sampai menyelidiki transaksi seseorang sejak dalam asuhan orang tua, pada masa ini terjadi transaksi antara orang tua dengan anak-anaknya. Dan pada akhirnya terbentuk suatu tujuan hidup dan rencana hidup (script atau naskah). Hal ini dilakukan apabila konselor sudah meyakini bahwasanya kliennya terjangkit posisi hidup yang tidak sehat.
2.8 Kelemahan Dan Kelebihan
Dengan melihat Konsepsi, penekanan, serta pelaksanaanya, maka ada beberapa kelebihan dan kelemahan dari AT.
1. Kelebihan AT antara lain :
AT memandang manusia dapat berubah bila dia mau. Manusia punya kehendak dan kemauan. Kemauan inilah yang memungkinkan manusia berubah, tidak statis. Sehingga manusia bermasalah sekalipun dapat berubah lebih baik, bila kemauannya dapat tumbuh.
b. Penekanan Waktu Sekarang dan Di sini.
Tujuan pokok terapi AT adalah mengatasi masalah klien agar dia punya kemampuan dan memiliki rasa bebas untuk menentukan pilihannya. Hal ini dimulai dengan menganalisis interaksinya dengan konselor atau orang lain. Dan itu adalah persoalan interaksi sekarang. Kini dan di sini (here and now).
c. Mudah Diobservasi.
Pada umumnya teori yang muncul dari laboratorium itu sulit diamati karena itu terlihat abstrak, sehingga kadang-kadang tak jarang pula yang hanya merupakan konstruk pikiran manusia penemunya. Berbeda dengan AT, ajaran Berne tentang status ego ( O, D dan A) adalah konsep yang dapat diamati secara nyata dalam setiap interaksi atau komunikasi manusia.
d. Meningkatkan Keterampilan Berkomunikasi
2. Kelemahan yang dimiliki AT antara lain :
a. Kurang Efisien terhadap Kontrak Treatment
AT mengharapkan, kontrak treatment antara konselor-klien harus terjadi antara status ego Dewasa-dewasa. Artinya menghendaki bahwa klien mengikat kontrak secara realistis. Tetapi dalam kenyataannya, cukup banyak ditemui bahwa banyak klien yang punya anggapan jelek terhadap dirinya, atau tidak realistis. Karena itu, sulit tercapainya kontrak, karena ia tidak dapat mengungkapkan tujuan apa yang sebenarnya diinginkannya. Sehingga memerlukan beberapa kali pertemuan. Hal semacam ini dianggap tidak efisien dalam pelaksanaannya.
b. Subyektif dalam Menafsirkan Status Ego.
Apakah ungkapan klien termasuk status Ego Orang tua, Dewasa, atau Anak-anak merupakan penilaian yang subyektif. Mungkin dalam hal yang ekstrim tidak ada perbedaan dalam menafsirkannya. Tapi bila pernyataan itu mendekati dua macam status ego akan sulit ditafsirkan, dan mungkin berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam memahami status ego ini, menyebabkan sulitnya kesamaan dalam menakar egogram klien.
2.9 Contoh Kasus Analisis Transaksional
NO CE /
CO DIALOG VERBATIN TAHAP/TEHNIK
2 bu ( sambil menunduk menyembunyikan sesuattu di wajahnya
“Syukurlah kalau semuanya dalam keadaan baik?”
Oh ya sekarang apa kegiatanmu ir ?’
“ Sementara ini kegiatan di rumah engga ada bu, tapi kalau kegiatan di sekolah saya masih ikut ekstrakurikuler PMR bu” senang kegiatan social ya ?” ( sambil terus memperhatikan reaksi Irma yang menyembunyika seseutau )
CO ngomong-ngomomg apa cita-citamu nanti
“ Yaaahhh itulah bu..???!!!” ( Irma menarik nafas berat sambil menerawang )
“lo..lo…kok begitulah…Irma kan anak
“Tapi kenapa Irma, kan sekarang Irma di jurusan IPA, jurusan yang diidam-idamkan semua orang”
Mulai menganalisa
kasus
8 CE
CO
“Itulah bu, akhir-akhir ini, saya ada beban pikiran, cemas dan takut tidak bisa memberikan yang terbaik di jurusan IPA in sesuai harapan orang tuaku” ( tampak bingung )
“Baiklah Irma, sebelumnya ibu ucapkan terimakasih Irma mau bertemu ibu di ruangan ini yang berarti Irma percaya penuh sama ibu untuk membantu mencari jalan keluar, mau menceritakan segala hal
yang menjadi beban Irma, dan ibu akan menjaga kepercayaan ini. Jadi Irma tidak usah ragu atau khawatir. Apa yang aka kita bicarakan disini menjadi rahasia kita,
“Ya bu, saya mengerti dan senang kok bisa bercerita sama ibu” ( ekspresi gembira dengan tersenyum )
“Nah Irma sekarang kita ada waktu sekitar 30 menit, karena ibu akan masuk kelas juga, jadi kalau belum selesai kita akan meneruskan pada pertemuan berikutnya, bagaimana Irma, apa Irma setuju ?” ( sambil tersenyum menawarkan rencana)
Kontrak
10 CE
CO
“Ya bu saya setuju, habis ini saya juga ada keperluan dan janjian dengan guru fisika” ( Irma tersenyum sambil membetulkan duduknya )
beban pikiranmu saat ini sehingga kamu cemas dan khawatir ?” ( sambil berdehem )
Proses Analisis
11 CE
CO
“Begini bu, jurusan yang sekarang saya jalani ini karena kemauan orang tua saya bukan atas pilihan saya bu.” ( sambil menunduk sedih )
“Pilhan orang tuamu ?” Proses Sintesis
12 CE
CO
“Benar bu, jurusan IPA akan mempermudah saya masuk fakultas kedokteran katanya, terus orang tua saya juga minta saya menjadi dokter biar bisa memberikan contoh adik-adik saya kan saya anak pertama bu” ( sambil tertunduk memainkan kerudungnya )
“Waaahh, waahh, waaahh banyak sekali ya Ir permintaan orang tua kamu” ( sambil menggeleng-gelengkan kepala )
CO
“Benar bu itu yang menjadi beban pikiran saya karena saya inginnya masuk jurusan IPS” ( sambil menarik nafas kesal)
“Bagaiman dengan nilaimu selama satu semester ini di jurusan IPA ?”
16 CE
CO
“Nilai saya untuk semester satu lumayan bagus pak, tapiiii….??” ( menghentikan ucapannya, tanpak ragu-tagu )
“Tapi kenapa Irma, kan nilaimu bagus tadi berarti Irma termasuk anak yang pintar dan mampu di jurusan IPA “
CO
( emosi tampak diwajahnya )
“Ohh jadi Irma merasa tidak suka dan tidak nyaman di jurusan IPA ini karena bukan sudah memilih Perguruan Tingginya juga, kan saya cemas bu kalau saya enggak bias memenuhi harapan itu…..” ( matanya mulai berkaca-kaca )
“Ohh…….gitu…bukannya nila-nilaimu bagus, ibu yakin Irma bisa “
Proses Diagnosa
19 CE
CO
“Iya sih bu tapi yang namanya enggak suka ya pasti jadi jenuh, apalagi pas kuliah nanti disuruh masuk kedokteran lagi, aduuhhhh enggak deh bu, saya kan juga puya hak menentukan pilihan bu, tapi saya juga enggak bisa menolak keinginan orang tua saya “ ( mulai meneteskan air mata )
“Hm…ibu mngerti kok Irma, coba sekarang tarik nafas, tenangkan diri dulu lalu ceritakan ke bagaimana hubunganmu dengan orang tuamu ? ( sambil menepuk bahu Irma untuk menenangkannya sambil memberinya tissue )
20 CE
CO
“Juga Orang tua saya sangat perhatian bu sama anak-anaknya, semua kebutuhan kami terpenuhi, falitas rumah lengkap bu, secara materi kami tak kurang satu apapun bu, orang tua kami sangat menyayangi kami, tapi terlalu banyak menuntut dan mengatur atas nilai dan masa depan kami bu, bahkan kalau nilai kami jelek, wahh..!!!!”
“Loh…kenapa memangnya Ir “
21 CE
CO
“Pasti marah besar bu dan kami enggak boleh keluar rumah” ( sambil menunduk sedih )
“Seberapa besar sih marahnya orang tuamu kok Irma takutnya kayak melihat hantu ?” ( sambil tersenyum )
CO “Nah itu bagus, lalu apa yang harus ditakutkan kalau teryata orang tuamu baik dan perhatian “
23 CE
CO
“Nggak tahulah bu Irma hanya merasa ketakutan aja….adakalanya orang tuaku marah kalau tidak sesuai dengan kehendaknya” ( sambil tersenyum tipis mengenang orang tuanya)
“Dengan kejadian ini apa yang bisa Irma lakukan supaya apa yang kamu cemaskan bias dihindari ?
24 CE
CO
“Gimana ya bu, saya bingung ?” ( sambil menggaruk kepalanya yang tertutup jilbab )
“Jurusan apa yang benar-benar diminati Irma ? ( sambil menatap Irma )
25 CE
CO
“Jelas jurusan IPS bu” ( matanya berbinar )
“Bagaimana dengan nilaimu di bidang IPS?”
26 CE “Alhamdulillah bagus bu, saya menbidamng dapatkan nilai sempurna diatasnya nilai IPA, meskipun nilai IPA saya juga bagus, cuma mulai di semester dua ini turun bu nilai IPA saya, enggak tahu bu ( menarik nafas ), mungkin karena saya enggak nyaman tadi kali bu ya “
CO keluhan saya bahwa saya tidak suka masuk jurusan IPA, dan saya juga mengungkapkan kalau saya suka ambil Jurusan IPS karena saya ingin jadi Akuntan bukan Dokter, tapi…” ( Irma menghentikan ucapannya sambil menunduk sedih ingat masalah tersebut )
“Hm…oohh….trs….?” (sambil menggeser ehhh malah tambah marah dan menyuruh saya untuk lebih serius belajar enggak boleh main-main, gitu bu katanya” ( Irma mengusap air matanya yang mulai jatuh )
CO
(sambil memberikan tissue) “Iya Irma biar masalahnya cepat selesai dan tidak
“Dicoba aja, ibu doakan moga berhasil “
Reinforcement
31 CE
CO
“Baik bu, oh ya bu kira-kira apa yang harus saya lakukan jika tidak membuahkan hasil ??” ( sambil memainkan jarinya, pertanda Irma bimbang )
“Irma harus berani mengambil keputusan yang sama-sama enak, orang tua Irma tidak tersinggung dan Irma juga nyaman, kapan rencananya Irma mau bicara dengan orang tua ? “
Proses Prognosis
32 CE
CO
“InsaAlloh bu nanti malam saya akan bicara dengan orang tua saya”
“Bagus sekali, ibu hargai keberanian Irma.Untuk mengingatkan rencana Irma tadi ini ibu siapkan format perjanjian beberapa alternative yang kita sepakati “
CO “Agar Irma tidak lupa dengan rencana Irma “
34 CE “oh gitu ya bu “
“Nah kalau Irma dapat melaksanakan rencan ini dengan baik, ibu kasih hadiah khusus buat Irma, gimana Ir “
35 CE
CO
“Wahh mau bu, siap deh bu “ (sambil tersenyum)”
“Baiklah Irma sepertinya waktu kita sudah
habis sekalai lagi ibu
ingatkan 5kesepakatan kita ya, yang pertama : Irma paham kan kalau semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya walau terkadang jalan yang diambil salah.
ke dua: berbicara dengan baik-baik tentang bakat dan keinginan Irma untuk ke depannya.
ke tiga: Irma harus berusaha berbicara dengan sikap yang dewasa.,, tidak kekanak-kanakkan.
ke empat: Irma harus paham bahwa jurusan IPA itu kemungkinan pilihan di Perguruan Tinggi lebih luas dan menjadi pilihan yang didambakan oran.
Yang terakhir: Irma harus bisa membuktikan kepada orang tua bahwa jurusan IPSpun baik dan Irma mampu sertabisa menjadi akuntan yang suksesdan
Proses treatment ada perjanjian dalam pengambilan keputusan nanti
giman Irma sudah paham yang ibu maksudkan ?“
36 CE
CO
“Iya bu mudah-mudahan ya bu orang tua saya mau mengerti jalan pikiran saya’
“Amin, good luck ya Irma, semangat !!!” (sambil menepuk nepuk pundak Irma )
37 CE
CO
“Terimakasih bu “ (sambil tersenyum )
“Oh ya masih ada yang mau Irma sampaikan ke ibu ?
38 CE
CO
“Saya rasa tidak ada lagi bu, sudah cukup, terimakasih banyak ya bu” ( sambil bersalaman )
“Baiklah kalau begitu, Irma “ ( membalas jabatan tangan Irma )
39 CE
CO
“Assalammualaikum bu“ ( sambil meninggalkan ruangan taman Bimbingan Konseling )
Beberapa langkah dalam membantu pengentasan masalah dihadapi oleh Irma :
1. Analisis
a. Dari Segi Fisik
Sebagai anak yang penurut dan patuh Irma tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan semampai. Bentuk tubuhnya yang ideal sesuai dengan gadis-gadis lain. Tak ada kekurangan dalam penampilan fisiknya.
b. Dari Segi Psikis
Tampak di raut wajahnya yang cantik kesedihan dan ketidak nyamanan dirinya, ia terlihat sering gelisah, tertutup, suka melamun, mudah tersinggung dan marah.
c. Dari Segi Tingkah laku Sosial
Irma jarang bergaul dengan teman-temannya, kuper, karena sifatnya yang tertutup Irma tak pernah menceritakan masalahnya kepada orang lain sehingga ia stres. Irma kurang percaya diri dalam bergaul seperti anak-anak lain seusianya.
Irma anak pertama dari 3 bersaudara, karna ia anak yang paling besar maka ia harus memberikan contoh kepada adik-adiknya walaupun terkadang hatinya berontak. Kedua orang tuanya tergolong keluarga yang mapan maka dari itu segala sesuatu yang ada dalam keluarganya ditentukan oleh kedua orangtuanya termasuk masa depan dan cita-citaIrma juga ditetapkan oleh mereka tanpa mau melihatbakat dan minat yang dimiliki oleh Irma.
e. Kemajuan Akademis
Berdasarkan kemampuan akademik yang dimiliki oleh Irma tercatat bahwa dari TK hingga SMA, dia selalu memiliki nilai yang baik. Akantetapi padasemester dua kelas XI nilainya mengalami penurunan dratis karena jurusan yang dipilihnya merupakan pilihan kedua orang tuanya sehingga bertentangan dengan minat Irma sendiri yaitu ia ingin masuk jurusan IPS karena ia ingin jadi seorang akuntan.
2. Sistesis
Berdasarkan kemampuan akademik yang dimiliki oleh Irma, tercatat bahwa dari TK hingga SMA, dia selalu memiliki nilai yang baik. Akan tetapi pada semester dua kelas XI nilainya mengalami penurunan karena jurusan yang dipilihnya merupakan pilihan kedua orang tuanya sehingga bertentangan dengan bakat dan minat Irma sendiri yaitumasuk jurusan IPS.
Berdasarkan data dari hasil sintesis yang diperoleh bahwa sebab dari masalah Imaadalah ketidak mampuan Irma dalam menolak keinginan kedua orang tuanya yang meninginkan dia masuk IPA padahal bakat dan minat Irma adalah masuk IPS agar di Perguruan TInggi nanti ia bias masuk Fakultas Akutansi sehingga ia jadi soranga Akuntansesuai dengan bakatnya yang suka dengan hal hitung menghitung. Maka dari itu langkah awal yang harus dilakukan adalah mengajak kedua belah pihak terkait untuk berbicara bersama agar bisa saling terbuka sehingga dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh kedua belah pihak yang terkait.
4. Prognosis
5. Treatment/proses konseling
Berdasarkan data yang telah diperoleh maka kegiatan konseling pun dilaksanakan dan dari hasil proses konseling tersebut menghasilkan beberapa alternatif yaitu sebagai berikut :
a. Memberikan pemahaman kepada Irma bahwa setiap orangtua hanya menginginkan anaknya berhasil tapi terkadang cara yang mereka lakukan kurang tepat bagi anak hingga akhirnya menyebabkan ketidakenakan hati.
b. Berusaha untuk berbicara baik-baik dengan kedua orangtua mengenai bakat dan minat yang dimiliki Irma (dalam melakukan cara ini hendaknya tidak hanya 1 atau 2 kali saja tapi usahakan semaksimal mungkin agar kedua orangtua menyadarinya karena sekeras apa pun pendirian orang tua bila selalu kita bicarakan dengan baik-baik pasti akan luluh juga pada akhirnya).
c. Berusaha agar Irma dapat memahami keinginan kedua orang tunya dengan menggunakan ego dewasa Irma karena setiap manusia memiliki tiga ego yaitu ego anak, ego dewasa dan ego orang tua.
d. Memberikan pemahaman dan pengertian kepada Irma bahwa jurusan IPAmerupakan incaran banyak orang karena selain jurusan IPA itu lebih leluasa ketika masuk Perguruan Tinggi di Fakultas apa saja.
6. Follow up
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
Analisis Transaksional (AT) adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan interaksional. Transaksional maksudnya ialah hubungan komunikasi antara seseorang dengan orang lain. Adapun hal yang dianalisis yaitu meliputi bagaimana bentuk cara dan isi dari komunikasi mereka.
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Dewa Ketut, Sukardi.1984. Pengantar Teori Konseling. Jakarta: Ghalia Indonesia. Muhammad Surya. 2003. Teori-teori Konseling. Bandung: Pustaka Bany Quraisy. Harris, T. 1981. Saya Oke-Kamu Oke, terjemahan, Jakarta: Yayasan Cipta Loka. Corey Gerald. 2005. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi . Bandung:
Rafika Aditama.
Sukardi, Dewa Ketut. 2002. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
http://zulisttya.blogspot.com/2012/05/analisis-transaksional.html. Diakses pada 29 November 2015.
http://counselingcare.blogspot.com/2012/06/konseling-analisis-transaksional.html.Diakses pada 29 November 2015.
http://selvia-organis.blogspot.com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo.html. Diakses pada 29 November 2015.