• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ancaman Bencana Dibalik Geliat Wisata Se

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ancaman Bencana Dibalik Geliat Wisata Se"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Lomba Kreativitas Bidang Kebencanaan 2016 Jenis Lomba : Karya Tulis Jurnalistik

Judul : Ancaman Bencana Dibalik Geliat Wisata Sejarah-Budaya Yogyakarta Penulis : Wastu Hari Prasetya

Alamat : Jalan Satya No. 21 RT 001 RW 003 Kel. Baru Kec. Pasar Rebo Jakarta Timur

Pekerjaan : Mahasiswa

No. Telepon : 0812-5275-7268/0897-1420-125 Email : [email protected]

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada saat ini Yogyakarta telah menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia. Berbagai atraksi wisata tersaji dengan begitu meriah di wilayah bekas Kerajaan Mataran Islam. Tak hanya wisata alam yang saat ini menjadi incaran wisatawan baik dalam dan luar negeri, melainkan juga wisata sejarah dan budaya yang diberikan oleh Yogyakarta untuk memanjakan para turis yang melancong ke Yogyakarta. Wisata sejarah dan budaya menjadi komoditi wisata utama yang ditawarkan oleh Yogyakarta dikarenakan wilayah Yogyakarta telah menjadi saksi bisu keberlangsungan peradaban di wilayah Indonesia. Mulai dari wisata gua prasejarah yang berada di gugusan Pegunungan Sewu yang membentang dari Gunungkidul hingga Pacitan. Lalu wisata tinggalan peradaban masa klasik Hindu-Budha berupa candi yang tersebar di sekitar kaki Gunung Merapi antara Magelang, Sleman, Klaten dan Boyolali. Terkahir, yakni wisata kebudayaan Islam dan kolonial yang tersaji melalui kemegahan Kompleks Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang berpadu dengan beberapa kompleks bangunan bergaya Eropa sebagai penanada keberadaan Belanda di wilayah pusat pemerintahan Kota Yogyakarta.

(2)

bertengger rangkaian pegunungan berapi yang beberapa masih memunculkan aktifitas vulkaniknya yang memungkinkan terjadinya bencana erupsi gunung berapi.

Berdasarkan peta risiko bencana yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana, wilayah Yogyakarta diidentifikasi berisiko terhadap tiga bencana mayor dengan skala risiko yang berbeda dimasing-masing kabupaten yang termasuk Provinsi DI Yogyakarta. Ancaman bencana mayor yang dimaksud antara lain erupsi gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami. Selain bencana mayor tersebut, berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah dimasing-masing kabupaten, wilayah Yogyakarta juga rawan akan ancaman bencana minor seperti erosi, gerakan tanah, longosr, banjir, banjir lahar dingin dan angin.

Dalam kurun waktu sedakede terakhir tercatat empat bencana besar meluluhlantahkan wilayah Yogyakarta dimulai dari bencana gempa bumi yang diakibatkan pergerakan sesar Opak dan erupsi Gunung sekitar Yogya melainkan efek dari letusan Gunung Kelud di Jawa Timur dimana abu vulkanik terbawa oleh angin ke arah barat dan berimbas terhadap Yogyakarta yang tertutup abu vulkaik selama beberapa minggu. Efek yang ditimbulkan oleh masing-masing bencana yang menerpa Yogyakarta tidak hanya menelan korban jiwa dan merusak sarana penunjang kehidupan manusia. Tetapi juga menimbulkan kerusakan pada obyek wisata sejarah budaya di Yogyakarta yang sebagian besar tercatat sebagai cagar budaya yang dilindungi. Obyek wisata sejarah budaya yang juga terdaftar sebagai Keajaiban Dunia dan Warisan Budaya UNESCO yakni Candi Prambanan dan Borobudur pun tak luput dari bencana yang melanda Yogyakarta selama satu dekade terkahir.

Penanganan atau mitigasi bencana yang termanajemen sangat mutlak dimiliki oleh obyek wisata sejarah budaya di Yogyakarta. Hal ini untuk mengurangi dampak kerusakan dan

Gambar 1. Peta Indeks Risiko Bencana Gempa Bumi DI Yogyakarta

(3)

kerugian yang akan dialami oleh wisatawan maupun obyek wisata sejarah itu sendiri. Mengingat obyek wisata sejarah budaya kebanyakan merupakan hasil karya nenek moyang yang memiliki nilai tinggi dan tidak dapat tergantikan nilah sejarahnya apabila mengalami kerusakan. Untuk penanganan bencana, pemerintah memiliki seperangkat peraturan dalam hal penanganan atau mitigasi bencana seperti Undang-Undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2008 tentang Penyelanggaraan Penanggulangan Bencana dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 33 tahun 2006 tentang Pedoman Umum Mitigasi Bencana. Sementara untuk penanganan bencana obyek wisata sejarah budaya yang termasuk cagar budaya belum memiliki peraturan yang memadai. Dalam melindungi cagar budaya, pemerintah hanya memiliki UU No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Sementara khusus Yogyakarta hanya memiliki Perda DIY No. 6 tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya. Namun kedua peraturan yang menjadi pedoman perlindungan cagar budaya di Yogyakarta konteksnya sangat jauh dari bencana. Oleh karena itu, diperlukan seperangkat aturan tentang penangan atau mitigasi bencana yang mengacu pada obyek wisata sejarah budaya atau obyek wisata cagar budaya. Hal ini sangat diperlukan karena ketika bencana terjadi dan melanda obyek wisata sejarah budaya, penanganan bencana tidak hanya tertuju pada keselamatan wisatawan namun juga obyek wisata itu sendiri yang berupa cagar budaya.

(4)

Gambar

Gambar 1. Peta Indeks Risiko Bencana Gempa Bumi DI

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan penghitungan pemotongan pajak penghasilan pasal 21 yang dilakukan penulis dengan menggunakan formulasi yang terdapat dalam UU No 36 Tahun 2008, dari hasil yang

Penanggun g Jawab Kondis i Awal (2012) Target Akhir (2018) 3.8 Dalam Negeri dan ekspor Meningkatnya pertumbuhan jumlah industri luar negeri, memperbaiki iklim usaha perdagangan

Data rekam medis rumah sakit jiwa Banyumas di Ruang Nakula saja pada tahun 2016 schizofrenia terinci merupakan diagnosa pertama terbesar setelah schizofrenia paranoid

Pokja Pengadaan pada Dinas Penanaman Modal, Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Tenaga Kerja Kabupaten Manggarai Berdasarkan hasil evaluasi penawaran terhadap paket pekerjaan

Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah mengetahui kandungan klorofil-α, komposisi dan kelimpahan larva dan juvenil ikan serta di sungai, muara dan laut yang

Berdasarkan tinjauan studi sebelumnya dan untuk menemukan solusi dari masalah yang ada, maka penelitian yang akan dilakukan dimulai dari menganalisis proses bisnis

Peningkatan PBB dan rasio efisiensi protein (REP) hanya seminggu setelah pemberian KTK sapi dalam ransum (umur 15-21 hari) mengindikasikan bahwa peningkatan kadar dan aktivitas

Implikasi dari uji hipotesis tersebut adalah secara simultan jumlah uang bereedar (M1) dan kredit investasi (KI) secara bersama-sama berpengaruh signifikan