• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebutuhan Infrastruktur Sumber Daya Air

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kebutuhan Infrastruktur Sumber Daya Air"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i | P a g e KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat, hidayah,

kesempatan, kekuatan dan kesehatan pada penyusun sehingga dapat menyelesaikan

makalah yang diajukan sebagai Tugas Mata Kuliah Sistem Wilayah, Lingkungan dan

Hukum Pertanahan, Magister Manajemen Aset Infrstruktur, Fakultas Teknik Sipil,

Lingkungan dan Kebumian dengan baik dan lancar.

Makalah yang berjudul ”Kebutuhan Infrastruktur Sumber Daya Air dalam

Pengembangan Wilayah Provinsi Jawa Timur”.

Makalah ini masih banyak dijumpai kekurangan dikarenakan dalam

penyusunannya terdapat keterbatasan waktu dan kemampuan penyusun. Oleh karena itu

penyusun sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi perbaikan

selanjutnya.

Semoga penyusunan makalh ini berguna dan bermanfaat bagi semua pihak.

Surabaya, Mei 2018

(3)

ii | P a g e

2.1.1. Pengertian Infrastruktur ... 3

2.1.2. Jenis Infrastruktur ... 4

2.2. Pengembangan Wilayah ... 5

BAB 3 GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH ... 8

3.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah ... 8

3.2. Potensi Pengembangan Wilayah ... 13

3.3. Wilayah Rawan Bencana ... 15

3.4. Demografi ... 19

BAB 4 PEMBAHASAN ... 20

4.1. Potensi Infrastruktur Sumber Daya Air di Provinsi Jawa Timur ... 20

4.2. Kebijakan Kewilayahan di Provinsi Jawa Timur... 23

4.3. Kebutuhan Infrastruktur Sumber Daya Air Untuk Mendukung Pengembangan Wilayah Pada Provinsi Jawa Timur ... 24

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 29

5.1. Kesimpulan ... 29

5.2. Saran ... 29

(4)

iii | P a g e DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Jumlah Kecamatan dan Desa menurut Kabupaten/Kota di Jawa Timur

Tahun 2013 ... 8

Tabel 3.2 Luas Catchment Area (Km2) pada Wilayah Sungai di Provinsi Jawa Timur ... 11

Tabel 3.3 Jumlah Waduk, Volume Tampung, Kapasitas Efektif dan Luas Daerah Genangan pada Wilayah Sungai di Provinsi Jawa Timur ... 11

Tabel 3.4 Jumlah Mata Air, Debit Rerata Tahunan dan Volume Tahunan di Wilayah Sungai UPT PSDA di Provinsi Jawa Timur Tahun 2012 ... 12

Tabel 3.5 Produksi Padi, Jagung dan Kedelai pada Provinsi Jawa Timur Tahun 2009-2013 ... 14

Tabel 3.6 Wilayah Potensi Tanah Longsor di Provinsi Jawa Timur ... 16

Tabel 3.7 Lokasi Potensi Banjir di Provinsi Jawa Timur ... 17

Tabel 3.8 Kawasan Rawan Letusan Gunung Api di Provinsi Jawa Timur ... 18

Tabel 3.9 Struktur Penduduk Provinsi Jawa Timur Menurut Jenis Kelamin ... 19

Tabel 4.1 Bendungan yang Sudah Beroperasi ... 22

Tabel 4.2 Produktivitas dan Surplus Padi ... 22

Tabel 4.3 Bendungan/Waduk yang Akan Dibangun ... 25

Tabel 4.4 Pengembangan Daerah Irigasi pada Infrastruktur yang Telah Terbangun, namun Belum Dibangun Jaringan Irigasinya ... 26

Tabel 4.5 Operasi Pemeliharaan Jaringan Irigasi DI Kewenangan Provinsi ... 27

(5)

iv | P a g e DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Hubungan antara Sistem, Ekonomi, Infrastruktur ... 3

Gambar 2.2 Sistem Infrastruktur Dalam Pengelompokan ... 5

Gambar 3.1 Peta Administrasi Wilayah dan Pulau – Pulau Jawa Timur ... 9

Gambar 4.1 Pelaksanaan Pembangunan Embung Geomembrane ... 26

(6)

1 | P a g e BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Provinsi Jawa Timur dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun

1950, yang ditetapkan pada tanggal 2 Pebruari 1950, merupakan gabungan dari

Pemerintahan Daerah Karisidenan Surabaya, Madura, Besuki, Malang, Kediri, Madiun

dan Bojonegoro, yang berkedudukan di Kota Surabaya. Undang-undang tersebut diatas,

telah diubah dengan Undang–Undang Nomor 18 Tahun 1950 tentang Perubahan atas Undang–Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Provinsi Jawa Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 32).

Perkembangan pembangunan Provinsi Jawa Timur sampai dengan saat ini telah

dirasakan peningkatan hasil dan manfaatnya bagi masyarakat. Namun seiring dengan

dinamika pembangunan serta kebutuhan masyarakat dan tantangan pada masa

mendatang, diperlukan keberlanjutan dan perubahan kearah yang lebih baik (sustain and

change) dari aktivitas pembangunan sehingga dapat mewujudkan visi pembangunan

jangka panjang Jawa Timur 2005-2025 menjadi “Pusat Agrobisnis terkemuka, berdaya saing global dan berkelanjutan menuju Jawa Timur makmur dan berakhlak”.

Berpijak pada upaya untuk mewujudkan Jawa Timur sebagai pusat agrobisnis

terkemuka, sesuai dengan visi pembangunan jangka panjang Jawa Timur 2005-2025,

maka diperlukan pengembangan wilayah yang bertujuan untuk mendorong percepatan

dan perluasan pembangunan wilayah Jawa Timur dengan menekankan keunggulan dan

potensi daerah pangan, khususnya padi. Tentu saja hal tersebut harus didukung oleh

penyediaan infrastruktur, khususnya infrastruktur sumber daya air.

Pembangunan berkelanjutan bidang infrastruktur sumber daya air, fokus

penanganannya akan meliputi pendayagunaan sumber daya air untuk pemenuhan

kebutuhan air baku khususnya untuk pemenuhan kebutuhan pokok rumah tangga dan

pertanian, terutama di wilayah rawan/defisit air, wilayah tertinggal, dan wilayah strategis,

(7)

2 | P a g e

1.2. PERMASALAHAN

Dari latar belakang di atas, rumusan permasalahan pada makalah ini adalah

sebagai berikut :

1. Identifikasi potensi infrastruktur sumber daya air yang ada pada provinsi Jawa Timur.

2. Identifikasi kebutuhan infrastruktur sumber daya air untuk mendukung pengembangan

wilayah pada provinsi Jawa Timur.

1.3. TUJUAN

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :

1. Mengetahui potensi infrastruktur sumber daya air yang ada pada provinsi Jawa Timur.

2. Mengetahui kebutuhan infrastruktur sumber daya air untuk mendukung

pengembangan wilayah pada provinsi Jawa Timur.

1.4. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup pada makalah ini yaitu hanya membahas kebutuhan infrastruktur

(8)

3 | P a g e BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. INFRASTRUKTUR

2.1.1. Pengertian Infrastruktur

Pengertian Infrastruktur menurut beberapa ahli dalam Kodoatie, R.J., 2005 :

a. Menurut American Public Works Association (Stone, 1974 Dalam

Kodoatie,R.J.,2005), adalah fasilitas-fasilitas fisik yang dikembangkan atau

dibutuhkan oleh agen-agen publik untuk fungsi-fungsi pemerintahan dalam

penyediaan air, tenaga listrik, pembuangan limbah, transportasi dan

pelayanan-pelayanan similar untuk memfasilitasi tujuan-tujuan sosial dan ekonomi.

b. Menurut Grigg, 1988 infrastruktur merujuk pada sistem fisik yang menyediakan

transportasi pengairan, drainase, bangunan-banguna gedung, dan fasilitas publik yang

lain yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam lingkup sosial

dan ekonomi.

Sistem infrastruktur merupakan pendukung utama fungsi-fungsi sistem sosial

dan sistem ekonomi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Sistem infrastruktur dapat

didefinisikan sebagai fasilitas-fasilitas atau struktur-struktur dasar, peralatan-peralatan,

instalasi-instalasi yang dibangun dan yang dibutuhkan untuk berfungsinya sistem sosial

dan sistem ekonomi masyarakat (Grigg, 2000).

Sebagai salah satu konsep pola pikir dibawah ini diilustrasikan diagram

sederhana bagaimana peran infrastruktur. Diagram ini menunjukkan bahwa secara ideal

lingkungan alam merupakan pendukung dari sistem infrastruktur, dan sistem ekonomi

didukung oleh sistem infrastruktur. Sistem sosial sebagai objek dan sasaran didukung

oleh sistem ekonomi.

Gambar 2.1

(9)

4 | P a g e Dari gambar diatas dapat dikatakan bahwa lingkungan alam merupakan

pendukung dasar dari semua sistem yang ada. Peran infrastruktur sebagai mediator antara

sistem ekonomi dan sosial dalam tatanan kehidupan manusia dengan lingkungan alam

menjadi sangat penting. Infrastruktur yang kurang (bahkan tidak) berfungsi akan

memberikan dampak yang besar bagi manusia. Sebaliknya infrastruktur yang berlebihan

untuk kepentingan manusia tanpa memperhitungkan kapasitas daya dukung lingkungan

akan merusak alam yang pada hakekatnya akan merugikan manusia termasuk makhluk

hidup yang lain. Berfungsi sebagai suatu sistem pendukung sistem sosial dan sistem

ekonomi, maka infrastuktur perlu dipahami dan dimengerti secara jelas terutama bagi

penentu kebijakan.

2.1.2. Jenis Infrastruktur

Dari definisi-difinisi di atas, infrastruktur dibagi dalam 13 kategori (Grigg, 1988)

sebagai berikut :

1. Sistem penyediaan air : waduk, penampungan air, transmisi dan distribusi, dan

fasilitas pengolahan air (treatment plant).

2. Sistem pengelolaan air limbah : pengumpul, pengolahan, pembuangan, dan daur

ulang.

3. Fasilitas pengelolaan limbah (padat).

4. Fasilitas pengendalian banjir, drainase, dan irigasi.

5. Fasilitas lintas air dan navigasi.

6. Fasilitas transportasi : jalan, rel, bandar udara. Termasuk di dalamnya adalah

tanda-tanda lalu lintas, fasilitas pengontrol.

7. Sistem transit publik.

8. Sistem kelistrikan : produksi dan distribusi.

9. Fasilitas gas alam.

10. Gedung publik : sekolah, rumah sakit.

11. Fasilitas perumahan public.

12. Taman kota sebagai daerah resapan, tempat bermain termasuk stadion.

13. Fasilitas komunikasi.

Tiga belas jenis infrastruktur tersebut kemudian lebih diperkecil

pengelompokannya (Grigg 1988; Grigg dan Fontane, 2000) sebagai berikut :

(10)

5 | P a g e 2. Pelayanan transportasi (transit, bandara, pelabuhan).

3. Komunikasi.

4. Keairan (air, air buangan, sistem keairan, termasuk jalan air yaitu sungai, saluran

terbuka, pipa).

5. Pengelolaan limbah (sistem pengelolaan limbah padat).

6. Bangunan.

7. Distribusi dan produksi energi.

Gambar 2.2

Sistem Infrastruktur Dalam Pengelompokan

2.2. PENGEMBANGAN WILAYAH

Pengembangan wilayah adalah upaya pembangunan dalam suatu wilayah

administratif atau kawasan tertentu agar tercapai kesejahteraaan (people property)

melalui pemanfaatan peluang-peluang dan pemanfaatan sumber daya secara optimal,

efisien, sinergi dan berkelanjutan (Sembiring, 2012).

Menurut Direktorat Pengembangan Kawasan Strategis, Ditjen Penataan Ruang,

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2002), Prinsip-prinsip dasar dalam

pengembangan wilayah adalah :

1. Sebagai growth center dimana pengembangan wilayah tidak hanya bersifat internal

(11)

6 | P a g e pertumbuhan yang dapat ditimbulkan bagi wilayah sekitarnya, bahkan secara

nasional

2. Pengembangan wilayah memerlukan upaya kerjasama pengembangan antar daerah

dan menjadi persyaratan utama bagi keberhasilan pengembangan wilayah.

3. Pola pengembangan wilayah bersifat integral yang merupakan integrasi dari

daerah-daerah yang tercakup dalam wilayah melalui pendekatan kesetaraan.

Dalam pengembangan wilayah, mekanisme pasar harus juga menjadi prasyarat

bagi perencanaan pengembangan kawasan. Dalam pemetaan pengembangan wilayah,

satu wilayah pengembangan diharapkan mempunyai unsur-unsur strategis antara lain

berupa sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan infrastruktur yang saling berkaitan

dan melengkapi sehingga dapat dikembangkan secara optimal dengan memperhatikan

sifat sinergisme di antaranya (Direktorat Pengembangan Wilayah dan Transmigrasi,

2003).

Pendekatan Pengembangan Wilayah antara lain :

1. Pendekatan Sektoral

Dimana seluruh kegiatan ekonomi di dalam wilayah perencanaan dikelompokan atas

sektor-sektor. Selanjutnya setiap sektor dianalisis satu persatu. Setiap sektor akan

dilihat potensi dan peluangnnya dan menetapkan hal yang dapata ditingkatkan serta

menetukan lokasi dari kegiatan peningkatan tersebut. Sektor-sektor dalam

pembangunan antara lain : pertanian, pertambangan, konstruksi, perindustrian,

perdagangan, perhubungan, keuangan, perbankan dan sebagainya.

2. Pendekatan Regional masing-masing konsentarsi.

Pendekatan yang mengabaikan faktor ruang (spasial) untuk kegiatan produksi atau

jasa serta memprediksi konsentrasi kegiatan dan memeperkirakan kebutuhan fasilitas

untuk masing-masing konsentrasi. Pembangunan wilayah dilancarkan melaui

pusat-pusat pertumbuhan umumnya kota-kota besar.

Kebijakan Pengembangan Wilayah adalah suatu kebijakan dalam suatu daerah

baik provinsi atau kabupaten yang merupakan suatu aturan hukum yang diharapkan

mampu menjadi acuan dalam pengambilan tindakan. Peran/fungsi Kebijakan

Pengembangan Wilayah antara lain :

1. Perlu ada pengendalian pengelolaan wilayah akibat perubahan dan dinamika spasial,

(12)

7 | P a g e 2. Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada di suatu wilayah &

meminimalisasi dampak negatif yang dapat terjadi.

3. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah dan memperkuat masyarakat

(13)

8 | P a g e BAB 3

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

3.1. KARAKTERISTIK LOKASI DAN WILAYAH

Wilayah Provinsi Jawa Timur dengan luas 48.039,14 Km2 memiliki batas-batas

sebagai berikut : sebelah Utara Laut Jawa, sebelah Timur Selat Bali, sebelah Selatan

Samudera Hindia, dan sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah. Secara

astronomis terletak antara 111o,0’-114o,4’BT dan 7o,12’-8o,48’LS. Sebagian besar wilayah Jawa Timur terdiri dari 90% wilayah daratan dan 10% wilayah Kepulauan

termasuk Madura. Secara administrasif berdasarkan Permendagri No. 18 Tahun 2013

tentang Buku Induk Kode Wilayah, Jawa Timur terdiri dari 38 Kabupaten/Kota (29

Kabupaten dan 9 Kota) yang mempunyai 664 Kecamatan dengan 783 Kelurahan dan

7.722 Desa.

Tabel 3.1

Jumlah Kecamatan dan Desa

(14)

9 | P a g e Gambar 3.1

Peta Administrasi Wilayah dan Pulau – Pulau Jawa Timur

Secara umum wilayah Provinsi Jawa Timur merupakan kawasan subur dengan

berbagai jenis tanah seperti Halosen, Pleistosen, Pliosen, Miosen dan Kwarter. Salah satu

(15)

10 | P a g e berapi yang masih aktif yang tersebar mulai mulai dari perbatasan barat ke timur meliputi

Gunung Lawu, Gunung Kelud, Gunung Bromo, Gunung Argopuro, dan Gunung Ijen

dengan gunung tertinggi yaitu Gunung Semeru.

Berdasarkan struktur fisik dan kondisi geografis, Jawa Timur dapat

dikelompokkan sebagai berikut : (1) Bagian Utara dan Madura merupakan daerah yang

relatif kurang subur yang berupa pantai, dataran rendah dan pegunungan; (2) Bagian

Tengah merupakan daerah yang relatif subur; (3) Bagian Selatan-Barat merupakan

pegunungan yang memiliki potensi tambang cukup besar; (4) Bagian Timur pegunungan

dan perbukitan yang memiliki potensi perkebunan, hutan dan tambang.

Kondisi geologi Jawa Timur yang cukup kaya akan potensi sumberdaya mineral,

memiliki sekitar 20 jenis bahan galian yang mendukung sektor industri maupun

konstruksi, yang secara umum dapat dikelompokkan menjadi empat lajur, yaitu: pertama

Lajur Rembang terbentuk oleh batu lempung napalan dan batu gamping merupakan

cekungan tempat terakumulasinya minyak dan gas bumi; kedua Lajur Kendeng terbentuk

batu lempung dan batupasir, potensi lempung, bentonit, gamping; ketiga lajur Gunung

Api Tengah terbentuk oleh endapan material gunung api kuarter, potensi bahan galian

konstruksi berupa batu pecah, krakal, krikil, pasir, tuf; keempat lajur Pegunungan Selatan

terbentuk oleh batu gamping dengan intrusi batuan beku dan aliran lava yang mengalami

tekanan, potensi mineral logam, marmer, onyx, batu gamping, bentonit, pospat.

Secara hidrologi wilayah Provinsi Jawa Timur terdiri dari air permukaan dan air

tanah. Air permukaan meliputi Wilayah Sungai (WS) dan Waduk, sedangkan air tanah

berupa mata air. Pembagian WS di meliputi tujuh WS yaitu : WS Bengawan Solo, WS

Brantas, WS Welang – Rejoso, WS Pekalen – Sampean, WS Baru – Bajulmati, WS Bondoyudo – Bedadung dan WS Madura.

Provinsi Jawa Timur memiliki 686 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang tercakup

dalam wilayah sungai, WS Bengawan Solo memiliki 94 DAS, WS Brantas memiliki 220

DAS, WS Welang – Rejoso memiliki 36 DAS, WS Pekalen–Sampean memiliki 56 DAS, WS Baru – Bajulmati memiliki 60 DAS, WS Bondoyudo – Bedadung memiliki 47 DAS, dan WS Madura memiliki 173 DAS.

Berdasarkan data Pengairan dalam angka dari tahun 2008 sampai dengan tahun

2012, luas Catchment Area yang dapat diidentifikasi berdasarkan wilayah sungai,

(16)

11 | P a g e Tabel 3.2

Luas Catchment Area (Km2) pada Wilayah Sungai di Provinsi Jawa Timur

Selain sungai, sumber daya air yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan

air adalah waduk-waduk tersebar hampir di seluruh Jawa Timur. Jumlah waduk yang ada

di Jawa Timur berjumlah 89 buah waduk.

Tabel 3.3

Jumlah Waduk, Volume Tampung, Kapasitas Efektif dan Luas Daerah Genangan pada Wilayah Sungai di Provinsi Jawa Timur

Provinsi Jawa Timur memiliki jumlah mata air yang cukup banyak dan tersebar

di seluruh Wilayah sungai. Berdasarkan data Pengairan dalam angka dari tahun 2008

(17)

12 | P a g e perubahan yaitu sebanyak 4.389 mata air, yang memiliki debit rerata tahunan yang sama

yaitu 73,20 m3/detik, serta memiliki volume tahunan 2.308,57 m3.

Tabel 3.4

(18)

13 | P a g e Kondisi Iklim Provinsi Jawa Timur secara umum termasuk iklim tropis yang

mengenal 2 (dua) perubahan putaran musim, yaitu musim Kemarau (Mei-Oktober) dan

musim Penghujan (Nopember-sampai sekitar bulan April). Hingga bulan Desember

seluruh wilayah di Jawa Timur sudah memasuki musim penghujan. Hampir setiap hari

hujan mengguyur semua wilayah dengan intensitas ringan hingga lebat.

3.2. POTENSI PENGEMBANGAN WILAYAH

Potensi pengembangan wilayah di Provinsi Jawa Timur dapat di tinjau dalam

berbagai aspek antara lain potensi kehutanan, pertanian, perkebunan, perikanan, dan

pertambangan.

Potensi Kehutanan di Provinsi Jawa Timur dapat di tinjau pada kawasan

peruntukan hutan produksi dengan luas sekurang – kurangnya 782.772 Ha atau 16,38% dari luas wilayah Provinsi Jawa Timur dan hutan rakyat dengan luas sekurang – kurangnya 361.570,30 Ha atau 7,56% dari luas wilayah Provinsi Jawa Timur.

Potensi Pertanian berdasarkan Perda Jawa Timur No 5 Tahun 2012 tentang

(19)

14 | P a g e 2.020.491,71 ha dengan rincian pertanian lahan basah sebesar 911.863 ha dan pertanian

lahan kering/tegalan/kebun campur sebesar 1.108.627,71 ha. Rencana penggunaan lahan

untuk pertanian lahan basah berupa sawah beririgasi teknis dengan luas

sekurang-kurangnya 957.239 Ha atau 20,03% dari luas Jawa Timur dengan peningkatan jaringan

irigasi semi teknis dan sederhana menjadi irigasi teknis yang tersebar di masing-masing

wilayah sungai. Rencana pengembangan pertanian lahan kering di wilayah Provinsi Jawa

Timur ditetapkan dengan luas sekurang-kurangnya 849.033 Ha atau 17,76% dari luas

Jawa Timur yang diarahkan pada daerah-daerah yang belum terlayani oleh jaringan

irigasi.

Untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional dan kebutuhan pangan Provinsi

Jawa Timur, perlu dilakukan perlindungan terhadap lahan pertanian pangan sehingga

dapat menjamin ketersediaan pangan. Berdasarkan hal tersebut provinsi Jawa Timur

menetapkan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) di Jawa Timur Seluas kurang

lebih 1.017.549,72 Ha dengan rincian lahan basah seluas 802.357,9 Ha dan lahan kering

seluas 215,191.83 Ha.

Tabel 3.5

Produksi Padi, Jagung dan Kedelai pada Provinsi Jawa Timur Tahun 2009-2013

Potensi Perkebunan berdasarkan komoditasnya, pengembangan perkebunan

dapat dibagi dalam 2 (dua) kelompok yakni perkebunan tanaman tahunan dan perkebunan

tanaman semusim. Berdasarkan total luasan rencana kawasan peruntukan perkebunan,

Provinsi Jawa Timur mampu mencapai produksi terutama pada komoditas tanaman

tahunan berupa tebu dan tembakau serta tanaman musiman berupa kopi dan kakao.

Potensi Perikanan Provinsi Jawa Timur pada dasarnya adalah pengembangan

perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan pengelolaan serta pemasaran hasil perikanan

yang dikemas dalam sebuah sistem minapolitan. Pengembangan kawasan perikanan

tangkap di Jawa Timur memiliki prospek yang bagus, didukung oleh pengembangan

(20)

15 | P a g e pelabuhan perikanan Muncar di Kabupaten Banyuwangi, dan Prigi di Kabupaten

Trenggalek.

Pengembangan kawasan peruntukan perikanan budidaya terdiri dari perikanan

budidaya air payau, perikanan budidaya air tawar, dan perikanan budidaya air laut. Sektor

perikanan budidaya air payau berada pada kawasan Ujung Pangkah dan Panceng di

Kabupaten Gresik, serta Sedati di Kabupaten Sidoarjo dengan komoditas ikan bandeng

dan garam. Sedangkan potensi garam yang merupakan salah satu potensi budidaya air

payau berada pada Kabupaten Bangkalan, Gresik, Lamongan, Pamekasan, Pasuruan,

Probolinggo, Sampang, Sumenep, Tuban, serta Kota Pasuruan, dan Surabaya.

Perikanan budidaya air tawar berada pada Kabupaten Bojonegoro, Lamongan,

Magetan, Malang, Blitar, Trenggalek, Tulungagung, Jember, dan Banyuwangi. Perikanan

budidaya air laut tersebar pada wilayah pesisir seperti adanya sentra pengembangan ikan

laut di bagian pantai utara Jawa Timur.

Potensi Pertambangan di Provinsi Jawa Timur dibagi menjadi potensi

pertambangan mineral (logam, bukan logam, batuan dan batubara), potensi pertambangan

minyak dan gas bumi dan potensi panas bumi.

Potensi Pariwisata berdasarkan Perda Jawa Timur No 5 Tahun 2012 tentang

Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, kawasan peruntukan pariwisata di Provinsi Jawa

Timur meliputi daya tarik wisata alam, daya tarik wisata budaya, dan daya Tarik wisata

hasil buatan manusia.

3.3. WILAYAH RAWAN BENCANA

Kawasan rawan bencana alam merupakan kawasan yang diindikasikan sebagai

kawasan yang sering terjadi bencana. Kawasan rawan bencana wilayah Provinsi Jawa

Timur dikelompokkan dalam kawasan rawan bencana tanah longsor, gelombang pasang,

banjir dan kebakaran hutan serta angin kencang dan puting beliung. Untuk antisipasi

dampak bencana perlu upaya-upaya antara lain deteksi dini bencana, melestarikan

kawasan lindung dan penanggulangan bencana.

1. Kawasan Rawan Bencana Tanah Longsor

Ada 6 jenis tanah longsor, yakni: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan

(21)

16 | P a g e longsor di Jawa Timur dengan potensi gerakan tanah menengah-tinggi sebagaimana

tabel berikut :

Tabel 3.6

(22)

17 | P a g e 2. Kawasan Rawan Gelombang Pasang

Kawasan rawan gelombang pasang di Provinsi Jawa Timur berada di kawasan

sepanjang pantai di wilayah Jawa Timur baik yang berbatasan dengan Laut Jawa,

Selat Bali, Selat Madura, Samudera Hindia maupun di kawasan kepulauan.

3. Kawasan Rawan Bencana Banjir

Lokasi dengan potensi banjir di Provinsi Jawa Timur meliputi :

Tabel 3.7

Lokasi Potensi Banjir di Provinsi Jawa Timur

4. Kawasan Rawan Kebakaran Hutan dan Puting Beliung

Kawasan rawan bencana kebakaran hutan dan puting beliung di Jawa Timur meliputi

: Kawasan di Gunung Arjuno, Kawasan di Gunung Kawi, Kawasan di Gunung

(23)

18 | P a g e 5. Kawasan Rawan Letusan Gunung Api

Kawasan rawan letusan gunung api di Jawa Timur berada pada lereng gunung api

yang masih aktif. Terdapat 7 gunung api aktif di Jawa Timur serta lokasi yang

merupakan wilayah rawan bencana letusan. Kawasan yang diindikasikan dapat

meletus/mengeluarkan lava, asap beracun dan mengeluarkan debu pasir, meliputi :

Tabel 3.8

Kawasan Rawan Letusan Gunung Api di Provinsi Jawa Timur

6. Kawasan Rawan Gempa Bumi

Kawasan rawan bencana gempa bumi di Provinsi Jawa Timur berada di wilayah :

Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Blitar, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten

Jember, Kabupaten Jombang, Kabupaten Kediri, Kabupaten Lumajang, Kabupaten

Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Malang, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten

Nganjuk, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Ponorogo,Kabupaten Probolinggo,

Kabupaten Situbondo, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tulungagung.

7. Kawasan Rawan Tsunami

Di wilayah Jawa Timur wilayah rawan gempa utamanya pada pantai selatan Jawa

Timur yang diklasifikasi berdasarkan tingkat risikonya, yakni :

a. Risiko besar tsunami, meliputi : Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Jember,

(24)

19 | P a g e b. Risiko sedang tsunami, meliputi : Kabupaten Malang (bagian selatan),

Kabupaten Blitar (bagian selatan), Kabupaten Lumajang dan Kabupaten

Tulungagung.

8. Kawasan Luapan Lumpur

Kawasan luapan lumpur meliputi area terdampak dari bahaya luapan lumpur, polusi

gas beracun, dan penurunan permukaan tanah (land subsidence) di wilayah

Kabupaten Sidoarjo.

3.4. DEMOGRAFI

Pertumbuhan jumlah penduduk Provinsi Jawa Timur terus mengalami

peningkatan setiap tahun, baik laki-laki mapun perempuan. Jumlah penduduk Jawa Timur

tahun 2009 sebanyak 37.236.149 jiwa dan terus bertambah hingga tahun 2012 menjadi

38.052.950 jiwa, dimana pertumbuhan paling banyak adalah perempuan, sebagaimana

tabel berikut :

Tabel 3.9

Struktur Penduduk Provinsi Jawa Timur Menurut Jenis Kelamin

Pertumbuhan jumlah penduduk Jawa Timur disetiap Kabupaten/Kota sangat

bervariasi, dari yang tertinggi Kota Surabaya dengan jumlah penduduk sekitar 2.801.409

jiwa dengan laju pertumbuhan 0,56 persen dan terendah yaitu Kota Mojokerto dengan

(25)

20 | P a g e BAB 4

PEMBAHASAN

4.1. POTENSI INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR DI PROVINSI JAWA

TIMUR

Provinsi Jawa Timur beribukota di Surabaya, memiliki wilayah terluas diantara

6 Provinsi lain di Pulau Jawa dengan luas wilayah 47,113 Km2, yang mana merupakan

2,5% luas Indonesia. Provinsi ini memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua setelah

Jawa Barat yaitu 38.052.950 jiwa. Adapun potensi infrastruktur sumber daya air yang ada

di provinsi Jawa Timur adalah sebagai berikut :

1. Sungai

Terdiri dari 7 Wilayah Sungai (WS), antara lain :

1. WS Brantas

WS Brantas adalah salah satu sungai terbesar di Provinsi Jawa Timur yang terdiri

dari 220 Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan luas WS sebesar ±13.880 km2 atau

kurang lebih 25% dari luas wilayah Provinsi Jawa Timur. Panjang sungai ini ±

320 km, bermata air di kaki Gunung Arjuno, selanjutnya mengalir melingkari

sebuah gunung berapi yang masih aktif yaitu Gunung Kelud melintasi 15

Kab/Kota, yaitu : Batu, Malang, Kota Malang, Blitar, Kota Blitar, Tulungagung,

Trenggalek, Nganjuk, Kediri, Kota Kediri, Jombang, Mojokerto, Kota

Mojokerto, Sidoarjo dan Surabaya.

2. WS Bengawan Solo

Sungai Bengawan Solo, merupakan sungai terbesar di Pulau Jawa yang terdiri

dari 96 DAS dengan panjang sungai sekitar 600 km dan luas total mencapai

20.125 km2 terbagi menjadi :

a. Bagian hulu dan tengah (35%) atau 7.055 km2 mencakup wilayah Provinsi

Jawa Tengah .

b. Bagian Hilir (65%) atau 13.070 km² di Provinsi Jawa Timur (Sub DAS Kali

Madiun dan DAS Bengawan Solo Hilir).

Aliran air mengalir dari Sub DAS Bengawan Solo Hulu dan dari Sub DAS Kali

(26)

21 | P a g e Ponorogo, Madiun, Kota Madiun, Magetan, Bojonegoro, Tuban, Lamongan

hingga Gresik.

3. WS Welang Rejoso

WS Welang Rejoso mencakup 4 Kabupaten/Kota yaitu : Kabupaten Pasuruan,

Kabupaten Probolinggo, Kota Pasuruan dan Kota Probolinggo. Dengan luas ±

2.601 km2, WS Welang Rejoso terdiri atas 36 DAS dengan karakteristik sebagian

besar sungai pendek dan terjal sehingga sifat banjirnya bandang dan belum ada

bangunan pengendali banjir pada bagian hulu dan hilir sebagian besar belum

memiliki sistem pengendali banjir yang memadai.

4. WS Pekalen Sampean

WS Pekalen Sampean mencakup 3 Kabupaten yaitu : Kabupaten Situbondo,

Kabupaten Bondowoso dan sebagian Kabupaten Probolinggo. Dengan luas ±

3.953 km2 terdiri dari 56 DAS dengan karakteristik sebagian besar sungai pendek

dan terjal.

5. WS Baru Bajulmati

WS Baru Bajulmati mencakup 4 Kabupaten yaitu : Kabupaten Banyuwangi,

sebagian Kabupaten Bondowoso, sebagian Kabupaten Situbondo dan sebagian

Kabupaten Jember. Dengan luas ± 3.675 km2, WS Baru Bajulmati terdiri atas 60

DAS yang sebagian besar belum memiliki sistem pengendali banjir yang

memadai.

6. WS Bondoyudo Bedadung

WS Bondoyudo Bedadung mencakup 3 Kabupaten yaitu Kabupaten Lumajang,

Kabupaten Jember dan sebagian Kabupaten Malang. Dengan luas ± 5.364 km2,

WS Bondoyudo Bedadung terdiri atas 47 DAS, dengan sistem pengendali banjir

tanggul sungai : Kali Tanggul dan Kali Bedadung, sedangkan pada beberapa

DAS yang merupakan sistem pengendali banjiir lahar Gunung Semeru,

pengendali banjir berupa Tanggul dan Sabo Dam.

7. WS Madura Bawean

WS Madura mencakup 4 Kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan

Sumenep. Dengan luas ± 4.575 km2, WS Madura terdiri atas 173 DAS yang

(27)

22 | P a g e 2. Bendungan

Berikut jumlah bendungan yang ada di Provinsi Jawa Timur :

Tabel 4.1

Bendungan yang Sudah Beroperasi

3. Irigasi

Irigasi sebagai salah satu komponen pendukung keberhasilan ketahanan pangan

mempunyai peran yang sangat penting. Di Provinsi Jawa Timur sendiri terdapat

8.911 Daerah Irigasi (DI) dengan luas baku sawah beririgasi sebesar 934.683 ha (baik

DI kewenangan pusat, provinsi maupun kabupaten).

(28)

23 | P a g e 4.2. KEBIJAKAN KEWILAYAHAN DI PROVINSI JAWA TIMUR

Secara umum, kebijakan pengembangan kewilayahan di Provinsi Jawa Timur

adalah :

1. Pemerataan pembangunan antar wilayah dengan memperkecil dikotomi antara

Kawasan pedesaan dan perkotaan melalui kegiatan ekonomi serta keseimbangan

wilayah utara-selatan Jawa Timur dan Pulau Madura dengan tetap didasarkan pada

potensi sumber daya yang ada.

2. Peningkatan pembangunan kewilayah melalui pembangunan infrastruktur yang

saling terkait sehingga meningkatkan daya saing daerah terutama pada wilayah yang

relatif tertinggal dalam rangka memacu pertumbuhan wilayah dan menyeimbangkan

pengembangan ekonomi wilayah.

3. Peningkatan ketahanan pangan dan ketahanan energi pada wilayah-wilayah terpencil

dalam rangka keningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.

4. Peningkatan fungsi Kawasan lindung, kelestarian sumber daya alam/buatan dan

ekosistemnya dalam rangka pembangunan berwawasan lingkungan.

5. Peningkatan konservasi ekosistem Kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang

menjadi fungsi perlindungan dengan meningkatakan peran aktif masyarakat dan

swasta dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut.

6. Pengembangan Kawasan strategis ekonomi dalam rangka meningkatkan

kesejahteraan masyarakat, penanggulangan kemiskinan, mengurangi tingkat

pengangguran, mempercepat perkembangan wilayah dan kemajuan Kawasan

tertinggal untuk mengurangi kesenjangan antar Kawasan.

7. Peningkatan kerjasama antar daerah dalam pengembangan wilayah agar terjadi

keselarasan di dalam pembangunan Kawasan perbatasan antar provinsi dan anatar

kabupaten/kota sesuai dengan potensi daerah.

Fokus pembangunan Jawa Timur pada tahun 2014-2019 diarahkan pada

pemantapan perkotaan Pusat Kegiatan Nasional sebagai metropolitan Jawa Timur,

pengembangan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dan peningkatan produksi utama di Jawa

Timur dengan pusat pengolahan dan pemasaran sebagai inti pengembangan sistem

(29)

24 | P a g e 4.3. KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR UNTUK

MENDUKUNG PENGEMBANGAN WILAYAH PADA PROVINSI JAWA

TIMUR

Isu terkait pengembangan kewilayahan di Provinsi Jawa Timur, khususnya poin

peningkatan ketahanan pangan adalah sebagai berikut :

1. Menurunnya ketersediaan air baku irigasi

a. Terjadinya penurunan kapasitas tampungan air yang ada (waduk) rata-rata sekitar

50% dari rencana awal yang disebabkan terjadinya sedimentasi.

b. Terhambatnya pembangunan waduk baru.

c. Peningkatan Kebutuhan air sesuai prioritas : domestik, irigasi, listrik, industri.

2. Belum dikembangkannya Jaringan Irigasi

Terdapat Jaringan Irigasi yang belum dikembangkan pasca selesainya pembangunan

infrastruktur sumber daya airnya misalnya, Daerah Irigasi (DI) Bajulmati 1.000 ha,

DI Nipah 500 ha, DI Bengawan Jero Lamongan (Intake Babat Barrage) 8.000 ha, DI

Mrican Kanan (Sal. Sek. Papar-Peterongan 12,5 km) 7.000 ha dan DI Bojonegoro

Barrage (pompa) 10.000 ha.

3. Menurunnya kinerja jaringan irigasi tingkat Primer, Sekunder dan Tersier

a. Terjadinya penurunan pelayanan akibat umur bangunan dan fungsi layanan

Jaringan Irigasi tingkat Primer, Sekunder dan Tersier.

b. Terjadinya kerusakan bendung-bendung irigasi  470 buah.

c. Pengelolaan Irigasi belum terpadu dari tingkat Primer, Sekunder sampai Tersier.

4. Banjir/genangan pada areal sawah irigasi

Terdapat Sawah Irigasi yang gagal panen akibat bencana banjir rutin seluas  30.000

ha pada daerah Bojonegoro, Lamongan, Tuban, Madiun, Ngawi dan Ponorogo.

Adapun solusi atau upaya yang dilakukan pemerintah provinsi Jawa Timur untuk

menyelesaikan permasalahan atau isu tersebut di atas adalah dengan pembangunan

infrastruktur maupun pengembangan infrastruktur yang telah ada. Berikut uraiannya.

1. Untuk mengatasi menurunnya ketersediaan air baku irigasi, dilakukan :

a. Revitalisasi bendungan/waduk yang telah ada

b. Pembangunan bendungan baru oleh Pemerintah Pusat, dimana pemerintah

(30)

25 | P a g e Tabel 4.3

Bendungan/Waduk yang Akan Dibangun

c. Selain bendungan, pemerintah Provinsi Jawa Timur juga membangun embung

geomembrane pada daerah-daerah yang rawan terjadi kekeringan pada musim

kemarau. Dimana airnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik, sehingga

supply air untuk irigasi tidak berkurang.

Embung geomembrane adalah tampungan air permanen dengan desain yang

sederhana, terbuat dari geomembrane yang kedap air, membutuhkan tanah yang

tidak terlalu luas sehingga cepat pelaksanaannya, membutuhkan biaya murah

namun dapat memberikan manfaat yang panjang. Sampai dengan tahun 2018 telah

(31)

26 | P a g e Gambar 4.1

Pelaksanaan Pembangunan Embung Geomembrane

Gambar 4.2

Manfaat Embung Geomembrane

2. Untuk mengatasi belum dikembangkannya daerah irigasi pada infrastruktur yang

baru saja dikembangkan maka segera dilakukan DED jaringan irigasi baru setelah itu

dibangun konstruksinya. Diharapkan akan menambah areal baku sawah beririgasi

seluas 26.500 ha.

Tabel 4.4

(32)

27 | P a g e 3. Untuk mengatasi menurunnya kinerja jaringan irigasi tingkat Primer, Sekunder dan

Tersier, dilakukan :

a. Operasi dan pemeliharaan (OP) pada 176 DI Kewenangan Provinsi melalui APBD

dan 32 DI Kewenangan Pusat melalui kegiatan tugas pembantuan operasi dan

pemeliharaan dalam hal ini APBN.

Tabel 4.5

Operasi Pemeliharaan Jaringan Irigasi DI Kewenangan Provinsi

b. Rehabilitasi pada 176 DI Kewenangan Provinsi melalui APBD dan Dana Alokasi

Khusus (DAK).

4. Upaya untuk mengatasi banjir/genangan pada areal sawah irigasi yaitu dengan :

a. Melakukan perbaikan sarana pengendali banjir serta normalisasi sungai-sungai

(sebanyak 21 ruas sungai tersebar di Provinsi Jawa Timur) yang rutin

menimbukan banjir dan menggenangi areal sawah berakibat gagal panen.

(33)

28 | P a g e b. Pengurangan lahan puso akibat banjir (Peningkatan kapasitas floodway Plangwot – Sedayu Lawas dari 640 m3/dt menjadi 1400 m3/dt untuk mengurangi lahan puso di Lamongan, Ponorogo, Madiun, Ngawi, Tuban dan Bojonegoro seluas 32.732

(34)

29 | P a g e BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1.KESIMPULAN

Untuk mewujudkan fokus pembangunan Jawa Timur pada tahun 2014-2019 yang

diarahkan pada pemantapan perkotaan Pusat Kegiatan Nasional sebagai metropolitan

Jawa Timur, pengembangan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dan peningkatan produksi

utama di Jawa Timur dengan pusat pengolahan dan pemasaran sebagai inti

pengembangan sistem agropolitan yang merupakan bagian dari kebijakan pengembangan

wilayah di Provinsi Jawa Timur, maka diperlukan dukungan infratruktur sumber daya air

sebagai berikut :

1. Guna menambah ketersediaan air baku :

a. Perlu adanya revitalisasi tampungan air pada 26 bendungan/waduk yang telah ada.

b. Perlu adanya pembangunan waduk tampungan air baru, baik skala besar (16

bendungan) maupun skala kecil (86 embung geomembrane).

2. Pengembangan Jaringan Irigasi akan menambah luas tanam sekitar 26.500 ha.

Diharapkan dengan bertambahnya luas tanam maka Index Pertanaman (IP) Padi pada

di Jawa Timur yang saat ini 1,55 dapat meningkat menjadi 1,67.

3. Kegiatan OP dan Rehabilitasi Jaringan irigasi bertujuan meningkatkan dan

mengembalikan fungsi dan kinerja Jaringan Irigasi dengan tujuan mempertahankan

IP yang ada.

4. Pengurangan lahan puso akibat banjir dengan :

a. Perbaikan sarana pengendali banjir serta normalisasi 21 ruas sungai tersebar di

Provinsi Jawa Timur.

b. Peningkatan kapasitas floodway Plangwot – Sedayu Lawas dari 640 m3/dt menjadi 1400 m3/dt.

4.2.SARAN

Di dalam upaya memenuhi kebutuhan infrastruktur untuk pengembangan

wilayah di Provinsi Jawa Timur tentu saja ditemui beberapa permaslahan baik dari segi

(35)

30 | P a g e daya air dari beberapa sektor terkait pada kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan

(36)

v | P a g e DAFTAR PUSTAKA

Kodoatie, Robert, 2005, Pengantar Manajemen Infrastruktur, Pustaka Pelajar,

Yogyakarta.

Pengairan Dalam Angka Tahun 2017, Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur.

Pengembangan Infrastruktur Pengairan untuk Mendukung Produktifitas Pertanian dan

Kesejahteraan Petani Tahun 2017, Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa

Timur.

Perda No. 3 tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

(RPJMD) .Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 – 2019.

Gambar

Gambar 2.1 Hubungan antara Sistem, Ekonomi, Infrastruktur
Gambar 2.2 Sistem Infrastruktur Dalam Pengelompokan
Tabel 3.1 Jumlah Kecamatan dan Desa
Gambar 3.1 Peta Administrasi Wilayah dan Pulau
+7

Referensi

Dokumen terkait

14 ROHMANTO III/b Pelaksana Seksi Operasi dan Pengolahan Data pada Balai Pendayagunaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Citarum Dinas PSDA Provinsi Jawa Barat 15 SITI

kecamatan di wilayah Kabupaten Sumba Timur. Data karakteristik wilayah pendayagunaan sumber daya air yang terdiri atas potensi sumber air, IPA, jumlah penduduk, sawah,

kecamatan di wilayah Kabupaten Sumba Timur. Data karakteristik wilayah pendayagunaan sumber daya air yang terdiri atas potensi sumber air, IPA, jumlah penduduk, sawah,

Keterkaitan Antara Rencana Tata Ruang Wilayah Dengan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Lebih jauh, pengintegrasian rencana pengelolaan sumber daya air ke

Dalam hal ini perumusan kebijakan dan pelaksanaan kegiatan pengembangan, pengelolaan, dan pendayagunaan infrastruktur sumber daya air di Kabupaten Sidenreng Rappang

Dalam rangka Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia ASN di Jawa Tengah, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Jawa Tengah akan menyelenggarakan

Dalam upaya mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat terutama pada wilayah kepulauan khususnya Pulau Merbau, maka analisis kualitas sumber air diperlukan untuk

kecamatan di wilayah Kabupaten Sumba Timur. Data karakteristik wilayah pendayagunaan sumber daya air yang terdiri atas potensi sumber air, IPA, jumlah penduduk, sawah,