• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materialitas risiko audit dan strategi a

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Materialitas risiko audit dan strategi a"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Rangkuman Mata Kuliah

MATERIALITAS, RISIKO AUDIT DAN STRATEGI AUDIT AWAL

OLEH:

MAXYANUS TARUK LOBO’

A311 12 296

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

(2)

A. MATERIALITAS

1. Konsep Materialitas

Financial Accounting Standard Board (FASB) mendefinisikan materialitas sebagai : “Besarnya suatu penghapusan atau salah saji informasi keuangan yang, dengan memperhitungkan situasinya, menyebabkan pertimbangan yang dilakukan oleh orang yang mengandalkan pada informasi tersebut akan berubah atau terpengaruh oleh penghapusan atau salah saji tersebut.”

Definisi diatas mengharuskan auditor untuk mempertimbangkan keadaan-keadaan yang berhubung dengan satuan usaha (perusahaan klien), dan informasi yang diperlukan oleh mereka yang akan mengandalkan pada laporan keuangan yang telah diaudit. Karena tanggung jawab menentukan apakah laporan keuangan salah saji secara material, auditor harus, berdasarkan temuan salah saji yang material, menyampaikan hal itu kepada klien sehingga bisa dilakukan tindakan koreksi. Konsep materialitas mengakui bahwa beberapa hal, baik secara individual atau keseluruha, adalah penting bagi kewajaran penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Sedangkan beberapa hal lainnya adalah tidak penting. Auditor mengikuti lima langkah yang saling terkait erat dalam menerapkan materialitas. Langkah-Langkah Dalam Menerapkan Materialistas:

a. Merencanakan luas pengujian

Langkah 1 : Menetapkan pertimbangan pendahuluan tentang materialitas

Langkah 2 : Mengalokasikan pertimbangan pendahuluan tentang materialitas segmen-segmen

b. Mengevaluasi hasil-hasil

Langkah 3 : Mengestimasi total salah saji dalam segmen Langkah 4 : Memperkirakan salah saji gabungan

Langkah 5: Membandingkan salah saji gabungan dengan pertimbangan pendahuluan atau yang direvisi tetentang materialitas.

Laporan keuangan mengandung salah saji material apabila laporan keuangan tersebut mengandung salah saji yang dampaknya, secara individual atau keseluruhan, cukup signifikan sehingga dapat mengakibatkan laporan keuangan tidak disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.Salah saji dapat terjadi sebagai akibat dari kekeliruan atau kecurangan.

(3)

a. Kesalahan dalam pengumpulan atau pengolahan data yang menjadi sumber penyusunan laporan keuangan.

b. Estimasi akuntansi yang tidak masuk akal yang timbul dari kecerobohan atau salah tafsir fakta.

c. Kekeliruan dalam penerapan prinsip akuntansi yang berkaitan dengan jumlah, klasifikasi, cara penyajian, atau pengungkapan.

Dalam laporan audit atas laporan keuangan, auditor tidak dapat memberikan jaminan (guarantee) bagi klien atau pemakai laporan keuangan yang lain, bahwa laporan keuangan auditan adalah akurat

2. Mengapa Konsep Materialitas Penting dalam Audit atas Laporan Keuangan?

Dalam audit atas laporan keuangan, auditor tidak dapat memberikan jaminan bagi klien atau pemakai laporan keuangan yang lain, bahwa laporan keuangan auditan adalah akurat karena auditor yang bersangkutan tidak memeriksa setiap transaksi yang terjadi dalam tahun yang diaudit dan tidak dapat menentukan apakah semua transaksi yang terjadi telah dicatat, diringkas, digolongkan, dan dikompilasi secara semestinya ke dalam laporan keuangan. Oleh karena itu, dalam audit atas laporan keuangan, auditor memberikan keyakinan (assurance) sebagai berikut:

a. Auditor dapat memberikan keyakinan bahwa jumlah-jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan beserta pengungkapannya telah dicatat, diringkas, digolongkan, dan dikompilasi.

b. Auditor dapat memberikan keyakinan bahwa ia telah mengumpulkan bukti audit kompeten yang cukup sebagai dasar memadai untuk memberikan pendapat atas laporan keuangan auditan.

c. Auditor dapat memberikan keyakinan, dalam bentuk pendapat (atau memberikan informasi, dalam hal terdapat perkecualian), bahwa laporan keuangan sebagai keseluruhan disajikan secara wajar dan tidak terdapat salah saji material karena kekeliruan dan ketidakberesan.

Dengan demikian ada dua konsep yang mendasari keyakinan yang diberikan oleh auditor yaitu: konsep materialitas yang menunjukkan seberapa besar salah sajinya dan konsep risiko audit yang menunjukkan tingkat risiko kegagalan auditor untuk mengubah pendapatnya atas laporan keuangan yang sebenarnya berisi salah saji material.

3. Pertimbangan pendahuluan Mengenai Materialitas

(4)

sedang mengembangkan strategi audit secara keseluruhan. Keputusan tersebut disebut sebagai pertimbangan pendahuluan tentang materialitas. Karena, meskipun merupakan pendapat professional , hal itu mungkin saja berubah selama penugasan. Pertimbangan ini harus didokumentasikan dalam file audit.

Pertimbangan pendahuluan tentang materialitas adalah jumlah maksimum yang membuat auditor yakin bahwa laporan keuangan akan salah saji tetapi tidak mempengaruhi keputusan para pemakai yang bijaksana. Auditor menetapkan pertimbangan pendahuluan tentang materialitas untuk membantu merencanakan pengumpulan bukti yang tepat. Semakin rendah nilai uang pertimbangan pendahuluan ini, semakin banyak bukti audit yang dibutuhkan. Selama pelaksanaan audit, auditor sering kali mengubah pertimbangan pendahuluan tentang materialitas. Beberapa faktor akan mempengaruhi pertimbangan pendahuluan auditor tentang materialitas untuk seperangkat laporan keuangan tertentu,

a.

Materialitas adalah konsep yang bersifat relatif ketimabang absolut

Salah saji material bagi suatu perusahaan belum tentu material juga bagi perusahaan lain.

b.

Dasar yang diperlukan untuk mengevaluasi materialitas

Karena materialitas bersifat relative, diperlukan dasar untuk menentukan apakah salah saji itu material. Laba bersih sebelum pajak sering kali menjadi dasar utama untuk menentukan berapa jumlah material bagi perusahaan yang berorientasi laba, karena jumlah ini dianggap sebagai item informasi yang penting bagi para pemakai.

c.

Faktor-faktor kualitatif yang juga mempengaruhi materialitas, contoh:

 Jumlah karena ketidakberesan lebih penting daripada kekeliruan yang tidak

disengaja karena ketidakberesan mencerminkan kejujuran dan keandalan dari pihak manajemen atau pihak yang terlibat.

 Kekeliruan yang kecil dianggap material jika berhubungan dengan

kewajiban kontrak.

 Kekeliruan yang tidak material dapat menjadi material kalau mempengaruhi

kecenderungan laba.

Dalam perencanaan suatu audit, auditor harus menetapkan materialitas pada dua tingkat berikut ini :

a.

Tingkat laporan keuangan, karena pendapat auditor atas kewajaran mencakup laporan keuangan sebagai keseluruhan.

b.

Tingkat saldo akun, karena auditor memverifikasi saldo akun dalam mencapai kesimpulan menyeluruh atas kewajaran laporan keuangan.

4. Materialitas pada Tingkat Laporan Keuangan

(5)

mengevaluasi bukti-bukti audit dalam pelaksanaan audit. Pada saat merencanakan audit, auditor perlu membuat estimasi materialitas karena terdapat hubungan yang terbalik antara jumlah dalam laporan keuangan yang dipandang material oleh auditor dengan jumlah pekerjaan audit yang diperlukan untuk menyatakan kewajaran laporan keuangan. Jadi auditor harus mempertimbangkan dengan baik penaksiran materialitas pada tahap perencanaan audit. Jika auditor menentukan jumlah materialitas terlalu rendah, auditor akan mengkonsumsi waktu dan usaha yang sebenarnya tidak diperlukan. Sebaliknya jika auditor menentukan jumlah rupiah materialitas terlalu tinggi auditor akan mengabaikan salah saji yang signifikan sehingga ia memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian untuk laporan keuangan yang sebenarnya berisi salahsaji material.

Laporan mengandung salah saji material jika laporan tersebut berisi kekeliruan atau kecurangan yang dampaknya, secara indifidual atau secara gabungan. Dalam perencanaan audit, auditor harus menyadari bahwa terdapat lebih dari satu tingkat materialitas yang berkaitan dengan laporan keuangan tersebut. Kenyataannya setiap laporan keuangan dapat memiliki lebih dari satu materialitas.

5. Materialitas Pada tingkat Saldo Akun

Materialitas pada tingkat saldo akun adalah salah saji minimum yang mungkin terdapat dalam saldo akun yang dipandang sebagai salah saji material. Konsep materialitas pada tingkat saldo akun tidakboleh dicampur adukan dengan saldo akun material. Karena saldo akun material adalah besarnya saldo akun yang tercatat, sedangkan konsep materialitas berkaitan dengan jumlah salah saji yang dapat mempengaruhi keputusan pemakai informasi keungangan. Saldo suatu akun yang tercatat umumnya mencerminkan batas atas lebih saji dalam akun tersebut. Dalam mempertimbangakan materialitas pada tingkat saldo akun, auditor harus mempertimbangkan hubungan antara materialitas tersebut dengan materialitas laporan keuangan. Pertimbangan ini mengarahkan auditor untuk merencanakan audit guna mendeteksi salah saji yang kemungkinan tidak material secara individual namun, jika digabungkan dengan salah saji dalam saldo akun yang lain, dapat material terhadap laporan keuangan secara keseluruhan.

6. Mengalokasikan Materialitas Laporan Keuangan pada Akun-Akun

(6)

Dalam melakukan alokasi, auditor harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya salah saji dalam akun tertentu dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memverifikasi akun tersebut

7. Hubungan Antara Materialitas dan Bukti Audit

Jika materialitas rendah jumlah salah saji yang kecil dapat mempengaruhi keputusan pemakai informasi keuangan, auditor perlu mengumpulkan bukti audit kompoten dalam jumlah banyak. Sebaliknya, jika materialitas tinggi jumlah salah saji besar baru dapat mempegaruhi keputusan pemakai informasi keuangan, auditor perlu mengumpulkan bukti audit kompoten dalam jumlah sedikit. Berbagai kemungkinan antara materialitas, bukti audit, dan resiko audit digambarkan sebagai berikut:

a. Jika auditor mempertahankan resiko audit konstan dan tingkat materialitas dikurangi, auditor harus menambah jumlah bukti audit yang kumpulkan.

b. Jika auditor mempertambahkan tingkat materialitasa konstan dan mengurangi jumlah bukti audit yang dikumpulkan, resiko audit menjadi meningkat.

c. Jika auditor menginginkan untuk mengurangi resiko audit, auditor dapat menempuh salahs satu dari tiga cara berikut ini:

i. Menambah tingkat materialtas, sementara itu mempertahankan jumlah bukti audit yang dikumpulkan .

ii. Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan, sementara itu tingkat materialitas tetap dipertahankan.

iii. Menambah setiap jumlah bukti audit yang dikumpulkan dan tingkat materialitas secara bersama-sama.

B. RISIKO

(7)

audit dalam menyatakan pendapat atas laporan keuangan sebagai keseluruhan akan berada pada tingkat yang rendah.

1. Model Risiko Audit

Dalam menghubungkan komponen-komponen risiko audit , auditor dapat mengekpresikan setiap komponen dalam istilah kuantitatif, seperti presentasi, atau dalam istilah nonkuantitatif seperti sangat rendah, rendah, sedang, tinggi atau maksimum. Pembahasan berikut akan mengilustrasikan model risiko audit dengan contoh kuantitatif dan nonkuantitatif.

a. Mengilustrasikan Model Risiko Audit

Model risiko audit mengekspresikam hubungan antara komponen-komponen risiko audit sebagai berikut:

AR = IR x CR x DR

Simbol-simbol tersebut mewakili risiko audit, risiko bawaan, risiko pengendalian, dan risiko deteksi, secara berurutan.

Tentang banyak jenis pengujian substantif. Lampiran pada AU 350, audit sampling (SAS Nos 39, 43, dan 45) berisi suatu model risiko audit yang diperluas yang membagi risiko deteksi menjadi dua komponen. AP untuk risiko prosedur analitis dan TD untuk risiko yang berkaitan dengan risiko pengujian terinci/ pengujian transaksi atau pengujian saldo. Oleh karena itu, hubungan antara komponen-komponen risiko audit dapat diekspresikan sebagai berikut:

AR = IR x CR x AP x TD

Ketika model risiko audit digunakan dalam tahap perencanaan untuk menentukan risiko deteksi yang direncanakan atas suatu asersi, CR seringkali didasarkan pada tingkat risiko pengendalian yang direncanakan auditor untuk dinilai. Jika selanjutnya ditentukan bahwa tingkat aktual dari risiko pengendalian suatu untuk suatu asersi berbeda dari tingkat yang direncanakan maka model dapat diaplikasikan ulang dengan menggunakan tingkt aktual yang dinilai untuk CR. Risiko deteksi yang direvisi kemudian digunakan dalam menyelesaikan rancangan pengujian substantif atas transaksi atau pengujian saldo.

b. Matriks Komponen Risiko

Studi mengenai matriks komponen risiko menunjukkan bahwa hal tersebut konsisten dengan model risiko audit, yaitu bahwa tingkat risiko deteksi yang dapat diterima berhubungan secara terbalik dengan penilaian risiko bawaan, risiko pengendalian, dan risiko prosedur analitis. Matriks tersebut mengasumsikan bahwa risiko audit dibatasi pada suatu tingkat yang rendah. Jika risiko bawaan dinilai pada tingkat yang tinggi, risiko pengendalian yang rendah, dan risiko prosedur analitis pada tingkat yang rendah, maka pengujian substantif yag lain mungkin tidak diperlukan.

(8)

Dalam rangka untuk mengimplementasikan model ini auditor harus memahami faktor-faktor yang memperngaruhi penilaian risiko bawaan, risiko pengendalian dan risiko prosedur analitis.

a. Risiko Bawaan

Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern yang terkait.

Penilaian risiko bawaan merupakan pertimbangan mengenai hal-hal yang mungkin memiliki dampak yang mendalam terhadap asersi-asersi untuk semua atau banyak akun dan hal-hal ang hanya berkaitan dengan asersi spesitifk untk suatu akun spesifik.

Risiko bawaan dapat lebih besar untuk beberapa asersi daripada untuk asersi-asersi lainnya. Risiko bawaan muncul secara independent dari audit laporan keuangan. Oleh karena itu, auditor tidak dapat mengubah tingkat actual dari risiko bawaan. Akan tetapi, auditor dapat mengubah tingkat risiko bawaan yang dinilai.

Penilaian risiko bawaan memerlukan pertimbangan mengenai hal-hal yang mungkin memiliki dampak yang mendalam terhadap asersi-asersi utntuk semua atau banyak akun dan hal-hal yang hanya berkaitan dengan asersi spesifik untuk suatu akun spesifik.

Contoh hal-hal yang mungkin memiliki dampak mendalam termasuk: 1. Profitabilitas dari entitas secara relatif terhadap industri

2. Sensitivitas dari hasil operasi terhadap faktor-faktor ekonomi 3. Masalah going concern seperti kurangnya modal kerja

4. Sifat, sebab, dan jumlah dari salah saji yang diketahui dan kemungkinan salah saji yang terdeteksi dalam audit terdahulu

5. Perputaran majemen, reputasi manajemen dan keahlian akuntansi

6. Dampak dari pengembangan teknologi pada operasi dan daya saing perusahaan.

Hal-hal yang mungkin hanya berkaitan dengan akun-akun spesifik termasuk:

1. Akun-akun atau transaksi-transaksi yang sulit untuk diaudit 2. Masalah akuntansi yang sulit atau diperdebatkan

3. Kerentanan terhadap penyalagunaan 4. Kompleksitas perhitungan

5. Luasnya pertimbangan yang berkaitan dengan asersi

6. Sifat, sebab, dan jumlah dari salah saji yang diketahui dan salah saji yang terdeteksi dalam audit sebelumnya

7. Sensitivitas dari penilaian faktor-faktor. b. Risiko Pengendalian

(9)

Secara normal, auditor menentukan bahwa penilaian tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk setiap asersi dalam tahap perencanaan audit. Penilaian tingkat yang direncanakan didasarkan pada asumsi-asumsi mengenai efektivitas dari rancangan dan pengopersaian bagian pengendalian intern klien yang relevan.

c. Risiko Bawaan, Risiko Pengendalian, dan Risiko Kecurangan

AU 316 / SAS no 82 mensyaratkan auditor untuk menilai risiko salah saji material akibat kecurangan tanpa peduli apakah auditor akan merencanakan untuk menilai risiko bawaan atau risiko pengendalian pada tingkat maksimum. SAS No. 82 menyarankan agar auditor mempertimbangkan faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan salah saji material yang muncul dari (1) pelaporan keuangan yang curang, (2) penyalagunaan aktiva. Hal ini sangat penting bahwa auditor harus mempertimbangkan risiko salah saji akibat kecurangan dan harus mempertimbangkan bahwa penilaian dalam perancangan prosedur audit akan dilaksanakan.

Pertimbangan mengenai meningkatnya risiko slah saji laporan keuangan akibat kecurangan dapat memngaruhi pertimbangan profesional auditor melalui cara berikut:

1. Tim audit dapat dipilih dengan suatu cara yang memastikan bahwa pengetahuan, keahlian dan kemampuan personel yang ditugaskan dalam tanggungjawab perikatan yang signifikan sesuai dengan penilaian auditor terhadap tingkat risiko

2. Tim audit dapat melaksanakan audit dengan memperjelas tingkat skeptisme profesional.

3. Auditor dapat memutuskan untuk mempertimbangkan lebih lanjut pemilihan dan penerapan manajemen terhadap prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum, terutama masalah-masalah yang berhubungan dengan pengekuan pendapatan dan penilaian aktiva.

4. Kemampuan auditor untuk menilai risiko pengendalian dibawah maksimum dapat dikurangi dan auditor harus peka terhadap kemampuan manajemen untuk menesampingkan pengendalian

d. Risiko deteksi

Risiko deteksi adalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat mandeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi.

Risiko deteksi dapat dinyatakan sebagai suatu kombinasi dari risiko prosedur analitis dan risiko pengujian terinci. Dalam menentukan risiko deteksi auditor juga harus mempertimbangkan kemungkinan akan membuat suatu kekeliruan. Dalam perencanaan audit, suatu tingkat risiko deteksi yang direncanakan dapat diterima untuk prosedur analitis dan pengujian terinci ditentukan untuk setiap asersi yang signifikan dengan menggunakan model risiko audit.

(10)

3. Risiko Audit pada tingkat Laporan Keuangan dan tingkat saldo akun

Kenyataan bahwa auditor tidak dapat memberikan jaminan tentang ketepatan informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan keuangan mengharuskan auditor mempertimbangkan baik materialitas maupun risiko audit, tanpa disadari, tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atau suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material. Risiko audit, seperti materialitas, dibagi menjadi dua bagian :

1. Risiko audit keseluruhan yang berkaitan dengan laporan keuangan sebagai keseluruhan.

2. Risiko audit individual yang berkaitan dengan setiap saldo akun individual yang dicantumkan dalam laporan keuangan.

a. Risiko Audit Keseluruhan (Overall Audit Risk)

Pada tahap perencanaan auditnya, auditor pertama kali harus menentukan risiko audit keseluruhan yang direncanakan, yang merupakan besarnya risiko yang dapat ditanggung oleh auditor dalam menyatakan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar, padahal kenyataannya, laporan keuangan tersebut berisi salah saji material.

b. Risiko Audit Individual

Karena audit mencakup pemeriksaan terhadap akun-akun secara individual, risiko audit keseluruhan harus dialokasikan kepaada akun-akun yang berkaitan. Risiko audit individual perlu ditentukan untuk setiap akun karena akun tertentu seringkali sangat penting karena besar saldonya atau frekuensi transaksi perubahan. Dari pengalaman audit di tahun sebelumnya, auditor dapat menaksir risiko audit atas akun tertentu.

4. Hubungan Antara Risiko Audit dan Bukti Audit

Terdapat suatu hubungan terbalik antara risiko audit dan jumlah bukti yang diperlukan untuk mendukung pendapat auditor atas laporan keuangan. Semakin rendah tingkat risiko audit yang ingin dicapai, semakin besar jumlah bukti yang diperlukan. Untuk asersi tertentu, semakin rendah tingkat yang dapat diterima dari risiko prosedur analitis atau risiko pengujian terinci yang ditentukan oleh auditor, maka semakin besar kecukupan dan kompetensi pengujian substansial yang diperlukan untuk membatasi risiko deteksi keseluruhan pada tingkat tersebut.

5. Hubungan Timbal Balik antara Materialitas, Risiko Audit, dan Bukti Audit

Jika risiko audit konstan dan mengurangi tingkat materialitas, maka bukti audit harus ditingkatkan. Jika tingkat materialitas konstan dan mengurangi bukti audit, maka risiko audit harus ditingkatkan. Dengan kata lain, jika ingin mengurangi risiko audit kita dapat melakukan salah satu hal berikut :

(11)

c. Membuat kenaikan yang lebih kecil untuk jumlah bukti audit dan tingkat materialitas

6. Peringatan akan Adanya Risiko Audit

Secara priodik, staf AICPA dalam berkomunikasi dengan Auditing Standards Board, memberikan peringatan akan adanya risiko audit. Tujuannya adalah memberikan suatu tinjauan mengenai perkembangan ekonomi baru-baru ini kepada auditor, perkembangan profesional dan perkembangan peraturan yang mungkin akan mempengaruhi audit untuk klien dalam banyak industri.

C. STRATEGI AUDIT AWAL

Karena adanya hubungan antara tingkat materialitas, risiko audit, dan bukti audit, auditor dapat memilih strategi audit awal dalam perencanaan audit atas asersi individual atau sekelompok asersi. Strategi audit awal dibagi menjadi dua macam, yaitu pendekatan terutama substantif (primarily substantive approach), dan pendekatan tingkat risiko pengendalian taksiran rendah (lower assessed level of control risk approach)

1. Komponen Strategi Audit Pendahuluan

Dalam mengembangkan strategi audit pendahuluan untuk asersi-asersi, auditor menspesifikasikan empat kompopnen sebagai berikut:

a. Tingkat risiko bawaan yang dinilai

b. Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai dengan mempertimbangkan:

1. Luas pemahaman mengenai pengendalian intern yang diperoleh

2. Pengujian pengendalian yang dilaksanakan dalam mengukur risiko pengendalian

c. Tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan untuk dinilai dengan mempertimbangkan:

1. Luas pemahaman tentang bisnis dan industri yang diperoleh

2. Prosedur analitis yang akan dilaksanakan yang menyediakan bukti mengenai penyajian wajar dari suatu asersi.

d. Tingkat pengujian rincian yang direncanakan, apabila dikombinasikan dengan prosedur lain, mengurangi risiko audit hingga tingkat rendah yang sesuai.

Pedoman audit AICPA mengenai Consideration of Internal Control Structur in a Financial Statement Audit memperkalkan dua strategi audit utama yang ekuivalen dengan (1) suatu pendekatan substantif utama yang menekankan pengujian rincian dan (2) suatu tingkat risiko pengendalian yang dinilai lebih rendah.

(12)

Menurut pendekatan substantif utama yang menekankan pengujian terinci (primarily substantive approach emphasizing tests of details), auditor menspesifikasikan komponen-komponen strategi audit sebagai berikut :

1. Gunakan tingkat risiko prosedur analisis yang direncanakan untuk dinilai pada tingkat yang tinggi.

2. Gunakan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai pada tingkat yang tinggi (atau pada tingkat maksimum).

3. Rencanakan untuk memperoleh pemahaman minimum mengenai bagian-bagian yang relevan dari pengendalian intern.

4. Rencanakan sedikit, jika ada, pengujian pengendalian.

5. Rencanakan pengujian substantif yang luas atas transaksi dan saldo berdasarkan pada tingkat risiko deteksi yang direncanakan dapat diterima yang rendah.

Auditor dapat memilih pendekatan ini ketika ia mengetahui dari awal, mungkin dari pengalaman masa lalu berhadapan dengan klien atau dari langkah awal perencanaan awal, bahwa pengendalian intern yang berkaitan dengan asersi tidak ada atau tidak efektif.

Strategi ini juga dapat dipilih ketika auditor menyimpulkan bahwa biaya melaksanakan prosedur tambahan untuk memperoleh suatu pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengendalian intern dan pengujian pengendalian untuk mendukung tingkat risiko pengendalian yang lebih rendah akan melebihi biaya pelaksanaan substantif yang lebih luas. Kondisi tersebut dapat berhubungan dengan esersi untuk akun-akun yang memiliki populasi relatif kecil atau transaksi yang tidak sering terjadi.

b. Suatu Tingkat Risiko Pengendalian yang Dinilai Lebih Rendah

Menurut pendekatan tingkat risiko pengendalian yang dinilai lebih rendah (lower assessed level of control risk), auditor mensfesifikasikan komponen-komponen dari strategi audit sebagai berikut :

1. Gunakan tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan untuk dinilai pada tingkat yang tinggi.

2. Gunakan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai pada tingkat sedang atau rendah.

(13)

4. Rencanakan pengujian substantif atas transaksi atau saldo yang terbatas berdasarkan tingkat risiko deteksi yang direncanakan untuk diterima pada tingkat sedang atau tinggi.

Auditor dapat memilih strategi ini ketika ia percaya bahwa pengendalian yang berhubungan dengan suatu asersi telah dirancang dengan baik dan berjalan dengan sangat efektif. Selain itu, auditor harus percaya bahwa biaya pelaksanaan prosedur yang lebih luas untuk memperoleh pemahaman mengenai pengendalian intern, termasuk aspek komputer dari pengendalian intern, dan untuk menguji pengendalian akan lebih besar daripada yang diimbangi oleh penghematan biaya dari pelaksanaan pengujian substantif atas transaksi dan saldo yang lebih sempit.

2. Strategi Audit Tambahan

a. Pendekatan Substantif Utama yang Menekankan Pada Prosedur Analitis

Menurut pendekatan substantive utama yang menekankan pada prosedur analitis, auditor menspesifikasikan komponen-komponen strategi audit berikut:

a) Memperoleh pengetahuan yang luas mengenai proses bisnis klien yang releven dengan asersi

b) Auditor mengantisipasi bahwa dia dapat memperoleh bukti kompeten dari prosedur analitis untuk mendukung suatu penilaian risiko sedang atau rendah dari bukti tersebut.

c) Gunakan suatu tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai d) Rencanakan untuk memperoleh suatu pemahaman minimum mengenai

bagian relevan dari pengendalian intern.

e) Rencanakan untuk memperoleh suatu pemahaman minimum mengenai bagian relevan dari pengendalian intern.

f) Rencanakan sedikit, jika ada, pengujian pengendalian.

g) Rencanakan pengujian substantive atas transaksi dan saldo yang lebih sempit sebagai akibat dari pengurangan risiko yang diberikan dari pengurangan risiko yang diberikan prosedur analitis.

b. Penekanan pada Risiko Bawaan dan Prosedur Analitis

Penekanan pada risiko bawaan dan prosedur analitis juga mngasumsikan bahwa prosedur analitis lebih murah dari pada prosedur audit lainnya,.oleh karena itu, menurut pendekatan auditor menspesifikasikan kompone-komponen strategi audit sebagai berikut:

a. Risiko bawaan dinilai pada tingkat di bawah maksimum.

b. Gunakan tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan untuk dinilai serendah mungkin.

c. Gunakan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai pada tingkat yang tinggi (atau pada tingkat maksimum)

d. Rencanakan untuk memperoleh pemahaman minimum mengenai bagian yang relevan dari pengendalian intern.

(14)

f. Rencanakan pengujian substantive atas transaksi dan saldo yang lebih sempit sebagai akibat dari pengurangan risiko yang diberikan dari pengurangan risiko bawaan dan prosedur analitis yang lebih rendah.

3. Hubungan antara Strategi dan Siklus Transaksi

Seringkali suatu strategi yang serupa diterapkan pada sekelompok asersi yang dipengaruhi oleh golongan transaksi dalam suatu siklus transaksi. Logikanya adalah bahwa banyak pengendalian intern berfokus pada pemrosesan satu jenis transaksi dalam satu siklus. Meskipun, kantor akuntan menggunakan nama yang berbeda untuk golongan transaksi, dan dalam beberapa kasus bahkan berbeda dalam menspesifikasikan golongan transaksi mana yang masuk dalam siklus tertentu.

siklus Golongan transaksi utama

Pendapatan Penjualan, penerimaan kas, dan penyesuaian penjualan Pengeluaran Pembelian dan pengeluaran kas

Jasa personel Penggajian

Produksi Memproses persediaan

Investasi Investasi dalam aktiva jangka panjang atau investasi moneter dari kelebihan kas

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Boynton, William C., Johnson, Raymond N., dan Kell, Walter G. 2003. Modern Auditing. Jakarta: Erlangga.

Ikarosalia. 2012. Materialitas dan Risiko Audit. (online) (http://fadjarika.blogspot.com/2012/01/materialitas-dan-risiko-audit.html diakses pada tanggal 21 Oktober 2014.)

Irwanto Rudi._____. Matrialitas, Risiko Audit, dan Startegi Audit Awal. (online) (http://rudiirawantofeuh.blogspot.com/2014/04/materialitas-risiko-audit-strategi.html. diakses pada tanggal 22 Oktober 2014)

Mulyadi., Puradiredja, Kanaka. 1998. Auditing. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Referensi

Dokumen terkait

As was shown in chapter 4 and 5 the syntactic status is related to the other three phenomena that are under investigation in this study: (i) the position of

suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan, dengan maksud mendapatkan gambaran lengkap tentang topik yang

Dengan penggunaan teknik mind mapping pada siswa khususnya siswa kelas VII di SMPN 2 Sumbergempol Tulungagung diharapkan dapat menumbuhkan motivasi belajar matematika

RISING STAR ACADEMY di buat dengan tujuan Mengedukasi para Orang Tua untuk tau cara membimbing BUAH HATINYA meniti karier nya dengan jalan CEPAT DAN BENAR, MENJADI SEORANG RISING

Berdasarkan metode ta'ârudh al- adillah baik dalam aliran mutakallimin maupun fuqahâ' jika dalil itu tidak bisa diselesaikan dengan al-jam'u wa taufîq, tarjîh dan nasakh

Merek tidak digunakan selama 3 tahun berturut-turut dalam perdagangan barang dan/atau jasa sejak tanggal pendaftaran atau pemakaian terakhir, kecuali apabila ada alasan yang

Effect of inoculum size on the mean duration of time to the first emergence of infective juveniles of Steinernema sp., isolate Skpr-20/Str, from Tenebrio molitor

kemampuan UNIS dalam menggali dana yang bersumber di luar mahasiswa, baik berupa sumbangan, hibah, kontrak kerja dan pendapatan lainnya yang sah, sehingga praktis hampir